Ho Nila Askeb 2 Bu Nasih

27
2.1 Keadaan normal dan keabnormalan dari partograf Untuk menurunkan angka kematian ibu dari 450 per 100.000 kelahiran hidup, maka kita harus mengembangkan suatu sstem atau metoda yang tepat. Sistem ini diharapkan dapat memantau keadaan ibu maupun janin yang dikandungnya selama dalam persalinan. Dengan memantau keadaan ibu dan janin tersebut dari waktu ke waktu, maka kita daat melahirkan secara normal, atau harus segera dirujuk ke tingkat pelayanan yang lebih lengkap, serta kapan persalinannya harus diakhiri. Jadi dengan metoda yang baik dapat diketahui lebih awal adanya persalinan yang abnormal dan dapat dicegah terjadinya persalinan lama. Pengembangan metoda baru ini, diharapkan dapat menurunkan resiko erdarahan postpartum dan sepsis, mecagah persalinan macet, pecah rahim, dan infeksi bayi baru lahir. Dengan dasar inilah WHO menciptakan sistem “PARTOGRAF” yang telah digunakan oleh banyak negara karena harganya tidak mahal, dan dapat dipakai pada tingkat pelayanan yang lebih rendah. Dapat dipakai di puskesmas, ataupun oleh petugas – petugas seperti bidan yang bertugas di daerah. Dengan adanya pertograf ini, maka kalau diperlukan dapat dengan tepat merujuk pasien ke tingkat pelayanan yang lebih tinggi. (Mochtar, Rustam, 1998.Sinopsis Ilmu Obstetri jilid 1.Jakarta : Buku Kedokteran ECG) Partograf adalah alat bantu untuk memantau kemajuan kala satu persalinn dan informasi untuk membuat keputusan klik. Tujuan untama dari penggunaan partograf adalah untuk: Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai pembukaan serviks melalui pemeriksaan dalam. Mendeteksi apakah proses persalna berjalan secara normal. Dengan emikan juga dapat mendeteksi secara dini keungkinan terjadinya partus lama. Data pelengkap yang terkait dengan pemantauan kondisi ibu, kondisi bayi, grafik kemajuan proses persalinan, bahan dan medikamentosa yang diberikan, pemeriksaan laboratorium, membuat keputusan klinik dan asuhan atau tindakan yang diberikan dimana semua itu di catatkan secra rinci pada status atau rekam medik bu bersaln dan bayi baru lahir. Partograf harus digunakan: Untuk semua bu dalam fase aktif kala satu persalinan merupakan elemen penting dari asuhan persalinan. Partograf harus digunakan untuk semua persalinan, baik normal maupun patologis. Partograf sangat membantu penolong persalinan dalam memantau, mengevaluasi dan membuat keputusan klinik, baik persalinan dengan penyulit maupun yang tidak disertai dengan penyulit. Selama persalinan dan kelahiran bayi disemua tempat (rumah, puskesmas, klinik, bidan swasta, rumah sakit dll) Secara rutin dapat memastikan semua penolong persalinan yang memberikan asuhan persalinan keada ibu dan proses kelahiran bayinya (Spesialis Obstetri, Bidan, Dokter Umum, Residen dan Mahasiswa kodekteran) Penggunaan partograf dapat memastikan bahwa ibu dan bayinya mendapatkan asuhan yang aman, adekuat, dan tepat waktu serta membantu mecegah

description

askeb 2

Transcript of Ho Nila Askeb 2 Bu Nasih

  2.1            Keadaan normal dan keabnormalan dari partograf

Untuk menurunkan angka kematian ibu dari 450 per 100.000 kelahiran hidup,

maka kita harus mengembangkan suatu sstem atau metoda yang tepat. Sistem ini

diharapkan dapat memantau keadaan ibu maupun janin yang dikandungnya selama

dalam persalinan. Dengan memantau keadaan ibu dan janin tersebut dari waktu ke

waktu, maka kita daat melahirkan secara normal, atau harus segera dirujuk ke tingkat

pelayanan yang lebih lengkap, serta kapan persalinannya harus diakhiri. Jadi dengan

metoda yang baik dapat diketahui lebih awal adanya persalinan yang abnormal dan

dapat dicegah terjadinya persalinan lama. Pengembangan metoda baru ini, diharapkan

dapat menurunkan resiko erdarahan postpartum dan sepsis, mecagah persalinan macet,

pecah rahim, dan infeksi bayi baru lahir.

Dengan dasar inilah WHO menciptakan sistem “PARTOGRAF” yang telah

digunakan oleh banyak negara karena harganya tidak mahal, dan dapat dipakai pada

tingkat pelayanan yang lebih rendah. Dapat dipakai di puskesmas, ataupun oleh petugas

– petugas seperti bidan yang bertugas di daerah. Dengan adanya pertograf ini, maka

kalau diperlukan dapat dengan tepat merujuk pasien ke tingkat pelayanan yang lebih

tinggi. (Mochtar, Rustam, 1998.Sinopsis Ilmu Obstetri jilid 1.Jakarta : Buku Kedokteran

ECG)

Partograf adalah alat bantu untuk memantau kemajuan kala satu persalinn dan

informasi untuk membuat keputusan klik. Tujuan untama dari penggunaan partograf

adalah untuk:

         Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai pembukaan serviks

melalui pemeriksaan dalam.

         Mendeteksi apakah proses persalna berjalan secara normal. Dengan emikan juga dapat

mendeteksi secara dini keungkinan terjadinya partus lama.

         Data pelengkap yang terkait dengan pemantauan kondisi ibu, kondisi bayi, grafik

kemajuan proses persalinan, bahan dan medikamentosa yang diberikan, pemeriksaan

laboratorium, membuat keputusan klinik dan asuhan atau tindakan yang diberikan

dimana semua itu di catatkan secra rinci pada status atau rekam medik bu bersaln dan

bayi baru lahir.

Partograf harus digunakan:

  Untuk semua bu dalam fase aktif kala satu persalinan merupakan elemen penting dari

asuhan persalinan. Partograf harus digunakan untuk semua persalinan, baik normal

maupun patologis. Partograf sangat membantu penolong persalinan dalam memantau,

mengevaluasi dan membuat keputusan klinik, baik persalinan dengan penyulit maupun

yang tidak disertai dengan penyulit.

  Selama persalinan dan kelahiran bayi disemua tempat (rumah, puskesmas, klinik, bidan

swasta, rumah sakit dll)

  Secara rutin dapat memastikan semua penolong persalinan yang memberikan asuhan

persalinan keada ibu dan proses kelahiran bayinya (Spesialis Obstetri, Bidan, Dokter

Umum, Residen dan Mahasiswa kodekteran)

Penggunaan partograf dapat memastikan bahwa ibu dan bayinya mendapatkan asuhan

yang aman, adekuat, dan tepat waktu serta membantu mecegah terjadinya penyulit

yang dapat mengancam keselamatan jiwa mereka.(Jaringan Nasional Pelatihan Klinik –

Kesehatan Reproduksi. 2008. Asuhan Persalinan Normal. Jakarta : Departemen

Kesehatan Republik Indonesia  )

Hal – hal yang diamati pada pencatatan kemajuan persalinan atau partograf adalah:

A.    Kemajuan Persalinano   Pembukaan serviks

o   Penurunan bagian terdepan, dalam hal ini kepala

o   His (kontraksi uterus)

B.     Keadaan Janino   Denyut Jantung Janin

o   Warnah dan jumlah air ketuban

o   Moulage kepala janin

C.     Keadaan Ibuo   Nadi, tekanan darah dan suhu

o   Urin : volume, kadar protein dan aseton

o   Obat- obatan , dan cairan yang diberikan

o   Pemberian oksitosin

Di jelaskan lebih rinci sebagai berikut:

A.    Kemajuan Persalinano   Pembukaan Serviks

1.      Pada grafik partograf kemajuan persalinan pada garis horizontal atau sumbu Y dibagi

menjadi 24 kotak. Setiap kotak mewakili 1 jam jadi semuanya untuk 24 jam; 8 jam untuk

fase laten. Pada garis vertikal atau sumbu X, tercatat 1 – 10 cm pembukaan (dilatasi)

serviks, dan 0 – 5 cm untuk penurunan kepala; untuk tiap 1 kotak mewakili pembukaan 1

cm.

2.      Fase laten (kurun lambat pembukaan) berlangsung dari pembukaan 0 sampai 3 cm

disertai penipisan bertahap dari serviks (effacement), sedangkan fase aktif (kurun cepat

pembukaan) dari pembukaan 3 sampai 10 cm (pembukaan lengkap)

3.      Besarnya pembukaan dalam cm dicatat kedalam partograf dengan tanda silang “X”

4.      Pemeriksaan dalam dilakukan setiap 4 jam kecuali bila ada indikasi.

5.      Ada fase aktif kecepatan pembukaan sekurang – kurangnya 1 cm/jam

6.      Pada persalina yang berlangsung normal pebukaan idak boleh berada i sebalah kanan

garis waspada

7.      Bila pada pemeriksaan dalam di dapati pembukaan serviks berada pada fase aktif (≥

3cm), besarnya pembukaan langsung dicatat pada garis waspada

8.      Ketika persalinan beralih dari fase laten ke fase aktif, catatan pembukaan langsung

dipindahkan dari daerah fase laten ke garis waspada, perama garis lurus dari

pembukaan masuk (fase laten), kemudian ke besarnya pembukaan pada pemeriksaan 4

jam berikutnya (fase aktif), kemudian dipindahkan ke garis waspada melalui garis garis

yang terputus – putus (garis pindah). Garis putus – putus bukan merupakan bagian

proses persalinan.

