Laporan Kerja Praktik Studi Inventarisasi Kawasan Karst Daerah Sukolilo Sebagai Kawasan Lindung...

of 37/37
STUDI INVENTARISASI KAWASAN KARST DAERAH SUKOLILO SEBAGAI KAWASAN LINDUNG GEOLOGI, KABUPATEN PATI, JAWA TENGAH LAPORAN KERJA PRAKTIK Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan dalam Menyelesaikan Pendidikan Program Sarjana S-1 di FakultasTeknik Program Studi Teknik Geologi Universitas Diponegoro Disusun Oleh : Maulana Ridwan Atmadisastra 21100111140087 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS DIPONEGORO FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI SEMARANG APRIL 2015
  • date post

    11-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    50
  • download

    9

Embed Size (px)

description

kp

Transcript of Laporan Kerja Praktik Studi Inventarisasi Kawasan Karst Daerah Sukolilo Sebagai Kawasan Lindung...

  • STUDI INVENTARISASI KAWASAN KARST DAERAH

    SUKOLILO SEBAGAI KAWASAN LINDUNG GEOLOGI,

    KABUPATEN PATI, JAWA TENGAH

    LAPORAN KERJA PRAKTIK

    Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan dalam Menyelesaikan

    Pendidikan Program Sarjana S-1 di FakultasTeknik

    Program Studi Teknik Geologi

    Universitas Diponegoro

    Disusun Oleh :

    Maulana Ridwan Atmadisastra

    21100111140087

    KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

    UNIVERSITAS DIPONEGORO

    FAKULTAS TEKNIK

    PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI

    SEMARANG

    APRIL 2015

  • i

    LEMBAR PENGESAHAN

    LAPORAN KERJA PRAKTIK

    STUDI INVENTARISASI KAWASAN KARST DAERAH SUKOLILO

    SEBAGAI KAWASAN LINDUNG GEOLOGI, KABUPATEN PATI, JAWA

    TENGAH

    Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat

    Kurikulum Program S-1

    Program Studi Teknik Geologi Fakultas Teknik

    Universitas Diponegoro

    Semarang

    Telah disetujui dan disahkan pada:

    Hari/Tanggal:..

    Menyetujui,

    Dosen Pembimbing,

    Ir. Prakosa Rachwibowo, MS

    NIP.195203091983031001

    Penyusun,

    Maulana Ridwan Atmadisastra

    NIM. 21100111140087

  • ii

    PRAKATA

    Puji syukur Penulis atas kehadirat Allah SWT berkat rahmat dan hidayat-

    Nya, Penulis dapat menyelesaikan laporan Kerja Praktik dengan baik.

    Tulisan yang berjudul STUDI INVENTARISASI KAWASAN KARST

    DAERAH SUKOLILO SEBAGAI KAWASAN LINDUNG GEOLOGI,

    KAPUPATEN PATI, JAWA TENGAH berisi tentang tentang kegiatan dan hasil

    kerja praktik penulis selama berada di Bidang Geologi, Mineral, dan Batubara

    Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah.

    Dalam kesempatan kali ini Penulis ingin mengucapkan terimakasih

    kepada:

    1. Allah SWT atas nikmat ilmu dan pengetahuan serta kekuatan yang diberikan

    sehingga penulis bisa menyelesaikan laporan kerja praktik.

    2. Ir. Prakosa Rachwibowo, MS. selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan

    banyak pengarahan serta didikan yang sangat bermanfaat dalam penyusunan laporan

    kerja praktik ini.

    3. Kedua orangtua Penulis, Abdul Wahid, BA dan Juhariah, kakak Penulis, Rina

    Septiani S.Si, yang selalu memberikan doa, dukungan moril dan materil, serta

    motivasi kepada Penulis.

    4. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah atas waktu,

    kesempatan, dan bimbingannya.

    5. Dama Hervita yang selalu memberikan dukungan, semangat, dan bantuan selama

    kegiatan berlangsung hingga penulisan laporan ini.

    6. Rekan-rekan mahasiswa Teknik Geologi UNDIP 2011.

    7. Seluruh pihak yang telah banyak memberikan dukungan kepada Penulis yang tidak

    dapat disebutkan satu persatu.

    Semarang, April 2015

    Penulis

    DAFTAR ISI

  • iii

    LEMBAR PENGESAHAN ..................................................................................... i

    PRAKATA ........................................................................................................... ii

    DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

    DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. iii

    DAFTAR TABEL .................................................................................................... v

    BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................ 6

    1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 6

    1.2 Maksud dan Tujuan .............................................................................. 7

    1.3 Jadwal Pelaksanaan .............................................................................. 7

    1.4 Ruang Lingkup ..................................................................................... 8

    1.5 Tahapan Kerja ...................................................................................... 8

    1.6 Diagram Alir Pembuatan Laporan Kerja Praktik ................................. 9

    BAB II PROFIL INSTANSI DINAS ESDM JAWA TENGAH ............................. 9

    2.1 Sejarah Singkat Dinas ESDM Jawa Tengah ...................................... 10

    2.2 Lokasi Dinas ESDM Jawa Tengah..................................................... 11

    2.3 Kedudukan Dinas ESDM Jawa Tengah ............................................. 11

    2.4 Visi dan Misi Dinas ESDM Jawa Tengah .......................................... 11

    2.5 Tugas, Pokok, dan Fungsi Dinas ESDM Jawa Tengah ...................... 12

    2.6 Uraian Tugas Dinas ESDM JAWA TENGAH .................................. 13

    2.7 Struktur Organisasi Dinas ESDM Jawa Tengah ................................ 16

    BAB III TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................... 18

    3.1 Bentang Alam Karst ........................................................................... 18

    3.2 Geologi Regional Sukolilo ................................................................. 21

    3.3 Pengelolaan Kawasan Karst ............................................................... 24

    3.4 Inventaris Sumber Mataair ................................................................. 27

    BAB IV PELAKSANAAN KERJA PRAKTIK .................................................... 29

    4.1 Jenis Pekerjaan Yang Dilakukan ........................................................ 29

    4.2 Peralatan Yang Digunakan ................................................................. 29

    4.3 Tahapan Pekerjaan ............................................................................. 30

    4.4 Hasil Pekerjaan ................................................................................... 30

    4.5 Evaluasi Pekerjaan ............................................................................. 33

    4.6 Manfaat Yang Diperoleh .................................................................... 33

    BAB V KESIMPULAN ......................................................................................... 34

    DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 35

    LAMPIRAN

    DAFTAR GAMBAR

  • iv

    Gambar 1.1 Diagram Alir Kegiatan Kerja Praktik................................................... 9

    Gambar 2.1 Struktur Organisasi Dinas ESDM Jawa Tengah ................................ 17

    Gambar 3.1 Kerucut Karst ..................................................................................... 19

    Gambar 3.2 Dolina ................................................................................................. 20

    Gambar 3.3 Lorong Gua ........................................................................................ 21

    Gambar 3.4 Peta Geologi Daerah Sukolilo ............................................................ 22

    Gambar 3.5 Kenampakan Bukit Kerucut Karst Sukolilo ....................................... 24

    Gambar 3.6 Standar Kebutuhan Air ....................................................................... 27

    Gambar 4.2 Kenampakan Sayatan Batuan Nikol bersilang ................................... 32

  • v

    DAFTAR TABEL

    Tabel 1.1 Jadwal Pelaksanaan Kerja Praktik ........................................................... 8

  • 6

    BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Kawasan karst di Indonesia, luasnya sekiar 154.000 kilometer persegi.

    Hampir seluruhnya memiliki peran penting dalam kehidupan dan lingkungan.

    Dan hampir seluruhnya memiliki sumber daya yang penting dan bernilai

    sangat tinggi. Keberadaan kawasan ini menunjukkan bahwa pulau-pulau

    Indonesia banyak yang pernah menjadi dasar laut, namun kemudian terangkat

    dan mengalami pengerasan. Salah satu daerah di Indonesia yang memiliki

    kawasan karst yang memiliki banyak keunikan adalah kawasan karst yang

    berada pada daerah Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

    Kawasan karst merupakan kawasan yang terbentuk dari susunan

    batuan karbonat. Kawasan karst terbentuk dikarenakan adanya proses-proses

    pelarutan pada batuan karena sifat batuan penyusun yang memiliki derajat

    pelarutan yang lebih tinggi dari derajat pelarutan batuan lainnya.

