Pertimbangan Dalam Pengembangan Kawasan BBK

download

of 54

  • date post

    12-Jun-2015
  • Category

    Real Estate

  • view

    1.269
  • download

    4

Embed Size (px)

description

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan Kawasan Batam, Bintan dan Karimun.

Transcript of Pertimbangan Dalam Pengembangan Kawasan BBK

  • 1. PENYUSUNAN RENCANA STRATEGIS PENGEMBANGAN KAWASAN BATAM, BINTAN, DAN KARIMUN Jakarta, 17 September 2007

2. Interim Report 3. Definisi Menarik investasi langsung (terutama PMA), mendorong ekspor, mendorong alih teknologi, dan menyerap tenaga kerja purely economic driven Tujuan Kawasan tertentu dimana diberlakukan ketentuan khusus di bidang kepabeanan, perpajakan, perijinan, keimigrasian, dan ketenagakerjaan serta didukung oleh ketersediaan infrastruktur yang moderen dan memadai dan dikelola secara profesional oleh suatu badan pengelola. Kawasan KEK moderen terdiri dari kawasan industri, perdagangan bebas, komersial terbatas, utilitas pendukung, dan turisme Konsep KEK New Town Utilities Industria l Park Commercial Area Ports Bentuk ideal KEK zone within zone KEK Tourism 4. KONSEP DASAR KEK Merupakan integrated, large scale, mega zones yang dapat terdiri dari wilayah pelabuhan, new town, industri, turisme, komersial, dan utilitas. Di dalam wilayah ini dapat dibentuk pula FTZ, EPZ, serta BZ. Walaupun di dalamnya masih dimungkinkan kegiatan komersial umum, namun jumlah, tipe, dan luasnya dibatasi serta diatur sehingga bersifat selektif dan ditujukan terbatas untuk melayani wisatawan asing, karyawan perusahaan serta anggota keluarganya yang berlokasi di wilayah tersebut Memiliki basis teknologi informasi dan jaringan yang memadai Mengandalkan pada pasar domestik, internal wilayah SEZ dan ekspor Mensyaratkan adanya akses langsung terhadap sarana transportasi laut dan udara yang langsung mengarah pada perdagangan internasional Memperoleh berbagai insentif, baik fiskal maupun non-fiskal. Besaran dan jenis fasilitas fiskal dan non-fiskal disesuaikan dengan kegiatan yang dilakukan. 5. Persyaratan Ideal KEK BBK Sebagai Free Economic Zone 1. Memiliki fokus pengembangan wilayah dengan prioritas pengembangan yang jelas dan terpadu yang meliputi: (i) prioritas utama pada pengembangan ekonomi dan investasi yang dapat berorientasi ekspor dan domestik internal, (ii) dukungan arah pengembangan infrastruktur dan fasilitas pendukung investasi lainnya, dan (iii) pengaturan fasilitas sosial dan non-ekonomi lainnya, seperti pemukiman, turisme, dan olah raga 2. Memiliki zoning yang jelas dengan penataan peruntukan yang konsisten dan terintegrasi 3. Dapat memiliki zoning ekonomi yang berupa FTZ, BZ, EPZ, FPZ atau SIP, bergantung pada kebutuhan 4. Memiliki akses yang baik dan memadai terhadap pelabuhan laut (kontainer), pelabuhan udara (kargo dan penumpang), dan jalan raya 5. Masih berada dalam wilayah kepabeanan 6. 6. Didukung oleh infrastruktur yang moderen dan memadai 7. Difasilitasi oleh prosedur investasi yang ramping dan efisien 8. Didukung oleh berbagai fasilitas perpajakan, kepabeanan, imigrasi, dan lainnya (HGB, HGU, repatriasi modal dan keuntungan, dan sebagainya) 9. Didukung oleh fasilitas-fasilitas sosial yang memadai, seperti rekreasi, duty-free shops, dan olah raga 10. Dikelola oleh otoritas khusus yang memiliki kewenangan terhadap perijinan, perencanaan dan pengembangan investasi, serta perencanaan dan pengembangan