BAB II KEHIDUPAN D.N AIDIT · 2018-11-07 · PKI generasi kedua adalah generasi Musso yang...

of 32 /32
18 BAB II KEHIDUPAN D.N AIDIT A. Latar Belakang Kehidupan D.N. Aidit Dipa Nusantara Aidit atau D.N. Aidit adalah tokoh PKI yang dikenal melebihi tokoh-tokoh Partai PKI lainnya. Aidit muncul sebagai seseorang yang paling bertanggung jawab dalam pengarahan penerapan ideologi Marxisme- Leninisme 1 di Indonesia. Aidit juga bertanggung jawab sepenuhnya atas berbagai tindakan yang ditempuh Partai Komunis Indonesia (PKI) tahun 1951-1965 yang membuat Indonesia kacau, salah satunya adalah peristiwa G 30S. Aidit adalah pemimpin muda PKI yang berani, bergerak cepat, dengan daya tahan fisik dan mental luar biasa, bahkan sejumlah kawannya terkadang tertinggal dengan geraknya. Selain itu, Aidit selalu menekankan pentingnya kesabaran revolusioner dalam perjuangan jangka panjang. Sedikit banyak orang yang menilai Aidit punya sejumlah cacat, baik sebagai pribadi maupun sebagai arsitek 2 PKI. Dari berbagai macam karakter Aidit, Impian Aidit hanyalah menjadikan Indonesia yang sama rata sama rasa bagi seluruh rakyat, menjadikan masyarakat lebih baik, masyarakat tanpa kelas. 1 Marxisme Leninisme adalah ajaran awal dari Komunis, Marxisme adalah adalah ideologi ciptaan Karl Max yang pada intinya menginginkan tentang adanya kedudukan sama rata sama rasa dengan sesama manusia, kemudian aliran Marxisme dikembangkan oleh Vladimir Lenin yang kemudian dinamakan ajaran Marxisme-Leninisme. https://id.wikipedia.org (diakses 29 Juni 2015 pukul 18.00 WIB) 2 Aidit menjadi pemimpin sekaligus pengatur strategi yang handal pada era partai komunis generasi ketiga, setelah generasi Semaun, dan Generasi Musso. https://id.wikipedia.org (diakses 19 Juni 2015 pukul 19.45 WIB)

Embed Size (px)

Transcript of BAB II KEHIDUPAN D.N AIDIT · 2018-11-07 · PKI generasi kedua adalah generasi Musso yang...

18

BAB II

KEHIDUPAN D.N AIDIT

A. Latar Belakang Kehidupan D.N. Aidit

Dipa Nusantara Aidit atau D.N. Aidit adalah tokoh PKI yang dikenal

melebihi tokoh-tokoh Partai PKI lainnya. Aidit muncul sebagai seseorang yang

paling bertanggung jawab dalam pengarahan penerapan ideologi Marxisme-

Leninisme1 di Indonesia. Aidit juga bertanggung jawab sepenuhnya atas berbagai

tindakan yang ditempuh Partai Komunis Indonesia (PKI) tahun 1951-1965 yang

membuat Indonesia kacau, salah satunya adalah peristiwa G 30S.

Aidit adalah pemimpin muda PKI yang berani, bergerak cepat, dengan

daya tahan fisik dan mental luar biasa, bahkan sejumlah kawannya terkadang

tertinggal dengan geraknya. Selain itu, Aidit selalu menekankan pentingnya

kesabaran revolusioner dalam perjuangan jangka panjang. Sedikit banyak orang

yang menilai Aidit punya sejumlah cacat, baik sebagai pribadi maupun sebagai

arsitek2 PKI. Dari berbagai macam karakter Aidit, Impian Aidit hanyalah

menjadikan Indonesia yang sama rata sama rasa bagi seluruh rakyat, menjadikan

masyarakat lebih baik, masyarakat tanpa kelas.

1 Marxisme Leninisme adalah ajaran awal dari Komunis, Marxisme

adalah adalah ideologi ciptaan Karl Max yang pada intinya menginginkan tentang

adanya kedudukan sama rata sama rasa dengan sesama manusia, kemudian aliran

Marxisme dikembangkan oleh Vladimir Lenin yang kemudian dinamakan ajaran

Marxisme-Leninisme. https://id.wikipedia.org (diakses 29 Juni 2015 pukul 18.00

WIB) 2 Aidit menjadi pemimpin sekaligus pengatur strategi yang handal pada era

partai komunis generasi ketiga, setelah generasi Semaun, dan Generasi Musso.

https://id.wikipedia.org (diakses 19 Juni 2015 pukul 19.45 WIB)

19

1. Masa Kecil D.N. Aidit

Dipa Nusantara Aidit adalah pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI)

generasi ketiga.3 Dipa Nusantara Aidit terlahir dengan nama Achmad Aidit pada

tanggal 30 Juli 1923. D.N. Aidit adalah anak tertua dari delapan bersaudara

keturunan Melayu pada sebuah kampung di Pagarlarang, Tanjungpandang, Pulau

Belitung. Ayahnya bernama Abdullah Aidit. Abdullah adalah seorang yang

bekerja sebagai pejabat dinas kehutanan di Belitung, jabatan yang cukup

bergengsi ketika itu. Abdullah Aidit menjadi seorang anggota parlemen dari

Masyumi4 pada 1951, sampai dia mengundurkan diri pada 16 Juni 1954. Ibunya,

Mailan lahir dari keluarga ningrat, ayah Mailan bernama Ki Agus Haji Abdul

Rachman. Titel Ki mencirikan dia ningrat.5

Abdullah, ayah Aidit mempunyai delapan anak laki-laki. Dari hasil

perkawinan dengan Mailan, lahir Aidit, Basri, Ibrahim (meninggal dunia ketika

dilahirkan), dan Murad. Ayahnya kemudian menikah lagi dengan seorang

perempuan bernama Marisah dan melahirkan dua orang anak Sobron dan Asahan.

Keenam anak Abdullah itu menyandang nama belakang Aidit. Nama belakang

Aidit sebenarnya bukan nama marga, tetapi nama keluarga yang memang

disandangkan kepada anak-anaknya.6 Achmad Aidit sebenarnya mempunyai dua

3 PKI generasi pertama pimpinan Semaun yang memberontak tahun 1926,

PKI generasi kedua adalah generasi Musso yang melakukan pemberontakan di

Madiun tahun 1948, PKI ketiga adalah generasi D.N Aidit

https://id.wikipedia.org (diakses 19 Juni 2015 pukul 19.50 WIB) 4 Masyumi adalah salah satu partai politik terbesar yang beraliran Islam

pada tahun 1950an. https://id.wikipedia.org (diakses 21 Juni 2015 pukul 17.00

WIB) 5 Majalah Tempo, Anak Belantu Jadi Komunis, Tahun 2007, Koleksi

Perpustakaan Pusat Universitas Sebelas Maret Surakarta, hlm 54 6 Julious Pour, Gerakan 30 September Pelaku, Pahlawan, Petualang,

(Kompas : Jakarta, 2010), hlm 15

20

saudara tiri, yaitu Rosiah dan Muhammad Thaib. Kedua orang tersebut

merupakan anak Marisah dengan suami sebelumnya.7

Achmad Aidit adalah yang paling mudah bergaul dari delapan anak

Abdullah..8 Aidit mempunyai teman dari berbagai macam geng remaja di

Belitung. Setidaknya, ada empat geng di sana: geng kampung, anak benteng, geng

Tionghoa, dan geng Sekak. Geng kampung adalah kumpulan anak pribumi.

Achmad dan adik-adiknya masuk kelompok tersebut. Anak polisi yang datang

dari Jawa masuk kelompok anak benteng atau kerap juga disebut anak tangsi

menyebut asrama tempat tinggal polisi. Kelompok ketiga adalah geng Tionghoa.

Orang tua mereka berdagang di pasar dan pelabuhan Belitung. Karena tinggal di

pasar, geng itu punya nama lain yakni geng sekak atau pasar.9 Dari geng inilah

sifat Aidit sebagai anak yang aktif dalam berorganisasi mulai terlihat.

Berasal dari keluarga terpandang, membuat keluarga Aidit gampang

diterima oleh berbagai pihak, baik pada masyarakat setempat, aparat pemerintahan

seperti polisi, orang-orang Tionghoa di pasar, dan none-none Belanda di

Perusahaan Gemeenschapelijke Minjbouw Billiton, sebuah perusahan tambang

timah milik Belanda. Perusahaan Gemeenschapelijke Minjbouw Billiton tersebut

berdiri pada tahun 1825. Perusahaan Gemeenschapelijke Minjbouw Billiton

dinasionalisasi10 pada era Soekarno, firma tersebut berubah menjadi PT

7 Majalah Tempo.,2007, Anak Belantu Jadi Komunis , Op Cit., hlm 55 8 Ibid., hlm 54 9 Julious Pour.,Op Cit., hlm 76 10 Dinasionalisasi artinya perubahan dari perusahaan asing menjadi aset

nasional bangsa. https://id.wikipedia.org (diakses 23 Juni 2015 pukul 21.56 WIB)

21

Pertambangan Timah Balitung, lalu ditutup pada April 1991 setelah stok timah di

kawasan itu merosot.11

Anak-anak Abdullah selain mudah bergaul dengan tuan tuan Belanda,

anak-anak Abdullah juga gampang masuk Hollandsch Inlandsche School (HIS),

sekolah menengah pemerintah Belanda ketika itu.12 Di sekolah inilah Aidit dan

saudara-saudaranya belajar dengan rajin. Sekolah tersebut merupakan lanjutan

setelah lulus dari sekolah sebelumnya setingkat sekolah dasar (SD) saat itu.

