Makalah Penjaminan Mutu Di Apotek

download Makalah Penjaminan Mutu Di Apotek

of 28

  • date post

    07-Jul-2018
  • Category

    Documents

  • view

    238
  • download

    2

Embed Size (px)

Transcript of Makalah Penjaminan Mutu Di Apotek

  • 8/18/2019 Makalah Penjaminan Mutu Di Apotek

    1/28

     

    PENJAMINAN MUTU LAYANAN FARMASI DI APOTEK

    MAKALAH

    Dosen Pembimbing :

    Yuni Retnaningtyas, S.Si., M.Si., Apt.

    Oleh:

    Kelompok 6

    Dhita Oktavia W. 122210101092

    Angela Merici Ayu P. 132210101001

    Marsalita Irine P. 132210101002

    Wirawan Deni 132210101006

    Mia Rahmaniah 132210101016

    Elok Faiqo H. 132210101018

    Erlita Dinda N. I. 132210101020

    Fergi Rizkhaltum Fitria 132210101022

    Siti Marfu’ah 132210101052

    Mia Restu 132210101086

    Rizki Putri A. 132210101098

    Dita Isnaini P. 132210101108

    FAKULTAS FARMASI

    UNIVERSITAS JEMBER

    2016

  • 8/18/2019 Makalah Penjaminan Mutu Di Apotek

    2/28

     

    BAB 1. PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan dalam membantu

    mewujudkan tercapainya derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat.

    Pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan secara sendiri-

    sendiri atau bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan

    meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta

    memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok dan atau masyarakat.

    Selain itu juga sebagai salah satu tempat pengabdian dan praktek profesi apoteker

    dalam melaksanakan pekerjaan kefarmasiaan (Anonim, 2001). Standar Pelayanan

    Kefarmasian di Apotek disusun bertujuan sebagai pedoman praktek apoteker dalam

    menjalankan profesi, untuk melindungi masyarakat dari pelayanan yang tidak

     profesional, dan melindungi profesi dalam menjalankan praktik kefarmasian

    (Anonim, 2004). Perkembangan apotek ini sangat ditentukan oleh pengelolaan

    sumber daya dan pelayanan di apotek tersebut. Oleh sebab itu, standar pelayanan

    farmasi sangat diperlukan dalam menjalankan suatu apotek. Jika suatu apotek tidak

    menggunakan standar pelayanan farmasi dalam menjalankan apotek maka tidak

    akan tercapai derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Karena pelayanan

    farmasi adalah bentuk pelayanan dan tanggung jawab langsung profesi apoteker

    dalam pekerjaan kefarmasian untuk meningkatkan kualitas hidup

     pasien/masyarakat.

    1.2 

    Rumusan Masalah

    1  Apa saja jenis Apotek di Indonesia?

    2  Apa saja peranan farmasis di Apotek ?

    Bagaimana pengelolaan perbekalan di Apotek?

    4  Bagaimana pelayanan farmasi klinik di Apotek?

    1.3 Tujuan

    1  Untuk mengetahui jenis-jenis apotek yang ada di Indonesia.

  • 8/18/2019 Makalah Penjaminan Mutu Di Apotek

    3/28

     

    Untuk mengetahui peranan farmasis di Apotek.

    3  Untuk mengetahui cara pengelolaan perbekalan di Apotek.

    4  Untuk mengetahui pelayanan farmasi klinik di Apotek.

  • 8/18/2019 Makalah Penjaminan Mutu Di Apotek

    4/28

     

    BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

    Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 35

    Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek, menjelaskan

    apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktik kefarmasian

    oleh Apoteker. Sedangkan, apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai

    apoteker dan telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker.

    Pada Permenkes tersebut, juga diterangkan standar pelayanan kefarmasian

    adalah tolak ukur yang dipergunakan sebagai pedoman bagi tenaga kefarmasian

    dalam menyelenggarakan pelayanan kefarmasian, yang dalam hal ini adalah suatu

     pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan

    sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan

    mutu kehidupan pasien. Selain itu, tujuan dari pengaturan standar pelayanan

    kefarmasian di apotek, antara lain :

    a.  meningkatkan mutu Pelayanan Kefarmasian

     b. 

    menjamin kepastian hukum bagi tenaga kefarmasianc.  melindungi pasien dan masyarakat dari penggunaan Obat yang tidak rasional

    dalam rangka keselamatan pasien ( patient safety) 

    Dalam kehidupannya, standar pelayanan kefarmasian di apotek, yaitu :

    a.   pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai, yang

    meliputi perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pemusnahan,

     pengendalian, pencatatan dan pelaporan.

     b. 

     pelayanan farmasi klinik, yang meliputi pengkajian resep, dispensing,

    Pelayanan Informasi Obat (PIO), konseling, pelayanan kefarmasian di rumah

    (home pharmacy care), Pemantauan Terapi Obat (PTO) dan Monitoring Efek

    Samping Obat (MESO)

    Dalam penyelenggaraan standar pelayanan kefarmasian di apotek harus

    didukung oleh ketersediaan sember daya kefarmasian yang berorientasi kepada

    keselamatan pasien, seperti SDM, sarana dan prasarana yang aman, bermutu,

  • 8/18/2019 Makalah Penjaminan Mutu Di Apotek

    5/28

     

     bermanfaat dan terjangkau. Lalu, diperlukan adanya evaluasi untuk menjamin mutu

     pelayanan kefarmasian.

  • 8/18/2019 Makalah Penjaminan Mutu Di Apotek

    6/28

     

    BAB 3. PEMBAHASAN

    3.1 Jenis Apotek di Indonesia

    Di Indonesia telah banyak berdiri apotek yang mudah dijangkau masyarakat.

