Download - KINERJA DINAS KESEHATAN KOTA BOGOR TAHUN 2014 …

Transcript
Page 1: KINERJA DINAS KESEHATAN KOTA BOGOR TAHUN 2014 …

1

KINERJA DINAS KESEHATAN KOTA BOGOR TAHUN 2014 MENUJU BOGOR KOTA SEHAT

dr. Rubaeah,M.Kes (Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor)

Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen masyarakat yang

bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang

agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setingggi-tingginya. Derajat kesehatan masyarakat

dapat dilihat dari berbagai indikator yaitu indikator angka harapan hidup, angka kematian dan

status gizi masyarakat

Pembangunan manusia adalah sebuah proses pembangunan yang bertujuan agar manusia

mempunyai kemampuan di berbagai bidang, khususnya dalam bidang kesehatan, pendidikan dan

pendapatan. Keberhasilan pembangunan manusia dapat diukur melalui tiga hal yaitu umur panjang

dan sehat, berpengetahuan dan memiliki kehidupan yang layak. Umur panjang dan sehat

direpresentasikan dengan indikator angka harapan hidup ; pendidikan direpresentasikan dengan

indikator angka melek huruf; serta kehidupan yang layak direpresentasikan dengan indikator

kemampuan daya beli. Semua indikator yang merepresentasikan ketiga indikator pembangunan

manusia terangkum dalam suatu nilai tunggal yaitu Indeks Pembangunan Manusia (Human

Development Index).

Dinas Kesehatan merupakan salah satu SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) yang mengupayakan

indikator umur panjang dan sehat masyarakat Kota Bogor melalui berbagai upaya promotif,

preventif, kuratif dan rehabilitatif melalui Visi “Masyarakat Kota Bogor Sehat dan Mandiri”.

Tercapainya Visi tersebut bukan semata-mata hasil kerja Dinas Kesehatan akan tetapi merupakan

hasil kerja seluruh sektor yang didukung oleh peran serta seluruh masyarakat. Adapun masyarakat

Kota Bogor sehat dan mandiri yang ingin dicapai adalah masyarakat yang ditandai oleh situasi

penduduknya yang hidup dalam lingkungan yang sehat dengan perilaku sehat, memiliki

kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta

memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

Lingkungan sehat yang diharapkan adalah yang kondusif bagi terwujudnya keadaan sehat yaitu

lingkungan yang bebas polusi, tersedianya air bersih, sanitasi lingkungan yang memadai,

perumahan dan pemukiman yang sehat, serta perencanaan kawasan yang berwawasan kesehatan.

Page 2: KINERJA DINAS KESEHATAN KOTA BOGOR TAHUN 2014 …

2 Perilaku sehat yang diharapkan adalah yang bersifat proaktif untuk memelihara dan meningkatkan

kesehatan, mencegah risiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit, serta

berpartisipasi aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat.

Kemampuan masyarakat yang diharapkan adalah yang mampu menjangkau pelayanan kesehatan

yang bermutu tanpa adanya hambatan, baik yang bersifat ekonomi maupun non ekonomi.

Pelayanan kesehatan yang bermutu yang dimaksudkan disini adalah pelayanan kesehatan yang

memuaskan pemakai jasa pelayanan serta yang diselenggarakan sesuai dengan standar dan etika

profesi. Diharapkan dengan terwujudnya lingkungan dan perilaku hidup sehat serta meningkatnya

kemampuan masyarakat maka derajat kesehatan perorangan, keluarga, dan masyarakat dapat

ditingkatkan secara optimal.

Selanjutnya untuk dapat mewujudkan Visi tersebut, ditetapkan 4 Misi pembangunan kesehatan Kota

Bogor sebagai berikut :

1. Menyediakan pelayanan kesehatan yang bermutu, dan terjangkau

2. Menggerakkan kemandirian masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan

individu, keluarga dan lingkungan

3. Meningkatkan kualitas sumberdaya kesehatan yang profesional dan amanah

4. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam jaminan pemeliharaan kesehatan yang mandiri

Berikut ini kegiatan-kegiatan yang telah diupayakan oleh Dinas Kesehatan Kota Bogor Tahun 2014

untuk mencapai Visi dan Misi tersebut di atas :

KEGIATAN SERTIFIKASI ISO 9001:2008 DI PUSKESMAS KOTA BOGOR SERTA

OPTIMALISASI PUSKESMAS RAWAT INAP

Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) sebagai salah satu fasilitas kesehatan tingkat pertama

(FKTP) memiliki peranan penting dalam sistem kesehatan nasional, khususnya subsistem upaya

kesehatan. Puskesmas harus ditata kelola dengan baik agar dapat meningkatkan aksesibilitas,

keterjangkauan, dan kualitas pelayanan dalam rangka meningkatkan derajat masyarakat serta

menyukseskan program jaminan sosial nasional (JKN). Upaya kesehatan yang dilaksanakan di

Puskesmas menitik-beratkan pelayanan pada sasaran masyarakat luas.

Untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat, maka Puskemas harus

tersertifikasi, terstandarisasi dan terakreditasi dengan baik sebagaimana yang diamanatkan dalam

Peraturan Menteri Kesehatan No.75 tahun 2014. Akreditasi juga sebagai syarat Puskesmas untuk

menjadi FKTP yang terdaftar pada Badan Penyenggara Jaminan Sosial (BPJS) dan berhak

melaksanakan program JKN. Sebagai penguat penerapan akreditasi Puskesmas, Kota Bogor telah

melakukan assesment standarisasi Puskesmas sesuai dengan yang tertuang dalam Rencana

Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) tahun 2010-2014 Kota Bogor Urusan Kesehatan, pada

Page 3: KINERJA DINAS KESEHATAN KOTA BOGOR TAHUN 2014 …

3 Program Standarisasi Pelayanan Kesehatan. Sasaran Program ini adalah meningkatkan akses

layanan dan kualitas layanan kesehatan melalui Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO. Penetapan

telah melaksanakan SMM ISO berdasarkan audit yang dilakukan oleh badan sertifikasi.

Kota Bogor sudah memiliki 12 (duabelas) Puskesmas yang menerapkan SMM ISO 9001:2008. Melalui

proses pembenahan yang cukup panjang, maka audit ekstenal keduabelas puskesmas tersebut dapat

terlaksana sehingga berhak memperoleh sertifikatnya. Dimulai pada tahun 2011 yaitu Puskesmas

Bogor Selatan, Puskesmas Bogor Timur dan Puskesmas Bogor Tengah oleh Badan Sertifikasi

Worldwide Quality Assurance (WQA) SEA dan Sukofindo. Kemudian Puskesmas Tegal Gundil,

Puskesmas Kedung Badak dan Puskesmas Semplak pada tahun 2012 oleh Worldwide Quality

Assurance (WQA) APAC. Dilanjutkan dengan Puskesmas Pasir Mulya, Puskesmas Sindang Barang

dan Puskesmas Tanah Sareal pada tahun 2013 oleh Tüv Nord. Selanjutnya Puskesmas Gang Kelor,

Puskesmas Cipaku dan Puskesmas Mekarwangi, yang terakreditasi ISO pada tahun 2014 oleh Trans

Pacific Sertification Ltd. (TCL). Masyarakat sendiri telah merasakan dampak dari SMM ISO ini yaitu

pelayanan menjadi lebih mudah, lebih ramah dan lebih cepat.

Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama, bertanggung-jawab memberikan

layanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu, merata, dapat diterima dan terjangkau oleh

masyarakat. Pada kasus tertentu yang membutuhkan layanan tindak lanjut, emergensi/kedaruratan

medik dan atau perawatan, pasien harus dirujuk ke pusat rujukan medis dan keperawatan, untuk

dilakukan stabilisasi kasus dalam persiapan merujuk ke Rumah Sakit yang lebih mampu. Oleh

karena itu layanan tindak lanjut perlu dilaksanakan. Sebagai pengembangan untuk penerapan

layanan, maka diselenggarakan Puskesmas Perawatan atau Puskesmas Rawat Inap (Ranap).

Tanggal 26 Mei 2014, telah diresmikan tiga Puskesmas Rawat Inap yaitu Puskesmas Pasir Mulya,

Puskesmas Tanah Sareal dan Puskesmas Mekarwangi. Ketiga Puskesmas ini menjadi harapan bagi

masyarakat Kota Bogor di wilayahnya dalam memenuhi kebutuhan kesehatan terutama untuk

perawatan. Selanjutnya, ketiga Puskesmas ini juga telah bersinergi dengan Rumah Sakit Umum

Daerah (RSUD) Kota Bogor dalam memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat, sehingga

diharapkan tidak ada lagi masyarakat yang tidak memperoleh pelayanan kesehatan bahkan ditolak

untuk dirawat oleh fasilitas pelayanan kesehatan. Pada tanggal 27 November 2014 diresmikan

puskesmas baru untuk rawat inap yaitu Puskesmas Bogor Utara, sehingga saat ini Kota Bogor telah

memiliki emapat Puskesmas Rawat Inap yang beroperasi dengan baik. Hal ini terbukti dengan

meningkatnya antusias masyarakat di Kota Bogor untuk mendapatkan layanan rawat Inap. Bahkan

Puskesmas Mekarwangi pada bulan Desember 2014 telah mengalami peningkatan pasien menjadi 14

orang pasien perbulan. Dan diikuti oleh ketiga Puskesmas yang lain.