9.      Kotak mendatar (4 jam) disebelah kanan dari garis waspada pada partograf terdapat

“Garis Tindakan”. Bila grafik pembukaan melewati garis tindakan, maka ibu harus

diperiksa dengan cerma apa yang menyebabkan terhambatnya persalinan itu dan

merencanakan tindakan yang tepat untuk mengatasinya.

o   Penurunan Kepala

Untuk menilai kemajuan ersalinan kita menilai penurunan kepala terhadap rongga

panggul sebagai jalan lahi, biasanya pada persalinan yang normal pembukaan serviks

akan diikuti dengan pnurunan keoala.

Untuk mempermudah penilaian terhadapturunnya kepala maka valuasi penilaian

dilakukan setiap 4 jam melalui pemeriksaan luar dengan meode perlimaan diatas

simphisis, yaitu dengan memakai 5 jari, sebelum dilakuka pemeriksaan dalam. Bila

kepada masih berada diatas PAP maka masih dapat diraba dengan 5 jari (rapat) dicatat

dengan 5/5, pada angka 5 digaris vertikal sumbu X pada partograf yang ditandai dengan

“O”.

Selanjutnya pada kepala yang sudah turun maka akan teraba sebagian kepala di

atas simphisi (PAP)oleh beberapa jari 4/5, 3/5, 2/5, yang pada partograf turunnya kepala

ditandai dengan “O” dan dihubungkan dengan garis lurus.o   His

1.      Pada persalinan yang berlangsung normal maka his akan terasa makin lama makin kuat,

dan frekuensinya bertambah. Pengamatan his dilakukan tiap 1 jam dalam fase laten dan

tiap ½ jam pada fase aktif.

2.      Frekuensi his diamati dalam 10 menit lama his dihitung dalam detik dengan cara

mempalpasi perut. Pada partograf jumlah his digambarkan dengan kotak  kotak yang

terdiri dari 5 ktak sesuai dengan julah his dalam 10 menit

3.      Lama his (duration) digambarkan pada partograf berupa arsiran di dalam kotak:

  (titik - titik) 20 menit

  (garis - garis) 20 – 40 detik

  (kotak dihitamkan) 40 detik

B.     Keadaan Janino   Denyut Jantung Janin

1.      Denyut jantung janin dapat diperiksa setiap setengah jam. Saat yang tepat untuk

menilai denyut jantung segera setelah his terlalu kuat berlalu selama ± 1 menit, dan ibu

dalam posisi miring.

2.      Yang diamati adalah frekuensi dalam satu menit dan keterauran denyut jantung janin.

Pada parograf denyut jantung janin di catat dibagian atas, ada penebalan garis pada

angka 12 dan 160 yang menandakan bats normal denyut jantung janin

3.      Kalau diamatiada denyut jantung janin abnormal, dengarkanlah 15 menit, selama 1

menit segera setelah his hilang

4.      Bila dalam 3 kali pengamatan tetap abnormal maka harus diambil tindakan yang dapat

berupa:

  Rehidrasi

  Pemberian oksigen

  Tidur mengarah ke kiri

  Pengamatan yang tepat untuk menyingkirkan tali pusat menumbung lilitan tali pusat.

(Mochtar, Rustam, 1998.Sinopsis Ilmu Obstetri jilid 1.Jakarta : Buku Kedokteran ECG)o   Warna dan selaput ketuban

Nilai air kondisi ketuban setiap kali melakukan periksa dalam dan nila warna air

ketuban jika selaput ketuban pecah. Catat temuan – temuan dalam kotak yang sesuai

dibawah lajur DJJ. Gunakan lambang – lambang berikut ini :

  U                        : selaput ketuban masih utuh (belum pecah)

  J              : selaput ketuban sudah pecah dan air ketuban jernih

  M            : selaput ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur mekonium

  D                        :selapu ketuban sudah pecah dan air ketuban bercambur darah

  K                        : selaput ketban sudah pecah tapi air ketuban tidak mengalir lagi

(“kering”)

Mekonium dalam cairan ketuban tidak selalu menunjukkan gawat janin. Jika terdapat

mekonium, pantau DJJ dengan seksama untuk mengenali tanda - tanda gawat janin

selama proses persalinan. Jika tidak ada tanda -  tanda gawat janin (denyut jantung janin

< 100 atau > 180 kali permenit) maka ibu harus segera dirujuk

Tetapi jika terdapat mekonium kental, segera rujuk ibu ke tempat yang memilik

kemampuan penatalaksanaan gawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir.o   Moulage kepala janin

Penyusupan adalah indikator penting tentang seberapa jauh kepala bayi daat

menyesuaikan diri terhadap bagian keras (tulang) panggul ibu. Semakin besar derajat

penyusupan atau tumpang tindih antar tulang kepala semakin menunjukkan resiko

disproporsi kepala – panggul (CPD). Keidakmampuan untuk berakomodasi atau

disproporsi ditunjukkan melalui derajat penyusupa atau tumpang tindih (molase) yang

berat sehingga tulang kepala yang saling menyusup, sulit untuk dipisahkan. Apabila ada

dugaan disproporsi kepala – panggul maka penting untuk tetap memantau kondisi janin

serta kemajuan persalinan. Lakukan tindakan pertologan awal yang sesuai dan rujuk ibu

dengan dugaan proporsi kepala – panggul (CPD) ke fasilitas kesehatan rujukan.

Setiap kali melakukan periksa dalam, nilai penyusupan antar tulang (molase) kepala

janin. Catat temuan yang ada di kotak yang sesuai di bawah lajur air ketuban. Gunakan

lambang – lambang berikut ini:

0          :tulang-tulang kepala janin terpisah, sutura dengan mudah dapat di palpasi

1          :tulang-tulang kepala janin hanya saling bersentuhan

2          :tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih tetapi masih dapat dipisahkan

3          :tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih dan tidak dapat dipisahkan (Jaringan

Nasional Pelatihan Klinik – Kesehatan Reproduksi. 2008. Asuhan Persalinan Normal.

Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia)

C.     Keadaan Ibuo   Nadi, tekanan darah dan suhu

1.      Nadi : setiap 1 jam di catat dalam kolom nadi

2.      Tensi : setiap 4 jam dicatat dalam kolom tekanan darah

3.      Suhu : setiap 4 jam dicatat dalam kolom suhu.o   Pemeriksaan urin

1.      Volume : jumlah urin

2.      Protein; Ewit

3.      Asetono   Obat – obatan dan cairan yang dibrikan selama proses persalinan

o   Pemberian oksitosin; tercatat pada kolom khusus dalam partograf dibagian bawah.()

Jika ditemui gejala dan tanda peyulit, penilaian kondisi ibu dan bayi harus lebih sering

dilakukan. Lakukan tindakan yang sesuai apabila pada diagnosis disebutkan adanya

penyulit dalam persalinan. (Mochtar, Rustam, 1998.Sinopsis Ilmu Obstetri jilid 1.Jakarta :

Buku Kedokteran ECG)

PETUNJUK PENGISIAN PARTOGRAF

Untuk kepentingan pencatatan dalam sistem partograf mengenai kemajuan persalinan,

keadaan janin, dan keadaan ibu, yang perlu diperhatikan adalah:

1)      Pencatatan ke dalam partograf dimulai sewaktu ibu dalam keadaan inpartu ( masuk ke

dalam proses persalinan).

2)      Fase laten di mulai dari pembukaan <3cm dengan disertai pendataran serviks secara

berangsur – angsur dan lamanya tidak lebih dari 8 jam.

3)      Fase aktif mulai dari pembukaan 3 cm sampai dengan pembukaan 10 cm (pembukaan

lengkap) dengan kecepatan raa – rata 1 cm/jam.

4)      Garis waspada garis lurus mulai dari pembukaan 3 cm sampai 10 cm

5)      Garis tindakan / action line yang digambarkan 4 jam dari garis waspada dan sejajar

dengan garis waspada tersebut.

6)      Kemajuan persalinan dikatakan normal (tidak memerluan tindakan) bla pembukaan

serviks selalu berada pada atau di sebelah kiri garis waspada.

7)      Bila pasien masuk dalam fase aktif langsung, maka pembukaan langsung dicatat pda

garis waspada.

8)      Bila ersalinan maju dari fase laten ke fase aktif, maka pembukaan dipindahkan atau di

transfer (berua garis terputus – putus yang melengkung) dari fase laten ke garis

waspada.

9)      Pengisian partograf dimulai saat inpartu

                                   I.            Fase laten < 3 cm

His (+) : frekuensi 2 kali dalam 10 menit lamanya < 20 detik

                                II.            Fase aktif < 3cm

His (+) : frekuensi minimal 1 kali dalam 10 meit, lamanya 20 detik

                             III.            Induksi persalinan

  Saat pemecahan ketuban + oksitosin.

  Bila induksi hanya dengan oksitsin, maka artograf dimulai saat inpartu, ketuban pecah.

                             IV.            Ketuban pecah dini (KPD)

  Oksitosin dimulai

  Timbul tanda inpartu

PENANGANAN

  Penanganan pada fase laten dan fase aktif normal

1.      Jangan lakukan augmentasi (akselerasi) dan terapi suportif, kecuali bila ada indikasi

2.      Pada fase laten, jangan lakukan amniotomi, tetapi pada fase aktif, lakukan setia saat.

  Penanganan persalinan antara garis waspada dan garis bertindak

1.      Kemajuan persalinan bergeser ke kanan dari garis waspada

Kalau tidak ada fasilitas yang memadai untuk menangani penyulit kebidanan, maka ibu

harus segera dirujuk ke rumah sakit, kecuali kalau ibu hampir melahirkan bayinya.

