How to Be a Leader

download How to Be a Leader

of 23

  • date post

    17-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    13
  • download

    2

Embed Size (px)

description

How to Be a Leader

Transcript of How to Be a Leader

BAB IPENDAHULUAN

Ide untuk mengangkat kepemimpinan sebagai bahan kajian berawal dari keingintahuan manusia tentang pemimpin. Ada dua pendapat tentang seorang pemimpin. Pendapat pertama mempercayai bahwa pemimpin memiliki bakat untuk memimpin berdasarkan keturunan atau sifat herediternya yang disebut dengan Trait Approach. Pendapat yang lain mengatakan bahwa sifat kepemimpinan itu bisa dipelajari, tidak berbeda dengan mempelajari suatu ilmu. Pendapat ini meyakini bahwa pemimpin dapat dibentuk dan diajarkan yang disebut dengan Style Approach (Lensufiie, 2010).Muncul pertanyaan: Bagaimana Sang Pencipta mempersiapkan setiap manusia yang terlahir di dunia ini agar memiliki kemampuan menjadi seorang pemimpin. Jawaban dari pertanyaan itu adalah dengan menciptakan natur kepemimpinan pada tahun pertama kehidupan manusia. Berikut ini adalah tahapan dari pembentukan sifat kepemimpinan dalam awal kehidupan manusia (Lensufiie, 2010):

1. Tahap PertamaSeorang manusia terbentuk dari pembuahan sel telur oleh sperma. Sel sperma yang pertama kali berhasil mencapai sel telur dan membuahi sel telur yang sehat akan membuahkan embrio, cikal bakal seorang manusia. Sejak pembuahan, manusia memang sudah memiliki bakat untuk menjadi pemimpin atau menjadi yang pertama.

2. Tahap Kedua

Sel telur yang sudah dibuahi akan berubah menjadi zygote, yang tumbuh menjadi embrio dan terbentuk sempurna menjadi janin. Sebelum dilahirkan, bayi berada dalam tempat yang paling nyaman, aman, dan hangat di rahim sang ibu. Ia juga mendapatkan sari makanan yang terbaik melalui plasenta sampai pembentukan tubuhnya sempurna. Bayi menangis saat dikeluarkan dari zona nyamannya ke dunia asing, dingin, dan tidak steril. Melalui pengalaman pertama yang mengejutkan ini, manusia sudah dilatih untuk menjadi seorang pemimpin, yaitu tahan menghadapi perubahan yang sangat ekstrem sejak ia dilahirkan.3. Tahap Ketiga

Tahap selanjutnya dari latihan menjadi seorang pemimpin adalah pembentukan rasa percaya diri. Dimata manusia yang normal, bayi terlihat lucu, chubby, dan tidak berdaya. Bayi memiliki aroma yang khas dan wangi. Suatu mode survival yang sangat unik. Dengan penampilan yang menggemaskan itu, bayi belajar menerima kenyataan bahwa dirinya disukai oleh orang dan lingkungannya. Bayi menjadi percaya bahwa dirinya memiliki hak untuk hidup. Seorang pemimpin secara naluriah belajar untuk disukai oleh sesamanya, ia tahu bagaimana cara bersikap dan membawa dirinya, serta sadar bahwa dirinya berharga.

4. Tahap Terakhir

Ditahap terakhir, pada tahun pertama kehidupannya, bayi tumbuh dan bergerak. Bayi belajar mengangkat leher, tengkurap, merangkak, dan berjalan. Saat belajar berjalan, berkali-kali ia terjatuh, merasa sakit, namun bayi tetap belajar hingga bisa berjalan dengan baik. Seorang pemimpin telah dilatih untuk menyadari bahwa dalam mencapai keberhasilan yang diinginkan, mungkin ia akan gagal berkali-kali. Meski kegagalan itu menyakitkan, namun hal itu akan berakhir dengan keberhasilan yang menyenangkan apabila dilakukan dengan benar.Intinya, tahun pertama dalam kehidupan manusia, manusia sudah belajar untuk menjadi seorang pemimpin, yaitu: berhasil menjadi yang pertama, cepat menyesuaikan diri setelah meninggalkan comfort zone-nya, belajar percaya diri dan yakin bahwa dirinya berharga, serta berani membayar harga untuk merealisasikan nilai yang ia yakini atau inginkan. Kemudian Howard Gardner memperkenalkan 7 tipe kecerdasan manusia, yaitu (Gardner, Tanpa Tahun):1. Kecerdasan Linguistik. Merupakan kecerdasan berbahasa. Manusia dengan bakat ini mampu mengolah kata-kata dengan baik. Contohnya adalah jurnalis, ahli orasi, ahli pidato, dan penulis.

