Daur Ulang Sampah

of 141/141
DAUR ULANG SAMPAH DAN PEMBUATAN KOMPOS Oleh : Ir Martin Darmasetiawan MSi Penerbit : EKAMITRA ENGINEERING
  • date post

    04-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    328
  • download

    16

Embed Size (px)

Transcript of Daur Ulang Sampah

DAUR ULANG SAMPAH DAN PEMBUATAN KOMPOS

Oleh : Ir Martin Darmasetiawan MSi Penerbit :

EKAMITRA ENGINEERING

Ekamitra Engineering didirikan pada tahun 1993, sebagai perusahaan nasional yang bergerak dalam bidang jasa konsultasi, perusahaan ini dikelola oleh tenaga-tenaga yang profesional dan telah terbina dalam prinsip-prinsip efisiensi yang mengutamakan kualitas .Sejak berdirinya hingga saat ini, Ekamitra Engineering telah banyak mendapat kepercayaan baik dari instansi pemerintah maupun swasta untuk berperan serta secara proaktif dalam penanganan bidang-bidang pekerjaan yang meliputi perencanaan, manajemen, dan pelatihan peningkatan sumberdaya manusia. Dengan kemampuan manajemen yang dimilikinya Ekamitra Engineering telah mempunyai tenaga ahli yang profesional dan peralatan yang memadai sebagai penunjang dalam melayani pekerjaan yang akan ditangani, terutama dalam bidang-bidang yang dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Pengembangan Kota Pengembangan infrastruktur kota: Air Minum Air Limbah dan Sanitasi Persampahan Drainase Konservasi Lingkungan Pemetaan Adapun lingkup yang dikerjakan meliputi: Studi kelayakan Rekayasa dan rancang bangun Supervisi Konstruksi Bantuan teknis monitoring dan evaluasi Manajemen dan pelatihan Pengembangan sumberdaya manusia Sistem Informasi dan Manajemen

Alamat Keresponden: Jl Kerinci 1/12 Jakarta Selatan Kebayoran Baru 12120 Tilp 021 725 4302 FAX 021 725 4008 Website : http://Ekamitra.cjb.net Email: [email protected]

KATA PENGANTARSelain dibuang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah juga dapat diadur ulang. Pada saat iniliteratur mengenai daur ulang sampah yang komprehensif yang dapat dipakai sebagai panduan dalam perencanaan maupun operasional masih terbatas. Umumnya yang ada sebagian besar merupakan modul modul training dan panduan operasional yang sifatnya parsial.

Oleh sebab itu kami memberanikan diri untuk merangkum literatur dan tulisan tersebut dalam suatu buku yang lebih komprehensif dan dapat dipakai sebagai panduan prsoses belajar, panduan untuk perencanaan maupun untuk pelaksanaan di lapangan.

Adapun tulisan yang menjadi referensi utama dalam buku ini adalah materi training yang dikeluarkan Departemen Kimpraswil pada tahun 1997, yang isi tujuannya adalah untuk melatih para operator persampahan dan TPA di lapangan.

Secara garis besar buku ini berisi mengenai : Konsep Zero Waste Pembuatan Kompos Pengelolaan Pembuatan Kompos Pembiayaan Pengkomposan

Kami berharap buku ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa , praktisi maupun halayak ramai yang ingin memahami Persampahan dan Pengelolaannya.

Kami juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Ir Elisabet Pasaribu dan Ir Agus Riadi yang telah membantu menyelesaikan buku ini.

Di akhir kata, kami menyadari bahwa perangkuman ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, saran dan masukan demi berkembangnya ilmu persampahan sangat kami harapkan.

Jakarta, Juni 2004 Ir Martin Darmasetiawan MS

BAB I PENDAHULUAN1.1. Umum

Masalah sampah sebagai hasil aktivitas manusia di daerah perkotaan memberikan tekanan yang besar terhadap lingkungan, terutama bila tidak sampai terangkut dan akhirnya terakumulasi di tempat-tempat terbuka maupun badan air. Selain itu sampah yang diamankan di TPA, ternyata tidak mampu mengamankan lingkungan sekitarnya akibat pengelolaan yang kurang baik. Permasalahannya antara lain adalah:

Sampah yang dibuang di TPA 60-70% adalah materi organik yang mudah terurai. Sampah organik akan terdekomposisi dan dengan adanya limpasan air hujan terbentuk leachate (lindi/air sampah) yang akan mencemari sumber daya air baik air tanah maupun permukaan sehingga mungkin saja sumur-sumur penduduk di sekitarnya ikut tercemar.

Lindi yang terbentuk mengandung nilai BOD (Biological Oxygen Demand = Kebutuhan Akan Oksigen Biologis) mencapai ribuan bahkan puluhan ribu ppm. Selain itu dalam lindi juga mengandung bibit penyakit patogen, seperti tifus, hepatitis, dan sebagainya.

1

Lindi mungkin juga mengandung logam berat, mengingat sampah yang diamankan di TPA tersebut masih tercampur antara sampah domestik B3 seperti batu baterai dengan sampah domestik biasa.

Proses dekomposisi yang terjadi di TPA bersifat anaerobik, sehingga terbentuk gas-gas berbahaya seperti metan, H2S, dan gas-gas merkaptan lainnya. Kebakaran yang sering terjadi di TPA, salah satu pencetusnya adalah karena keberadaan gas-gas tersebut yang kemudian disulut oleh hal-hal kecil seperti puntung rokok yang masih menyala.

Kebakaran yang biasanya sulit untuk dipadamkan, akan meluas dan menimbulkan menyebabkan asap disertai bau yang menyengat, sehingga gangguan pernapasan baik petugas maupun

masyarakat sekitar.

Kepulan asap hasil pembakaran sampah harus dicermati, mengingat kemungkinan mengandung zat berbahaya lainnya yaitu dioksin, zat karsinogenik penyebab kanker yang merupakan hasil pembakaran tidak sempurna dari sampah plastik.

Selain masalah-masalah teknis seperti di atas, masalah non teknis pun menjadi kendala bagi pengelola sampah kota, antara lain:

Keterbatasan lahan, terutama bagi kota-kota raya dan besar, sering menimbulkan masalah, karena itu sampah harus dibuang ke wilayah tetangga.

2

Masalah kebersihan belum menjadi program prioritas di daerah. Hal ini berdampak pada alokasi biaya kebersihan yang masih sangat terbatas.

Masyarakat masih belum memahami bahwa masalah kebersihan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah dengan

masyarakat.

Hukum dan peraturan perundang-undangan belum dilaksanakan atau ditegakkan. 1.2. Paradigma Pengelolaan Sampah

Semua permasalahan di atas terjadi akibat hampir semua pemerintah daerah di Indonesia, masih menganut paradigma lama pengelolaan sampah kota, yang menitikberatkan hanya pada pengangkutan dan pembuangan akhir. TPA dengan sistem lahan urug saniter (sanitary landfill) yang ramah lingkungan, ternyata tidak ramah dalam aspek pembiayaan, karena membutuhkan biaya yang tinggi untuk investasi, konstruksi, operasi dan pemeliharaan.

Untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut, sudah saatnya pemerintah daerah mau merubah pola pikir yang lebih bernuansa lingkungan. Konsep pengelolaan sampah yang terpadu sudah waktunya diterapkan, yaitu dengan meminimasi sampah serta maksimasi kegiatan daur-ulang dan pengomposan disertai dengan TPA yang ramah lingkungan. Paradigma baru yang diharapkan dapat mulai dilaksanakan adalah dari orientasi pembuangan sampah ke 3

orientasi daur-ulang dan pengomposan. Melalui paradigma baru ini pengelolaan sampah tidak lagi merupakan satu rangkaian yang hanya berakhir di TPA (one-way street), tetapi lebih merupakan satu siklus yang sejalan dengan konsep ekologi. Energi baru yang dihasilkan dari hasil penguraian sampah maupun proses daur-ulang lainnya tidak hilang percuma. Berdasarkan perhitungan Direktorat Bintek-Dept. PU (1999), bila konsep pengelolaan sampah terpadu dengan strategi 3-M (mengurangi, menggunakan kembali, mendaurulang) dilaksanakan, maka sampah yang akan masuk ke TPA berupa residu hanya sebesar 15%. Sampah yang dapat dikomposkan

40%, didaur-ulang (20%), dan dibakar dengan menggunakan insinerator 25%. Gambar 1 di bawah ini menunjukkan paradigma lama pengelolaan sampah.

Pewadahan

Pengumpulan dan Pemindahan

Pengangkutan

Sumber Sampah Pembuangan Akhir

GAMBAR 1.1. PARADIGMA LAMA PENGELOLAAN SAMPAH

4

Keberhasilan penerapan paradigma baru ini dapat tercapai tentu melalui koordinasi yang baik dengan instansi terkait seperti Dinas Pertamanan, Dinas Pasar, Bapedalda, Kelurahan, dsb. Masyarakat tentu saja harus terlibat aktif, misalnya dalam kegiatan pemilahan dan pengumpulan sampah di sumber.