2.      Jangan lakukan augmentasi dan terapi suportif kecuali ada indikasi

3.      Amniotomi dilakuka pada saat pemeriksaan dalam

  Penanganan persalinan pada garis atau di luar garis tindakan

1.      Keputusan harus segera diambil untuk mengakhiri persalinan.

2.      Evaluasi keadaan janin: denyut janung janin, keadaan air ketuban dan moulage kepala

3.      Evaluasi keadaan ibu : nadi, tekanan darah, suhu, serta kandungan volume, protein, dan

aseton dalam urin.

4.      Berikan terapi suporti, berupa infus cairan, dan kosongkan kandung kemih. Kehamilan

diakhiri dengan operasi Caesarea pada keadaan gawat janin, DKP, atau ada

kontraindikasi dengan oksitosin.

5.      Berikan oksitosin bila tidak ada kontraindikasi.

6.      Penatalaksanaan konservatif hanya berupa terapi suportif

7.      Selanjutnya observasilah kemajuan persalinan melalui pembukaan serviks 3 jam

kemudian, lalu 2 jam terakhir (± 7 jam). Bila tidak terdapat kemajuan dari salah satu dari

ke 3 pemeriksaan diatas persalinan harus segera diakhiri (biasanya dengan operasi

Caesarea).

8.      Bila dilakukan augmentasi persalinan, maka ketuban dipecahkan sebelum infus oksitosin

dimulai.

  Penanganan persalinan pada perpanjangan fase laten (> 8 jam)

1.      Evaluasi keadaan medis secara utuh.

2.      Bila belum dalam proses persalinan, maka partograf dibatalkan.

3.      Terminasi persalinan dengan seksio Caesarea dilakukan pada gawat janin atau DKP.

4.      Aminiotomi + ksitosin

5.      Lakukan penilaia:

         Periksa dalam tiap 4 jam sampai 12 jam

         Kalau dalam 8 jam belum masuk fase aktif lakukan seksio Caesarea

         Bila fase aktif tercapai selama dalam 8 jam tetapi kecepatan pembukaan kurang dari 1

cm, maka terminasi persalinan dengan seksio Caesarea. (Mochtar, Rustam,

1998.Sinopsis Ilmu Obstetri jilid 1.Jakarta : Buku Kedokteran ECG)

TEMUAN – TEMUAN NORMAL DAN ABNORMAL DARI PARTOGRAF

Denyut Jantung Janin

Normal                 : 120 – 160 x/menit

Abnormal  : < 120 x /menit atau > 160 x /menit

                               (curigai adanya gawat janin)

Penanganan :

1.      Bila sedang dalam infus oksitosi, segera hentikan.

2.      Ibu berbaring miring ke kiri.

3.      Cari penyebab DJJ yang abnormal, misalnya ibu demam/efek obat tertentu. Bila

penyebab diketahui, atasi permasalahannya.

4.      Lakukan PD untuk mengetahui hal-hal berikut :

         Kemajuan persalinan

         Adakah kompresi tali pusat

         Air ketuban sedikt

5.      Bila terdapat oligohidramnion akibat ketuban pecah maka kompresi tali pusat diatasi

dengan amnio infuse

6.      Bila DJJ tetap abnormal, segera akhiri persalinan dengan cara yang sesuai syarat

tindakan SC

7.      Pada kala II sebanyak 30-40% dapat terjadi bradikardi akibat kompresi, bila persalinan

lancar tidak perlu tindakan.       

Air Ketuban

Normal :

         U  : selaput utuh

         J  : selaput pecah, air ketuban jernih

Abnormal :

           M  : Air ketuban bercampur mekonium

           D  : Air ketuban bercampur darah

           K  : Tidak ada cairan ketuban/kering

Penanganan :

1.      Jangan biarkan bayi kedinginan, bersihkan mulut dan jalan nafas.

2.      Lakukan resusitasi (respirasi artifisialis) dengan alat yang dimasukkan ke dalam mulut

untuk mengalirkan O2 dengan tekanan 12 mmHg. Dapat juga dilakukan mounth to

mounth respiration, heart massae (masase jantung) atau menekan dan melepaskan dada

bayi. Pemberian O2 harus hati-hati, terutama pada bayi premature bisa menyebabkan

lenticlar fibrosis oleh pemberian O2 dalam konsentrasi lebih dari 35% dan lebih dari 24

jam sehingga bayi menjadi tua.

3.      Gejala perdarahan otak biasanya timbul pada beberapa hari post partum, jadi kepala

dapat di rendahkan  supaya lendir yang menyumbat pernafasan dapat keluar.

4.      Pemberian coramine, lobelin, sekarang tidak dilakukan lagi.

5.      Kalau ada dugaan perdarahan otak diberikan injeksi vitamin K 1-2 mg

6.      Berikan tranfusi darah via tali pusat atau pemberian glukosa.

Perubahan Bentuk Kepala

Normal :

         0  : Sutura terpisah

         1  : Pertemuan 2 tulang tengkorak yang tepat/bersesuaian

         2  : Sutura tumpang tindih tetapi dapat diperbaiki.

Abnormal :

3  : Sutura tumpang tindih dan tidak dapat diperbaiki. Evaluasi kemajuan persalinan dan

posisi/presentasi. Presentasi selain oksiput anterior dengan flexi sempurna digolongkan

dalam malpersentasi.

Penurunan Kepala

Normal :

Bagian terbesar kepala sudah masuk panggul dengan adanya kontraksi kepala semakin

turun hingga dasar panggul

Abnormal :

         Bagian terbesar kepala tidak masuk panggul.

         Dengan adanya kontraksi kepala tidak mengalami penurunan, kepala mengalami

kemajuan yang kurang baik, pada persalinan dapat menyebabkan persalinan lama.

Penanganan :

Perubahan bentuk kepala dengan molase tingkat 3 dan kepala tidak turun walaupun ada

his

Pembukaan Mulut Rahim/Servik

Normal :

             Kecepatan pembukaan servik paling sedikit 1 cm/jam selama persalinan

             Fase aktif berlangsung disebelah kiri garis waspada.

             Servik dipenuhi oleh bagian terbawah dari janin

Abnormal:

             Kecepatan pembukaan servik lebih lambat

             Fase aktif berlangsung disebelah garis waspada

  Penanganan :

Fase aktif > 8 jam :

a.       Bila tidak ada perubahan penipisan dan pembukaan servik serta tak didapatkan tanda

gawat janin, kaji ulang diagnosisnya. Kemungkinan ibu belum dalam keadaan inpartu.

b.      Bila didapatkan perubahan dalam penipisan dan pembukaan servik, lakukan drip

oxsitosin dengan 5 unit dalam 500 cc dextrose/NaCl mulai dengan 8 tetes/menit, setiap

30 menit ditambah 4 tetes sampai his adekuat (max. 40 tetes/menit) atau diberikan

preparat prostaglandin. Lakukan penilaianulang setiap 4 jam. Bila ibu tidak masuk fase

aktif setelah dilakukan oxsitosin lakukan SC.

W a k t u

Normal :

         Fase aktif tidak boleh > 8 jam

         Persalinan tidak berangsung > 12 jam tanpa kelahiran bayi

Abnormal :

         Fase aktif > 8 jam

         Persalinan telah berlangsung > 12 jam tanpa kelahiran bayi

Penanganan :

Persalinan yang telah berlangsung > 12 jam :

a.       Upaya mengedan ibu menambah resiko pada bayi karena mengurangi jumlah O2 ke

plasenta, maka dari itu sebaiknya dianjurkan mengedan secara spontan. Mengedan dan

menahan nafas yang terlalu lama tidak dianjurkan. Perhatikan DJJ. Bradikardi yang lama

mungkin terjadi akibat lilitan tali pusat, dalam hal ini lakukan tindakan extraksi vacuum /

forceps bila syarat terpenuhi.

b.      Bila mal persentasi dan tanda obstruksi bisa di singkirkan berikan oxsitosin drip. Bila

pemberian oxitosin drip tidak ada kemajuan dalam 1 jam lahirkan dengan bantuan

vacum / forceps bila persyaratan dipenuhi lahirkan dengan SC bila persyaratan vacuum

dan forceps tidak dipenuhi.

Kontraksi

Normal :

Kontraksi teratur yang progresif dan peningkatan frekuensi dan durasi.

Abnormal :

Kontraksi yang tidak teratur dan tidak sering setelah fase laten

Penanganan :

1.      Kontraksi uterus tidak adekuat (inersia Uteri)

2.      Bila kontraksi uterus tidak adekuat dan disproporsi/obstruksi bias disingkirkan, penyebab

paling banyak partus lama adalah kontraksi uters yang tidak adekuat.

             Lakukan induksi dengan oxsitosin 5 IU dalam 500 cc Dextrose (NaCl) / prostaglandin.

             Evaluasi ulang dengan pemeriksaan vaginal setiap jam :

3.      Bila garis tindakan dilewati (memotong) lakukan SC.

4.      Bila ada kemajuan evaluasi setiap 2 jam.

Tekanan Darah

Normal :

         Sistolik     : 110-140 mmHg

         Diastolik   : 60-80 mmHg

Abnormal :

         Sistolik : < 110 atau >140 mmHg

         Diastolik          : < 60 atau >90 mmHg

Urin

Normal : 300 -350 mmHg, tidak ada proteinuri dan aseton

Abnormal : Terdapat aseton dan proteinuri

Penanganan :

Jika tekanan diastolik > 110 mmHg, berikan antihipertensi, sampai tekanan diastolik

diantara 90-110 mmHg.