    Apotek-apotek tersebut dapat digolongkan menjadi 2 jenis, yakni: 

    1)  Apotek Swasta :

      Sarana kesehatan tempat dilaksanakannya pelayanan kefarmasian yaitu

     penyerahan obat dan perbekalan kesehatan tidak boleh melakukan

     peracikan.

      Dalam pelayanan kefarmasian, Apotek Swasta harus mengutamakan

     pelayanan obat generik dan dilarang menyediakan narkotika, psikotropika,

    meracik obat dan menyerahkan obat dalam jumlah yang besar.

      Apotek Swasta Serupa harus memiliki 1 orang apoteker sebagai

     penanggung jawab dan dibantu oleh asisten apoteker.

      Apotek tidak buka 24 jam.

      Apotek tidak melayani resep dokter.

    2) 

    Apotek BUMN :

      Apotek di bawah naungan BUMN, apotek yang bergerak dari hulu ke hilir,

    yaitu: industri, marketing, distribusi, ritel, laboratorium klinik dan klinik

    kesehatan

      Apotek buka 24 jam

      obat yang relatif komplit, selain meyediakan obat-obat bebas (OTC), obat

    resep (puyer/ racikan), Apotek ini juga menjual multivitamin dan suplemen,alat kesehatan, serta produk-produk non-obat (yang masih berhubungan

    dengan kesehatan/farmasi).

      Dari segi harga, apotek ini menjual dengan harga bersaing.

      Tenaga Apoteker yang bekerja full timer sehingga dapat melayani

    informasi obat dengan baik.

  • 8/18/2019 Makalah Penjaminan Mutu Di Apotek

    7/28

     

      Apotek melayani penjualan langsung dan melayani resep dokter dan

    menyediakan pelayanan lain, misalnya praktek dokter dan pelayanan

    OTC (swalayan) serta pusat pelayanan informasi obat.

    3.2 Pelayanan Kefarmasian di Apotek

    Pelayanan Kefarmasian di Apotek meliputi 2 (dua) kegiatan, yaitu kegiatan

    yang bersifat manajerial berupa pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan

    Bahan Medis Habis Pakai dan pelayanan farmasi klinik. Kegiatan tersebut harus

    didukung oleh sumber daya manusia, sarana dan prasarana.

    3.2.1  Managerial

    a.  Perencanaan

    Perencanaan adalah suatu kegiatan yang dilakukan dalam rangka menyusun

    daftar kebutuhan obat secara sistematis untuk mencapai sasaran atau tujuan yang

    telah ditetapkan. Proses perencanaan terdiri dari perkiraan kebutuhan, menetapkan

    sasaran dan menentukan strategi, tanggung jawab dan sumber yang dibutuhkan

    untuk mencapai tujuan. Perencanaan dilakukan secara optimal sehingga perbekalan

    farmasi dapat digunakan secara efektif dan efisien.

    Beberapa tujuan perencanaan dalam farmasi adalah untuk menyusun

    kebutuhan obat yang tepat dan sesuai kebutuhan, untuk mencegah terjadinya

    kekurangan atau kelebihan persediaan farmasi, dan meningkatkan penggunaan

     persediaan farmasi secara efektif dan efisien.

    Ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk mencapai tujuan perencanaan obat, yaitu :

    a.  Mengenal dengan jelas rencana jangka panjang, apakah program dapat

    mencapai tujuan dan sasaran.

     b.  Persyaratan barang meliputi : kualitas barang, fungsi barang, pemakaian satu

    merk dan untuk jenis obat narkotika harus mengikuti peraturan yang berlaku.

    c.  Kecepatan peredaran barang dan jumlah peredaran barang.

    d. 

    Pertimbangan anggaran dan prioritas.

  • 8/18/2019 Makalah Penjaminan Mutu Di Apotek

    8/28

     

    Dalam membuat perencanaan pengadaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan

     bahan medis habis pakai perlu diperhatikan pula pola penyakit, pola konsumsi,

     budaya dan kemampuan masyarakat (Permenkes RI Nomor 35 Tahun 2014).

    b.  Pengadaan

    Pengadaan merupakan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan operasional yang

    telah ditetapkan di dalam perencanaan, penentuan kebutuhan maupun

     penganggaran. Pelaksanaannya dapat dilakukan dengan pembelian, pembuatan,

     penukaran ataupun penerimaan sumbangan.

    Hal-hal yang perlu diperhatikan di dalam pengadaan adalah:

    a.   Doelmatig , artinya sesuai tujuan/sesuai rencana, haruslah sesuai kebutuhan

    yang sudah direncanakan sebelumnya.

     b. 

     Rechtmatig , artinya sesuai hak/sesuai kemampuan.

    c.  Wetmatig , artinya sistem/cara pengadaannya haruslah sesuai dengan ketentuan-

    ketentuan yang berlaku (Soerjono Seto, 2004).

    Salah satu metode dalam melakukan pengadaan obat adalah analisis ABC.

    Analisis ABC digunakan untuk menentukan persediaan obat. Analisis ABC di

    lakukan dengan mengklasifikasikan jenis obat menjadi 3 golongan, yaitu:

    1. 

    Golongan A (jumlah sedikit, harga total tinggi)

    Contoh: vaksin, hormon, sediaan- sediaan injeksi.

    2.  Golongan B (jumlah sedang, harga total sedang)

    Contoh: sediaan drop (eyes drop, oral drop,ear drop), sediaan inhaler/ spray.

    3. 

    Golongan C ( jumlah banyak, harga total rendah)

    Contoh: obat- obat bebas yang sering digunakan secara swamedikasi (obat

     batuk, diare, flu, sakit kepala, demam, vitamin, obat luka dll)

    Analisis ABC bermanfaat untuk menekan frekuensi pemesanan,

    mengurangi biaya total pengiriman obat dan menekan jumlah persediaan sehingga

    mengurangi biaya total penyimpanan di gudang (Seto S, 2004).

