Bab 1 Degenerasi

download Bab 1 Degenerasi

of 41

  • date post

    11-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    687
  • download

    9

Embed Size (px)

Transcript of Bab 1 Degenerasi

DEGENERASILAPORAN TUTORIAL

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Tutorial Blok Penyakit Dentomaksilofasial II Pada Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember

Disusun oleh: Kelompok Tutorial III

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS JEMBER 2009

DAFTAR ANGGOTA KELOMPOK Tutor Ketua Scriber Meja Scriber Papan Anggota 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. : (081610101035) (081610101037) (081610101048) (081610101054) (081610101056) (081610101062) (081610101065) (081610101089) (081610101090) (081610101101) (081610101103) (081610101104) Ira Lahfatul M Islachul Lailiyah lusi Nirmalawati Ulil Rachima P Ethica Aurora S Nur Baiti Dwi M Sukma Surya Putri Sayyidatu A Erwin Indra Kusuma : drg. Erawati Wulandari, M. Kes : Islachul Lailiyah : lusi Nirmalawati : Ira Lahfatul M (081610101037) (081610101048) (081610101036)

10. Ayu Novita Raga 11. Muhammad Iqbal 12. Dian Rosita Rahman

KATA PENGANTAR Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas laporan ini, tentang DEGENERASI. Laporan ini disusun untuk memenuhi hasil diskusi tutorial kelompok III pada skenario kedua. Penulisan makalah ini semuanya tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, oleh karena itu penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada : 1. drg. Erawati Wulandari, M. Kes. selaku tutor yang telah membimbing jalannya diskusi tutorial kelompok III Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember dan yang telah memberi masukan yang membantu, bagi pengembangan ilmu yang telah didapatkan. 2. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini. Dalam penyusunan makalah ini tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikanperbaikan di masa mendatang demi kesempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini dapat berguna bagi kita semua.

Jember, 05 November 2011

Tim Penyusun

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penuaan merupakan kejadian yang alamiah, adalah proses degenerasi yang berlangsung pada setiap orang. Proses menua disebabkan oleh faktor intrinsik, yang berarti terjadi perubahan struktur anatomik dan fungsi sel maupun jaringan disebabkan oleh penyimpangan didalam sel/jaringan dan bukan oleh faktor luar (penyakit). Menghambat penuaan berarti mempertahankan struktur anatomi pada suatu tahapan kehidupan tertentu sepanjang mungkin maka untuk ini diperlukan penguasaan ilmu anatomi. Terjadinya perubahan anatomik pada sel maupun jaringan tiap saat dalam tahapan kehidupan menunjukan bahwa anatomi adalah ilmu yang dinamis. Banyak sekali keluhan-keluhan yang dialami oleh para manula yang mengalami degenerasi. Diantaranya masalah musculoskeletal (misalnya osteoporosis), pada wanita periode haid yang tidak teratur, sensasi semburan panas ( Hot Flashes ), masalah seksual, rasa lesu dan gangguan tidur, perubahan perasaan, perubahan bentuk tubuh, dan keluhan lain seperti nyeri kepala, gangguan daya ingat (pelupa), nyeri persendian dan kaku otot, serta gangguan konsentrasi dalam berpikir. Untuk lebih jelasnya mengenai degenerasi dan mengetahui mengenai penyebab, tanda-tanda, pemeriksaan, dll, dibahas secara lengkap pada makalah ini. 1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana konsep dasar penuaan dan degenerasi? 2. Apa saja macam-macam degenerasi pada umumnya?(etiologi, patogenesis, gambaran klinis, pemeriksaan, dan klasifikasi) 3. Apa saja macam-macam degenerasi jaringan keras rongga mulut (etiologi, patogenesis, gambaran klinia, dan pemeriksaan) 4. Apa saja macam-macam degenerasi jaringan keras rongga mulut (etiologi, patogenesis, gambaran klinis, dan pemeriksaan)

