Download - Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

Transcript
Page 1: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

Seri Kebanksentralan

No. 3

INSTRUMEN-INSTRUMENPENGENDALIAN MONETER

PUSAT PENDIDIKAN DAN STUDI KEBANKSENTRALAN (PPSK)

BANK INDONESIA

A s c a r y a

Page 2: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

1. Uang: Pengertian, Penciptaan, dan Peranannya dalam Perekonomian,

oleh Solikin dan Suseno, Desember 2002.

2. Penyusunan Statistik Uang Beredar, oleh Solikin dan Suseno,

Desember 2002.

3. Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter, oleh Ascarya,

Desember 2002.

4. Neraca Pembayaran: Konsep, Metodologi, dan Penerapan,

oleh F.X. Sugiyono, Desember 2002.

SERI KEBANKSENTRALAN

Seri Kebanksentralan Bank Indonesia

Page 3: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

i

Seri Kebanksentralan No. 3

INSTRUMEN-INSTRUMENPENGENDALIAN MONETER

A s c a r y a

PUSAT PENDIDIKAN DAN STUDI KEBANKSENTRALAN (PPSK)BANK INDONESIA

Jakarta, Desember 2002

Page 4: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

ii

Ascarya

Instrumen-instrumen pengendalian moneter /

Ascarya. -- Jakarta : Pusat Pendidikan dan

Studi Kebanksentralan (PPSK) BI, 2002.

49 hlm. ; 15,2 cm x 22,8 cm. -- (Seri Kebanksentralan ; 3)

Bibliografi : hlm. 48

ISBN 979-3363-02-9

Page 5: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

iii

Sejalan dengan amanat yang diemban dalam Undang-Undang No. 23 tahun1999 tentang Bank Indonesia, dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya Bank Indonesia senantiasa berupaya untuk mewujudkan iklimketerbukaan. Selain itu, sebagai sumbangsih Bank Indonesia untukberperan dalam kegiatan peningkatan wawasan dan pembelajaran kepadamasyarakat, dalam dua tahun terakhir ini Bank Indonesia juga terusberupaya untuk meningkatkan kualitas kegiatan penelitian yang ditujukanuntuk memperkaya khazanah ilmu kebanksentralan. Sejalan dengan haltersebut, pada kesempatan ini Pusat Pendidikan dan StudiKebanksentralan, Bank Indonesia, menerbitkan buku seri kebanksentralan.

Lingkup materi yang dibahas dalam buku seri kebanksentralan inisangatlah luas, meliputi disiplin ilmu ekonomi makro-moneter, perbankan,sistem pembayaran, dan bidang-bidang lain yang terkait dengan tugasdan tanggung jawab bank sentral. Untuk tahun penerbitan perdana ini,kami menerbitkan empat seri buku sekaligus, terdiri dari: (i) Uang:Pengertian, Penciptaan, dan Peranannya dalam Perekonomian, (ii)Penyusunan Statistik Uang Beredar, (iii) Instrumen-instrumenPengendalian Moneter, dan (iv) Neraca Pembayaran: Konsep, Metodologi,dan Penerapan. Kami berupaya untuk dapat menuangkan bahasan padamasing-masing topik tersebut dengan bahasa yang cukup sederhanadengan menghindari sejauh mungkin penggunaan istilah-istilah teknisyang dapat mempersulit pemahamannya. Kalaupun masih terdapat istilah-istilah teknis yang sulit disederhanakan, kami berusaha tetap menyertakanistilah aslinya.

Mengiringi rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, padakesempatan ini kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepadapara penulis yang telah berusaha secara maksimal serta pihak-pihak yangtelah memberikan kontribusi berharga dalam penyusunan buku ini.Semoga karya ini bermanfaat dan menambah khazanah pengetahuan kita.

Jakarta, Desember 2002

Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan

Halim AlamsyahDirektur

Sambutan

Page 6: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

iv

Instrumen-instrumen pengendalian moneter merupakan alat yang pentingbagi bank sentral untuk mengendalikan uang beredar dalam rangkamencapai tujuan-tujuan kebijakan moneter. Penggunaan instrumen yangtepat pada kondisi perekonomian tertentu akan sangat membantupencapaian tujuan. Keberadaan instrumen-instrumen pengendalianmoneter belum banyak dipahami dan dimengerti oleh masyarakat luas.Tulisan singkat dalam seri kebanksentralan no. 3 ini dimaksudkan untukmeningkatkan pemahaman masyarakat luas yang berminat memahamiberbagai hal yang terkait dengan masalah-masalah moneter di Indonesia,khususnya yang berkaitan dengan kebijakan moneter dan instrumen-instrumen pengendaliannya.

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah ikut serta terlibat dan membantudalam penyusunan tulisan ini, khususnya kepada rekan-rekan di PusatPendidikan dan Studi Kebanksentralan, Bagian Analisis dan PerencanaanKebijakan – Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter, BagianStatistik Moneter – Direktorat Statistik Moneter, serta semua pihak yangtelah membantu kelancaran penulisan seri kebanksentralan ini, mulai daritahap penyusunan outline, penulisan draft, diskusi, penulisan akhir, danpencetakannya. Ucapan terima kasih secara khusus juga penulis sampaikankepada Sdr. Halim Alamsyah, Sdr. Iskandar, Sdr. Eddy Susanto, Sdr. AnwarBashori, Sdr. Erwin Haryono, dan Sdr. Nunu Hendrawanto ataspartisipasinya dan masukan-masukannya dalam diskusi penyelesaiantulisan ini. Last but not least, penulis mengucapkan terima kasih kepadaSdr. P. Iman Soesanto yang telah dengan senang hati meluangkan waktuuntuk mengedit tulisan ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini jauh dari sempurna.Oleh karena itu, kritik dan saran dari pembaca terbuka selebar-lebarnyadan akan penulis terima dengan senang hati untuk penyempurnaan di masayang akan datang. Akhirnya, penulis mengharapkan agar karya kecil inibermanfaat dan menambah khazanah bagi pengetahuan masyarakat luas.

Jakarta, Desember 2002

Penulis

Pengantar

Page 7: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

v

Sambutan iiiPengantar iv

Gambaran Umum Kerangka Kebijakan Moneter 1

Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter 5Instrumen Langsung 7

1. Penetapan Suku Bunga 72. Pagu Kredit 83. Rasio Likuiditas 84. Kredit Langsung (‘directed’, ‘ selected’, prioritas, dan yang

sejenisnya) 95. Kuota Diskonto 96. Instrumen Lain 9

6.1 Pengguntingan Uang 106.2 Pembersihan Uang (Monetary Purge) 106.3 Penetapan Uang Muka Impor 11

Instrumen Tidak Langsung 131. Cadangan Wajib Minimum (CWM) 14

1.1 Cadangan Primer (Primary reserves) 141.2 Cadangan Sekunder (Secondary reserves) 16

2. Fasilitas Diskonto 163. Fasilitas Rediskonto 174. Operasi Pasar Terbuka 17

4.1 Lelang Surat Berharga Bank Sentral 184.2 Lelang Surat Berharga Pemerintah 184.3 Operasi Pasar Sekunder 19

5. Fasilitas Simpanan Bank Sentral 196. Operasi Valuta Asing 207. Fasilitas Overdraft 208. Simpanan Sektor Pemerintah 219. Lelang Kredit 2110 Himbauan 2111 Instrumen Lain 22

Daftar Isi

Page 8: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

vi

Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter yang Umum Digunakan 27

Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter di Indonesia 31Sebelum 1983

1. Periode 1945-1965 322. Periode 1965-1983 34

Sesudah 19831. Periode 1983 – 1997 372. Periode Pasca 1997 41

Daftar GambarGambar 1: Perbandingan Sistem Operasi Kebijakan Moneter 3

Daftar TabelTabel 1: Instrumen Langsung Pengendalian Moneter 11Tabel 2: Instrumen Tidak Langsung Pengendalian Moneter 22Tabel 3: Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter Yang

Digunakan oleh Negara-negara Lain 29Tabel 4: Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter di Indonesia

Periode 1945-1965 33Tabel 5: Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter di Indonesia

Periode 1965-1983 36Tabel 6: Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter di Indonesia

Periode 1983-1997 40Tabel 7: Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter di Indonesia

Periode Pasca 1997 yang Ditambahkan 43

Boks:Prosedur Lelang SBI 40

Daftar Pustaka 48

Page 9: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

1

Gambaran Umum Kerangka Kebijakan Moneter

Kebijakan moneter sebagai salah satu kebijakan ekonomi berperan pentingdalam suatu perekonomian. Peranan tersebut tercermin pada kemam-puannya dalam mempengaruhi stabilitas harga, pertumbuhan ekonomi,perluasan kesempatan kerja, dan keseimbangan neraca pembayaran. Olehkarena itu, seringkali hal-hal ini menjadi sasaran akhir kebijakan moneter.

Secara ideal, semua sasaran akhir tersebut di atas dapat dicapai secarabersamaan. Namun, seringkali pencapaian sasaran-sasaran akhir tersebutmengandung unsur-unsur yang kontradiktif. Misalnya, usaha untukmendorong tingkat pertumbuhan ekonomi dan memperluas kesempatankerja pada umumnya dapat berdampak negatif terhadap kestabilan hargadan keseimbangan neraca pembayaran. Sementara itu, dalam jangkapanjang kebijakan moneter bersifat netral dan hanya dapat mempengaruhiharga. Oleh karena itu, dalam undang-undang bank sentral ada kecen-derungan bahwa sasaran akhir kebijakan moneter adalah stabilisasi harga.Pengalaman di banyak negara menunjukkan hal ini, yaitu bahwa kondisiperekonomian suatu negara memburuk karena kebijakan moneternyamemiliki multi sasaran akhir. Oleh karena itu, dalam perkembangannyadewasa ini semakin disadari bahwa kebijakan moneter semestinya lebihmemfokuskan pada sasaran tunggal.

Sejalan dengan perkembangan ekonomi di dunia, Indonesia menganuthal yang sama dengan menetapkan stabilisasi harga sebagai sasarantunggal sebagaimana tercermin dalam Undang-Undang Bank Indonesiayang baru (UU No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia). Tujuan utamapelaksanaan kebijakan moneter di Indonesia adalah untuk mencapai danmemelihara kestabilan nilai rupiah.1

Instrumen-instrumenPengendalian Moneter

1Dalam Undang-Undang Bank Sentral sebelumnya (UU No. 13 tahun 1968), Bank Indonesiamempunyai sasaran multi.

Page 10: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

2

INSTRUMEN-INSTRUMEN PENGENDALIAN MONETER

Kebijakan moneter dengan sasaran tunggal pada umumnya mengguna-kan pendekatan harga (price-based structure), sementara kebijakanmoneter dengan sasaran multi pada umumnya menggunakan pendekatankuantitas (price based structure). Gambar 1 menyajikan kerangka secaraumum kedua pendekatan di atas. Pendekatan kuantitas beranggapan bahwapengendalian besaran-besaran moneter dapat mengendalikan stabilitasperekonomian secara efektif. Sebaliknya, pendekatan harga beranggapanbahwa pengendalian tingkat hargalah yang secara efektif dapat mengenda-likan stabilitas perekonomian. Namun, suatu kebijakan tidak akan mempe-ngaruhi sasarannya hanya melalui satu jalur tertentu (Barran, et al., 1996).

Dari Gambar 1 dapat dikatakan bahwa dalam rangka mencapai sasaranakhir yang diinginkan, baik multi maupun tunggal, kerangka kebijakanmoneter pada umumnya terdiri dari beberapa bagian, yaitu instrumen dansasaran operasional untuk pendekatan harga sedangkan instrumen, sasaranoperasional, dan sasaran antara untuk pendekatan kuantitas.

Sehubungan dengan itu, tugas pokok Bank Indonesia sebagai otoritasmoneter adalah merencanakan dan membuat program moneter (MonetaryProgramming) yang intinya adalah melakukan perencanaan kebijakanpengendalian uang beredar (moneter), seperti yang diterangkan dalamkerangka di atas, dengan mengasumsikan bahwa kebijakan dan perkem-bangan sektor-sektor lain (fiskal, nilai tukar, dan riil) akan berjalan sepertiyang ditetapkan. Perlu diketahui bahwa kebijakan moneter secara umumdibagi dua, yaitu kebijakan moneter ketat (kontraksi) dan longgar(ekspansi). Kontraksi dilakukan apabila jumlah uang beredar dianggaplebih tinggi daripada jumlah yang ditetapkan sedangkan ekspansi sebalik-nya. Hal ini dilakukan sehingga uang beredar akan berada pada suatujumlah yang ditetapkan.

Untuk mencapai sasaran akhir yang diinginkan tersebut di atas adatenggang/lag (tidak instan) antara pelaksanaan kebijakan dan tercapai atautidak tercapainya sasaran akhir itu.2 Oleh karena itu, diperlukan adanyaindikator-indikator yang lebih segera dapat dilihat untuk mengetahuiindikasi kebijakan yang dilakukan sehingga diperlukan adanya sasaran-

2 Lag ada bermacam-macam, yaitu inside lag dan outside lag. Inside lag terdiri darirecognition lag, decision lag, dan action lag. Untuk lebih jelasnya lihat Boediono, 1987,hal.151-55.

Page 11: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

3

Sementara itu, dalam rangka mencapai sasaran antara, bank sentralsebagai otoritas moneter memerlukan sasaran-sasaran yang bersifatoperasional agar proses transmisi dapat berjalan sesuai dengan rencana.Sasaran-saran ini biasa disebut sasaran operasional. Secara garis besar,sasaran operasional dipilih yang memiliki keterkaitan stabil dengan sasaranantara, dapat dikendalikan otoritas moneter, tersedia lebih segera daripadasasaran antara, akurat, dan tidak sering direvisi. Beberapa pilihan sasaran

sasaran yang bersifat antara yang biasa disebut sasaran antara. Sasaranantara (ada pada pendekatan kuantitas) dipilih yang memiliki keterkaitanstabil dengan sasaran akhir, cakupannya luas, dapat dikendalikan otoritasmoneter, tersedia relatif cepat, akurat, dan tidak sering direvisi. Beberapapilihan sasaran antara yang dapat digunakan antara lain ialah M1, M2(dari sisi pasiva neraca sistem moneter), kredit perbankan (dari sisi aktivaneraca sistem moneter), dan suku bunga.

Gambar 1Perbandingan Sistem Operasi Kebijakan Moneter

Gambaran Umum Kerangka Kebijakan Moneter

S i s t e m O p e r a s iPendekatan

a. Pendekatan Harga

b. Pendekatan Kuantitas

SasaranOperasional

SasaranAkhir

Variabel–variabel Informasi

- Langsung - Sk.bunga PUAB - Stabilitas harga

- Tidak langsung

SasaranAntara

- Langsung - Monetary base - Agregat moneter - Stabilitas harga

- Tidak langsung seperti: seperti: - Pertumbuhan ekonomi

• Uang primer/M0 • M1, M2 - Kesempatan kerja

• Reserve bank • Kredit pbk - Keseimbangan NP

- • Sk.bunga

Sumber: Junggun Oh. “Inflation Targeting, Monetary Transmission Mechanism, and Policy Rules in Korea”, Economic Paper, Vol.2, No.1, March 1999, Bank of Korea (dimodifikasi).

