Klasifikasi M

12
Klasifikasi M.H. A. Pengertian Klasifikasi Klasifikasi adalah pengelompokan makhluk hidup dalam takson melalui pencarian keseragaman atau persamaan dalam keanekaragaman. Makhluk hidup yang diklasifikasikan dalam satu kelompok atau takson tertentu memiliki persamaan-persamaan sifat atau ciri-ciri. Demikian pula sebaliknya, makhluk hidup dalam kelompok atau takson yang berbeda akan memiliki perbedaan-perbedaan sifat dan/atau ciri-ciri. B. Tujuan dan Manfaat Klasifikasi 1. Menyederhanakan obyek studi 2. Mendeskripsikan ciri-ciri makhluk hidup untuk membedakan tiap-tiap jenis, agar mudah dikenal 3. Mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan persamaan ciri 4. Mengetahui hubungan kekerabatan antar makhluk hidup 5. Mempelajari evolusi makhluk hidup atas dasar kekerabatannya C. Dasar Klasifikasi 1. Berdasarkan Persamaan Ciri 2. Berdasarkan Perbedaan Ciri 3. Berdasarkan Manfaat 4. Berdasarkan Ciri Morfologi dan Anatomi 5. Berdasarkan Ciri Biokimia D. Macam-Macam Sistem Klasifikasi 1. Sistem Alamiah (Natural) Yaitu sistem klasifikasi yang berdasarkan persamaan ciri struktur tubuh eksternal (morfologi) dan struktur tubuh internal (anatomi), sehingga terbentuk kelompok seperti yang dikehendaki alam. Penganut sistem ini adalah Carolus Linnaeus. Contoh : Kerbau, sapi, kambing dikelompokkan hewan berkaki empat. 2. Sistem Buatan (Artifisial)

Transcript of Klasifikasi M

Page 1: Klasifikasi M

Klasifikasi M.H.A.      Pengertian Klasifikasi

Klasifikasi adalah pengelompokan makhluk hidup dalam takson melalui pencarian keseragaman atau persamaan dalam keanekaragaman. Makhluk hidup yang diklasifikasikan dalam satu kelompok atau takson tertentu memiliki persamaan-persamaan sifat atau ciri-ciri. Demikian pula sebaliknya, makhluk hidup dalam kelompok atau takson yang berbeda akan memiliki perbedaan-perbedaan sifat dan/atau ciri-ciri.

B.      Tujuan dan Manfaat Klasifikasi

1. Menyederhanakan obyek studi2. Mendeskripsikan ciri-ciri makhluk hidup untuk membedakan tiap-tiap jenis, agar

mudah dikenal3. Mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan persamaan ciri4. Mengetahui hubungan kekerabatan antar makhluk hidup5. Mempelajari evolusi makhluk hidup atas dasar kekerabatannya

C.      Dasar Klasifikasi

1. Berdasarkan Persamaan Ciri2. Berdasarkan Perbedaan Ciri3. Berdasarkan Manfaat4. Berdasarkan Ciri Morfologi dan Anatomi5. Berdasarkan Ciri Biokimia

D.      Macam-Macam Sistem Klasifikasi

1. Sistem Alamiah (Natural)

Yaitu sistem klasifikasi yang berdasarkan persamaan ciri struktur tubuh eksternal (morfologi) dan struktur tubuh internal (anatomi), sehingga terbentuk kelompok seperti yang dikehendaki alam. Penganut sistem ini adalah Carolus Linnaeus.

Contoh : Kerbau, sapi, kambing dikelompokkan hewan berkaki empat.

    2.   Sistem Buatan (Artifisial)

Yaitu sistem yang mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan persamaan ciri yang ditetapkan oleh peneliti sendiri, misalnya, ukuran, bentuk, dan habitat makhluk hidup. Penganut sistem ini, di antaranya, Aristoteles dan Theophratus (370 SM). Aristoteles membagi makhluk hidup menjadi dua golongan, yaitu hewan dan tumbuhan. Selanjutnya, hewan dikelompokkan menjadi tiga kelompok berdasarkan persamaan ciri habitat, misalnya, habitat air, darat, dan udara.

Contoh : tumbuhan dikelompokkan menjadi pohon, perdu, dan tumbuhan semak.

Page 2: Klasifikasi M

Aristoteles juga mengelompokkan hewan atas dasar warna darahnya, yaitu hewan yang berdarah merah dan hewan yang tidak berdarah.

