21. Juknis Penyelenggaraan PAUD-TPQ

of 127 /127
MILIK NEGARA TIDAK DIPERDAGANGKAN NSPK Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria PETUNJUK TEKNIS PENYELENGGARAAN PAUD BERBASIS PENDIDIKAN AL-QURAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI, NONFORMAL DAN INFORMAL DIREKTORAT PEMBINAAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI 2013

Embed Size (px)

description

jukni tahun 2013

Transcript of 21. Juknis Penyelenggaraan PAUD-TPQ

  • MILIK NEGARATIDAK DIPERDAGANGKAN

    NSPKNorma, Standar, Prosedur, dan Kriteria

    PETUNJUK TEKNIS PENYELENGGARAAN PAUD BERBASIS

    PENDIDIKAN AL-QURAN

    KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAANDIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI, NONFORMAL DAN INFORMAL

    DIREKTORAT PEMBINAAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI2013

  • NSPK Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria

    PETUNJUK TEKNIS PENYELENGGARAAN PAUD BERBASIS

    PENDIDIKAN AL-QURAN

    KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI,

    NONFORMAL DAN INFORMAL DIREKTORAT PEMBINAAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

    2013

  • i

    KATA SAMBUTAN

    Cita-cita besar pembangunan Pendidikan Anak Usia

    Dini (PAUD) di Indonesia adalah untuk mengantarkan anak

    Indonesia menjadi insan yang cerdas komprehensif. Program

    PAUD merupakan salah satu bentuk investasi pengembangan

    sumber daya manusia. Mereka kelak akan menjadi penggerak

    pembangunan bangsa dan negara menuju kehidupan yang lebih

    baik.

    Permasalahan PAUD masih sangat mendasar, baik

    masalah pemerataan akses maupun mutu. Dari aspek

    pemerataan, data tahun 2011/2012 menunjukkan APK PAUD

    untuk kelompok usia 3-6 tahun baru mencapai 60,33 %.

    Padahal target APK Tahun 2013 sebesar 67,4% dan tahun 2014

    sebesar 72,9 %. Dari aspek mutu, masih banyak layanan yang

    belum sesuai standar. Selain itu, data menunjukkan masih

    terdapat 30.124 desa yang belum memiliki layanan PAUD atau

    baru sekitar 39,11% dari 77.013 desa/kelurahan/nama lain di

    seluruh Indonesia. Hal ini memerlukan kerja keras dan dukungan

    semua pemangku kepentingan.

    Dalam rangka meningkatkan mutu pengelolaan dan

    layanan PAUD, pemerintah terus mendorong dan memperluas

    kesempatan masyarakat untuk berpartisipasi dalam

  • ii

    mengembangkan layanan PAUD. Salah satu bentuknya adalah

    PAUD berbasis Pendidikan Al-Quran merupakan salah satu

    jenis Satuan PAUD Sejenis (SPS).

    PAUD Berbasis Pendidikan Al-Quran tidak

    dimaksudkan untuk menggantikan program pendidikan Al-

    Quran yang sudah melembaga di masyarakat saat ini,

    melainkan untuk memperkuat dan melengkapinya dengan

    substansi PAUD.

    Ucapan terima kasih dan penghargaan saya sampaikan kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan petunjuk ini. Kritik dan saran dari para pemangku kepentingan untuk perbaikan petunjuk ini di masa yang akan datang, sangat kami harapkan.

    Jakarta, Januari 2013 Direktur Jenderal,

    Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog NIP.195703221982112001

  • iii

    KATA PENGANTAR

    Pemerintah terus mendorong dan memperluas kesempatan

    bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam mengembangkan

    layanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) melalui pendirian

    berbagai jenis satuan PAUD. Salah satu satuan PAUD adalah

    Satuan PAUD Sejenis (SPS) yang salah satu bentuknya adalah

    PAUD berbasis pendidikan Al-Quran.

    PAUD berbasis pendidikan Al-Quran merupakan PAUD

    yang berbasiskan keagamaan, sehingga peruntukkannya bagi

    anak yang seagama. Di masyarakat PAUD berbasis pendidikan

    Al-Quran muncul dalam berbagai nama, seperti Taman Asuh

    Anak Muslim (TAAM), TK Al-Quran, PAUD-TPQ, Taman

    Bina Anak (TBA), Bina Anak Muslim Berbasis Masjid

    (BAMBIM), dll. Sampai awal tahun 2013 ini jumlah lembaga

    SPS termasuk di dalamnya PAUD berbasis pendidikan Al-

    Quran yang terdata di aplikasi pendataan online ada sebanyak

    24. 243 lembaga (data masih terus berkembang).

    Dalam rangka meningkatkan mutu pengelolaan dan layanan

    PAUD, pemerintah berupaya untuk memfasilitasi, membina dan

    mengarahkan masyarakat agar memahami apa, mengapa, dan

    bagaimana menyelenggarakan pendidikan anak usia dini yang

    benar. Untuk memberikan arahan penyelenggaraan PAUD

  • iv

    berbasis pendidikan AL-Quran diterbitkan Petunjuk Teknis

    Penyelenggaraan PAUD Berbasis Pendidikan Al-Quran.

    Petunjuk ini berisikan: pertama pendahuluan yang

    mencakup latar belakang, landasan, pengertian, tujuan, dan ruang

    lingkup; kedua, syarat dan tatacara pendirian yang mencakup

    syarat pendirian lembaga, tata cara pendirian, dan izin

    operasional penyelenggaraan program satuan; ketiga,

    penyelenggaraan program yang mencakup tujuan, prinsip,

    komponen, proses, evaluasi, pembinaan dan pelaporan.

    Akhirnya melalui kesempatan ini kami mohon kepada

    para pembaca/pengguna petunjuk ini untuk memberikan

    koreksi atau saran demi penyempurnaan di masa yang akan

    datang. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua

    pihak yang telah ikut andil demi tersusunnya petunjuk ini.

    Jakarta, Januari 2013 Direktur Pembinaan PAUD

    Dr. Erman Syamsuddin NIP. 195703041983031015

  • v

    DAFTAR ISI

    Kata Sambutan ............................................................. i Kata Pengantar ........................................................... .. iii Daftar Isi .................................................................... .. v

    BAB I PENDAHULUAN ............................................ 1 A. Latar Belakang ............................................ 1 B. Landasan .................................................... 3 C. Pengertian .................................................. 5 D. Tujuan Petunjuk Teknis .............................. 6 E. Ruang Lingkup............................................ 7

    BAB II SYARAT DAN TATA CARA PENDIRIAN 8 A. Syarat Pendirian Lembaga .............................. 8 B. Tata Cara Pendirian........................................... 8 C. Izin Operasional Penyelenggaraan Program

    Satuan PAUD .................................................... 25

    BAB III PENYELENGGARAAN PROGRAM ...... 29A. Tujuan Program Layanan ................................. 29 B. Prinsip Pendidikan Anak Usia Dini .................. 29 C. Prinsip-Prinsip Penyelenggaraan ...................... 40 D. Komponen Penyelenggaraan ............................ 41

    1. Kurikulum ............................................. 41` 2. Peserta didik .......................................... 41 3. Tenaga Pendidik dan kependidikan ..... 41 4. Sarana dan prasarana............................. 44 5. Pengelolaan ........................................... 46 6. Pembiayaan ........................................... 48 7. Kemitraan .............................................. 49

    E. Proses Kegiatan ................................................. 50 1. Pendekatan ............................................ 50 2. Alur Kegiatan ........................................ 51 3. Proses Kegiatan ..................................... 52

  • vi

    4. Pengelolaan Proses Kegiatan ................ 54

    F. Evaluasi, Pelaporan dan Pembinaan ................. 68 1. Evaluasi ................................................ 68 2. Pelaporan .............................................. 71 3. Pembinaan ........................................... 72

    BAB IV PENUTUP ..................................................... 73

  • vii

    DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1a Contoh APE untuk kelompok Alif ................................ 74 Lampiran 1b Contoh APE untuk Kelompok Ba ................................. 76 Lampiran 1c Contoh APE untuk Kelompok Ta ................................. 78Lampiran 1d Contoh APE untuk Main Balok dan Bahan Alam ........ 90Lampiran 1e Contoh Resep untuk Membuat Bahan Main ................. 82 Lampiran 2a Contoh Jadwal Pembekalan Pendidik PAUD Berbasis Pendidikan Al-Quran Tahap I...................................... 87 Lampiran 2b Contoh Jadwal Pembekalan Pendidik PAUD Berbasis Pendidikan Al-Quran Tahap II .................................... 88 Lampiran 3a Contoh Buku Induk Anak ............................................. 88 Lampiran 3b Contoh Buku Data Pengelola dan Pendidik .................. 89 Lampiran 3c Contoh Daftar Hadir Pengelola dan Pendidik ............... 90 Lampiran 3d ................................................................ Contoh Daftar Hadir Anak ............................................ 91 Lampiran 3e Contoh Rencana Kegiatan Harian ................................. 92Lampiran 3f Contoh Catatan Perkembangan Anak ........................... 94 Lampiran 3g Contoh Kartu Infaq Bulanan ......................................... 95 Lampiran 3h Contoh Daftar Rekap Infaq Bulanan............................. 96

  • viii

    Lampiran 3i Contoh Buku Kas .......................................................... 97Lampiran 3j Contoh Format Buku Inventaris.................................... 99Lampiran 3k Contoh Format Buku Tamu .......................................... 100Lampiran 4a Contoh Jadwal Kegiatan Harian ................................... 101Lampiran 4b Contoh Jadwal Kegiatan Harian ................................... 102Lampiran 4c Contoh Jadwal Kegiatan Harian ................................... 103Lampiran 5 Acuan Evaluasi Keberhasilan Program ........................ 104Lampiran 6 Contoh Formulir Pendaftaran Peserta Didik ................. 105Lampiran 7 Contoh Laporan Perkembangan Anak .......................... 106Lampiran 8 Contoh Format Surat Tanda Serta Belajar .................... 108Lampiran 9 Contoh Pengaturan Jadwal Masuk ................................ 109Lampiran 10 Pemenuhan Layanan Kesehatan, Gizi, dan Stimulasi Pendidikan Bagi Anak Usia Dini Sesuai dengan kebutuhan Esensial Anak................................................................ 110Lampiran 11 Kartu Deteksi Dini Tumbuh Kembang ......................... 113

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. LATAR BELAKANG

    Usia dini merupakan masa yang sangat penting dalam

    keseluruhan tahap perkembangan manusia. Pada masa itu,

    terjadi lonjakan perkembangan anak yang tidak terulang pada

    periode berikutnya, sehingga para ahli menyebutnya sebagai

    usia emas perkembangan. Oleh karena itu pembentukan dasar-

    dasar keimanan dan ketaqwaan, serta pembentukan

    watak/karakter, sangat tepat jika dilakukan sejak usia dini.

    Untuk melejitkan potensi perkembangan tersebut, setiap anak

    membutuhkan asupan gizi seimbang, kesehatan, perlindungan,

    asuhan penuh kasih sayang, dan rangsangan pendidikan yang

    sesuai dengan tahap perkembangan dan nilai-nilai serta potensi

    yang akan dikembangkan masing-masing anak.

    Pemberian rangsangan pendidikan tersebut, dapat

    dilakukan sejak lahir bahkan sejak anak masih dalam

    kandungan. Rangsangan pendidikan ini dilakukan secara

    bertahap, berulang-ulang, konsisten, dan tuntas (dengan

    intensitas waktu yang cukup), sehingga memiliki daya ubah

    (manfaat) bagi anak.

  • 2

    Seiring bertambahnya usia, anak membutuhkan

    rangsangan pendidikan yang lebih lengkap sehingga

    membutuhkan tambahan layanan pendidikan di luar rumah

    yang dilakukan oleh lingkungan maupun lembaga pendidikan

    anak usia dini (PAUD).

    Untuk menjangkau semua lapisan, di masyarakat

    terdapat beragam layanan PAUD sesuai dengan kelompok

    usia dan segmentasi sasaran yang berbeda. Penyelenggaraan

    PAUD berbasis keagamaan salah satunya adalah layanan

    PAUD yang dintegrasikan dengan pendidikan Al-Quran di

    agama Islam. PAUD berbasiskan keagamaan ini hanya

    dikhususkan bagi anak-anak usia dini yang seagama.