Instrumen

SasaranOperasional

InstrumenSasaranAkhir

Page 12: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

4

INSTRUMEN-INSTRUMEN PENGENDALIAN MONETER

operasional yang dapat digunakan antara lain adalah uang primer (M0),reserve bank-bank (bagian dari M0), dan suku bunga (antarbank ataujangka pendek).

Selanjutnya, untuk dapat mencapai sasaran operasional bank sentralmemerlukan alat-alat yang dapat secara langsung atau tidak langsungmempengaruhi sasaran-sasaran operasional yang telah ditetapkan. Alat-alat yang dimaksud biasa disebut instrumen pengendalian moneter, atau(singkatnya) instrumen. Instrumen-instrumen inilah yang sehari-haridipergunakan oleh bank sentral (yang merupakan sarana yang dapatdikontrol, meskipun tidak sepenuhnya) untuk mengarahkan kebijakanmoneter ke tujuan tertentu sebagaimana yang diinginkan. Instrumen-instrumen ini dapat dipergunakan untuk mempengaruhi jumlah uangberedar.

Secara garis besar, instrumen ini dapat digolongkan menurut cara yangberbeda:

1) menurut cara instrumen tersebut mempengaruhi sasaran operasional,dapat dibagi langsung atau tidak langsung,

2) menurut orientasinya di pasar keuangan, dapat dibagi berorientasi pasar(market oriented/based) dan tidak berorientasi pasar (non-marketoriented/based),

3) menurut diskresinya3, dapat dibagi diskresinya berada di bank sentralatau di peserta pasar.

Pada umumnya, instrumen langsung berupa ketentuan yang ditetapkanoleh otoritas moneter sehingga tidak berorientasi pasar dan diskresinyaada di bank sentral sebagai otoritas moneter. Instrumen tidak langsungdapat berorientasi pasar atau tidak dan diskresinya dapat berada di banksentral atau di peserta pasar.

Dari penjelasan secara umum mengenai kerangka kebijakan monetertersebut diatas, topik yang akan dibahas lebih mendalam di dalam serikebanksentralan kali ini adalah mencakup instrumen-instrumen pengendalianmoneter yang digolongkan kedalam langsung dan tidak langsung.

3 Diskresi (discretion) adalah lawan dari aturan (rule). Diskresi merupakan kebijakan yangdilakukan dengan memperhitungkan penyesuaian secara bertahap sesuai dengan situasidan kondisi yang ada pada saat itu.

Page 13: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

5

Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter

Kebijakan moneter dapat menggunakan instrumen baik langsung maupuntidak langsung. Instrumen langsung adalah instrumen pengendalianmoneter yang dapat secara langsung mempengaruhi sasaran operasionalyang diinginkan oleh bank sentral. Adapun instrumen tidak langsungadalah instrumen pengendalian moneter yang secara tidak langsung dapatmempengaruhi sasaran operasional yang diinginkan oleh bank sentral.Dua hal utama yang dikendalikan adalah harga (suku bunga) dan kuantitassimpanan dan kredit yang ada pada sistem perbankan atau institusikeuangan selain bank. Pengendalian langsung ini dapat dilakukan melaluikebijakan langsung yang dikeluarkan oleh bank sentral atau denganmempengaruhi neraca bank-bank komersial. Pengendalian ini disebutlangsung karena terdapat hubungan korespondensi ‘one-to-one’ antarainstrumen dan sasaran operasional. Misalnya, penetapan pagu kredit dapatlangsung mempengaruhi jumlah kredit domestik yang dapat disalurkanoleh perbankan, yang pada akhirnya akan mempengaruhi jumlah uangberedar.

Sementara itu, instrumen tidak langsung merupakan usaha untukmengendalikan besaran moneter dengan cara mempengaruhi neraca banksentral. Satu hal yang penting dalam instrumen tidak langsung ialah banksentral dapat mempengaruhi posisi base money atau bank reserve yangpada gilirannya dapat mempengaruhi kredit dan penawaran uang(Alexander, et al., 1995). Cara ini disebut tidak langsung karena banksentral mencapai sasaran kebijakan dengan mempengaruhi kondisi pasaruang melalui salah satu fungsinya sebagai badan yang mempunyaiwewenang untuk mengedarkan uang dengan mempengaruhi kondisi yangmendasari permintaan dan penawaran uang. Selain itu, usaha untukmengendalikan besaran moneter ini dilakukan dengan cara mempengaruhineraca bank sentral sendiri, khususnya item di sisi pasivanya sendiri, yaitureserve money yang pada gilirannya akan dapat mempengaruhi suku bungasecara luas dan kuantitas uang dan kredit di dalam keseluruhan sistemperbankan (Gray, et al., 2000), misalnya cadangan wajib minimum.Apabila cadangan wajib minimum ini dinaikkan maka kemampuan bank

Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter

Page 14: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

6

INSTRUMEN-INSTRUMEN PENGENDALIAN MONETER

memberikan pinjaman menurun dan kemudian akan mendorong kenaikansuku bunga pinjaman. Tingginya suku bunga pinjaman akan berpengaruhpada jumlah kredit yang dapat disalurkan, yang pada akhirnya berpengaruhpada jumlah uang beredar.

Instrumen langsung pada umumnya bersifat non-market based (tidakberorientasi pada mekanisme pasar) dan diskresinya (inisiatifnya) ada dibank sentral sedangkan instrumen tidak langsung dapat bersifat marketbased atau non-market based dan diskresinya ada yang di bank sentralatau peserta pasar (counterparts).

Baik instrumen kebijakan moneter langsung maupun tidak langsungmempunyai berbagai macam bentuk dan masing-masing memilikikarakteristik dan kelebihan atau kekurangan. Bentuk instrumen langsungyang banyak dipergunakan adalah pengendalian suku bunga (interest rateceilings), pagu kredit, dan kredit program/kredit khusus (directed credits)bank sentral. Sementara itu, secara umum terdapat 3 bentuk utamainstrumen tidak langsung, yaitu OPT, cadangan primer (reserverequirement), dan fasilitas pendanaan jangka pendek atau fasilitasdiskonto.

Instrumen langsung mempunyai keuntungan bahwa ia dapatdipergunakan sebagai alat yang efektif bagi bank sentral untukmengendalikan harga (dalam hal ini suku bunga) atau kuantitas (dalamhal ini jumlah maksimum) kredit, terutama dalam tahap-tahap awalpembangunan atau dalam keadaan krisis yang bersifat sementara. Selainitu, untuk kondisi saat pasar-pasar keuangan belum berkembang atau banksentral belum memiliki sarana yang memadai untuk menggunakaninstrumen tidak langsung, instrumen langsung menjadi sangat pentingdan efektif. Kerugiannya antara lain adalah mengganggu dan menghalangikompetisi yang sehat di pasar-pasar keuangan, mengganggu mekanismepasar yang bebas, dan menimbulkan biaya-biaya yang mungkin tidak dapatdikuantifikasi (lihat Tabel 1 untuk masing-masing instrumen).

Instrumen tidak langsung dirancang berdasarkan kebutuhan sesuaidengan proses liberalisasi keuangan yang menitikberatkan pada efisiensialokasi tabungan dan kredit dalam perekonomian. Oleh karena itu,keuntungan utama instrumen tidak langsung adalah menghilangkan semuakekurangan yang ada pada instrumen langsung. Kerugian penggunaan

Page 15: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

7

instrumen tidak langsung antara lain adalah bahwa instrumen ini tidaksepenuhnya dapat dikendalikan oleh bank sentral (lihat Tabel 2 untukmasing-masing instrumen).

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pada umumnyainstrumen langsung digunakan oleh negara-negara yang sedangberkembang sedangkan instrumen tidak langsung digunakan oleh negara-negara maju. Dalam proses perkembangan tersebut, instrumen kebijakanmoneter yang digunakan juga berkembang ke arah yang lebih berdasarpada mekanisme pasar (market based), yaitu instrumen tidak langsung,sejalan dengan berkembangnya pasar-pasar keuangan di negara tersebut.

Instrumen Langsung

Jenis instrumen langsung ada bermacam-macam, dengan berbagai variasi,antara lain:

1. Penetapan Suku Bunga

2. Pagu Kredit

3. Rasio Likuiditas (Statutory Liquidity Ratios)

4. Kredit Langsung (‘Directed’, ‘ Selected’, Prioritas, dan yang sejenisnya)

5. Kuota Rediskonto

6. Instrumen Lain

6.1. Pengguntingan Uang

6.2. Pembersihan Uang (Monetary Purge)

6.3. Penetapan Uang Muka Impor

1. Penetapan Suku Bunga

Penetapan suku bunga merupakan instrumen langsung bank sentral berupapenetapan tingkat suku bunga baik untuk pinjaman maupun simpanan didalam sistem perbankan. Rancangan penetapan suku bunga dapat meliputisuku bunga tetap atau kisaran (spreads) antara suku bunga pinjaman dansimpanan. Keefektifan instrumen langsung ini terletak pada kredibilitassistem penegakan (enforcement) dan pengawasannya. Dengan semakin

Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter

Page 16: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

8

INSTRUMEN-INSTRUMEN PENGENDALIAN MONETER

berkembang dan terintegrasinya pasar keuangan domestik dengan pasarkeuangan internasional serta semakin berkembangnya produk-produkperbankan, perbankan dan pelaku ekonomi memiliki banyak alternatifuntuk menghindari kebijakan penetapan suku bunga itu. Hal inimengakibatkan kebijakan penetapan suku bunga semakin tidak efektif.Namun, instrumen ini masih digunakan di beberapa negara berkembangdan bahkan di negara maju sampai akhir 1980an (Alexander, et al., 1995).

2. Pagu Kredit

Pagu kredit merupakan instrumen langsung berupa penetapan jumlah ataukuantitas maksimum kredit yang dapat disalurkan oleh perbankan.Mengapa kredit yang dipatok? Penyebabnya ialah, dalam hal ini, banksentral ingin mengendalikan jumlah atau kuantitas uang beredar dengansecara langsung mempengaruhi jumlah kredit domestik yang dapatdisalurkan oleh perbankan yang pada akhirnya mempengaruhi jumlah uangberedar. Pada umumnya, pagu kredit untuk suatu bank ditetapkanberdasarkan kuota. Sementara itu, kuota setiap bank ini dapat didasarkanpada modal, simpanan, dan/atau pinjamannya. Pagu kredit ini digunakandi negara-negara Eropa barat sampai akhir 1980an dan masih digunakanoleh beberapa negara Afrika, Asia, dan negara-negara dalam transisi.Penerapan instrumen ini menimbulkan distorsi alokasi sumber-sumberdaya dan mengurangi insentif bagi bank untuk memobilisasi danamasyarakat dan menyalurkannya kepada sektor-sektor produktif.

3. Rasio Likuiditas (Statutory Liquidity Ratios)

Rasio likuiditas merupakan instrumen langsung yang digunakan banksentral dengan mewajibkan bank-bank selain untuk memelihara cadanganprimer juga untuk setiap saat memelihara surat-surat berharga tertentuatau mata uang tertentu dengan persentase tertentu (biasanya utangpemerintah). Pada umumnya, penerapan instrumen ini bertujuan untukmenggalang dana yang dibutuhkan untuk pembiayaan anggaranpemerintah melalui penjualan (secara wajib) surat-surat utang pemerintahkepada perbankan, sembari menciptakan pasarnya.

Page 17: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

9

4. Kredit Langsung (‘Directed’, ‘ Selected’, Prioritas, dan yangsejenisnya)

Kredit langsung merupakan instrumen langsung berupa penyaluran kreditsecara langsung (atau melalui agen pemerintah) kepada sektor, program,proyek, dan/atau kegiatan tertentu. Pada umumnya, kredit langsung inidiberikan kepada sektor yang sedang digalakkan oleh pemerintah namunbelum cukup menarik bagi sektor swasta atau diberikan untuk membiayaiprogram, proyek, dan/atau kegiatan yang diprioritaskan oleh pemerintah.Oleh karena itu, penggunaan instrumen ini cukup mahal dan kemungkinanbesar tidak efektif. Kredit langsung ini pada umumnya tidak memerlukanadanya agunan. Instrumen ini banyak digunakan di negara-negara dalamtransisi. (Alexander, et al., 1995).

5. Kuota Rediskonto3

Pada dasarnya, kuota rediskonto merupakan instrumen langsung yangmirip dengan kredit langsung (namun dijamin dengan surat berharga pasaruang) melalui kuota untuk memberikan insentif pengembangan sektortertentu. Dalam hal ini bank sentral menetapkan jumlah kuota surat-suratberharga sektor tertentu yang dapat di re-diskonto-kan dengan suku bungadi bawah harga pasar. Instrumen ini digunakan di negara-negara industrisecara terbatas, yang suku bunganya di bawah suku bunga PUAB (Jermandan Amerika), dan di negara-negara lain untuk memberikan insentif kesektor tertentu (Tunisia dan Cina). Suku bunga rediskonto ini sangat visibeldan dapat dijadikan sebagai sinyal perubahan kebijakan yang efektif(Alexander, et al., 1995).

6. Instrumen Lain

Selain instrumen-instrumen langsung yang disebutkan di atas, terdapatpula beberapa instrumen langsung yang pada masa dahulu (di Indonesiakhususnya) pernah digunakan untuk mengendalikan uang beredar ataumoney supply. Instrumen-instrumen tersebut antara lain:

3 Rediskonto adalah penjualan kembali surat-surat berharga yang belum jatuh waktu kepada pihaklain dengan suku bunga rediskonto yang pada umumnya berbeda dengan suku bunga diskontoawalnya. Untuk memberikan insentif, suku bunganya ditetapkan di bawah suku bunga pasar.

Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter

Page 18: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

10

INSTRUMEN-INSTRUMEN PENGENDALIAN MONETER

6.1. Pengguntingan Uang

Instrumen ini merupakan instrumen langsung yang ditujukan untukmengurangi uang beredar. Instrumen ini pernah digunakan diIndonesia pada tahun 1950 yang terkenal dengan nama “GuntingSjafruddin”. Dengan pengguntingan uang, nilai pecahan uang yangterkena peraturan ini berkurang sejumlah persentase tertentu(misalnya tinggal 50%) sedangkan sisanya diganti dengan suratberharga pemerintah jangka panjang. Dari pengguntingan uang iniuang beredar berkurang langsung sebesar persentase yang digantidengan surat berharga.

