Perda PBB Kota Cilegon

Click here to load reader

  • date post

    21-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    82
  • download

    9

Embed Size (px)

Transcript of Perda PBB Kota Cilegon

  • PERATURAN DAERAH KOTA CI LEGON

    NOMOR 4 TAHUN 2013

    TENTANG

    PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN

    DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

    WALI KOTA CI LEGON,

    Meni mbang : a. bahwa sesuai ketent uan Pasal 158 ayat ( 1) Undang- Undang

    No mor 32 Tahun 2004 tent ang Pe meri ntahan Daerah,

    di sebut kan Paj ak Daerah di tetapkan dengan Undang-

    Undang yang pel aksanaannya di daerah di at ur l ebi h l anj ut

    dengan Perat uran Daerah;

    b. bahwa sesuai ketent uan Pasal 2 ayat ( 2) hur uf j Undang-

    Undang No mor 28 Tahun 2009 t ent ang Paj ak Daerah dan

    Retri busi Daerah, Paj ak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan

    Perkot aan mer upakan j eni s Paj ak Kabupaten/Kot a;

    c. bahwa berdasarkan perti mbangan sebagai mana di maksud

    dal am hur uf a dan hur uf b, perl u me net apkan Perat uran

    Daerah tent ang Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan

    Perkot aan;

    Me ngi ngat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang- Undang Dasar Negara Republi k

    I ndonesi a Tahun 1945;

    2. Undang- Undang No mor 8 Tahun 1981 t ent ang

    Ki t ab Undang- Undang Hukum Acara Pi dana ( Le mbaran

    Negara Republi k I ndonesi a Tahun 1981 No mor 76

    Ta mbahan Le mbaran Negara Republi k I ndonesi a

    No mor 3209);

    3. Undang ...

    LEMBARAN DAERAH KOTA CI LEGON

    TAHUN : 2013 NOMOR : 4

  • - 2 -

    3. Undang- Undang Nomor 6 Tahun 1983 tent ang Ketent uan

    Umu m dan Tat a Cara Perpaj akan ( Le mbaran Negara Republi k

    I ndonesi a Tahun 1983 No mor 49, Ta mbahan Le mbaran Negara

    Republi k I ndonesi a No mor 3262), sebagai mana tel ah beberapa

    kali di ubah terakhi r dengan Undang- Undang No mor 16

    Tahun 2009 tentang Penetapan Perat uran Pe meri ntah

    Pengganti Undang-Undang No mor 5 Tahun 2008 Tent ang

    Perubahan Kee mpat Atas Undang- Undang No mor 6 Tahun

    1983 tentang Ketent uan Umum dan Tat a Cara Perpaj akan

    Me nj adi Undang-Undang ( Le mbaran Negara Republi k

    I ndonesi a Tahun 2009 No mor 62, Ta mbahan Le mbaran Negara

    Republi k I ndonesi a No mor 4999);

    4. Undang- Undang Nomor 19 Tahun 1997 tent ang Penagi han

    Paj ak Dengan Surat Paksa ( Le mbaran Negara Republi k

    I ndonesi a Tahun 1997 No mor 41 Ta mbahan Le mbaran Negara

    Republi k I ndonesi a No mor 3686) sebagai mana tel ah beberapa

    kali di ubah terakhi r dengan Undang- Undang No mor 19

    Tahun 2000 tentang Perubahan Kedua atas Undang- Undang

    No mor 19 Tahun 1997 tentang Penagi han Paj ak dengan Surat

    Paksa ( Le mbaran Negara Republi k Indonesi a Tahun 2000

    No mor 129 Ta mbahan Le mbaran Negara Republi k I ndonesia

    No mor 3987);

    5. Undang- Undang Nomor 15 Tahun 1999 tentang Pe mbent ukan

    Kot amadya Daerah Ti ngkat II Depok dan Kot a madya Daerah

    Ti ngkat II Cil egon ( Le mbaran Negara Republi k I ndonesi a

    Tahun 1999 No mor 49, Ta mbahan Le mbaran Negara Republi k

    I ndonesi a No mor 3828);

    6. Undang- Undang Nomor 14 Tahun 2002 tent ang Pengadilan

    Paj ak ( Le mbaran Negara Republi k Indonesi a Tahun 2002

    No mor 27, Ta mbahan Le mbaran Negara Republi k I ndonesia

    No mor 4189);

    7. Undang- Undang Nomor 17 Tahun 2003 tent ang Keuangan

    Negara ( Le mbaran Negara Republi k I ndonesi a Tahun 2003

    No mor 47, Ta mbahan Le mbaran Negara Republi k I ndonesia

    No mor 4286);

    8. Undang- Undang No mor 1 Tahun 2004 tentang

    Perbendaharaan Negara ( Le mbaran Negara Republi k I ndonesi a

    Tahun 2004 No mor 53, Ta mbahan Le mbaran Negara Republi k

    I ndonesi a No mor 4355);

    9. Undang ...

  • - 3 -

    9. Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pe meri ntahan

    Daerah ( Le mbaran Negara Republi k I ndonesi a No mor 4437),

    sebagai mana tel ah beberapa kali diubah terakhi r dengan

    Undang- undang Nomor 12 Tahun 2008 tent ang Perubahan

    Kedua At as Undang- Undang No mor 32 Tahun 2004 tentang

    Pe meri ntahan Daerah ( Le mbaran Negara Republi k I ndonesi a

    Tahun 2008 No mor 59, Ta mbahan Le mbaran Negara Republi k

    I ndonesi a No mor 4844);

    10. Undang- Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Peri mbangan

    Keuangan Antara Pe meri ntah Pusat dan Pe meri ntah Daerah

    (Le mbaran Negara Republi k I ndonesi a Tahun 2004 No mor 126,

    Ta mbahan Le mbaran Negara Republi k I ndeonesi a No mor 4438) ;

    11. Undang- Undang Nomor 25 Tahun 2009 tent ang Pel ayanan

    Publi k ( Le mbaran Negara Republi k Indonesi a Tahun 2009

    No mor 12, Ta mbahan Le mbaran Negara Republi k I ndonesia

    No mor 5038);

    12. Undang- Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Paj ak Daerah

    dan Retri busi Daerah ( Le mbaran Negara Republi k I ndonesi a

    Tahun 2009 No mor 130, Ta mbahan Le mbaran Negara

    Republi k I ndonesi a No mor 5049);

    13. Perat uran Pe meri ntah No mor 58 Tahun 2005 tent ang

    Pengel ol aan Keuangan Daerah ( Le mbaran Negara Republi k

    I ndonesi a Tahun 2005 No mor 140, Ta mbahan Le mbaran

    Negara Republi k I ndonesi a No mor 4578);

    14. Perat uran Pe meri ntah No mor 65 Tahun 2005 tent ang Pedo man

    Penyusunan dan Penerapan St andar Pel ayanan Mi ni mal

    ( Le mbaran Negara Republi k I ndonesi a Tahun 2005 No mor 150,

    Ta mbahan Le mbaran Negara Republi k Indonesi a No mor 4585);

    15. Perat uran Pe meri ntah No mor 38 Tahun 2007 tent ang

    Pe mbagi an Ur usan Pe meri ntahan antara Pe merint ah,

    Pe meri ntahan Daerah Propi nsi dan Pe meri ntahan Daerah

    Kabupaten/Kota ( Le mbaran Negara Tahun 2007 No mor 82,

    Ta mbahan Le mbaran Negara No mor 4737);

    16. Perat uran Pe meri ntah No mor 69 Tahun 2010 tent ang Tat a

    Cara Pe mberi an dan Pe manf aatan I nsentif Pe mungut an Pajak

    Daerah dan Retri busi Daerah ( Le mbaran Negara Republ i k

    I ndonesi a Tahun Tahun 2010 No mor 119, Ta mbahan

    Le mbaran Negara Republi k I ndonesi a Tahun No mor 5161);

    17. Perat uran ...

  • - 4 -

    17. Perat uran Pe meri ntah No mor 91 Tahun 2010 tentang Jeni s

    Paj ak Daerah yang Di pungut Berdasarkan Penetapan Kepal a

    Daerah atau Di bayar Sendi ri ol eh Waji b Paj ak ( Le mbaran

    Negara Republi k I ndonesi a Tahun 2010 No mor 153, Ta mbahan

    Le mbaran Negara Republi k I ndonesi a Nomor 5179);

    18. Perat uran Daerah Kota Cil egon No mor 4 Tahun 2008 tent ang

    Ur usan Pe meri ntahan yang Menj adi Kewenangan Kot a Cil egon

    ( Le mbaran Daerah Kota Cil egon Tahun 2008 No mor 4);

    19. Perat uran Daerah Kota Cil egon No mor 7 Tahun 2008 tent ang

    Pe mbent ukan Organi sasi Di nas Daerah Kot a Cil egon

    ( Le mbaran Daerah Kota Cil egon Tahun 2008 No mor 7);

    Dengan Perset uj uan Bersama

    DEWAN PERWAKI LAN RAKYAT DAERAH KOTA CI LEGON

    dan

    WALI KOTA CI LEGON

    MEMUTUSKAN :

    Me net apkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PAJAK BUMI DAN BANGUNAN

    PERDESAAN DAN PERKOTAAN.

