Cara Shalat Sesuai Sunnah Rasulullah Saw

of 38 /38
Cara shalat sesuai sunnah Rasulullah saw. Kaifiyyah (Tata Cara) Shalat a) Niat Tidak disyari’atkan mengucapkan/melafadhkan niat, sebab hal itu tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, para shahabat, dan para ulama setelahnya (termasuk imam empat).[5] b) Menghadap Sutrah (Pembatas dalam Shalat). Sutrah adalah sesuatu yang digunakan sebagai pembatas shalat yang diletakkan di depan orang shalat. Hukum menghadap sutrah ini adalah wajib bagi shalat munfarid (sendirian) dan bagi imam [6]. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : ن ير لق عه ا م ن إ له ف إت ق ت ل ف ى ب ا ن إ ف ك دي ت ن# ي ي ر م ي حدا دع ا ولا ت رة ست ى ل ا لا ل ا ص ت لا“Janganlah engkau shalat kecuali menghadap sutrah (pembatas). Dan jangan engkau biarkan seorangpun lewat di hadapanmu (ketika engkau shalat). Jika ia enggan, maka perangilah ia, sesungguhnya ia bersama dengan qarin (syaithan)” [HR. Ibnu Khuzaimah no. 800; shahih]. ه ب# ي ج ي م لا: ث إدي ن م ل ع ا مس ي و ا رة ست ر ت غ ى ل ل ا حّ ر ل ا ي صل ت ن إء : اَ قَ ل ج ل اَ ن م عَ ب رَ ود : ا سعَ م ن ي اَ إلَ فَ وDan Ibnu Mas’ud berkata : “Empat hal dari kemunkaran yaitu : Seseorang melakukan shalat tidak menghadap sutrah….. atau mendengar panggilan (adzan) lalu tidak menjawabnya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 2/61 dan Al-Baihaqi dalam Al-Kubra 2/285; shahih]. Tinggi sutrah minimal seukuran bagian belakang pelana kuda atau kira-kira dua pertiga sampai satu hasta, berdasarkan hadits: ل ح ر ل ا رة خY : ل ا ن م ه دي ت ن# ي ي ا كإن د رة ا ست ي ه ي إ ف ي صل ت م ك حد إم ا ا ف د ا

description

cara shalat

Transcript of Cara Shalat Sesuai Sunnah Rasulullah Saw

Cara shalat sesuai sunnah Rasulullah saw.Kaifiyyah (Tata Cara) Shalata) NiatTidak disyariatkan mengucapkan/melafadhkan niat, sebab hal itu tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, para shahabat, dan para ulama setelahnya (termasuk imam empat).[5]b) Menghadap Sutrah (Pembatas dalam Shalat).Sutrah adalah sesuatu yang digunakan sebagai pembatas shalat yang diletakkan di depan orang shalat.Hukum menghadap sutrah ini adalah wajib bagi shalat munfarid (sendirian) dan bagi imam [6]. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam : Janganlah engkau shalat kecuali menghadap sutrah (pembatas). Dan jangan engkau biarkan seorangpun lewat di hadapanmu (ketika engkau shalat). Jika ia enggan, maka perangilah ia, sesungguhnya ia bersama dengan qarin (syaithan) [HR. Ibnu Khuzaimah no. 800; shahih]. : : Dan Ibnu Masud berkata : Empat hal dari kemunkaran yaitu : Seseorang melakukan shalat tidak menghadap sutrah.. atau mendengar panggilan (adzan) lalu tidak menjawabnya [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 2/61 dan Al-Baihaqi dalam Al-Kubra 2/285; shahih].Tinggi sutrah minimal seukuran bagian belakang pelana kuda atau kira-kira dua pertiga sampai satu hasta, berdasarkan hadits: Jika berdiri salah seorang di antara kalian untuk melaksanakan shalat, sesungguhnya terbatasi dia jika di depannya terdapat seukuran bagian pelana kendaraan tunggangan/kuda [HR. Muslim no. 510].Adapun jarak antara tempat berdiri shalat dengan sutrah adalah sepanjang tiga hasta, berdasarkan hadits : .Kemudian beliau shalat dimana jarak antara beliau dan dinding (sebagai sutrah Abul-Jauzaa (Pent.)) adalah sekitar tiga hasta [HR. An-Nasai no. 749 dan Ahmad 2/138; shahih].c) Berdiri jika mampuRasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda : Shalatlah sambil berdiri. Bila tidak sanggup, maka shalatlah sambil duduk. Bila tidak sanggup juga, shalatlah sambil berbaring [HR. Al-Bukhari no. 1066, Abu Dawud no. 939, dan At-Tirmidzi no. 369].Seluruh ulama sepakat (ijma) bahwa orang yang sehat lagi mampu wajib melakukan shalat fardlu sambil berdiri, baik sendiri maupun menjadi imam.Bila ia sedang naik pesawat, kapal, atau kendaraan lain yang tidak mungkin baginya untuk turun (ke tanah/darat) sewaktu-waktu, maka ia tetap wajib shalat sambil berdiri jika mampu. Namun jika tidak mampu, maka boleh baginya shalat sambil duduk.Boleh mengerjakan shalat sunnah sambil duduk tanpa alasan apapun, akan tetapi ia hanya mendapatkan pahal setengah dari orang yang berdiri. Imran bin Hushain pernah bertanya kepada Rasulullah shallalaahu alaihi wasallam tentang orang yang shalat sambil duduk. Beliau shallallaahu alaihi wasallam menjawab : Barangsiapa yang shalat dengan berdiri, maka hal itu lebih baik. Orang yang mengerjakan shalat sambil duduk mendapatkan setengah pahala orang yang mengerjakannya sambil berdiri. Orang yang mengerjakan shalat sambil berbaring mendapatkan setengah pahala orang yang mengerjakannya sambil duduk [HR. Bukhari no. 1064].Namun jika ia melakukan shalat sambil duduk atau berbaring karena udzur (sakit atau yang lainnya), maka ia tetap mendapatkan pahala sebagaimana orang berdiri (tidak kurang). Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa yang jatuh sakit atau melakukan perjalanan jauh, maka dicatatkan pahala baginya pahala seperti yang biasa ia dilakukannya ketika bermukim atau sehat [HR. Al-Bukhari no. 2834].d) Takbiratul-Ihram dan Mengangkat TanganRasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda : Kunci shalat itu adalah suci, pengharamannya[7] adalah takbir (yaitu takbiratul-ihram), dan penghalalannya[8] adalah salam [HR. Abu Dawud no. 61, Asy-Syafii dalam Al-Umm 1/87, At-Tirmidzi no. 3 dan lain-lain; hasan]. : Sesungguhnya tidaklah sempurna shalat salah seorang di antara manusia sehingga ia berwudlu dan meletakkan wudlu tersebut pada tempatnya (yaitu pada anggota badan yang wajib terkena air wudlu), lalu berkata : Allaahu Akbar [HR. Thabarani dalam Al-Kabiir no. 4526; shahih].Kadangkala Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan takbir. : Bahwasannya Abdullah bin Umar radliyallaahu anhuma berkata : Aku melihat Nabi shallallaahu alaihi wasallam memulai shalat dengan takbir. Maka beliau mengangkat kedua tangannya ketika (bersamaan) takbir setinggi kedua pundaknya [HR. Al-Bukhari no. 705].Kadangkala beliau shallallaahu alaihi wasallam mengangkat tangan sebelum takbir. Bahwasannya Ibnu Umar radliyallaahu anhuma berkata : Adalah Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam apabila berdiri untuk shalat, maka beliau mengangkat kedua tangannya setinggi kedua pundaknya, kemudian beliau bertakbir [HR. Muslim no. 390].Kadangkala beliau shallallaahu alaihi wasallam mengangkat tangan setelah takbir. Dari Abu Qilabah : Bahwasannya ia melihat Malik bin Al-Huwairits apabila ia melakukan shalat, maka ia bertakbir kemudian mengangkat kedua tangannya. Dan apabila ia hendak rukuk, maka ia mengangkat kedua tangannya. Apabila ia mengangkat kepalanya dari rukuk (itidal), maka ia mengangkat kedua