Pewadahan pemilahan dan pengolahan di rumah tangga : kompos, daur-ulang

Pengumpulan, Pemindahan, pengolahan skala kawasan:

Pengangkuta Pengolahan: -Daur-ulang -Kompos -Pembakaran -Pemadatan

Sumber Sampah

Pembuangan Akhir

GAMBAR 1.2. PARADIGMA BARU PENGELOLAAN SAMPAH

5

1.3.

MINIMASI SAMPAH

Minimasi limbah/sampah adalah upaya untuk mengurangi volume, konsentrasi, toksisitas, dan tingkat bahaya limbah yang berasal dari proses produksi dengan reduksi dari sumber dan/atau pemanfaatan limbah.

Pada dasarnya minimasi limbah/sampah merupakan bagian dari pengelolaan limbah dan dapat mengurangi penyebaran limbah di lingkungan, meningkatkan efisiensi produksi dan dapat memberikan keuntungan ekonomi, antara lain:

a. Mengurangi biaya pengangkutan ke pembuangan akhir; b. Mengurangi biaya pembuangan akhir; pendapatan karena penjualan dan

c. Meningkatkan

pemanfaatan limbah.

Usaha minimisasi limbah di Indonesia telah dimulai di sektor industri pada tahun 1995 dengan membuat suatu komitmen nasional dalam penerapan strategi produksi bersih dalam proses industri. Walaupun demikian usaha serupa belum dimulai di sektor domestik/rumah tangga dan baru terbatas pada kegiatan pengumpulan dan sedikit daur-ulang.

Salah satu bagian dari minimasi limbah yang perlu diperhatikan adalah limbah atau sampah padat yang dihasilkan dari pengemasan (packaging) karena jumlah yang dihasilkan akan semakin meningkat

6

di masa mendatang. Upaya minimisasi limbah padat rumah tangga antara lain melalui kegiatan daur-ulang dan produksi kompos.

Sangat disayangkan bahwa Pemerintah Daerah belum memiliki komitmen yang kuat mengenai minimisasi limbah rumah tangga. Komitmen ini sudah seharusnya dituangkan dalam kebijaksanaan Pemda dan diperkuat dengan peraturan daerah. Di tingkat Pusat kegiatan 3-M (Mengurangi, Menggunakan kembali, Mendaur-ulang) sudah dibakukan melalui kebijaksanaan, strategi dan dijabarkan dalam pelaksanaan kegiatan yang lebih konkrit. Pelaksanaan kegiatan tersebut antara lain berupa pemberian paket bantuan proyek perintisan UDPK (Usaha Daur-ulang dan Produksi Kompos) di 50 kota Dati II di Indonesia. Petunjuk teknis, petunjuk pelaksanaan dan tata cara tentang kegiatan 3-M sudah disusun dan disebarluaskan melalui diseminasi-diseminasi oleh Ditjen Cipta Karya Dept. PU. Tetapi harapan untuk dapat merangsang Pemda melakukan kegiatan pengomposan dan daur-ulang sehingga dapat mengefisienkan biaya pengelolaan sampah kota ternyata belum dapat tercapai. 1.4. Penanganan Sampah 3-M

Penanganan sampah 3-M adalah konsep penanganan sampah dengan cara mengurangi (M1), menggunakan kembali (M2), dan mendaur-ulang sampah (M3) mulai dari sumbernya (Dit, Bintek DJCK, 1999). Penanganan sampah 3-M sangat penting untuk dilaksanakan dalam rangka pengelolaan sampah padat perkotaan yang efisien dan efektif sehingga diharapkan dapat mengurangi biaya pengelolaan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. 7

Berdasarkan perhitungan di atas kertas, bila sampah kota dapat ditangani melalui konsep 3-M, maka sampah yang akan sampai di TPA hanya 20% saja. Hal itu berarti akan sangat mengurangi biaya pengangkutan dan pembuangan akhir. Penanganan sampah 3-M akan lebih baik lagi bila dipadukan dengan siklus produksi dari suatu barang yang akan dikonsumsi.SAMPAH 100 %

Sampah Organik 70%

Sampah Anorganik

28%

B3

2%

Pemanfaat an Lain 2%

Pengomposan

38%

Residu 30%Pembakaran

Residu 8%

Daur-ulang

20%

Residu

4%

25%

10%

Residu

2,5%

5%

TPA Gambar 2.3. Potensi 3-M Dalam Pengelolaan Sampah (Bintek DJCK,1999) Langkah-langkah pengerjaan penanganan sampah 3-M dapat disesuaikan dengan sumber penghasil sampah, seperti daerah perumahan, fasilitas sosial, fasilitas umum, dan daerah komersial.

8

Tabel 1,2, dan 3 berikut menjelaskan tentang upaya penanganan sampah 3-M di beberapa sumber sampah. Tabel 2.1. Upaya 3-M di Daerah Perumahan dan Fasilitas Sosial

Penanganan 3-M

Cara Pengerjaan

M-1

Hindari pemakaian dan pembelian produk yang menghasilkan sampah dalam jumlah besar Gunakan produk yang dapat diisi ulang Kurangi penggunaan bahan sekali pakai Jual atau berikan sampah yang telah terpilah kepada pihak yang memerlukan.

M-2

Gunakan kembali wadah/kemasan untuk fungsi yang sama atau fungsi lainnya Gunakan wadah/kantong yang dapat digunakan berulangulang. Gunakan baterai yang dapat diisi kembali.

M-3

Pilih produk dan kemasan yang dapat didaur-ulang dan mudah terurai Lakukan penanganan untuk sampah organik menjadi kompos dengan berbagai cara yang telah ada (sesuai ketentuan) atau manfaatkan sesuai dengan kreatifitas masing-masing. Lakukan penanganan sampah anorganik menjadi barang yang bermanfaat.

9

Tabel 2.2. Upaya 3-M di Fasilitas Umum

Penanganan 3-M

Cara Pengerjaan

M-1

Gunakan kedua sisi kertas untuk penulisan dan fotokopi. Gunakan alat tulis yang dapat diisi kembali. Sediakan jaringan informasi dengan komputer (tanpa kertas) Maksimumkan penggunaan alat-alat penyimpan elektronik yang dapat dihapus dan ditulis kembali. Khusus untuk rumah sakit, gunakan insinerator untuk sampah medis. Gunakan produk yang dapat diisi ulang. Kurangi penggunaan bahan sekali pakai.

M-2

Gunakan alat kantor yang dapat digunakan berulangulang. Gunakan peralatan penyimpan elektronik yang dapat dihapus dan ditulis kembali.

M-3

Olah sampah kertas menjadi kertas kembali. Olah sampah organik menjadi kompos.

10

Tabel 2.3. Upaya 3-M di Daerah Komersial (Pasar, Pertokoan, Restoran, Hotel) Penanganan 3-M Cara Pengerjaan Berikan insentif oleh produsen bagi pembeli yang mengembalikan kemasan yang dapat digunakan kembali. Berikan tambahan biaya bagi pembeli yang meminta kemasan/bungkusan untuk produk yang dibelinya. Memberikan kemasan/bungkusan hanya pada produk yang benar-benar memerlukannya. Sediakan produk yang kemasannya tidak menghasilkan sampah dalam jumlah besar. Kenakan biaya tambahan untuk permintaan kantong plastik belanjaan. Jual atau berikan sampah yang telah terpilah kepada yang memerlukannya. Gunakan kembali sampah yang masih dapat dimanfaatkan untuk produk lain, seperti pakan ternak. Berikan insentif bagi konsumen yang membawa wadah sendiri, atau wadah belanjaan yang diproduksi oleh swalayan yang bersangkutan sebagai bukti pelanggan setia. Sediakan perlengkapan untuk pengisian kembali produk umum isi ulang (minyak, minuman ringan). Jual produk-produk hasil daur-ulang sampah dengan lebih menarik. Berilah insentif kepada masyarakat yang membeli barang hasil daur-ulang sampah. Olah kembali buangan dari proses yang dilakukan sehingga bermanfaat bagi proses lainnya, Lakukan penanganan sampah organik menjadi kompos atau memanfaatkannya sesuai dengan kebutuhan. Lakukan penanganan sampah anorganik.

M-1

M-2

M-3

11

1.5.

Daur-Ulang dan Pengomposan

Secara garis besar, sampah dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik dapat terurai secara alamiah karena banyak berasal dari sisa daun-daunan, buah-buahan, sayuran, dan sisa makanan lainnya. Sementara itu sampah anorganik berasal dari bahan sintetis yang sukar terurai.

Kedua golongan sampah mempunyai potensi yang tinggi untuk didaur-ulang. Sampah organik didaur-ulang menjadi kompos, dan sampah anorganik didaur-ulang dalam proses selanjutnya pada industri daur-ulang.

