Kronologis Kasus Nelayan Tradisional Bengkalis

download Kronologis Kasus Nelayan Tradisional Bengkalis

If you can't read please download the document

  • date post

    28-Nov-2014
  • Category

    Business

  • view

    2.422
  • download

    5

Embed Size (px)

description

 

Transcript of Kronologis Kasus Nelayan Tradisional Bengkalis

  • 1. TIM PEMBELA NELAYAN TERTINDAS [TPNT] LATAR BELAKANG KONFLIK Secara historis, wilayah Kabupaten Bengkalis sebelum Indonesia merdeka sebagian besar berada di wilayah pemerintahan Kerajaan Siak Sri Indrapura. Setelah diproklamirkannya Negara Kesatuan Republik Indonesia dan diikuti dengan penyerahan kekuasaan oleh Raja Siak Sri Indrapura, Sultan Syarif Kasim II, maka seluruh wilayah yang berada dibawah kekuasaan Kerajaan Siak Sri Indrapura termasuk kedalam wilayah Republik Indonesia. Kemudian pada tahun 1956, yakni berdasarkan UU No 12/1956, dibentuklah Kabupaten Daerah Tingkat II Bengkalis, yang pada waktu itu masih berada dibawah Propinsi Sumatera Tengah dengan pusat pemerintahan berkedudukan di Sumatera Utara. Dengan dibentuknya daerah Tingkat I Riau, berdasarkan UU No 61/1958 tentang Penetapan Pembentukan Daerah Swatantra Tingkat I Sumatera Barat, Riau dan Jambi, maka Kabupaten Daerah Tingkat II Bengkalis berada dalam Propinsi daerah Tingkat I Riau (http;//www.bengkalis.go.id) Setelah terjadi pemekaran daerah, Kabupaten Bengkalis yang semula jumlah penduduknya merupakan jumlah penduduk terbanyak di Propinsi Riau yaitu dengan jumlah 1.182.267 jiwa namun setelah pemekaran menjadi 547.876 jiwa dengan luas wilayah yang semula 30.646,83 km2 menjadi 11.481,77 km2 (data tahun 2004). Data lapangan menunjukan bahwa perburuan terhadap spesies ikan kurau (Polynemus sp) oleh nelayan tradisional dimulai sejak tahun 1970-an. Pada masa tersebut nelayan tradisional melakukan penangkapan ikan kurau dengan menggunakan alat tangkap rawai (long line)dan sarana penangkapan berupa sampan dayung yang dilengkapi layar. Sedangkan jaring insang permukaan (surface gill net) hanya untuk mencari umpan untuk rawai. Walaupun dengan menggunakan sampan dayung, daerah tangkap (fishing ground) para nelayan tidak terlalu berubah sampai saat ini. Sebelum tahun 1970-an, di perairan Kabupaten Bengkalis terdapat spesies ikan terubuk (Teunuolosa macrura), jenis ikan ini menjadi komoditas andalan perikanan tangkap. Namun karena tidak ada kebijakan yang mengatur penangkapan ikan terubuk akhirnya ikan terubuk punah. Ketika ikan terubuk sudah mulai sulit untuk didapatkan, barulah nelayan mencari alternatif lainnya yaitu mencari spesies ikan kurau. Pada tahun 1981, perburuan terhadap ikan kurau mulai intensif yang dilakukan oleh nelayan jaring batu (bottom gill net). Sementara pada saat itu masyarakat nelayan Kecamatan Bantan masih menggunakan sampan dayung dan alat tangkap rawai. Tercatat pada tahun yang sama tidak kurang dari 40 unit kapal jaring batu beroperasi di wilayah tangkap nelayan tradisional di perairan Kecamatan Bantan. Konflik Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan 1 Nelayan Bantan Kabupaten Bengkalis
