Laporan Acara Berjejaring dan Belajar Mengintegrasikan Gender ...

of 12/12
Laporan Acara Berjejaring dan Belajar Mengintegrasikan Gender dalam Rantai Nilai 1 Desember 2016 Latar Belakang ................................................................................................................. 1 Pengalaman & Pembelajaran .......................................................................................... 3 Gender dalam rantai nilai kakao ................................................................................. 3 Pemberdayaan Peran Perempuan dalam Rantai Nilai Kopi ........................................ 5 Gender dalam rantai nilai kelapa sawit ....................................................................... 6 Diskusi .............................................................................................................................. 7 Kesimpulan .................................................................................................................... 10 Rekomendasi untuk Memajukan .................................................................................. 11 Resource ........................................................................................................................ 11 Pengumuman Gender in Value Chain Trajectory .......................................................... 11 Lampiran 1 : Daftar Peserta........................................................................................... 12 Latar Belakang AgriProFocus Indonesia kembali menggelar acara berjejaring dan belajar (network & learning event) yang kedua di tahun 2016. Kali ini AgriProFocus mengajak organisasi jejaring AgriProFocus yang berpengalaman mendorong kesetaraan gender dalam rantai nilai untuk berbagi pembelajaran. Mereka adalah Swisscontact yang berbagi pengalaman di rantai nilai kakao, Oxfam di Indonesia yang bekerja di rantai nilai sawit, dan Hivos Southeast Asia dengan pengalaman di sektor kopi. Mainstreaming gender merupakan hal penting dalam pertanian, karena dia membantu kita untuk melihat pembagian peran antara laki-laki dan perempuan dalam rantai nilai ini. Bagian dari melihat pembagian peran ini adalah melihat peran perempuan dalam pertanian; mereka bertanggungjawab terhadap banyak hal sepanjang rantai nilai, yang sayangnya kontribusi mereka seringkali tak terlihat oleh masyarakat.
  • date post

    06-Feb-2017
  • Category

    Documents

  • view

    217
  • download

    1

Embed Size (px)

Transcript of Laporan Acara Berjejaring dan Belajar Mengintegrasikan Gender ...

  • Laporan Acara Berjejaring dan Belajar Mengintegrasikan Gender dalam Rantai Nilai

    1 Desember 2016

    Latar Belakang ................................................................................................................. 1

    Pengalaman & Pembelajaran .......................................................................................... 3

    Gender dalam rantai nilai kakao ................................................................................. 3

    Pemberdayaan Peran Perempuan dalam Rantai Nilai Kopi ........................................ 5

    Gender dalam rantai nilai kelapa sawit ....................................................................... 6

    Diskusi .............................................................................................................................. 7

    Kesimpulan .................................................................................................................... 10

    Rekomendasi untuk Memajukan .................................................................................. 11

    Resource ........................................................................................................................ 11

    Pengumuman Gender in Value Chain Trajectory .......................................................... 11

    Lampiran 1 : Daftar Peserta ........................................................................................... 12

    Latar Belakang AgriProFocus Indonesia kembali menggelar acara berjejaring dan belajar (network & learning event) yang kedua di tahun 2016. Kali ini AgriProFocus mengajak organisasi jejaring AgriProFocus yang berpengalaman mendorong kesetaraan gender dalam rantai nilai untuk berbagi pembelajaran. Mereka adalah Swisscontact yang berbagi pengalaman di rantai nilai kakao, Oxfam di Indonesia yang bekerja di rantai nilai sawit, dan Hivos Southeast Asia dengan pengalaman di sektor kopi. Mainstreaming gender merupakan hal penting dalam pertanian, karena dia membantu kita untuk melihat pembagian peran antara laki-laki dan perempuan dalam rantai nilai ini. Bagian dari melihat pembagian peran ini adalah melihat peran perempuan dalam pertanian; mereka bertanggungjawab terhadap banyak hal sepanjang rantai nilai, yang sayangnya kontribusi mereka seringkali tak terlihat oleh masyarakat.