tangannya. Ia mengatakan bahwasannya Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam melakukan demikian (dalam shalat) [HR. Al-Bukhari no. 704 dan Muslim no. 391].Beliau shallalaahu alaihi wasallam mengangkat tangan sejajar kedua pundaknya (berdasarkan hadits di atas). Kadangkala, beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua telinganya. Dari Malik bin Al-Huwairits : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam apabila bertakbir, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua telinganya [HR. Muslim no. 391].e) Meletakkan Tangan Kanan di Atas Tangan Kiri di Dada Dari Sahl bin Said radliyallaahu anhu ia berkata : Adalah para shahabat diperintahkan (oleh Nabi shallallaahu alaihi wasallam) bahwa seseorang agar meletakkan tangan kanannya di atas hasta kirinya dalam shalat[HR. Al-Bukhari no. 707].Dari Wail bin Hujr radliyallaahu anhu, ia berkata : Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, beliau meletakkan tangan kanannya atas tangan kirinya di dadanya [HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya no. 479].Adapun meletakkan kedua tangan di bawah dada atau perut, maka hal ini tidak benar (menyelisihi sunnah).[9]f) Melihat Tempat Sujud dan Khusyu Dari Abu Hurairah radliyallaahu anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam pernah shalat dengan mengangkat pandangannya ke langit. Maka turunlah ayat : (yaitu) orang-orang yang khusyu dalam shalatnya {QS. Al-Mukminun : 2}. Maka beliau kemudian menundukkan kepalanya [HR. Al-Hakim no. 3483; shahih sesuai syarat Muslim].Dilarang menoleh ketika shalat, sebagaimana penjelasan Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam ketika beliau ditanya tentang hukum menoleh ketika shalat : Itulah ikhtilaas (mencuri-curi), yang dicuri-curi syaithan dari shalat seorang hamba [HR. Al-Bukhari no. 718].Akan tetapi diperbolehkan untuk melirik (tanpa menoleh) jika ada keperluan. Dari Abdullah bin Abbas radliyallaahu anhuma ia berkata : Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam melirik ke kanan dan ke kiri dalam shalat, namun beliau tidak menolehkan leher beliau ke belakang [HR. At-Tirmidzi no. 587 dan Ibnu Khuzaimah no. 485 dengan sanad shahih].g) Membaca Iftitah/IstiftahHukumnya adalah sunnah menurut jumhur ulama (dan ini adalah pendapat yang rajih/kuat). Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya shalat seseorang tidaklah sempurna kecuali bila dia wudlu pada anggota tubuh yang terkena air wudlu, kemudian mengucapkan takbir, memuji Allah jalla wa azza dan mengagungkannya, serta membaca Al-Quran yang mudah baginya [HR. Abu Dawud no. 857; shahih].Kalimat { } memuji Allah jalla wa azza dijelaskan oleh para ulama mempunyai makna membaca doa iftitah.Macam-macam doa iftitah/istiftah antara lain :o { }Alloohumma baaid bainii wa bainaa khothooyaaya kamaa baaatta bainal-masyriqi wal-maghrib. Alloohumma naqqinii min khothooyaaya kamaa yunaqqots-tsaubul-abyadlu minad-danas. Alloohummagh-silnii min khothooyaaya bits-tsalji wal-maa-i wal-barad.Ya Allah, jauhkanlah diriku dari dosa-dosaku sebagaimana Engkau telah menjauhkan jarak antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari segala dosa-dosaku seperti baju putih yang dibersihkan dari noda. Ya Allah, cucilah diriku dari segala dosa-dosaku dengan salju, air, dan embun [HR. Al-Bukhari no. 711 dan Muslim no. 598].o { }Subhaanakalloohumma wabihamdika watabaarokas-muka wataaalaa jadduka walaa ilaaha ghoiruka.Aku menyucikan-Mu dan memuji-Mu ya Allah. Sungguh berkah nama-Mu dan sungguh tinggi kekayaan-Mu. Dan tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau [HR. Abu Dawud no. 776, At-Tirmidzi no. 243, dan yang lainnya; shahih].1. Dan yang lain-lain sebagaimana yang tercantum dalam hadits-hadits shahih.h) Membaca IstiadzahPara ulama sepakat bahwa hukum membaca istiadzah di permulaan shalat (maksudnya : sebelum membaca Al-Fatihah) adalah wajib. Akan tetapi mereka berselisih pendapat tentang kewajiban membacanya di tiap rakaat.Allah taala berfirman : Apabila kamu hendak membaca Al-Quran, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari syaithan yang terkutuk [QS. An-Nahl : 98].Istiadzah dalam shalat dapat dilakukan dengan membaca salah satu lafadh sebagai berikut :o { }Auudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiimAku berlindung kepada Allah dari gangguan syaithan yang terkutuk [QS. An-Nahl : 98].o { }Auudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihiAku berlindung kepada Allah dari gangguan syaithan yang terkutuk, yaitu dari bisikan, tiupan, dan hembusannya [HR. Ahmad 6/156 no. 25266; hasan].o { }Auudzu billaahis-samiiil-aliimi minasy-syaithoonir-rajiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihiAku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui dari gangguan syaithan yang terkutuk, yaitu dari bisikan, tiupan, dan hembusannya [HR. Abu Dawud no. 775; shahih].i) Membaca Surat Al-FatihahWajib membaca Al-Fatihah (dan ini menjadi bagian dari rukun shalat). Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda : Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca surat Al-Fatihah [HR. Al-Bukhari no. 723 dan Muslim no. 394].Jika ada orang yang tidak hafal surat Al-Fatihah, maka dia boleh membaca : Subhaanalloohi wal-hamdulillaahi walaa ilaaha illalloohu walloohu akbar. Walaa haula walaa quwwata illaa billaahMaha suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Allah Maha Besar dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali karena pertolongan Allah [HR. Abu Dawud no. 832; hasan].Namun keringanan ini hanya berlaku bagi orang yang benar-benar tidak mampu menghafalnya setelah berusaha sekuat tenaga untuk menghafalnya.Dalam shalat jamaah jahriyyah (yang dikeraskan suaranya, seperti shalat shubuh, maghrib, dan isya), maka bacaan basmalah adalah sirr (tidak dikeraskan tapi tetap dibaca) berdasarkan hadits dari Anas bin Malik radliyallaahu anhu, ia berkata : -{ }Sesungguhnya Nabi shallallaahu alaihi wasallam, Abu Bakar, dan Umar membuka (bacaan) shalatnya dengan membaca Alhamdulillaahi rabbil-aalamiin.[HR. Al-Bukhari no. 710].j) Mengucapkan Amiin Setelah Membaca Al-Fatihah { } Dari Wail bin Hujr radliyallaahu anhu ia berkata : Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bila selesai membaca Waladl-dlooolliin; maka beliau berkata : Aamiin, dan beliau mengangkat suara dengannya [HR. Abu Dawud no. 932; shahih].Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda : Jika imam mengucapkan aamiin, maka ikutilah dengan mengucapkan aamiin juga. Sesungguhnya, barangsiapa yang ucapan amin-nya bersamaan dengan aamiin yang diucapkan oleh malaikat; maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu [HR. Al-Bukhari no. 747 dan Muslim no. 410].Sebagian ulama mengatakan bahwa membaca aamiin setelah Al-Fatihah adalah wajib. Adapun tambahan rabbighfirlii sebelum membaca aamiin (sebagaimana dilakukan oleh sebagian kaum muslimin), maka itu adalah perbuatan yang sama sekali tidak dilandasi dalil (shahih). Sudah sepatutnya perbuatan tersebut untuk ditinggalkan.k) Membaca Surat /Ayat yang Dihafal dari Al-Quran Hukumnya adalah sunnah. Dari Abi Hurairah radliyallaahu taala anhu ia berkata: Al-Quran dibaca pada setiap shalat. Bacaan yang dikeraskan oleh Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, kami pun mengeraskannya ketika kami menjadi imam. Dan bacaan yang tidak dikeraskan oleh Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, maka kami pun tidak mengeraskannya. Jika kamu tidak menambah bacaan selain Ummul-Quran (Al-Fatihah), maka itu sudah cukup. Jika kamu menambah bacaan surat selain Ummul-Quran, maka itu lebih baik [HR. Al-Bukhari no. 738]. Dari Jubair bin Muthim ia berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam membaca surat Ath-Thuur dalam shalat maghrib [HR. Al-Bukhari no. 731 dan Muslim no. 463]. Sebagian ulama menjelaskan bahwa sebaiknya bacaan pada rakaat pertama lebih panjang daripada rakaat kedua. Disunnahkan pula membaca surat lain setelah Al-Fatihah pada rakaat ketiga dan/atau keempat berdasarkan hadits : Dari Abi Said Al-Khudri radliyallaahu anhu : Bahwasannya Nabi shallallaahu alaihi wasallam membaca surat (setelah Al-Fatihah) dalam dua rakaat pertama shalat Dhuhur untuk setiap rakaatnya sekitar tigapuluh ayat. Sedangkan dalam dua rakaat terakhir beliau membaca sekitar lima belas ayat [HR. Muslim no. 452]. Bila shalat sendirian, maka ia boleh memperpanjang bacaan ayat sesukanya. Namun jika ia menjadi imam, maka hendaknya ia memperhatikan kondisi makmum. Jika makmum adalah dari kalangan yang kuat, semangat ke-Islamannya tinggi, dan biasa dibacakan ayat-ayat yang panjang; maka tidak apa-apa jika ia memperpanjang bacaan suratnya. Namun jika makmumnya adalah orang yang lemah, para wanita, anak-anak, dan orang-orang yang mempunyai keperluan; hendaknya ia memperpendek bacaan suratnya. Dari Anas bin Malik, bahwasannya Nabi shallallaahu alaihi wasallam pernah bersabda : Sungguh aku akan memulai shalat (berjamaah) dan aku ingin memperpanjangnya. Namun tiba-tiba aku mendengar suara tangisan seorang bayi. Maka aku memperingan (memperpendek) shalatku, karena aku mengetahui betapa cintanya (gelisahnya) ibunya terhadap tangis (anak)-nya itu [HR. Al-Bukhari no. 677 dan Muslim no. 470].l) Rukuk1. Setelah membaca ayat Al-Quran, hendaknya ia berhenti sejenak sebelum memulai gerakan untuk rukuk, sebagaimana riwayat Samurah bin Jundub radliyallaahu anhu.[10] Lama berhenti ini sekitar satu nafas.o Mengangkat kedua tangan ketika hendak rukuk. .. ( )Dari Wail bin Hujr radliyallaahu anhu ia berkata : ..Ketika beliau hendak rukuk, maka beliau melakukan hal yang serupa (yaitu mengangkat kedua tangannya) [HR. Abu Dawud no. 726; shahih].o Meletakkan kedua tangannya di lututnya dengan menguatkan pegangan dan merenggangkan jari-jemarinya. Posisi tangan agak dijauhkan dan sedikit dibengkokkan di kedua siku. . Dari Wail bin Hujr radliyallaahu anhu ia berkata : ..Ketika beliau hendak rukuk, maka beliau melakukan hal yang serupa (yaitu mengangkat kedua tangannya), kemudian meletakkan kedua tangannya pada lututnya [idem]. . Berkata Abu Humaid As-Saidy radliyallaahu anhu : .. Dan apabila beliau shallallaahu alaihi wasallam rukuk, maka beliau menguatkan kedua tangannya pada kedua lututnya [HR. Al-Bukhari no. 794]. : . Abu Humaid radliyallaahu anhu berkata : .. Kemudian beliau shallallaahu alaihi wasallam rukuk dan beliau meletakkan kedua tangannya pada kedua lututnya, seakan-akan beliau memegang erat kedua lututnya tersebut. Beliau membengkokkan dan menjauhkan kedua tangannya di samping badannya [HR. Abu Dawud no. 734, At-Tirmidzi no. 260 dan Ibnu Khuzaimah no. 589; shahih]. Dari Wail radliyallaahu anhu : Bahwasannya Nabi shallallaahu alaihi wasallam apabila rukuk, maka beliau merenggangkan jari-jemarinya [HR. Al-Hakim no. 814; shahih].1. Ketika rukuk, posisi punggung dan kepala adalah lurus dan rata. Apabila beliau rukuk, maka beliau meluruskan punggungnya. Bahkan seandainya disiramkan air di atas punggung tersebut, maka pasti tidak akan tumpah ke bawah [Lihat Shahih Al-Jami Ash-Shaghir no. 4732]. Bahwasannya Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam tidak menundukkan kepalanya dan tidak pula mengangkat/ menegakkannya [HR. Al-Baihaqi dalam Al-Kubraa; shahih].1. Bacaan dalam rukuk (bisa dipilih dan dibaca yang mudah) :- { }Subhaana Rabbiyal-Adhiim (tiga kali)Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung [HR. Abu Dawud no. 871, Ibnu Majah no. 890, dan lain-lain; shahih].- { }Subhaanakalloohumma wabihamdika alloohummagh-firliiAku menyucikanmu ya Allah, Tuhan kami, dan aku memujimu. Ya Allah, ampunilah aku [HR. Al-Bukhari no. 761 dan Muslim no. 484].- { }Subbuuhun qudduusun robbul-malaaikati war-ruuhEngkau Maha Suci, Maha Qudus, Tuhan para malaikat dan ruh [HR. Muslim no. 487 dan Abu Dawud no. 872].Masing-masing doa/bacaan dalam rukuk di atas dapat diulang lebih dari tiga kali berdasar keumuman hadits: Dari Al-Barra radliyallaahu anhu ia berkata: Adalah rukuk dan sujudnya Nabi shallallaahu alaihi wasallam, serta bangkitnya beliau dari rukuk (itidal) dan duduknya diantara dua sujud; hampir sama lamanya [HR. Al-Bukhari no. 768 dan Muslim no. 471].1. Wajib thumaninah dalam rukuk. Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda:. Kemudian rukuklah sampai engkau merasa thumaninah dalam rukuk itu [HR. Al-Bukhari no. 724 dan Muslim no. 397].m) Bangkit dan Berdiri dari Rukuk (Itidal). Mengucapkan: { } Samialloohu liman hamidah ketika mengangkat badan dari rukuk, dan { } Robbanaa lakal-hamdu ketika telah berdiri. Hal itu berdasarkan hadits: : Dari Abi Hurairah radliyallaahu anhu: Adalah Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam apabila berdiri shalat beliau mengucapkan takbir ketika dalam keadaan berdiri, kemudian beliau bertakbir ketika hendak rukuk. Beliau mengucapkan: Samialloohu liman hamidah (Mudah-mudahan Allah mendengarkan/memperhatikan orang-orang yang memuji-Nya) ketika beliau mengangkat/ menegakkan tulang pungungnya. Kemudian beliau mengucapkan setelah berdiri: Robbanaa lakal-hamdu (Tuhan kami, Engkaulah yang pantas mendapat pujian) [HR. Al-Bukhari no. 756].Ucapan Robbanaa lakal-hamdu bisa juga diucapkan dengan lafadh: { } Robbanaa walakal-hamdu Ya Allah, dan Engkaulah yang pantas mendapatkan pujian [HR. Al-Bukhari no. 657]. { } Alloohumma robbanaa lakal-hamdu Ya Allah, Engkaulah yang pantas mendapatkan pujian [HR. Muslim no. 404]. { } Alloohumma robbanaa walakal-hamdu Ya Allah, dan Engkaulah