Case Cilegon

Click here to load reader

  • date post

    31-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    20
  • download

    0

Embed Size (px)

description

general anestesi

Transcript of Case Cilegon

BAB IPENDAHULUANTonsilitis adalah peradangan tonsil palatine yang merupakan bagian dari cincin Waldeyer. Faktor predisposisi timbulnya tonsillitis kronik ialah rangsangan yang menahun dari rokok, beberapa jenis makan, hygiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca, kelelahan fisik dan pengobatan tonsillitis akut yang tidak adekuat. Gejalanya adalah tampak tonsil membesar dengan permukaan tidak rata, kriptus melebar dan beberapa terisi detritus. Pasien rmengeluh ada rasa mengganjal di tenggorokan, kering, napas berbau, dan demam.Indikasi dari dilakukannya tonsilektomi adalah diantara lain; 1) serangan >3x per tahun 2) menimbulkan maloklusi gigi dan menyebabkan gangguan pertumbuhan orofasial 3) sumbatan jalan napas 4) rhinitis dan sinusitis kronis, dan lain sebagainya.Teknik anestesia yang digunakan pada pembedahan jenis ini adalah general anestesi. Teknik anestesi ini biasa digunakan pada pembedahan THT dan pembedahan lainnya seperti bedah pada ekstremitas atas, bedah pada pasien anak atau pasien yang menolak dilakukan pembedahan spinal. Teknik anestesi ini melumpuhkan seluruh tubuh manusia dan menyebabkan hilangnya kesadaran.Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan diatas, kami penulis merasa tatalaksana anestesi pada section caesaria penting untuk dibahas dalam suatu kajian ilmiah dalam bentuk laporan kasus.

BAB IILAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIENNama: Nn. Atika RezaUmur: 19 tahunJenis Kelamin: PerempuanAlamat: Link Sambirata 5/3, Kec. Cibeber, CilegonPekerjaan: BLUAgama: IslamStatus: Belum MenikahTanggal Masuk: 09 November 2015B. ANAMNESISPasien datang ke RSUD Cilegon dengan keluhan nyeri menelan sejak 2 minggu terakhir. Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis dengan pasien pada tanggal 9 November 2015, di Ruang Bougenville RSUD Cilegon. Pasien merupakan pasien bagian THT dengan diagnosis tonsillitis kronik. Keluhan utamaOs datang dengan keluhan nyeri menelan sejak 2 minggu terakhir Riwayat Penyakit SekarangOs mengeluh nyeri tenggorokan dan batuk berdahak. Keluhan demam, mual dan muntah disangkal. Riwayat Penyakit DahuluOs sering mengalami demam & pilek sejak kecil. Os mengaku memiliki riwayat alergi makanan laut. Riwayat hipertensi, DM, asma dan TB disangkal. Riwayat PengobatanSebelumnya os sudah berobat ke RSUD dan diberikan terapi antibiotik, setelah itu os direncakan untuk dioperasi.

C. PEMERIKSAAN FISIK

Dilakukan pemeriksaan Fisik pada tanggal 9 November 20151. Keadaan Umuma. Kesan Sakit: Tampak sakit Sedangb. Kesadaran: Compos Mentisc. Berat Badan: 70 Kg2. Tanda-Tanda Vitala. Tekanan Darah : 110/60 mmHgb. Nadi: 84 X/mntc. Respirasi: 22 x/mntd. Suhu: 36,5 C3. Status GeneralisA. Kepalai. Rambut: rambut berwarna hitam, distribusi merataii. Kepala normocephali, tidak ada deformitasiii. Mata: konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterikiv. Telinga: tidak hiperemis, tidak oedem, tidka ada nyeri tekan atau tarik, tidak ada sekret yang keluar dari telingav. Hidung: tampak simetris, tidak tampak deformitas, vi. Mulut: bibir tidak sianosis dan tidak kering, tidak ada trismusvii. Tenggorokan: mukosa bibir basah, stomatitis (-), tonsil T3-T3, arcus palatofaringeus dan arcus palatoglossus hiperemis (+), detritus (-/-), uvula deviasi (-)vii. gigi : tidak ada karies, tidak menggunakan gigi palsu, gigi tidak ada yang goyangB. LeherTidak teraba massa, trakea terletak di tengahC. Thoraksi. Pulmo1. Inspeksi : bentuk dada simetris, dan gerak hemitoraks kanan kiri simetris dalam kondisi dinamis dan statis.2. palpasi: Vocal fremitus teraba simetris di kedua hemithoraks, pergerakan dinding dada simetris saat inspirasi dan ekspirasi3. perkusi: sonor diseluruh lapang paru4. Auskultasi: suara napas vesikuler, tidak ada ronkhi, tidak ada wheezing.