Daur-ulang menggunakan prinsip 2-M dari 3-M yang ada yaitu menggunakan kembali (reuse) dan mendaur-ulang (recycle). 1.5.1. Menggunakan Kembali

Barang-barang yang habis dipakai dan tidak bermanfaat lagi disebut sampah. Anggapan ini berbeda bila benda-benda yang dianggap sampah karena sifat dan karakteristiknya dapat dimanfaatkan kembali tanpa melalui proses produksi. Sebagai contoh: berbagai jenis botol, perabotan rumah tangga, dan lainnya yang sudah tidak terpakai lagi. Melalui proses pencucian, perbaikan, maupun sedikit penggantian, benda-benda tersebut dapat digunakan kembali seperti semula. Dengan demikian fungsi benda-benda tersebut sebagai sampah menjadi tertunda. Sehingga pada saat itu jumlah sampah 12

akan berkurang sebesar jumlah benda yang dapat dimanfaatkan kembali. 1.5.2. Mendaur-ulang

Sampah didaur-ulang (recycled) untuk dijadikan bahan baku industri (raw material) dalam proses produksi (reprocessing dan

remanufacture).

Dalam proses ini, sampah sudah mengalami

perubahan baik bentuk maupun fungsinya. Sebagai contoh sampah plastik, karet, kertas, besi, tembaga, alumunium, dengan melalui proses mengalami perubahan bentuk dan fungsi menjadi produk akhir yang dapat digunakan kembali.

Kegiatan daur-ulang dan pengomposan dengan sampah perkotaan sebagai bahan baku mempunyai banyak keuntungan dan dapat diuraikan sebagai berikut : 1.5.3. Membantu meringankan beban pengelolaan sampah perkotaan.

Komposisi sampah di Indonesia sebagian besar terdiri atas sampah organik, sekitar 50% sampai 60% dapat dikomposkan sedangkan sampah anorganik sekitar 20% dapat didaur-ulang. Apabila hal ini dapat direalisasikan sudah tentu dapat membantu dalam pengelolaan sampah di perkotaan, yaitu : Memperpanjang umur tempat pembuangan akhir (TPA), karena semakin banyak sampah yang dapat dikomposkan, semakin sedikit sampah yang dikelola. 13

Meningkatkan efisiensi biaya pengangkutan sampah, disebabkan jumlah sampah yang diangkut ke TPA semakin berkurang. Meningkatkan kondisi sanitasi di perkotaan. Semakin banyak sampah yang dibuat kompos, diharapkan semakin sedikit pula masalah kesehatan lingkungan masyarakat yang timbul. Dalam proses pengomposan, panas yang dihasilkan dapat mencapai 600C, sehingga kondisi ini dapat memusnahkan mikroorganisme patogen yang terdapat dalam masa sampah.

a.

Dari segi sosial kemasyarakatan, daur-ulang dan pengomposan dapat meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah kota dan meningkatkan pendapatan keluarga.

b.

Daur-ulang

dan

pengomposan

berpotensi

mengurangi

pencemaran lingkungan perkotaan, karena jumlah sampah yang dibakar atau dibuang ke sungai menjadi berkurang. Selain itu aplikasi kompos pada lahan pertanian berarti mencegah pencemaran karena berkurangnya kebutuhan pemakaian pupuk buatan dan obat-obatan yang berlebihan.

c.

Membantu melestarikan sumber daya alam. Pemakaian kompos pada perkebunan akan meningkatkan kemampuan lahan kebun dalam menahan air, sehingga lebih menghemat kandungan air. Selain itu pemakaian humus sebagai media tanaman dapat digantikan oleh kompos, sehingga eksploatasi humus hutan dapat dicegah. Selain itu pemenuhan bahan baku pabrik dari hasil pemulungan sampah menyebabkan penggunaan bahan

14

baku yang berasal dari alam menjadi berkurang dan dapat ditekan

e. Pengomposan juga berarti menghasilkan sumber daya baru dari sampah, yaitu kompos, yang kaya akan unsur hara mikro.

1.6.

KEBIJAKSANAAN

Dalam rangka meningkatkan upaya daur-ulang dan pengomposan, maka Pemerintah dalam Agenda 21 Indonesia mengusulkan kegiatan-kegiatan yang terkait dengan pengelolaan sampah dalam periode 1998-2020 sebagai berikut: 1.6.1. Tahap I : 1998 2003

Meningkatkan komitmen pemerintah pada kegiatan daur-ulang dan pengomposan dengan cara: Menetapkan daur-ulang dan pengomposan sebagai salah satu tujuan utama dalam strategi pengelolaan limbah padat; Memantapkan kebijakan dan mengembangkan program proaktif untuk kegiatan daur-ulang dan pengomposan dalam program pengelolaan sampah nasional; Mengembangkan program daur-ulang untuk kemasan dan

memberi perhatian khusus kepada bahan yang limbahnya menjadi masalah yang aktual, seperti botol plastik; Menetapkan target nasional untuk daur-ulang dan pengomposan.

15

1. Memberi contoh perwujudan komitmen Pemerintah pada kegiatan daur-ulang dan pengomposan dengan mendorong instansi Pemerintah dan Badan Usaha Pemerintah untuk menggunakan produk-produk daur-ulang/pengomposan.

2. Mengkoordinasikan dan/atau mengintegrasikan kegiatan daurulang sektor informal seperti pemulung, pengusaha UDPK, dengan sektor formal seperti Pemerintah Daerah, dan juga Pemerintah Pusat. Kegiatan-kegiatannya dapat berupa:

Menyebarluaskan informasi tentang manfaat kegiatan koordinasi tersebut; Melakukan analisis terhadap alternatif struktur koordinasi atau kerjasama yang sesuai; Melakukan pendekatan terhadap terhadap anggota DPR, Walikota, dan lembaga terkait lannya; Memantapkan kriteria daur-ulang dan pengomposan dalam penilaian kebersihan kota Nasional; Memperbolehkan kegiatan daur-ulang dan pengomposan di lokasi TPS dan TPA, dan mengkoordinasikan rute transportasi dengan lokasi daur-ulang dan pengomposan;

Mengupayakan subsidi bagi kegiatan daur-ulang yang didasarkan transportasi; pada analisis penghematan biaya

Mempertimbangkan kemungkinan subsidi oleh Pemda untuk pembentukan badan usaha atau koperasi yang melakukan kegiatan daur-ulang dan pengomposan.

16

3. Meneruskan

pemberian

dukungan

secara berkelanjutan

kepada pelaku sektor informal seperti pemulung dan lapak dengan memberikan akses pinjaman untuk pengadaan peralatan pembuat kompos dan daur-ulang.

4. Mengembangkan masyarakat yang:

program

pendidikan

dan

penyadaran

Mempromosikan pemakaian produk yang menggunakan bahan daur-ulang melalui kampanye nasional, seminar, dan pemberitaan oleh media massa, dan; Menumbuhkan peran serta aktif masyarakat dalam

kegiatan daur-ulang dan pengomposan pada tingkat rumah tangga seperti pemisahan pada sumber sampah untuk sampah basah/organik dan sampah kering/anorganik.

5.

Mengembangkan dan menerapkan strategi pemasaran yang dapat meningkatkan jumlah pemakai kompos. Strategi ini dapat dibedakan atas strategi untuk pemakai jumlah besar seperti pertanian, perkebunan, pembibitan, dan sebagainya, dan pemakai jumlah kecil seperti rumah tangga.

6. Meninjau kembali kebijakan impor limbah untuk memastikan bahwa impor tadi tidak mengganggu industri daur-ulang lokal.

7. Melakukan penelitian untuk mengidentifikasi produk-produk baru yang dapat dihasilkan melalui usaha daur-ulang.

17

8. Menyediakan insentif bagi konsumen yang menggunakan produk hasil daur-ulang dan produsen yang mengemas produknya secara minim melalui instrumen seperti subsidi, product charge, dan deposit refund.

Program kegiatan yang diusulkan untuk dilaksanakan pada tahun 2003 2020 adalah sebagai berikut: 1.6.2. Tahap II : 2003 2020

1. Menerapkan sistem pengelolaan limbah yang mengintegrasikan minimasi, daur-ulang dan pengomposan, pengumpulan, serta pembuangan akhir yang akrab lingkungan. 2. Mengembangkan dan melaksanakan sistem pemisahan sampah, bila layak secara ekonomis, yang memisahkan sampah ke dalam beberapa kategori seperti bahan organik, gas, kertas, logam, dan sebagainya.

3. Melanjutkan penelitian tentang pemakaian dan pemasaran produk daur-ulang.

4. Menganalisis kelayakan ekonomi, keuangan, dan teknologi serta menerapkannya bila layak, seperti pemisahan/pemilahan mekanik berskala besar dan peralatan mekanik pembuatan kompos.

5. Mengevaluasi dan memperbaiki insentif dan disinsentif untuk daur ulang dan pengomposan sampah yang diterapkan di periode sebelumnya. 18

6. Melanjutkan dan memperbaiki program penataan dan penyuluhan masyarakat secara berkesinambungan yang mempromosikan pemakaian produk yang menggunakan bahan daur-ulang dan kompos.

Menyikapi dan sebagai tindak lanjut dari Agenda 21 Indonesia, Ditjen PUOD Depdagri mengeluarkan Draft Kep.Mendagri tentang

Pengelolaan Sampah (April 1997) yang menetapkan dasar hukum dan tanggung jawab pemerintah daerah dalam rangka pelayananan sampah/kebersihan kota. Kepmen ini antara lain merekomendasikan sektor informal daur-ulang sampah (SIDUS) terdiri atas pemulung, lapak, dan bandar harus diintegrasikan ke dalam sistem pengelolaan sampah kota dan SIDUS diperbolehkan untuk menggunakan fasilitas kebersihan yang ada, seperti TPS-TPS yang ada. Selain itu kerjasama antara pemerintah daerah dengan sektor swasta juga diatur dalam Kepmen ini. Prinsip utamanya adalah kerjasama yang seimbang akan menghasilkan keuntungan yang berkualitas.