yang pantas mendapatkan pujian [HR. Al-Bukhari no. 762].Dalam shalat berjamaah, maka ketika imam mengucapkan Samialloohu liman hamidah, maka makmum mengikutinya dengan ucapan Robbanaa lakal-hamdu (atau yang lain sebagaimana di atas). Setelah ucapan Robbanaa lakal-hamdu (atau yang semisal di atas), maka disunnahkan untuk menambah dengan ucapan: Mil-as samaawaati wa mil-al ardli wa mil-a maa syita min syain baduSepenuh langit dan sepenuh bumi, dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki sesudah itu [HR. Muslim no. 476]. Posisi tangan ketika berdiri itidal adalah bersedekap di dada menurut pendapat yang paling kuat. Hal itu berdasarkan keumuman hadits: Adalah para shahabat diperintahkan (oleh Nabi shallallaahu alaihi wasallam) bahwa seseorang agar meletakkan tangan kanannya di atas hasta kirinya dalam shalat[HR. Al-Bukhari no. 707 dari Sahl bin Sad radliyallaahu anhu]. Wajib thumaninah ketika itidal dan disunnahkan memperpanjangnya, berdasarkan hadits : Dari Tsabit ia berkata : Anas pernah memberikan contoh shalat Nabi shallallaahu alaihi wasallam, kemudian Anas melakukan shalat. Setelah bangun dari rukuk, Anas berdiri lama hingga kami menyangka ia lupa untuk sujud [HR. Bukhari no. 767 dan Muslim no. 472].n) Sujudv Bertakbir ketika turun untuk sujud, berdasarkan hadits :.. .Kemudian beliau bertakbir ketika mengangkat kepalanya (itidal), dan kemudian beliau pun bertakbir ketika hendak sujud [HR. Al-Bukhari no. 756].v Terkadang beliau mengangkat tangan ketika hendak sujud, berdasarkan hadits : Dari Malik bin Al-Huwairits : Bahwasannya ia melihat Nabi shallallaahu alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya dalam shalatnya ketika hendak rukuk, ketika mengangkat kepalanya dari rukuk (itidal), ketika hendak sujud, dan ketika mengangkat kepala dari sujud.. [HR. An-Nasai no. 1085; shahih].v Mendahulukan tangan daripada lutut ketika turun dari sujud. Hal ini berdasarkan hadits : Dari Abu Hurairah radliyallaahu anhu : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam : Apabila salah seorang diantara kalian hendak sujud, maka janganlah ia menyungkur seperti menyungkurnya seekor unta. Hendaklah ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya [HR. Abu Dawud no. 840, Nasai no. 1091, dan yang lainnya; shahih] [11].v Ketika sujud, beliau shallallaahu alaihi wasallam sujud dengan tujuh anggota badan (dahi dan hidung dianggap satu kesatuan , kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua kaki). Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda : Dari Ibnu Abbas radliyallaahu anhuma ia berkata : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam telah bersabda : Aku diperintahkan untuk sujud dengan tujuh anggota tubuh, yaitu dahi (beliau berisyarat ke hidungnya), kedua (telapak) tangan, kedua kaki (maksudnya kedua lutut), dan kedua ujung kaki [HR. Al-Bukhari no. 776 dan Muslim no. 490].v Beliau shallallaahu alaihi wasallam sujud dengan bertelekan dengan kedua tangannya, mengangkat kedua siku, melebarkan bentangan tangannya, meletakkan kedua telapak tangan sejajar dengan kedua bahunya atau kedua telinganya, merapatkannya jari-jarinya serta mengarahkannya ke kiblat. Dari Al-Barra bin Azib ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam : Apabila engkau sujud, maka letakkanlah dua telapak tanganmu dan angkatlah kedua sikumu [HR. Muslim no. 494]. [12] Dari Abdillah bin Malik bin Buhainah radliyallaahu anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam apabila shalat, maka beliau membentangkan kedua tangannya hingga kelihatan putih ketiaknya [HR. Al-Bukhari no. 383 dan Muslim no. 495]. : . Dari Wail bin Hujr radliyallaahu anhu ia berkata : ..Kemudian beliau shallallaahu alaihi wasallam sujud, sedangkan kedua tangannya di hadapan (sejajar) kedua telinganya [HR. Ahmad 4/317 no. 18878; shahih]. Dari Wail radliyallaahu anhu : Bahwasannya Nabi shallallaahu alaihi wasallam apabila sujud, maka beliau merapatkan jari-jarinya [HR. Ibnu Khuzaimah no. 642; hasan]. : Dari Al-Barra bin Azib radliyallaahu anhu ia berkata : Adalah Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam apabila sujud maka beliau meletakkan kedua tangannya di bumi/tanah, serta menghadapkan kedua tangan dan jari-jemarinya ke arah kiblat [HR. Al-Baihaqi dalam Al-Kubraa ; shahih].v Menempelkan/merapatkan dua kaki dan mengarahkan jari-jari kaki ke arah kiblat Telah berkata Aisyah istri Nabi : Aku kehilangan Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam yang sebelumnya bersamaku di tempat tidur. Maka aku menemukan beliau sedang bersujud menempelkan tumitnya, ujung-ujung jemarinya menghadap kiblat [HR. Ibnu Khuzaimah no. 654; shahih].v Bacaan dalam sujud (bisa dipilih dan dibaca yang mudah) :- { }Subhaana robbiyal-alaa (tiga kali)Maha Suci Allah yang Maha Tinggi [HR. Abu Dawud no. 871, Ibnu Majah no. 890, dan lain-lain; shahih].- { }Subhaanakalloohumma wabihamdika alloohummagh-firliiAku menyucikanmu ya Allah, Tuhan kami, dan aku memujimu. Ya Allah, ampunilah aku [HR. Al-Bukhari no. 761 dan Muslim no. 484].- { }Subbuuhun qudduusun robbul-malaaikati war-ruhEngkau Maha Suci, Maha Qudus, Tuhan para malaikat dan ruh [HR. Muslim no. 487 dan Abu Dawud no. 872].Masing-masing doa tersebut dapat dibaca berulang-ulang (lebuh dari tiga kali) dengan keumuman hadits yang mnejlaskan lamanya sujud beliau ketika shalat.v Dianjurkan memperbanyak doa ketika sujud. Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda : Adapun ketika bersujud, maka perbanyaklah doa, karena hal itu lebih pantas untuk dikabulkan [HR. Muslim no. 479 dan Abu Dawud no. 876].Beliau shallallaahu alaihi wasallam dalam sujudnya sering berdoa dengan doa berikut : Alloohumagh-firlii dzanbii kullahu diqqohu wa jillahu wa-awwalahu wa aakhirohu wa alaaniyyatahu wa sirrohuYa Allah, ampunilah semua dosaku, dosa kecil maupun besar, dosa pertama maupun terakhir, dosa yang dilakukan dengan terang-terangan mapun sembunyi-sembunyi [HR. Muslim no. 483].v Diperintahkan untuk thumaninah dalam sujud (dan juga rukuk) serta dilarang untuk sujud (dan rukuk) seperti patukan burung/ayam. .. Dari Rifaah : Bahwasannya Nabi shallallaahu alaihi wasallam pernah bersabda kepada orang yang sedang melakukan shalat : ..Kemudian jika kamu melakukan sujud, maka tancapkanlah wajah (dahi) dan kedua tanganmu sehingga setiap persendian thumaninah pada tempatnya [HR. Ibnu Khuzaimah no. 638; hasan]. Dari Abu Hurairah radliyallaahu anhu ia berkata : Kekasihku (yaitu Rasulullah) shallallaahu alaihi wasallam telah memerintahkan kepadaku tiga hal dan melarangku tiga hal pula. Beliau memerintahkanku untuk mengerjakan dua rakaat shalat dluhaa, puasa tiga hari pada setiap bulannya, dan shalat witir sebelum tidur. Beliau melarangku atas tiga hal, yaitu berpaling dalam shalat seperti berpalingnya serigala, duduk seperti duduknya kera, dan mematuk (dalam shalat) seperti mematuknya ayam jantan [HR. Ath-Thayalisi no. 2593; hasan].o) Duduk di Antara Dua Sujud Mengucapkan takbir ketika mengangkat kepala dari sujud. .Kemudian beliau shallallaahu alaihi wasallam bertakbir ketika sujud, dan bertakbir pula ketika mengangkat kepala beliau (dari sujud) [HR. Al-Bukhari no. 756]. Kadang beliau shallallaahu alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya ketika mengangkat kepalanya dari sujud. Kemudian beliau sujud dan meletakkan wajahnya di antara dua telapak tangannya. Dan apabila beliau mengangkat kepalanya dari sujud, maka beliau juga mengangkat kedua tangannya, hingga beliau menyelesaikan shalatnya [HR. Abu Dawud no. 723; shahih]. : Dari Wail bin Hujr radliyallaahu anhu ia berkata : .. Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya setiap beliau bertakbir. Beliau mengangkat dan meletakkan (kedua tangannya) di antara dua sujud [HR. Ahmad no. 18881; hasan]. Beliau duduk iftirasy dengan cara duduk di atas telapak kaki kiri dan menegakkan kaki kanannya. Dari Abdullah bin Umar ia berkata : Termasuk sunnah shalat adalah menegakkan telapak kaki kanan, menghadapkan jari-jarinya ke kiblat, dan beliau duduk di atas telapak kaki kirinya [HR. Nasai no. 1158; shahih].Boleh juga duduk dengan cara iqa (duduk dengan menegakkan dua telapak kaki/tumit). : Dari Ibnu Abbas radliyallaahu anhuma ia berkata : Termasuk di antara sunnah dalam shalat adalah kamu meletakkan kedua pantatmu di atas kedua tumitmu ketika duduk di antara dua sujud [HR. Thabarani dalam Al-Kabiir no. 10852; shahih. Hadits semakna juga diriwayatkan oleh Muslim no. 536]. Bacaan ketika duduk di antara dua sujud (bisa dipilih salah satu) : { }Alloohummagh-firlii warhamnii wa aafinii wahdinii warzuqniiYa Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, sehatkanlah aku, dan berilah aku rizki [HR. Abu Dawud no. 850]. { }Robighfirlii warhamnii wajburnii warzuqnii warfaniiTuhanku, ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah kekuranganku, berilah aku rizki, dan angkatlah derajatku [HR. Ibnu Majah no. 898; shahih]. { }Alloohummagh-firlii warhamnii wajburnii wahdinii warzuqniiYa Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah kekuranganku, tunjukilah aku, dan berilah aku rizki [HR. At-Tirmidzi no. 284; shahih].Yang paling lengkap dengan penggabungan beberapa riwayat hadits adalah sebagai berikut :{ }Alloohummagh-firlii warhamnii wajburnii warfanii wahdinii waaafinii warzuqniiYa Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah kekuranganku, angkatlah derajatku, tunjukilah aku, sehatkanlah aku, dan berikanlah aku rizki. { }Robbighfirlii robbighfirliiYa Tuhanku, ampunilah aku, ya Tuhanku ampunilah aku [HR. Ibnu Majah no. 897; jayyid]. Diperintahkan untuk thumaninah ketika duduk. .Kemudian beliau mengucapkan Alloohu akbar dan mengangkat kepalanya (dari sujud). Beliau membengkokkan kaki kirinya serta duduk di atasnya hingga setiap tulang kembali pada tempatnya (yaitu duduk dengan tegak dan tenang) [HR. Abu Dawud no. 730; shahih].p) Berdiri untuk Melanjutkan Rakaat Kedua (dan Keempat).o Duduk istirahat sebelum berdiri ke rakaat kedua (dan keempat). Dari Malik bin Al-Huwairits Al-Laitsi : Bahwasannya ia melihat Nabi shallallaahu alaihi wasallam melakukan shalat. Apabila beliau berada pada rakaat ganjil (yaitu rakaat pertama dan ketiga) dalam shalatnya, maka beliau tidak langsung bangkit berdiri (ke rakaat kedua dan keempat) hingga beliau duduk sejenak terlebih dahulu [HR. Al-Bukhari no. 789].o Berdiri dengan mendahulukan mengangkat kedua lutut sebelum tangan. : Dari Malik bin Al-Huwairits : Bahwasannya ia berkata: Maukah kalian aku ceritakan bagaimana shalat Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam? Maka beliau shalat di luar waktu shalat. Apabila beliau mengangkat kepalanya dari sujud kedua pada rakaat pertama, maka beliau duduk dengan tegak. Kemudian apabila beliau bangkit, maka beliau bertelekan pada tanah [HR. Asy-Syafii dalam Al-Umm 1/227; shahih]. [13]o Kadang beliau shallallaahu alaihi wasallam menggenggamkan/mengepalkan kedua telapak tangannya untuk bertelekan ke tanah ketika berdiri dari sujud. : : . : Dari Al-Azraq bin Qais : Aku melihat Ibnu Umar melakukan ajn (menggenggam tangan) ketika shalat, yaitu bertelekan dengan dua tangannya ketika berdiri. Maka aku bertanya kepadanya tentang hal tersebut. Maka ia menjawab : Aku melihat Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam melakukannya [HR. Abu Ishaq Al-Harbi dengan sanad shalih].q) Wajib Membaca Al-Fatihah pada Setiap Rakaat . Dari salah seorang shahabat Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam ia berkata : Datang seseorang dan pada waktu itu Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam berada di masjid. Maka orang tersebut melakukan shalat di dekat beliau. Setelah usai melakukan shalat, maka ia berpaling kepada beliau shallallaahu alaihi wasallam dan mengucapkan salam terhadap beliau. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya (tentang bagaimana tata cara shalat yang benar) : .Kemudian bacalah Ummul-Quran (Al-Fatihah) dan setelah itu bacalah surat yang engkau kehendakikemudian lakukanlah hal tersebut pada setiap rakaat (dalam shalatmu) [HR. Ibnu Hibban no. 1787 dengan sanad qawiy (kuat)].r) Tasyahud Awalv Duduk tasyahud awal adalah duduk iftirasy sebagaimana duduk di antara dua sujud : Dari Abu Humaid As-Saidi : .Apabila beliau shallallaahu alaihi wasallam duduk pada rakaat kedua (yaitu duduk tasyahud awal), maka beliau duduk di atas telapak kaki kirinya dengan menegakkan telapak kaki kanannya [HR. Al-Bukhari no. 794].v Meletakkan kedua tangan di atas lutut (atau di atas paha), tangan kanan menggenggam (atau membuat lingkaran antara jari tengah dan ibu jari), dan berisyarat dengan jari telunjuk tangan kanan dengan mengerak-gerakannya. Dari Ibnu Umar radliyallaahu anhuma : Bahwasannya Nabi shallallaahu alaihi wasallam apabila duduk dalam shalat, beliau meletakkan kedua (telapak) tangannya di atas kedua lututnya, dan beliau mengangkat jari (telunjuknya) yang kanan, maka beliaupun berdoa (bersamaan) dengan itu, dan (telapak) tangan kirinya terhampar di atas lututnya yang kiri [HR. Muslim no. 580, At-Tirmidzi no. 294, Ibnu Majah no. 913, dan yang lainnya].Dalam riwayat lain dari Ibnu Umar : Bahwasannya apabila beliau shallallaahu alaihi wasallam duduk (tasyahud) dalam shalat, maka beliau meletakkan telapak tangan kanannya di atas paha kanannya. Beliau menggenggam semua jari tangan kanannya dan berisyarat dengan jari telunjuk. Dan meletakkan telapak tangan kirinya di atas paha kirinya [HR. Muslim no. 580]. : .. Bahwasannya Wail bin Hujr Al-Hadlrami