BULETIN -...

of 61 /61

Embed Size (px)

Transcript of BULETIN -...

  • BULETIN Pengkajian Pertanian

    Vol. 7, No. 1, 2018

    Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Maluku Utara Balai Besar Pengkajian Dan Pengembangan Teknologi Pertanian

    Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian

  • BULETIN PENGKAJIAN PERTANIAN

    @ 2018, BPTP MALUKU UTARA

    Volume 7, No. 1, 2018.

    Penanggung Jawab :

    Bram Brahmantiyo

    Dewan Redaksi :

    Wawan Sulistiono, A. Yunan Arifin, Chris Sugihono, Slamet Hartanto

    Redaksi Pelaksana :

    Herwan Junaidi

    Himawan Bayu Aji

    Bayu Suwitono

    Penerbit :

    Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Maluku Utara,

    Komplek Pertanian Kusu No. 1 Oba Utara Kota, Tidore Kepulauan

    Fax : (021) 29490482

    email : [email protected]

    PRAKATA

    Buletin Vol. 7, No. 1, 2018. merupakan buletin hasil pengkajian yang

    diterbitkan oleh BPTP Maluku Utara, yang memuat makalah review dan hasil

    pengkajian/penelitian primer yang dilakukan tahun 2013-2018. Makalah tersebut

    telah diseleksi dan dikoreksi oleh tim redaksi baik dari segi bahasa maupun bentuk

    penyajiannya.

    Penerbitan buletin Vol. 7, No. 1, 2018. ini diterbitkan dengan memuat

    artikel yang tidak harus berasal dari penyajian dalam suatu seminar, tetapi lebih

    ditentukan oleh ketanggapan penulis dan kelayakan ilmiah tulisan.

    Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak peneliti dan penyuluh, tim

    redaktur, aparat penunjang lainnya yang telah membantu memperlancar proses

    penerbitan. Semoga media ini bermanfaat bagi khalayak. Kritik dan saran dari

    pembaca selalu kami nantikan.

    Redaksi

    Tulisan yang dimuat adalah yang telah diseleksi dan disunting oleh tim redaksi dan belum pernah

    dipublikasikan pada media cetak manapun. Tulisan hendaknya mengikuti Pedoman Bagi Penulis

    (lihat halaman sampul dalam). Redaksi berhak menyunting makalah tanpa mengubah isi dan makna tulisan atau menolak penerbitan suatu makalah.

  • BULETIN Pengkajian Pertanian

    Vol. 7, No. 1, 2018

    Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Maluku Utara Balai Besar Pengkajian Dan Pengembangan Teknologi Pertanian

    Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian

  • BULETIN PENGKAJIAN PERTANIAN

    @ 2018, BPTP MALUKU UTARA

    Volume 7, No. 1, 2018.

    Penanggung Jawab :

    Bram Brahmantiyo

    Dewan Redaksi :

    Wawan Sulistiono, A. Yunan Arifin, Chris Sugihono, Slamet Hartanto

    Redaksi Pelaksana :

    Herwan Junaidi

    Himawan Bayu Aji

    Bayu Suwitono

    Penerbit :

    Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Maluku Utara,

    Komplek Pertanian Kusu No. 1 Oba Utara Kota, Tidore Kepulauan

    Fax : (021) 29490482

    email : [email protected]

    PRAKATA

    Buletin Vol. 7, No. 1, 2018. merupakan buletin hasil pengkajian yang

    diterbitkan oleh BPTP Maluku Utara, yang memuat makalah review dan hasil

    pengkajian/penelitian primer yang dilakukan tahun 2013-2018. Makalah tersebut

    telah diseleksi dan dikoreksi oleh tim redaksi baik dari segi bahasa maupun bentuk

    penyajiannya.

    Penerbitan buletin Vol. 7, No. 1, 2018. ini diterbitkan dengan memuat

    artikel yang tidak harus berasal dari penyajian dalam suatu seminar, tetapi lebih

    ditentukan oleh ketanggapan penulis dan kelayakan ilmiah tulisan.

    Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak peneliti dan penyuluh, tim

    redaktur, aparat penunjang lainnya yang telah membantu memperlancar proses

    penerbitan. Semoga media ini bermanfaat bagi khalayak. Kritik dan saran dari

    pembaca selalu kami nantikan.

    Redaksi

    Tulisan yang dimuat adalah yang telah diseleksi dan disunting oleh tim redaksi dan belum pernah

    dipublikasikan pada media cetak manapun. Tulisan hendaknya mengikuti Pedoman Bagi Penulis

    (lihat halaman sampul dalam). Redaksi berhak menyunting makalah tanpa mengubah isi dan makna tulisan atau menolak penerbitan suatu makalah.

  • Buletin Pengkajian Pertanian BPTP Maluku Utara Vol. 7, No. 1, 2018

    1

    PENGARUH PEMUPUKAN NPK TERHADAP KOMPONEN HASIL UMBI BEBERAPA

    VARIETAS UBI KAYU DI LAHAN KERING BACAN, HALMAHERA SELATAN

    Wawan Sulistiono dan Bram Brahmantiyo

    Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Maluku Utara

    Kompleks Pertanian Kusu NO. 1 Kec. Oba Utara, Kota Tidore Kepulauan.

    ABSTRAK

    Budidaya ubi kayu di Maluku Utara secara umum menggunakan varietas lokal dan tidak dipupuk.

    Pengaruh pemupukan terhadap peningkatan produktivias umbi belum banyak diketahui oleh petani.

    Tujuan percobaan ini adalah mengetahui pengaruh pemupukan terhadap produksi umbi klon lokal

    Bacan yaitu jumlah umbi per tanaman, bobot umbi pertanaman dan produktivitas dibanding varietas

    nasional. Penelitian ini dilakukan di lahan kering desa Tuokona, Bacan, Kabupaten Halmahera Seletan

    pada bulan September 2017-Juni 2018. Rancangan percobaan menggunakan rancangan acak

    kelompok faktorial. Faktor pertama adalah jenis ubi kayu, terdiri 4 jenis yaitu lokal Bacan, Adira-1,

    Mentega, Ubi Kuning. Faktor kedua adalah dosis pemupukan NPK, terdiri 3 jenis taraf dosis yaitu

    100% dosis, 50% dosis, dan kontrol-nol dosis- (tanpa pemupukan). Hasil penelitian menunjukkan

    bahwa pemupukan NPK dengan dosis 100% tidak nyata meningkatkan bobot umbi per tanaman pada

    semua varietas. Namun demikian klon lokal Bacan, memiliki respon tertinggi terhadap pemupukan

    yang menaikkan jumlah umbi per tanaman sebesar 23,8 % dibanding perlakuan hanya pupuk kandang.

    Kata Kunci: Ubi kayu, pemupukan NPK, umbi, lahan kering, Bacan

    PENDAHULUAN

    Ubi kayu merupakan tanaman pangan penting di Halmahera Selatan-Maluku Utara. Produksi

    ubi kayu di Maluku Utara sebagian besar, 33,85% dihasilkan dari luas panen ubi kayu Halmahera

    Selatan (BPS, 2017). Secara umum, di Maluku Utara ubi kayu dihasilkan dari sistem pertanaman

    konvensional yang salah satu cirinya tanaman tidak dipupuk (Sulistiono dkk, 2010). Hasil ubi kayu di

    Maluku Utara dengan sistem tanam konvensional tersebut masih mencapai 12, 21 ton/ha (BPS, 2017).

    Hasil ini masih dibawah rata-rata produktivitas nasional dengan pengelolaan optimal mencapai 30-40

    ton/ha (Suryana, 2007; Badanlitbang, 2008). Oleh karena itu diperlukan teknologi budidaya yang

    dapat meningkatkan produktivitas umbi pada teknologi yang belum petani terapkan yaitu pemupukan.

    Hasil pengkajian BPTP Malut pada pengelolaan PTT ubi kayu menunjukkan bahwa

    pemupukan meningkatkan berat umbi. Klon Ternate dan Tidore menghasilkan produktivitas tinggi

    berturut turut 48,37 ton/ha dan 62,10 ton/ha pada umur panen 7 bulan dengan pengelolaan tanaman

    terpadu (Sulistiono dkk, 2008). Pemupukan Urea, SP-36 dan KCl masing-masing dengan dosis 100

    kg:100 kg, dan 100 kg, meningkatkan produktivitas umbi lokal di bacan mencapai 76,9 ton/ha

    (Sulistiono dkk, 2010). Wahyuningsih dan sundari (2013) melaporkan bahwa pemupukan ubi kayu

    dengan dosis Urea, SP-36, dan KCl berturut-turut sebesar 200 kg/ha, 100 kg/ha, 100 kg/ha

    menghasilkan produktivitas 39,4-49,2 ton/ha. Dosis Urea yang lebih tinggi diberikan pada varietas

    Adira 1 sebanyak 200 kg/ha sedangkan pupuk SP-36 dan KCl untuk memunculkan potensi genetisnya

    yaitu 40 ton/ha (Sutrisno dan Sundari, 2013).

    Berdasarkan hasil peningkatan umbi segar pada pengaruh pemupukan. Diperlukan upaya

    teknologi peningkatan produktivitas ubi kayu di Maluku Utara, Bacan. Salah satu teknologinya adalah

    pemupukan. Perlakuan pemupukan diharapkan secara nyata meningkatkan umbi segar. Oleh kerena

    itu dilakukan penelitian pengaruh pemupukan NPK hasil umbi lokal Bacan Halmahera Selatan. Tujuan

    penelitian ini disamping untuk mengingkatan produktivitas umbi segar juga mengetahui dosis yang

    tepat untuk budidaya ubi kayu di Maluku Utara.

  • 2 Pengaruh pemupukan NPK terhadap komponen hasil umbi beberapa varietas ubi kayu di lahan kering Bacan, Halmahera Selatan

    BAHAN DAN METOIDE

    Penelitian ini dilakukan di Desa Tuokona Bacan Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi

    Maluku Utara. Waktu penelitian dilakukan pada bulan September 2017-Juli 2018. Tanah lokasi

    penelitian adalah jenis tanah Andosol dengan pH 5,5-7. Curah hujan tahunan dua tahun berturut-turut

    adalah 1.286-2.274 mm/tahun (2016-2017). Suhu harian berkisar 25-30°C.

    Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap Faktorial. Faktor

    pertama adalah jenis ubi kayu yang terdiri atas empat (4) jenis yaitu: (1) Adira 1, (2) Mentega, (3) Ubi

    Kuning, dan (4) Lokal Bacan. Faktor ke dua adalah dosis pupuk an organik yaitu Urea, SP-36, KCl

    dengan 3 taraf: (1) dosis 100% yaitu 100:100:100kg/ha, (2) dosis 50% yaitu 50:50:50kg/ha, (3) tanpa

    pemupukan pupuk an organik (kontrol). Terdapat 12 kombinasi perlakuan. Tiap kombinasi perlakuan

    menggunakan luas petak 5x6m dengan jarak tanam antar stek tanam 1x0,9m. Tiap kombinasi

    perlakuan diulang tiga (3) kali.

    Pengamatan dilakukan pada jumlah umbi pertanaman, bobot umbi pertanaman dan diameter

    umbi. Pengamatan dilakukan pada saat panen pada umur 10 bulan. Pengamatan dilakukan dengan

    menimbang umbi, mengitung umbi pada tanaman contoh masing-masing unit perlakuan 3 tanaman

    dan menghitung produktivitas rerata secara total per ha. Data paremeter pengamatan yang dihasilkan

    dianalisis menggunakan analysis of variance (ANOVA) pada faktor perlakuan rancangan acak

    lengkap kelompok menggunakan SAS 9.4 program for windows. Jika terdapat interaksi perlakuan

    antar faktor, dilakukan pembandingan pengaruh antar interaksi. Kemudian pengaruh perlakuan

    tersebut dibandingkan berdasarkan uji Tukey’s studentized range (HSD) test dengan p ≤0.05.

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    Hasil

    Bobot umbi per tanaman

    Berdasarkan sidik ragam bobot umbi per tanaman nyata ditentukan oleh perlakuan perbedaan

    dosis pupuk Urea, SP-36, dan KCl (p

  • Buletin Pengkajian Pertanian BPTP Maluku Utara Vol. 7, No. 1, 2018

    3

    Tabel 2. Pengaruh dosis pemupukan Urea, SP-36, dan KCl dan varietas terhadap bobot umbi per

    tanaman umur 9 bulan di lahan kering Bacan, Halmahera Selatan.

    Bobot umbi per tanaman (kg) umur 9 bulan pada beberapa

    varietas Perlakuan

    Dosis pupuk Urea, SP-36 dan KCl

    100:100:100kg/ha 2,64 b

    50:50:50kg/ha 2,67 b

    0 (Tanpa pemupukan) 4,00 a

    Varietas

    Adira 1 2,67 bc

    Ubi Kuning 3,62 ab

    Mentega 4,03 a

    Lokal Bacan 2,08 c

    Ket.: Angka yang diikuti huruf sama pada perlakuan dosis pemupukan dan varietas tidak berbeda

    nyata pada uji Tukey 5%. (+) menunjukkan terdapat interaksi antar perlakuan berdasarkan

    analisis sidik ragam.