Pasang infuse RL dengan jarum besar (16 gauge/>)

Ukur keseimbangan cairan, jangan sampai terjadi overload

Kateterisasi urin untuk pengeluaran volume dan proteiniru.

N a d i 

Normal : 50 x / menit – 100 x / menit

Abnormal : Denyut nadi ibu meningkat, mungkin dalam keadaan dehidrasi.

 Penanganan : Beri minum yang cukup, evaluasi kondisi patologis lain.

S u h u 

Normal : 36 – 37,5 oC

Abnormal :

         37,5 oC (infeksi)

         < 36 oC    (dehidrasi)

Penanganan : Lakukan penanganan infeksi. (biechan.wordpress.com/kebidanan-

patologis/)

  2.2            Bahu macet

2.2.1        Pengertian

Bahu macet adalah suatu keadaan diperlukan tambahan manuver obstetrik oleh karena

dengan tarikan biasa kearah belakang pada kepala bayi tidak berhasil untuk melahirkan

bayi. Pada persalinan dengan presentasi kepala, setelah keala lahir bahu tidak dapat

dilahirkan dengan cara pertolongan biasa dan tidak didapatkan sebab lain dari kesulitan

tersebut. Insidensi distnsia bahu sebesar 0,2 – 0,3% dari seluruh persalinan vaginal

presentasi kepala. Apbila distonsia bahu didefinisikan sebagai jarak waktu antara

lahirnya kepala dengn lahirnya badan bayi lebih dari 60 detik, maka insidensinya

menjadi 11%.

Pada mekanisme persalinan normal, ketika kepala dilahirkan, maka bahu memasuki

panggul dalam posisi oblik. Bahu posterior memasuki panggul lebih dahulu sebelum

bahu anterior. Ketika kepala melakukan putaran paksi luar, bahu posterior berada di

cekungan tulang sakrum atau disekitar spina iskhiadika, dan memberikan ruang yang

cukup bagi bahu anterior untuk memasuki anggul melalui belakang tulang pubis atau

berotasi dari foramen obturator. Apabila bahu berada dalam psisi anter – posteriorketika

hendak memasuki pintu atas panggul, maka bahu posterior dapattertahan promontorium

dan bahu anterir tertahan tulang pubis. Dalam keadaan demikian kepala sudah

dilahirkanakan idak dapat melakukan putar paksi luar, dan tertahan akibat adanya

tarikan yang terjadi antara bahu posterior dengan kepala (disebut dengan turtle sign).

(Parwirohardjo, Sarwono, 2009. Ilmu Kebidanan edisi keempat. Jakarta : PT Bina Pustaka)

Distosia ialah kesulitan dalam jalannya persalinan atau dapat didefenisikan Distosia

ialah persalinan atau abnormal yang timbul akibat berbagai kondisi yang berhubungan

dengan lima faktor persalinan, yaitu :

1.      Persalinan disfungsional akibat kontraksi uterus yang efektif atau akibat upaya

mengedan ibu (kekuatan power).

2.      Perubahan struktur pelvis (jalan lahir / passage)

3.      Sebab-sebab pada janin, meliputi kelainan presentasi atau kelainan posisi, bayi besar

dan jumlah bayi (penumpang/passenger).

4.      Posisi ibu selama persalinan dan melahirkan

5.      Respons psikologi ibu terhadap persalinan yang berhubungan dengan pengalaman,

budaya dan warisannya sistem pendukung.(http://bahankuliahkesehatan.com/)

2.2.2        Etiologi

Faktor-faktor penyebab dari Distosia bahu bermacam-macam antara lain : kehamilan

postern, paritas wanita hamil dengan diabetes melitus dan hubungan antara ibu hamil

yang makannya banyak bertambah besarnya janin masih diragukan. 

Adapun penyebab lain dari Distosia bahu, yaitu :

1.      Kehamilan postern

2.      Wanita-wanita yang habitus indolen

3.      Anak-anak berikutnya selalu lebih besar dari anak terdahulu

4.      Orang tua yang besar

5.      Eritroblastosis

6.      Diabeter Melitus (http://anaoryzasativa.kehamilan-gemeli.html.)

2.2.3        Diagnosis

Distosia bahu dapat dikenali karena adanya :

         Kepala bayi sudah lahir, tetapi bahu tertahan dan tidak dapat dilahirkan.

         Kepala bayi sudah lahir, tetapi tetap menekan vulva dengan kencang.

         Dagu tertarik dan menekan perineum.

         Traksi pada kepala tidak berhasil melahirkan bahu yang tetap tertahan kranial simphsis

pubis.

Begitu distosia bahu dikenali, maka prosdur tindakan untuk menlongnya harus

segera dilakukan. (Parwirohardjo, Sarwono, 2009. Ilmu Kebidanan edisi keempat.

Jakarta : PT Bina Pustaka)

2.2.4        Prognosis

Pada panggul normal janin dengan berat badan kurang dari 4500 gram pada

umumnya tidak menimbulkan kesukaran persalinan. Kesukaran dapat terjadi karena

kepala yang besar atau kepala yang lebih keras (pada post maturitas) tidak dapat

memasuki pintu atas panggul atau karena bahu yang lebar sulit melalui rongga panggul.

Bahu yang lebar selain dijumpai pada janin besar juga dijumpai padaansefalus.

Apabila kepala anak sudah lahir tetapi kelahiran bagian-bagian lain macet karena

lebarnya bahu, janin dapat meninggal akibat asfiksia. Menarik kepalakebawah terlalu

kuat dalam pertolongan melahirkan bahu yang sulit dapat berakibat perlukaan pada

nervus brokhialis & muskulus sternokleidomastoidelis.(http://anaoryzasativa.kehamilan-

gemeli.html.)

2.2.5        Komplikasi

Komplikasi distonsia bahu pada janin adalah fruktur tulang (klavikula dan humerus)

cidera pleksus brakhialis dan hipoksia yang dapat menyebabkan kerusakan permanen di

otak. Dislokasi tulang servikalis yang fatal juga dapat terjadi akibat melakukan tarikan

dan putaran pada kepala dan leher. Fraktur tulang pada umumnya dapat sembuh

sempurna tanpa sekuele, apabila didiagnosis dan terapi dengan memadai. Cedera

pleksus brakhialis dapat membaik dengan berjalannya waktu, tetapi sekuele dapat

terjadi pada 50% kasus – kasus. Pada ibu, komplikasi yang dapat terjadi adalah

perdarahan akibat laserasi jalan lahir, episiotomi, ataupun atonia uteri.

2.2.6        Faktor Resiko dan Pencegahannya

Belum ada cara untuk memastikan akan terjadinya distosia bahu pda suatu

persalinan. Meskipun sebagian besar distosia bahu dapat ditolong tanpa morbiditas,

tetapi apabila terjadi komplikasi dapta menimbulkan kekecewaan dan adanya potensi

tuntutan terhadap penolong persalinan. Untuk mengurangi resiko morbiditas pada bayi

dan mencegah terjadinya tututan, penolong persalinan perlu mengidentifikasi faktor

resiko terjadinya distosia bahu dan mengkomunikasikan akibat yang dapat terjadi pada

ibu serta keluarganya.

Bayi cukup bulan pada umumnya memilki ukuran bahu yang lebih lebar dari

kepalanya, sehigga mempunyai resiko terjadi distosia bahu. Resiko akan meningkat

dengan bertabahnya perbedaan antara ukuran badan dan bahu denganukuran

kepalanya. Pada bayi makrosomia, perbedaan ukuran tersebut lebih besar dbanding bayi

tapa makrosomia, sehingga bayi makrosomia lebih beresiko. Dengan demikian,

kewaspadaan terjadinya distosia bahu diperlukan pada setiap pertolongan persalinan

dan semakin penting bila terdapat faktor – faktor yang meningkatkan resiko makrosomia.

Adanya DOPE (diabetes obesity, prolonged prenagnancy, excessive fetal size or maternal

weight gain) akan meningkatkan resiko kejadian. Keadaan intrapartum yang banyak

dilaporkan berhubungan dengan kejadian distosia bahu adalah kala I lama, partus macet,

kala I lama, stimulasi oksitosin, dan persalinan vaginal degan tindakan. Meskipun

demikian, peru disadari bahwa bahwa sebagian besar kasus distosia bahu tidak dapat

diprediksi dengan tepat sebelumnya. Upaya pencegahan distosia bahu dan cedera yang

dapat ditimbulkannya dapat dilakuka dengan cara:

         Tawarkan untuk dilakukan bedah sesr pada persalinan vagnal beresiko tinggi: janin luar

biasa besar (> 5 kg), janin sangat besar (> 4,5 kg) dengan ibu diabetes, janin besar (>

4kg) dengan riwayat distosi bahu pada persalinan sebelumnya, kala II yang memanjang

dengan janin besar.

         Identifikasi dan obati diabetes ada ibu.

         Selalu siap bila sewaktu – waktu terjadi

         Kenali adanya distosia seawal mungkin. Upaya mengejan, menekan suprapubis atau

fundus, dan traksi berpotensi meningkatkan resiko cidera pada janin

         Perhatkan waktu dan segera minta pertolongan begitu distosia bahu diketahui. Bantuan

diperlukan untuk membuat posisi McRoberts, pertolongan persalian, resutisasi bayi dan

tindakan anastesia (bila perlu).

