Kriteria relokasi pedagang kaki lima (pkl

Click here to load reader

download Kriteria relokasi pedagang kaki lima (pkl

of 26

  • date post

    08-Jan-2017
  • Category

    Engineering

  • view

    720
  • download

    9

Embed Size (px)

Transcript of Kriteria relokasi pedagang kaki lima (pkl

Kriteria Relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) Berdasarkan Preferensi Pedagangang Kaki Lima di Kawasan Pasar Baru Gresik

Kriteria Relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) Berdasarkan Preferensi Pedagangang Kaki Lima di Kawasan Pasar Baru GresikOleh :Fitri Dwi Agus Maulidiyah3611100004

Dosen Pembimbing:Dian Rahmawati, ST.,MT.

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTAFAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAANINSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBERSURABAYA2015

1

Latar Belakang

Pedagang Kaki Lima (PKL) adalah pelaku usaha yang melakukan usaha perdagangan dengan menggunakan sarana usaha bergerak maupun tidak bergerak, menggunakan prasarana kota, fasilitas sosial, fasilitas umum, lahan dan bangunan milik pemerintah dan/atau swasta yang bersifat sementara/tidak menetap. Namun keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang merupakan usaha perdagangan sektor informal, akan mempengaruhi kondisi lingkungan disekitarnya (Perda Kab. Gresik No. 7 Tahun 2013).

Kawasan perkotaan Gresik merupakan dari Surabaya Metropolotan Area (SMA) dengan arahan yang memiliki fungsi sebagai kawasan perdagangan dan jasa. (RTRW 2011 -2031)Kawasan perkotaan Gresik juga mengalami masalah perkotaan yang tidak terlepas dari keberadaan sektor informal, terutama pedagang kaki lima (PKL).

Upaya pengendalian yang telah dilakukan adalah dengan merelokasi dan penertiban yang tidak berhasil, namum pedagang kaki lima masih kembali ke tempat yang telah ditertibkan karena kurang dilibatkannya keinginan pedagang kaki lima dalam pengambilan kebijakan

Sebagai bagian dari sistem perekonomian di Indonesia, keberadaan sektor informal memiliki daya serap terhadap tenaga kerja yang cukup besar dan berperan sebagai sektor penyangga yang sangat lentur dan terbuka, dan juga memiliki kaitan erat dengan jalur distribusi barang dan jasa di tingkat bawah, bahkan menjadi ujung tombak pemasaran yang potensial (Bagong Suyanto dan Karnaji, 2005).

Dengan perkiraan secara kasar oleh Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indoesia (APKLI) jumlah PKL di Indonesia mencapai 22 juta orang (Ketua Umum APKLI, 2013). Menurut APKLI, 2013 Jika dapat dikelola dengan baik, PKL akan menjadi lebih kuat selain memudahkan mereka untuk mendapatkan bantuan dari pusat sehingga bisa lebih berkembang dan tumbuh dengan pesat,

Dan pada tahun 2013 PKL yang ada di lokasi Penelitian yaitu berjumlah 187 PKL

2

Rumusan Masalah

Bagaimanakah preferensi lokasi yang diinginkan dari sudut pandang para PKL yang ada di kawasan Pasar Baru Gresik?

Tujuan Tujuan dari penelitihan ini adalah untuk merumuskan kriteria lokasi PKL berdasarkan preferensi pedagang kaki lima di sekitar kawasan Pasar Baru Gresik.

Sasaran Mengidentifikasi karakteristik Pedagang Kaki Lima di Kawasan Pasar baru GresikMenentukan faktor yang mempengaruhi kriteria relokasi PKL berdasarkan preferensi pedagang kaki lima di sekitar kawasan Pasar Baru Gresik.Merumuskan kriteria relokasi PKL di sekitar kawasan Pasar Baru Gresik.