Target daur-ulang sampah kota adalah sebagai berikut: Daur-ulang 50% dari berat sampah sampah tahun 2000 dan 75% sampai dengan tahun 2005. Pembuatan kompos diharapkan dapat mencapai 25% dari total sampah organik sampai tahun 2000 dan 50% sampai tahun 2005.

1.7. SARANA PELAKSANAAN Menurut Agenda 21 Indonesia, sarana pelaksanaan sangat

dibutuhkan untuk menunjang keberhasilan program daur-ulang dan 19

pengomposan. Sarana-sarana tersebut meliputi aspek pendanaan, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta kelembagaan dan instrumen hukum. 1.7.1. Aspek Pendanaan

Sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah melalui otonomi daerah, maka pembiayaan dari Pemerintah Daerah sangat dibutuhkan terutama untuk program kampanye, pemasaran, pelatihan dan pemberian akses kepada pinjaman untuk unit pengomposan. Untuk kegiatan daur-ulang

1.7.2. Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Mengembangkan pengomposan.

teknologi

tepat

guna

daur-ulang

dan

Mengembangkan teknologi tepat guna untuk pemilahan sampah Mengembangkan pengetahuan mengenai ekonomi lingkungan untuk mengetahui instrumen ekonomi dan hukum seperti apa yang dapat mendorong pengurangan volume kemasan dan limbah dalam proses produksi.

1.7.3. Pengembangan Sumberdaya Manusia

Memasukkan sistem daur-ulang dan pengomposan ke dalam program pelatihan bidang pengelolaan sampah untuk aparat pemerintah daerah. 20

Melakukan pelatihan yang berkaitan dengan pembiayaan, teknologi, operasi dan pemasaran produk daur-ulang dan pengomposan terhadap pelaku sektor informal seperti pemulung dan lapak, masyarakat dan aparat pemda terkait.

Mengembangkan berbagai program penyuluhan dalam usaha mempromosikan pengomposan. penggunaan produk daur-ulang dan

1.7.4. Kelembagaan dan Instrumen Hukum

Meningkatkan kemampuan dan peran Pemda untuk mendukung pelaku sektor informal dan komersial, dengan cara misalnya:

-

Meningkatkan koordinasi di antara aparat Pemda terkait, sehingga dapat mengembangkan sistem koordinasi yang tepat antara sektor formal dan informal;

-

Meningkatkan pengetahuan aparat Pemda mengenai sistem daur-ulang dan pengomposan;

-

Menyediakan forum pertemuan dan diskusi antara pelaku dan instansi terkait.

Mendukung koperasi pemulung dan LSM yang bergerak di bidang daur-ulang dan pengomposan melalui misalnya pemberian akses terhadap pinjaman untuk pembelian peralatan daur-ulang dan pengomposan.

21

BAB IIPENERAPAN KONSEP ZERO WASTE DALAM PENGELOLAAN SAMPAH PERKOTAAN2.1. Umum

Masalah sampah perkotaan merupakan masalah yang selalu hangat dibicarakan baik di Indonesia maupun kota kota di dunia, karena hampir semua kota menghadapi masalah persampahan.

Meningkatnya pembangunan kota, penambahan penduduk, tingkat aktifitas dan tingkat sosial ekonomi masyarakat, diiringi dengan meningkatnya jumlah timbulan sampah dari hari ke hari serta sarana dan prasarana pemerintah yang terbatas akan menambah

permasalahan sampah yang semakin kompleks. Terlebih lagi dengan masa krisis yang melanda Indonesia saat ini.

Dari hasil evaluasi kebersihan kota kota di Indonesia bahwa tidak seluruh sampah dapat diangkut oleh kendaraan pengangkut sampah untuk dibuang ke TPA. Hal ini disebabkan masih terbatasnya sarana dan prasarana yang dipunyai oleh Pemerintah Daerah, sehingga pada beberapa wilayah atau kawasan masih tampak sampah berceceran tidak terangkut yang apabila dibiarkan akan menimbulkan berbagai dampak negatif baik dari segi lingkungan, kebersihan, dan pada akhirnya berpengaruh pada kesehatan masyarakat. Dilain pihak 1

lahan untuk pembuangan akhir sampah di perkotaan semakin terbatas dan semakin mahal. Dengan demikian diperlukan suatu upaya terobosan pengelolaan sampah efektif dalam rangka

meningkatkan efesiensi dan pengurangan sampah semaksimal mungkin melalui pemanfaatan sampah melalui teknologi pengolahan tepat guna secara terintegrasi dan sedekat mungkin dari sumbernya.

2.2.

Sampah Sebagai Limbah

Sampah sebagai sumber pencemar lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik akan mengakibatkan pengotoran lingkungan,

pencemaran air, tanah, tempat berkembangnya bibit penyakit, penyumbat saluran air yang menyebabkan banjir. Selain itu sering pula timbunan sampah merusak keindahan kota dan menimbulkan bau yang kurang enak.

Pengertian sampah diatas, sampah dapat diartikan sebagai limbah pada sisa aktivitas manusia/masyarakat, tidak terpakai, dapat bersifat organik maupun anorganik; karena membahayakan

kesehatan lingkungan harus dibuang/ disingkirkan/dikelola dari lingkungan. Dengan demikian diperlukan biaya yang tidak sedikit untuk mengelola sampah perkotaan. 2.3. Sampah Sebagai Sumberdaya

Dilain pihak terdapat pengertian bahwa sampah merupakan potensi sumberdaya yang dapat dimanfaatkan sehingga mempunyai nilai

2

tambah sebagai produk daur ulang maupun produk baru. Dengan demikian diharapkan dapat menghasilkan pendapatan.

Penerapan konsep zero waste dalam pengelolaan sampah dalam hal ini mengikuti pengertian pada butir kedua yaitu memanfaatkan sampah semaksimal mungkin dengan cara pengolahan yang terintegrasi, sedekat mungkin dari sumber sampah, dan dapat menghasilkan produk baru atau bahan daur ulang dan meningkatkan pendapatan masyarakat.2.4. Komposisi dan Karakteristik Sampah

Komposisi dan karakteristik sampah merupakan hal yang terpenting dalam memilih teknologi pengolahan sampah. Komposisi sampah rata rata di Indonesia mayoritas adalah organik dengan komposisi 73.98%, selanjutnya diikuti oleh bahan anorganik 26.48%.

Tabel 2.1. Komposisi dan karakteristik sampah rata rata

No 1 2 3 4 5 6

Komponen Organik Kertas Kaca Plastik Logam Kayu

% 73.98 10.18 1.75 7.86 2.04 0.98

Kadar Air (%) 47.08 4.97

N. Kalor (kkal/kg) 674.57 235.55

2.28

555.46

0.32

38.28

3

7 8 9 10 Total

Kain Karet Baterai Lain lain

1.57 0.55 0.29 0.86 100

0.63 0.02

42.64 7.46

55.3

1553.96

Sumber : Studi Komposisi Dan Karakteristik BPPT, 1994Dari penelitian yang pernah dilakukan, komposisi sampah bervariasi antara 70 80 %, nilai kalor sampah bervariasi antara 1000 2000 kkal/kg dan kadar air bervariasi antara 50 70 %. Dari data tersebut maka komponen organik masih merupakan komponen terbesar dan menyebabkan sampah kota mempunyai kadar air yang cukup tinggi. Karakteristik sampah diatas, maka sehari saja sampah dibiarkan menumpuk, maka akan terjadi kegiatan mikroorganisme anaerobik yang menyebabkan sampah berbau tidak sedap. Disisi lain sampah yang tidak terkelola dengan baik akan mengakibatkan

berkembangnya vektor penyakit.

2.5.

Penerapan Teknologi Pengolhan dan Pemanfaatannya dalam Pengelolaan Sampah

Salah satu untuk mengurangi jumlah sampah di perkotaan dan menunjang penerapan zero waste adalah dengan melakukan pengolahan sampah. Saat ini pengurangan/reduksi sampah hanya dilakukan melalui kegiatan pemulungan sampah (daur ulang) yang secara sporadis telah dilakukan oleh sektor informal (pemulung). Pengomposan sampah baru dilakukan dalam tahap skala kecil melalui Unit Daur Ulang dan Produksi Kompos (UDPK) yang ada 4

umumnya terletak di TPA, sehingga merupakan beban dan tugas yang harus dilakukan oleh Pemda untuk mengangkut sampah ke TPA.

Program daur ulang di Indonesia yang telah dilaksanakan di Indonesia sejak tahun 1986 baru dapat mencapai 1,8 %, kondisi ini belum cukup untuk mengurangi laju pertumbuhan jumlah sampah yang akan meningkat lima kalinya pada tahun 2020.