Page 4: KINERJA DINAS KESEHATAN KOTA BOGOR TAHUN 2014 …

4 Program Pelayanan Kesehatan Masyarakat Miskin dan Peningkatan Jaminan Kesehatan Daerah

(Jamkesda) di Kota Bogor

Program pelayanan kesehatan masyarakat miskin dan peningkatan Jamkesda merupakan salah satu

program prioritas Pemerintah Kota Bogor dalam upaya menanggulangi kemiskinan dari sektor

kesehatan dengan sasaran penduduk miskin di Kota Bogor di luar kuota Jamkesmas yang belum

terlindungi oleh jaminan kesehatan. Program Jamkesda merupakan pengembangan dari program

pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin di luar kuota Jamkesmas yang pada awalnya

dilaksanakan bagi penduduk dengan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) yang diterbitkan oleh

Kecamatan.

Dalam upaya untuk mendapatkan data dasar sasaran kepesertaan penerima program Jamkesda,

maka pada tahun 2010 dilaksanakan Pendataan Keluarga Untuk Jaminan Pemeliharaan Kesehatan

Daerah di Kota Bogor yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kota Bogor dan lintas sektor terkait

di wilayah Kelurahan dan Kecamatan. Melalui proses pengolahan data serta pencocokan dan

penelitian data yang dilaksanakan pada tahun 2011 maka dengan SK Walikota Bogor Nomor 440.45

– 179 Tahun 2012 ditetapkan sasaran peserta penerima program Jamkesda di Kota Bogor berjumlah

221.072 jiwa. Dari data dasar kepesertaan tersebut di atas, pada bulan Mei 2013 kartu Jamkesda telah

dicetak dan didistribusikan ke Kecamatan dan Kelurahan untuk selanjutnya didistribusikan pada

166.454 peserta di wilayah Kota Bogor. Untuk mendapatkan data sasaran peserta penerima sasaran

program yang mendekati kebenaran dan tidak terduplikasi dengan jaminan kesehatan lain, maka

pada tahun 2013 dan 2014 dilaksanakan proses updating data yang dilaksanakan oleh Tim Updating

Data Tingkat Kelurahan dan Kecamatan. Sampai dengan saat ini sasaran penerima program

Jamkesda meliputi penerima kartu Jamkesda dan penduduk miskin yang belum terdata dalam data

dasar Jamkesmas maupun Jamkesda masih dapat menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu

dari Kelurahan.

Manfaat yang dapat diterima baik oleh peserta Jamkesda maupun pengguna Surat Keterangan

Tidak Mampu adalah pelayanan kesehatan sesuai dengan indikasi medis untuk memenuhi

kebutuhan dasar kesehatan yang diantaranya meliputi rawat jalan dan rawat inap di fasilitas

pelayanan kesehatan dasar (Puskesmas) dan rawat jalan dan rawat inap kelas III dan ruang khusus

(HCU,ICU,NICU,PICU, dll) di fasilitas kesehatan tingkat lanjut (rumah sakit).

Prosedur pelayanan kesehatan bagi peserta Jamkesda dan SKTM melalui mekanisme pelayanan

kesehatan terstruktur dan berjenjang dengan persyaratan:

Peserta Jamkesda menunjukkan kartu Jamkesda di fasilitas kesehatan tingkat pertama

(Puskesmas)

Page 5: KINERJA DINAS KESEHATAN KOTA BOGOR TAHUN 2014 …

5

Jika dibutuhkan pelayanan spesialistik sesuai dengan indikasi medis, peserta Jamkesda akan

dirujuk ke Rumah Sakit yang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Bogor.

Dalam keadaan darurat, peserta Jamkesda dapat langsung ke Unit Gawat darurat Rumah

Sakit (tanpa rujukan).

Pendanaan pelayanan kesehatan program Jamkesda di Kota Bogor bersumber dari APBD Propinsi

Jawa Barat dan APBD Kota Bogor menunjukkan tren peningkatan biaya pelayanan kesehatan dari

tahun 2010-2013 dan tren penurunan sejak dilaksanakannya program Jaminan Kesehatan Nasional

(JKN) mulai 1 Januari 2014 seperti dapat dilihat pada grafik di bawah dibawah ini:

Peningkatan alokasi anggaran Program Pelayanan Kesehatan Penduduk Miskin dan Peningkatan

Jamkesda berdampak pada meningkatnya akses penduduk miskin pada pelayanan kesehatan seperti

dapat dilihat pada grafik dibawah ini:

-

5,000,000,000

10,000,000,000

15,000,000,000

20,000,000,000

25,000,000,000

2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015

Jum

lah

Bia

ya (

Rp

)

Tahun

Jumlah Biaya Pelayanan Kesehatan bagi Peserta JamkesdaPeriode 2010-2014

APBD I

APBD II

0 0 0

18986

30685

3225 3630

8764

17019

13042

0

5000

10000

15000

20000

25000

30000

35000

2010 2011 2012 2013 2014

Jumlah Kasus dari Peserta Jamkesda di Puskesmas dan Rumah Sakit

Periode 2010/2014

Kasus diPuskesmas

Page 6: KINERJA DINAS KESEHATAN KOTA BOGOR TAHUN 2014 …

6 Dengan dilaksanakannya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mulai 1 Januari 2014 maka program

Jamkesda yang diselenggarakan oleh seluruh pemerintah kabupaten/kota wajib terintegrasi ke

dalam program JKN selambatnya akhir tahun 2016. Sejalan dengan hal tersebut maka Pemerintah

Kota Bogor secara bertahap pada tahun 2014 mulai mendaftarkan dan membayarkan iuran

penduduk miskin/peserta Jamkesda sebanyak 32.431 jiwa ke BPJS Kesehatan dan selanjutnya

sampai dengan tahun 2016 diharapkan seluruh peserta Jamkesda Kota Bogor telah didaftarkan ke

BPJS Kesehatan. Melalui program JKN diharapkan dapat diwujudkan perlindungan kesehatan bagi

seluruh penduduk miskin di Kota Bogor yang pada akhirnya mempunyai daya ungkit terhadap

derajat kesehatan penduduk Kota Bogor.

Kelurahan Siaga sebagai Wadah Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat

Pengembangan Kelurahan Siaga Aktif merupakan program lanjutan dan akselerasi dari program

pengembangan Desa Siaga sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor

1529/Menkes/SK/X/2010. Kelurahan Siaga merupakan upaya yang strategis dalam

rangka percepatan pencapaian tujuan pembangunan milenium (Millenium Development

Goals). Lima dari delapan tujuan tersebut berkaitan langsung dengan kesehatan, yaitu memberantas

kemiskinan dan kelaparan, menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu,

memerangi HIV dan AIDS, penyakit lainnya serta melestarikan lingkungan hidup.

Kelurahan Siaga menjadi salah satu wujud kemandirian dan pemberdayaan masyarakat dalam

bidang kesehatan, dimana individu, keluarga, kelompok dan masyarakat diharapkan peduli,

tanggap, dan mampu mengenali, mencegah serta mengatasi permasalahan kesehatan yang dihadapi

secara mandiri, sehingga derajat kesehatannya meningkat. Pengembangan Kelurahan Siaga

diarahkan pada upaya memfasilitasi proses belajar mengajar masyarakat dalam memecahkan

masalah-masalah kesehatannya.

Pengembangan Kelurahan Siaga pada hakekatnya merupakan bagian dari urusan pemerintah yang

menjadi kewajiban dan kewenangan kota yang diserahkan pengaturannya kepada kelurahan dan

menjadi tanggung jawab Pemerintahan Kelurahan. Oleh karena kelurahan Siaga merupakan upaya

pembangunan kelurahan, maka program ini memerlukan peran aktif dari berbagai pihak mulai dari

pusat, provinsi, kota, kecamatan, sampai kelurahan. Pemerintah memiliki sejumlah tanggung jawab

untuk merencanakan, mengatur, menyelenggarakan, membina/memfasilitasi, serta mengawasi

penyelenggaraan upaya kesehatan yang merata dan terjangkau oleh masyarakat.