Wilayah Penelitian

Batas Utara : Kelurahan Lumpur

Batas Selatan : Jl. Gubernur Suryo

Batas Timur : Jl.Sindujoyo

Batas Barat : Kelurahan Lumpur, Terminal Angkot Gresik

Tinjauan Pustaka Pengertian Sektor Informal

No.TeoriPengertian Sektor Informal1.Bagong Suyanto dan Kamaji (2005)Sektor informal memiliki daya tampung terhadap tenaga kerja yang cukup besar, dapat berperan sebagai penyangga, bahkan kegiatan sektor informal dpat menjadi ujung tombak yang berpotensi.2. Manning dan Effendi, 1996Sektor informal digunakan sebagai pendekatan untk membedakan dua kelompok tenaga kerja dengan sifat yang berlainan.Sektor informal mempunyai ciri yang berlawanan dengan tenaga kerja sektor formal.3.Rachbini dan Hamid, 1994Sektor informal dianalogikan sebagai bentuk ekonomi bayangan dengan negara.Ruang lingkup sektor formal tidak mencukupi sehingga sektor informal muncul menjadi kegiatan ekonomi yang tidak terorganisir.4.Hidayat (1983)Pertama, bahwa sektor informal tidak menerima bantuan dari pemerintah. Kedua, bahwa sektor informal belum menggunakan bantuan ekonomi dari pemerintah. Ketiga, bahwa sektor informal telah menerima dan menggunakan bantuan atau fasilitas yang disediakan oleh pemerintah namun belum mampu membuat unit usaha tersebut berdikari.

Ciri Sektor Informal

No.TeoriCiri Ciri Sektor Informal1.Kamala (1994)mudah dimasuki, memakai sumber daya lokal, kepemilikan keluarga, berskala kecil, padat karya dan teknologi yang dipakai sederhana, keterampilan yang diperoleh di luar pendidikan formal serta bergerak di pasar yang kompetitif dan tidak berada dibawah pengaturan resmi 2. Wirosanjoyo dalam Sari (2003)Pola kegiatannya tidak teraturTidak tersentuh oleh peraturan yang ditetapkan oleh pemerintahModal dan omzetnya kecilTempat Tidak memiliki yang tetapUmumnya untuk melayani golongan masyarakat yang berpendapatan rendah.Tidak membutuhkan keahlian khususUmumnya tenaga kerjanya sedikit, dan dari lingkungan keluargaTidak mengenal sistem perbankan.

Pengertian Pedagang Kaki Lima

No.TeoriPengertian Pedagang Kaki Lima1.Mc Gee dalam Argya Demartoto dkk, (2000)Menawarkan barang atau menjual jasanya dari tempat-tempat masyarakat umum terutama di jalan-jalan atau trotoar.2. Fakultas Ekonomi Universitas Parahyangan Bandung (1980) dalam Widodo (2000)Pedagang Kaki Lima (PKL) didefinisikan sebagai pedagang yang berjualan pada kaki lima, dan biasanya pedagang ini mengambil lokasi didaerah keramaian umum seperti trotoar di depan pertokoan/kawasan perdagangan, pasar, sekolah dan gedung bioskop. Adapun istilah kaki lima berasal dari trotoar yang dahulunya berukuran lebar 5 (lima) feet atau sama dengan kurang lebih 1,5 meter.3.Kartini Kartono (1980)Modalnya relatif sedikit, usahanya dilaksanakan di tempat-tempat yang dianggap strategis.4.Fakultas Unpar (1980) dalam Sari (2003)Para PKL tidak hanya berjualan di trotoar saja, namun tetapi menggunakan setiap ruang publik yang ada yaitu seperti jalur-jalur pejalan kaki, areal parkir, ruang-ruang terbuka, taman-taman, terminal, bahkan di perempatan jalan, dan juga berkeliling ke rumah-rumah melalui jalan kampung yang ada di perkotaan.5.Mc Gee dan Yeung (1977)Sekelompok orang menawarkan barang dan jasa untuk dijual pada ruang publik, terutama di pinggir jalan dan trotoar.