6.2. Pembersihan Uang (Monetary Purge)

Instrumen ini serupa tetapi tidak sama dengan pengguntingan uang.Dengan pembersihan uang, nilai uang diturunkan dengan persentasetertentu tanpa ada penggantian untuk jumlah yang diturunkantersebut. Penurunan nilai mata uang ini dapat bervariasi. Indonesiapernah menurunkan menjadi 10% pada tahun 1959, menjadi 3%pada tahun 1946 (satu rupiah Jepang menjadi tiga sen uang NICA),menjadi 1% pada tahun 1949 (100 rupiah Jepang menjadi satu rupiahORI), menjadi 0,1% pada tahun 1965 (1000 rupiah menjadi saturupiah). Efek pembersihan uang sama dengan pengguntingan uang,yaitu penurunan jumlah uang beredar.

6.3. Penetapan Uang Muka Impor

Ketetapan ini berlaku bagi para importir yang akan melakukantransaksi pembelian dari luar negeri. Dengan ketetapan ini paraimportir diwajibkan untuk membayar sejumlah persentase tertentusebagai uang muka untuk pembelian valuta asing yang merekaperlukan untuk mengimpor barang yang mereka perlukan dari luarnegeri. Oleh karena importir harus menyerahkan uang muka lebihdahulu, uang beredar dapat dikendalikan dari sisi impor oleh banksentral melalui instrumen ini dengan menetapkan persentase uangmuka yang harus dibayarkan oleh importir.

Page 19: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

11

Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter

Tabel 1: Instrumen Langsung Pengendalian Moneter 4

Instrumen Cara Kerja Keuntungan Kerugian

1. PenetapanSuku Bunga(Interest RateControls)

2. Pagu Kredit(CreditCeilings)

Bank sentral denganwewenangnyamenetapkan tingkatsuku bunga baik untukpinjaman maupunsimpanan di dalamsistem perbankan.

Bank sentralmenetapkan jumlahatau kuantitasmaksimum kredit yangdapat disalurkan olehperbankan.

• Menghambat kompetisidi pasar-pasarkeuangan.

• Alokasi sumber-sumber keuangan tidakberdasarkanmekanisme pasar.

• Pagu suku bungamudah dihindaridengan mengubahsimpanan bank menjadiaset yangmenghasilkan bungapasar (seperti valutaasing) atau menjadibarang.

• Mendorongdisintermediasi atauintermediasi nonbank.

• Murah untukmeminjam kreditsehingga mendorongpenggunaan kapitalyang berlebihan.

• Menghambat alokasisumberdaya perbankan.

• Dapat menyebabkandisintermediasi danhilangnya keefektifan.

• Sulit diterapkan jikaterdapat banyak bankdan “capital inflows”.

• Efektif untukmengendalikan sukubunga kredit, terutamadi masa krisis(sementara).

• Biasanya dicadangkanpada saat pemerintahtidak dapat mencapaisasaran suku bungamelalui pasar atauketika suku bungajangka panjangmerupakan tujuankebijakan.

• Mengandung pengaruh-pengaruh“noncompetitivepricing” ketikapembukaan bankterbatas.

• Membatasi masalah-masalah “adverseselection”, terutamaketika informasipeminjam langka ataupengawasan banklemah.

• Efektif untukmengendalikankuantitas kreditperbankan, terutama dimasa krisis (sementara).

• Dapat meminimalkankehilangan kendalimoneter selama masatransisi ke instrumentidak langsung ketikamekanisme transmisitidak tentu.

4 Alexander, et al. “The Adoption of Indirect Instruments of Monetary Policy”, OccasionalPaper, No. 126. Washington, DC: IMF, June 1995. (Dimodifikasi)

Page 20: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

12

INSTRUMEN-INSTRUMEN PENGENDALIAN MONETER

Instrumen Cara Kerja Keuntungan Kerugian

3. Rasio Likuiditas(StatutoryLiquidity Ratio)

4. Kredit Langsung (Directed Credits)

5. KuotaRediskonto(Bank-by-bankRediscountQuota)

6.1.PengguntinganUang

Bank sentralmewajibkan bank-bankuntuk setiap saatmemelihara surat-suratberharga tertentu ataumata uang tertentudengan persentasetertentu (biasanyautang pemerintah), diluar CWM.

Bank sentralmenyalurkan kreditsecara langsung (ataumelalui agenpemerintah) kepadasektor, program,proyek, dan/ataukegiatan tertentu yangsedang diprioritaskan.

Bank sentralmenetapkan jumlahkuota surat-suratberharga sektor tertentuyang dapat di re-diskonto-kan dengansuku bunga di bawahharga pasar.

Bank sentral dan/ataupemerintahmenetapkan bahwanilai pecahan matauang tertentu berkurangsejumlah persentasetertentu (misalnyatinggal 50%)sedangkan sisanya

• Mengganggu kompetisidengan menerapkanbatasan-batasan padamanajemen aset bank.

• Mengganggu tingkatharga sekuritas danmenghambatperdagangan di pasarsekunder.

• Dapat menyebabkandisintermediasi danmenurunkan disiplinfiskal pemerintah, yangpada akhirnya akanmenyebabkanhilangnya keefektifansebagai alat untukmengendalikan uang.

• Ada kemungkinanmisalokasi sumberdaya.

• Dapat digunakan untukmenyalurkan kreditlangsung ke BUMNsehingga mengurangipengaruh langsunganggaran pemerintah.

• Suku bunga diskonto dibawah pasar dapatmenghambatperkembangan PUABjika penggunaannyatidak dibatasi.

• Masyarakat merasadirugikan karena‘dipaksa’ menukarkansebagian uangnyadengan surat berhargapemerintah.

• Kredibilitas pemerintahakan dipertanyakanapabila penggunaannya

• Dengan adanya “captivedemand” untuk asetyang masuk kualifikasi(biasanya utangpemerintah), rasiolikuiditas dapatmengurangi biayapeminjaman untukpenerbit instrumen ini.

• Pengendalian langsungterhadap agregat kreditbank sentral keperbankan.

• Menetapkan batasbawah suku bungaantarbank sehinggamemperbaiki transmisiperubahan suku bunga.

• Digunakan untuk re-diskonto surat berhargasektor tertentu danmenyalurkan likuiditaske bank tertentu.

• Merupakan sumberdana pemerintah dalamkeadaan tidak terdapatsumber lain.

• Pilihan mudah bagipemerintah yang barudan belum kredibel.

Page 21: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

13

Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter

Instrumen Cara Kerja Keuntungan Kerugian

6.2.PembersihanUang(MonetaryPurge)

6.3PenetapanUang MukaImpor

• Merupakan sumberdana pemerintah dalamkeadaan tidak terdapatsumber lain.

• Pilihan mudah bagipemerintah yang barudan belum kredibel

• Pemerintah tidak perlumengeluarkan suratberharga pemerintah.

• Uang beredar yangbersumber dari sisiimpor dapat dikontrol.

• Sebagai alat kontroldevisa negara.

tidak sesuai dengantujuan semula.

• Pemerintah harusmerencanakan denganbaik pada saat suratberharga jatuh waktu.

diganti dengan suratberharga pemerintahjangka panjang.Caranya, uang kertasdigunting menjadi duabagian. Satu bagiansebagai alatpembayaran, bagian lainditukar dengan suratberharga pemerintah.

Bank sentral dan/ataupemerintah menetapkanbahwa nilai uangditurunkan denganpersentase tertentutanpa ada penggantianuntuk jumlah yangditurunkan tersebut.

Dengan ketetapan inipara importirdiwajibkan untukmembayar sejumlahpersentase tertentusebagai uang mukauntuk pembelian valutaasing yang merekaperlukan untukmengimpor barangyang mereka perlukandari luar negeri.

• Masyarakat dirugikandengan penurunan nilaiuangnya.

• Kredibilitaspemerintah akandipertanyakan apabilapenggunaannya tidaksesuai dengan tujuansemula.

• Memberatkan importiryang bermodal minim.

• Dapat menyuburkanpasar gelap valutaasing.

Instrumen Tidak Langsung

Jenis instrumen tidak langsung juga bermacam-macam dan bervariasi,antara lain:

1. Cadangan Wajib Minimum (CWM)

1.1 Cadangan Primer (Primary Reserves)

1.2 Cadangan Sekunder (Secondary Reserves)

2. Fasilitas Diskonto

Page 22: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

14

INSTRUMEN-INSTRUMEN PENGENDALIAN MONETER

3. Fasilitas Rediskonto

4. Operasi Pasar Terbuka

4.1 Lelang Surat Berharga Bank Sentral

4.2 Lelang Surat Berharga Pemerintah

4.3 Operasi Pasar Sekunder

5. Fasilitas Simpanan Bank Sentral

6. Intervensi Valuta Asing

7. Fasilitas Overdraft

8. Simpanan Sektor Pemerintah

9. Lelang Kredit

10. Imbauan

11. Instrumen Lain

1. Cadangan Wajib Minimum (CWM)

Cadangan wajib minimum adalah jumlah alat likuid minimum yang wajibdipelihara oleh bank. Cadangan wajib minimum dapat dibedakan mejadicadangan primer atau primary reserves dan cadangan sekunder atausecondary reserves. Cadangan primer lebih dikenal secara umum sebagaicadangan wajib minimum.

1.1. Cadangan Primer (Primary Reserves)

Cadangan primer atau yang umum dikenal dengan reserverequirement adalah instrumen tidak langsung yang merupakanketentuan bank sentral yang mewajibkan bank-bank memeliharasejumlah alat likuid sebesar persentase tertentu dari kewajibanlancarnya. Sebagian alat likuid tersebut ada yang harus dipeliharadalam bentuk kas dan sebagian lainnya dalam bentuk rekening girobank tersebut pada bank sentral.

Cadangan primer ini termasuk instrumen tidak langsung karenaia pada satu sisi akan mempengaruhi kemampuan bank memberikankredit dan pada sisi lain tingkat suku bunga. Meskipun merupakaninstrumen tidak langsung, cadangan primer ini adalah jenis instrumen

Page 23: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

15

yang bersifat non-market based karena jumlah cadangan primerditentukan oleh bank sentral.

Atas bagian cadangan primer yang dipelihara dalam bentukrekening giro pada bank sentral oleh bank sentral ada yang diberibunga (biasanya di bawah bunga pasar) dan ada juga yang tidak.Besarnya cadangan primer ada yang ditetapkan untuk setiap hari danada pula yang diterapkan rata-rata suatu periode (averaging), misalnyasatu minggu atau satu bulan, untuk memberikan fleksibilitas dalammanajemen portofolionya.

Naik turunnya persentase cadangan primer akan mempengaruhike-mampuan bank dalam memberikan kredit. Apabila persentasediturunkan, kemampuan bank dalam memberikan kredit akanmeningkat. Langkah ini setara dengan terjadinya penambahan jumlahuang beredar (ekspansi moneter) yang akan mendorong penurunansuku bunga. Selain itu, cadangan primer pada dasarnya berfungsiseperti pajak (tax)5 atas likui-ditas yang dimobilisasi oleh bank. Olehkarena itu, penurunan cadangan primer akan menurunkan biaya danadan pada gilirannya akan dapat menurunkan suku bunga kredit.Sebaliknya, apabila persentase cadangan primer dinaikkan, haltersebut setara dengan terjadinya penurunan jumlah uang beredar(kontraksi moneter) yang dapat meningkatkan suku bunga.

Cadangan primer ini banyak digunakan oleh bank sentral sebagaiinstrumen pengendalian moneter di samping sebagai ketentuan kehati-hatian (prudential regulation) untuk memastikan bahwa bank-bankmempunyai likuiditas yang cukup setiap saat bila nasabah melakukanpenarikan simpanannya. Namun, dalam perkembangannya,perubahan persentase cadangan primer secara aktif sebagai instrumenpengendalian moneter semakin berkurang, terutama ataspertimbangan dapat memberi-kan dampak yang buruk terhadappengelolaan portofolio bank-bank. Di banyak negara maju dewasaini pengaturan mengenai cadangan primer telah ditiadakan atau

Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter

5 Cadangan primer berfungsi seperti pajak mengingat bank tidak dapat memanfaatkansejumlah dananya yang berada dalam cadangan primer untuk disalurkan dalam bentukkredit atau penempatan lain yang menghasilkan sehingga bank menanggung opportunitycost karenanya. Semakin besar cadangan primer, semakin besar opportunity cost bagi bankyang mirip seperti semakin besar pajak yang ditanggung oleh bank.

Page 24: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

16

INSTRUMEN-INSTRUMEN PENGENDALIAN MONETER

persentasenya sangat rendah. Oleh karena itu, cadangan primerdewasa ini lebih banyak berperan sebagai instrumen prudential.

1.2. Cadangan Sekunder (Secondary Reserves)

Di samping cadangan primer, ada kalanya bank sentral mewajibkanbank-bank untuk memelihara sejumlah alat likuid tambahan di atascadangan primer (atau merinci lebih lanjut alat likuid tertentu yangharus dipelihara di dalam cadangan primernya). Tambahan alat likuidtersebut seringkali dinamakan cadangan sekunder (secondaryreserves). Pada umumnya, alat likuid yang dapat diperhitungkansebagai cadangan sekunder berbentuk surat-surat berharga baik milikbank sentral maupun pemerintah. Tujuan penetapan cadangansekunder pada umumnya berkaitan dengan upaya pemerintah ataubank sentral dalam rangka mendorong bank-bank untuk membelisurat-surat berharga milik pemerintah atau bank sentral.

2. Fasilitas Diskonto

Fasilitas diskonto adalah fasilitas kredit (dan/atau simpanan) yangdiberikan oleh bank sentral kepada bank-bank dengan jaminan surat-surat berharga dan tingkat diskonto yang ditetapkan oleh bank sentralsesuai dengan arah kebijakan moneter. Tinggi rendahnya tingkat diskontoakan mempengaruhi permintaan kredit dari bank. Dalam hal bank sentralmenginginkan terjadinya kenaikan suku bunga maka bank sentral dapatmemberikan sinyal melalui kenaikan tingkat diskonto (bunga) fasilitasini.

Di beberapa negara tingkat diskonto yang ditetapkan untuk fasilitasini ada yang berada di atas suku bunga pasar uang antarbank (PUAB) danada pula yang berada di bawah suku bunga PUAB. Pada umumnya,penggunaan fasilitas diskonto ini oleh bank-bank akan dikenakan penaltiagar mereka tidak seringkali menggunakan fasilitas diskonto dari banksentral mengingat fasilitas ini berfungsi sebagai mekanisme katuppengaman dalam menjaga stabilitas di pasar uang.