Meskipun di didik di sekolah Belanda, namun anak-anak Abdullah tumbuh dalam

keluarga yang rajin beribadah. Abdullah adalah tokoh pendidikan Islam di

Belitung. Dia pendiri Nurul Islam, organisasi pendidikan Islam dekat kawasan

pecinan di kota itu. Sepulang sekolah, Aidit dan adik-adiknya belajar mengaji.

Guru mereka Abdurrachman, adik ipar Abdullah. Setelah mengaji, Aidit dan adik-

adiknya menuju kesungai mengambil air.

Sebagai kakak tertua, Achmad Aidit biasanya membawa jerigen paling

besar. Pada saat itu, masyarakat di Jalan Belantu13 mengenal Achmad Aidit

sebagai Muadzin14. Dareah Belitung pada waktu itu belum mempunyai pengeras

suara guna mengumandangkan adzan. Achmad Aidit mempunyai suara yang amat

lantang dan keras, sehingga membuat Achmad Aidit kerap diminta

mengumandangkan adzan.15 Pada waktu kecil Aidit bisa adalah seorang muslim

yang taat.

11 Herman Dwi Sucipto, Kontroversi G30 S Antara Fakta Dan Rekayasa,

(Yogyakarta: Palapa, 2013), Hlm 66 12 Majalah Tempo., 2007, Anak Belantu Jadi Komunis, Op Cit., hlm 54 13 Jalan Belantu adalah jalan tempat tinggal Abdullah, Ayah Aidit yang

ada di Belitung, lihat majalah Tempo hlm 55 14 Majalah Tempo.,2007, Anak Belantu Jadi Komunis, Op Cit., hlm 55 15 Herman Dwi Sucipto., Op Cit., hlm 667

22

Pergaulan Achmad Aidit memang lebih maju daripada teman-temannya di

sekitar rumahnya di Belitung. Selain gemar berkumpul dengan berbagai kelompok

remaja, Aidit juga bergaul dengan buruh di Perusahaan timah Gemeenschapelijke

Minjbouw Billiton. Letak perusahaan tersebut sekitar dua kilometer dari rumah

Aidit. Setiap hari Aidit melihat buruh berlumur lumpur, bermandi keringat, dan

hidup susah. Pihak Belanda dan tuan- tuan dari Inggris yang menjadi atasan para

buruh, hanya menikmati hasilnya dengan hura-hura, tanpa melihat bawahannya

yang sedang kesusahan dan menderita.16 Aidit melihat keadaan para buruh yang

memprihatinkan yang membuat Aidit ingin menolong para buruh pabrik tersebut.

Perusahaan Gemeenschapelijke Minjbouw Billiton tersebut menyediakan

societet, semacam gedung khusus tempat petinggi perusahaan dan none-none

Belanda menonton film terbaru sembari menenggak minuman keras. Para buruh

tambang timah itu cuma bisa menelan ludah dan sesekali mengintip bioskop,

meskipun apabila diketahui para buruh itu kerap kali dimarahi oleh mereka.

Tertarik memahami hidup para buruh, Aidit mendekati mereka.17 Tidak mudah

mendekati para buruh karena para buruh cenderung tertutup. Suatu hari Aidit

melihat seorang buruh sedang menanam pisang di pekarangan rumah. Aidit

menawarkan bantuan. Aidit membantu mencangkul dan sejak kejadian itu Aidit

mulai bersahabat dengan buruh.18 Semakin lama hubungan Aidit dan para Buruh

makin dekat. Kadang mereka mengobrol sambil menyeruput kopi dan makan

singkong rebus.

16 Majalah Tempo.,2007, Anak Belantu Jadi Komunis, Op Cit., hlm 56 17 Ibid. 18 Ibid.

23

Obrolan-obrolan santai Aidit dengan para buruh menjadikan Aidit

mengetahui kesulitan-kesulitan para buruh. Oleh karena hal tersebut

memunculkan rasa nasionalisme Aidit akibat penindasan yang dilakukan orang-

orang Belanda terhadap kaum buruh. Aidit menganggap para buruh sebagai

saudara yang ditindas dalam negerinya sendiri. Dari kisah pergaulan dengan kaum

buruh itulah yang menentukan jalan pikiran dan sikap politik Aidit setelah

memasuki Jakarta beberapa tahun kemudian. Pergaulan dengan kaum buruh itu

yang akhirnya membuat Aidit hingga dia menjadi pemimpin Partai Komunis

Indonesia (PKI). Perubahan kepribadian Aidit terlihat saat dia memilih belajar

marxis sebagai sebuah ideologi yang ingin memperjuangkan rakyat dan kaum

buruh pada waktu itu. Kepribadian sendiri dipengaruhi oleh dua hal yaitu

pengetahuan dan perasaan.19 Pengetahuan Aidit tentang kesulitan para buruh dan

perasaan Aidit yang tidak tega melihat penindasan kaum buruh yang menjadikan

Aidit serius mempelajari ajaran Marxis.

Aidit datang ke Jakarta dan pertama kali bertemu dengan Mohamad

Hakim Lukman saat mereka bergabung dengan Gerakan Indonesia Merdeka. Aidit

tiga tahun lebih muda daripada Lukman, yang ketika itu baru 23 tahun. Aidit

kemudian menjadi Ketua Dewan Politik Gerakan Indonesia Merdeka, dan

Lukman anggota. Aidit dan Lukman kemudian tinggal di Yogya. Mereka

menghidupkan majalah dwibulanan Bintang Merah. Di situlah keduanya lalu

bertemu Njoto. Njoto saat itu 19 tahun. Pemuda berkacamata tebal itu adalah

19 Koenjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta : Aksara Baru,

1979), hlm 117

24

wakil PKI Banyuwangi dalam Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).20 Sejak

itulah terjalin persahabatan antara Aidit, Njoto, dan Lukman.

Aidit akhirnya berhasil menjadi ketua Partai Komunis Indonesia (PKI)

pada tahun 1951-1965. Untuk mencapai posisi sebagai posisi ketua PKI Dipa

Nusantara Aidit dibantu oleh Lukman dan Njoto.21 Mereka dikenal sebagai Three

Musketer yang bahu membahu membawa PKI pada masa kejayaan sebagai partai

Komunis terbesar ketiga di dunia setelah Rusia dan Cina.

2. Masa Remaja dan Perjalanan ke Jakarta D.N Aidit

a. Perjalanan karir Politik D.N Aidit Di Jakarta

Pada tahun 1936-1938 Achmad Aidit atas keinginannya sendiri meminta

kepada ayahnya, untuk pergi ke Jakarta. Di Jakarta, Aidit tinggal di rumah teman

Ayahnya, yaitu Marto seorang mantri politik dikawasan cempaka putih, Jakarta.

Setelah di Jakata Aidit bersekolah di Middestand Handel School (MHS) yaitu

sebuah Sekolah Dagang di jalan Sabang, Jakarta Pusat. Di MHS tersebutlah bakat

kepemimpinan dan idealisme Aidit yang berkobar-kobar langsung menonjol

diantara kawan sebayanya. Di sekolah tersebut Aidit mengorganisasi kawannya

melakukan bolos massal untuk mengantar jenazah pejuang kemerdekaan

Muhammad Husni Thamrin, yang ketika itu akan dimakamkan. Di MHS tersebut

Aidit tidak pernah menyelesaikan sekolahnya karena terlalu aktif di kegiatan luar

20 Majalah Tempo.2007, Anak Belantu Jadi Komunis, Op Cit., hlm 61 21 Transkripsi wawancara dengan Rewang, Koleksi Arsip Nasional RI

tahun 2011

25

sekolah.22 Kegiatan diluar sekolah yang membuatnya tidak lulus sekolah adalah

kebiasaan membolos Aidit.

Saat pendudukan Jepang, Aidit harus berusaha mencari uang sendiri

karena kiriman uang dari ayahnya di Belitung macet. Aidit harus mencari makan

sendiri, kemudian dia membuka biro pemasaran iklan dan surat kabar bernama

Antara. Selain itu Aidit juga berjualan buku dan majalah. Pekerjaan tersebut

memberikan kesempatan kepada Aidit untuk membaca. Dia adalah pemuda yang

tidak puas-puasnya membaca berbagai macam buku-buku dan gemar mendirikan

perpustakaan-perpustakaan kecil.23 Dari kegemaran banyak membaca buku

menjadikan Aidit mempunyai pengetahuan yang luas tentang keadaan Indonesia

saat itu.