   3.   Sistem Filogenik

Sistem klasifikasi ini dikelompokkan berdasarkan jauh dekatnya kekerabatan antarorganisme atau kelompok dengan melihat keturunan dan hubungan kekerabatan. Organisme atau kelompok yang berkerabat dekat memiliki persamaan ciri yang lebih banyak bila dibandingkan dengan organisme atau kelompok yang berkerabat jauh. Cara mengelompokkan makhluk hidup dilakukan dengan mengamati ciri-ciri secara morfologi, anatomi, fisiologi, dan perilaku. Penganut sistem ini ertolak dari teori Charles Darwin.

E.      Perkembangan Sistem Klasifikasi Makhluk Hidup

Klasifikasi yang didasarkan pada filogenik telah mengalami berbagai perkembangan karena adanya penemuan-penemuan baru yang sesuai dengan peradaban manusia. Mulanya pada abad ke-19 sampai 20 masih menggunakan sistem dua kingdom, yaitu dunia tumbuhan (Plantarum) dan dunia hewan (Animalia), tetapi pada kenyataannya untuk organisme tingkat rendah seperti Amoeba, Paramecium, dan Hydra sangat sulit ditentukan, termasuk dunia tumbuhan ataukah dunia hewan.

Oleh karena itu, para ahli mengemukakan berbagai sistem klasifikasi sebagai berikut.

1.      Sistem Klasifikasi Dua Kingdom,

Penemu sistem ini adalah ilmuwan yang bernama Aristoteles (Yunani). Pengelompokan makhluk hidup tersebut adalah sebagai berikut.

Kingdom tumbuhan (Plantarum), memiliki ciri-ciri berdinding sel, berklorofil, dan berfotosintesis. Bakteri dan jamur meskipun tidak berklorofil tetap dimasukkan dalam kerajaan tumbuhan.

Kingdom hewan (Animalia), memiliki ciri-ciri tidak berdinding sel, tidak berklorofil dan dapat bergerak bebas, yang termasuk pada kingdom ini seperti Protozoa, Mollusca, Porifera, Coelenterata, Arthropoda, Echinodermata dan Chordata.

2.      Sistem Klasifikasi Tiga Kingdom,

Penemu sistem kingdom ini adalah Ernest Haekel (Jerman) tahun 1866, pengelompokan makhluk hidup tersebut adalah sebagai berikut.

1. Kingdom Monera, memiliki ciri-ciri tubuh tersusun atas satu atau banyak sel, inti selnya tanpa selubung (prokariotik), contohnya adalah bakteri dan ganggang biru.

2. Kingdom Plantae, yang temasuk dalam kingdom ini adalah alga, jamur, lumut, paku, dan tumbuhan berbiji.

3. Kingdom Animalia, yang termasuk dalam kingdom ini adalah dari golongan Protozoa sampai golongan Chordata.

3.      Sistem Klasifikasi Empat Kingdom,

Page 3: Klasifikasi M

Penemu sistem kingdom ini adalah Robert Whittaker pada tahun 1959. Pengelompokan makhluk hidup tersebut berdasarkan struktur sel yang dibedakan antara sel eukariotik, yaitu sel yang memiliki selaput inti, dan sel prokariotik, yaitu sel yang tidak memiliki selaput inti.

Keempat kingdom itu antara lain:

1. Kingdom Monera, ciri-cirinya adalah memiliki inti tanpa membran (prokarion), contohnya bakteri dan ganggang biru.

2. Kingdom Fungi, mencakup semua jamur.3. Kingdom Plantae, meliputi semua ganggang kecuali ganggang biru, lumut, paku, dan

tumbuhan berbiji.4. Kingdom Animalia, meliputi semua hewan, mulai dari Protozoa sampai Chordata.

4.      Sistem Klasifikasi Lima Kingdom,

sistem ini merupakan penyempurnaan dari sistem empat kingdom oleh Whittaker pada tahun 1969 dengan menggunakan dasar tingkatan organisme, susunan sel, dan faktor nutrisinya. Klasifikasi ini dianut oleh banyak ilmuwan sampai sekarang. Adapun sistem klasifikasi lima kingdom ini adalah sebagai berikut.

1. Kingdom Monera, meliputi semua makhluk hidup atau organisme yang prokariotik, bersel satu, dan mikroskopis. Contohnya, semua bakteri dan ganggang hijau biru (Cyanobakteri), misalnya Escherichia coli, Anabaena sp., dan Nostoc sp.