infrastruktur 11. Memiliki lokasi yang strategis, terutama terhadap akses laut dan udara internasional 12. Dapat memiliki wilayah pemukiman yang terbatas hanya bagi pekerja di KEK 13. Dibatasi oleh tembok/pagar pembatas untuk memisahkan dengan wilayah pemukiman dan komersial umum 14. Purely economic driven investasi, ekspor, alih teknologi, dan penyerapan tenaga kerja Persyaratan Ideal KEK BBK Sebagai Free Economic Zone 7. LESSON LEARNED: POIN PENTING PENGEMBANGAN KEK BBK 1. Pengelolaan dan pengoperasian SEZ harus mengarah pada prinsip-prinsip profesionalisme, seperti halnya yang berlaku pada sektor swasta 2. Pengelolaan SEZ harus dilakukan dengan kriteria pengembangan dan peruntukan yang jelas 3. Pengembangan SEZ hendaknya dilakukan melalui kerangka kemitraan pemerintah dan swasta yang bersinergi dan baik 4. Membutuhkan dukungan yang terintegrasi dari top-level government 5. Legal dan regulatory framework harus dirampingkan, sementara persaingan diletakkan atas dasar pemfasilitasan dan pelayanan yang prima dibandingkan pemberian insentif 6. Otoritas SEZ harus mandiri, fleksibel namun tetap berfokus pada regulasi, namun dengan kapasitas administrasi yang kuat 8. Batam Bintan Karimun Dasar Hukum PP No 46 Tahun 2007 PP No 47 Tahun 2007 PP No 48 Tahun 2007 Implementasi PP Sejak tanggal diundangkan (20 Agustus 2007) Sejak tanggal diundangkan (20 Agustus 2007) Sejak tanggal diundangkan (20 Agustus 2007) Cakupan wilayah Pulau Batam, Pulau Tonton, Pulau Setokok, Pulau Nipah, Pulau Rempang, Pulau Galang dan Pulau Galang Baru. Sebagian dari wilayah Kabupaten Bintan serta seluruh Kawasan Industri Galang Batang, Kawasan Industri Maritim, dan Pulau Lobam; Sebagian dari wilayah Kota Tanjung Pinang yang meliputi Kawasan Industri Senggarang dan Kawasan Industri Dompak Darat; Sebagian dari wilayah Pulau Karimun dan seluruh Pulau Karimun Anak. Batas tetap dan titik koordinat Sebagaimana dalam peta terlampir yang merupakan bagian dari PP ini. Sebagaimana dalam peta terlampir yang merupakan bagian dari PP ini. Sebagaimana dalam peta terlampir yang merupakan bagian dari PP ini. Jangka waktu penetapan status Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas 70 tahun (terhitung sejak diberlakukannya PP ini) 70 tahun (terhitung sejak diberlakukannya PP ini) 70 tahun (terhitung sejak diberlakukannya PP ini) ASPEK LEGAL PENGEMBANGAN KEK BBK 9. Batam Bintan Karimun Arahan Kegiatan Kegiatan-kegiatan di bidang ekonomi, seperti sektor perdagangan, maritim, industri, perhubungan, perbankan, pariwisata dan bidang lainnya yang ditetapkan dengan PP tersendiri. Kegiatan-kegiatan di bidang ekonomi, seperti sektor perdagangan, maritim, industri, perhubungan, perbankan, pariwisata dan bidang lainnya yang ditetapkan dengan PP tersendiri. Kegiatan-kegiatan di bidang ekonomi, seperti sektor perdagangan, maritim, industri, perhubungan, perbankan, pariwisata dan bidang lainnya yang ditetapkan dengan PP tersendiri. Batasan Kegiatan Pengembangan Sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batam. Sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bintan dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Tanjung Pinang. Sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Karimun. Perubahan Otoritas Kewenangan Otorita Batam Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam Pemerintah Kabupaten Bintan dan Pemerintah Kota Tanjung Pinang Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Bintan