Pelayan Rakyat (edisi 2)

download

of 9

Embed Size (px)

description

Tabloid Pelayan Rakyat (edisi 2) oleh: Komunitas Alumni Perguruan Tinggi

Transcript of Pelayan Rakyat (edisi 2)

  • 1. DAFTAR FITNAH TERHADAP JOKOWI halaman 14
  • 2. SaatnyaKebaikanMemimpinIndonesia SaatnyaKebaikanMemimpinIndonesia 2 Edisi Khusus 2 - Jokowi plus Jusuf Kalla 3Edisi Khusus 2 - Jokowi plus Jusuf Kalla Kisah ini terjadi sewaktu Pak Joko Widodo (Jokowi) menjabat sebagai Walikota Solo. Saat itu hari masuk kantor, sekitar jam 07:00 pagi Pak Jokowi sudah tiba di kantor, tetapi kantor tampak kotor belum disapu oleh Pak Slamet, tukang kebersihan di kantor. Pak Slamet tidak biasanya datang terlambat. Karena kantornya belum bersih dan Pak Jokowi tahu itu belum disapu, tanpa ragu beliau langsung ambil sapu lalu disapulah sendiri kantornya tanpa menyuruh anak buahnya, padahal itu bisa ia perintahkan bawahannya yang ada. Tak lama kemudian datanglah Pak Slamet si tukang sapu. Dengan wajah pucat dan takut karena diberitahu temannya bahwa yang menyapu adalah Pak Jokowi sendiri, Pak Slamet menghadap Walikota Jokowi. "Dari mana, jam segini baru datang?", tanya Pak Jokowi. Pak Slamet dengan ketakutan menjawab: "Anak saya sakit pak..." Jokowi pun hanya menjawab: "Yo wis..." Selanjutnya tanpa banyak omong beliau mengajak ajudannya keluar kantor, ternyata diajak ke rumah Pak Slamet bertiga dengan supir. Mungkin Pak Jokowi ingin membuktikan kebenaran alasan pak Slamet tadi. Dan ternyata benar, anak Pak Slamet sakit panas sudah 5 hari. Tanpa banyak bicara, anak Pak Slamet itu digendong ke mobil oleh Pak Jokowi sendiri, kemudian dibawanya ke Rumah Sakit sedangkan ajudannya disuruh pulang ke kantor naik ojek, diminta menyampaikan kabar ke Pak Slamet kalau anaknya dibawa ke rumah sakit. Apa yang terjadi selanjutnya? Pak Slamet yang ada di kantor justru malah pingsan setelah mendengar kabar ini. Begitu terharunya Pak Slamet sampai ia jatuh pingsan tidak sadarkan diri. Kisah nyata ini mungkin membuat merinding bagi siapa saja, betapa terharu dan bangganya pada sosok Pak Jokowi. Sehingga tidak heran, para tukang sapu di Jakarta beberapa hari lalu mendeklarasikan diri mendukung Jokowi-JK karena kepeduliannya kepada orang-orang kecil seperti mereka. Alasannya sederhana seperti yang dikatakan Pak Jokowi berulang-ulang yakni beliau hanya ingin "memanusiakan manusia". Medio Maret 2013, ketika sedang melakukan pengumpulan data skripsi, saya mewawancara seorang buruh perkebunan yang kebetulan sedang libur kerja Pak Paimo namanya. Seperti biasa, saya sering menanyakan isu out of topic yang sekiranya dikuasai responden agar wawancara tidak berjalan kaku. Pak Paimo adalah tetangga masa kecil Jokowi. Dia mengenal Gubernur DKI Jakarta ini adalah sosok yang sangat prihatin dimasa kecil hingga remaja. Dua kali rumah Jokowi digusur oleh pemerintahan saat itu. Pak Paimo pernah membantu keluarga Jokowi untuk mengangkut perkakas rumahtangga yang tersisa ke mobil bak. Masih lekat pula dalam ingatan beliau ketika Jokowi kecil mengangkuti perkakas tersebut sambil tak hentinya menangis. Menurutnya, Jokowi sudah ditempa dengan kehidupan yang sulit sedari kecil, sehingga dengan sifat dasarnya yang prihatin dan sederhana. Pak Paimo yakin Jokowi tidak akan memiliki niat untuk membuat rakyatnya menderita seperti yang pernah dialaminya