    PAUD berbasis Pendidikan Al-Quran tidak

    dimaksudkan untuk menggantikan program pendidikan Al-

    Quran yang sudah melembaga di masyarakat saat ini,

    melainkan untuk memperkuat dan melengkapinya dengan

    substansi PAUD. Tujuannya untuk mengoptimalkan

    perkembangan anak pada usia emasnya dan untuk memastikan

    bahwa anak belajar melalui bermain yang disesuaikan dengan

    tahap perkembangan dan potensi masing-masing anak (tidak

    dipaksakan).

    Lahirnya program PAUD berbasis Pendidikan Al-

    Quran antara lain didorong oleh tumbuhnya kesadaran dan

  • 3

    gerakan pendidikan Al-Quran yang dapat diintegrasikan

    dengan PAUD, terutama dalam bentuk TKA/TKQ, TPA/TPQ

    yang dimotori oleh lembaga/organisasi keagamaan Islam

    seperti Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia

    (BKPRMI), Muslimat NU, Aisyiyah, dan lainnya.

    Di masyarakat muncul program PAUD Berbasis

    Pendidikan Al-Quran dengan berbagai nama, seperti Taman

    Asuh Anak Muslim (TAAM) dan TK Al-Quran yang

    dikembangkan oleh BKPRMI, PAUD berbasis Taman

    Pendidikan Al-Quran (PAUD-TPQ) yang dikembangkan oleh

    Muslimat NU, Taman Bina Anak (TBA) yang dikembangkan

    oleh Aisyiyah, dan satuan PAUD sejenis lainnya. Semua

    bentuk layanan PAUD berbasis Pendidikan Al-Quran tersebut,

    dalam pembinaannya dikategorikan ke dalam Satuan PAUD

    Sejenis.

    Buku petunjuk ini disusun sebagai acuan dalam

    penyelenggaraan PAUD berbasis Pendidikan Al-Quran, yang

    mengacu pada kebijakan dan standar PAUD.

    B. LANDASAN

    1. Landasan Hukum

    a. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang

    Sistem Pendidikan Nasional.

  • 4

    b. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang

    Perlindungan Anak.

    c. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang

    Kesejahteraan Anak.

    d. Undang-undang Nomor 17 tahun 2007 tentang

    Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional

    Tahun 2004-2025.

    e. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005

    Tentang Standar Nasional Pendidikan.

    f. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007

    tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan

    Keagamaan.

    g. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010

    Tentang Pengelolaan Penyelenggaraan

    Pendidikan, sebagaimana telah diubah dengan

    Peraturan Pemerintah Nomor 66 tahun 2010.

    h. Peraturan Presiden Nomor24 Tahun 2010 tentang

    Kedudukan, tugas dan fungsi kementerian negara

    serta susunan organisasi, tugas, dan fungsi eselon

    1 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan

    Presiden No.67 tahun 2010.

  • 5

    i. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16

    Tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik

    dan kompetensi guru.

    j. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 58

    Tahun 2009 tentang Standar Pendidikan Anak

    Usia Dini.

    k. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

    Nomor 1 Tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata

    Kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

    2. Landasan Nilai

    a. Al-Quran Surat An Nisaa ayat 9, Surat Luqman

    ayat 12 19, Surat At Tahrim ayat 6 dan Surat

    Maryam ayat 59-60.

    b. Sunnah Rasul dan Hadits-hadits terkait.

    C. PENGERTIAN

    1. Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah suatu upaya

    pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir

    sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan

    melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk

    membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani

    dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam

  • 6

    memasuki pendidikan lebih lanjut (UU No 20 Tahun

    2003)

    2. Pendidikan Al-Quran adalah pendidikan anak

    berbasis Al-Quran yang terdiri dari Taman Kanak

    Kanak Al-Quran (TKA/TKQ), Taman Pendidikan Al-

    Quran (TPA/TPQ), Talimul Quran lil Aulad (TQA),

    dan bentuk lain yang sejenis (PP 55 2007).

    3. PAUD berbasis Pendidikan Al-Quran adalah salah

    satu bentuk satuan PAUD sejenis yang

    penyelenggaraannnya diintegrasikan dengan

    pendidikan Al-Quran seperti: TPQ (Taman Pendidikan

    Al-Quran), TKQ (Taman Kanak-Kanak Al-Quran),

    TBA (Taman Bina Anak); TAAM (Taman Asuh Anak

    Muslim), dll

    D. TUJUAN PETUNJUK TEKNIS

    1. Menjadi acuan bagi para pejabat PAUD yang

    berwenang di tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota,

    dan kecamatan dalam membina program PAUD

    berbasis Pendidikan Al-Quran.

    2. Menjadi acuan bagi penyelenggara, pengelola, dan

    pendidik dalam penyelenggaraan PAUD berbasis

    Pendidikan Al-Quran.

  • 7

    3. Menjadi bahan rujukan teknis penyelenggaraan PAUD

    berbasis Pendidikan Al-Quranbagi semua pihak yang

    berkepentingan.

    E. RUANG LINGKUP

    Petunjuk ini hanya mengatur teknis penyelenggaraan

    PAUD berbasis Pendidikan Al-Quran yang khusus mengatur

    aspek penyelenggaraan pendidikannya saja, sedangkan yang

    terkait dengan kurikulum disusun berdasarkan kompetensi dan

    disesuaikan dengan kelembagaan induk organisasi masing-

    masing dengan mengacu pada standar PAUD sesuai Permen

    Diknas Nomor 58 Tahun 2009.

  • 8

    BAB II

    SYARAT DAN TATACARA PENDIRIAN

    A. SYARAT PENDIRIAN LEMBAGA

    1. Memiliki kepala PAUD Berbasis Pendidikan Al-Quran

    yang memenuhi kualifikasi dan kompetensi sebagai

    pengelola satuan PAUD jalur pendidikan nonformal.

    2. Memberikan pelayanan untuk anak usia 2-6 tahun yang

    beragama Islam dengan jumlah sekurang-kurangnya 15

    (lima belas) peserta didik dan berpotensi meningkatkan

    daya tampung minimal menjadi 25 (dua puluh lima)

    peserta didik.

    3. Memiliki pendidik dengan kualifikasi akademik dan

    kompetensi sesuai standar PAUD.

    4. Memiliki APE luar sekurang-kurangnya terdiri dari

    ayunan dan perosotan.

    B. TATA CARA PENDIRIAN

    1. Penentuan Tempat

    PAUD berbasis Pendidikan Al-Quran

    diselenggarakan dengan menggunakan fasilitas

    keagamaan Islam seperti masjid, musholla, surau,

    langgar, atau fasilitas keagamaan lainnya seperti;

    madrasah, pondok pesantren, dan sejenisnya.

  • 9

    2. Dukungan Lingkungan

    Dukungan lingkungan diperlukan untuk

    menjamin keberlangsungan program. Dukungan yang

    diperlukan untuk menyelenggarakan PAUD berbasis

    Pendidikan Al-Quran, antara lain:

    a. Dukungan dari pengelola rumah ibadah (masjid,

    musholla, surau, langgar), madrasah, atau pondok

    pesantren yang bersangkutan.

    b. Tersedia calon peserta didik usia 2 - 6 tahun

    beragama Islam yang belum terlayani PAUD

    lainnya, minimal 15 anak.

    c. Tersedia calon pengelola, dan pendidik minimal 3

    orang.

    d. Memperoleh dukungan dari orangtua, masyarakat,

    tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pamong

    desa/kelurahan.

    e. Tersedia tempat yang layak untuk kegiatan.

    f. Memiliki sumber pembiayaan yang tetap (iuran

    orangtua, donatur, dana infaq).

    3. Pengelompokan Anak

    Pengelompokan anak bertujuan untuk memudah-

    kan proses pembelajaran, dengan mengelompokkan

    anak sesuai dengan usia mental, yang pada umumnya

  • 10

    juga sesuai dengan usia kronologis (usia kalender).

    Artinya, jika ada anak yang usianya telah memenuhi

    syarat untuk kelompok tertentu tetapi perkembangannya

    belum mencapai, maka anak tersebut ditempatkan di

    kelompok usia di bawahnya sampai memiliki kesiapan

    mental yang diperlukan. Perpindahan ke kelompok

    yang lebih tinggi dapat dilakukan setiap saat sesuai

    kesiapan masing-masing.

    Untuk anak-anak yang perkembangannya normal,

    perpindahan ke kelompok yang lebih tinggi dapat di-

    lakukan seiring dengan bertambahnya usia anak. Untuk

    kanak-anak yang mengalami gangguan perkembangan,

    disesuaikan dengan tingkat perkembangannya atau

    berdasarkan rekomendasi ahli. Pengukuran tahap

    perkembangan dapat menggunakan instrumen Deteksi

    Dini Tumbuh Kembang Anak (DDTK).

    Pengelompokan anak pada program PAUD

    berbasis Pendidikan Al-Qurandiatur sebagai berikut:

    a. Kelompok Alif: Usia 2 4 tahun (24 48 bulan), per

    kelompok maksimal 10 anak. Jika jumlah anak lebih

    dari 10, dapat dipecah menjadi beberapa kelompok

    misalnya kelompok usia 2 3 tahun (24 36 bulan)

    dan kelompok usia 3 4.0 tahun (36 48 bulan).

  • 11

    b. Kelompok Ba: Usia 4.0 5.0 tahun (49 60 bulan),

    per kelompok maksimal 12 anak. Jika jumlah anak

    lebih dari 12, dapat dibagi menjadi beberapa

    kelompok misalnya kelompok usia 4.0 4,5 tahun

    (49 54 bulan) dan 4,5 5.0 tahun (55 60 bulan).

    c. Kelompok Ta: Usia 5.0 6.0 tahun (61 72) bulan,

    per kelompok maksimal 15 anak. Jika jumlah anak

    lebih dari 15, dapat dibagi menjadi beberapa

    kelompok misalnya kelompok usia 5.0 5,5 tahun

    (61 66 bulan) dan 5,5 6.0 tahun (67 72 bulan).

    Penambahan kelompok hendaknya memper-

    hatikan ketersediaan pendidik dan ruangan.Jika jum-

    lah pendidik atau ruangan kurang, alternatif yang

    dapat ditempuh antara lain:

    a. Membuka kelas pagi dan sore.

    b. Mengatur jadwal masuk bergantian hari.

    c. Membatasi penerimaan peserta didik sebatas daya

    tampung yang dimungkinkan.

    4. Penyiapan Tempat dan Alat-alat

    Tempat perlu ditata, dirapikan, dan dilengkapi

    dengan alat-alat sesuai kebutuhan. Kebutuhan ruangan

    dalam (indoor) untuk setiap anak minimal 3 m2. Artinya

    untuk kegiatan 10 anak minimal diperlukan ruangan

  • 12

    seluas 30 m2 atau sekitar 6 x 5 m. Luas ruangan tersebut

    termasuk untuk penempatan alat-alat.

    Alat-alat yang diperlukan antara lain:

    a. Almari untuk menyimpan kelengkapan administrasi

    dan buku-buku panduan.

    b. Rak setinggi 120 cm untuk tempat APE sekaligus

    sebagai sekat/pembatas antar kelompok.

    c. Meja anak secukupnya.

    d. Kursi lipat/plastik ukuran anak-anak sejumlah anak.

    e. Kontainer/wadah plastik besar untuk menyimpan

    APE (sesuai kebutuhan).

    f. Papan tulis formika putih (white board) ukuran 70 x

    90 cm (sejumlah kelompok).

    g. Tiker/karpet berbentuk lingkaran dengan diameter

    200 cm atau persegi dengan ukuran 180 x 220 cm

    (sejumlah kelompok).

    Jika penataan alat main menggunakan sistem

    sentra, maka APE ditata berdasarkan kebutuhan sentra,

    misalnya sentra balok, sentra main peran, sentra seni

    dan kreativitas, sentra persiapan, dan sentra bahan alam.

    Sentra digunakan secara bergilir oleh masing-masing

    kelompok (moving class) sesuai jadwal. Jika penataan

    alat menggunakan sistem kelas tetap, setiap kelompok

  • 13

    perlu dilengkapi dengan semua jenis APE untuk

    mendukung proses pembelajaran di masing-masing

    kelompok.Masing-masing kelompok melakukan

    kegiatan di tempatnya masing-masing secara menetap

    (kecuali saat kegiatan bersama atau bermain di luar).

