Ekspedisi Gila Mandar Jepang

of 132/132

Click here to load reader

  • date post

    18-Mar-2016
  • Category

    Documents

  • view

    424
  • download

    63

Embed Size (px)

description

Tulisan tentang Ekspedisi The Sea Great Journey, pelayaran perahu bercadik dari Mandar ke Jepang

Transcript of Ekspedisi Gila Mandar Jepang

  • Ekspedisi Gila Mandar - Jepang

    M U H A M M A D R I D WA N A L I M U D D I N

    Edisi Teks

  • Hak Cipta

    Muhammad Ridwan Alimuddin 2011

    Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mereproduksi atau memperban-yak seluruh maupun sebagian dari buku ini dalam bentuk atau cara apa pun tanpa izin tertulis dari penulis.

    Penulis: Muhammad Ridwan Alimuddin

    Diterbitkan dalam bentuk e-book oleh Teluk Mandar Kreatif

    Jl. Dg. Rioso No. 10 Tinambung, Jl. Haji Dg. No. 71 Pambusuang, Balanipa, Pole-wali Mandar, Sulawesi Barat 91354. Email: [email protected], website: ridwanmandar.com

    Foto sampul: Dua perahu bercadik dari Mandar bernama Pakur dan Jomon yang melakukan Ekspedisi The Sea Great Journey. Foto diambil di Teluk Mandar, pada hari pertama pelayaran, 13 April 2009 (c) Muhammad Ridwan Alimuddin.

    i

  • Pengantar

    Saya pertama kali bertemu langsung Prof. Yoshiharu Sekino pada April 2008. Dikenalkan oleh Prof. Osozawa Katsuya, dosen Universitas Ehime, Jepang. Saya kenal Prof. Oso, demikian panggilannya, pada tahun 2002. Hampir tiap tahun saya bertemu dan menemaninya dalam beberapa kegiatan pelayaran, khususnya pelayaran-pelayaran yang menggunakan pinisi penelitian milik Lembaga Perahu, Cinta Laut.

    Ya, sejak 2004 sampai 2009 selalu ikut berlayar bersama Cinta Laut, yang sele-sai dibuat pada tahun 2003, baik dalam riset-riset bersama peneliti-peneliti Jepang (khususnya Universitas Kyoto) maupun sebagai fasilitator di kegiatan Sailing Prac-tice yang diikuti mahasiswa-mahasiswa dari UGM, Unhas, Universitas Negeri Gorontalo, dan Universitas Ehime Jepang.

    Dalam rangka ekspedisi The Sea Great Journey, Prof. Osozawa mengenalkan saya ke Prof. Sekino. Sebab, Prof. Osozawa tahu bahwa saya banyak dan terus mendalaman pengetahuan kemaritiman nusantara dan Mandar. Jadi saya diminta terlibat. Selain saya, juga Aziz Salam, dosen Universitas Negeri Gorontalo. Dia murid Prof. Osozawa. Setamat Universitas Hasanuddin, Azis Salam kuliah S2 dan S3 di Universitas Ehime, Jepang. Yang mana Prof. Oso adalah pembimbingnya. Azis Salam menfokuskan penelitiannya pada pembuatan perahu berbahan kayu, khususnya pinisi. Pinisi Cinta Laut adalah obyek penelitiannya, mulai dari desain sampai ikut pembuatan dan beberapa pembuatannya.

    Jadi, saya banyak bersama Azis Salam dalam kegiatan-kegiatan Cinta Laut dan Ekspedisi The Sea Great Journey. Khusus di kegiatan ekspedisi Prof. Sekino, Azis Salam lebih banyak dan lebih dalam terlibat sebab dia bisa berbahasa Jepang. Jadi

    ii

  • dia sekaligus menjadi penerjemah. Tapi tidak seperti penerjemah pada umumnya karena Azis Salam juga memiliki banyak pengetahuan tentang kebudayaan bahari nusantara.

    Saya lebih banyak mengurusi riset yang berkaitan dengan budaya bahari Man-dar, pengurusan dokumen di Mandar, membantu mencarikan dan mengenalkan pihak-pihak di Mandar yang berkaitan dengan ekspedisi. Seperti tukang perahu, penebang pohon, tempat tinggal, nelayan yang mengajarkan teknik-teknik ber-layar, tempat pembuatan tali dan layar, dan lain sebagainya. Tapi tidak semua juga, sebab orang Jepang sendiri banyak inisiatif mencari kontak langsung jika su-dah saya bukakan jalan.

    Dalam kegiatan pelayaran, awal pemberangkatan (13 April 2009) saya tidak ikut serta sebab masih ada beberapa dokumen pelayaran dan kru belum beres, khususnya paspor. Urusan paspor tidak cepat kelar sebab proses rekrut sawi ada masalah. Awalnya akan melibatkan nelayan-nelayan dari Luwaor, Majene, yang juga terlibat dalam pembuatan perahu. Awalnya mereka mengiyakan, tapi menje-lang pengurusan dokumen, mereka menuntut gaji lebih tinggi. Dan ada juga yang dilarang berlayar jauh dan lama oleh keluarganya. Katanya, takut diculik. Ada-ada saja.

    Kemudian mencoba merekrut sawi dari Pambusuang sebagian, juga ada masa-lah. Juga berkaitan dengan penggajian. Ini gara-gara di Pambusuang telah pernah ada ekspedisi yang juga melibatkan orang Jepang. Jadi mereka banding-bandingkan. Walau sebenarnya untuk bandingkan langsung tidak tepat juga sebab ada perbedaan antara ekspedisi oleh Yamamoto (Pambusuang) dengan Prof. Sekino.

    Akhirnya ditentukan mengambil sawi dari Karama. Kebetulan saya ada ban-yak kenalan pelaut di sini, yang terlibat di Sandeq Race. Masalahnya, mereka ma-sih tergolong muda. Dengan kata lain, tidak begitu mahir melayarkan perahu pa-kur, sebagaimana pelaut-pelaut dari Luwaor, Majene (kampung terakhir di Man-dar yang melayarkan perahu bercadik jenis pakur). Untunglah, pelaut-pelaut dari Lambe, Karama yang saya ajak, yakni Gusman dan Danial, tahu pelaut yang ma-sih bisa melayarkan pakur, yaitu Zainuddin dan Jabir. Mereka tinggal di Manjo-

    iii

  • pai, sekitar 1 km dari Lambe. Nanti dari mereka, Gusman dan Danial belajar tek-nik melayarkan pakur. Untuk perahu Jomon, tergolong mudah sebab menggu-nakan layar jenis lete.

    Sawi terakhir yang direkrut ialah Irsan. Juga pelayar sandeq di kegiatan San-deq Race, yakni dari sandeq Lincah. Asalnya dari Gade, sekitar 2 km dari Lambe. Adapun Abdul Latief, meski bukan pelaut, tapi dia orang pertama yang dipastikan ikut sebagai kru di pelayaran. Sebab sama-sama waktu menebang pohon untuk bakal perahu.

    Selain masalah perekutan sawi yang lama, juga pengurusan dokumen paspor. Hampir semua sawi tidak beres dokumennya, khususnya KTP, KK, ijazah, akte kelahiran, dan buku nikah. Ada salah nama, beda tanggal lahir dengan dokumen lain, dan ada yang tidak ada. Jadi, seperti mengurus dari awal. Belum lagi bila kekurangan baru diketahui saat di Kantor Imigrasi. Harus balik lagi ke Tinam-bung untuk urus kelengkapan dokumen. Saat keberangkatan, paspor Irsan yang belum beres. Tapi ini bukan masalah besar sebab masih ada waktu satu bulan sebe-lum perahu memasuki perairan Malaysia.

    Saat melakukan pelayaran menyusuri pesisir barat Pulau Sulawesi hingga menyeberang ke Pulau Kalimantan, saya banyak berada di Jawa. Yakni menunggu proses dokumen di Jakarta. Pengurusan dilakukan oleh agen yang digu-nakan Sekino, yaitu Muroya. Setelah selesai, saya bersama Muroya menuju Ta-rakan untuk menunggu kedatangan perahu Pakur dan Jomon.

    Di Tarakan, Azis Salam harus segera balik ke Sulawesi. Selain untuk urusan ke-luarga juga urusan kampus. Jadi saya menggantikan posisinya sebagai penghubun-gan antara tim Sekino dengan pelaut Mandar.

    Buku ini adalah catatan harian saya sewaktu ikut pelayaran Ekspedisi The Sea Great Journey. Saya tidak membuat tulisan dalam sebuah kertas, tapi lebih banyak menggunakan Blackberry. Kenapa? Alasannya saya tulis di dalam catatan harian saya.

    Seteleh catatan harian, terdapat lampiran Catatan-catatan Harian dan Ar-tikel di Media. Catatan-catatan harian adalah catatan-catatan pendek yang saya buat selama kegiatan persiapan dan pembuatan perahu. Saya buat pendek-pendek

    iv

  • sebab saya menggunakan handphone (waktu itu belum memiliki Blackberry dan proses pengiriman email lewat hp belum selancar sekarang) dan catatan-catatan tersebut saya simpan di inbox email saya. Menggunakan teknik demikian agar data saya aman, bisa diakses dimana saja-sewaktu-waktu, dan ada detail tanggal.

    Isi catatan tersebut tidak amat lengkap sebab banyak aktivitas juga tidak saya catat. Untuk menutupi kekurangan di catatan harian, juga saya lampirkan artikel di media. Semua adalah tulisan saya. Jadi, beberapa informasi yang tidak lengkap di lampiran catatan harian, penjelasannya ada di artikel. Sebab memang peruntuk-kannya beda. Maksud saya, catatan harian lebih banyak berfungsi sebagai pengin-gat saja; untuk saya pribadi. Sedang artikel, adalah tulisan yang didesain sebagai bahan bacaan untuk publik.Bila mau lebih mudah memahami isi buku ini secara instan, langsung saja baca lampiran artikel yang dimuat di media.

    Sengaja saya lampirkan catatan harian untuk memperlihatkan beberapa hal yang mungkin tidak diketahui publik, tapi menurut saya itu penting untuk diketa-hui. Misalnya latar belakang beberapa kejadian, kesan saya pribadi, dan beberapa masalah. Setidaknya ini bisa memberi pemahaman atau semacam pembanding bila ada kegiatan yang sama. Baik di Mandar maupun di daerah lain.

    Buku ini mungkin buku terjelek yang pernah saya buat bila berkaitan den-gan penyuntingan ejaan atau kalimat. Ya, memang sengaja demikian untuk men-jaga semaksimal mungkin orisinalitas atau nuansa catatan harian yang saya buat. Banyak ejaan yang salah (mungkin banyak juga yang okkot: kurang g, kelebi-han g untuk beberapa kata), kalimat-kalimat yang tidak teratur, dan tidak kro-nologis. Ya, memang begitu bila membuat catatan harian. Setidaknya beginilah gaya saya. Yang lain bisa lebih baik; bisa lebih buruk (baca: malah tidak mem-buat sama sekali catatan lapangan).

    Harapan saya, dengan metode seperti ini, generasi muda Indonesia yang lain tidak takut, tidak khawatir untuk membuat catatan harian atau tulisan ilmiah. Maksud saya, untuk awal, pasti banyak salah-salah. Tapi itu bukan dalih utama un-tuk tidak menulis; tidak membuat catatan. Kekeliruan, ketidaklengkapan hal ma-nusiawi. Intinya, catat saja. Urusan diperbaiki nanti; urusan diterbitkan nanti, itu urusan belakangan. Sekali lagi, yang penting dicatat!

    v

  • Ada sedikit rasa sesal sebab saya tidak ikut ekspedisi gila tersebut sampai ke Je-pang. Bukan apa-apa, setahu saya, ini adalah ekspedisi pelayaran perahu yang berasal dari Nusantara menuju luar negeri paling gila dan paling lama. Rasa sesal sebab saya tidak bisa mendokumentasikan seluruh perjalanan ini dan ketika tiba di Jepang. Alasannya jelas, ini adalah ekspedisi terhebat yang pernah berlangsung Memang sih pelayaran tidak berlangsung sepanjang 2009 sampai 2011, tapi bagai-mana pun juga, total waktunya amat lama. Bisa sampai dua tahun. Jauh berbeda ekspedisi-ekspedisi sebelumnya; lainnya, misalnya Ekspedisi Perahu Borobudur dari Indonesia ke Afrika Barat, Ekspedisi Phinisi Nusantara Indonesia Kanada, dan ekspedisi yang menuju Jepang. Ekspedisi itu hanya hitungan bulan, yang ke Kanada 69 hari saja, yang ke Afrika kalau tidak salah dua bulan saja. Dan, semua ekspedisi itu menggunakan mesin dalam pelayaran dan perahunya berukuran be-sar. Lalu bagaimana ekspedisi The Sea Great Journey?

    Ekspedisi ini sama sekali tak menggunakan mesin, tak pernah ditarik mesin. Kasarnya, mulai penebangan kayu hingga tiba di Jepang tak pernah disentuh me-sin. Baik yang bertujuan mempercepat pembuatan maupun tibanya. Hebatnya lagi, kedua perahu tersebut amat kecil. Hanya sebatang kayu bulat yang digali ten-gahnya. Khusus pakur, ada tambahan dua lembar papan, sedang Jomon tak ada sama sekali.

    Walau ada sesal, saya bahagia bisa terlibat banyak dalam ekspedisi ini dan bisa mencicipi pelayarannya, walau itu sebulan saja, dari Nunukan sampai Sandakan. Walau hanya sebagian kecil dari total pelayaran, tapi ini (catatan ini) adalah harta pelayaran yang bisa dipersembahkan ke masyarakat Indonesia. Mengapa? Sebab hanya saya (warga Indonesia) yang menuliskannya, orang Indonesia lain yang terlibat dalam pelayaran tidak (belum).

