Askep gadar AKPER PEMKAB MUNA

Click here to load reader

  • date post

    12-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    281
  • download

    4

Embed Size (px)

Transcript of Askep gadar AKPER PEMKAB MUNA

ASKEP GADAR DIABETES MILITUS

ASKEP GADAR DIABETES MILITUSKELOMPOK 4A. PENGERTIANDiabetes Melllitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo, 2002).

B. ETIOLOGIVirus dan BakteriVirus penyebab DM adalah rubela, mumps, dan human coxsackievirus B4. Melalui mekanisme infeksi sitolitik dalam sel beta, virus ini mengakibatkan destruksi atau perusakan sel. Bisa juga, virus ini menyerang melalui reaksi otoimunitas yang menyebabkan hilangnya otoimun dalam sel beta. Diabetes mellitus akibat bakteri masih belum bisa dideteksi. Namun, para ahli kesehatan menduga bakteri cukup berperan menyebabkan DM.

Bahan Toksik atau Beracun. Bahan beracun yang mampu merusak sel beta secara langsung adalah alloxan, pyrinuron (rodentisida), dan streptozoctin (produk dari sejenis jamur). Bahan lain adalah sianida yang berasal dari singkong.

Genetik atau Faktor KeturunanDiabetes mellitus cenderung diturunkan atau diawariskan, bukan ditularkan. Anggota keluarga penderita DM (diabetisi) memiliki kemungkinan lebih besar terserang penyakit ini dibandingkan dengan anggota keluarga yang tidak menderita DM. Para ahli kesehatan juga menyebutkan DM merupakan penyakit yang terpaut kromosom seks atau kelamin. Biasanya kaum laki-laki menjadi penderita sesungguhnya, sedangkan kaum perempuan sebagai pihak yang membawa gen untuk diwariskan kepada anak-anaknya.

D. KLASIFIKASIJenis diabetesDiabetes Melitus Tipe 1 (DM Tipe 1). Kekerapan DM Tipe 1 di negara barat + 10% dari DM Tipe 2. Di negara tropik jauh lebih sedikit lagi. Gambaran kliniknya biasanyatimbul pada masa kanak-kanak dan puncaknya pada masa akil balig. Tetapi ada juga yang timbul pada masa dewasa.

2. Diabates Melitus Tipe 2 (DM Tipe 2)DM Tipe 2 adalah jenis yang paling banyak ditemukan (lebih dari 90%). Timbul makin sering setelah umur 40 dengan catatan pada dekade ketujuh kekerapan diabetes mencapai 3 sampai 4 kali lebih tinggi daripada rata-rata orang dewasa.33. Diabetes Melitus Tipe LainAda beberapa tipe diabetes yang lain seperti defek genetik fungsi sel beta, defek genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas, endokrinopati, karena obat atau zat kimia, infeksi, sebab imunologi yang jarang dan sindroma genetik lain yang berkaitan dengan DM.

4. Diabetes Melitus GestasionalDiabetes Melitus Gestasional adalah diabetes yang timbul selama kehamilan. Jenis ini sangat penting diketahui karena dampaknya pada janin kurang baik bila tidak ditangani dengan benar.Tabel : Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa dengan metode enzimatik sebagai patokan penyaring

D. PATOFISIOLOGIDalam proses metabolisme,insulin memegang peran yang sangat penting yaitu bertugas memasukkan glukosa ke dalam sel. Insulin adalah suatu zat yang dikeluarkan oleh sel beta di Pankreas.PankreasPankreas adalah sebuah kelenjar yang letaknya di belakang lambung. Di dalamnya terdapat kumpulan sel yang disebut pulau-pulau Langerhans yang berisi sel beta. Sel beta mngeluarkan hormon insulin untuk mengatur kadar glukosa darah. Selain sel beta ada juga srl alfa yang memproduksi glukagon yang bekerja sebaliknya dengan insulin yaitu meningkatkan kadar glukosa darah. Juga ada sel delta yang mngeluarkan somastostatin.