Berdagang memang bukan pekerjaan baru untuk Aidit. Ketika masih

tinggal di Belitung, setiap kali ada pertandingan sepak bola di Kampung Parit,

Aidit selalu berjualan kerupuk dan nanas. Tak puas dengan perkembangan

usahanya, Aidit kemudian mengajak seorang kawan yang tinggal satu kos

dengannya, Mochtar, untuk bekerja sama. Mochtar tersebut seorang penjahit yang

punya toko lumayan besar di Pasar Baru. Karena lokasi usahanya yang strategis,

toko Mochtar segera menjadi tempat mangkal para aktivis masa itu, seperti Adam

Malik dan Chaerul Saleh. Otomatis membuat jaringan relasi Aidit meluas.24

Aidit terjun dalam pergerakan pemuda pertama tama dia bergabung

dengan Persatuan Timur Muda atau (Pertimu), perkumpulan tersebut dimotori

22 Majalah Tempo,2007, Sejak Awal Membaca Resiko, Koleksi

Perpustakaan Pusat Universitas Sebelas Maret Surakarta, hlm 62 23 Jacques Leclerc, Aidit Dan Partai Pada Tahun 1950,(Jakarta: LP3ES,

1982), hlm 66 24 Majalah Tempo.,2007, Sejak Awal Membaca Resiko, Op Cit., hlm 63

26

oleh Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo)25, dibawah pimpinan Amir syarifudin26

dan Dr. Adnan Kapau Gani27. Dalam organisasi tersebutlah minat politik Aidit

makin menjadi-jadi. Pertemuan Aidit dengan Amir Syarifudin tersebut semakin

membuat Aidit tertarik dengan dunia politik karena Amir Syarifudin merupakan

ketua dari gerakan-gerakan sosialis yang memperjuangkan kaum buruh yang

sesuai dengan apa yang dicita-citakan Aidit. Organisasi Pertimu sangat menarik

hati Aidit, sebab tidak rasialis, dengan keanggotaan yang terdiri dari banyak etnis

yang dikucilkan seperti Tionghoa, Arab, dan berbagai suku minoritas lainnya.

Hanya dalam waktu singkat Aidit diangkat menjadi ketua umum Pertimu.

Dibalik karier politiknya yang menjulang Aidit melakukan perubahan

namanya dari Achmad Aidit menjadi Dipa Nusantara Aidit.28 Peubahan nama

berlangsung secara resmi pada tahun 1946. Nama tesebut baru dipakai Aidit

25 Gerakan Rakyat Indonesia (GERINDO) memiliki tujuan yang sama

dengan partai Indonesia namun bedanya partai Gerindo tersebut menjunjung azas

kooperatif atau bekerjasama dengan pemerintah kolonial Belanda, tetapi tetap

bersikap tegas terhadap pemerintah Belanda, sebagai perkumpulan untuk

masyarakat umum yang berusaha mencapai bentuk pemerintahan negara

berdasarkan kemerdekaan di bidang politik, sosial, dan ekonomi.

http://wartasejarah.blogspot.com (diakses 24 Juni 2015 pukul 19.50 WIB) 26 Amir Syarifuddin Harahap adalah seorang politikus sosialis dan salah

satu pemimpin terawal Republik Indonesia. Ia menjabat sebagai Perdana Menteri

ketika Revolusi Nasional Indonesia sedang berlangsung. Berasal dari keluarga

Batak Muslim, Amir menjadi pemimpin sayap kiri terdepan pada masa Revolusi.

Pada tahun 1948, ia dieksekusi mati oleh pemerintah karena terlibat dalam

pemberontakan komunis. https://id.wikipedia.org/wiki/Amir_Sjarifoeddin (diakses

22 Juni 2015 pukul 13.50 WIB) 27 Dr. Adnan Kapau Gani atau biasa disingkat A.K. Gani (lahir di

Palembayan, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda, 16 September 1905

meninggal di Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia, 23 Desember 1968 pada

umur 63 tahun) adalah seorang dokter dan politisi Indonesia. Ia pernah menjabat

sebagai Wakil Perdana Menteri pada Kabinet Amir Sjarifuddin I dan Kabinet

Amir Sjarifuddin II. https://id.wikipedia.org/wiki/Adenan_Kapau_Gani (diakses

19 Juni 2015 pukul 19.50 WIB) 28 Majalah Tempo., 2007, Sejak Awal Membaca Resiko, Op Cit., hlm 63

27

setelah notaris dan Burgelijke Stand29 mengeluarkan surat pengesahan untuk

mengesahkan penggunaan nama Dipa Nusantara dipakai Aidit di nama

depannya.30 Nama Dipa berasal dari tokoh pejuang kemerdekaan yaitu Pangeran

Diponegoro. Aidit memilih pangeran Diponegoro karena kepahlawanannya

melawan kolonial Belanda yang patut diteladani alasan lainnya karena tokoh

Diponegoro berjuang untuk rakyat melawan pemerintah Belanda hal yang sangat

dikagumi oleh Aidit. Sedangkan Nusantara menggambarkan nama Indonesia

yang mempunyai banyak pulau pulau yang biasa disebut Nusantara. Dari dua

hal tersebut Aidit mengganti namnya menjadi Dipa Nusantara Aidit. Perubahan

nama tersebut membuat Aidit lebih percaya diri dalam dunia perpolitikan di

Indonesia nantinya. Pergantian nama tersebut juga dapat diartikan sebagai strategi

politik dan nasionalisme Aidit di usia mudanya, ia menjadikan namanya sebagai

gambaran kecintaan dan cita-cita kebangsaannya terhadap Indonesia.

b. Kisah Cinta Aidit, Meminang Lewat Sepucuk Surat

Kisah cinta Aidit dimulai pada suatu siang di awal 1946 di kantor majalah

dua bulanan Bintang Merah31 di Jalan Purnosari, Solo. Kantor majalah yang

biasanya lengang lengau, kedatangan tamu tak diundang. Dua gadis berdiri di

depan pintu. Mereka kemudian dijamu dua redaktur, Hasan Raid dan Dipa

Nusantara Aidit. Dua gadis itu mengaku mahasiswi tingkat tiga Perguruan Tinggi

29 Burgelijke Stand adalah kantor catatan sipil milik pemerintah kolonial

Belanda. https://id.wikipedia.org (diakses 19 Juni 2015 pukul 19.50 WIB) 30 Julious Pour., Op Cit., hlm 17 31 Bintang Merah adalah majalah Harian terbitan Partai Komunis

Indonesia (PKI) https://id.wikipedia.org (diakses 18 Juni 2015 pukul 14.44 WIB)

28

Kedokteran di Yogyakarta. Gadis yang agak gemuk dan berpipi bulat

memperkenalkan diri sebagai Soetanti.32

Soetanti yang disapa Bolletje33 oleh teman-temannya datang lagi

beberapa hari kemudian, dengan kawan lain yang lebih banyak.34 Soetanti dan

kawan-kawannya datang atas nama Sarekat Mahasiswa Indonesia. Mereka

mengundang Aidit sebagai Ketua Departemen Agitasi dan Propaganda Partai

Komunis Indonesia Solo untuk memberikan kuliah soal politik dan

keorganisasian. Karena urusan organisasi itulah Soetanti kerap bolak-balik

Yogya-Solo. Kunjungan berikutnya tak lagi ke kantor Bintang Merah, tapi ke

kantor PKI di Jalan Boemi 29. Dari pertemuan-pertemuan itu hubungan Aidit-

Soetanti kian akrab.

Aidit dan Soetanti, keduanya mempunyai watak yang bertolak belakang.35

Sebagai seorang ningrat Mangkunegaran, kakeknya seorang Bupati Tuban, Tanti

punya banyak teman dari berbagai golongan. Predikat mahasiswi kedokteran

membuatnya kian dihormati dalam organisasi dan dalam kehidupan sehari-hari.

Hal terebut didukung sifat dasar Soetanti yang periang, gampang akrab, dan suka

bicara ceplas-ceplos. Sedangkan Aidit, Anak seorang mantri kehutanan dari

Belitung adalah seorang pemuda serius, tak pandai berkelakar, dan suka musik

klasik. Hal yang dipikirkannya hanyalah bagaimana memajukan partai.

32 Majalah Tempo.,2007, Meminang Lewat Sepucuk Surat, Koleksi

Perpustakaan Universitas Sebelas Maret Surakarta, hlm 64 33 Bolletje adalah sebuah kata Belanda yang berarti bundar 34 Julious Pour, Op Cit., hlm 31 35 Majalah Tempo.,2007, Meminang Lewat Sepucuk Surat, Op Cit., hlm 64

29

Soetanti terpikat pada Aidit saat fasih mengutip filsafat Marxisme,

mengurai revolusi Prancis36 dan Rusia. Setiap kali Aidit berpidato, Soetanti

senantiasa menyimak di bangku paling depan. Meski akrab, Aidit-Tanti tak

pernah terlihat berduaan. Suatu ketika, seusai pidato Aidit menghampiri Tanti lalu

menyerahkan sepucuk surat yang ditujukan kepada Bapak Moedigdo, ayah Tanti,

seorang kepala polisi Semarang yang aktif di Partai Sosialis Indonesia. Surat itu

adalah surat lamaran dari Aidit. Aidit menyampaikan niat meminang Soetanti.

Moedigdo langsung setuju, maka, awal 1948, Aidit yang berusia 25 tahun, dan

Soetanti yang berusia 24 tahun menikah secara Islam tanpa pesta di rumah KH

Raden Dasuki, sesepuh PKI Solo yang bertindak sebagai penghulu. Moedigdo,

Aminah, dan empat adik Soetanti datang.37 Murad dan Sobron dua adik Aidit

yang mewakili keluarga Aidit dari Belitung.