  • 2. TIM PEMBELA NELAYAN TERTINDAS [TPNT] Konflik pemanfaatan sumberdaya perikanan di Kecamatan Bantan mencuat ke permukaan berawal dari intensitas perburuan terhadap ikan kurau. Maraknya perburuan ikan kurau menyebabkan banyaknya jaring batu masuk ke perairan Kecamatan Bantan untuk menguasai daerah tangkapan nelayan tradisional. Masuknya alat tangkap ini membuat kenyamanan nelayan Kecamatan Bantan terganggu sehingga terjadi pertikaian-pertikaian di laut sebagai bentuk penolakan nelayan tradisional rawai. Pertikaian-pertikaian tersebut mulanya dipicu oleh pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan jaring batu terhadap nelayan rawai seperti kapal jaring batu menabrak rawai atau dengan mengusir nelayan rawai agar nelayan jaring batu bebas melakukan penangkapan ikan kurau. Disamping pelanggaran yang menimbulkan kerugian langsung pada nelayan rawai, jaring batu juga dianggap telah melanggar nilai-nilai yang berlaku di wilayah tangkapan nelayan tradisional. Menyikapi kondisi seperti diatas nelayan rawai mulai melakukan perlawanan- perlawanan. Awal mula memuncaknya konflik ini terjadi pada sekitar tahun 1983, bermula ketika kapal nelayan jaring batu menabrak kapal nelayan rawai sehingga terjadi perkelahian di tengah laut. Kuatnya arogansi aparat pada masa itu dimanfaatkan oleh pengusaha jaring batu untuk mengintimidasi nelayan rawai yang melakukan perlawanan. Dengan situasi yang tidak kondusif ini, sebagian nelayan rawai melarikan diri ke Malaysia dan bahkan menurut masyarakat ada yang tidak pulang hingga sekarang ini. Sebagian besar nelayan dan pemilik (pengusaha) jaring batu berasal dari Kecamatan Rangsang, Kecamatan tebing Tinggi, Kecamatan Merbau, Kecamatan Bengkalis Kabupaten Bengkalis dan Tanjungbalai Karimun Kabupaten Karimun. Jaring batu merupakan usaha komersil skala ekspor yang umumnya didanai oleh pengusaha keturunan (Tionghoa). Baik jaring batu maupun rawai keduanya sama- sama merupakan alat tangkap yang dioperasikan di dasar perairan. Jenis ikan target juga relatif sama yaitu ikan-ikan yang dikenal aktif di dasar perairan seperti ikan kurau, Malung, Jenak, Kerapu, Pari dan Kelampai. Ikan-ikan ini harganya sangat tinggi di pasar lokal maupun ekspor. Saat ini ikan kurau merupakan primadona tangkapan nelayan dengan harga di tingkat nelayan berkisar antara 25 60 ribu rupiah per kilogram dan bahkan pada kondisi tertentu dapat mencapai 80 ribu rupiah per kilogram. Berdasarkan data dari Koperasi Perikanan pantai Madani Desa Teluk Pambang, kelas harga ikan berdasarkan bobot berat. Berat ikan kecil dari 3 kg (kurau kecil/KK) seharga Rp 25.000/kg, berat 3 4.9 kg/ekor (kurau besar sedang/KBS) seharga Rp 40.000/kg, berat 5 12 kg/ekor (kurau besar/KB) seharga Rp 60.000/kg. Jika berat ikan kurau lebih dari 12 kg/ekor Konflik Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan 2 Nelayan Bantan Kabupaten Bengkalis