ii. cor1. inspeksi: ictus cordis tidak terlihat2. palpasi: teraba ictus cordis pada sela iga ke 5 pada linea midclavicularis sinistra3. perkusi: batas atas kiri sela iga ke 2 line parasternalis sinistra, batas atas kanan jantung sela iga ke 2 pada linea sternalis dextra, batas kiri jantung sela iga ke 5 linea midclavicularis sinisra.4. auskultasi: bunyi jantung I dan II reguler, tidak terdengan bunyi jantung tambahan, gallop (-), murmur(-)D. Abdomen1. Inspeksi : Datar, simetris, kelainan kulit (-)2. Perkusi : Timpani pada lapang abdomen3. Auskultasi : Bising usus (+) normal pada lapang abdomen4. Palpasi : Hepar,lien tidak teraba massa, ballotement ginjal (-), VU teraba lunakE. EkstremitasI. superior: sianosis(-), edem (-), ikterik (-), tidak ada deformitas, akral teraba hangatii. inferior : sianosis (-), edem (-), ikterik(-), tidak ada deformitas, akral teraba hangatD. PEMERIKSAAN PENUNJANG Lab darahJenis PemeriksaanNilai PasienNilai normalKeterangan

Gula darah sewaktu107 4 ltr/mnt atau campuran N2O:O2 = 3:1. Aliran > 4 ltr/mnt.Kalau pasien batuk konsentrasi halotan diturunkan, untuk kemudian kalau sudah tenang dinaikan lagi sampai konsentrasi yang diperlukan.

