jurnal harmoni

download jurnal harmoni

of 252

  • date post

    05-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    359
  • download

    1

Embed Size (px)

description

jurnal

Transcript of jurnal harmoni

Akreditasi LIPI Nomor : 268/AU1/P2MBI/05/2010

Volume IX, Nomor 34, April-Juni 2010

KEARIFAN LOKAL SEBAGAI LANDASAN PEMBANGUNAN BANGSANahdlatul Ulama and Muhammadiyah Two Of Indonesias Muslim Giants: Tension Within Intimacy (Harmony) Abd. Rahman Masud Kebijakan Pembangunan Agama di Indonesia dalam Lintasan Sejarah M. Ridwan Lubis Membedah Forum Kerukunan Umat Beragama: Studi tentang Konsistensi Organisasi dan Tugas FKUB Provinsi Sumatera Utara M. Yusuf Asry Membangun Relasi Islam Indonesia dan China Eko Aliroso Akar Konflik Etnik dan Agama di Thailand Selatan Endang Turmudzi Konservasi Budaya Lokal dalam Pembentukan Harmoni Sosial Marwan Shalahuddin Revitalisasi Kearifan Lokal dalam Pemberdayaan Masyarakat A. Syafii Mufid Harmoni Guru-Murid Tarekat Qadariyah Naqsyabandiyah Kudus M. Rikza Chamami

Nomor 34

Halaman 246

Jakarta April - Juni 2010

1 ISSN 1412-663X

HARMONIJurnal Multikultural & Multireligius

Jurnal Multikultural & Multireligius Vol. IX

No. 34

HARMONIJurnal Multikultural & MultireligiusVolume IX, Nomor 34, April-Juni 2010

2

PEMBINA: Kepala Badan Litbang & Diklat Kementerian Agama RI PENGARAH: Sekretaris Badan Litbang & Diklat Kementerian Agama RI PENANGGUNG JAWAB: Kepala Puslitbang Kehidupan Keagamaan MITRA BESTARI: Rusdi Muchtar (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Muhammad Hisyam (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Dwi Purwoko (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) M. Ridwan Lubis (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) PEMIMPIN REDAKSI: Haidlor Ali Ahmad SEKRETARIS REDAKSI: Reslawati DEWAN REDAKSI: Yusuf Asry (Litbang dan Diklat Kementerian Agama) Ahmad Syafii Mufid (Litbang dan Diklat Kementerian Agama) Nuhrison M. Nuh (Litbang dan Diklat Kementerian Agama) Bashori A. Hakim (Litbang dan Diklat Kementerian Agama) Mazmur Syaroni (Litbang dan Diklat Kementerian Agama) Titik Suwariyati (Litbang dan Diklat Kementerian Agama) Ibnu Hasan Muchtar (Litbang dan Diklat Kementerian Agama) M. Rikza Chamami (IAIN Walisongo Semarang) SIRKULASI & KEUANGAN: Nuryati & Fauziah SEKRETARIAT: Ahsanul Khalikin, Eko Aliroso & Achmad Rosidi REDAKSI & TATA USAHA: Gedung Bayt Al-Quran, Museum Istiqlal, Taman Mini Indonesia Indah Jakarta Telp. 021-87790189 / Fax. 021-87793540 Email: harmoni2007@gmail.com SETTING & LAYOUT Achmad Rosidi DESIGN COVER Munzir Fadli PENERBIT: Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang & Diklat Kementerian Agama RI

