PERADILAN AGAMA QANUN KOMPILASI HUKUM ISLAM KOMPILASI HUKUM EKONOMI SYARIAH

download PERADILAN AGAMA  QANUN  KOMPILASI HUKUM ISLAM KOMPILASI HUKUM EKONOMI SYARIAH

of 42

  • date post

    08-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    236
  • download

    6

Embed Size (px)

description

Tim Hukum Islam Jum’at , 4 Mei 201 2. PERADILAN AGAMA QANUN KOMPILASI HUKUM ISLAM KOMPILASI HUKUM EKONOMI SYARIAH. 1. PERADILAN AGAMA. Perbedaan suasana pembentukan , sejarah pertumbuhan & Perkembangannya menyebabkan Nama & Kewenangan mengadili berbeda - beda : - PowerPoint PPT Presentation

Transcript of PERADILAN AGAMA QANUN KOMPILASI HUKUM ISLAM KOMPILASI HUKUM EKONOMI SYARIAH

  • Tim Hukum IslamJumat, 4 Mei 2012

  • Perbedaan suasana pembentukan, sejarah pertumbuhan & Perkembangannya menyebabkan Nama & Kewenangan mengadili berbeda - beda:Di Jawa & Madura Pengaruh teori Resepsi. Nama: Priesterraad, Kewenangan: Tdk termasuk kewarisan & Wakaf. UU yg mengatur: Stb 1882 No.152.Di sebgn besar Kalsel & Kaltim Pengaruh teori Resepsi. Nama: Kerapatan Qadhi, Kewenangan: Tdk termasuk kewarisan & Wakaf. UU yg mengatur Stb.1937 No. 116.Di selain kedua tempat tsb: Nama: Mahkamah Syariah, Kewenangan: Termasuk Kewarisan & Wakaf, Peraturan yg mengatur: PP No.45 Tahun 1957.

  • Tidak dapat menjalankan keputusannya secara mandiri menurut UU 14/1970 karena:Dalam susunannya tidak terdapat juru sita. Putusannya memerlukan pernyataan dapat dijalankan (Fiat Eksekusi) dari Pengadilan Negeri Masih tampak pada Psl 63 (2) UU No.1/1974 tentang Perkawinan: Putusan PA dikukuhkan oleh Pengadilan Umum dihapus oleh Pasal 107 UU No.7/1989

    Susunan, Kekuasaan & Acara PA belum diatur dalam UU tersendiri.

  • 14 Desember 1989 terjadi Perubahan mendasar pada lingkungan Peradilan Agama:PA telah menjadi Peradilan mandiri, sejajar dengan peradilan lainnya.Nama, Susunan, Wewenang & Hukum Acaranya seragam di seluruh Indonesia.Perlindungan terhadap wanita lebih ditingkatkan.Lbh memantapkan upaya penggalian berbagai asas & kaidah Hukum Islam sebagai bahan penyusunan & pembinaan hukum nasional.Terwujudnya ketentuan tentang kedudukan susunan, kekuasaan & Hukum Acara di PA pada UU Pokok Kekuasaan Kehakiman.Terlaksananya pembangunan hukum nasional berwawasan nusantara & berbhineka tunggal ika.

  • Hal-Hal yang diamandemen:Pembinaan masalah teknis peradilan, organisasi, administrasi, & keuangan pengadilan, serta pembinaan & pengawasan hakim dilakukan oleh MA. (Pasal 5 jo Pasal 12).Ada Pengadilan Khusus dalam Peradilan Agama yaitu Peradilan Syariah Islam yg diatur dalam UU. (Tambahan Pasal 3A). Misalnya. Peradilan Syariah Islam di Prov. NAD.Tugas & wewenang PA ditambah kewenangannya di bidang infaq, zakat dan ekonomi syariah selain Perkawinan, Waris, Wasiat, Hibah, Wakaf, Shadaqah (Pasal 49).Asas personalitas: termasuk Orang/ Badan Hukum yang dengan sendirinya menundukkan diri dengan sukarela kepada Hukum Islam mengenai hal-hal yg menjadi kewenangan PA.