  • 2

    Akibat perannya yang tak terlihat, perempuan menjadi kurang terintegrasi dalam rantai nilai dibanding laki-laki. Mereka kurang mendapat pelatihan teknis, upah lebih rendah, kesulitan mengakses keuangan untuk usaha pertaniannya, dan lainnya. Situasi ini sangat penting untuk ditangani. Utamanya ketika banyak kajian menunjukkan bahwa jika peran perempuan diakui dan didukung maka ketahanan pangan keluarga bisa meningkat, pendidikan anak jadi lebih baik, dan ekonomi keluarga menguat. Agar dampak positif semacam ini meluas, banyak NGO mengintegrasikan gender dalam rantai nilai kemudian diikuti oleh pihak swasta. Implementasi pendekatan ini di dalam masyarakat yang belum memahami manfaat dari kesetaraan gender tidaklah gampang. Sesi berbagi pembelajaran terkait pengalaman mengintegrasikan gender dalam rantai nilai merupakan ruang untuk saling belajar dan meningkatkan praktik terbaik. Acara berbagi dan belajar ini juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan program Gender in Value Chains Trajectory yang dilakukan oleh KRKP dengan dukungan AgriProFocus. Pada acara ini, AgriProFocus Indonesia juga menekankan fungsinya untuk memfasilitasi saling hubung antar anggota, memungkinkan kolaborasi, mendorong berbagi informasi dan sumber daya sebagai satu jaringan. Hal ini sejalan dengan peran AgriProFocus ke depan untuk memfasilitasi saling hubung, pembelajaran bersama, dan kepemimpinan (linking, learning, leadership).

    Tujuan 1. Berbagi pengalaman dan pembelajaran terkait pengarusutamaan gender dalam

    rantai nilai pertanian: pendekatan yang digunakan, kisah sukses, tantangan dan cara

    mengatasi

    2. Memperkenalkan program Gender in Value Chain Trajectory

    Hasil 1. Berbagi pengalaman dan diskusi tentang bagaimana mengintegrasikan gender dalam

    rantai nilai

    2. Anggota jaringan mempresentasikan organisasinya dan mengetahui yang dikerjakan

    organisasi lain tentang gender dalam rantai nilai

    3. Distribusi poster dan leaflet Gender in Value Chain Trajectory

    4. Organisasi berbagi informasi tentang agenda mereka tentang pertanian secara umum

    5. Masukan untuk kegiatan AgriProFocus di tahun 2017

    Waktu & Tempat Day / Date : Thursday, 1 Dec 2016 Time : 09.00 13.00 Venue : Sahati Boutique Hotel

    Jl. Taman Margasatwa No. 45 Ragunan, Jakarta Selatan 12550 - Indonesia

    Agenda

    Waktu Aktivitas

    09.00 09.30 Registrasi 09.30 09.45 Pembukaan

  • 3

    09.45 11.00 Berbagi pengalaman dan pembelajaran bersama: Mengintegrasikan Gender ke dalam Rantai Nilai

    11.00 12.00 Diskusi 12.00 13.00 Pitching dan Announcement Session:

    Jika ingin memperkenalkan organisasi, mengumumkan kegiatan di tahun depan

    Pengumuman Gender in Value Chain Trajectory Makan siang

    Pengalaman & Pembelajaran Mengintegrasikan Gender ke dalam Rantai Nilai Intan Darmawati, fasilitator Gender in Value Chains Trajectory AgriProFocus, memoderatori tiga pembicara yang berbagi pengalaman. Mereka adalah Caecilia Putri Mumpuni (Swiss Contact), Dini Widiastuti (Oxfam di Indonesia), dan Mashadi Mulyo (Hivos). Pemaparan pertama disampaikan oleh Caecilia Putri Mumpuni berdasarkan pengalaman Swisscontact yang bekerja di ranati nilai kakao.

    Gender dalam rantai nilai kakao Swisscontact bekerja di 33 negara dengan lebih dari 100 program. Salah satunya adalah Sustainable Cocoa Production Program (SCPP) yang berjalan di 12 provinsi di Indonesia. Progam ini bekerjasama dengan tujuh perusahaan swasta yang memproduksi cokelat. Program ini berlangsung sejak tahun 2012 sampai 2020. Tahun 2016 program SCPP ingin lebih berkontribusi pada pencapaian SDGs, dan salah satunya gender equity. Rantai nilai kakao dimulai dari input, financial, modal, bahan-bahan yang digunakan petani, training, penjualan ke perusahaan-perusahaan, sampai mengelola kakao menjadi cokelat. Dalam rantai nilai di atas, Swisscontact menggunakan traceability untuk mengidentifikasi dari awal apakah terdapat pengguanaan pestisida, berapa banyak kakao yang dihasilkan per tahun, dan lain-lain.