    BAB I

    KETENTUAN UMUM

    Pasal 1

    Dal am Perat uran Daerah i ni, yang di maksud dengan :

    1. Daerah adal ah Kota Cil egon.

    2. Pe meri ntah Daerah adal ah Wali kota dan Perangkat Daerah

    sebagai unsur penyelenggara Pe meri ntahan Daerah.

    3. Wali kota adal ah Wal i kota Kota Cil egon.

    4. De wan Per wakil an Rakyat Daerah yang sel anj ut nya di si ngkat

    DPRD adal ah l e mbaga per wakil an rakyat daerah sebagai

    unsur penyel enggara pe meri ntahan daerah.

    5. Di nas adal ah Di nas yang me mbi dangi pendapatan daerah.

    6. Kepal a Di nas adalah Kepal a Di nas yang me mbi dangi

    pendapatan daerah.

    7. Pej abat adal ah pegawai yang di beri t ugas tertent u di bi dang

    perpaj akan daerah sesuai dengan Perat uran Perundang-

    undangan.

    8. Paj ak ...

  • - 5 -

    8. Paj ak Daerah, yang sel anj ut nya di sebut Paj ak, adalah

    kontri busi waji b kepada Daerah yang terutang ol eh orang

    pri badi atau badan yang bersif at me maksa berdasarkan

    Undang- undang, dengan ti dak mendapat kan i mbal an secara

    langsung dan di gunakan unt uk keperl uan Daerah bagi

    sebesar-besarnya kemak muran rakyat.

    9. Badan adal ah sekumpul an orang dan/atau modal yang

    mer upakan kesat uan, bai k yang mel akukan usaha maupun

    yang ti dak mel akukan usaha yang meli puti perseroan

    terbatas, persetroan ko mandi ter, perseroan l ai nnya, badan

    usaha mili k negara ( BUMN) , atau badan usaha mili k daerah

    ( BUMD) dengan nama dan dal am bent uk apapun, fir ma,

    kongsi, koperasi, dana pensi un, persekut uan, perkumpul an,

    yayasan, organi sasi massa, organi sasi sosi al politi k, atau

    organi sasi l ai nnya, l e mbaga dan bent uk badan l ai nnya

    ter masuk kontrak i nvestasi kol ektif dan bent uk usaha tetap.

    10. Paj ak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkot aan yang

    sel anj ut nya di si ngkat PBB- P2 adal ah paj ak at as bumi

    dan/atau bangunan yang di mili ki, di kuasai, dan/atau

    di manf aatkan ol eh orang pri badi atau Badan, kecuali

    kawasan yang di gunakan unt uk kegi atan usaha perkebunan,

    perhutanan, dan pertambangan.

    11. Bumi adal ah per mukaan bumi yang mel i puti tanah dan

    perai ran pedal aman serta l aut wil ayah Kota Cil egon.

    12. Bangunan adal ah konstruksi tekni k yang ditana m at au

    dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan

    pedal aman dan/atau laut.

    13. Nil ai Jual Obj ek Paj ak, yang sel anj utnya di si ngkat NJOP,

    adal ah harga rata-rata yang di perol eh dari transaksi j ual beli

    yang terj adi secara waj ar, dan bil amana ti dak terdapat

    transaksi j ual beli, NJOP ditent ukan mel al ui perbandi ngan

    harga dengan obj ek l ai n yang sej eni s, atau nil ai perol ehan

    baru, atau NJOP pengganti.

    14. Nil ai Jual Obj ek Paj ak Ti dak Kena Pajak yang sel anj ut nya

    di si ngkat NJOPTKP, adal ah batasan maksi mal NJOP

    Bangunan yang ti dak kena paj ak.

    15. Subj ek Paj ak adal ah orang pri badi atau badan yang dapat

    di kenakan paj ak.

    16. Waji b Paj ak adal ah orang pri badi atau badan, meli puti

    pe mbayar paj ak, pemot ong paj ak, dan pe mungut paj ak, yang

    me mpunyai hak dan kewaji ban perpajakan sesuai dengan

    ketent uan perat uran Perundang- undangan perpaj akan daerah.

    17. Tahun ...

  • - 6 -

    17. Tahun Paj ak adal ah j angka wakt u yang l amanya 1 ( satu)

    tahun kal ender, kecuali bil a waji b paj ak menggunakan t ahun

    buku yang ti dak sama dengan tahun kalender.

    18. Paj ak yang terutang adal ah paj ak yang harus di bayar pada

    suat u saat, dal am Masa Paj ak, dal am Tahun Paj ak, atau

    dal am Bagi an Tahun Paj ak sesuai dengan ketent uan

    perat uran Perundang- undangan perpaj akan daerah.

    19. Pe mungut an adal ah suat u rangkai an kegi atan mul ai dari

    penghi mpunan data Obj ek dan Subj ek paj ak, penent uan

    besarnya paj ak yang terutang sa mpai kegi atan penagi han

    paj ak kepada Waji b Paj ak serta pengawasan penyetorannya.

    20. Surat Pe mberitahuan Obj ek Paj ak, yang di si ngkat SPOP,

    adal ah surat yang di gunakan ol eh Waj i b Paj ak unt uk

    mel aporkan dat a subyek dan obj ek Paj ak Bumi dan

    Bangunan Perdesaan dan Perkotaan sesuai dengan

    ketent uan perat uran perundang- undangan perpaj akan

    daerah.

    21. Surat Pe mberitahuan Paj ak Terutang, yang sel anj ut nya

    di si ngkat SPPT, adal ah surat yang di gunakan unt uk

    me mberitahukan besarnya Paj ak Bumi dan Bangunan

    Perdesaan dan Perkotaan yang terutang kepada Waji b Paj ak.

    22. Surat Ketetapan Pajak Daerah yang sel anj ut nya di si ngkat

    SKPD, adal ah surat ketetapan paj ak yang menent ukan

    besarnya j uml ah pokok paj ak yang terutang.

    23. Surat Setoran Paj ak Daerah yang sel anj utnya di si ngkat SSPD,

    adal ah suat u bukti pe mbayaran atau penyetoran paj ak yang

    tel ah dil akukan dengan menggunakan f or mulir atau tel ah

    dil akukan dengan cara l ai n ke Kas daerah mel al ui te mpat

    pe mbayaran yang ditunj uk ol eh Kepal a Daerah.

    24. Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebi h Bayar yang sel anj ut nya

    di si ngkat SKPDLB adal ah surat ketetapan paj ak yang

    me nent ukan j uml ah kel ebi han pe mbayaran paj ak karena

    j uml ah kredit paj ak lebi h besar dari paj ak yang terutang atau

    ti dak seharusnya terut ang.

    25. Surat Tagi han Paj ak Daerah yang sel anjut nya di si ngkat STPD,

    adal ah surat unt uk mel akukan tagi han paj ak dan/atau sanksi

    admi ni stratif berupa bunga dan/atau denda.

    26. Surat ...

  • - 7 -

    26. Surat Keput usan Pe mbet ul an adal ah surat keput usan yang

    me mbet ul kan kesalahan t uli s, kesal ahan hi t ung, dan/atau

    kekekeliruan dal am penerapan ketentuan tertent u dal am

    perat uran perundang- undangan perpaj akan daerah yang

    terdapat dal am Surat Pe mberitahuan Paj ak Terutang, Surat

    Ketetapan Paj ak Daerah, Surat Tagi han Paj ak Daerah, Surat

    Keput usan Pengurangan, atau Surat Keput usan Keberatan.

    27. Surat Keput usan Keberatan adal ah surat keput usan atas

    keberatan terhadap Surat Pe mberitahuan Paj ak Terutang,

    Surat Ketetapan Pajak Daerah, yang di aj ukan ol eh Wajib

    Paj ak.