Dengan demikian penerapan teknologi pengolahan sampah sudah waktunya untuk dimulai, sehingga sampah sisa yang harus dibuang ke lahan pembuangan akhir hanya sedikit dan penggunaan lahan pembuangan akhir lebih lama, selain itu pencemaran lingkungan dapat ditekan.

Ada tiga jenis teknologi yang saat ini banyak diterapkan yaitu teknologi pengomposan sampah, teknologi pembakaran sampah dan teknologi daur ulang sampah.

2.5.1. Pengomposan Sampah

Pengomposan merupakan salah cara dalam mengolah bahan padatan organik untuk menjadi kompos yang secara nasional ketersediaan bahan organik dalam sampah kota cukup melimpah yaitu antara 70 80 %. Sayangnya, sebagian besar sampah kota belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai kompos. Pada dasarnya pengomposan merupakan proses degradasi materi organik menjadi stabil melalui reaksi biologis mikroorganisme dalam kondisi 5

yang terkendali. Teknologi pengomposan sampah yang dilakukan saat ini sangat beragam ditinjau dari segi teknologi maupun kapasitas produksinya antara lain :

Pengomposan dengan cara aerobik, Pengomposan dengan cara semi aerobik, Pengomposan dengan reaktor cacing, dan Pengomposan dengan menggunakan additive.

Kompos sebenarnya mempunyai nilai pasar, akan tetapi studi BPP Teknologi pada tahun 1990 menemukan bahwa hanya 4% dari pedagang tanaman hias yang menjual kompos karena kompos ini kurang populer pada masyarakat.

Kompos yang dihasilkan dari pengomposan sampah ini dapat digunakan untuk :

Menguatkan struktur lahan kritis; Menggemburkan kembali tanah pertanian; Menggemburkan kembali lahan pertamanan; Sebagai bahan penutup sampah di TPA; Reklamasi pantai, pasca penambangan ; Sebagai media tanaman, mengurangi pupuk kimia.

2.5.2. Pembakaran Sampah

6

Teknologi pembakaran sampah dalam skala besar/skala kota dilakukan di instalasi pembakaran yang disebut juga dengan insinerator. Dengan teknologi ini, pengurangan sampah dapat mencapai 80 % dari sampah yang masuk, sehingga hanya sekitar 20% yang merupakan sisa pembakaran yang harus dibuang ke TPA. Sisa pembakaran ini relatif stabil dan tidak dapat membusuk lagi, sehingga lebih mudah penanganannya.

Keberhasilan penerapan teknologi pembakaran sampah sangat tergantung dari sifat fisik dan kimia sampah serta kemampuan dana maupun manajemen dari Pemerintah Daerah. Sifat fisik dan kimia sampah yang sesuai diolah dengan teknologi ini menurut instalasiinstalasi yang sudah beroperasi terdahulu adalah :

Nilai kalor sampah campuran antara 950 2.100 kkal/kg, Kadar air antara 35 55 % dan Kadar abu antara 10 30 %. Pemanfaatan sisa abu hasil pembakaran ini dapat digunakan antara lain : Sebagai pengganti tanah penutup lahan TPA, pasca penambangan. Sebagai tanah urug. Sebagai campuran bahan konstruksi (batako, paving block, dsb).7

Sebagai campuran kompos.2.5.3. Daur Ulang Sampah

Kegiatan daur ulang sampah sudah dimulai sejak beberapa tahun terakhir ini yang dilakukan oleh sektor informal. Para pemungut barang bekas yang disebut pula dengan pemulung, melaksanakan kegiatan pemungutan sampah dihampir seluruh subsistem

pengelolaan sampah. Komponen sampah yang mempunyai nilai tinggi untuk dimanfaatkan kembali, berdasarkan penelitian BPP Teknologi tahun 1990, adalah sampah kertas, logam dan gelas. Prosentase sampah tersebut (dari jumlah awal) yang diambil oleh pemulung adalah seperti pada Tabel berikut ini :

Tabel 2.1. Prosentase Pengambilan Sampah Oleh Pemulung

No. 1. 2. 3. 4.

Komponen Sampah Kertas Plastik Logam Gelas

% 71,20 67,05 96,09 85,05

Beberapa pemanfaatan sampah kering yang dapat dihasilkan dari pengolahan sampah untuk daur ulang dan mempunyai nilai ekonomis antara lain :

8

A. Sampah Kertas

Jenis kertas bekas serta produk daur ulang yang dapat dihasilkan dari hasil pengolahan kertas dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

No. 1.

Jenis Kertas Bekas Kertas komputer dan

Sumber Perkantoran, percetakan sekolah dan

Produk Recycling Kertas komputer, kertas tulis dan art paper

kertas tulis

2.

Kantong kraft

Pabrik, pasar dan pertokoan

Kertas paper

kraft

dan

art

3.

Karton dan box

Pabrik, dan pasar

pertokoan

Karton dan art paper

4.

Koran, majalah dan buku

Perkantoran, pasar dan rumah tangga

Kertas koran dan art paper Kertas tulis tissue, kualitas kertas rendah

5.

Kertas bekas campuran

Rumah perkantoran,

tangga, LPS/

TPA dan Pertokoan 6. Kertas makanan pembungkus Pertokoan, tangga perkantoran 7. Kertas tissue Rumah tangga, rumah dan

dan art paper Tidak ulang dapat di daur

Kertas sangat dapat kembali)

tissue jarang didaur

(tetapi yang ulang

perkantoran, rumah makan pertokoan Sumber : Kajian Pengelolaan Kertas, Dep. PU, DTW, 1999 dan

9

B. Sampah Plastik

Pada umumnya sampah plastik sebagian besar dapat diolah baik menjadi: a. Produk baru ; alat rumah tangga seperti ember, bak tali plastik. b. Digunakan kembali seperti pembungkus, pot tanaman, tempat bumbu. c. Sebagai bahan industri daur ulang seperti pellet, biji plastik.

C. Logam Logam yang dihasilkan dari sampah kota dapat dimanfaatkan antara lain :

Digunakan kembali seperti kaleng susu. Dijadikan produk baru, seperti tutup botol kecap, mainan. Sebagai bahan tambahan atau bahan baku industri seperti industri logam.D. Bahan lain Bahan lain seperti, gelas, karet mempunyai prosentase yang cukup kecil dalam komponen sampah kecuali pada kasus tertentu. Oleh karena itu dalam skala kecil tidak ekonomis untuk diolah.

10

Aplikasi teknologi pengolahan sampah, sedikitnya dapat memberikan solusi pada permasalahan kesulitan lahan untuk TPA. Akan tetapi, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dengan matang untuk menerapkan teknologi diatas. Teknologi yang saat ini digunakan untuk pengolahan sampah skala besar, baik itu pengomposan maupun pembakaran sampah, rata-rata menggunakan teknologi yang cukup canggih, melalui sistem mekanis/hidrolis yang bekerja semi atau bahkan otomatis penuh. Instalasi pengolahan tersebut biasanya memerlukan dana yang cukup besar untuk operasi maupun investasi dan sumber daya manusia yang mempunyai keahlian tertentu.

Beberapa pertimbangan tersebut antara lain :

Dana yang cukup, baik untuk investasi maupun operasi instalasi pengolahan. Dana untuk pengembangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia dari tingkat masyarakat sampai tingkat

pengelolaan kota. Kelembagaan yang sudah mapan termasuk didalamnya sumber daya manusia. Sarana dan prasarana yang memadai sebagai pendukung kelancaran operasi sistem pengelolaan sampah. Partisipasi masyarakat dalam sistem pengelolaan persampahan termasuk didalamnya kesediaan membayar iuran sampah, menjaga kebersihan lingkungan dan lain-lain. Perangkat hukum dan peraturan.

11

Secara umum penerapan teknologi pengolahan sampah perkotaan dan pemanfaatannya dapat dilihat gambar dibawah ini :TEPUNG PROTEIN

GAS KOMPOS GAS ORGANI KPengumpulan

TPS

COMPOS TINGPengangkut an

SISA

SANITA RY

SARANA REKREAS I BAHAN BAKU INDUSTRI PENAMB AHAN LUAS DARATAN

SAMP AH KOTA Pengangkutan

DAU RSISA YANG TIDAK DAPAT

REKLA MASI SISA YAN G

ANORGANIK

TPS

Pengumpul an

INSTAL ASI PEMBA KARAN

SISA GAS BERSIH ATMOS FER KUALITA S AIR YANG TIDAK ENERGI

GAMBAR

2.1

DIAGRAM

PENERAPAN

TEKNOLOGI

PENGOLAHAN SAMPAH PERKOTAAN DAN PEMANFAATANNYA

12

2.6.

Penerapan Zero Waste dalam Industri Daur Ulang Sampah ( Model Kawasan 2 4 Ton/Hari )

Sejalan dengan Kebijaksanaan dan Strategi Nasional Pembangunan Bidang Persampahan yaitu ditekankan perlunya melakukan proses pengurangan volume sampah dan penanganan sampah sedekat mungkin dengan sumbernya, maka konsep ini dilakukan dengan mendirikan industri kecil daur ulang sampah di daerah kawasan melalui pemberdayaan masyarakat sekitar untuk diajak berperan aktif dalam membentuk usaha daur ulang.

