Ac forum 12 juni 2014 pembaruan perdln pidana lo ruu kuhp dan ruu kuhap di ac forum 12 juni 2014 1

Click here to load reader

Embed Size (px)

Transcript of Ac forum 12 juni 2014 pembaruan perdln pidana lo ruu kuhp dan ruu kuhap di ac forum 12 juni 2014 1

  • 1.PEMBARUAN PERADILAN PIDANAPEMBARUAN PERADILAN PIDANA Legal OpinionLegal Opinion RUU KUHP & RUU KUHAPRUU KUHP & RUU KUHAP CHATARINA MULIANACHATARINA MULIANA KEPALA BIRO HUKUM KPK

2. Label Kajian RUU KUHP & RUU KUHAP RUU KUHP dan RUU KUHAP bertentangan dengan komitmen pemerintah yang tertuang dalam INPRES 1 / 2013 (Percepatan Pemberantasan Korupsi ) jo INPRES 2/2014 : aksi 184 ada 5 RUU (KUHP, KUHAP, TIPIKOR, MLA dan EKSTRADISI) yg harus diselesaikan. Penyelesaian penyusunan kedua RUU ini oleh Tim yg dbentuk th 2011 tidak meliibatkan seluruh lembaga yg terkait dg substansi ke-2 UU. RUU KUHP dan RUU KUHAP dipandang tidak sesuai dengan situasi riil saat ini karena disusun telah sangat lama namun baru diserahkan ke DPR tgl 11 Desember 2012 dan tidak melakukan harmonisasi terhadap UU terkait lainnya . Pembahasan dilakukan pada masa DPR yang sangat sempit, dan dibahas bersama-sama seharusnya RUU KUHP lebih dahulu. RUU KUHP : kofidikasi dan unifikasi , RUU KUHAP : kodifikasi bertentangan dengan semangat reformasi untuk mengatur korupsi dan pencucian uang dengan UU tersendiri dan pembentukan lembaga khusus (TAP MPR No. XI Tahun 1998 dan Nomor VIII Tahun 2001) Kebijakan rekodifikasi dipandang dpt menghambat kejahatan serius/luar biasa krn pengaturannya lbh ringan, tumpang tindih serta berpotensi memangkas kewenangan /eksistensi lmbg yg tlh ada. 3. (I) POIN KRUSIAL RUU KUHP BUKU I KETENTUAN UMUM : 1. Pengaturan ancaman pidana pada delik permufakatan jahat, persiapan, percobaan jk utk delik korupsi mjd lbh ringan dari ps. 15 UU TPK. 2. Pengaturan utk tdk melak. Tuntutan pidana kpd korporasi dlm ps. 52 (1) menjadi tdk tepat jk utk delik korupsi krn mjd alasan utk tdk mempidana korporasi. 3. Pengaturan Ps. 71 sebaiknya diterapkan thdp delik tertentu dgn subjek hukum tertentu (misal: thdp pelaku anak, bukan thdp delik serius). 4. Ps. 71 (huruf b, d, h, i, j) yg mengatur ttg tdk mempidana penjara bertentangan dgn semangat pemberantasan korupsi dan bertentangan dgn ps. 702 (Buku II) yg mengatur ttg pemberatan pidana thdp delik jabatan dan delik korupsi yg menimbulkan kerugian keuangan negara atau perekonomian negara . 5. Ps. 190, definisi pejabat yg membedakan ant peg negri/PN/Pejbt Daerah/Pejbt Neg dgn Pej Publik tdk sesuai dgn Artikel 2 UNCAC dan menimbulkan ketidakpastian hukum. 