    Keunikan-keunikan kawasan karst memiliki nilai-nilai yang sangat

    berharga diantaranya nilai ilmiah, nilai ekonomi, dan nilai kemanusiaan. Dari

    nilai-nilai tersebut masing-masing memiliki aspek-aspek tersendiri di dalam

    yang dapat dijadikan suatu nilai jual yang dapat dimanfaatkan dari kawasan

    karst yang dimiliki oleh Indonesia.

    Keunikan yang dimiliki oleh kawasan karst tersebut dapat

    dimanfaatkan oleh masyarakat sekitarnya. Manfaat tersebut dapat berupa

    manfaat materi maupun moral. Sudah banyak masyarakat yang

    memanfaatkan kawasan karst sebagai tempat tinggal, lahan mencari nafkah,

    dan lainnya. Telaga menjadi salah satu aspek dalam kawasan karst yang

    banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai wadah penampung air

    alami, selain itu beberapa masyarakat menjadikan telaga sebagai lahan

    memelihara dan perkembangbiakan ikan. Keunikan kawasan karst lainnnya

    yang banyak dimanfaatkan adalah gua dan tebing-tebing terjal. Gua dijadikan

    sebagai tempat menyelenggarakan adat istiadat yang diyakini oleh

  • 7

    masyarakat sekitar. Kegiatan adat istiadat yang umumnya dilaksanakan di gua

    adalah menyemayamkan jasad sanak keluarga yang telah meninggal dunia.

    Gua pun dapat dijadikan sebagai tempat beribadah oleh warga yang memiliki

    ajaran seperti itu dalam keyakinannya. Tebing-tebing di kawasan karst

    banyak dimanfaatkan sebagai area panjat tebing yang banyak dilakukan oleh

    para pencinta alam. Tebing-tebing karst berlubang juga menyimpan manfaat

    dimana burung walet banyak membuat sarang di lubang tersebut.

    Sisi lain dari berlimpahnya manfaat, terdapat hal yang perlu

    diperhatikan dari segi pemanfaatan kawasan karst yang banyak juga tidak

    sesuai aturan-aturan pemerintah yang menyebabkan terjadinya kerusakan-

    kerusakan terhadap kawasan karst. Beberapa pertambangan yang ada pada

    beberapa kawasan karst telah mengantongi ijin dari pemerintah setempat dan

    beberapa lainnya hanyalah pertambangan illegal yang pada proses

    penambangannya merusak kawasan karst sekitarnya.

    Berdasarkan hal-hal yang disebutkan diatas, maka inventarisasi

    kawasan karst sebagai kawasan lindung geologi diperlukan. Keberadaan

    kawasan karst sebagai kawasan lindung geologi akan bermanfaat untuk

    daerah kawasan karst dan juga daerah sekitarnya. Oleh karena itu,

    inventarisasi ini untuk dapat menjaga kawasan karst bermanfaat bagi makhluk

    hidup lainnya.

    1.2 Maksud dan Tujuan

    1.2.1 Maksud

    1. Melakukan kajian mengenai kawasan karst daerah Sukolilo.

    2. Melakukan inventarisasi kawasan karst daerah Sukolilo sebagai kawasan lindung

    geologi.

    1.2.2 Tujuan

    1. Dapat mengetahui kondisi kawasan karst daerah Sukolilo.

    2. Dapat meninventarisasi kawasan karst daerah Sukolilo sebagai kawasan karst

    geologi.

    1.3 Jadwal Pelaksanaan

  • 8

    Kegiatan kerja praktik dilaksanakan pada 1 - 27 September 2014.

    Berikut jadwal pelaksanaan kegiatan kerja praktik (Tabel 1.1).

    Tabel 1.1 Jadwal Pelaksanaan Kerja Praktik

    No. Kegiatan September 2014

    I II III IV

    1 Persiapan peralatan dan data sekunder

    2 Studi pustaka mengenai kawasan karst

    dan inventarisasi kawasn karst

    3 Survey lapangan

    4 Analisis data

    1.4 Ruang Lingkup

    Ruang lingkup pekerjaan studi inventarisasi kawasan karst daerah

    Sukolilo sebagai kawasan lindung geologi meliputi:

    1. Studi kepustakaan mengenai kawasan karst daerah Sukolilo.

    2. Studi inventarisasi kawasan karst daerah Sukolilo.

    3. Survey lapangan.

    1.5 Tahapan Kerja

    Tahapan kerja kegiatan kerja pratik ini dibagi menjadi 3, yaitu tahap

    persiapan, tahap survey lapangan, dan tahap penyusunan laporan.

    1. Tahap Persiapan

    Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah mencari data-data

    sekunder yang dapat membantu kita pada saat di lapangan seperti, Peta

    Topografi skala 1 : 25.000, Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) skala 1 :

    25.000, studi literatur pendukung.

    2. Tahap Survey Lapangan

    Tahap pelaksanaan meliputi tahapan identifikasi inventaris pada

    kawasan karst dan kondisi geologi daerah dan sekitarnya.

    3. Tahap Penyusunan Laporan

  • 9

    Tahap penyusunan laporan merupakan tahap akhir berupa analisis

    dan pendataan data hasil survey lapangan dan analisis hasil dari data

    sekunder.

    1.6 Diagram Alir Pembuatan Laporan Kerja Praktik

    Gambar 1.1 Diagram Alir Kegiatan Kerja Praktik

    BAB II

    Tahap Persiapan

    Data Sekunder: Peta topografi atau peta rupa bumi

    skala 1:25.000

    Peta Geologi Lembar Ngawi (1996) dan Lembar Bojonegoro (1992).

    Literatur

    Peralatan survey lapangan

    Tahap Survey Lapangan

    Tahap Analisis

    Pembuatan Laporan

    Selesai

    Mulai

  • 10

    PROFIL INSTANSI DINAS ESDM JAWA TENGAH

    2.1 Sejarah Singkat Dinas ESDM Jawa Tengah

    Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa

    Tengah telah memasuki usia yang genap 6 tahun sejak terbentuknya Struktur

    Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) baru dalam Pemerintah Provinsi Jawa

    Tengah, yaitu pada bulan Juni 2008 yang sebelumnya bernama Dinas

    Pertambangan dan Energi Provinsi Jawa Tengah. Dewasa ini fungsi dan

    peran Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah menjadi

    semakin penting sebagai salah satu komponen untuk mewujudkan program

    peningkatan ekonomi dan penguatan infrastruktur guna memperkuat

    kehidupan perekonomian rakyat.

    Selanjutnya dengan telah diterbitkannya PP No.41 Tahun 2007

    tentang Organisasi Perangkat Daerah, maka dalam rangka optimalisasi tugas

    Dinas ESDM di Kabupaten/Kota sebagai unsur pelaksanaan otonomi daerah

    telah diterbitkan Perda Provinsi Jawa Tengah No. 6 Tahun 2008 tentang

    Organisasi dan Tata Kerja Dinas Provinsi Jawa Tengah, dimana dalam

    pembentukan dinas baru tersebut Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi

    Jawa Tengah berganti menjadi Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral

    Provinsi Jawa Tengah yang kemudian diperkuat dengan adanya Peraturan

    Gubernur Jawa Tengah No. 74 Tahun 2008 tentang Penjabaran Tupoksi dan

    Tata Kerja Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah.

