Download - BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulueprints.umm.ac.id/55472/3/BAB_II.pdf · sumber daya air bersih, pengarian dan irigasi, sumber pembangkit listrik, sarana transportasi,

Transcript
Page 1: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulueprints.umm.ac.id/55472/3/BAB_II.pdf · sumber daya air bersih, pengarian dan irigasi, sumber pembangkit listrik, sarana transportasi,

19

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terdahulu

Pariwisata merupakan salah satu potensi yang dimiliki masing-masing

daerah. Setiap daerah biasanya memiliki potensi wisata berupa sungai, danau, laut,

bukit, gunung, taman-taman kota, kebun binatang, tempat-tempat kuliner yang ada

di daerah dan sebagainya. Masing-masing daerah juga biasanya memiliki ikon

wisata yang menjadi daya tarik wisata sehingga mengundang wisatawan dari luar

daerah maupun luar negeri datang ke daerah tersebut. Kota Banjarmasin contohnya

dikenal dengan pasar terapungnya yang menjadi daya tarik wisata dan kebanggan

warga Kota Banjarmasin. Pariwisata daerah karena itu sangatlah penting dalam

menjamu wisatawan yang akan meningkatkan pendapatan daerah tersebut.

Pembangunan di bidang pariwisata membutuhkan sumber daya dalam

pengelolaannya. Pembangunan tersebut karenanya juga akan menyerap tenaga

kerja dan mengurangi pengangguran. Pembangunan wisata Pasar Terapung Siring

Sungai Martapura dalam hal ini menjadi contoh dalam pengelolaan yang

terintegrasi. Kawasan Siring Sungai Martapura merupakan kawasan wisata yang di

dalamnya menyediakan wisata pasar terapung, menara pandang, wisata kuliner,

penjualan produk-produk daerah dan kawasan permainan anak-anak. Pemerintah

menyediakan kawasan tersebut untuk masyarakat berkreasi dalam berbagai bidang.

Pemerintah memberikan fasilitas tempat dan pembinaan bagi para pedagang pasar

terapung. Peneliti dalam bab ini akan menjabarkan penelitian terdahulu yang

menjadi acuan dalam penelitian. Penelitian terdahulu akan dijelaskan sebagai

berikut.

Page 2: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulueprints.umm.ac.id/55472/3/BAB_II.pdf · sumber daya air bersih, pengarian dan irigasi, sumber pembangkit listrik, sarana transportasi,

20

No Judul/ Penulis Rumusan Masalah Metode Teori Pembahasan/ Isi

1

Pengelolaan

Sungai Menurut

Peraturan

Daerah Kota

Banjarmasin No

2 Tahun 2007/

Faris Ali Sidqi19

Bagaimana pengaturan

mengenai pengelolaan

sungai menurut

Peraturan Daerah

(PERDA) Kota

Banjarmasin No. 2

Tahun 2007 serta

sanksi atas

pelanggarannya ?

Penelitian bersifat

deskriptif kualitatif.

Teknik pengumpulan data

dilakukan dengan cara

studi kepustakaan yaitu

menggunakan buku-buku,

peraturan perundang-

undangan, media cetak

dan elektronik serta

dokumen-dokumen lain

yang berkaitan dengan

permasalahan kajian.

Perda merupakan produk

hukum yang dibentuk oleh

Dewan Perwakilan Rakyat

Daerah (DPRD) dengan

persetujuan bersama

Kepala Daerah sesuai

Peraturan Perundang-

Undangan Republik

Indonesia. Materi muatan

perda bertujuan

melaksanakan otonomi

daerah dan tugas

pembantuan serta

menampung kondisi khusus

daerah.

Sungai memiliki manfaat sebagai

sumber daya air bersih, pengarian dan

irigasi, sumber pembangkit listrik,

sarana transportasi, budidaya

perikanan serta sebagai sarana

pariwisata. Menurut Perda Kota

Banjarmasin No. 2 Tahun 2007,

sungai adalah life support system bagi

manusia sebagaimana diatur dalam

UU No. 5 Tahun 1990 tentang

Konservasi Sumber Daya Alam Hayati

dan Ekosistemnya. Pelestarian sungai

sangat diperlukan meliputi penyediaan

air, prasarana transportasi, penyedia

tenaga, prasarana pengaliran

(drainase) serta pariwisata dan

aktivitas sosial budaya. Perda No. 2

Tahun 2007 pada pasal 11 berbunyi :