Karakteristik Pedagang Kaki Lima

Sumber Aspek yang didapat dalam TeoriWirodandjoyo (1985) dalam Budi (2006)Lokasi usaha / berdagangKeterampilanTenaga kerjaJangkauan pelayananSarana berdagang yang digunakanMalik (2005), Palupi (2004) dan indrawati (2005), dalam Rifai M.A (2007) Luas lapakLatar belakang ekonomiJenis barang yang diperdagangkanWaktu berdagangSarang berdagang yang digunakanKondisi lapakKartono dkk. (1980) Dalam Hetty (2006),Psikologis pedagangJenis barang daganganModal usahaSifat kegiatan usahaLokasi berdagangKualitas barang daganganJenis pedagangInteraksi pedagang dengan konsumenRustianingsih (2004)Tingkat pendidikanJenis barang daganganPendapatanInteraksi pedagang dengan konsumenPendapatanFungsi kegiatanKebutuhan ruang (lokasi)Mc Gee dan Yeung (1977)Jenis barang daganganSarana berdagangSifat berdagangLokasi berdagang

AspekIndikatorVariabel Aspek FisikMenjual barangdalam skala kecilJenis barangUsaha bermodal kecilPendapatan Modal usahaBentuk tempat berdagangSarana yang digunakanKeterbatasan cara berdagangTingkat pendidikanTingkat keterampilanKebutuhan ruangLuas lapakStatus lapakAspek kegiatan Pedagang yang menetap dan berpindah-pindahSifat berdagangWaktu berdagangFungsi berdagangInteraksi PedagangAdanya tawar menawarAspek PsikologisAdanya Penertibandari Satpol PPSuasana psikologis PKLKondisi EkonomiLatar belakang menjadi PKL

Indikator dan Variabel

Pedagang Kaki Lima dalam Tata Ruang

Menurut Danujo (dalam Sujarto, 1992) menyatakan tata ruang merupakan bagian dari ruang yang disediakan untuk digunakan sebagai temat benda-benda atau kegiatan. Adapun suatu wilayah terbentuk dari beberapa elemen, yaitu:Kumpulan dari pelayanan jasa yang termasuk didalamnya adalah perdagangan, pemerintahan, keuangan yang cenderung terdistribusi secara berkelompok didalam satu pusat pelayanan.Kumpulan dari industri sekunder pergudangan dan perdagangan grosir yang cenderung berkumpul dalam suatu tempat.Lingkungan permukiman sebagai tenpat tinggal manusia dan ruang terbuka hijau.Jaringan transportasi yang menghubungkan tempat-tempat tersebut di atas yang telag dijelaskan.

Pandangan terhadap negara-negara maju yang dimana masayarakatnya telah mengalami modernisasi dengan tingkat pendapatan dan pendidikan yang cukup tinggi, sehingga kegiatannya lebih banyak pada sektor formal. Hal tersebut yang menyebabkan negara berkembang lebih memperhitungkan indikator atau elemen kota yang bersifat formal didalam perencanaannya. Sedangkan pada negara berkembang komposisi penduduk lebih besar pada kelompok masyarakat yang berpendidikan dan berpendapatan rendah. Hal tersebut yang akhirnya mendorong munculnya aktivitas pada sektor iformal, seperti PKL terutama di wilayah perkotaannya (Srie Ambarwaty, 2003).

Dampak Fisik Dampak Lingkungan Yang dimaksudkan dengan dampak fisik pada penelitian ini adalah perubahan yang terjadi pada elemen fisik kota seperti toroar, jalan, masa bangunan, taman, dan sirkulasi akibat dari adanya aktivitas pedagang kaki lima yang dilakukan pada elemen-elemen fisik kota tersebut.

Kumuh Kondisi lokasi pedagang kaki lima (PKL) umumnya tidak terlepas dari masalah kebersihan dan keindahan lingkungan, dimana pada aspek ini dapat memiliki citra dari lokasi usaha tersebut. Kemacetan Lalu LintasSelain disebabkan oleh PKL kemacetan juga disebabkan oleh angkutan umum yang tidak mematuhi peraturan lalu lintas, terutama di depan pasar-pasar dengan menurunkan dan meinaikkan penumpang secara sembarangan. Kemacetan yang terjadi berakibat pencemaran udara yang berdampak pada lingkungan yaitu menurunnya kualitas