radliyallaahu anhu berkata : ..Maka beliau shallallaahu alaihi wasallam meletakkan telapak tangan kirinya di atas paha dan lututnya yang kiri pula, dan meletakkan ujung siku tangan kanannya di atas pahanya yang kanan dan beliau pun membuat lingkaran (dengan jari tengah dan ibu jarinya) dan beliau mengangkat jari (telunjuknya). Maka aku pun (yaitu Wail) melihat beliau menggerak-gerakkannya (jari telunjuk) sambil berdoa dengannya [HR. Ahmad no. 18890; shahih]. [14] : .. Dari Abdullah bin Zubair radliyallaahu anhuma : ..Dan beliau shallallaahu alaihi wasallam berisyarat dengan jari telunjuknya dan meletakkan ibu jarinya di atas jari tengahnya [HR. Muslim no. 579]. : . Dari Wail bin Hujr radliyallaahu anhu ia berkata : ..Kemudian beliau shallallaau alaihi wasallam berisyarat dengan jari telunjuknya dan meletakkan ibu jari di atas jari tengah dengan membuat lingkaran [HR. Abdurrazzaq no. 2522; shahih].Beliau shallallaahu alaihi wasallam melakukan hal itu pada setiap tasyahud, baik tasyahud awal maupun akhir. Dari Abdullah bin Zubair radliyallaahu anhuma ia berkata : Adalah Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam apabila duduk di rakaat kedua atau di rakaat keempat, beliau meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya, kemudian berisyarat dengan jari (telunjuknya) [HR. Nasai dalam As-Shughraa no. 1161; shahih].v Membaca tasyahud, di antaranya adalah (bisa dipilih salah satu):- { }At-tahiyyaatu lillaah, wash-sholawaatu wath-thoyyibaat, as-salaamu alaika ayyuhannabiyyu warahmatulloohi wabarokatuh, as-salaamu alaina waalaa ibaadillaahish-shoolihiin, asyhadu al-laa ilaaha illalloohu wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rosuuluhSegala ucapan selamat, kebahagiaan, dan kebaikan adalah bagi Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan barakahnya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada kami pula dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya [HR. Al-Bukhari no. 797 dan Muslim no. 402].- { . : }At-tahiyyaatul-mubaarokaatush-sholawaatuth-thoyyibaatu lillaah, as-salaamu alaika ayyuhan-nabiyyu warohmatulloohi wabarokaatuh, as-salaamu alaina waalaa ibaadillaahish-shoolihiin, asyhadu al-laa ilaaha illalloohu wa asyhadu anna Muhammadar-Rosuulullah [dalam riwayat lain :] abduhu warosuuluhSegala ucapan selamat, barakah, kebahagiaan, dan kebahagiaan adalah milik Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi, beserta rahmat Allah dan barakahnya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada kami pula dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah Rasululah [dalam riwayat yang lain :] hamba-Nya dan utusan-Nya [HR. Muslim no. 403, Abu Awanah no. 1597, Nasai no. 1174].- { }At-tahiyyaatuth-thoyyibaatush-sholawaatu lillaah, as-salaamu alaika ayyuhan-nabiyyu warohmatulloohi wabarakaatuh, as-salaamu alainaa wa alaa ibaadillaahish-shoolihiin, asyhadu al-laa ilaaha illalloohu wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rosuuluhSegala ucapan selamat, kebaikan, dan kebahagiaan adalah bagi Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada kami pula dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya [HR. Muslim no. 404].Perhatikan yang kalimat yang digaris bawah di atas. Sebagian ulama berpendapat bahwa kalimat as-salaamu alaika itu diucapkan ketika Nabi shallallaahu alaihi wasallam masih hidup. Adapun setelah beliau meninggal, maka disyariatkan mengganti kalimat tersebut dengan : as-salaamu alan-nabiy. Hal ini berdasarkan beberapa riwayat, diantaranya : Dari Atha : Bahwasannya para shahabat Nabi shallallaahu alaihi wasallam bila mereka memberikan salam (dan shalawat ketika shalat) dan waktu itu beliau shallallaahu alaihi wasallam masih hidup : As-salaamu alaika ayyuhan-nabiyyu warohmatulloohi wabarokaatuh. Namun ketika beliau telah wafat, maka mereka mengatakan : As-salaamu alan-nabiyyi warohmatulloohi wabarokatuh [Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf no. 3075; shahih].Dan inilah yang lebih benar dalam pengamalan. Wallaahu alam.v Membaca shalawat kepada Nabi shallallaahu alaihi wasallam, diantaranya adalah (bisa dipilih salah satu):- { }Alloohumma sholli alaa Muhammadin wa alaa ahli baitihi wa alaa azwaajihi wa dzurriyyatihi kamaa shollaita alaa aali Ibroohiima innaka hamiidum-majiid. Wabaarik alaa Muhammadin wa alaa ahli baitihi wa alaa azwaajihi wadzurriyyatihi kamaa baarokta alaa aali Ibroohiima innaka hamiidum-majiidYa Allah, berilah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada Ahli Baitnya, istri-istrinya serta keturunannya sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad dan kepada Ahli Baitnya, istri-istrinya, serta keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. [HR. Ahmad no. 23221; shahih].- { }Alloohumma sholli alaa Muhammadin wa alaa aali Muhammad kamaa shollaita alaa Ibroohiima wa alaa aali Ibroohiim, innaka hamiidum-majiid. Alloohumma baarik alaa Muhammadin wa alaa aali Muhammad kamaa baarokta alaa Ibroohiima wa alaa aali Ibroohiima innaka hamiidum-majiidYa Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahiim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berikanlah barakah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahiim. Sesunggunya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia [HR. Al-Bukhari no. 3190 dan Muslim no. 406].- { }Alloohumma sholli alaa Muhammadin wa alaa aali Muhammad, kamaa shollaita alaa aali Ibroohiim, wa baarik alaa Muhammad wa alaa aali Muhammad kamaa baarokta alaa aali Ibroohiima fil-aalamiina innaka hamiidum-majiidYa Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahiim. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahiim di seluruh alam. Sesunggunya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia [HR. Muslim no. 405].