    Sengaja dalam tulisan ini tak ada foto-foto. Nanti ada buku khusus yang isinya foto-foto saja. Sengaja saya buat demikian sebab bila buku ini dicampur teks dan foto, foto yang bisa masuk tidak akan banyak. Padahal, ekspedisi ini, sejak persia-pan hingga pelayarannya (khususnya yang saya ikuti) memiliki banyak dokumen-tasi yang saya anggap penting sebagai pengaya khazanah dokumentasi ilmu penge-tahuan, khususnya di bidang kemaritiman.

    vi

  • Sudah pasti saya berterima kasih kepada semua pihak sehingga saya bisa terli-bat dalam Ekspedisi The Sea Great Journey Mandar Japan; sehingga naskah ini bisa terwujud. Akan panjang pengantar ini bila saya sebut satu-satu. Tapi nama-nama mereka ada di dalam buku ini. Dedikasi khusus saya persembahkan kepada Bapak Zainuddin, almarhum. Beliau hilang di lautan sebelum perahu yang beliau nakhodai tiba di Jepang. Tapi beliau wafatnya tidak dalam perjalanan, melainkan di laut Indonesia, Teluk Mandar. Kala pergi menangkap ikan. Kesan khusus ten-tang dirinya ada di dalam salah satu lampiran tulisan ini (In Memoriam Zainud-din, Pelaut Mandar Nakhoda Ekspedisi Mandar Japan)

    Kepada keluarga saya, ibu, bapak dan saudara-saudara. Dukungannya mewa-jibkan saya menyampaikan terima kasih. Demikian juga istri saya, Hadijah Nurun dan putra kami, Muhammad Nabigh Panritasagara. Walaupun saya belum ber-samanya dan putra kami belum lahir sewaktu saya menjalani proyek The Sea Great Journey, keterlibatannya dalam proses penyelesaian naskah amat penting. Dan kepada istri dan anakku, buku ini saya persembahkan.

    Mandar, November 2011

    Penulis

    vii

  • B A G I A N 1

    Catatan Pelayaran

    Pakur dan Jomon Tiba di Tarakan (02/06/09)

    Dermaga Lanal Tarakan. Kecepatan angin rata-rata 13 km/jam. Angin da-tang dari selatan. Mudah-mudahan keberuntungan bagi dua perahu bercadik yang 50 hari lalu meninggalkan Teluk Mandar berlayar ke utara, ke arah Malay-sia. Dari tempat saya berdiri, di atas dermaga kayu yang memanjang dari garis pantai lebih 100 meter, Pakur dan Jomon belum terlihat. Namun bila berdasar ka-bar dari perahu, sejam lalu mereka telah meninggalkan Tanjung Batu (ujung sela-tan P. Tarakan), menuju ke utara, kota Tarakan. Mungkin lekuk teluk dan bangu-nan yang banyak di pesisir membuat keduanya tak terlihat.

    Matahari sangat menyengat. Untung saya mengenakan baju tipis, sirkulasi udara berjalan baik, tapi karena lengan pendek, terasa kulit lengan dan tengkuk mulai terpapar. Sepertinya nanti malam kulit akan pedih-panas. Tidak apa-apa, wajar sebagai awal. Paling-paling beberapa hari kemudian kulit legam, tebal, ber-minyak, dan normal. Bila tak kena panas lagi beberapa hari, kulit seperti mele-puh, laksana ular yang berganti kulit. Jeleknya bukan main, seperti penyakit kulit. Belum lagi bila kejadiannya di wajah. Tidak apa-apa, sudah biasa. Namanya juga kalau lama di laut. Pasti hitam.

    Pukul 11.30, salah satu perahu mulai terlihat jelas. Itu Pakur. Bentuk layarnya segiempat. Disebut layar tanjaq, sedang Jomon segitiga, ujung layarnya yang mengecil tertahan di haluan (untuk membedakan layar segitiga pada sandeq yang bagian mengecilnya di bagian atas). Layar jenis ini disebut lete.

    8

  • Kecepatan angin tak begitu baik, hanya 1 knot. Artinya, untuk jarak 1 km bu-tuh waktu sampai dua jam. Belum kalau arus mengganggu atau anginnya dari arah berlawanan. Untung Pakur dan Jomon membawa dayung panjang, gayung bahasa Mandarnya, jadi bisa menggerakan perahu meski angin tak begitu menghembus. Cara mendayungnya seperti budak-budak di kapal perang, prajurit Viking di atas armadanya.

    Menjelang pukul 13.00, Pakur mulai tampak jelas. Postur tubuh orang yang ada diatas sudah bisa dikenali, bahwa itu si anu, itu si anu. Di dekat pelabuhan Ta-rakan, layar tanjaq-nya digulung. Tak berfungsi di kondisi angin yang tak bisa mendorong. Lebih baik andalkan dayung. Perlahan Pakur semakin mendekat. Agar tak terlalu kepanasan, awak-awak di atas menggunakan kayang sebagai atap mobile. Dua orang Jepang yang ada di atas, Jiro dan Yohei kulitnya sudah tak menampakkan bahwa kulit aslinya putih. Coklat, legam. Khususnya Jiro. Seperti lelaki Amerika Latin, sebab wajahnya tetap berbeda dengan wajah orang Mandar. Sedang empat pelaut Mandar tak ada perubahan, memang kulit dari sono-nya me-mang coklat.

    Gusman, nakhoda Pakur, nampak sehat. Sedikit gemuk. Demikian juga Irsan yang hanya mengenakan kolor. Perutnya tampak lebih kembung, rambutnya se-dikit panjang. Kulitnya coklat seperti kayu yang dilumuri minyak. Menyilaukan. Abdul Latif dan Jabir Yongnye biasa saja. Syukurlah, pelayar-pelayar yang diper-caya menjadi motor utama The Sea Great Journey baik-baik saja.

    Perlahan Pakur memasuki area antara jembatan dermaga dengan pemukiman penduduk. Pakur menuju pantai yang dasarnya lumpur. Saat Pakur melaju den-gan dayung, saya mengiringinya di atas jembatan dermaga. Rasanya, kecepatan jalan saya lebih laju dari pada pakur. Ya, begitulah, seperti kura-kura. Karena air surut, Pakur tak bisa mencapai pantai. Pakur pun berhenti. Awak di atas Pakur dan saya saling menanyakan kabar. Mereka tampak kelelahan tapi tetap ceria.

    Beberapa jam kemudian, menjelang jam empat sore, Jomon tiba. Ukuran pan-jangnya lebih kecil dua meter dari Pakur. Jomon tampak lebih gempal. Tinggi dan lebar lambungnya beberapa cm lebih besar dari Pakur.

    9

  • Jomon terus menggunakan layar sampai tiba di sisi dermaga. Saat tiba, awak di atas langsung menggulung layarnya. Saya sedikit kaget dan tertawa, dua orang Je-pang di atas Jomon, Prof. Sekino dan Junichiro, hanya mengenakan celana pen-dek. Kulitnya juga legam. Perut Prof. Sekino tampak kempis. Dia bugar. Danial dan Zainuddin tetap mengenakan baju. Bila dilihat sekilas atau bagi orang yang tidak tahu siapa saja yang ada di atas Jomon, yang pelaut adalah orang Je-pangnya, sedang pelautnya adalah penumpang. Lucu kan? Syukurlah semuanya sehat-sehat saja.

    Posisi Jomon dari Pakur agak jauh, sebab Jomon masuk area dermaga di saat air sangat surut. Saat surut sudah mencapai puncak, keduanya seperti terjebak lumpur. Demikian juga speedboat yang ada banyak di sekitar Jomon dan Pakur. Ya, dasar perairan sudah terlihat jelas. Tak ada lagi genangan. Semua lumpur, dan sampah.

    Awak di atas menunda diri untuk naik ke dermaga. Susah untuk lewat. Untuk turun pun berpikir beberapa kali. Lumpur pasti membuat kotor. Demikian juga saya yang ada di dermaga. Alasan lain, dermaga tinggi sekali, hampir 3 meter. Naik-turunnya susah.

    Ya, begitulah. Akhirnya Pakur dan Jomon berhasil tiba di Tarakan. Esok akan melanjutkan perjalanan menuju Nunukan.

    Meninggalkan Tarakan (03/06/09)

    Gerimis. Awan mendung pekat. Kecepatan angin sekitar 4 knot dari barat. Pa-kur dan Jomon berlabuh kira-kira 100 meter dari Dermaga Lanal. Semalam dua perahu itu dipindahkan dari tempat "berlabuh dan mendarat-nya" (karena saat tiba air pasang, beberapa lama kemudian air surut, perahu seperti duduk di atas lumpur) di belakang Lanal Tarakan. Sekitar jam 1 malam air mulai pasang. Di saat lambung perahu lepas dari dekap lumpur, perahu dibawa ke tempat lebih da-lam sebelum air surut lagi.

    Rencana jam tujuh nanti Pakur dan Jomon memulai pelayaran, menyusuri pe-sisir utara P. Tarakan (memutar). Tapi karena sekarang hujan menuju deras, ren-cana pemberangkatan kemungkinan ditunda. Bila hujan deras, kembangan layar yang terbuat dari serat alam daun lanu tidak sempurna. Kuyup. Layar pun cepat

    10

  • rusak bila selalu basah dan proses pengeringannya tidak sempurna (lapuk, mem-busuk).

    Sekarang saya berada di kapal motor (dalam bahasa Mandar disebut kappa-kappal atau bodi-bodi) "Baitul Hamdi". Merupakan kapal pengiring Pakur dan Jo-mon. Kapal ini membawa sebagian besar logistik tim, dua kameraman dari Je-pang, dan koordinator pelayaran (saya dan Azis Salam) bila tidak sedang berada di Pakur dan Jomon. Kapal ini disewa mulai dari Mandar sampai perbatasan Indo-nesia - Malaysia, kemungkinan sampai Nunukan. Panjangnya sekitar 12 meter, bagian terlebar sekitar 2 meter.

    Baitul Hamdi berlabuh di ujung dermaga, di samping kapal tanker kecil yang kemarin ditangkap aparat keamanan. Nakhodanya ternyata orang Mandar (Cam-palagian) dan seorang awaknya juga orang Mandar, lainnya orang Bugis dan Ban-jar. Kapalnya karatan, bila tak hati-hati bisa mengiris tangan, misalnya di saat akan naik Baitul Hamdi. Baitul Hamdi diawaki lima orang pelaut, semua dari Karama, Tinambung. Masih muda-muda, hanya nakhodanya yang tua, belum sampai 40 tahun. Setelah tiba di Nunukan, selesai pemindahan barang ke kapal pengantar dari Malaysia, Baitul Hamdi akan kembali ke Mandar.Hujan masih tu-run. Awak di atas Pakur dan Jomon memasang tenda agar mereka bisa memasak dan makan.

    Sekitar pukul 08.30 WITA, Pakur dan Jomon angkat sauh. Mereka melanjut-kan pelayaran. Walau masih gerimis, mereka tetap berangkat. Lebih baik mengam-bil resiko basah daripada dikena arus ketika terjadi perubahan tinggi permukaan air. Mereka menuju barat daya. Di saat tiba di ujung utara P. Tarakan, mereka akan memutar haluan ke arah timur untuk selanjutnya menuju P. Bunyu untuk kemudian berlabuh. Dari P. Bunyu mereka tembak Nunukan. Demikian ren-cana pelayaran. Setidaknya dari hasil pembicaraan semalam. Realitas di lapangan mungkin berubah. Lihat situasi dan kondisi dulu. Tapi sedapat mungkin tidak ber-labuh di perairan utara Pulau Tarakan. Ada banyak perampok di sana, yaitu perampok yang menunggu petambak selesai panen. Kedengaran lucu perampok udang, kampungan. Ya, mereka merampok udang yang baru selesai dipanen. Me-ski kedengaran kampungan, keuntungannya jauh menggiurkan daripada kawanan Kapak Merah di Jakarta.

    11

  • Menuju Bunyu

    Sekarang pukul 14.00, Jomon dan Pakur berada di antara P. Tarakan dengan Pulau Bunyu. Tapi P. Bunyu masih beberapa mil, Tarakan kurang sekilo dr sini. Sekitar 13 mil jarak dari Lanal ke posisi Jomon dan Pakur sekarang. Kurang lebih lima jam untuk menempuh jarak itu, hari ini. Kecepatan angin lemah. Layar me-mang berkembang, tapi tak seberapa daya dorongnya.Awak Jomon ada yang men-dayung, Pakur santai-santai. Mungkin capek mendayung. Kemudinya dijaga Jun-san. Didampingi Gusman yang mengenakan kaos Sandeq Race-nya, warna biru. Irsan Tari duduk di "teras" perahu, memandang ke laut, entah apa yang dipikirkannya.

    Jomon dan Pakur berjarak 500 meter, pakur di depan.Awal pelayaran Pakur menggunakan layar tanjaq, di Bakenkeng (Mamuju) diganti dengan layar lete. Di-ganti dengan beberapa alasan, selain karena robek dihantam angin barat, juga ter-lalu besar. Karena besar, lajunya cepat. Selalu meninggalkan Jomon. Kecepatan angin sekarang tak menentu. Sesekali rata-rata 4 km/jam, pernah sampai 10-15 km/jam. Pakur dan Jomon melaju perlahan tapi pasti. Malam ini, jam 7 lewat 15 menit.