2.2.7        Penanganan

Diperlukan seorang asisten untuk membantu, bersegeralah minta bantuan. Jangan

melakukan tarikan atau dorongan sebelum memastikan bahwa bahu posterior sudah

masuk ke panggul. Bahu posterior yang belum melewati pintu atas panggul akan

semakin sulit dilahirkan bila dilakukan tarikan pada kepala. Untuk mengendorkan

ketegangan yang menyulitkan bahu posterior masuk panggul tersebut, dapat dilakukan

episiotomi yang luas, posisi McRobert, atau posisi dada-lutut. Dorongan pada fundus juga

tidak diperkenankan karena semakin menyulitkan bahu untuk dilahirkan dan beresiko

menimbulkan ruptura uteri. Disamping perlunya asisten dan pemahaman yag baik

tentang mekanisme persalinan, keberhasilan pertolongan persalinan dengan distosia

bahu juga ditentukan oleh waktu. Setelah kepala lahir akan terjadi penurunan pH arteria

umbilikalis dengan laju 0,004 unit/menit. Dengan demikian, pada bayi yang sebelumnya

tidak mengalami hipoksia tersdia waktu antara 4 - 5 menit untuk melakukan manuver

melahirkan bahu sebelum terjadi cedera hipoksik pada otak.

Secara sistematis tindakan pertolongan distosia bahu adalah sebagai berikut.

Diagnosis

Hentikan traksi pada kepala, segera memanggil bantuan

Manuver McRobert

(posisi McRobert, episiotomi bila perlu, tekanan suprapubik, tarikan kepala)

Manuver Rubin

(posisi tetap McRobert, rotasikan bahu, tekanan suprapubik, tarikan kepala)

Lahirkan bahu posterior, atau posisi merangkak, atau manuver Wood

Langkah pertama : Manuver McRobert

Manuver McRobert dimulai dengan memosisikan ibu dalam posisi McRobert, yaitu ibu

terlentang, memfleksikan kedua paha sehingga lutut menjadi sekedar mungkin kedada

dan rotasikan kedua kaki ke arah luar (abduksi). Lakukan episiotmi yang cukup lebar.

Gabungan episiotomi dan posisi McRobert akan mempermudah bahu posterior melewati

promontorium dan masuk kedalam panggul. Mintalah asisten menekan suprasimfisis

kearah posterior menggunakan pangkal tangannya untuk menekan bahu anterioragar

mau masuk dibawah simfisis. Sementara itu lakukan tarikan pada kepala janin kearah

posterokaudal dengan mantap.

Langkah tersebut akan melahirkan bahu anterior. Hindari tarikan yang berlebihan karena

akan mencederai pleksus brakhialis. Setelah bahu anterior dilahirkan, langkah

selanjutnya sama dengan pertolongan persalinan presentasi kepala. Manuver ini cukup

sederhana, aman, dan dapa mengatasi sebagian besar distosia bahu derajat ringan

sampai sedang.

Langkah kedua : Manuver Rubin

Oleh karena diameter anteroposterior pintu atas panggul lebih sempit daripada diameter

oblik atau tranversanya, maka apabila bahu dalam anteroposterior perlu diubah menjadi

posisi oblik atau tranversa untuk memudahkan melahirkannya. Tidak boleh melakukan

putaran pada kepla atau leher bayi untuk mengubah posisibahu. Yang dapat dilakukan

adalah memutar bahu secara langsung atau melakukan tekanan suprapubik kearah

dorsal. Pada umumnya sulit menjangkau bahu anterior, sehingga pemutaran bahu lebih

mudah dilakukan pada bahu posteriornya. Masih dalam posisi McRobert, masukkan

tangan pada bagian posterior vagina, tekanlah daerah ketiak bayi sehingga bahu

berpuar menjadi posisi oblik atau transversa. Lebih mnguntungkan bila pemutaran itu

kearah yang membuat punggug bayi mengahada ke arah anterior (manuver Rubin

anterior) oleh karena kekuatan tarikan yang diperlukan untuk melahirkannya lebih

rendah dibandingkan dengan posisi bahu anteroposterior atau punggung bayi

menghadap kearah posterior. Ketika dilakukan penekanan suprapubik pada posisi

punggung janin anterior akan membuat bahu lebih abduksi, sehingga diameternya

mengecil. Dengan bantuan tekanan suprasimfisis kearah posterior, lakukan tarikan

kepala kearah posterokaudal dengan mantap untuk melahirkan bahu anterior.

Langkah ketiga : Melahirkan bahu posterior, posisi merangkak atau manuver

Wood

Melahirkan bahu posterior dilakukan pertama kali dengan mengidentifikasi dulu posisi

punggung bayi. Masukkan tangan enolong yang berseberangan dengan punggung bayi

(punggung kanan berarti tangan kanan, punggung kiri berarti tangan kiri) ke arah

vagina. Temukan bahu posterior, telusuri lengan atas dan buatlah sendi siku menjadi

fleksi (bisa dilakukan dengan menekan fossa kubiti). Peganglah lengan bawah buatlah

gerakan mengusap dada bayi. Langkah ni akan membuat bahu posterior lahir dan

memberikan ruang cukup bagi bahu anterior masuk kebawah simfisis. Dengan bantuan

tekanan suprasimfisis ke arah posterior, lakukan tarikan kepala kearah posterokaudah

dengan mantap untuk melahirkan bahu anterior.

Manfaat posisi merangkak didasarkan asumsi fleksibilitas sendi sakroiliaka bisa

meningkat diameter segital pintu atas panggul sebesar 1 – 2 cm dan pengaruh gravitasi

akan membantu bahu posterior melewati promontorium. Pada posisi terlentang atau

liototomi, sendi sakroiliaka menjadi terbatas morbilitasnya. Pasien menopang tubuhnya

dengan kedua tangan dan kedua lututnya. Pada manuver ini bahu posterior dilahirkan

terleih dahulu dengan melakukan tarikan kepala.

Bahu melalui panggul ternyata tidak dalam gerak lurus, tetapi berputar seperti

uliran sekrup. Berdasarkan hal itu, memutar bahu akan mempermudah melahirkannya.

Manuver Wood dilakukan dengan menggunakan dua jari dari tangan yang

berseberangan dengan punggung bayi (punggung kanan berarti tangan kanan,

punggung kiri berarti tangan kiri) yang diletakkan dibagian depan bahu posterior. Bahu

posterior dirotasi 180 derajat. Dengan demikian, bahu posterior menjadi bahu anterior

dan posisinya berada dibawah arkus pubis, sedangkan bahu anterior memasuki pintu

atas panggul dan berubah menjadi bahu posterior. Dalam posisi seperti itu, bahu anterior

akan dengan mudah dapat dilahirkan.

Setelah melakukan prosedur pertolongan distosia bahu, tindakan selanjutnya

adalah melakukan proses dekontaminasi dan pencegahan infeksi pascatindakan serta

perawatan pasca tindakan. Perawatan pascatindakan termasuk menuliskan laporan

dilembar catatan medik dan memberikan konseling pascatindakan. (Parwirohardjo,

Sarwono, 2009. Ilmu Kebidanan edisi keempat. Jakarta : PT Bina Pustaka)

  2.3            Letak muka

2.3.1         Pengertian

Adalah letak kepala tengadah (defleksi), sehingga bagian kepala yang terletak

paling rendah ialah muka. Letak ini merupakan letak defleksi yang paling maksimal, jadi

oksiput dan punggung berhubungan rapat. Muka terlihat ke bawah, jadi seperti orang

menjolok mangga Hal ini jarang terjadi, kira – kira 0,27 sampai 0,5%. Posisi ditentukan

oleh dagu (mento), jadi ada posisi:

         Left Mento Anterior (LMA)          = Dagu kiri depan

         Right Mento Anterior (RMA)       = Dagu kanan depan

         Left Mento Posterior (LMP)         = Dagu kiri belakang

         Right Mento Posterior (RMP)      = Dagu kanan belakang

2.3.2         Etiologi

Karena adanya sebab yang menghalangi terjadinya fleksi kepala dan sebab yang

menyebabkan defleksi kepala.

a)      Primer

  Ansefalus

  Hidrosefalus

  Kongiinetal anomali

  Conginetal shortening of the cervical muscle

  Struma

  Hidroma koli (kista leher)

  Lilitan tali pusat pada leher beberapa kali

b)      Sekunder

  Panggul sempit

  Tangan menumbung di samping kepala

  Anak sangat besar

  Plasenta previa atau plasenta letak rendah

  Grande multipara

  Pergerakan anak bebas misalnya pada hidromnion dan perut gantung

  Posisi uterus miring

2.3.3         Patologi Persalinan

Dagu akan berutar kedepan (mento anterior 80 – 90%) atau ke belakang (mento

osterior, jarang).

Bila mento posterior menetap (posisi mento posterior persistens), maka kepala

tak mungkin lahir karena defleksi kepala sudah maksimal, sehingga bisa timbul

komplikasi persalinan.

2.3.4         Mekanisme persalinan

1.      Mula – mula terjadi penempatan dahi, kemudian defleksi bertambah

2.      Garis muka dan letak muka

3.      Mulut tampak lebih dahulu di vulva, dengan leher atas sebagai hipomoklion kemudian

terjadi gerakan fleksi, maka lahirlah berturut – turut hidung, mata, dahi, UUB, dan UUK.

4.      Lingkaran kepala pada letak muka ialah : planum trache perietale = 36 cm

5.      Persalinan akan berlangsung lebih lama, tetapi 80% akan terjadi persalinan spontan.

2.3.5         Diagnosis

1)      Palpasi

Teraba kepala sangat menengadah, cekung punggung kepala sangat nudik (sudu fabre),

dan belakang kepala menonjol.