Bentuk fasilitas diskonto ini pada umumnya berupa pinjaman denganjaminan kepada sistem perbankan dan suku bunga di atas suku bungaintervensi bank sentral (atau berupa simpanan dengan suku bunga di bawah

Page 25: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

17

pasar) sehingga suku bunga fasilitas diskonto ini akan menjadi patokansuku bunga pinjaman tertinggi (ceiling), atau suku bunga simpananterendah (floor). Contoh instrumen ini diantaranya fasilitas repo (late repofacility di Inggris), fasilitas pinjaman dan simpanan (di ECB), dan fasilitasdiskonto (di Amerika Serikat).

3. Fasilitas Rediskonto

Fasilitas rediskonto adalah instrumen tidak langsung serupa denganfasilitas diskonto dalam bentuk fasilitas pinjaman jangka pendek (hanyaberbeda pada surat berharga yang digunakan bukan surat berharga banksentral melainkan surat berharga pasar uang) yang merupakan ketentuanbank sentral dalam menetapkan tingkat rediskonto surat-surat berhargapasar uang (SBPU) yang dapat digunakan dan dirediskontokan ke (dibelioleh) bank sentral.

Pada umumnya, penerapan fasilitas ini ditujukan untukmengembangkan pasar surat-surat berharga pasar uang dan jugabermanfaat pada saat OPT masih terbatas dan belum berjalan dengan baikantara lain sebagai akibat terbatasnya surat-surat berharga yang dapatdipergunakan sebagai instrumen operasionalnya.

4. Operasi Pasar Terbuka (OPT)

OPT merupakan instrumen kebijakan moneter tidak langsung yang pentingkarena melalui OPT bank sentral dapat mempengaruhi sasaranoperasionalnya (yaitu suku bunga atau jumlah uang beredar) secara lebihefektif. Dikatakan demikian karena sinyal arah kebijakan moneter dapatdisampaikan melalui OPT, yang pelaksanaannya dilakukan secara terbukadan pembentukan suku bunganya ditentukan berdasarkan mekanismepasar. Selain itu, OPT juga dapat dilakukan atas inisiatif bank sentraldengan frekuensi dan kuantitas sesuai dengan yang diinginkannya.

OPT berbentuk kegiatan jual-beli surat-surat berharga oleh banksentral, baik di pasar primer maupun pasar sekunder melalui mekanismelelang atau nonlelang. Apabila bank sentral akan mengurangi jumlah uangberedar, bank sentral akan menjual surat-surat berharga (biasa disebut

Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter

Page 26: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

18

INSTRUMEN-INSTRUMEN PENGENDALIAN MONETER

kontraksi) yang akan berdampak pada pengurangan alat-alat likuid bank-bank dan selanjutnya akan memperkecil kemampuan bank-bankmemberikan pinjaman. Demikian pula sebaliknya, apabila bank sentralakan menambah jumlah uang beredar, bank sentral akan membeli surat-surat berharga (biasa disebut ekspansi) yang akan berdampak padapeningkatan alat-alat likuid bank-bank dan selanjutnya akan memperbesarkemampuan bank-bank memberikan pinjaman.

OPT merupakan instrumen tidak langsung yang sangat penting karenasangat fleksibel dibandingkan dengan instrumen-instrumen tidak langsunglainnya, seperti cadangan primer atau fasilitas diskonto, dan keikutsertaansetiap institusi peserta atas dasar sukarela, bukan kewajiban. Dikatakanfleksibel karena dapat dilakukan atas inisiatif bank sentral dengan frekuensidan kuantitas sesuai dengan yang diinginkan. Fleksibel juga karena OPTini dapat dilakukan di pasar primer atau pasar sekunder denganmenggunakan berbagai instrumen pasar uang, seperti surat berharga banksentral, surat berharga pemerintah, atau surat berharga pasar uang. Selainitu, OPT fleksibel karena bank sentral dapat mentargetkan suku bunganyaatau jumlah/kuantitasnya dan dapat bervariasi jangka waktunya.Instrumen-instrumen operasional OPT cukup banyak dan bervariasi, antaralain:

4.1 Lelang Surat Berharga Bank Sentral di Pasar Primer

Lelang surat berharga bank sentral merupakan salah satu instrumenoperasional yang digunakan dalam OPT. Lelang ini dilakukan di pasarprimer karena bank sentral sebagai penerbit menjual langsung kepasar. Instrumen ini banyak digunakan di beberapa negara, khususnyauntuk memisahkan sasaran kebijakan moneter dari sasaranmanajemen utang pemerintah. Selain itu, instrumen ini terutamadigunakan pada saat pasar sekunder belum cukup berkembang daninstrumen lain belum tersedia untuk beroperasinya OPT secara efektif.

4.2 Lelang Surat Berharga Pemerintah di Pasar Primer

Lelang surat berharga pemerintah merupakan salah satu instrumenoperasional yang digunakan dalam OPT seperti lelang surat berhargabank sentral. Adapun perbedaannya ialah penerbitnya adalahpemerintah, bukan bank sentral. Lelang ini dilakukan di pasar primer

Page 27: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

19

karena pemerintah sebagai penerbit menjual langsung ke pasar.Instrumen ini juga banyak digunakan di beberapa negara, terutamadigunakan pada saat pasar sekunder belum cukup berkembang untukberoperasinya OPT secara efektif.

4.3 Operasi Pasar Sekunder

Seperti telah disampaikan di atas, pasar sekunder merupakan pasaruang yang lebih baik untuk OPT. Di pasar sekunder dapat dilakukanjual-beli surat-surat berharga secara outright atau repo (repurchaseagreement). Hal ini hanya akan dapat terlaksana apabila pasarsekunder telah berkembang baik sehingga operasi ini banyakdigunakan di sebagian besar negara maju yang pasar sekundernyasudah sedemikian maju, likuid, dan surat-surat berharga yang dapatdiperjualbelikan tersedia dalam jumlah yang memadai.

Selain ketiga hal di atas, terdapat pula instrumen pengendalianmoneter lain yang dapat berfungsi sebagai instrumen operasional OPTnamun yang diperjualbelikan bukan surat berharga. Dua instrumentersebut adalah fasilitas simpanan bank sentral yang bersifat aktifdan operasi valuta asing yang akan diterangkan di bawah ini.

5. Fasilitas Simpanan Bank Sentral

Fasilitas simpanan bank sentral merupakan salah satu instrumen tidaklangsung yang berbentuk simpanan bank-bank di bank sentral yangberjangka sangat pendek. Fasilitas ini digunakan oleh bank-bank apabilamereka mengalami kelebihan likuiditas pada akhir hari namun tidak dapatmenempatkan dana kelebihannya itu di tempat lain. Oleh karena itu, sukubunga fasilitas simpanan ini pada umumnya berada di bawah suku bungapasar. Fasilitas ini ada yang bersifat aktif dan pasif. Pasif berarti inisiatifberada pada peserta pasar dan berapa pun jumlah yang akan mereka simpanbank sentral harus menerimanya. Aktif berarti inisiatif berada pada banksentral. Fasilitas yang bersifat pasif sama dengan fasilitas diskonto yangberbentuk simpanan sedangkan fasilitas yang bersifat aktif dapatdipergunakan sebagai salah satu instrumen operasional OPT tanpamenggunakan surat berharga sebagai instrumen yang diperjualbelikan.

Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter

Page 28: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

20

INSTRUMEN-INSTRUMEN PENGENDALIAN MONETER

6. Operasi Valuta Asing

Operasi valuta asing merupakan salah satu instrumen tidak langsung yangdapat digunakan dalam OPT, yaitu bank sentral melakukan jual-beli valutaasing di pasar valuta asing untuk mempengaruhi jumlah uang beredardan nilai tukar. Misalnya, apabila bank sentral membeli valuta asing (danmembayarnya dengan valuta sendiri) berarti bank sentral telah menambahjumlah uang beredar. Selain itu, permintaan akan valuta asing naik yangdapat menyebabkan melemahnya nilai tukar valuta sendiri.

Jual-beli valuta asing ini dapat dilakukan secara spot (outright) atauswap. Jual beli secara spot bermanfaat ketika pasar valuta asing di negaratersebut lebih berkembang daripada pasar uangnya. Penggunaan laininstrumen ini adalah untuk sterilisasi di saat banyak investasi asing (berartimembawa valuta asing untuk ditukar) masuk, untuk menjaga jumlah uangberedar. Selain itu, pada saat valuta sendiri melemah dan tertekan olehsatu dan lain hal, bank sentral dapat pula menggunakan instrumen iniuntuk menjaga kestabilan nilai tukar dengan menjual valuta asing yangdiminta oleh pasar. Namun, operasi seperti ini tidak dapat dilakukan terus-menerus karena jumlah cadangan devisa (valuta asing yang dimiliki banksentral) ada batasnya.

7. Fasilitas Overdraft

Fasilitas overdraft adalah instrumen tidak langsung berupa fasilitas pem-berian pinjaman (dengan atau tanpa jaminan) yang berjangka sangatpendek kepada bank-bank yang mengalami kesulitan likuiditas jangkasangat pendek (kalah kliring). Oleh karena itu, fasilitas ini pada umumnyamemiliki suku bunga di atas suku bunga sumber-sumber dana lainnya dipasar uang.

Cara kerja instrumen ini dapat digambarkan sebagai berikut. Padasaat kliring akan ada bank yang menang dan kalah kliring. Menang kliringberarti kewajibannya lebih kecil daripada tagihannya kepada bank-banklain, atau sebaliknya. Bank yang kalah kliring berarti harus menyediakandana likuid sebesar kekalahan tersebut. Bank yang bersangkutan dapatmenyediakannya dari dananya sendiri, meminjam ke bank lain, atau, kalautidak ada alternatif lain, meminjam ke bank sentral melalui fasilitasoverdraft.

Page 29: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

21

Fasilitas ini merupakan fasilitas standar dan merupakan salah satuinstrumen penting di banyak negara karena suku bunga overdraft dapatdijadikan sebagai suku bunga kunci dalam perubahan arah kebijakanmoneter.

8. Simpanan Sektor Pemerintah

Simpanan sektor pemerintah merupakan instrumen tidak langsung yangdapat digunakan oleh bank sentral terutama untuk pengendalian likuiditasjangka pendek. Cara kerja instrumen ini sebenarnya hanya berupa realokasisimpanan pemerintah yang berada di bank sentral dan di bank-bankpelaksana/umum. Apabila bank sentral akan mengurangi jumlah uangberedar maka dapat dilakukan dengan realokasi simpanan sektorpemerintah yang berada di bank-bank umum ke bank sentral. Demikianpula sebaliknya.

Instrumen ini pernah digunakan di beberapa negara, seperti Kanada,Malaysia, dan Jerman sampai akhir 1993. Penggunaannya memerlukankoordinasi yang baik antara bank sentral dan Kementerian Keuangan.

9. Lelang Kredit

Lelang kredit merupakan instrumen sementara yang dipergunakan dalammasa awal transisi ke penggunaan instrumen tidak langsung untukmengubah dari pemberian kredit langsung ke alokasi pasar. Oleh karenaitu, instrumen ini biasanya hanya digunakan ketika pasar-pasar keuanganbelum berkembang dan suku bunga patokan antarbank belum ada.

Dengan sistem lelang, alokasi kredit dapat sesuai dengan kebutuhanpasar, dan suku bunga pasar dapat terbentuk. Apabila surat-surat berhargapasar uang sudah mulai berkembang, operasi lelang kredit ini dapatdirestrukturisasi kembali menjadi lelang repo.

10. Imbauan

Imbauan juga dapat dipergunakan sebagai instrumen tidak langsung dalampengendalian moneter oleh bank sentral. Imbauan akan menjadi efektif

Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter

Page 30: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

22

INSTRUMEN-INSTRUMEN PENGENDALIAN MONETER

apabila bank sentralnya kredibel dan tidak sering digunakan. Sebagaicontoh, bank sentral mengimbau bank-bank utama untuk menurunkansuku bunga pinjaman dan simpanan agar semua bank juga mengikutilangkah bank-bank utama tersebut sehingga akan mempengaruhi sistemperbankan/keuangan secara keseluruhan.

11. Instrumen Lain

Surat berharga yang dijual oleh bank sentral pada umumnya berdasarkansuku bunga (interest based) namun dengan berkembangnya perbankansyariah, bank sentral juga dapat menjual surat berharga yang berdasarkansyariah. Salah satunya adalah surat berharga wadiah bank sentral.Instrumen ini pada awalnya disediakan oleh bank sentral sebagai fasilitassimpanan bagi bank-bank syariah sehingga mempunyai kemiripan denganfasilitas simpanan bank sentral yang berdasar syariah. Namun, tidaktertutup kemungkinan di masa mendatang instrumen ini dapat puladipergunakan sebagai salah satu instrumen operasional OPT.

Tabel 2. Instrumen Tidak Langsung Pengendalian Moneter6

Instrumen Cara Kerja Keuntungan Kerugian

1.1 CadanganPrimer(PrimaryReserve)/CadanganWajibMinimum(ReserveRequirements)BI: Giro WajibMinimum(GWM)

• Meningkatkankemampuanmemperkirakankebutuhan(“predictability”)cadangan.

• Peningkatan cadanganprimer bermanfaatuntuk sterilisasi ekseslikuiditas atau untukmengakomodasiperubahan strukturaldalam permintaan akancadangan.

• Meningkatkankeefektifan kebijakanmoneter.

• Cadangan primertinggi merupakanpajak padaintermediasiperbankan. Hal inidapat dinetralkandengan pemberiankompensasi sesuaidengan suku bungapasar.

• Pajak ini dapatmenyebabkanmelebarnya “spreads”antara suku bungakredit dan suku bungadeposito, yang akanmengarah padadisintermediasi.

Bank sentralmewajibkan bank-bankmemelihara sejumlahalat likuid tertentu(seperti kas) sebesarpersentase tertentu darikewajiban lancarnyapada bank sentral.

6 Alexander, et al., “The Adoption of Indirect Instruments of Monetary Policy”, OccasionalPaper, No. 126. Washington, DC: IMF, June 1995. (Dimodifikasi)

Page 31: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

23

1.2 CadanganSekunder(SecondaryReserves)BI: —

2. FasilitasDiskonto(StandingFacilities)BI: SBI repo

3. FasilitasRediskonto(RediscountWindow)

BI: PembelianSBPU

Instrumen Cara Kerja Keuntungan Kerugian

Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter

Bank sentralmewajibkan bank-bank, di luar cadanganprimer (tetapi masihdalam kerangkaCWM), untukmemelihara alat-alatlikuid tertentu denganrincian/persentasetertentu.

Bank sentralmemberikan fasilitaspinjaman (dan/atausimpanan) danmenetapkan tingkatdiskonto surat berhargabank sentral (SBBS)atau pinjamannya.

Bank sentralmemberikan fasilitaspinjaman melaluirediskonto suratberharga pasar uang(SBPU), menetapkantingkat rediskontonya,dan menetapkan SBPUyang dapat digunakan.

• “Averaging”memberikanfleksibilitas yang lebihbesar kepada bankdalam manajemenportofolionya.