2. Induksi sevofluranInduksi dengan sevofluran lebih disenangi karena pasien jarang batuk walaupun langsung diberikan dengan konsentrasi tinggi sampai 8 vol %. Seperti dengan halotankonsentrasi dipertahankan sesuai kebutuhan.3. Induksi dengan enfluran (ethran), isofluran ( foran, aeran ) atau desfluran jarang dilakukan karena pasien sering batuk dan waktu induksi menjadi lama.Apabila obat anestesi inhalasi, dihirup bersama-sama udara inspirasi masuk ke dalam saluran pernafasan, di dalam alveoli paru akan berdifusi masuk ke dalam sirkulasi darah. Demikian pula yang disuntikkan secara intramuskuler, obat tersebut akan diabsorbsi masuk ke dalam sirkulasi darah. Setelah masuk ke dalam sirkulasi darah obat tersebut akan menyebar kedalam jaringan. Dengan sendirinya jaringan yang kaya pembuluh darah seperti otak atau organ vital akan menerima obat lebih banyak dibandingkan jaringan yang pembuluh darahnya sedikit seperti tulang atau jaringan lemak. Tergantung obatnya, di dalam jaringan sebagian akan mengalami metabolisme, ada yang terjadi di hepar, ginjal atau jaringan lain. Ekskresi bisa melalui ginjal, hepar, kulit atau paruparu. Ekskresi bisa dalam bentuk asli atau hasil metabolismenya. N2O diekskresi dalam bentuk asli lewat paru. Faktor yang mempengaruhi anestesi antara lain:- Faktor respirasi (untuk obat inhalasi).- Faktor sirkulasi- Faktor jaringan.- Faktor obat anestesi.Faktor respirasiSesudah obat anestesi inhalasi sampai di alveoli, maka akan mencapai tekanan parsiel tertentu, makin tinggi konsentrasi zat yang dihirup tekanan parsielnya makin tinggi. Perbedaan tekanan parsiel zat anestesi dalam alveoli dan di dalam darah menyebabkan terjadinya difusi. Bila tekanan di dalam alveoli lebih tinggi maka difusi terjadi dari alveoli ke dalam sirkulasi dan sebaliknya difusi terjadi dari sirkulasi ke dalam alveoli bila tekanan parsiel di dalam alveoli lebih rendah (keadaan ini terjadi bila pemberian obat anestesi dihentikan. Makin tinggi perbedaan tekanan parsiel makin cepat terjadinya difusi. Proses difusi akan terganggu bila terdapat penghalang antara alveoli dan sirkulasi darah misalnya pada udem paru dan fibrosis paru. Pada keadaan ventilasi alveoler meningkat atau keadaan ventilasi yang menurun misalnya pada depresi respirasi atau obstruksi respirasi.Faktor sirkulasi Aliran darah paru menentukan pengangkutan gas anestesi dari paru ke jaringan dan sebaliknya. Pada gangguan pembuluh darah paru makin sedikit obat yang dapat diangkut demikian juga pada keadaan cardiac output yang menurun.Blood gas partition coefisien adalah rasio konsentrasi zat anestesi dalam darah dan dalam gas bila keduanya dalam keadaan keseimbangan. Bila kelarutan zat anestesi dalam darah tinggi/BG koefisien tinggi maka obat yang berdifusi cepat larut di dalam darah, sebaliknya obat dengan BG koefisien rendah, maka cepat terjadi keseimbangan antara alveoli dan sirkulasi darah, akibatnya penderita mudah tertidur waktu induksi dan mudah bangun waktu anestesi diakhiri.Faktor jaringan Yang menentukan antara lain:- Perbedaan tekanan parsiel obat anestesi di dalam sirkulasi darah dan di dalam jaringan.- Kecepatan metabolisme obat.- Aliran darah dalam jaringan.