    Untuk melaksanakan sebagian tugas teknis operasional dan/atau

    kegiatan teknis penunjang dalam rangka melaksanakan kewenangan

    Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang berada di Kabupaten/Kota,

    keberadaan fungsinya dalam memenuhi pelayanan kepada masyarakat

    semakin meningkat, maka berdasarkan Perda Provinsi Jawa Tengah No. 5

    Tahun 2006, Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Jawa Tengah memiliki

    unit pelaksana teknis sebagai berikut:

    1. Balai Pengelola Pertambangan dan Energi Wilayah Solo;

    2. Balai Pengelola Pertambangan dan Energi Wilayah Kendeng Muria;

  • 11

    3. Balai Pengelola Pertambangan dan Energi Wilayah Serayu.

    Seiring dengan diberlakukannya Peraturan Daerah Provinsi Jawa

    Tengah No. 6 Tahun 2008, maka unit pelaksana teknis pada Dinas ESDM

    Provinsi Jawa Tengah mengalami perubahan sesuai Peraturan Gubernur Jawa

    Tengah No. 46 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana

    Teknis pada Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah sebagai berikut :

    1. Balai Energi dan Sumber Daya Mineral Wilayah Serayu Utara;

    2. Balai Energi dan Sumber Daya Mineral Wilayah Serayu Selatan;

    3. Balai Energi dan Sumber Daya Mineral Wilayah Kendeng Muria;

    4. Balai Energi dan Sumber Daya Mineral Wilayah Solo.

    2.2 Lokasi Dinas ESDM Jawa Tengah

    Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral Provinsi Jawa Tengah

    beralamat di Jalan Madukoro AA BB No. 44, Semarang. 50144.

    2.3 Kedudukan Dinas ESDM Jawa Tengah

    Berdasarkan Peraturan Daerah Provini Jawa Tengah Nomor 6 tahun

    2008 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Provinsi Jawa Tengah

    dan sesuai dengan Peraturan Pemeritah Nomor 38 Tahun 2007 yang

    menyatakan bahwa kewenangan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral

    (ESDM) Provinsi Jawa Tengah meliputi: Geologi, Mineral, dan Batubara, Air

    Tanah dan Panas Bumi, Ketenagalistrikan, serta Minyak dan Gas Bumi.

    2.4 Visi dan Misi Dinas ESDM Jawa Tengah

    2.4.1 Visi Dinas ESDM Jawa Tengah

    Dalam pembangunan daerah bidang energi dan sumber daya

    mineral, keseimbangan antara pemanfaatan dan kelestarian sumber daya

    mineral dan energi menjadi pertimbangan utama dan harus diupayakan

    secara konsisten. Kekayaan sumber daya mineral dan keanekaragaman

    potensi energi tidak saja dimanfaatkan untuk masyarakat saat ini, tetapi

    juga untuk generasi yang akan datang. Oleh karena itu, visi

    pembangunan daerah bidang energi dan sumber daya mineral

  • 12

    adalah:Menuju Masyarakat Sejahtera Melalui Penguatan Pengelolaan

    ESDM dan Kemandirian Energi.

    2.4.2 Misi Dinas ESDM Jawa Tengah

    Misi dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral adalah sebagai

    berikut:

    1. Meningkatkan Pengelolaan Pertambangan dan Air Tanah yang Berkelanjutan;

    2. Meningkatkan Pengelolaan dan Pendayagunaan Ketenagalistrikan dan Migas

    untuk Menjamin Ketersediaan Energi melalui Infrastruktur dan Diversifikasi

    Energi;

    3. Mengembangkan Potensi Energi Baru dan Terbarukan melalui Optimalisasi dan

    Penerapan Teknologi Tepat Guna secara Mandiri;

    4. Meningkatkan Upaya Pencegahan Risiko Bencana Geologi;

    5. Meningkatkan Kinerja Pelayanan Publik yang Profesional di Bidang ESDM.

    2.5 Tugas, Pokok, dan Fungsi Dinas ESDM Jawa Tengah

    Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa

    Tengah sebagai suatu Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang

    bertanggung jawab melaksanakan sebagian tugas Pemerintah Provinsi Jawa

    Tengah di bidang energi dan sumber daya mineral, diharapkan mampu

    mewujudkan visi dan misi pembangunan daerah sebagaimana yang

    digariskan dalam RPJMD Provinsi Jawa Tengah 2008 - 2013.

    Arah kebijakan RPJMD Provinsi Jawa Tengah 2008 - 2013 yang

    terkait dengan pembangunan energi dan sumber daya mineral, merupakan

    acuan dasar dalam menyusun Rencana Strategis Dinas Energi dan Sumber

    Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah. Tugas pokok Dinas Dan Sumber Daya

    Mineral Provinsi Jawa Tengah adalah melaksanakan urusan pemerintah

    daerah bidang energi dan sumber daya mineral berdasarkan azas otonomi

    daerah dan tugas pembantu. Adapun fungsinya adalah melakukan :

    1. Perumusan kebijakan teknis bidang energi dan sumber daya mineral;

    2. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum bidang energi dan sumber

    daya mineral;

    3. Pembinaan dan fasilitas bidang energi dan sumber daya mineral;

    4. Pelaksanaan tugas di bidang geologi, mineral dan batubara, air tanah dan panas bumi,

    ketenagalistrikan, minyak dan gas bumi;

  • 13

    5. Pemantauan, evaluasi, dan pelaporan bidang energi dan sumber daya mineral;

    6. Pelaksanaan kesekertariatan dinas;

    7. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Gubernur sesuai dengan tugas pokok dan

    fungsinya.

    2.6 Uraian Tugas Dinas ESDM JAWA TENGAH

    Dalam menyelenggarakan tugas pokoknya Dinas Energi Dan Sumber

    Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah memiliki fungsi sebagai berikut :

    1. Perumusan kebijakan teknis bidang energi dan sumber daya mineral;

    2. Penyelenggaraan urusan pemerintah dan pelayanan umum bidang energi dan sumber daya

    mineral;

    3. Pembinaan dan fasilitasi bidang energi dan sumber daya mineral lingkup Provinsi dan

    Kabupaten / Kota;

    4. Pelaksanaan tugas di bidang :Geologi, mineral dan batubara, air tanah dan panas bumi,

    ketenagalistrikan, minyak dan gas bumi;

    5. Pemantauan, evaluasi dan pelaporan bidang energi dan sumber daya mineral;

    6. Pelaksanaan kesekretariatan Dinas;

    7. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Gubernur sesuai dengan tugas dan fungsinya.

    Dalam melaksanakan tugas pokoknya Kepala Dinas Energi Dan

    Sumber Daya Mineral Provinsi JawaTengah membawahi :

    1. Sekretaris

    Sekretariat Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah mengembang fungsi untuk

    melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis, pembinaan, pengkoordinasian

    penyelenggaraan tugas secara terpadu, pelayanan administrasi, dan pelaksanaan di bidang

    program, keuangan, umum dan kepegawaian.

    Fungsi :

    1. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan, pengkoordinasian

    penyelenggaraan tugas secara terpadu, pelayanan administrasi, dan pelaksanaan di

    bidang program;

    2. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan, pengkoordinasian

    penyelenggaraan tugas secara terpadu, pelayanan administrasi, dan pelaksanaan di

    bidang keuangan;

    3. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan, pengkoordinasian

    penyelenggaraan tugas secara terpadu, pelayanan administrasi, dan pelaksanaan di

    bidang umum dan kepegawaian;

  • 14

    4. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan tugas dan

    fungsinya.

    Membawahi :

    1. Sub bagian Program;

    2. Sub bagian Keuangan;

    3. Sub bagian Umum Dan Kepegawaian

    2. Bidang Geologi, Mineral, dan Batubara

    Tugas pokok :

    Bidang Geologi, Mineral dan Batubara mempunyai tugas

    melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan

    pelaksanaan di bidang pemetaan potensi dan teknologi, bina pengusaha

    mineral dan batubara, dan kesehatan, keselamatan kerja dan lingkungan.

    Fungsi :

    1. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan, dan

    pelaksanaan di bidang pemetaan potensi dan teknologi;

    2. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan

    pelaksanaan di bidang bina pengusahaan mineral dan batubara;

    3. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan

    pelaksanaan di bidang kesehatan, keselamatan kerja dan lingkungan;

    4. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan

    tugas dan fungsinya.

    Membawahi :

    1. Seksi Pemetaan Potensi Dan Teknologi;

    2. Seksi Bina Pengusahaan Mineral Dan Batubara;

    3. Seksi Kesehatan, Keselamatan Kerja Dan Lingkungan.

    3. Bidang Air Tanah dan Panas Bumi

    Tugas pokok :

    Melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis, Pembinaan

    dan pelaksanaan di bidang hidrogeologi dan penyelidikan panasbumi, dan

    eksploitasi air tanah dan panasbumi.

  • 15

    Fungsi :

    1. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan

    pelaksanaan di bidang hidrogeologi dan penyelidikan panas bumi;

    2. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan

    pelaksanaan di bidang eksploitasi air tanah dan panas bumi;

    3. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan

    tugas dan fungsinya.