    28. Put usan Bandi ng adal ah put usan badan peradil an paj ak atas

    bandi ng terhadap Surat Keput usan Keberatan yang di aj ukan

    ol eh Waji b Paj ak.

    29. Pe meri ksaan adal ah serangkai an kegi atan menghi mpun dan

    me ngol ah data, keterangan, dan/atau bukti yang

    dil aksanakan secara Obj ektif dan profesi onal berdasarkan

    suat u standar pemeri ksaan unt uk menguji kepat uhan

    pe menuhan kewaji ban perpaj akan daerah dan/atau unt uk

    tuj uan l ai n dal am rangka mel aksanakan ketent uan perat uran

    perundang- undangan perpaj akan daerah.

    30. Penyi di kan ti ndak pi dana di bi dang perpaj akan daerah

    adal ah serangkai an ti ndakan yang dil akukan ol eh penyi dik

    unt uk mencari serta mengumpul kan bukti yang dengan bukti

    itu me mbuat terang ti ndak pi dana di bi dang perpaj akan

    daerah yang terj adi serta mene mukan tersangkanya.

    BAB II

    NAMA, OBJEK , SUBYEK DAN WAJI B PAJAK

    Pasal 2

    Dengan na ma Paj ak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan

    Perkotaan di pungut paj ak atas bumi dan/atau bangunan yang

    di mili ki, di kuasai, dan/atau di manf aatkan ol eh orang pri badi

    atau badan, kecuali kawasan yang di gunakan unt uk kegiat an

    usaha perkebunan, perhutanan dan pertambangan.

    Pasal ...

  • - 8 -

    Pasal 3

    ( 1) Obj ek PBB- P2 adal ah Bumi dan/atau Bangunan yang

    di mili ki, di kuasai, dan/atau di manfaat kan ol eh orang

    pri badi atau badan, kecuali kawasan yang di gunakan unt uk

    kegi atan usaha perkebunan, perhut anan, dan

    pertambangan.

    ( 2) Ter masuk dal am pengerti an Bangunan adal ah:

    a. Jal an li ngkungan yang terl etak dal am sat u ko mpl eks

    bangunan seperti hotel, pabri k, dan e mpl ase mennya,

    yang mer upakan suat u kesat uan dengan ko mpl eks

    bangunan tersebut.

    b. Jal an tol;

    c. Kol am renang;

    d. Pagar me wah;

    e. Te mpat ol ah raga;

    f. Gal angan kapal, dermaga;

    g. Ta man me wah;

    h. Te mpat pena mpungan/kil ang mi nyak, ai r dan gas,

    pi pa mi nyak; dan

    i. Me nara.

    ( 3) Obj ek Paj ak yang ti dak di kenakan PBB- P2 adal ah obj ek

    paj ak yang:

    a. Di gunakan ol eh Pe meri ntah, dan Daerah unt uk

    penyel enggaraan pemeri ntahan;

    b. Di gunakan se mat a-mat a unt uk mel ayani kepenti ngan

    umum di bi dang i badah, kesehatan, sosi al, pendi di kan

    dan kebudayaan nasi onal, yang ti dak di maksudkan

    unt uk me mperol eh keunt ungan;

    c. Di gunakan unt uk kuburan, peni nggal an purbakal a, atau

    yang sej eni s dengan itu;

    d. Mer upakan hut an li ndung, hut an suaka al am, hut an

    wi sata, taman nasional, tanah pengge mbal aan yang

    di kuasai ol eh desa, dan t anah Negara yang bel um

    di bebani suat u hak;

    e. Di gunakan

  • - 9 -

    e. Di gunakan ol eh per wakil an di pl omat i k dan konsul at

    berdasarkan asas perl akuan ti mbal bali k; dan

    f. Di gunakan ol eh badan at au per wakil an l e mbaga

    i nternasi onal yang ditetapkan dengan Perat uran Menteri

    Keuangan.

    Pasal 4

    ( 1) Subj ek PBB- P2 adalah orang pri badi atau badan yang secara

    nyata me mpunyai suat u hak atas Bumi dan/atau

    me mperol eh manf aat atas Bumi, dan/atau me mi li ki,

    menguasai, dan/atau me mperol eh manf aat atas Bangunan.

    ( 2) Waji b PBB- P2 adal ah orang pri badi atau badan yang secara

    nyata me mpunyai suat u hak atas Bumi dan/atau

    me mperol eh manf aat atas Bumi, dan/atau me mili ki,

    menguasai, dan/atau me mperol eh manf aat atas Bangunan.

    ( 3) Dal am hal atas objek paj ak bel um j elas di ketahui waji b

    paj aknya, Wali kota dapat menetapkan subj ek paj ak sebagai

    waji b paj ak.

    ( 4) Dal am hal subj ek paj ak dan waji b paj ak ti dak di ketahui

    keberadaannya, maka Wali kota dapat me mberi kan tanda

    khusus atas tanah dan/atau bangunan yang di maksud.

    ( 5) Subj ek paj ak yang ditetapkan sebagai mana di maksud pada

    ayat ( 3) dapat me mberi kan keterangan secara tertulis kepada

    Wali kota bahwa i a bukan waji b paj ak terhadap obj ek paj ak.

    ( 6) Bil a keterangan yang di aj ukan ol eh wajib paj ak sebagai mana

    di maksud pada ayat ( 5) di set uj ui, maka Wali kota

    me mbatal kan penetapan sebagai waji b paj ak sebagai mana

    di maksud pada ayat ( 3) dal am j angka wakt u 1 ( sat u) bul an

    sej ak diteri manya surat keterangan.

    ( 7) Bil a keterangan yang di aj ukan itu tidak di set uj ui, maka

    Wali kota mengel uarkan keput usan penolakan dengan di sertai

    al asan-al asannya.

    ( 8) Apabil a setel ah j angka wakt u 1 ( sat u) bul an sej ak tanggal

    diteri manya keterangan sebagai mana di maksud pada ayat ( 5)

    ti dak me mberi kan keput usan, maka keterangan yang di aj ukan

    itu di anggap di set uj ui dan Wali kota segera me mbatal kan

    penetapan sebagai waji b paj ak sebagaimana di maksud pada

    ayat ( 3).

    BAB

  • - 10 -

    BAB III

    DASAR PENGENAAN, TARI F DAN CARA PENGHI TUNGAN PAJAK

    Pasal 5

    ( 1) Dasar pengenaan PBB- P2 adal ah NJOP.

    ( 2) Besarnya NJOP sebagai mana di maksud pada ayat ( 1)

    di tetapkan seti ap 3 (tiga) tahun, kecuali unt uk obj ek paj ak

    tertent u dapat ditetapkan seti ap t ahun sesuai dengan

    perke mbangan wil ayahnya.

    ( 3) Penetapan besarnya NJOP sebagai mana di maksud ayat ( 2)

    di tetapkan ol eh Walikota.

    Pasal 6

    Tarif PBB- P2 ditetapkan sebagai beri kut :

    a. Sebesar 0, 1 % ( nol ko ma sat u persen) unt uk NJOP sa mpai

    dengan Rp. 1. 000. 000. 000, 00 ( sat u mil yar rupi ah);

    b. Sebesar 0, 2 % ( nol ko ma dua persen) unt uk NJOP di atas

    Rp. 1. 000. 000. 000, 00 ( sat u mil yar rupi ah) .

    Pasal 7

    (1) Besarnya Nil ai Jual Obj ek Paj ak Ti dak Kena Paj ak

    ( NJOPTKP) ditetapkan sebesar Rp. 15. 000. 000, 00 (li ma

    bel as j uta rupi ah) unt uk seti ap Waji b Pajak.

    (2) Besaran pokok PBB-P2 yang terutang dihi t ung dengan cara

    me ngali kan tarif sebagai mana di maksud Pasal 6 dengan

    dasar pengenaan paj ak sebagai mana di maksud Pasal 5

    ayat ( 1) setel ah di kurangi Nil ai Jual Obj ek Paj ak Ti dak

    Kena Paj ak sebagaimana di maksud dala m Pasal 7 ayat ( 1).

    BAB I V

    WI LAYAH PEMUNGUTAN

    Pasal 8

    Te mpat paj ak terutang adal ah di wil ayah daerah yang mel i puti

    letak obj ek paj ak.

    BAB ...

  • - 11 -

    BAB V

    TAHUN PAJAK

    Pasal 9

    ( 1) Tahun Paj ak adal ah jangka wakt u 1 ( satu) tahun kal ender.