    Awak-awak di atas Pakur bermain-main dengan ikan. Memasang lampu di atas cadik, lalu salah seorang memegang keranjang. Satu dua ekor ikan melompat. Hup! Setiap ada ikan yang masuk, mereka tertawa. Beginilah situasi malam ini, be-berapa ratus meter dari Pulau Tarakan.Arus air sangat kencang. Itu tampak dari turbulensi di buritan katir (palatto).

    Angin tidak sepoi, tidak juga terlalu kencang. Bulan tak terlihat. Dihalangi awan. Yang tampak di angkasa seperti isi buah kapuk yang kotor. Bintang tak ada. Bila situasi seperti ini yang terjadi ketika berlayar, parameter untuk menentukan arah haluan adalah arus, angin, dan tanda-tanda di darat. Misalnya lampu-lampu di perkampungan. Idealnya kampung atau kota tersebut diketahui. Ada empat or-ang malam ini yang di dekat atau pas di kepalanya terdapat senter penerang. Di atas Pakur, Yohei, sedang mencatat. Saya tidak tahu tentang apa sebab menggu-nakan huruf kanji. Kedua, Abdul Latif. Kelihatannya juga seperti mencatat tapi sebenarnya isi TTS. Sedang di Jomon, Jiro yang juga membuat catatan dan bias-

    12

  • anya juga ada sketsa-sketsa, dan Prof. Sekino. Dia menggunakan komputer khusus yang keyboardnya bisa dilipat, layar monokrom beberapa inci. Fitur sepertinya hanya untuk mengetik saja, tapi kelihatan mahal. Menurut sawi-sawi, setiap ma-lam Prof. Sekino begitu. Misalnya dia membuat catatan setiap malam sekitar 2-3 halaman selama 3 bulan, itu sudah jadi buku. Jadi sebenarnya yang dibutuhkan untuk bisa melahirkan buku adalah ketelatenan! Teknologi urusan belakangan.

    Chill Factor (04/06/09)

    Sekitar jam 5 subuh, Pakur dan Jomon berlayar beriringan menuju arah 20 derajat (utara). Kecepatan angin berkisar 6-9 km/jam, chill factor sampai 28 dera-jat celcius. Bandingkan dengan suhu badan saya yang 32 derajat celcius. Lama-lama, apalagi kalau kecepatan angin bertambah, chill factor-nya tambah berkurang. Jadi, chill factor adalah suhu yang dipengaruhi hembusan angin yang terpapar ke tubuh atau alat ukur (termometer).

    Permukaan laut tak bergelombang, di permukaan tampak jejak-jejak angin. An-gin tidak merata di semua tempat, itu terlihat dari tidak ratanya "kerutan" di atas permukaan.Bagang,ada banyak bagang di sini, sekitar 2 km dr P. Bunyu. Kon-struksi tidak sama dengan bagang-bagang pada umumnya yang hanya terdiri dari satu "rumah", bentuk segiempat. Di sini bentuk memanjang, bisa sampai 50 me-ter. Lebar hanya 5 meter

    Tampak dari jauh, sepertinya tak ada alat pengangkat jaring. Mungkin jar-ingnya ditarik manual dengan tangan. Mungkin juga metodenya hampir sama dengan jermal, yaitu berada di daerah berarus untuk menjebak ikan. Kalau ba-gang lebih mengandalkan cahaya sebagai alat pemikat untuk kemudian menje-baknya dengan jaring yang muncul dari bawah. Ya, itulah kepintaran manusia di-banding ikan.

    Matahari menandakan kira-kira jam 7, kira-kira 30 derajat dari horizon. Meski bisa mencapai panas 34-35 derajat jika terpapar terus-menerus, panasnya nikmat, sehat. Beda bila paparannya terjadi di siang bolong. Membakar.

    Awak Pakur dan Jomon sibuk mendayung. Tapi Pakur lebih santai, mau tenaga penuh dilema sebab Jomon akan tertinggal. Agar tak tertinggal jauh, semua awak Jomon harus mendayung, punggawa juga demikian meski tidak

    13

  • seterusnya.Gagang dayung panjang yang digunakan, di bagian tengah telah aus. Sebab tergesek cincin rotan yang menahan gagang agar tetap berada di sisi perahu. Ya, laksana tuas. Dengan cara ini, mendayung berat bisa lebih ringan. Po-sisi tubuh membelakangi haluan. Sedang punggawa, bila mendayung, tetap menghadap ke depan, mendayung dengan cara biasa.

    Lumutan

    Sebelum bergabung dengan tim, terakhir saya melihat Pakur dan Jomon di hari kedua pelayarannya, 14 April 2009, di Luwaor, Majene, tempat pembuatan-nya. Lalu kembali bertemu pada 2 Juni di Tarakan. Bagian atas perahu tidak ada perubahan mendasar, kecuali warna beberapa bagian yang pudar, misalnya layar karoro yang tak lagi terlalu coklat kekuningan.Yang tampak kontras ialah bagian bawah lambung perahu, lumutan! Kentara bila perahunya tak pernah digosok.

    Menurut pelaut Mandar yang ikut, yang sejatinya sering merawat perahu, lu-mut mulai banyak tumbuh ketika berada di pesisir Kalimantan. Ya, perairan di wi-layah tersebut bercampur dengan air muara. Air kehijauan, subur. Airnya juga tak sedalam Selat Makassar. Pesisir Kalimantan, khususnya yang dilalui ekspedisi lak-sana sarang muara sungai. Lumut cepat tumbuh. Keruh tidak hanya disebabkan sedimen alami, tapi juga sedimen yang diakibatkan eksploitasi alam di P. Kaliman-tan, baik penebangan hutan maupun penambangan batubara.

    Pelaut tak punya kesempatan mengeringkan untuk kemudian menggosok lam-bung dan palatto yang berlumut. Tiap hari berlayar, berangkat jam 5 subuh, berla-buh menjelang Maghrib. Direncanakan, perawatan dan perbaikan signifikan akan dilakukan di Nunukan, sebelum masuk wilayah Filipina.Untung lambung dilapisi kapur yang tebal, meski tak ada tambahan anti fouling, teritip tidak gampang menerobos.

    Kecepatan mendayung

    Lima orang mendayung, angin berhembus tidak sampai 5 km/jam, kecepatan pakur sekitar 3 km/jam. Mendayung dengan cara menyamping, dengan ga-gang panjang, dan bagian tengah gagang tertahan di sisi perahu sedikit repot. Kaki telentang lurus. Rasanya tidak ergonomis dibanding bila bengkok. Tapi lama kelamaan akan terbiasa. Otot yang bekerja keras otot pinggang, lengan atas. Agar

    14

  • tak besar sebelah, harus ganti-ganti kiri-kanan perahu. Bisa dalam satu hari, bisa juga beberapa kali dalam sehari. Bebas koq.

    Sekarang, menjelang 10 menit jam 11, ada enam atap kayang terpasang. Sejuk, segar, sirkulasi udara berjalan sempurna. Perahu tidak terlalu goyang. Gusman tetap menjaga kemudi, Latif memasak, Jabir memejamkan mata, Irsan isi TTS. Apakah bisa jawab atau tidak? Entah sebab tangannya tidak memegang pulpen meski ada pulpen terselip di buku TTS-nya. Jun mengamati haluan dengan meng-gunakan teropong kecil, Yohei memotret. Sebelumnya dia mempelajari peta sela-tan Filipina dari sebuah buku tentang orang Sama di Filipina. Buku ditulis Osamu Monden, kurang lebih 20 tahun lalu. Saya pernah membantu risetnya tentang or-ang Kajang dan penangkapan ikan dengan menggunakan bom dan bius. Sekarang dia sudah tua.

    Main halma

    Irsan bertarung dengan Latif. Senjatanya potongan-potongan kayu kecil, seuku-ran lebar-panjang kuku. Arenanya balik pintu palka yang dibuat garis silang-menyilang. Main halma. Serius bukan main. Latif bertelanjang dada, badan kekar, hitam legam. Irsan pakai kaos lengan panjang putih. Baju dari caleg. Bagian bawah di belakangnya tersingkap ke atas. Lilitan jimat tampak di pung-gungnya, di atas celana dalam bermerk Bontex. Dulu waktu tamat SD saya pakai celana dalam merek yang sama. Mengenakan celana ketat selama di laut, kalau bagi saya, kurang oke. Repot bila mau buang air. Belum lagi kalau lembab dan lama tak dicuci. Dan kalau lama dalam keadaan basah, bisa membuat lecet selang-kangan. Sekarang Jabir pegang kemudi, Gusman barusan sholat. Hanya dia dan Irsan yang sholat diantara kru. Biasanya memang begitu, pelaut (dan nelayan) ti-dak kuat praktek agama yang wajib.

    Gusman sesekali mengecek haluan yang dituju. Katanya, di sana ada ombak pecah. Ada tanjung. Harus hati-hati, jangan sampai kandas. Sambil itu, dia juga cek kedalaman laut. Caranya: menurunkan ke dalam laut tali monofilament yang diujungnya ada pemberat. Lalu dia tarik naik sekaligus mengukur dengan menggu-nakan depa (antar ujung tapak tangan kanan dengan tangan kiri).

    15

  • Ikan berlompatan. Lewat tengah hari. Seperti semalam, di sekitar perahu ikan-ikan tembang berlompatan. Satu dua ekor sampai ke atas perahu, tapi kembali ke laut sebab lantai di sisi kiri kanan perahu hanya berupa jalinan belah bambu. Di ember hanya ada satu ekor. Tembang biasa disebut sarden. Tadi ada "angkot" Ta-rakan Nunukan yang lewat. Cepat sekali, pakai dua mesin "tempel". Haluannya terangkat, buritan di bawah, meninggalkan jejak ombak yang membuat Pakur dan Jomon yang hanya berjarak 20 meter dari jalurnya turun naik beberapa saat, seperti dihantam ombak.

    Di bawah perahu masih terdengar bunyi sarden yang menabrak lambung. Membayangkan bagaimana sakitnya. Hanya bisa mendengar, mau tangkap bagai-mana. Lompatannya cepat sekali. Baik di Pakur maupun di Jomon ada yang siap-kan ember. Siapa tau ikannya nyasar masuk ke ember. Meski setiap hari ada di laut, beberapa hari belakangan hanya makan ikan asin, nasi dan mi instan. Makanya bersemangat sekali mau dapat ikan besar. Tapi karena pelaut yang ikut ini spesialisasi air dalam, mereka tidak bawa alat tangkap untuk air dangkal, semisal jaring atau pukat. Buat apa juga, sebab memberati perahu.

    Waktu di Donggala (Sulawesi Tengah) Pakur dan Jomon banjir ikan. Pelaut-pelaut Mandar yang melaut di sana banyak menyumbang ikan. Sisanya dijemur. Itulah yang dimakan sampai saat ini. Si Latif masih bertahan dengan ember di tangan. Berharap ada ikan melombat. Tetap tak ada. Yang lain berbaring, yaitu Yohei dan Irsan. Gusman tidur di dalam lambung perahu. Kalau di perahu nelayan yang asli, tempat paling tidak enak adalah di da-lam lambung. Biasanya ikan juga disimpan di dalam. Untung perahu ini bukan un-tuk tangkap ikan, jadi tidak perlu tidur ditemani ikan kering yang masih basah.

    Rembulan

    Lagi dua atau tiga malam lagi purnama, tapi rembulan telah memperlihatkan keindahannya. Bintang-bintang terlihat jelas, memudahkan belajar navigasi dari para pelaut. Malam ini kami melanjutkan pelayaran, meski malam, menuju Nunu-kan. Angin baik hembusannya tapi tidak kencang. Pandara' atau pendaran cahaya dari pemukiman menjadi tanda utama untuk menentukan haluan, bukan bintang, bukan bulan. Tadi sore, sekitar jam tiga sore bulan telah terlihat. Ya, meski siang,

    16

  • bulan juga biasa nampak. Bagi yang ahli, bisa tahu jam berapa bulan mulai mun-cul di kala siang, jam berapa tenggelam di kala malam. Itu berguna untuk menen-tukan saat pasang-surut.Terangnya cahaya bulan juga salah satu faktor yang mem-buat Jomon dan Pakur tetap berlayar malam. Sangat terang, horizon terlihat jelas.

    Buang air

    Buang air di kapal atau perahu tidak lagi "water closed" (WC), sebaliknya "open water", di perairan terbuka, di suasana yang betul buka-bukaan. Tak ada sekat di sekeliling. Buang air di perahu bercadik, untuk kecil, gampang, tinggal "arahkan". Air besar sedikit susah, secara naluriah akan cari tempat tersembunyi. Ada banyak tempat, tergantung arah angin dan pandangan awak yang lain. Bias-anya pilihan awal adalah cadik. Tinggal jongkok. Tapi terlalu kentara. Alternatif-nya, di atas katir. Untuk cebok pun tinggal turunkan pantat. Kalau di atas katir ha-rus pakai timba. Timba di atas pakur ada tambahan kayu, jadi panjang ga-gangnya.

    Tadi saya buang air di cadik haluan sisi kiri. Tersembunyi sebab layar pas me-motong atau menjadi semacam tirai antara saya dengan tempat kumpul awak. Me-mang bunyi kedengaran, tapi tersamar bunyi hentakan katir di permukaan laut. Tenang, tidak ada rona di wajah.