Saat ini, 68 Kelurahan di Kota Bogor sudah menjadi Kelurahan Siaga Aktif dan sejak tahun 2009

sampai dengan tahun 2014 telah dikembangkan juga 244 RW Siaga Aktif. Kelurahan/RW Siaga Aktif

yang dikembangkan di Kota Bogor tersebut sudah dapat mengakses pelayanan kesehatan dasar

(Puskesmas/Pustu atau sarana kesehatan lainnya), mampu mengembangkan UKBM (Upaya

Page 7: KINERJA DINAS KESEHATAN KOTA BOGOR TAHUN 2014 …

7 Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat) meliputi pemantauan penyakit, kesehatan ibu dan anak,

gizi, lingkungan dan perilaku), melaksanakan kedaruratan kesehatan, penanggulangan bencana dan

penyehatan lingkungan serta masyarakatnya menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Perkembangan Posyandu di Kota Bogor

Posyandu merupakan jenis UKBM yang paling memasyarakatkan dewasa ini. Posyandu meliputi 5

program prioritas (KB, KIA, Gizi, Imunisasi dan Penanggulangan Diare) yang terbukti mempunyai

daya ungkit besar terhadap penurunan angka kematian ibu dan bayi. Saat ini (tahun 2014) Kota

Bogor memiliki 960 buah Posyandu yang tersebar di 68 Kelurahan dengan tingkat kemandirian

sebagai berikut yaitu pratama (0%), madya (43,96%), purnama (43,54%), mandiri (12,5%).

Adapun jumlah kader aktif yang melaksanakan keposyanduan saat ini berjumlah 5.269 orang,

sehingga rata-rata Posyandu di Kota Bogor memiliki kader aktif sebanyak 5 sampai 6 orang. Jumlah

kader posyandu ini di beberapa Posyandu dengan program pengembangan lebih dari 1 (ada

Posbindu lansia, Kelas Ibu, Kelas Gizi,dll) kemungkinan memiliki kader lebih dari 5 orang.

Berikut ini perkembangan tingkat kemandirian Posyandu di Kota Bogor Tahun 2014 :

Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Kota Bogor

PHBS menjadi salah satu kriteria pentahapan Kelurahan Siaga Aktif. Pemberdayaan masyarakat

untuk ber PHBS harus dimulai dari rumah tangga, karena rumah tangga yang ber PHBS merupakan

aset dan modal pembangunan kesehatan di masa depan yang perlu dijaga, dilindungi dan

ditingkatkan kesehatannya. Beberapa anggota rumah tangga mempunyai masa rawan terkena

penyakit menular dan penyakit tidak menular, oleh karena itu untuk mencegah penyakit tersebut,

anggota rumah tangga perlu diberdayakan untuk melaksanakan PHBS.

PHBS di rumah tangga diarahkan untuk memberdayakan setiap keluarga atau anggota rumah

tangga agar tahu, mau, dan mampu menolong diri sendiri di bidang kesehatan dengan

Page 8: KINERJA DINAS KESEHATAN KOTA BOGOR TAHUN 2014 …

8 mengupayakan lingkungan yang sehat, mencegah dan menanggulangi masalah-masalah kesehatan

yang dihadapi, memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan yang ada, serta berperan aktif

mewujudkan kesehatan masyarakatnya dan mengembangkan upaya kesehatan bersumberdaya

masyarakat. Ada 10 (sepuluh) indikator PHBS rumah tangga yang harus dilaksanakan oleh seluruh

anggota rumah tangga yaitu :

1) Persalinan oleh tenaga kesehatan

2) Bayi diberi ASI Ekslusif

3) Balita ditimbang setiap bulan

4) Menggunakan air bersih

5) Cuci tangan pakai air bersih dan sabun

6) Menggunakan jamban sehat

7) Memberantas jentik nyamuk di rumah

8) Makan sayur dan buah setiap hari

9) Melakukan aktifitas fisik setiap hari

10) Tidak merokok di dalam rumah

Untuk mewujudkan rumah tangga ber PHBS, upaya-upaya yang telah dilakukan diantaranya

penyuluhan kesehatan baik secara langsung ke masyarakat, melalui seminar atau talkshow melalui

media/radio, sosialisasi melalui media (poster, leaflet, stiker,banner,dll), kampanye kesehatan, mobile

wawar, demonstrasi cuci tangan pakai sabun, gerakan serentak PSN dengan 3 M Plus, lomba-lomba

penerapan PHBS di wilayah, dll.

Berdasarkan hasil survei PHBS rumah tangga di Kota Bogor tahun 2014 yang telah dilakukan oleh

kader kesehatan di masing-masing wilayah, diperoleh hasil capaian rumah tangga ber PHBS Kota

Bogor adalah 62,1%. Hasil tersebut masih jauh dari target yaitu 85% rumah tangga ber PHBS tahun

2014. Perlu dilakukan berbagai terobosan dan inovasi dengan bersumberdaya masyarakat, swasta

serta didukung oleh Pemerintah untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat

dalam ber PHBS.

Berikut ini capaian Rumah Tangga ber PHBS dan capaian indikator PHBS Tingkat Kota Bogor Tahun

2014 :

Page 9: KINERJA DINAS KESEHATAN KOTA BOGOR TAHUN 2014 …

9

Dokumentasi Kegiatan Penerapan PHBS

Upaya Mewujudkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Kota Bogor

Kebiasaan merokok sudah meluas di hampir semua kelompok masyarakat di Indonesia dan di Kota

Bogor khususnya serta cenderung meningkat, terutama di kalangan anak dan remaja sebagai akibat

gencarnya promosi rokok di berbagai media massa. Hal ini memberi makna bahwa masalah

merokok telah menjadi semakin serius, mengingat merokok beresiko menimbulkan berbagai

penyakit atau gangguan kesehatan yang dapat terjadi baik pada perokok itu sendiri maupun orang

lain di sekitarnya yang tidak merokok (perokok pasif) terutama bagi bayi dan anak-anak yang

memiliki kerentanan tinggi apabila tidak memperoleh perlindungan yang memadai. Oleh karena itu,

perlu dilakukan langkah-langkah pengamanan rokok bagi kesehatan dan juga membatasi ruang

gerak para perokok, diantaranya melalui penetapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR).

Hak untuk menghirup udara bersih tanpa paparan asap rokok telah menjadi perhatian dunia. WHO

memprediksi penyakit yang berkaitan dengan rokok akan menjadi masalah kesehatan dunia. Dari

tiap 10 orang dewasa yang meninggal, 1 diantaranya meninggal disebabkan asap rokok. Dari data

terakhir WHO di tahun 2004 ditemui sudah mencapai 5 juta kasus kematian setiap tahunnya serta

70% terjadi di negara berkembang, termasuk didalamnya di Asia dan Indonesia. Di tahun 2025 nanti,

jumlah perokok dunia 650 juta makan akan ada 10 juta kematian per tahun.

Page 10: KINERJA DINAS KESEHATAN KOTA BOGOR TAHUN 2014 …

10 Rendahnya kesadaran masyarakat tentang bahaya merokok menjadi salah satu alasan sulitnya

penetapan KTR, yang ditunjukkan dengan mulai merokok pada kelompok 5-9 tahun. Konsumsi

rokok paling tinggi terjadi pada kelompok umur 15-24 tahun dan konsumsi terendah kelompok

umur 75 tahun ke atas. Hal ini berarti kebanyakan perokok adalah generasi muda atau usia

produktif.

Masalah merokok sampai saat ini masih menjadi masalah nasional yang perlu secara terus-menerus

diupayakan penanggulangan, karena menyangkut berbagai aspek permasalahan dalam kehidupan,

yaitu aspek ekonomi, sosial, politik, utamanya aspek kesehatan. Diperkirakan lebih dari 40,3 juta

anak tinggal bersama dengan perokok dan terpapar asap rokok di lingkungannya. Sedangkan kita

tahu bahwa anak yang terpapar asap rokok dapat mengalami peningkatan resiko terkena bronkitis,

pneumonia, infeksi telingan tengah, asma serta kelambatan pertumbuhan paru-paru. Kerusakan

kesehatan dini ini dapat menyebabkan kesehatan yang buruk pada masa dewasa. Orang dewasa

bukan perokok pun yang terus-menerus terpapar juga akan mengalami peningkatan resiko kanker

paru dan jenis kanker lainnya.

Penetapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) merupakan salah satu upaya Pemerintah dalam rangka

pengamanan terhadap bahaya rokok, membatasi ruang gerak para perokok, serta melindungi

perokok pasif. Hal tersebut seperti tertuang dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2009 tentang

Kesehatan Pasal 115 ayat (1) dan Pasal 115 ayat (2) dimana Pemerintah Daerah wajib menetapkan

dan menerapkan KTR di wilayahnya. Kawasan Tanpa Rokok adalah tempat atau ruangan yang

dinyatakan dilarang untuk merokok, memproduksi, menjual, mengiklankan, dan/atau

mempromosikan rokok.

Sejak tahun 2009 Kota Bogor telah mempunyai Peraturan Daerah No 12 Tahun 2009 tentang KTR

(Kawasan Tanpa Rokok) serta Peraturan Walikota Bogor No. 7 tahun 2010 tentang Petunjuk

Pelaksanaan Peraturan Daerah (Perda) tentang KTR. Ada 8 (delapan) kawasan yang ditetapkan

sebagai KTR sesuai Peraturan Daerah tersebut, yaitu : tempat umum, tempat kerja, tempat ibadah,

tempat bermain anak dan/atau berkumpulnya anak-anak, kendaraan angkutan umum, lingkungan

tempat proses belajar mengajar, sarana kesehatan, dan sarana olah raga.