2. Kecerdasan Logika Matematis. Merupakan bakat yang dimiliki seseorang untuk mengolah angka, berhitung, serta memiliki logika matematika yang baik.

3. Kecerdasan Musikal. Merupakan bakat yang dimiliki seseorang yang berkaitan dengan musik, antara lain kemampuan mengingat nada dan memadukan bunyi-bunyian menjadi suatu kreasi musik yang harmonis.

4. Kecerdasan Kinestetik Tubuh. Merupakan bakat yang dimiliki seseorang yang berkaitan dengan kemampuan dalam menguasai tubuh. Misalnya gerak tari, olahraga, atau seni bela diri.

5. Kecerdasan Visual Spatial. Kecerdasan ini dimiliki oleh orang-orang yang bisa membayangkan bentuk ruang serta membuat harmonisasi di alam pikirannya dan mewujudkannya dalam bentuk nyata. Contoh adalah arsitek.6. Kecerdasan Interpersonal. Kemampuan yang dimiliki oleh orang untuk mempengaruhi orang lain, mendengarkan dengan empati, serta kemampuan meyakinkan dan menyemangati orang lain.

7. Kecerdasan Intrapersonal. Kemampuan manusia untuk merenungkan arti kehidupan, arti kebijaksanaan, serta kemampuan untuk membuat analisis sosial, dan berpikir filosofis. Orang dengan bakat ini akan mampu mendengarkan dan memberi nasehat pada orang lain.

Dalam perkembangannya, Gardner memperkenalkan lagi tiga tipe kecerdasan manusia, yaitu (Gardner, Tanpa Tahun):

1. Kecerdasan Naturalis. Kepekaan yang dimiliki oleh orang terhadap alam, tumbuhan, hewan, dan fenomena alam lain.

2. Kecerdasan Spiritual. Kemampuan manusia dalam menerjemahkan agama dan kepercayaannya ke dalam kehidupannya. Orang jenis ini memiliki kedekatan dengan Sang Pencipta, sesuai dengan iman dan kepercayaan yang dianutnya.

3. Kecerdasan Moral. Merupakan kemampuan manusia untuk menjalani kehidupan yang baik sesuai dengan moral yang diyakininya. Orang-orang yang memiliki kecerdasan moral memiliki kepekaan terhadap kultur dan budaya.Sehingga berdasarkan penjelasan tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa didalam diri manusia sudah tertanam bakat untuk memimpin. Kata memimpin tidak selalu dihubungkan dengan memimpin orang lain. Memimpin merupakan suatu hal yang juga harus dilakukan setiap orang, tanpa harus menjadi seorang pemimpin yang memiliki kedudukan tertentu dalam suatu organisasi. Seorang yang tidak dapat memimpin diri sendiri berarti orang tersebut tidak mampu menguasai diri sendiri. BAB IIHOW TO BE A LEADERSetiap manusia diberi peluang yang sama, waktu yang sama, dan akal yang sama. Ketika ada seorang pemimpin besar, maka sangat mungkin manusia bisa menjadi pemimpin besar. Minimal menjadi pemimpin besar untuk lingkup sederhana yang bisa digapai seperti pemimpin untuk diri sendiri dan pemimpin dalam keluarga. Berikut adalah beberapa hal yang dapat membantu pembentukan mental model terkait dengan memimpin diri sendiri (Nusanti, Tanpa Tahun):