• Memberikankeleluasaan bank sentraldalam menentukan alatlikuid yang harusdipelihara.

• Dapat dipakai untukmemasyarakatkan suratberharga tertentu.

• Berguna sebagaimekanisme katuppengaman.

• Berguna sebagai sinyalkebijakan bank sentral.

• Fasilitas untuk bank-bank lemah yang sulitmendapatkan kebutuhandana di PUAB.

• Memberikan informasipatokan suku bunga.

• Suku bunga diskontosering dapatmeningkatkan transmisidari arah kebijakanmelalui pengaruhpengumumannyasebagai patokan sukubunga (Perancis,Jerman, dan AmerikaSerikat).

• Pengaruh awalnya lebihmeluas daripada OPT,yang hanya terbataspada counterpart-nya disatu atau sedikit pusat-

• Tidak cocok jikadigunakan untukmanajemen likuiditasjangka pendek karenaseringnya perubahancadangan primermengganggumanajemen portofoliobank.

• Kurang memberikanruang fleksibilitas bagibank.

• Mengganggukompetisi perbankandengan penerapanpembatasan ini.

• Mengganggu hargapasar sekuritas yanglain di pasar sekunder.

• Tidak begitu cocokuntuk pentargetan“base money” secaratepat, karena akses kepintu ini atas inisiatifbank.

• Kriteria surat berhargayang dapat digunakandan akses ke pintu inisering dimanfaatkansebagai kebijakankredit selektif.

• Tidak begitu cocokuntuk pentargetan basemoney secara tepatkarena akses ke pintuini atas inisiatif bank.

• Kriteria surat berhargayang dapat digunakandan akses ke pintu inisering dimanfaatkansebagai kebijakankredit selektif.

Page 32: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

24

INSTRUMEN-INSTRUMEN PENGENDALIAN MONETER

Instrumen Cara Kerja Keuntungan Kerugian

4.1 Lelang SBBank Sentralsebagaiinstrumen OPT

BI: Penjualan SBI

4.2 Lelang SBPemerintahsebagaiinstrumen OPT

BI: —

4.3 Operasi PasarSekunder(SecondaryMarketOperations)BI: —

Bank sentral melakukanlelang untuk menjual/membeli SB banksentral kepadaperbankan dan/ataupeserta lain di pasarprimer.

Pemerintah melakukanlelang untuk menjualSB pemerintah kepadapeserta pasar di pasarprimer. Selanjutnya,bank sentral dapatmelakukan jual-beli SBpemerintah ini dalamOPTnya.

Bank sentral melakukanjual-beli surat-suratberharga secara outrightatau repo (repurchaseagreement) dalamrangka OPT.

pusat finansial.• Mengembangkan pasar

surat-surat berhargayang dapat di-rediskontokan.

• Dapat pula bermanfaatpada saat OPT terbataskarena kurangnya suratberharga.

• Instrumen yang fleksibeluntuk manajemenlikuiditas jangka pendekkarena bank sentral yangmenerbitkan danberbagai format lelang/tender dapat digunakanuntuk mengarahkansuku bunga.

• Bermanfaat khususnyapada saat bank sentraltidak punya cukup SBpemerintah untukmelaksanakan OPT.

• Manajemennya samadengan SB bank sentraljika koordinasi dengandepartemen keuangankarena penerbitan SBpemerintah dapatmelebihi kebutuhanfiskal.

• Mendorong disiplinfiskal bagi pemerintahjika pembiayaanlangsung dari banksentral dihentikan.

• Dapat dilaksanakansecara terus- menerussehingga memberikanfleksibilitas yang tinggi.

• Transparan.

• Bank sentral dapatmenanggung kerugianapabila terjadipenerbitan/penjualanyang cukup besar.

• Jika SB bank sentraldigunakan bersamadengan SBpemerintah (T-Bills),permasalahan akanmuncul jika tidak adakoordinasi yang kuatantarpenerbit SB.

• Tujuan manajemenutang dapatberbentrokan denganmanajemen moneterjika departemenkeuanganmemanipulasi lelanguntuk menjaga biayadana di bawah pasar.

• Ketika manajemenmoneter bergantungpada penerbitanperdana, lelang seringdapat menghambatperkembangan pasarsekunder.

• Memerlukan pasarsekunder yang matangdan likuid dan banksentral harus memilikicadangan aset yangdapat dipasarkan

Page 33: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

25

Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter

Instrumen Cara Kerja Keuntungan Kerugian

5. FasilitasSimpananBank Sentral(dapatdigunakansebagaiinstrumenOPT)/DepositsFacility

BI: IntervensiRupiah

6. Operasi ValutaAsing (dapatdigunakansebagaiinstrumen OPT)atauForeignExchangeOperation

BI: IntervensiValuta Asing

7. FasilitasOverdraft(OverdraftWindow)

BI: —

8. Simpanan SektorPemerintah(Public SectorDeposits)

Bank sentralmemberikan fasilitasberbentuk simpananbank-bank di banksentral yang berjangkasangat pendek yangdigunakan oleh bank-bank apabila merekamengalami kelebihanlikuiditas pada akhirhari namun tidak dapatmenempatkan danakelebihannya itu ditempat lain.

Bank sentral melakukanjual-beli valuta asing dipasar valuta asing untukmempengaruhi jumlahuang beredar dan nilaitukar.

Bank sentralmemberikan fasilitaspinjaman (dengan atautanpa jaminan) yangberjangka sangatpendek kepada bank-bank yang mengalamikesulitan likuiditasjangka sangat pendek(kalah kliring).

Bank sentralmemindahkan/realokasisimpanan pemerintahyang berada di bank

• Meningkatkanperkembangan pasarsekunder.

• Respons yang segeradari pasar uang.

• Membantu pencapaiansasaran operasional

• Fleksibel dalam jumlahmaupun suku bunga

• Suku bunga sebagaiacuan pasar uang

• Dapat untuk keperluankontraksi dan ekspansi

• Membantu bank yangkelebihan likuiditas

• Jika pasar valasberkembang sedangkanpasar SB pemerintahtidak aktif, swap dapatmenggantikan operasirepo SB pemerintah.

• Penjualan danpembelian valas secaraspot (“outright”) dapatbermanfaat ketika pasarvalas lebih berkembangdaripada pasar uangnya.

• Menyediakan fasilitaspinjaman jangka sangatpendek yang sukubunganya lebih tinggidaripada sumber lain.

• Dapat menjadi bagiankunci pengaturan sistempembayaran.

• Karena besarnya arusdana keluar/masuksistem perbankan daripemerintah, realokasi

(marketable assets)yang cukup.

• Apabila dilakukanterus-menerus,menyebabkanketergantungan danmanajemen keuangankurang berkembang

• Bank sentral dapatmengalami kerugianjika operasi valasdigunakan denganmaksud untuk menjaganilai tukar yang tidak“sustainable”.

• Lihat pintu rediskontodi atas.

• Kerugian suku bungayang sudahdiumumkansebelumnya sedangkanakses ke pintu ini atasinisiatif bank.

• Kurang transparan.• Berlawanan dengan

usaha pengembanganpasar sekunder untuk

Page 34: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

26

INSTRUMEN-INSTRUMEN PENGENDALIAN MONETER

BI: SimpananPemerintah/BUMN

9. Lelang Kredit (Credit Auction)

BI: —

10. Imbauan(MoralSuasion)

BI: Imbauan

11. Penjualan SBWadiah BankSentral sebagaiinstrumen OPT

BI: PenjualanSWBI

Instrumen Cara Kerja Keuntungan Kerugian

sentral dan/atau dibank-bank pelaksana/umum.

Bank sentralmelakukan lelangkredit kepadaperbankan.

Bank sentralmengimbau bank-bankuntuk melakukan hal-hal tertentu, sepertimenurunkan sukubunga pinjaman/simpanannya.

Bank sentral membukawindow (sepertifasilitas simpanan banksentral namunmenggunakan sistemmudharabah) khususuntuk penempatan bagibank-bank syariah.

simpanan pemerintahantara bank sentral danbank pelaksana dapatmenjadi instrumenkunci untuk meredampengaruh arus tersebutpada likuiditas jangkapendek.

• Menawarkan alat untukmengetahui harga /sukubunga kredit banksentral.

• Dapat digunakan ketikapasar masih belumberkembang danreferensi suku bungaantarbank belum ada.

• Menetapkan patokansuku bunga.

• Mengalokasikan kreditsesuai dengan ketentuanpasar.

• Fleksibelpenggunaannya.

• Tidak mengikat• Efektif kalau BS

kredibel

• Instrumen yang dapatdijadikan sebagaikomplemen SB banksentral di sektorperbankan syariah

• Bermanfaat khususnyapada saat bank sentraltidak punya cukup SBpemerintah untukmelaksanakan OPT.

• Memiliki keuntunganseperti fasilitassimpanan bank sentral.

• Memberikankesempatan yang samabagi bank syariah untukikut berpartisipasi di

sekuritas pemerintah.

• Bank sentralmenghadapi risikokredit yang sulitdinilai.

• Mungkin tidak cocokuntuk manajemenharian jika “settlement”lelang melebihi targetharian.

• Rawan terhadapmasalah “adverseselection”.

• Tidak mengikatsehingga hasilnya tidakpasti.

• Tidak boleh digunakanterus-menerus.

• Kalau BS tidakkredibel, kurang efektif

• Bank sentral hanyadapat mengendalikankuantitas dan tidakdapat mengendalikansuku bunga karenaketentuan syariahnya.

• Memiliki kekuranganseperti fasilitassimpanan bank sentral.

• Akan tidak terlaluefektif kalau volumepenjualan kecil.

Page 35: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

27

Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter

yang Umum Digunakan

Pada akhir tahun 1970an bank sentral negara-negara industri maju mulaimeninggalkan instrumen langsung dalam pengendalian moneternya danmulai menggunakan serta mengandalkan instrumen tidak langsung.Kecenderungan ini dalam tahun-tahun berikutnya juga diikuti oleh negara-negara berkembang dan negara-negara transisi.7 Hal ini terjadi terutamakarena kondisi perekonomian dunia yang semakin terbuka berpengaruhterhadap semakin berkembangnya pasar-pasar keuangan, yang kemudianmenyebabkan instrumen langsung menjadi kurang efektif karena dapatmengakibatkan inefisiensi dan disintermediasi.

Instrumen-instrumen langsung yang biasa digunakan antara lain pagukredit, pengendalian suku bunga, kredit langsung, rasio likuiditas (statutoryliquidity ratios), dan kuota rediskonto (rediscount quotas). Adapuninstrumen-instrumen tidak langsung yang biasa digunakan antara laincadangan primer, fasilitas diskonto, dan operasi pasar terbuka (OPT).Instrumen-instrumen lain yang juga masih umum digunakan antara lainfasilitas rediskonto, lelang kredit, dan operasi valuta asing (swaps). Namun,instrumen utama yang menjadi tulang punggung pelaksanaan kebijakanmoneter agak sedikit berbeda. Sebagian besar bank sentral menggunakanOPT sebagai instrumen utamanya. Di samping itu, ada pula negara yang

Instrumen Cara Kerja Keuntungan Kerugian

pasar uang dengansistem yang sesuaidengan syariah.

• Menambah pilihaninstrumen bagi banksentral.

• Akan efektif apabilavolume penjualansudah cukup banyak.

Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter yang Umum Digunakan

7 Alexander, et al. (1995)

Page 36: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

28

INSTRUMEN-INSTRUMEN PENGENDALIAN MONETER

menggunakan instrumen selain OPT sebagai instrumen utamanya, sepertiBrasil yang menggunakan fasilitas diskonto.

Penggunaan OPT sebagai instrumen utama oleh sebagian besar banksentral baik di negara-negara maju maupun negara-negara berkembangcukup dapat dimengerti karena OPT merupakan instrumen yang sangatfleksibel dan keterlibatan institusi pihak kedua (bank dan broker) tidakmengikat. Selain itu, bank sentral dapat mengendalikan frekuensi OPTdan jumlah/kuantitas lelang yang diinginkan sehingga OPT merupakanmetoda yang sangat bermanfaat untuk menstabilkan reserve money atausuku bunga jangka pendek. Sebagai tambahan, yang tidak kalah pentingialah bahwa OPT juga tidak membebankan pajak kepada bank.

Instrumen utama OPT yang digunakan pada umumnya adalah surat-surat berharga pemerintah, seperti T-bills, dan dilengkapi dengan suratberharga bank sentral. Penggunaan surat berharga pemerintah dalam OPTakan sangat meringankan beban biaya OPT bagi bank sentral. Tabel 3memperlihatkan secara umum instrumen-instrumen pengendalian moneteryang digunakan di beberapa negara lain.

Dari Tabel 3 terlihat bahwa negara-negara berkembang dan negara-negara transisi pada umumnya mengikuti apa yang dilakukan oleh negara-negara maju dalam pemilihan instrumen-instrumen pengendalianmoneternya sesuai dengan perkembangan pasar keuangannya. Namun,negara-negara berkembang pada umumnya masih menggunakaninstrumen-instrumen lain yang dipergunakan sebagai pelengkap yangberhubungan dengan transisi penggunaan instrumen langsung ke tidaklangsung sesuai dengan perkembangan pasar-pasar keuangan negara yangbersangkutan. Sebagai contoh, India mempunyai instrumen SwitchingFacility sampai dengan tahun 1992. Dengan instrumen ini bank sentralIndia (RBI) membeli kertas berharga (notes) dengan kupon rendah danmenjual/menggantikannya dengan kertas berharga dengan kupon tinggiuntuk memperbaiki portofolio bank-bank dan institusi finansial lainnya.Selain itu, ada pula instrumen-instrumen yang masih digunakan yang lebihbersifat spesifik untuk mencapai sasaran tertentu. Misalnya, Malaysiamenggunakan instrumen langsung penetapan suku bunga untukpembiayaan sektor prioritas. Sementara itu, Thailand menggunakan pagukredit untuk alokasi pembiayaan sektor prioritas.