Saat bulan September 1948 Peristiwa Madiun38 meletus, Aidit menjadi

buron dan melarikan diri ke Jakarta. Soetanti semakin sedih setelah ayahnya yang

mendukung Amir Syarifuddin tewas ditembak dala pemberontakan PKI tahun

1948. Sewaktu mereka hidup di Jakarta, Aidit juga terlihat jarang ada di rumah.

Soetanti hanya ditemani adik-adik Aidit saat melahirkan anak pertama Aidit,

36 Revolusi Perancis adalah suatu periode sosial radikal dan pergolakan

politik di Perancis yang memiliki dampak abadi terhadap sejarah Perancis, dan

lebih luas lagi, terhadap Eropa secara keseluruhan.www.id.wikipedia.org/Revolusi

Perancis (diakses 19 Juni 2015 pukul 19.50 WIB) 37 Majalah Tempo.,2007, Meminang Lewat Sepucuk Surat, Op Cit., hlm 64 38 Peristiwa Madiun adalah sebuah konflik kekerasan yang terjadi di Jawa

Timur bulan September Desember 1948 antara pemberontak komunis PKI dan

TNI. Peristiwa tersebut diawali dengan diproklamasikannya Negara Republik

Soviet Indonesia pada tanggal 18 September 1948 di Kota Madiun oleh Muso,

seorang tokoh Partai Komunis Indonesia dengan didukung pula oleh Menteri

Pertahanan saat itu, Amir Sjarifoeddin. https://id.wikipedia.org/Peristiwa_Madiun

(diakses 19 Juni 2015 pukul 19.50 WIB)

30

Ibarruri Putri Alam, pada 23 November 1949.39 Suami istri tersebut jarang terlihat

bareng kecuali dalam acara-acara resmi partai atau kenegaraan. Setelah Aidit

menjabat sebagai Ketua Politbiro40 PKI pada 1951, ia semakin sibuk dengan

bepergian ke luar negeri, mengunjungi, dan menghadiri rapat-rapat internasional

komunis di Vietnam, Tiongkok, dan Rusia.41

Perjalanan kehidupan rumah tangga Aidit tidak pernah terdengar kabar

Aidit berhubungan dengan perempuan lain, baik sebelum maupun setelah bertemu

dengan Soetanti. Menurut sebagian teman-temannya, Aidit adalah orang sangat

anti poligami. Ia pernah memarahi Njoto, wakil ketua II Comite Central PKI yang

akan menikah lagi dengan seorang penerjemah asal Rusia.42 Semasa

kepemimpinan Aidit, sikap anti poligami dan anti perselingkuhan tersebut hampir

menjadi garis partai. Menurut Oey Hay Djoen43, bekas anggota parlemen dan

Dewan Pakar Ekonomi PKI, mengatakan bahwa pada masa kepemimpinan Aidit

banyak anggota dari PKI yang diberi peringatan bahkan ada yang diberi sangsi

karena ketahuan selingkuh dengan istri orang.44

39 Majalah Tempo.,2007, Op Cit., hlm 64 40

Politbiro adalah semacam dewan eksekutif dalam partai. 41 Herman Dwi Sucipto., Op Cit., hlm 78-81 42 Majalah Tempo,2007, Meminang Lewat Sepucuk Surat, Op Cit., hlm 65 43 Oey adalah penerjemah buku-buku Marx, Engels, serta buku-buku

klasik bukan untuk mempropagandakan Marxisme. Ia ingin agar pembacanya

menggunakan metode berpikir kritis seperti yang dipakai Marx dan Engels. Marx

tidak menciptakan teori, seluruh tulisannya adalah suatu polemik terhadap semua

ilmu yang sudah ada. Jadi, ilmunya benar, tidak benar, itu yang harus dikrtisi.

http://pascaries.blogspot.com/2007/07/oey-hay-djoen.html (diakses 19 Juni 2015

pukul 19.55 WIB) 44 Herman Dwi Sucipto., Op Cit., hlm 78-81

31

B. Petualangan Politik D.N. Aidit

1. Awal Karir Politik D.N Aidit

Aidit adalah tokoh PKI yang mempunyai banyak pengetahuan di bidang

politik. Dari situ muncul keterkaitannya dengan gerakan pembebasan dan

demokratik bermula.45 Saat tahun 1939 juga, ketika Aidit masih berusia tujuh

belas tahun, Aidit telah menjadi seorang pemimpin Persatuan Timur Muda

(Pertimu) karena tertarik dengan organisasi tersebut yang berwatak non rasialis.

Hal tersebut karena keanggotaan Pertimu mencakup orang-orang miskin

keturunan Cina, Arab, dan golongan minoritas lainnya.46 Pada tahun 1939 itu juga

Aidit bergabung dengan Barisan Muda Gerindo, yakni sebuah organisasi

kepemudaan yang beraliran nasionalis sayap kiri dan dipimpin oleh Amir

Sjarifuddin. Setahun kemudian ia telah menjadi pemimpinnya bersama dengan

Wikana47, Ismail Widjaja dan A.M. Hanafi.

Aidit mulai mengenal dengan Marxisme pada tahun 1942 saat masa

pendudukan Jepang. Aidit mulai membaca buku Das Kapital karangan Karl Marx.

Faktor keadaan Indonesia yang kacau saat itu turut membantu dalam Aidit untuk

lebih memahami komunis selain belajar dari buku Karl Max tersebut. Aidit belajar

buku Das Kapital Marxisme-Leninisme melalui pemberian dari seorang tokoh

komunis tua yang menghidupkan kembali Partai Komunis Indonesia sejak tahun

45 Peter Edman, Komunisme Ala Aidit: Kisah Partai Komunis Indonesia

Dibawah Kepemimpinan D.N. Aidit 1950-1965, (center for information analysis,

2007), hlm 60-61 46 Majalah Tempo.,2007, Sejak Awal Membaca Resiko, Op Cit., hlm 63 47 Wikana, Ismail Widjaja, dan A.M. Hanafi, adalah seorang pejuang

kemerdekaan Indonesia. Wikana termasuk dalam daftar orang yang menghilang

dan diduga meninggal dibunuh dalam lembaran hitam tragedi Pembantaian di

Indonesia 19651966 pasca peristiwa G30S. https://id.wikipedia.org/wiki/Wikana

(diakses 19 Juni 2015 pukul 19.00 WIB)

32

1945, yakni Muhammad Jusuf. Perkenalan Aidit dengan Jusuf membawa

pengaruh kuat dalam perkembangan politiknya. M. Jusuf melihat Aidit sebagai

sosok orang yang cerdas dan mulai mengajarkan ajaran komunis pada Aidit. M.

Jusuf mulai memasukkan ajaran-ajaran komunis yang saat itu sangat menarik

perhatian Aidit karena ajaran komunis sesuai dengan apa yang dicita-citakan Aidit

yakni memperjuangkan kaum buruh dan rakyat kecil. Usia yang masih muda

membuat Aidit mudah dipengaruhi oleh M. Jusuf. Susahnya berhubungan dengan

keluarga yang jauh di Belitung semakin membuat Aidit lebih mendalami komunis

dan mulai meninggalkan Islam yang saat tersebut kurang begitu memperhatikan

kaum buruh. Beberapa faktor itulah yang menyebabkan ajaran komunis yang

diberikan M. Jusuf membuat Aidit sangat ingin menjadi anggota PKI. Pada tahun

1942, Aidit mulai aktif dalam gerakan buruh, dan menjadi Wakil Ketua Persatuan

Buruh Angkutan. Aidit juga dipercaya menjadi pemimpin dalam sekolah politik

Generasi Baru sampai tahun 1943.48 Di situlah ia terlihat berbeda dari teman-

temannya, terutama dalam ketertarikannya pada Marxisme yang demikian disiplin

dan tertata. Situasi yang membuat Aidit semakin ingin lebih dan terus mendalami

komunis sebagai pilihan hidupnya.

Pada tahun 1943, Aidit resmi menjadi anggota PKI berkat ajakan dari M

Jusuf. Di tahun yang sama, Aidit mulai mengenal MH Lukman yang menjadi

sahabat dekatnya. Perkenalan itu terjadi di bawah ancaman samurai Jepang, dan

melahirkan organisasi antifasis. Aidit yang baru masuk menjadi anggota PKI, ia

telah mendirikan organisasi antifasisme tersebut kemudian diberi nama Gerakan

Indonesia Merdeka (Gerindom), dan bergerak di bawah tanah. Namun ternyata

48 Peter Edman.,Op Cit., hlm 62

33

organisasi tersebut hanya mampu memberikan kontribusi kecil dalam mencapai

tujuan-tujuannya dalam membantu perjuangan anti-Jepang. Usia gerakan tersebut

sangat singkat. Pada tahun 1942-1943 para aktivis dan tokoh-tokohnya berhasil

ditangkap Jepang. Banyak di antara anggotanya yang dihukum mati dalam aksi

penumpasan tersebut, tetapi Aidit sanggup meloloskan diri.49

Aidit banyak mendptkan posisi ideal din dalam berbagai macam organisasi

yang diikutinya. Posisi ideal yang begitu cepat diperoleh Aidit dalam beberapa

organisasi sosial dan intelektual, serta gerakannya dalam mendirikan organisasi

telah memperlihatkan kemampuan kepemimpinannya dalam organisasi. Hal itu

pun ditunjang dengan minatnya yang tinggi pada aktivitas intelektual dalam

sekolah politik yang kemudian menjadi landasan ideologis kuat bagi Aidit dalam

menapaki karir politiknya.50 Dalam aktivitas politik intelektualnya, pada tahun

1944 Aidit bergabung dengan Angkatan Muda (AM) dan Asrama Angkatan Baru

Indonesia (AABI), sebuah sekolah pendidikan politik yang didirikan oleh

departemen propaganda dalam pemerintahan militer Jepang. Di organisasi

tersebutlah Aidit mendapatkan kuliah dari para tokoh penting dalam pergerakan

nasional, antara lain Soekarno, Hatta, dan Amir Syarifuddin. Aidit kemudian

bergabung dengan Barisan Pelopor (BP)51 yang merupakan organisasi para aktivis

49 Ibid. 50 Transkripsi wawancara dengan Rewang, Koleksi Arsip Nasional RI

tahun 2011 51 Barisan Pelopor (Suisyintai) adalah sayap pemuda dari Jawa Hokokai

yang dibentuk Agustus 1944 oleh Jepang. Barisan Pelopor dipimpin oleh Ir.