1. Setiap orang mempunyai hak yang

sama atas kondisi sungai yang baik

dan sehat;

2. Setiap orang mempunyai hak atas

informasi yang berkaitan dengan

peran dalam pengelolaan sungai;

19 Faris Ali Sidqi. Op Cit

Page 3: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulueprints.umm.ac.id/55472/3/BAB_II.pdf · sumber daya air bersih, pengarian dan irigasi, sumber pembangkit listrik, sarana transportasi,

21

No Judul/ Penulis Rumusan Masalah Metode Teori Pembahasan/ Isi

3. Masyarakat dapat berperan aktif

dalam perencanaan, pemanfaatan,

perlindungan dan pengawasan

sungai;

4. Masyarakat wajib ikut serta dalam

menjaga kelestarian fungsi dan

manfaat sungai;

5. Masyarakat dapat membentuk

kelompok yang berperan dalam

pemanfaatan, perlindungan dan

pengawasan sungai.

Terkait sanksi dalam pelanggaran

dalam pelestarian sungai telah

dilaskan dalam pasal 16 yang

menyatakan hukuman pidana

kurungan paling lama 6 (enam)

bulan dan/atau denda paling tinggi

Rp 50.000.000,- (lima puluh juta

rupiah) terhadap masyarakat yang

melakukan perbuatan :

a) Mendirikan bangunan atas

sempadan dan/atau garis sungai;

b) Merusak tebing, pinggiran atau

bantaran sungai;

c) Meletakkan atau menempatkan

suatu benda ke sungai, pinggir

Page 4: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulueprints.umm.ac.id/55472/3/BAB_II.pdf · sumber daya air bersih, pengarian dan irigasi, sumber pembangkit listrik, sarana transportasi,

22

No Judul/ Penulis Rumusan Masalah Metode Teori Pembahasan/ Isi

sungai, sempadan atau garis

sungai, yang berakibat rusaknya

pinggir, sempadan atau garis

sungai.

d) Membuang sampah dan/atau

limbah organik dan non organik

ke sungai, atau pinggir sungai,

atau garis sungai.

e) Menggunakan bahan dan alat

berbahaya untuk mengambil

manfaat dari permukaan dan

dalam sungai;

f) Melaggar rambu-rambu yang

ada diperuntukkan mengatur

penggunaan dan pemanfaatan

sungai;

g) Merubah atau menambah suatu

bangunan yang sudah ada di

bantaran atau sempadan sungai

sebelum perda ini diberlakukan.

2

River and City

Image of

Banjarmasin-

South

Kalimantan/

Parida Angriani

How are the efforts that

have been and are

being done by the

government associated

with the direction of

image improvement in

This research is a

descriptive qualitative.

The data were collected

through field surveys,

Based on P. D.

Buzarboruah, River for

most of people of

Banjarmasin become an

important thing that can use

for physical aspect,

Local government has being restored

the fumction of river area as a program

of them through the Department of

Water Resource and Drainage

(DSDAD). The program has started

from 2008 until now. It refers to the

Page 5: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulueprints.umm.ac.id/55472/3/BAB_II.pdf · sumber daya air bersih, pengarian dan irigasi, sumber pembangkit listrik, sarana transportasi,

23

No Judul/ Penulis Rumusan Masalah Metode Teori Pembahasan/ Isi

dan kawan-

kawan20

Banjarmasin city

development concept ?

documentation and data

from related agencies.

ecological, economy and

social activities.21 The

pattern of river-side

settlements is a cultural

manifestation of

Banjarmasin society that

originally is river-oriented,

but on the other side raises

its own problems mainly

related to laws and

regulations about buildings

built near the land and water

(tivers), or partly on land

and partially on water or all

parts above water.22

Regional Regulation of Banjarmasin

City No. 2 year 2007 on Rover

Management Program. The main

activities are maintenance of large and

small rivers, normalization of large and

small rivers, construction and

maintenance of drainage channels,

revitalization and structuring of river

banks.

3

Identifikasi

Tourism

Business

District di Kota

Banjarmasin/

Noor Aina23

Bagaimana

karakteristik

penawaran destinasi

pariwisata yang ada di

Kota Banjarmasin ?