2. Kerja InsulinInsulin diibaratkan sebagai anak kunci untuk membuka pintu masuknya glukosa ke dalam sel, untuk kemudian di dalam sel, glukosa itu dimetabolismekan menjadi tenaga.

3. Patofisiologi DM Tipe 1Mengapa insulin pada DM Tipe 1 tidak ada? Ini disebabkan oleh karena pada jenis ini timbul reaksi otoimun yang disebabkan karena adanya peradangan pada sel beta insulitis. Ini menyebabkan timbulnya anti bodi terhadap sel beta yang disebut ICA (Islet Cell Antibody). Reaksi antigen (sel beta) dengan antibodi (ICA) yang ditimbulkannya menyebabkan hancurnya sel beta.4) Patofisiologi DM Tipe 2Pada DM Tipe 2 jumlah insulin normal, malah mungkin lebih banyak tetapi reseptor insulin yang terdapat pada permukaan sel kurang. Reseptor inulin ini diibaratkan sebagai lubang kunci pintu masuk ke dalam sel. Pada keadaan tadi jumlah lubang kuncinya yang kurang, hingga meskipun anak kuncinya (insulin) banyak, tetapi karena lubang kuncinya (reseptor) kurang, maka glukosa yang masuk sel akan sedikit, sehingga sel akan kekurangan glukosa dan glukosa di dalam darah akan meningkat. Dengan demikian keadaan ini sama dengan pada DM Tipe 1. Perbedaanya adalah DM Tipe 2 disamping kadar glukosa tinggi,juga kadar insulin tinggi atau normal. Keadaan ini disebut resistensi insulin.Faktor-faktor yang banyak berperan sebagai penyebab resistensi insulin:1. Obesitas terutama yang bersifat sentral (bentuk apel)2. Diet tinggi lemak dan rendah karbohidrat3. Kurang gerak badan4. Faktor keturunan (herediter)

E. MANIFESTASI KLINISGejala klasik diabetes adalah rasa haus yang berlebihan sering kencing terutama malam hari, banyak makan serta berat badan yang turun dengan cepat. Di samping itu kadang-kadang ada keluhan lemah, kesemutan pada jari tangan dan kaki, cepat lapar, gatal-gatal, penglihatan jadi kabur, gairah seks menurun, luka sukar sembuh dan pada ibu-ibu sering melahirkan bayi di atas 4 kg.Kadang-kadang ada pasien yang sama sekali tidak merasakan adanya keluhan, mereka mengetahui adanya diabetes karena pada saat periksa kesehatan diemukan kadar glukosa darahnya tinggi.

F. KOMPLIKASIKomplikasi diabetes mellitus dapat muncul secara akut dan secara kronik, yaitu timbul beberapa bulan atau beberapa tahun sesudah mengidap diabetes mellitus. Komplikasi Akut Diabetes Mellitus Dua komplikasi akut yang paling penting adalah reaksi hipoglikemia dan koma diabetik.1. Reaksi Hipoglikemia2. Koma Diabetik

Komplikasi Kronis Diabetes MellitusKomplikasi kronik DM pada dasarnya terjadi pada semua pembuluh darah di seluruh bagian tubuh (angiopati diabetik). Untuk kemudahan, angiopati diabetik dibagi 2 :1. Makroangiopati (makrovaskular)2. Mikroangiopati (mikrovaskular)

G. PEMERIKSAAN PENUNJANGDiagnosis DM umumnya akan dipikirkan dengan adanya gejala khas DM berupa poliuria, polidipsia, lemas,dan berat badan turun. Gejala lain yang mungkin dikemukakan oleh pasien adalah kesemutan, gatal, mata kabur dan impotensia pada pasien pria,serta pruritus dan vulvae pada pasien wanita. Jika keluhan dan gejala khas, ditemukannya pemeriksaan glukosa darah sewaktu yang >200 mg/dl sudah cukup untuk menegakkan diagnosis DM. Umumnya hasil pemeriksaan glukosa darah sewaktu yang baru satu kali saja abnormal belum cukup untuk diagnosis klinis DM.