    ( 2) Saat yang menentukan paj ak terutang adal ah menur ut

    keadaan obj ek paj ak pada tanggal 1 Januari;

    BAB VI

    PENDATAAN DAN PENETAPAN PAJAK

    Pasal 10

    ( 1) Pendataan dil akukan dengan menggunakan SPOP.

    ( 2) SPOP sebagai mana di maksud pada ayat ( 1) harus dii si

    dengan j el as, benar, dan l engkap serta di tandatangani dan

    di sampai kan kepada Wali kota yang wil ayah kerj anya

    meli puti l etak obj ek paj ak, sel ambat-l ambat nya 30 ( ti ga

    pul uh) hari kerj a setel ah t anggal diteri manya SPOP ol eh

    Subyek Paj ak.

    ( 3) Tatacara pendaftaran dan pendataan obj ek paj ak

    sebagai mana di maksud ayat ( 1) dan ayat ( 2) di at ur l ebi h

    lanj ut dengan Peraturan Wali kota.

    Pasal 11

    ( 1) Berdasarkan SPOP Wal i kota menerbitkan SPPT.

    ( 2) Wali kota dapat mengel uarkan SKPD dal am hal sebagai

    beri kut :

    a. SPOP sebagai mana di maksud dal am Pasal 10 ayat ( 2)

    ti dak di sampai kan dan setel ah Wajib Paj ak di tegur

    secara tert uli s ol eh Wali kota sebagai mana di tent ukan

    dal am Surat Teguran;

    b. Berdasarkan hasil pe meri ksaan atau keterangan l ai n

    ternyata j uml ah pajak yang terutang l ebi h besar dari

    j uml ah paj ak yang di hitung berdasarkan SPOP yang

    di sampai kan ol eh Waji b Paj ak;

    BAB ...

  • - 12 -

    BAB VII

    TATA CARA PEMUNGUTAN, PEMBAYARAN DAN PENAGI HAN

    Bagi an Kesat u

    Tat a Cara Pe mungutan

    Pasal 12

    ( 1) Pe mungut an paj ak dilarang di borongkan.

    ( 2) Seti ap Waji b Paj ak waji b me mbayar paj ak yang terut ang

    berdasarkan SPPT atau SKPD.

    ( 3) Ketent uan l ebi h l anj ut mengenai tata cara penerbitan dan

    penya mpai an SPPT atau SKPD sebagai mana di maksud

    dal am pasal 12 ayat ( 2) di at ur l ebi h l anj ut dengan

    Perat uran Wali kota.

    Bagi an Kedua

    Tat a Cara Pe mbayaran dan Penagi han

    Pasal 13

    ( 1) Wali kota menent ukan t anggal j at uh te mpo pe mbayaran dan

    penyetoran paj ak yang terutang pali ng la ma 6 ( ena m) bul an

    sej ak tanggal diterimanya SPPT ol eh Waji b Paj ak.

    ( 2) Paj ak terutang berdasarkan SPPT harus dil unasi sel ambat-

    lambat nya 6 ( enam) bul an sej ak tanggal diteri manya SPPT

    ol eh Waji b Paj ak.

    ( 3) SPPT, SKPD, STPD, Surat Keput usan Pe mbet ul an, Suarat

    Keput usan Keberatan, dan Put usan Bandi ng, yang

    me nyebabkan j uml ah paj ak yang harus di bayar bertambah

    mer upakan dasar penagi han paj ak dan harus dil unasi

    dal am j angka waktu pali ng l ama 1 ( sat u) bul an sej ak

    tanggal diterbitkan.

    ( 4) Paj ak terutang yang pada saat j at uh te mpo pe mbayaran

    ti dak di bayar atau kurang di bayar, di kenakan sanksi

    admi ni stratif berupa denda sebesar 2 % ( dua persen)

    sebul an, yang di hitung sej ak saat j atuh te mpo sa mpai

    dengan hari pe mbayaran unt uk j angka wakt u pali ng l ama

    24 ( dua pul uh e mpat) bul an.

    ( 5) Wali kota ...

  • - 13 -

    ( 5) Wali kota atas per mohonan Waji b Paj ak setel ah me menuhi

    persyaratan yang ditent ukan dapat me mberi kan

    perset uj uan kepada Waji b Paj ak unt uk mengangsur at au

    me nunda pe mbayaran paj ak, dengan di kenakan bunga

    sebesar 2 % ( dua persen) sebul an.

    ( 6) Paj ak yang terutang di bayar ke Kas Daerah, Bank, te mpat

    lai n yang ditunj uk oleh Wali kota.

    ( 7) Ketent uan l ebi h l anj ut mengenai tata cara pe mbayaran,

    penyetoran, te mpat pe mbayaran, angsuran, dan penundaan

    pe mbayaran paj ak diat ur dengan Perat uran Wali kota.

    Pasal 14

    ( 1) Paj ak yang terutang berdasarkan SPPT, SKPD, STPD, Surat

    Keput usan Pe mbet ulan, Surat Keput usan Keberatan, dan

    Put usan Bandi ng yang ti dak atau kurang di bayar ol eh

    Waj i b Paj ak pada wakt unya dapat ditagi h dengan Surat

    Paksa;

    ( 2) Penagi han Paj ak dengan Surat Paksa dil aksanakan

    berdasarkan perat uran perundang- undangan.

    BAB VIII

    PEMBERI AN PENGURANGAN, KERI NGANAN DAN

    PEMBEBASAN PAJAK

    Pasal 15

    ( 1) Wali kota dapat memberi kan pengurangan, keri nganan dan

    pe mbebasan paj ak.

    ( 2) Pe mberi an pengurangan, keri nganan dan pe mbebasan

    paj ak sebagai mana di maksud di dal am ayat ( 1), di beri kan

    dengan me mperhatikan ke ma mpuan waji b paj ak antara

    lai n unt uk mengangsur karena bencana al am dan

    kerusuhan.

    ( 3) Pe mbebasan paj ak sebagai mana di maksud pada ayat ( 1),

    di beri kan dengan meli hat f ungsi obj ek paj ak.

    ( 4) Ketent uan l ebi h l anj ut mengenai tata cara pengurangan,

    keri nganan dan pe mbebasan paj ak di at ur dengan

    Perat uran Wali kota.

    BAB ...

  • - 14 -

    BAB I X

    KEBERATAN DAN BANDI NG

    Pasal 16

    ( 1) Waji b Paj ak dapat me ngaj ukan keberatan kepada Wali kota

    atas SPPT, SKPD, dan SKPDLB.

    ( 2) Keberatan di aj ukan secara tert uli s dal am bahasa I ndonesi a

    dengan di sertai al asan-al asan yang j el as.

    ( 3) Keberatan harus di aj ukan dal am j angka wakt u pali ng l ama

    3 ( ti ga) bul an sej ak tanggal diteri manya surat sebagai mana

    di maksud pada ayat ( 1) ol eh Waji b Paj ak, kecuali ji ka Waji b

    Paj ak dapat menunj ukkan bahwa j angka wakt u i t u ti dak

    dapat di penuhi karena keadaan di l uar kekuasaannya.

    ( 4) Keberatan dapat di aj ukan apabil a Waj i b Paj ak tel ah

    me mbayar pali ng sedi kit sej uml ah yang tel ah di set uj ui

    Waj i b Paj ak.

    ( 5) Keberatan yang ti dak me menuhi persyaratan sebagai mana

    di maksud pada ayat ( 1), ayat ( 2), ayat ( 3), dan ayat ( 4) ti dak

    di anggap sebagai Surat Keberatan sehi ngga ti dak

    di perti mbangkan.

    ( 6) Tanda peneri maan surat keberatan yang di beri kan ol eh

    Wal i kota atau pej abat yang dit unj uk atau t anda pengi ri man

    surat keberatan melal ui surat pos tercatat sebagai tanda

    bukti peneri maan surat keberatan.

    Pasal 17

    ( 1) Wali kota dal am j angka wakt u pali ng la ma 12 ( dua bel as)

    bul an sej ak t anggal surat keberatan diteri ma, harus

    me mberi keput usan atas keberatan yang di aj ukan.

    ( 2) Keput usan Wali kota atas keberatan dapat berupa meneri ma

    sel uruhnya atau sebagi an, menol ak, at au mena mbah

    besarnya paj ak yang terutang.

    ( 3) Apabil a j angka waktu sebagai mana di maksud pada ayat ( 1)

    tel ah l ewat dan Wal i kota ti dak me mberi suat u keput usan,

    keberatan yang di ajukan tersebut di anggap di kabul kan.

    Pasal ...