  • 8/18/2019 Makalah Penjaminan Mutu Di Apotek

    9/28

     

    Pemesanan obat golongan narkotika harus di Pedagang Besar Farmasi

    (PBF) Kimia Farma. Pemesanan ini menggunakan surat pesanan khusus model N-

    9 yang terdiri dari empat lembar yaitu warna putih, kuning, merah, dan biru. SP

    warna kuning, putih, merah diserahkan ke PBF, sedangkan SP biru digunakan

    sebagai arsip pembelian. Khusus untuk narkotik, satu lembar pesanan untuk satu

     jenis obat dan harus ditanda tangani oleh APA dengan mencantumkan nama dengan

    SIK, alamat, serta stempel apotek.

    Pengadaan obat psikotropika menggunakan surat pesanan model khusus

    yang dibuat rangkap dua dan ditandatangani oleh APA dimana tiap lembar surat pesanan dapat digunakan untuk memesan lebih dari satu macam obat asalkan

     pemesanan tersebut ditujukan untuk satu distributor atau PBF saja.

    Apotek melakukan pengadaan barang Narkotika dan Psikotropika dengan

    melakukan beberapa prosedur, diantaranya:

    1)  Apotek melakukan DEPEKTA (Daftar Obat Kosong Menipis)

    2)  Penulisan SP (Surat Pesanan) kemudiaan di setujui oleh apoteker sebagai

     penanggung jawab dan ASKES sebagai pihak yang memberikan keuangan.

    3)  Kemudian di kirim ke PBF.

    4)  PBF yang telah mengabulkan permohonan tidak langsung mengirim barang

    tetapi menunggu pengabulan permohonan oleh apoteker PBF.

    5)  Apabila semua pihak telah mengabulkan maka barang akan segera di kirim.

    c.  Penerimaan

    Salah satu fungsi dari bagian administrasi gudang yaitu bertanggung jawabdalam melakukan penerimaan dan pengeluaran barang. Penerimaan barang harus

    disertai faktur pembelian, yang sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan terhadap

    faktur tersebut dengan melihat alamat distributor, NPWP, nomor telepon yang

    menunjukkan keaslian faktur. Alur penerimaan barang meliputi :

    1) 

    Petugas gudang memeriksa dan menerima fisik barang (segel, nomor batch

    sediaan dengan yang tercantum pada faktur, kemasan dari sediaan, bentuk

  • 8/18/2019 Makalah Penjaminan Mutu Di Apotek

    10/28

     

    sediaan, jumlah, keadaan fisik obat, tanggal kadaluarsa) dari PBF sesuai dengan

    SP dan faktur barang.

    2)  Membuat tanda terima penerimaan barang (stempel gudang dan tanda tangan

     penanggung jawab gudang) di faktur barang.

    3)  Menyimpan dan membukukan barang masuk dalam kartu stok barang.

    4)  Membuat tanda terima penyerahan barang yang ditandatangani oleh penerima

     barang dan distempel apotek serta dicatat.

    5)  Menyimpan dan membukukan barang keluar di kartu stok barang

    d. 

    Penyimpanan

    Penyimpanan obat atau pembekalan farmasi dilakukan oleh Asisten Apoteker.

    Setiap pemasukan dan penggunaan obat atau barang diinput ke dalam sistem

    komputer dan dicatat pada kartu stok yang meliputi tanggal penambahan atau

     pengurangan, nomor dokumennya, jumlah barang yang diisi atau diambil, sisa

     barang dan paraf petugas yang melakukan penambahan atau pengurangan barang.

    Kartu stok ini diletakan di masing-masing obat atau barang. Setiap Asisten

    Apoteker bertanggung jawab terhadap stok barang yang ada di lemari.

    Obat/bahan obat harus disimpan dalam wadah asli dari pabrik. Dalam hal

     pengecualian atau darurat dimana isi dipindahkan pada wadah lain, maka harus

    dicegah terjadinya kontaminasi dan harus ditulis informasi yang jelas pada wadah

     baru. Wadah sekurang-kurangnya memuat nama obat, nomor batch dan tanggal

    kadaluwarsa.

    Semua obat/bahan obat harus disimpan pada kondisi yang sesuai sehinggaterjamin keamanan dan stabilitasnya. Penyimpanan barang disusun berdasarkan

     jenis sediaan, bentuk sediaan dan alfabetis untuk obat-obat ethical, serta

     berdasarkan farmakologi untuk obat-obat OTC (Over The Counter). Penyimpanan

    obat atau barang disusun sebagai berikut :

    a. 

    Lemari penyimpanan obat ethical  atau prescription drugs.

     b.  Lemari penyimpanan obat narkotik dan psikotropik dengan pintu rangkap dua

    dan terkunci.

  • 8/18/2019 Makalah Penjaminan Mutu Di Apotek

    11/28

     

    c. 

    Lemari penyimpanan sediaan sirup, suspensi dan drops.

    d.  Lemari penyimpanan obat tetes mata dan salep mata.

    e.  Lemari penyimpanan salep kulit.

    f. 

    Lemari es untuk penyimpanan obat yang termolabil seperti suppositoria, insulin

    dan lain –  lain.

    g.  Lemari penyimpanan obat bebas, obat bebas terbatas dan alat kesehatan.

    Pengeluaran Obat memakai sistem FEFO (First Expire First Out) dan FIFO

    (First In First Out). FIFO (First In First Out) dimana barang yang baru diterima

    disimpan dibagian belakang dari barang yang diterima sebelumnya, sedangkanSistem FEFO (First Expired First Out)  yang berdasarkan tanggal kadaluarsa

     barang. 

    e.  Distribusi

    Prosedur tetap dari pendistribusian obat yang baik dan benar dibuat oleh orang

    yang kompeten, kemudian ditandatangani dan dilegalisasi oleh penanggung jawab

     perusahaan dagang yang bergerak di bidang farmasi. Isi dari prosedur tetap

    distribusi ini adalah antara lain judul, nomor, dokumen, revisi, jumlah halaman,

    dokumen acuan, nama berikut tanda tangan penanggung jawab laporan dan yang

    terakhir adalah uraian proses.

