BAB II BUKU PAI, DESAIN LAYOUT BUKU, DAN sampul.2 Sementara, jika ... membaca buku adalah keharusan...

download BAB II BUKU PAI, DESAIN LAYOUT BUKU, DAN sampul.2 Sementara, jika ... membaca buku adalah keharusan bagi siswa.9 Dengan membaca buku, siswa akan lebih kaya dalam ... sebuah laporan

of 32

  • date post

    06-Feb-2018
  • Category

    Documents

  • view

    221
  • download

    3

Embed Size (px)

Transcript of BAB II BUKU PAI, DESAIN LAYOUT BUKU, DAN sampul.2 Sementara, jika ... membaca buku adalah keharusan...

  • 19

    BAB II

    BUKU PAI, DESAIN LAYOUT BUKU, DAN SISWA A. Buku PAI

    1. Teori Buku dan Peran Buku PAI Buku menurut George Steiners essay diartikan sebagai

    komunikasi bagi dirinya sendiri dalam keseimbangan.1 Sedangkan

    menurut UNESCO, buku disebut sebagai suatu penerbitan yang

    mempunyai jumlah halaman sebanyak 49 halaman atau lebih, tidak

    termasuk sampul.2

    Sementara, jika dilihat dari penampilannya, buku dapat

    didefinisikan sebagai tulisan atau barang cetakan di atas lembaran kertas

    yang menahan bersama-sama dan dilindungi oleh sampul.3 Ada yang

    mengartikan, buku sebagai kumpulan lembaran kertas empat persegi

    panjang yang satu sisinya dijilid bersama-sama; bagian depan dan

    belakang lembar-lembar kertas ini dilindungi oleh sampul yang terbuat

    dari bahan yang lebih tahan (terhadap gesekan, kelembaban, dll.).4

    Sementara itu, jika dilihat dari fungsinya, buku dapat didefinisikan

    sebagai alat komunikasi tulisan yang dirakit dalam satu satuan atau lebih,

    agar pemaparannya dapat lebih lestari.5 Selain itu, buku merupakan sarana

    pendidikan utama-selain guru- dalam proses belajar mengajar. Kualitas

    buku menunjang keberlangsungan pendidikan dan kurikulum berbasis

    kompetensi serta mendukung kebutuhan materi.6

    Di samping itu, bila dilihat dari sudut budaya, buku mempunyai

    tiga fungsi, yaitu; 1) buku dapat dipandang sebagai sebuah produk budaya

    1 Jon Wozencroft, The Graphic Language of Neville Brody, (USA: Thames and Hudson, tth.), hlm. 88

    2 Proyek Pusat Publikasi Pemerintah Departemen Penerangan RI, Penerbitan Pemerintah 8-12 Maret 1976, dalam Lokakarya oleh J. Sirie (Direktur Pusat Grafika Indonesia, Peranan Percetakan dalam Produksi Penerbitan Pemerintah. hlm. 48.

    3 Lauren S. Bahr & Bernard Johnston, Colliers Encyclopaedia with Bibliography and Index, (USA: P. F. Collier, INC, 1993), hlm.358.

    4 Ensiklopedi Nasonal Indonesia, (Jakarta : PT Cipta Adi Pustaka, 1989), hlm. 517. 5 Ibid, hlm. 518. 6 Jawa Pos, Rabu, 10 Agustus 2005.

  • 20

    (cultural product), sebuah benda yang menjadi perwujudan fisik dari

    pikiran, perasaan, dan pengalaman manusia, 2) buku dapat dilihat juga

    sebagai bagian dari suatu tingkah laku budaya (cultural behavior), baik

    dipandang dari sudut pembaca maupun dari sudut penulisnya. Dalam arti

    tersebut seorang pembaca akan terbiasa mencari informasi, menambah

    pengetahuan, melakukan pengecekan pengetahuannya, atau mencari

    hiburan dan kesenangan dengan membaca buku-buku. Dan 3) buku tidak

    hanya dipandang sebagai produk budaya, atau tingkah laku budaya, tetapi

    terutama sebagai proses produksi budaya (cultural production).7

    Walaupun begitu, buku selain merupakan sarana yang ampuh

    untuk melestarikan hasil budaya, juga merupakan wahana informasi ilmu

    pengetahuan yang sangat berdaya guna. Sekalipun dalam abad sekarang

    ini media elektronika telah maju dengan pesat, buku masih tetap

    merupakan sarana penyebar informasi yang paling popular, karena buku

    lebih sederhana, lebih tahan lama, mudah disimpan, dan dalam

    penggunaannya tidak memerlukan alat pembantu. Oleh karena itu, buku

    senantiasa diperlukan bagi pelaksanaan pendidikan, penerangan,

    pengembangan ilmu dan teknologi, serta peningkatan kebudayaan bangsa.8

    Nana Sudjana berpendapat, buku adalah sumber ilmu, sehingga

    membaca buku adalah keharusan bagi siswa.9 Dengan membaca buku,

    siswa akan lebih kaya dalam memahami bahan pelajaran yang diberikan

    guru.

    Dalam kaitannya dengan penyelenggaraan pendidikan, setiap

    peserta didik memerlukan buku pelajaran dan beraneka ragam buku lain

    yang mengandung informasi pengetahuan dan teknologi yang memperluas

    cakrawala pemikiran sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi

    7 Ignas Kleden, Buku dalam Indonesia Baru, (Jakarta: Yayasan Obor dan the Japan

    Foundation, 1999), hlm. 22-35. 8 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pertimbangan Pengembangan Buku

    Nasional, Pengembangan Perbukuan Nasional Dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap II (PJPT II),(Jakarta: CV Dwi Cahaya Citra Prima, 1993), hlm. 1.