HARMONI

April - Juni 2010

HARMONIJurnal Multikultural & MultireligiusVolume IX, Nomor 34, April-Juni 2010

3 ISSN 1412-663X

DAFTAR ISIPengantar Redaksi Pemimpin Redaksi ___5 Gagasan Utama Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah, Two of Indonesias Muslim Giants: Tension Within Intimacy (Harmony) Abd. Rahman Masud ___9 Kebijakan Pembangunan Agama di Indonesia dalam Lintasan Sejarah M Ridwan Lubis ___21 Akar Konflik Etnik dan Agama di Thailand Selatan Endang Turmudzi ___41 Penelitian Konservasi Budaya Lokal dalam Pembentukan Harmoni Sosial Marwan Shalahuddin ___ 63 Revitalisasi Kearifan Lokal dalam Pemberdayaan Masyarakat A. Syafii Mufid ___ 83 Membedah Forum Kerukunan Umat Beragama: Studi tentang Konsistensi Organisasi dan Tugas FKUB Provinsi Sumatera Utara M Yusuf Asry ___93 Harmoni Guru-Murid Tarekat Qdiriyah Naqsyabandiyah Kudus M. Rikza Chamami ___ 109 Pandangan Pemimpin Ormas Islam terhadap Perolehan Suara Partai Politik Islam pada Pemilu Legislatif 2009 di DKI Jakarta Reslawati ___122

Jaringan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Wilayah 8 (Batu, Kabupaten/Kota Malang) Jawa TimurWakhid Sugiyarto ___ 143Jurnal Multikultural & Multireligius Vol. IX No. 34

4

DAFTAR ISI

Peranan FKUB Provinsi Sulawesi Tengah dan FKUB Kabupaten Poso Haidlor Ali Ahmad ___161

Studi Kasus tentang Penetapan Kuota Haji Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat Tahun 2008Zaenal Abidin ___ 179

Peran dan Hubungan LSM dan Pemerintah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama di IndonesiaAkmal Salim Ruhana ___ 197 Telaah Pustaka Membangun Relasi Islam Indonesia dan China Eko Aliroso ___218

HARMONI

April - Juni 2010

KEARIFAN LOKAL SEBAGAI EDAKSI PEMBANGUNAN BANGSA PENGANTAR R LANDASAN

5

Kearifan Lokal sebagai Landasan Pembangunan Bangsa

Pemimpin Redaksi

K

earifan lokal dapat didefinisikan sebagai suatu sintesa budaya yang diciptakan oleh aktor-aktor lokal melalui proses yang berulangulang, melalui internalisasi dan interpretasi ajaran agama dan budaya yang disosialisasikan dalam bentuk norma-norma dan dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat. Kearifan lokal merupakan tata aturan tak tertulis yang menjadi acuan masyarakat yang meliputi seluruh aspek kehidupan, berupa (1) tata aturan yang menyangkut hubungan antar sesama manusia, misalnya dalam interaksi sosial baik antar individu maupun kelompok, yang berkaitan dengan hirarkhi dalam kepemerintahan dan adat, aturan perkawinan antar klan, tata krama dalam kehidupan sehari-hari; (2) tata aturan menyangkut hubungan manusia dengan alam, binatang, tumbuh-tumbuhan yang lebih bertujuan pada upaya konservasi alam, seperti di Maluku ada sasi darat dan sasi laut; (3) tata aturan yang menyangkut hubungan manusia dengan yang gaib, misalnya Tuhan dan roh-roh gaib. Kearifan lokal dapat berupa adat istiadat, institusi, kata-kata bijak, pepatah (Jawa: parian, paribasan, bebasan dan saloka). Dilihat dari keasliannya, kearifan lokal bisa dalam bentuk aslinya maupun dalam bentuk reka cipta ulang (institutionalJurnal Multikultural & Multireligius Vol. IX No. 34