  • - 15 -

    Pasal 18

    ( 1) Waji b Paj ak dapat me ngaj ukan per mohonan bandi ng hanya

    kepada Pengadil an Paj ak terhadap keput usan mengenai

    keberatannya yang ditetapkan ol eh Walikota.

    ( 2) Per mohonan bandi ng sebagai mana di maksud pada ayat ( 1)

    di aj ukan secara tertuli s dal am bahasa I ndonesi a, dengan

    al asan yang j el as dal am j angka wakt u 3 ( ti ga) bul an sej ak

    keput usan diteri ma, dil ampi ri sali nan dan sur at keput usan

    keberatan tersebut.

    ( 3) Pengaj uan per mohonan bandi ng menangguhkan kewaji ban

    me mbayar paj ak sa mpai dengan 1 ( sat u) bul an sej ak

    tanggal penerbitan Put usan Bandi ng.

    Pasal 19

    ( 1) Apabil a pengaj uan keberatan atau per mohonan bandi ng

    di kabul kan sebagian atau sel uruhnya, kel ebi han

    pe mbayaran paj ak di ke mbali kan dengan ditambah i mbal an

    bunga sebesar 2 % ( dua persen) sebul an unt uk pali ng l ama

    24 ( dua pul uh e mpat) bul an.

    ( 2) I mbal an bunga sebagai mana di maksud pada ayat ( 1)

    di hitung sej ak bul an pel unasan sa mpai dengan

    diterbitkannya SKPDLB.

    ( 3) Dal am hal keberatan Waji b Paj ak ditol ak, atau di kabul kan

    sebagi an, Waji b Pajak di kenai sanksi admi ni strasi berupa

    denda sebesar 50 % (li ma pul uh persen) dari j uml ah paj ak

    berdasarkan keput usan keberatan di kurangi dengan paj ak

    yang tel ah di bayar sebel um mengaj ukan keberatan.

    ( 4) Dal am hal Waji b Pajak mengaj ukan permohonan bandi ng,

    sanksi admi ni strasi berupa denda sebesar 50 % ( li ma pul uh

    persen) sebagai mana di maksud pada ayat ( 3) ti dak

    di kenakan.

    ( 5) Dal am hal per mohonan bandi ng ditolak atau di kabul kan

    sebagi an, Waji b Pajak di kenai sanksi admi ni strasi berupa

    denda sebesar 100 % ( serat us persen) dari j uml ah paj ak

    berdasarkan Putusan Bandi ng di kurangi dengan

    pe mbayaran paj ak yang tel ah di bayar sebel um mengaj ukan

    keberatan.

    BAB ...

  • - 16 -

    BAB X

    PEMBETULAN, PEMBATALAN, PENGURANGAN KETETAPAN,

    DAN PENGHAPUSAN ATAU PENGURANGAN SANKSI ADMI NI STRASI

    Pasal 20

    ( 1) Atas per mohonan Waji b Paj ak atau karena j abatannya,

    Wali kota dapat me mbet ul kan SPPT, SKPD, atau STPD yang

    dal am penerbitannya terdapat kesal ahan t uli s dan/at au

    kesal ahan hitung dan/atau kekeliruan penerapan ketent uan

    tertent u dal am peraturan perundang- undangan perpaj akan

    Daerah.

    ( 2) Wali kota dapat:

    a. Mengurangkan atau menghapuskan sanksi admi ni strasi

    berupa bunga, denda, dan kenai kan pajak yang terutang

    menurut perat uran perundang- undangan perpaj akan

    daerah, dal am hal sanksi tersebut dikenakan karena

    kekhil af an Waji b Pajak atau bukan karena kesal ahannya;

    b. Mengurangkan atau me mbatal kan SPPT, SKPD, atau

    STPD yang ti dak benar;

    c. Mengurangkan atau me mbatal kan STPD;

    d. Me mbatal kan hasil pe meri ksaan atau ketetapan paj ak

    yang dil aksanakan atau diterbitkan ti dak sesuai dengan

    tatacara yang ditent ukan; dan

    e. Mengurangkan ketetapan paj ak terutang berdasarkan

    perti mbangan ke mampuan me mbayar Waji b Paj ak atau

    kondi si tertent u obj ek paj ak.

    ( 3) Ketent uan l ebi h l anjut mengenai tatacara pengurangan atau

    penghapusan sanksi admi ni strasi dan pengurangan atau

    pe mbatal an ketetapan paj ak sebagai mana di maksud pada

    ayat ( 2) di atur dengan Perat uran Wali kota.

    BAB XI

    PENGEMBALI AN KELEBI HAN PEMBAYARAN

    Pasal 21

    ( 1) Atas kel ebi han pembayaran Paj ak, Waji b Paj ak dapat

    mengaj ukan per mohonan penge mbali an kepada Wali kota.

    ( 2) Wali kota dal am j angka wakt u pali ng lama 12 ( dua bel as)

    bul an sej ak diteri manya per mohonan penge mbali an

    kel ebi han pe mbayaran Paj ak sebagai mana di maksud

    ayat ( 1), harus me mberi kan keput usan.

    ( 3) Apabil a ...

  • - 17 -

    ( 3) Apabil a dal am j angka wakt u sebagai mana di maksud pada

    ayat ( 2) tel ah dil ampaui dan Wali kota tidak me mberi suat u

    keput usan, per mohonan penge mbalian paj ak di anggap

    di kabul kan dan SKPDLB harus diterbitkan dal am j angka

    wakt u pali ng l ama 1 (sat u) bul an.

    ( 4) Apabil a Waji b Pajak me mpunyai utang paj ak l ai nnya,

    kel ebi han pe mbayaran paj ak sebagai mana di maksud pada

    ayat ( 1) l angsung di perhit ungkan unt uk mel unasi terl ebi h

    dahul u utang paj ak tersebut.

    ( 5) Penge mbali an kelebi han pe mbayaran sebagai mana

    di maksud pada ayat ( 1) dil akukan dal am j angka wakt u

    pali ng l ama 2 ( dua) bul an sej ak diterbitkannya SKPDLB.

    ( 6) Ji ka penge mbali an kel ebi han pe mbayaran Paj ak dil akukan

    setel ah l ewat 2 ( dua) bul an, Wali kota me mberi kan i mbal an

    bunga sebesar 2 % ( dua) persen) sebul an at as

    keterl ambatan pe mbayaran kel ebi han pembayaran Paj ak;

    ( 7) Tata cara penge mbali an kel ebi han pe mbayaran Paj ak

    sebagai mana di maksud pada ayat ( 1) di at ur dengan

    Perat uran Wali kota.

    BAB XII

    KEDALUWARSA PENAGI HAN

    Pasal 22

    ( 1) Hak unt uk mel akukan penagi han Paj ak menj adi

    kedal uwarsa setel ah mel ampaui waktu 5 (li ma) t ahun

    terhitung sej ak saat terutangnya Pajak, kecuali apabil a

    Waj i b Paj ak mel akukan ti ndak pi dana di bi dang perpaj akan

    daerah.

    ( 2) Kedal uwarsa penagihan Paj ak sebagai mana di maksud pada

    ayat ( 1) tertangguh apabil a :

    a. Di terbitkan Surat Teguran dan/atau Surat Paksa; atau

    b. Ada pengakuan utang paj ak dari Waji b Paj ak, bai k

    langsung maupun tidak l angsung;

    ( 3) Dal am ...

  • - 18 -

    ( 3) Dal am hal diterbitkan Surat Teguran dan Surat Paksa

    sebagai mana di maksud pada ayat ( 2) huruf a, kedal uwarsa

    penagi han di hitung sej ak tanggal penyampai an Surat Paksa

    tersebut.

    ( 4) Pengakuan utang Paj ak secara l angsung sebagai mana

    di maksud pada ayat ( 2) huruf b adal ah Waji b Paj ak

    dengan kesadarannya menyatakan masih me mpunyai utang

    paj ak dan bel um melunasi nya kepada Pemeri ntah Daerah.

    ( 5) Pengakuan ut ang secara ti dak l angsung sebagai mana

    di maksud pada ayat ( 2) huruf b dapat di ketahui dari

    pengaj uan per mohonan angsuran atau penundaan

    pe mbayaran dan permohonan keberatan Waji b Paj ak.

    Pasal 23

    ( 1) Pi utang paj ak yang ti dak mungki n ditagi h l agi karena hak

    unt uk mel akukan penagi han sudah kedal uwarsa dapat

    di hapuskan.

    (2) Wali kota menetapkan Keput usan Penghapusan Pi utang Paj ak

    yang sudah kedal uwarsa sebagai mana di maksud pada ayat ( 1).