    Gambar 1. Rantai nilai kakao

    Swisscontact melakukan assessment masalah sosial dan gender di area implementasi program dan melakukan intervensi. Hasilnya seperti terlihat dalam tabel 1 di bawah ini:

    Hasil Assessment Masalah Sosial dan Gender

    Kegiatan dalam Proyek

    Perempuan tidak dianggap sebagai petani dan anggota kelompok tani

    Perempuan dilibatkan dalam pelatihan teknologi pertanian dan bisnis dalam rantai kakao

    Perempuan tidak memliki informasi Perempuan dilibatkan dalam pelatihan

  • 4

    mengenai pestisida, terpapar bahan kimia karena petani membawa ke rumah tanpa pengelolaan yang baik

    teknologi pertanian dan pengelolaan lingkungan

    Partisipasi perempuan di kegiatan masyarakat rendah

    Perempuan dilibatkan dalam pelatihan perilaku sosial yang baik dan workshop berhubungan dengan kesetaraan gender

    Beban ganda perempuan anak muda mencari pekerjaan di luar desanya dan pembagian peran di dalam rumah atau laki-laki tidak terlibat dalam gizi keluarga

    Perempuan dilibatkan dalam pelatihan perilaku sosial yang baik, laki-laki dilibatkan dalam pelatihan gizi keluarga

    Perempuan mengatur keuangan keluarga dengan keterampilan keuangan yang dibutuhkan dan control yang rendah

    Perempuan dilibatkan dalam pelatihan pengelolaan keuangan

    Anak bekerja di perkebunan kakao, anak laki-laki > perempuan dan bila perempuan dia akan mengalmi beban ganda

    Perempuan dilibatkan dalam pelatihan perilaku sosial yang baik

    Swisscontact menghadapi tantangan untuk langkah berikutnya, yaitu menentukan kuota partisipasi perempuan. Berdasarkan data yang dimiliki, di hampir semua kategori usia, jumlah perempuan petani selalu lebih sedikit dibanding petani laki-laki. Jumlah perempuan petani yang paling besar adalah di kategori usia 15 24 tahun. Di atas usia ini, perempuan lebih memilih menjadi ibu rumah tangga.

    Gambar 2. Petani berdasarkan usia

    Pada empat jenis pelatihan yang dilakukan Swisscontact sejak 2012, partisipasi perempuan rata-rata lebih rendah dari laki-laki. Partisipasi perempuan dalam pelatihan lebih besar dari laki-laki terdapat pada pelatihan pengelolaan keuangan, di mana tema ini selalu identik dengan perempuan.

    0

    20

    40

    60

    80

    100

    15-24 tahun 25-34 tahun 35-54 tahun 55 tahun keatas

    Petani Berdasarkan Usia

    % Petani Laki-laki % Petani Perempuan

  • 5

    Gambar 3. Peserta pelatihan

    Swisscontact menghasilkan salah satu modul pelatihan yaitu perilaku sosial masyarakat petani kakao (GSP) yang bertujuan:

    Masyarakat kelompok tani memiliki pengetahuan berhubungan dengan masalah pekerja anak, gender, dan kaum muda.

    Masyarakat kelompok tani menyadari berbagai masalah pekerja anak, gender, dan kaum muda di pertanian kakao.

    Masyarakat kelompok tani berperan lebih dalam meningkatkan kondisi sosial-ekonomi.

    Petani dan kelompok tani dapat lebih berperan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di desanya.

    Kesimpulan dan rekomendasi berdasarkan pembelajaran program ini adalah:

    Partisipasi perempuan di value chain kakao masih rendah, tapi memiliki peluang untuk ditingkatkan melalui semacam pelatihan.

    Perlu ada peningkatan kapasitas bagi staf lembaga/organisasi/industri yang bergerak di bidang kakao mengenai gender.

    Kegiatan khusus gender seperti pemberdayaan perempuan perlu dilakukan.

    Kegiatan pengarusutamaan gender dalam program perlu dilakukan.

    Kegiatan berhubungan dengan gender dalam mata rantai kakao harus dilakukan dengan keterlibatan perempuan dan laki-laki.

    Perlu adanya evaluasi dan penelitian hasil program (untuk menunjukkan dampak mainstreaming gender) dan untuk membuat strategi gender dalam mata rantai kakao.

    Selama ini Swisscontact bekerja sama dengan Wahana Visi untuk membantu kegiatan pelatihan di wilayah Indonesia Timur dan Sulawesi.

    Pemberdayaan Peran Perempuan dalam Rantai Nilai Kopi Pengalaman Mashadi Mulyo, Project Officer for Coffee & Commodities dari Hivos Regional Office Southeast Asia, menunjukkan bahwa walaupun pelatihan Good Agricultural Practice (GAP) telah dilakukan perusahaan, mulai dari pembibitan, perencanaan penanaman, membuat demonstration plot, sampai pasca panen, tapi perilaku bertani tak berubah signifikan. Ini disebabkan karena pelatihan hanya diberikan kepada petani laki-laki, padahal perempuan menguasai 60% rantai nilai kopi. Atas dasar inilah Hivos melakukan intervensi melalui proyek kopi di Lampung Barat & Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan.