    Apakah pakai sabun? Tidak! Selesai cebok, tangan digosokkan saja ke kayu. Beres!.Ya begitulah. Di atas perahu rasa jijik harus dibuang. Mau super bersih mus-tahil. Orang Jepang juga telah terbiasa. Sampai saat ini tidak ada yang sakit perut. Saya sedikit yakin, di laut itu tak ada penyakit (kecuali gatal-gatal karena lama ti-dak mandi). Mungkin dibawa hembusan angin ke darat. Entah kenapa ada mitos orang Jawa bahwa sumber kejahatan adalah laut. Koq bisa sampai berpikir be-gitu? Mungkin mereka tidak pernah melaut.

    Angin kencang (05/06/09)

    Jumat, jam 10 pagi. Tadi malam angin bertiup kuat. Campur hujan. Kami ha-rus berlabuh, padahal Nunukan tinggal 25 km. Tenda terpal plastik dipasang, per-sis sedang berkemah. Kayang menjadi alas agar tak basah oleh air laut yang ter-percik dari bawah "teras" perahu. Salah seorang sawi, Irsan, memanfaatkan hu-jan. Dia mandi dan mencuci celana dalam Bontex-nya. Kulit dan lemaknya tebal.

    17

  • Dia tak kedinginan. Bandingkan dengan saya yang mengenakan baju sintetik dan jaket anti air. Kepalaku juga dibungkus tutup kepala khusus agar tak kedinginan oleh hembusan angin. Sawi yang lain hanya mengenakan baju kaos, kecuali Gusman sang nakhoda yang juga mengenakan jaket sama seperti saya. Jun dan Yo-hei juga mengenakan jaket. Sayangnya saya tidak membawa pasangan jaket saya, yaitu celana panjang, jadi perut ke bawah tetap dingin. Tapi tak apa, yang penting kepala hangat. Masih aman untuk suhu di kisaran 25 derajat celcius.

    Agar tak terlalu dingin, saya menjadikan plastik terpal sebagai sarung. Luma-yan. Hangat. Tidur saya nyenyak, hanya sesekali terbangun untuk memperbaiki "sarung" terpal.Menjelang subuh, angin masih kencang, ombak tambah besar. Se-sekali air laut naik ke atas perahu. Saya masih bertahan dengan jaket, Irsan lak-sana badak. Hanya mengenakan kolor.

    Hari ini tetap berlabuh, Jomon tak berdaya pada situasi seperti ini: arus kuat, angin dari haluan. Kalau dipaksakan berlayar, dia lari ke samping. Bahasa Mandar-nya: pere.

    Sampai jam 10 pagi, masih di sini. Perahu memang pindah, tapi terbawa arus padahal jangkar tetap mencakar di dasar perairan. Kedalaman di perairan sini kira-kira lima depa, sekitar delapan meter.Sambil menunggu pemberangkatan atau untuk mengisi luang, sawi-sawi main halma. Jun baca majalah, Yohei mem-buat catatan. Saya sendiri isi TTS, aktivitas yang jarang saya lakukan. Mungkin karena tidak ada alternatif lain untuk mengisi waktu. Untung sampul TTS-nya hanya terpampang wajah gadis, kalau tubuh juga dipasang (biasanya ada TTS seperti itu), bisa membuat pusing. Khususnya pelaut. Dalam beberapa pembi-caraan, mereka bercanda bertema perempuan.

    Makanan

    Sejam lagi matahari tepat ada di atas ubun-ubun. Barusan Yohei menghidang-kan irisan-irisan semangka. Ah segar! Sejak dari Tarakan, barusan makan maka-nan segar. Sebelumnya hanya makan nasi, mie yang hanya disiram air panas, dan ikan asin. Saya tanya ke pelaut kenapa orang Jepang tidak beli sayur-sayuran. Dulu sering beli tapi mubazir sebab akan busuk karena lama tidak diolah, jawab Irsan. Ya, tidak ada kulkas di perahu.

    18

  • Kemarin ikan asin khas Mandar "toppa" diolah dengan cantik oleh Irsan: toppa diiris-iris, digoreng bersama santan yang dicampur pammaissang dan kunyit. Orang Mandar suka, orang Jepang juga.

    Air tawar disimpan didalam jerigen (yang telah mulai berlumut)). Itu air galon yang dibeli didarat. Air baru dimasak kalau bila akan buat air panas. Pelaut suka kopi susu. Orang Jepang Coffemix. Saya juga, sesekali kopi pahit.

    Baik Pakur ataupun Jomon membawa satu tungku masak. Tungku masak Pa-kur terletak di buritan, tepat di depan tempat juru mudi sedang Jomon ada di ha-luan. Jomon lebih pendek, tak banyak tempat luang untuk barang. Air panas di-masak dengan menggunakan cerek. Jika ada sisa, disimpan di dalam termos yang diikat agar tak tumbang.

    Di perahu beda dengan darat. Untuk mencuci alat makan minum di sini san-gat simpel: ambil saja air laut, bilas, bila sudah tak ada lengket sisa makanan, beres. Langsung disimpan di keranjang rotan (saya biasa membuangnya saja, tak perlu diatur posisinya). Tak ada sabun, tak ada bilasan air tawar. Yang radikal, masukkan saja ke dalam air laut, goyang-goyang, selesai. Bila mau minum air ta-war, remas-remas saja alat pompa, air pun keluar dari pipa dari dalam jerigen.

    Suasana di atas pakur

    Pakur perahu bercadik yang panjangnya sekitar 9 meter. Lebar, termasuk teras sekitar 4m. Bila memasukkan cadik dan katir, bisa sampai 8m ke samping. Buritan tempat mengemudi. Kemudi dipasang di sisi kanan buritan, di celah sanggar ke-mudi atau sanggilang. Di sisi kiri terdapat lepa-lepa. Lepa-lepa jarang digunakan, jadi difungsikan saja sebagai "lemari". Tapi lemari mengarah ke atas, tak ada pintu. Didalamnya ada banyak barang, umumnya alat masak, alat makan, dan bumbu-bumbu yang terdapat dalam boks plastik transparan.

    Maju sedikit ke tengah perahu, di teras sisi kanan terdapat tungku, didekatnya kayu bakar yang ditutupi terpal, agar tak basah. Di sekitar pintu palka buritan ter-dapat jerigen air tawar dan termos. Maju lagi, di tengah, ada sekoci. Dibungkus terpal dan kayang. Dilihat dari luar, mungkin orang tak pikir bahwa benda itulah alat keselamatan utama tim The Sea Great Journey. Harganya lebih sepuluh juta.

    19

  • Setelah itu, pintu palka tengah. Disisi-sisinya diletakkan kayang. Bila panas, kay-ang dibuka, dipasang di atas bambu yang memanjang dari tiang layar ke arah buri-tan. Bambu yang juga menjadi tempat jemuran. Kemudian di haluan, hanya ada tali dan jangkar untuk berlabuh. Ada tiga batang bambu yang berjarak semeter dari palka. Selain bambu tempat gulungan layar (bila tak digunakan), yang lain tumpuan bila kayang atau tenda dipasang, tentunya juga sarung atau baju yang dijemur. Agar tak terbang, jemuran tidak dibuka, tapi dililit membentuk semacam simpul. Jadi kelihatannya tidak seperti dijemur, melainkan bambu yang dililiti kain. Lama-lama kering juga.

    Berkat Blackberry

    Saya membuat catatan ini, setidaknya tulisan yang ini, menggunakan gadget Blackberry Curve 8310. Sengaja saya beli sebelum bergabung dengan ekspedisi agar saya bisa membuat catatan lebih bebas, mobile, bila dibandingkan alat ketik digital lain (laptop atau netbook). Saya tidak perlu landasan atau tempat luas, cu-kup tempat duduk. Saya memilih BB (panggilan Blackberry) sebab keyboard-nya telah QWERTY, sangat memudahkan untuk mengetik. Yang paling penting, saya bisa langsung mem-backup tulisan saya langsung ke alamat email, selama ada jar-ingan GPRS. Bagian mentah catatan-catatan ini (dan sesekali foto) saya kirim ke beberapa orang, dan ke Facebook saya.

    Mudah-mudahan selama berlayar, termasuk di Malaysia, Filipina, Taiwan dan Jepang alat ini tetap bisa digunakan untuk mem-backup tulisan saya ke dunia maya. Jika tidak bisa (tak bisa mengirim tulisan ke internet), kapasitas memori 1 GB sangat cukup bila hanya teks saja yang disimpan. Tinggal berharap saja alat ini tidak hilang atau rusak. Nah begitulah, menggabungkan teknologi dengan te-pat, efektif dalam kegiatan yang nasib tak menentu, khususnya di laut seperti sekarang. Hanya saja, tetap ada kekurangan, misalnya kekuatan baterei. Seperti semalam, saya tidak bisa membuat catatan karena telah lobet (lowbattery). Pada-hal, momentum sangat tepat untuk membuat catatan: datang badai tapi suasana di atas perahu tetap memungkinkan untuk membuat catatan, khususnya aktivitas awak menghadapi badai. Sebenarnya sih bukan badai besar, masih angin kece-patan 15 km/jam dan hujan deras.

    20

  • Jomon memang kuno

    Menurut pelaut Mandar yang ikut ekspedisi, Gusman, Jomon memiliki banyak hal tidak ideal tentang perahu. Menurut saya itu ada hikmah! Lambung Jomon gempal, pendek, berat, katirnya berat karena bambu yang retak terisi air. Daya apung tak maksimal. Membuat Jomon tak bisa berlayar cepat sebagaimana Pakur. Saya menduga, perahu kuno, yang awal-awal dibuat manusia adalah perahu jelek (untuk keadaan sekarang), lambat, tebal berat. Nah, ketika perahu itu jadi dan mereka layarkan, mereka (orang-orang dulu) menyadari kekurangan pada pera-hunya. Mereka pun, ketika membuat perahu berikut, membuat pembaharuan-pembaharuan; inovasi-inovasi yang bisa menutupi kekurangan perahu yang aw-alnya mereka buat.

    Kesimpulannya, mereka melakukan evolusi. Bandingkan dengan pakur, yang pasti desainnya berasal dari perbaikan-perbaikan perahu yang pernah dibuat di Mandar, jauh lebih cepat daripada Jomon. Koq bisa cepat, sebab para tukang perahu telah mengetahui bentuk perahu yang ideal: panjang, ramping, dan lunas yang menyempit. Tentu mereka bisa menyimpulkan sebab telah ada pembanding-pembanding dengan bentuk perahu sebelum pakur.Jadi, kekunoan Jomon seakan sempurna. Tidak hanya dari proses pembuatan dan penggunaan bahan yang menggunakan cara tradisional, bahan alami. Ini suatu berkah tak terduga!

    Beberapa ratus meter dari mulut selat yang mengantarai Pulau Nunukan den-gan Pulau Sebatik (pulau ini terbagi dua: milik Indonesia dan milik Malaysia), Pa-kur kembali membiarkan layar tak didorong angin. Jomon jauh tertinggal di be-lakang. Harus ditunggu sebelum memasuki selat, menuju Nunukan. Arah da-tangnya angin sangat tepat, arus juga demikian. Meski layar tak difungsikan, perahu tetap terdorong ke arah Nunukan.

    Perkiraan, tiba sekitar Magrib di Nunukan. Saat Jomon dekat dan Yohei telah konsultasi dengan Sekino dengan menggunakan radio komunikasi. Bila salah sa-tunya mengusulkan untuk berkomunikasi, salah satunya memberi kode berupa ki-basan kain (sarung, handuk, atau baju kaos). Nah yang lihat meng-on-kan radio-nya dan mulailah mereka komunikasi. Bila keadaan gelap, senter yang digunakan.

    21

  • Pakur bergerak perlahan melalui selat. Layar difungsikan, arus juga men-dorong. Rencana tempat berlabuh selama di Nunukan adalah dermaga Lanal Nunukan. Telah ada teman dari Mandar yang menunggu di sana. Dia membantu navigasi Pakur memasuki dermaga. Sekitar jam tujuh malam, hari Jumat, Pakur merapat di pasir Pantai (wisata) Enching, Nunukan.

    Tiba di Nunukan (5/6/2009)

    Gara-gara baju kaos, tak perlu proposal yang harus ditawarkan kemana-mana, bisa dihelat acara besar dan mengharukan untuk melepas pelayaran The Sea Great Journey di Nunukan. Koq bisa? Begini ceritanya.

    Beberapa pekan lalu, seorang perantau Mandar yang sukses di Nunukan da-tang ke Tinambung, ke kerabatnya. Tepatnya di usaha sablon punya Sdr. Thalib. Perantau ini melihat ada baju kaos bertuliskan The Great Journey Mandar Je-pang. Singkat cerita, Sdr. Thalib menceritakan prihal ekspedisi pelayaran tersebut. Sesaat kemudian, muncul ide untuk mengadakan acara penyambutan di Nunu-kan.

    Kebetulan saat itu saya dalam tahap persiapan untuk menyusul tim di Kaliman-tan Timur. Saya masih ada di Mandar. Thalib menyampaikan ide, saya menyam-but baik.

    Maka dipersiapkanlah acara penyambutan di Nunukan. Secara bersamaan saya melakukan perjalanan dari Tinambung Mamuju Balikpapan (via fery) Tarakan (via pesawat) Nunukan (via Pakur). Dalam perjalanan, terus dikoordina-sikan tentang posisi perahu ekspedisi (via hp). Setelah ditimbang-timbang, diperki-rakan tim akan merapat di Nunukan sebelum Minggu, 7 Juni 2009. Untuk itu, acara pelepasan direncanakan diadakan pada hari itu di Pantai Enching, pantai wisata di Nunukan yang keindahannya jauh dibawah Pantai Palippis kita di Man-dar.