Penerapan dan Penegakan Perda Nomor 12 tahun 2009 telah dimulai sejak bulan Mei 2010 yaitu 1

(satu) tahun setelah sosialisasi Perda KTR kepada masyarakat Kota Bogor, melalui kegiatan

kampanye anti rokok, aksi simpatik, sidak KTR, tindak pidana ringan (tipiring), penguatan peran

masyarakat, pembentukan komunitas warga tanpa rokok, monitoring dan evaluasi ke 8 (delapan)

kawasan tanpa rokok, konseling berhenti merokok di 24 Puskesmas di Kota Bogor, dll.

Pada setiap fase pengembangan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok tidak jarang ditemui hambatan

yang perlu diatasi, mulai dari ketiadaan teladan dari aparat pemerintah, ketidaktahuan masyarakat

akan bahaya asap rokok orang lain sampai adanya mitos keliru yang ditiupkan oleh pihak pihak

yang tidak setuju dengan kawasan tanpa rokok. Berbagai mitos antara lain adalah: hak azasi perokok

Page 11: KINERJA DINAS KESEHATAN KOTA BOGOR TAHUN 2014 …

11 yang mensyaratkan pembuatan ruang merokok di dalam gedung kawasan tanpa rokok, pemasangan

ventilasi dan filtrasi udara yang dianggap efektif menghilangkan racun asap rokok orang lain dan

kekhawatiran akan kerugian sektor bisnis karena menurunnya pelanggan akibat kawasan tanpa

rokok.

Pemerintah merupakan faktor penentu dalam keberhasilan dan kepatuhan pelaksanaan

kawasan tanpa rokok. Tanpa adanya contoh dan keteladanan dari aparat pemerintah, masyarakat

akan cenderung tidak peduli. Sebagai teladan bagi masyarakat, aparat pemerintah perlu memahami

dengan benar bahaya asap rokok orang lain dan manfaat peraturan kawasan tanpa rokok yang

memberikan perlindungan 100% serta pengertian atas hak untuk hidup sehat. Pada gilirannya,

udara yang 100% bebas dari asap rokok orang lain di tempat-tempat umum tertutup, tempat kerja

dan kendaraan umum, dll. akan menjadi norma baru yang sehat dan lebih bermartabat. Kawasan

Tanpa Rokok tidak melarang pimpinan/karyawan/pengunjung/tamu untuk merokok tetapi

mengatur etika merokok, merokok pada tempat yang telah ditentukan, melindungi perokok pasif,

menciptakan lingkungan kerja yang bersih, sehat dan nyaman serta mencegah perokok pemula.

Hasil monitoring KTR yang telah dilakukan oleh Tim Pembina KTR Kota secara rutin 2 kali/tahun

ke 8 (delapan) kawasan menunjukkan tingkat kepatuhan sebesar 85,9%, ada peningkatan 9,4%

dibandingkan hasil monitoring bulan Desember 2013 (76,5%). Beberapa kawasan menunjukkan

peningkatan kepatuhan yaitu tempat proses belajar mengajar, tempat bermain anak, tempat ibadah,

paasar modern, tempat pelayanan kesehatan, rumah makan, hotel,tempat kerja, dan tempat olah

raga. Sedangkan kawasan yang mengalami penurunan diantaranya yaitu pasar tradisional

(69,2%/2013 menjadi 54,5%/2014), tempat hiburan (50%/2013 menjadi 24,1%/2014) dan beberapa

kawasan lainnya seperti tempat wisata dan terminal mengalami penurunan kepatuhan.

Tindak pidana ringan (tipiring), monitoring dan sidak KTR yang telah dilakukan pada rentang Mei

2010 s.d. Desember 2014 membuktikan bahwa penerapan Kawasan Tanpa Rokok di Kota Bogor

masih belum optimal terlihat dengan masih ditemukannya pelanggar KTR di 8 Tatanan, seperti

ditemukan orang merokok di KTR, tidak ada tanda KTR, penyediaan tempat merokok yang belum

sesuai Peraturan Walikota, ada penjualan dan promosi rokok di area KTR, belum berjalannya tim

pengawas internal di masing-masing kawasan serta serta belum berjalannya sistem pelaporan

berjenjang dari 8 Kawasan ke Tingkat Kota.

Upaya untuk mewujudkan KTR di Kota Bogor merupakan tanggung jawab seluruh komponen, baik

individu, kelompok, masyarakat maupun pemerintah. Komitmen bersama sangat dibutuhkan dalam

keberhasilan penerapan KTR. Oleh sebab itu, pengembangan KTR perlu diwujudkan bersama.

Selain itu hal yang lebih penting lagi adalah bahwa upaya-upaya yang kita lakukan pada hakekatnya

adalah untuk menyelematkan generasi muda sebagai penerus bangsa. Mari kita lindungi anak-anak

kita dari bahaya asap rokok. Jauhkan mereka dari iklan-iklan dan promosi rokok dan jadilah kita

sebagai orangtua yang meneladani mereka untuk hidup sehat tanpa rokok.

Page 12: KINERJA DINAS KESEHATAN KOTA BOGOR TAHUN 2014 …

12 Dokumentasi Kegiatan Penerapan KTR

Pembinaan Kesehatan Keluarga di Kota Bogor

Dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Kota Bogor , kesehatan dan keselamatan

ibu melahirkan menjadi salah satu tolak ukur penting. Kota Bogor telah berhasil menurunkan jumlah

kematian ibu dalam proses yang berhubungan dengan persalinannya. Tahun 2014 Kota Bogor telah

dapat menurunkan jumlah kematian ibu lebih dari 50% nya. Saat ini tercatat 6 orang ibu meninggal.

Angka ini hanya ditunjukkan oleh 4 kota saja di Jawa Barat, sehingga termasuk kota dengan angka

kematian ibu terendah. Capaian ini merupakan hasil upaya pemantauan kehamilan ibu sebanyak

lebih dari 90 % dari total ibu hamil se Kota Bogor ( 21467 ibu hamil). Melalui pemantauan kesehatan

yang dilakukan oleh tenaga-tenaga profesional baik dari sarana kesehatan pemerintah (RSUD dan

Puskesmas) maupun dari sarana kesehatan swasta (RS swasta, Rumah bersalin, Bidan praktek

mandiri).

Pelayanan kesehatan ibu dan anak oleh tenaga kesehatan disertai pula dengan upaya peningkatan

peran serta masyarakat antara lain dengan pemanfaatan buku Kesehatan Ibu dan Anak (buku KIA

pink), program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi dengan stiker P4K, kelas ibu

hamil serta kemitraan antara paraji dan bidan. Upaya pemantauan kesehatan pada ibu hamil ini juga

dapat memberikan hasil menurunnya kematian bayi sebesar 15%. Sehingga pada tahun ini tercatat

jumlah kematian bayi hanya 43 bayi. Upaya-upaya pelayanan persalinan yang aman secara

signifikan dapat menurunkan jumlah kematian ibu dan bayi.

Kemudian perlindungan kesehatan pada bayi dan balita dilakukan melalui pemberian imunisasi,

Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan pemberian ASI ekslusif. Penanganan masalah gizi juga dapat

menurunkan kasus-kasus gizi balita seperti gizi buruk/gizi kurang kira-kira 20% nya dari kasus

tahun sebelumnya, dimana penyebabnya sebagian karena cacat/penyakit turunan (seperti jantung

Page 13: KINERJA DINAS KESEHATAN KOTA BOGOR TAHUN 2014 …

13 dan cerebal palsy) juga diakibatkan masih kurangnya pemahaman ibu balita dalam menerapkan

pola asuh dan pola makan balitanya.

Selanjutnya upaya lain dalam meningkatkan kualitas ibu hamil adalah pemberian pendidikan

kesehatan pada remaja khususnya remaja putri tentang kesehatan reproduksi , penanggulan anemia

dan pergaulan sehat. Sehingga pada akhirnya akan meningkatkan kesehatan remaja yang tentunya

akan berpengaruh pada status kesehatan pada saat menjadi ibu hamil dan melahirkan.

Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular di Kota Bogor

Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular yang telah dilakukan adalah sebagai

berikut :

1. Kegiatan Imunisasi

Kegiatan ini bertujuan untuk mencegah penyakit PD3I yang dilakukan melalui beberapa kegiatan

yaitu pemberian imunisasi Hepatitis B, BCG, DPT, Polio, dan Campak pada 19.679 bayi, pertemuan

linsek BIAS (Bulan Imunisasi Anak sekolah) di 6 kecamatan, evaluasi manajemen program bagi 48

orang petugas puskesmas, dan konsolidasi pelayanan imunisasi dengan 25 Rumah Sakit dan Rumah

Bersalin

Hasil pencapaian kegiatan sebagai berikut :

No Uraian

Tahun

2012 2013 2014 (s/d Nov)

1. Imunisasi BCG 103,5% 98,4% 91,9%

2. Imunisasi DPT-HB3 100,5% 94,9% 89,9%

3. Imunisasi Polio-4 99,5% 94,2% 89,3%

4. Imunisasi Campak 99,3% 95% 88,8%

5. Desa/Kelurahan UCI 100% 100% 95,5%

Meskipun pencapaian cakupan imunisasi tahun 2014 lebih rendah dibanding tahun 2013, akan tetapi

cakupan pada masing-masing antigen yaitu BCG, DPT-3, Polio-4 dan campak pada bayi tetap lebih

tinggi dari target yang sudah ditetapkan (target UCI per antigen =80%), dan target kelurahan UCI

tingkat kota juga sudah melebihi target yang diharapkan yaitu 95,5% (target UCI tingkat Kota =95%).