    Jika kebutuhan perabot seperti tersebut di atas

    belum dapat dipenuhi, minimal kelengkapan yang harus

    ada adalah sebagai berikut:

    a. Tempat untuk menyimpan kelengkapan adminis-

    trasi dan buku-buku panduan;

    b. Tempat APE (sejumlah kelompok);

    c. Papan tulis formika putih (white board) ukuran 70

    x 90 cm (sejumlah kelompok);

    d. Karpet/tikar berbentuk lingkaran dengan diameter

    200 cm atau persegi dengan ukuran 180 x 220 cm

    (sejumlah kelompok);

    e. Meja gambar lipat milik masing-masing anak.

    5. Penyiapan Alat Permainan Edukatif (APE)

    APE digunakan untuk mendukung proses belajar

    melalui bermain. APE disesuaikan dengan usia anak

    dan rencana kegiatan belajar yang sudah disusun. APE

    tidak harus yang sudah jadi tetapi dapat membuat

    sendiri atau melibatkan orangtua anak.

  • 14

    Penggunaan APE baik yang sudah jadi maupun

    yang dikembangkan sendiri agar memperhatikan hal-hal

    sebagai berikut:

    a. Menggunakan bahan yang aman bagi anak (tidak

    runcing/tajam dan tidak mengandung racun/zat yang

    membahayakan kesehatan anak).

    b. Menarik buat anak dan dapat dimainkan oleh anak

    dengan berbagai cara.

    c. Murah dan mudah didapatkan di lingkungan sekitar.

    Apabila tempat yang digunakan untuk penye-

    lenggaraan PAUD berbasis Pendidikan Al-Quran juga

    digunakan untuk kegiatan lain, sebaiknya APE

    ditempatkan di rak yang memiliki roda atau disimpan di

    tempat yang mudah dipindah dan disimpan setelah

    selesai kegiatan. Tempat APE semacam ini dikenal

    dengan sebutan Keranjang PAUD. Apabila tempat

    kegiatan bersifat menetap (tidak bergantian dengan

    kegiatan lain), APE dapat disimpan di rak-rak mainan.

    Penempatan APE sebaiknya terjangkau oleh anak saat

    mau memainkannya.

  • 15

    Kerapian penataan APE akan membentuk kebiasaan rapi dan merangsang anak untuk memainkannya.

    Pengelompokan APE sebagai berikut:

    a. APE untuk Kelompok Alif

    Kelompok Alif merupakan kelompok

    gabungan anak usia 2 - 3 tahun dan 3 - 4 tahun. Pada

    usia 2 - 3 tahun merupakan akhir masa toddler atau

    penjelajah. Anak usia ini belum dapat duduk dengan

    tenang, suka iseng dengan memegang, menarik, atau

    memainkan benda-benda yang dipegangnya.

    Kegiatannya masih lebih banyak melibatkan gerakan

    fisik. Secara emosi masih sering terlihat malu-malu

    dan ragu. Jika lingkungannya mendukung, anak akan

    lebih percaya diri dan berekspresi secara penuh tanpa

    malu-malu dan ragu. Tetapi jika lingkungannya

    kurang mendukung, anak akan terus merasa malu-

    malu dan ragu. Pada usia ini anak belum dapat mem-

  • 16

    bangun atau membentuk sesuatu dengan konsep

    yang jelas. Semua kegiatan dilakukan dengan

    mencoba-coba. Kepekaan yang terjadi pada masa ini

    antara lain kepekaan akan keteraturan, kepekaan

    akan detil, kepekaan penggunaan tangan, dan

    kepekaan akan bahasa.

    Pada usia 3 - 4 tahun anak sudah mulai dapat

    berkonsentrasi walaupun hanya beberapa menit.

    Anak sudah memiliki beberapa kecakapan, mulai

    dapat mencoba membentuk sesuatu yang sederhana,

    dan menyukai permainan bongkar pasang. Dengan

    kecakapan tersebut anak terdorong untuk melakukan

    berbagai kegiatan, tetapi karena kemampuannya

    masih terbatas adakalanya mengalami kegagalan.

    Kegagalan ini menyebabkan anak merasa bersalah.

    Pendidik hendaknya mendukung agar anak berani

    mencoba kembali. Jika anak memperoleh keper-

    cayaan, maka inisiatifnya akan berkembang

    mengalahkan rasa bersalah/gagal. Tetapi jika anak

    kurang memperoleh kepercayaan atau dipersalahkan,

    maka ia akan berkembang menjadi kurang percaya

    diri. Kepekaan akan keteraturan, kepekaan akan

  • 17

    detil, dan kepekaan akan bahasa masih terus

    berlanjut dan perlu memperoleh dukungan.

    Contoh APE yang untuk kelompok Alif dapat dilihat

    pada Lampiran 1a.

    b. APE untuk Kelompok Ba

    Kelompok Ba adalah Kelompok anak usia 4 - 5

    tahun. Pada usia ini anak-anak menyukai kegiatan

    mencoret-coret, menggambar, membentuk,

    menyusun, berimajinasi, bermain peran mikro dan

    makro, dan mulai mengenal keaksaraan. Anak-anak

    pada usia ini masih perlu diberikan kemerdekaan

    dalam bersikap dan bertindak. Kegiatan

    pembelajaran harus dilakukan melalui bermain dan

    menggunakan benda-benda konkrit. Kegiatan yang

    bersifat skolastik seperti baca-tulis-hitung masih

    bersifat pengenalan.

    Contoh APE yang untuk Kelompok Ba dapat dilihat

    pada Lampiran 1b.

    c. APE untuk Kelompok Ta

    Kelompok Ta adalah Kelompok anak usia 5 - 6

    tahun. Pada usia ini anak-anak semakin menyukai

    kegiatan mencoret-coret, menggambar, membentuk,

    menyusun, berimajinasi, bermain peran mikro dan

  • 18

    makro, dan mulai mengenal keaksaraan. Anak-anak

    pada usia ini masih perlu diberikan kemerdekaan

    dalam bersikap dan bertindak. Kegiatan

    pembelajaran harus dilakukan melalui bermain dan

    menggunakan benda-benda konkrit. Kegiatan baca-

    tulis-hitung juga semakin diminati. Biarkan

    kemampuan ini berkembang secara alami sesuai

    minat anak. Hindari adanya pemaksaan dalam

    bentuk latihan-latihan atau penugasan-penugasan

    terstruktur seperti menulis huruf, angka, atau bentuk-

    bentuk tertentu secara berulang-ulang. Alat tulis

    yang diperlukan adalah kertas kosong (tidak

    bergaris), pensil, spidol, dan krayon.

    Contoh APE yang untuk Kelompok Ba dapat dilihat

    pada Lampiran 1c.

    d. APE untuk Bermain Bahan Alam

    Bermain bahan alam merupakan kegiatan yang

    sangat disukai anak. Main bahan alam berguna untuk

    pengembangan seluruh aspek; nilai-nilai agama dan

    moral, fisik, kognitif, bahasa, dan sosial-emosional.

    Contoh APE untuk bermain bahan alam dapat dilihat

    pada Lampiran 1d.

  • 19

    Contoh APE Bahan Alam

    e. APE Buatan Sendiri

    Berbagai bahan dan alat main dapat dibuat

    sendiri oleh kader dan orangtua. Bahan-bahan

    tersebut antara lain playdough, ublek, cat jari, cat air,

    kuas dari busa, dll.

    Contoh APE untuk main bahan alam dapat dilihat

    pada Lampiran 1e.

    6. Pembekalan Pendidik dan Pengelola

    Peningkatan mutu pendidik dan pengelola dapat

    dilakukan melalui:

    a. Belajar secara mandiri dengan bahan bacaan atau

    media lain yang relevan seperti pedoman, petunjuk

    pelaksanaan program, modul, buku teks, video, dll.

    b. Pelatihan bagi pendidik dan pengelola secara

    berkala.

  • 20

    c. Diskusi interaktif dalam pertemuan rutin (bulanan)

    para pendidik dan pengelola guna saling berbagi

    ilmu atau mendengarkan materi dari narasumber.

    d. Magang dan/atau studi banding.

    e. Seminar dan/atau lokakarya tentang PAUD.

    Contoh pembekalan awal untuk pendidik dan pengelola

    PAUD Berbasis Pendidikan Al-Quran dapat dilihat

    pada Lampiran 2a dan 2b.

    7. Penyiapan Buku Administrasi

    Kegiatan administrasi disesuaikan dengan

    kebutuhan setiap lembaga. Buku-buku administrasi

    yang diperlukan antara lain:

    a. Buku Induk Anak.

    b. Buku Data Pengelola dan Pendidik.

    c. Daftar Hadir Pengelola dan Pendidik.

    d. Daftar Hadir Anak per Kelompok.

    e. Buku Rencana Pembelajaran Harian.

    f. Buku Catatan Perkembangan Anak.

    g. Kartu Iuran Anak.

    h. Daftar Rekapitulasi Penerimaan Infaq Bulanan.

    i. Buku Kas dan Buku Inventaris.

    j. Buku Tamu.

  • 21

    Contoh Buku Administrasi dapat dilihat pada lampiran

    3a - 3k.

    8. Kalender Pendidikan

    Kalender Pendidikan PAUD berbasis Pendidikan

    Al-Quran disesuaikan dengan kalender pendidikan

    nasional dan kalender kegiatan lembaga/yayasan,

    khususnya dalam kaitannya dengan hari libur dan

    pembagian buku laporan. Namun dalam hal penerimaan

    peserta didik dan perpindahan kelompok (kenaikan

    kelas) berbeda. Penerimaan peserta didik dapat

    dilakukan sepanjang waktu asalkan kapasitas daya

    tampung lembaga masih memungkinkan. Sedangkan

    perpindahan kelompok ke kelompok yang lebih tinggi

    dilakukan seiring dengan usia mentalnya. Bagi anak

    yang akan melanjutkan ke SD/MI, pendidik

    berkewajiban untuk memberikan pertimbangan kepada

    orangtua apakah secara mental yang bersangkutan

    sudah siap bersekolah. Pada usia 6 tahun anak sudah

    boleh mendaftar ke SD/MI. Tetapi jika belum siap

    sebaiknya digenapkan sampai usia 7 tahun.

    9. Penyusunan Rencana Pembiayaan

    Pembiayaan program PAUD berbasis Pendidikan

    Al-Quran antara lain mencakup:

  • 22

    a. Perawatan sarana dan prasarana.

    b. Pembelian dan perawatan APE.

    c. Biaya operasional kegiatan.

    d. Biaya beban (listrik, air, dan telepon)

    e. Peningkatan keterampilan pengelola dan pendidik.

    f. Insentif pengelola dan pendidik.

    g. Insentif petugas kebersihan.

    h. Peningkatan kapasitas lembaga (penambahan ruang,

    lahan, dll).

    Pembiayaan program PAUD berbasis Pendidikan

    Al-Quran antara lain bersumber dari:

    a. Iuran orang tua.

    b. Sumbangan donatur.

    c. Bantuan desa.

    d. Bantuan Pemerintah (APBD II, APBD I, APBN).

    e. Bantuan pihak lain yang tidak mengikat.

    10. Pendaftaran Calon Peserta Didik

    Dalam hal PAUD berbasis Pendidikan Al-Quran

    merupakan pengembangan dari Pendidikan Al-Quran

    yang sudah ada, maka peserta didiknya adalah anak-

    anak usia dini yang sudah terdaftar di lembaga tersebut.

    Dalam hal PAUD berbasis Pendidikan Al-Quran

    merupakan lembaga baru, maka diperlukan sosialisasi

  • 23

    dan pendaftaran calon peserta didik. Pendaftaran

    peserta didik dapat menggunakan formulir sebagaimana

    dalam lampiran 6. Untuk melengkapi data, peserta didik

    lama dapat dilakukan registrasi ulang dengan

    menggunakan formulir tersebut.

    11. Penyusunan Rencana Kegiatan Pembelajaran

    Tujuan penyusunan rencana kegiatan

    pembelajaran adalah untuk mempermudah proses

    pembelajaran. Rencana kegiatan pembelajaran disusun

    dengan mengacu pada Standar PAUD.