    Awalnya kerukunan Mandar di Nunukan mengidekan acara penyambutan, tapi saya sampaikan itu sulit sebab jam merapat didarat tidak bisa ditebak tepat. Kalau terlambat masuk kan repot. Kalau undangan sudah pada datang tapi perahu belum datang-datang, pasti malu. Panitia menerima.

    22

  • Saat saya berada di Tarakan dan berlayar menuju Nunukan, saya terus dikabari teman-teman Mandar di Nunukan bahwa mereka sedang sibuk latihan. Akan ada sayang-sayang, pattu'du, macca', dan lain-lain. Begitu seriusnya persia-pan mereka, mereka harus mendatangkan langsung aktivis kesenian dari Tinam-bung untuk membantu acara, yaitu Sdr. Agung. Sekedar catatan, Sdr. Agung juga-lah yang membantu acara pembukaan PORDA I Sulawesi Barat beberapa waktu lalu.

    Alhamdulillah, Pakur dan Jomon tiba di Nunukan pada hari Jumat malam. Sangat pas! Saat tiba, kami disambut hangat orang-orang Mandar di sana. Sete-lah merapikan perahu, saya ikut teman-teman Mandar di Nunukan untuk mem-bantu persiapan acara. Sedang kru Mandar dan Jepang tetap tinggal diperahu.

    Saya dibawa menuju rumah sesepuh Mandar di Nunukan. Di sana banyak berkumpul orang Mandar yang sedang latihan. Saya disambut dengan hangat. Be-berapa di antaranya saya kenal, tetangga di Tinambung, teman berorganisasi (pra-muka), dan teman sewaktu kuliah (tapi beda kampus).

    Menjelang pelaksanaan, persiapan terus dimatangkan. Menjahit perhiasan pe-nari masih berlangsung menjelang acara dimulai.

    Pelepasan

    Sekitar jam 10 WITA, Minggu, 7 Juni 2009, dimulailah Acara Pelepasan The Sea Great Journey Mandar Jepang. Acara dihadiri Bupati Nunukan dan pejabat setempat. Sebelum acara dimulai, saya bertemu dengan bupati untuk memberi gambaran kegiatan. Di waktu yang sama, di lain tempat tapi masih di lokasi yang sama (Pantai Enching), orang Jepang dan pelaut Mandar sibuk mendorong pera-hunya ke bagian air yang dalam. Ya, supaya tidak terjebak surut (sehingga perahu tidak bisa bergerak). Untuk itu mereka basah, kaki becek, pakaian seadaannya.

    Saya yang berada di antara acara dan perahu menjadi dilema. Dalam arti, ini acara akan berlangsung tapi yang akan dilepas masih sibuk. Sedikit saya tertawa. Untung ada beberapa acara hiburan, jadi acara inti bisa diulur-ulur. Panitia terus menelponku agar segera meminta orang Jepang ke tempat acara. Saya iyakan saja. Kalau saya sampaikan ke orang Jepang, pasti mereka lebih mementingkan perahunya. Menjelang perahu terbebas, saya ke tempat acara. Tidak lama kemu-

    23

  • dian, dengan masih tetap menggunakan celana pendek yang masih basah, baju Sandeq Race oranye, dan tanpa alas kaki, saya memberi kata sambutan pertama di tengah lokasi acara. Ratusan pasang mata menyaksikan momen itu. Syukurlah, saat saya sedang berbicara, satu per satu orang Jepang dan orang Mandar yang melayarkan perahu datang. Untuk kemudian saya memperkenalkan mereka.

    Saat saya perkenalkan Prof. Sekino, dia pun menuju mic. Dia juga akan berbi-cara. Wah bagaimana nih, dia sedang makan kue tallo' panynyu. Tapi dia segera habisi. Karena makannya buru-buru, lapisan bubuk putih menghias bibirnya. Dia usap, tambah parah, wajahnya tambah koris dengan serbuk dari tallo'panynyu. Yang liat pasti tersenyum. Kelucuan diwajahnya melengkapi penampilannya yang juga bercelana pendek dan kaos putih yang kotor. Tapi dia (dan semua kru yang semuanya kotor) santai-santai saja. Yang hadir pasti mahfum dengan kondisi de-mikian.

    Berturut-turut acaranya diisi dengan sambutan dari bupati lalu hiburan. Hiburannya beragam, semua nuansa Mandar.Tentu ada juga makanan-makanan khas Mandar, termasuk Jepa.

    Ada ratusan orang yang hadir pada acara tersebut di atas. Mereka mengeru-muni dua perahu dari Mandar. Berfoto-foto didekatnya. Krunya seakan menjadi artis, khususnya orang Jepang. Banyak yang mengajaknya berfoto bersama. Saya sibuk diwawancarai, baik oleh Trans TV maupun media lokal di sana (Radar Ta-rakan). Lama baru suasana di pantai sepi.

    Menjelang sore, setelah semua dokumen ijin berlayar dikeluarkan syahbandar setempat, Jomon dan Pakur melanjutkan pelayaran, menuju Tawao, Malaysia.

    Melintas Perbatasan

    Berangkat 15.27 dari Nunukan. Sekarang melintasi Pelabuhan Tunontaka, pe-labuhan kecil tapi bisa digolongkan pelabuhan internasional sebab tiap hari men-jadi gerbang lalu lintas manusia dari-ke Indonesia Malaysia. Sepertinya saya ke-nal pelabuhan ini. Di mana ya? Oh iya, saat saya menulis tulisan tentang pembo-man ikan. Pelabuhan ini salah satu titik masuknya ke Indonesia pupuk Urea berkualitas bagus, titik masuk ke Malaysia hasil tangkapan dengan bom. Menurut pengolah ikan di Kampung Baru, Balikpapan, ikan kering biji nangka disukai

    24

  • orang Indonesia yang bekerja di perkebunan kelapa sawit Malaysia. Di dermaga-nya merapat satu Kapal Republik Indonesia bernomor lambung 873. Tidak ada namanya tertulis di lambung. Bisa saya tebak, kapal itu salah satu kapal yang ikut berperan dalam patroli di perairan blok Ambalat. Kan lagi panas-panasnya sekarang.

    Menjelang setengah jam lagi matahari terbenam, melintasi batas Indonesia Malaysia. Bagi saya, ini pengalaman pertama kali melintasi batas negara dengan rasa sadar. Itu terjadi di laut. Ya, saya memang pernah ke Jepang yang melintas be-berapa negara. Tapi pasti tidak tahu posisi perbatasannya. Agar momen itu ter-catat, saya minta Yohei untuk memotret saya berdiri di haluan Pakur yang perla-han memasuki wilayah Malaysia. Panasnya isu Blok Ambalat tak terasa di sini.

    Armada Pakur dan kapal pengantar dicek oleh patroli perbatasan, oleh Polis Malaysia. Menggunakan speedboat kecil, lambung biru tua, atas putih. Pakai atap. Kayaknya mereka sudah tahu bahwa tim ekspedisi akan lewat, jadi setelah men-dengar informasi lisan dari kru dari kapal pengantar, yang biasa lewat perbatasan, patroli menjauh, hanya melihat dari jauh. Mereka menunggu Jomon, yang jauh dari buritan Pakur.

    Tim Ekspedisi SGJ, bukan atas dasar adanya konflik perbatasan, tidak melin-tasi perairan Blok Ambalat, yang terletak di timur P. Sebatik. Saat ini, sekitar pu-kul 17.45, kami melintasi perairan di ujung barat P. Sebatik, Malaysia. Kami sen-gaja lewat sini sebab arah arus pasang yang terjadi di selat antara Nunukan dan Sebatik mengarah ke barat, jadi kami tidak terlalu repot mendayung. Lagian me-mang lebih dekat bila akan menuju Tawao bila datang dari Nunukan.

    Kurang 50 meter di sisi kanan Pakur hutan mangrove. Lebat. Suara burung mengiringi bunyi gesekan palatto (katir) dengan air, membelah permukaan laut yang warnanya mirip sungai dikampungku. Kehijauan. Burung berkicau memberi kedamaian. Kontras nuansa di sisi timur. Damai. Kusuka suasana saat ini. Indah. Tenang.

    Di atas pakur, di buritan. Awak ngobrol. Irsan memotong-notong sayur kang-kung. Di sisinya, antara tungku dan panci, api memberi panas beras dan air yang sebentar lagi menjalani nasib menjadi makan malam kami. Pemandangan khas hu-

    25

  • tan mangrove, jenis Rhizopora "akar yang mengangkat pohonnya". Susah melin-tasinya. Pakur perlahan melintasi selat kecil. Di sisi kiri pakur pulau kecil yang seperti hanya terdiri rimbunan mangrove. Entah apa nama pulau milik Malaysia itu.

    Jabir baru mengukur kedalaman. Kira-kira empat depa. Irsan selanjutnya men-giris bawang yang telah bertunas (sebab dibeli dua bulan lalu,di Mandar), Latif mengaduk isi panci, agar masaknya nasi merata.Tadi, sebelum berangkat, Pakur dan Jomon mendapat suplai masing-masing 1 karung (25kg) beras. Ada gambar lele, si Irsan selalu memuju beras itu "Ah, samelang". Kayaknya beras itu kualitas bagus. Soalnya Irsan pernah ke Malaysia. Jun dan Yohei memperhatikan haluan. Kira-kira akan berlabuh di mana untuk menunggu Jomon. Kami berjarak kira-kira 500 meter darinya. Mereka jauh di belakang Pakur.

    Bertemu Polis(i)

    Purnama menyambut Pakur dan Jomon di selat kecil pulau kecil Malaysia, di pesisir P. Sebatik. Awak-awak mendayung. Angin tenang, angin sepoi dari arah ha-luan. Mangrove tak jauh, membuat nyamuk bisa menjangkau kulit-kulit manusia di atas Pakur. Tapi itu tak membuat diriku, Irsan, Latif, dan Gusman untuk tidak membuka baju. Memang ada angin, tapi hangat suhunya. Saya heran, bila saya di darat, buka baju lama-lama membuat diriku langsung pilek. Di laut, itu tak ter-jadi. Terus mendayung.

    Halo rembulan menyentuh horizon pucuk-pucuk mangrove. Cantik. Jengkel se-bab tidak bisa mendokumentasikan dengan baik. Meski meningkatkan ISO, ha-silnya kurang baik sebab tempat saya berdiri memegang kamera terus bergoyang. Jadinya proses merekam imej dengan diafragma terbuka lama terganggu.

    Tumben Jomon berada di depan kami. Juga mendayung. Malam ini diputus-kan untuk menjangkau Tawao tanpa berlabuh sebelumnya. Tadi kami singgah di pos Polis Malaysia. Petugasnya ramah-ramah, santun. Kayaknya saya pertama kali mendengar logat Malaysia asli, langsung dari penuturnya. Saya tak bisa berlo-gat Melayu, tapi mengerti maksudnya. Salah seorang dari mereka hanya menge-nakan sarung. Markasnya bagus, di atas air. Ada ruang lapang. Perahu bisa langs-ung merapat di sisi terasnya. Pakur agak susah sebab ada cadik yang terlalu lebar.

    26

  • Selesai bercakap-cakap, kami melanjutkan pelayaran. Beberapa saat kemudian, melewati perahu yang sedang dimuati kelapa sawit. Ya, di perbukitan Sebatik me-mang banyak ditanami tanaman industri itu, khususnya di tanah-tanah Malaysia. Menurut teman saya di Nunukan, kalau mau melihat tanda perbatasan Indonesia dengan Malaysia di P. Sebatik, lihat saja ada tidaknya mana yang ada kebun sawit, mana yang tidak. Yang ada, itulah Malaysia.

    Rembulan begitu sempurna malam ini. Angin juga centil belaiannya. Nyamuk sesekali menggodaku.

    Mana Tawao?

    Sebab pelayaran ini diusahakan tidak menggunakan kompas, apalagi GPS, me-nentukan letak kota Tawao gampang-gampang susah. Kami hanya mengandalkan peta skala besar, sehingga tak detail. Nah, ketika kami beberapa mil dari Tawao, masih di pesisir barat P. Sebatik (dan pulau-pulau lain di timurnya, yang terletak di muara sungai), dari posisi kami ada beberapa pendaran cahaya di angkasa. Bila ada satu, bisa dipastikan itu Tawao. Tapi ada banyak. Tawao yang mana ya? Tapi bukan masalah besar sebab antar pendaran tidak terlalu jauh. Bila salah memilih, mengganti alternatif bukan masalah berarti. Semakin mendekat, sumber penda-ran semakin terlihat. Juga bayangan bukit.

    Tapi spekulasi tidak berlangsung begitu lama. Angin berhenti, arus juga de-mikian. Dipilih untuk berlabuh saja. Istirahat dipilih. Mendayung dihindari. Se-mua kru capek. Juga tidak ada alasan tepat untuk harus segera tiba. Beda saat ber-angkat, harus segera berangkat beberapa jam setelah surat ijin berlayar dari syah-bandar setempat ditandatangani.

    Berselimut daun

    Dari tempat berlabuh, Tawao telah kelihatan. Saya tidur berselimutkan daun pohon lanu yang dijahit-jahit. Itu satu-satunya pilihan. Untuk pinjam sarung dan jaket dari kru lain untuk saat sekarang tidak perlu. Barang-barang saya banyak berada di kapal yang kami sewa untuk membawa barang dari Nunukan ke Ta-wao. Membuatku harus kreatif agar tak kedinginan didera hembusan angin. Un-tuk kedua kalinya saya menggunakan kayang sebagai selimut.