    0

    20

    40

    60

    80

    100

    Dasar Praktik BudidayaTanaman Kakao

    Gizi Keluarga Pengelolaan Keuangan Pengelolaan Lingkungan

    Peserta Pelatihan

    % Peserta Laki-laki % Peserta Perempuan

  • 6

    Perempuan memiliki peran yang sama, bahkan lebih besar laki-laki di sektor kopi. Mulai dari memilih input seperti benih dan pupuk, melakukan pembibitan, bagaimana mengelola lahan, menanam dan merawat tanaman, sampai pengolahan hasil panen dan perdagangan. Perempuan terlibat di setiap tahap rantai nilai produksi kopi, mulai dari persiapan tanam, penanaman, perawatan, panen, pasca panen, hingga penjualan. Namun peran ini tak dilihat oleh pendekatan GAP. Hivos menggunakan pendekatan Gender Action Learning System (Gals) berdasarkan fakta bahwa perempuan memiliki peran yang lebih banyak dalam usaha pertanian kopi seperti pembibitan, perawatan, prunning, panen, dan penjualan, namun mereka tak dilibatkan dalam pengambilan keputusan, dan tidak diberi kesempatan mengikuti pelatihan atau penguatan kapasitas pertanian. Kurangnya akses pembiayaan dan kepemilikan tanah juga masih banyak dihadapi perempuan. Tak hanya itu, dalam berorganisasi pun perempuan tidak bisa terlibat aktif dan bermakna (meaningful involment) misalnya dalam kelompok tani dan koperasi. Hivos mengintegrasikan pendekatan gender dengan cara memadukan GALS dalam kurikulum Good Agricultural Practices (GALSGAP). Materi GALSGAP disebarkan melalui jejaring kelompok seperti pengajian dan kelompok lain yang ada di desa. Model training of triner menjadi inti dalam pendekatan GALSGAP. Training pertama dilakukan oleh trainer profesional kepada perempuan dalam kelompok informal di pedesaan. Tujuannya untuk mengembangkan jaringan pendidik sebaya. Tahap ini cukup krusial, trainer harus bisa membangkitkan antusiasme calon-calon pendidik ini. Membangkitkan sebuah visi dan mendorong para perempuan untuk mewujudkan visi tersebut bisa jadi pemantik bagi mereka untuk menjadi champion atau pendidik untuk sebayanya, ujar Mashadi. Pendekatan GALS yang sering digunakan di Afrika ini baru pertama dilakukan di Indonesia. Pelatihan dilakukan dengan merangsang otak kanan melalui menggambar, menyanyi, dan mengurangi menulis. Apa dampak penerapan GALS di area penghasil kopi ini? Selama delapan bulan proyek berjalan, sudah terlihat bapak-bapak telah mengurangi kebiasaan merokok. Dalam vision journey yang sudah pernah dibuat, uang rokok dialihkan untuk membayar biaya pendidikan anak-anak. Pengeluaran untuk membeli pulsa juga ditekan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga lain. Tak hanya itu, setiap rumah tangga akhirnya sadar bahwa anak-anak mereka mengalami obesitas karena uang jajan berlebih. Mereka pun mgusulkan agar setiap rumah tangga menyediakan pangan sehat dengan gizi seimbang dan mengurangi jajanan.

    Gender dalam rantai nilai kelapa sawit Gender merupakan bagian dari program akses atas tanah dan sumber daya Oxfam di Indonesia. Topik gender menjadi fokus Oxfam di Indonesia, khususnya dalam proyek kelapa sawit dan aquaculture di Lampung dan Kalimantan Utara, namun topik gender ini tidak berdiri sendiri. Temuan lapangan tentang kondisi gender di areal perkebunan sawit hampir sama dengan sektor di kopi dan kakao. Detailnya sebagai berikut:

    Tanah biasanya / sebagian besar adalah dalam nama laki-laki / suami

    Persepsi bahwa pria dan wanita bersama-sama memiliki tanah

    Wanita tidak selalu menyadari bagaimana lahan tersebut digunakan / dikelola untuk produksi (pengambilan keputusan didominasi oleh laki-laki)

    Konsekuensi bagi wanita dalam kasus kerusakan pernikahan atau kematian biasanya kehilangan hak atas tanah karena atas nama suami

    Perempuan sebagai pekerja 'bayangan'. Dalam proyek palm oil, dari 27 tasks yang ada, perempuan melakukan 24 tasks. Namun mereka tidak mengakui kalau mereka adalah seorang petani dan tidak dibayar.