    Rencana kegiatan pembelajaran mencakup

    tujuan, isi, dan rencana pengelolaan program dan

    kegiatan. Rencana Kegiatan pembelajaran terdiri dari:

    (1) Rencana Kegiatan Tahunan (RKT); (2) Rencana

    Kegiatan Bulanan (RKB); (3) Rencana Kegiatan

    Mingguan (RKM); dan (4) Rencana Kegiatan Harian

    (RKH). RKT dan RKB disiapkan oleh pengelola

    bersama pendidik, dengan memperhatikan masukan dari

    para orangtua. RKM dan RKH disiapkan oleh pendidik

    yang bersangkutan dengan mengacu pada RKT dan

    RKB.

  • 24

    Dalam menyusun rencana program

    pembelajaran PAUD berbasis Pendidikan Al-Quran

    agar memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

    a. Tahapan perkembangan anak.

    b. Kemampuan yang akan dikembangkan.

    c. Tema/topik dan kegiatan yang akan dilakukan.

    d. Alat dan bahan main yang diperlukan.

    e. Waktu yang dibutuhkan dalam kegiatan.

    f. Metode/pendekatan yang akan digunakan.

    g. Alat ukur/evaluasi ketercapaian perkembangan

    anak.

    Rencana Kegiatan Tahunan (RKT) memuat

    tingkat pencapaian perkembangan anak untuk masing-

    masing kelompok usia (Permendiknas No. 58 Tahun

    2009), alokasi waktu, dan temapembelajaran selama

    satu tahun.

    Rencana Kegiatan Bulanan (RKB) merupakan

    penjabaran dari RKT. RKB memuat tema, indikator,

    konsep, dan kosa kata yang akan dikembangkan. RKB

    dapat berbentuk webbing, matrik, atau format lain

    sesuai kebutuhan.

    Rencana Kegiatan Mingguan (RKM) dan

    Rencana Kegiatan Harian (RKH)

  • 25

    Rencana Kegiatan Mingguan (RKM) merupakan pen-

    jabaran dari RKB. RKM memuat tujuan pembelajaran,

    konsep yang akan dikenalkan, penambahan kosa kata,

    indikator perkembangan, serta sentra/kegiatan main

    yang akan dilakukan selama seminggu. Jika ada

    kejadian tertentu yang perlu diketahui anak seperti

    gempa, banjir, atau gerhana, tema dapat disesuaikan

    sehingga proses pembelajaran lebih bermakna bagi

    anak.

    Rencana Kegiatan Harian (RKH) merupakan

    penjabaran dari RKM. Rencana kegiatan harian memuat

    satu topik yang dibahas pada hari tersebut, konsep yang

    akan dikenalkan, penambahan kosa kata, serta kegiatan

    main, alat dan bahan main yang akan digunakan untuk

    mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

    C. IZIN OPERASIONAL PENYELENGGARAAN PRO-

    GRAM SATUAN PAUD

    Sesuai peraturan perundangan yang berlaku, setiap

    pendirian lembaga pendidikan baik formal maupun

    nonformal wajib memperoleh izin dari pemerintah. Tujuan

    perizinan adalah untuk keperluan pembinaan dalam rangka

  • 26

    memberikan pelayanan terbaik serta perlindungan kepada

    masyarakat.

    Perizinan PAUD berbasis Pendidikan Al-Quran

    dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan Kab/Kota. UPTD

    Dinas Pendidikan Kecamatan wajib memfasilitasi proses

    perizinan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Apabila

    masih terdapat persyaratan yang belum terpenuhi, maka

    dilakukan pembinaan serta diberitahukan kekurangannya.

    Bagi PAUD berbasis Pendidikan Al-Quran yang telah

    melapor tetapi belum memenuhi persyaratan, dapat

    diberikan surat izin sementara untuk jangka waktu satu

    tahun. Surat izin sementara dapat diperpanjang sebanyak-

    banyaknya dua kali. Apabila setelah berakhirnya

    perpanjangan kedua yang bersangkutan belum mampu

    memenuhi persyaratan, agar diupayakan untuk dibantu.

    Apabila tidak memungkinkan, dapat disarankan untuk

    bergabung dengan PAUD berbasis Pendidikan Al-Quran

    terdekat yang memenuhi syarat.

    Persyaratan perizinan PAUD berbasis Pendidikan

    Al-Quran antara lain mencakup:

    1. Memiliki kepengurusan (pengelola kegiatan) sekurang-

    kurangnya terdiri dari unsur Ketua, Sekretaris, dan

    Bendahara.

  • 27

    2. Memiliki pendidik sekurang-kurangnya 3 orang (ter-

    masuk pengelola yang merangkap sebagai pendidik).

    3. Sekurang-kurangnya 50% pendidik berpendidikan

    minimal SMA/Aliyah atau sederajat.

    4. Sekurang-kurangnya 50% pendidik telah mengikuti

    pelatihan program PAUD (dibuktikan dengan sertifikat

    pelatihan).

    5. Memiliki tempat yang tetap dan layak untuk kegiatan

    anak (dilampiri foto tempat kegiatan).

    6. Surat pernyataan bahwa kegiatan diselenggarakan di

    area tempat ibadah atau area pendidikan (pondok

    pesantren/sekolah Islam).

    7. Tersedia air bersih dan kakus untuk keperluan toileting

    anak dan pendidik.

    8. Memiliki halaman/area untuk bermain bebas.

    9. Memiliki Alat Permainan Edukatif (APE) untuk men-

    dukung kegiatan anak di masing-masing kelompok.

    10. Memiliki administrasi pencatatan kegiatan.

    11. Memiliki buku-buku panduan/pedoman kegiatan.

    12. Memiliki sumber pembiayaan yang dapat menjamin

    keberlangsungan program (dilampiri daftar perkiraan

    penerimaan keuangan dan pengeluaran selama

    setahun).

  • 28

    13. Kegiatan telah berjalan aktif selama 6 bulan terakhir.

    14. Jumlah peserta didik sekurang-kurangnya 15 anak.

    15. Rekomendasi dari organisasi induk.

    16. Berbadan hukum dari organisasi induk atau

    yayasan/lembaga penyelenggara.

    Teknis perizinan diatur lebih lanjut oleh Dinas

    Pendidikan Kabupaten/Kota setempat.

  • 29

    BAB III

    PENYELENGGARAAN PROGRAM

    A. TUJUAN PROGRAM LAYANAN

    1. Memperluas jangkauan layanan PAUD khususnya di

    kalangan masyarakat muslim.

    2. Memberikan wahana pendidikan anak usia dini yang

    berlandaskan nilai-nilai Al-Quran.

    B. PRINSIP PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

    Penyelenggaraan pendidikan pada PAUD berbasis

    Pendidikan Al-Quran berdasarkan prinsip-prinsip

    Pendidikan Anak Usia Dini sebagai berikut:

    1. Berorientasi pada kebutuhan anak

    Pada dasarnya setiap anak memiliki kebutuhan

    dasar yang sama, seperti kebutuhan fisik, rasa aman,

    dihargai, tidak dibeda-bedakan, bersosialisasi, dan

    kebutuhan untuk diakui. Anak tidak bisa belajar dengan

    baik apabila dia lapar, merasa tidak aman/takut,

    lingkungan tidak sehat, tidak dihargai atau diacuhkan

    oleh pendidik atau temannya. Oleh karena itu dalam

    pelaksanaan pendidikan anak usia dini guru harus

    memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut dengan tidak

    membedakan anak satu dengan lainnya.

  • 30

    2. Sesuai dengan perkembangan anak

    Anak usia Taman Kanak-kanak memiliki

    karakteristik khusus di semua area perkembangannya. Di

    aspek fisik, anak telah memiliki kekuatan otot dan

    koordinasi visual motorik yang semakin matang. Di aspek

    bahasa, anak telah memiliki kosa kata yang cukup sehingga

    mampu membangun komunikasi dengan orang lain. Secara

    kognitif, anak telah mampu melakukan hubungan logika

    sebab akibat dan pemecahan masalah sederhana. Secara

    sosial emosional, anak telah mempunyai kemampuan untuk

    mengelola perasaannya sehingga memungkinkankan untuk

    menjalin interaksi dengan teman dan orang dewasa. Secara

    moral dan agama, anak mulai dapat membedakan hal-hal

    yang baik dan buruk. Oleh karena itu, guru harus

    memahami tahap perkembangan anak dan menyusun

    kegiatan yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak

    untuk mendukung pencapaian tahap perkembangan yang

    lebih tinggi.

    3. Sesuai dengan keunikan setiap individu

    Anak merupakan individu yang unik, masing-

    masing mempunyai gaya belajar yang berbeda. Ada

    anak yang lebih mudah belajarnya dengan

    mendengarkan (auditori), ada yang dengan melihat

  • 31

    (visual) dan ada yang harus dengan bergerak

    (kinestetik). Anak juga memiliki minat yang berbeda-

    beda terhadap alat/bahan yang dipelajari/digunakan,

    juga mem-punyai temperamen yang berbeda, bahasa

    yang berbeda, cara merespon lingkungan, serta

    kebiasaan yang berbeda.Guru seharusnya

    mempertimbangkan perbedaan individual anak,

    danmengakui perbedaan tersebut sebagai kelebihan

    masing-masing anak. Untuk mendukung hal tersebut

    guru harus meng-gunakan cara yang beragam dalam

    membangun pengalaman anak, menyediakan

    kesempatan bagi anak untuk belajar dengan cara yang

    sesuai dengan kekuatannya, serta menyediakan ragam

    main yang cukup.

    4. Kegiatan belajar dilakukan melalui bermain

    Pembelajaran dilakukan dengan cara yang menye-

    nangkan, sehingga tidak boleh terjadi pemaksaan

    (penekanan). Selama bermain, anak mendapatkan

    pengalaman untuk mengembangkan aspek-aspek nilai-

    nilai agama dan moral, fisik, kognitif, bahasa, dan

    sosial emosional. Pembiasaan dan pembentukan

    karakter yang baik seperti tanggung jawab,

  • 32

    kemandirian, sopan santun, dan lainnya ditanamkan

    melalui cara yang menyenangkan.

    5. Pembelajaran berpusat pada anak

    Pembelajaran di PAUD hendaknya menempatkan

    anak sebagai subyek pendidikan. Oleh karena itu guru

    harus memberi kesempatan kepada anak untuk

    menentukan pilihan, mengemukakan pendapat, dan

    aktif melakukan atau mengalami sendiri untuk

    membangun pengetahuannya sendiri. Guru bertindak

    sebagai fasilitator saja, bukan yang menentukan segala

    sesuatu yang akan dikerjakan anak.

    6. Anak sebagai pembelajar aktif

    Anak bukanlah sebuah wadah kosong yang perlu

    diisi guru dengan berbagai pengetahuan, tetapi anak

    merupakan subjek/pelaku kegiatan dan guru merupakan

    fasilitator (membantu dan mengarahkan sesuai

    kebutuhan masing-masing anak). Anak mempunyai rasa

    ingin tahu yang besar, mempunyai banyak ide, dan

    tidak bisa berdiam dalam jangka waktu lama.

    Izinkanlah anak untuk membangun pengetahuannya

    sendiri melalui pengalaman dengan beraneka bahan dan

    kegiatan. Oleh karena itu guru harus menyediakan

    berbagai bahan dan alat serta memberi kesempatan anak

  • 33

    untuk memainkannya dengan berbagai cara, dan

    memberikan waktu kepada anak untuk mengenal

    lingkungannya dengan caranya sendiri. Guru juga harus

    memahami dan tidak memaksakan anak untuk duduk

    diam tanpa aktifitas yang dilakukannya dalam waktu

    yang lama.

    7. Anak belajar dari yang konkrit ke abstrak, dari

    yang sederhana ke yang kompleks, dari gerakan ke

    verbal, dan dari diri sendiri ke sosial

    a. Anak belajar mulai dari hal-hal yang paling konkrit

    yang dapat dirasakan oleh inderanya (dilihat,

    diraba, dicium, dicecap, didengar) ke hal-hal yang

    bersifat abstrak /imajinasi.

    b. Anak belajar dari konsep yang paling sederhana ke

    konsep yang lebih rumit, misalnya mula-mula anak

    memahami apel sebagai buah kesukaan-nya,

    kemudian anak memahami apel sebagai buah yang

    berguna untuk kesehatannya.

    c. Kemampuan komunikasi anak dimulai dengan

    menggunakan bahasa tubuh lalu berkembang

    menggunakan bahasa lisan. Guru harus me-mahami

    bahasa tubuh anak dan membantu mengembangkan

    kemampuan bahasa anak melalui kegiatan main.