  • Pasal 50 memberi wewenang kepada PA untuk sekaligus memutuskan sengketa milik/ keperdataan lain yang terkait dengan obyek sengketa yang merupakan kewenangan PA bila subyek sengketa antara orang-orang yang beragama Islam. PA dapat melakukan penangguhan persidangan bila obyek sengketa melibatkan pihak yang bukan subyek sengketa di PA dengan membuktikan ia telah melakukan pendaftaran gugatan di PN.Bila di antara obyek sengketa ada yang tidak terkait dengan obyek sengketa yang diajukan keberatan ke PN, maka PA dapat memutus terhadap obyek tersebut.PA memberikan itsbat kesaksian rukyat hilal dalam penentuan awal bulan pada tahun Hijriyah. (Tambahan Pasal 52A).Ketentuan UU No.7/1989 masih berlaku sepanjang tidak bertentangan & belum diganti berdasarkan UU ini.

  • segala urusan peradilan agama, pengawasan tertinggi internal baik teknis yudisial maupun non yudisial yaitu urusan organisasi, administrasi, dan finansial berada di bawah kekuasaan Mahkamah Agung (MA) untuk menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim maka pengawasan eksternal dilakukan oleh Komisi Yudisial (KY)

  • Qanun adalah Peraturan Perundang-undangan sejenis Peraturan Daerah yang mengatur penyelenggaraan pemerintahan dan kehidupan masyarakat di Provinsi Aceh.Qanun terdiri atas:Qanun Aceh, yang berlaku di seluruh wilayah Provinsi Aceh. Qanun Aceh disahkan oleh Gubernur setelah mendapat persetujuan dengan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh.Qanun Kabupaten/Kota, yang berlaku di kabupaten/kota tersebut. Qanun kabupaten/kota disahkan oleh bupati/walikota setelah mendapat persetujuan bersama dengan DPRK (Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten atau Dewan Perwakilan Rakyat Kota).

  • Pasal 125: Syariat Islam yang dilaksanakan di Aceh meliputi aqidah, syariah dan akhlak, yang terdiri dari (diatur lebih lanjut dalam Qanun) : ibadah, ahwal alsyakhshiyah (hukum keluarga)jinayah (hukum pidana), qadha (peradilan), tarbiyah (pendidikan), dakwah, syiar, dan pembelaan Islam.

  • Kewajiban masyarakat di Aceh:Pasal 126: Setiap pemeluk agama Islam di Aceh wajib menaati dan mengamalkan syariat IslamSetiap orang yg bertempat tinggal / berada di Aceh wajib menghormati pelaksanaan syariat Islam

  • Kewajiban Pemerintahan Aceh dan Pemerintahan Kabupaten/Kota :Pasal 127 bertanggung jawab atas penyelenggaraan pelaksanaan syariat Islammenjamin kebebasan, membina kerukunan, menghormati nilai-nilai agama yg dianut oleh umat beragama dan melindungi sesama umat beragama utk menjalankan ibadah sesuai dgn agama yg dianutnya.mengalokasikan dana dan sumber daya lainnya utk pelaksanaan syariat Islam.Pendirian tmpt ibadah di Aceh hrs mendapat ijin dr pemerintah Aceh dan/Pem. Kabupaten/kota.

  • Mahkamah SyariyahPasal 128 (1):peradilan Syariat Islam di Aceh adalah bagian dari sistem peradilan Nasional dlm lingkungan Peradilan agama yg dilakukan oleh Mahkamah Syariyah yg bebas dr pengaruh pihak manapun.Pasal 128 (2):Mahkamah Syariyah merupakan pengadilan bagi setiap orang yg beragama Islam dan berada di Aceh.

  • Mahkamah SyariyahPasal 128 (3):Mahkamah Syariyah berwenang memeriksa, mengadili, memutus, dan menyelesaikan perkara yg meliputi bidang ahwal alsyakhsyiah (hk.keluarga), muamalah (hk. perdata) dan jinayah (hk. pidana) yg didasarkan atas syariat Islam.Pasal 128 (4):Ketentuan lbh lanjut mengenai bid. Ahwal al syakhsyiah (Hk. Keluarga), muamalah dan jinayah diatur dgn Qanun Aceh.

  • Undang-undang Nomor 18 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Propinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, menetapkan Mahkamah Syar'iyah sebagai Peradilan Syariat Islam dengan kompetensi absolut meliputi seluruh aspek Syariat Islam yang akan diatur dengan qanun harus mencakup seluruh aspek hukum yang telah ada ketentuannya dalam Syariat Islam.