    Alur distribusi dimulai dari pemesanan dari PBF ke sumber resmi yang

    ditunjuk untuk pembelian obat yakni industri farmasi. Setelah mengetahui stok

    hidup dan stok pengaman, dikeluarkanlah surat pemesanan obat yang telah ditanda

    tangani oleh penanggung jawab yang dilengkapi dengan nama dan nomor Surat Ijin

    Kerja Apoteker (SIKA). Setelah pemesanan dilakukan, obat akan diterima dengan

     beberapa proses. Mulai dari pemeriksaan kelengkapan obat yang telah dipesan, bila

    telah sesuai segera disimpan di tempat persediaan perusahaan dagang farmasi tadi.

    Bila masih ada yang kurang atau tidak sesuai, makan dikembalikan atau diganti di

    tempat pemesanan obat tadi (industri farmasi), faktur dan surat penyerahan barang

    harus ada pada proses ini. Setelah proses ini selesai, maka mulai masuk ke sistem

    administrasi dengan barang (obat) yang dimasukkan ke kartu persediaan dan buku

  • 8/18/2019 Makalah Penjaminan Mutu Di Apotek

    12/28

     

     pembelian sehingga stok barang dapat terlihat dengan jelas dan akurat. Selanjutnya,

    apotek dapat memesan obat-obatan melalui PBF menggunakan surat pemesanan

    yang ditandatangai oleh apoteker.

    Pengelolaan obat di Apotek dimana obat-obat yang masuk atau keluar dicatat

    di buku Defecta (buku untuk menuliskan barang yang habis di apotek untuk dipesan

    kembali ke PBF), termasuk juga bila ada obat yang kosong atau habis. Kemudian

    dari buku defecta obat di pesan dengan menggunakan surat pesanan, baik generik,

     paten, dan obat-obat bebas. Obat tersebut di pesan di PBF. Tapi khusus obat-obat

    narkotika dan psikotropika mempunyai surat pesanan yang berbeda dengan obat-

    obat lainnya.

    1)  Surat pesanan obat bebas, bebas terbatas, keras dibuat rangkap 2 yang asli

    dikirim ke PBF dan tembusannya sebagai arsip apotek.

    2)  Surat pesanan psikotropika, pemesanannya di lakukan di luar provinsi, sebelum

    dikirim ke PBF, surat pesanan di legalisir terlebih dahulu ke Dinas Kesehatan

    Provinsi Bengkulu.

    3)  Surat pesanan narkotika dibuat 4 rangkap dan yang berhak tanda tangan adalah

    APA.

    Surat pesanan yang dipesan di luar provinsi harus di legalisir, sedangkan yang

    di dalam provinsi tidak di legalisir. Barang atau obat yang diterima dari PBF, dicek

    ED, jumlah dan kondisi obat, keadaan obat atau barang yang masuk dan dilihat

  • 8/18/2019 Makalah Penjaminan Mutu Di Apotek

    13/28

     

    apakah sudah sesuai atau belum dengan faktur atau surat pesanan. Bila sudah sesuai

    obat tersebut di stock. Kemudian barulah faktur di tanda tangani oleh AA, untuk

    obat Narkotika yang menanda tangani harus apoteker setelah obat diterima lalu obat

    di hargai dan di susun pada tempatnya atau diletakan di dalam gudang Apotek yang

    terlindung dari sinar matahari. Fungsinya untuk mencegah kerusakan dan

     penurunan mutu obat atau barang yang di simpan.

    Distribusi obat di apotek dapat melalui dua acara, yakni:

    1)  Penjualan Bebas

    Penjualan bebas adalah penjualan obat tanpa resep. Dalam PERMENKES

     Nomor 924/Menkes/Per/X/1993 tentang Obat Wajib Apotek menyatakan bahwa

    APA dapat menjual obat bebas yang dinyatakan sebagai obat wajib apotek tanpa

    resep dokter. Daftar obat ini di tetapkan berdasarkan SK Menkes RI Nomor

    347/Menkes/SK/VIU/1997 tentang Obat Wajib Apotek No. 1 dan Keputusan

    Menteri Kesehatan No 924/Menkes/Per/X/1993 tentang Obat Wajib Apotek No. 2.

    2)  Penjualan dengan Resep

    Penjualan dengan resep adalah penjualan obat dengan resep dokter. Sistem

     pelayanan resep di apotek ada 6 yaitu:

    a)  Pemeriksaan keabsahan dan kelengkapan resep

    1.   Nama, Alamat, No hp dan tanda tangan dokter penulis resep

    2.   Nama obat, dosis, jumlah dan aturan pakai

    3.   Nama pasien, umur, alamat dan no telepon

     b)  Perjanjian dan pembayaran

    1.  Pengambilan obat semua atau sebagian

    2. 

    Atau tidak penggantian obat atas persetujuan dokter atau pasien

    c)  Peracikan

    1. 

    Penyiapan etiket atau penandaan obat dan kemasan

    2.  Peracikan obat (hitung, campur, kemas)

    3. 

    Penyajian hasil akhir peracikan

  • 8/18/2019 Makalah Penjaminan Mutu Di Apotek

    14/28

     

    d)  Pemeriksaan akhir

    1.  Kesesuaian hasil peracikan dengan resep.

    2. 

     Nomor resep.