a) Discipline your mind. Jika dibiarkan tidak terkontrol, pikiran dapat mengembara kemana-mana,memikirkan segala macam hal. Jika hal ini terjadi maka pikiran dapatmempengaruhi keberhasilan seseorang, karena yang bersangkutan menjadi tidak fokus dalam berpikir. Pikiran yang liar akan berdampak pada pembentukan mental model yang liar juga. b) Get rid of lustful thinking. Seorang yang membiarkan pikirannya memikirkan kegagalan, sementara pada saat yang sama ia sedang melakukan berbagai cara agar pekerjaan yang dikerjakan dapat berhasil sesuai dengan yang diinginkan, maka sebenarnya ia sedang mempertentangkan antara keberhasilan yang sedang diusahakan dengan kegagalan yang ada di pikirannya. Dengan kata lain, ia membuka pintu dan membiarkan musuh (dalam hal ini kegagalan) memasuki wilayah keberhasilan yang sedang diperjuangkan. Get rid of lustful thinking juga dimaksudkan supaya jangan mengotori pikiran dengan hal-hal yang kotor, negatif, tidak sopan, atau yang tidak bermanfaat, yang akan berpengaruh pada perkataan, dan pada akhirnya tindakan.

c) Think a correct thinking and take the trash out. Mencegah supaya pikiran jangan dibiarkan memikirkan hal-hal yang negatif atau mengarah pada kegagalan belum cukup. Setelah dicegah, hal selanjutnya adalah mengisi dan mengarahkan pikiran dengan hal-hal yang bermanfaat, sedangkan hal-hal yang kotor (trash) dibuang. Jika hal-hal yang kotor tidak dibuang, maka pikiran akan penuh dan sulit untuk ditambah dengan hal-hal baru yang sebenarnya bermanfaat untuk kemajuan. Ada beberapa hal yang menyebabkan orang tidak dapat memimpin diri sendiri atau tidak dapat mengendalikan diri sendiri atau pikirannya. Beberapa di antaranya adalah seperti yang akan dijelaskan oleh Meyer (1995) dalam bukunya Battlefield of the Mind di bawah ini.

a. Selalu mengatakan: i cant help it (saya tidak mampu); im just addicted to grumbling, faultfinding, and complaining (saya memiliki kebiasaan menggerutu, menyalahkan orang lain, dan mengeluh). b. Ketidaksabaran. Hal ini sering terjadi karena di dalam diri seseorang tertanam suatu mental model kuat yang mengatakan bahwa tidak selayaknya saya menunggu..(sesuatu atau seseorang), saya berhak untuk mendapatkan segala sesuatu yang saya inginkan dengan segera. Jika mental model semacam ini terus menerus tertanam, maka yang bersangkutan cenderung akan memberontak dan tidak dapat mengendalikan diri pada saat ia harus menunggu. c. My behavior may be wrong, but its not my fault. Tidak mau bertanggungjawab atas tindakannya dan mencoba untuk mengalihkan perhatian dengan menyalahkan orang lain. Mental model semacam ini cenderung membawa seseorang pada suatu kehidupan yang sulit untuk diatur (wildness living). d. Self-pity. Self-pity merupakan suatu sikap yang cenderung mengasihi diri sendiri. Hal ini terjadi karena didukung oleh pikiran yang memusatkan hanya pada diri sendiri dan bukan orang lain. Orang dengan sikap semacam ini sulit untuk diajak maju, karena ia hidup di masa lampau, dan terjebak dalam perangkap masa lalu yang melukainya.e. I dont deserve Gods blessings because I am not worthy. Pandangan negatif tentang diri sendiri akan mempengaruhi seseorang dalam mencoba menjalani kehidupan yang lebih baik. Hal ini dikarenakan setiap kali ada anugerah yang ditawarkan kepada orang tersebut, ia selalu merasa tidak layak. Akibat memiliki mental model yang selalu merasa tidak layak seperti di atas, ia kehilangan anugerah yang