Pemerintah Kabupaten Karimun Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Karimun. Penetapan Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Selambat-lambatnya pada tanggal 31 Desember 2008 1 (satu) tahun sejak PP ini diberlakukan 1 (satu) tahun sejak PP ini diberlakukan 10. PENETAPAN FTZ DI BATAM Meliputi 7 Pulau, yaitu: 1. Pulau Batam 2. Pulau Tonton 3. Pulau Nipah 4. Pulau Setokok 5. Pulau Rempang 6. Pulau Galang 7. Pulau Galang Baru Implementasi FTZ di Batam: (PP No. 46Tahun 2007) Peta yang di PP No 46 thn 2007 11. 1. Sebagian dari wilayah Kabupaten Bintan 2. Seluruh Kawasan Industri Galang Batang, 3. Kawasan Industri Maritim, 4. Pulau Lobam; 5. Sebagian dari wilayah Kota Tanjung Pinang meliputi: Kawasan Industri Senggarang dan Kawasan Industri Dompak Darat; Implementasi FTZ di Bintan: PENETAPAN FTZ DI BINTAN (PP No. 47 Tahun 2007) Peta yang di PP No 47thn 2007 12. PENETAPAN FTZ DI KARIMUN Sebagian dari wilayah Pulau Karimun dan seluruh Pulau Karimun Anak Penetapan FTZ di Karimun: (PP No. 48 Tahun 2007) Peta yang di PP No 48thn 2007 13. Manfaat (Gains) Resiko (Risks) Memberikan status hukum yang sesuai dengan implementasinya. Selama ini implementasi Batam menyalahi ketentuan hukum, yaitu sebagai FTZ walaupun secara peraturan perundangan masih sebagai Bonded Zone. Memberikan kepastian hukum kepada investor. Sebagai FTZ, maka kewenangan perencanaan, pengembangan, dan pengelolaan Batam seluruhnya berada pada 1 otoritas, yaitu BP. Penyelundupan dalam bentuk parallel import tidak lagi menarik. Menghilangkan efek diskriminatif teknis untuk perlakuan perpajakan pada seluruh industri yang berada di Batam. Kecemburuan bagi daerah lainnya, terutama yang merasa memiliki potensi yang sama. Konflik dengan UU Nomor 32 tahun 2004. Pada pasal 9 secara implisit dapat ditafsirkan sebagai mensyaratkan enclave untuk kawasan khusus (yaitu di dalam wilayah provinsi dan/atau kabupaten/kota) sehingga wilayah di luar kawasan khusus tetap berada dalam kewenangan pemerintahan daerah. Konflik pembagian peran antara BP dan pemerintah daerah dan hal ini belum diatur secara eksplisit dalam UU Nomor 36 tahun 2000. Pengawasan dan pencatatan statistik perdagangan internasional. Hal ini terkait badan/lembaga yang akan melakukan pencatatan arus keluar dan masuk barang ke Batam dan mekanisme teknis pencatatannya dalam klasifikasi SITC. Penyelundupan dalam bentuk counterfeit products yang disamarkan sebagai parallel imports. IMPLIKASI HUKUM PENERAPAN 7 (TUJUH) PULAU DI BATAM 1. Seluruh kawasan tersebut mendapatkan pembebasan bea masuk, PPN, PPn BM, dan cukai (UU No. 36 tahun 2000 sebagai pengganti Perpu Nomor 1 tahun 2000). 2. Seluruh kawasan tersebut dianggap berada di luar wilayah kepabeanan. 3. Pengelolaan, pengembangan, dan pembangunan dilakukan oleh Badan Pengusahaan (Perpu Nomor 1 tahun 2000 pasal 8). 4. Seluruh kawasan tersebut masih dapat memperoleh insentif yang berlaku di KEK. 5. Manfaat dan Resiko Implementasi Seluruh Barelang Sebagai FTZ 14. IMPLIKASI HUKUM PENERAPAN ENCLAVE DI BINTAN DAN KARIMUN 1. Hanya kawasan tertentu yang memperoleh pembebasan bea masuk, PPN, PPn BM, dan cukai (UU Nomor 36 tahun 2000 sebagai pengganti Perpu Nomor 1 tahun 2000). 2. Pengelolaan, pengembangan, dan pembangunan dilakukan oleh Badan Pengusahaan (Perpu Nomor 1 tahun 2000 pasal 8) pada daerah FTZ dan pemerintah daerah pada daerah di luar kawasan khusus. 3. Seluruh Bintan dan