Penatalaksanaan fisioterapi pada kasus spinal cord injury incomplit ais b sl c5 e

download Penatalaksanaan fisioterapi pada kasus spinal cord injury incomplit ais b sl c5 e

of 53

Embed Size (px)

description

Penatalaksanaan fisioterapi pada kasus spinal cord injury incomplit ais b sl c5 e

Transcript of Penatalaksanaan fisioterapi pada kasus spinal cord injury incomplit ais b sl c5 e

  • 1. Penatalaksanaan fisioterapi pada kasus Spinal Cord Injury incomplit AIS B SL C5 e.c Spondilitis TB C5-C6 post PSSW Leave a reply BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya seorang individu memerlukan interaksi atau dengan kata lain memerlukan suatu hubungan sosial dengan masyarakat disekitarnya, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik dalam segi biologis, psikologis dan juga kebutuhan sosialnya. Berinteraksi berarti seorang individu harus berhubungan dengan manusia lainnya baik langsung maupun tidak langsung, jika secara langsung mereka akan saling bertemu satu sama lain. Pada aktifitas inilah seseorang individu dapat tertular penyakit yang diderita manusia lain, salah satunya adalah Tuberculosis. Jika tuberculosis ini menjangkit daerah tulang belakang maka akan mengakibatkan terjadinya spinal cord injuri yang dapat mengakibatkan kelumpuhan. Spinal cord injury adalah suatu kerusakan pada medulla spinalis akibat trauma atau non trauma yang akan menimbulkan gangguan pada sistem motorik, sistem sensorik dan vegetatif. Kelainan motorik yang timbul berupa kelumpuhan atau gangguan gerak dan fungsi otot-otot, gangguan sensorik berupa hilangnya sensasi pada area tertentu sesuai dengan area yang dipersyarafi oleh level vertebra yang terkena, serta gangguan sistem vegetatif berupa gangguan pada fungsi bladder, bowel dan juga adanya gangguan fungsi sexual. Meskipun penyebab yang sering terjadi pada spinal cord injury ini adalah trauma seperti fraktur vertebra yang biasanya disebabkan karena kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian, kecelakaan dalam olahraga, terbentur keras & kecelakaan dalam bekerja. Namun ada juga yang karena infeksi yang menyerang pada collumna vertebralis sehingga dapat merusak medulla spinalis. Fisioterapi dapat berperan sejak fase awal terjadinya trauma sampai pada tahap rehabilitasi. Pada penderita SCI kerusakan yang terjadi pada medulla spinalis bersifat permanen, karena seperti yang kita ketahui bahwa setiap kerusakan pada sistem saraf maka tidak akan terjadi regenerasi dari sistem saraf tersebut dengan kata lain sistem tersebut akan tetap rusak walaupun ada regenerasi akan kecil sekali peluangnya. Berdasarkan hal tersebut maka intervensi yang diberikan oleh fisioterapi pun bertujuan untuk meningkatkan kemandirian pasien dengan kemampuan yang dimilikinya untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
  • 2. Spinal cord injury merupakan salah satu kasus yang cukup besar menimpa masyarakat kota pada masa sekarang ini. Apabila kasus ini tidak ditangani secara cepat dan tepat dapat mengakibatkan penurunan kualitas hidup seseorang atau bahkan kematian. Seseorang yang mengalami spinal cord injury seringkali mengalami ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan hidup seharihari, bekerja, bersosialisasi, dan kehilangan rasa percaya diri yang semuanya itu jika tidak diatasi dapat membawa penderita tersebut mengalami masalah yang lebih besar lagi yang menurunkan kualitas hidupnya, juga dapat berakibat kepada keluarga, serta orang-orang disekitarnya. Peran fisioterapis menurut KepMenKes 1363 Pasal 1 ayat 2 adalah Bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada individu dan atau kelompok untuk mengembangkan, memelihara dan memulihkan gerak dan fungsi tubuh sepanjang daur kehidupan dengan menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak, peralatan ( fisik, elektroterapeutis dan mekanis ), pelatihan fungsi, komunikasi . Fisioterapi sebagai salah satu pemberi pelayanan kesehatan dapat memberikan sumbangan ilmu dan kemampunnya dalam meningkatkan kualitas hidup penderita spinal cord injury. Hal ini dapat dilakukan karena bidang kajian pelayanan fisioterapi dan masalah yang ditangani fisioterapi dalam praktek sehari-hari adalah masalah atau gangguan gerak dan fungsi. Seperti kita ketahui bersama bahwa masalah penurunan kualitas hidup penderita spinal cord injury ini lebih banyak diakibatkan karena ketidakmampuan untuk bergerak dan berfungsi baik secara organ dan sistem dalam memenuhi tugas dan kewajibannya untuk memenuhi kebutuhan pribadi, keluarga, tempat kerja, dan lingkungan sosialnya. Dalam hal ini fisioterapi jelas sangat diperlukan untuk memberikan latihan-latihan, edukasi, baik kepada pasien maupun keluarganya untuk membantu pasien dalam mengatasi gangguan gerak dan fungsi yang diakibatkan spinal cord injury tersebut Berdasarkan uraian diatas dan mengingat spesifikasi juga kelebihan pada RSUP. Fatmawati Jakarta dalam menangani kasus spinal cord injury, maka kelompok ini mencoba mengkaji dan memberikan pelayanan fisioterapi serta melaporkan hasil mengenai Penatalaksanaan fisioterapi pada kasus Spinal Cord Injury incomplit AIS B SL C5 e.c Spondilitis TB C5-C6 post PSSW. I.2 Identifikasi Masalah Seperti uraian di atas banyak sekali problematik yang timbul pada kondisi Spinal cord injury. Problematik yang akan di alami pasien antara lain 1. Gangguan fungsi sensoris. 2. Gangguan fungsi motorik. 3. Gangguan fungsi vegetatif dan otonom ( blader & bowel ) 4. Gangguan fungsi ADL. 5. Gangguan mobilisasi / transver. 6. Gangguan psikologis.