Page 37: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

29

Tabel 3. Instrumen-instrumen Pengendalian Moneteryang Digunakan oleh Negara-negara Lain

a. Negara Maju:

AmerikaSerikat

Inggeris

Jepang

Perancis

Jerman

New Zealand

b. NegaraBerkembang:

- Amerika Latin:

Argentina

Cili

Brasil

Meksiko

- Asia Tenggara:

Korea

Cadangan Fasilitas Operasi Pasar InstrumenNegara Wajib Diskonto Terbuka Lain

Minimum

3% - 10%

0.35%

Ya

0.5% - 1%

1% - 20%, rata-rata

Tidak ada

3% - 43%, rata-rata

3.6% - 30%

3% - 83%

≥ 0

Ya

Kebutuhan jangka.pendek

Overnight, LOLR

Diatur per bank

5 – 10 hari repo

3 bulan, sedang,panjang

< 28 hari,otomatis

≤ 30 hari, LOLR

1 hari/bulan,LOLR

Ya

Darurat

Ya

SB pemerintah,bonds, notes

SB pemerintah,SB swasta

SB pemerintah,bonds, CDs

SB pemerintah,SB swasta

SB pemerintah

SB pemerintah,SB bank sentral

Bonds pemerintah

SB pemerintah,SB bank sentral

SB pemerintah,SB bank sentral

CETES, BONOS

Bonds pemerintah,MSBs

Tidak ada

Tidak ada

Imbauan

Tidak ada

Fasilitas kreditperpanjangan

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Fasilitas Overdraft,Fasilitas kreditjangka pendek,Fasilitas kreditperpanjangan,Lelang kredit

CDs, Fasilitaspinjaman darurat

Lelang kredit

Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter yang Umum Digunakan

Page 38: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

30

INSTRUMEN-INSTRUMEN PENGENDALIAN MONETER

Cadangan Fasilitas Operasi Pasar InstrumenNegara Wajib Diskonto Terbuka Lain

MinimumThailand

Filipina

Malaysia

Indonesia

- Neg. BerkembgLain:

Ghana

Mesir

Tunisia

Cina

India

c. Negara Transisi

Republik Czech

Rusia

7%, rata-rata

17%

11.5%, rata-rata

3% - 5%, rata-rata

5%, rata-rata

10% -15%, rata-rata

2%

13%

15%, rata-rata

8.5%, rata-rata

1.5% - 20%

7 hr, LOLR

Ya

≥ 3 bl

Ya

Ya, sb. penalti

Ya, 2% di atas

7hr, sb. penalti

Ya

Ya

Ya

Tidak ada

SB pemerintah,SB bank sentral

SB pemerintah,SB bank sentral

SB pemerintah,SB bank sentral

SB bank sentral,SB pasar uang

SB pemerintah, SBbank sentral

SB pemerintah

SB pemerintah

Tidak ada

SB pemerintah

SB pemerintah,SB bank sentral

SB pemerintah

SLR, FXW

Kredit jangkapendek, SLR,Inst. langsung

Tab. pmth, Kr.Liq, FXO

Pinjamanovernight

SLR

Lelang kredit

Instr. langsung

Penetapan sb,SLR, Fasilitasswitching

Kredit jangkapendek

Tidak ada

Keterangan:

Repo: Pembelian kembali surat berharga oleh penerbitnya sebelum jatuh waktu

LOLR: Lender of last resort, yaitu salah satu fungsi bank sentral sebagai tumpuan akhir pada saat bankmenghadapi kesulitan dana

SB pemerintah: Surat berharga pemerintah (T-bills)

SB bank sentral: Surat berharga bank sentral

SB pasar uang: Surat berharga pasar uang

SB swasta: Surat berharga swasta

CDs: Certificate of Deposits atau sertifikat deposito

Page 39: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

31

Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter

di Indonesia

Instrumen-instrumen pengendalian moneter yang pernah dan masihdigunakan di Indonesia sejak Indonesia merdeka terkait erat denganperkembangan negara secara umum dan perkembangan strukturfinansialnya. Pembahasan bagian terakhir ini akan menjelaskan secarakronologis perkembangan penggunaan instrumen-instrumen moneter diIndonesia sejak Indonesia merdeka sampai sekarang tanpa melihatkeefektifan atau keberhasilan penggunaan instrumen atau kebijakanmoneter yang diambil. Untuk mudahnya, pembahasan akan dibagi dalamperiode-periode sebelum 1983 dan sesudah 1983. Tahun 1983 dipilihsebagai batas pembeda, yaitu saat Indonesia memasuki era baru deregulasimoneter dan perbankan sejak 1 Juni 1983 yang ditujukan untukmempercepat perekonomian Indonesia.

Sebelum 1983

Sebelum tahun 1983 perkembangan perekonomian Indonesia dapat dibagike dalam dua periode yang berbeda, yaitu periode orde lama tahun 1945-1965 yang masih memprioritaskan untuk mempertahankan keutuhan dankedaulatan negara dan tahun 1965-1983 yang mulai memprioritaskan padapembangunan dan pertumbuhan ekonomi.

CETES: Surat berharga pemerintah, seperti T-bills yang diterbitkan oleh Kementerian Keuangan Meksiko.

BONOS: Bonds yang dikeluarkan oleh pemerintah Meksiko

MSBs: Monetary Stabilization Bonds yang diterbitkan oleh Bank of Korea (seperti SB bank sentral)

SLR: Statutory Liquidity Ratio (definisi lihat di sub-bab Instrumen Langsung dan Tabel 1)

FXW: Foreign exchange window. Di sini BOT mengadministrasikan exchange equalization fund (EEF) yangsiap menjual dan membeli USD/Baht dengan nilai tukar yang telah diumumkan sebelumnya

FXO: Foreign Exchange Operation atau intervensi rupiah (definisi lihat sub-bab Instrumen Tidak Langsungdan Tabel 2)

Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter di Indonesia

Page 40: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

32

INSTRUMEN-INSTRUMEN PENGENDALIAN MONETER

1. Periode 1945-1965

Periode ini mempunyai ciri kebijakan moneter longgar, yang berarti banksentral (dalam hal ini Bank Indonesia), yang baru didirikan padapertengahan tahun 1953, melakukan kebijakan ekspansi moneter denganpenambahan uang beredar, yang dilakukan dengan monetisasi ataupencetakan uang baru. Pencetakan uang baru dilakukan untuk menutupdefisit anggaran belanja negara yang terus membengkak.

Sebelum tahun 1957, instrumen-instrumen pengendalian moneterBank Indonesia berupa penetapan suku bunga, OPT (meskipun pasar uangmasih bersifat sederhana), pagu kredit, dan kredit langsung. Sementaraitu, instrumen pengendalian moneter yang dipakai setelah tahun 1957 itupada umumnya ditujukan untuk mengendalikan atau mengurangi moneysupply yang berlebihan yang diakibatkan oleh kebijakan moneter longgartersebut, dan pada umumnya hanya berlaku sebentar.

Tiga instrumen pertama, yaitu pengguntingan uang, pembersihan uang(monetary purge), dan penetapan uang muka impor ditujukan untukmengendalikan dan/atau mengurangi uang beredar sedangkan instrumenterakhir yang diperkenalkan pada periode ini, yaitu cadangan primer(sebagai likuiditas minimum atau cadangan wajib minimum), dimaksud-kan bukan untuk mengendalikan uang beredar melainkan sebagai alatprudential instrument untuk memastikan bahwa bank-bank mempunyailikuiditas yang cukup setiap saat nasabah melakukan penarikan simpanan-nya. Tabel 4 memberikan penjelasan secara umum.

Page 41: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

33

Instrumen Keterangan Saat Pelaksanaan

Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter di Indonesia

1. Penetapan sukubunga

2. Fasilitas rediskonto

3. Operasi pasar terbuka

4. Pagu kredit

5. Kredit langsung

Tingkat suku bunga simpanan danpinjaman ditetapkan oleh banksentral untuk mengendalikan harga

Instrumen tidak langsung yangmerupakan ketentuan bank sentraldalam menetapkan tingkatrediskonto surat-surat berhargayang diperbolehkan

Instrumen tidak langsung yangmerupakan kegiatan jual-beli surat-surat berharga oleh bank sentraldengan pelaku pasar baik di pasarprimer maupun sekunder

Pemberian kredit kepada sektortertentu dibatasi untuk setiap banksesuai dengan kriteria yangditetapkan, yang dimaksudkanuntuk mengendalikan jumlah kredityang disalurkan dan, dengan katalain, mengendalikan money supply

Kredit yang diberikan langsungoleh Bank Indonesia untukmengembangkan sektor tertentudengan subsidi

Sebelum tahun 1957, penetapan sukubunga fasilitas rediskonto, suku bungamaksimum

Sebelum tahun 1957, penetapan sukubunga rediskonto terhadap promes atausurat-surat utang (jarang dilakukan)

- Sebelum tahun 1957, dilakukan olehBank Indonesia meskipun pasaruang yang sudah berjalan masihbersifat sederhana

- Tahun 1970, diperkenalkan SBIsebagai instrumen operasional OPTuntuk mendorong perkembanganpasar uang

Sebelum tahun 1957, berlaku untukbank-bank komersial langsung ataudihubungkan dengan besarnya kreditjumlah kekayaan tertentu.Pengendalian kredit juga berlakusektoral (mana yang boleh diberikredit)

Sebelum tahun 1957

Tabel 4. Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter

di Indonesia Periode 1945-19658

8 Kebijakan moneter penting lainnya yang terjadi dalam periode ini adalah devaluasi. Devaluasi bukanmerupakan instrumen pengendalian moneter namun kebijakan ini secara tidak langsung akanmempengaruhi kebijakan moneter sesudahnya. Dalam periode ini devaluasi telah dilaksanakan pada:

- Maret 1946: kurs US$1,00 diubah dari Rp1,88 rp menjadi Rp2,6525 - September 1949: kurs US$1,00 menjadi Rp3,80 - Februari 1952: kurs US$1,00 menjadi Rp11,40 - Agustus 1959: kurs US$1,00 menjadi Rp45,00 - April 1964: kurs US$1,00 menjadi Rp250,00

Page 42: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

34

INSTRUMEN-INSTRUMEN PENGENDALIAN MONETER

Instrumen Keterangan Saat Pelaksanaan

6. Pengguntingan uang

7. Pembersihan uang(monetary purge)

8. Penetapan uangmuka impor

9. Cadangan primer(cadangan wajibminimum)

Uang kertas digunting menjadi duabagian. Satu bagian sebagai alatpembayaran, bagian lain ditukardengan surat berharga pemerintah,untuk mengendalikan uang beredar

Penurunan nilai mata uang ke nilainominal lebih rendah,dimaksudkan untuk mengurangiuang beredar

Importir diwajibkan membayar40% uang muka untuk pembelianvaluta asing yang mereka perlukan,untuk mengendalikan moneysupply

Instrumen tidak langsung,merupakan ketentuan bank sentralyang mewajibkan bank-bankmemelihara sejumlah alat likuid(seperti kas) sebesar persentasetertentu dari kewajiban lancarnya

19 Maret 1950, penurunan nilai uang50% untuk pecahan lima rupiah keatas. Guntingan kiri berlaku sebagaialat pembayaran, guntingan kananditukar dengan obligasi negara denganbunga 3% setahun

- 6 Maret 1946, satu rupiah menjaditiga sen

- 23 Oktober 1949, seratus rupiahJepang = satu rupiah ORI di luarJawa dan Madura. Di Jawa danMadura kurs penukaran 100 : 1

- 24 Agustus 1959, nilai uangditurunkan menjadi 10% untukpecahan 1.000 dan 500

- 13 Desember 1965, nilai uangditurunkan 999%, 1.000 rupiahmenjadi 1 rupiah

Tahun 1952, diperkenalkan instrumenini untuk mengendalikan money supplydari sisi impor

Tahun 1957, diperkenalkan dengantujuan bukan untuk alat mengontrolmoney supply

2. Periode 1965-1983

Awal periode ini ditandai dengan kebijakan moneter ketat dengan programstabilisasi dan rehabilitasi ekonomi, terutama disebabkan oleh adanyamismanajemen dan hyperinflasi sebagai akibat kebijakan moneter longgarpada periode sebelumnya. Oleh karena itu, pengendalian stabilitas hargamenjadi sasaran akhir utama kebijakan moneter yang diambil, disertaidengan pemeliharaan cadangan devisa yang cukup, rehabilitasi sistemperbankan, dan rekonstruksi sistem ekonomi. Sementara itu, di sisi kebija-kan fiskal diterapkan anggaran belanja berimbang (balanced budgetpolicy). Instrumen pengendalian moneter yang digunakan saat itu berupa

Page 43: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

35

instrumen-instrumen tidak langsung tradisional, seperti cadangan primer,yang dilengkapi dengan instrumen-instrumen langsung, seperti kreditlangsung/likuiditas dan penetapan suku bunga. Namun, instrumenutamanya masih kredit likuiditas (langsung) dari Bank Indonesia.Instrumen lama yang masih digunakan adalah cadangan primer. Padaperiode ini cadangan primer mulai dipergunakan sebagai instrumenmoneter secara aktif sebagai pengendalian uang beredar denganpeningkatan cadangan primer menjadi 30% untuk meredam peningkatanjumlah uang beredar yang disebabkan oleh kenaikan harga minyak (oilprice schock/oil boom) yang drastis.

Pada saat oil boom anggaran belanja menjadi surplus untuk pertamakalinya sedangkan NFA (net foreign assets) naik drastis, yang menjadipenyokong utama kenaikan uang primer. Oleh karena itu, setelah oil boom,kebijakan pengendalian moneter lebih diarahkan pada pengendalianpeningkatan money supply atau uang primer.

Pengendalian moneter dengan instrumen tidak langsung akhirnyaditinggalkan pada tahun 1974 dan digantikan dengan instrumen langsung,seperti pagu kredit. Instrumen-instrumen yang digunakan saat itu antaralain pagu kredit, kredit likuiditas, dan penetapan suku bunga. Pagu kreditdigunakan untuk mengendalikan ekspansi kredit di hampir sepanjangperode ini. Kredit likuiditas diberikan kepada sektor-sektor tertentu, sepertipertanian, industri, transportasi, dan jasa-jasa, seperti Badan UrusanLogistik (Bulog). Pengendalian suku bunga ditujukan untuk menjaga sukubunga riil tetap positif dan memobilisasi dana masyarakat. Suku bungariil yang positif dapat menggairahkan mobilisasi dana masyarakat kesistem perbankan, meningkatkan intermediasi keuangan, dan jugamempercepat tingkat monetisasi perekonomian Indonesia secarakeseluruhan. Kebijakan penting lainnya yang diambil adalah devaluasirupiah dan perubahan rezim nilai tukar dari sistem nilai tukar tetap (fixed)menjadi mengambang terkendali (managed float) pada tanggal 15November 1978, yang lebih dikenal dengan KNOP-15.

Oil boom kedua melanda Indonesia pada tahun 1979/80 denganmeningkatnya harga minyak dua kali lipat. NFA kembali meningkat pesatyang menyebabkan peningkatan uang beredar. Dengan berkembangnyasektor keuangan, instrumen langsung menjadi kurang efektif. Ditambah

Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter di Indonesia

Page 44: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

36

INSTRUMEN-INSTRUMEN PENGENDALIAN MONETER

lagi, perkembangan sistem keuangan, perbankan, dan intermediasinyamenjadi terhambat. Untuk mengatasi masalah- masah ini pemerintahmengambil kebijakan yang cukup berani dalam rangka deregulasi sistemkeuangan secara menyeluruh pada bulan Juni 1983.