  • 3. TIM PEMBELA NELAYAN TERTINDAS [TPNT] harganya disamakan dengan ikan kurau ukuran KBS. Ukran ikan kurau yang biasa tertangkap nelayan rawai berkisar antara 5 25 kg/ekor. KRONOLOGIS KASUS 1. Sejak tahun 1983, kehidupan para nelayan tradisional di Kecamatan Bantan terancam oleh pengoperasian jaring batu yang merambah ke daerah tangkapan nelayan tradisional. 2. Pada tanggal 6 Januari 2003, Bupati Bengkalis mengeluarkan surat Keputusan (SK) No 52/2003 tentang Pelarangan Pengoperasian Jaring Batu/Jaring Kurau (Bottom Gill Net) di Wilayah Perairan 0 4 mil Kabupaten Bengkalis. Para nelayan berpendapat bahwa SK ini tidak sesuai dengan tuntutan para nelayan tradisional selama ini yang menuntut wilayah perairan dari Tanjung Jati sampai Tanjung Sekodi, 0 12 mil, bebas dari pengoperasian jarig batu. SK ini dianggap tidak tegas dalam implementasi teknis pelaksanaan operasional di lapangan serta terlalu memberikan peluang bagi nelayan dan pengusaha jaring batu untuk mengoperasikan alat tangkapnya di wilayah nelayan tradisional rawai. Inilah yang senantiasa menyulut konflik wilayah tangkap antara kelompok nelayan tradisional rawai dan kelmpok jaring batu. 3. Pada tahun 2002 para nelayan dan pengusaha jaring batu yang dikoordinir oleh Jang Karim alias Jang Rombong telah melakukan penganiayaan terhadap Azis dan Syafri, nelayan Desa Teluk lancar, dengan senjata tajam dan mengakibatkan luka bacokan di bagian kepala. Kedua korban dirawat di Rumah Sakit Umum (RSU) Bengkalis selama 7 (tujuh) hari. Semenjak itu hingga sekarang, salah seorang korban, Azis, mengalami cacat dan tidak dapat melaut. 4. Pada bulan Januari 2003, para nelayan dan pengusaha jaring batu yang dikoordinir oleh jang Karim alias Jang Rombong telah melakukan penyerangan terhadap nelayan rawai Kecamatan Bantan dengan panah dan mengakibatkan Bapak Kadar, nelayan dari Desa Teluk Pambang terluka parah di bagian perutnya dan di rawat di RSU Bengkalis. 5. Para nelayan bersaksi bahwa, kelompok nelayan jaing batu telah mempersenjatai diri dengan senjata api laras panjang dan senjata tajam lainnya berupa tombak, panah, parang (samurai), dan senjata tajam lainnya. Terhadap kepemilikan senjata api ini, walaupun telah diketahui oleh pihak kepolisian Bengkalis dan TNI AL, namun sampai saat ini aparat keamanan belum mengambil tindakan tegas. 6. Pada tanggal 31 Januari 2005, Nelayan tradisional Desa Teluk Pambang telah melakukan penangkapan terhadap 1 (satu) unit kapal pengusaha jaring batu dan Konflik Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan 3 Nelayan Bantan Kabupaten Bengkalis
  • 4. TIM PEMBELA NELAYAN TERTINDAS [TPNT] telah diserahkan kepada Camat dan Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Bantan untuk ditindak lanjuti sesuai prosedur hukum yang berlaku. 7. Pada tanggal 14 Pebruari 2005, masyarakat nelayan tradisional rawai bersama masyarakat nelayan Kecamatan Bantan lainnya melakukan aksi damai di Gedung Cik Puan Bengkalis sebagai bentuk protes terhadap kebijakan Bupati Bengkalis mengganti Camat bantan yang oleh masyarakat dinilai cukup baik menyerap aspirasi masyarakat. Nelayan mendesak agar penggantian tersebut ditunda dahulu hingga diperoleh kejelasan proses terhadap kapal jaring batu yang ditangkap sebelumnya (31 Januari 2005). Dalam aksi tersebut aparat Polisi Pamong Praja memprovokasi warga dengan cara mengeluarkan pisau sangkur sambil mengancam warga. Melihat itu masyarakat bereaksi dengan melemparinya dengan batu. Lemparan tersebut beberapa diantaranya mengenai kaca jendela gedung hingga pecah. 8. Pasca aksi tersebut 7 (tujuh) orang warga ditangkap dan ditahan di Mapolres Bengkalis selama 7 (t