    Membawahi :

    1. Seksi Hidrogeologi Dan Penyelidikan Panas Bumi;

    2. Seksi Eksploitasi Air Tanah Dan Panas Bumi.

    4. Bidang Ketenagalistrikan

    Tugas pokok :

    Melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis, pembinaan

    dan pelaksanaan di bidang pengembangan ketenagalistrikan, dan

    pembinaan dan kelaikan ketenagalistrikan.

    Fungsi :

    1. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan

    pelaksanaan di bidang pengembangan ketenagalistrikan.

    2. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan

    pelaksanaan di bidang pembinaan dan kelaikan ketenagalistrikan.

    3. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan

    tugas dan fungsinya.

    Membawahi :

    1. Seksi Pengembangan Ketenagalistrikan.

    2. Seksi Pembinaan Dan Kelaikan Ketenagalistrikan.

    5. Bidang Miyak dan Gas Bumi

    Tugas pokok :

    Melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis, pembinaan

    dan pelaksanaan di bidang pengembangan teknologi dan pengusahaan

    minyak dan gas bumi, dan pengawasan minyak dan gas bumi.

  • 16

    Fungsi :

    1. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan

    pelaksanaan di bidang pengembangan tenologi dan pengusahaan

    minyak dan gas bumi.

    2. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan

    pelaksanaan di bidang pengawasan minyak dan gas bumi.

    3. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan

    tugas dan fungsinya.

    Membawahi :

    1. Seksi Pengembangan Teknologi Dan Pengusahaan Minyak Dan Gas

    Bumi.

    2. Seksi Pengawasan Minyak Dan Gas Bumi.

    2.7 Struktur Organisasi Dinas ESDM Jawa Tengah

  • 17

    Gambar 2.1 Struktur Organisasi Dinas ESDM Jawa Tengah

    KEPALA DINAS

    Ir Teguh Dwi Paryono, MT

    NIP. 19621222 199003 1 005

    SEKRETARIS

    Sudaryadi, SH, MH

    NIP. 19650512 199009 1 001

    Kasubbag Program

    Eni Lestari, ST, MT

    NIP. 19721201 199803 2 011

    Kasubbag Umum dan

    Kepegawaian

    Dra. Aprilina DS., MT

    NIP. 19650416 199102 2 001

    Kasubbag Keuangan

    Setyo Hartoyo, SH

    NIP. 19611204 198503 1 007

    Kabid Geologi Mineral dan

    Batubara

    Ir. Achmad Gunawan, MT

    NIP. 19640327 199203 1 009

    Kabid Air Tanah dan Panas

    Bumi

    Ir. Bambang Mandala P., MT

    NIP. 19630311 199302 1 001

    Kabid Ketenagalistrikan

    Ir. Edi Sucipto, MT

    NIP. 19601011 198903 1 006

    Kabid Minyak dan Gas

    Ir. Eliana Sri Murniati, M.Pi

    NIP. 19591103 198703 2 003

    Kasi Pemetaan Potensi dan

    Teknologi

    BE. Eko Purwanti, SE

    NIP. 19590221 198612 1 001

    Kasi Bina Pengusahaan

    Mineral dan Batubara

    Budi Susetyo, ST

    NIP. 19610714 198803 1 008

    Kasi K3 dan Lingkungan

    Supriharjiyamto, ST, MT

    NIP. 19660902 199803 1 004

    Kasi Hidrogeologi dan

    Penyelidikan Panas Bumi

    Agus Sugiharto, ST, MT

    NIP. 19710416 199803 1 010

    Kasi Eksploitasi Air Tanah

    dan Panas Bumi

    M.Sholeh,S.Kom. M.Kom,MT

    NIP. 19691227 198903 1 002

    Kasi Pengembangan

    Ketenagalistrikan

    Suhardi, ST, MSi

    NIP. 19700602 199603 1 004

    Kasi Pembinaan dan Kelaikan

    Ketenagalistrikan

    Heru Sugiharto, ST, MT

    NIP. 19690410 199803 1 010

    Kasi Pengembangan

    Pengusahaan Migas

    Akhmad Irianto, SST

    NIP. 19620329 198903 1 002

    Kasi Pengawasan Migas

    Ir. Haryanto, M.Si

    NIP. 19590908 199203 1 003

    Kepala BESDM Wilayah Solo

    Ir. Soesono, MT

    NIP. 19590603 198903 1 004

    Kepala BESDM Wilayah

    Kendeng Muria

    Ir. Imam Nugraha HS.,M.Si

    NIP. 19630903 199203 1 007

    Kepala BESDM Wilayah

    Serayu Selatan

    Ir. Sunarso, MT

    NIP. 19610217 199403 1 002

    Kepala BESDM Wilayah

    Serayu Utara

    Ir. Hasan Basri, MM

    NIP. 19641018 199108 1 001

    Kasubbag Tata Usaha

    Drs. RAS. Subagya

    NIP. 19650419 199003 1 009

    Kasi Bimbingan dan

    Penyuluhan

    Panut Priyanto, ST

    NIP. 19720507 199803 1 006

    Kasi Pegawasan dan

    Pengendalian

    Haryadi Joko P.,ST

    NIP. 1968 1027 199803 1 004

    Kasubbag Tata Usaha

    Supaat, SH

    NIP. 19620302 198903 1 003

    Kasi Bimbingan dan

    Penyuluhan

    Dwi Suryono, ST, MT

    NIP. 19781102 200312 1 007

    Kasi Pegawasan dan

    Pengendalian

    Edi Subiyanto, SH

    NIP. 19620412 199011 1 001

    Kasubbag Tata Usaha

    Sri Wahyu S, SH, S.Sos

    NIP. 19601006 198110 2 01

    Kasi Bimbingan dan

    Penyuluhan

    Pudji Suprajitno, ST, M.Si

    NIP. 19630331 198903 1 007

    Kasi Pegawasan dan

    Pengendalian

    JABATAN FUNGSIONAL

    Kasubbag Tata Usaha

    Kodimunir, SH

    NIP. 19610111 199003 1 003

    Kasi Bimbingan dan

    Penyuluhan

    Ir. Joko Wiyanto, MT

    NIP. 19640214 199803 1 003

    Kasi Pegawasan dan

    Pengendalian

    Irwan E. Kuncoro, ST

    NIP. 19710904 200312 1 005

  • 18

    BAB III

    TINJAUAN PUSTAKA

    3.1 Bentang Alam Karst

    Karst adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan daerah

    dengan cirri khas yang memiliki gua dan sistem air bawah tanah yang luas

    yang berkembang pada batuan yang mudah larut seperti batugamping,

    marmer, dan gipsum (Samodra, 2001). Berdasarkan definsi sebelumnya,

    dapat simpulkan bahwa bentang alam karst adalah suatu topografi yang

    terbentuk pada daerah dengan litologi berupa batuan yang mudah larut,

    menunjukkan relief yang khas, penyaluran yang tidak teratur, aliran

    sungainya secara tiba-tiba masuk kedalam tanah dan meninggalkan lembah

    kering untuk kemudian keluar ditempat lain sebagai mata air yang besar.

    Proses pembentukan bentang alam karst adalah akibat adanya proses

    karstifikasi dimana proses yang utama adalah proses pelarutan oleh air pada

    batugamping. Batugamping sendiri akan mudah mengalami proses pelarutan

    apabila terletak dekat dengan permukaan bumi dimana air meteorik maupun

    air permukaan akan lebih mudah untuk melarutkan dan mengerosi

    batugamping.

    3.1.1 Kartisifikasi

    Kegiatan tektonik yang mengangkat cekungan pengendapan

    batugamping menyebabkan batuan tersebut berada di atas permukaan

    laut. Begitu berada di atas permukaan air laut, batugamping mengalami

    serangkaian proses pelapukan, pengikisan, dan denudasi, yang dikenal

    sebagai proses karstifikasi (Samodra, 2001).

    Menurut Ko (1997, dalam Samodra tahun 2001), agar dapat

    membentuk morfologi karst, faktor-faktor yang harus dipenuhi oleh

    lapisan batugamping diantaranya:

    Lapisan batugampingnya cukup tebal.