4. POIN KRUSIAL RUU KUHP BUKU II RUU KUHP TTG TINDAK PIDANA Pengaturan perumusan unsur delik korupsi (suap) dlm Bab XXXII TPK tumpang tindih dgn delik koruptif (suap) dlm Bab XXXI TP Jabatan. Pengaturan subjek hukum TP Jabatan (Peg Neg) dan subjek hukum TPK (Pej Publik) dikaitkan dgn ps. 190 menimbulkan ketdk-pastian hukum dan kebingungan dlm penerapan, misal: tidak jelas siapa yg dimksd Pej Publik sbg subjek hukum TPK, hakim penerima suap masuk TP Jbtan (Ps. 668), penegak hkm penerima suap masuk dlm TPK (Ps. 692), Peg Neg/Pjb Ngr/PN/Pjb Daerah mlkkn suap mjd tdk dipidana. Pengaturan delik korupsi yg mghpus unsur memperkaya/menguntungkan diri sndri/org lain/korporasi & unsur kerugian keuangan negara (ps. 697, 699) mengkriminalisasi seluruh kebijakan yg dilkkn Pej Publik. Pemberi suap kpd Peg Negri tdk dipidana, sedangkan pemberi suap kpd Pej Publik dipidana, pdhl ancaman pidana Peg Neg penerima suap jauh lbh tinggi drpd ancaman pidana Pej Publik penerima suap. Ancaman pidana TPK dlm RUU KUHP jauh lbh ringan drpd ancaman pidana TPK dlm UU TPK saat ini. Jumlah delik korupsi dlm RUU KUHP ini mjd berkurang krn tersebar di bbrp Bab (Bab Perbuatan Curang, Bab TP Jabatan, Bab TP Thdp Proses Peradilan). Pengaturan pidana uang pengganti tdk lagi diatur dlm RUU KUHP. 5. POIN KRUSIAL RUU KUHP Pengaturan delik TPPU tdk jelas, krn tindak pidana asalnya adlh TPPU itu sndri (Ps. 747-749). Dgn adanya delik TPPU dlm RUU KUHP, menyebabkan tdk berlakunya UU TPPU, maka jika pngdlan Tipikor masih dianggap berwenang, maka penuntutan thdp TPPU tdk dpt digabungkan dgn TPK krn hrs disidang di tempat yg berbeda. Ketentuan Peralihan Ps. 757 huruf a dan b dan Ps. 761 huruf a berpotensi tdk berlakunya a.l: UU TPK, UU TPPU, UU Pgdlan Tipikor, UU KPK dll, dan menghapus kewenangan KPK, Pngdln Tipikor, PPATK krn RUU KUHP telah merekodifikasi bbrp delikn serius a.l: korupsi. Ps. 211 & 758 (azas lex spesialis derogat legi generali) hny berlaku utk UU yg mengatur delik di luar Buku II KUHP, misal: UU Perpajakan, UU Perbankan shg tdk berlaku utk UU TPK, UU TPPU. Ketentuan dlm Ps. 763 (azas lex spesialis) hny berlaku thdp hkm acara thdp delik di luar Buku II RUU KUHP (misal: UU Perpajakan), dan berpotensi menghpus hkm acara dlm UU TPK, UU TPPU, UU Pngdlan Tipikor, UU Narkotika, dll serta menghpus kewenangan bbrp lmbga, a.l: KPK (penindakan), PPATK, Pngdlan Tipikor dan azas lex spesialis. Dgn merekodifikasi bbrp delik serius ke dlm RUU KUHP telah menghilangkan sifat serius dari delik tsb, krn hrs tunduk kpd Buku I KUHP dan KUHAP baru, shg hrs mengubah sekian bnyak UU dlm waktu bersamaan,yaitu: UU KPK, UU TPPU, UU Pngdlan Tipikor, UU Narkotika dll, namun tidak terlihat manfaat yg signifikan dan justru menghambat upaya pemberantasannya. 6. POIN KRUSIAL RUU KUHAP Ps. 3 ayat 2 (azas specialis) tdk berlaku utk UU TPK, UU KPK, UU TPPU, UU Pngdlan Tipikor dan UU lain yg deliknya telah dimasukkan dlm Buku II KUHP Hapusnya kewenangan penyelidikan menyebabkan smakin menghambat upaya penegak hukum utk mengungkap delik serius trmsk korupsi krn pembuktiannya sngt sulit (khususnya KPK krn KPK tdk bs menerbitkan SP3). Dmn definisi penyidikan & kewenangan penyidik tdk mencakup lingkup penyelidikan Masa penahanan di tk Dik disamakan utk seluruh tk. ancaman pidana dan dipersingkat shg smkin mempersulit penyidik dlm mengumpulkan alat bukti, khusunys utk korupsi dan TPPU. (ps. 60 ayt 1 ,2) yaitu dari 60 hari mjd 10 