Sejarah Manusia Purba

Post on 09-Jan-2017

1.220 views 11 download

Transcript of Sejarah Manusia Purba

S E J A R A H

Kelompok 2

•Ahmad Sya’roni•Els Marina Putri•Erlin Anggrista A•Fajar Adi Nugroho•Hasna Aziizah S•Isna Nusa K

•Octa Dinar Anugrah •Revilda Dwi Adha

Tugas 3

1. Memaparkan teori teori tentang asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia.

2. Menentukan peneliti tempat penemuan hasil temuan manusia purba yang pernah hidup di Indonesia.

3. Menguraikan ciri-ciri kehidupan pada jaman batu (paleolithikum, mesolitihkum, neolithikum, megalithikum).

4. Menjelaskan proses terjadinya kepercayaan/religi di nusantara.

Drs. Moh. Ali

Drs. Moh. Ali menyatakan bahwa bangsa Indonesia berasal dari daerah Yunan, Cina.

Ali mengemukakan bahwa leluhur orang Indonesia berasal dari hulu-hulu sungai besar yang terletak di daratan Asia dan mereka berdatangan secara bergelombang.

Prof. Dr. H. Kern Ilmuwan asal Belanda ini menyatakan bahwa bangsa

Indonesia berasal dari Asia. Menurutnya, nenek-moyang bangsa Indonesia

menggunakan perahu-perahu bercadik menuju kepulauan Indonesia. Pendapat Kern ini didukung oleh adanya persamaan nama dan bahasa yang dipergunakan di daerah Campa dengan di Indonesia.

Prof. Dr. Sangkot Marzuki Prof. Dr. Sangkot Marzuki. Menyatakan bahwa nenek moyang

bangsa Indonesia berasal dari Austronesia dataran Sunda. Hal ini didasarkan hasil penelusuran DNA fosil. Ia menyanggah bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunan, karena Homo Erectus atau Phitecantropus Erectus ini tidak ada kelanjutannya pada manusia saat ini. Mereka punah dan digantikan oleh manusia dengan species baru, yang sementara ini diyakini sebagai nenek moyang manusia yang ditemukan di Afrika.

Bangsa Melayu Tua ( Proto Melayu )

Melayu Tua memasuki wuilayah nusantara melalui dua jalur, yaitu:

• Jalur Barat melalui malaysia –Sumatera• Jalur Utara atau Timur melalui Fhilipina – Sulawesi.

Menurut penelitian Van  Heekertn di Kalumpang (Sulawesi Utara) telah terjadi perpaduan antara tradisi kapak persegi dan kapak lonjong yang dibawa oleh orang-orang Austranesia yang datang dari arah utara atau melalui Fhilipina  dan Sulawesi. Suku bangsa Indonesia yang termasuk anak keturunan bangsa Proto Melayu adalah suku Dayak dan Suku Toraja

Peta Persebaran Proto Melayu

Bangsa Melayu Muda (Deutero Melayu)

• Bangsa deuteron Melayu memasuki wilayah nusantara melalui jalur Barat mereka menempuh rute dari Yunan ( Teluk Tonkin ), Vietnam, semenanjung Malaysia, dan akhirnya sampai di Nusantara.

• Suku bangsa Indonesia yang termasuk ketuirunan bangsa Melayu muda adalah suku Jawa dan Melayu dan Bugis.

Peta Persebaran Deutro Melayu

Bangsa Primitif

Mereka yang termasuk bangsa primitive adalah;• Manusia Pleistosen ( Purba )• Suku Wedoid• Suku Negroid

Manusia Pleistosen ( Purba )

Suku Wedoid

• Sisa-sisa suku Widoid sampai sekarang masih ada misalnya suku Sakai di Siak serta suku Kubu diperbatasan Jambi dan Palembang

Suku Negroid

• Di Indonesia sudah tidak terdapat lagi sisa-sisa kehidupan suku negroid. Akan tetapi di pedalaman Malayasia dan fhilipina keturunan suku negroid masih ada.

Meganthropus Paleojavanicus• Ditemukan oleh seorang peneliti dari belanda bernama Von

Koniegswald di Sangiran, Lembah Bengawan Solo antara Tahun 1936 - 1941.Ddiperkirakan dia memiliki badan tegap dan rahang besar dan kuat.