  • 7

    Peran perempuan: bekerja di pembibitan, pemupukan, penanaman pasca produksi

    Perempuan dianggap sebagai pembantu / asisten

    Persepsi wanita yang merendahkan dirinya sendiri

    Ketidaksetaraan upah yang diperoleh oleh perempuan dan laki-laki

    Risiko kesehatan akibat pemupukan

    Pelecehan seksual dan kekerasan. Petani perempuan diberikan seragam untuk bekerja, namun mandor menyuruh mereka untuk tidak usah menggunakan kaos dalam dengan alasan suhu panas.

    Perempuan bekerja lebih panjang daripada laki-laki, selain di kebun juga bekerja di rumah.

    Praktek diskriminasi oleh lembaga pemberi pinjaman swasta dan publik yang membatasi kemampuan perempuan untuk meningkatkan produksi dan memperluas bisnis

    Kurangnya akses ke layanan pelatihan dan penyuluhan karena perempuan tidak dianggap sebagai petani. Adanya asumsi bahwa salah satu anggota rumah tangga dilatih (laki-laki / suami) akan melatih anggota rumah tangga pasangannya (istri), pelatihan hanya diberikan kepada pemilik tanah, dan pendidikan perempuan lebih rendah.

    Ide-ide sosial dan tradisional yang kuat dari laki-laki menjadi kepala rumah tangga dan mewakili kepentingan kolektif rumah tangga.

    Cara bertani kelapa sawit dijalankan memperkuat dinamika gender yang mendukung pria sebagai wajah publik sedangkan perempuan berwajah domestik.

    Temuan di lapangan di atas tentu menjadi tantangan. Kesadaran gender harus dibangun mulai dari tingkat tingkat individu, masyarakat, perusahaan dan industri (diawali dari yang tergabung dalam RSPO). Langkah-langkah praktis yang ditempuh oleh Oxfam di Indonesia antara lain memastikan hak-hak perempuan atas tanah, mendorong RSPO membuat pedoman tentang gender yang lebih spesifik, dan merekrut auditor yang sensitif gender. Di level lapangan, Oxfam di Indonesia bekerja sama dengan mitra lokal untuk melakukan pemberdayaan, pengembangan kapasitas, dan pendampingan selama 2 tahap agar intervensi lebih peka gender. Setelah intervensi berlangsung terlihat perubahan pada perusahaan kelapa sawit yang menjadi mitra. Misalnya, pekerja perusahaan sawit sudah lebih sensitif gender dan memliki staf perempuan di bagian program, bukan hanya di bagian keuangan. Hal yang sama juga terjadi pada proyek aquaculture. Industri kelapa sawit sudah lebih tertarik dengan isu gender dan belajar menerapkan terutama perusahaan yang tergabung dalam RSPO. Berdasarkan pengalaman Oxfam di Indonesia mengintervensi industri dan perusahaan besar, bisa memperbesar dampak. Intervensi tidak harus langsung ke petani, melainkan lewat mitra lokal, RSPO, dan perusahaan besar.

    Diskusi 1. Rina Namira Ardilla D. (GO-JEK Indonesia)

    a. Di rantai nilai kakao, perempuan berperan mengatur keuangan dan yang aktif menjadi petani paling banyak berada pada usia 17-24 tahun. Lalu apakah ada data keterkaitan antara tingkat pendidikan dan peran yang dilakukan? Tidak ada.

  • 8

    b. Dari paparan rantai nilai kakao, masalahnya adalah acara pandang. Apakah memungkinkan bila dalam training dipaparkan peran perempuan dan laki-laki seperti apa? Dari keseluruhan petani merupakan lulusan SD, tetapi rata-rata dari mereka lulusan SMA juga. Terima kasih untuk masukan trainingnya. Kegiatan Swisscontact yang sedang berjalan saat ini untuk mensesitifkan masalah gender.