Penelitian merupakan

jenis penelitian deskriptif.

Teknik pengumpulan data

dilakukan dengan studi

literatur melalui buku,

jurnal serta dokumen-

dokumen pemerintah

Tourism Business District

(TBD) adalah atraksi dalam

pariwisata guna

memperoleh minat

wisatawan dan kegiatan

jasa yang terintegrasi

dengan fungsi pusat kota

Sesuai Rencana Induk Pembangunan

Kepariwisataan Provinsi Kalimantan

Selatan (2011), Sungai Martapura dan

Sungai Barito dengan objek wisata

budaya Pasar Terapung sebagai

potensi kawasan strategis pariwisata

dan destinasi unggulan pariwisata alam

20 Parida Angriani dkk, River and City Image of Banjarmasin-South Kalimantan, Advances in Social Science, Education and Humanities Research (ASSEHR) Journal, 2017, Vol. 147 No. 1,

hlm. 240-244 21 P. D. Buzarboruah dalam Parida Angriani dkk. Ibid, hlm. 240 22 S. B. Utomo dan J. Prijotomo dalam Parida Angriani dkk. Ibid, hlm. 241 23 Noor Aina, Identifikasi Tourism Business District di Kota Banjarmasin, Jurnal Arsitektur Manusia dan Lingkungan (JAMANG), 2019, Vol. I No. 1, hlm. 34-40

Page 6: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulueprints.umm.ac.id/55472/3/BAB_II.pdf · sumber daya air bersih, pengarian dan irigasi, sumber pembangkit listrik, sarana transportasi,

24

No Judul/ Penulis Rumusan Masalah Metode Teori Pembahasan/ Isi

tentang pariwisata seperti

RIPDA Provinsi

Kalimantan Selatan dan

Analisis Pasar Pariwisata.

atau Center Business

District (CBD).24 Destinasi

wisata harus memiliki

elemen-elemen yang saling

bergantung satu sama lain

untuk menunjang kepuasan

liburan wisatawan. Elemen-

elemen tersebut meliputi

atraksi, fasilitas

infrastruktur, transportasi

dan keramahan.25

Kota Banjarmasin. Zona Core

Attraction atau wilayah yang menjadi

konsentrasi wisata Kota Banjarmasin

adalah sepanjang tepian Sungai

Martapura. Potensi wisata yang berada

di pusat kota seperti Kampung

Heritage, atraksi budaya Pasar

Terapung dan Kawasan Siring Sungai

Martapura, Pusat Perbelanjaan

Tradisional di Pasar Sudimampir serta

Pusat Perbelanjaan Modern di Duta

Mall Banjarmasin. Hal tersebut

menjadi magnet bagi wisatawan

hingga ke wilayah Kalimantan Tengah.

Zona Central Business District (CBD)

meliputi wilayah kantor pemerintahan,

perkantoran swasta maupun publik,

retail serta gedung pertemuan sehingga

dapat mendukung infrastruktur danj

fasilitas fungsi pusat kota. Zona

Essential Service adalah wilayah

penting yang menunjang wisatawan

dalam melakukan wisata di Kota

Banjarmasin. Penyediaan fasilitas jalur

pejalan kaki terdapat di kawasan TBD

24 Getz dalam Noor Aina. Ibid, hlm. 35 25 Mill dan Marrison dalam Noor Aina. Ibid

Page 7: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulueprints.umm.ac.id/55472/3/BAB_II.pdf · sumber daya air bersih, pengarian dan irigasi, sumber pembangkit listrik, sarana transportasi,

25

No Judul/ Penulis Rumusan Masalah Metode Teori Pembahasan/ Isi

namun masih berstandar minim,

fasilitas tempat makan dan/atau

restoran banyak tersedia di kawasan

TBD serta fasilitas akomodasi dan

informasi wisata juga tersedia di pusat

konsentrasi wisatawan di menara

pandang Siring Sungai Martapura.

4

Potensi dan

Strategi

Pengembangan

Destinasi

Wisata Sungai

Sebagai Daya

Tarik Pariwisata

Kota

Banjarmasin/

Rasyida Nur

Hafidha dan Lea

Emilia Farida26

Bagaimana potensi dan

strategi pengembangan

destinasi wisata sungai

sebagai daya tarik

pariwisata kota

Banjarmasin ?