Dalam pelaksanaan di lapangan, kadang masih terdapat hambatan yang ditemui yaitu masih ada ibu

atau masyarakat yang belum melakukan imunisasi atau melakukan imunisasi tetapi tidak rutin

terutama di Kecamatan Bogor Selatan dan Kecamatan Bogor Utara disebabkan secara geografis sulit

dijangkau serta masih adanya kelompok masyarakat yang menolak imunisasi karena masih

menganggap imunisasi tidak sesuai dengan budaya setempat. Sehingga perlu dilakukan upaya

peningkatan pelayanan imunisasi dengan penyuluhan tentang pelayanan imunisasi pada bayi dan

balita didaerah sulit terjangkau melalui pendekatan dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat,

Page 14: KINERJA DINAS KESEHATAN KOTA BOGOR TAHUN 2014 …

14 pelayanan puskesmas keliling atau mengunjungi rumah sasaran (sweeping) serta peningkatan peran

serta masyarakat.

2. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit DBD

Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD di Kota

Bogor dilakukan melalui beberapa kegiatan yaitu Pencanangan Gertak PSN oleh Walikota Bogor

diikuti dengan kegiatan gerakan serentak di seluruh wilayah Kota Bogor dengan melibatkan 1000

orang kader PSN, pelatihan bagi 64 orang kader Jumantik DBD di RW endemis DBD, pemberian

honorarium untuk kader jumantik di 159 RW endemis DBD, sosialisasi penggerakan PSN dan

larvasida bagi 90 Instansi dan TTU (Tempat-Tempat Umum), sosialisasi penggunaan ovitrap,

penyediaan 360 alat test diagnosis cepat DBD, penyediaan 2893 alat perangkap nyamuk (ovitrap),

penyediaan sarana PSN (insektisida dan larvasida), penyediaan 5.000 leaflet DBD dan 10.000 stiker,

pemantauan ovitrap di rumah endemis DBD, fogging focus pada 300 fokus dan foging sebelum masa

penularan di daerah dengan kasus tinggi dan sering berulang.

Hasil pencapaian kegiatan sebagai berikut :

No Uraian Tahun

2012 2013 2014

1. Jumlah kasus 1011 752 669

2. Jumlah yang meninggal 2 8 8

3. Persenatse kasus yang ditangani 100% 100% 100%

4. Persentase kematian akibat DBD 0,0019 0,010 0,010

5. Angka Bebas Jentik 93,61% 93,56%

Kasus DBD pada tahun 2014 sebanyak 669 orang dan semua penderita telah ditangani (100%) yaitu

melalui penyelidikan epidemiologi, penyuluhan, pemberian larvasida, PSN dan fogging focus

kepada penderita dengan daerah yang memenuhi kriteria hasil penyelidikan epidemiologi serta

pengobatan dan perawatan oleh rumah sakit.

Kasus DBD pada tahun 2014 mencapai 669 orang dengan kematian 0,010 (Case Fatality Rate=CFR).

Apabila dibandingkan dengan tahun 2013 terdapat penurunan kasus akan tetapi kasus kematian

(CFR) sama.

Hambatan yang ditemui yaitu kondisi lingkungan dengan perilaku masyarakat untuk hidup

bersih dan sehat masih rendah dalam PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) dan masih adanya

persepsi yang salah bahwa fogging adalah pencegahan utama DBD, belum maksimalnya Pokja dan

Pokjanal DBD di Kelurahan dan kecamatan dalam menggerakan PSN di masyarakat. Sehingga perlu

terus dilakukan upaya peningkatan mendorong masyarakat dan lembaga yang sudah dibentuk dan

dilatih di (Pokja, Pokjanal, anggota gerakan pramuka dan sekolah) untuk melakukan kegiatan

penyuluhan, pemberian larvasida dan PSN terutama di RW-RW dengan kasus tinggi dan sering

Page 15: KINERJA DINAS KESEHATAN KOTA BOGOR TAHUN 2014 …

15 berulang, peningkatan tatalaksana kasus, pemantauan penggunaan ovitrap untuk menangkap dan

mengendalikan nyamuk.

3. Pemberantasan Penyakit TB Paru

Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan pencegahan dan pemberantasan penyakit TB Paru

dilakukan melalui beberapa kegiatan yaitu peningkatan pengelolaan program TB Paru di 24

puskesmas dalam bentuk monitoring dan evaluasi pada kepala puskesmas, petugas pengelola

program TB paru dan petugas laboratorium, sosialisasi program TB komprehensif bagi dokter BPS

dan RS, pelacakan pada 48 penderita TB mangkir, pemberian insentif pencegahan infeksi dan

pengobatan TB Paru di Puskesmas bagi 51 dokter dan 51 petugas pengelola petugas TB Paru ,

pelaksanaan OJT (On the Job Training) bagi petugas puskesmas dalam penatalaksanaan penderita TB

MDR ( Multi Drug Resisten/ Resisten beberapa obat TB paru), pengiriman spesimen dan sampel

follow up TB MDR, serta pengobatan bagi penderita Resisten Obat TB Paru (TB MDR) di puskesmas.

Hambatan yang ditemui yaitu masih ada penderita yang tidak patuh dalam minum obat dan

kemungkinan adanya resistensi obat pada penderita yang patuh minum obat, penderita ada yang

drop out karena tidak patuh minum obat, pindah belum semua PMO mendapat pelatihan, belum

semua rumah sakit dan dokter praktek swasta melaksanakan pengobatan TB paru dengan

pendekatan sistem DOTS. Sehingga perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan pengawasan untuk

patuh minum obat untuk menekan penderita dengan Multi Drug Resisten (MDR).

Upaya penemuan terhadap kasus TB MDR pun terus dilakukan. Tahun 2014 ini di Kota Bogor

terdapat kasus TB MDR sebanyak 17 orang dan semuanya sedang dalam pengobatan di Puskesmas.

Jumlah penderita TB MDR di Kota Bogor yg ditemukan meningkat dibanding tahun 2013 yang

hanya 5 orang. Petugas puskesmas yang menangani pasien TB MDR melaksanakan OJT (On The Job

Training) di RS Persahabatan Jakarta dan terus berkoordinasi dengan RS Persahabatan Jakarta dalam

upaya pengobatan pasien TB MDR.

4. Surveilans

Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan pengamatan terhadap penyakit dan faktor risikonya

agar tidak terjadi kejadian luar biasa atau wabah dilakukan melalui beberapa kegiatan yaitu

peningkatan pengelolaan surveilans oleh petugas di 24 puskesmas dan 9 rumah sakit dalam bentuk

pengamatan 12 penyakit berpotensi wabah dan penyakit terpadu puskesmas melalui manual dan

online, pelatihan surveilans on line dan EWARS (Early Warning Alert Response System) bagi 24 petugas

Puskesmas dan 9 RS, pelatihan pelacakan/ kejadian luar biasa dan keracunan makanan bagi 24

petugas puskesmas, peningkatan surveilan AFP (Acute Flacid Paralysis) bagi 2 Rumah Sakit yaitu RS

Karya Bhakti dan RS PMI Bogor, pengamatan penyakit pada jemaah haji pada saat pengantaran dan

penjemputan ke Embarkasi sampai dengan 14 hari pasca kepulangan dari Arab Saudi dengan

Page 16: KINERJA DINAS KESEHATAN KOTA BOGOR TAHUN 2014 …

16 pengumpulan K3JH, penyelidikan epidemiologi/pelacakan 3 kasus AFP dan 40 suspek campak,

serta intervensi kegiatan atau investigasi pada penyakit yang mengalami peningkatan kasus atau

wabah.

Hasil pencapaian kegiatan Tahun 2014 sebagai berikut :

1. Pelaporan penyakit berpotensi wabah oleh petugas Surveilan Puskesmas dan Rumah Sakit tahun 2014

No Uraian 2013 s/d Nop 2014

Kelengkapan Ketepatan Kelengkapan Ketepatan

1. Puskesmas 99,2% 91,7% 96% 98%

2. Rumah Sakit 88,9% 87% 75% 85%

2. Cakupan AFP dan KLB tahun 2014

Pencapaian kelengkapan dan ketepatan laporan penyakit berpotensi wabah dari puskesmas dan

rumah sakit sudah mencapai target yaitu kelengkapan laporan puskesmas 96% (target 80%),

ketepatan laporan puskesmas 98% (target 80%) dan ketepatan laporan rumah sakit 85% (target 80%),

akan tetapi kelengkapan laporan rumah sakit belum mencapai target yaitu 75% (target 80%).