    ( 3) Tatacara penghapusan pi utang pajak yang sudah

    kedal uwarsa di atur dengan Perat uran Wal ikota.

    BAB XIII

    PEMERI KSAAN

    Pasal 24

    ( 1) Wali kota ber wenang mel akukan pemeri ksaan unt uk

    menguji kepat uhan pe menuhan kewaj i ban paj ak dal am

    rangka mel aksanakan perat uran perundang- undangan

    paj ak.

    ( 2) Waji b Paj ak yang di peri ksa waji b:

    a. Me mperli hatkan dan/atau me mi nj amkan buku atau

    catatan, dokumen yang menj adi dasarnya dan dokumen

    lai n yang berhubungan dengan obj ek paj ak yang

    terutang;

    b. Me mberi kan kese mpatan unt uk me masuki te mpat atau

    ruangan yang di anggap perl u dan me mberi kan bant uan

    guna kel ancaran pe meri ksaan dan/atau me mberi kan

    keterangan yang di perl ukan.

    ( 3) Ketent uan l ebi h l anj ut mengenai tata cara pe meri ksaan

    paj ak di at ur dengan Perat uran Wali kota.

    BAB ...

  • - 19 -

    BAB XI V

    I NSENTI F PEMUNGUTAN

    Pasal 25

    ( 1) Instansi yang mel aksanakan pe mungutan Paj ak dapat di beri

    i nsentif atas dasar pencapai an ki nerj a tertent u.

    ( 2) Pe mberi an i nsentif sebagai mana di maksud di maksud pada

    ayat ( 1) ditetapkan mel al ui Anggaran Pendapatan dan Bel anj a

    Daerah.

    ( 3) Tatacara pe mberi an dan pe manf aatan insentif sebagai mana

    di maksud pada ayat ( 1) di atur dengan Perat uran Wali kota.

    BAB XV

    KETENTUAN KHUSUS

    Pasal 26

    ( 1) Seti ap pej abat dil arang me mberitahukan kepada pi hak l ai n

    segal a sesuat u yang di ketahui atau di beritahukan

    kepadanya ol eh Waji b Paj ak dal am rangka j abat an at au

    pekerj aannya unt uk menj al ankan ketent uan perat uran

    perundang- undangan perpaj akan daerah.

    ( 2) Larangan sebagai mana di maksud pada ayat ( 1) berl aku

    j uga terhadap tenaga ahli yang dit unj uk ol eh Wali kota

    unt uk me mbant u dal am pel aksanaan ketent uan perat uran

    perundang- undangan perpaj akan daerah.

    ( 3) Di kecuali kan dari ketent uan sebagai mana di maksud pada

    ayat ( 1) dan ayat ( 2) adal ah :

    a. Pej abat dan tenaga ahli yang berti ndak sebagai saksi

    atau saksi ahli dal am si dang pengadil an;

    b. Pej abat dan/atau tenaga ahli yang ditetapkan ol eh

    Wal i kota unt uk memberi kan keterangan kepada pej abat

    lembaga negara atau i nstansi Pemeri ntah yang

    ber wenang mel akukan pe meri ksaan dal am bi dang

    keuangan daerah.

    ( 4) Unt uk kepenti ngan daerah, Wali kota ber wenang me mberi

    iji n tert uli s kepada pej abat sebagai mana di maksud pada

    ayat ( 1) dan tenaga ahli sebagai mana di maksud pada ayat

    ( 2), agar me mberi kan keterangan, memperli hatkan bukti

    tert uli s dan at au keterangan tentang Waj i b Paj ak kepada

    pi hak yang ditunj uk.

    ( 5) Unt uk ...

  • - 20 -

    ( 5) Unt uk kepenti ngan pe meri ksaan di pengadil an dal am

    perkara pi dana atau perdata, atas per mi nt aan haki m sesuai

    dengan Hukum Acara Pi dana dan Hukum Acara Perdat a,

    Wal i kota dapat me mberi iji n tert ulis kepada pej abat

    sebagai mana di maksud pada ayat (1) dan tenaga ahl i

    sebagai mana di maksud pada ayat ( 2) unt uk me mberi kan

    dan me mperli hatkan bukti tert uli s dan keterangan Waji b

    Paj ak yang ada padanya.

    ( 6) Per mi ntaan haki m sebagai mana di maksud pada ayat ( 5)

    harus menyebut kan na ma tersangka atau na ma tergugat,

    keterangan yang di mi nta, serta kaitan ant ara perkara

    pi dana atau perdata yang bersangkut an dengan keterangan

    yang di mi nta.

    BAB XVI

    PENYI DI KAN

    Pasal 27

    ( 1) Pej abat Pegawai Negeri Si pil tertentu di Li ngkungan

    Pe meri ntah Daerah di beri wewenang khusus sebagai

    penyi di k unt uk melakukan penyi di kan ti ndak pi dana di

    bi dang perpaj akan daerah sebagai mana di maksud dal am

    Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1981 tent ang Hukum

    Acara Pi dana.

    ( 2) Penyi di k Pegawai Negeri Si pil sebagai mana di maksud

    ayat ( 1) adal ah pej abat pegawai negeri si pil tertent u

    di Li ngkungan Pemeri ntah Daerah yang di angkat ol eh

    pej abat yang berwenang sesuai dengan ketent uan

    perundang- undangan.

    ( 3) We wenang penyi dik sebagai mana dimaksud ayat ( 1),

    meli puti:

    a. Me neri ma, mencari, mengumpul kan dan meneliti

    keterangan atau l aporan berkenaan dengan ti ndakan

    pi dana di bi dang perpaj akan daerah agar

    keterangan atau l aporan tersebut menj adi l ebi h l engkap

    dan j el as;

    b. Meneliti ...

  • - 21 -

    b. Me neliti, mencari, me ngumpul kan keterangan mengenai

    orang pri badi atau badan tentang kebenaran perbuat an

    yang dil akukan sehubungan dengan ti ndak pi dana di

    bi dang perpaj akan Daerah;

    c. Me mi nta keterangan dan bahan bukti dari orang pri badi

    atau badan sehubungan dengan ti ndak pi dana di bi dang

    perpaj akan Daerah;

    d. Me meri ksa buku- buku, catatan-catatan dan dokumen-

    dokumen l ai n berkenaan dengan tindak pi dana di

    bi dang perpaj akan Daerah;

    e. Mel akukan penggeledahan unt uk mendapat kan bahan

    bukti pe mbukuan, pencatatan dan dokumen l ai n, serta

    mel akukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;

    f. Me mi nta bant uan tenaga ahli dal am rangka pel aksanaan

    tugas penyi di kan tindak pi dana di bi dang perpaj akan

    Daerah;

    g. Me nyur uh berhenti dan/atau mel arang seseorang

    me ni nggal kan ruangan atau te mpat pada saat

    pe meri ksaan sedang berl angsung dan me meri ksa

    i dentitas orang, benda, dan/atau dokume n yang di bawa;

    h. Me motret seseorang yang berkaitan dengan ti ndak

    pi dana perpaj akan Daerah;

    i. Me manggil orang unt uk di dengar keterangannya dan

    di peri ksa sebagai tersangka;

    j. Me nghenti kan penyidi kan; dan/atau

    k. Mel akukan ti ndakan l ai n yang perl u unt uk kel ancaran

    penyi di kan ti ndak pi dana di bi dang perpaj akan Daerah

    sesuai dengan ketentuan perundang- undangan.

    ( 4) Penyi di k sebagaimana di maksud pada ayat (1)

    me mberitahukan di mul ai nya penyi di kan dan

    me nya mpai kan hasi l penyi di kannya pada penunt ut umum,

    sesuai dengan ketent uan yang di at ur dal am Undang-

    Undang Hukum Acara Pi dana.

    BAB ...

  • - 22 -

    BAB XVII

    KETENTUAN PI DANA

    Pasal 28

    Ti ndak pi dana di bi dang perpaj akan daerah ti dak di t unt ut

    setel ah mel ampaui j angka wakt u 5 ( li ma) tahun sej ak saat

    terutangnya paj ak atau berakhi rnya Masa Paj ak at au

    berakhi rnya Bagi an Tahun Paj ak atau berakhi rnya Tahun Paj ak

    yang bersangkut an.