Kalau hasil pemeriksaan glukosa darah meragukan, pemeriksaan TTGO diperlukan untuk konfirmasi diagnosis DM. Untuk diagnosis DM dan gangguan toleransi glukosa lainnya diperiksa glukosa darah 2 jam setelah beban glukosa. Sekurang-kurangnya diperlukan kadar glukosa pernah 2 kali abnormal untuk konfirmasi diagnosis DM, baik pada 2 pemeriksaan yang berbeda ataupun adanya 2 hasil abnormal pada saat pemeriksaan yang sama.A.PENGKAJIAN1.Pengumpulan data Identitas Klien Fokus berisi mengenai jenis kelamin, usia, suku/ bangs Identitas Penanggungjawa Riwayat KesehataNKeluhan Utama Klien diabetes mellitus datang dengan keluhan luka yang tidak kunjung sembuh, mual, muntah, penurunan kesadaran, disamping keluhan lain yang menyertai seperti mudah lelah, sering kencing, sering lapar, sering haus, adanya kesemutan atau baal-baal pada daerah ekstrimitas atau juga karena telah terjadi komplikasi diabetic baik akut maupun kronik Riwayat Kesehatan Sekarang Klien diabetes mellitus dengan ulkus diabetikum cenderung mengeluh nyeri pada daerah lukanya dengan kualitas nyeri yang tajam dan kuantitas nyeri yang hilang timbul. Nyeri yang dirasakan klien diabetes mellitus dengan ulkus diabetikum bertambah bila klien bergerak untuk merubah posisinya dan berkurang jika beristirahat. Nyeri yang dirasakan klien diabetes mellitus dengan ulkus diabetikum cenderung berada pada nyeri sedang sampai dengan berat dan berada pada skala nyeri 5 10 (skala 1 10 menurut Smeltzer). Riwayat Kesehatan Dahulu Kaji adanya riwayat obesitas, riwayat pankreatitis kronis,riwayat glukosauria,ataupun terapi obat lainnya Riwayat Kesehatan Keluarga Klien dengan diabetes mellitus tipe II cenderung disebabkan oleh adanya riwayat penyakit yang sama pada anggota keluarganya. Selain itu juga cenderung disebabkan oleh factor lingkungan rumah yang kurang sehat serta riwayat gizi keluarga yang buruk sehingga berdampak pada kesehatan anggota keluarga.

132.Pemeriksaan fisikPrimeri surveyAir wey Biasanya pada pasien DM tdk memiliki sumbatan jalan nafas maupun fraktur serfikalBirthingLook Biasanya ditemukan kembang kempis dada seimbang namun frekuensinya lebih cpat dari biasanya,adanya sianosis sentral maupun perifer,adanya otot bantu pernafasan Listen Dipsnue,untuk suara tambahan tidak ada,frekuensi nafas lebih dari normalFeel Biasanya ada aliran udara namun kekuatannya lebih kencangCirculation Untuk pasien dengan luka,biasanya ada pendarahan,nadi teraba lemah,adanya sianosis,gangguan pada TD,aritmia jantung,capilari refil time > 3 detik Secendari survey