6

PEMIMPIN REDAKSI

development) yaitu memperbaharui institusi-institusi lama yang pernah berfungsi dengan baik dan dalam upaya membangun tradisi, yaitu membangun seperangkat institusi adat-istiadat yang pernah berfungsi dengan baik dalam memenuhi kebutuhan sosial-politik tertentu pada suatu masa tertentu, yang terus menerus direvisi dan direkacipta ulang sesuai dengan perubahan kebutuhan sosial-politik dalam masyarakat. Perubahan ini harus dilakukan oleh masyarakat lokal itu sendiri, dengan melibatkan unsur pemerintah dan unsur non-pemerintah, dengan kombinasi pendekatan top-down dan bottom-up (Amri Marzali, 2005). Sebenarnya, hampir semuakalau tidak bisa dikatakan seluruh masyarakat memiliki kearifan lokal yang bersumber dari kebudayaan masing-masing. Misalnya, etnis Jawahampir secara umummemiliki konsep untuk meredam konflik dengan jothaan atau neng-nengan [tidak bertegur sapa atau pantang berbicara dengan lawan konfliknya] (Franz Magnis-Suseno,1988); Etnis Melayu memiliki kebijakan lokal, kalau sudah makan bersama maka tidak ada perseteruan lagi; Etnis Dayak dengan rumah betang-nya; Etnis Minahasa dengan BKSAUA dan semboyan torang samua basodara; dan Etnis Ambon memiliki pela gandong. Namun ternyata tidak semua kearifan lokal itu fungsional sepanjang masa. Konflik berdarah yang menelan banyak korban di Ambon telah menjadi fakta sejarah bahwa kearifan lokal pela gandong sudah tidak fungsional lagi. Padahal dahulu pela gandong sangat dikagumi karena mampu mengatur kehidupan bersama, sekurang-kurangnya antara dua umat beragama (Muslim dan Kristiani). Dengan adanya institusi ini mereka dapat hidup harmonis, bahkan dapat berinteraksi dalam bentuk kerjasama dalam kehidupan sosial, kemasyarakat dan keagamaan. Namun kemudian di antara dua umat beragama itu terjadi konflik terbuka dengan intensitas yang tinggi dan berkepanjangan, sehingga banyak menelan korban jiwa dan harta benda. Banyak pakar yang berpendapat bahwa menghilangnya fungsi pela gandong karena intervensi Pemerintah, khususnya penerapan UU Nomor 5 tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa. Undang-undang yang sangat kental budaya Jawa Ini telah menghilangkan kekuasaan raja negeri (kepala desa tradisional). Padahal kelestarian adat lama, termasuk institusi pela gandong terletak di tangan raja negeri. Ciri-ciri lain dari undang-undang produk orde baru ini adalah mengharamkan perbedaan pendapat. Semua harus seragam sesuai dengan tuntutan dari pemerintah pusat.

HARMONI

April - Juni 2010

KEARIFAN LOKAL

SEBAGAI

LANDASAN PEMBANGUNAN BANGSA

7

Menurut Nicola Frost (2004) sebagaimana dikutip Amri Marzali, undangundang ini menghilangkan kemampuan untuk mengkooptasi perbedaan yang sebelumnya hidup di dalam masyarakat Maluku. Padahal inti dari institusi pela gandong adalah pengakuan atas perbedaan dalam kesetaraan dengan cara membangun kerjasama yang positif. Institusi kerjasama ini, khususnya antara negeri Kristen dengan negeri islam yang telah menjadi kebanggaan dan ciri-ciri khas Maluku (Amri Marzali, 2005). Tentu saja, intervensi Pemerintah tersebut bukan satu-satunya faktor penyebab tidak fungsionalnya institusi pela gandong. Kedatangan transmigran tiga etnis Buton, Bugis dan Makassar (BBM)ke Ambon disinyalir menimbulkan ketidakseimbangan perjanjian antra dua negeri Muslim dan negeri Kristen tersebut. Sementara konflik berdarah di Ambon tidak bisa diselesaikan dengan institusi yang pernah menjadi kebanggaan itu, sehingga mengundang inisiatif fihak pemerintah untuk menyelesaikan konflik dengan jalan perdamaian. Namun perdamaian itu pun diragukan dapat menyelesaikian konflik. Karena setelah terjadi perdamaian, kekerasan masih kembali meletus. Secara alami kebijakan-kebijakan lokal pun muncul untuk mengatasi konflik, karena bagaimanapun juga ada saling ketergantungan sesama anggota masyarakat. Mereka yang terlibat kekerasan tetap saling membutuhkan. Mereka berinteraksi untuk memenuhi kebutuhan mereka dengan cara saling membeli atau barter. Bahkan harta kekayaan yang tidak bisa bergerak atau tanah milik (property) pun dipertukarkan oleh mereka. Kebijakan lokal seperti itu telah mengkondisikan mereka bisa hidup rukun kembali atau paling tidak, dapat memperkecil kemungkinan terjadi kekerasan. Ini b