Pemberdayaan masyarakat dalam industri daur ulang sampah merupakan salah satu sistem pelayanan dari, oleh dan untuk masyarakat dengan menggunakan sistem pengolahan secara terpadu yaitu menerapkan beberapa jenis pengolahan secara simultan untuk menghasilkan produk maupun bahan daur ulang.

2.6.1. Teknologi Pengolahan Sampah Sampah yang dihasilkan dari setiap sumber di kawasan tersebut diangkut menuju ke lokasi industri, selanjutnya dilakukan pemisahan sampah organik dan anorganik.

Proses pengolahan yang dilakukan adalah pengomposan (windrow/ vermi/additive), daur ulang kertas, plastik dan logam. Sisa bahan yang tidak dapat didaur ulang direduksi dengan instalasi pembakaran skala kecil. Sisa abu hasil pembakaran diproses sebagai bahan

13

konstruksi maupun campuran kompos untuk menaikkan karbon pada produk tertentu. Dibawah ini digambarkan material balance pengolahan sampah secara terpadu skala kawasan dengan kapasitas 2 ton (10 m3) sampah perhari dalam industri kecil daur ulang sampah

Pengenalan Ke Masyarakat gratis di DP 0.08 ton(4%) Organik 1,6 ton (80%)

Kompos/Vcompo st 0.4 ton (20%) Keperluan Pemda, Pertanian, Perkebunan, Komersial 0.3 ton (16%)

Berat hilang 0.96 ton

Terbakar Sumber sampah Pemukiman 2 ton (100%) Sisa proses 0.24 ton (12%) Instalasi Pembakaran Sampah 0.36 ton Sisa daur ulang 0.12 ton (6%) Sisa 0.07 ton (3.5%) 0.29 ton

An-organik 0.4 ton (20%) Dimanfaatka n 0.28 ton (14%) Camp. kompos 0.07 ton

Gambar.2.2. Diagram sistem pengelolaan sampah skala pelayanan 1000 KK (2 ton/hari) 14

2.6.2. Produk yang dihasilkan Produk yang dihasilkan industri kecil daur ulang sampah skala kawasan dengan kapasitas 10 m3 sampah adalah : A. Kompos/Vermi Compost 0,4 ton/hari atau 12 ton/bln.

1. Bahan daur ulang 0,28 ton/hari atau 84 ton/bln yang terdiri dari kertas karton, biji plastik dan logam. 2. Cacing tanah sebagai reaktor sampah.

B. Kemana Produk Akan Diserap

Untuk menampung dan memasarkan produk daur ulang dan cacing tanah dari industri kecil tersebut antara lain : Industri dapat memasarkan sendiri produknya. Terdapatnya lembaga penyangga produk daur ulang yang bertugas untuk mengembangkan dan mengatur, menampung dan menyalurkan hasil produk daur ulang dengan menyusun jaringan pemasaran nasional dan internasional. Lembaga penyangga dalam hal ini dapat berbentuk koperasi atau forum komunikasi yang dapat mengakomodasi antara produk dan permintaan pasar, serta salah satu pemberi masukan ke Pemerintah guna menunjang keberhasilan dalam bidang kebersihan lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat kecil menengah dalam

peningkatan kesejahteraan masyarakat.

15

C. Lokasi Industri Kecil Daur Ulang Sampah

Wilayah kegiatan penerapan zero waste dapat dilakukan di setiap kawasan pelayanan sampah seperti permukiman, komersial, industri, perkantoran dan pasar.

Besar kecilnya kapasitas produksi industri kecil daur ulang sampah tergantung pada luas lahan dan kondisi setempat yang terdapat di kawasan tersebut. Pada umumnya untuk satu depo sampah yang telah disediakan oleh Pemda adalah 250 500 m2 untuk melayani 5000 8000 jiwa (1000 KK) dengan kapasitas sampah masuk adalah 10 20 m3 perhari.

Industri kecil daur ulang sampah daerah kawasan ini akan melakukan pengolahan sampah dengan kapasitas tampung minimal 10 m3/hari dengan kebutuhan lahan minimal 400 m2 per modul.

D. Organisasi

Organisasi pengelola industri kecil ini terdiri dari Pemda, masyarakat dan pemulung yang berada di depo tersebut.

Dalam satu industri daur ulang terdiri dari : 1 orang kepala unit 4 orang bidang teknik

16

1 orang administrasi dan keuangan 4 orang tenaga lepas/pemulung (disesuaikan)

E. Pendanaan

Untuk menjalankan industri kecil daur ulang sampah ini dana yang didapat meliputi :

1. Dana investasi awal berasal antara lain Pemda, swasta, koperasi maupun dari sumber lain.

2. Dana untuk menjalankan industri daur ulang yang secara bergulir dapat dikembangkan dapat berasal dari iuran kebersihan warga yang telah berjalan, sebagian dana penghematan operasional Pemda, hasil penjualan produk daur ulang bahan anorganik, kompos/kacing (vermicompost) dan cacing.

Beberapa keuntungan dan kendala dalam penerapan industri kecil dalam pengolahan sampah terpadu model kawasan antara lain :

Keuntungan : 1. Mengatasi permasalahan lingkungan yang diakibatkan oleh sampah kota. 2. Mengurangi beban Pemda dalam penanganan sampah kota.

17

3. Melakukan pengolahan sampah kota untuk diolah menjadi produk yang mempunyai nilai jual. 4. Mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPA. 5. Menciptakan usaha pengolahan sampah dalam suatu industri kecil daur ulang dan kompos.

Kendala yang dihadapi :

1. Kurang populernya kompos di masyarakat menyebabkan kompos sebagai produk utama merupakan faktor yang perlu

diperhitungkan dalam tujuan komersial. 2. Telah terdapatnya mata rantai penjualan bahan daur ulang anorganik hasil pemulung.

2.7.

Kesimpulan

Dari uraian singkat diatas, dapat disimpulkan sebagai berikut : Masalah pembuangan sampah sudah merupakan masalah yang cukup pelik bagi Pemerintah Daerah, terutama dalam penyediaan lahan untuk Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Aplikasi beberapa jenis teknologi pengolahan sampah secara terpadu seperti pengomposan dan pembakaran dapat

mengurangi kebutuhan lahan TPA dan efisiensi pengangkutan sampah. Penerapan industri kecil daur ulang merupakan salah satu alternatif penciptaan produk dari sampah perkotaan yang dapat 18

dikembangkan menjadi usaha komersial yang dapat dilakukan oleh masyarakat maupun swasta dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat. Dengan belum populernya kompos pada masyarakat, sistem pengolahan terpadu dapat menjembatani dengan

mendistribusikan sebagian kompos kemasyarakat.

19

BAB IIIPEMILAHAN SAMPAH PERKOTAAN3.1. Umum

Pemilahan sampah adalah langkah yang sangat penting dalam proses pembuatan kompos. Tujuan utamanya adalah untuk

memperoleh bahan baku atau material sampah yang baik untuk dibuat kompos. Keuntungan dari pemilahan yang baik adalah proses pembuatan kompos dapat berlangsung lebih cepat, karena bahan yang terpilih untuk pengomposan sesuai dengan kondisi yang ideal, sehingga dengan sendirinya kualitas komposnyapun menjadi lebih baik.

Apabila dalam suatu tumpukan bahan yang akan dikomposkan mengandung bahan berbahaya seperti obat-obatan kadaluarsa, bahan kimia, logam berat, dan sebagainya yang dapat membunuh jasad renik pengurai, maka proses pembuatan kompos tidak dapat berjalan dengan baik bahkan dapat terhenti sama sekali. Kompos yang dihasilkan, apabila ada, mungkin sudah tercemar, sehingga kualitasnya menjadi rendah atau tidak dapat digunakan karena dapat membahayakan lingkungan termasuk manusia. Selain bahan atau material sampah yang berbahaya, sampah organik yang berserat tinggi seperti batang pohon, pelepah pisang, kulit durian,

tempurung/sabut kelapa, dan sebagainya dapat menghambat proses 1

pengomposan karena keras dan sukar terurai. Sampah jenis ini digolongkan ke dalam sampah residu.

Untuk mendapatkan proses dan hasil pengomposan yang baik, perlu diketahui jenis material sampah yang dapat dikomposkan dengan cepat. Jenis bahan yang memerlukan waktu lama untuk membusuk, maupun yang membahayakan proses pengomposan perlu dikenali, karena harus dihindarkan.

Proses pemilahan dapat dilakukan dengan berbagai cara tergantung pada proses pengolahan sampah selanjutnya. Pada proses

pengomposan atau daur-ulang sampah skala besar, biasanya pemilahan sampah dilakukan secara mekanik, sedangkan untuk pembuatan kompos skala lingkungan (misalnya: skala kelurahan, RT/RW) dan skala rumah tangga, pemilahan dilakukan secara manual dengan menggunakan tenaga manusia. Proses pemilahan sampah memerlukan ketelitian dan keterampilan yang dapat dikembangkan melalui pengalaman dan kebiasaan. 3.2. Klasifikasi Sampah

Sampah rumah tangga dapat dipisahkan menjadi 3 (tiga) bagian besar, yaitu: Barang Lapak

A.