    Jumlah umbi per tanaman

    Berdasarkan sidik ragam jumlah umbi per tanaman nyata ditentukan oleh interaksi dosis Urea,

    SP-36, dan KCl dan varietas pada umur 9 bulan (p

  • 4 Pengaruh pemupukan NPK terhadap komponen hasil umbi beberapa varietas ubi kayu di lahan kering Bacan, Halmahera Selatan

    Tabel 4. Pengaruh dosis pemupukan Urea, SP-36, dan KCl terhadap diameter umbi per tanaman umur

    9 bulan di lahan kering Bacan, Halmahera Selatan.

    Diameter umbi per tanaman umur 9 bulan pada beberapa varietas

    Dosis pupuk/varietas Adira 1 Ubi Kuning Mentega Lokal Bacan

    Dosis pupuk Urea, SP-36

    dan KCl

    100:100:100kg/ha 5,83 b 6,67 ab 5,00 b 6,33 ab

    50:50:50kg/ha 6,17 b 6,17 b 7,33 ab 5,00 b

    0 (Tanpa pemupukan) 5,00 b 6,33 ab 8,67 a 6,67 ab

    (+)

    Ket.: Angka yang diikuti huruf sama pada semua kombinasi perlakuan tidak berbeda nyata pada uji

    Tukey 5%. (+) menunjukkan terdapat interaksi antar perlakuan berdasarkan analisis sidik

    ragam.

    Pembahasan

    Bobot umbi, jumlah umbi, dan diameter umbi adalah komponen hasil umbi ubi kayu. Bobot

    umbi sangat nyata ditentukan oleh faktor dosis pemupukan kimia (NPK) dan jenis varietas (Tabel 1).

    Pada faktor tanah, bobot umbi tertinggi nyata dihasilkan dari tanah tanpa pemupukan kimia. Hal ini

    sejalan dengan hasil penelitian Edet et al. (2013) bahwa pada penanaman ubi kayu tanpa pemberian

    pupuk, namun berdasarkan residu pupuk tanam pertama (Organomineral Fertilizer: 2,5-6 ton/ha)

    memberikan hasil umbi/ha sama dengan musim tanam sebelumnya. Tanah di lokasi penelitian tersebut

    menunjukkan pH netral yaitu 5,5-7,0. Kisaran pH tersebut memberikan pertumbuhan yang optimal

    untuk perkembangan ubi kayu karena unsur hara optimal tersedia (Ande, 2011). Faktor lingkungan

    menurut Danquah et al. (2017) berperan menentukan berat umbi segar sebesar 37 %, sedangkan

    menurut Aina et al. (2009) sebesar 70,3%.

    Faktor genetis berupa jenis varietas ubi kayu sangat nyata menentukan bobot umbi per

    tanaman (Tabel 1). Jenis ubi kayu Mentega menunjukkan jenis ubi kayu yang secara genetis memiliki

    bobot umbi tertinggi berbeda nyata dengan varietas Adira 1 dan lokal Bacan. Hal ini mengindikasikan

    klon lokal Bacan merupakan jenis ubi kayu yang potensi hasilnya sedang seperti Adira 1 yaitu sekitar

    30-45 ton /ha (Badan Libang: Balitkabi, 2008). Faktor genetis tersebut yang menentukan bobot umbi

    sejalan dengan hasil penelitian Denquah et al. (2017) bahwa peran genotif ubi kayu menentukan berat

    umbi segar sebesar 51 %.

    Jumlah umbi nyata ditentukan oleh interaksi varietas dan dosis pemupukan NPK (p

  • Buletin Pengkajian Pertanian BPTP Maluku Utara Vol. 7, No. 1, 2018

    5

    yang stabil di beberapa lingkungan tumbuh. Faktor lingkungan tumbuh yang menentukan hasil ubi

    kayu seperti ketinggian tempat, suhu, serta curah hujan (Noerwijayanti and Budianto, 2015).

    Ubi kayu jenis Mentega memiliki potensi untuk meningkatkan diameter umbi pada tingkat

    kesuburan tanah yang sesuai (Tabel 4). Sementara itu klon lokal Bacan memiliki potensi mengalami

    peningkatan daya hasil umbi berupa jumlah umbi per tanaman pada perlakuan pemupukan. Peran

    kesuburan tanah tersebut, berupa pemberian pupuk kimia atau alami, sangat penting menentukan

    pertumbuhan tanaman ubi kayu (Abah and Petja, 2017). Tanah yang optimal menentukan

    pertumbuhan tanaman ubi kayu terutama pada umur 4-6 bulan setelah tanam yang nyata meningkatkan

    berat segar umbi saat panen di umur 12 bulan (Edet et al., 2015). Peran kesuburan tanah tersebut

    dilaporkan juga oleh (Njoku et al., 2010) bahwa tanah yang subur dan gembur yang terdapat tanaman

    legum, sangat nyata memberikan hasil umbi pada perlakuan pemupukan.

    KESIMPULAN

    Pemberian pupuk kimia Urea-SP36 dan KCL hingga 100 kg/ha tidak nyata meningkatkan

    komponen hasil umbi pada semua jenis varietas di tanah jenis Andosol Bacan. Namun pada klon lokal

    Bacan perlakuan pemupukan tersebut menghasilkan peningkatan jumlah umbi tertinggi sebesar 23,8

    %. Klon Mentega menunjukkan potensi hasil umbi tertinggi dan dapat beradaptasi lebih baik. Varietas

    Adira 1, memiliki kestabilan hasil umbi tertinggi.

    UCAPAN TERIMAKASIH

    Penulis sampaikan ucapan terimakasih kepada Haryanti Koostanto SP selaku fasilitator

    CIAT/FoodSTAR+ dan Mansur Arif, S.P di Dinas Pertanian Halamhera Selatan.

    DAFTAR PUSTAKA

    Abah R. C., and Petja B.M. 2016. Crop Suitability Mapping for Rice, Cassava, and Yam in North

    Central Nigeria. Journal of Agricultural Science 9(1): 96-108.

    Adriko J., Sserubombwe W.S., Adipala E., Bua A., Thresh J. M., and Edema R. 2011. Response of

    improved cassava varieties in Uganda to cassava mosaic disease (CMD) and their inherent

    resistance mechanisms. African Journal of Agricultural Research 6(3):521-531.

    Aina O.O., Dixon A.G.O., Paul I., and Akinrinde E.A. 2009. G×E interaction effects on yield and

    yield components of cassava (landraces and improved) genotypes in the savanna regions of

    Nigeria. African Journal of Biotechnology 8 (19):4933-4945.

    Ande O.T. 2011. Soil suitability evaluation and management for cassava production in the derived

    savanna area of Southwestern Negeria. International Journal of Soil Science 6 (2): 142-149.

    Badan Litbang. Balitkabi. 2008. Prospek dan arah pengembangan agribisnis ubi kayu. Jakarta.

    BPS 2017. Maluku Utara dalam angka. Badan Pusat Statistik. Ternate. 408 hal.

    Danquah J.A., Aduening J.A., Gracen V.E., Asante I.K., and Offei S.K. AMMI Stability Analysis and

    Estimation of Genetic Parameters for Growth and Yield Components in Cassava in the Forest

    and Guinea Savannah Ecologies of Ghana. International Journal of Agronomy 2017: 1-16.

    Edet M.A., Tijani-Eniola H., Lagoke S.T.O.,Tarawali G. 2015. Relationship of Cassava Growth

    Parameters with Yield, Yield Related Components and Harvest Time in Ibadan, Southwestern

    Nigeria. Journal of Natural Sciences Research 5 (9): 87-92.

    Edet M.A, Tijani-Eniola H., and Okechukwu R. 2013. Residual effects of fertilizer application on

    growth and yield of two cassava varieties in Ibadan, South-Western Nigeria. African Journal of

    Root and Tuber Crops, 10(1): 33-40.

  • 6 Pengaruh pemupukan NPK terhadap komponen hasil umbi beberapa varietas ubi kayu di lahan kering Bacan, Halmahera Selatan

    Macalou S., Mwonga S., Musandu A. 2018. Performance of Two Cassava (Manihot Escculenta

    Crantz) Genotypes to NPK Fertilizer in Ultisols of Sikasso Region. International Journal of

    Sciences: Basic and Applied Research (IJSBAR)38 (2):189-206 .

    Munyahalia B.W., Pypersc P., Swennend E.R., Walangululub J., Vanlauwec B., Merckxa R. 2017.

    Responses of cassava growth and yield to leaf harvesting frequency and NPK fertilizer in South

    Kivu, Democratic Republic of Congo. Field Crops Research 214:194-201.

    Mwila N., Nuwamanya E, Odong T .L., Badji A., Agbahoungba S, Ibanda P.A., Mwala M., Sohati P.,

    yamanywa S., Rubaihayo P.R. 2018. Genotype by Environment Interaction Unravels Influence

    on Secondary Metabolite Quality in Cassava Infested by Bemisia tabaci. Journal of Agricultural

    Science 10(8): 192-209.

    Njoku D.N., Afuape S.O., and Ebeniro, C.N. 2010. Growth and yield of cassava as influenced by

    grain cowpea population density in Southeastern Nigeria. African Journal of Agricultural

    Research 5(20): 2778-2781.

    Noerwijati K., and Rohmad Budiono R., 2014. Yield and Yield Components Evaluation of Cassava

    (Manihot esculenta Crantz) Clones In Different Altitudes. Conference and Exhibition Indonesia

    - New, Renewable Energy and Energy Conservation. (The 3rd Indo-EBTKE ConEx 2014).

    Energy Procedia 65:155 – 161.

    Sulistiono W., Kulle M.S.S., Hidayat Y., Sugihono C., Saleh R., Marliani, Heru I., Ode H.R.,

    Musyadik, Ponco H.W. 2010. Uji Kemantapan genetik ubi kayu varietas lokal Ternate dan

    Tidore pada 3 Agroekosistem yang berbeda di Maluku Utara. Laporan Akhir Tahun.

    Balitbangda Prov. Maluku Utara dan BPTP Maluku Utara. Sofifi. 55 hal.

    Sulistiono W., Mejaya J.M., Syahbudin H., Ponco W., Sugihono C., Musyadik. 2008. Pengkajian

    introduksi varietas unggul nasional UJ-5 dan varietas lokal Ternate dan Tidore dengan sistem

    pengelolaan tanam terpadu (PTT) di Tidore. BPTP Maluku Utara. Sofifi. 30 hal.

    Suryana A. 2007. Kebijakan penelitian dan pengembangan ubi kayu untuk agroindustri dan ketahanan

    pangan. Prosiding: Prospek strategi dan teknologi pengembangan ubi kayu untuk agroindustri

    dan ketahanan pangan. Badan Litbang Deptan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman

    Pangan. Bogor.

    Sutrisno dan Sundari T. 2013. Potensi hasil klon harapan ubi kayu pada tiga umur panen berbeda.

    Peningkatan daya saing dan implementasi pengembangan komoditas kacang dan umbi

    mendukung pencapaian empat sukses pengembangan pertanian. Prosiding seminar nasional

    hasil penelitian tanaman aneka kacang dan umbi tahun 2012: 537-544.

    Wahyuningsih S., dan Sundari T. 2013. Evaluasi klon-klon harapan ubi kayu untuk karakter hasil

    umbi dan pati. Peningkatan daya saing dan implementasi pengembangan komoditas kacang dan

    umbi mendukung pencapaian empat sukses pengembangan pertanian. Prosiding seminar

    nasional hasil penelitian tanaman aneka kacang dan umbi tahun 2012: 528-536.