Soekarno, Sudiro, RP. Suroso, Otto Iskandardinata dan Dr. Boentaran

Martoatmodjo. Pasca kemerdekaan, organisasi tersebut dikenal dengan nama

Barisan Benteng. https://id.wikipedia.org/wiki/Barisan_Pelopor (diakses 19 Juni

2015 pukul 19.50 WIB)

34

yang tergabung dalam Hokokai.52 Barisan tersebut kemudian berubah menjadi

Barisan Pelopor Istimewa (BPI) sebagai pasukan pengawal khusus Soekarno, di

organisasi tersebut terlihat betapa kehadiran Soekarno telah memberikan pengaruh

kepada Aidit.53 Kedekatan Soekarno dan Aidit di masa tersebutlah yang juga

berpengaruh pada kedekatan mereka secara politik, yakni ketika Aidit menjadi

ketua PKI dan Soekarno dengan Demokrasi Terpimpinnya membutuhkan

dukungan politik.

2. Karir politik D.N Aidit Tahun 1945-1965

Perkenalan Aidit dengan Soekarno selama di asrama dan BPI, membawa

pengaruh yang sangat dalam terhadap pandangan politik nasionalis Aidit.

Kedekatan Aidit dengan Sukarno mulai terjalin sejak itu. Pada awal tahun 1945,

Aidit menjadi aktivis Pemuda Angkatan Baru (PAB) sebagai organisasi yang

separuhnya legal dengan tujuan membuka jalan bagi proklamasi kemerdekaan.

Kelompok tersebutlah yang kemudian terlibat dalam aksi penculikan Soekarno-

Hatta pada malam 17 Agustus1945, namun Aidit tidak hadir dalam aksi tersebut.54

Aidit termasuk salah satu aktivis Menteng 31. Di dalam pusat kegiatan tersebutlah

Aidit dan Lukman aktif bekerja bahu membahu bersama denganpara kaum muda

lainnya seperti Wikana, Chaerul Saleh, Sidik Kertapati, Sukarni, B.M. Diah,

Adam Malik, dan Sudiro.

Gedung Menteng 31 memiliki peran penting dalam pembentukan sosok

D.N Aidit. Dalam gedung tersebut Aidit terlibat dalam institute pendidikan politik

52 Ngismatul Khoeriyah, Perbandingan Pemikiran Tan Malaka dan D.N.

Aidit, Skripsi FKIP UMP, 2014 53 Peter Edman.,Op Cit., hlm 63 54 Ibid.

35

Angkatan Baroe Indonesia di zaman pendudukan Jepang. Direkturnya Wikana,

gurunya para tokoh pergerakan; Bung Karno, Hatta, Sjahrir, Moh.Yamin, Achmad

Soebardjo, Iwa Kusumasumantri. Mata pelajaran yang diberikan ilmu hukum,

filsafat, sosiologi, sejarah politik, dan ekonomi. Disitulah Aidit mendapat

pendidikan politik secara sistematis. Sejak saat itu dia mengenal perbedaan antara

Soekarno dan Hatta. Pada Bung Karno, dia seorang intelektual yang selalu

mengintegrasikan diri dengan massa rakyat dan tokoh yang percaya terhadap aksi

massa. Dengan indoktrinasi dan agitasi, mereka meresapkan ide-ide ilmiah kepada

semuanya.55

Aidit kemudian ditangkap oleh Jepang dan dijebloskan ke penjara

Jatinegara karena keterlibatannya dalam aksi Rapat Raksasa Ikada di lapangan

Ikada, Gambir pada 19 September 1945, namun ia akhirnya berhasil meloloskan

diri.56 Sayangnya, ia lagi-lagi ditangkap oleh pasukan Inggris dan kemudian

dilimpahkan kepada Belanda yang mengasingkannya ke Pulau Onrust, Kepulauan

Seribu, Jakarta Utara, selama tujuh bulan. Ia baru dibebaskan setelah dilakukan

Perundingan Hoge Voluwe57 antara Belanda dan perwakilan Republik Indonesia

pada 24 April 1946.58

55 Julious Pour., Op Cit., hlm 45 56 Ibid., hlm 20 57 Perundingan Hoge Voluwe adalah Perundingan yang berlangsung di

Hooge Veluwe tersebut tidak membawa hasil sebab Belanda menolak konsep

pertemuan Sjahrir-Van Mook-Clark Kerr di Jakarta. Pihak Belanda menolak

memberikan pengakuan de facto kedaulatan RI atas Jawa dan Sumatera tetapi

hanya Jawa dan Madura serta dikurangi daerah-daerah yang diduduki oleh

Pasukan Sekutu. Dengan demikian untuk sementara waktu hubungan Indonesia -

Belanda terputus, akan tetapi Van Mook masih berupaya mengajukan usul bagi

pemerintahannya kepada pihak RI. http://azanulahyan.blogspot.com (diakses 27

Juni 2015 pukul 21.50 WIB) 58 Majalah Tempo.2007, Op Cit., hlm 70

36

Setelah dibebaskan, Aidit banyak menghabiskan waktu di organisasi Partai

Komunis Indonesia. Saat itu tahun 1947, PKI sedang melangsungkan Kongres ke-

IV, dan Aidit terpilih menjadi anggota Central Committee (CC) PKI. Dia juga

terpilih sebagai Ketua Fraksi PKI, dan menjadi anggota KNIP. Memasuki tahun

1948, Aidit bekerja sebagai Sekretaris Dewan Eksekutif Front Demokrasi Rakyat

(FDR), sebuah organisasi yang merupakan leburan dari PKI, Partai Sosialis, Partai

Buruh dan Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo)59 yang dipimpin oleh Aidit.60

Kemudian, pada September 1948, Aidit terpilih menjadi anggota Politbiro PKI.

Awal 1948 juga Aidit diserahi tugas untuk membidangi bidang Agitasi dan

Propaganda (Agitprop), untuk menyebarkan lagi paham revolusioner dan anti-

imperialis. Di bawah bimbingan seniornya Alimin61, Aidit menerbitkan majalah

dwi bulanan Bintang Merah, terbitan PKI yang punya arti strategis. Lalu pada

Agustus 1948, Aidit menjadi anggota Comite Central (CC) PKI, dan mengurus

agraria. Selama di parlemen, Aidit aktif mengumpulkan anggota-anggota KNIP62

59 Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) ialah organisasi yang diciptakan

atas inisiatif Menteri Pertahanan saat itu, yaitu Amir Sjarifuddin, sebagai sayap

pemuda dari Partai Sosialis Indonesia (PSI). Kongres yang diadakan pada 10

November-11 November 1945, mempersatukan tujuh organisasi setempat.

Keanggotaannya dengan cepat berkembang menjadi sekitar 25.000 orang.

Organisasi tersebut ikut serta dalam perjuangan bersenjata untuk merebut

kemerdekaan dalam revolusi nasional Indonesia. Satuan-satuan Pesindo terlibat

dalam pertempuran melawan pasukan-pasukan Britania. https://id.wikipedia.org

(diakses 19 Juni 2015 pukul 19.50 WIB) 60 Peter Edman.,Op Cit., hlm 64-65 61 Alimin adalah tokoh PKI sejak tahun 1926 dan juga merupakan tokoh

pemimpin PKI sebelum D.N. Aidit. https://id.wikipedia.org (diakses 19 Juni 2015

pukul 19.50 WIB) 62 Komite Nasional Indonesia Pusat (sering disingkat dengan KNIP)

dibentuk berdasarkan Pasal IV, Aturan Peralihan, Undang-Undang Dasar 1945

dan dilantik serta mulai bertugas sejak tanggal 29 Agustus 1945 sampai dengan

Februari 1950. KNIP merupakan Badan Pembantu Presiden, yang

keanggotaannya terdiri dari pemuka-pemuka masyarakat dari berbagai golongan

dan daerah-daerah termasuk mantan Anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan

https://id.wikipedia.org/

37

dari sayap kiri. Sebagai juru bicara sayap kiri dalam parlemen telah membuatnya

terlibat langsung dan terus menerus dengan sekretaris sayap kiri yang terdiri dari

Aidit, Njoto, Sudisman, Hasan Raid dan Peris Pardede.63 Sayang, kemudian

terjadi peristiwa pemberontakan PKI tahun 1948 di Madiun pimpinan Muso, yang

menjadikan Aidit harus menyembunyikan diri.