    3.   Nomor obat, bentuk dan jenis sediaan, dosis, jumlah dan aturan pakai.

    4.   Nama pasien, umur, alamat dan nomor telepon.

    e)  Penyerahan Obat dan pemberian informasi

    Penjelasan obat harus di sertai dengan penjelasan info tentang: Nama

    obat, bentuk dan sediaan, dosis, jumlah dan aturan pakai, cara penyimpanan,

    efek samping yang mungkin timbul dan cara mengatasinya, tanda terima

     pasien atau penerima obat.

    f)  Layanan Purna Jual

    1.  Komunitas dan informasi dan penerima obat

    2.  Penggantian obat bila di perlukan atas permintaan dokter

    f.  Pemusnahan

    Sediaan farmasi yang sudah tidak memenuhi syarat sesuai dengan standar

    yang ditetapkan harus dimusnahkan. Penghapusan atau pemusnahan sediaan

    farmasi yang tidak dapat atau tidak boleh digunakan harus dilaksanakan dengan

    cara yang baik dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang

     berlaku. Prosedur pemusnahan obat hendaklah mencakup kedalam pencegahan

    terjadinya pencemaran dilingkungan dan mencegah jatuhnya obat-obat tertentudikalangan orang atau masyarakat yang tidak berwenang. Sediaan farmasi yang

    akan dimusnakan, hendaknya disimpan terpisah dan dibuat daftar yang mencakup

     jumlah dan identitas produk.

    Pemusnahan obat atau sediaan farmasi baik yang dilakukan sendiri maupun

    oleh pihak lain harus didokumentasikan sesuai dengan ketentuan dan peraturan

     perundang-undangan yang berlaku. Pemusnahan obat dapat dilakukan dengan

     beberapa cara, diantaranya yaitu pemusnahan obat dalam bentuk padatan dengan

  • 8/18/2019 Makalah Penjaminan Mutu Di Apotek

    15/28

     

    cara ditanam, pemusnahan obat dalam bentuk cair dengan cara diencerkan terlebih

    dahulu, atau pemusnahan obat dengan cara dititipkan ke Dinkes (Dinas Kesehatan).

    Pemusnahan obat dibidang farmasi karena rusak, dilarang atau kadaluwarsa

    dilakukan dengan cara dibakar, ditanam atau dengan cara lain yang ditetapkan oleh

    Badan POM. Pemusnahan obat kadaluwarsa atau rusak yang mengandung

    narkotika atau psikotropika dilakukan oleh Apoteker dan disaksikan oleh Dinas

    Kesehatan Kabupaten/Kota. Pemusnahan Obat selain narkotika dan psikotropika

    dilakukan oleh Apoteker dan disaksikan oleh tenaga kefarmasian lain yang

    memiliki surat izin praktik atau surat izin kerja. Pemusnahan tersebut harusdilaporkan oleh APA secara tertulis kepada Sub Dinkes atau Dinkes setempat

    dengan mencantumkan Nama dan Alamat apotek, Nama APA, Perincian obat dan

     perbekalan kesehatan dibidang farmasi yang akan dimusnahkan, rencana tanggal

    dan Tempat pemusnahan, cara pemusnahan (sesuai Formulir 1).

  • 8/18/2019 Makalah Penjaminan Mutu Di Apotek

    16/28

     

    Selain pemusnahan obat/sediaan farmasi, dapat juga dilakukan pemusnahan

    resep. Pemusnahan resep dapat dilakukan apabila resep telah disimpan melebihi

     jangka waktu yaitu 5 tahun seperti yang tertera pada perundang-undangan. Yang

    mana dalam pemusnahan resep harus dibuatkan berita acara pemusnahan sesuai

    dengan bentuk yang telah ditentukan dalam rangkap empat dan ditandatangani oleh

    Apoteker Pengelola Apotek dan seorang petugas yang ikut memusnahkan (Berita

    Acara Pemusnahan Resep menggunakan Formulir 2). Yang harus disebutkan dalam

     berita acara pemusnahan resep ini yaitu:

    1)  Hari dan Tanggal pemusnahan

    2) 

    Tanggal yang terawal dan terakhir dari resep

    3)  Berat resep yang dimusnahkan dalam kilogram

    Setelah dilakukan pemusnahan resep, selanjutkan harus melapor kepada Dinas

    Kesehatan Kabupaten atau Kota. 

  • 8/18/2019 Makalah Penjaminan Mutu Di Apotek

    17/28

     

    g.  Pengendalian

    Pengendalian dilakukan untuk mempertahankan jenis dan jumlah persediaan

    sesuai kebutuhan pelayanan, melalui pengaturan sistem pesanan atau pengadaan,

     penyimpanan dan pengeluaran. Hal ini bertujuan untuk menghindari terjadinya

    kelebihan, kekurangan, kekosongan, kerusakan, kadaluwarsa, kehilangan serta

     pengembalian pesanan. Pengendalian persediaan dilakukan menggunakan kartu

    stok baik dengan cara manual atau elektronik. Kartu stok sekurang-kurangnya

    memuat nama obat, tanggal kadaluwarsa, jumlah pemasukan, jumlah pengeluaran

    dan sisa persediaan.Pengendalian persediaan melalui kartu stok pada masing-masing obat

    merupakan kegiatan pencatatan jumlah obat yang masuk ketika gudang farmasi

    menerima obat dari PBF dan mencatat obat yang keluar ketika ada permintaan dari

    unit-unit pengguna seperti apotek. Kegiatan pengendalian ini dilakukan setiap hari.