hari. Utk penyidikan TP tertentu hny kejaksaan dpt menahan , KPK tidak diatur (ps. 58 ayat 2). Proses penahanan yg berbelit2 dpt menghambat proses penyidikan/menyulitkan penegak hukum. (Ps. 59 ayat 11) Kewenangan mlkkn penyadapan menyulitkan pengumpulan alat bukti dan penyadapan dlm keadaan mendesak tdk dimungkinkan utk TPK. (Ps. 83, Ps. 84) Kewenangan HPP utk mlkkn penangguhan penahanan, penghentian penyidikan, penuntutan serta menetukan layak tdknya suatu perkara diajukan ke pengadilan dpt mencederai rasa keadilan, merugikan negara (utk perkara korupsi) dan abuse penegak hukum. (ps. 111) Putusan upaya hukum kasasi tdk boleh lbh tinggi drpd putusan di bawahnya. (ps. 250 ayat 3) KPK tdk berwenang mengusulkan pemindahan pengadilan (ps. 124), pembacaan konklusi dlm upaya hukum banding (ps. 234) dan kasasi (ps. 254). KPK hanya dinyatakan berwenang mlkkn penyidikan, smntra utk penuntutan tdk disebutkan. Blm ada pengaturan pembalikan beban pembuktian yg dikhususkan utk TPK dan TPPU shg bs menghambat proses penyidikan dan penuntutan. Hkm acara tuk tk DIK dan TUT utk pelaku korporasi blm diatur (siapa yg dipanggil, bgmn dakwaannya dll) 7. POIN KRUSIAL RUU KUHAP Pasal 158 huruf b RUU KUHAP mengatur bahwa saksi tidak dapat didengar keterangannya dan dapat mengundurkan diri sebagai saksi jika bersama-sama sebagai tersangka atau terdakwa walaupun perkaranya dipisah. Akibatnya KPK tidak dapat melakukan penuntutan terpisah atas beberapa terdakwa (berkas perkara di-split); Pasal 42 ayat (2) dan ayat (3) huruf e RUU KUHAP memberikan kewenangan bagi Penuntut Umum untuk menghentikan penuntutan dengan alasan kerugian sudah diganti. Ketentuan tersebut bertentangan dengan Pasal 702 RUU KUHP yang mengatur pemberatan pemidanaan dalam hal terjadinya kerugian keuangan negara dan bertentangan dengan semangat Pasal 4 UU Tipikor saat ini; Pengaturan Saksi Mahkota dalam RUU KUHAP tidak mendukung pembuktian dalam kejahatan luar biasa karena tidak sejalan dengan konsep justice collaborator dalam upaya mendukung pemberantasan korupsi dan kejahatan terorganisir lainnya. 8. Kesimpulan Dengan rekodifikasi dan pengaturan yg ada dlm RUU KUHP berpotensi menghambat pemberantasan delik serius. Dibandingkan dgn KUHP dan KUHAP saat ini, RUU KUHP dan RUU KUHAP cenderung lbh menitik beratkan pd perlindungan HAM pelaku drpd korban shg lbh tepat digunakan utk kejahatan biasa dan bkn kejahatan serius, spt korupsi, TPPU, narkotika. Shg sebaiknya delik serius tsb tetap diatur di luar KUHP sbgmn saat ini. Adanya tumpang tindih pengaturan ketentuan Buku I dan Buku II, ketentuan pasal-pasal dlm Buku II, ketentuan dlm RUU KUHP dan RUU KUHAP shg perlu dilakukan penyempurnaan thdp RUU KUHP dan penyempurnaan RUU KUHAP dilakukan stlh selesainya pembahasan RUU KUHP. Dlm penyempurnaannya perlu melibatkan pemangku kepentingan. Pembaruan peradilan pidana yg ingin dicapai melalui rekodifikasi RUU ini mjd kontra-produktif utk situasi perkembangan/kebutuhan hukum saat ini. 9. TERIMAKASIH. 10. TERIMAKASIH.