Tabel 5 memberikan gambaran secara umum instrumen-instrumenpengendalian moneter yang digunakan pada periode ini.

Tabel 5. Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter di Indonesia

Periode 1965-19839

Instrumen Keterangan Saat Pelaksanaan

1. Cadangan Primer(Cadangan WajibMinimum)

2. Kredit Langsung/Likuiditas

Instrumen tidak langsung,merupakan ketentuan bank sentralyang mewajibkan bank-bankmemelihara sejumlah alat likuid(seperti kas) sebesar persentasetertentu dari kewajiban lancarnya

Kredit yang diberikan langsungoleh Bank Indonesia untukmengembangkan sektor tertentudengan subsidi

- Digunakan sejak periodesebelumnya

- Tahun 1973/74, ditingkatkanmenjadi 30% untuk meredampeningkatan money supply sebagaiakibat oil price shock

- Tahun 1977 Desember, pertama kalidalam sejarah perbankan,diturunkan menjadi 15%

- Digunakan sejak periodesebelumnya

- Sejak 1968 pemerintah memberikansubsidi untuk kredit program padasektor pertanian, industri,transportasi, dan jasa-jasa, sepertiBulog

- Tahun 1973 akhir, KIK/ KMKPdiperkenalkan sebagai tandaditinggalkannya instrumenpengendalian moneter tidaklangsung

9 Kebijakan moneter penting lainnya pada periode ini antara lain ialah:1. Perubahan sistem devisa ‘ketat’ menjadi ‘bebas’, yaitu jual-beli valuta asing yang sebelumnya diawasi

ketat oleh bank sentral dilonggarkan/dibebaskan, dilaksanakan pada tahun 1970.2. Perubahan sistem nilai tukar dari ‘tetap’ ke “mengambang terkendali’, yaitu sistem nilai tukar tetap

yang mengacu pada satu mata uang asing diubah menjadi sistem nilai tukar mengambang terkendaliyang mengacu kepada sejumlah mata uang asing mitra dagang utama.

3. Devaluasi, dilaksanakan pada: - Desember 1970: kurs US$1,00 diubah dari Rp250,00 menjadi Rp378,00 - Agustus 1971: kurs US$1,00 menjadi Rp415,00 - November 1978: dengan KNOP-15, kurs US$1,00 menjadi Rp625,00

Ketiga kebijakan moneter di atas bukan merupakan instrumen pengendalian moneter namunkebijakan-kebijakan ini secara tidak langsung akan mempengaruhi kebijakan moneter sesudahnya.

Page 45: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

37

Instrumen Keterangan Saat Pelaksanaan

3. Penetapan SukuBunga

4. Pagu Kredit

Tingkat suku bunga simpanandan pinjaman ditetapkan olehbank sentral untukmengendalikan harga

Pemberian kredit kepada sektortertentu dibatasi untuk setiapbank sesuai dengan kriteria yangditetapkan, dimaksudkan untukmengendalikan jumlah kredityang disalurkan dan, dengan katalain, mengendalikan moneysupply

- Digunakan sejak periodesebelumnya

- Tahun 1966 Oktober, sebagaibagian dari program stabilisasiekonomi, suku bunga resmidinaikkan dari 26-63% menjadi72-108% per tahun. Penalti untukkredit yang jatuh waktu 50% diatas suku bunga normal, danpenalti overdraft 1% per hari

- Tahun 1968, suku bunga depositodinaikkan dari 30% ke 72% pertahun, untuk menggairahkanmobilisasi dana masyarakatmelalui perbankan

- Tahun 1971 diperkenalkanTabanas dan Taska dengan sukubunga yang ditetapkan

- Digunakan sejak periodesebelumnya

- April 1974, diperkenalkan sistempagu kredit baru sebagai tandaditinggalkannya instrumen tidaklangsung dan kembalidigunakannya instrumen langsung

Sesudah 1983

Sesudah tahun 1983, perkembangan perekonomian Indonesia dapat dibagike dalam dua periode yang berbeda, yaitu periode 1983-1987 yang ditandaidengan deregulasi sistem keuangan dan perbankan sejak 1 Juni 1983sampai saat terjadinya krisis keuangan dan perbankan pada pertengahan1997 dan periode pasca 1997 yang sarat dengan program pemulihan sistemkeuangan dan perbankan.

1. Periode 1983-1997

Dengan adanya oil boom kedua pada tahun 1979/80 dan kemudian resesiyang melanda dunia pada awal 1980, pemerintah mengambil langkahberani dengan memulai deregulasi di sektor moneter dan perbankan dengan

Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter di Indonesia

Page 46: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

38

INSTRUMEN-INSTRUMEN PENGENDALIAN MONETER

Paket Kebijakan 1 Juni 1983. Era ini ditandai dengan kembalinyapengendalian moneter dengan menggunakan instrumen-istrumen tidaklangsung dengan anchor nilai tukar. Instrumen-instrumen langsung yangdianggap menghambat perkembangan sistem keuangan dihilangkan,seperti:

1. Kebebasan penentuan suku bunga simpanan dan pinjaman

2. Menghilangkan sistem pagu kredit

3. Pengurangan secara berangsur-angsur kredit langsung (pemberiankredit likuiditas Bank Indonesia)

Instrumen-instrumen tidak langsung mulai diperkenalkan, antara lain:

1. Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sebagai instrumen operasional OPTdiperkenalkan pada Februari 1984. SBI ini berbeda dengan SBI yangpernah diterbitkan pada tahun 1970 yang digantikan dengan SertifikatDeposito.

2. Fasilitas diskonto yang dapat digunakan oleh bank-bank sebagaialternatif dalam pengendalian likuiditasnya disediakan sejak Februari1984.

3. Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) sebagai instrumen operasional OPTpada Februari 1985.

SBI ditujukan sebagai instrumen kontraksi apabila situasi moneterdinilai terlalu ekspansif sedangkan SBPU ditujukan sebagai instrumenekspansi apabila situasi moneter dinilai terlalu kontraktif. Sementara itu,cadangan primer masih dipergunakan sebagai salah satu instrumen tidaklangsung pengendalian moneter.

Pada pertengahan 1980 harga minyak bumi merosot dari puncaknyayang pernah mencapai US$35 per barrel menjadi di bawah US$10 perbarrel. Sebagai akibatnya, neraca pembayaran Indonesia memburuk.Devaluasi dilakukan pada September 1986 untuk memperbaikinya danterutama untuk memelihara cadangan devisa di masa depan. Untukmencegah spekulasi, selain menaikkan suku bunga SBI dan menurunkanpagu SBPU secara bertahap, pemerintah melakukan kebijakan yangterkenal dengan “Gebrakan Sumarlin I” pada tanggal 22 Juni 1987, yaitupemerintah dan Bank Indonesia memerintahkan kepada beberapa BUMN

Page 47: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

39

besar, seperti PN Taspen, PLN, PT Pusri, dan Pertamina, untuk menarikgiro dan deposito mereka di bank-bank pemerintah untuk membeli SBI.

Sebagai lanjutan deregulasi di bidang moneter, keuangan, danperbankan dikeluarkanlah Paket Kebijakan 27 Oktober 1988 yang lebihdikenal dengan Pakto dengan tujuan untuk meningkatkan pengerahan danamasyarakat, ekspor nonmigas, efisiensi lembaga keuangan dan perbankan,dan menciptakan iklim pengembangan pasar modal. Hal-hal yangberhubungan dengan pengendalian moneter antara lain:

1. Penyempurnaan mekanisme swaps dari maksimum 6 bulan menjadi 3tahun

2. Penurunan cadangan primer bank-bank dari 15% menjadi 2%

Pada Paket Kebijakan 29 Januari 1990 Bank Indonesia melakukanpenghapusan pemberian kredit langsung, kecuali untuk mendukungswasembada pangan, pengembangan koperasi, dan peningkatan investasi.

“Gebrakan Sumarlin II” dilakukan pada tanggal 27 Februari 1991sebagai tindakan preventif untuk mencegah terjadinya spekulasi devisadan mengurangi inflasi. Kebijakan moneter yang diambil saat itu adalahkebijakan moneter ketat, yang berlangsung sejak April 1990 karenapermintaan kredit terus meningkat meskipun suku bunga cukup tinggi(overheated). Kebijakan moneter ketat ini berangsur-angsur dilonggarkanmulai 1993 yang mengakibatkan kenaikan inflasi pada tahun berikutnya.

Tantangan di tahun 1994 bagi sektor moneter adalah tetap rendahnyatingkat suku bunga yang mengakibatkan pelarian modal ke luar negeri(capital outflow) sehingga Bank Indonesia kembali menerapkan kebijakanmoneter ketat dengan menaikkan suku bunga SBI.

Pada tahun 1995-1996 terjadi permintaan yang kuat akan investasidomestik yang memerlukan tambahan likuiditas, yang cukup menarikuntuk terjadinya capital inflow, penambahan uang beredar, dan akhirnyaapresiasi rupiah. OPT menjadi andalan utama ditambah dengan penaikanGiro Wajib Minimum, yang secara umum biasa disebut cadangan primer,dari 2% menjadi 3%. Keadaan ini tidak berubah banyak sampai terjadinyakrisis keuangan dan perbankan sejak pertengahan 1997.

Tabel 6 memberikan gambaran secara umum instrumen-instrumenpengendalian moneter yang digunakan pada periode ini.

Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter di Indonesia

Page 48: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

40

INSTRUMEN-INSTRUMEN PENGENDALIAN MONETER

Tabel 6. Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter di Indonesia

Periode 1983-199710

Instrumen Keterangan Saat Pelaksanaan

1. Cadangan Primer(Cadangan WajibMinimum)

2. Pengurangan/Penghapusan KreditLangsung/ Likuiditas

3. Fasilitas Diskonto

4. Fasilitas Rediskonto

5. Operasi PasarTerbuka

Instrumen tidak langsung,merupakan ketentuan bank sentralyang mewajibkan bank-bankmemelihara sejumlah alat likuid(seperti kas) sebesar persentasetertentu dari kewajiban lancarnya

Kredit yang diberikan langsungoleh Bank Indonesia untukmengembangkan sektor tertentudengan subsidi

Instrumen tidak langsung yangmerupakan ketentuan bank sentraldalam menetapkan tingkat diskontosurat berharga bank sentral ataupinjaman (dan/atau simpanan) banksentral kepada bank-bank

Instrumen tidak langsung yangmerupakan ketentuan bank sentraldalam menetapkan tingkatrediskonto surat-surat berhargayang diperbolehkan.

Instrumen tidak langsung yangmerupakan kegiatan jual beli surat-surat berharga oleh bank sentraldengan pelaku pasar baik di pasarprimer maupun sekunder

- Digunakan sejak periodesebelumnya

- Tahun 1988 Oktober, diturunkandari 15% menjadi 2% untukmendorong efisiensi penyalurandana masyarakat

- Tahun 1996 Februari, dinaikkan dari2% menjadi 3%

- Tahun 1997 April, dinaikkan lagimenjadi 5%

- Oktober1988, berangsur-angsurdikurangi

- Januari 1990, dihapuskan kecualiuntuk swasembada pangan,pengembangan koperasi, danpeningkatan investasi

- Oktober 1988, diperkenalkan.Diskonto I untuk jangka pendek (3hari), Diskonto II untuk jangkalebih panjang (60 hari)

- Pernah digunakan pada periodesebelumnya

- Tahun 1993, ketentuan tingkatrediskonto wesel ekspor berjangkaditetapkan sama dengan SIBOR

- Pernah digunakan pada periodesebelumnya

- Juni 1983, diperkenalkan kembalisebagai instrumen tidak langsungutama pengendalian moneter. SBIdan SBPU dipergunakan sebagaiinstrumen operasionalnya

10 Kebijakan moneter penting lainnya yang terjadi dalam periode ini adalah devaluasi. Devaluasi bukanmerupakan instrumen pengendalian moneter namun kebijakan ini secara tidak langsung akanmempengaruhi kebijakan moneter sesudahnya. Dalam periode ini devaluasi dilaksanakan pada:

- Maret 1983: kurs US$1,00 diubah dari Rp702,50 menjadi Rp970,00 - September 1986: kurs US$1,00 diubah lagi dari Rp1.134,00 menjadi Rp1.644,00

Page 49: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

41

2. Periode Pasca 1997

Pada masa krisis keuangan dan perbankan yang melanda Asia Tenggarasejak 2 Juli 1997 kebijakan moneter yang diambil oleh Bank Indonesiadalam rangka pemulihan adalah kontraksi moneter. Instrumen-instrumenyang digunakan pada umumnya sama dengan periode sebelumnya, hanya

Instrumen Keterangan Saat Pelaksanaan6. Operasi Valuta

Asing

7. Imbauan

8. Simpanan SektorPemerintah Pusat/BUMN

9. Kebijakan KreditSelektif (SelectiveCredit Policy)

Merupakan salah satu instrumentidak langsung yang dapatdigunakan dalam OPT, yaitu banksentral melakukan jual-beli valutaasing di pasar valuta asing untukmempengaruhi jumlah uangberedar dan nilai tukar

Bank sentral mengimbauperbankan untuk melakukantindakan tertentu yang diinginkan

Merupakan instrumen tidaklangsung: bank sentral dan/ataupemerintah merealokasi simpananpemerintah yang berada di banksentral dan di bank-bankpelaksana/umum

Pengaturan sektor dan jumlahkredit yang boleh disalurkan olehbank dalam rangka prudentialbanking atau kehati-hatian dalampenyaluran kredit, dan dapat jugadigunakan untuk mengendalikanuang beredar

Digunakan sampai sekarang sebagaiinstrumen operasional OPT

Tahun 1992, BI mengimbau bank-bank pemerintah untuk berinisiatifmenurunkan suku bunga simpanandan pinjaman

- Juni 1987 (Gebrakan Sumarlin I),pemerintah dan Bank Indonesiamemerintahkan kepada beberapaBUMN besar, seperti PN Taspen,PLN, PT Pusri, dan Pertamina,untuk menarik giro dan depositomereka di bank-bank pemerintahsekitar Rp1,3 triliun untukmembeli SBI, untuk mencegahberlanjutnya pelarian modal keluar negeri

- Februari 1991 (Gebrakan SumarlinII), pemerintah mewajibkan 12BUMN untuk mengalihkandeposito mereka dari bank-banksekitar Rp8 triliun kepada SBI,untuk mencegah spekulasi devisadan menurunkan inflasi

Tahun 1995, kredit untuk sektorproperti dibatasi dengan pertumbuhantidak melebihi pertumbuhan totalkredit

Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter di Indonesia

Page 50: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

42

INSTRUMEN-INSTRUMEN PENGENDALIAN MONETER

yang aktif digunakan adalah instrumen-instrumen kontraksi. Instrumenutama yang digunakan adalah GWM, Fasilitas Diskonto, OPT, danIntervensi Rupiah (IR), ditambah dengan Intervensi Valuta Asing. Namun,yang digunakan sebagai tulang punggung (instrumen utama) adalah OPTdan IR.