- Tissue/blood partition coefisien.Faktor zat anestesiTiap-tiap zat anestesi mempunyai potensi yang berbeda. Untuk mengukur potensi obat anestesi inhalasi dikenal adanya MAC (minimal alveolar concentration). Menurut Merkel dan Eger (1963), MAC adalah konsentrasi obat anestesi inhalasi minimal pada tekanan udara 1 atm yang dapat mencegah gerakan otot skelet sebagai respon rangsang sakit supramaksimal pada 50% pasien. Makin rendah MAC makin tinggi potensi obat anestesi tersebut. Persiapan Anestesia Umum:Praktek anesesi yang aman dan efisien memerlukan personil bersertifikat, obat-obatan dan peralatan yang tepat, serta keadaan pasien yang optimal. Persyaratan minimum untuk anestesi umumKebutuhan infrastruktur minimum untuk anestesi umum termasuk ruang yang cukup terang dengan ukuran yang memadai, sebuah sumber oksigen bertekanan (paling sering di pipa); perangkat hisap yang efektif; monitor yang sesuai dengan standar ASA (American Society of Anesthesiologist) , termasuk denyut jantung, tekanan darah, EKG, denyut nadi oksimetri, kapnografi, suhu, dan konsentrasi oksigen terinspirasi dan dihembuskan dan zat anestesi yang diaplikasikan.Selain ini, beberapa peralatan dibutuhkan untuk memasukkan zat anestesi. Alat yang sederhana seperti jarum dan jarum suntik, jika obat harus diberikan sepenuhnya intravena. Dalam sebagian besar keadaan, ini berarti membutuhkan tersedianya sebuah mesin yang memungkinkan untuk mengetahui pemasukkan gas dan memelihara anestesi tetap berjalan Menyiapkan pasienKondisi pasien harus cukup dipersiapkan. Metode yang paling efisien adalah pasien ditinjau oleh orang yang bertanggung jawab untuk memberikan anestesi dengan baik sebelum tanggal operasi.Evaluasi praoperasi memungkinkan pemantauan laboratorium yang tepat, perhatian terhadap kondisi medis pasien yang terbaru atau yang sedang berlangsung, diskusi dari setiap reaksi sebelumnya yang merugikan pribadi atau keluarga untuk anestesi umum, penilaian status fungsional jantung dan paru, dan rencana anestesi yang efektif dan aman. Hal ini juga berfungsi untuk meredakan kecemasan dari pembedahan yang tidak diketahui oleh pasien dan keluarga mereka. Secara keseluruhan, proses ini memungkinkan untuk optimasi pasien pada waktu perioperatif.Pemeriksaan fisik yang terkait dengan evaluasi praoperasi memungkinkan pelaksana anestesi untuk fokus secara khusus pada kondisi saluran napas yang diharapkan, termasuk membuka mulut, gigi longgar atau bermasalah, keterbatasan dalam rentang gerak leher, anatomi leher, dan presentasi Mallampati (lihat di bawah). Dengan menggabungkan semua faktor, rencana yang sesuai untuk intubasi dapat diuraikan dan langkah tambahan, jika perlu, dapat diambil untuk mempersiapkan bronkoskopi serat optik, laringoskopi video, atau berbagai intervensi sulit terhadap saluran napas lainnya. Manajemen jalan napasKesulitan yang mungkin dihadaapi dalam manajemen jalan napas, meliputi kondisi dibawah ini: Rahang yang kecil atau mundur Gigi rahang atas yang menonjol Leher yang pendek Ekstensi leher terbatas Pertumbuhan gigi yang buruk Tumor di wajah, mulut, leher, atau tenggorokan Trauma pada wajah Fiksasi antar-gigi Penggunaan cervical collar yang kerasBerbagai sistem penilaian telah dibuat menggunakan pengukuran orofacial untuk memprediksi intubasi sulit. Yang paling banyak digunakan adalah skor Mallampati, yang mengidentifikasi pasien dengan faring yang kurang jelas divisualisasikan melalui mulut terbuka.Penilaian Mallampati idealnya dilakukan saat pasien duduk dengan mulut terbuka dan lidah yang menonjol tanpa phonating. Pada banyak pasien yang diintubasi karena indikasi emergensi, jenis penilaian seperti ini tidak mungkin. Sebuah penilaian sederhana dapat dilakukan pada pasien dalam posisi terlentang untuk mendapatkan gambaran dari ukuran bukaan mulut dan perkiraan lidah dan orofaring sebagai faktor dalam keberhasilan intubasi (lihat gambar di bawah)