Dibandingkan dengan pencapaian tahun yang lalu, kelengkapan dan ketepatan laporan puskesmas

dan rumah sakit mengalami peningkatan. Untuk pencapaian penemuan AFP sudah mencapai target

166,7% (target 100%). Pada tahun 2014 di Kota Bogor tidak terjadi kejadian luar biasa atau wabah.

Selain itu dari hasil pengamatan penyakit berpotensi wabah dan kondisi saat ini tetap perlu

diwaspadai adanya peningkatan penyakit berpotensi wabah seperti DBD,ISPA, Diare.

5. Pencegahan dan Pengendalian Penyakit HIV/AIDS

Kegiatan ini bertujuan untuk mencegah dan mengendalikan penularan HIV/AIDS di Kota Bogor

dilakukan melalui beberapa kegiatan yaitu pemeriksaan klien (Jan s/d Okt 2014) sebanyak 17.873

orang di klinik VCT (Volunteery Conseling Test) di 26 lokasi (RS Marzuki Mahdi, LAPAS Paledang

dan 24 Puskesmas di Kota Bogor) dan mobile VCT, pemeriksaan CD4 ke laboratorium kepada 180

orang yang sudah terinfeksi HIV untuk mendapatkan akses pengobatan ARV (Anti Retroviral Virus),

Kegiatan lainnya adalah layanan metadon di Puskesmas Therapy Rumatan Methadon (PTRM),

layanan Preventif Mother To Child Treatment (PMTCT) dan Care Suport Treatment (CST) di Rumah Sakit

Marzoeki Mahdi.

No Uraian Tahun

2012 2013 2014

1. Acute Flacid Paralysis (AFP) rate per 100.000 penduduk <15 tahun

125% 166,7% 166,7%

2. Cakupan desa/kelurahan mengalami KLB yang dilakukan penyelidikan epidemiologi <24 Jam

100% 100% 0%

Page 17: KINERJA DINAS KESEHATAN KOTA BOGOR TAHUN 2014 …

17 Untuk meningkatkan pengetahuan dan mencegah terjadinya penularan HIV/AIDS di masyarakat

dilakukan kegiatan penyuluhan komprehensif terutama pada kelompok usia 15-24 tahun yaitu pada

500 mahasiswa di 5 Perguruan Tinggi di Kota Bogor, dan Pelatihan HIV AIDS bagi 129 orang guru

sekolah lanjutan Kota Bogor.

Hasil pencapaian kegiatan sebagai berikut :

Beberapa kendala yang ditemui dalam pencapaian tersebut sebagai berikut :

- Penemuan kasus masih sulit dikarenakan faktor sosial budaya dan stigma dari masyarakat. - Kemauan kelompok risiko untuk memeriksakan HIV ke sarana kesehatan masih kurang. - Sulit untuk menjangkau sasaran pada populasi kunci - Kemauan wanita penjaja seks (WPS) untuk menggunakan kondom kurang karena kondom

tidak nyaman, kualitas kondom tidak baik - Pasien belum siap untuk minum obat Anti Retro Viral (ARV) karena disesuaikan dengan

kriteria. Sehingga perlu dilakukan upaya kegiatan peningkatan pelayanan kepada orang yang terinfeksi

HIV, meningkatkan pengetahuan dan sosialisasi bagi masyarakat kelompok risiko tinggi usia 15-24

tahun dan meningkatkan pengetahuan guru sekolah lanjutan tentang HIV/AIDS.

6. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit ISPA

Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan pencegahan dan pemberantasan penyakit ISPA terutama

pneumonia pada balita dilakukan melalui penemuan 8.458 kasus pneumonia balita, pelatihan

penemuan ISPA dan Diare bagi 200 orang kader posyandu, dan peningkatan kualitas petugas dalam

bentuk bimbingan teknis dan evaluasi pengelolaan kegiatan serta tatalaksana kasus kepada 24

pengelola program, perawat dan kepala puskesmas.

No

Uraian Tahun

2012 2013 2014

1. Prevalensi HIV/AIDS (persen) dari total populasi 0,1% 0,2% 0,2%

2. Prevalensi HIV/AIDS (persen) dari total populasi usia 15-49 tahun

0,5% 0,19% 0,19%

3. Penggunaan kondom pada hubungan seks berisiko tinggi

40,6% 22%

4. Persentasi populasi laki-laki usia 15-24 tahun yang memiliki pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS

18% 68,4% 5. Persentase populasi perempuan usia 15-24 tahun

yang memiliki pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS

6. Proporsi jumlah penduduk usia 15-24 tahun yang memiliki pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS :

Menikah

Tidak menikah

- - -

7. Proporsi penduduk terinfeksi HIV lanjut yang memiliki akses pada obat-obatan anti retroviral

56% 45,4%

Page 18: KINERJA DINAS KESEHATAN KOTA BOGOR TAHUN 2014 …

18 Hasil pencapaian kegiatan sebagai berikut :

Hambatan yang ditemui yaitu kepatuhan dalam penerapan manajemen terpadu balita sakit.

Sehingga perlu terus dilakukan upaya konsolidasi atau pertemuan bagi pengelola progam P2 ISPA

puskesmas, peningkatan pengetahuan kader posyandu tentang pneumonia, dan penyediaan sarana

penunjang yaitu ARI Timer dan sarana penyuluhan tentang ISPA/Pneumonia.

7. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Diare

Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan pencegahan dan pemberantasan penyakit diare

terutama pada balita dilakukan melalui penemuan 21.991 kasus pada semua golongan umur,

peningkatan kualitas petugas dalam bentuk bimbingan teknis dan evaluasi pengelolaan kegiatan

dan tatalaksana kasus kepada 24 pengelola program, perawat dan kepala puskesmas. Hasil

pencapaian kegiatan sebagai berikut :

Hambatan yang ditemui yaitu kepatuhan dalam penerapan manajemen terpadu balita sakit.

Sehingga perlu terus dilakukan upaya kegiatan evaluasi program bagi pengelola program P2 Diare ,

peningkatan pengetahuan kader posyandu tentang penemuan dan tatalaksana diare, dan

penyediaan sarana penyuluhan tentang diare.

8. Eliminasi Filariasis

Kegiatan ini pertama kali dilaksanakan pada tahun 2006 bertujuan untuk mengurangi atau eliminasi

penyakit filariasis (kaki gajah) di Kota Bogor yang dilakukan selama 5 tahun dari tahun 2007-2011.

Pada tahun 2011 merupakan tahun terakhir kegiatan pemberian obat masal pencegahan filariasis.

yang selanjutnya akan dilakukan surveilans survei untuk mendapatkan sertifikasi dari WHO bebas

Filariasis. Bentuk kegiatan ini diawali dengan survey darah jari kemudian dilanjutkan Transmission

Assesment Survei (TAS) pada anak sekolah kelas I-II SD/MI yang dilaksanakan dalam jangka waktu 2

tahun sekali dalam kurun waktu 6 tahun (2012-2016). Pada tahun 2012 telah dilakukan survey darah

jari di 4 kelurahan yaitu Kelurahan Empang, Kelurahan Baranangsiang, Kelurahan Tanah Baru, dan

No Uraian Tahun

2012 2013 s/d nov 2014

1. Persentase penemuan pneumonia balita

80,4% 78,6% 6381 (

75,44%)

2. Persentase penanganan kasus ISPA

balita

100% 100% 6381 (100%)

No Uraian Tahun

2012 2013 2014

1. Persentase penemuan penderita diare 92,8% 96,7% 25.062 (113,9%)

2. Persentase penanganan kasus diare balita

100%. 100% 25.062 (100%)

Page 19: KINERJA DINAS KESEHATAN KOTA BOGOR TAHUN 2014 …

19 Kelurahan Sukadamai dengan jumlah sampel sebanyak 2.039 sampel, dan Transmission Assesment

Survei (TAS ) pada anak sekolah dasar kelas I sampai dengan kelas II di 40 sekolah terpilih dengan

hasil kegiatan sebagai berikut :

Dari hasil pemeriksaan mikroskopis sediaan SDJ di 24 Puskesmas sebanyak 2039 sampel diketahui hasil negatif ini berarti angka prevalensi MF Rate sebesar 0 % atau ≤ 1 %.

Untuk memastikan hasil pemeriksaan mikroskopis dilakukan cross check terhadap 10 % sediaan negatif atau sebanyak 204 sampel ke Balai Pengembangan Laboratorium Kesehatan Bandung. Hasil pemeriksaan cross check di BPLK menunjukkan hasil negatif (MF rate 0%).

Berdasarkan hasil pemeriksaan mikroskopis pertama di puskesmas dan cross check di BPLK Bandung diketahui semua sediaan negatif selanjutnya dilakukan Transmission Assesment Survei (TAS) di 40 SD/MI terpilih dengan jumlah sampel sebanyak 1684 sampel.