Jenis penelitian adalah

deskriptif. Teknik

pengumpulan data berupa

observasi dan

dokumentasi. Teknik

analisis data berupa

analisis statistik

deskriptif.

Banjarmasin memiliki potensi

destinasi wisata yang bisa dikunjungi

pengunjung seperti Tugu Maskot

Bekantan, Rumah Anno 1925, Pasar

Terapung, Siring Sungai Martapura

dan Menara Pandang Siring serta Pulau

Kembang dan Pulau Bakut. Wisatawan

yang berkunjung ke Banjarmasin

mengalami peningkatan setiap

tahunnya baik dari dalam negeri

maupun luar negeri. Hal tersebut juga

tidak terlepas dari strategi

pengembangan wisata sungai di Kota

Banjarmasin, antara lain :

1. Pengelolaan jejaring sosial seperti

Facebook, Twitter, Instagram,

26 Rasyida Nur Hafidha & Lea Emilia Farida, Potensi dan Strategi Pengembangan Destinasi Wisata Sungai Sebagai Daya Tarik Pariwisata Kota Banjarmasin, Prosiding Seminar Nasional

ASBIS, 2018, hlm. 447-458

Page 8: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulueprints.umm.ac.id/55472/3/BAB_II.pdf · sumber daya air bersih, pengarian dan irigasi, sumber pembangkit listrik, sarana transportasi,

26

No Judul/ Penulis Rumusan Masalah Metode Teori Pembahasan/ Isi

Youtube, dan sebagainya. Selain itu,

juga menggunakan metode mouth to

mouth;

2. Meningkatkan jumlah website

pariwisata Kota Banjarmasin dan

melakukan update informasi serta

konten yang ada di dalamnya;

3. Meningkatkan ekonomi kreatif

sebagai produk daerah dengan

melibatkan masyarakat lokal;

4. Membangun kerjasama antara

Pemerintah Kota Banjarmasin

dengan penyelenggara seperti agen

biro perjalanan, penyelenggara

tempat wisata, pengusaha jasa

akomodasi dan lainnya;

5. Menciptakan daya tarik yang

berkesan bagi wisatawan seperti

adanya atraksi-atraksi wisata

daerah;

6. Merumuskan kebijakan yang

mendukung mutu pelayanan

pariwisata dan kelestarian

lingkungan pariwisata;

7. Menggelar event rutin seperti

Festival Budaya Pasar Terapung

guna menarik wisatawan;

Page 9: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulueprints.umm.ac.id/55472/3/BAB_II.pdf · sumber daya air bersih, pengarian dan irigasi, sumber pembangkit listrik, sarana transportasi,

27

No Judul/ Penulis Rumusan Masalah Metode Teori Pembahasan/ Isi

8. Menggalakkan wisata susur sungai

yang merupakan perjalanan wisata

sungai terpadu;

9. Perbaikan sarana dan prasaran yang

mendukung pariwisata tersebut.

5

Analisis

Pengaruh

Pembangunan

Objek Wisata

Sungai

Terhadap

Pendapatan

Masyarakat

Lokal dan

Pedagang

Tradisional

(Studi Pada

Objek Wisata

Menara

Pandang Piere

Tendean

Banjarmasin)/

Gusti Marliani27

Bagaimana pengaruh

pembangunan objek

wisata sungai terhadap

pendapatan masyarakat

lokal dan pedagang

tradisional di objek

wisata Menara

Pandang Pierre

Tendean Banjarmasin ?

Penelitian bersifat

deskriptif kuantitatif.

Subjek penelitian adalah

masyarakat lokal dan

pedagang tradisional di

sekitar Menara Pandang

Pierre Tendean. Teknik

pengumpulan data

dilakukan dengan cara

observasi, dokumentasi

dan metode angket

(kuisioner).

Pembangunan suatu

kawasan yang di dalamnya

terdapat kesamaan atau

kemiripan dalam

kemampuan berkembang,

kondisi lokasi, kondisi fisik

serta keberadaan sarana

transportasi merupakan

sebuah proyek positif dalam

mengalokasikan dana

investasi pembangunan

yang akan berjalan secara

efektif dan efisien.28

Adanya pembangunan wisata Siring

Sungai Martapura memberikan

pengaruh terhadap pendapatan

masyarakat lokal dan pedagang

tradisional. Meningkatnya pendapatan

masyarakat lokal dan pedagang

tradisional tersebut menjadikan

pembangunan dan promosi wisata

Kota Banjarmasin memiliki dampak

positif dan manfaat serta mendorong

perekonomian masyarakat lokal dan

pedagang tradisional sekitar.