Pada pemberontakan PKI Madiun 1948, Muso dan Amir Syarifuddin

adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap pembunuhan-pembunuhan

kejam. Muso dan Amir Syarifuddin adalah orang-orang yang memimpin secara

langsung pemberontakan itu dan akhirnya dia terbunuh dalam satu pengejaran dan

penggerebekan tanpa diadili.64 Walaupun Aidit termasuk pengikut yang paling

dekat dengan Amir Syarifuddin namun dia sangat beruntung bahwa dia tidak

terlibat dan ikut dalam usaha pengkhianatan itu, karena dekat menjelang peristiwa

itu dia telah meninggalkan tanah air menuju Cina untuk memperdalam

pengetahuannya tentang Marxisme dan Komunisme.65 Pada peristiwa

pemberontakan PKI tahun 1948 di Madiun pimpinan Muso,66 sedikitnya, ada

sekitar 8.000 orang pendukung dan simpatisan PKI yang tewas dalam peristiwa

itu. Termasuk Amir Syarifuddin dan Musso. Aidit sendiri selamat, setelah

Indonesia.https://id.wikipedia.org/wiki/Komite_Nasional_Indonesia_Pusat

(diakses 19 Juni 2015 pukul 19.50 WIB) 63 Peter Edman.,Op Cit., hlm 66 64 Transkripsi wawancara dengan Rewang, Koleksi Arsip Nasional RI

tahun 2011 65 Rosamona, Matinja Aidit Marsekal Lubang-Buaya, (Jakarta: Inkopak-

Hazera, 1967), hlm 13-14 66 Musso atau Paul Mussotte bernama lengkap Muso Manowar (lahir di

Kediri, Jawa Timur tahun 1897 dan meninggal di Madiun, Jawa Timur, 31

Oktober 1948) adalah seorang tokoh komunis Indonesia yang memimpin Partai

Komunis Indonesia (PKI) pada era 1920-an dan dilanjutkan pada Pemberontakan

Madiun 1948. Musso adalah salah satu pemimpin PKI di awal 1920-an. Dia

adalah pengikut Stalin dan anggota dari Internasional Komunis di Moskow.

https://id.wikipedia.org/wiki/Musso (diakses tanggal 24 Juni 2015 Pukul 09.00)

38

melarikan diri ke Singapura, dan Vietnam Utara, lalu ke China, dan kembali ke

Indonesia, di pertengahan tahun 1950.

Aidit menyebut peristiwa Madiun adalah provokasi pemerintah Hatta-

Sukiman-Nasir. Hal itu dibuktikannya bahwa dalam kabinet atau pemerintahan

Hatta-Sukiman-Nasir diketahui duduk juga orang-orang dari partai atau aliran lain

kecuali aliran Hatta-Sukiman-Nasir seperti partai Nasionalis, Katolik, Sosialis

kanan, sebagaimana Aidit tahu juga bahwa yang memegang rol terpenting dalam

kabinet tersebut ialah Hatta dan orang-orang Masyumi.67

Pada hakekatnya kabinet RI ke VI (kabinet Hatta-Sukiman-Nasir) adalah

kabinet Masyumi yang dipimpin oleh Hatta. Sejak terbentuknya pada tanggal 29

Januari 1948, kabinet tersebut sepenuhnya menjalankan politik Masyumi dan

provokasi Madiun adalah pelaksanaan daripada politik Masyumi yang paling

penting, yaitu politik mengejar dan membunuh kaum komunis.68 PKI berpendapat

bahwa apa yang disiarkan oleh lawan-lawan politik PKI mengenai peristiwa

Madiun adalah pemutar balikkan kenyataan yang sesungguhnya dan merupakan

penipuan serta fitnah. Oleh karena itu msyarakat umum harus diberi keterangan

yang benar oleh pihak PKI sendiri.69 Aidit menjelaskan dalam pidatonya bahwa

dalam soal peristiwa Madiun kaum komunis adalah pendakwa, petikan pidatonya:

..Kami yakin, bahwa jika soal tersebut dibawa ke pengadilan

bukanlah kami yang akan menjadi terdakwa, tetapi kamilah pendakwa.

Kamilah yang akan tampil ke depan sebagai pendakwa atas nama Amir

Syarifuddin, putera utama bangsa Indonesia yang berasal dari tanah Batak,

atas nama Suripno, Maruto Darusman, Dr. Wiroreno, Dr. Rustam,

Harjono, Jokosujono, Sukarno, Sutrisno, Sarjono dan beribu-ribu lagi

putera Indonesia yang terbaik dari suku Jawa yang menjadi korban

keganasan satu pemerintah yang dipimpin oleh borjuis Minangkabau,

67 Murad Aidit, Aidit Sang Legenda, (Jakarta: Panta Rei.2005), hlm 151 68 Ibid, hlm 152 69 Ibid., hlm 145

39

Mohammad Hatta. Demikian kalau kita mau berbicara dalam istilah

kesukuan, sebagaimana sekarang banyak digunakan oleh pembela-

pembela kaum pemberontak di Sumatera, hal yang sedapat mungkin ingin

kami hindari. Ya, kami juga akan berbicara atas nama perwira-perwira,

bintara-bintara, dan prajurit-prajurit TNI yang tewas dalam "membasmi

Komunis" atas perintah Hatta, karena mereka juga tidak bersalah dan

mereka juga adalah korban perang-saudara yang dikobarkan oleh Hatta70

Peristiwa Madiun merupakan salah satu peristiwa pemberontakan yang

dilakukan PKI pimpinan Musso untuk mengambil alih pemerinahan dengan

mendirikan sebuah pemerintahan baru di Madiun. Tokoh-tokoh PKI yang

terbunuh dalam peristiwa Madiun adalah Musso dan Amir Syarifudin. Pada waktu

itu Aidit juga ditangkap, tetapi orang yang menangkapnya waktu itu tidak

mengenalinya. Mereka hanya menemukan seorang anak muda yang botak dan

berbadan pendek, tetapi mereka tidak tahu bahwa itu adalah Aidit, yang akhirnya

dibebaskan. Aidit segera melarikan diri ke Jakarta, dan tetap melanjutkan

perjuangannya dengan menyembunyikan identitas diri.71

Setelah kembali dari Cina pada pertengahan tahun 1950, Aidit segera

terpilih sebagai Sektretaris Jenderal Central Committe (CC), dan ia pun mulai

mengendalikan kepemimpinan melalui kelompoknya yang telah berhasil merebut

kekuasaan dari para pemimpin partai yang berasal dari generasi yang lebih tua.72

Selanjutnya, Aidit dan kelompoknya berhasil mengeser kiblat PKI dari Rusia ke

RRC. Cara Aidit membangun PKI sungguh sangat militan. Ia membangun

jaringan-jaringan partai hingga ke massa bawah.

Aidit membentuk berbagai organisasi-organisasi sayap yang berafiliasi

kepada PKI, dan menempatkan kader-kadernya dalam berbagai organisasi profesi,

70 Peter Edman, Op Cit, hlm 98 71 Murad Aidit, Op Cit., hlm 115 72 Peter Edman.,Op Cit., hlm 67

40

bahkan di tubuh militer sekalipun. Aidit juga menggerakan kader PKI untuk

menyusup ke dalam tubuh partai-partai lain yang ada., terutama partai yang besar

yang menjadi pesaingnya. Dengan ciri khasnya yang flamboyan, dan gaya

kepemimpinannya yang karismatik tersebut, membuat PKI mendapat simpati luar

biasa di masyarakat Indonesia.73

Di sisi lain, sejak tahun 1960 dalam masa Demokrasi Terpimpin, Soekarno

aktif mendekat dan meminta dukungan PKI sebagai kekuatan untuk mengimbangi

ketakutannya terhadap Angkatan Darat (AD). Hal tersebut tentu disambut baik

oleh PKI di bawah Aidit. PKI sebelumnya juga telah mencari dukungan dari

Partai Nasional Indonesia (PNI) yang salah satu pendirinya adalah Soekarno. Hal

yang perlu diperhatikan adalah, dengan semakin meningkatnya dukungan

presiden pada PKI, maka PKI memperoleh semacam lisensi yang lebih besar lagi

agar kebijakan-kebijakan PNI dapat mendukung dan melindungi PKI. Namun

ternyata memang PNI tahun 1960-an berbeda dari PNI sebelum kemerdekaan,

akhirnya PKI memandang bahwa PNI dan presiden Soekarno adalah dua sumber

dukungan yang terpisah, dan untuk memperoleh dukungannya mesti dilakukan

dengan cara yang berbeda-beda.74

Di bawah kepemimpinan Aidit, PKI berubah haluan dari yang semula

lebih banyak menggunakan taktik gerakan bawah tanah karena cap telah menikam

Republik dari belakang pada peristiwa Madiun, menjadi berusaha aktif di tengah

massa dalam rangka membangun front bersatu lebih luas dan bukannya

membatasi diri dengan memenangkan kekuasaan melalui berbagai keberhasilan

73 Herman Dwi Sucipto. ,Op Cit., hlm 89 74 Peter Edman.,Op Cit., hlm 104-105

41

dalam parlemen, meskipun demikian bukan berarti perjuangan parlementer

diabaikan sama sekali.

Pada 7 Januari 1951, Aidit terpilih menjadi Sekretaris Jenderal CC PKI,

kemudian menjadi Ketua Umum CC PKI. Usia Aidit saat menjabat pimpinan PKI

masih di bawah 30 tahun. Begitupun dengan sahabatnya, tidak ada yang usianya

melebihi 30 tahun. Di tangan golongan muda, PKI tumbuh dengan pesat menjadi

partai yang kuat, dinamis, dan memiliki peran penting dalam percaturan politik

nasional. Aidit sanggup membangun partai berbasis massa, dan memiliki anggota

hingga tiga juta orang.