2. Kingdom Protista, sebagian besar terdiri atas organisme yang bersel satu, eukariotik, umumnya sudah memiliki ciri-ciri seperti tumbuhan dan hewan. Contohnya: Euglena, Paramecium, dan Amoeba.

3. Kingdom Fungi, memiliki ciri-ciri eukariotik, tidak berklorofil sehingga tidak berfotosintesis. Contohnya: Mucor, Saccharomyces, Pleurotus (jamur tiram), Agaricus, dan lain-lain.

4. Kingdom Plantae, terdiri atas semua organisme eukariotik, bersel banyak, berdinding sel yang mengandung selulosa, berklorofil, berfotosintesis, autotrof. Kerajaan tumbuhan dibagi menjadi tumbuhan berspora (lumut, paku) dan berbiji. Contohnya: padi, mawar, lumut hati, dan paku ekor kuda.

5. Kingdom Animalia: memiliki ciri-ciri eukariotik, bersel banyak, tidak berklorofil sehingga tidak berfotosintesis, tidak berdinding sel, heterotrof. Contohnya: burung, gajah, ular, ayam, dan sebagainya.

5.      Sistem Klasifikasi Enam Kingdom.

Sistem ini menganut bahwa virus dimasukkan dalam kingdom tersendiri, oleh karena itu tingkatan klasifikasi ada enam kingdom, yaitu Virus, Protista, Monera, Fungi, Plantae, dan Animalia.

F.      Klasifikasi dalam Biologi Modern

Seiring dengan perkembangan ilmu biologi yang bertambah maju, maka metode klasifikasi makhluk hidup dipelajari tersendiri dalam cabang ilmu taksonomi. Dasar yang digunakan dalam klasifikasi makhluk hidup yang lebih modern adalah klasifikasi sistem filogenik..

Tahapan untuk melakukan klasifikasi antara lain :

Page 4: Klasifikasi M

1.  Pencanderaan / Identifikasi

Ada beberapa macam cara untuk mengidentifikasi makhluk hidup, diantaranya melalui pengamatan ciri-ciri, struktur tubuh, morfologi, anatomi, dan sebagainya.

Cara yang lebih umum digunakan adalah dengan kunci determinasi atau kunci dikotomis.

Kunci determinasi adalah daftar yang memuat sejumlah keterangan dari suatu makhluk hidup yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan menentukan kelompok makhluk hidup berdasarkan ciri-ciri yang dimilikinya.

Kunci dikotomi merupakan kunci determinasi sederhana yang sering digunakan dalam klasifikasi makhluk hidup. Dalam kunci dikotomi tersebut terdapat daftar yang tersusun secara berpasangan yang menunjukkan ciri yang berlawanan.

Contoh Kunci Determinasi Sederhana

Page 5: Klasifikasi M

Cara Penggunaan Kunci Determinasi:

Cocokkan ciri-ciri organisme (tumbuhan/hewan) berdasarkan tabel kunci determinasi, kemudian lihat pada kolom sebelah kanan.

Lanjutkan ke nomor yang tercantum pada kolom sebelah kanan, sampai mennjukkan takson tertentu yang ditunjukkan pada kolom sebelah kanan.

Contoh :

Familia Lilaceae                      :  10b-9a-8b-3b-2b-1b Kelas Insecta (serangga)     :  7a-6a-5b1b

Contoh Kunci Dikotomis

2.  Pengelompokan

Page 6: Klasifikasi M

Yaitu mengelompokan makhluk hidup yang memiliki ciri-ciri yang serupa atau tidak serupa. Ciri-ciri makhluk hidup yang serupa akan dikelompokkan dalam suatu takson yang kemudian diurutkan dari tingkat tinggi sampai pada tingkat rendah. Makin rendah tingkatan takson, makin sedikit anggotanya, tetapi persamaan ciri-ciri yang dimiliki, dan hubungan kekerabatannya semakin dekat.

Urutan Tingkatan Takson Pada Makhluk Hidup

Takson diatas merupakan takson utama yang umumnya digunakan. Namun kadang dalam pengelompokkan seringkali terdapat takson perantara. Bila diatas takson utama ditambahkan Super- , sedangkan  dibawah takson utama ditambah sub- .

Contoh :

Antara takson Filum dengan Chlassis ada yang mengelompokkan dalam takson Subfilum dan superchlassis. Takson dibawah species, sesuai dengan organismenya. Misal : manusia (ras), hewan (strain), tumbuhan (varietas).