di masa kecil ataupun mengambil hak-hak yang bukan miliknya. Dalam hati saya mengamini. Semoga Pak Paimo benar. Semoga seorang Jokowi mampu menjawab harapan rakyat Indonesia untuk memiliki seorang pemimpin yang mengayomi, yang hidup untuk bekerja, dan bukan bekerja untuk hidup. (Muhammad Abdul Aziz/ mangkatnekat.wordpress.com) . Ke mana pun Joko Widodo (Jokowi) pergi, keempat pria berambut cepak ini selalu setia mengikuti. Mereka selalu bersiaga dengan headset warna putih di telinga layaknya agen-agen rahasia di film. Keempat pria ini tak lain adalah ajudan Jokowi yang selalu menempel sang calon gubernur DKI Jakarta itu selama menjalankan aktivitasnya di Ibukota. Beberapa di antara mereka adalah anggota kepolisian, sisanya adalah ajudan pribadi Jokowi. Banyak kenangan yang didapat para ajudan ini selama mengikuti Jokowi. Salah satunya adalah Kuntoro. Pria asli Solo, Jawa Tengah, ini mengakui bahwa sosok Jokowi berbeda dengan pejabat lainnya. Meski sudah menjadi orang penting dengan posisi Gubernur Jakarta, Jokowi tidak suka protokoler yang kaku. Bapak orangnya biasa-biasa saja. Enggak terlalu suka diatur-atur, ujar Kuntoro. Jika dalam kerumunan, lanjutnya, para ajudan selalu berusaha memberikan batas kepada warga agar tidak terlalu dekat dengan Jokowi. Namun, hal ini yang paling tidak disukai Jokowi. Dengan nada datar, Jokowi biasanya langsung menginstruksikan agar ajudannya tidak menghalang- halangi warga yang ingin bersalaman ataupun berfoto bersama. Hal lucu pernah terjadi pada Kuntoro saat menjaga Jokowi di tengah kerumunan. Saya pernah disangka copet karena menghalang-halangi warga dan tangan saya kena badannya. Ha-ha-ha. Jadi, setelah itu kami pakai seragam batik merah, kenang Kuntoro. Ketidaksukaan Jokowi akan protokoler juga ditunjukkannya di meja makan. Pernah kami para ajudan makan di meja sendiri, bapak di meja satunya lagi makan sendiri. Ternyata Bapak minta kami makan saja satu meja sama dia. Jadi, sekarang kalau makan, ya, sama-sama semeja dengan ajudannya, kata Kuntoro. Dalam hal makanan, Jokowi pun tidak memiliki menu favorit. Di mata Kuntoro, Jokowi sangat sederhana. Dia melahap semua makanan yang diberikan kepadannya. Semua makanan enak kayaknya buat bapak. Ha-ha-ha, ujar Kuntoro. Kendati tidak memiliki menu favorit, Kuntoro menuturkan, Jokowi sangat senang makan di warung tegal (warteg). Suka buanget dia makan di warteg pas putaran pertama. Sampai kami (ajudan) bercanda ke bapak, Pak, jauh-jauh ke Jakarta jangan makan warteg terus, ujar Kuntoro. (Kompas.com) Dulu, tahun 2011, sebelum Jokowi menjadi Gubernur DKI, dia berkunjung ke kantor teman saya di Fatmawati. Saat itu kami sudah siap-siap menyambut Walikota yang isu- nya akan jadi Gubernur DKI, walikota yang prestasinya mendunia. Kami pikir Jokowi akan datang dengan mobil mewahnya dan beberapa ajudan lengkap seperti layaknya pejabat Indonesia yang lebay. Namun yang bikin saya kaget, saat saya dan kawan-kawan duduk di depan kantor Fatmawati, Jokowi turun dari Taksi Ekspress dan menyeberang jalan. Dia cuma bawa bungkusan kresek hitam dan nyangklong tas. Lha, itu walikotanya, kata teman saya kaget. Kesederhanaan Jokowi adalah kesederhanaan yang asli tanpa dibuat-buat. Kesederhanaan yang otentik dengan pribadinya. Waktu sekretaris teman saya nanya ke Pak Jokowi Pak mau minum apa dan makan apa jawab Jokowi