PEMANFAATAN LUMPUR SIDOARJO SEBAGAI SUBTITUSI mikrobakteri dapat dijadikan patokan bahwa bakteri...

download PEMANFAATAN LUMPUR SIDOARJO SEBAGAI SUBTITUSI mikrobakteri dapat dijadikan patokan bahwa bakteri dalam

of 12

  • date post

    12-Aug-2019
  • Category

    Documents

  • view

    213
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of PEMANFAATAN LUMPUR SIDOARJO SEBAGAI SUBTITUSI mikrobakteri dapat dijadikan patokan bahwa bakteri...

  • IQBAL HUSEIN

    3109100017

    PEMANFAATAN LUMPUR SIDOARJO

    SEBAGAI SUBTITUSI SEMEN DALAM

    PEMBUATAN SELF HEALING

    CONCRETE

    SEMINAR TUGAS AKHIR

    16 Oktober 2013, surabaya

  • LATAR BELAKANG

    TOPIK BAHASAN

    2Seminar tugas akhir, 21 oktober 2013, surabaya

    RUMUSAN DAN BATASAN MASALAH

    METODOLOGI PENELITIAN

    METODE PENGUJIAN

    KESIMPULAN DAN SARAN

  • Indonesia termasuk ke dalam zona cincin api

    LATAR BELAKANG

    Volume lumpur sidoarjo yang terus meningkat

    3

    Gempa bumi mengakibatkan crack/retak pada bangunan

    Volume luapan lumpur Sidoarjo (Lusi) terus meningkat dan belum ada tanda-tanda untuk berhenti

    Seminar tugas akhir, 21 oktober 2013, surabaya

    Penggunaan semen berlibahn dalam pembangunan penyebab efek rumah kaca

  • RUMUSAN MASALAH

    4

    • Berapa perbandingan antara semen, CaCO3, lumpur bakar Sidoarjo, dan pasir sehingga didapatkan komposisi yang optimum dalam mortar?

    • Bagaimana pengaruh penambahan mikrobakteri pada mortar? • Apakah terjadi healing pada mortar campuran lumpur bakar sidoarjo? • Apakah terjadi healing pada mortar yang diberi mikrobakteri?

    BATASAN MASALAH

    • Bahan campuran utama yang digunakan adalah lumpur bakar Sidoarjo, Dolosit (CaCO3), air, semen, dan agregat halus berupa pasir. Tidak menggunakan agregat kasar.

    • Tidak membahas reaksi kimiawi antara zat. • Lumpur yang di gunakan adalah lumpur kering, yang telah di oven dengan suhu

    100oC, kemudian dibakar dengan suhu 800° C selama 3 jam dan dihancurkan sampai berbentuk serbuk lolos ayakan no. 200.

    • Penelitian hanya terbatas skala laboratorium. • Dilakukan proses wet curing pada benda uji 15x15x15 dengan cara menutup

    benda uji dengan karung goni dan terus dibasahi sampai masa curing berlangsung. • Tes UPV dan investigasi makroskopis dilakukan setelah umur mortar 28 hari. • Dalam penentuan nilai optimum tidak mempertimbangkan faktor biaya.

    Seminar tugas akhir, 21 oktober 2013, surabaya

  • METODOLOGI PENELITIAN

    5

    START

    Study literatur

    Analisa Material

    Membuat benda uji mortar kubus dengan semen(PC), Lumpur bakar dan Kalsium karbonat CaCO3 (K) dalam % dari berat binder Dalam % dan perbandingan berat binder terhadap pasir sebesar 1 : 3

    dan faktor w/b 0,5 campuran PC CaCO3 LB mikrobakteri MR8-1-1 80% 10% 10% - MR7-2-1 70% 10% 20% - MRMB 100% - - 0,4L/m3

    mortar kubus 5x5x5 cm3 Membuat benda uji mortar kubus 15x15x15 cm3

    Pengujian : Berat Volume dan Tes kuat tekan hancur pada umur 3, 7, 14, 28, 31, 35, 42 dan 56 hari

    Penekanan 0,8 fc’ pada umur 28 hari

    Pengujian : Tes kuat tekan hancur, tes Ultrasonik(UPV), Investigasi Makroskopis 3, 7, 14 dan 28 hari dan XRD

    FINISH CURING

    Seminar tugas akhir, 21 oktober 2013, surabaya

  • Metode Pengujian

    6Seminar tugas akhir, 21 oktober 2013, surabaya

    • Tes Berat Volume • Tes Kuat Tekan Hancur • Tes Ultrasonik (UPV) • Tes Investigasi Makroskopis (Looping)

  • Hasil dan Analisa

    7

    3000

    3200

    3400

    3600

    3800

    4000

    0 10 20 30 40 50 60

    b e ra

    t v

    o lu

    m e (

    K g

    /m 3 )