    Curah hujan di daerah itu cukup tinggi.

    Batuannya terkekarkan, atau banyak mengandung celah dan rongga.

  • 19

    Letaknya lebih tinggi dibanding daerah sekitarnya dan mempunyai sungai

    permukaan yang berfungsi sebagai muka-dasar air setempat.

    Ditutupi oleh vegetasi yang rapat.

    3.1.2 Bentuk-Bentuk Hasil Kartifikasi

    Karst sering dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu eksokarst dan

    endokarst. Eksokarst adalah bentang alam lahan karst yang terlihat

    dipermukaan bumi, sedangkan endokarst adalah bagian dalam atau

    dibawah permukaan bumi dari kawasan karst. Meliputi orong atau

    ruang yang berada didalam perut bumi atau sering disebut luweng atau

    gua. Gua mempunyai dua jenis dibedakan dari bentuk lorongnya, yaitu

    horisontal dan vertikal. Sedangkan berdasarkan letak dari mulut guanya,

    dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu tophill ialah mulut gua yang

    berada pada puncak dari suatu bukit. Swallow hole ialah letak mulut gua

    yang berada pada ketinggian dari suatu bukit, namun belum mencapai

    puncaknya. Dan dolina ialah mulut gua yang berada pada posisi di

    bawah dari kedua buah bukit atau berada pada aliran air sungai.

    Kerucut Karst

    Kerucut karst yaitu bukit karst yang berbentuk kerucut, berlereng terjal dan

    dikelilingi oleh depresi yang biasanya disebut dengan bintang.

    Gambar 3.1 Kerucut Karst (Sumber: Dok. Maulana, 2014)

    Dolina

    Cekungan atau legokan pada kawasan karst dengan bentuk permukaan yang

    bervariasi kadang menyerupai piring cekung, mangkok atau corong, dijumpai di

  • 20

    kawasan karst ini, tetapi ukurannya relatif kecil. Dolina biasanya akan berkembang

    pada kawasan karst yang mempunyai iklim dengan curah hujan tinggi.

    Gambar 3.2 Dolina (Sumber: William, 1996)

    Telaga

    Telaga atau genangan air biasanya terbentuk pada lembah-lembah karst,

    merupakan urutan dari proses pelarutan yang terjadi pada sebaran batu gamping.

    Batugamping akan mengalami proses pelarutan, lambat cepatnya akan seiring

    dengan tinggi rendahnya curah hujan. Pelarutan akan membentuk lubang-lubang

    pelarutan, semakin lama akan semakin membesar dan akan membentuk alur air ke

    bawah tanah, seiring dengan proses pelarutan terjadi pula proses erosi pada batuan

    lapukan di sekitarnya. Proses erosi ini membawa material tanah yang akhirnya

    akan mengendap dan secara perlahan akan kedap, dan akhirnya dapat

    menyimpan/menampung air permukaan yang masuk ke lembah tersebut.

    Gua

    Gua kering atau gua fosil adalah gua yang sudah tidak dialiri air lagi, tetapi

    merupakan indikasi bahwa pada masa lalu muka air tanah pernah mencapai elevasi

    gua tersebut, selanjutnya muka air tanah turun seiring dengan proses geologi yaitu

    pengangkatan, umumnya terdapat di puncak atau tubuh perbukitan. Gua sebagai

    lubang yang terdapat di bawah permukaan tanah sebagian mempunyai hubungan

    dengan keberadaan sungai bawah tanah dan mataair.

  • 21

    Gambar 3.3 Lorong Gua (Sumber: Petrasa, 2014)

    3.2 Geologi Regional Sukolilo

    Morfologi kawasan karst Kendeng Utara secara regional merupakan

    komplek perbukitan karst yang terletak pada struktur perbukitan lipatan.

    Setelah perlipatan mengalami proses pelarutan, pada bagian puncak

    perbukitan karst di permukaan (eksokarst) ditemukan morfologi bukit-bukit

    kerucut (conical hills), cekungan-cekungan hasil pelarutan (dolina), lembah-

    lembah aliran sungai yang membentuk mulut gua (sinkhole), mata air dan

    telaga karst ditemukan pada bagian bawah. Morfologi bawah permukaan

    (endokarst) kawasan karst tersebut terbentuk morfologi sistem perguan dan

    sungai bawah tanah. Pada bagian Utara dan Selatan batas akhir batuan

    kapur/batugamping merupakan dataran.

  • 22

    Gambar 3.4 Peta Geologi Daerah Sukolilo (Sumber: Dinas ESDM Prov.

    Jawa Tengah, 2014)

  • 23

    Stratigrafi kawasan karst Kendeng Utara menurut Pringgoprawiro

    (1983, dalam Dinas ESDM, 2012) masuk ke dalam Formasi Wonocolo,

    Formasi Bulu, Formasi Ngrayong, Formasi Tawun dan Formasi Tuban.

    Formasi penyusun kawasan karst Kendeng Utara ini terbentuk pada masa

    Miosen Tengah Miosen Atas, terbentuk 25 juta tahun yang lalu berdasarkan

    skala waktu geologi. Formasi Wonocolo disusun oleh napal pasiran dan

    napal lempungan yang kaya akan foram plankton terdapat sisipan kalkarenit

    dengan tebal lapisan 5 - 20 cm. Penyebarannya relatif Barat - Timur, mulai

    dari Sukolilo (di Barat) - Sedan - Wonosari - Kedungwaru - Metes Banyuasin

    - Mantingan - Bulu, Antiklin Ledok, Antiklin Kawengan, lanjut ke arah

    Manjung - Tawun, Jojogan - Klumpit, menipis ke arah Tuban di Timur. Tebal

    satuan ini 89 m - 600 m, berumur Miosen Akhir bagian bawah hingga Miosen

    Akhir bagian tengah (N15 - N16). Diendapkan pada lingkungan laut terbuka

    (neritik luar) - batial atas. Hubungan dengan Formasi Ledok di atasnya adalah

    selaras. Di bawahnya diendapkan Formasi Bulu disusun oleh (litologi)

    batugamping masif yang mengandung koral, alga dan perlapisan batugamping

    yang juga mengandung foram laut berupa koral, orbitoid dan alga, sesekali

    diselangselingi oleh batupasir kuarsa bersifat karbonatan dan sisipan

    batulempung. Penyebarannya luas mulai dari Ngrejeg - Klumpit - Rengel

    hingga Purwodadi, dan menghilang di daerah Pati tertutup endapan alluvial.

    Ketebalan satuan ini 54 m - 248 m. Berdasarkan fosil kecil, umur Formasi

    Bulu adalah Miosen Akhir bagian bawah (N14 - N15). Diendapkan pada

    lingkungan neritik luar - batial atas. Hubungan dengan Formasi Wonocolo di

    atasnya adalah selaras. Pada bagian bawah Formasi Bulu ini terendapkan

    Formasi Ngrayong yang disusun oleh perselang-selingan batupasir kuarsa,

    batugamping pasiran dan batulempung. Pada batugamping pasiran disusun

    oleh alga dan cangkang binatang laut. Kemudian pada bagian lapisan formasi

    di bawahnya (lebih tua) adalah Formasi Tawun yang disusun oleh

    batulempung dengan sisipan batupasir kuarsa dan batupasir karbonatan, di

    beberapa tempat ditemui lapisan batulempung yang mengandung gipsum.

    Pada bagian terbawah diendapkan Formasi Tuban disusun oleh batulempung

  • 24

    sisipan batugamping. Singkapan yang baik terdapat di K. Sirwula, Ds. Drajat

    dengan ketebalan 144 m - 665 m.

    Gambar 3.5 Kenampakan Bukit Kerucut Karst Sukolilo (Sumber :

    Paripurno, 2008)

    Struktur geologi yang berkembang di kawasan karst Kendeng Utara

    adalah struktur lipatan. Pada bagian Formasi Bulu yang menjadi kawasan

    karst merupakan bagian dari sinklin dengan arah sayap lipatan Utara -

    Selatan. Sumbu sinklin terdapat pada bagian puncak komplek perbukitan

    karst yang memanjang dari Beketel hingga wilayah Wirosari, perbatasan

    dengan Blora. Terdapat juga struktur patahan yang berarah relatif Timur Laut

    - Barat Daya. Struktur-struktur patahan tersebut terjadi akibat dari proses

    perlipatan Pegunungan Kendeng Utara ini. Kondisi struktur geologi demikian

    menyebabkan batugamping sebagai batuan dasar penyusun formasi karst

    Kendeng Utara memiliki banyak rekahan, baik yang berukuran minor

    maupun mayor. Rekahan-rekahan ini merupakan cikal bakal pembentukan

    dan perkembangan sistem perguaan di kawasan karst setelah mengalami

    proses pelarutan dalam ruang dan waktu geologi.