27 Gusti Marliani. Op Cit 28 Adisasmita dalam Gusti Marliani. Ibid, hlm. 35

Page 10: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulueprints.umm.ac.id/55472/3/BAB_II.pdf · sumber daya air bersih, pengarian dan irigasi, sumber pembangkit listrik, sarana transportasi,

28

No Judul/ Penulis Rumusan Masalah Metode Teori Pembahasan/ Isi

6

Strategi

Pengembangan

Kawasan Wisata

Pasar Terapung

Berbasis

Kearifan Lokal

di Kota

Banjarmasin/

Desy Sugianti

dan Shellyana

Junaedi29

1. Bagaimana bentuk

kearifan lokal

masyarakat dalam

pengelolaan kawasan

pasar terapung di

Banjarmasin?

2. Bagaimana strategi

pengembangan

kawasan wisata

Pasar Terapung di

Banjarmasin yang

berbasis kearifan

lokal ?

Metode penelitian

menggunakan triangulasi

kualitatif deskriptif

dengan kuantitatif analisis

SWOT. Teknik

pengumpulan data berupa

identifikasi, wawancara

dan dokumentasi.

Sedangkan, teknik

sampling menggunakan

teknik purposive

sampling yaitu sampel

dipilih secara sengaja

dengan tujuan tertentu.

Penelitian dilakukan di

Pasar Terapung Muara

Kuin, Pasar Terapung

Siring Sungai Martapura

serta Kawasan Wisata

Siring Sungai Martapura.

Menurut UU No. 9 Tahun

2009 tentang

Kepariwisataan, destinasi

pariwisata adalah kawasan

geografis yang berada

dalam satu atau lebih

wilayah administratif yang

di dalamnya terdapat daya

tarik wisata, fasilitas

umum, fasilitas pariwisata,

aksesibilitas, serta

masyarakat yang saling

terkait dan melengkapi

terwujudnya

kepariwisataan.30

Pemerintah menghadirkan Pasar

Terapung Siring sebagai upaya untuk

mempermudah akses wisatawan, tetapi

berdampak buruk dengan tidak

hadirnya pemerintah dalam

pengelolaan Pasar Terapung Kuin.

Ketersedian fasilitas umum dan

fasilitas pariwisata sebagai kebutuhan

penunjang pariwisata lebih banyak

dilaksanakan pemerintah terhadap

Pasar Terapung Siring daripada Pasar

Terapung Kuin. Masyarakat dan

pedagang di Pasar Terapung Siring

cenderung telah sadar akan potensi

pariwisata sehingga dapat berdampak

terhadap peningkatan ekonomi

daripada di Pasar Terapung Kuin.

7 Moral Ekonomi

Para Pedagang

Pasar Terapung

Bagaimana penerapan

moral ekonomi para

pedagang pasar

Metode penelitian

menggunakan pendekatan

kualitatif yang bersifat

Menurut Wilk32, moral

ekonomi merupakan

norma-norma tradisional

Para pedagang pasar terapung

berpedoman pada moral ekonomi

Kebudayaan Banjar dalam melakukan

29 Desi Sugianti dan Shellyana Junaedi. Op Cit 30 UU No. 9 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan 32 Wilk dalam M Fauzan Kurni dan J Emmed M P. Ibid, hlm. 4

Page 11: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulueprints.umm.ac.id/55472/3/BAB_II.pdf · sumber daya air bersih, pengarian dan irigasi, sumber pembangkit listrik, sarana transportasi,

29

No Judul/ Penulis Rumusan Masalah Metode Teori Pembahasan/ Isi

di Sungai

Martapura, Lok

Baintan,

Banjarmasin/ M

Fauzan Kurni

dan J. Emmed M

P31

terapung dalam

kegiatan ekonomi di

pasar terapung maupun

di rumah tangga ?

deskriptif. Teknik

pengumpulan data berupa

observasi dan wawancara

dan studi literatur.

yang menitikberatkan pada

status sosial individu dalam

pertukaran ekonomi

sehingga lebih dominan

pada nilai sosialnya.