  • Buletin Pengkajian Pertanian BPTP Maluku Utara Vol. 7, No. 1, 2018

    7

    KELAYAKAN USAHA INTEGRASI KELAPA-JAGUNG MANIS-SAPI DI LAHAN KERING

    MALUKU UTARA

    Slamet Hartanto dan Yayat Hidayat

    Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Maluku Utara

    [email protected]

    ABSTRAK

    Integrasi kelapa dengan tanaman pangan dan ternak diperlukan untuk mengurangi risiko usaha

    monokultur kelapa. Pengkajian sistem integrasi kelapa dilaksanakan pada tahun 2014 di desa

    Tafasoho, kecamatan Malifut, kabupaten Halmahera Utara. Satu hektar tanaman kelapa berumur 15

    tahun diintegrasikan melalui penanaman jagung manis (Zea mays L. Saccharata) dilahan sela

    dibandingkan dengan 1 hektar tanaman kelapa monokultur. Tiga ekor sapi berumur 1,2-1,5 tahun

    diberi pakan 1 kg dedak dan limbah tebon jagung manis 3% dari bobot badan. Analisis input-output

    (B/C) dan nisbah peningkatan keuntungan bersih (NKB) digunakan menguji kelayakan usaha integrasi

    tanaman kelapa dengan jagung manis dan ternak sapi. Hasil yang diperoleh menunjukan produksi

    tanaman jagung manis dibawah naungan kelapa teridenfikasi mengalami penurunan, akan tetapi

    penanaman jagung manis mampu meningkatkan produktivitas tanaman kelapa sebesar 50%. Selain itu,

    pemanfaatan limbah tebon jagung manis dapat meningkatkan produktivitas ternak sapi yang dipelihara

    secara intensif. Berdasarkan analisis finansial, sistem integrasi kelapa-jagung manis-sapi mampu

    meningkatkan 60,58% keuntungan yaitu 2.984.000,- per tahun dibandingkan tanaman monokultur

    kelapa dengan nilai B/C 1,38 dan nilai NKB 1,15. Sistem integrasi tanaman kelapa-jagung manis-sapi

    menunjukan hasil yang positif, tetapi untuk pengembangan dalam skala besar diperlukan pengkajian

    menyeluruh dan multi-lokasi di Maluku Utara.

    Kata kunci: integrasi, kelapa, jagung, sapi, kelayakan usaha

    PENDAHULUAN

    Sektor pertanian merupakan penggerak utama perekonomian di Maluku Utara dengan

    sumbangan terhadap distribusi produk domestik regional bruto (PDRB) terbesar di Maluku Utara yaitu

    36,37 %. Pertanian lahan kering berkontribusi paling besar dalam pembangunan sektor pertanian di

    Maluku Utara. Tanaman perkebunan kelapa, cengkeh dan pala merupakan usahatani lahan kering yang

    banyak dilakukan oleh petani di Maluku Utara. Maluku Utara merupakan salah satu sentra produksi

    kelapa di Indonesia dengan luas lahan 223.108 Ha. Luas lahan perkebunan kelapa sebesar 69% dari

    total luas lahan perkebunan di Maluku Utara (BPS Maluku Utara, 2014).

    Tanaman kelapa merupakan komoditas unggulan di Maluku Utara tetapi nilai ekonomi dari

    tanaman kelapa masih rendah karena produktivitas rendah dan diusahakan secara monokultur (BPTP

    Maluku Utara, 2015). Produktivitas rata-rata tanaman kelapa di Maluku Utara 1,2 ton/ha/tahun (BPS

    Maluku Utara, 2014). Sebagian besar lahan di antara tanaman kelapa di Maluku Utara merupakan

    lahan marginal dan petani umumnya belum melakukan upaya untuk meningkatkan kesuburan tanah.

    Kondisi tersebut menyebabkan produktivitas kelapa masih rendah. Usaha agribisnis pertanian yang

    bersifat monokultur juga telah terbukti rentan mengalami kerugian, karena harga jual produk pertanian

    bersifat fluktuatif dari waktu ke waktu.

    Diversifikasi (penganekaragaman) usaha secara vertikal maupun horisontal diperlukan untuk

    mengurangi resiko terhadap usaha monokultur. Dalam upaya mewujudkan hal tersebut perlu inovasi

    teknologi yang sesuai untuk diintegrasikan dalam usaha pokok, dengan mengoptimalkan sumberdaya

    yang tersedia, dan secara teknis, ekonomi dan sosial budaya layak dan dapat diterima oleh masyarakat

    pelaku usaha secara berkelanjutan. Crops Livestock System (CLS) atau Sistem Integrasi Tanaman

    Ternak (SITT) merupakan pola diversifikasi usaha yang diperkirakan bisa sebagai solusi jangka

    mailto:[email protected]

  • 8 Kelayakan usaha integrasi kelapa-jagung manis-sapi di lahan kering Maluku Utara

    panjang yang harus dikembangkan sebagai kunci menemukan pakan ternak dari beragam limbah

    pertanian dan sumberdaya tanaman tahunan, bukan untuk mengganti pakan konvensional, melainkan

    untuk memperkuat ketahanan pangan dalam ekosistem lahan kering (Nataatmaja, 2004).

    SITT dengan pola Kelapa – Jagung Manis - Sapi merupakan usaha yang sangat layak

    dikembangkan sebagai solusi untuk pengembangan peternakan dan perkebunan serta menjaga

    ketahanan pangan lahan kering di Maluku Utara. Manfaat SITT Kelapa-Jagung Manis- Sapi yaitu

    dengan adanya jagung manis sebagai tanaman sela diperkirakan mampu meningkatkan produktivitas

    tanaman kelapa, meningkatkan pendapatan petani, dan menyediakan hijauan pakan ternak dari limbah

    tanaman jagung (zero waste). Perlakuan pengolahan tanah dan pemupukan untuk usaha tanaman

    jagung pada lahan marginal diantara tanaman kelapa dapat meningkatkan kesuburan tanah sehingga

    produktivitas kelapa meningkat. Malia et. al. (2010) menyatakan produktivitas kelapa di Desa

    Tawaang meningkat dari 6 menjadi 12 butir per tandan pada integrasi kelapa dengan jagung Srikandi

    kuning. Jagung manis juga memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan cocok dikembangkan di Maluku

    Utara sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani diluar usaha perkebunan kelapa. Manfaat lain

    SITT yaitu ternak sapi akan menghasilkan berlimpah kotoran yang dapat diolah menjadi kompos dan

    sumber energi berupa sumber biogas (Hasnudi, 1991 dalam Elly et al., 2008).

    Pengkajian SITT Kelapa- Jagung Manis- Sapi dengan tujuan untuk mendapatkan paket

    teknologi SITT Kelapa- Jagung Manis- Sapi dan menguji kelayakan sistem integrasi tanaman dengan

    ternak.

    BAHAN DAN METODE

    (a) Lokasi dan Waktu Pengkajian Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Waktu pelaksanaan Januari – Desember

    2014. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive), yaitu berdasarkan

    pertimbangan tertentu disesuaikan dengan tujuan penelitian. Lokasi yang dipilih adalah desa Tafasoho,

    Kecamatan Malifut, Kabupaten Halmahera Utara dengan pertimbangan wilayah yang masyarakatnya

    banyak membudidayakan tanaman kelapa, beternak sapi dan tanaman jagung.

    (b) Tanaman Kelapa Dua hektar tanaman kelapa berumur 15 tahun didesain untuk mendapatkan perlakuan

    pengkajian dengan 1 hektar untuk sistem integrasi dan 1 hektar untuk usaha monokultur. Paket

    teknologi yang diintroduksikan pada tanaman kelapa adalah penanaman jagung manis diantara

    tegakan kelapa.

    (c) Jagung Manis (Zea mays L. Saccharata) Varietas yang digunakan adalah varietas unggul Bonanza F1. Penanaman dilakukan dengan

    cara ditugal ditugal 2-3 cm, dengan jarak tanam 75x40 cm (2 biji/lubang). Dosis pupuk yang

    diberikan yaitu 300 kg/ ha urea, 400 kg/ ha NPK dan 1.000 kg/ ha pupuk kandang. Pemupukan

    pertama (saat tanam), ditugal dekat barisan tanaman ( + 5 cm dari batang tanaman dengan kedalaman

    5-7 cm. Pada pemupukan pertama, pupuk urea dan NPK diberikan ½ dosis dari pupuk yang

    digunakan. Pemupukan kedua dilakukan pada saat 14 HST. Pemupukan kedua dengan cara membuat

    larikan 5 cm diantara tanaman dan diberikan ½ dosis atau ½ dari kekurangan. Pupuk kandang

    diberikan sekali pada saat penanaman dan sebagai penutup lubang tanam dengan dosis 1.000 kg/ ha.

    (d) Ternak Sapi Tiga ekor sapi Bali betina umur 1,2-1,5 tahun. Sapi dikandangkan secara intensif pada

    kandang individu. Pakan yang diberikan 1 kg dedak halus dan limbah tebon jagung diberikan 3% dari

    bobot badan. Air minum diberikan secara adlibitum.

    (e) Pengumpulan Data Data pengamatan jumlah butir kelapa dilaksanakan 2 kali setiap 4 bulan. Jumlah butir dihitung

    secara manual dengan pengamatan visual setiap pohon. Pertambahan bobot badan dilakukan dengan

  • Buletin Pengkajian Pertanian BPTP Maluku Utara Vol. 7, No. 1, 2018

    9

    menghitung selisih bobot badan setiap bulan selama 4 bulan. Perhitungan bobot badan dilakukan

    dengan estimasi bobot badan dengan metode perhitungan lingkar dada (Zurahmah dan The, 2011).

    Data tanaman jagung manis yang diamati jumlah tongkol, berat batang dan daun (limbah) jagung.

    Data usaha tani yang diambil adalah biaya input usahatani dan besarnya output usahatani.

    (f) Analisis Data Data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode input-output analysis (B/C) (Price, 1972)

    untuk menguji kelayakan usahatani.

    NPT

    B/C =--------

    BT

    Dimana:

    B/C = Nisbah penerimaan dan biaya, NPT = Nilai produksi kotor (Rp/ha/th), BT = Nilai biaya total

    (Rp/ha/th), Dengan keputusan:

    B/C>1, usahatani secara ekonomi menguntungkan; B/C=1, usahatani secara ekonomi berada pada titik

    impas (BEP); B/C

  • 10 Kelayakan usaha integrasi kelapa-jagung manis-sapi di lahan kering Maluku Utara

    hingga 45% akan terjadi penurunan hasil. Limbah brangkas (daun dan batas) yang dihasilkan oleh

    jagung manis juga cukup tinggi yaitu 1.120 kg/ ha.

    Jumlah buah kelapa per tandan meningkat 50 % setelah adanya tanaman jagung manis, yaitu

    dari 6 buah per tandan menjadi 8-9 buah pertandan. Hal ini sesuai Kaat dan Dawis (1986) yang

    menyatakan penanaman tanaman sela mampu meningkatkan jumlah bunga betina dan buah kelapa tiap

    pohon. Dilaporkan Paat et. al. (2006), bahwa penerapan sistem integrasi kelapa dengan jagung di

    Kabupaten Minahasa Utara berkorelasi positif terhadap peningkatan produksi kelapa per tandan dari 5

    buah menjadi 9 buah per tandan.

    Tabel 1. Keragaan tanaman jagung manis, ternak sapi dan tanaman kelapa

    No Parameter Volume

    1. Tanaman jagung manis:

    - Jumlah tongkol (buah/ ha) - Berat limbah/ brangkasan (kg/ ha)

    8.240

    1.120

    2. Kelapa:

    - Jumlah buah pertandan (buah/ tandan)

    8-9

    3. Sapi:

    - PBBH1) (kg/ hari)

    0,416 1)PBBH, pertambahan bobot badan harian

    Sistem pemeliharaan sapi secara intensif pada SITT juga meningkatkan PBBH yaitu 0,416

    kg/ekor/hari, lebih tinggi dibandingkan dengan pemeliharaan semi intensif dan ektensif. Dilaporkan

    Hendaru et. al. (2011), PBBH sapi Bali yang dipelihara secara semi intensif 0,221 kg/ekor/hari,

    sedangkan secara ekstensif menjadi 0,126 kg/ekor/hari.

    Kelayakan usahatani SITT kelapa- jagung manis- sapi

    Untuk melakukan usahatani terintegrasi kelapa-jagung manis-sapi, diperlukan biaya tetap

    sebesar Rp 2.832.000,- untuk membeli sapi, susut kandang dan susut peralatan. Modal kerja sebagai

    biaya variabel sebesar Rp. 17.935.000,- diasumsikan hanya 2 musim tanam jagung per tahun.

    Keuntungan dengan penerapan SIIT, tidak ada modal kerja untuk pembersihan lahan karena dengan

    adanya pemeliharaan tanaman sela lahan diantara tanaman kelapa terlihat bersih. Untuk usahatani

    kelapa monokultur, modal kerja yang dibutuh Rp. 1.075.000,- untuk upah tenaga panen dan

    pembersihan lahan sebanyak 2 kali dalam setahun.

    Penerapan SITT kelapa-jagung manis-sapi mampu meningkatkan 60,58% pendapatan petani

    yaitu sebesar Rp. 2.984.000,-/ tahun dibandingkan system usaha tani monokultur. Berdasarkan analisis

    finansial, keuntungan dari SITT yaitu Rp. 7.909.000,-/ha/tahun dengan nilai B/C 1,38. Keuntungan

    dari usahatani monokultur hanya sebesar Rp. 4.925.000,-. Penerimaan SITT diperoleh dari penjualan

    jagung manis sebanyak 16.480 buah dengan harga jual Rp. 1.000,-/ buah, penjualan sapi, pejualan

    kopra sebanyak 2.000 kg dengan harga Rp. 3.000/ kg dan penjualan pupuk kandang sebanyak 2.880

    kg dengan harga jual Rp. 200,-/ kg.