  • 34

    d. Anak memahami lingkungannya dimulai dari hal-

    hal yang terkait dengan dirinya sendiri, kemudian

    ke lingkungan dan orang-orang yang paling dekat

    dengan dirinya, sampai kepada lingkungan yang

    lebih luas.

    Dengan demikian guru harus menyediakan alat-

    alat main dari yang paling konkrit sampai alat main

    yang bisa digunakan sebagai pengganti benda yang

    sesungguhnya.

    8. Menyediakan lingkungan yang mendukung proses

    belajar

    Lingkungan merupakan sumber belajar yang

    sangat bermanfaat bagi anak. Lingkungan pembelajaran

    berupa lingkungan fisik dan non fisik. Lingkungan

    fisik berupa penataan ruangan, penataan alat main,

    benda-benda yang ada di sekitar anak, perubahan benda

    (daun muda menjadi daun tua lalu menjadi daun kering,

    dst.), cara kerja benda (bola didorong akan

    menggelinding, sedangkan kubus didorong akan

    menggeser, dst.), dan lingkungan non fisik berupa

    kebiasaan orang-orang sekitar, suasana belajar

    (keramahan pendidik, pendidik yang siap membantu,

    dst.) dan interaksi guru dan anak yang berkualitas.

  • 35

    Karena itu, guru perlu menata lingkungan yang

    menarik, menciptakan suasana hubungan yang hangat

    dengan anak, dan hubungan antar anak dan antar guru.

    Guru perlu memfasilitasi anak untuk mendapatkan

    pengalaman belajar di dalam dan di luar ruangan secara

    seimbang dengan menggunakan benda-benda yang ada

    di lingkungan anak. Guru juga menanamkan kebiasaan

    baik, nilai-nilai agama dan moral di setiap kesempatan

    selama anak di lembaga dengan cara yang

    menyenangkan.

    9. Merangsang munculnya kreatifitas dan inovasi

    Pada dasarnya setiap anak memiliki potensi

    kreatifitas yang sangat tinggi. Karena itu berikan anak

    kesempatan untuk menggunakan bahan dengan

    berbagai jenis, tekstur, bentuk, dan ukuran dalam

    kegiatan permainannya, dan kesempatan untuk belajar

    tentang berbagai sifat dari bahan-bahan, cara

    memainkan, bereksplorasi dan menemukan.

    Guru perlu menghargai setiap kreasi anak apapun

    bentuknya sebagai wujud karya kreatif mereka. Dengan

    kreatifitas, nantinya anak akan dapat memiliki pribadi

    yang kreatif sehingga mereka dapat memecahkan

    persoalan kehidupan dengan cara-cara yang kreatif. Ide-

  • 36

    ide kreatif dan inovatif mereka dapat menunjang untuk

    menjadi seorang wirausaha yang dapat meningkatkan

    perekonomian negara.

    10. Mengembangkan kecakapan hidup anak

    Kecakapan hidup merupakan suatu ketrampilan

    dasar yang perlu dimiliki anak melalui pengembangan

    karakter, yang berguna bagi kehidupannya kelak.

    Karakter yang baik dapat dikembangkan dan dipupuk

    sehingga menjadi modal bagi masa depannya kelak.

    Kecakapan hidup diarahkan untuk membantu anak

    menjadi mandiri, tekun, bekerja keras, disiplin, jujur,

    percaya diri, menghargai, kerjasama dan mampu

    membangun hubungan dengan orang lain. Guru harus

    memberikan kesempatan kepada anak melakukan

    sendiri kegiatan-kegiatan untuk menolong dirinya

    (sesuai dengan kemampuan anak), misalnya membuka

    sepatu dan meletakkan di tempatnya, membuka

    bungkus makanan, mengancingkan baju sendiri, dan

    lain-lain.

    11. Menggunakan berbagai sumber dan media belajar

    yang ada di lingkungan sekitar

    Sumber dan media belajar anak usia dini tidak

    terbatas pada alat dan media hasil pabrikan, tetapi dapat

  • 37

    menggunakan berbagai bahan dan alat yang tersedia di

    lingkungan sepanjang tidak berbahaya bagi anak. Air,

    tanah liat, pasir, batu-batuan, kerang, daun-daunan,

    ranting, karton, botol-botol bekas, perca kain, baju

    bekas, sepatu bekas, dan banyak benda lainnya dapat

    dijadikan sebagai media belajar. Dengan menggunakan

    bahan dan benda yang ada di sekitar anak, maka

    kepedulian anak terhadap lingkungan terasah untuk ikut

    serta menjaga dan melestarikan lingkungan alam

    sekitarnya. Sumber belajar juga tidak terbatas pada guru

    tetapi orang-orang lain yang ada di sekitarnya. Misalnya

    anak dapat belajar tentang tugas dan cara kerja petani,

    peternak, polisi, pak pos, petugas pemadam kebakaran,

    dan lainnya dengan cara mengunjungi tempat kerja

    mereka atau mendatangkan mereka ke sekolah untuk

    menunjukkan kepada anak bagaimana mereka bekerja

    dan menjadi sumber pengetahuan serta inspirasi.

    12. Anak belajar sesuai dengan kondisi sosial

    budayanya

    PAUD merupakan wahana anak untuk tumbuh

    dan berkembang sesuai potensi dengan berdasarkan

    pada sosial budaya yang berlaku di lingkungannya.

    Pendidik seharusnya mengenalkan budaya daerah

  • 38

    seperti kesenian, bahasa, adat istiadat, permainan

    tradisional anak, benda-benda budaya seperti alat

    musik, baju,dan peralatan lainnya yang biasa digunakan

    oleh daerah setempat, menjadi bagian dari pembelajaran

    baik secara rutin maupun melalui kegiatan tertentu.

    13. Melibatkan peran serta orangtua

    Keberhasilan PAUD tidak bisa tercapai secara

    optimal tanpa keterlibatan orangtua. Guru sebagai

    pendidik kedua harus terus menjalin hubungan dengan

    orangtua untuk mendapatkan informasi tentang anak

    agar dapat menumbuh kembangkan semua potensi anak

    secara optimal. Orangtua harus dilibatkan dalam

    perencanaan dan pelaksanaan program pendidikan di

    sekolah, sehingga diharapkan dapat menjamin

    terjadinya keberlangsungan dan kesinambungan

    program antara apa yang dilakukan guru di sekolah

    dengan orangtua di rumah. Selain itu, orangtua juga

    dapat menjadi sumber informasi mengenai kebiasaan,

    kegemaran, ketidaksukaan anak, dan lain-lain yang

    digunakan pendidik dalam penyusunan program

    pembelajaran dan evaluasi perkembangan anak. Untuk

    itu, sekolah perlu memiliki program pendidikan

    keorangtuaan (parenting education) yang terjadual

  • 39

    secara rutin, bukan sekedar pertemuan untuk

    pengambilan laporan perkem-bangan anak. Dengan

    demikian maka stimulasi yang dilakukan terhadap anak

    di lembaga dan di rumah menjadi sejalan dan saling

    menguatkan.

    14. Stimulasi pendidikan bersifat menyeluruh yang

    mencakup semua aspek perkembangan

    Saat anak melakukan sesuatu, sesungguhnya ia

    sedang mengembangkan berbagai aspek perkem-

    bangan/kecerdasannya. Sebagai contoh saat anak

    makan, ia mengembangkan kemampuan bahasa (kosa

    kata tentang nama bahan makanan, jenis makanan,

    dsb.), gerakan motorik halus (memegang sendok,

    membawa makanan ke mulut), kemampuan kognitif

    (membedakan jumlah makanan yang banyak dan

    sedikit), kemampuan sosial emosional (duduk dengan

    tepat, saling berbagi, saling menghargai keinginan

    teman), dan aspek moral (berdoa sebelum dan sesudah

    makan). Program pembelajaran dan kegiatan anak yang

    dikembangkan guru seharusnya ditujukan untuk

    mencapai kematangan semua aspek perkembangan

  • 40

    C. PRINSIP - PRINSIP PENYELENGGARAAN

    Penyelenggaraan Program PAUD berbasis

    Pendidikan Al-Quran mengacu pada prinsip-prinsip

    berikut ini:

    1. Optimalisasi Program

    Program PAUD berbasis Pendidikan Al-Quran dimak-

    sudkan untuk memperkuat lembaga pendidikan Al-

    Quran yang sudah berjalan atau menggabungkan

    penyelenggaraan PAUD dengan pendidikan Al-Quran

    yang sudah ada sehingga hasilnya lebih optimal.

    2. Optimalisasi Ketenagaan

    Program PAUD berbasis Pendidikan Al-Qurandapat

    mengoptimalkan ketenagaan (ustadz/ustadzah TPQ)

    yang ada untuk melaksanakan dua program secara

    terpadu, yaitu PAUD dan Pendidikan Al-Quran.

    3. Optimalisasi Sarana dan Prasarana

    Program PAUD berbasis Pendidikan Al-Quran dapat

    memanfaatkan sarana dan prasarana yang tersedia

    seperti masjid, musholla, atau prasarana lain yang

    dimiliki masyarakat, dengan memasang identitas (papan

    nama lembaga PAUD yang berbasis Pendidikan Al-

    Quran).

  • 41

    D. KOMPONEN PENYELENGGARAAN

    1. Kurikulum

    a. Kurikulum PAUD berbasis Pendidikan Al-Quran

    digunakan oleh lembaga masing-masing dengan

    mengikuti standar PAUD Permen Diknas Nomor

    58 tahun 2009.

    b. Panduan kurikulum PAUD berbasis pendidikan Al-

    Quran disusun oleh lembaga/organisasi induk

    satuan PAUD berbasis pendidikan Al-Quran

    tingkat pusat.

    2. Peserta Didik

    a. Peserta didik PAUD berbasis Pendidikan Al-Quran

    adalah anak dari keluarga muslim mulai usia 2

    sampai dengan 6 tahun.

    b. Peserta didik PAUD berbasis Pendidikan Al-Quran

    diutamakan anak yang tidak/belum terlayani PAUD

    lainnya.

    3. Pendidik dan Tenaga Kependidikan

    Pendidik anak usia dini adalah tenaga profesional yang

    bertugas merencanakan, melaksanakan proses pem-

    belajaran, dan menilai hasil pembelajaran, serta

    melakukan pembimbingan, pengasuhan dan perlin-

    dungan anak didik. Pendidik PAUD berbasis Pen-

  • 42

    didikan Al-Quran bertugas di berbagai jenis layanan

    baik pada TAAM, TKA/TKQ, TPA/TPQ, TBA, dan

    bentuk lain yang sederajat. Pendidik PAUD terdiri atas

    guru dan guru pendamping.

    Tenaga kependidikan terdiri atas pengawas/penilik,

    kepala sekolah, pengelola, administrasi, dan petugas

    kebersihan. Tenaga kependidikan bertugas melak-

    sanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan,

    pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang

    proses pendidikan pada lembaga PAUD berbasis

    Pendidikan Al-Quran.

    a. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan

    1) Standar Pendidik

    a) Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru

    Kualifikasi dan kompetensi guru PAUD

    didasarkan pada peraturan menteri

    Pendidikan Nasional Republik Indonesia No.

    16 tahun 2007 tentang standar kualifikasi

    Akademik dan kompetensi guru beserta

    lampirannya.

    b) Bagi guru PAUD jalur pendidikan non formal

    ( TPA, KB, TAAM TK Al-Quran, TPQ dan

    yang sederajat) yang belum memenuhi

  • 43

    kualifikasi akademik dan kompetensi disebut

    guru pendamping dan pengasuh. Kualifikasi

    akademik dan kompetensi guru pendamping

    a) Memiliki ijazah D-II PGTK dari per-

    guruan tinggi terakreditasi; atau

    b) Memiliki ijazah minimal sekolah me-

    nengah atas (SMA/Aliyah) atau se-derajat

    dan memiliki sertifikat pelatih-

    an/pendidikan/kursus PAUD yang ter-

    akreditasi.