Barang lapak adalah barang/benda/sampah yang masih dapat dimanfaatkan atau diperjualbelikan, sehingga merupakan salah satu 2

sumber penghasilan bagi pengusaha kompos atau ibu rumah tangga. Jenis sampah yang termasuk golongan ini adalah: segala jenis

kertas, karton, besi bekas, kaleng, plastik, botol, berbagai jenis karet, dll. Barang-barang ini dapat disimpan dalam suatu wadah sebelum dijual atau diberikan kepada yang memerlukan.

B.

Bahan organik yang dapat dikomposkan

Sampah yang termasuk dalam ketegori ini adalah material organik yang mudah atau cepat membusuk. Contoh bahan organik yang dapat dikomposkan adalah sebagai berikut: rumput, daun-daunan, sisa makanan, buangan dapur, sisa sayuran, sisa buah-buahan, serbuk gergaji, dll.

C.

Residu

Jenis sampah yang termasuk dalam kelompok ini adalah material yang tidak kita butuhkan lagi, baik untuk pengomposan maupun sebagai bahan lapak (dapat didaur-ulang). Termasuk di dalam kategori ini adalah material organik yang sukar terurai, seperti: kulit telur, kulit durian, dsb. Selain itu adalah barang lain yang tidak termasuk bahan lapak, dan barang-barang yang dianggap

berbahaya, seperti batu baterai, pecahan lampu neon, dsb.

3

Gambar 3.1. Material sampah yang dapat dipilah3.3. Metode Pemilahan Sampah

3.3.1. Pemilahan sampah pada sumbernya

Pemilahan sampah di sumber sampah misalnya di rumah tangga, sangat membantu proses pengolahan sampah selanjutnya, di lain pihak juga memudahkan pemulung untuk mengambil benda-benda yang masih bernilai ekonomis tanpa merusak/mengganggu sistem

4

pewadahan,

misalnya

sampah

dibongkar

kembali

sehingga

berserakan dan pada akhirnya mengurangi nilai estetika lingkungan.

Pemilahan sampah di sumbernya diharapkan dapat berjalan baik dengan syarat pola pengelolaan sampah juga harus dirubah. Sistem pengumpulan sampah, diatur sedemikian rupa sehingga sampah organik dan anorganik dapat dikumpulkan dan diangkut pada hari yang berbeda.

Masyarakat penghasil sampah dan pemulung harus diberi informasi terlebih dahulu mengenai tata cara pemilahan sampah antara lain melalui penyuluhan. Apabila tidak ada pemberitahuan awal, para pemulung akan tetap mengacaukan sistem pewadahan di rumah tangga. Informasi untuk pemulung dapat diberikan melalui ketua kelompok, bandar (lapak), atau mereka dapat langsung dikumpulkan di suatu tempat dan diberi penjelasan. Pemilahan di sumber sampah juga merupakan cara yang baik bagi pemulung untuk melindungi kesehatan mereka dari kemungkinan terkontaminasi penyakit yang berasal dari sampah.

Salah satu cara meningkatkan peranserta masyarakat adalah melalui pemberian insentif, bila mereka telah melakukan pemilahan dengan baik dan benar. Pemberian insentif dapat berupa potongan pembayaran iuran kebersihan atau bentuk-bentuk lain yang dapat meningkatkan minat ibu-ibu rumah tangga akan pemilahan sampah.

Metode ini diterapkan untuk memisahkan benda-benda yang sukar dipilah dengan mesin. Fasilitas yang dibutuhkan antara lain: 5

Ban berjalan (conveyer belt), para pekerja berdiri di salah satu atau kedua sisi ban berjalan sambil mengambil barang/benda yang telah ditentukan. Kontainer/wadah khusus untuk menampung benda-benda yang masih bernilai. Fasilitas keamanan dan sanitasi, seperti sarung tangan, masker, dll.

Sistem ventilasi yang baik dalam ruangan pemilahan sangat dibutuhkan oleh para pekerja dan juga pengaturan waktu istirahat serta pergantian waktu kerja (shift) sangat diperlukan untuk menjaga kondisi kesehatan mereka. 3.4. Pemilahan Sampah di Lokasi Pengolahan

Proses pemilahan sampah di lokasi pengolahan sampah pada umumnya dilakukan secara mekanis, yaitu antara lain dengan menggunakan tenaga angin, tenaga magnetik, getaran, perbedaan densitas, dll. Selain itu dapat juga dikombinasikan dengan tenaga manusia (manual) dengan tujuan untuk memisahkan sampah yang sukar dipilah secara mekanik. 3.5. Pemilahan Sampah Berdasarkan Ukuran Partikel

Proses ini dilaksanakan berdasarkan ukuran partikel sampah. Cara ini dapat lebih efektif apabila sebelum dipisahkan, sampah diproses terlebih dahulu dengan cara memperkecil ukuran partikel sampah. 6

Apabila biaya yang ada terbatas, biasanya pemrosesan awal dapat diabaikan. Terdapat dua tipe pemisahan berdasarkan ukuran

partikel, yaitu pemisahan dengan getaran (vibrating screen), dan pemisahan pemutaran alat tapis berlubang (rotary screen). Kedua cara pemisahan ini merupakan cara yang sangat sederhana

pengoperasiannya. Rotary screen berbentuk seperti drum dengan lubang-lubang dengan ukuran bervariasi di dindingnya. Sampah yang berukuran lebih kecil dari lubang akan lolos dan ditampung dengan bin/kontiner di bawahnya. Demikian pula yang terjadi pada vibrating screen yang cara kerjanya berdasarkan atas timbulnya getaran.

loading Vibrator motors Spreader deck

Screer deck

reject

Spring mounting motion

Gambar 3.2. Vibrating Screen

7

Feed Blades or Prongs used as bag breshers Feed

Oversize material Underflow material (size 1) Underflow material (size 2) Waste lears

Oversize material

Gambar 3.3. Rotary Screen (Trommel)

3.6.

Pemisahan Sampah Berdasarkan Densitas

Pemisahan sampah berdasarkan densitas disebut juga pemisahan dengan metode zig-zag. Cara pemisahan ini merupakan salah satu cara yang umum digunakan untuk memisahkan sampah berdasarkan atas densitas (berat jenis) sampah. Material yang sifatnya ringan akan terbawa aliran udara yang dialirkan dari dasar alat ke atas, sedangkan material yang berat akan jatuh dan dikumpulkan di dasar alat (lihat Gambar. 3).

8

Udara keluar

Aliran untuk komponen ringan

Pemisah siklon In feed conveyor Komponen yang ringan Rotary air lock Alat pemisah dengan udara Path of heavy material Ban berjalan

Komponen yang berat Udara keluar Ban berjalan

Gambar 3.4. Zigzag Clarifier 3.7. Pemisahan Magnetik

Pemisahan sampah dengan tenaga magnet biasanya digunakan untuk memilah partikel-partikel metal-ferous yang terdapat dalam komponen sampah. Terdapat dua jenis alat pemisah sampah magnetik yang sering digunakan, yaitu: 3.7.1. Pemisah Magnetik TipeTersuspensi

Terdiri dari magnet / elektromagnet yang letaknya permanen di bawah ban berjalan. Sampah yang mengandung metal ferous akan ditangkap oleh magnet yang dikumpulkan dalam wadah yang telah ditentukan.

9

Suspended stationary magnet

Ban berjalan

Ferrous material

conveyor

sampah

Gambar 3.5. Pemisah Magnet Tipe Tersuspensi 3.7.2. Pemisah Magnet Tipe Drum

Terdiri dari magnet/elektromagnet yang letaknya permanen di ujung ban berjalan dan dapat langsung memisahkan partikel-partikel metalferous dari komponen sampah.

Magnet Sampah

Conveyor belt

Ferrous material Nonferrous material

Gambar 3.6. Pemisah Magnetik Tipe Drum 10

Gambar 3.6. Ilustrasi Pusat Daur-ulang Sistem Terpadu 11

BAB IV PEMBUATAN KOMPOS DAN PERMASALAHANNYA 4.1. Umum

Pengomposan didefinisikan sebagai suatu proses dekomposisi (penguraian) secara biologis dari senyawa-senyawa organik yang terjadi karena adanya kegiatan mikroorganisme yang bekerja pada suhu tertentu. Pengomposan merupakan salah satu metoda

pengelolaan sampah organik menjadi material baru seperti humus yang relatif stabil dan lazim disebut kompos. Pengomposan dengan bahan baku sampah domestik merupakan teknologi yang ramah lingkungan, sederhana dan menghasilkan produk akhir yang sangat berguna bagi kesuburan tanah atau tanah penutup bagi landfill . 4.2. Keuntungan Pengkomposan

Pengomposan dengan sampah perkotaan sebagai bahan baku mempunyai banyak keuntungan dan dapat diuraikan sebagai berikut :

A. Membantu meringankan beban pengelolaan sampah perkotaan. Komposisi sampah di Indonesia sebagian besar terdiri atas sampah organik, sekitar 50% sampai 60% dapat dikomposkan. Apabila hal ini dapat direalisasikan sudah tentu dapat membantu dalam pengelolaan sampah di perkotaan, yaitu :

1. Memperpanjang umur tempat pembuangan akhir (TPA), karena semakin banyak sampah yang dapat dikomposkan, semakin sedikit sampah yang dikelola. 1

2. Meningkatkan

efisiensi

biaya

pengangkutan

sampah,

disebabkan jumlah sampah yang diangkut ke TPA semakin berkurang. 3. Meningkatkan kondisi sanitasi di perkotaan. 4. Semakin banyak sampah yang dibuat kompos, diharapkan semakin sedikit pula masalah kesehatan lingkungan

masyarakat yang timbul. Dalam proses pengomposan, panas yang dihasilkan dapat mencapai 600C, sehingga kondisi ini dapat memusnahkan mikroorganisme patogen yang terdapat dalam masa sampah.