    Umur (hari)

    MR8-1-1 MR7-2-1 MRMB

    0.00

    5.00

    10.00

    15.00

    20.00

    25.00

    30.00

    0 10 20 30 40 50 60

    K u

    a t

    te k a n

    (M p

    a )

    Umur (Hari)

    MR8-1-1 MR7-2-1 MRMB

    Seminar tugas akhir, 21 oktober 2013, surabaya

  • Variasi Benda Uji

    8

    Dibuat 6 variasi benda uji berbentuk kubus 15 x 15 x 15 dengan jumlah benda uji sebanyak 38 untuk tiap variasi

    0.00

    2.00

    4.00

    6.00

    8.00

    10.00

    12.00

    14.00

    16.00

    18.00

    0 5 10 15 20 25 30

    Ku at

    te ka

    n (M

    Pa )

    Umur (Hari)

    Kuat tekan mortar Sebelum Healing

    MR8-1-1 MR7-2-1 MRMB

    0.00

    2.00

    4.00

    6.00

    8.00

    10.00

    12.00

    14.00

    16.00

    30 35 40 45 50 55 60

    Ku at

    T ek

    an (M

    Pa )

    Umur (Hari)

    Kuat Tekan Mortar sesudah Healing

    MR8-1-1 MR7-2-1 MRMB 0.00

    2.00

    4.00

    6.00

    8.00

    10.00

    12.00

    14.00

    16.00

    18.00

    3 7 14 28 31 35 42 56

    MR8-1-1

    MR7-2-1

    MRMB

    Seminar tugas akhir, 21 oktober 2013, surabaya

  • Gambar Perkembangan Healing dari Hari ke Hari

    9Seminar tugas akhir, 21oktober 2013, surabaya

    Umur setelah penekanan

    0,8 fc’ (hari)

    Mortar

    MR8-1-1 MR7-2-1 MRMB

    0

    (Initial)

    3

    7

    14

    28

  • KESIMPULAN

    10

    • Untuk mortarMx-y-z didapatkan hasil kuat tekan maksimum pada komposisi mortar dengan komposisi semen : dolosit(CaCO3) : lumpur bakar : pasir adalah 20% : 2,5% : 2,5% : 75% yaitu 20,23 MPa pada 56 hari.

    • Penambahan mikrobakteri kedalam mortar sangat berpengaruh pada kuat tekan, hal ini dibuktikan dengan kuat tekan yang tinggi pada umur 56 hari. Memang pada awalnya tes tekan tidak terlihat bagus pada 28 hari, bahkan kalah jika dibandingkan dengan mortar dengan menggunakan 10% lumpur bakar sidoarjo. Akan tetapi pertambahan berat pada mortar yang menggunakan mikrobakteri dapat dijadikan patokan bahwa bakteri dalam mortar masih berkembang dan menjadikan kuat tekannya semakin naik pada 56 hari.

    • Pada benda uji mortar dengan campuran lumpur bakar sidoarjo dapat diketahui bahwa healing terjadi pada benda uji ini setelah di tes melalui tes ultrasonik. Didapatkan kedalaman retak yang semakin berkurang dari hari ke hari dan cepat rambat gelombang yang bertambah dari hari ke hari. Hal ini membuktikan bahwa healing terjadi, dan penutupan crack maksimal terjadi pada benda uji mortar dengan prosentase lumpur bakar sebesar 20% pada binder.

    • Pada benda uji mortar dengan campuran mikrobakteri, terjadinya healing pada benda uji ini sangat berpengaruh pada proses curing yang dilakukan. Pada percobaan pertama, benda uji tidak mengalami healing yang signifikan diakibatkan proses curing yang tidak tepat. Pada awalnya benda uji dengan mikrobakteri ini di curing dengan sistem wet curing, akan tetapi healing tidak terjadi dengan maksimal karen bakteri pada benda uji tidak berkembang akibat proses curing yang menyebabkan minimnya oksigen pada benda uji. Setelah karung goni basah yang menutupi benda uji ini pada proses curing dilepas, healing terjadi sangat cepat karena sifat bakteri yang aerob.

    Seminar tugas akhir, 21 oktober 2013, surabaya

  • SARAN

    11

    • Perlu dilakukan pengujian lumpur bakar sidoarjo pada beberapa variasi yang lain pada mortar.

    • Perlu dilakukan penelitian selanjutnya pada presentase lumpur bakar sidoarjo yang optimal digunakan agar healing terjadi dengan cepat.

    • Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pada mikrobakteri yang digunakan untuk proses healing agar didapatkan healing yang maksimal pada benda uji.

    Seminar tugas akhir, 21 oktober 2013, surabaya

  • 12

    SEKIAN DAN TERIMA KASIH

    Seminar tugas akhir, 21 oktober 2013, surabaya