Skor Mallampati yang tinggi telah terbukti menjadi prediksi intubasi sulit. Namun, tidak ada sistem penilaian yang sensitive 100% atau spesifik 100% . Akibatnya, praktisi mengandalkan beberapa kriteria dan pengalaman mereka untuk menilai jalan napas.Pelaksana anestesi bertanggung jawab untuk menilai semua faktor yang mempengaruhi kondisi medis pasien dan memilih teknik anestesi yang optimal sesuai kondisi pasien. Beberapa pertimbangan dalam melakukan anestesi umum meliputi: Keuntungan Menurunkan kesadaran dan ingatan pasien selama operasi Memungkinkan relaksasi otot yang tepat untuk jangka waktu yang lama Memfasilitasi kontrol penuh terhadap jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi Dapat digunakan dalam kasus-kasus yang sensitif terhadap zat anestesi local Dapat diberikan tanpa memindahkan pasien dari posisi terlentang Dapat disesuaikan dengan mudah untuk prosedur operasi dengan durasi waktu yang tak dapat diprediksi atau pada keadaan penambahan waktu operasi Dapat diberikan dengan cepat dan reversibel Kekurangan Membutuhkan peningkatan kompleksitas perawatan dan biaya yang terkait Membutuhkan persiapan pasien praoperasi Dapat menyebabkan fluktuasi perubahan fisiologis yang memerlukan intervensi aktif Terkait dengan komplikasi kurang serius seperti mual atau muntah, sakit tenggorokan, sakit kepala, menggigil, dan dibutuhkan waktu dalam pengembalian fungsi mental yang normal Terkait dengan kondisi hipertermia yang gawat, sebuah kondisi yang jarang, terkait dengan kondisi otot yang terkena paparan beberapa (tidak semua) zat anestesi umum yang dapat menyebabkan kenaikan suhu akut dan berpotensi mematikan, hiperkarbia, asidosis metabolik, dan hyperkalemia. Cara memberikan anestesiPemberian anestesi dimulai dengan induksi yaitu memberikan obat sehingga penderita tidur. Tergantung lama operasinya, untuk operasi yang waktunya pendek mungkin cukup dengan induksi saja. Tetapi untuk operasi yang lama, kedalaman anestesi perlu dipertahankan dengan memberikan obat terus menerus dengan dosis tertentu, hal ini disebut maintenance atau pemeliharaan.Kedaaan ini dapat diatasi dengan cara mendalamkan anestesi. Pada operasi-operasi yang memerlukan relaksasi otot, bila relaksasinya kurang maka ahli bedah akan mengeluh karena tidak bisa bekerja dengan baik, untuk operasi yang membuka abdomen maka usus akan bergerak dan menyembul keluar, operasi yang memerlukan penarikan otot juga sukar dilakukan. Keadaan relaksasi bisa terjadi pada anestesi yang dalam, sehingga bila kurang relaksasi salah satu usaha untuk membuat lebih relaksasi adalah dengan mendalamkan anestesi, yaitu dengan cara menambah dosis obat. Pada umumnya keadaan relaksasi dapat tercapai setelah dosis obat anestesi yang diberikan sedemikian tinggi, sehingga menimbulkan gangguan pada organ vital. Dengan demikian keadaan ini akan mengancam jiwa penderita, lebih-lebih pada penderita yang sensitif atau memang sudah ada gangguan pada organ vital sebelumnya. Untuk mengatasi hal ini maka ada tehnik tertentu agar tercapai trias anestesi pada kedalaman yang ringan, yaitu penderita dibuat tidur dengan obat hipnotik, analgesinya menggunakan analgetik kuat, relaksasinya menggunakan pelemas otot (muscle relaxant) tehnik ini disebut balance anestesi. Pada balance anestesi karena menggunakan muscle relaxant, maka otot mengalami relaksasi, jadi tidak bisa berkontraksi atau mengalami kelumpuhan, termasuk otot respirasi, jadi penderita tidak dapat bernafas. Karena itu harus dilakukan nafas buatan (dipompa), tanpa dilakukan nafas buatan, penderita akan mengalami kematian, karena hipoksia. Jadi nafas penderita sepenuhnya tergantung dari pengendalian pelaksana anestesi, karena itu balance anestesi juga disebut dengan tehnik respirasi kendali atau control respiration. Untuk mempermudah respirasi kendali penderita harus dalam keadaan terintubasi. Dengan menggunakan balance anestesi maka ada beberapa keuntungan antara lain:- Dosis obatnya minimal, sehingga gangguan pada organ vital dapat dikurangi. Polusi kamar operasi yang ditimbulkan obat anestesi inhalasi dapat dikurangi. Selesai operasi penderita cepat bangun sehingga mengurangi resiko yang ditimbulkan oleh penderita yang tidak sadar.