    Tabel 2. Analisis kelayakan usahatani kelapa-jagung manis-sapi

    Uraian SITT Kelapa-Jagung

    Manis-Sapi Monokultur

    (Rp.) (Rp.)

    A. BIAYA TETAP 2.832.000 -

    Tanah - -

    Bibit sapi 2.622.000 -

    Susut kandang 100.000 -

    Susut peralatan 10.000 -

  • Buletin Pengkajian Pertanian BPTP Maluku Utara Vol. 7, No. 1, 2018

    11

    Peralatan olah pakan 100.000 -

    B. MODAL KERJA 17.935.000 1.075.000

    Saprodi:

    Benih jagung (25 kgx 2 musim) 2.500.000 -

    Pupuk urea (300 kgx 2 musim) 2.100.000 -

    Pupuk NPK (400 kgx 2 musim) 3.600.000 -

    Pupuk kandang (1.000 kgx 2 musim) 400.000 -

    Obat-obatan/ herbisida dll (2 musim) 300.000 -

    Pakan tambahan dan obat

    ( Dedak halus+ obat) 360.000 -

    Upah tenaga kerja:

    Olah tanah (2 musim) 1.800.000 -

    Penanaman (2 musim) 1.000.000 -

    Pemupukan (2 musim) 600.000 -

    Pemeliharaan (2 musim) 1.600.000 -

    Panen dan pasca panen (2 musim) 1.800.000 -

    Pemeliharaan sapi (pengolahan

    pakan

    dan pemeliharaan) 1.200.000 -

    Pembersihan lahan (2 kali) - 400.000

    Panen dan pascapanen kelapa (3 x

    150 pohon) 675.000 675.000

    C. PENERIMAAN 28.676.000 6.000.000

    Penjualan jagung manis 16.480.000 -

    Penjualan sapi 5.620.000 -

    Penjualan kopra 6.000.000 6.000.000

    Penjualan pupuk kandang 576.000 -

    PENDAPATAN BERSIH 7.909.000 4.925.000

    B/C 1,38

    NKB 1,15

    Nilai NKB dari penerapan SITT kelapa-jagung manis-sapi yaitu 1,15. Ini berarti penerapan

    SITT mampu meningkatkan keuntungan petani kooperator. Dengan demikian, secara finansial

    teknologi SITT kelapa-jagung manis-sapi layak diterapkan karena nilai B/C dan NKB lebih dari 1.

    KESIMPULAN

    Sistem integrasi tanaman kelapa-jagung manis-sapi menunjukan hasil yang positif, tetapi

    untuk pengembangan dalam skala besar diperlukan pengkajian menyeluruh dan multi-lokasi di

    Maluku Utara.

  • 12 Kelayakan usaha integrasi kelapa-jagung manis-sapi di lahan kering Maluku Utara

    DAFTAR PUSTAKA

    Adnyana, M.O. dan K. Kariyasa. 1995. Model Keuntungan Kompetitif Sebagai Alat Analisis Dalam

    Memilih Komoditas Unggulan Pertanian. Informatika Penelitian. Vol 5(2): 251-258

    BPS. 2014. Maluku Utara dalam Angka. Badan Pusat Statistik Propinsi Maluku Utara.

    BPTP Maluku Utara. 2009. Gelar Teknologi Jagung Hibrida Bima 5 di Maluku Utara. Laporan Akhir.

    BPTP Maluku Utara. 2015. Kajian Agribisnis Tanaman Kelapa (Teknologi Budidaya, Pengendalian

    OPT, dan Produk Olahan Kelapa). Laporan Akhir.

    Elly, FH., Sinaga, BM., Sri Utami Kuntjoro, AU., dan Nunung Kusnadi. 2008. Pengembangan Usaha

    Ternak Sapi Rakyat Melalui Integrasi Sapi Tanaman di Sulawesi Utara. Jurnal Litbang

    Pertanian, 27(2), 2008. Tersedia pada:

    http://www.pustaka.litbang.pertanian.go.id/publikasi/p3272084.pdf

    Fisher, K.S. dan A.F.E. Palmer. 1984. Jagung Tropik. CIMMYT, Mexico. Dalam R. Goigworthy dan

    N.M. Fisher (Ed.).Terjemahan Tohari, Penyunting Soedharoedjian. Fisiologi Tanaman

    Budidaya Tropika. Gadjah Mada University Press. hlm. 305-307.

    Hadi, Rustan. 2009. Teknik Optimalisasi Pemanfaatan Lahan di Antara Tanaman Kelapa di Daerah

    Pasang Surut Jambi. Buletin Teknik Pertanian Vol. 14 No. 1, 2009: 40-43.

    Hendaru, Indra H. et. al. 2011. Laporan Akhir Kegiatan Prima Tani Kabupaten Halmahera Barat.

    BPTP Maluku Utara.

    Kaat, H dan S.N. Dawis. 1986. Pengaruh Tanaman Sela Terhadap Produksi Kelapa. Jurnal Penelitian

    Kelapa (1): 34-36.

    Malia, IE., Paat, PC., Aryanto, dan Bahtiar. 2006. Kelayakan Sistem Usahatani Jagung-Ternak Sapi-

    Kelapa di Sulawesi Utara. Prosiding Pekan Serealia Nasional, 2010. Ha; 607-618. ISBN : 978-

    979-8940-29-3.

    Nataatmaja, H. 2004. Studi Pelaksanaan Pengembangan Sistem “Crop-Livestock” melalui BLM.

    Zurahman, N dan The, E. 2011. Pendugaan Bobot Badan Calon Pejantan Sapi Bali Menggunakan

    Dimensi Ukuran Tubuh. Buletin Peternakan Volume 35(3): 160-164.

    Paat, PC., dan Taulu, LA. 2006. Potensi dan Peluang Pengembangan Sistem Integrasi Jagung – Sapi di

    Sulawesi Utara. Lokakarya Nasional Pengembangan Jejaring Litkaji Sistem Integrasi

    Tanaman –Ternak. Hal 99-106.

    Price GJ 1972, Economic analysis of agricultural project. The economic development institute,

    Interbational Bank for reconstruction and development, The John Hopkins University Press,

    Baltimore and London. 221 p.

    Zuraida, R. 2010. Usaha tani Padi dan Jagung Manis pada Lahan Tadah Hujan untuk Mendukung

    Ketahanan Pangan di Kalimantan Selatan

    (Kasus di Kec. Landasan Ulin Kotamadya Banjarbaru). Prosiding Pekan Serealia Nasional,

    2010. Hal; 597-601. ISBN : 978-979-8940-29-3.

    http://www.pustaka.litbang.pertanian.go.id/publikasi/p3272084.pdf

  • 13

    STATUS PERKEMBANGAN PERTANIAN DALAM PEMBANGUNAN WILAYAH

    MALUKU UTARA

    Ahmad Yunan Arifin

    Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Maluku Utara.

    Jl. Komp. Pertanian Kusu Kec. Oba Utara Kota idore Kepulauan Maluku Utara

    Email: [email protected]

    ABSTRAK

    Saat ini telah terjadi kecenderungan penurunan kontribusi sektor pertanian terhadap struktur

    perekonomian di setiap wilayah. Kondisi ini disebabkan adanya fokus kebijakan dan implementasi

    pada kegiatan non pertanian pada struktur pembangunan wilayah. Kajian ini bertujuan untuk a).

    Mengidentifikasi karakteristik subsektor pertanian dalam pembangunan wilayah dan b). Menyusun

    strategi dalam mengoptimalisasi peran subsektor pertanian dalam pembangunan wilayah. Kajian

    dilakukan pada bulan Januari – April 2009 di provinsi Maluku Utara menggunakan data sekunder

    yang tersedia. Data dianalisis menggunakan pendekatan Shift Share Analysis (SSA) dan tipologi

    Klassen untuk mengidentifikasi kontribusi subsektor pertanian dalam pembangunan wilayah serta

    analisis deskriptif untuk mengetahui situasi dan permasalahan pembangunan pertanian. Hasil kajian

    menunjukkan adanya 7 (tujuh) akar permasalahan penurunan kontribusi sektor pertanian terhadap

    struktur perekonomian wilayah, yaitu a). keterbatasan infrastruktur dasar dan pertanian; b). Rendahnya

    produktivitas usaha tani; c). Rendahnya kapasitas kolektif petani; d). Rendahnya produktivitas kerja

    petani akibat akses pendidikan dan kesehatan yang rendah; e). Minimnya lapang usaha dan

    keterbatasan kemampuan pemanfataan peluang usaha; f). Pendekatan pembangunan birokratik dan

    sentralistik; dan g). Pelaksanaan manajemen pembangunan perdesaan bersifat egosektoral. Dalam hal

    ini, pendekatan kawasan berbasis gugus pulau diharapkan dapat mengoptimalkan pengelolaan

    sumberdaya alam dan penyediaan sumberdaya buatan untuk peningkatan produktivitas usaha

    pertanian. Pengembangan gugus pulau memperhatikan keseimbangan dan keberlanjutan ekologis,

    karakterisitik dan potensi pertanian wilayah, pengembangan pusat pertumbuhan dan pelayanan sarana

    ekonomi sosial, serta keterkaitan potensi masing-masing pulau secara fungsional dalam rangka

    memenuhi kebutuhan dan kehidupan ekonomi masyarakat pada suatu gugus pulau.

    PENDAHULUAN

    Hingga saat ini, pertanian dipandang sebagai suatu subsektor yang memilki kemampuan

    khusus dalam memadukan pertumbuhan dan pemerataan (growth with equity) di tingkat wilayah.

    Dalam hal ini, kesejahteraan masyarakat perdesaan dapat ditingkatkan dan kesenjangan perdesaan-

    perkotaan dapat dikurangi melalui optimalisasi pembangunan subsektor pertanian. Dengan demikian,

    keberhasilan pembangunan subsektor pertanian memiliki peran vital dalam mengurangi kemiskinan

    dan kesenjangan antar wilayah. Hal ini disebabkan pertumbuhan sektor pertanian memiliki

    kemampuan khusus untuk mengurangi kemiskinan. Berdasarkan estimasi lintas negara menunjukkan

    bahwa pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) yang dipicu oleh subsektor pertanian, minimal

    memiliki dua kali lebih efektif dalam mengurangi kemiskinan daripada pertumbuhan yang disebabkan

    oleh sektor di non pertanian (Bank Dunia, 2008). Pertumbuhan di sektor pertanian diyakini pula

    memiliki efek pengganda (multiplier effects) yang tinggi karena pertumbuhan di sektor ini mendorong

    pertumbuhan yang pesat di sektor-sektor perekomonian lain, misalnya di sektor pengolahan (agro-

    industry) dan jasa pertanian (agro-services).

    Ironisnya, saat ini telah terjadi kecenderungan penurunan kontribusi sektor pertanian terhadap

    struktur perekonomian di Maluku Utara. Kondisi ini tidak terlepas dari adanya beberapa titik lemah

    dalam kebijakan dan implementasi yang berkaitan dengan pembangunan ekonomi (termasuk

    pertanian). Pemerintah telah melakukan berbagai pendekatan pembangunan sektor pertanian seperti

  • 14

    pembangunan pertanian terpadu, pembangunan pertanian berwawasan lingkungan, dan pembangunan

    pertanian berwawasan agroindustri. Namun, upaya tersebut sampai saat ini belum menghasilkan

    pencapaian yang optimal. Dengan demikian, diperlukan sebuah pendekatan pemberdayaan alternatif

    yang mampu memberdayakan masyarakat pedesaan secara holistik dan sinergis. Berimbang antara

    aspek ekonomi, infrastruktur, sosial dan kelembagaan serta lingkungan hidup lewat pengembangan

    kawasan yang melingkupinya yang mampu membuka peluang melakukan sinergitas beragam kegiatan

    lebih yang dinamis dan produktif yang melibatkan partisipasi berbagai pihak dalam merespon

    ketidakberdayaan dan kemiskinan akut. Asumsi ini sejalan dengan pandangan dan pengalaman

    empirik bahwa partisipasi adalah jalan mencapai pemberdayaan (Sajogyo, 1977) yang tentu akan lebih

    efektif apabila didekati melalui kebijakan pengembangan kawasan perdesaan berbasis komunitas atau

    masyarakat.

    Berdasarkan permasalahan yang diuraikan di atas, maka tujuan kajian ini sebagai berikut: a).

    Mengidentifikasi karakteristik subsektor pertanian dalam pembangunan wilayah dan b). Menyusun

    strategi dalam mengoptimalisasi peran subsektor pertanian dalam pembangunan wilayah.

    METODE PENELITIAN

    Waktu dan Tempat

    Kajian dilakukan pada bulan Januari sampai dengan April 2009 dengan menganalisis data

    sekunder terkait di wilayah Maluku Utara.