Pengaruh Aidit telah mengarahkan PKI dalam upaya membangun sebuah

partai massa yang akan memperjuangkan tujuan-tujuan Marxisme dalam

masyarakat politik Indonesia.75 Pernyataannya tertuang dalam pidatonya atas

nama politbiro dalam Sidang Pleno II:

Tiap-tiap kedjadian menghendaki analisa jang dalam agar

mendapat pemetjahan jang tepat. Semuanja ini akan dapat kita lakukan,

asal kita tetap setia berpedoman kepada Marxisme-Leninisme, asal kita

dengan curahan sepenuh hati dan djiwa menghadapi tiap-tiap kedjadian,

asal kita senantiasa tidak lupa bahwa Partai kita adalah elemen jang

objektif daripada situasi negeri kita dan hasil daripada perdjuangan kelas

di dalam dan luar negeri76

Pada bulan Agustus 1951 PKI menggerakkan kerusuhan-kerusuhan di kota

Jakarta dan Bogor. Di Bogor banyak penduduk yang menjadi korban. Kabinet

Sukiman melakukan penangkapan dan penggeledahan dirumah- rumah para

pemimpin PKI. Oleh PKI peristiwa penangkapan dan penggeledahan tersebut

disebut Razia Agustus 1951 dan dianggap sebagai provokasi pemerintah

75 Peter Edman.,Op Cit., hlm 67-68 76 Pidato D.N Aidit Atas Nama Politbiro dalam Sidang Pleno II tahun

1954, Arsip Koleksi Pribadi, hlm 2

42

Sukiman dalam mencari alasan untuk membubarkan PKI. Akibat tindakan

pemerintah itu, sejumlah besar pimpinan PKI menjadi tahanan politik dan

sebagian kecil melarikan diri. Dalam operasi penangkapan tersebut D.N. Aidit

berhasil lolos dan melarikan diri ke Moskow, sedangkan PKI melaksanakan

gerakan bawah tanah.

Tahun 1953 momentum konsolidasi partai terjadi ketika meletus

kerusuhan petani di Tanjung Morawa, Sumatra Utara, 6 Juni 1953. Kerusuhan

tersebut digerakkan oleh kader PKI itu menjatuhkan kabinet Wilopo.77 Kesuksesn

tersebut memompa semangat baru ke Partai Komunis Indonesia (PKI).

Tahun 1953 D.N. Aidit kembali ke Indonesia dari Moskow. Dia muncul

dengan konsep baru yang dikenal dengan Jalan Demokrasi Rakyat bagi

Indonesia.78 Melalui konsep tersebut Aidit sekaligus menegaskan jalan yang

revolusioner di samping cara-cara parlementer. Dengan berdasarkan Marxisme-

Leninisme dan alanisis mengenai situasi kondisi Indonesia sendiri, CC PKI di

bawah pimpinan D.N. Aidit menyusun program partai untuk mencapai tujuannya,

yaitu mengkomuniskan Indonesia. Aidit menjabat Ketua Komite Sentral (CC)

dalam masa kepemimpinannya di PKI.79 Di pemerintahan, Aidit pernah menjadi

Menteri Koordinator dan Wakil Ketua MPRS. Lobi-lobi yang dilakukan PKI dan

gerakan politik Aidit, berhasil membujuk Soekarno agar menempatkan kader-

kader PKI di jajaran pemerintahan.

77 Majalah Tempo, 2007, Dari Menteng ke Pusaran Kekuasaan, Koleksi

Perpustakaan Universitas Sebelas Maret Surakarta., hlm 73 78 Ibid. 79 Majalah Tempo., 2007, Berakhir Seperti Musso, Koleksi Perpustakaan

Universitas Sebelas Maret Surakarta, hlm 68

43

Kampanye Nasakom80 yang yang dilakukan rezim Soekarno, merupakan

bukti keberhasilan Aidit memainkan peran di antara kekuatan politik di Indoneia

pada waktu tahun 1960. Kampanye Nasakom tersebut membuat pemerintah saat

itu memberi pengakuan bahwa komunis, nasionalis, dan agama berada dalam

posisi yang sama. Adanya Nasakom yang mempunyai kedudukan yang sama

membuat Aidit merasa punya jalan untuk menempatkan kader-kader PKI dalam

pemerintahan Soekarno. Aidit memaknai Nasakom dengan menempatkan kader

PKI dalam setiap jajaran birokrasi, bahkan militer yang diwakili oleh Syam.

Saat kepemimpinan Aidit, kader-kader PKI sangat piawai dalam

memprovokasi massa serta lawan politiknya dengan berbagai gagasan jenius

sekaligus kontroversial dengan logika yang baik, Aidit pernah melontarkan

sebuah gagasan bahwa Pancasila sudah kurang efektif lagi dalam melihat kondisi

Indonesia ke depan. Dia mengusulkan pembentukan Angkatan kelima, dengan

cara mempersenjatai buruh dan petani dengan bantuan persenjataan dari RRC.

Kampanye memberikan senjata kepada buruh dan tani tentu saja merupakan

80 Nasakom adalah konsep politik selama presiden Sukarno di Indonesia.

Tersebut adalah akronim dari Nasionalisme, Agama, dan Komunisme. Pada 1956

Sukarno secara terbuka mengkritik demokrasi parlementer, yang menyatakan

bahwa itu "didasarkan pada konflik inheren" yang berlawanan dengan gagasan

Indonesia harmoni sebagai keadaan alami antar hubungan manusia. Sebaliknya, ia

mencari sistem yang didasarkan pada sistem tradisional desa dengan

menampilkan diskusi dan konsensus, dibawah bimbingan para tetua desa. Ia

mengusulkan campuran antara tiga unsur nasionalisme, agama dan komunisme

menjadi pemerintah koperasi 'Nas-A-Kom'. Hal tersebut dimaksudkan untuk

memenuhi tuntutan tiga faksi utama dalam politik Indonesia - tentara, kelompok-

kelompok Islam, dan komunis. Dengan dukungan dari militer, pada bulan

Februari ia menyatakan 'Demokrasi Terpimpin', dan mengusulkan kabinet yang

akan mewakili semua partai politik penting. https://id.wikipedia.org

/wiki/Nasakom (diakses tanggal 24 Juni 2015 Pukul 23.00)

44

tantangan bagi rival politik PKI yang paling kuat, yaitu Angkatan Darat. Tidak

mengherankan bila AD Paling bersemangat menolak usul tersebut.81

Untuk mengembalikan dukungan massa pada PKI setelah peristiwa

pemberontakan pada 1948, Aidit dan kawan-kawan berusaha keras membangun

basis massa di bawah dengan pengorganisasian massa, mengambil hati rakyat

kecil dengan program partai yang memihak rakyat kecil seperti kaum buruh dan

tani sebagai kekuatan revolusinya. Hal tersebut termuat dalam salah satu

pidatonya:

Kaum buruh mendjadi kekuatan pokok Revolusi oleh karena mereka,

berhubungan dengan kedudukan sosialnja, adalah jang paling konsekuen

berdjuang untuk Sosialisme, jaitu masjarakat jang bersih dari penghisapan

atas manusia oleh manusia. Oleh karena kaum buruh paling konsekuen

berdjuang untuk Sosialisme, artinja klas tersebut tidak akan berhenti

berdjuang sebelum hapus segala bentuk penghisapan, maka mereka djuga

paling konsekuen berdjuang melawan imperialisme dan sisa-sisa

feodalisme untuk menjelesaikan tahap Revolusi sekarang, jaitu tahap

nasional dan demokratis jang mutlak harus diselesaikan sebelum dapat

memulai dengan membangun Sosialisme. Sosialisme tidak mungkin

dibangun di negara jang tidak merdeka penuh. Kaum tani mendjadi

kekuatan pokok Revolusi oleh karena mereka meliputi majoritet jang

terbesar sekali dari Rakjat dan jang tertindas dari sisa-sisa feodalisme.

Oleh karenanja, hakekat daripada Revolusi kita pada tahap sekarang

tersebut adalah Revolusi agraria jang bertudjuan membebaskan kaum tani

dari penghisapan feodal. Dengan demikian mendjadi djelas pula hakekat

daripada tentara kita, jaitu kaum tani bersendjata, mereka adalah anak

kaum tani atau masih ada hubungan keluarga jang dekat dengan kaum

tani.Kaum buruh dan kaum tani adalah soko-guru Revolusi, pendorong

madju Revolusi bersama-sama dengan Rakjat pekerdja lainnja. Tanpa

kaum buruh dan kaum tani tidak mungkin sama sekali untuk membangun

masjarakat apapun. Ja, tanpa kaum buruh dan kaum tani tidak mungkin

ada masjarakat. Bajangkanlah betapa rupanja kita jang berkumpul dalam

ruangan tersebut, djika tidak ada kaum tani dan kaum buruh jang

memproduksi bahan pangan dan pakaian! Dasar masjarakat, jaitu

penciptaan kekajaan materiil, adalah hasil tjiptaan kaum buruh dan tani.

Merekalah jang menghasilkan sandang-pangan, menghasilkan segala apa

jang memungkinkan kita hidup. Sudah tentu kita tidak boleh meremehkan

peranan golongan-golongan lain dalam masjarakat, misalnja kaum

81 Herman Dwi Sucipto. ,Op Cit., hlm 90

45

keradjinan tangan, intelektual, pegawai negeri, anggota angkatan

bersendjata dsb82

Aidit memberikan jabatan ideal kepada kepada kedua temannya yakni

Njoto dan Lukman di PKI. Aidit mengangkat Lukman menjadi wakil sekjen I dan

Nyoto menjadi wakil sekjen II.83 Sebagai ketua PKI, Aidit mengamati politik

secara umum, Lukman memimpin Front Persatuan, dan urusan agitasi dan

propaganda diemban Nyoto. Tidak cuma berorganisasi saja, untuk meluaskan

jaringan, mereka mendirikan sekolah dari tingkat dasar sampai universitas.84 Di

tempat tersebut terlihat bahwa PKI sudah sedemikian maju dalam memikirkan

kaderisasi anggota partai dengan membidik anak-anak muda melalui institusi

pendidikan. Bahkan sampai sekarang di Indonesia tampaknya tidak ada satu

partaipun yang serius memikirkan pendidikan sampai pada praksis mendirikan

sekolah dan universitas.