    Pasal 29

    (1) Pej abat atau tenaga ahli yang dit unj uk ol eh Wali kota yang

    karena keal paannya ti dak meme nuhi kewaji ban

    merahasi akan hal sebagai mana di maksud pada Pasal 26

    ayat ( 1) dan ayat ( 2) di pi dana dengan pi dana kur ungan

    pali ng l ama 1 ( sat u) t ahun dan pi dana denda pali ng banyak

    Rp. 4. 000. 000, 00 ( empat j uta rupi ah).

    (2) Pej abat atau tenaga ahli yang dit unj uk ol eh Wali kota yang

    dengan sengaj a ti dak me menuhi kewaji bannya atau

    seseorang yang menyebabkan ti dak dipenuhi nya kewaji ban

    pej abat sebagai mana di maksud dal am Pasal 26 ayat ( 1) dan

    ayat ( 2) di pi dana dengan pi dana kur ungan pali ng l ama 2

    ( dua) tahun dan pi dana denda pali ng banyak

    Rp. 10. 000. 000, 00 (sepul uh j uta rupi ah) .

    (3) Penunt utan terhadap ti ndak pi dana sebagai mana di maksud

    pada ayat ( 1) dan ayat ( 2) hanya dil akukan at as pengaduan

    orang yang kerahasiaannya dil anggar.

    (4) Tunt utan pi dana sebagai mana di maksud pada ayat ( 1)

    dan ayat ( 2) sesuai dengan sif atnya adal ah menyangkut

    kepenti ngan pri badi seseorang atau badan sel aku

    Waj i b Paj ak, karena it u dij adi kan ti ndak pi dana

    pengaduan.

    Pasal 30

    Denda sebagai mana di maksud dal am Pasal 29 ayat ( 1) dan

    ayat ( 2) merupakan peneri maan negara.

    BAB ...

  • - 23 -

    BAB XVIII

    KETENTUAN PENUTUP

    Pasal 31

    Perat uran Daerah i ni mul ai berl aku pada tanggal 1 Januari 2014.

    Agar seti ap orang mengetahui nya, me meri ntahkan

    pengundangan Peraturan Daerah i ni dengan mene mpat kannya

    dal am Le mbaran Daerah Kota Cil egon.

    Di tetapkan di Cil egon

    pada tanggal 1 April 2013

    WALI KOTA CI LEGON,

    ttd

    Tb. I MAN ARI YADI Di undangkan di Cilegon

    pada tanggal 1 April 2013

    SEKRETARI S DAERAH KOTA CI LEGON,

    ttd

    ABDUL HAKI M LUBI S

    LEMBARAN DAERAH KOTA CI LEGON TAHUN 2013 NOMOR 4

  • - 24 -

    PENJELASAN

    ATAS

    PERATURAN DAERAH KOTA CI LEGON

    NOMOR 4 TAHUN 2013

    TENTANG

    PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN

    1. UMUM

    Dengan berl akunya Undang- undang No mor 28 Tahun 2009 tent ang

    Paj ak Daerah dan Retri busi Daerah, pajak daerah yang merupakan sal ah sat u

    sumber pendapatan daerah yang penti ng guna me mbi ayai pel aksanaan

    pe meri ntahan daerah khususnya dala m rangka meni ngkat kan pel ayanan

    kepada masyarakat dan ke mandi ri an daerah, mendapat perl uasan basi s

    paj ak dan pe mberi an di skresi dal am penetapan tarif paj ak.

    Perl uasan basi s pajak Daerah tersebut dil akukan dengan me ndaerahkan

    jeni s paj ak pusat dan mena mbah j eni s paj ak baru yang sal ah sat unya adal ah

    jeni s paj ak Paj ak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan.

    Berkaitan dengan pe mberi an di skresi kewenangan dal am penetapan t arif

    paj ak, maka unt uk me nghi ndari penetapan t arif paj ak yang ti nggi yang dapat

    me na mbah beban bagi masyarakat secara berl ebi han, daerah ber wenang

    unt uk menetapkan tarif paj ak dal am batas maksi mum yang di tetapkan dal am

    Undang- undang PDRD.

    Pengawasan pungutan paj ak daerah harus dil aksanakan dengan sebai k-

    bai knya sesuai at uran yang benar, karena dengan pe mberi an perl uasan basi s

    paj ak tersebut, j enis paj ak yang dapat di pungut ol eh daerah hanya yang

    ditetapkan dal am Undang- Undang PDRD, dan seti ap Peraturan Daerah yang

    akan dil aksanakan harus mendapat kan perset uj uan l ebi h dahul u dari

    Pe meri ntah Pusat, dan daerah yang menetapkan kebij akan di bi dang paj ak

    daerah yang mel anggar ketent uan peraturan perundang- undangan yang l ebi h

    ti nggi di kenakan sanksi berupa penundaan dan/atau pe mot ongan dana

    al okasi umum dan/atau dana bagi hasil atau restitusi.

    Dengan di berl akukannya Perat uran Daerah i ni, ke mampuan unt uk

    me mbi ayai kebut uhan pengel uaran daerah se maki n besar dan daerah dapat

    dengan mudah menyesuai kan pendapatannya sej al an dengan adanya

    peni ngkatan basi s paj ak daerah dan di skresi dal am penetapan t arif, dengan

    fleksi bilitas kewenangan daerah dal am pengat uran pajak daerah yang

    berori entasi pada ke ma mpuan masyarakat daerah sete mpat i ni di harapkan

    masyarakat dan duni a usaha dapat me ni ngkat kan kesadaran me menuhi

    kewaji ban perpaj akannya.

    2. PASAL ...

  • - 25 -

    2. PASAL DEMI PASAl

    Pasal 1

    Cukup j el as.

    Pasal 2

    Yang di maksud dengan kawasan adal ah se mua t anah dan

    bangunan yang di gunakan ol eh perusahaan perkebunan,

    perhutanan, dan pertambangan di tanah yang di beri hak guna

    usaha perkebunan, tanah yang di beri hak pengusahaan hutan dan

    tanah yang menj adi wi l ayah usaha pertambangan.

    Pasal 3

    Ayat ( 1)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 2)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 3)

    Hur uf a

    Cukup j el as

    Hur uf b

    Yang di maksud dengan ti dak di maksudkan unt uk memperol eh

    keunt ungan adal ah bahwa obj ek paj ak it u di usahakan unt uk

    mel ayani kepenti ngan umum, dan nyata-nyata ti dak di tuj ukan

    unt uk mencari keuntungan. Hal i ni dapat di ketahui ant ara l ai n dari

    anggaran dasar dan anggaran rumah tangga dari yayasan/badan

    yang bergerak dal am bi dang i badah, sosi al, kesehatan, pendi di kan,

    dan kebudayaan nasi onal tersebut. Termasuk pengerti an ini adal ah

    hut an wi sata mi li k negara sesuai dengan ketent uan perat uran

    perundang- undangan.

    Hur uf c

    Cukup j el as.

    Hur uf d

    Cukup j el as.

    Hur uf e

    Cukup j el as.

    Hur uf f

    Cukup j el as.

    Pasal 4

    Ayat ( 1)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 2)

    Cukup j el as.

    Ayat

  • - 26 -

    Ayat ( 3)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 4)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 5)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 6)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 7)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 8)

    Cukup j el as.

    Pasal 5

    Ayat ( 1)

    Penetapan NJOP dapat dil akukan dengan :

    a. Perbandi ngan harga dengan obj ek l ai n yang sej eni s, adal ah

    suat u pendekatan/met ode penent uan nil ai j ual suat u obj ek

    paj ak dengan cara me mbandi ngkannya dengan obj ek paj ak l ai n

    yang sej eni s yang l etaknya berdekatan dan f ungsi nya sa ma dan

    tel ah di ketahui harga j ual nya ;

    b. Nil ai perol ehan baru, adal ah suat u pendekatan/met ode

    penent uan nil ai j ual suat u obj ek paj ak dengan cara menghi tung

    sel uruh bi aya yang di kel uarkan untuk me mperol eh obj ek

    tersebut pada saat penil ai an dil akukan, yang di kurangi dengan

    penyusutan berdasarkan kondi si fisi k objek tersebut.

    c. Nil ai j ual pengganti, adal ah suatu pendekatan/ metode

    penent uan nil ai j ual suat u obj ek paj ak yang berdasarkan pada

    hasil produksi obj ek paj ak tersebut.

    Ayat ( 2)

    Pada dasarnya penetapan NJOP adal ah 3 ( ti ga) tahun sekali. Unt uk

    daerah tertent u yang perke mbangan pe mbangunannya

    me ngaki batkan kenai kan NJOP yang cukup besar, maka penet apan

    NJOP dapat ditetapkan setahun sekali.