    Pengumpulan Data

    Jenis data yang dikumpulkan terdiri dari data sekunder yang terdiri dari dokumen instansi terkait

    dan data Biro Pusat Statistik.

    Analisa Data

    Shift Share Analysis (SSA) merupakan suatu analisis ekonomi wilayah yang mengidentifikasi potensi

    dan daya saing perkembangan suatu program pembangunan wilayah. Persamaan yang digunakan

    adalah:

    ∆ 𝑌𝑖 = 𝑃𝑅𝑖𝑗 + 𝑃𝑃𝑖𝑗 + 𝑃𝑃𝑊𝑖𝑗

    Atau secara rinci dapat dinyatakan;

    𝑌′𝑖𝑗 − 𝑌𝑖𝑗 = ∆𝑌𝑖𝑗 = 𝑌𝑖𝑗 (𝑅𝑎 − 1) + 𝑌𝑖𝑗(𝑅𝑖 − 𝑅𝑎) + 𝑌𝑖𝑗 (𝑟𝑖 − 𝑅𝑖) ∆𝑌𝑖𝑗 = 𝑝𝑒𝑟𝑢𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑠𝑢𝑏𝑠𝑒𝑘𝑡𝑜𝑟 𝑝𝑒𝑟𝑡𝑎𝑛𝑖 𝑘𝑒 − 𝑖 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑤𝑖𝑙𝑎𝑦𝑎ℎ 𝑘𝑒 − 𝑗 Yij = PDRB subsektor pertanian ke-i pada provinsi ke-j pada tahun dasar analisis

    Y’ij = PDRB subsektor pertanian ke-i pada provinsi ke-j pada tahun akhir analisis

    Yi = PDRB subsektor pertanian ke i di seluruh wilayah penelitian pada tahun dasar

    analisis

    Y’i = PDRB subsektor pertanian ke i di seluruh wilayah penelitian pada tahun akhir

    analisis

    Y.. = PDRB seluruh subsektor pertanian pada tahun dasar analisis

    Y’.. = PDRB seluruh subsektor pertanian pada tahun akhir analisis

    Ra = Y’.. / Y..

    Ri = Y’i. / Yi.

    ri = Y’ij / Yij

    Tipologi Klassen. Analisis ini digunakan untuk mengetahui gambaran tentang pola pertumbuhan

    ekonomi daerah dengan klasifikasi sebagai berikut: (a) wilayah maju dan tumbuh cepat (ri > r dan yi <

    y); (b) wilayah maju dan tertekan (ri < r dan yi > y); (c) wilayah sedang tumbuh (ri > r dan yi < y); dan

    (d) wilayah yang relatif tertinggal (ri < r dan yi < y).

    Keterangan:

    ri = Laju pertumbuhan ekonomi PDRB wilayah i

    yi = PDRB perkapita wilayah i

  • 15

    r = Laju pertumbuhan PDRB wilayah referensi

    y = PDRB perkapita wilayah referensi

    HASIL PEMBAHASAN

    Kebijakan Pembangunan Maluku Utara

    Pertumbuhan ekonomi dan laju pertumbuhannya merupakan salah satu kebutuhan dalam

    rangka membangun perekonomian di daerah. Produk Domestik Bruto Regional (PDRB) merupakan

    salah satu indikator yang lazim digunakan untuk mengukur kinerja pembangunan ekonomi wilayah.

    Maluku Utara memiliki nilai PDRB sebesar 2.6 trilyun dengan rata-rata laju pertumbuhan selama

    periode tahun 2001 – 2008 yang cukup tinggi, yaitu 5,9%/th. Namun demikian, laju pertumbuhan ini

    tidak diiringi dengan perkembangan kualitas pembangunan ekonomi dan manusia yang cukup baik.

    Hal ini terlihat adanya ketimpangan ekonomi dan efisiensi pengelolaan sumber daya dalam

    pelaksanaan pembangunan di wilayah Maluku Utara.

    Ketimpangan Pembangunan

    Dalam hal distribusi ketimpangan pembangunan ekonomi, dapat diidentifikasi menurut

    aspeknya, yaitu dimensi sektoral, spasial, distribusi pendapatan dan pengeluaran. Dari dimensi

    sektoral, pada tahun 2008, sektor pertanian mampu memberikan kontribusi terbesar dalam PDRB

    Maluku Utara, yaitu sebesar 39,5 %. Namun demikian, sebagian besar laju pertumbuhan ini

    disumbang oleh sektor pertambangan (10.8%), bangunan (10.3%), serta pengangkutan dan komunikasi

    (8.9%). Sektor pertanian hanya memiliki laju pertumbuhan sebesar 4.7%. Seiring dengan tingginya

    jumlah keluarga pra sejahtera di perdesaan yang mencapai 96% dari total keluarga pra sejahtera (BPS,

    2008), fenomena ini menunjukkan adanya indikasi perhatian pemerintah daerah yang lebih besar pada

    subsektor non-pertanian, khususnya pertambangan, perdagangan, bangunan, serta pengangkutan dan

    komunikasi.

    Beradasarkan aspek spasial, kota Ternate merupakan penyumbang sumbangan terbesar dalam

    pembentukan PDRB Maluku Utara Tahun 2007 (19,3%), diikuti dengan kabupaten Halmahera Selatan

    (19,2%), Halmahera Utara (16,7%), Kep. Sula (11,4%), Tidore Kep. (9,1%), Halmahera Timur

    (8,3%), Halmahera Barat (8,0%), dan Halmahera Tengah (7,9%).

    Senada dengan hal tersebut, tipologi Klassen berdasarkan pertumbuhan ekonomi dan

    pendapatan per kapita memberikan informasi terkait pola pertumbuhan ekonomi antar wilayah. Hasil

    analisis memberikan gambaran bahwa tingginya ketimpangan pertumbuhan antar kabupaten/kota.

    Hanya Kota Ternate dan Kabupaten Halmahera Timur yang masuk dalam Wilayah Maju dan Tumbuh

    Cepat sedangkan Halmahera Tengah, Selatan, Utara, dan Tidore Kepulauan (Wilayah Maju Tetapi

    Tertekan) serta Halmahera Barat dan Kep Sula (Wilayah Relatif Tertinggal). Dalam teori ekonomi,

    adanya perbedaan tingkat kemajuan ekonomi antar kabupaten/kota yang besar menyebabkan pengaruh

    yang merugikan (backwash effects) terhadap pertumbuhan wilayah provinsi Maluku Utara. Perbedaan

    pertumbuhan wilayah yang cukup besar menyebabkan adanya perbedaan ketersediaan sumber daya

    yang dimiliki setiap wilayah sehingga pemilik modal (investor) cenderung memilih wilayah dengan

    pertumbuhan cepat karena tersedinya berbagai fasilitas pendukung usaha, meliputi prasarana

    perhubungan, jaringan listrik, jaringan telekomunikasi, perbankan, asuransi, dan ketersediaan tenaga

    terampil.

    Efisiensi Pembangunan Sumberdaya

    Pembangunan ekonomi dalam kerangka otonomi daerah menghendaki adanya pengelolaan dan

    penggunaan sumberdaya yang efisien untuk mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi daerah

    berdasarkan potensi dan karakteristik. Efisiensi pengelolaan sumberdaya dapat diuraikan dari efisiensi

    pendayagunaan sumberdaya fisik dan manusia serta sumberdaya alam.

    Penilaian efisiensi pendayagunaan aspek sumberdaya fisik menggunakan metode Shift Share

    Analysis (SSA) untuk memperoleh gambaran secara umum terkait efisiensi pendayagunaan

    sumberdaya fisik dan manusia di tingkat wilayah (Tabel 1). Metode SSA mengukur kegiatan ekonomi

  • 16

    pada seluruh sektor dengan memberikan asumsi adanya perubahan pendapatan dan produksi wilayah

    menurut tiga komponen pertumbuhan, yaitu pertumbuhan regional, proporsional, dan pangsa pasar.

    Tabel 1. Hasil Analisis SSA Wilayah Pusat Pertumbuhan Maluku Utara (Kota Ternate)

    N

    o

    Sektor Ternate Maluku Utara Pertumbuhan Pertum

    b

    Pangsa

    Pasar

    Th

    2005

    Th

    2007

    Th

    2005

    Th

    2007

    Region

    -al

    Propor

    si-onal

    1 Pertanian 55.717 61.745 792.67 870.19 6.585 -1.137 580

    2 Pertambangan

    dan Penggalian

    3.807 4.512 106.62 123.40 450 149 106

    3 Industri

    Pengolahan

    26.731 29.388 343.32 370.48 3.159 -1.045 542

    4 Listrik, Gas,

    dan Air

    6.447 6.725 11.177 12.625 762 73 -557

    5 Bangunan 13.662 16.657 33.574 40.704 1.615 1.287 94

    6 Perdagangan,

    Hotel, dan

    Resto

    141.25 161.08 540.69 619.28 16.695 3.837 -701

    7 Pengangkutan

    dan Kominukasi

    57.660 76.728 157.73 185.63 6.815 3.384 8.869

    8 Keuangan &

    Persewaan

    29.869 32.560 74.071 83.695 3.530 351 -1.190

    9 Jasa-jasa 79.941 89.260 176.92 195.14 9.448 -1.215 1.086

    TOTAL 415.08 478.65 2.236.

    8

    2.501.

    1

    49.060 5.684 8.828

    Sumber: BPS, 2008

    Kota Ternate, sebagai wilayah pusat pertumbuhan di Maluku Utara, memiliki pertumbuhan

    regional dan proporsional paling tinggi berada pada sektor perdagangan-perhotelan-restoran. Namun

    demikian, sektor pertanian termasuk dalam kategori pertumbuhan regional yang cepat tetapi masuk

    dalam kategori pertumbuhan proporsional yang tidak maju. Kedepannya, diperlukan pembenahan dan

    penguatan sistem agribisnis yang didukung dengan kebijakan yang kondusif, meliputi aspek

    pemasaran, kelembagaan, perpajakan dan subsidi untuk memajukan sektor pertanian Maluku Utara.

    Penilaian efisiensi pengelolaan aspek sumberdaya alam, pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi

    di Maluku Utara telah menimbulkan dampak negatif terhadap ketersediaan sumber daya alam dan

    kualitas lingkungan akibat kurang diperhatikannya faktor produksi, sosial, dan ekologi dalam

    pengelolaan SDA. Sebagai gambaran dapat diuraikan pengurasan tambang (dalam hal ini nikel) dan

    kayu sebagai primadona sumberdaya alam Maluku Utara. Berdasarkan Laporan Triwulan IV Bank

    Indonesia, terdapat peningkatan ekspor tambang nikel yang cukup signifikan selama tahun 2009

    hingga mencapai 43% di Maluku Utara. Diperkirakan ekspor ini akan terus meningkat seiring

    masuknya invetasi baru maupun ekspansi usaha dari dua perusahaan tambang besar yang ada, yaitu

    PT. NHM dan PT. Antam. Kedepannya, pertanian di kedua wilayah tersebut akan dihadapkan dengan

    permasalahan meningkatnya kerusakan lahan, menurunnya kesuburan dan produktivitas lahan,

    meluasnya lahan kritis, serta berkurangnya daya dukung lingkungan.

    Dengan diberlakukannya UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No.

    33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah

    memberikan kewenangan dan keleluasaan yang lebih luas bagi Pemerintah Kabupaten/Kota sebagai

    pelaksana dan promotor pembangunan di daerah untuk mengatur dan menentukan sendiri kegiatan

    pembangunan wilayah yang sesuai dengan prioritas kebutuhan masyarakat setempat. Strategi

    pembangunan yang dilaksanakan harus mengacu pada karakteristik yang dimiliki daerah sehingga

    mampu mendayagunakan potensi sumber daya manusia, sumber-sumber fisik serta kelembagaan local,

    baik formal maupun non formal.

  • 17

    Permasalahan Pembangunan Perdesaan

    Pada dasarnya, pembangunan yang efisien dan efektif dapat tercapai apabila mampu

    memanfaatkan sumberdaya yag terbatas untuk memberikan hasil yang maksimal, bermanfaat bagi

    masyarakat, dan merupakan upaya pemecahan masalah yang mendasar dan permanen sehingga dapat

    landasan yang kuat untuk pembangunan ke depan. Dalam hal ini, pembangunan di subsektor pertanian

    menghadapi permasalahan yang cukup kompleks, meliputi aspek sumberdaya alam, ekonomi, sosial,

    budaya, kelembagaan, pendidikan, kesehatan, dan politik. Atas dasar hal ini, perlu dilakukan

    penelusuran akar permasalahan dan kemudian membangun mulai dari akar permasalahan.

    Membangun dari akar permasalahan diharapkan dapat mengoptimalkan sumberdaya yang terbatas

    secara tepat untuk mendukung prioritas pembangunan yang memberikan manfaat secara luas.