- { }Alloohumma sholli alaa Muhammad, an-nabiyyil-ummiyyi wa alaa aali MuhammadYa Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad nabi yang ummi dan kepada keluarga Muhammad [HR. Abu Dawud no. 981; hasan].Bolehkah menambah kata sayyidinaa sebelum lafadh/penyebutan Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam dan Ibrahim alaihis-salaam dalam shalawat ketika shalat ?Pendapat yang rajih adalah tidak boleh. Hal itu dikarenakan apa yang diajarkan Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam adalah tanpa kata sayyidinaa. Begitu pula dengan apa yang diajarkan oleh para shahabat. Tidak satupun di antara mereka yang mengucapkan dan menambahkan sayyidinaa. Lafadh shalawat adalah lafadh yang sifatnya tauqifiyyah (yang berdasarkan wahyu) dimana tidak diperbolehkan penambahan kalimat-kalimat dari manusia. Apalagi hal itu diucapkan dalam shalat. Satu hal yang menunjukkan hal itu (yaitu satu lafadh doa haruslah persis sama dengan yang diajarkan Rasulullah shallallaahu alahi wasallam) adalah ketika beliau menegur Al-Barra bin Azib ketika Al-Barra keliru dalam mengucapkan doa/dzikir sebelum tidur. Al-Barra mengisahkan : : Maka aku mengulanginya (doa yang diajarkan Nabi) di hadapan beliau shallallaahu alaihi wasallam. Ketika aku sampai pada bacaan : Alloohumma aamantu bi-kitaabikal-ladzii anzalta; maka aku melanjutkannya dengan : warosuulika. (Mendengar itu) maka beliau menegurku : Bukan begitu !, akan tetapi (yang benar) : wanabiyyikal-ladzii arsalta [HR. Al-Bukhari no. 244]. [15]s) Bangkit kepada Rakaat Ketiga dan/atau Keempat. Dari Abu Hurairah radliyallaahu anhu : Bahwasannya Nabi shallallaahu alaihi wasallam apabila hendak sujud, maka beliau bertakbir, kemudian sujud. Dan apabila beliau hendak berdiri dari tempat duduknya (dalam shalat), maka beliau bertakbir, kemudian berdiri [HR. Abu Yala no. 6029 dengan sanad jayyid]. .. Berkata Abu Humaid radliyallaahu anhu : .Kemudian apabila beliau shallallaahu alaihi wasallam berdiri dari rakaat kedua, beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua pundaknya [HR. Abu Dawud no. 730; shahih].t) Tasyahud Akhir. Secara umum, apa yang dilakukan pada tasyahud awal juga dilakukan pada tasyahud akhir. Hanya saja dalam tasyahud akhir, posisi duduk adalah tawaruk. : .. Dari Abu Huamid As-Saidi radliyallaahu anhu : Dan apabila beliau shallallaahu alaihi wasallam duduk pada rakaat terakhir, maka beliau menjorokkan (telapak) kaki kirinya, menegakkan (telapak) kaki kanan, dan duduk di atas pantatnya [HR. Al-Bukhari no. 794]. Membaca doa sebelum salamRasulullah shallallaahu alaihi wasallam pernah bersabda : Dari Abu Hurairah radliyallaahu anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam : Apabila salah seorang diantara kamu telah menyelesaikan (bacaan) tasyahud akhir, maka mohonlah kepada Allah agar dilindungi dari empat perkara, (yaitu) : siksa neraka Jahannam, siksa kubur, fitnah/cobaan hidup dan mati, dan kejahatan Al-Masih Ad-Dajjal [HR. Muslim no. 588].Adapun lafadh doanya adalah :{ }Alloohumma innii auudzubika min adzaabi jahannama wa min adzaabil-qobri wa min fitnatil-mahyaa wal-maaati wa min syarri fitnatil-masiihid-dajjaalYa Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka Jahannam, siksa kubur, fitnah hidup dan mati, serta dari kejahatan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal [idem].Selain doa tersebut juga bisa dibaca :{ }Alloohumma innii dholamtu nafsii dhulman katsiiroo, walaa yaghfirudz-dzunuuba illaa anta, faghfirlii maghfirotam-min indika, warhamnii innaka antal-ghofuurur-rohiimYa Allah, sesungguhnya aku banyak menganiaya diriku, dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa melainkan Engkau. Oleh karena itu, ampunilah dosa-dosaku dan berilah rahmat kepadaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang [HR. Al-Bukhari no. 799,5967,6953; dan Muslim no. 2705].{ }Alloohumma haasibnii hisaabay-yasiiroYa Allah, hisablah/perhitungkanlah (segala amalku) dengan hisab/perhitungan yang mudah [HR. Ahmad no. 24261 dengan sanad jayyid].{ }Alloohumma innii as-aluka yaa alloohul-ahadush-shomad, alladzii lam yalid walam yuulad, walam yakul-lahuu kufuwan ahad. An-taghfiro lii dzunuubii innaka antal-ghofuurur-rohiimYa Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ya Allah Yang Maha Esa, Maha Tunggal, Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, yang tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya; agar Engkau mengampuni dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang [HR. Abu Dawud no. 985; shahih].u) SalamSalam pertama termasuk bagian rukun shalat yang harus dikerjakan, sedangkan salam kedua merupakan sunnah. Dari Amir bin Sad dari ayahnya radliyallaahu anhu ia berkata : Aku melihat Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam melakukan salam (di akhir shalat) dengan menoleh ke kanan dan ke kiri, sehingga aku melihat putih pipi beliau [HR. Muslim no. 582]. Dari Aisyah radliyallaahu anhaa : Bahwasannya Nabi shallallaahu alaihi wasallam pernah melakukan satu kali salam (yaitu ke kanan tanpa ke kiri) dalam shalatnya. Beliau memiringkan wajahnya sedikit ke sebelah kanan [HR. At-Tirmidzi no. 296; shahih].Ada beberapa macam cara salam dalam shalat, yaitu : Mengucapkan assalaamu alaikum warohmatullooh ke kanan dan ke kiri Dari Abdullah (bin Masud) radliyallaahu anhu : Bahwasannya Nabi shallallaahu alaihi wasallam mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri hingga terlihat putih pipinya (dengan ucapan :) Assalaamualaikum warohmatullooh, assalaamu alaikum warohmatullooh [HR. Abu Dawud no. 996; shahih]. Mengucapkan salam pertama (ke kanan) assalaamu alaikum warohmatulloohi wabarookatuh dan salam kedua (ke kiri) assalaamu alaikum warahmatullah Dari Wail radliyallaahu anhu ia berkata : Aku pernah shalat bersama Nabi shallallaahu alaihi wasallam, dimana beliau mengucapkan salam ke kanan : Assalaamu alaikum warohmatulloohi wabarokaatuh; dan ke kiri : Assalaamu alaikum warohmatullooh [HR. Abu Dawud no. 997; shahih]. Mengucapkan salam pertama (ke kanan) assalaamu alaikum warahmatullah dan salam ke dua (ke kiri) assalaamu alaikum Dari Wasi bin Hibban ia berkata : Aku bertanya kepada Ibnu Umar : Khabarkanlah kepadaku bagaimana sifat shalat Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam ?. Maka Ibnu Umar menjawab : Maka beliau mengucapkan takbir, yaitu (maksudnya) mengucapkan Assalaamu alaikum warohmatullooh ke kanan dan Assalaamu alaikum ke kiri [HR. Nasai no. 1321; shahih]. Mengucapkan sekali salam ke kanan dengan assalaamu alaikum warahmatullah sebagaimana disebutkan dalam hadits Aisyah radliyallaahu anhaa di atas.Abul-Jauzaa akhir Muharram 1430 Ciomas Permai, Bogor.Bahan bacaan : Shifatu Shalatin-Nabi shallallaahu alaihi wasallam (Syaikh Al-Albani Maktabah Al-Maarif), Ashlu Shifati Shalatin-Nabi shallallaahu alaihi wasallam (Syaikh Al-Albani Maktabah Al-Maarif), Fiqih Sunnah untuk Wanita (Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim Al-Itisham), Kitabul-Ilm (Syaikh Ibnu Utsaimin Daaruts-Tsuraya), Ad-Duruusul-Muhimmah (Syaikh Ibnu Baaz islamhouse.com/Departemen Urusan Keislaman, Saudi Arabia), Menggerakkan Jari Telunjuk ketika Tasyahud (Ustadz Ibnu Saini Maktabah Abdullah), Taisirul-Allam Syarh Umdatil-Ahkaam (Syaikh Aali Bassam Daar Ibnu Haitsam), Sunnah-Sunnah dalam Shalat yang Ditinggalkan (Dr. Anis bin Ahmad bin Thahir Bahrul-Ulum), Mausuah Hadits (Maktabah Ruuhul-Islaam), Fathul-Baariy (Ibnu Rajab Maktabah Al-Ghurabaa Al-Atsariyyah), Syarh Matni Syuruuthish-Shalaah wa Arkaanihaa wa Waajibatihaa lisy-Syaikh Muhammad bin Abdil-Wahhab (Dr. Muhammad Aman Al-Jaami Maktabah Ruuhul-Islaam), Hukmu Taarikish-Shalah (Syaikh Al-Albani Daarul-Jalalain), dan yang lainnya.