    Unit Pelaksana Fungsional Farmasi dan Apotek mempunyai Sistem Informasi yaitu

     system inventory. Pengendalian persediaan melalui  system inventory merupakan

    metode pencatatan jumlah stok obat masuk dan keluar ke dalam komputer, system

    inventory ini link dengan unit-unit pengguna seperti Apotek. Setiap obat masuk di

    input  ke dalam system inventory, berapa jumlah obat yang diterima, sesuai dengan

    nama PBF (Perusahaan Besar Farmasi), dan harga setiap item  obat. Obat yang

    keluar juga di input  ke dalam system inventory, dengan menginput nama obat, dan

     jumlah obat yang diminta oleh unit-unit pengguna seperti apotek, system inventory 

    ini otomatis mengurangi jumlah stok yang ada di gudang farmasi, sehingga dari

     system inventory ini dapat melakukan pengendalian persediaan dengan melihat

     jumlah persediaan obat di masing-masing unit pengguna (apotek). Jumlah

     persediaan obat dari  system inventory dicocokkan dengan jumlah stok obat yang

    ada di kartu stok dan jumlah fisik persediaan obat yang ada di gudang farmasi. Dari

    laporan tersebut dapat dilihat jumlah pemakaian masing-masing item obat selama

    satu bulan, sesuai dengan unit pengguna yang melakukan permintaan, kemudian

    obat-obat apa saja yang tidak bergerak, serta diperiksa expired date dan kemasan

    setiap obat.

  • 8/18/2019 Makalah Penjaminan Mutu Di Apotek

    18/28

     

    h.  Pencatatan dan Pelaporan

    Pencatatan dilakukan pada setiap proses pengelolaan sediaan farmasi, alat

    kesehatan, dan bahan medis habis pakai meliputi pengadaan (surat pesanan, faktur),

     penyimpanan (kartu stock), penyerahan (nota atau struk penjualan) dan pencatatan

    lainnya disesuaikan dengan kebutuhan.

    Pelaporan terdiri dari pelaporan internal dan eksternal. Pelaporan internal

    merupakan pelaporan yang digunakan untuk kebutuhan manajemen apotek,

    meliputi keuangan, barang dan laporan lainnya. Pelaporan eksternal merupakan

     pelaporan yang dibuat untuk memenuhi kewajiban sesuai dengan ketentuan

     peraturan perundang-undangan meliputi pelaporan narkotika (menggunakan

    Formulir 3 sebagaimana terlampir), psikotropika (menggunakan Formulir 4

    sebagaimana terlampir) dan pelaporan lainnya.

    1)  Pelaporan narkotika

    Berdasarkan UU No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika pasal 14 ayat (2)

    dinyatakan bahwa industri farmasi, pedagang besar farmasi, sarana penyimpanansediaan farmasi pemerintah, apotek , rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat, balai

     pengobatan, dokter, dan lembaga ilmu pengetahuan wajib membuat,

    menyampaikan, dan menyimpan laporan berkala mengenai pemasukan dan/atau

     pengeluaran narkotika yang berada dibawah penguasaannya. Laporan tersebut

    meliputi laporan pemakaian narkotika dan laporan pemakaian morfin dan petidin.

    Laporan harus di tandatangani oleh apoteker pengelola apotek dengan

    mencantumkan SIK, SIA, nama jelas dan stempel apotek, kemudian dikirimkan

    kepada Kepala Suku Dinas Kesehatan dengan tembusan kepada :

    1) Kepala Dinas Kesehatan Propinsi setempat.

    2) Kepala Balai POM setempat.

    3) Penanggung jawab narkotika.

    4) Arsip.

     Laporan penggunaan narkotika tersebut terdiri dari:

    1) Laporan penggunaan sediaan jadi narkotika

  • 8/18/2019 Makalah Penjaminan Mutu Di Apotek

    19/28

     

    2) Laporan penggunaan bahan baku narkotika

    3) Laporan khusus penggunaan morfin dan petidin Laporan narkotika tersebut

    dibuat setiap bulannya dan harus dikirim selambat-lambatnya tanggal 10 bulan

     berikutnya

    2)  Pelaporan Psikotropika

    Apotek wajib membuat dan menyimpan catatan mengenai kegiatan yang

     berhubungan dengan psikotropika dan melaporkan pemakaiannya setiap bulan

    kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada Kepala Balai

    Besar POM setempat dan 1 salinan untuk arsip apotek  

    Berikut adalah contoh formulir untuk pelaporan pemakaian narkotika dan

     psikotropika:

  • 8/18/2019 Makalah Penjaminan Mutu Di Apotek

    20/28

     

    Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 3

    Tahun 2015 Tentang Peredaran, Penyimpanan, Pemusnahan, Dan Pelaporan

     Narkotika, Psikotropika, Dan Prekursor Farmasi disebutkan bahwa :

      Industri Farmasi, PBF, Instalasi Farmasi Pemerintah, Apotek, Puskesmas,

    Instalasi Farmasi Rumah Sakit, Instalasi Farmasi Klinik, Lembaga Ilmu

    Pengetahuan, atau dokter praktik perorangan yang melakukan produksi,

    Penyaluran, atau Penyerahan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi

    wajib membuat pencatatan mengenai pemasukan dan/atau pengeluaran

     Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi serta toko obat yang melakukan

     penyerahan Prekursor Farmasi dalam bentuk obat jadi wajib membuat

     pencatatan mengenai pemasukan dan/atau pengeluaran Prekursor Farmasi

    dalam bentuk obat jadi. Pencatatan yang dilakukan yaitu meliputi :

    a. Nama,bentuk sediaan,dan kekuatan narkotika, psikotropika, dan prekursor

    Farmasi;

     b. Jumlah persediaan;

    c. Tanggal, nomor dokumen, dan sumber penerimaan

    d. Jumlah yang diterima;

    e. Tanggal, nomor dokumen, dan tujuan penyaluran/penyerahan;

    f. Jumlah yang disalurkan/diserahkan;

    g. Nomor batch dan kadaluarsa setiap penerimaan atau penyaluran/penyerahan;

    h. Paraf atau identitas petugas yang ditunjuk. 