Keadaan umumKesadaranTTVKardiovaskuler Klien dengan diabetes mellitus tipe II cenderung mengalami penyakit jantung koroner atau akut miokard infark (AMI), angina pectoris yang dimanifestasikan dengan perubahan pola gambaran EKG (Elektrokardiografi), perubahan irama, bunyi dan frekuensi denyut jantung. Selain itu juga ditemukan adanya penurunan kekuatan denypeningkatan waktu pengisian kapiler (Capilary Refil Time) > 3 detik yang pada tahap lanjut dapat menimbulkan peningkatan JVP (Jugular Venous Pressure) sebagai dampak dari peningkatan osmolaritas plasma akibat hiperglikemiaut nadi perifer, perubahan tekanan darah, Respirasi Klien dengan diabetes mellitus tipe II cenderung ditemukan adanya pola napas klien yang cepat dan dalam .pada keadaan istrahat,batuk tanpa sputum tergantung ada tdaknya infeksi.frekuensi nafas >24 kali per menit dengan bau nafas asetonGASTROINTESTINAL Klien dengan diabetes mellitus tipe II cenderung ditemukan adanya mual, muntah). Selain itu juga ditemukan adanya konstipasi dan penurunan frekuensi bising usus dan distensi abdomenSistem Panca Indera (Pengihatan) Klien dengan diabetes mellitus tipe II cenderung mengalami penurunan fungsi ketajaman penglihatan (penurunan visus), penglihatan ganda (diplopia), perubahan diameter pupil dimana pupil cenderung mengalami dilatasi, peningkatan tekanan intraokuler, kekeruhan lensa (katarak) dan pada tahap lanjut menyebabkan lapang pandang berkurang.

perkemihan Klien dengan diabetes mellitus tipe II cenderung ditemukan adanya perubahan yang berkaitan dengan status cairan dan elektrolit berupa mukosa mulut kering, turgor kulit > 2 detik, kadar elektrolit cenderung menurun dan pada tahap lanjut dapat menyebabkan perubahan fungsi ginjal(Nefropati) sebagai dampak dari hiperglikemia yang dimanifestasikan dengan meningkatnya ureum, kreatinin plama dan urineSistem Muskuloskeletal Klien dengan diabetes mellitus tipe II cenderung ditemukan adanya kelemahan, kram otot, penurunan tonisitas, kekuatan dan massa otot. Selain itu juga ditemukan adany penurunan ROM (Range of Motion) Sistem Integumen Klien dengan diabetes mellitus tipe II yang disertai dengan adanya ulkus diabetikum cenderung ditemukan adanya erosi pada kulit, warna kulit pada daerah luka cenderung kehitaman, perubahan system thermoregulasi tubuh yang dimanifestasikan dengan perubahan suhu tubuh secara signifikan, akral cenderung teraba dingin

Persyarafan Klien dengan diabetes mellitus tipe II cenderung ditemukan adanya keluhan pusing, vertigo, baal-baal atau kesemutan pada ekstrimitas atau bahkan mengalami penurunan tingkat kesadaran yang disebabkan oleh koma hiperglikemik. Selain itu juga pada tahap yang lebih lanjut dapat menyebabkan terjadinya penyakit serebrovaskular berupa penyakit stroke dengan jenis TIA (Transient Ischemic Attact), perubahan fungsi saraf cranial, perubahan fungsi sensori-motor dan perubahan refleks neurologis.Pemeriksaan PenunjangGula darah meningkat >200 mg/dlAseton plasma positifOsmolaritas serum meningkat >330m osm/ltGas darah arteri dng PH rendahInsulin darah menurunPada urin mengandung glukosa dan aseton positfTrombosis darah mungkin meningkat

terapi

Pada diabetes tipe II, insulin mungkin diperlukan sebagai terapi jangka panjang untuk mengendalikan kadar glukosa darah jika diet dan obat hipoglikemia oral tidak berhasil mengontrolnyaObat hipoglikemia oral(OHO)seperti sulfonyiurea,biguanid,inhibitor alfa glukosidase dan insulin sensitizing agenDietLatihanPemantauan kadar glukosa darahAnalisa datasimtometiologiproblemDs=---Do=klien nampak lemasAdanya faktor penyebab