    2. Yenny Widjaja (Oxfam di Indonesia) a. Pada komoditas dan kakao mungkin sudah banyak dilihat aspek Gender-Based

    Violence (GBV), tetapi masih invisible. Kalau pendekatan ke komunitas sendiri bagaimana? Dalam diskusi perempuan sendiri tidak mempunyai ruang domestik, lalu bagaimana cara mengantisipasi hal tersebut berdasarkan pengalaman Swisscontact dan Hivos? Putri: Belum sampai ke GBV. Tapi sempat dilakukan pelatihan di lapangan dan didapatkan data dimana tidak hanya perempuan saja yang mendapatkan kekerasan, tetapi laki-laki juga. Namun hal itu belum direspon, karena belum ada kegiatan di lapangan. Untuk kegiatan good social practices, akan dibagi ke menjadi empat aspek sesuai dengan BAPPENAS, yaitu aspek kesehatan, pendidikan, perlindungan, dan ekonomi yang dilatih. Di sesi akhir, mereka akan membuat aksi. Mashadi: Untuk GBV beruntungnya belum terlihat menjadi masalah yang dominan di sana. Meskipun pendidikan rendah, namun tingkat ekonominya sudah bagus. Kasus-kasus kekerasan bahkan kekerasan domestik pun sudah rendah, terutama di OKU Selatan, dimana perempuan sudah memiliki hak waris. Belum sempat terlihat juga pada kelompok petani musiman di wilayah Lampung Barat. Peningkatan dan penyetaraan perempuan merupakan salah satu hal yang ingin dicapai. Akan kita analisa yaitu chance leadership. Dalam GALSGAP, kita tidak hanya memberikan ruang kepada perempuan untuk bersuara, tapi kita memberikan ruang kepada laki-laki untuk belajar bersama, dan kita memberikan ruang bersama-sama untuk diskusi tentang masalah ini, yang dimana beban pertanian kopi biasanya ditanggung oleh laki-laki. Pada proyek Happy Coffee Happy Family in Semendo juga menggunakan metode GALSGAP yang menanamkan nilai bahwa membuat keluarga bahagia, akan menghasilkan kopi yang bahagia.

    b. Untuk GALSGAP, sejauh mana efektivitas pendekatan tersebut dan durasi waktunya (short term atau long term)? Bagaimana dengan keberlanjutannya? Mashadi: Efektif, karena kita bisa memastikan triple down effect. Tahap internalisasi nilai-nilai sangat penting dalam proses ini. Dalam GALSGAP banyak isu bisa digunakan, tak hanya gender, tapi penerapan dalam kerja atau tugas sehari-hari. Yang menjadi salah satu tantangan adalah bagaimana kita bisa memastikan kontrol partisipasi dan kualitas materi yang sama dari champion ke champion berikutnya, memilih dan memastikan pelatih tahap pertama yang akan menjadi pendidik sebaya atau ToT yang memiliki rasa ingin tahu yang cukup tinggi dengan materi ini. Kalau mereka tidak memiliki ketertarikan, pelatihan tidak akan bergulir. Staf perusahaan juga dilibatkan dalam GALSGAP untuk dijadikan rujukan bagi para champion ini. Kalau untuk jangka pendek satu tahun itu tidak efektif, karena tidak bisa mengukur di pelatihan kedua dan ketiga oleh pendidik sebaya. Kalau satu tahun baru bisa terukur

  • 9

    pada pelatihan kedua. Pelatihan ketiga bisa diukur dalam waktu tiga tahun. Yang penting adalah pastikan kualitas materi di masing-masing pelatihan terjaga. Dini: Oxfam juga memiliki kampanye yang bernama Behind the Brands, yang mengukur berbagai kategori, salah satunya sensitivitas gender, dari berbagai merk terkenal. Ini memicu kesadaran public tentang apa yang ada di balik produk tersebut. Kampanye ini bisa dilihat di http://www.behindthebrands.org Intan: Kekuatan GALSGAP adalah bagaimana menjalin relasi dalam keluarga. Kita sebagai fasilitator, seharusnya membantu mereka berpikir lebih dalam tentang hal itu. Dari segi efektifitas, pendekatan ini bisa menjadi efektif karena petani itu sendiri yang akan menjadi pemimpinnya. Dengan metode ini, seseorang harus berbagi, minimal ke anggota keluarga.

    3. Juanita Mandagi (Solidaridad) Ketiga isu menarik. Karena Solidaridad bekerja di kelapa sawit, dan lebih fokus ke petani individu. Sedikit berbeda antara pekerja di perkebunan karena mereka bekerja berdasarkan upah. Tetapi kalau di petani individu, petani perempuan sangat terbatas. Solidaridad memiliki sekolah lapang untuk GAP di sektor kelapa sawit dan keterlibatan perempuan lumayan hampir 50%, karena mereka ingin tahu rasanya bekerja di kelapa sawit. Yang Solidaridad kembangkan adalah apa yang petani perempuan bisa lakukan di rumah tangga, untuk menyisisihkan keperluan rumah tangga dan keperluan di luar rumah tangga. Dari pengalaman saya, hal yang paling mendasar yaitu sensitivitas gender. Karena persepsi tentang gender itu tidak merata. Perempuan dan laki-laku memiliki persepsi yang berbeda.