    Menyelesaikan berbagai permasalahan yang muncul di “permukaan” hanya bersifat sementara dan

    tidak menyelesaikan akar permasalahan sehingga cenderung menimbulkan masalah baru yang lebih

    kompleks. Mengingat kompleksitas permasalahan, maka permasalahan pembangunan perdesaan

    dikelompokkan berdasarkan unsur-unsur di dalamnya, yaitu petani, pertanian, dan pelaksanaan

    pembangunan perdesaan.

    Petani

    • Sektor pertanian sebagai sumber penghasilan 82% keluarga di Maluku Utara belum mampu secara optimal memberikan kontribusi terhadap peningkatan pendapatan petani. Terbukti, hampir

    sebagian besar jumlah penduduk miskin di Maluku Utara (73% dari total penduduk miskin) berada

    di desa (BPS, 2007). Selain itu, terdapat kecenderungan tingginya rata-rata angka pengangguran

    di tingkat desa, yaitu sebesar 30 orang/desa (BPS, 2003).

    • Sektor pertanian yang identik sebagai sumber penghasilan utama di perdesaan, tidak mampu memberikan jaminan kelangsungan hidup bagi masyarakat. Data menunjukkan bahwa rata-rata

    jumlah penduduk yang “keluar” desa (urbanisasi) sebanyak 3 orang/desa/tahun. Kota Ternate

    sebagai wilayah pusat pertumbuhan di Maluku Utara, merupakan daerah tujuan utama urbanisasi

    dengan rata-rata jumlah penduduk yang datang per kelurahan di kota Ternate, sebanyak 22 org

    dalam kurun waktu 1 tahun (2008). Hal ini menggambarkan sektor pertanian tidak mampu

    memberikan jaminan kelangsungan lapangan kerja sehingga seiring dengan terjadinya urbanisasi,

    maka terjadi perubahan sumber penghasilan utama masyarakat dari petani ke non pertanian (BPS,

    2008).

    • Kualitas SDM dapat diukur melalui Nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dengan mempertimbangkan hubungan antara faktor penghasilan dan kesejahteraan. Nilai Indeks

    Pembangunan Manusia (IPM) Maluku Utara selama kurun waktu 3 tahun (2006-2008) cukup

    rendah, yaitu 67,82-68,8 dengan rata-rata nasional sebesar 70,1-71,2 (BPS, 2008). Kondisi ini

    menjadi penyebab rendahnya produktivitas kerja sebagian besar masyarakat, termasuk didalamnya

    petani, cukup rendah.

    • Tingkat produktivits kerja dipengaruhi oleh status kesehatan dan kemampuan askses masyarakat terhadap pendidikan. Dalam hal ini, masyarakat Maluku Utara memiliki tingkat kerentanan yang

    tinggi terhadap berbagai wabah penyakit (muntaber,demam berdarah, dan TBC) dengan rata-rata

    penderita berjumlah 2,5 orang/desa/th (BPS, 2008). Selain itu, berdasarkan pola pengeluaran

    pendapatan masyarakat, hanya sebagian kecil pendapatan masyarakat di perdesaan yang

    dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dan kesehatan, yaitu sebesar 4.4%. Dengan

    demikian, perlu adanya upaya peningkatan pendapatan masyarakat dalam rangka mewujudkan

    peningkatan kualitas sumberdaya manusia di tingkat masyarakat, khususnya di perdesaan (Susenas,

    2005).

    Produktivitas Pertanian

    • Keragaan produktivitas seluruh komoditas pertanian di Maluku Utara masih jauh dibawah standar nasional, kecuali tanaman cengkeh. Standar produktivitas nasional tanaman cengkeh adalah 480 –

    800 kg/ha sedangkan tingkat produktivitas cengkeh di Maluku Utara sebesar 547 kg/ha. Ironisnya,

    produktivitas cengkeh yang merupakan tanaman asli Maluku Utara ini memiliki nilai yang lebih

    rendah dibandingkan provinsi Nangroe Aceh Darussalam, yaitu sebesar 632 kg/ha.

  • 18

    • Hal yang sama terlihat dari rendahnya pola diversifikasi usaha tani. Secara nasional. Rata-rata jumlah industri pengolahan makanan skala kecil/rumah tangga di tingkat desa sangat rendah, yaitu

    3 vs 9 industri/desa (BPS, 2008) . Dengan demikian, produktivitas usaha tani yang rendah diikuti

    dengan aktivitas nilai tambah yang juga rendah akibat kegiatan agroindustri di perdesaan yang

    belum optimal.

    • Produktivitas usaha tani memerlukan kemudahan akses terhadap invasi teknologi di wilayah perdesaan sehingga mampu membuka kesempatan bagi penyaluran informasi ke komunitas

    pedesaan, memperbaiki hubungan antar penelitian dan penyuluhan, serta mendukung

    pengembangan daerah pedesaan. Ketersediaan kelembagaan petani dan media informasi

    masyarakat desa yang relatif rendah, yang terlihat dengan keberadaan kegiatan penyuluhan yang

    hanya berada di 137 desa (17,8%); keberadaan kelompok tani 412 desa (53,6%); dan keberadaan

    kegiatan sosial-keagamaan 474 desa (61,7%) (BPS, 2003). Kondisi ini berakibat lemahnya upaya

    dukungan peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi tantangan dan peluang di tingkat

    desa. Selain itu, masih minimnya penerapan inovasi teknologi pertanian memerlukan upaya khusus

    peningkaatan adopsi inovasi teknologi melalui berbagai saluran diseminasi yang tersedia di tingkat

    wilayah.

    Pembangunan Perdesaan

    • Terdapat indikasi perhatian pemerintah yang lebih besar pada sektor non-pertanian, khususnya pertambangan, bangunan, serta pengangkutan dan komunikasi. Provinsi Maluku Utara memiliki

    nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar 2.6 trilyun pada tahun 2008 dengan

    subsektor pertanian memberikan kontribusi sebesar 37,5%. Namun demikian, sebagian besar laju

    pertumbuhan ini disumbang oleh sektor pertambangan (10.8%), bangunan (10.3%), serta

    pengangkutan dan komunikasi (8.9%). Subsektor pertanian hanya memiliki laju pertumbuhan

    sebesar 4.7%.

    • Keterbatasan infrasturktur dasar dan infrastruktur pertanian (jaringan irigasi, modal dan pemasaran produksi) mengakibatkan ketidakberdayaan masyarakat petani secara ekonomi. Kondisi

    infrastruktur dasar, dalam hal ini jalan dan listrik di tingkat perdesaan menunjukkan hanya sebesar

    62% jenis jalan utama desa merupakan jalan aspal dan 38% merupakan jenis jalan batu maupun

    tanah. Jumlah keluarga yang mampu mengakses listrik untuk mendukung kegiatan ekonomi dan

    kebutuhan dasar keluarga hanya sebesar 59%. Kondisi infrastruktur pertanian, dalam hal ini

    jaringan irigasi, hanya sebesar 20% lahan sawah merupakan lahan berpengairan teknis. Kondisi ini

    menunjukkan minimnya ketersediaan infrastruktur yang dapat mendukung aktivitas ekonomi

    masyarakat.

    • Kemampuan dan kemudahan akses petani terhadap permodalan dan pasar juga cukup rendah, yang ditunjukkan dengan kecilnya jumlah desa yang menerima fasilitas kredit untuk petani (KKP, KUK,

    KPR, dll), yaitu hanya sebesar 36% dari seluruh desa yang ada; kecilnya jumlah keberadaan

    lembaga keuangan di tingkat desa, yaitu 8% dari seluruh desa yang ada; dan rata-rata jarak desa ke

    pasar cukup jauh, yaitu sebesar 26,3 km (BPS, 2008). Dari aspek sarana produksi (mesin produksi),

    rata-rata jumlah kepemilikan mesin pengolah hasil pertanian di tiap desa (mesin pengolah padi,

    jagung, dan atau ubi kayu) hanya sebesar 2 unit/desa (BPS, 2003).

    • Tersebarnya program/kegiatan antar sektor di berbagai wilayah desa di Maluku Utara sehingga dampak masing-masing program/kegiatan terhadap pertumbuhan wilyah/desa tidak optimal.

    Berbagai program/kegiatan telah masuk di tingkat desa, dengan rincian program/kegiatan dari

    pemerintah kabupaten/kota; pemerintah pusat; serta sumber dana luar negeri, swasta dan sumber

    lainnya masing-masing 90%; 33%; 43%; serta 27% dari seluruh desa yang ada di Maluku Utara

    (BPS, 2008).

    Strategi Optimalisasi Subsektor Pertanian

    Merujuk kondisi diatas, dapat dipastikan masyarakat dan desa akan terus menghadapi

    ketidakberdayaan dalam pembangunan pertanian. Dalam hal ini, pembangunan di subsektor pertanian

    menghadapi permasalahan yang cukup kompleks, meliputi aspek sumberdaya alam, ekonomi, sosial,

    budaya, dan kelembagaan. Atas dasar hal ini, maka strategi optimalisasi subsektor pertanian dalam

    pembangunan wilayah diharapkan mampu mempertimbangkan akar permasalahan pembangunan

  • 19

    pertanian dan perdesaan. Menyelesaikan berbagai permasalahan yang muncul di “permukaan” hanya

    bersifat sementara sehingga cenderung menimbulkan masalah baru yang lebih kompleks. Oleh karena

    itu, membangun dari akar permasalahan diharapkan dapat mengoptimalkan sumberdaya yang terbatas

    secara tepat untuk mendukung prioritas pembangunan yang memberikan manfaat secara luas.

    • Pertama, masyarakat dan desa menghadapi terbatasnya ketersediaan infrastruktur dasar dan infrastruktur pertanian sehingga masyarakat relatif kurang mampu memanfaatkan peluang usaha

    yang ada. Diperlukan upaya pemberdayaan wilayah berbasis gugus pulau dalam penyediaan

    infrastruktur pendukung usaha di tiap wilayah.

    • Kedua, produktivitas dan produksi usaha tani di tingkat petani sangat rendah di seluruh subsektor pertanian. Kondisi ini menyebabkan rendahnya tingkat penerimaan pendapatan petani yang

    diterima oleh petani. Diperlukan upaya peningkatan produktivitas usaha tani melalui penerapan

    inovasi teknologi dan peningkatan nilai tambah petani melalui pemanfaatan peluang diversifikasi

    usaha. Peningkatan adopsi inovasi teknologi dilakukan dengan mengintensifkan penyuluhan

    berbasis potensi dan permasalahan pertanian di tiaap wilayah.

    • Ketiga, masyarakat petani di perdesaan dengan kondisi perekonomian yang belum baik, sangat rentan terhadap berbagai penyakit, gizi buruk dan sekarang semakin sangat tidak berdaya untuk

    akses kepada pendidikan dan kesehatan dasar. Kondisi ini berpengaruh terhadap kinerja dan

    produktivitas petani di perdesaan. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan pelayanan pendidikan

    dan kesehatan yang baik hingga ke tiap wilayah. Seiring dengan meningkatnya aksesibilitas antar

    wilayah melalui pendekatan pembangunan berbasis gugus pulau maka layanan pendidikan dan

    kesehatan dapat disediakan pada pusat-pusat pertumbuhan yang terdapat pada setiap gugus pulau.

    • Keempat, kapasitas kolektif masyarakat desa terus menurun dalam merespon tantangan dan memanfaatkan peluang yang ada di desa. Gejala yang tumbuh adalah kecenderungan masyarakat

    tidak berminat menemukenali dan mengelola potensi sumberdaya yang ada di desa tempat

    tinggalnya secara kreatif dan produktif untuk kesejahteraan bersama. Masyarakat cenderung

    meninggalkan desa menuju wilayah perkotaan yang berimplikasi pada perubahan sumber

    penghasilan dari pertanian sebagai basis keahlian ke non pertanian. Oleh karena itu, diperlukan

    penguatan kelembagaan petani melalui pemberdayaan kelompok tani yang telah tumbuh di tingkat

    masyarakat, seperti kelompok pengajian, perkumpulan PKK, dan kelembagaan adat. Dalam hal ini,

    peningkatan kemampuan petani dilakukan secara kolektif agar mampu memahami potensi dan

    permasalahan serta rencana aksi secara bersama dalam meningkatkan produktivitas usaha pertanian

    di tiap wilayah.

    • Kelima, terjadi degradasi sumberdaya alam dan kerusakan lingkungan akibat eksploitasi sumberdaya alam. Kondisi ini berakibat menurunnya daya dukung wilayah dalam memenuhi

    kebutuhan hidup dan kehidupan masyarakat di suatu wilayah. Diperlukan upaya program pertanian

    padat karya yang mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja di perdesaan. Hal ini diharapkan

    dapat mengurangi tingkat urbanisasi yang relatif tinggi di Maluku Utara.