1.3 Tujuan 1. Untuk mengetahui dan memahami konsep dasar penuaan dan degenerasi 2. Untuk mengetahui dan memahami macam-macam degenerasi pada umumnya (etiologi, patogenesis, gambaran klinis, pemeriksaan, dan klasifikasi) 3. Untuk mengetahui dan memahami degenerasi jaringan keras rongga mulut (etiologi, patogenesis, gambaran klinia, dan pemeriksaan) 4. Untuk mengetahui dan memahami degenerasi jaringan keras rongga mulut (etiologi, patogenesis, gambaran klinis, dan pemeriksaan) 1.4 Maping DEGENERASI DAN PENUAAN

KLASIFIKASI DEGENERASIDEGENERASI JARINGAN LUNAK DEGENERASI JARINGAN KERAS

MACAM-MACAM PENYAKIT DEGENERASI

ETIOLOGI

PEMERIKSAAN

KLINIS HPA

PENUNJANG

RO

BAB II. PEMBAHASAN 2.1 Degenerasi a. Degenerasi Jaringan Lunak 1. Degenerasi Pulpa Degenerasi pulpa merupakan kemunduran jaringan pulpa yang bukan diakibatkan karena suatu keradangan. Degenerasi umumnya dijumpai pada gigi orang tua, degenerasi juga dapat disebabkan oleh iritasi ringan yang persisten pada gigi orang muda, seperti pada degenerasi kalsifik pulpa. Degenerasi tidak berhubungan dengan infeksi atau karies, meskipun suatu kavitas atau tumpatan mungkin dijumpai pada gigi yang terpengaruh. Tingkat awal degenerasi pulpa biasnya tidak menyebabkan gejala klinis nyata. Gigi tidak berubah warna , dan pulpa bereaksi secara normal terhadap tes listrik dan tes termal. Bila degenerasi pulpa berkembang terhadap stimulasi. Sumber : (Grossman, Louis I. 1995. Ilmu endodonti dalam praktek. EGC : Jakarta) Macam macam degnerasi pulpa yaitu : 1. DEGENERASI KALSIFIK Pada degenerasi kalsifik, sebagian jaringan pulpa digantikan oleh bahan mengapur; yaitu terbentuk batu pulpa atau dentikel. Kalsifikasi ini dapat terjadi baik di dalam kamar pulpa ataupun saluran akar, tapi umumnya dijumpai pada kamar pulpa. Pproses pembentukan dentikel yaitu bahan mengapur selapis demi selapis dan mempunyai struktur berlamina seperti kulit bawang, dan terletak tidak terikat di dalam badan pulpa. Dentikel atau batu pulpa dapat menjadi cukup besar atau memberikan suatu bekas pada kavitas pulpa bila massa mengapur tersebut dihilangkan. Pada jenis kalsifikasi lain, bahan mengapur terikat pada dinding kavitas pulpa dan merupakan suatu bagian utuh darinya. Tidak selalu mungkin untuk membedakan satu jenis dari jenis lain pada radiograf. gigi mungkin berubah warna dan pulpa tidak bereaksi