    4. Nelia Latief (Ethical Tea Partnership)

    ETP merupakan organisasi pembeli teh internasional. Sedikit sharing dan masukan, permasalahan tiga isu ini sama, yaitu kurangnya partispasi pekerja perempuan. Dari sisi konsumen, bagaimana membuat pembeli sensitif tentang gender? Dini Oxfam melihat ke seluruh pembeli, baik individual maupun korporasi. Pembeli individual telah diintervensi lewat kampanye Oxfam. Yang agak sulit adalah pada pembeli besar atau korporasi, maka caranya adalah dengan desakan kampanye dari pembeli individu. Di Indonesia masih jarang hal tersebut terjadi, padahal di luar negeri sudah banyak.

    5. Rizki Estrada (Perkumpulan Inisiatif) a. Palm oil FPIC: Belum bisa membedakan apa perlakuan perusahaan terhadap buruh

    dan dengan rumah tangga? b. Kopi dan kakao: Apakah petani pemilik atau petani buruh yang diintervensi?

    Pembedanya bagaimana dalam skala coorperation dan seharusnya pendekatan berbeda. Dari Swisscontact pada bagian input sampai manufacturing, peran perempuan tidak terlihat peningkatannya (dari skala rumah tangga sampai coorperation). Dini: Kalau di perusahaan besar digunakan pendekatan yang berbeda. Yang bisa dipengaruhi dari pekerja perempuan adalah harus melakukan perlindungan. Selain mendekati industri, ada hal lain untuk menaikan business in human rights. Promoting

    http://www.behindthebrands.org/

  • 10

    gender dan Free Prior Informed Consent (FPIC) dilakukan sebelum perusahaan beroperasi. Setelah perusahaan beroperasi, bagaimana dia melaksanakannya juga dipantau. Setelah itu peran air dan hubungannya terhadap perempuan juga diperhatikan. Pendekatan dilakukan pada petani kecil, yang dimulai dari pendekatan individu ke komunitas. Putri: Bekerja sama dengan petani kecil minimal luas satu hektar dan nada juga dibawah satu hektar. Ada 77.000 petani di bawah kami dan target 130.000 petani di tahun 2030. Pendekatan dalam gender dilakukan terhadap komunitas desa. Mashadi: Hivos bekerja dengan petani kecil. Banyak pendekatan melalui kelompok tani, Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN), dan lain-lain. Dalam training kita mendorong petani-petani untuk membawa buku sendiri. Dari situ kita bisa melihat militansi para petani itu seperti apa.

    6. Dede Herland (SREGIP) Tanggapan: a. Mungkin harus dilihat dan dibedakan petani sebagai small holders dan buruh

    perusahaan. b. Gender mainstreaming tergantung dari komoditas dan wilayah. Contohnya proyek

    saya pada komoditas karet, untuk menggarap karet harus subuh hari dan dikerjakan oleh 80-90% laki-laki. Perbandingan pekerja laki-laki dan perempuan adalah 70:30, dimana perempuan menyadap karet di siang harinya. Sedangkan untuk komoditas lada panen dilakukan tiap setahun sekali. Peran perempuan pun juga sangat kental pada proses harvesting, khususnya pada lada putih.

    8. Urwatil Wutsqo (Winrock International) Sharing tentang proyek coconut di Manado, dimana para bapak fokus pada komoditas kelapa dan ibu pada komoditas jagung. Ketika melakukan training, yang menjadi pertanyaan adalah Mbak, apakah ada duitnya? Setelah dua tahun proyek berlangsung, mereka sudah tidak tergantung duit duduk. Mungkin bisa sharing pengalamannya tentang uang duduk tersebut? a. Dini:

    Tidak ada uang duduk, karena kita bekerja sama dengan kelompok tani dan kelompok buruh.

    b. Putri: Tidak ada uang duduk, kecuali kita membawa mereka ke luar wilayah.

    Kesimpulan Gender tidak hanya berbicara tentang perempuan. Ketika berbicara tentang gender in value chain, kita membahas: bagaimana preferensi laki-lakii dan perempuan terkait pereean masing-masing, bagaimana andil mereka, dan sistem pendukungnya. Bagaimana sistem yang ada bisa mengadaptasi gender mainstreaming, kita tidak semata-mata membicarakan jumlah laki-laki dan perempuan, tetapi sistem yang juga melihat gender dalam menjalankan sistemnya, seperti pemberian kredit kepada petani apakah sistem yang dibentuk sudah ramah gender atau belum.