Metabolime protein meningkat

Asam amino menurun

Glukoneogenesis meningkat

Hiperglikemia

Hiper osmolaritas

Hipoksia jaringan

Gangguan perfusi jaringanGangguan perfusi jaringan

DS=----DO=muka nampak meringis dengan skala nyeri 6(0-10)Adanya faktor penyebab

Metabolisme protein meningkat

Asam amino menurun

Glukoneogenesis meningkat

Hipoglikemia

Darah sukar mumbeku

Luka tdk kunjung sembuh

Merangsang reseptor kimia

Hipotalamus

Nyeri di presepsikannyeri

DS=---DO=Berat badan klien menurun,klien nampak kurusDiagnosa keperawatanGangguan perfusi jaringan berhubungan dengan hipoksia jaringan ditandai dengan DS=---- DO=klien nampak lemas,nadi lambat dan lemah,penurunan TDNyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan kulit ditandai dengan DS=---- DO=klien nampak meringis,skala nyeri 6(0-10)Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake yg tdk adekuat ditandai dengan DS=--- DO=klien nampak kurus,BB klien menurunDefisit cairan berhubungan dengan diuresis osmotic, dan kurang asupan cairan ditandai dengan DS=-- DO=klien nampak pucat

perencanaanGangguan perfusi jaringan perifer bd hipoksia jaringanObserfasi tanda tanda fital Pertahankan tirah baring; tinggikan kepala tempat tidurPertahankan cairan dan obat-obatan sesuai pesanan Amati adanya hipotensi mendadakUkur masukan dan pengeluaranPantau elektrolitAmbulasi sesuai kemampuan; hibdari kelelahan

Nyeri bd kerusakan jarinan kulitKaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi, karakter, da intensitas nyeriTinggikan dan sokong area luka dengan mengguankan bantalanBerikan tindakan kenyamanan dasar, contoh pijatan punggung, dan perubahan posisiDorong penggunaan teknik manajemen stress, contoh relaksasi progresif, nafas dalam, bimbingan imajinasi, dan visualisasiLibatkan klien dan keluarga dalam penentuan jadwal aktivitas, dan pemberian obatBerikan aktivitas teutapeutik yang tepat sesuai dengan usia dan kondisiBerikan analgetik sesuai dengan indikasi

Nutrisi kurang dari kebutuhan bd intake yg tdk adekuatTimbang berat badan setiap hari atau setiap indikasi. Identifikasi makanan yang disukai atau dikehendaki. Observasi tanda-tanda hipoglikemia seperti perubahan tingkat kesadaran, kulit lembab dan dingin, denyut nadi cepat, lapar, peka rangsang, cemas, sakit kepala, pusing, dan sempoyongan. Auskultasi bising usus, catat adanya nyeri abdomen, perut kembung, mual, dan muntah. Berilah makanan cair yang mengandungzat makanan dan elektrolit dengan segera jika pasien sudah mendapatkan toleransinya melalui pemberian cairan oral dan selajutnya upayakan pemberian makanan padat sesuai dengan yang dapat ditoleransi oleh klien. Libatkan keluarga pada perencanaan makan sesuai dengan indikasi. Pantau pemeriksaan lasoratorium seperti ; glukosa darah, Ph, HCO3-. Lakukan konsultasi dengan ahli gizi

Defisit cairan berhubungan dengan diuresis osmotic, dan kurang asupan cairanPantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan tekanan darah orthostatikKaji nadi perifer pengisian kapiler, turgor kulit, dan membaran mukosaPantau intake dan output, catat berat jenis urinePertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung. Jika pemasukan cairan sudah dapat diberikanTingkatkan lingkungan yang dapat memberikan rasa nyaman dengan menyelimuti klien dengan selimut tipisKolaborasi pemberian terapi cairan sesuai dengan indikasi

implementasiImplementasi dapat dilaksanakan hampir secara keseluruhan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan dengan melibatkan peran serta klien dan keluarga selama melakukan tindakan. Selain itu juga didukung oleh adanya kerja sama antara dokter, perawat ruangan dan penyusun sendiri selama melaksanakan asuhan keperawatan.

evaluasiTiga dari tujuh diagnosa keperawatan dapat diatasi sesuai dengan criteria waktu yang telah ditetapkan dan empat diagnosa belum teratasi secara keseluruhan, yaitu gangguan rasa nyaman : nyeri, deficit cairan, gangguan integritas kulit dan risiko injuri.

ERIMA KASIH