Menurut Scott33, moral

ekonomi dalam kehidupan

peasant pedesaan mengacu

pada prinsip hubungan

timbal balik dan hak atas

subsistensi. Prinsip

hubungan timbal balik

merupakan acuan dalam

kehidupan bermasyarakat

sedangkan prinsip hak atas

subsistensi menjadi

pedoman kebutuhan

minimal yang harus

terpenuhi.

kegiatan ekonomi. Hal tersebut

dibuktikan dengan tolong menolong

sesama pedagang maupun lingkungan

tempat tinggal, konsep berhutang,

pengambilan keputusan dan

manajemen keuangan dalam rumah

tangga, tawar menawar, menabung,

kepercayaan (trust) serta riba.

Berhutang merupakan hal yang biasa

bagi para pedagang di pasar terapung.

Konsep berhutang misalnya pedagang

A mengambil barang kepada pedagang

B, kemudian setelah dijual oleh

pedagang B dan memperoleh

keuntungan, pedagang B membayar

hutangnya kepada pedagang A.

Konsep tolong menolong juga

diterapkan sebagai moral ekonomi

para pedagang pasar terapung yang

menganggap sesama pedagang bukan

saingan. Hal tersebut dicontohkan

seperti misalnya sedang kehabisan

plastik untuk bungkus dagangan, maka

pedagang lain akan memberikan

plastik. Para pedagang di pasar

31 M. Fauzan Kurni dan J. Emmed M. P., Moral Ekonomi Para Pedagang Pasar Terapung di Sungai Martapura, Lok Baintan, Banjarmasin, Naskah Ringkas, 2014, hlm. 1-22 33 Scott dalam M Fauzan Kurni dan J Emmed M P. Ibid

Page 12: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulueprints.umm.ac.id/55472/3/BAB_II.pdf · sumber daya air bersih, pengarian dan irigasi, sumber pembangkit listrik, sarana transportasi,

30

No Judul/ Penulis Rumusan Masalah Metode Teori Pembahasan/ Isi

terapung sejatinya bekerja hanya untuk

membantu meringankan pekerjaan

suami. Masyarakat Banjar memiliki

pedoman hidup yang mengharuskan

suami mencari nafkah dan istri

mengurus rumah atau bisa membantu

meringankan pekerjaan suami seperti

yang dilakukan pedagang pasar

terapung.

8

The Role of

Local

Government for

Local Product

Processing : the

Implication for

Tourism

Sustainability in

Lok Baintan

Floating

Market/ Deasy

Arisanty dan

kawan-kawan34

How is the role of

government for local

product processing in

Lok Baintan Floating

Market to improve the

tourism activity ?

The research is located on

Lok Baintan Floating

Market in Banjar

Regency, South

Kalimantan. The study

used fieldwork and

qualitative approach. The

data collected through

observation, depth

interview and document.

Data analysis consisted of

data grouping, data

The role of government is

important for tourism

industry development. It

depends on the quality of

the product. The most

important thing in the

tourism industry is who

pays for the product and

who benefits from it.35 The

government as the

motivator, facilitator and

dynamist. All of that is for

tourism industry

Local government of Banjar Regency

on Agriculture and Farm Agency has

never implements processing of

agricultural product program in Lok

Baintan. It cause of the limitation of

cost. In addition, the local government

has never applied to assist the

management of plantation products.

Also, on fishery product has never

been implemented by Fishery Agency

of Banjar Regency. Based on both of

them, we can connect that the quality

of products in Lok Baintan still has to

increase, especially on processing of

34 Deasy Arisanty dkk, The Role of Local Government for Local Product Processing : the Implication for Tourism Sustainability in Lok Baintan Floating Market, Journal of Indonesian

Tourism and Development Studies, Vol. 7 No. 1, hlm. 7-12 35 Shone, M. C. dalam Deasy Arisanty dkk. Ibid, hlm. 7

Page 13: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulueprints.umm.ac.id/55472/3/BAB_II.pdf · sumber daya air bersih, pengarian dan irigasi, sumber pembangkit listrik, sarana transportasi,

31

No Judul/ Penulis Rumusan Masalah Metode Teori Pembahasan/ Isi

reduction, data display

and conclusion drawing.

development goal.36 The

role of local government is

also important for driving

the sustainability of the

tourism agenda and provide

a good environment for the

private sector, local

community, tourists and

other stakeholders for

tourism sustainability.37

goods. Processing of raw goods into

finished goods is an important think

which local governments still have not

made a training for that. The

processing of raw consist of agriculture

and fishery, and handicraft items. It

also be an important thing when

domestic or international tourists are

coming and looking for the products or

goods that can brought to their home.