Dari hasil TAS dengan pemeriksaan menggunakan Rapid Diagnostic Test (RDT) diketahui dari 1684 sampel semua sampel hasilnya negatif.

Pada tahun 2014 ini telah dilaksanakan sosialisasi TAS filariasis tahap II kepada 55 orang lintas

program dan lintas sektor, dan refrehing TAS Filariassis tahap II bagi 72 orang petugas puskesmas,

dilanjutkan dengan dilaksanakannya Transmission Assesment Survei (TAS) yang kedua kali pada 1684

orang anak dari 40 sekolah kelas I-II SD/MI terpilih di Kota Bogor. Dari hasil TAS kedua ini dengan

pemeriksaan menggunakan Rapid Diagnostic Test (RDT) juga diketahui dari 1684 sampel semua

sampel hasilnya negatif.

9. Pencegahan dan Pemberantaan Penyakit Kusta

Kegiatan pencegahan dan penularan penyakit kusta tahun 2014 dilakukan dalam kegiatan survei

kusta pada anak sekolah dan pemeriksaan pada 24 orang kontak serumah penderita kusta.

Adapun penemuan penderita baru pada tahun 2014 ini adalah sebanyak 13 orang yang terdiri dari

12 orang dewasa dengan type MB, 1 orang dewasa dengan type PB, dengan 3 orang diantaranya

sudah cacat tingkat II. Semua penderita tersebut sudah diobati (100%).

Dalam kegiatan survei kusta pada anak sekolah yang dilaksanakan di 48 Sekolah Dasar di Kota

Bogor, telah diperiksa sekitar 4080 orang siswa dari kelas 1 dan 2 ternyata tidak ditemukan adanya

penderita kusta, begitu pula pada survey anak sekolah di tahun-tahun sebelumnya.

Hal ini menunjukan bahwa penularan kusta di Kota Bogor masih bisa dikendalikan dengan baik,

sehingga upaya–upaya penanganan selanjutnya difokuskan pada pengobatan terhadap penderita

dan penjaringan terhadap kontak serumah ataupun kontak satu sekolah dengan penderita. Selain itu

perlu ditingkatkannya upaya penemuan dini penderita sehingga kasus kecacatan pada kusta dapat

diturunkan.

Page 20: KINERJA DINAS KESEHATAN KOTA BOGOR TAHUN 2014 …

20 Peningkatan Kualitas Lingkungan melalui STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) Kota Bogor sejak dulu terkenal dengan kota sejuk dan nyaman. Bagaimana kondisi sekarang?

Beberapa program yang terkait dengan peningkatan kesehatan lingkungan telah dilaksanakan oleh

berbagai dinas dan instansi salah satunya pembuatan Biopori yang telah dicanangkan oleh bapak

Walikota Bogor.

Dinas Kesehatan didalamnya ada seksi kesehatan lingkungan yang melaksanakan beberapa

program peningkatan kesehatan Lingkungan salah satunya adalah STBM. Kegiatan STBM ini

bermitra dengan IUWASH.

STBM adalah suatu pendekatan partisipatif yang mengajak masyarakat untuk menganalisa kondisi

sanitasi mereka melalui suatu proses pemicuan, sehingga masyarakat dapat berpikir dan mengambil

tindakan untuk meninggalkan kebiasaan buang air besar mereka yang masih di tempat terbuka dan

sembarang tempat. Pendekatan yang dilakukan dalam STBM menyerang/menimbulkan rasa ngeri

dan malu pada masyarakat tentang kondisi lingkungannya. Melalui pendekatan ini kesadaran akan

kondisi yang sangat tidak bersih dan tidak nyaman ditimbulkan. Dari pendekatan ini juga

ditimbulkan kesadaran bahwa sanitasi (kebisaan BAB di sembarang tempat) adalah masalah

bersama karena dapat berimplikasi kepada semua masyarakat sehingga pemecahannya juga harus

dilakukan dan dipecahkan secara bersama.

Prinsip pendekatan STBM adalah non subsidi. Masyarakat akan di“bangkitkan” kesadarannya

bahwa masalah sanitasi adalah masalah masyarakat sendiri dan bukan masalah pihak lain. Dengan

demikian yang harus memecahkan permasalahan sanitasi adalah masyarakat sendiri. Diharapkan

dengan bermula dari STBM, kemudian dilanjutkan dengan program kesehatan lainnya seperti

program kampanye cuci tangan, dan program kesehatan lainnya, peningkatan kesehatan masyarakat

melalui perilaku hidup bersih dan sehat dapat terwujud. Dukungan subsidi sanitasi mendorong

ketergantungan masyarakat, sehingga keberlanjutan melemah program yang dirancang sendiri oleh

masyarakat, akan meningkatkan rasa percaya diri dan tanggung jawab dari masyarakat.

Bagaimana kondisi kesehatan lingkungan di Kota Bogor? Hasil pemeriksaan kualitas air non

perpipaan, secara fisika dan kimia air di Kota Bogor baik masih sesuai dengan peraturan permenkes

no 416/menkes/per/ix/1990 tentang persyaratan air bersih> Hasil pemeriksaan Mikrobiologi 32.3 %

tercemar. Artinya dari 3 sumur 1sumur sudah tercemar. Pencemaran ini terjadi karena septiktank

yang belum memenuhi syarat kesehatan, dekat dengan sungai yang tercemar karena masyarakat

membuang tinja dari jamban ke sungai. Masyarakat yang memiliki jamban dengan septiktang

mencapai 73.4 %. Angka ini didapat dari hasil survey sanitarian. Belum divalidasi kembali dengan

periode penyedotan. Idealnya septiktang yang baik 3-5 tahun sudah penuh dan harus disedot.

Sisanya 26,6 % masih memiliki jamban cubluk dan sebagian tidak memiliki septiktang langsung

dibuang kesungai.

Page 21: KINERJA DINAS KESEHATAN KOTA BOGOR TAHUN 2014 …

21 Kondisi ini harus dirubah, model pendekatan yang dipakai adalah STBM. STBM dimulai

pada tahun 2012 dengan lokasi 5 kelurahan. Tahun 2013 pada 5 kelurahan dan tahun 2014 pada 20

kelurahan. Kelurahan yang sudah melaksanaan STBM telah memiliki fasilitator yang berasal dari

Puskesmas, Kelurahan, kader. Diharapan mereka menjadi natural leader di wilayahnya. Proses

pemicuan telah dilaksanaan di 40 kelurahan. Progres STBM di Kota Bogor sudah ada perubahan

perilaku walaupun sampai tahun 2014 ini belum ada kelurahan yang ODF (Open defication Free).

Jumlah keluarga yang terpicu dapat mengakses sanitasi layak sebesar 9531 KK yang tersebar

di 40 kelurahan. Progres ini luar biasa bila dihitung uang yang telah dikeluarkan untuk membangun

sanitasi, jika 1 septiktang rata-rata Rp 3.000.000. Swadaya masyarakat untuk membangun sanitasi

layak sebesar Rp. 28,593,000,000.00 selama 3 tahun program STBM.

Mengingat program STBM ini dapat meningkatkan swadaya masyarakat., masyarakat merasa

sebagai pelaku yang terlibat dalam membangun lingkungan sehat sehingga program ini

keberlanjutan lebih kuat. Program yang dirancang sendiri oleh masyarakat, akan meningkatkan rasa

percaya diri dan tanggung jawab dari masyarakat. Harapannya gaung STBM ini disampaikan oleh

semua pemangku kebijakan, tokoh masyarakat, dan ada peraturan yang memberi sangsi tegas

kepada warga yang membuang tinja atau kotoran ke sungai.

Dokumentasi Pelatihan fasilitator STBM

Dokumentasi Pemicuan dan FGD

Page 22: KINERJA DINAS KESEHATAN KOTA BOGOR TAHUN 2014 …

22 Peningkatan Kualitas Makanan Jajanan di Kota Bogor

Keamanan makanan merupakan kebutuhan masyarakat, karena makanan yang aman akan

melindungi dan mencegah terjadinya penyakit atau gangguan kesehatan lainnya. Keamanan

makanan pada dasarnya adalah upaya hygiene sanitasi makanan, gizi dan safety.

Salah satu sasaran pengembangan di bidang keamanan pangan adalah terjaminnya pangan yang

dicirikan oleh terbebasnya masyarakat dari jenis pangan yang berbahaya bagi kesehatan.

Sasaran program keamanan pangan adalah: (1) Menghindarkan masyarakat dari jenis pangan yang

berbahaya bagi kesehatan, yang tercermin dari meningkatnya pengetahuan dan kesadaran produsen

terhadap mutu dan keamanan pangan; (2) Memantapkan kelembagaan pangan, yang antara lain

dicerminkan oleh adanya peraturan perundang-undangan yang mengatur keamanan pangan; dan

(3) Meningkatkan jumlah industri pangan yang memenuhi ketentuan peraturan perundang-

undangan.