B. Dari

segi

sosial

kemasyarakatan, masyarakat

pengomposan dalam

dapat

meningkatkan

peranserta

pengelolaan

sampah kota dan meningkatkan pendapatan keluarga.

C. Pengomposan berpotensi mengurangi pencemaran lingkungan perkotaan, karena jumlah sampah yang dibakar atau dibuang ke sungai menjadi berkurang. Selain itu aplikasi kompos pada lahan pertanian berarti mencegah pencemaran karena berkurangnya kebutuhan pemakaian pupuk buatan dan obat-obatan yang berlebihan.

D. Membantu melestarikan sumber daya alam. Pemakaian kompos pada perkebunan akan meningkatkan kemampuan lahan kebun dalam menahan air, sehingga lebih menghemat kandungan air. Selain itu pemakaian humus sebagai media tanaman dapat digantikan oleh kompos, sehingga eksploatasi humus hutan dapat dicegah. 2

E. Pengomposan juga berarti menghasilkan sumberdaya baru dari sampah, yaitu kompos, yang kaya akan unsur hara mikro.

Pengomposan merupakan salah satu solusi teknis yang baik bagi negara berkembang dalam rangka mereduksi sampah domestik, terutama bagi negara-negara dengan iklim arid dan mempunyai masalah dengan tanah yang kurang subur. Selanjutnya WHO (World Health Organization) menyatakan bahwa agar pengomposan dengan bahan baku sampah domestik dapat berjalan dengan sukses, maka harus dapat dicapai beberapa persyaratan sebagai berikut:

1. Jenis sampah sesuai untuk pengomposan; 2. Pangsa pasar untuk kompos maksimal berjarak 25 km dari kota; 3. Dukungan dari instansi yang terkait dengan pertanian; 4. Harga kompos terjangkau oleh petani. 4.3. Prinsip Prinsip Biologis

Pada dasarnya proses pengomposan adalah suatu proses biologis. Hal ini berarti bahwa peran mikroorganisme pengurai sangat besar. Menurut Tchobanoglous et al. (1993) dan Polprasert (1989), prinsipprinsip proses biologis yang terjadi pada proses pengomposan meliputi 1) kebutuhan nutrisi untuk mikroorganisme; 2) jenis-jenis mikroorganisme yang berperan dalam proses pengomposan; 3) kondisi lingkungan ideal; dan d) fase transformasi biokimia.

3

4.3.1. Kebutuhan Nutrisi Untuk perkembangbiakan dan pertumbuhannya, mikroorganisme memerlukan sumber energi, yaitu karbon untuk proses sintesa jaringan baru dan elemen-elemen anorganik seperti nitrogen, fosfor, kapur, belerang dan magnesium sebagai bahan makanan untuk membentuk sel-sel tubuhnya. Selain itu, untuk memacu

pertumbuhannya, mikroorganisme juga memerlukan nutrien organik yang tidak dapat disintesa dari sumber-sumber karbon lain. Nutrien organik tersebut antara lain asam amino, purin/pirimidin, dan vitamin. 4.3.2. Mikroorganisme Mikroorganisme pengurai dapat dibedakan antara lain berdasarkan kepada struktur dan fungsi sel, yaitu:

1. Eucaryotes, termasuk dalam dekomposer adalah eucaryotes bersel tunggal, antara lain : ganggang, jamur, protozoa. 2. Eubacteria, bersel tunggal dan tidak mempunyai membran inti, contoh: bakteri.

Beberapa hewan invertebrata (tidak bertulang belakang) seperti cacing tanah, kutu juga berperan dalam pengurai sampah.

Sesuai dengan peranannya dalam rantai makanan, mikroorganisme pengurai dapat dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu :

a. Kelompok I (Konsumen tingkat I) yang mengkonsumsi langsung bahan organik dalam sampah, yaitu : jamur, bakteri, actinomycetes. 4

b. Kelompok II (Konsumen tingkat II) mengkonsumsi jasad kelompok I, dan; c. Kelompok III (Konsumen tingkat III), akan mengkonsumsi jasad kelompok I dan Kelompok II.

Gambar 4.1 : Rantai makanan yang Terjadi dalam Tumpukan Pembuatan Kompos (Dindal dalam Polprasert, 1989) 4.3.3. Kondisi Lingkungan Ideal

Efektivitas proses pembuatan kompos sangat tergantung kepada mikroorganisme pengurai. Apabila mereka hidup dalam lingkungan 5

yang ideal, maka mereka akan tumbuh dan berkembang dengan baik pula. Kondisi lingkungan yang ideal mencakup :

1. Keseimbangan nutrien ( C / N ratio ); 2. Kelembaban; 3. Derajat keasaman; 4. Suhu; 5. Ukuran partikel; dan 6. Homogenitas campuran. 4.3.4. Keseimbangan Nutrien (Rasio C/N).

Parameter nutrien yang paling penting dalam proses pembuatan kompos adalah unsur karbon dan nitrogen. Dalam proses pengurai terjadi reaksi antara karbon dan oksigen sehingga menimbulkan panas (CO2). Nitrogen akan ditangkap oleh mikroorganisme sebagai sumber makanan. Apabila mikroorganisme tersebut mati, maka nitrogen akan tetap tinggal dalam kompos sebagai sumber nutrisi bagi makanan.

Besarnya perbandingan antara unsur karbon dengan nitrogen tergantung pada jenis sampah sebagai bahan baku. Perbandingan C dan N yang ideal dalam proses pengomposan yang optimum

berkisar antara 20 : 1 sampai dengan 40 : 1, dengan rasio terbaik adalah 30 : 1.

6

4.3.5. Derajat Keasaman (pH)

Derajat keasaman (pH) ideal dalam proses pembuatan kompos secara aerobik berkisar pada pH netral (6 8,5), sesuai dengan pH yang dibutuhkan tanaman. Pada proses awal, sejumlah

mikroorganisme akan mengubah sampah organik menjadi asamasam organik, sehingga derajat keasaman akan selalu menurun. Pada proses selanjutnya derajat keasaman akan meningkat secara bertahap yaitu pada masa pematangan, karena beberapa jenis mikroorganisme memakan asam-asam organik yang terbentuk tersebut.

Derajat keasaman dapat menjadi faktor penghambat dalam proses pembuatan kompos, yaitu dapat terjadi apabila : pH terlalu tinggi (di atas 8) , unsur N akan menguap menjadi NH3. NH3 yang terbentuk akan sangat mengganggu proses karena bau yang menyengat. Senyawa ini dalam kadar yang berlebihan dapat memusnahkan mikroorganisme.

pH terlalu rendah (di bawah 6), kondisi menjadi asam dan dapat menyebabkan kematian jasad renik. 4.3.6. Suhu (Temperatur)

Proses biokimia dalam proses pengomposan menghasilkan panas yang sangat penting bagi mengoptimumkan laju penguraian dan dalam menghasilkan produk yang secara mikroorganisme aman digunakan. Pola perubahan temperatur dalam tumpukan sampah 7

bervariasi sesuai dengan tipe dan jenis mikroorganisme. Pada awal pengomposan, temperatur mesofilik, yaitu antara 25 45C akan terjadi dan segera diikuti oleh temperatur termofilik antara 50 - 65C. Temperatur termofilik dapat berfungsi untuk a) mematikan

bakteri/bibit penyakit baik patogen maupun bibit vektor penyakit seperti lalat; b) mematikan bibit gulma. Tabel 1 menunjukkan suhu dan waktu yang dibutuhkan untuk mematikan beberapa organisme patogen dan parasit. Kondisi termofilik, kemudian berangsur-angsur akan menurun mendekati tingkat ambien. Tabel 4.1. Suhu dan Waktu yang Dibutuhkan Untuk Mematikan Organisme Patogen No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Organisme Patogen Salmonella typhosa Salmonella sp. Shigella sp. Escerichia coli Entamoeba hystolitica Taenia saginata Trichinella spiralis sp. Brucella abortus Micrococcus pyogenes var aureus Srteptococcus pyogenes Mycobacterium tubercolosis varhominis Corynebacterium diphtheriae Necator americanus Ascaris lumbricoides (telur) Suhu dan Waktu yang Dibutuhkan Waktu (menit) Suhu (C) 30 55-60 20 60 60 55 15-20 60 60 55 60 55 15-20 60 beberapa menit 45 beberapa detik 55 beberapa saat 55 3 62-63 55 60 50 10 54 10 66 15-20 Sesaat setelah 67 pemanasan 45 55 45 50