- Dengan dapat diaturnya pernafasan maka dengan mudah kita bisa melakukan hiperventilasi, untuk menurunkan kadar CO2 dalam darah sampai pada titik tertentu misalnya pada operasi otak. Dengan hiperventilasi kita juga dapat menurunkan tekanan darah untuk operasi yang memerlukan tehnik hipotensi kendali.- Karena pernafasan bisa dilumpuhkan secara total maka mempermudah tindakan operasi pada rongga dada (thoracotomy) tanpa terganggu oleh gerakan pernafasan. Kita juga dapat mengembangkan dan mengempiskan paru dengan sekehendak kita tergantung keperluan. Dengan demikian berdasar respirasinya, anestesi umum dibedakan dalam 3 macam yaitu:- Respirasi spontan yaitu penderita bernafas sendiri secara spontan.- Respirasi kendali/respirasi terkontrol /balance anestesi: pernafasanpenderita sepenuhnya tergantung bantuan kita.- Assisted Respirasi: penderita bernafas spontan tetapi masih kita berikan sedikit bantuan.Berdasar sistim aliran udara pernapasan dalam rangkaian alat anestesi, anestesi dibedakan menjadi 4 sistem, yaitu : Open, semi open, closed, dan semi closed.1. Sistem open adalah sistem yang paling sederhana. Di sini tidak ada hubungan fisik secara langsung antara jalan napas penderita dengan alat anestesi. Karena itu tidak menimbulkan peningkatan tahanan respirasi. Di sini udara ekspirasi babas keluar menuju udara bebas. Kekurangan sistem ini adalah boros obat anestesi, menimbulkan polusi obat anestesi di kamar operasi, bila memakai obat yang mudah terbakar maka akan meningkatkan resiko terjadinya kebakaran di kamar operasi, hilangnya kelembaban respirasi, kedalaman anestesi tidak stabil dan tidak dapat dilakukan respirasi kendali. 2. Dalam system semi open alat anestesi dilengkapi dengan reservoir bag selain reservoir bag, ada pula yang masih ditambah dengan klep 1 arah, yang mengarahkan udara ekspirasi keluar, klep ini disebut non rebreating valve. Dalam sistem ini tingkat keborosan dan polusi kamar operasi lebih rendah dibanding system open.3. Dalam sistem semi closed, udara ekspirasi yang mengandung gas anestesi dan oksigen lebih sedikit dibanding udara inspirasi, tetapi mengandung CO2 yang lebih tinggi, dialirkan menuju tabung yang berisi sodalime, disini CO2 akan diikat oleh sodalime. Selanjutnya udara ini digabungkan dengan campuran gas anestesi dan oksigen dari sumber gas ( FGF /Fresh Gas Flow) untuk diinspirasi kembali. Kelebihan aliran gas dikeluarkan melalui klep over flow. Karena udara ekspirasi diinspirasi lagi, maka pemakaian obat anestesi dan oksigen dapat dihemat dan kurang menimbulkan polusi kamar operasi.4. Dalam system closed prinsip sama dengan semi closed, tetapi disini tidak ada udara yang keluar dari sistem anestesi menuju udara bebas. Penambahan oksigen dan gas anestesi harus diperhitungkan, agar tidak kurang sehingga menimbulkan hipoksia dan anestesi kurang adekuat, tetapi juga tidak berlebihan, karena pemberian yang berlebihan bisa berakibat tekanan makin meninggi sehingga. menimbulkan pecahnya alveoli paru. Sistem ini adalah sistem yang paling hemat obat anestesi dan tidak menimbulkan polusi. Pada system closed dan semiclosed juga disebut system rebreathing, karena udara ekspirasi diinspirasi kembali, sistem ini juga perlu sodalime untuk membersihkan CO2. Pada system open dan semi open juga disebut system nonrebreathing karena tidak ada udara ekspirasi yang diinspirasi kembali, system ini tidak perlu sodalime. Untuk menjaga agar pada system semi open tidak terjadi rebreathing, aliran campuran gas anestesi dan oksigen harus cepat, biasanya diberikan antara 2 3 kali menit volume respirasi penderita.System Rebreathing Reservoir bag Sodalime Tingkat polusi kamar operasiTingkat keborosan obat