[1] Contohnya adalah sebagaimana firman Allah taala : { } Hai orang-orang yang beriman, berdoalah (bershalawatlah) kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya [QS. Al-Ahzab : 56].[2] Hal ini didasarkan oleh sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam : Allah taala telah mewajibkan shalat lima waktu (atas para hamba-Nya). Barangsiapa yang membaguskan wudlunya, shalat tepat pada waktunya, menyempurnakan rukuknya, dan khusyu; maka dia memiliki perjanjian di sisi Allah (untuk itu) untuk mendapatkan ampunan. Dan barangsiapa yang tidak berbuat demikian, maka ia tidak mempunyai perjanjian apapun dengan Allah. Jika Allah kehendaki, maka dia akan diampuni. Dan jika Allah kehendaki, maka dia akan disiksa [HR. Abu Dawud no. 425; shahih].[3] Ada perbedaan ulama mengenai larangan shalat setelah Asar. Sebagian ulama mengatakan bahwa diperbolehkan mengerjakan shalat sunnah setelah Asar dengan syarat matahari masih tinggi (panas). Adapun jumhur ulama tetap melarangnya.[4] Lihat penjelasan Dr. Said bin Ali bin Wahf Al-Qaththani dalam bukunya Shalatut-Tathawwu : Mafhumun wa Fadlaailun wa Anwaun wa Adabun fii Dlauil-Kitab was-Sunnah.[5] Abu Ishaq Asy-Syairazy rahimahullah, seorang pembesar madzhab Syafiiyyah berkata : Kemudian ia berniat. Berniat termasuk fardhu-fardhu shalat karena berdasarkan sabda Nabi shallallaahu alaihi wasallam : Sesugguhnya amalan itu tergantung niatnya dan bagi setiap orang apa yang ia niatkan.; dan karena ia juga merupakan ibadah murni (mahdlah). Maka tidak sah tanpa disertai niat seperti puasa. Sedang tempatnya niat itu adalah di hati. Jika ia berniat dengan hatinya, tanpa lisannya, niscaya cukup. Di antara sahabat kami ada yang berkata : Dia berniat dengan hatinya, dan melafazhkan (niat) dengan lisan. Pendapat ini tak ada nilainya karena niat itu adalah menginginkan sesuatu dengan hati. [Lihat Al-Muhadzdzab (3/168 bersama Al-Majmu) karya Asy-Syairazy rahimahullah]An-Nawawiy rahimahullah berkata ketika menukil pendapat orang-orang bermadzhab Syafiiyyah yang membantah ucapan Abu Abdillah Az-Zubairy di atas : Para sahabat kami -yakni orang-orang madzhab Syafiiyyah- berkata : Orang yang berpendapat demikian telah keliru. Bukanlah maksud Asy-Syafii dengan mengucapkan dalam shalat adalah ini (bukan melafazhkan niat). Bahkan maksudnya adalah (mengucapkan ) takbir. [Lihat Al-Majmu (3/168)][6] Adapun sutrah makmum adalah sutrah yang dipakai oleh imam.[7] Yaitu sebagai isyarat dimulainya shalat dimana pada waktu itu diharamkan mengerjakan sesuatu apapun kecuali dari gerakan shalat.[8] Yaitu sebagai isyarat telah selesainya shalat yang sekaligus diperbolehkannya mengerjakan suatu pekerjaan yang lain.[9] Hadits yang menyatakan tentang peletakan kedua tangan di perut adalah dlaif (lemah).[10] Terdapat pembicaraan yang panjang dalam hadits Samurah ini yang mempunyai inti bahwa hadits ini adalah lemah. Namun maknanya adalah benar bahwa terdapat dua tempat untuk berhenti sejenak dalam shalat, yaitu setelah takbiratul-ihram dan setelah membaca qiraat sebelum rukuk. Ini adalah madzhab jumhur ulama. Untuk pembahasan takhrij hadits, silakan baca Irwaaul-Ghalil juz 2 hal. 284-288 hadits no. 505. Dan penjelasan hukum silakan baca Ashlu Shifatish-Shalatin-Nabi hal. 601. Wallaahu alam.[11] Ini adalah pendapat Imam Malik, Imam Al-Auzai, Imam Ahmad, dan jumhur ahli hadits. Adapun hadits-hadits yang menyatakan sunnah meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan, maka hadits-hadits ini adalah dlaif [lihat kitab Irwaaul-Ghaliil no. 357].[12] Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam melarang menghamparkan kedua siku ketika sujud (yaitu dengan menempelkan kedua siku di lantai) dengan sabdanya : { } Luruslah (punggungmu) ketika sujud, dan janganlah salah seorang diantara kamu menghamparkan kedua hasta/sikunya seperti anjing menghamparkannya [HR. Al-Bukhari no. 768].[13] Adapun hadits Wail bin Hujr, Abu Hurairah, dan Ibnu Umar radliyallaahu anhum yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam mendahulukan mengangkat tangan daripada lutut ketika berdiri dari sujud adalah hadits dlaif (lemah). Lihat selengkapnya pembahasan takhrij hadits dalam kitab Irwaaul-Ghaliil .[14] Adapun hadits : { } Bahwasannya Nabi shallallaahu alaihi wasallam berisyarat dengan jari telunjuknya dan tidak menggerak-gerakkannya [HR. Abu Dawud no. 989, An-Nasai no. 1270, Abu Awanah no. 2019, dan yang lainnya]; adalah hadits syadz lagi dlaif, sehingga tidak dipakai.[15] Doa selengkapnya adalah : { }Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu dengan penuh harap dan rasa takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan tempat mencari keselamatan dari murka dan siksa-Mu kecuali kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus.Perhatikanlah ! Nabi shallallaahu alaihi wasallam tidak memberikan toleransi kepada Al-Barra bin Azib ketika ia salah mengucapkan doa, dengan mengganti lafadh nabi menjadi rasul. Padahal, secara substansi kedua kata ini dalam keseluruhan makna doa tidaklah berbeda. Hanya saja, beliau shallallaahu alaihi wasallam tetap menginginkan keselarasan doa yang diucapkan Al-Barra dengan yang beliau ajarkan kepadanya.Lantas, bagaimana jika kita menambah lafadh sayyidinaa kepada Nabi pada shalawat dalam shalat ? Penolakan ini bukanlah berarti penolakan kedudukan Nabi shallallaahu alaihi wasallam sebagai sayyid bagi manusia. Namun, semata-mata hanyalah meneladani lafadh doa yang beliau ajarkan sesuai dengan hadits-hadits shahih yang sampai pada kita.