2)      Auskultasi

DJJ jelas terdengar pada toraks janin.

3)      Pemeriksaan dalam

Teraba dagu yang runcing, mulut, hidung, dan lekuk mata.

4)      Foto Rontgen

Tampak kepala sangat menengadah.

2.3.6         Terapi Aktif

  Pada pembukaan lengkap, lakukan versi dan ekstrasi atau ekstrasi vakum/ forsep.

  Bila pembukaan masih kecil, lakukan seksio saserea.

  Pada primigravida, lakukan seksio sesara.

2.3.7         Pimpinan Persalinan

1.      Observasi harus teliti, biasanya 80 – 90% dapat lahir biasa.

2.      Pada penempatan dahi, anjurkan ibu tidur miring kesamping kesebelah dagu.

3.      Usaha untuk merubah letak:

  Reposisi mento anterior menjadi posterior

  Cara SCHATZ

  Cara ZANGEMEISTER - THORN

4.      Bila ada indikasi untuk menyelesaikan partus segera, pada anak hidup lakukan ekstrasi

vakum atau forsep; pada anak mati lakukan embriotomi; dan pada mento posterior

lakukan seksio sesarea

2.3.8         Prognosis

a)      Bagi ibu

  Partus akan lebih lama, mudah terkena infeksi intrapartum atau infeksi nifas

  Luka jalan lahir

  Mortalitas 3%

b)      Bagi anak

  Kaput di daerah muka, kepala seperti mulut babi (dolichocephal)

  Pedarahan dalam oak

  Mortalitas kira – kira 15% (Mochtar, Rustam, 1998.Sinopsis Ilmu Obstetri jilid 1.Jakarta :

Buku Kedokteran ECG)

2.3.9         Penanganan

Posisi dagu di anterior adalah syarat yang harus dipenuhi apabila janin presentasi

muka hendak dilahirkan vaginal. Apabila tidak ada gawat janin da persalinan

berlangsung dengan kecepatan normal, maka cukup dilakukan observasi terlebih dahulu

hingga terjadi pembukaan lengkap. Apabila setelah pembukaan lengkap dagu berada di

anterior, maka persalinan vaginal dilanjutkan seperti persalinan dengan presentasi

belakang kepala. Bedah sesar dilakukan apabila setelah pembukaan lengkap posisi dagu

masih posterior, didapatkan tanda – tanda disporporsi, atau atas indikasi obstetri lainnya.

Stimulasi oksitosin hanya diperkenankan pada posisi dagu anterior dan tidak ada

tanda – tanda disproporsi melakukan perubahan posisi dagu secara manual ke arah

anterior atau megubah presentasi muka menjadi presentasi belakang kepala sebaiknya

tidak dilakukan karena lebih banyak menimbulkan bahaya. Melahirkan bayi presentas

muka menggunakan ekstrasi vakum tidak diperkenankan. Pada janin yang meninggal

kegagalan melahirkan vaginal secara sponta dapat diatasi dengan kraniotonomi atau

bedah sesar. (Parwirohardjo, Sarwono, 2009. Ilmu Kebidanan edisi keempat. Jakarta : PT

Bina Pustaka)

  2.4            Letak sungsang

2.4.1        Pengertian

Janin yang letaknnya memanjang (membujur) dalam rahim, kepala berada di

fundus dan bokong bawah.

2.4.2        Klasifikasi

1)      Letak bokong (Frank Breech)

Letak bokong dengan kedua tungkai terangkat keatas.               (75%)

2)      Letak sungsang sempurna (Complete Breech)

Letak bokong dimana kedua kaki ada disamping bokong (letak bokong kaki sempurna

(lipat kejang))

3)      Letak sungsang tidak sempurna (Incomplete Breech)

Adalah letak sungsang dimana selain bokong bagian yang terendah juga kaki atau lutut,

terdiri dari:

  Kedua kaki    = letak kaki sempurna             (24%)

Satu kaki       = letak kaki tidak sempurna

  Kedua lutut   = letak lutut sempurna                        (1%)

Satu lutut       = letak lutut tidak sempurna

Klasifikasi bokong ditentukan oleh sakrum, ada 4 posisi:

1)      Left sacrum anterior (sakrum kiri depan)

2)      Right sacrum anterior (sakrum kanan depan)

3)      Left sacrum posterior (sakrum kiri belakang)

4)      Right sacrum posterior (sakrum kanan belakang)

2.4.3        Frekuensi

Dua setengah sampai tiga persen dimana 75% adalah complete breech presentationdan

25% adalah incomplete breech presentation. Di RS Pringadi, Medan 4,4% dan RS Hasan

Sadikin Bandung 4,6%.

2.4.4        Etiologi

1)      Fiksasi kepala pada pintu atas panggul tidak baik atau tidak ada, misalnya pada panggul

sempit, hidrosefalus, ansefali, plasenta previa, tumor – tumor pelvis, dan lain – lain.

2)      Janin mudah bergerak, seperti pada hidramnion, multipara, janin kecil (prematur).

3)      Gemeli (kehamilan ganda)

4)      Kelainan uterus, seperti uterus arkuatus, bikornis, mioma uteri.

5)      Janin sudah lama mati.

6)      Sebab yang tidak diketahui.

2.4.5        Diagnosis

1)      Palpasi

Kepala teraba di fundus, bagian bawah bokong, dan puggung di kiri atau kanan.

2)      Auskultasi

DJJ paling jelas terdengar pada tempat yang lebih tinggi dari pusat.

djj X                djj X

3)      Pemeriksaan dalam

Dapat diraba s sakrum, tuber ischii, dan anus, kadang – kadang kaki (pada letak kaki)

Bedakan antara :

         Lubang kecil

         Tulang (-)                   anus

         Isap (-)

         Mekoneum (+)

         Tumit

         Sudut 90                    kaki

         Rata jari – jari

         Patella            lutut

         Poplitea

         Menghisap

         Rahang              mulut

         Lidah

         Jari panjang

         Tidak rata            tangan siku

         Patella (-)

4)      Pemeriksaan foto rontgen: bayangan kepala di fundus

2.4.6        Mekanisme persalinan

Mekanisme persalinan hampir saja dengan letak kepala, hanya disini yang

memasuki p.a.p adalah bokong. Persalinan berlangsung agak lama, karena bokong

dibandingkan dengan kepala lebih lembek, jadi kurang kuat menekan, sehingga

pembukaan agak lama.

Bokong masuk p.a.p dengan garis pangkal paha melintang atau miring. Dengan

turunnya bokong, terjadi putar sehingga di dasar paggul garis paha letaknya menjadi

muka belakang. Dengan tronchanter depan sebagai hipomoklion (dibawah simfisis),

terjadi latero – fleksi tubuh janin (punggung), sehingga tronchanter belakang melewati

perineum. Setelah bokong lahir diikuti kedua kaki, kemudianterjadi sedikit rotasi untuk

memungkinkan bahu masuk p.a.p dalam posisi melintang atau miring. Lalu bahu depan

dibaah simfisis dan bahu belakang lahir. Kemudian kepala dilahirkan.

2.4.7        Prognosis

         Bagi ibu

Kemungkinan robekan pada perinuem lebih besar, juga karena dilakukan tindakan, selain

itu ketuban lebih cepat pecah dan partus lebih lama jadi mudah terkena infeksi.

         Bagi anak

Prognosa tidak begitu baik, karena adanya gangguan peredaran darah plasenta setelah

bokong lahir dan juga setelah perut lahir, tali pusat terjepit antara kepala dan panggul,

anak bisa menderita afiksia.

2.4.8        Penanganan

         Sikap sewaku hamil

Karena kita tahu bahwa prognosa bagi anak tidak begitu baik, maka usahakan merubah

letak janin dengan VERSI LUAR. Tujuannya adalah unuk merubah letak menjadi letak

kepala.

Hal ini dilakukan pada primi dengan kehamilan 34 minggu, multi dengan usia kehamilan

36 minggu, dan tidak ada paggul sempit, gemelli, atau plasenta previa.

Syarat

  Pembukaan kurang dari 5cm

  Ketuban masih ada

  Bokong belum turun atau masuk p.a.p

Teknik

1.      Lebih dahulu bokong lepaskan dari p.a.p dan ibu berada dalam posisi Trendelenburg

2.      Tangan kiri letakkan di kepala dan tangan kanan pada bokong

3.      Putar ke arah muka / perut janin

4.      Lalu tukar tangan kiri diletakkan di bokong dan tangan kanan di kepala

5.      Setelah berhasil pasang gurita dan observasi tensi, DJJ, seta keluhan.

         Pimpinan persalinan

1.      Cara berbaring

  Litotomi sewaktu inpartu

  Trendelenburg

2.      Melahirkan bokong

  Mengawasi sampai lahir spontan

  Mengait dengan jari

  Mengait dengan pengait bokong

  Mengait dengan tali sebesar kelingking

3.      Ekstraksi kaki

Ekstraksi pada kaki lebih mudah. Pada letak bokong janin dapat dilahirkan dengan cara

vaginal atau abdominal (seksi sesarea)

2.4.9        Cara melahirkan pervaginam

Terdiri dari partus spontan (pada letak sungsang janin dapat lahir secara spontan

seluruhnya) dan manual aid (manual hife).