    Ayat ( 3)

    Cukup j el as.

    Pasal 6

    Cukup j el as.

    Pasal

  • - 27 -

    Pasal 7

    Ayat ( 1)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 2)

    Ni l ai j ual unt uk bangunan sebel um di terapkan t arif paj ak dikurangi

    terl ebi h dahul u dengan Nil ai Jual Obj ek Paj ak Ti dak Kena Paj ak

    sebesar Rp. 15. 000. 000, 00 (li ma bel as j uta rupi ah).

    Cont oh 1 :

    Waj i b paj ak A me mpunyai obj ek paj ak berupa :

    Tanah sel uas 800 m2 dengan harga j ual Rp. 300. 000, 00/m2

    Bangunan sel uas 400 m2 dengan nil ai j ual Rp. 350. 000, 00/m2

    Ta man sel uas 200 m2 dengan nil ai j ual Rp 50. 000, 00/m2

    Pagar sepanj ang 120 m dan ti nggi rata-rata pagar 1, 5 m dengan

    nil ai j ual Rp. 175. 000, 00/m2

    Besarnya ...

    Besarnya pokok pajak yang terutang adal ah sebagai beri kut :

    1. NJOP Bumi

    800 x Rp. 300. 000, 00 =Rp. 240. 000. 000, 00

    2. NJOP Bangunan

    a. Rumah dan garasi

    400 x Rp. 350. 000,00 = Rp. 140. 000. 000, 00

    b. Ta man

    200 x Rp. 50. 000, 00 = Rp. 10. 000. 000, 00

    c. Pagar

    ( 120 x 1, 5) x Rp. 175. 000, 00 = Rp. 31. 500. 000, 00

    ---------------------------- +

    Total NJOP Bangunan = Rp. 181. 500. 000, 00

    NJOPTKP = Rp 15. 000. 000, 00

    ---------------------------- (-)

    Ni l ai Jual Bangunan Kena Paj ak = Rp. 166. 500. 000, 00

    3. Nil ai Jual Obj ek Pajak Kena Paj ak ( 1 + 2) = Rp. 406. 500. 000, 00

    4. Tarif paj ak ef ektif yang ditetapkan dal am

    Perat uran Daerah 0,1 %

    5. PBB terutang

    0, 1 % x Rp 406. 500.000, 00 = Rp. 406. 500, 00

    Cont oh 2 :

    Waj i b paj ak B me mpunyai obj ek paj ak berupa :

    Tanah sel uas 500 m2 dengan harga j ual Rp. 2. 200. 000, 00/m2

    Bangunan sel uas 250 m2 dengan nil ai j ual Rp. 1. 500. 000, 00/ m2

    Besarnya pokok pajak yang terutang adal ah sebagai beri kut :

    NJOP

  • - 28 -

    1. NJOP Bumi

    500 x Rp. 2. 200. 000, 00 =Rp.1. 100. 000. 000, 00

    2. NJOP Bangunan

    Rumah dan garasi

    250 x Rp. 1. 500. 000,00 = Rp. 375. 000. 000, 00

    NJOPTKP = Rp 15. 000. 000, 00

    --------------------------(-)

    Ni l ai Jual Bangunan Kena Paj ak = Rp. 360. 000. 000, 00

    3. Nil ai Jual Obj ek Paj ak Kena Paj ak ( 1 + 2) = Rp.

    1. 460. 000. 000, 00

    4. Tarif paj ak ef ektif yang ditetapkan dal am

    Perat uran Daerah 0,2 %

    5. PBB terutang

    0, 2 % x Rp 1. 460. 000. 000, 00 = Rp. 2. 920. 000, 00

    Apabil a seorang Wajib Paj ak me mpunyai beberapa Obj ek Paj ak, yang

    di kenakan Nil ai Jual Obj ek Paj ak Ti dak Kena Paj ak hanya sal ah sat u

    Obj ek Paj ak yang nil ai nya terbesar, sedangkan Obj ek Paj ak l ai nnya t etap

    di kenakan secara penuh t anpa di kurangi Nil ai Jual Obj ek Paj ak Ti dak

    Kena Paj ak.

    Pasal 8

    Cukup j el as.

    Pasal 9

    Ayat ( 1)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 2)

    Cukup j el as.

    Pasal 10

    Ayat ( 1)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 2)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 3)

    Cukup j el as.

    Pasal 11

    Ayat ( 1)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 2)

    Cukup j el as.

    Pasal 12

    Ayat ( 1)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 2)

    Cukup j el as.

    Ayat

  • - 29 -

    Ayat ( 3)

    Cukup j el as.

    Pasal 13

    Ayat ( 1)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 2)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 3)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 4)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 5)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 6)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 7)

    Cukup j el as.

    Pasal 14

    Ayat ( 1)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 2)

    Cukup j el as.

    Pasal 15

    Ayat ( 1)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 2)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 3)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 4)

    Cukup j el as.

    Pasal 16

    Ayat ( 1)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 2)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 3)

    Cukup j el as.

    Ayat

  • - 30 -

    Ayat ( 4)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 5)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 6)

    Cukup j el as.

    Pasal 17

    Ayat ( 1)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 2)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 3)

    Cukup j el as.

    Pasal 18

    Ayat ( 1)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 2)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 3)

    Cukup j el as.

    Pasal 19

    Ayat ( 1)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 2)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 3)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 4)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 5)

    Cukup j el as.

    Pasal 20

    Ayat ( 1)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 2)

    Hur uf a

    Cukup j el as.

    Hur uf

  • - 31 -

    Hur uf b

    Cukup j el as.

    Hur uf c

    Cukup j el as.

    Hur uf d

    Cukup j el as.

    Hur uf e

    Yang di maksud dengan kondi si tertentu obj ek paj ak antara l ai n

    l ahan pertani an yang sangat terbatas, bangunan dite mpati sendi ri

    yang di kuasai atau di mili ki ol eh gol ongan Waji b Paj ak tertentu.

    Ayat ( 3)

    Cukup j el as.

    Pasal 21

    Ayat ( 1)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 2)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 3)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 3)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 4)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 5)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 6)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 7)

    Cukup j el as.

    Pasal 22

    Ayat ( 1)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 2)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 3)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 3)

    Cukup j el as.

    Ayat

  • - 32 -

    Ayat ( 4)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 5)

    Cukup j el as.

    Pasal 23

    Ayat ( 1)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 2)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 3)

    Cukup j el as.

    Pasal 24

    Ayat ( 1)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 2)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 3)

    Cukup j el as.

    Pasal 25

    Ayat ( 1)

    Yang di maksud dengan i nstansi yang mel aksanakan pe mungut an

    adal ah di nas/badan/l e mbaga yang tugas pokok dan f ungsi nya

    mel aksanakan pe mungut an Paj ak.

    Ayat ( 2)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 3)

    Cukup j el as.

    Pasal 26

    Ayat ( 1)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 2)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 3)

    Hur uf a

    Cukup j el as.

    Hur uf b

    Cukup j el as.

    Ayat

  • - 33 -

    Ayat ( 4)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 5)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 6)

    Cukup j el as.

    Pasal 27

    Ayat ( 1)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 2)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 3)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 3)

    Hur uf a

    Cukup j el as.

    Hur uf b

    Cukup j el as.

    Hur uf c

    Cukup j el as.

    Hur uf d

    Cukup j el as.

    Hur uf e

    Cukup j el as.

    Hur uf f

    Cukup j el as.

    Hur uf g

    Cukup j el as.

    Hur uf h

    Cukup j el as.

    Hur uf i

    Cukup j el as.

    Hur uf j

    Cukup j el as.

    Hur uf k

    Cukup j el as.

    Ayat ( 4)

    Cukup j el as.

    Pasal

  • - 34 -

    Pasal 28

    Cukup j el as

    Pasal 29

    Ayat ( 1)

    Pengenaan pi dana kur ungan dan pi dana denda kepada pej abat

    tenaga ahli yang dit unj uk ol eh Walikota di maksudkan unt uk

    me nj ami n bahwa kerahasi aan mengenai perpaj akan daerah ti dak

    akan di beritahukan kepada pi hak l ai n, juga agar Waji b Paj ak dal am

    me mberi kan data dan keterangan kepada pej abat mengenai

    perpaj akan daerah ti dak ragu-ragu.

    Ayat ( 2)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 3)

    Cukup j el as.

    Ayat ( 4)

    Cukup j el as.

    Pasal 30

    Cukup j el as

    Pasal 31

    Cukup j el as

    TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KOTA CI LEGON TAHUN 2013 NOMOR 76