Intervensi Rupiah merupakan instrumen tidak langsung yang sejajardengan instrumen operasi OPT yang baru diperkenalkan pada tahun 1998.Cara kerjanya adalah melalui kegiatan pinjam-meminjam dana yangdilakukan Bank Indonesia secara langsung di pasar uang antarbank(PUAB) dengan jangka waktu overnight s.d. 7 hari. Tujuandiperkenalkannya instrumen ini adalah untuk mem-fine-tuning sasarankuantitas yang belum tercapai melalui lelang SBI. Fungsi lain IR adalahsebagai sinyal arah pergerakan suku bunga.

Instrumen lain yang diperkenalkan pasca 1997 adalah SertifikatWadiah Bank Indonesia (SWBI). Insrumen ini diterbitkan oleh BankIndonesia dengan tujuan awal sebagai fasilitas penempatan bagi bank-bank syariah namun tidak menutup kemungkinan di masa mendatang dapatpula dipergunakan sebagai salah satu instrumen operasional OPT.Pelaksanaannya tidak dilakukan melalui lelang melainkan denganmembuka window sehingga mempunyai kemiripan dengan fasilitassimpanan bank sentral.

Kontraksi moneter sampai saat ini masih dilakukan mengingat sampaisaat ini fungsi perbankan sebagai lembaga intermediasi masih belum pulih,perbankan masih belum dapat menyalurkan dananya ke kredit, sehinggaSBI dan IR menjadi pilihan utama penempatan dana yang pada gilirannyaakan cenderung meningkatkan beban Bank Indonesia.

Tabel 7 memberikan gambaran secara umum instrumen-instrumenpengendalian moneter yang ditambahkan pada periode ini.

Page 51: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

43

Tabel 7. Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter di Indonesia

Periode Pasca 1997 yang Ditambahkan11

Instrumen Keterangan Saat Pelaksanaan

1. Intervensi Rupiah(Fasilitas SimpananBank Sentral)

2. Sertifikat WadiahBank Indonesia(SWBI) *)

Merupakan instrumen tidaklangsung yang sejajar denganinstrumen operasi OPT yang carakerjanya adalah melalui kegiatanpinjam-meminjam dana yangdilakukan Bank Indonesia secaralangsung di pasar uang antarbank(PUAB) dengan jangka waktuovernight s.d. 7 hari. Tujuandiperkenalkannya instrumen iniadalah untuk mem-fine-tuningsasaran kuantitas yang belumtercapai melalui lelang SBI. Fungsilain IR adalah sebagai sinyal arahpergerakan suku bunga

Instrumen yang diterbitkan BankIndonesia yang pada awalnyaditujukan sebagai fasilitaspenempatan bagi bank-banksyariah namun tidak menutupkemungkinan di masa datang dapatpula digunakan sebagai salah satuinstrumen operasional OPT.Pelaksanaannya tidak dilakukanmelalui lelang melainkan denganmembuka window sehinggamempunyai kemiripan denganfasilitas simpanan bank sentral

Tahun 1998, diperkenalkan sebagaiinstrumen fine-tuning untuk membantuOPT

Instrumen ini saat ini masih digunakanhanya sebagai penempatan bagi bank-bank syariah. Imbalannya diberi nama“bonus” sebesar imbalan PUAS (PasarUang Antarbank Syariah) atauinvestasi (deposito) mudharabah

11 Kebijakan moneter penting lainnya pada periode ini antara lain ialah:1. Perubahan sistem nilai tukar dari ‘mengambang terkendali’ ke “mengambang penuh’, yaitu sistem nilai

tukar mengambang terkendali yang mengacu kepada sejumlah mata uang asing mitra dagang utamaditinggalkan dan nilai tukar dibebaskan mengambang penuh sesuai dengan keadaan pasar,dilaksanakan pada Agustus 1997.

2. Fasilitas Likuiditas Intra-hari (FLI). Dengan diterapkannya RTGS (real time gross settlements), untukmengatasi grid-lock (berhentinya proses karena suatu bank kekurangan dana), bank diberi fasilitas FLItanpa dikenakan bunga namun tetap dengan jaminan (SBI atau SB yang lain). Apabila pada akhir haribank tetap mengalami kekurangan dana, bank tersebut harus memanfaatkan fasilitas lain, sepertifasilitas pinjaman jangka panjang/FPJP atau fasilitas diskonto yang berjangka ≥ overnight. FLIdisediakan sejak diterapkannya RTGS pada tahun 2000.Kedua kebijakan moneter di atas bukan merupakan instrumen pengendalian moneter namunkebijakan-kebijakan tersebut secara tidak langsung akan mempengaruhi kebijakan monetersesudahnya.

Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter di Indonesia

Page 52: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

44

INSTRUMEN-INSTRUMEN PENGENDALIAN MONETER

Sertifikat Bank Indonesia (SBI) adalah surat berharga jangka pendek(1-12 bulan) dengan sistem diskonto yang diterbitkan Bank Indonesiadalam bentuk surat pengakuan utang dalam satuan unitRp.1.000.000,00 (satu juta rupiah). Saat ini, sesuai dengan ketentuanbaru (SE No.4/20/DPM) SBI diterbitkan tanpa warkat (scripless) danditatausahakan melalui Central Registry yang dikelola oleh BankIndonesia-Sistem Penatausahaan SBI (BI-SPS). Seperti disampaikansebelumnya, SBI diperkenalkan pada bulan Februari 1984 untukdipergunakan dalam OPT yang digunakan kembali sebagai instrumentidak langsung pengendalian moneter sejak Deregulasi 1 Juni 1983.Oleh karena itu, SBI dapat diperdagangkan baik di pasar primer mau-pun sekunder. Penjualan di pasar primer dilakukan melalui lelangmingguan setiap hari Rabu yang didahului dengan pengumumanmengenai sasaran indikatif sehari sebelumnya. Penjualan di pasarsekunder dapat dilakukan kapan saja sebelum jatuh waktunya.

Sistem penawaran SBI yang dilakukan oleh Bank Indonesia saatini menggunakan sarana Automatic Bidding System (ABS) dengansistem lelang yang berdasarkan target kuantitas dengan memperhatikantingkat suku bunga/diskonto yang terjadi. ABS adalah sistem pena-waran dana dan surat berharga dari bank atau pialang dalam rangkaOPT secara on-line dan real time. Sistem lelang dengan target kuantitasakan menghasilkan stop-out rate (SOR), yaitu tingkat diskontotertinggi yang dihasilkan dari lelang ini yang dimenangkan oleh pesertasetelah target kuantitas yang diinginkan terpenuhi.Target indikatifkuantitas diumumkan sehari sebelum lelang. Sistem lelang lain yangpernah digunakan oleh Bank Indonesia adalah sistem lelang dengantarget harga dimana tingkat diskonto tertinggi yang dihasilkan dari

Boks:

Prosedur Lelang SBI12

12 Sumber: Dimodifikasi dari Yura A. Djalins. Operasi Pasar Terbuka di Indonesia, draft Juli 2002.Bagian Pengembangan Pasar Uang, Direktorat Pengelolaan Moneter, Bank Indonesia, sesuaidengan SE No.4/20/DPM Perihal Tata Cara Penerbitan, Perdagangan dan Penatausahaan SertifikatBank Indonesia, tanggal 18 Nopember 2002.

Page 53: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

45

lelang, yang disebut cut-out rate (COR), yang dimenangkan peserta,setelah target harga atau suku bunga yang diinginkan terpenuhi. Targetindikatif suku bunga tidak diumumkan sebelumnya.

Peserta lelang terdiri dari peserta langsung dan tidak langsung.Peserta langsung terdiri dari bank, atas nama bank sendiri atau atasnama bank lain, dan pialang pasar uang, atas nama bank, yangmemiliki sarana ABS. Peserta tidak langsung terdiri dari bank yangtidak memiliki sarana ABS. Pada hari lelang peserta langsung dapatmengajukan penawaran yang terdiri dari nominal dan diskonto yangdiinginkan antara pukul 10.00-14.00 WIB, melalui sarana ABS keBagian Operasi Pasar Uang (OPU). Peserta tidak langsung dapatmengajukan penawarannya melalui peserta langsung.

Jumlah penawaran yang dapat diajukan perbankan minimum1.000 (seribu) unit atau Rp.1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah),dan selebihnya dengan kelipatan 100 (seratus) unit atauRp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah). Tingkat diskonto yangdiajukan harus dalam kelipatan 6,5 basis point atau 0,0625% untuksemua peserta.

Sesuai dengan sistem SOR, pemenangnya ditentukan berdasarkankuantitas yang masuk. Pengumuman pemenang lelang dilakukanmelalui sarana ABS, Pusat Informasi Pasar Uang (PIPU) atau saranalainnya pada hari pelaksanaan lelang selambat-lambatnya pukul 16.30WIB. Apabila jumlah seluruh penawaran yang masuk melebihisasaran kuantitas, Bank Indonesia harus mengambil pemenangdimulai dari yang mengajukan tingkat diskonto terendah sampaidengan jumlah kumulatif penawaran mencapai sasaran tersebut.Apabila jumlah penawaran lebih rendah daripada sasaran kuantitasmaka Bank Indonesia harus mengambil seluruhnya.

Dengan sistem SOR, pemenangnya adalah peserta yangmengajukan penawaran di bawah atau sama dengan SOR. Apabilatidak semua penawaran pada SOR memenangkan lelang maka, sesuaidengan metoda penghitungan multiple price (American procedure)yang dianut:

Page 54: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

46

INSTRUMEN-INSTRUMEN PENGENDALIAN MONETER

1. Peserta yang mengajukan penawaran pada tingkat diskonto dibawah SOR akan memenangkan lelang sebesar 100% dari nominalyang mereka ajukan, dengan mendapat tingkat diskonto sesuai yangmereka ajukan, dan

2. Peserta yang mengajukan penawaran pada tingkat diskonto sesuaiSOR akan memenangkan lelang secara proporsional sesuai denganpenawaran nominal yang diajukannya, dengan mendapat tingkatdiskonto SOR.

Metoda penghitungan lain yang juga umum digunakan adalahmetoda uniform price (Dutch method), yaitu setiap pemenang lelangmemperoleh tingkat diskonto yang sama. Rata-rata tertimbang (rrt)diskonto hasil lelang dapat dihitung dengan memasukkan jumlahpenawaran peserta sebagai bobot.

Pada saat penyelesaian transaksi (settlement) pemenang lelanghanya menyetor sebesar nilai tunai, yaitu sejumlah nominal yangdimenangkan dikurangi diskontonya, dan pada saat SBI jatuh waktupemenang akan memperoleh dana sebesar nominal yang dimenangkan.Dengan sistem ABS, penyelesaian transaksi dilakukan denganmendebet sebesar nilai nominal SBI dan kemudian mengkredit sebesarnilai diskonto SBI pada rekening giro bank pembeli SBI melalui sistemBank Indonesia Real Time Gross Settlements (BI-RTGS). Pencatatankepemilikan dilakukan dengan menggunakan sistem pencatatankepemilikan surat berharga Book Entry Registry (BER)..

Dengan sistem ABS yang scripless, tanda bukti kepemilikan SBItidak lagi dalam bentuk fisik warkat SBI melainkan cukup tercatatdalam BI-SPS yang juga berfungsi untuk mengurangi risiko pencurianatau pemalsuan.

Sebagai tambahan, bank yang membutuhkan tambahan likuiditasdapat menjual kembali SBI yang belum jatuh waktu (sekurang-kurangnya empat hari) kepada Bank Indonesia secara repo. Jumlahyang dapat di-repo-kan maksimum 25% dari rata-rata jumlah yangdimenangkan bank yang bersangkutan dalam tiga lelang SBI terakhiryang diselenggarakan Bank Indonesia, dengan jangka waktu overnight.

Page 55: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

47

Tingkat diskonto BI repo adalah rata-rata tertimbang suku bungaPUAB overnight pagi hari pada satu hai kerja sebelum transaksiditambah 200 (dua ratus) basis points; atau rata-rata tertimbangtingkat diskonto SBI jangka waktu satu bulan pada lelang terakhirditambah 200 (dua ratus) basis points.

Page 56: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

48

INSTRUMEN-INSTRUMEN PENGENDALIAN MONETER

Daftar Pustaka

Alexander, William E., Tomas J.T. Balino, and Charles Enoch. TheAdoption of Indirect Instruments of Monetary Policy, IMF OccasionalPaper No.126, Washington: International Monetary Fund, 1995.

Axilrod, Stephen H. Transformation of Markets and Policy Instrumentsfor Open Market Operations, IMF Working Paper No. WP/95/146,Washington: International Monetary Fund, December, 1995

Bank Indonesia. Kumpulan Materi Pengajaran Interen, beberapapenerbitan.

Bank Indonesia. Laporan Tahunan Bank Indonesia, beberapa tahunpenerbitan.

Bagian Moneter, Urusan Ekonomi dan Statistik, Bank Indonesia. Teoridan Kebijaksanaan Moneter, Bahan Kuliah Diklat Lanjutan AngkatanXI, 1993.

Bank for International Settlements Monetary Policy Operating Proceduresin Emerging Market Economies, BIS Policy Papers, No. 5 – March1999, Monetary and Economic Department, Bank For InternationalSettlements, Basle, Switzerland, 1999.

Blinder, Alan S. Central Banking in Theory and Practice, The MIT Press,Cambridge, MA, 2000.

Borio, Claudio E.V. The Implementation of Monetary Policy in IndustrialCountries: A Survey, BIS Economic Papers, No. 47 – July 1997,Monetary and Economic Department, Bank For InternationalSettlements, Basle, Switzerland, 1997.

Budiono. Ekonomi Moneter, edisi 3, Seri Sinopsis Pengantar EkonomiNo.5, Yogyakarta: BPFE, 1994.

Djalins, Yura A. Operasi Pasar Terbuka di Indonesia, draft, Juli, 2002.

Page 57: Instrumen-Instrument Pengendalian Moneter

49

Gray, Simon, Glenn Hoggarth, and Joanna Place. Introduction to MonetaryOperations, revised, 2nd edition, Handbook in Central Banking No.10,Centre for Central Banking Studies Bank of England, 2000.

Haryono Erwin, Wahyu A. Nugroho, dan Wahyu Pratomo. “MekanismePengendalian Moneter dengan Inflasi Sebagai Sasaran Tunggal,” dalamBuletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, vol.2, no.4, pp.68-122,Maret, 2000.

LP3ES. Bank Indonesia Dalam Kilasan Sejarah Bangsa, PT PustakaLP3ES, Jakarta, Agustus, 1995.

Urusan Hukum, Bank Indonesia. Undang-undang Republik IndonesiaNomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, Bank Indonesia,Jakarta, 1999.