    27

  • Kayang adalah jalinan daun lanu yang berbentuk segiempat panjang. Kira-kira dua meter lebih, lalu dilipat. Nah, benda bersahaja ini multifungsi, bisa sebagai atap (baik satu saja yg digunakan maupun disusun ke samping dengan menggu-nakan beberapa kayang), bisa sebagai selimut (tapi tidak seelastis selimut atau sa-rung lho!), pelindung tungku dari angin bila masak, dan sebagai tikar dikala bar-ing di atas geladak perahu. Kayang bahasa Mandarnya, "kajang" bahasa suku laut di Selat Malaka! Ada akar sejarah yang sama?

    Menjelang tiba

    Selasa, 9 Juni, saya bangun sekitar jam 6 waktu Malaysia timur. Masuk Indone-sia apa ya? Semua masih pada tidur. Hembusan angin sedikit menusuk. Saya ubah posisi kayang menjadi semacam benteng mengerucut ke arah angin. Lumayan ti-dak membuat suhu tubuhku turun. Satu per satu awak Pakur terbangun. Melihat angin lumayan hembusannya, diputuskan untuk segera berlayar menuju Tawao.

    Langit gelap berarak di atas perbukitan Malaysia. Sepertinya akan ada hujan. Latif membakar kayu dengan bantuan minyak tanah, memasak air. Tidak lama lagi akan ada hidangan kopi. Oh iya, saat memasuki wilayah Malaysia, secara oto-matis (tentunya bukan berdasar batas negara, tapi jangkauan antena operator tel-pon seluler), tulisan Telkomsel di monitor hp-ku berganti dengan DiGi. Disamp-ingnya ada simbol segitiga. Sekarang kena roaming. Menerima telpon ternyata ha-rus bayar juga, demikian juga SMS. Kalau perhatikan, menerima SMS harus bayar sekitar Rp 200, mengirim SMS sampai Rp 4500! Mahal!Di dekat Tawao, DiGi digantikan My Maxis. Tetap ada simbol segitiga. Biayanya tak jauh beda.

    Tadi malam, disaat saya tidur, Blackberry-ku menangkap signal yang bisa mem-buat fungsi internetan di BB-ku berfungi. Mungkin signal dari menara Telkomsel di Indonesia. Email dan pesan di Facebookku masuk. Tapi pagi ini tidak. Di sudut kanan atas masih tertulis GSM. DiGI yang lagi aktif. Pukul 06.46, telah ada hidan-gan kopi susu didekatku. Nikmat!

    Berlabuh

    Berlabuh di pelabuhan peti kemas, sekitar 9.30 pagi. Tadi kami ketemu dengan palata', benda hanyut di laut yang "bergerombol memanjang". Sengaja masuk ke tengahnya agar bisa memunguti benda-benda berguna, kayu, cangkir plastik.

    28

  • Awak-awak laksana anak kecil berebutan mainan yang berserakan. Kayu menjadi rebutan. Lumayan untuk kayu bakar. Hampir semua awak memindai (scanning) sampah, mencari-cari sampah yang berharga. Sesekali saya melihat kondom yang hanyut. Awak tertawa-tawa bila melihatnya.

    Banyak kayu basah teronggok di teras perahu. Latif memotong-motongnya. Saya menjemurnya. Polis yang melihat polah kami tersenyum. Entah apa yang ada di benak mereka melihat prilaku tetangganya, dan saudara jauhnya.

    Mendekati pesisir Tawao, sesekali kami mendayung. Di pesisir, semuanya ban-gunan. Ada yang baru direklamasi. Kami mencari-cari kapal yacht. Menurut agen yang mengurus dokumen imigrasi kami di Malaysia, nanti berlabuh di samping ka-pal Australia. Tapi mana? Beberapa kilometer terus melaju ke arah timur dengan perlahan. Mendekat ke pelabuhan, ada yang memanggil-manggil. Ternyata agen kami di Malaysia. Dia orang Jepang. Pakur segera putar haluan. Tidak lama kemu-dian kami merapat di balik dermaga. Kapal Australianya mana?

    Dengan menggunakan speedboat Polis Malaysia, agen orang Jepang men-dekat. Dia meminta kami untuk menunggu. Speed menuju arah lain untuk men-cari perahu kecil yang bisa membawa kami ke daratan. Sekitar 11.25 waktu Ta-wao, Malaysia, untuk pertama kalinya saya menginjak Malaysia. Tepatnya di Ta-wao Yacht Club. Tempatnya mewah. Semua kru, termasuk orang Jepang, dijamu Cocacola. Tapi saya tidak sempat sebab harus melapor ke pejabat pelabuhan se-tempat tentang ketibaan kami. Agen yang bantu mengurus telah ada. Namanya Amat.

    Kami menuju Jabatan Laut Sabah, Cawangan Tawau. Loket Ketibaan/Pelepasan Kapal. Pak Amat yang urus. Saya duduk-duduk saja di tempat tunggu bersama tiga staf orang Nomura (yang membantu mengurus dokumen kami di Malaysia). Salah satunya bernama Branden, orang Malaysia asli, yang akan men-jadi koordinator wilayah Malaysia. Dia mengenakan kaos hitam. Ada tulisan PADI. Sepertinya dia seorang penyelam. Ada juga gadis cantik. Namanya Asian, orang Malaysia keturunan Toraja. Bahasa Inggrisnya lancar. Bila berbahasa Ma-laysia, langsung ingat suara St. Nurhaliza. Mirip.

    29

  • Di kantor Jabatan Laut Sabah ada beberapa loket. Selain yang ditempati Pak Amat melapor, yang lain adalah loket: Pembayaran, Pendaftaran/Persilijidan Pe-laut, Perlesenan Bot/Survey, dan Pertanyaan. Ada poster yang bergambar wajah anak kecil. Tulisan besar terbaca jelas: Senyumlah dan Dunia Akan Tersenyum Bersamamu. Ya, betul gumanku dalam hati!

    Sambil menunggu urusan dokumen kapal selesai, kami menuju kantor imigrasi setempat. Saya lupa namanya. Panjang. Pokoknya ada kata Kastem, imigrasen, ... (asal kata Custom atau beacukai dalam bahasa Indonesia). Lokasinya pas samp-ing pasar ikan. Saya kaget saat pengantar kami mengatakan Di sini orang Indone-sia diterima. Saya pikir di pasar ikannya, ternyata di sampingnya, yang juga Pela-buhan Tawao.

    Di sini kami agak lama. Harus mendapat cok, yaitu cap di paspor. Selain paspor dicek, juga harus menjalani pemindaian sidik jari. Tapi hanya ibu jari tan-gan kiri. Kalau orang Jepang, mereka harus isi semacam formulir. Indonesia tidak. Tapi lama bisa tinggal di Malaysia beda. Indonesia hanya satu bulan, Jepang tiga bulan.

    Ada tempat antri di antara dermaga pelabuhan dengan loket. Juga ada sema-cam pagar besi. Di depan tempat antri, ada ruang untuk mendeteksi barang. Seperti bandar udara. Ada jalur Green Line, ada Red Line. Menarik juga berada di tempat seperti ini.

    Setelah semua selesai, kami pergi makan siang. Tak jauh dari Kastem. Rupa-nya milik orang Sulawesi. Nama warungnya Warung Bone. Kami pesan nasi campur dan ayam. Minumnya es Milo. Sayang nasinya agak keras, saya tak bisa menghabisinya.

    Selanjutnya kami kembali ke TYC (Tawao Yacht Club) untuk memindahkan posisi Pakur dan Jomon serta melihat kapal pengantar (supporting boat) yang akan kami gunakan ke perbatasan Malaysia Filipina.

    Mau pulang

    Kemarin (Minggu, 7 Juni) ada dua kejadian menarik: upacara pelepasan pe-layaran ekspedisi The Sea Great Journey di Nunukan oleh orang Mandar di sana

    30

  • dan keluhan sawi yang ujungnya keinginan untuk mundur dari anggota tim alias ingin kembali ke kampung. Yang pertama akan saya ceritakan belakangan.

    Setelah Pakur dan Jomon didorong ke perairan yang bisa membuatnya tera-pung di Pantai Enching, Nunukan, saya ngobrol-ngobrol dengan Danial dan Zainuddin di atas Jomon. Salah satu pembicaraan menginformasikan kepada saya bahwa ada rumor keinginan sawi untuk pulang. Alasannya belum tahu persis. Un-tuk lebih jelasnya, saya pindah ke Pakur. Di sana tempat kebanyakan awak, empat orang, di Jomon hanya ada dua. Lagian di Pakur ada Gusman, yang paling ber-pengaruh di antara keempatnya.

    Lalu saya mengajak mereka bicara, mengungkapkan apa saja masalah yang ada di hati sehingga ingin pulang. Awalnya saling tunjuk, tapi akhirnya Gusman juga yang mengawali. Belakangan diiyakan sawi lainnya.

    Ada dua yang membuat mereka "seakan memiliki alasan tepat untuk mening-galkan tim", tapi bagi saya (dan tentunya juga orang Jepang) bukan alasan yang masuk akal sebab tergolong ringan. Yaitu, pertama, kurangnya logistik di atas ka-pal yang dimata awak seolah-olah gambaran bawah mereka tidak diperhatikan, kedua, sikap salah satu kru Jepang, Jiro Maeda, yang gaya bicara dan sikapnya seperti memarahi sawi-sawi. Semua mengalaminya, khususnya sawi-sawi yang berada di Jomon: Danial dan Zainuddin.

    Masalah pertama, bagi saya hanyalah salah paham. Sebab, apa yang ada di ka-pal, itu juga yang dinikmati orang Jepang. Dengan kata lain, bila ada kekurangan logistik, orang Jepang juga tidak makan. Jadi tidak berarti orang Jepang tidak memberi perhatian. Di sisi lain, orang Mandar yang ikut malu-malu untuk menga-takan kedua-ketiga. Kalau sudah permintaan pertama tidak langsung diiyakan, un-tuk mengingatkan mungkin tidak. Yang terjadi malah sekalian lapar saja semua. Setelah dikonfirmasi ke orang Jepang tentang hal di atas, mereka malah mengi-yakan hal yang sama, kurang logistik, koq tidak dilengkapi.

    Setelah masalah itu dibicarakan, di Nunukan beli dua karung beras, di Tawao belanja sepuasnya untuk logistik kapal. Jatah pun tidak dibagi rata: Pakur lebih banyak sebab ada banyak kru di sana, Jomon hanya ada empat.

    31

  • Sedang yang kedua, setelah Yohei (yang menerima keluh kesah langsung pelaut Mandar lewat saya) menyampaikan ke Jiro tentang sikap sensitif sawi, sikap Jiro pun berubah. Pada dasarnya Jiro tidak marah, hanya saja dia lebih disiplin diband-ing orang Jepang lain. Sisi lain, kebiasaan orang Mandar yang sembarangan se-dikit banyak berbeda dengan orang Jepang.

    Sebagai contoh. Jiro meminjamkan tas anti air ke salah satu kru, saat giliran-nya sedang ada di Pakur. Ketika si kru Mandar pindah ke Jomon, tas itu dibawa serta. Penggunaan tas itu dikritik Jiro. Dengan alasan, tas itu hanya digunakan un-tuk kru Pakur. Dalam hati, si kru Mandar jengkel.

    Bagi saya, itu hanya salah paham. Orang Mandar pun harus menyesuaikan diri bergaul dengan budaya orang lain.

    Di Balik Layar

    Pikirnya hari-hari saya di bulan April, Mei, Juni (dan mungkin juga Juli, Agus-tus) 2009 ini diisi dengan kesengsaraan di laut, dalam ekspedisi The Sea Great Journey. Ternyata tidak, ternyata tidak selalu saya di laut, ternyata sering kali saya berada di situasi sebaliknya.

    Perahu Jomon dan Pakur berangkat 13 April 2009, saya belum ikut serta sebab masih ada beberapa dokumen yang belum selesai, khususnya paspor dan visa pe-laut Mandar yang melayarkan dua perahu ekspedisi. Selesai mengurus dokumen di Polewali dan Parepare, saya ke Makassar untuk mengurus visa Jepang. Karena pertimbangan tertentu, pengurusan visa Jepang diurus belakangan, visa Taiwan saja dulu. Untuk itu saya harus ke Jakarta.

    Menjelang keberangkatan, ada informasi dari agen di Jakarta bahwa visa Tai-wan belum bisa diurus karena ada negosiasi antara pihak Jepang dan Taiwan, juga Malaysia berkaitan dengan prosedur masuk ke negara tersebut dengan cara yang berbeda (kami akan masuk menggunakan perahu kayu super-lambat).

    Agar tak terlalu banyak keluar biaya hidup, sambil melepas masa-masa kuliah, saya berlabuh di Yogyakarta. Semenjak gempa bumi di kota pendidikan terse-but, saya tidak pernah lagi menginjaknya. Lama, lama menunggu! Hampir sebu-lan saya ada di Yogya. Pada diri sendiri jadi malu, koq teman-temannya di laut

    32

  • saya malah ada di kota yang berbudaya darat? Untung saya bisa meluangkan waktu untuk membagi pengetahuan dengan teman-teman di Yogya tentang ekspe-disi.

    Sempat ada tiga diskusi yang bertema ekspedisi The Sea Great Journey, yaitu di Jurusan Perikanan UGM, bersama IKAMI Sulawesi Selatan (di Asrama Merapi Empat), dan Kerukunan Keluarga Mandar (di Asrama Todilaling).