Waktu memimpin partus dengan letak sungsang harus diingat bahwa ada 2 fase:

Fase I    : fase menunggu

Sebelum bokong lahir seluruhnya, kita hanya melakukan observasi. Bila tangan tidak

menjungkit ke atas (nuchee arm), persalinan akan mudah. Sebaliknya jangan dilakukan

ekspresi Kristeller, karena hal ini akan memudahkan terjadinya nuchee arm.

Fase II   : fase untuk bertindak cepat

Bila badan janin sudah lahir sampa pusat, tali pusat akan tertekan antara kepala dan

panggul, maka janin harus lahir dalam waktu 8 menit. Untuk mempercepat lahirnya janin

dapat dilakukan manuali aid.

1.      Cara melahirkan bahu dan lengan

a.      Cara Klasik

Pegang bokong dengan menggunakan ibu jari berdampingan pada os sakrum dan

jari lain di lipat paha. Kemudian janin di tarik ke arah bawah, sehingga skapula berada

dibawah simphisis. Lalu lahirkan bahu dan lengan belakang, kemudian lengan depan.

b.      Cara Lovset

Setelah sumbu bahu janin berada dalam ukuran muka belakang, tubuhnya i tarik

ke bawah lalu dilahirkan bahu serta lengan belakang. Setelah itu janin diputar 90º

sehingga bahu depan mejadi bahu belakang, lalu dikeluarkan separti biasa.

c.       Cara Mueller

Tarik janin vertikal ke bawah lalu dilahirkan bahu dan legan depan. Cara

melahirkan bahu – lengan depan bisa spontan atau dikait dengan satu jari menyau muka.

Lahirkan bahu belakang dengan menarik kaki ke atas lalu bahu – lengan belakang dikait

menyapu kepala.

d.      Cara Bracht

Bokong ditangkap, tangan diletakkan pada paha dan sakrum, kemudian janin

ditarik ke atas. Biasanya hal ini dilakukan pada janin kecil dan multipara.

e.       Cara Potter

Dikeluarkan dulu lengan dan baju depan dengan menarik janin ke bawah dan

menekan dengan 2 jari pada skapula. Badan janin diangkat ke atas untuk melahirkan

lengan dan bahu belakang dengan menekan skapula belakang.

2.      Melahirkan kepala

a.      Mauriceau (veit smellie)

Masukkan jari – jari dalam mulut (mua mengarah ke kiri = jari kiri, mengarah

kekanan = jari kanan). Letakkan anak menunggang pada lengan sementara tangan lain

memegang pada tengkuk, lalu tarik kebawah sampai rambut dan kepala dilahirkan.

Kegunaan jari dalam mulut, hanya untuk menambah fleksi kepala.

b.      De snoo

Tangan kiri menadah perut dan dada serta 2 jari diletakkan di leher (menunggang

kuda). Tangan kanan menolng menekan di atas simphisis. Perbedaannya degan

mauriceau ialah disini tangan tidak masuk dalam vagina.

c.       Wigand Martin – Winckel

Satu tangan (kiri) dalam jalan lahir dengan telunjuk dalam mulut janin sedang jari

tengah dan ibu jari pada rahang bawah. Tangan lain menekan diatas simphisis atau

fundus.

d.      Naujoks

Satu tangan memegang leher janin dari depan, tangan lain memegang leher pada

behu, tarik janin ke bawah dengan bantuan dorongan dari atas simphisis.

e.       Cara prague terbalik

Dilakukan pada ubun – ubun kecil terletak sebelah belakan. Satu tangan

memegang bahu janin dari belakang, tangan lain memegang kaki lalu menarik janin ke

arah perut ibu dengan kuat.

3.      Ekstraksi

Terdiri atas ekstraksi pada kaki dan eksraksi pada bokong. Karena ekstraksi pada

bokong sedikit sukar, kita sedapat mungkin berusaha untuk melakukan ekstraksi pada

kaki, sebab mudah dikerjakan.

4.      Perasat Profilaksis Pinard

Maksudnya adalah melakukan ekstraksi pada kaki sebelum ada indikasi, hanya untuk

berjaga – jaga. Caranya dengan menekan paha anak terhada perutnya, dengan

sendirinya kaki akan jatuh dan dapat dikeluarkan. Kaki yang keluar dapat menambah

pembukaan. Bila akan dilakukan tindakan setelahnya,akan mudah menarik kaki.

Ada yang setuju dengan perasat ini, tetapi ada pula yang tidak membenarkan. Alasan

yang kontra adalah bila kaki dikeluarkan maka mudah mendapat ransangan dan akan

menjadi mudah afiksia (ransangan bernafas).

Dalam mengahadapi persalinan letak sungsang yang terpenting adalah menentukan

apakah anak akan lahir pervaginam atau harus dilahirkan sengan seksio sesarea. Dilihat

dari sudut anak, maka SC adalah cara yang terbaik, oleh karena persalinan pervaginam

bagi anak membawa angka kematian yang tinggi. Meskipun anak hidup, sering terjadi

gangguan pada otak dengan akibat yang tidak kita inginkan. Pada letak sungsang dapat

dilakukan seksio sesarea bila ada perkiraan panggul sempit dan bila persalinan tidak

lancar.

5.      Cara Resposisi Tangan Menjungkit (Nuchae Arms)

a)      Satu tangan menjungkit

Janin diputar 90º kearah mana tangan menunjuk, sehingga tangan akan terlepas

menyapu kepala.

b)      Kedua tangan menjungkit

Untuk tangan pertama seprti diatas dan untuk tangan kedua diputar berlawanan arah

180º.

6.      Kepala sulit lahir (After Coming Head)

a.       Bila janin masih hidup lahirkan kepala dengan ekstraksi forcep 

(cunam piper).

b.      Bila janin sudah meninggal dilakukan embriotomi (kraniotomi). (Mochtar, Rustam,

1998.Sinopsis Ilmu Obstetri jilid 1.Jakarta : Buku Kedokteran ECG)

  2.5            Gemelli

2.5.1        Pengertian

Kehamilan ganda atau hamil kehamilan dengan dua janin atau lebih. Sejak

ditemukannya obat – obat dan cara induksi ovulasi maka dari laporan – laporan dari

seluruh pelosok dunia, frekuensi kehamilan kembar condong meningkat.

2.5.2        Etiologi

1)      Faktor – faktor yang mempengaruhi adalah : bangsa, umur, dan paritas, sering

mempengaruhi kehamilan kembar dua telur.

2)      Faktor obat – obat induksi ovulasi : profertil, clomid, dan hormon gonadotropin daat

menyebabkan kehamilan dizigotik dan kembar lebih dari dua.

3)      Faktor keturunan.

4)      Faktor yang lain yang belum diketahui.

2.5.3        Frekuensi

Menurut hukum Hellin, frekuensi antara kehamilan ganda dan tunggal adalah:

         Gemeli (2)            1:89

         Triplet (3)             1:89²

         Quadruplet (4)      1:89³

         Quintuplet (5)       1:89

         sextuplet (6)         1:89

Menurut penelitian greulich (1930), pada 121 juta persalinan didapat angka kejadian

kehamilan ganda, yaitu gemeli 1:85; triplet 1:7.629; quadruplet 1:670.743 dan quintuplet

1: 41.600.000.

Faktor bangsa mempegaruhi kehamilan ganda; di Amerika Serikat lebig banyak

dijumpai pada wanita kulit hitam dibanding kulit putih. Angka tertinggi kehamilan ganda

dijumpai di Finlandia dan terendah d Jepang.

Faktor umur; makin tua, makin tinggi angka kehamilan kembar dan menurun lagi

setelah umur 40 tahun.

Paritas; pada primipara 9,8 per 1000 dan pada multipara (oktipara) naik jadi 18,9 per

1000 persalinan.

Keturunan; keluarga tertetu akan cenderung melahirkan anak kembar yang biasanya

diturunkan secara paternal, namun dapat pula secara maternal.

2.5.4        Jenis gemeli

a)      Gemeli dizigotik (= kembar 2 telur, heterolog, biovuler, dan fraternal), kedua telur

biasanya berasal dari:

  1 ovarium dan dari 2 folikel de Graff;

  1 ovarium dan dari 1 folikel de Graff;

  1 dari ovarium kanan dan satu lagi dari ovarium kiri.

b)      Gemeli monozigotik (= kembar 1 telur, homolog, univuler, identik), dapat terjadi karena:

  Satu telur dengan 2 inti, hambatan pada tingkat blastula;

  Hambatan pada tingkat segmentasi;

  Hambatan setelah amnion dibentuk, tetapi sebelum primitive streak.

Perbedaan ciri sifat, dan lain – lainnya antara kembar monozigotik dan dizigotik (satu

telur dan 2 telur) :

Perbedaan Kembar monozigot Kembar dizigot

Plasenta 1 (70%) 2 (±100%)

2 (30%)

Korion 1 (70%) 2 (±100%)

2 (30%)

Amnion 1 (70%) 2 (±100%)

2 (30%)

Tali pusat 2 2

Sirkulasi darah Janin berskutu terpisah

Sekat kedua kantong 2 lapis 4 lapis

Janis kelamin Sama Sama atau tidak

Rupa dan sifat Sama Agak berlainan

Mata, telinga, gigi, kulit Sama Berbeda

Ukuran antropologik Sama Berbeda

Sidik jari sama Berbeda

Cara pegangan

Bisa sama

Bisa satu kidal yang

lain kanan

Sama, bisa keduanya

kanan

Kira – kira seertiga kembar adalah monozigotik dan dua pertiga lainnya adalah dizigotik.

c)      Conjoined twins, superfekundasi, dan superfestasi

Conjoined twins atau kembar siam adalah kembar dimana janin melekat satu dengan

yang lainnya. Misalnya torakofagus (dada dengan dada), abdominofagus (perlekatan

kedua abdomen), kranoifagus (kedua kepala), dan sebagainya. Banyak kembar siam

telah dapat dipisahkan secara operatif dengan berhasil.