    9 Nana Sudjana, Dasar-dasar proses belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1989), hlm. 170.

  • 21

    yang pesat. Oleh karenanya, semakin tinggi jenjang pendidikannya

    semakin banyak buku yang dibutuhkannya, pada taraf pengetahuan juga

    semakin tinggi.10

    Untuk itu, buku pelajaran dikenal sebagai salah satu masukan

    (input) ke dalam proses belajar mengajar yang ikut menentukan

    keberhasilan pencapaian tujuan instruksional, kurikuler, institusional dan

    bahkan tujuan pendidikan nasional, khususnya untuk guru-guru yang oleh

    karena keadaan geografis dan kemudahan sarana komunikasi masih

    terisolasi secara profesi, sehingga buku pelajaran merupakan kebutuhan

    dan sumber utama dalam pengajaran di sekolah.11

    Melihat kenyataan bahwa buku yang disediakan untuk sekolah

    mempunyai ciri yang khas jika dilihat dari segi isi perwajahan, bahasa, dan

    fisik buku, maka setiap buku yang dipakai di sekolah hendaknya

    membantu pengajaran pengetahuan dan ketrampilan anak dengan beracu

    kepada tujuan kurikulum yang berlaku.12

    Walaupun begitu, pentingnya buku pelajaran dalam dunia

    pendidikan tidak diragukan lagi. Seorang pakar pendidikan Inggris, Alan

    Cunningsworth, mengatakan bahwa komponen yang sangat berperan

    dalam mutu pendidikan adalah guru dan buku pelajaran. Menurutnya,

    buku pelajaran dapat berperan sebagai sumber: (1) pengetahuan,

    keterampilan, wawasan, dan nilai-nilai positif bagi siswa, (2) ide dan

    dorongan kegiatan belajar mengajar di kelas, (3) gagasan dan dorongan

    kegiatan mandiri siswa, (4) perwujudan silabus/kurikulum yang

    didalamnya terdapat tujuan-tujuan pembelajaran yang telah digariskan,

    dan (5) membantu bagi guru yang kurang kreatif dan kurang pengetahuan

    untuk mengembangkan kepercayaan diri.13

    10 Ibid, hlm. 6. 11 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pusat Perbukuan, Pengembangan Perbukuan

    di Indonesia; Hasil Lokakarya Pengembangan Perbukuan di Indonesia Jakarta 17-18 November 1988, oleh Drs. Taya Paembonan dalam Penerbitan dan Pengembangan Buku Pelajaran, hlm. 9.

    12 Ibid, hlm. 5. 13 KOMPAS, edisi 2 Agustus 2002:10.

  • 22

    Lain halnya dengan Fischer, buku pelajaran berfungsi seperti

    halnya alat bantu lainnya dalam pembelajaran. Lebih rinci dijelaskan oleh

    Fischer mengenai fungsi buku pelajaran adalah sebagai berikut: (a) sebagai

    sumber pokok-pokok bahasan bagi guru, (b) sebagai dasar untuk

    memberikan pekerjaan rumah dan tugas-tugas lainnya bagi pebelajar, (c)

    sebagai pegangan bagi pebelajar untuk melakukan segala aktivitas belajar,

    (d) sebagai dasar untuk membuat pertanyaan-pertanyaan dan soal-soal

    ujian, dan (e) nilai yang tak terhingga adalah sebagai sumber untuk

    mengembangkan ketrampilan belajar.14

    Disamping itu, Hilton juga mengungkapkan bahwa buku pelajaran

    mempunyai peranan yang sangat sentral dalam pembelajaran. Oleh karena

    itu ia menyatakan bahwa buku pelajaran merupakan salah satu yang sangat

    dominan pengaruhnya dalam pendidikan.15

    Walaupun buku pelajaran telah diakui mempunyai peranan yang

    penting dalam pembelajaran, namun buku pelajaran pun masih tetap

    memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan tersebut antara lain: (a) buku

    pelajaran mungkin dapat menurunkan kreativitas guru, (b) buku pelajaran

    sebagai sumber pembelajaran tertulis mungkin mempersempit ruang gerak

    usaha pebelajar untuk mencari sumber-sumber pembelajaran yang lain, (c)

    sebagai sumber pembelajaran tertulis yang memerlukan kemampuan yang

    memadai untuk memahami isinya akan menimbulkan frustasi bagi para

    pebelajar yang kemampuan membacanya rendah, dan (d) dengan

    perkembangan dan perubahan yang begitu cepat memungkinkan pula isi

    buku pelajaran cepat tertinggal informasi.16

    Melihat Pendidikan Agama Islam yang bertujuan meningkatkan

    keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengalaman peserta didik

    tentang Agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman

    14 Fischer, G. A., The Text as Tool: How Does It Work? Educational Technology,( USA::

    1977), hlm. 19. 15 Hilton, E, Textbook. Dalam R. L. Ebel, Encyclopaedia of Educational Research, (New

    york: MccMiillan Company, 1969), hlm. 1778. 16 Maxim, G. Social Studies and Elementary School Child, (Colombus Ohio: Merril

    Company & Howel Company, 1983), hlm. 73.

  • 23

    dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan

    pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta memberikan

    kemampuan dasar kepada peserta didik tentang Agama Islam untuk

    mengembangkan kehidupan beragama sehingga menjadi manusia yang

    muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak

    mulia sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga Negara dan anggota

    umat manusia.17

    Maka dari itu, buku PAI yang baik tentunya dapat menambah

    sesuatu untuk kesenangan pembaca. Kesenangan adalah di atas tingkat

    perbedaan dari pengalaman yang dia peroleh dalam membaca teks.18 Di

    samping itu pula buku ini dapat membentuk sikap dan moral pembacanya

    sesuai dengan norma-norma keagamaan.19

    2. Tinjauan U