Proposal menyusui AKPER PEMKAB MUNA

Click here to load reader

  • date post

    09-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    2.932
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Proposal menyusui AKPER PEMKAB MUNA

  • 1. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Garis-garisBesarHaluanNegara(GBHN)1999-2004danProgramPembangunan Nasional (PROPENAS) mengamanatkan bahwa pembangunan diarahkan pada meningkatkan sumber daya manusia (SDM). Modal dasar pembentukan manusia berkualitas dimulai sejak bayi dalam kandungan disertai dengan pemberian Air Susu Ibu (ASI) sejak usia dini, terutama pemberian ASI Eksklusif yaitu pemberian hanya ASI kepada bayi sejak lahir sampai berusia 4 bulan (Anonim, 2005). Konvensi hak-hak Anak tahuun 1990 antara lain menegaskan bahwa tumbuh kembang secara optimal merupakan salah satu hak anak. Berarti ASI selain merupakan kebutuhan, juga merupakan hak asasi bayi yang harus dipenuhi oleh orang tuanya. Hal ini telah diipopulerkan pada pekan ASI sedunia tahun 2000 dengan Tema : memberi ASI adalah hak asasi ibu; mendapat asi adalah hak bayi (Anonim, 2005). Bagi bayi, ASI merupakan makanan yang paling sempurna, diman kandungan gizi sesuai kebutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. ASI juga mengandung zat untuk perkembangan kecerdasan, zat kekebalan (mencegah dari berbagai penyakit) dan dapat menjalin hubungan cinta kasih antara bayi denga ibu. Manfaat menyusui/memberikan ASI bagi ibu tidak hanya menjalin kasih sayang, tetapi terlebih lagi dapat mengurangi perdarahan setelah melahirkan, mempercepat pemuliah kesehatan ibu, menunda kehamilan, mengurangi resiko terkena kanker payudara, dan merupakan kebahagiaan tersendiri bagi ibu (anonim, 2005). Mengingat banyak manfaat menyusui bagi bayi, ibu, keluarga, masyarakat dan Negara maka perlu serangkaian upaya yang dilakukan secara terus menerus dalam bentuk peningkatan pemberian ASI (PP-ASI). Kenyataannya, sejak UU Perlindungan Anak disahkan (22/10/2002) kondisi anak Indonesia (SDKI) terakhir tahun 2003 hanya ada 4 % bayi yang disusui dan mendapat ASI dalam jam pertama kelahirannya (kolostrum) sedangkan tingkat konsumsi masyarakat akan susu formula meningkat 300 % dibanding tahun-tahun sebelumnya (Astuti S, 2008).