    Di pekan terakhir di Jawa, saya tinggal di Solo. Nah di sini kontras yang sangat kentara mulai terjadi: saya tinggal di hotel mewah, namanya Lor In. Makan enak, ada kolam renang. Air panas sampai puas. Koq bisa? Kebetulan teman-teman saya yang tergabung dalam anggota Komisi Penyiaran Daerah Sulawesi Barat ikut hajatan KPI Pusat. Salah satu anggota tidak bisa hadir. Agar jatah tak lewat be-gitu saja, saya diminta ikut saja daripada tidak ada kegiatan. Lagian saya salah satu stakeholder penyiaran di Sulawesi Barat, meski tak tergabung secara formal. Maka, hari-hariku diisi dengan tidur di hotel mewah, makan-makanan aneh. Meski ada rasa aneh di hati, saya tetap terima sebab bisa manfaatkan waktu un-tuk menulis.

    Singkat cerita, pengurusan visa di Jakarta ditunda karena kalau terlalu cepat di-urus, visa akan kadaluarsa (sebab masuknya kami ke Taiwan dan Jepang tidak bisa diprediksi, paling cepat dua-tiga bulan, sedang visa akan kadaluarsa setelah bulan ketiga). Ah, cobanya saya ikut berlayar!

    Balik ke Mandar

    Di tengah persiapan pesanan dari tim yang tengah ekspedisi (mereka meminta serbuk damar 3 kg, empat batang tadiq, dan beberapa ikat serat alam pap-pas), saya menyempatkan diri untuk mewujudkan ide saya terhadap ketua KPID Sul-Bar, Adi Arwan Alimin, untuk membuat portal berita, kabar warga khas Man-dar. Maka, pada tanggal 20 Mei 2009 bertempat di Kantor Camat Tinambung, diluncurkanlah secara resmi portal berita khas Mandar yang pertama di Mandar: www.mandarnews.com. Kerabat saya di Jepang, Azhari Sastranegara, yang men-jembatani pengurusan kami dengan server sekaligus webmaster.

    Satu Juni 2009, saya tiba di Balikpapan dengan setumpuk barang. Yang paling merepotkan empat tadiq. Untung salah satu koordinator, Moriyama san, yang se-

    33

  • hari sebelumnya baru datangdari Jakarta, menjemputku. Dari pelabuhan feri, kami langsung menuju Bandara Sepinggan menggunakan taksi (sebenarnya pete-pete) untuk selanjutnya terbang ke Tarakan. Menjelang jam dua siang, dengan menggunakan Sriwijaya Air, kami terbang ke Tarakan. Jengkel dalam hati sebab tak duduk dekat jendela. Saya tak bisa foto-foto.

    Kembali saya terpaksa tinggal di hotel, Hotel Harmonis. Hotelnya bisa jalan kaki ke Lanal Tarakan, yang direncanakan sebagai tempat berlabuhnya Pakur dan Jomon selama di Tarakan, di hotel ini ada fasilitas Wifi. Ya,untuk internetan. Itu yang dibutuhkan Moriyama san (terus terang, saya juga).

    Keesokan harinya Pakur dan Jomon datang. Lusanya, untuk pertama kalinya saya bersama tim di laut. Tapi belum terlalu puas sebab saya tidak berada di Pa-kur atau Jomon, melainkan di kapal pengantar. Konsekuensi yang harus saya ter-ima sebab dalam tim saya berperan lebih banyak di darat. Tak apalah.

    Hari kedua, saya tak tahan untuk tidak berada di salah satu perahu ekspedisi. Saya memilih Pakur sebab perahunya lebih besar, lagian saya tidak akan meng-ganggu proses shoting di Jomon. Sekedar info, dalam proses dokumentasi audio-visual The Sea Great Journey, Jomon-lah yang menjadi aktor utama, yang mana diatasnya Prof. Sekino sebagai salah seorang kru-nya. Dan jangan ada tambahan orang di atas sebab akan mengganggu jalannya cerita (penonton mungkin tanya, koq ada orang lain lagi?).

    Tiba di Nunukan untuk selanjutnya Tawao saya menggunakan Pakur. Syukur-lah, saya bisa membuat catatan ekspedisi langsung sebagai orang pertama atau se-bagai orang kedua, di atas salah satu perahu, menggunakan Blackberry.

    Tapi kenikmatan khas di atas perahu ekspedisi kembali terhenti. Di Tawao, dua malam harus nginap di hotel (lagi), Hotel Grace. Bedanya dengan hotel di In-donesia, hotel ini tak ada sarapannya. Untung ada penjual roti di depan hotel.

    Pikirnya saya akan kembali di laut, setidaknya mengikuti Pakur dan Jomon dari belakang, pada hari pemberangkatan meninggalkan Tawao, 10 Juni 2009. Karena ada masalah dokumen kapal pengantar yang kami sewa di Malaysia, pemberang-katannya ditunda. Rencananya siang-sore berangkat.

    34

  • Saya lama menunggu. Untung di Tawao Yacht Club (TYC) ada Wifi, jadi bisa cek Facebook dan kirim tulisan. Tidak bosanlah.

    Menjelang malam, rencana berubah. Paling cepat kapal pengantar bisa berang-kat esok (11 Juni), jadi, menurut Numora san (koordinator untuk wilayah Malay-sia), lebih baik saya (dan dia) menunggu tim di resortnya: Sipadan Water Village (SWV). Dalam hati, Apalagi nih?.

    Sekitar jam tujuh malam saya dijemput Nomuran san (dan sopirnya) di TYC. Karena saya lama menunggu, Nomura san minta maaf dan sebagai imbalan-nya, saya ditraktrir makan di restoran Jepang. Bisa ditebak, pasti makan maka-nan mewah. Yah, itulah yang terjadi. Untung saya ada sedikit pengetahuan ten-tang makanan Jepang (dan bisa menggunakan sumpit), jadi tidak terlalu kaku.

    Selesai makan, kami menuju Sampurna. Ah, tidak lewat laut, ah tak lewat dekat Ambalat!!! Kami menggunakan mobil. Untuk kesekian kalinya saya tak enak terhadap diri sendiri. Skenario yang ingin saya tulis buyar. Yang lain lewat laut, saya lewat darat. Sebenarnya bukan masalah ketidakadilan, tapi ada ban-yak pengalaman yang hilang. Padahal di otak sudah ada banyak rencana akan ban-yak membuat catatan ketika melintasi pinggir Blok Ambalat, menyisiri wilayah bekas konflik Sipadan Ligitan, dan lain, dan lain.

    Agar tak terlalu kecewa, saya menenangkan diri sendiri. Mencari-cari dalih bahwa meski saya lewat darat pasti ada hikmah. Yang paling sering dan memang paling ampuh adalah apa yang saya alami harus sesuatu yang baru, yang bisa saya tulis. Memang itu yang terjadi. Untuk pertama kalinya saya berjalan jauh di da-ratan Malaysia. Sebelumnya kan cuma keliling-keliling kota Tawao. Kali ini me-nempuh jarak lebih 100 km, menuju Sampurna. Rencananya, dari Sampurna, dengan menggunakan speedboat milik resort, saya dan Nomura san akan menuju resort SWV di Pulau Mabul.

    Saya tahu Sampurna. Ada buku saya tentang Suku Bajau, berbahasa Inggris, yang risetnya dilakukan seorang antropolog di Sampurna dan sekitarnya. Sejak tahu itu, saya selalu ingin mengunjungi tempat tersebut. Tapi tak pikir akan sece-pat ini dengan cara yang terlalu mudah.

    35

  • Hampir dua jam menempuh perjalanan. Jalan-jalan di Malaysia jauh beda den-gan di Indonesia. Jalan raya di Malaysia, setidaknya separuh jalan antara Tawao dengan Sampurna, sama dengan kualitas jalan tol di Indonesia. Ya, di Malaysia bagus-bagus jalannya. Selain bagus, juga sepi. Tak ada bis yang kebut-kebutan. Setidaknya itu yang terjadi pada malam perjalanan saya ke Sampurna. Kiri-kanan jalan banyak kebun kelapa sawit. Sangat jarang ada perkampungan di ping-gir jalan sebagaimana di Indonesia. Bila pun ada, pemandangannya tak seramai di Indonesia. Oh, kenapa bangsaku begitu tertinggal untuk hal-hal yang sepele?

    Kota Sampurna tergolong kota kecil di Malaysia, lebih kecil dari Tawao. Tapi di pesisirnya ada hotel bintang tiga, misalnya Seafast Hotel, resort. Kampung tera-pungnya pun tertata rapi. Kapal patroli polisi lautnya sangat mewah! Di Indone-sia ada seperti itu? Kalau pun ada, mungkin hanya terlabuh di Jakarta.

    Tidak lama setelah tiba, saya, Nomura san, dan nakhda speedboat yang diburi-tannya tertempel dua mesin jonson berukuran besar menuju P. Mabul. Bulan tertutup awan, tapi masih bisa melihat bayangan-bayangan rumah dan pulau. Na-manya juga speedboat, lajunya pasti kencang. Perutku sampai merasakan perasaan mual bila berada di atas kendaraan yang turun naik secara cepat. Bunyi gedebuk-gedebuk sering terdengar. Bagi yang tidak terbiasa mungkin ada panik. Pikirnya perahu akan pecah. Tapi bagi nakhoda, itu biasa-biasa saja. Bukti-nya, speed stabil kelajuannya. Pulau Mabul jauh letaknya, hampir 30 km.

    Menikmati resort

    Memandang dari jauh kelap-kelip di Pulau Mabul saya sudah bisa membayang-kan kemewahan yang akan saya lihat (mudah-mudahan saya alami juga). Mera-pat! Saya tak bisa membuat outline tulisan yang akan saya buat untuk mendiskrip-sikan apa yang saya lihat. Rumah kayu, mewah, terpisah-pisah dihubungkan jembatan-jembatan kayu. Jembatan dipenuhi lampu kuning. Hangat. Cahaya yang memantul ke air memperlihatkan ikan yang mencari makanan. Cantik.

    Naik diatas jetti, saya bersama Nomura san menuju resepsionis. Bangunan ka-yunya luas. Saya melakukan pemindaian untuk merasakan kemewahannya. Saya masih tak percaya saya berada di resort mewah ini. Dari beberapa resort dan hotel yang pernah saya kunjungi di Indonesia, tak ada yang sebagus ini. Per ma-

    36

  • lam berapa ya? Awalnya saya pikir satu jutaan. Saat saya tanya ke salah seorang resepsionis, permalam di sini setara Rp 2,5 juta! Itu pun kamar paling murah dire-sort ini. Ah? Artinya malam ini saya sama saja membuang-buang uang Rp 2,5 juta! Saya tertawa dalam hati.

    Di lobby ada fasilitas Wifi gratis, membuatku tambah tak percaya. Setelah mengisi formulir (seolah-olah saya betul-betul pelancong yang membayar, padahal dibayarkan), kopi dihidangkan. Lalu seorang gadis cantik mengantarku ke kamar (menurutkun itu lebih tepat disebut rumah!) 110. Letaknya sekitar 50 meter dari bangunan resepsionis, melintasi jembatan kayu dan rumah-rumah (maksudnya kamar lain).

    Setelah menemukan rumah yang akan saya tempati, si gadis kembali (Ah ke-cele hehe!). Tanganku membuka pintu. Awalnya saya berada di ruang kecil, kira-kira berukuran 2x3 meter. Di situ hanya ada dua pasang sandal, satu payung, dan satu tabung pemadam kebakaran. Di dinding sebelah kiriku, ada pintu. Itu pintu kamar. Kamarnya mewah, luasnya sekitar 8x4 meter. Ada dua ranjang, satu meja panjang yang dinding dibelakangnya terdapat cermin besar.

    Dinding warna krem, pintu kayu warna coklat tua. Ada satu kipas angin di atas plafon, selembar batik tergantung di dinding yang membatasi kamar dengan ka-mar mandi. Di dinding yang berlawanan dengan dinding teras ada satu hiasan yang terbuat dari buah kelapa kering: dibentuk sedemikian rupa sehingga mirip ikan. Ruangnya tampak elegan. Untung tak ada televisi, bisa damai.

    Di sisi lain kursi rotan dan bar mini. Di atas lemari es terdapat layanan gratis standar hotel, kopi. Tapi di sini terlalu banyak. Isi wadah kecil: empat sachet Milo, lima kremer Nestle, lima gula sintetik, lima gula pasir, dan beberapa bungkus teh. Juga ada gelas dan pemanas air. Beda di Tawao, pemanas airnya tidak ada. Per-nah saya sempat meminta layanan air panas, tapi yang dibawa datang termos pe-manas yang ada di dapur hotel mereka! Besarnya bukan main.

    Memasuki kamar mandi. Juga luas. Ada dua westafel yang didindingnya tertem-pel cermin. Ukurannya hampir sama setengah tempat main tennis meja. Tak ada kolam untuk berendam, hanya kotak kaca untuk mandi berdiri di dalam. Ada shower. Tentu ada dudukan untuk buang air. Hampir semua perabot yang ada

    37

  • di dalam kamar ada cap, cetakan, atau sulaman logo SWV. Wah...wah...wah, saya tak bosan-bosannya bergumam.

    Selesai mandi, saya minum Milo. Rasa ngantuk membuatku ingin untuk segera terlelap. Karena hanya membawa baju yang menempel di badan, untuk tidur saya hanya mengenakan handuk. Kalau pakai baju kotor lagi, percuma dong mandi-nya. Suhu juga tak terlalu dingin.