    2) Standar Tenaga Kependidikan

    Untuk membantu anak usia dini mencapai

    tingkat perkembangan potensinya,layanan

    PAUD harus dikelola dengan baik. Setiap satuan

    PAUD harus memiliki penanggung jawab yang

    bertugas me-rencanakan, melaksanakan,

    mengelola adminis-trasi dan biaya, serta

    mengawasi pelaksanaan program. Tenaga

    kependidikan PAUD terdiri atas

    pengawas/penilik, kepala sekolah, pengelola,

    tenaga administrasi, dan petugas kebersihan

    yang di atur sendiri oleh masing-masing

    lembaga.

  • 44

    a) Pengawas / Penilik

    Kualifikasi dan kompetensi Penilik PAUD

    Jalur Pendidikan Nonformal didasarkan

    pada peraturan Penilik Pendidikan

    Nonformal pada umumnya.

    b) Pengelola PAUD Jalur Pendidikan

    Nonformal

    Pengelola PAUD Jalur Pendidikan

    Nonformal adalah penanggungjawab dalam

    satuan PAUD Jalur Pendidikan Nonformal

    dengan kualifikasi:

    (1) Minimal memiliki kualifikasi dan

    kompetensi guru pendamping

    (2) Berpengalaman sebagai pendidik PAUD

    minimal 2 tahun

    (3) Lulus Pelatihan/magang/kursus penge-

    lolaan PAUD dari lembaga terakreditasi

    4. Sarana dan Prasarana

    Standar sarana dan prasarana merupakan satu

    kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam men-

    dukung pelayanan PAUD. Standar sarana prasarana

    meliputi jenis, kelengkapan, dan kualitas fasilitas yang

  • 45

    digunakan dalam menyelenggarakan proses penye-

    lenggaraan PAUD.

    Standar sarana prasarana adalah perlengkapan

    untuk mendukung penyelenggaraan kegiatan

    pendidikan, pengasuhan dan perlindungan. Pengadaan

    sarana prasarana perlu disesuaikan dengan jumlah anak,

    kondisi sosial, budaya dan jenis layanan PAUD.

    Dalam mempersiapkan sarana dan prasarana

    harus memperhatikan hal berikut:

    a. Prinsip.

    1) Aman, nyaman, terang, dan memenuhi kriteria

    kesehatan anak.

    2) Sesuai dengan tingkat perkembangan anak

    3) Memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada

    dilingkungan sekitar, termasuk barang

    limbah/bekas layak pakai.

    b. Persyaratan

    1) Kebutuhan jumlah ruang dan luas lahan

    disesuaikan dengan jenis layanan, jumlah anak,

    dan kelompok usia yang dilayani dengan luas

    minimal 3m per peserta didik.

    2) Minimal memiliki ruangan yang dapat digunakan

    untuk melakukan aktifitas anak yang terdiri dari

  • 46

    ruang dalam dan ruang luar, dan kamar

    mandi/jamban yang dapat digunakan untuk

    kebersihan diri dan BAK/BAB (toileting) dengan

    air bersih yang cukup.

    3) Memiliki sarana yang disesuaikan dengan jenis

    layanan, jumlah anak, dan kelompok usia yang

    dilayani.

    4) Memiliki fasilitas permainan baik di dalam dan di

    luar ruangan yang dapat mengembangkan

    berbagai konsep.

    5. Pengelolaan

    Pengelolaan dimaksudkan untuk menjamin

    terpenuhinya hak dan kebutuhan anak, serta

    kesinambungan pelaksanaan PAUD.

    a. Prinsip Pengelolaan.

    1) Program dikelola secara partisipatoris

    2) Menerapkan manajemen berbasis masyarakat

    b. Bentuk layanan.

    Anak usia 2 6 tahun

    c. Perencanaan Pengelolaan

    1) Setiap lembaga PAUD perlu menetapkan visi,

    misi dan tujuan lembaga serta mengembang-

    kannya menjadi program kegiatan nyata dalam

  • 47

    rangka pengelolaan dan peningkatan kualitas

    lembaga.

    2) Visi, misi, dan tujuan lembaga dfijadikan cita-

    cita dan upaya bersama agar mampu mem-

    berikan inspirasi, motivasi dan kekuatan pada

    semua pihak yang berkepentingan.

    3) Visi, misi dan tujuan lembaga dirumuskan oleh

    pimpinan lembaga bersama masyarakat, pen-

    didik dan tenaga kependidikan.

    4) Program harus memiliki izin sesuai dengan jenis

    penyelenggaraan program.

    d. Pelaksanaan Pengelolaan

    1) Pengelolaan administrasi kegiatan meliputi:

    a) Data anak dan perkembangannya

    b) Data lembaga, dan

    c) Administrasi keuangan dan program

    2) Pengelolaan sumber belajar/media meliputi

    pengadaan, pemanfaatan, dan perawatan.

    a) Alat bermain

    b) Media pembelajaran

    c) Sumber belajar lainnya.

  • 48

    6. Pembiayaan

    Pembiayaan meliputi jenis, sumber, dan

    pemanfaatan serta pengawasan dan

    pertanggungjawaban dalam penyelenggaraan dan

    pengembangan lembaga PAUD yang dikelola secara

    baik dan transparan.

    a. Jenis dan Pemanfaatannya:

    1) Biaya investasi, dipergunakan untuk pengadaan

    sarana prasarana, pengembangan SDM, dan

    modal kerja tetap.

    2) Biaya operasional, digunakan untuk gaji pen-

    didik dan tenaga kependidikan serta tunjangan

    yang melekat, bahan atau peralatan pendidikan

    habis pakai pakai dan biaya operasional

    pendidikan tak langsung.

    3) Biaya personal, meliputi biaya pendidikan yang

    dikeluarkan oleh peserta didik dalam mengikuti

    proses pembelajaran.

    b. Sumber Pembiayaan

    Biaya investasi, operasional, dan personal dapat

    diperoleh dari pemerintah, pemerintah daerah,

    yayasan, partisipasi orang tua, masyarakat dan/atau

    pihak lain yang tidak mengikat.

  • 49

    c. Pengawasan dan Pertanggungjawaban

    Lembaga memiliki mekanisme untuk melakukan

    pengawasan dan pertanggungjawaban keuangan

    sesuai dengan peraturan yang berlaku.

    7. Kemitraan

    PAUD berbasis pendidikan Al-Quran

    bekerjasama/bermitra dengan orang tua/wali murid,

    instansi pemerintah, instansi swasta, lembaga swadaya

    masyarakat, yayasan, dan lembaga peduli PAUD, dalam

    maupun luar negeri.

    Orangtua/wali peserta didik PAUD berbasis Pendidikan

    Al-Quran merupakan bagian yang sangat penting

    sebagai pendidik pertama dan utama.

    a. Komitmen orangtua/wali diperlukan untuk men-

    dukung proses pembelajaran PAUD berbasis

    Pendidikan Al-Quran.

    b. Keterlibatan orangtua/wali dalam mendukung

    proses pembelajaran antara lain dilakukan dengan:

    1) Melanjutkan pembiasaan akhlakul karimah

    (sikap dan perkataan positif) di rumah;

    2) Melanjutkan pembiasaan sholat berjamaah di

    masjid atau di rumah;

    3) Membiasakan hidup bersih, sehat, dan teratur;

  • 50

    4) Membiasakan membaca doa sehari-hari;

    5) Membiasakan menghafal surat-surat pendek;

    6) Mengikuti program parenting pertemuan rutin

    yang diselenggarakan dilakukan oleh lembaga;

    7) Membayar infaq bulanan secara tepat waktu dan

    sesuai kemampuan dan kepatutan dengan

    prinsip gotong royong (bagi yang mampu

    membayar infaq lebih besar daripada yang

    kurang mampu), atau sesuai kesepakatan

    bersama;

    8) Berpartisipasi aktif dalam memajukan program

    PAUD berbasis Pendidikan Al-Quran.

    E. PROSES KEGIATAN 1. Pendekatan

    Kegiatan PAUD berbasis Pendidikan Al-Quran meng-

    gunakan pendekatan:

    a. Belajar melalui bermain.

    b. Terintegrasi dengan pengembangan akhlak, Imtaq,

    dan karakter.

    c. Berbasis pada Al-Quran, Hadits, dan ilmu penge-

    tahuan modern.

  • 51

    d. Proses kegiatan bersifat terpadu dan tematik, yaitu

    setiap kegiatan ditujukan untuk mengembangkan

    semua aspek yang dibungkus dengan tema tertentu.

    2. Alur Kegiatan

    Secara umum runtutan alur kegiatan PAUD

    berbasis Pendidikan Al-Quran sejak kedatangan anak

    hingga anak pulang dapat digambarkan pada bagan

    berikut. Namun secara khusus dapat disesuaikan dengan

    kondisi masing-masing tempat dan waktu

    pelaksanaannya (pagi/sore).

    KEDATANGAN

    JURNAL(20 MENIT)

    PEMBUKAAN (20 MENIT)

    TRANSISI (10 MENIT)

    PULANG

    PEMBIASAAN AGAMA (60 MENIT)

    KEGIATAN PENUTUP (10 MENIT)

    KEGIATAN KELOMPOK (60 MENIT)

  • 52

    Contoh jadwal kegiatan harian PAUD berbasis Pendidikan

    Al-Quran dapat dilihat pada lampiran 4a dan 4b.

    3. Proses Kegiatan

    Proses kegiatan merupakan inti dari kegiatan

    PAUD berbasis Pendidikan Al-Quran. Proses kegiatan

    merupakan wahana untuk memfasilitasi agar setiap anak

    dapat mencapai tingkat perkembangan sesuai dengan usia

    dan potensi masing-masing. Proses kegiatan PAUD

    mencakup bidang Pengembangan Kemampuan

    Perilaku/Pembiasaan, dan bidang Pengembangan

    Kemampuan Dasar.

    Proses kegiatan anak usia dini pada program

    PAUD berbasis Pendidikan Al-Quran diintegrasikan

    dengan pengembangkan akhlak dan nilai-nilai keimanan

    dan ketaqwaan dalam diri setiap anak sesuai ajaran Islam.

    a. Pengembangan Kemampuan Perilaku/Pembiasaan

    Pengembangan Pembiasaan yang perlu dilakukan

    secara berkelanjutan, di antaranya:

    1) Berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan.

    2) Mengikuti ibadah harian.

    3) Senyum, salam, dan sapa.

    4) Menjawab salam dan/atau pertanyaan.

  • 53

    5) Menggunakan kata-kata toyyibah seperti maaf, pe-

    rmisi, terimakasih, tolong, Subhanallah, Alham-

    dulillah, Allahu akbar, bismillah, dsb.

    6) Hormat kepada orang dewasa dan sayang sesama

    teman.

    7) Menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

    8) Saling tolong-menolong.

    9) Aktif dan antisipatif.

    10) Selalu ceria.

    11) Senang membantu/menolong.

    12) Berbicara dengan lembut dan santun.

    13) Bersabar untuk antri atau menunggu giliran.

    14) Menyegerakan urusan yang ditunggu teman/orang.

    15) Berempati kepada teman yang sedih/kesusahan.

    16) Bersikap jujur, adil, dan berani.

    17) Mencintai lingkungan alam dan binatang sesuai

    ajaran agama.

    18) Infaq, sadaqah, dan menyantuni anak yatim/fakir-

    miskin.

    19) Bersyukur dan bertawakal.

    20) Bersilaturahmi.

    Pengembangan pembiasaan tersebut dilakukan

    secara berkelanjutan, namun perlu disesuaikan dengan

  • 54

    kesiapan anak. Bila anak belum mampu atau lupa

    melakukan, maka guru mengingatkan dengan memberi

    contoh apa yang seharusnya dilakukan anak. Contoh:

    ketika anak lupa mengucapkan terimakasih saat dibantu

    atau diberi sesuatu, maka pendidik yang mengucapkan

    terimakasih. Jika anak masih lupa atau belum mau

    mengucapkan, maka pendidik yang terus mengucapkan.

    Demikian seterusnya sampai hal tersebut dilakukan dan

    menjadi perilaku anak. Jadi dalam melakukan

    pembiasaan ini tidak cukup hanya diajarkan, tetapi

    dicontohkan secara terus-menerus oleh pendidik.