santai sambil menaikkan bahunya. Gerakan yang khas sambil mengatakan, saya mau kacang tanah aja, ada? Kami semua melongo. Seorang walikota terkenal doyannya kacang tanah. Ada hal yang menarik soal Jokowi bila bicara makanan kesukaannya kacang tanah dan singkong rebus. Dulu waktu ia masih kecil, sekitar tahun 1967, ia selalu berbuka puasa dengan kacang tanah, singkong rebus dan segelas air putih. Bapaknya masih nyupir truk. Jadi, sebelum jadi tukang kayu, Ayah Jokowi nyupir truk, sedangkan ibunya berjualan bambu untuk menambah penghasilan. Namanya juga anak kecil, Jokowi pernah minta makan daging ayam. Bu, mbok sekali-kali kulo buka dengan makan ayam goreng, katanya. Tanpa sengaja, bapaknya mendengar permintaan Jokowi. Lalu, bapaknya, ngomong ke Jokowi Le, anakku singkong rebus itu bapak dapatkan dari keringat bapak, dari uang yang jujur. Sekarang kamu prihatin, tapi percaya, le. Uang yang jujur akan menjadikanmu orang yang besar, orang yang terhormat. Tapi bila kamu besar nanti tetaplah makan dari uang yang jujur, yang berasal dari keringat dan doamu. Pesan bapaknya itu sampai sekarang masih diingat Jokowi. Ayah Jokowi secara sederhana menceritakan bahwa kejujuran adalah berkah terhebat dari sebuah rejeki yang kita dapatkan. Kejujuran dalam mencari rejeki membawa ketenangan hidup. Semoga kita bisa menangkap hikmah dari secuil kisah hidup Jokowi ini. (Anton DH Nugrahanto/Kompasiana) Pekerjaan saya fotografer, seringlah bertugas ke luar Jakarta. Suatu ketika ada pekerjaan di Solo, saya menginap hampir seminggu di Hotel Novotel Solo. Karena bosan sarapan di hotel terus, beberapa hari saya mencoba mencari sarapan di kaki lima. Lalu bertemulah saya di emperan kaki lima dengan penjual nasi liwet, Ibu Sum namanya. Tidak jauh dari Hotel Novotel Solo. Beberapa hari saya sarapan nasi liwet dia. Karena beberapa kali bertemu terjalinlah pembicaraan saya dengan Ibu Sum. Lalu jatuhlah ke topik walikota Solo yang lagi happening, Jokowi. saya bilang, saya dengar walikota ini sangat merakyat ya buu? Tahu apa jawab Ibu Sum? Itu nasi yang kamu makan berasnya dari Pak Jokowi to mas? Dalam hati saya pikir kok bisa? Kata Ibu Sum lagi, lihat saja palingan bentar lagi dia singgahin sini lagi berasnya. Tidak lama berselang, lewatlah sedan hitam Toyota, saya lupa plat nomor dan type sedannya. Turunlah seorang bapak yang kurus, mengangkat sekarung beras bersama sopirnya memberikan ke Ibu Sum. Lalu langsung pergi sambil mengangguk lempar senyum ke saya. Saya tidak mengenal siapa orang ini. Sayapun senyum saja. Ibu Sum menepuk saya, itu to mas Pak Jokowi. Air mata saya keluar seketika. Kita Pemilu lagi. Anda tidak peduli. Atau golput. Atau nyoblos. Presiden anda harus baru. Saya tidak mau Indonesia gampang di otak-atik orang orang jahat. Indonesia masih mempunyai harapan. Indonesia masih mempunyai pemimpin yang pro rakyat. Hari ini dia nyapres, buat memimpin Indonesia yang pro rakyat: Jokowi.] Saya tidak mendewa-dewakan dia. Buat saya dia adalah sosok putra Indonesia yang benar. Dia tidak jago berpidato. Wajahnya kampungan. Tapi pikiran dan kerjanya Indonesia. Dan Indonesia. Kalo ada pemimpin tulus, jujur dan baik yang mau membereskan Indonesia, mengapa tidak didukung? Sesederhana itu aja. Mari kita anggap, Prabowo presiden. Anggap saja. 9 Juli coblos Jokowi. Salam Dua Jari. (Peter Julio Tarigan