Open ---+++++++

Semi open-+++++++

Semi closed++++++

Closed ++++-

Bila obat anestesi seluruhnya menggunakan obat intravena, maka disebut anestesi intravena total (total intravenous anesthesia/TIVA). Bila induksi dan maintenance anestesi menggunakan obat inhalasi maka disebut VIMA (Volatile Inhalation and Maintenance Anesthesia)Pemulihan anestesiPada akhir operasi atau setelah operasi selesai, maka anestesi diakhiri dengan menghentikan pemberian obat anestesi. Pada anestesi inhalasi bersamaan dengan penghentian obat anestesi aliran oksigen dinaikkan, hal ini disebut oksigenisasi. Dengan oksigenisasi maka oksigen akan mengisi tempat yang sebelumnya ditempati oleh obat anestesi inhalasi diaveoli yang berangsur-angsur keluar mengikuti udara ekspirasi. Dengan demikian tekanan parsiel obat anestesi di alveoli juga berangsur-angsur turun, sehingga lebih rendah dibandingkan dengan tekanan parsiel obat anestesi inhalasi didalamdarah. Maka terjadilah difusi obat anestesi inhalasi dari dalam darah menuju ke alveoli. Semakin tinggi perbedaan tekanan parsiel tersebut kecepatan difusi makin meningkat. Sementara itu oksigen dari alveoli akan berdifusi ke dalam darah. Semakin tinggi tekanan parsiel oksigen di alveoli (akibat oksigenisasi) difusi kedalam darah semakin cepat, sehingga kadar oksigen di dalam darah meningkat, menggantikan posisi obat anestesi yang berdifusi menuju ke alveoli. Akibat terjadinya difusi obat anestesi inhalasi dari dalam darah menuju ke alveoli, maka kadarnya di dalam darah makin menurun. Turunnya kadar obat anestesi inhalasi tertentu di dalam darah, selain akibat difusi di alveoli juga akibat sebagian mengalami metabolisme dan ekskresi lewat hati, ginjal, dan keringat. Kesadaran penderita juga berangsur-angsur pulih sesuai dengan turunnya kadar obatanestesi di dalam darah. Bagi penderita yang mendapat anestesi intravena, maka kesadarannya, berangsur-angsur pulih dengan turunnya kadar obat anestesi akibat metabolisme atau ekskresi setelah pemberinya dihentikan. Selanjutnya pada penderita yang dianestesi dengan respirasi spontan tanpa menggunakan pipa endotrakheal maka tinggal menunggu sadarnya penderita, sedangkan bagi penderita yang menggunakan pipa endotrakheal maka perlu dilakukan ekstubasi(melepas pipa ET). Ekstubasi bisa dilakukan pada waktu penderita masih teranestesi dalam dan dapat juga dilakukan setelah penderita sadar. Ekstubasi pada keadaan setengah sadar membahayakan penderita, karena dapat terjadi spasme jalan napas, batuk, muntah, gangguan kardiovaskuler, naiknya tekanan intra okuli dan naiknya tekanan intra cranial. Ekstubasi pada waktu penderita masih teranestesi dalam mempunyai resiko tidak terjaganya jalan nafas, dalam kurun waktu antara tidak sadar sampai sadar. Tetapi ada operasi tertentu ekstubasi dilakukan pada waktu penderita masih teranestesi dalam. Pada penderita yang mendapat balance anestesi maka ekstubasi dilakukan setelah napas penderita adekuat. Untuk mempercepat pulihnya penderita dari pengaruh muscle relaxant maka dilakukan reverse, yaitu memberikan obat antikolinesterase. Sebagian ahli anestesi tetap memberikan reverse walaupun napas sudah adekuat bagi penderita yang sebelumnya mendapat muscle relaxant. Sebagian ahli anestesi melakukan ekstubasi setelah penderita sadar, bisa diperintah menarik napas dalam, batuk, menggelengkan kepala dan menggerakkan ekstremitas. Penilaian yang lebih obyektif tentang seberapa besar pengaruh muscle relaxant adalah dengan menggunakan alat nerve stimulator.Adapun setelah prosedur diatas selesai, pasien dipindahkan ke ruang pemulihan dan terus diobservasi dengan cara menilai Aldrettes score nya, nilai 8-10 bisa dipindahkan ke ruang perawatan, 5-8 observasi secara ketat, kurang dari 5 pindahkan ke ICU, penilaian meliputi:

Hal yang dinilaiNilai

1. Kesadaran:Sadar penuhBangun bila dipanggilTidak ada respon210

2. Respirasi:Dapat melakukan nafas dalam, bebas, dan dapat batukSesak nafas, nafas dangkal atau ada hambatanApnoe 210

3. Sirkulasi: perbedaan dengan tekanan preanestesiPerbedaan +- 20Perbedaan +- 50Perbedaan lebih dari 50210

4. Aktivitas: dapat menggerakkan ekstremitas atas perintah:4 ekstremitas2 ekstremitasTidak dapat210

5. Warna kulitNormalPucat, gelap, kuning atau berbintik-bintikCyanotic 210

BAB VIKESIMPULAN

Pasien adalah seorang perempuan berusia 19 tahun dengan riwayat tonsillitis kronik. Pasien datang pada hari Senin 9 November 2015 pukul 12.20 WIB. Dari anamnesis diperoleh informasi bahwa pasien datang dengan keluhan nyeri menelan 2 minggu terakhir. Pasien menyangkal memiliki riwayat Hipertensi, Diabetes Melitus, Asma Bronkiale, namun pasien mengaku memiliki alergi seafood.. Pasien juga menyangkal pemakaian gigi palsu. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 120/70 mmHg. Berdasarkan American Socieety of Anesthesiology pasien digolongkan dalam ASA I.Evaluasi pre operatif pada pasien didapatkan dalam batas normal. Tidak didapatkan keadaan yang menjadi kontraindikasi anestesi umum. Pasien diberikan premedikasi berupa Ondansetron 4mg. Setelah itu dilakukan general anestesi dengan menggunakan Fentanyl, Propofol dan Noveron. Selama operasi berlangsung pasien mendapatkan Oksigen dengan volume 3 liter/menit, N2O 2 liter/menit, isoflurane 1vol%. Pasien diberikan plasminex 500 mg dan Tramadol 100 mg drip. Sesaat sebelum operasi selesai pasien diberikan Pronalges supp. Selama operasi, tidak terjadi komplikasi dan kondisi pasien relative stabil selama operasi. Operasi berakhir pada pukul 12.50 WIBEvaluasi post operatif dilakukan dengan pemantauan kondisi pasien di ruang pemulihan, tidak didapatkan keluhan dan tanda syok pada pasien. Kondisi post operatif pasien relative stabil, dengan skor Aldrette >8 dan dapat dikembalikan ke ruang perawatan.

DAFTAR PUSTAKA1. Soenarto RF, Chandra S. Buku Ajar Anestesiologi. Jakarta 2014: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta 2014.2. Latief SA, Suryadi KA, Dachlan MR. Anastesiologi. Jakarta: Bagian Anastesiologi Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta:2001.p.103-22 .3. Butterworth JF, Mackey DC, Wasnick JD. Morgan & Mikhails Clinical Anastesiology. 5th Ed. McGraw-Hill Education. 2013.p.937-65.

26