Pada Tahun 1955 Aidit membawa perolehan suara PKI pada Pemilu

berada pada peringkat keempat setelah PNI, Masyumi, dan Nahdlatul Ulama.

Maka PKI menjadi partai komunis terbesar di Negara non-komunis, dan terbesar

ketiga di dunia setelah Rusia dan Cina.85 Aidit menyatakan bahwa hal itu terjadi

karena kuatnya keyakinan dan idealisme anggota dan para kader, karena ketepatan

garis politik PKI, karena kesetiaan dan keseriusan PKI dalam mempertahankan

kepentingan sehari-hari massa kelas buruh, dan semakin meningkatnya

82 D.N. Aidit, Revolusi Indonesia dan Tugas-Tugas Mendesak PKI,

(Jakarta: Yayasan Pembaruan, 1963) hlm 23-24 83 Jabatan wakil sekjen diganti menjadi ketua dan wakil ketua pada 1959 84 Majalah Tempo.,2007, The Three Musketeers, Koleksi Perpustakaan

Universitas Sebelas Maret Surakarta, hlm 71 85 Majalah Tempo.,2007, Dari Menteng ke Pusaran Kekuasaan, Op Cit.,

hlm 74

46

perjuangan PKI dalam rangka mewujudkan persatuan rakyat buruh dan seluruh

bangsa.86 Perhatiannya terhadap kaum buruh tertuang dalam pidatonya:

Tak usah kiranja saja tekankan kepada Saudara-saudara betapa sedjak

saat-saat permulaan gerakan kemerdekaan nasional kita, jaitu pada awal

abad tersebut, kaum buruh melalui organisasi-organisasi mereka jaitu

serikat buruh-serikat buruh telah memegang peranan aktif dalam

melawan kolonialisme Belanda, kemudian dalam melawan pendudukan

Djepang, dan kemudian dalam melawan agresi-agresi Belanda dan

membela Republik. Kisah kepahlawanan pengambilalihan perusahaan-

perusahaan Belanda pada akhir tahun 1957 dan permulaan tahun 1958

djuga ditulis oleh kaum buruh jang terorganisasi bersama-sama dengan

Rakjat pekerdja umumnja. Dan pengambilalihan itu dengan sekaligus

menumpas kekuasaan Belanda atas ekonomi kita serta memberi dasar

bagi penegakan ekonomi nasional.Sedjarah memang membuktikan

bahwa kaum buruh benar-benar merupakan soko guru Revolusi

Indonesia seperti dinjatakan di dalam Manipol. Sumbangan kaum buruh

sungguh besar sekali dalam menjediakan dasar-dasar bagi pelaksanaan

strategi dasar ekonomi seperti jang ditetapkan dalam Dekon, jaitu

membangun susunan ekonomi yang nasional dan demokratis, jang anti-

imperialisme, dan anti-feodalisme.87

Keberhasilan tersebut dicapai Aidit bersama kawan-kawannya dengan

menata organisasi partai secara professional sambil meluaskan basis

pendukungnya. Cara cara yang digunakan Aidit adalah dengan mendirikan

jaringan sekolah, sejak tingkat dasar sampai universitas. Selain itu, PKI tampil

sebagai pendukung militan, dalam mengikuti langkah politik Bung Karno, yang

sejak Dekrit Presiden bulan Juni 1959, mulai tampil sebagai seorang pemimpin

tunggal, dilengkapi gagasan membangun Demokrasi Terpimpin.88

Pada tahun 1957, dalam pemilihan daerah, jumlah suara untuk PKI

meningkat hampir 40 persen, bahkan di beberapa daerah mereka mayoritas.

Jumlah anggotanya yang semula hanya 4.000 orang meningkat puluhan kali

86 Peter Edman.,Op Cit., hlm 106 87 Ceramah D.N Aidit berjudul Serikat Buruh dan Serikat Madjikan,

Ceramah dihadapan Pejabat dan Pegawai Perburuhan 17 Juni 1963, Koleksi

Pribadi 88 Julious Pour.,Op Cit.,hlm 43

47

lipat. Aidit dengan bangga melaporkan bahwa jumlah perempuan anggota

partai sudah mencapai 100 ribu. Pada usia 32 tahun Aidit sudah menjadi

pemimpin salah satu kekuatan politik pasca-revolusi yang paling signifikan

dan hidup. Pada tahun 1960, Soekarno melancarkan slogan Nasakom

(Nasionalisme, Agama, dan Komunisme). Dengan demikian peranan PKI sebagai

mitra dalam politik Soekarno dilembagakan. Di bawah bendera Nasakom,

kelompok Komunis secara de facto merupakan unsur terkuat dan dominan

dibandingkan dengan dua unsur lainnya, baik kelompok Agama maupun

kelompok Nasional.89

Soekarno memasukan Aidit dan Nyoto menjadi anggota Front Nasional

untuk memperjuangkan Irian Barat sehingga berhasil diselesaikan pada 15

Agustus 1962 dan pada Maret 1962, Para pemimpin PKI, Aidit dan Njoto,

diangkat menjadi menteri penasihat. Tahun 1963, Aidit diangkat menjadi Ketua

Kehormatan Lembaga Ilmu Pengetahuan RRC. Dengan pengangkatan tersebut,

menurut aturan protokoler China, dia tidak lagi dipanggil Kawan Aidit, melainkan

harus lengkap bersama predikatnya, Kawan Aidit yang Bijaksana. Kuo Moujo,

Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan China, menempatkan Aidit sejajar dengan Mao

Zedong dan Joseph Stalin.

Pada tahun 1965 meletus Gerakan 30 September, peristiwa yang juga

mengakhiri petualang politik Aidit di Indonesia. Peristiwa Gerakan 30 September

adalah peristiwa tentang penculikan dan pembunuhan jenderal-jenderal AD.

Situasi politik Indonesia kemudian berubah kacau. Orang-orang saling tuduh. AD

menuduh PKI ada di balik pembunuhan tersebut, sedangkan Aidit Pimpinan PKI

89 D.N. Aidit, Kibarkan Tinggi Panji Revolusi, (Djakarta : Jajasan

Pembaruan, 1964), hlm 110

48

menyebut tragedi itu adalah murni konflik internal yang ada dalam AD. Pihak AD

yang mengontrol ketat media massa, akhirnya bisa mengarahkan pendapat

masyarakat agar menganggap gerakan itu merupakan otak Aidit. Sejak saat itu,

gerakan politik Aidit hancur lebur. Dengan demikian dapat dipahami ada

peristiwa G 30S merupakan suatu pristiwa yang terjadi akibat adanya persaingan

antara PKI dan Angkatan darat. Persaingan tersebut juga dimotori oleh kedua

negara besar yaitu Amerika dan Uni Soviet yang ingin memerikan pngaruh

ideologinya di Indonesia. Amerika dengan kapitalis bersama AD sedangkan

Soviet dengan Komunisnya bersama PKI. Dengan adanya peristiwa G 30S

akhirnya Kapitalis yang memenangkan persaingan tersebut.

C. Kematian D.N Aidit

Gerakan 30 September 1965 menjadikan Aidit sebagai tersangka utama

upaya kudeta tersebut. Aidit ditangkap oleh Brigade IV Infanteri di Solo pada 22

November 1965, keesokan paginya Aidit ditembak mati di daerah Boyolali, Jawa

Tengah . Banyak versi soal penangkapan dan kematian D.N. Aidit tetapi tidak

pernah mendapat versi yang benar-benar dapat dipercaya di mana kuburnya

berada.

Akhir kisah Aidit bahwa dia bersembunyi di Gang Sidaredja, Sambeng,

Solo di rumah Mbok Hardjo yang juga disewa oleh Pak Kasim sekeluarga.

Melalui penggledahan yang sangat alot, akhirnya dari penjelasan Pak Kasim

tersebutlah terungkap persembunyian Aidit di kamar tidurnya di balik almari

makan yang sederhana. Dengan demikian selesailah sudah perjuangan Aidit,

Ketua PKI, partai komunis yang terbesar di seluruh dunia di negara non-komunis,

49

pemimpin tertinggi operasi perebutan kekuasaan dengan kekerasan atas

Pemerintah Republik Indonesia, pemimpin tertinggi Kontrarevolusi PKI/G-30-S

yang memimpikan mulai tanggal 1 Oktober adanya kekuasaan Dewan Revolusi

untuk kemudian meningkat menjadi Pemerintah Republik Rakyat Indonesia yang

membawa negara Indonesia menjadi negara komunis menggantikan Negara

Republik Indonesia berdasarkan Pancasila.90

Aidit adalah sosok yang yang kontoversial yang mewarnai dunia

perpolitikan di Indonesia pada tahun 1950-1965. Ia paham betul situasi sosial

ekonomi rakyat Indonesia, dan sungguh-sungguh memanfaatkannya untuk

membesarkan PKI. Hanya Aidit, seorang tokoh komunis militan yang pernah

membawa Indonesia berada dalam hari-hari penuh semangat akan dinamika

politik yang sarat akan kepentingan dan konflik.91 Kematian Aidit juga

mengakhiri riwayat komunis dan khususnya PKI di Indonesia. PKI dibubarkan

dan menjadi partai terlarang di Indonesia.

90 Majalah Tempo,2007, Op Cit, hlm 85 91 Herman Dwi Sucipto., Op Cit., hlm 90