  • 3. 7. Gangguan seksual. 8. Menurunnya rasa percaya diri. 9. Gangguan berinteraksi. 10. Gangguan berkomunikasi. 11. Penurunan Vital sign 12. Skin problem. I.3. Pembatasan Masalah Mengingat banyaknya permasalahan yang timbul pada kasus spinal cord injury, maka dalam laporan kasus ini kami membatasi masalah hanya pada lingkup gerak fisioterapi yaitu gerak dan fungsi, ada pun permasalahannya adalah : 1. Gangguan fungsi sensoris. 2. Gangguan fungsi motorik. 3. Gangguan fungsi vegetatif dan otonom ( blader & bowel ) 4. Gangguan fungsi ADL. 5. Gangguan mobilisasi / transver. 6. Penurunan Vital sign 7. Skin problem. I.4. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang, identifikasi masalah dan pembatasan masalah yang ada, maka kami merumuskan masalah-masalah yang akan dikaji dan dilaporkan adalah sebagai berikut : 1. Gangguan sensasi menyangkut adanya anastesia, hiperestesia, parastesia. 2. Gangguan motorik menyangkut adanya kelemahan dari fungsi otot-otot dan reflek tendon myotome. 3. Gangguan fungsi vegetatif dan otonom menyangkut adanya flaccid dan sapstic blader dan bowel. 4. Gangguan fungsi ADL yaitu makan, toileting, berpakaian, kebersihan diri.
  • 4. 5. Gangguan mobilisasi yaitu Miring kanan dan kiri, Transfer dari tidur ke duduk, Duduk, Transfer dari bed ke kursi roda, dan dari kursi roda ke bed. 6. Penurunan Vital sign yaitu penurunan ekspansi thorax, kapasitas paru dan hipotensi. 7. Skin problem menyangkut adanya decubitus. I.5. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum. Mengetahui proses penatalaksanaan fisioterapi pada kondisi pasien dengan spinal cord injury. 2. Tujuan Khusus. 1. Untuk mengetahui prosedur assesment fisioterapi pada penderita spinal cord injury. 2. Untuk mengetahui diagnosa dan problematic fisioterapi pada penderita spinal cord injury. 3. Untuk mengetahui target yang dapat diraih oleh penderita spinal cord injury. 4. Untuk mengetahui prosedur pemberian intervensi fisioterapi yang tepat dan dapat diberikan kepada penderita spinal cord injury. I.6. Manfaat Penulisan a. Bagi penulis adanya penulisan laporan kasus ini akan menambah pemahaman dalam mempelajari dan menerapkan proses penatalaksanaan fisioterapi pada pasien spinal cord injury. b. Bagi institusi Sebagai referensi tambahan untuk mengetahui penatalaksanaan fisioterapi pada gangguan gerak dan fungsi yang diakibatkan oleh spinal cord Injury dan sebagai bahan kajian pada pelaporan akhir praktek. c. Bagi masyarakat mendapatkan terapi yang tepat dan bermanfaat pada kondisi spinal cord injury. BAB II PROFIL RSUP FATMAWATI Sejarah Singkat
  • 5. Bermula dari Ibu Fatmawati yang saat itu sebagai Ibu Negara Republik Indonesia bermaksud mendirikan sebuah Rumah Sakit Tuberculose anak-anak, untuk perawatan pederita TBC anak serta tindakan rehabilitasinya. Peletakan batu pertama pembangunan pada tanggal 2 Oktober 1954. Dengan dana yang dihimpun oleh Yayasan Ibu Soekarno dan bantuan dari Yayasan Dana Bantuan Departemen Sosial RI dilaksanakan pembangunan Gedung Rumah Sakit Ibu Soekarno hingga selesai dan dapat difungsikan sebagai rumah sakit. Fungsi rumah sakit tersebut berubah menjadi Rumah Sakit Umum seperti ketentuan dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI, Nomor 21286/Kep/121 tanggal 1 April 1961 yang ditandatangani oleh Prof. Dr. Satrio yang berisi ketetapan sebagai berikut : 1. Rumah Sakit Ibu Soekarno memiliki status dan fungsi sebagai Rumah Sakit Umum. 2. Rumah Sakit Umum tersebut diselenggarakan oleh Departemen Kesehatan RI. 3. Pembiayaan Rumah Sakit Umum ini dibebankan pada anggaran Departemen Kesehatan RI. 4. Keputusan ini berlaku mulai tanggal 15 April 1961. Dengan diberlakukannya keputusan tersebut maka pada tanggal 15 April 1961 ditetapkan sebagai hari jadi Rumah Sakit Umum Fatmawati. Pada awal tahun 1967 oleh Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. G. A. Siwabesi RSU Ibu Soekarno diganti nama menjadi RSU Fatmawati. Dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 294/Menkes/SK/V/1984 tanggal 30 Mei 1984, RSU Fatmawati ditetapkan sebagai pusat rujukan wilayah Jakarta Selatan. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 754/Menkes/SK/VI/1994 tanggal 2 September 1992 RSU Fatmawati ditetapkan menjadi rumah sakit unit swadana. Pada tahun 1998 RSU Fatmawati ditetapkan menjadi Rumah Sakit PNBP. Akhir tahun 2002 sebagai RS Peru