      Apotek, Instalasi Farmasi Rumah Sakit, Instalasi Farmasi Klinik, Lembaga

    Ilmu Pengetahuan, dan dokter praktik perorangan wajib membuat, menyimpan,

    dan menyampaikan laporan pemasukan dan penyerahan/penggunaan Narkotika

    dan Psikotropika, setiap bulan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

    dengan tembusan Kepala Balai setempat yang meliputi : 

    a. Nama, bentuk sediaan, dan kekuatan Narkotika, Psikotropika, dan/atau

    Prekursor Farmasi;

     b. Jumlah persediaan awal dan akhir bulan;

    c. Jumlah yang diterima; dan

    d. Jumlah yang diserahkan.

  • 8/18/2019 Makalah Penjaminan Mutu Di Apotek

    21/28

     

    3.2.2  Pelayanan Farmasi Klinik

    Pelayanan farmasi klinik di apotek merupakan bagian dari pelayanan

    kefarmasian yang langsung dan bertanggung jawab kepada pasien berkaitan dengan

    sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai dengan maksud

    mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.

    a.  Pelayanan Resep

    Menurut KEPMENKES RI NO 1332/MENKES/SK/XX/2002, resep adalah

     permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dokter hewan kepada Apoteker

    Penanggung jawab Apotek (APA) untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi

     penderita sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. Pelayanan

    resep yang diberikan apotek menurut Peraturan Menteri Kesehatan No.

    1027/MENKES/PER/IX/2004 Bab III, meliputi:

    1)  Skrining Resep

    Apoteker melakukan skrining resep meliputi :

    a) 

    Persyaratan administratif: Nama, SIP (surat izin praktek) dan alamat dokter;

    tanggal penulisan resep; tanda tangan/paraf dokter penulis resep; nama,

    alamat, umur, jenis kelamin, dan berat badan pasien; nama obat, potensi,

    dosis, jumlah yang diminta; cara pemakaian yang jelas, informasi lainnya.

     b)  Kesesuaian farmasetik: bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas,

    inkompatibilitas, cara dan lama pemberian.

    c)  Kesesuaian klinis: adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian (dosis,

    durasi, jumlah obat dan lain-lain).

    2)  Penyiapan Obat

    a)  Peracikan

    Merupakan kegiatan menyiapkan, menimbang, mencampur, mengemas dan

    memberikan etiket pada wadah. Dalam melaksanakan peracikan obat harus

    dibuat suatu prosedur tetap dengan memperhatikan dosis, jenis dan jumlah

    obat serta penulisan etiketmobat yang benar.

  • 8/18/2019 Makalah Penjaminan Mutu Di Apotek

    22/28

     

     b) 

    Etiket

    Etiket harus jelas dan dapat dibaca, meliputi nomor resep, tanggal, nama

    dan aturan pakai.

    c) 

    Kemasan obat yang diserahkan

    Obat hendaknya dikemas dengan rapi dalam kemasan yang cocok sehingga

    terjaga kualitasnya.

    3)  Penyerahan Obat

    Sebelum obat diserahkan pada pasien harus dilakukan pemeriksaan khir

    terhadap kesesuaian antara obat dengan resep. Penyerahan obat dilakukan oleh

    apoteker disertai pemberian informasi obat dan konseling kepada pasien dan

    tenaga kesehatan.

    4)  Informasi Obat

    Apoteker harus memberikan informasi yang benar, jelas dan mudah

    dimengerti, akurat, tidak bisa, etis, bijaksana, dan terkini. Informasi obat pada

     pasien sekurang-kurangnya meliputi : cara pemakaian obat, cara penyimpanan

    obat, jangka waktu pengobatan (jam penggunaan obat), aktivitas serta makanan

    dan minuman yang harus dihindari selama terapi.

    5)  Konseling

    Apoteker harus memberikan konseling, mengenai sediaan farmasi, pengobatan

    dan perbekalan kesehatan lainnya, sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup

     pasien atau yang bersangkutan terhindar dari bahaya penyalahgunaan atau penggunaan salah sediaan farmasi atau perbekalan kesehatan lainnya. Untuk

     pasien penyakit tertentu seperti kardiovaskular, diabetes, TBC, asthma, dan

     penyakit kronis lainnya, apoteker harus memberikan konseling secara

     berkelanjutan.

    Pada pasien dengan resep dokter, informasi yang diberikan hanya bersifat

    menunjang dan menegaskan kembali informasi yang telah diberikan oleh

  • 8/18/2019 Makalah Penjaminan Mutu Di Apotek

    23/28

     

    dokter. Three prime question yang diajukan jika pasien mendapat resep baru

    adalah :

    1.  Bagaimana penjelasan Dokter tentang obat Anda ?

    2. 

    Bagaimana penjelasan Dokter tentang cara pakai obat Anda ?

    3.  Bagaimana penjelasan Dokter tentang harapan setelah minum/memakai

    obat Anda ?

    6)  Monitoring Penggunaan Obat

    Setelah penyerahan obat kepada pasien, apoteker harus melaksanakan

     pemantauan penggunaan obat, terutama untuk pasien tertentu seperti

    kardiovaskular, diabetes, TBC, asthma, dan penyakit kronis lainnya. Dari

    keterangan yang diperoleh ini maka apoteker bisa menunjang informasi dari dokter

    dengan menambahkan informasi-informasi lain mengenai obat kepada pasien,

    misal petunjuk khusus cara penyediaan obat, hal-hal yang mungkin timbul selama

     penggunaan obat, hal-hal yang harus dihindari selama penggunaan obat yang

    meliputi kontra indikasi dan interaksi obat dan makanan serta cara penyimpanan

    obat yang benar.