    3.3 Pengelolaan Kawasan Karst

    Berdasarkan daerah kajian dalam Penetapan Kawasan Lindung Geologi

    di Jawa Tengah, yang merupakan kategori diusulkan sebagai Kawasan

    Lindung Geologi Daerah Karst adalah Kawasan Karst Gombong, Kawasan

    Kars Sukolilo, dan Kawasan Karst Wonogiri Selatan.

  • 25

    Pasal 4 ayat 1 Permen ESDM no. 17 Tahun 2012 menjelaskan bahwa

    Bentang Alam Karst merupakan Bentang Alam karst yang menunjukan

    bentuk eksokarst maupun endokarst tertentu. Sedangkan pada pasal 4 ayat 4

    pada Permen ESDM no.17 tahun 2012 dijelaskan kriteria eksokarst dan

    endokarst tertentu mempunyai kriteria sebagai berikut :

    1. Memiliki fungsi ilmiah sebagai obyek penelitian dan penyelidikan bagi pengembangan

    ilmu pengetahuan.

    2. Memiliki fungsi sebagai daerah imbuhan air tanah yang mampu menjadi media

    meresapkan air permukaan ke dalam tanah.

    3. Memiliki fungsi sebagai media penyimpanan air tanah secara tetap (permanen) dalam

    bentuk akuifer yang keberadaannya mencukupi fungsi hidrologi.

    4. Memiliki mata air permanen.

    5. Memiliki gua yang membentuk sungai atau jaringan sungai Bawah Tanah.

    Maka penentuan Cagar Alam Geologi bagi kawasan berbatugamping

    yang membentuk bentang alam karst adalah dengan mendeskripsi unsur-

    unsur eksokarst dan endokarst. Semakin lengkap intensitas aspek eksokarst

    maupun endokarst (terutama pada keberadaan jaringan sungai bawah tanah

    dan beberapa gua yang berair atau mata-air di kawasan karst), maka area

    jaringan hulu hilir sungai bawah tanah dan unsur-unsur kelengkapan

    morfologi eksokarst tersebut, maka kawasan tersebut berpeluang besar

    sebagai Cagar Alam Geologi dengan kategori Bentang Alam Karst.

    Kawasan lindung geologi berdasarkan pada Peraturan Pemerintah no 26

    Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN), Pasal

    52 ayat 5 menyatakan: Kawasan Lidung Geologi terdiri atas :

    1. Kawasan Cagar Alam Geologi

    Kawasan cagar alam geologi dalam hal ini meliputi kawasan

    keunikan batuan dan fosil (ditetapkan dengan kriteria: memiliki

    keragaman batuan dan dapat berfungsi sebagai laboratorium alam,

    memiliki batuan yang mengadung jejak atau sisa kehidupan masa lampau,

    memiliki nilai paleo-antropologi dan arkeologi, memiliki tipe geologi

    unik, memiliki satu-satunya batuan dan atau jejak struktur geologi masa

    lalu), kawasan keunikan bentang alam (dalam hal ini adalah bentang alam

  • 26

    gumuk pasir pantai, bentang alam berupa kawah, kaldera, maar, leher

    vulkanik dan gumuk vulkanik, bentang alam goa, bentang alam

    ngarai/lembah, bentang alam kubah, dan bentang alam karst), kawasan

    keunikan proses geologi.

    2. Kawasan Rawan Bencana Alam Geologi.

    3. Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Terhadap Air Tanah.

    4. Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air tanah dalam hal ini

    adalah kawasan imbuhan air tanah dan kawasan sempadan mata air.

    Pada kajian ini, yang dimaksud dalam kawasan lindung geologi adalah

    Cagar Alam Geologi (CAG). Cagar Alam Geologi dalam kajian ini

    merupakan Cagar Alam Geologi berbasis Bentang Alam. Kawasan CAG

    sebagaimana PP no.26 tahun 2008 tentang RTRWN pasal 53 ayat 1, meliputi:

    1. Kawasan keunikan batuan dan fosil.

    2. Kawasan keunikan bentang alam.

    3. Kawasan keunikan proses geologi.

    Kajian kawasan lindung geologi Provinsi Jawa Tengah tahun 2012 ini

    meliputi 6 kawasan geologi, yaitu : kawasan geologi Karangsambung

    (Kebumen), kawasan geologi karst Gombong (Kebumen); kawasan geologi

    karst Sukolilo (Pati); kawasan geologi Bayat (Klaten); kawasan geologi DAS

    Klawing (Purbalingga); dan kawasan geologi karst Pracimantoro Giritontro

    (Wonogiri). Berdasarkan karakter geologi dan keunikan geologinya,

    menunjukkan bahwa acuan perlindungan geologi kawasan geologi karst

    Sukolilo, berdasarkan pendekatan bentang alam karst sebagaimana pada

    Permen ESDM No.17 tahun 2012 tentang Penetapan Bentang Alam Karst.

    Menurut Peraturan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral No. 17

    tahun 2012, telah dijelaskan pada pasal 1 mengenai beberapa terminologi

    yang berhubungan dengan morfologi karst, diantaranya :

    1. Karst adalah bentang alam yang terbentuk akibat pelarutan air pada batugamping dan/atau

    dolomit.

    2. Kawasan Bentang alam karst adalah karst yang menunjukkan bentuk eksokarst dan

    endokarst tertentu.

    3. Mata air permanen adalah mata air yang selalu mengalir sepanjang tahun.

  • 27

    4. Bukit karst adalah bukit dengan bentuk kerucut (conical) membulat (sinusoida), menara

    (tower), meja (table) dan/atau bentuk lainnya.

    5. Dolina adalah lekukan tertutup di permukaan akibat proses pelarutan yang memiliki

    ukuran bervariasi dengan kedalaman antara 2 (dua) sampai dengan 100 (seratus) meter

    dan diameter antara 10 (sepuluh) sampai dengan 1.000 (seribu) meter.

    6. Uvala adalah gabungan dari 2 (dua) atau lebih Dolina.

    7. Polje adalah gabungan dari 2 (dua) atau lebih Uvala.

    8. Telaga adalah uvala atau polje yang tergenang air.

    9. Sungan bawah tanah adalah sungai yan mengalir di bawah permukaan tanah.

    10. Speleoterm adalah bentukan hasil proses pelarutan kalsium karbonat (CaCo3) yang

    menhiasi bagian dalam gua seperti stalaktit, stalakmit, pilar dan flowstone.

    11. Akuifer adalah lapisan batuan jenuh air tanah yang didapat menyimpan dan meneruskan

    air tanah dalam jumlah cukup dan ekonomik.

    3.4 Inventaris Sumber Mataair

    Menurut Petrasa (2014), dalam kawasan karst Kendeng Utara ini

    terdapat 33 sumber mataair yang mengelilingi kawasan karst Grobogan dan

    79 sumber mata air yang mengelilingi kawasan karst Sukolilo Pati (Kendeng

    Utara). Keseluruhan mataair tersebut bersifat parenial artinya terus mengalir

    dalam debit yang konstan meskipun pada musim kemarau. Dari hasil

    perhitungan dapat diketahui bahwa pemunculan air di sepanjang musim selalu

    berubah. Pada musim kemarau berdasarkan perhitungan dari 38 sumber air

    yang ada di kawasan Sukolilo mencapai lebih dari 1.009 lt/mnt, dan

    mencukupi kebutuhan air lebih dari 7.882 KK yang ada di Kecamatan

    Sukolilo, dari 18 sumber air yang ada di Kecamatan Tawangharjo mencapai

    debit 462,796 lt/mnt dan mencukupi kebutuhan air lebih dari 5.000 KK yang

    ada di Kecamatan Tawangharjo dan Wirosari, Kabupaten Grobogan.