    Pagi P. Mabul, di salah satu kamar di resort Sipadan Water Village (Desa Tera-pung Sipadan). Saya membuka pintu teras. Pintunya seperti pintu toko, yang terli-pat secara vertikal. Ada empat bilah. Ukurannya sekitar 2,5x2,5 meter. Saat saya dorong ke samping, pemandangan yang terlihat membuatku kaget: kampung Ba-jau. Tak jauh dari pantai beberapa perahu berlabuh, tapi ada satu yang membu-atku terkesima: di atas satu keluarga Bajau.

    Sang ibu sedang memandikan bayinya. Perahunya kumuh, demikian juga kam-pung yang jaraknya dari tempat saya berdiri kira-kira 50an meter. Bagaikan langit dan bumi. Saya belum tahu bagaimana kerjasama penduduk di pulau dengan pengelola hotel. Baik buruk? Mungkin baik sebab tak ada penghalang antara kam-pung dengan resort. Jika ada yang mau merampok atau datang mencuri sangatlah gampang, tinggal naik ke teras. Tapi sepertinya itu tidak terjadi. Pengelola hotel tak memasang pagar besi atau tanda-tanda yang memberikan peringatan bahwa kalian hanya bisa disitu.

    Sayangnya, mungkin hanya sehari dua hari saya di sini. Membuatku tak bisa memberi kesimpulan tentang apa yang terjadi disini. Yang jelas, saya bersyukur bisa merasakan resort mewah. Sebenarnya bukan kenikmatan menikmati fasili-tasnya (secara gratis), tapi itu bisa menjadi pengalaman dan pengetahuan bagi saya, bisa menjadi pembanding. Baik dalam rangka pembicaraan tentang pariwi-sata bahari di Indonesia maupun tentang kehidupan masyarakat suku laut di Asia Tenggara.

    Oh iya, Nomura san adalah pemilik resort super elegan ini. Orangnya ceria, si-gap, lincah, lancar bahasa Inggrisnya, dan respek terhadap lawan bicara. Saya dan orang-orang Mandar yang terlibat dalam proyek pelayaran ini dibuat terke-sima atas kebaikan hatinya.

    38

  • Koki berkostum aneh

    Bunyi panci bersaing dengan suara lidah ombak. Sayup-sayup suara generator di darat, milik penduduk di sini. Irsan pelaut yang pintar masak. Rata-rata pelaut Mandar lihai memasak. Bunyi bawang yang kaget dengan panas minyak goreng barusan terjadi. Irsan sesekali menyanyi. Barusan saya melihat koki yang hanya mengenakan celana dalam di kala masak. Itu pemandangan rutin setiap Irsan masak.

    Tubuhnya tinggi, perutnya gempal, temperamental, tapi sigap masak. Sekarang jemarinya mengeluarkan telur yang dimasaknya di dalam cerek. Lalu dia kupas kulitnya. Tak lupa tangannya dicuci di laut agar bersih tangannya. Se-sekali mengaduk sambal. Latif baru saja menyiapkan hidangan. Nasi di mangkok plastik oranye. Telur yang selesai dikupas langsung dimasukkan ke dalam panci.

    Perutku semakin keroncongan. Jika saja saya mau untuk makan makanan ma-hal dan beragam, saya tinggal menuju resort. Tapi saya pikir-pikir untuk kesana. Bajuku sudah dua hari tak diganti. Nanti pelayan pada curiga, ini tamu koq dari tadi bajunya itu-itu terus. Untung di saat sarapan dan makan siang saya selalu bawa DSLR Nikon D80-ku, jadi kelihatan seperti turis. Bawa-bawa kamera ma-lam hari sedikit kelihatan aneh. Ya, itu juga yang menghambat niatku untuk makan di restoran resort (padahal gratis lho!).

    Saat ini Pakur dan Jomon berlabuh di pantai P. Mabul, di "halaman" belakang resort SWV, milik koordinator ekspedisi wilayah bagian Malaysia. Tadi siang, sekitar jam dua tiba. Semalam berlabuh tak jauh dari Kalumpang. Menurut pengemudi kapal pengantar sementara, perairan yang ditempati sema-lam merupakan daerah rawan. Pernah terjadi perompakan di sana. Tapi rawan-nya wilayah tak disampaikan ke pelaut dan orang Jepang. Nanti khawatir.

    Ah, lauk masakan Irsan telah masak. Makan yuk!

    Baru makan. Lauknya hanya telur sebutir, diselimuti sambal tomat buatan Ir-san. Kalau makan di restoran, biasa diawali kebingungan memilih lauk. Di perahu tidak. Pilihannya cuma satu, maksimal dua. Jadi enak, sebab tak ada sesal di hati sebagaimana kalau makan di restoran "Seharusnya yang tadi saya ambil juga". Di perahu pasrah, tak ada pusing.

    39

  • Habis makan di perahu biasanya diisi dengan santai-santai. Setidaknya baring atau duduk-duduk. Bagi perokok, ya hisap-hisaplah. Tak lupa buat air panas. Seperti sekarang, Irsan sedang masak air. Kalau air mendidih, saya mau buat Milo yang tadi saya ambil di kamar resort. Ada juga kremer dan gula. Saya sering be-gitu, fasilitas gratis hotel atau hotel selalu saya ambil, kecuali yang besar-besar atau tak terlalu dibutuhkan. Misalnya tutup kepala disaat mandi. Itu tidak saya bu-tuhkan. Segelas Milo yang saya campur dengan kremer Nestle dan kopi Nescafe telah ada didepanku. Milo menjadi salah satu kata kunci bila membicarakan oleh-oleh dari Malaysia. Kenapa bisa begitu? Saya tidak tahu apa penyebabnya. Karena susu lebih murah di Malaysia? Ya, dibanding Indonesia, memang sangat murah di sini. Bila kerabat saya datang dari Malaysia, oleh-oleh buat keluarga pastinya susu bubuk Milo. Pelaut Mandar yang ikut ekspedisi ini, ketika kirim oleh-oleh ke Mandar lewat kapal pengantar dari Mandar, juga kirim Milo.

    Bajau di mata pelaut Mandar (12/06/09)

    Semalam (12 Juni) di depan netbook urusin Facebook sampai jam dua dinihari. Meski tidak ngantuk, saya berusaha terlelap di kursi lobby resort. Alarm kuset jam lima, jangan sampai saya terbangun gara-gara dibangunkan staf resort.

    Ternyata saya kecele. Memang saya bangun sebelum jam yang kuinginkan tetapi yang membangunkan saya adalah suara tiga orang Jepang. Mereka baru da-tang dari Sampurna. Kusegera bangun, ke tandasan (toilet di mulut orang Malay-sia), lalu balik ke Pakur. Hanya satu sawi yang terbangun. Sepertinya dia cari tem-pat untuk lepaskan hajat di pasir pantai. Yang lain terlelap. Sebab masih ngantuk, saya lanjutkan tidur. Tidak lagi beralaskan sofa empuk, tapi lantai bambu yang di-lapisi daun kayang. Selimutku terpal plastik. Sarung dan jaketku ada di kapal pen-gantar yang masih berlabuh di Tawao. Sedikit kedinginan.

    Bangun sekitar jam tujuh. Kru Jepang tidak ada. Tadi, menurut kru Mandar, di saat saya masih tertidur, semua orang Jepang pergi melaut bersama nelayan. Sekarang bersama kru Mandar, minum susu Milo. Membicarakan banyak hal. Sa-lah satunya tentang anggapan orang Bajau di sini tentang kami. Sambil bercanda, salah satu kru mengatakan, mungkin orang di sini dan orang Bajau anggap kami Mandar-Bajau (sebagaimana penyebutan Bugis-Makassar). Sebabnya kami juga

    40

  • memilih tinggal di perahu dengan perahu seadanya. Bajau kami lebih kuno se-bab pakai layar daun.

    Menurut kru Mandar, perahu orang Bajau itu sarang kecoa. Saya sendiri be-lum pernah lihat sebab di saat tim expedisi bertemu mereka di pesisir Kaltim, saya belum bergabung. Dan menurut Karino yang sangat jijik terhadap kecoa, can-danya, kira-kira ada dua juta. Tanda banyaknya.

    Kru Mandar tak habis pikir dengan gaya hidup orang Bajau, baik yang mereka lihat langsung (misalnya kebersihan perahu) maupun cerita-cerita orang. Seperti, kalau orang Bajau baru melahirkan, anaknya akan diturunkan ke laut. Bila tera-pung, betul dia anaknya, kalau tenggelam, bukan anaknya. Jadi dibiarkan mati. Entahlah betul atau tidak hal itu, entah berdasar siapa bahwa bayi itu anaknya, apakah sang ayah atau sang ibu, apakah bukan anak secara biologis (bukan atas hubungan dengan suami yang sah) atau bukan anak secara mistik (mungkin anak jin atau setan?).

    Sekarang Irsan bersolek. Lagi cukur jenggot. Alatnya alat cukur yang masih bisa bongkar pasang, mirip punya bapakku dulu. Tanpa pakai sabun, ditebas bulu didagunya. Ah, kalau saya pasti sakit. Cerminnya tempat bedak perempuan. Warna putih.

    Keliling pulau

    Mengelilingi P. Mabul baru saja kulakukan. Berlagak bule, tidak pake baju, hanya celana sebatas lutut, kamera di tangan kanan.. Bukannya sok, tapi satu-satunya baju yang kubawa ke pulau sedang dijemur. Jadi sambil tunggu kering, saya pusing pulau. Itu menurut bahasa Malaysia. Terdengar lucu di telinga Indon (maksudnya Indonesia), tapi memang begitu. Keliling-keliling disebut pusing-pusing, di Indonesia sih artinya sakit kepala.

    Jumlah rumah/kamar milik beberapa resort di pulau ini, bila ditotalkan ham-pir sama jumlah rumah penduduk lokal. Kebanyakan pemukiman berada di sela-tan pulau. Rumahnya saling dempet, tidak seperti resort yang jarang-jarang, dan tentunya bersih-bersih.

    41

  • Memasuki kawasan pemukiman, mirip berada di pemukiman (kumuh) Jakarta. Sebenarnya sih tak terlalu kotor. Hanya saja kontras dengan resort. Meski tidak ketat, ada beberapa gerbang keluar masuk antara resort dengan pemukiman. Juga, pagar kawat. Saya bebas keluar masuk karena gayanya memang gaya pelan-cong. Dikira orang kaya, banyak duit, tapi beli kalung gigi hiu saja saya tak bisa, setidaknya saat ini. Kasihan! Pemandangan indah di pulau ini sama saja dengan pulau-pulau lain, misalnya di Kep. Takabonerate, Spermonde, Karimunjawa, dan pulau kecil lainnya yang pernah saya kunjungi. Tak ada kontras. Mau lihat kehidu-pan Bajau, di P. Rajuni juga ada. Aktivitas nelayan, hampir semua ada di pulau, tentunya yang berpenduduk. Tapi yang beda adalah tinggal pengelolaan saja.

    Sebagai perbandingan, resort yang juga punya orang Jepang di Selayar (nasib-nya sekarang bagaimana ya?) sangat membatasi orang lokal untuk masuk di wi-layahnya. Baik di darat maupun perairan di sekitar resort. Sedikit lumayan di sa-lah satu resort di Kep. Togian, tapi memang jauh dari pemukiman penduduk se-hingga tak tau tingkat pergaulannya dengan penduduk setempat.

    Mengenai keindahan terumbu karang, saya belum bisa berkomentar sebab saya belum liat karang yang diandalkan di kawasan ini. Mungkin bagus sebab pe-laku wisata di sini, setidaknya Nomura san, amat mengedepankan konsep ecotour-ism. Contoh kecil dan sangat sepele adalah abu rokok. Bila pelaut Mandar datang ke lobby untuk santai-santai lalu mereka merokok, Nomura san (ingat: dia adalah pemilik resort berharga miliaran ini) selalu datang membawa asbak rokok. Sangat mengesankan!

    Agenda-agenda wisata juga demikian, banyak menawarkan pendidikan lingkun-gan. Misalnya musim tanam terumbu karang, bersih laut, dan lain sebagainya. Cukup menarik sebagai salah satu tempat studi banding bagi pengelola wisata ba-hari di Indonesia.

    Pakur dan Jomon (13/06/09)

    Sabtu, 13 Juni 2009, tepat dua bulan Pakur dan Jomon memulai pelayarannya. Telah menempuh jarak hampir 900 km, dari Teluk Mandar ke salah satu pulau ke-cil di negara bagian Sabah, Malaysia (timur). Pulau Mabul, kurang lebih 25 mil dari P. Sipadan yang pernah menjadi sengketa antara Malaysia dengan Indonesia

    42

  • (dikenal dengan kasus Sipadan-Ligitan). Sudah tiga malam di sini. Masalah ka-pal pengantar dan proses shooting perahu dari bawah air menjadi penghambat un-tuk segera berlayar.

    Tidak ada kerusakan berarti atas perahu, kecuali beberapa perbaikan kecil. Ke-marin Danial dan Latief menambal salah satu tambalan di lambung haluan Jo-mon. Sebenarnya Jomon terbuat dari satu kayu utuh tanpa papan tambahan un-tuk meninggikan lambungnya, tapi di salah satu bagian ada yang hancur/lapuk (memang dari sononya yang rusak, sejak belum ditebang), maka harus ditambal. Nah, tambalan itu dilewati air sejak perjalanan dari Tawao. Penambalan menggu-nakan damar yang dicampur minyak tanah. Sudah baik. Selain bagian di atas, sela-sela yang masih ada di lubang pemasangan baratang juga ditambal, khususnya Pakur. Sewaktu di Tawao, layar Jomon di beberapa bagian ditambal un-tuk menutupi/mengganti bagian yang robek. Itu membuat layar Pakur tampak ada belang-belang.

    Kilas b