Gambaran keadaan keamanan pangan selama tiga tahun terakhir secara umum adalah: (1) masih

ditemukan beredarnya produk pangan yang tidak memenuhi persyaratan; (2) masih banyak

dijumpai kasus keracunan makanan; (3) masih rendahnya tanggung jawab dan kesadaran produsen

serta distributor tentang keamanan pangan yang diproduksi/diperdagangkannya; dan (4) masih

kurangnya kepedulian dan pengetahuan konsumen terhadap keamanan pangan. Salah satu upaya

pemerintah untuk melindungi pangan masyarakat adalah dengan dikeluarkannya Keputusan

Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 942/Menkes/SK/VII/2003 tentang pedoman

persyaratan hygiene sanitasi makanan jajanan.

Dengan adanya keputusan Menteri Kesehatan tersebut diharapkan penjaja makanan dapat

memproduksi makanan yang aman untuk kesehatan. Di Kota Bogor hasil pemeriksaan terhadap

makanan jajanan anak sekolah tahun 2011 tercemar bakteri colli 27% , 2012 tercemar bakteri colli

25,21% dan tahun 2013 tercemar bakteri colli 20.2 %. Tahun 2014 naik 37,6% tercemar bakteri colli.

Pada pemeriksaan salmonela tahun 2014 terdapat 3.2 % tercemar salmonela. Pada tahun 2014

makanan yang tercemar meningkat, hal ini disebabkan pengambilan sampel diambil pada makanan

yang beresiko. Hasil pengujian sampel tersebut membuktikan masih ada makanan yang tidak aman

di sekolah sehingga perlu dilakukan pembinaan ke penjaja makanan dan guru UKS. Kegiatan

pelatihan dan pembinaan makanan jajanan sangat efektif meningkatkan mutu makanan anak

sekolah.

Berikut ini tempat pengolahan makanan lain di Kota Bogor yang dibina dan telah memiliki

sertifikat laik higiene sanitasi sebagai berikut :

Page 23: KINERJA DINAS KESEHATAN KOTA BOGOR TAHUN 2014 …

23

NO NAMA

JASABOGA ALAMAT No. Telepon

1 Aditia Gang mangga kdng halang

2 Atika Toko

Cibuluh Komp KOPEM Rt 01/Rw 3 Kd Halang 0251-8661055

3 Astari Villa Bogor Indah E2/25 81382419963

4 Andira Catering

Jl Taman Cimanggu Perikanan Rt 03/01 Bogor 81802981161

5 ADZA Jl. Ketapang Blok D No.1 Budi Agung 0251-8341739

6 Gayatri

jl Batara Kampung Bubulak Rt 03/03 Ciluar 81911951122

7 intisari Raya Catering Jl. A Yani no 629 Bogor

8 Jaya Citra Catering Jl. Layungsari III no 24 Rt 03/16

9 Kenanga Catering jl Myr Okingjayaatmaja no 9 Bogor

10 Lamira Catering Jl. Tazmania Raya no 2/100 Tanah Baru 81281200948

11 RosA Catering jl. Bogor Baru Blok C no 20-22 Bogor

12 Rumah Bumbu

Bukit Cimanggu Villa Blok Q7 no 15 Bogor 811910105

13 Kembang Honje (CV Kertapraja) Jl Bogor Baru Raya Blok A VI Bogor 0251-8322360

14 Yuki Catering

Komp Unitex Jl Mawar II/17 Sindang sari

15 Citra catering Villa Bogor Indah E2/13

16 Citra abadi sejati;L;L

Bogor Baru AIX No.11

17 Dahlia Jl. Ahmad Yani No.4

18 Families Jl.Raya Semplak No.283

19 Garnis catering Jl pamikul tegal gundil

20 Kartika Jl. Citarum Blok A III/16A Bogor Baru

21 Kemiku Vila Citra G2 /10,Bantarjati 0251-8311171

22 Manna Jl. Bagar Pati Raya No.11 Indraprasta

23 Musdzalifah pratama CV

jl Cilendek Timur rt 003/007 no 25

24 Pantasteiik Perum Bogor Baru F5/No.9 Bogor

25 Pasadena Jl. Arimbi IV No.10 Komplek Indraprasta I

0251-344158

26 Riand Jl. Flyover Pondok Raya Komp.IPB

27 Rolika Jl. Raya Semplak No.549

28 Ros Jl. Raya Tajur Gunung Gede No.29,Bogor

29 Tiga Selaras Jl. Bhayangkara No.25 RT.002/03 025 1-314442

Page 24: KINERJA DINAS KESEHATAN KOTA BOGOR TAHUN 2014 …

24

30 Yuki Komplek Unitex Jl. Mawar II/17

31 zumar Komplek haji tanah Baru

Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PPTM)

Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan penyakit yang bukan disebabkan oleh proses infeksi

(tidak infeksius) sehingga tidak menularkan kepada orang lain. Penyakit tidak menular akhir-akhir

ini menjadi trend dan meningkat terus jumlah kasusnya karena berbagai faktor yaitu diantaranya

pengaruh transisi epidemiologi, transisi lingkungan, transisi demografis, ekonomi, sosial budaya

(lifestyle, modernisasi), dll. Selain itu penyakit tidak menular menjadi masalah kesehatan masyarakat

karena peningkatan PTM berdampak negatif pada ekonomi dan produktivitas bangsa, pengobatan

PTM seringkali memakan waktu lama dan memerlukan biaya besar serta beberapa jenis PTM adalah

penyakit kronik dan/atau katastropik yang dapat mengganggu ekonomi penderita dan keluarganya

dengan salah satu dampak PTM adalah terjadinya kecacatan termasuk kecacatan permanen.

Beberapa penyakit tidak menular yang saat ini sedang mendapat perhatian dari Pemerintah Kota

Bogor melalui Dinas Kesehatan untuk dikendalikan dan dilakukan pencegahan yaitu Penyakit

Jantung dan Pembuluh Darah (seperti penyakit jantung koroner, hipertensi,stroke), diabetes

mellitus, kanker, penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) dan ganguan akibat kecelakaan dan

kekerasan. Ada faktor resiko yang memicu terjadinya penyakit tidak menular. Faktor resiko adalah

suatu kondisi yang secara potensial berbahaya dan dapat memicu terjadinya PTM pada seseorang

atau kelompok tertentu. Berikut ini adalah beberapa faktor resiko penyakit tidak menular yang harus

diwaspadai oleh masyarakat Kota Bogor supaya terhindar dari penyakit tidak menular yaitu :

Konsumsi garam berlebih

Konsumsi lemak berlebih

Kurang konsumsi sayur dan buah

Kurang aktifitas fisik

Obesitas

Komsumsi alkohol

Konsumsi rokok

Dll. Saat ini seluruh Puskesmas di Kota Bogor (24 Puskesmas) sudah dapat melayani dan menangani

kasus-kasus penyakit tidak menular, termasuk tersedia klinik jantung-paru, klinik kanker di

beberapa Puskesmas (diantaranya Puskesmas Bogor Timur, Bogor Tengah dan Tanah sareal) serta

klinik perawatan bagi penderita akibat dampak asap rokok lengkap dengan konseling berhenti

merokok bagi masyarakat yang ingin berhenti merokok tetapi kesulitan dan memerlukan bantuan

orang lain.

Selain itu dikembangkan juga PTM yang terintegrasi dengan Posbindu, di mana sasaran Posbindu

mendapat pemeriksaan kesehatan dan laboratorium untuk deteksi faktor resiko penyakit jantung-

Page 25: KINERJA DINAS KESEHATAN KOTA BOGOR TAHUN 2014 …

25 paru dan pembuluh darah. PTM yang terintegrasi Posbindu melibatkan kader-kader kesehatan

sebagai pelaksana dengan pendampingan tenaga kesehatan dari Puskesmas setempat. Berikut ini

adalah upaya-upaya yang dilakukan Seksi PPTM dalam upaya pengendalian penyakit tidak menular

di Kota Bogor sebagai berikut :

Penyebarluasan informasi tentang pencegahan dan pengendalian faktor resiko PTM melalui media cetak dan elektronik

Melaksanakan workshop dan seminar tentang pengendalian PTM

Sosialisasi tentang PTM ke berbagai elemen dan organisasi kemasyarakatan, termasuk TP PKK

Pelatihan petugas Puskesmas dan kader Posbindu tentang pencegahan dan penanggulangan PTM

Deteksi aktif dan pasif faktor resiko PTM di Puskesmas dan Posbindu

Deteksi dini kanker serviks dan payudara dengan IVA dan CBE

Deteksi faktor resiko kecelakaan lalu lintas

Dll. Dokumentasi kegiatan pengendalian PTM

Akhirnya upaya pengendalian PTM dan upaya-upaya kesehatan lainnya tidak akan berhasil jika

hanya dilakukan oleh insan kesehatan saja. Oleh karena itu dukungan dan komitmen seluruh jajaran

lintas sektor pemerintah, swasta, organisasi profesi, organisasi kemasyarakatan dan seluruh lapisan

masyarakat sangat diharapkan.

@@@@@@@@@