Pithecanthropus• Manusia purba jenis ini mempunyai ciri-ciri badan tegap tapi

tidak setegap meganthropus, muka menonjol ke depan dahi miring kebelakang, bentuk kepala lonjong seperti berkonde dan hidungnya besar.

• Ada beberapa spesies manusia purba jenis ini yang ditemukan di Indonesia, antara lain :

1. Pithecanthropus Erectus 2. Pithecanthropus Mojokertensis3. Pithecanthropus Robotus4. Pithecanthropus Soloensis

Homo• Volume otaknya yang sudah menyerupai manusia

modern dan bukan lagi manusia kera (Pithecanthrupus).

• Beberapa manusia purba jenis homo yang ditemukan di Indonesia, antara lain :

1. Homo Soloensis2. Homo Wajakensis 3. Homo Floresiensis

Homo Soloensis• Ditemukan oleh Von

Koeningswald dan Weidenrich antara tahun 1931-1934 disekitar sungai Bengawan Solo

Homo Wajakensis • Ditemukan oleh Van Rèestchoten pada Tahun 1990 di

Desa Wajak, Tulungagung yang kemudian di teliti oleh Eugene Dubois

Homo Floresiensis• Dibanding jenis lainnya, homo ini memiliki keistimewaan

karena tubuhnya yang kerdil. Ditemukan oleh seorang pastur bernama Verhoeven pada tahun 1958 di goa Liang Bua Manggarai, Flores, dan baru di umumkan sebagai temuan yang menghebohkan pada tahun 2004

PalaeolithikumPalaeolithikum atau jaman batu tua berlangsung

kurang lebih 600.000 tahun yang lalu atau selama masa Pleistosen.

Dari jaman paleolithikum yang berlangsung selama kala pleistosen ditandai dengan adanya bukti fosil manusia di dunia. Oleh karena itu perkembangan budaya memiliki ciri sebagai berikut:1) manusia masih hidup mengembara (nomaden)2) masyarakat belum mengenal bercocok tanam3) makanan diperoleh dari alam (food gathering)4) alat yang dibuat masih sangat kasar.

MesolithikumMesolithikum atau jaman batu tengah diperkirakan

berlangsung selama 20.000 tahun yang lalu atau selama kala Holosen. 

Adapun ciri perkembangan budayanya meliputi :1) kehidupan manusia mulai menetap (seminomaden)2) mulai mengenal bercocok tanam secara sederhana3) mulai mengolah bahan makanan sendiri4) alat yang dibuat masih mirip dengan jaman batu tua, tetapi sudah lebih halus5) manusia pendukung kebudayaannya sudah mencapai tingkat Homo sapiens.

NeolithikumNeolithikum atau jaman batu baru diperkirakan

berlangsung tahun 2000 SM. Adapun ciri perkembangan budayanya adalah :

1) kehidupan manusia sudah menetap secara mantap2) sudah mengenal bercocok tanam dengan baik3) sudah mampu mengolah bahan makanan sendiri4) alat yang dibuat dari batu sudah halus dan kompleks5) peradaban lebih maju dan dapat membuat alat rumah tangga yang lebih baik, misal kemampuan menenun dan membuat pakaian

MegalithikumKebudayaan megalithikum berlangsung pada jaman

neolithikum dan jaman logam. Kebudayaan yang dihasilkan berupa bangunan batu besar. Batu besar yang dibuat tidak dikerjakan secara halus, melainkan diratakan secara kasar untuk mendapatkan bentuk yang dibutuhkan. Kebudayaan megalithikum didasarkan pada kepercayaan bahwa yang mati tetap ada hubungan dengan yang ditinggalkan. Masyarakat percaya bahwa yang mati akan memberikan kesejahteraan dan kesuburan tanaman. Bangunan batu besar sebagai sarana untuk menghormati mereka yang telah mati.

Animisme

Kepercayaan manusia purba terhadap roh nenek moyang yang telah meninggal dunia. Menurut mereka, arwah nenek moyang selalu memperhatikan mereka dan melindungi, tetapi akan menghukum mereka juga kalau melakukan hal-hal yang melanggar adat. Dengan demikian, orang tua yang mengetahui dan menguasai adat nenek moyang akan menjadi pemimpin masyarakat. Penghormatan kepada nenek moyang dilakukan dengan pimpinan orang tua tersebut, yang diterima oleh masyarakat sebagai ketua adat.