  • Qanun 10/2002 hanya menentukan secara garis -besar bidang-bidang hukum Syariat Islam yang menjadi kekuasaan Peradilan Syariat Islam, rumusannya secara lengkap dan rinci akan diatur dalam Qanun tersendiri yang menetapkan hukum materil dan hukum formil. Agar tidak terjadi kevakuman selama Qanun tentang hukum materil dan hukum formil belum diundangkan, maka Peradilan Syariat Islam dapat segera dilaksanakan dengan berpedoman kepada peraturan perundang-undangan yang sudah ada dan masih berlaku serta tidak bertentangan dengan Syariat Islam.

  • PSI merupakan bagian dari sistem Peradilan Nasional yang dibentuk dengan Qanun. (Pasal 1 & 2).Agar tidak terjadi dualisme dalam pelaksanaan PSI, maka PA yang telah ada di NAD dialihkan menjadi lembaga PSI. (Pasal 2 (3) jo Pasal 58 (1)).Hirarki PSI (Pasal 3 jo 4):Mahkamah Syariyah Kab/KotaMahkamah Syariyah Prov (MSP) Ibukota Prov.Mahkamah Agung.Dimungkinkan adanya hakim ad.hoc. utk menyelesaikan kasus yg memerlukan keahlian khusus (Pasal 8).Hakim ad. Hoc diangkat oleh gubernur dengan persetujuan DPRD atas usul MSP (Penj. Pasal 8 (3) ).

  • Hal-hal yang berbeda dalam Ketentuan Hakim:Pemberhentian dengan hormat hakim atas permintaan sendiri mencakup pengunduran diri dengan alasan hakim yang bersangkutan tidak dapat menegakkan hukum di rumah tangganya sendiri (Pasal 18).Pemberhentian dengan tidak hormat bila melakukan kejahatan jinayat minimal 4 bulan kurungan/ cambuk min.2x / denda 1 jt tanpa memberi kesempatan untuk membela diri (Pasal 19).Hukum Materil & Formil: bersumber dari atau sesuai dgn syariat Islam yang akan diatur dengan Qanun (Pasal 53 jo 54).Dalam jangka waktu 5 tahun, MA akan membuka kamar khusus di Prov. NAD.

  • Al Ahwal al Syakhsiyah: hukum keluarga.Muamalah: termasuk perbankan, perburuhan, takaful, wakaf, hibah, shadaqah).Jinayah:Hudud: Zina, menuduh berzina, mencuri, merampok, minuman keras, NAPZA, murtad dan , pemberontakan.Qishas/ Diyat: Pembunuhan & PenganiayaanTazir: Hukuman selain Hudud & Qishas seperti judi, khalwat, meninggalkan sholat fardu & puasa ramadhan.

  • Menyatukan wawasan hakim2 PA di Indonesia dalam menyelesaikan kasus2.Memenuhi asas manfaat & keadilan berimbang yg terdapat dalam hukum Islam.Mengatasi masalah2 khilafiyah (Perbedaan Pendapat)Mampu menjadi bahan baku & berperan aktif dalam pembinaan hukum nasional.

  • Mengandung garis2 hukum, atau bagian2 hukum yang sudah meresap ke dalam dan menjadi kesadaran hukum masyarakat muslim Mengandung hal2 baru yang bercorak Indonesia, Mis: ahli waris pengganti untuk cucu yang orangtuanya meninggal lebih dulu, wasiat wajibah untuk anak angkat, perwalian untuk anak yang belum dewasa (21 tahun) untuk mengurus anak dan harta kekayaan anak tsb.

  • Jalur yg dilakukan panitia dlm menyusun KHI:1. Jalur pengkajian kitab2 fikih.2. Jalur pendapat para ulama.3. Jalur yurisprudensi. 4. Jalur studi perbandinganPenyusunan pasal2 dengan logis sistematis, bahasa sederhana, mudah dipahami & singkat.Pertimbangan kemaslahatan, konsep ijtihadiBerperan sbg perekayasa masyarakat muslim Indonesia

  • I Buku I Hkm perkawinan: Ketentuan Umum, Dasar2 Perkawinan, Peminangan, Rukun & Syarat Perkawinan, Mahar, Larangan Perkawinan, Perjanjian perkawinan, Kawin Hamil, Beristeri Lebih dari satu Orang, .

  • Buku I Hkm perkawinan: .Pencegahan Perkawinan, Batalnya Perkawinan, Hak & Kewajiban Suami Isteri, Harta Kekayaan Dalam Perkawinan, Pemeliharaan Anak, Perwalian, Putusnya Perkawinan, Akibat Putusnya Perkawinan, Rujuk, Masa Berkabung.

  • 2. Buku II Hkm kewarisan: Ketentuan Umum, Ahli Waris, Besarnya Bagian