    Pendidik tidak perlu menegur apalagi menghukum anak

    yang belum melakukan, tetapi cukup mengajak,

    mencontohkan, atau mengingatkan.

    b. Pengembangan Kemampuan Dasar

    Pengembangan Kemampuan Dasar dilakukan

    dengan mengacu pada: (1) tingkat pencapaian

    perkembangan anak menurut usia sebagaimana tertuang

    dalam Standar PAUD (Permendiknas No. 58 Tahun

    2009); dan (2) potensi masing-masing anak. Indikator

    tingkat pencapaian perkembangan tersebut merupakan

    standar umum, sehingga pelaksanaannya harus

  • 55

    disesuaikan dengan potensi masing-masing anak serta

    tidak boleh dipaksakan.

    c. Keterpaduan antara Program Pengembangan Kemam-

    puan Perilaku/Pembiasaan dan Program Pengembangan

    Kemampuan Dasar

    Program pengembangan pembiasaan dan program

    pengembangan kemampuan dasar pada anak usia dini

    tidak bersifat terpisah/sendiri-sendiri, tetapi menyatu

    dan bersifat saling mendukung.Semua program tersebut

    ditujukan untuk membantu anak mencapai perilaku

    mulia (akhlaqul karimah) dan perkembangan optimal

    pada semua aspek, dalam rangka membentuk pribadi

    yang Islami, sehat/bugar, cerdas, dan kreatif sesuai

    dengan potensi masing-masing. Para pendidik dapat

    mengembangkan kegiatan lain yang sesuai dengan

    kebutuhan, kondisi, dan budaya masing-masing daerah.

    4. Pengelolaan Proses Kegiatan

    a. Penyiapan/penataan Bahan dan Alat Main/APE

    1) Sebelum kedatangan anak, pendidik menyiap-

    kan/menata bahan dan alat main/APE yang akan

    digunakan sesuai rencana dan jadwal kegiatan yang

    telah disusun untuk setiap kelompok.

  • 56

    2) Penataan bahan dan alat main/APE hendaknya

    mencerminkan rencana pembelajaan yang sudah

    dibuat, yaitu sesuai dengan tujuan pembelajaran

    yang ingin dicapai anak selama bermain dengan

    bahan dan alat main tersebut.

    b. Penyambutan Kehadiran Anak

    Jika saatnya anak mulai datang, salah seorang

    pendidik menyambut kedatangan anak dengan ramah

    dan membimbing untuk menyimpan bekal dan

    peralatan yang dibawapada tempatnya.

    c. Fasilitasi Kegiatan Jurnal Harian

    1) Sambil menunggu anak-anak lainnya datang, anak

    yang sudah datang dipersilahkan melakukan jurnal

    pagi melalui kegiatan misalnya: menggambar,

    mencoret-coret bebas, atau kegiatan lain yang

    disukai anak.

    2) Kegiatan jurnal pagi penting sebagai sarana transisi

    sebelum mengikuti proses pembelajaran. Melalui

    kegiatan ini emosi anak dapat tersalurkan melalui

    coretan atau gambar yang dihasilkan. Selain itu,

    jurnal pagi juga dapat mengembangkan aspek

    motorik halus, sosial-emosional, seni dan kreativitas,

    daya imajinasi, kognitif, dan bahasa anak.

  • 57

    d. Kegiatan Pembuka

    Saat waktunya tiba, semua anak diminta

    berkumpul membentuk lingkaran besar untuk

    melakukan kegiatan pembuka. Kegiatan pembuka dapat

    dilakukan di dalam atau di luar ruangan. Salah seorang

    pendidik memimpin kegiatan pembuka dengan

    mengucapkan salam lalu menyebutkan kegiatan

    pembuka yang akan dilakukan. Pendidik lain

    membantu mengatur anak agar mengikuti kegiatan

    pembuka dengan tertib. Kegiatan pembuka dapat

    berupa permainan tradisional, gerak dan musik,

    mendongeng, bernyanyi, menirukan gerakan/suara

    hewan, atau kegiatan lain yang melibatkan gerakan

    kasar dan membangun emosi positif anak.

    Contoh kegiatan main pembuka yang dilakukan di luar ruangan

  • 58

    e. Transisi

    1) Setelah mengikuti kegiatan pembuka, anak-anak

    diberi waktu untuk pendinginan dengan cara

    bernyanyi dalam lingkaran, atau membuat permainan

    tebak-tebakan, dan lain-lain. Tujuannya agar anak

    kembali tenang. Setelah anak tenang, anak secara

    bergiliran dipersilakan untuk minum dan ke kamar

    kecil/mencuci tangan. Kegiatan ini bertujuan untuk

    latihan kebersihan diri ke kamar mandi (toilet

    training). Masing-masing pendidik memimpin

    kelompok anak yang menjadi tanggung jawabnya.

    2) Setelah selesai toilet training, anak-anak diminta

    mengambil air wudhu untuk melakukan shalat dhuha

    dan pembiasaan agama.

    3) Setelah semua anak siap, pendidik mengajak anak-

    anak menuju sentra/kelompoknya guna persiapan

    shalat dhuha.

    f. Pembiasaan Agama

    1) Jika waktunya pagi dapat dimulai dengan shalat

    dhuha yang diikuti seluruh anak atau di ke-

    lompoknya masing-masing.

    2) Selesai shalat sunnah (misalnya shalat dhuha untuk

    pagi hari) dilanjutkan dengan pembiasaan

  • 59

    membaca Iqra, doa harian, surat pendek, atau lagu-

    lagu Islami (nasyid).

    g. Kegiatan di Kelompok

    1) Pijakan sebelum bermain

    a) Pendidik dan anak-anak duduk melingkar atau

    menggerombol berhadapan dengan pendidik.

    Pendidik memberi salam kepada anak-anak dan

    menyapa setiap anak dengan menanyakan

    kabarnya.

    b) Pendidik meminta anak-anak untuk memper-

    hatikan siapa saja yang tidak hadir.

    c) Mengajak anak membaca doa sebelum kegiatan

    dan meminta salah seorang anak untuk

    memimpin doa.

    d) Pendidik menyampaikan kegiatan hari ini dan

    hal-hal yang dapat dilakukan anak.

    e) Pendidik membacakan buku yang sesuai tema

    terintegrasi dengan nilai-nilai kehidupan ber-

    agama Islam.

    f) Pendidik mengenalkan kosa kata baru dan

    menunjukkan konsep yang mendukung pem-

    belajaran anak.

  • 60

    g) Pendidik mengenalkan alat main yang sudah

    disiapkan.

    h) Pendidik menjelaskan cara menggunakan alat-

    alat.

    i) Agar tertib, anak-anak diminta mengusulkan dan

    menyepakati aturan bermain.

    j) Pendidik mempersilakan anak untuk mulai

    bermain melalui kegiatan transisi, misalnya

    mempersilakan anak tertentu untuk bermain

    terlebih dahulu dengan menunjuk anak ber-

    dasarkan warna baju, usia anak, huruf depan

    nama anak, atau cara lainnya.

    2) Pijakan Saat Anak Bermain

    a) Pendidik berkeliling dan memastikan semua

    anak aktif bermain.

    b) Memberi gagasan cara main pada anak yang

    belum memiliki pengalaman menggunakan

    bahan dan alat main yang disediakan.

    c) Memberi dukungan berupa pernyataan positif

    tentang pekerjaan yang dilakukan anak.

    d) Memancing dengan pertanyaan terbuka untuk

    memperluas cara main anak. Pertanyaan

    terbuka artinya pertanyaan yang tidak cukup

  • 61

    dengan dijawab ya atau tidak saja, tetapi

    banyak kemungkinan jawaban yang dapat

    diberikan anak.

    Pendidik Sedang Memberikan Pijakan Saat Anak Bermain

    e) Memberikan bantuan pada anak yang

    membutuhkan.

    f) Mendukung anak untuk mencoba dengan cara

    lain, sehingga anak memiliki pengalaman main

    yang kaya (densitas).

    g) Mencatat dan mendokumentasikankegiatan,

    perilaku, dan perkataan anak.

    h) Meminta anak untuk mengumpulkan hasil

    kerja mereka, dengan mencantumkan nama

    serta tanggal di lembar kerjanya (apabila anak

    belum bisa menulis maka pendidik membantu

    menuliskannya)

  • 62

    i) Bila waktu tinggal 5 menit, pendidik mem-

    beritahukan kepada anak-anak untuk bersiap-

    siap menyelesaikan kegiatan mainannya.

    3) Pijakan Setelah Bermain

    a) Setelah waktu bermain selesai Pendidik mem-

    beritahukan saatnya mengembalikan mainan,

    alat dan bahan pada tempatnya dengan

    melibatkan anak-anak.

    b) Bila anak belum terbiasa, Pendidik bisa mem-

    buat permainan atau lagu yang menarik agar

    anak senang merapikan.

    c) Saat merapikan, Pendidik menyiapkan tempat

    yang berbeda untuk setiap jenis alat, sehingga

    anak dapat mengelompokkan alat main sesuai

    dengan jenisnya.

    Anak-anak terlibat saat mengembalikan mainan dan membersihkan kembali tempat main

  • 63

    d) Bila peralatan dan bahan main sudah dirapikan

    kembali, pendidik merapikan tempat dan

    membantu anak-anak merapikan bajunya

    dan/atau menggantinya bila basah.

    e) Setelah rapi dan semua anak duduk, pendidik

    menanyakan kembali kepada setiap anak

    kegiatan main yang telah dilakukannya. Ke-

    giatan menanyakan kembali (recalling) melatih

    kekuatan berpikir anak, melatih menggunakan

    kalimat untuk mengemukakan gagasan dan

    pengalaman mainnya, serta memperluas

    perbendaharaan kata anak.

    f) Pendidik mengajak anak membaca doa setelah

    selesai kegiatan bermain.

    Pendidik memberikan pijakan setelah main

  • 64

    h. Makan Bersama

    1) Makan bersama bertujuan untuk membiasakan

    adab makan, mengenal jenis-jenis makanan,

    mensyukuri rizqi dari Allah, dan meningkatkan gizi

    anak. Jenis makanan berupa kue atau makanan

    bergizi lainnya. Agar menu makanan dapat diatur

    dan untuk menghindari makanan jajanan yang ku-

    rang sehat, disarankan agar makanan disediakan

    secara bergilir oleh orangtua untuk masing-masing

    kelompok. Untuk itu perlu disepakati menu/jenis

    makanan yang harus disiapkan oleh orangtua

    beserta patokan harga minimalnya (sesuai ke-

    sepakatan). Hari yang orangtuanya membawakan

    makanan dijadikan hari sodaqoh anak. Anak yang

    bersodaqoh dapat diberi kesempatan sebagai

    pemimpin pada hari itu.

    2) Sebelum makan, pendidik mengajak anak untuk

    cuci tangan, membantu mempersiapkan hidangan,

    mendiskusikan makanan yang sudah terhidang,

    berterimakasih pada anak yang orangtuanya

    membawakan makanan (bersedekah), bersyukur,

    dan mengucapkan doa dipimpin oleh anak yang

    bersedekah.

  • 65

    Anak sedang makan bersama-sama

    3) Pembiasaan tatacara/adab makan yang baik.

    4) Libatkan anak untuk membereskan bekas makanan

    yang tercecer atau bungkus makanan dibuang ke

    tempat sampah.

    Anak-anak sedang membereskan kembali alat makan

  • 66

    i. Kegiatan Penutup (diikuti seluruh anak)

    1) Setelah semua anak berkumpul membentuk ling-

    karan besar, pendidik dapat mengajak anak

    bernyanyi atau membaca puisi. Pendidik menyam-

    paikan rencana kegiatan hari berikutnya dan

    menganjurkan anak untuk bermain yang sama di

    rumah masing-masing.

    2) Pendidik meminta salah satu anak secara bergiliran

    untuk memimpin doa penutup.

    3) Untuk menghindari berebut saat pulang, digunakan

    urutan berdasarkan warna baju, usia, dan lain-lain.

    Selanjutnya berjabatan tangan sambil mengucapkan

    salam.