Contoh :

a. pengelompokan pada kacang hijau dan buncis

b. Pengelompokan pada Anjing

Page 7: Klasifikasi M

3. Pemberian Nama Jenis Makhluk Hidup

Nama yang diberikan kepada kelompok individu hewan atau tumbuhan sering berbeda meskipun individu yang dimaksud sama. Setiap daerah memberi nama yang berlainan, misalnya, nama Latin tanaman terung adalah Solanum acubatissimum.

Nama yang diberikan penduduk bermacam-macam. Ada yang menyebutnya terung perat, terung kapal, terung piat (semang), dan terung tenang. Mungkin di negara lain terung tersebut mempunyai nama lain lagi. Begitu pula buah mangga. Ada yang menyebutnya buah pelem dan ada yang menyebutnya buah pauh. Nama yang bermacam-macam untuk kelompok individu yang sama tersebut jelas membingungkan.

Untuk mengatasi pemberian nama yang bermacam-macam, Carolus Linnaeus, seorang ahli biologi berkebangsaan Swedia, dalam bukunya Species Plantarum (1753) dan Systema Nature (1758), mengemukakan aturan atau pedoman penamaan bagi kelompok individu.

Carolus Linnaeus yang memiliki nama asli Carl von Linne dikenal sebagai Bapak Taksonomi Modern. Sistem pemberian nama makhluk hidup yang digunakan Linnaeus disebut Sistem Binomial Nomenklatur dan bahasa yang digunakan adalah bahasa Latin.

Dengan demikian, untuk suatu macam makhluk hidup hanya digunakan satu nama bagi seluruh dunia ilmu pengetahuan. Dengan adanya kesatuan nama ini, orang tidak akan keliru dengan makhluk hidup yang dimaksud meskipun di tiap negara atau daerah memiliki nama sendiri, sehingga dapat digunakan sebagai alat komunikasi.  Sistem binomial nomenklatur ini merupakan sistem pemberian nama hewan atau tumbuhan secara sah dan benar berdasar kode internasional.

Page 8: Klasifikasi M

Pemberian nama ini diatur dengan Kode Internasional Tata Nama Hewan dan Tumbuhan dengan menggunakan sistem tata nama dua kata (binomial nomenklatur) dengan aturan-aturan sebagai berikut.

Nama Jenis terdiri dari dua kata, kata pertama menunjukkan tingkatan marga (genus) yang diawali dengan huruf besar dan kata kedua menunjukkan tingkatan jenis (spesies) yang diawali dengan huruf kecil.

Contohnya: Gnetum gnemon (Melinjo)

Jika ditulis dengan huruf tegak, dua kata tersebut harus Digaris bawahi secara terpisah, tetapi jika tidak digarisbawahi, dua kata tersebut harus dicetak miring.

Contohnya : Gnetum  gnemon atau Gnetum gnemon.

Beberapa contoh penulisan nama ilmiah tumbuhan dan hewan .

Jika memiliki subspesies, nama tersebut ditambahkan pada kata ketiga dengan tanda sambung. Jadi, pada subspesies terdiri atas tiga kata. Sistem penamaan yang terdiri atas tiga suku kata disebut Trinomial, contohnya, Passer domesticus-domesticus (burung gereja) dan Felis maniculata-domesticus (kucing jinak). Kadang kata ketiga menunjukkan nama penemu.

Untuk kelompok yang tingkatan klasifikasinya lebih tinggi lagi, aturan penamaannya adalah sebagai berikut.

a. Pada hewan

Nama famili berasal dari nama genus ditambah idae. ( genus + idae )

Contoh: Ranidae berasal dari Rana (katak).

Nama subfamili berasal dari nama genus, ditambah inae.

Contoh: Fasciolinae berasal dari Fasciola (cacing pita).

b. Pada tumbuhan

Nama famili  diberi akhiran aceae atau ae. ( genus + aceae )

Page 9: Klasifikasi M

Contoh: Ranunculaceae berasal dari Ranunculus.

Leguminoceae berasal dari Leguminose.

Nama ordo diberi akhiran ales. ( genus + ales )

Contoh: Filiales (paku-pakuan), Zingiberales (jahe-jahenan).

Nama divisio diberi akhiran phyta.

Contoh: Spermatophyta, Pteridophyta, Briophyta