Macam-macam dentikel yaitu: true dentikel merupakan dentikel yang dibentuk oleh odontoblas seperti dentin sekunder dan false dentikel merupakan dentikel dari jaringan pulpa yang mengalami pengapuran. Mekanisme dentikel yang mengenai gigi masih belum diketahui. sebagian besar dentikel terdiri atas apatit karbonat. Namun beberapa laporan penelitian menerangkan beberapa bakteri berpotensi untuk menghasilkan apatit dalam kondisi yang menggunakan media pada perkapuran. Prevalensi : Diduga bahwa batu pulpa dijumpai pada lebih dari 60 % gigi orang dewasa. Batu pulpa dianggap sebagai pengerasan yang tidak berbahaya, meskipun rasa sakit yang menyebar (referes pain) pada beberapa pasien dianggap berasal dari kalsifikasi ini pada pulpa. Gigi dengan batu pulpa juga dicurigai sebagai fokus infeksi oleh beberapa klinisi. Tidak ditemukan perbedaan dalam insidensi batu pulpa antara kelompok pasien yang menderita encok dan kelompok sama. Etiologi: terjadi setelah adanya pulpitis kemudian keradangan melokalisir pada jaringan ikat sehingga jaringan fibrosa dapat mengalami pengapuran yang difuse. Sumber : (Grossman, Louis I. 1995. Ilmu endodonti dalam praktek. EGC : Jakarta) Batu Pulpa merupakan proses perkapuran Dystrophic sebagai hasil langsungnya, iatrogenic atau idiopathic di dalam stroma dari kamar pulpa ketika pulpa mengapur dari sel necrotic. Disharmoni occlusal dan yang lain merupakan penyebab utama dari masalah ini. Keberadaan batu occluding merupakan suatu dari tanda bahaya dalam hubungan dengan vitalitas gigi tertentu itu sebelum melakukan prosedur untuk penyembuhan lebih lanjut. Batu pulpa di dalam jaringan pulpa adalah suatu indikasi dari radang kronis. Gambaran radiografinya yaitu nampak radiopaque pada batu pulpa di dalam kamar pulpa. ( http://www1.umn.edu/webcore1/pulpth2.html#clinical )

Gambaran klinis :

Gambaran Radiografis :

2. DEGENERASI ATROFIK Pada jenis degenerasi ini yang diamati secara hitopatologis pada pulpa orang tua, dijumpai lebih sedikit sel-sel stelat dan cairan interseluler meningkat. Jaringan pulpa kurang sensitif daripada normal. Yang disebut atrofi retikular adalah suatu artifak (artifact) dihasilkan oleh penundaan bahan fiksatif dalam mencapai pulpa dan hendaknya tidak dikelirukan dengan degenerasi atrofik. Gejala: Tidak terdapat diagnosis klinis. Sumber : (Grossman, Louis I. 1995. Ilmu endodonti dalam praktek. EGC : Jakarta) Etiologinya tidak jelas, dan biasanya terdapat pada gigi yang tidak berfungsi, missal pada gigi yang tertanam, terjadi pada orang tua biasanya atrofi fisiologis / atrifik senilis. Memiliki gambaran HPA : sel stelat menurun, cairan interselular meningkat, dan jaringan pulpa yang kurang sensitive. Gejala yang terjadi tanpa keluhan. Secara visual menunjukkan normal, EPTnya hamper tidak bereaksi / lebih besar dari normal, tes termisnya hamper tidak bereaksi,

pemeriksaan roentgen foto menunjukkan pulpa dan saluran akar mengecil. Perawatannya dibiarkan, namun bila ada keluhan lakukan pulpektomi EDTAC : Largal Ultra, namun bila tidak berhasil lakukan pencabutan. ( http://jada.ada.org/cgi/reprint/128/3/353.pdf ) Pulpa yang mungkin terkalsifikasi seperti atrofi terlihat lebih kecil daripada biasanya. Pada beberapa contoh pulpa yang menyusut tebagi menjadi beberapa bagian dari volume aslinya. Pada contoh tersebut, jumlah reparative dentin yang besar ditemukan mengisi ruang yang sebenarnya berisi jaringan pulpa. Pada gigi anterior, kamar pulpa berisi reparative dentin yang besar, beberapa diantaranya bagian atas pulpa dari tepi insisal terisi dengan reparative dentin dan dibatasi saluran akar. Paa gigi posterior, tanduk pulpa telah menyusut dan digantikan oleh reparative dentin. Saluran akar juga dibatasi oleh penambahan dentin. Di sana terlihat menurunnya ukuran sel seperti halnya penguranagn jmlah sel. Sebagian besar pulpa seperti ini ada peningkatan jumlah dan distribusi serat kolagen.