    • Keenam, pendekatan pembangunan birokratik dan sentralistik melalui bantuan program/kegiatan di tingkat desa, menyebabkan masyarakat desa memiliki ketergantungan pada pihak luar dalam

    melaksanakan aktivitas usaha. Bahkan, dalam kasus-kasus tertentu, pola pembangunan ini telah

    melemahkan kearifan lokal dan pranata sosial (kelembagaan adat) yang mampu memberikan solusi

    dalam pemecahan berbagai persoalan di tingkat desa. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan

    pembangunan pertanian partisipatif sehingga petani dapat melaksanakan program pembangunan

    pertanian sesuai dengan potensi dan kebutuhan masyarakat serta monitoring pelaksanaan kegiatan

    melalui kelembagaan lokal yang ada di tingkat masyarakat.

    • Ketujuh, pelaksanaan manajemen pembangunan perdesaan masih bersifat egosektoral. Belum adanya mekanisme pengaturan intervensi berbagai pihak dalam mendukung pengembangan

    perdesaan, khususnya untuk subsektor pertanian. Oleh karena itu, pendekatan pembangunan

    pertanian berbasis gugus pulau diharapkan dapat mengoptimalkan ketersediaan sumberdaya yang

    ada pada instansi yang berbeda. Dengan demikian, diharapkan dapat tercapai efisiensi pemanfataan

    sumberdaya utama dan pendukung dalam mendukung kegiatan pertanian di tiap wilayah.

  • 20

    KESIMPULAN

    Kualitas dan kuantitas pertumbuhan ekonomi wilayah cenderung mengalami penurunan akibat

    terjadi penurunan kontribusi subsektor pertanian terhadap struktur perekonomian di wilayah Maluku

    Utara. Kondisi ini disebabkan adanya kelemahan dalam kebijakan dan implementasi yang berkaitan

    dengan pembangunan ekonomi, termasuk subsektor pertanian. Dengan demikian, diperlukan sebuah

    pendekatan pemberdayaan alternatif yang mampu memberdayakan masyarakat pedesaan secara

    sinergis antara aspek ekonomi, infrastruktur, sosial dan kelembagaan melalui pengembangan kawasan

    sehingga petani mampu mengoptimalkan peluang usaha pertanian yang produktif. Dalam hal ini,

    pendekatan kawasan berbasis gugus pulau diharapkan dapat mengoptimalkan pengelolaan sumberdaya

    alam dan penyediaan sumberdaya buatan untuk peningkatan produktivitas usaha pertanian.

    Pengembangan gugus pulau memperhatikan keseimbangan dan keberlanjutan ekologis, karakterisitik

    dan potensi pertanian wilayah, pengembangan pusat pertumbuhan dan pelayanan sarana ekonomi

    sosial, serta keterkaitan potensi masing-masing pulau secara fungsional dalam rangka memenuhi

    kebutuhan dan kehidupan ekonomi masyarakat pada suatu gugus pulau.

    DAFTAR PUSTAKA

    Badan Pusat Statistik (BPS), 2012. Maluku Utara Dalam Angka. BPS. Ternate.

    Badan Pusat Statistik (BPS), 2011. Potensi Desa. BPS. Jakarta.

    Badan Pusat Statistik (BPS), 2003. Potensi Desa. BPS. Jakarta.

    Bulohlabna, C. 2008. Tipologi dan pengaruh infrastruktur terhadap pertumbuhan ekonomi kawasan

    timur indonesia. Departemen Ilmu Ekonomi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

    Chambers, R. 1995. “Poverty and Livelihoods: Whose Reality Counts?” IDS Discussion Paper 347,

    1995.

    Cheyne, Christine, Mike O’Brien dan Michael Belgrave. 1998. Social Policy in Aotearoa New

    Nealand: A Critical Introduction, Auckland: Oxford University Press. Hal 91 dan 97).

    Delis, A. 2008. Peran infrastruktur sebagai pendorong dinamika ekonomi sektoral dan regional

    berbasis pertanian. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor

    Edi Suharto. “Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung. Konsep dan Strategi

    Pengentasan Kemiskinan menurut Perspektif Pekerjaan Sosial”.

    (http://www.policy.hu/suharto/makIndo15.html, 11 april 2005).

    Hardono, S.G., 2002. Dampak perubahan faktor-faktor ekonomi terhadap ketahanan pangan rumah

    tangga pertanian. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

    La Ode Samsul Barani. 2009. Analisis Spasial Untuk Perumusan Kebijakan Pengembangan Kawasan

    Pulau-Pulau Kecil. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.

    Manafi R. 2003. Rancangbangun pengelolaan pulau-pulau kecil berbasis pemanfaatan ruang. Program

    Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor

    Renata Lok-Dessallien. “Review of Poverty Concepts and Indicators”.

    (http://www.undp.org/poverty/publications/pov_red/Review_of_Poverty_Concepts.pdf., 11 Mei

    2005).

    Rustiadi, E. 2001. Perencanaan Wilayah Di Dalam Mengatasi Kerusakan Lingkungan Dan Disparitas

    Antar Wilayah Di Era Otonomi Daerah1. Makalah. Diskusi Program Certification, Environment

    Justice And Natural Asset. Lembaga Alam Tropika Indonesia. Bogor.

    Sajogyo. 1977. Golongan Miskin dan Partisipasi dalam Pembangunan Desa. Majalah Prisma No. 3

    Maret 1977. Hal. 10-17.

    Sumarto, Sudarno, Syaikhu Usman, and Sulton Mawardi (1997) Peran Sektor Pertanian dalam

    Penanggulangan Kemiskinan: Mengikutsertakan Petani dalam Proses Penyusunan Kebijakan;

    dalam Agriculture Sector Strategy Review. Jakarta: Ministry of Agriculture Republic of Indonesia

    http://www.policy.hu/suharto/makIndo15.html,%2011%20april%202005http://www.undp.org/poverty/publications/pov_red/Review_of_Poverty_Concepts.pdf

  • home | Error! No text of specified style in document. 21

    PENGEMBANGAN KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI MELALUI OPTIMALISASI

    LAHAN PEKARANGAN

    DI KELURAHAN SASA, KOTA TERNATE

    Agus Hadiarto1) dan Chris Sugihono1) 1)Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Maluku Utara

    Komplek Pertanian Kusu No. 1, Oba Utara, Kota Tidore Kepulauan

    e-mail: [email protected]

    ABSTRAK

    Kota Ternate sebagai Kota perdagangan dan merupakan salah satu daerah di Provinsi Maluku Utara

    yang membutuhkan perhatian yang sangat serius untuk mengatasi ketergantungan pangan yang tinggi

    seperti daging ayam, telur, sayuran, dan beras dari wilayah lain. konsidi cuaca yang buruk di lautan

    mengakibatkan pasokan komoditas pangan terganggu dan berdampak pada kenaikan harga pangan

    yang tinggi, sehingga dapat memicu gangguan stabilitas pangan di Kota Ternate. Model Kawasan

    Rumah Pangan Lestari (KRPL) merupakan salah satu program Kementerian Pertanian yang dapat

    mewujudkan ketahanan pangan ditingkat rumah tangga.

    Kegiatan pengembangan KRPL Kota Ternate berlangsung pada bulan Januari - Desember 2012.

    Lokasi kegiatan dilaksanakan di Kelurahan Sasa, Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate. Ruang

    lingkup kegiatan meliputi: (1) Persiapan dengan melakukan survey dan koordinasi kegiatan dengan

    instansi terkait; (2) Sosialisasi Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL); (3) Pembentukan

    kelompok dan pemilihan komoditas secara partisipatif; (4) Pembangunan kebun bibit desa (KBD) dan

    pembuatan media tanam di KBD; (5) Pembuatan media tanam untuk pekarangan RPL; (6) Pelatihan

    teknis budidaya; (7) Penataan landscape pekarangan RPL berdasarkan strata; (8) Pendampingan

    perawatan tanaman dan lahan pekarangan; (9) Musyawarah untuk mengatasi masalah dan menemukan

    solusi bersama; (10) Pendampingan pemasaran hasil pertanian; (11) Replikasi model.

    Pola pengembangan kegiatan terbagi menjadi tiga kelompok sasaran yaitu rumah tangga dengan luas

    pekarangan kurang dari 120 m2, antara 120 sampai 400 m2, dan lebih dari 400 m2. Kegiatan KRPL

    Ternate 2012 diikuti oleh 25 orang petani kooperator yang rumahnya saling berdekatan dalam satu

    kawasan RT 003, Kelurahan Sasa. Hasil survey penentuan lokasi, RT 003 Kelurahan Sasa terpilih

    sebagai tempat lokasi, karena masyarakatnya memiliki kemauan yang tinggi untuk mengembangkan

    pola KRPL. Kebun bibit KRPL Kota Ternate seluas 3,5 x 7 m2 digunakan secara maksimal dengan

    rumah naungan pembibitan seluas 3 x 4 m2. Tanaman yang diusahakan oleh RPL terdiri dari 12 jenis

    komoditas tanaman sayuran, 3 komoditas tanaman pangan, 10 komoditas tanaman buah, dan 2

    komoditas peternakan.

    Tiga masalah utama yang membatasi kegiatan dan telah diatasi adalah (1) adanya kambing yang

    berkeliaran di sekitar pekarangan; (2) Curah hujan terlalu banyak yang menyebabkan banyak penyakit;

    dan (3) kesulitan mendapatkan tanah sebagai media tanam di polibag. Hama dan penyakit yang

    umumnya menyerang adalah hama ulat penggorok daun, hama thrips dan tungau, hama ulat grayak,

    penyakit bercak daun akibat jamur, dan penyakit akibat virus. KRPL Kota Ternate telah tereplikasi

    secara luas di Kota Ternate yang didukung dengan Surat Keputusan Walikota Ternate No. 1 Tahun

    2012 dan adanya kunjungan Menteri Pertanian RI.

    Kata kunci: Optimalisasi lahan, KRPL, Kebun bibit, pekarangan

    PENDAHULUAN

    Kota Ternate merupakan salah satu daerah di Provinsi Maluku Utara yang membutuhkan

    perhatian untuk mengatasi masalah pangan. Sebagai Kota perdagangan, saat ini Ternate masih sangat

    tergantung dari daerah atau wilayah lainnya untuk ketersediaan daging ayam, telur, sayuran, dan beras.

    Pasokan komoditas pangan tersebut diperoleh melalui jalur transportasi laut yang sangat dipengaruhi

  • oleh faktor cuaca dan musim. konsidi cuaca yang buruk di lautan mengakibatkan pasokan komoditas

    pangan terganggu dan berdampak pada kenaikan harga pangan yang tinggi, bahkan ketersediaan suatu

    komoditas dapat mencapai titik nol.

    Menurut BPS Maluku Utara (2008), sektor pertanian di Kota Ternate hanyalah sektor pendukung

    bagi struktur perekonomian Kota Ternate yang didominasi oleh sektor perdagangan dan jasa yang

    berkontribusi sebesar 32,06 % dan 19,75%, sedangkan sektor pertanian menempati posisi ke-4

    sebesar 13,14%. Walaupun hanya sektor pertanian sebagai sektor pendukung, gangguan pada

    ketersediaan komoditas pangan dapat mengakibatkan gangguan stabilitas ekonomi secara keseluruhan,

    karena berkaitan dengan permasalahan pangan dan kehidupan masyarakat Kota Ternate.

    Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) merupakan salah satu program Kementerian

    Pertanian yang merupakan solusi untuk mewujudkan ketahanan pangan ditingkat rumah tangga.

    Melalui pemanfaatan pekarangan yang ada disekitar rumah dengan komoditas pangan seperti sayuran,

    buah-buahan, peternakan ayam, perikanan kolam, serta tanaman obat diharapkan mampu

    meningkatkan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga.

    Budaya bertanam di pekarangan rumah dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan gizi

    keluarga. Pemanfaatan pekarangan untuk bertanam sayuran maupun pangan lainnya juga menambah

    estetika rumah. Selain itu, hasil panen di pekarangan rumah dapat mengurangi belanja rumah tangga,

    bahkan dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga. Jika pemanfaatan pekarangan dikelola secara

    kelompok melalui kelembagaan yang ada, maka secara tidak langsung dalam jangka panjang produksi

    pangan di pekarangan dapat memenuhi kebutuhan pangan di Kota Ternate (Agus Hadiarto dkk, 2012).

    Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Maluku Utara pada Tahun 2011 melaksanakan

    kegiatan M-KRPL di Kota Tidore Kepulauan. Tahun 2012 kegiatan M-KRPL dikembangkan menjadi

    8 lokasi terdiri dari Kota Tidore Kepulauan, Kota Ternate, Kabupaten Halmahera Utara, Kab.

    Halmahera Barat, Kab. Halmahera Tengah, Kab. Halmahera Timur, Kab. Halmahera Selatan, dan

    Kab. Morotai. Model KRPL di Kota Ternate secara khusus ditempatkan di Kelurahan Sasa, di

    Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate yang secara teknis sumberdaya lahan masih relatif cukup

    baik untuk dikembangkan kawasan rumah pangan lestari agar mendukung ketahanan pangan serta

    peningkatan gizi dan pendapatan rumah tangga.

