PENGARUH KONTRIBUSI PAJAK PENERANGAN JALAN Kontribusi Pajak Penerangan Jalan Terhadap Pendapatan...

download PENGARUH KONTRIBUSI PAJAK PENERANGAN JALAN Kontribusi Pajak Penerangan Jalan Terhadap Pendapatan Asli

of 24

  • date post

    10-Aug-2019
  • Category

    Documents

  • view

    228
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of PENGARUH KONTRIBUSI PAJAK PENERANGAN JALAN Kontribusi Pajak Penerangan Jalan Terhadap Pendapatan...

  • Pengaruh Kontribusi Pajak Penerangan Jalan Terhadap Pendapatan Asli Daerah (Pad) Kabupaten Bandung Barat (Studi Kasus Pada Badan Pendapatan Keuangan Dan Aset Daerah Kabupaten Bandung Barat Tahun 2012-2016)

    1

    PENGARUH KONTRIBUSI PAJAK PENERANGAN JALAN TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) KABUPATEN BANDUNG BARAT

    (Studi Kasus pada Badan Pendapatan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Bandung Barat Tahun 2012-2016)

    Disusun Oleh : Bella Nurfaizah

    bellanurfaizah@gmail.com Universitas Jenderal Achmad yani

    ABSTRAK

    Pajak Penerangan Jalan merupakan komponen pendapatan asli daerah yang sangat potensial terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bandung Barat mengingat jumlah penerangan jalan di Kabupaten Bandung Barat terus meningkat. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui seberapa besar Kontribusi Pajak Penerangan Jalan terhadap PendapatanAsli Daerah Kabupaten Bandung Barat. Pengujian statistik yang digunakan ialah analisis regresi linier sederhana, koefisien korelasi pearson, uji t, dan koefisien determinasi. Pajak Penerangan Jalan berkontribusi sebesar 6.9% terhadap Pendapatan Asli Daerah.

    Kata Kunci: Pajak Penerangan Jalan, Pendapatan Asli Daerah, Badan Pendapatan Keuangan dan Aset Daerah.

    Abstract Street Lighting Tax is a very potential component of regional income towards

    West Bandung Regency Regional Revenue (PAD) considering that the amount of street lighting in West Bandung Regency continues to increase. The purpose of this study is to find out how much the contribution of the tax on street lighting to the income of the local region of West Bandung Regency. The test statistic used is simple linear regression analysis, Pearson correlation coefficient, t test, and coefficient of determination. Road Lighting Tax contributes 6.9% to Regional Original Revenue.

    Keywords: Road Lighting Tax, Regional Original Revenue, Revenue Agency Regional Finance and Assets.

    1. PENDAHULUAN

    Pembangunan nasional adalah pembangunan yang berlangsung secara terus menerus dan berkesinambungan serta merata di seluruh tanah air yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk mensejahterakan rakyat Indonesia secara adil dan merata. Hal ini dilakukan guna meningkatkan seluruh aspek kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Untuk merealisasikan tujuan tersebut negara memerlukan sumber dana yang cukup besar, sumber dana tersebut memegang peran

  • Portofolio Volume 14 No. 1, Mei 2017 : 1 – 24 ISSN : 1829 -7188

    2

    penting guna mendukung kelangsungan pemerintahan dan masyarakat itu sendiri. Sumber dana tersebut dapat diperoleh melalui peran serta masyarakat secara bersama dalam berbagai bentuk serta diantaranya adalah pajak, karena pajak merupakan pendapatan yang besar di dalam suatu negara. Definisi pajak menurut Mardiasmo (2011:1) adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontrapretasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.

    Era otonomi daerah yang secara resmi mulai diberlakukan di Indonesia sejak 1 januari 2001 menghendaki daerah untuk berupaya secara optimal mencari sumber penerimaan yang dapat membiayai pengeluaran pemerintah daerah dalam rangka menyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan. Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan salah satu modal dasar pemerintahan daerah dalam memperoleh dana utuk pembangunan dan untuk memenuhi belanja daerah. Pendapatan Asli Daerah merupakan alokasi sumber-sumber keuangan pemerintah untuk daerah yang disebabkan oleh adanya permintaan daerah untuk membiayai kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat yang dapat diperoleh dari pajak daerah, retribusi daerah, pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain PAD yang sah.

    Adapun sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah menurut Undang-Undang No. 28 Tahun 2009 yaitu :

    1. Hasil Pajak Daerah 2. Hasil Retribusi Daerah 3. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan 4. Lain-lain PAD yang sah

    Dari berbagai alterntif penerimaan daerah, Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah menetapkan pajak dan retribusi daerah sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang bersumber dari dalam daerah itu sendiri dan dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi maisng-masing daerah (Puji wibowo, 2008).