    Pulang dengan tertib merupakan pijakan akhir yang mengesankan

    j. Perencanaan Kegiatan Hari Berikutnya

    Sebelum pulang pendidik hendaknya merapikan

    tempat kembali, melengkapi catatan perkembangan, dan

  • 67

    bersama pendidiklain mendiskusikan kejadian hari ini

    dan menyiapkan rencana kegiatan hari berikutnya.

    k. Program Orangtua

    1) Program orangtua dikembangkan dalam rangka

    menjembatani kesesuaian pemahaman akan

    pendidikan, dan pengasuhan anak yang diberikan di

    lembaga PAUD berbasis Pendidikan Al-Quran

    dan pengasuhan di rumah.

    2) Program orangtua dilaksanakan secara berkala.

    Waktu pertemuan disepakati bersama. Inisiatif

    kegiatan dapat datang dari orangtua, sedangkan

    lembaga PAUD berbasis Pendidikan Al-Quran

    memfasilitasinya.

    3) Kegiatan Program orangtua dapat berbentuk: kelas

    orangtua, keterlibatan orangtua di

    kelas/kelompok/sentra, keterlibatan orangtua dalam

    kegiatan bersama, hari konsultasi, kunjungan

    rumah, dan sebagainya.

    4) Materi yang dibahas dalam program orangtua

    disesuaikan dengan kebutuhan orangtua yang

    terkait dengan permasalahan pendidikan, pera-

    watan, dan pengasuhan anak.

  • 68

    5) Narasumber dapat berasal dari orangtua itu sendiri,

    lembaga PAUD berbasis Pendidikan Al-Quran,

    atau ahli dari luar.

    6) Program Orangtua sebaiknya disusun oleh orangtua

    bersama lembaga PAUD berbasis Pendidikan Al-

    Quran.

    7) Selain melalui kegiatan tatap muka, media yang

    dapat digunakan dalam bentuk: leaflet, koran

    dinding, atau siaran radio komunitas orangtua

    PAUD.

    8) Pelaksanaan Program Orangtua mengikuti Petunjuk

    yang telah dikeluarkan oleh Direktorat Pembinaan

    PAUD Tahun 2013.

    F. EVALUASI, PELAPORAN DAN PEMBINAAN

    1. Evaluasi

    Kegiatan evaluasi yang dilakukan di program

    PAUD berbasis Pendidikan Al-Quran mencakup dua

    kegiatan yakni evaluasi terhadap program kegiatan dan

    evaluasi hasil kemajuan perkembangan anak.

  • 69

    a. Evaluasi Penyelenggaraan Program

    Evaluasi keberhasilan program dilakukan secara:

    1) Internal; oleh penyelenggara, pengelola dan

    pendidik, sekurang-kurangnya setahun sekali.

    2) Eksternal; oleh orang atau lembaga dari luar,

    misalnya dinas pendidikan atau kantor wilayah

    kementerian agama setempat.

    Evaluasi program bertujuan untuk mengetahui efek-

    tivitas pelaksanaan program PAUD berbasis Pen-

    didikan Al-Quran. Evaluasi program mengukur

    sejauh mana indikator keberhasilan dapat tercapai,

    antara lain meliputi:

    1) Tempat Kegiatan

    2) Pendidik

    3) Peserta didik

    4) Frekuensi kegiatan

    5) Orangtua yang aktif membayar iuran/infaq

    6) Partisipasi orangtua dalam mendukung program

    7) Jumlah kelompok

    8) Sumber pendanaan

    9) Dukungan unsur pembina

    Pelaksanaan evaluasi program dapat menggunakan

    format penilaian keberhasilan program PAUD

  • 70

    berbasis Pendidikan Al-Quran pada lampiran 5.

    Hasil evaluasi pelaksanaan program dapat dijadikan

    bahan untuk meningkatkan kinerja berikutnya.

    b. Evaluasi Pembelajaran

    Evaluasi perkembangan anak dilakukan

    sekurang-kurangnya setiap enam bulanan. Evaluasi

    perkembangan anak dilakukan dengan menggunakan

    data dan informasi yang tertuang dalam:

    1) Buku catatan perkembangan dan catatan

    anekdot.

    2) Kumpulan hasil karya anak (portofolio).

    3) Daftar cek (checklist) perkembangan anak (jika

    tersedia).

    4) Data kesehatan dan perkembangan berat badan.

    5) Informasi relevan lainnya (dari orangtua/sumber

    lain).

    Pencatatan perkembangan anak dilakukan

    setiap pertemuan dengan menggunakan buku catatan

    perkembangan dan catatan anekdot anak. Pencatatan

    perkembangan mencakup semua aspek

    perkembangan. Selain dalam bentuk catatan

    perkembangan, pendidik juga dapat menggunakan

    daftar (check list) perkembangan anak dan

  • 71

    mengumpulkan hasil karya anak sebagai bahan

    evaluasi dan laporan perkembangan kepada

    orangtua.

    2. Pelaporan

    a. Pelaporan Program

    Pelaporan program disusun oleh pengelola.

    Laporan program disampaikan kepada dinas

    pendidikan kabupaten/kota melalui UPTD

    Pendidikan Kecamatan setiap tahun sekali (awal

    bulan Juli). Pelaporan program sekurang-kurangnya

    berisi:

    1) Nama dan alamat satuan PAUD.

    2) Data pengelola dan pendidik menurut jenis

    kelamin dan latar belakang pendidikan.

    3) Data peserta didik menurut usia dan jenis

    kelamin.

    4) Informasi perkembangan program.

    5) Tingkat pencapaian lembaga berdasarkan hasil

    evaluasi dengan menggunakan format pada

    lampiran 3.

    b. Pelaporan Perkembangan Anak

    Pelaporan perkembangan anak disampaikan

    secara berkala kepada orangtua dengan menggunakan

  • 72

    buku laporan perkembangan. Laporan perkembangan

    anak sekurang-kurangnya disampaikan kepada orangtua

    setiap 6 bulan sekali. Pelaporan yang bersifat khusus

    dapat disampaikan sewaktu-waktu jika diperlukan.

    c. Sertifikat Tanda Serta Belajar (STSB)

    Anak yang telah selesai mengikuti program

    PAUD berbasis Pendidikan Al-Quran diberikan STSB

    yang dikeluarkan oleh Lembaga penyelenggara yang

    ditandatangani oleh Ketua Pengelola dan Ketua

    Lembaga Penyelenggara sebagai tanda penghargaan.

    3. Pembinaan

    a. Petugas Pembina

    Petugas Pembina untuk program PAUD berbasis

    Pendidikan Al-Quran terdiri dari unsur Kementerian

    Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, dan

    induk organisasi yang bersangkutan.

    b. Lingkup Pembinaan

    Kegiatan pembinaan yang dilakukan oleh tenaga

    Pembina, mencakup semua aspek yang berkaitan

    dengan pengelolaan kelembagaan maupun program

    pembelajaran.

  • 73

    BAB IV

    PENUTUP

    Buku petunjuk teknis ini disusun sebagai acuan bagi

    masyarakat yang akan mendirikan/membentuk PAUD berbasis

    Pendidikan Al-Quran. Di samping itu, sebagai acuan bagi

    pengelola/pendidik dalam mempermudah penyelenggaraan

    PAUD berbasis Pendidikan Al-Quran.

    Petunjuk ini, diharapkan dapat memberikan motivasi

    kepada masyarakat yang peduli terhadap PAUD berbasis

    Pendidikan Al-Quran, agar bisa meningkatkan dan

    memperluas layanan PAUD.

    Dengan demikian petunjuk ini menjadi kontribusi

    PAUD berbasis Pendidikan Al-Quran terhadap percepatan

    akses layanan PAUD di seluruh Indonesia.

    Untuk tercapainya peningkatan layanan PAUD,

    petunjuk pelaksanaan program di tetapkan sebagai

    pedoman/acuan yang perlu di pelajari oleh semua pihak

    terutama penyelenggara, pengelola, pendidik anak usia dini

    berbasis Pendidikan Al-Quran.

    Petunjuk ini tentu belum sempurna kritik dan saran

    sangat kami harapkan. Semoga bermanfaat.

  • 74

    LAMPIRAN LAMPIRAN

    Contoh-contoh dibawah ini dapat dikembangkan oleh lembaga disesuaikan dengan kondisi setempat

    Lampiran 1a Contoh APE untuk Kelompok Alif

    No Uraian 1. Puzzleyang setiap keping memiliki pegangan untuk

    ditarik dan dipasang 2. Balok warna dari bahan lunak seperti busa padat/kayu,

    bersudut tumpul, bergambar huruf (latin dan hijaiyah) atau angka (latin dan arab)

    3. Boneka anak yang berbusana muslim/muslimah dan binatang berbahan lunak

    4. Buku-buku cerita sederhana untuk dibacakan dan buku-buku cerita bergambar tanpa kata-kata untuk berimajinasi terutama bernuansa Islami

    5. Balok pasak besar dari kayu atau plastik 6. Kotak sortir (sorting box) berlubang dan berisi

    bentuk-bentuk geometri untuk dikeluar-masukkan7. Menara gelang berwarna terang dari kayu atau

    plastic8. Botol plastik dan tutupnya untuk main buka tutup

    botol9. Lego besar, berwarna terang

    10. Alat-alat musik pukul dan petik11. Krayon, spidol, marker ukuran besar12. Pasak pukul (working bench) dengan palu kayu untuk

    dipukul-pukul memasukkan pasak13. Guting-gunting kecil, kertas, dan lem untuk bermain

    meremas, menggunting, dan menempel bebas gambar-gambar dan bentuk-bentuk yang bernuansa dan

  • 75

    dinuasakan Islami 14. Benda-benda kecil (batu-batuan dicat, buah-buahan

    plastik/kayu gantungan kunci), jepitan kue dan wadah untuk main jepit-jepit dan klasifikasi

    15. Berbagai mainan miniatur binatang plastik untuk main peran

    16. Peralatan main tamu-tamuan (meja dan kursi mini, boneka kain bentuk ayah-ibu, kakek-nenek, kakak, dan tamu)

    17. Biji manik-manik kayu/plastik untuk meronce dengan 3 warna, 3 bentuk, dan 3 ukuran

    18. Berbagai bahan bertekstur lembut, kasar, dan halus untuk melatih perabaan.

    19. Alat permainan yang menggunakan bahan alam (misalnya: air, pasir, tanah liat, daun-daun kering, kulit kerang, batuan, kerikil, ranting, dll)

    20. Permainan outdoor (misalnya: perosotan, jungkat-jungkit, ayunan, papan titian, papan majemuk, dll)

    Keterangan: = bernuansa Islami = dinuansakan Islami = bernuansa dan dinuansakan Islami

  • 76

    Lampiran 1b Contoh APE untuk Kelompok Ba

    No Uraian 1. Puzzle dengan jumlah kepingan sekitar 6 keping.2. Biji manik-manik kayu/plastik untuk meronce dengan

    3 warna, 3 bentuk, dan 3 ukuran3. Buku-buku cerita4. Lego ukuran sedang5. Alat-alat musik pukul, tekan, dan petik6. Batu-batuan ukuran jempol kaki berbagai warna atau

    dicat non-toksik (tidak beracun).7. Pasak pukul (working bench) dengan palu kayu untuk

    dipukul-pukul memasukkan pasak8. Guting-gunting kecil, kertas/daun, dan lem untuk

    bermain meremas, menggunting, dan menempel bebas dan terpola

    9. Benda-benda kecil (batu-batuan dicat, buah-buahan plastik/kayu gantungan kunci), jepitan kue dan wadah untuk main jepit-jepit dan klasifikasi

    10. Papan jahit dengan berbagai bentuk (celana, baju, topi) untuk bermain menjahit

    11. Spons huruf/angka12. Berbagai mainan jepit-jepitan untuk melatih jemari

    (motorik halus)13. Panggung boneka dengan berbagai boneka untuk

    dimainkan14. Krayon, spidol, pensil warna15. Alat-alat main peran (masak-masakan, pakaian dan

    asesoris berbagai profesi)16. Biji-bijian keras dan kering ukuran besar seperti biji

    kenari, salak, mlinjo, kacang polong, dll.17. Peralatan main tamu-tamuan (meja dan kursi mini,

    boneka kain bentuk ayah-ibu, kakek-nenek, kakak, dan

  • 77

    tamu) 18. Berbagai mainan jepit-jepitan untuk melatih jemari

    (motorik halus