    Gambar 3.6 Standar Kebutuhan Air (SNI, 2002)

    Kebutuhan air Kabupaten Grobogan, yaitu:

    Jumalah KK : 5.000 KK

    Debit Air : 462,796 L/mnt = 666.426,24 L/hari

    Kebutuhan air penduduk = penduduk x 120 L/hari

  • 28

    = 5.000 x 120L

    = 600.000 L/hari

    Kebutuhan air Kawasan Sukolilo, yaitu:

    Jumalah KK : 7.882 KK

    Debit Air : 1.009 L/mnt = 1.452.960 L/hari

    Kebutuhan air penduduk = penduduk x 120 L/hari

    = 7.882 x 120L

    = 945.840 L/hari

    Hasil perhitungan kebutuhan air Kabupaten Grobogan dan Kawasan

    Sukolilo dapat terpenuhi hanya dengan beberapa sumber mataair yang ada.

    Kabupaten yang memiliki 33 mataair, hanya dengan 18 mataair yang ada

    sudah dapat memenuhi kebutuhan air penduduk Kabupaten Grobogan.

    Kawasan Sukolilo memiliki jumlah penduduk yang lebih besar dibandingkan

    Kabupaten Grobogan, namun dapat memenuhi kebutuhan air penduduk hanya

    dengan 38 mataair dari 79 mataair yang ada. Sumber air yang menghasilkan

    air dalam jumlah besar tersebut disalurkan ke daerah sekitar Kawasan Kart

    Sukolilo dan juga sebagai sumber air untuk memenuhi kebutuhan pertanian

    dan lainnya. Jadi unsur perlindungan geologi pada kawasan karst Sukolilo

    didasarkan pada fungsi hidrologi dan jaringan sungai bawah tanah untuk

    kepentingan air bersih dan pertanian.

  • 29

    BAB IV

    PELAKSANAAN KERJA PRAKTIK

    4.1 Jenis Pekerjaan Yang Dilakukan

    Dalam pelaksanaan kerja praktik di Bidang Minyak dan Gas Dinas

    Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah, penulis

    melakukan kegiatan studi inventarisasi kawasan karst daerah Sukolilo sebagai

    kawasan lindung geologi. Pekerjaan studi pendahuluan tersebut meliputi studi

    pustaka mengenai gas rawa, studi pustaka mengenai geologi regional daerah

    potensi gas rawa, serta survey lapangan.

    Studi pustaka yang mengenai kawasan karst Sukolilo sebagai kawasan

    lindung geologi, baik berupa buku, jurnal, maupun laporan-laporan yang

    terkait dengan kegiatan studi inventarisasi kawasan karst Sukolilo sebagai

    kawasan lindung geologi. Sebagai salah satu alat penunjang, peta geologi dan

    peta kawasan karst daerah Sukolilo digunakan untuk penyusunan laporan.

    Survey lapangan dilakukan untuk mengidentifikasi dan mengetahui

    kondisi lokasi kawasan karst Sukolilo untuk dijadikan sebagai kawasan

    lindung geologi. Selain itu, survey lapangan juga dilaksanakan guna

    mengetahu inventaris yang ada pada kawasan karst Sukolilo dalam segala

    aspek geologi dan hal lainnya yang berkaitan dengan kawasan lindung

    geologi untuk kawasan karst. Hasil dari survey lapangan ini dijadikan sebagai

    acuan dalam inventarisasi dan hipotesis mengenai kawasan karst Sukolilo

    untuk dijadikan sebagai kawasan lindung geologi.

    4.2 Peralatan Yang Digunakan

    Selama kegiatan kerja praktik, digunakan beberapa peralatan

    pendukung, yaitu:

    1. Peta Geologi Lembar Ngawi tahun 1996, sebagai data sekunder.

    2. Peta Geologi Lembar Bojonegoro tahun 1992, sebagai data sekunder.

    3. Peta Rupa Bumi Lembar Ngawi, sebagai data sekunder.

    4. Peta Rupa Bumi Lembar Bojonegoro, sebagai data sekunder.

    5. Peta Penetapan Kawasan Lindung Karst Sukolilo, sebagai data sekunder.

  • 30

    6. Literatur berupa buku, jurnal penelitian, maupun laporan-laporan, sebagai data sekunder.

    7. Perangkat lunak ArcGIS 10.0 dan Microsoft Office, sebagai media pengolah data

    lapangan.

    8. Kamera, sebagai alat memotret objek analisis.

    9. Buku catatan lapangan dan alat tulis, sebagai media pencatat hasil pengamatan.

    4.3 Tahapan Pekerjaan

    Pelaksanaan kerja praktik ini dimulai dari tanggal 1 September 2014

    hingga 27 September 2014, dimana kegiatan kerja praktik sesuai dengan

    kegiatan perkantoran yang dilaksanakan dari hari Senin hingga hari Jumat

    dari pukul 07.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB. Berikut merupakan kegiatan

    yang dilakukan selama kegiatan Kerja Praktik:

    1. Minggu pertama pelaksanaan kerja praktik adalah orientasi lingkungan kerja praktik dan

    penempatan divisi saat kerja praktik di Dinas ESDM Propinsi Jawa Tengah.

    2. Minggu kedua dan minggu ketiga pada pelaksanaan kerja praktik adalah melakukan

    persiapan alat survey lapangan, melakukan studi literatur dan kegiatan survey lapangan.

    Kegiatan survey lapangan dilkaukan untuk mengetahui kondisi lokasi penelitian agar

    dapat dipelajari lebih lanjut.

    3. Minggu keempat pelaksanaan kerja praktik adalah melakukan studi mengenai

    inventarisasi yang ada pada kawasan karst Sukolilo dan pembuatan laporan.

    4.4 Hasil Pekerjaan

    Kawasan karst Sukolilo - Grobogan merupakan kawasan karst yang

    berada di puncak tertinggi dari kawasan karst Perbukitan Kendeng Utara

    berada pada ketinggian 500 mdpl memiliki bermacam keunikan. Keunikan-

    keunikan tersebut menjadi nilai lebih sebagai suatu kawasan karst yang ada di

    Indonesia. Keunikan tersebut meliputi keunikan endokarst dan juga eksokarst

    yang menampilkan suatu keindahan tersendiri yang menarik perhatian dari

    berbagai kalangan, baik dari dari kalangan peneliti hingga penikmat

    keindahan alam Indonesia.

    Kawasan karst Sukolilo memiliki keunikan baik dari sisi endokarst

    maupun eksokarst. Pada kawasan ini memiliki bentukan karst berupa kerucut

    karst, dolina, telaga, gua kering, maupun gua basah. Dari keunikan kawasan

    karst ini diperlukan adanya pengelolaan kawasan karst berupa kegiatan

  • 31

    inventarisasi, penyelidikan, pemanfaatan, dan perlindungan sumberdaya

    karbonat bermorfologi karst. Seluruh kegiatan tersebut dilakukan guna

    melindungi kawasan karst dengan mempertimbangkan daya dukung

    lingkungan, yang merupakan hubungan timbal-balik yang dinamis antara

    manusia dengan sumberdaya alam di sekitarnya.

    Kawasan karst sendiri memiliki banyak nilai-nilai diantaranya nilai

    ilmiah, nilai ekonomi, dan nilai kemanusian. Nilai ilmiah berkaitan dengan

    ilmu-ilmu kebumian, speleologi, biologi, arkeologi, dan paleontologi. Nilai

    ekonomi berkaitan dengan usaha pertanian, kehutanan, pertambangan,

    pengelolaan air, dan pariwisata. Dan nilai kemanusian berkaitan dengan

    keindahan, rekreasi, pendidikan, unsure-unsur spiritual dan agama atau

    kepercayaan.

    Dari nilai-nilai tersebut perlu adanya inventarisasi Kawasan Karst

    Sukolilo, dimana dalam hal ini mendata mengenai aspek-aspek geologi yang

    ada pada kawasan tersebut sehingga nilai ilmiah dapat terangkat yang secara

    tidak langsung dapat mendukung nila-nilai lainnya. Dengan adanya

    inventarisasi, dapat diketahui inventaris yang ada pada kawasan karst ini.