    Tabel 1 Perbandingan Realisasi Pajak Daerah dan Realisasi Pendapatan Asli Daerah

    (PAD) Kabupaten Bandung Barat serta Persentase Pajak Daerah terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD)

    Tahun 2010-2014 No Tahun Realisasi Pajak

    Daerah Realisasi PAD %

    Terhadap PAD

    1 2010 106.722.746.973 138.322.183.436,36 77.15 2 2011 153.764.055.782 187.170.467.143,05 82.15 3 2012 169.333.416.634 228.048.870.386,59 74.25 4 2013 217.833.359.547 269.959.752.974,71 80.62 5 2014 263.939.808.206 316.896.936.113.05 83.23

    Rata- rata

    1.823.186.774 3.168.969.361 79.48

    Sumber : Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Bandung Barat

  • Pengaruh Kontribusi Pajak Penerangan Jalan Terhadap Pendapatan Asli Daerah (Pad) Kabupaten Bandung Barat (Studi Kasus Pada Badan Pendapatan Keuangan Dan Aset Daerah Kabupaten Bandung Barat Tahun 2012-2016)

    3

    Berdasarkan data pada tabel di atas, terlihat bahwa jumlah penerimaan pajak daerah dan retribusi daerah di Kabupaten Bandung Barat setiap tahun mengalami peningkatan. Penerimaan pajak daerah memiliki kontribusi yang besar terhadap penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bandung Barat. Rata-rata kontribusi Pajak Daerah terhadap Pendapatan Asli Daerah selama kurun waktu lima tahun sebesar 79,48 persen, angka tersebut masih bisa dipertahankan dan ditingkatkan dengan melakukan beberapa upaya seperti intensifikasi dan ekstensifikasi pajak daerah.

    Pajak Penerangan Jalan merupakan pungutan daerah atas penggunaan tenaga listrik baik untuk industri maupun non industri. Dengan melihat semakin baiknya perekonomian Kabupaten Bandung Barat, maka tidak heran jika pemasukan pemerintah daerah dari sektor Pajak Daerah juga meningkat, tidak terkecuali Pajak Penerangan Jalan. Meningkatnya Pajak Penerangan Jalan lebih terpengaruh oleh bertambahnya pengguna listrik sebagaic ontoh sumber listrik yang sudah terjangkau ke daerah-daerah terpencil di Kabupaten Bandung Barat yang menyebabkan bertambahnya pengguna listrik.

    2. TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Pajak Dalam rangka pembangunan Negara, pemerintah Indonesia memerlukan

    dukungan dana yang cukup besar. Sumber pendanaan dapat berasal dari internal maupun dari kesternal. Salah satu sumber internal berasal dari pajak. Pengertian pajak menurut. Rochmat Soemitro, dalam Mardiasmo (2013:1):

    “Pajak ialah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi), yang langsung dapat ditunjukkan dan digunakan untuk membayar pengeluaran umum.”

    Adapun menurut Suparmoko (2011:25) adalah sebagai berikut : “Pajak adalah pembayaran iuran oleh rakyat kepada pemerintah yang dapat

    dipaksakan dengan tanpa balas jasa secara langsung dapat ditunjukan.”

    Unsur-unsur pokok dari definisi di atas, yaitu (1) iuran atau pungutan, (2) dipungut berdasarkan Undang-undang, (3) pajak dapat dipaksakan, (4) tidak memperoleh kontraprestasi, dan (5) untuk membiayai pengeluaran umum pemerintah. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pajak adalah iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh wajib pajak menurut peraturan-peraturan dan tidak mendapatkan prestasi kembali yang secara langsung dapat ditunjuk.

    Fungsi Pajak menurut Undang-Undang No. 28 Tahun 2008 adalah sebagai berikut :

    “1. Fungsi Anggaran (Budgetair) Fungsi anggaran merupakan fungsi pembiayaan untuk pembangunan dan penyelenggaraan negara. Biasanya, penerimaan pajak sebagai pelaksanaan fungsi anggaran tercermin dalam APBN/APBD.

    2. Fungsi Mengatur (Regulerend)

  • Portofolio Volume 14 No. 1, Mei 2017 : 1 – 24 ISSN : 1829 -7188

    4

    Selain mengemban fungsi penerimaan negara, pajak juga berfungsi sebagai alat kebijakan ekonomi-politik yang akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi atau tingkat pertumbuhan konsumsi masyarakat.”

    Sesuai dengan undang-undang pajak di Indonesia, pajak dapat digoolongkan/dikelompokkan menjadi beberapa kelompok. Menurut Mardiasmo (2016:7) pengelompokan pajak terdiri dari :

    “1. Menurut golongannya a) Pajak langsung, yaitu pajak yang harus dipikul sendiri oleh Wajib Pajak

    dan tidak dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada Orang Lain. b) Pajak tidak langsung yaitu pajak yang pada akhirna bebannya dapat

    dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain. Contoh: Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPN dan PPnBm).

    2. Berdasarkan Lembaga Pemungutannya a. Pajak Pusat/Pajak Negara

    Adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan digunakan untuk membiayai rumah tangga negara. Contoh : Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, dan Bea Materai.

    b. Pajak Daerah Adalah pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah dan digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah. Pajak daerah terdiri atas: 1) Pajak Provinsi, contoh: Pajak Kendaraan Bermotor dan Pajak Bahan

    Bakar Kendaraan Bermotor. 2) Pajak Kabupaten/Kota, contoh: Pajak Penerangan Jalan, Pajak Hotel,

    Pajak Reklame dll. 3. Berdasarkan Sifatnya

    a. Pajak Subyektif, yaitu pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada subjeknya, dalam arti memperhatikan keadaan diri wajib pajak. Contoh: Pajak Penghasilan (PPh).

    b. Pajak Obyektif, yaitu paj