    Konsep dan Pemahaman

    Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL)

    M-KRPL adalah sebuah model pengembangan himpunan rumah pangan lestari (RPL). RPL

    merupakan rumah penduduk yang memanfaatkan lahan pekarangan secara intensif dengan prinsip

    ramah lingkungan dan berkelanjutan. RPL dirancang untuk menjamin penyediaan bahan pangan

    keluarga yang bergizi dan beragam serta untuk mengurangi pengeluaran belanja rumah tangga dan

    sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga.

    Untuk mencapai kesinambungan pemanfaatan pekarangan, kawasan tersebut dilengkapi dengan

    Kebun Bibit Desa (KBD) untuk menyediakan bibit bagi RPL yang dikelola oleh masyarakat secara

    partisipatif dengan dukungan kelembagaan KBD, unit pengolahan hasil, dan unit pemasaran.

    Kawasan Rumah Pangan Lestari menganut prinsip-prinsip yaitu pemanfaatan lahan pekarangan

    sesuai dengan kondisi lahan setiap rumah tangga, pemanfaatan potensi kawasan yang belum digarap,

    namun secara teknis menguntungkan, mengintroduksikan teknologi baru untuk mengatasi beberapa

    keterbatasan tertentu yang ada pada rumah tangga, selain diharapkan dapat memenuhi kebutuhan

    pangan dan gizi keluarga, pengembangan RPL tetap mempertimbangkan efisiensi. Sebab, jika efisiensi

    diabaikan, dikhawatirkan faktor “lestari” akan sulit dicapai, atau secara laten merugikan rumah

    tangga/masyarakat dalam kawasan, arahan pemanfaatan lahan pekarangan yang diberikan bersifat

    dinamis, partisipatif dan berwawasan kawasan, disesuaikan dengan keinginan atau pandangan

    anggota rumah tangga, serta dinamika sosial-ekonomi setempat, dan perlu dibarengi dengan

    pembangunan/penguatan infrastruktur sosial (kelompok, forum, dan pemasaran hasil).

    Tujuan pengembangan model KRPL adalah: (a) Memenuhi kebutuhan pangan dan gizi

    keluarga dan masyarakat melalui optimalisasi pemanfataan pekarangan secara lestari; (b)

    Meningkatkan kemampuan keluarga dan masyarakat dalam pemanfaatan lahan pekarangan di

    perkotaan maupun perdesaan untuk budidaya tanaman pangan, buah, sayuran dan tanaman obat

  • home | Error! No text of specified style in document. 23

    keluarga (toga), pemeliharaan ternak dan ikan, pengolahan hasil serta pengolahan limbah rumah

    tangga menjadi kompos; (c) Mengembangkan sumber benih/bibit untuk menjaga keberlanjutan

    pemanfaatan pekarangan dan melakukan pelestarian tanaman pangan lokal untuk masa depan dan; (d)

    Mengembangkan kegiatan ekonomi produktif keluarga sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan

    keluarga dan menciptakan lingkungan hijau, bersih, dan sehat secara mandiri. Sementara sasaran yang

    ingin dicapai model KRPL ini adalah peningkatan kemampuan keluarga dan masyarakat secara

    ekonomi dan sosial dalam memenuhi kebutuhan pangan dan gizi secara lestari, menuju keluarga dan

    masyarakat yang sejahtera (Kementerian Pertanian, 2011).

    METODOLOGI

    Kegiatan pengembangan kawasan RPL dilaksanakan selama Januari - Desember 2012. Lokasi

    kegiatan dilaksanakan Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara pada suatu kelurahan yang akan

    ditetapkan setelah melakukan survey dan penetapan calon anggota RPL dan calon lokasi kegiatan.

    Bahan yang digunakan dalam kegiatan ini terbagi dalam 4 bagian besar yaitu benih, pupuk,

    obat-obatan, dan bambu atau kayu. Benih yang digunakan ditentukan oleh calon anggota RPL secara

    partisipatif. Pupuk yang digunakan terdiri dari urea, NPK, pupuk organik, zat pengatur tumbuh (ZPT),

    dan pupuk cair. Obat-obatan yang digunakan ditentukan berdasarkan kebutuhan dengan konsep

    pengendalian hama terpadu (PHT). Bambu atau kayu digunakan untuk membuat vertikultur, kebun

    bibit desa (KBD), dan pagar pekarangan.

    Peralatan yang digunakan seperti parang, cangkul, handsprayer, minisprayer, gergaji, paku,

    meteran, paranet atau kofo, meteran, GPS, kamera, cetok, ember, dan alat tulis kantor.

    Ruang lingkup kegiatan meliputi: (1) Persiapan dengan melakukan survey dan koordinasi

    kegiatan dengan instansi terkait; (2) Sosialisasi Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL);

    (3) Pembentukan kelompok dan pemilihan komoditas secara partisipatif; (4) Pembangunan kebun bibit

    desa (KBD) dan pembuatan media tanam di KBD; (5) Pembuatan media tanam untuk pekarangan

    RPL; (6) Pelatihan teknis budidaya; (7) Penataan landscape pekarangan RPL berdasarkan strata; (8)

    Pendampingan perawatan tanaman dan lahan pekarangan; (9) Musyawarah untuk mengatasi masalah

    dan menemukan solusi bersama; (10) Pendampingan pemasaran hasil pertanian; (11) Replikasi model.

    Persiapan Kegiatan

    Persiapan kegiatan meliputi Survey lokasi, koordinasi kegiatan dengan instansi terkait, dan

    penentuan calon kawasan. Survey di Kota Ternate dilakukan di enam tempat, yaitu Kel. Jambula, Kel.

    Sasa, Kel. Gambesi, Kel. Tobololo, Kel. Tarau, dan Kel. Salero. Seluruh tempat yang telah disurvey

    menunjukkan rumah yang memiliki karakteristik pekarangan dengan strata rata-rata tidak lebih dari

    120 m2. Penduduk di Kota Ternate tidak selalu memiliki pagar untuk membatasi pekarangan

    rumahnya. Akan tetapi pekarangan rumah-rumah di Ternate terlihat bersih dan rapih.

    Dari keenam lokasi yang disurvey, Kel. Sasa memiliki potensi lahan untuk dimanfaatkan

    sebagai tempat kegiatan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Di Kel. Sasa, ada gabungan

    kelompok tani (Gapoktan) Tumpang Sari yang memiliki anggota berjumlah 300 orang. Di antaranya

    terdapat 61 orang petani yang bergabung mengelola usahatani sayuran (bayam, caisim, dan kangkung)

    dalam satu hamparan lahan seluas 4 ha.

    Koordinasi dengan instansi terkait dilakukan pada empat institusi yaitu (1) Dinas Pertanian,

    Perkebunan, dan Kehutanan Kota Ternate, (2) Tim Penggerak PKK Pokja III Kota Ternate yang

    memiliki program yang sama menyangkut optimalisasi lahan pekarangan di tiap rumah, (3) Badan

    Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (BP4K) Kota Ternate sekaligus Balai

    Penyuluhan Pertanian (BPP) Ternate Selatan, Kota Ternate, (4) Pemerintah Kelurahan Sasa, Kota

    Ternate. Seluruh instansi tersebut mendukung KRPL Kota Ternate dilaksanakan di Kelurahan Sasa,

    Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate.

    Berdasarkan hasil survey lokasi dan dukungan instansi terkait, Kelurahan Sasa, Kecamatan

    Ternate Selatan, Kota Ternate ditetapkan sebagai Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) Kota

    Ternate Tahun 2012 dengan memenuhi kriteria sebagai berikut: (1) Kelurahan Sasa memiliki letak

  • yang mudah dijangkau dengan akses jalan dan sarana transportasi yang memadai; (2) Seluruh rumah

    memiliki pekarangan dengan pendekatan berbasis perdesaan berdasarkan luas pekarangan; (3)

    Antusiasme masyarakat untuk mengoptimalkan lahan pekarangannya; (4) Lokasi yang dipilih berada

    pada satu kawasan yang berada di RT 003, Kelurahan Sasa, Kota Ternate; (5) Sebagian besar

    pekarangan sudah dibuatkan pagar yang dapat melindungi tanaman pekarangan dari gangguan

    binatang ternak; (6) Masyarakat yang belum memiliki pagar pada lahan pekarangannya bersedia untuk

    membuat pagar sendiri; (7) Adanya dukungan yang besar dari instansi terkait; dan (8) Adanya

    dukungan kelembagaan, seperti gapoktan, toko saprodi milik gapoktan, pedagang pengumpul, dan

    Balai Penyuluhan Pertanian (BPP).

    Karakteristik Lokasi Kegiatan

    Lokasi Kegiatan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) Kota Ternate Tahun 2012 berada di

    RT 003, Kelurahan Sasa, Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate. Kelurahan Sasa dengan luas

    wilayah 436,48 km2 berbatasan sebelah timur dengan Selat Ternate, sebelah barat dengan Gunung

    Gamalama, sebelah Utara dengan Kelurahan Gambesi, dan sebelah Selatan dengan Kelurahan

    Jambula.

    Kelurahan Sasa didominasi oleh tanah jenis regosol dan tekstur tanah vulkanis dan ketinggian

    sampai 700 m dpl. Kedalaman air tanah cukup dangkal antara 2 sampai 10 m. Curah hujan tergolong

    tinggi sebanyak 1798 mm per tahun dan curah hujan yang tertinggi terjadi pada bulan Januari

    sebanyak 263 mm dan curah hujan terendah terjadi pada bulan Juli sebanyak 77 mm.

    Gambar 1. Grafik Curah Hujan Kelurahan Sasa Tahun 2011

    Sumber : Monografi Wilayah Kerja Penyuluh Pertanian Kel. Sasa, Ternate, 2012

    Total Luas Lahan di Kelurahan Sasa yang digunakan adalah seluas 417,48 Ha. Sejumlah lahan

    tersebut digunakan untuk pekarangan dan bangunan 60 Ha, ladang & tegalan 127,75 Ha, tanaman

    hutan 20 Ha, perkebunan 155 ha, dan lain-lain 54,73 Ha.

    Penduduk Kelurahan Sasa berjumlah 4187 jiwa yang terdiri dari 2031 jiwa laki-laki dan 2156

    jiwa perempuan. Penduduk berusia 17-30 tahun mendominasi Kelurahan Sasa yang menandai di

    wilayah ini terdapat banyak mahasiswa yang tinggal sementara untuk pendidikan, karena di kelurahan

    ini terdapat 2 perguruan tinggi. Penduduk yang bekerja, sebagian besar memiliki mata pencaharian

    sebagai pegawai pemerintah (PNS/TNI/Polri), berikutnya sebagai buruh bangunan, petani, dan

    pengusaha.

    Petani di Kelurahan Sasa tergabung dalam keanggotaan Gapoktan Tumpang Sari dengan ketua

    Haidir Ola dan keanggotaan Gapoktan terbagi menjadi 4 kelompok tani, yaitu Kelompok tani Tanjung

    Selatan I dengan komoditas perikanan, Tanjung Selatan II dengan komoditas hortikultura, Campang

    Sari dengan komoditas hortikultura, dan Ake Sanoto dengan komoditas perkebunan.

    Kelembagaan di Kelurahan Sasa cukup banyak, yaitu kios saprodi milik Gapoktan Tumpang

    Sari, BRI unit desa, kelompok capir, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kec. Ternate Selatan, UPP

    263

    100

    182210 200

    12177

    113 98 82

    237

    115

    0

    50

    100

    150

    200

    250

    300

    Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des

    Cu

    rah

    hu

    jan

    (m

    m)

    Bulan

  • home | Error! No text of specified style in document. 25

    Peternakan, Pos Kesehatan Hewan (Poskeswan), dan 2 perguruan Tinggi swasta (Universitas

    Muhammadiyah Maluku Utara dan Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan dan Pendidikan Ternate). Kios

    saprodi milik Gapoktan selain berfungsi menyediakan kebutuhan saprodi juga berfungsi sebagai

    lembaga keuangan, yaitu dengan memberikan kemudahan bagi petani untuk membayar saprodi setelah

    petani memanen hasil pertanian.

    Sarana dan prasarana di Kelurahan Sasa dinilai cukup baik. Kondisi jalan aspal halus yang

    menghubungkan Kelurahan Sasa dengan ibukota kecamatan bahkan pusat kota Ternate sangat baik.

    Sarana komunikasi berupa telephone ataupun handphone sudah hampir dimiliki oleh seluruh

    masyarakat, sehingga tidak ada batas masyarakat untuk komunikasi dengan pihak luar. Prasarana

    untuk pemasaran juga sangat baik. Pasar untuk tempat menjual hasil pertanian masih mudah

    dijangkau oleh penduduk, bahkan petani dapat dengan mudah menjual hasil