  • 11

    Rekomendasi untuk Memajukan Berikut poin-poin yang muncul dari diskusi, sebagai hal yang dibutuhkan untuk memajukan Mainstreaming Gender

    Ada peningkatan kapasitas bagi staf lembaga/organisasi/perusahaan terkait pemahaman gender, karena bahkan di dalam lembaga/organisasi/perusahaan yang mendorong mainstreaming gender masih ada yang tidak memahami tentang gender

    Ada Evaluasi dan penelitian hasil program (untuk menunjukkan dampak mainstreaming gender) dan untuk membuat strategi gender dalam mata rantai pertanian.

    Waktu project yang cukup panjang, sehingga bisa mengukur hasil pelatihan serta melihat transfer pengetahuan dan wacana antar aktor

    Strategi untuk mengintegrasikan aspek Gender-Based Violence (GBV) dalam pelatihan Gender in Value Thain

    Strategi untuk mempengaruhi konsumen, dan pembeli besar atau korporasi agar sensitif gender

    Tips dan Trik untuk memilih champion yang memiliki rasa ingin tahu dan ingin menerapkan konsep gender

    Resource Happy Family Happy Coffee Toolkit (Hivos) https://www.sustainabilityxchange.info/en/documents/happy-family-happy-coffee-toolkit Behind the Brand (Oxfam) www.behindthebrands.org Gender in Value Chain Toolkit (AgriProFocus) http://agriprofocus.com/downloads-genderinvc

    Pengumuman Gender in Value Chain Trajectory Ketimpangan gender di rantai nilai pertanian cukup mengkhawatirkan. Persoalan ini hanya bisa ditangani dengan keterlibatan pihak-pihak dalam rantai nilai. Oleh karena itu pendekatan yang sensitif gender perlu dilakukan di sepanjang rantai nilai. Tahun 2017 AgriProFocus Indonesia menyelenggarakan Gender in the Value Chains Trajectory untuk mempersiapkan pelaku rantai nilai mengembangkan pendekatan yang sensitif gender. Informasi lengkap tentang pelatihan ini bisa dilihat di www.agriprofocus.com/gender-indonesia

    https://www.sustainabilityxchange.info/en/documents/happy-family-happy-coffee-toolkithttp://www.behindthebrands.org/http://agriprofocus.com/downloads-genderinvchttp://www.agriprofocus.com/gender-indonesiahttp://www.agriprofocus.com/gender-indonesia

  • 12

    Lampiran 1 : Daftar Peserta No Nama Lengkap Lembaga

    1 Ana Saleh The Netherlands Embassy

    2 Dede Herland SREGIP

    3 Devi R. Ayu Hivos SEA

    4 Gabriella Augusta Hutagalung WAMTI- Wahana Masyarakat Tani dan Nelayan Indonesia

    5 Juanita Mandagi Solidaridad

    6 Kussastri Kebun Pancoran

    7 Leo Mualim Rabobank

    8 M. Nursholiqin Individual

    9 Mariska Sukmajaya Rabobank Indonesia

    10 Mia Mochtar Hivos

    11 Muslikha WAMTI

    12 Nadira Irdiana Plan International Indonesia

    13 Nelia Latief Ethical Tea Partnership

    14 Neveauty Goentoro Coop Indonesia Foundation

    15 Nurmaya Arofah Pusat Studi Gender & Anak UIN Syahid Jakarta

    16 Rahmi Purnomowati Pusat Studi Gender & Anak UIN Syahid Jakarta

    17 Rendra Kusuma Wijaya FIELD Indonesia

    18 Richard Barus Rabobank

    19 Rizki Estrada Perkumpulan Inisiatif

    20 Rully Hardiansyah Pribadi

    21 Theresia Iswarini Hivos

    22 Triyanto Purnama Adi FIELD Indonesia

    23 Urwatil Wutsqo Hi-Farm

    24 Yeni Fitriyanti Solidaridad Network Indonesia

    25 Zikrullah WAMTI

    26 Intan Darmawati

    27 Mashadi Hivos

    28 Rini Hanifa Independent

    29 Diyan H. Swantara

    30 Nining SPK

    31 Riefza Trubus

    32 Ulfa W. SNV

    33 Ari Pujiastuti

    34 Andi Cipta A. Oxfam

    35 Yenny Widjaja Oxfam

    36 Lily Batara KRKP

    37 Rina Namira Ardilla D. GO-JEK Indonesia

    38 Indra Nugraha Mongabay

    39 Dini Widiastuti Oxfam

    []