  • 8/18/2019 Makalah Penjaminan Mutu Di Apotek

    24/28

     

    b.  Pelayanan Non Resep

    Pelayanan non resep meliputi pelayanan swamedikasi (self medication) atau

    upaya pengobatan diri sendiri (UPDS), termasuk di dalamnya pemilihan obat wajib

    apotek (OWA), serta obat bebas/bebas terbatas. Untuk pelayanan swamedikasi

    tanpa resep dokter dilakukan sendiri oleh apoteker yang bertugas saat itu,

    sedangkan untuk penjualan obat bebas Pelayanan Non Resep dapat dilakukan oleh

    asisten apoteker. Pelayanan swamedikasi meliputi pemberian dan penjualan obat-

    obat keras (OWA) yang dapat diberikan tanpa resep dokter, tapi dalam jumlah

    terbatas dan penyerahannya oleh apoteker di apotek.Dalam pelayan obat non resep diperlukan informasi tentang pasien. Metode

    yang digunakan untuk mengetahui informasi pasien adalah metode WWHAM,

    yaitu :

      W : Who is patient? (Siapa pasiennya ?)

      W : What are the symptoms? (Apa gejalanya?)

      H : How long have the symptoms persisted? (Berapa lama gejala tersebut

    muncul?)  A : Action taken, what medicine tried? (Tindakan yang dilakukan, obat apa yang

    digunakan?)

      M : Medicine already being taken for other conditions? (Obat apa yang saat ini

    digunakan untuk gejala yang lain?)

    Pelayanan Komunikasi, Informasi , dan Edukasi (KIE)

    Pelayanan KIE bertujuan memberikan informasi yang benar mengenai segala

    sesuatu yang harus diketahui dan diperhatikan pasien mengenai suatu obat, antara

    lain macam obat, indikasi pengobatan, kontraindikasi obat, efek samping yang

    mungkin timbul, cara penggunaan, frekuensi pemberian, pentingnya kepatuhan

    maupun hal-hal lain yang harus diperhatikan oleh pasien yang meminum obat

    tersebut. Melalui KIE diharapkan pasien dapat menggunakan obat yang

    diminumnya secara benar sehingga tujuan terapi dapat tercapai.

  • 8/18/2019 Makalah Penjaminan Mutu Di Apotek

    25/28

     

    Pelayanan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) diberikan kepada pasien

    karena pasien memiliki pengetahuan yang terbatas mengenai obat yang diminum.

    Pemberian pelayanan KIE terutama ditujukan pada pasien:

    1) 

    Polifarmasi, sebab semakin banyak obat yang harus dikonsumsi setiap harinya

    semakin besar terjadi ketidak patuhan dan kesalahan penggunaan obat karena

    kelalaian atau lupa.

    2)  Menerima terapi dengan obat terapi sempit, hal ini dimaksudkan untuk

    menghindari terjadinya efek toksik.

    3)  Memerlukan perhatian khusus yaitu anak-anak, lanjut usia, ibu menyusui, ibu

    hamil, pasien dengan gangguan fungsi organ seperti hati, ginjal dan jantung

    terutama dalam hal dosis dan kepatuhan.

    4)  Menerima terapi dengan obat yang mempunyai efek samping tertentu yang

    dapat menyebabkan keresahan atau mengganggu kegiatan pasien.

    Apoteker sebagai care giver   diharapkan juga dapat melakukan pelayanan

    kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk kelompok lansia dan

     pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya. Selain dengan kunjunganrumah, pelayanan residensial dapat dilakukan dengan menghubungi pasien melalui

    telepon/sms bila obat hampir habis dan menanyakan bagaimana keadaan pasien

    tersebut apakah membaik atau tidak. Jika keadaan pasien tidak membaik maka

     pasien dianjurkan untuk mengecek kondisinya pada dokter sehingga dapat

    ditentukan langkah selanjutnya. Untuk aktivitas ini apoteker harus membuat catatan

     berupa catatan pengobatan (medication record).

     Patient Medication Record  (PMR) menurut Standar Pelayanan Kefarmasian

    di Apotek merupakan catatan pengobatan pasien yang dimiliki oleh apotek, yang

     berguna untuk memastikan keamanan, keefektifan, kerasionalan penggunaan obat

    sesuai dengan kondisi kesehatan masing-masing pasien. Selain itu, PMR berguna

    untuk mengetahui riwayat obat yang pernah digunakan, sehingga dapat

    menghindari penyalahgunaan obat, dan membantu mengingat semua pengobatan

    (terapi) yang pernah digunakan.

  • 8/18/2019 Makalah Penjaminan Mutu Di Apotek

    26/28

     

    Pada akhirnya, catatan pengobatan digunakan sebagai pedoman oleh apoteker

    agar dapat memberikan konseling dan controlling pada pasien mengenai

     pengobatan dan perkembangan penyakitnya agar tujuan terapi dapat tercapai secara

    optimal.

  • 8/18/2019 Makalah Penjaminan Mutu Di Apotek

    27/28

     

    BAB 4. KESIMPULAN

    1.  Ada dua jenis apotek yang ada di Indonesia, yakni apotek BUMN dan apotek

    milik swasta.

    2.  Pelayanan Kefarmasian di Apotek meliputi 2 (dua) kegiatan, yaitu kegiatan

    yang bersifat manajerial dan pelayanan farmasi klinik.

    3.  Fungsi managerial meliputi perencanaan, pengadaan, penerimaan,

     penyimpanan, distribusi, pemusnahan, pengendalian, pencatatan dan pelaporan.

    4.  Fungsi pelayanan farmasi klinik meliputi pelayanan dengan resep dan

     pelayanan tanpa resep.

  • 8/18/2019 Makalah Penjaminan Mutu Di Apotek

    28/28

    DAFTAR PUSTAKA

    Peraturan Menteri Kesehatan No. 1027/MENKES/PER/IX/2004 Bab III.

    Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Tentang

    Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek.

    Syamsuni. 2005. Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi Bab II hal.10. Jakarta:

    Buku Kedokteran EGC.,

    Seto, S., Nita, Y., Triana, L., 2008. Manajemen Farmasi: Lingkup Apotek, Farmasi

     Rumah Sakit, Pedagang Besar Farmasi, Industri Farmasi. Edisi II .

    Surabaya: Airlangga University Press.