    Kawasan karst Sukolilo memiliki beberapa inventarisasi berupa

    endokarst maupun eksokarst. Inventaris berupa eksokarst yang berada pada

    kawasan karst Sukolilo berupa telaga, dolina, kerucut karst, dan beberapa

    gua, selain itu terdapat inventaris berupa endokarst yaitu gua basah dan

    sungai bawah tanah. Kerucut karst merupakan undakan-undakan bukit yang

    berbentuk kerucut (umumnya mempunyai sudut 45) yang terbentuk akibat

    adanya perlarutan-pelarutan yang disebabkan oleh media pelarut yaitu air.

    Kerucut karst merupakan kenampakan khas yang ada pada kawasan karst

    dimana pengaruh pelrarutan berpengaruh besar terhadap terbentuknya

    kenampakan tersebut. Inventaris lainnya berupa dolina atau sinkhole yang

    merupakan bentukan cekungan membundar atau depresi tertutup di

    permukaan topografi karst. Menurut Kusumayudha (2005), dolina dapat

    terbentuk karena proses pelarutan (disolusi), runtuhan (collapse), kombinasi

    pelrutan dan runtuhan (suffusion), dan proses runtuhnya atap gua subsiden

  • 32

    yang berada dibagian bawah dolina tersebut (subsidence). Dolina dapat

    mengalirkan air dari permukaan ke bawah permukaan melalui pembuluh yang

    terlebarkan atau melalui soil menuju ke sistem atau jaringan saluran bawah

    tanah (gua) dibawah permukaan (White, 1988 dalam Samodra tahun 2001).

    Inventaris lain yang ada pada kawasan karst Sukolilo adalah gua baik

    gua kering maupun gua basah. Gua ini terbentuk akibat pelarutan

    batugamping yang membentuk lubang-lubang yang saling berintegrasi ayang

    akan memebntuk suatu pembuluh yang akan berkembang menjadi bentukan

    gua. Gua kering merupakan terowongan-terowongan yang yang saling

    terhubung tanpa adanya aliran air didalamnya, dan untuk gua basah

    merupakan gua dimana ditemukannya aliran sungai bawah tanah.

    Gambar 4.2 Kenampakan Sayatan Batuan Nikol bersilang

    Batuan penyusun kawasan karst Sukolilo merupakan batugamping

    terumbu dimana batuan tersebut tumbuh atau terbentuk pada zona terumbu.

    Setelah melakukan analisis melalaui kenampakan mikroskopis, pertama

    terihat kenampakan berwarna coklat terang pada nikol bersilang dengan

    susunan komposisi mineraloginya adalah fragmen foraminifera (61%),

    fragmen kuarsa (20%), mikrit (5%), dan matriks lempung silisiklastik (14%).

    Setelah analisis tersebut diketahui bahwa batuan tersebut adalah Sandy

    Allochem Limestone (Klasifikasi Mount, 1985 dalam Dinas ESDM tahun

    2012). Sedangkan contoh batuan ke dua memiliki kenampakan berwarna

    coklat kemerahan pada nikol sejajar dan abu-abu kecoklatan pada nikol

    bersilang. Batuan ke dua ini tersusun atas fragmen foraminifera besar (79%),

    fragmen kuarsa (5%), dan mikrit (16%). Berdasarkan hasil analisis batuan

  • 33

    tersebut, batuan tersebut memiliki penamaan Assilina Rudstone (Klasifikasi

    Embry & Klovan, 1975 dalam Dinas ESDM tahun 2012).

    Adanya inventarisasi kawasan karst Sukolilo dimaksudkan untuk

    menjadikan kawasan karst ini sebagai kawasan lindung geologi. Karst yang

    dijadikannya kawasan lindung geologi ini, agar kawasan karst dapat

    terlindungi dari perusakan-perusakan yang menimmbulkan dampak negative

    yang dapat merugikan warga ataupun masyarakat yang tinggal di kawasan

    karst sukolilo dan sekitarnya.

    Perhatian dari pemerintah terhadap perlindungan kawasan seperti ini

    sangat diharapkan terus berlasung agar kondisi alam di Indonesia, khusunya

    yang bermanfaat bagi semua pihak terus berlanjut. Pihak masyarakat pun

    turut andil dalam pengawasan dan pengelolaan kawasan ini agar tercipta

    suatu hubungan yang sangat menguntungkan.

    4.5 Evaluasi Pekerjaan

    Dari seluruh kegiatan yang telah dilakukan pada saat melakukan kerja

    praktik, maka ada beberapa kendala pada saat pelaksanaan yang didapatkan

    antara lain sebagai berikut :

    1. Keterbatasan data primer sebagai pendukung untuk dilakukannya pengolahan data.

    2. Literatur maupun peneliti terdahulu yang maisih kurang.

    3. Hasil kajian pemetaan kurang detil yang menyebabkan keterbatasan data yang dapat

    diolah sebagai data penunjang analisis mengenai kawasan karst.

    4.6 Manfaat yang Diperoleh

    Kegiatan kerja praktik di Bidang Geologi Mineral dan Batubara Dinas

    Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah membantu penulis

    dalam mengenal dunia pekerjaan kedinasan di bidang sumber daya energi.

    Selain itu, kegiatan kerja praktik ini juga memberikan pengetahun lebih

    kepada penulis tentang inventarisasi kawasan karst Sukolilo sebagai kawasan

    lindung geologi, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

  • 34

    BAB V

    KESIMPULAN

    1. Inventaris yang ada pada kawasan karst berupa eksokarst berupa kerucut karst, dolina, dan

    telaga, dan juga endokarst berupa gua basah, gua kering, dan sungai bawah tanah. Kawasan

    karst Sukolilo tersusun atas batugamping yang terbentuk pada lingkungan batugampng

    terumbu.

    2. Hasil temuan fosil yang berada di wilayah karst Sukolilo menjadikan nilai tambah dijadikannya

    kawasan karst Sukolilo sebagai kawasan lindung geologi untuk menunjang pemahaman ilmiah

    wilayah karst Sukolilo.

    3. Hasil inventarisasi kawasan Sukolilo memiliki kurang lebih 102 mataair yang tersebar

    dibeberapa wilayah. Kecamatan Sukolilo dengan 79 mataair dengan debit air 1-178,90

    liter/detik dan Kabupaten Grobogan dengan 33 mataair dengan debit air 6-64 liter/detik yang

    dapat memenuhi kebutuhan air Kawasan Sukolilo dan sekitarnya.

    4. Berdasarkan inventarisasi kawasan karst Sukolilo dan Peraturan Pemerintah no 26 Tahun 2008

    tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN), Pasal 52 ayat 5, Peraturan

    Pemerintah no.26 tahun 2008 tentang RTRWN pasal 53 ayat 1, Permen ESDM No.17 tahun

    2012 tentang Penetapan Bentang Alam Karst, dan Peraturan Menteri Energi dan Sumberdaya

    Mineral No. 17 tahun 2012, kawasan karst Sukolilo telah dapat dijadikan kawasan lindung

    geologi yang didukung oleh aspek-aspek yang berada dalam kawasan karst.

    5. Diperlukan adanya perhatian lebih dari pihak pemerintah dan masyarakat guna melindungi dan

    melestarikan kawasan karst Sukolilo sebagai kawasan lindung geologi.

  • DAFTAR PUSTAKA

    Badan Standarisasi Nasional. 2002. Penyusunan Neraca Sumber Daya Bagian

    1: Sumber Daya Air Spasial. Jakarta

    Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. 2012.

    Laporan Akhir Penetapan Kawasan Lindung Geologi di Jawa Tengah di

    Kabupaten Kebumen, Kabupaten Pati, Kabupaten Purbalingga, Klaten, dan

    Wonogiri. Tidak dipublikasikan.

    Samodra, H. 2001. Nilai Strategis Kawasan Kars di Indonesia: Pengelolaan dan

    Perlindungannya. Bandung: Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi

    Bemmelen, R.W.. 1949. The Geology of Indonesia, Vol. 1A. Amsterdam:

    Government Printing Office, The Hague.

    Kusumayudha, S.B.. 2005. Hidrogeologi Karst Dan Geometri Fraktal Di Daerah

    Gunungsewu. Yogryakarta

    Petrasa, dkk. 2014. Kajian Potensi Kawasan Karst Kendeng Utara Pegunungan

    Rembang Madura Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

  • LAMPIRAN