2. Secara absolut tidak ditemukan bukti-bukti kedokteran adanya bayi yang sakit disusui ibunya. Para ahli dan Kesatuan Dokter Anak Indonesia meyakinkan masyarakat bahwa keuntungan menyusui masih lebih baik dri pada tidak menyusui. Seorang dokter spesialis anak dalam penelitiannya manyatakan bahwa dari 100 ibu yang mengatkan ASI-nya kurang sebenarnya hanya 2 ibu yang betul-betul ASI-nya kurang dan 98 orang lainnya mempunyai ASI yang cukup, hanya kurang menata laktasi ASI dengan benar seperti posisi atau tehnik menyusui yanng benar dan lainlain (Roesli, 2001). WHO dan UNICEF berpendapat bahwa diantara faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pemulaian dan pemantapan menyusui, pelaksanaan pelayanan khususnya yang berhubungan dengan perawatan ibu dan bayi baru lahi, merupakan hal-hal yang paling dapat menyajikan peningkatan jumlah dan lamanya menyusui. Telah diketahui bahwa lama menyusui tidak menjadi masalah. Menyusui atau menghisap dalam posisi salahlah yang menyebabkan nyeri, lecet pada puting susu dan kelelahan ibu adalah yang sering terjadi karena posisi menyusui yang tidak tepat. Agar menyusui dapat berhasil dimulai dengan pemantapan ibu memerlukan dukungan yang aktif selama hamil dan selanjutnya setelah melahirkan. Diwajibkan untuk meningkatkan pemberian ASI dan dapat memberikan penyuluhan yang benar dengan dengan memperagakan pengatahuan praktek tentang tehnik dan berbagai cara dalam pelaksanaan menyusui (Savage, 2001). Dalam upaya peningkatan keberhasilan menyusui tidak lepas dari keterlibatan pelayanan kesehatan, baik dalam upaya mendukung atau mendorong ibu untuk menyusui maupun memperlihatkan tehnik-tehnik dalam proses menyusui. Pada prakteknya diperlukan bagi petugas kesehatan untuk membantu ibu mengatur posisi bayi untuk menyusui agar ibu dan bayi merasa enak dan nyaman serta tidak mengalami ketegangan. Menyusui bayi merupakan suatu proses belajar baik bagi ibu maupun bayi tentang pemberian ASI. Pandangan ini dapat membantu ibu dalam meningkatkan pengharapan mereka dan dapat menentukan pandangyang lebihrealistis mengenai pengalaman memberi ASI di saat-saat awal. Bahkan bagi ibu-ibu yang sudah pernah manyusui atau memberikan ASI sebelumnya pun merupakan suatu proses belajar karena setiap bayi adalah berbeda dan mempunyai karakter serta kepribadian sendiri-sendiri yang berbeda-beda. Caranya bayi mengisap susu dari payudara adalah berbeda-beda, akan tetapi terdapat cukup banyak kesamaan dalam 3. berbagai variasi-variasi tersebut, sehingga sejak dahulu para pakar sudah mengidentifikasikan jenis-jenis penyusuan bayi sesuai dengan tehnik yang benar (Klein, 2007). Berdasarkan data yang diperoleh dari laporan di wilayah kerja Desa Napalakura Kecamatan Napabalano Kabupaten Muna tahun 2010 didapatkan terdapat . orang ibu nifas dan terdapat bayi baru lahir yang keseluruhannya belum sepenuhnya mendapat ASI dengan alasan belum mempunyai ASI secara sempurna. Berdasarkan berbagai gambaran diatas maka penulis tertarik untuk melakukan suatu penelitian yang berjudul Studi pengetahuan Ibu Nifas tentang Tehnik Menyusui yang Baik dan Benar di Wilayah kerja Desa Napalakura Kecamatan NapabalanoKabupaten Muna Periode Januari-November Tahun 2011. B. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengetahuan ibu nifas tentang tehnik menyusui yang baik dan benar di wilayah kerja Desa Napalakura Kecamatan Napabalano Kabupaten Muna Tahun 2011.C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mendapatkan gambaran pengetahuan ibu nifas tentang tehnik menyusui yang baik dan benar di wilayah kerja Desa Napalakura Kecamatan Napabalano Kabupaten Muna Tahun 2011. 2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui gambaran mengenai tingkat tahu ibu nifas tentang tehnik menyusui yang baik dan benar di wilayah kerja Desa Napalakura Kecamatan Napabalano Kabupaten Muna Tahun 2011. b. Untuk mengetahui gambaran mengenai pemahaman ibu nifas tentang tehnik menyusui yang baik dan benar di wilayah kerja Desa Napalakura Kecamatan NapabalanoKabupaten Muna Tahun 2011. c. Untuk mengetahui gambaran mengenai aplikasi ibu nifas tentang tehnik menyusui yang baik dan benar di wilayah kerja Desa Napalakura Kecamatan NapabalanoKabupaten Muna Tahun 2011. 4. D. Manfaat Penelitian 1. Sebagai bahan informasi bagi tenaga kesehatan, khususnya Bidan dan tenaga kesehatan lain untuk selalu memberikan informasi dan pengetahuan tentang tehnik menyusui yang baik dan benar kepada ibu. 2. Sebagai bahan masukan bagi ibu nifas tentang pentingnya tehnik menyusui yang baik dan benar. 3. Sebagai acuan yang diharapkan bermanfaat bagi peneliti selanjutnya. 5. BAB II TINJAUAN PUSTAKAA. Telaah Pustaka 1. Tinjauan Tentang Pengetahuan a. Pengertian Pengetahuan Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yakni indera pengalihan, pendengar, penciuman, rasa dan raba. Sebahagiaan pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2002). Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau responden kedalam pengetahuan yang ingin diketahui atau diukur dan dapat disesuaikan dengan tingkatantingkatan pengetahuan (Notoatmodjo, 2002). Pengetahuan menurut Notoatmodjo 2002 mencakup 6 tingkatan yaitu : 1) Tahu (know) yakni mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya,termasukmengingatkembali(recall)terhadapspesifikasi dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. 2) Memahami (chomprehention) yakni kemampuan untuk menjelaskan secarabenartentangobyekyangdiketahuidandaptmenginterpretasikan materi tersebut secara benar. 3) Aplikasi (Aplication) yakni kemampuan untuk menggunakan materi yang dipelajarinya pada situasi atau kondisi real (sebelumnya). 4) Analisa (Analysis) yakni kemampuan untuk menjabarkan untuk menggunakan materi atau obyek kedalam komponen-komponen tetapi masih didalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. 6. 5) Sintesia (Shyntesis) yakni kemampuan untuk melakukan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. 6) Evaluasi(Evaluation)yaknikemampuanuntukmelakukanjustifikasi atau penilaian terhadapa suatu materi atau obyek. b. Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan Menurut Suharjo (2006) pengetahuan tergantung dari faktor faktor antara lain : 1) Tingkat Pendidikan : Tinggi rendahnya pendidikan akan dipengaruhi pengetahuan yang diperoleh. Semakin tinggi pendidikan, pengetahuan yang diperoleh seseorang. Dengan status yang berbeda-beda maka pengetahuan yang diperoleh berbeda-beda. 2) Status Sosial : Status sosial juga turut mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang. Denga status yang berbeda-beda, maka pengetahuan yang diperoleh berbeda-beda. 3) Derajat Penyuluhan : Semakin banyak penyuluhan yang diperoleh atau makin banyak frekuensi penyuluhan, maka pengetahuan yang diperoleh akan semakin banyak. Begitupun sebaliknya. 4) Faktor Lingkungan : Lingkungan merupakan faktor penentu derajat pengetahuan, maka kita akan semakin merasa tertarik untuk memperoleh pengetahuan yang sama dengan cara bertukar pikiran. 5) Faktor Sarana dan Prasarana : dengan saran dan prasarana yang menunjang, maka pengetahuan yang akan diperoleh akan lebih besar bila dibandingkan dengan kurangnya sarana dan prasarana. c. Cara Memperoleh Pengetahuan Berbagai macam cara memperoleh kebenaran pengetahuan, menurut (Notoatmodjo 2002) dikelompokan menjadi 2 yaitu : 1) Cara tradisional atau non ilmiah Dipakai orang untuk memperoleh kebenaran pengetahuan, cara penemuan pengetahuan pada periode ini yaitu : a) Coba-coba salah (Trial and Eror) : apabila seseorang mengalami persoalan, upaya pemecahannya dilakukan dengan coba-coba