Dinamisme

Kepercayaan bahwa semua benda mempunyai kekuatan gaib, seperti gunung batu, dan api. Bahkan benda-benda buatan manusia diyakini juga mempunyai kekuatan gaib seperti patung, keris, tombak, dan jimat. Sesungguhnya proses pembuatan benda-benda megalitik, seperti menhir, arca, dolmen, punden berundak, kubur peti batu, dolmen semu atau pandhusa, dan sarkofagus dilandasi dengan kayakinan bahwa di luar diri manusia ada kekuatan lain.

Totemisme

Kepercayaan atas dasar keyakinan bahwa binatang-binatang tertentu merupakan nenek moyang suatu masyarakat atau orang-orang tertentu. Binatang-binatang yang dianggap sebagai nenek moyang antara orang yang satu dengan orang atau masyarakat yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Biasanya binatang-binatang yang dianggap nenek moyang itu, tidak boleh diburu dan dimakan, kecuali untuk keperluan upacara tertentu.

Kepercayaan pada Zaman Kuno

Apa yang di gambarkan di atas dewa,rokh dan kesaktia, tidak semua di puja dan di hormati dengan penuh kasih sayang, tetapi di antaranya ada yang di takuti, sehingga mendorong manusia atau nanek moyang kita untuk memberikanpenghormatan : misalnya memberikan sajen, jampi korban, dan lain-lain.

Dengan perbuatan yang demikian, di harapkan meraka terlindungi dan tidak mendapatkan bahaya. Mungkin sekali perbuatan-perbuatan nenek moyang kita ke arah dunuia di luar panca inderanya itu, merupakan awal dari perkembangan kepercayaandi daerah ini. Rupa-rupanya konsepsi kesaktian lebih berakar lama di kalangan masyarakat daerah ini mendapatkan kontak dan pengaruh dari luar seperti agama Budha, Islam dan kebudayaan Barat.

Kepercayaan pada zaman baru 

Penetrasi kebudayaan asing yang telah mempengaruhi peranan Indonesia dengan mengikuti jalan niaga dunia adalah peradapan Hindu.

Melalui jalan niaga tradisional via Selat Malaka dan Selat Sunda begitu pula Islam masuk ke negeri kita via saudagar-saudagar Arab, India dan Parsi (Iran), baik secara di sengaja maupun secara tidak sengaja telah mengimpor itu ke negeri kita ini, yang kemudian ini akan mempengaruhi kehidupan masyarakat dan kenegaraan bangsa Indonesia pada umumnya, dan terutama mengadakan kontak dengan daerah-daerah pesisirataunpelabuhan yang di lintasi atau rute perdagangan itu.

Perkembangan Agama Pada Zaman Kemerdekaan

Agama Islam yang mayoritas di Sumatera Selatan, telah mengalami perkembangan pada zaman kemerdekaan baik dalam kuantitas maupun dalam toleransi. Sarana-sarana ibadah berkembang  selaras dengan terus bertambahan jumlah pemeluknya. Demikian pula perkembangan agama-agama yang lain, perkembangan ini memang senada asas pancasila menjamin kebebasan beragama, bahkan sampai kepada kaum perantauan Cina yang hidup dengan kepercayaan mereka yang tradisional khas Tiongkok yaitu Confusianisme, berkembang tanpa gangguan.

Sinkretisme

Sinkretisme adalah suatu proses perpaduan dari beberapa paham-paham atau aliran-aliran agama atau kepercayaan. Pada sinkretisme terjadi proses pencampuradukkan berbagai unsur aliran atau faham, sehingga hasil yang didapat dalam bentuk abstrak yang berbeda untuk mencari keserasian, keseimbangan. Istilah ini bisa mengacu kepada upaya untuk bergabung dan melakukan sebuah analogi atas beberapa ciri-ciri tradisi, terutama dalam teologi dan mitologi agama, dan dengan demikian menegaskan sebuah kesatuan pendekatan yang melandasi memungkinkan untuk berlaku inklusif pada agama lain.

Terima Kasih