Superfukondasi adalah pembuahan dua telur yang dikeluarkan pada ovulasi yang sama

pada dua kali koitus yang dilakukan pada jarak waktu yang pendek. Hal ini dilaporkan

oleh Archer (1910) seorang wanita kulit putih melakukan koitus berturut – turut dengan

seorang kulit putih dan kemudian dengan pria kulit hitam melahirkan bayi kembar : satu

putih dan satu bayi kulit hitam (mulatto).

Superfensi adalah kehamilan kedua yang terjadi beberapa minggu lalu atau bulan lalu

setelah kehamilan pertama. Belum pernah dibuktikan pada manusia, namun ditemukan

pada kuda.

2.5.5        Pertumbuhan janin kembar

1)      Berat badan satu janin kehamilan kembar rata – rata 1000 gr lebih ringan dari janin

tunggal.

2)      Berat badan baru lahir biasanya pada kembar dua dibawah 2500gr, triplet dibawah

2000gr, quadriplet dibawah 1500gr dan quintuplet dibawah 1000gr.

3)      Berat badan masing – masing janin dari kehamilan kembar tidak sama, umumnya

berselisih antara 50 sampai 1000gr, da karena pembagiansirkulasi darah tiak sama,

maka yang satu lebih kurang tumbuh dari yang lainnya.

4)      Pada kehamilan monozigotik:

  Pembuluh darah janin yang satu beranastomosis dengan janin yang lain, karena itu setelah

bayi satu lahir tali pusat harus diikat untuk menghindari perdarahan.

  Karena itu janin yang satu dapat terganggu pertumbuhannya dan menjadi monsrum,

seperti akardiakus, dan kelainan lainnya.

  Dapat terjadi sindroma transfusi fetal; pada janin yang mendapat darah lebih banyak

terjadi hidroamnion, polisitemia, edema, dan pertumbuhan yang baik. Sedangkan

janinkedua terlihat kecil, anemis, dehidrasi, olighidrami dan mikrokardia, karena kurang

mendapat darah.

5)      Pada kehamilan kembar dizigotik:

  Dapat terjadi satu janin meninggal dan satu tubuh sampai cukup bulan.

  Janin yang mai bisa diresorbsi (kalau pada kehamilan muda), atau pada kehamilan yang

agak tua, janin jadi ipih yang disebut fetus papyrasseus atau kompresus.

2.5.6        Letak pada presentasi janin

Pada hamil kembar sering terjadi kesalahan presentasi dan posisi kedua janin. Begitu

pula letak janin kedua dapat berubah stelah janin pertama lahir, misalnya dari letak

lintang berubah jadi letak sungsang atau letak kepala. Berbagai kombinasi letak,

presentasi dan posisi bisa terjadi, yang paling sering dijumpai adalah:

  Kedua janin dalam letak membujur, resentasi kepala (44 – 47%)

  Letak membujur, presentasi kepala bokong (37 – 38%)

  Kedua presentasi bokong (8 – 10%)

  Letak lintang dan presentasi kepala (5 – 5,3%)

  Letak lintang dan presentasi bokong (1,5 – 2%)

  Dua – duanya letak lintang (0,2 – 0,6%)

  Letak dan presentasi “69” adalah letak yang berbahaya, karena dapat terjadi kunci

megunci (interlocking).

2.5.7        Diagnosis kehamilan kembar

1)      Anamesis

  Perut lebih buncit dari semestinya sesuai dengan umur tuanya kehamilan

  Gerakan janin lebih banyak diasakan ibu hamil

  Uterus trasa lebih cepat membesar

  Pernah hamil kembar atau ada riwayat keturunan kembar.

2)      Inspeksi dan palpasi

  Pada pemeriksaan pertama dan ulangan ada kesan lebih besar dan lebih cepat tumbuhnya

dari biasa.

  Gerakan – gerakan janin tersa lebih sering

  Bagina – bagian kecil teraba lebih banyak.

  Teraba ada 3 bagian besar janin

  Teraba ada 2 balotemen

3)      Auskultasi

Terdengar ada 2 denyut jantung janin pada dua temat yang agak berjauhan dengan

perbedaan kecepatan sedikitnya 10 denyut permenit atau bila dihitung bersamaan

terdapat slisih 10.

4)      Rontgen foto abdomen

Tampak gambaran 2 janin

5)      Ultrasonografi

Bila tampak 2 janin atau dua jantung yang berdenyut yang telah dapat ditentukan pada

triwulan I.

6)      Elektrokardiogram total

Terdapat gambaran dua EKG yang berbeda dari dua janin.

7)      Reaksi kehamilan

Karena pada hamil kembar umumnya plasenta besar atau ada 2 plasenta, maka produksi

HCG akan tinggi, jadi titrasi reaksi kehamilan bisa positif, kadang – kadang sampai 1/200.

Hal ini dapat sikacaukan dengan mola hidatidosa.

Kadangkala diagnosa baru diketahui setelah bayi pertama lahir, uterus masih besar dan

ternyata ada satu janin lagi dalam rahim. Kehamilan kembar sering terjadi bersamaan

dengan hidramnion dan toksema gravidarum.

2.5.8        Pengaruh terhadap ibu dan janin

a.       Terhadap ibu

  Kebutuhan akan zat – zat bertambah, sehingga dapat menyebabkan anemia dan defisiensi

zat  zat lainnya.

  Kemungkinan terjadinya hidramnion bertambah 10 kali lebih besar

  Frekuensi pre- eklampsi dan eklampsi lebih sering

  Karena uterus yang besar, ibu mengeluh sesak nafas, sering miksi, serta terdapat edema

dan varises pada tungkai dan vulva

  Dapat terjadi inersia uteri, perdarahan postpartum, dan solusio plasenta sesudah anak

pertama lahir.

b.      Terhadap janin

  Usia kehamila tambah singkat dengan bertambahnya jumlah janin pada kehamilan kembar

: 25% pada gemeli; 50% pada triplet; dan 75% pada quadruplet, yang akan lahir 4

minggu sebelum cukup bulan. Jadi kemungkinan terjadinya bayi prematur akan tinggi.

  Bila sesudah bayi pertama lahir terjadi solusi plasenta, maka angka kematian bayi kedua

tinggi.

  Sering terjadi kesalahan letak janin, yang juga akan mempertinggi angka kematian janin.

2.5.9        Penanganan dalam kehamilan

1.      Perawatan prenatal yang baik untuk mengenal kehamilan kembar da mencegah

komplikasi yang timbul, dan bila diagnosis telah ditegakkan pemeriksaan ulangan harus

lebih sering (1x seminggu pada kehamilan lebih dari 32 minggu).

2.      Setelah kehamilan 30 minggu, koitus dan perjalanan jauh sebaiknya dihindari, karena

akan merangsang partus prematurus.

3.      Pemakaian krset gurita yang tidak terlalu ketat diperbolehkan, supaya terasa lebih

ringan.

4.      Periksa darah lengkap, Hb, dan golongan darah.

2.5.10    Penanganan dalam persalinan

1)      Bila anak pertama letak membujur, kala I diawasi seperti biasa, ditolong seperti biasa

dengan episiotomi mediolateralis.

2)      Setelah itu baru waspada, lakukan periksa luar, periksa dalam unuk menentukan

keadaan anak kedua. Tunggu, sambil memeriksa tekanan darah dan lain – lain.

3)      Biasanya dalam 10 – 15 menit his akan kuat lagi. Bila anak kedua terletak membujur,

ketuban dipecahkan pelan – pelan supaya air ketuban tidak mengalir deras keluar.

Tunggu dan pimpin persalinan anak kedua seperti biasa.

4)      Waspadalah atas kemungkinan terjadinya perdarahan stpartum, maka sebaiknya

pasang infus profilaksis.

5)      Bila ada kelainan letak pada anak kedua, misalnya melintang atau terjadi prolaps tali

pusat dan solusio plasenta, maka janin dilahirkan dengan cara operatif obstetrik:

  Pada letak lintang coba versi luar dulu, atau lahirkan dengan cara versi dan ekstraksi

  Pada letak kepala, persalinan dipercepat dengan ekstraksi vakum atau forceps

  Pada letak bkong atau kaki, ekstraksi bokong atau kaki

6)      Indikasi seksio sesarea hanya pada:

  Janin pertama letak lintang

  Bila terjadi prolaps tali pusat

  Plasenta previa

  Terjadi interlocking pada letak janin 69, anak pertama letak sungsang dan anak kedua

letak kepala.

7)      Kala IV diawasi terhadap kemungkinan terjadinyaperdarahan postpartum : berikan

suntikan sintio – metrin yaitu 10 satuan sintosinon tambah 0,2mg methergin intravena.

2.5.11    Prognosis

Prognosis untuk ibu lebih jelej bila dibandingkan pada kehamilan tunggal, karena

seringnya terjadi toksemia gravidaru, hidroamnion, anemia, pertolongan obstetri

operatif, dan perdarahan postpartum.

Angka kematian perinatal tinggi terutama karena prematur, prolaps tali pusat,

solusio plasenta dan tindakan obstetrik karena kelainan letak janin. (Mochtar, Rustam,

1998.Sinopsis Ilmu Obstetri jilid 1.Jakarta : Buku Kedokteran ECG