36 Adi dkk dalam Deasy Arisanty. Ibid 37 Brokaj dalam Deasy Arisanty. Ibid

Page 14: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulueprints.umm.ac.id/55472/3/BAB_II.pdf · sumber daya air bersih, pengarian dan irigasi, sumber pembangkit listrik, sarana transportasi,

32

Taksonomi yang telah dibuat terdiri dari jurnal-jurnal pilihan yang peneliti

dapatkan guna mendukung penelitian ini. Jurnal-jurnal tersebut diambil dari

peneliti lain yang memiliki kesamaan tema tetapi terdapat perbedaan di antaranya.

Hal ini dimaksudkan untuk menambah modal penelitian ini seperti teori, data-data

awal, serta permasalahan yang telah dibahas. Penelitian terdahulu karena itu

menjadi penting sehingga penelitian ini menjadi terarah dan menjadi sumbangsih

dalam pembangunan di daerah.

Jurnal-jurnal penelitian terdahulu yang telah dibuat taksonomi di atas telah

menjelaskan beberapa masalah melalui pembahasan pada jurnal-jurnal tersebut.

Permasalahan mulai dari aturan tentang pengelolaan sungai yang diatur dalam

Peraturan Daerah Kota Banjarmasin Nomor 2 Tahun 2007. Peraturan tersebut telah

mengatur terkait hak dan kewajiban masyarakat bersama pemerintah atas sungai di

Kota Banjarmasin beserta sanksi-sanksinya. Pemerintah daerah juga telah membuat

program-program dalam pengelolaan sungai yang berlandaskan pada peraturan

tersebut di antaranya membersihkan dan merapikan sungai-sungai besar maupun

kecil, melaksanakan pembangunan dan perawatan terhadap sistem drainase,

melakukan revitalisasi dan menata kawasan tepian sungai. Penataan kawasan tepian

sungai salah satunya diimplementasikan melalui kawasan Siring Sungai Martapura.

Pembangunan infrastruktur sangat penting dalam menunjang kegiatan

pariwisata di Kota Banjarmasin. Analisis Tourism Business District (TBD) di Kota

Banjarmasin menilai fasilitas pariwisata cukup dapat menunjang wisatawan

walaupun masih belum sepenuhnya baik. Keberadaan Zona Core Attraction,

Central Business District (CBD), Zona Essential Service serta Tourism Business

District (TBD) yang cukup menunjang menjadikan Kota Banjarmasin sebagai

Page 15: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulueprints.umm.ac.id/55472/3/BAB_II.pdf · sumber daya air bersih, pengarian dan irigasi, sumber pembangkit listrik, sarana transportasi,

33

magnet wisatawan dari seluruh penjuru Kalimantan Selatan bahkan sampai ke

Provinsi Kalimantan Tengah. Beberapa hal tetap ada yang harus diperbaiki seperti

jalur pejalan kaki (trotoar), jembatan penyeberangan dan lain sebagainya.

Wisatawan yang berkunjung ke Kota Banjarmasin selalu mengalami

peningkatan setiap tahunnya. Hal tersebut tidak terlepas dari strategi

pengembangan wisata berupa promosi berbasis teknologi, ekonomi kreatif,

kerjasama dengan agen wisata, kebijakan pendukung mutu pelayanan wisata,

penambahan destinasi wisata serta event tahunan Kota Banjarmasin. Adanya

pembangunan kawasan Siring Sungai Martapura juga menjadi ikon wisata baru

bagi Kota Banjarmasin sejak 2013. Penambahan pasar terapung Siring Sungai

Martapura pada tahun 2015 juga melengkapi wisata Kota Banjarmasin serta

berdampak baik bagi peningkatan pendapatan masyarakat lokal dan pedagang

tradisional. Adanya pasar terapung baru tersebut justru juga menjadikan pasar

terapung Muara Kuin yang telah ada sejak ratusan tahun lalu menjadi terancam

eksistensinya. Hal ini dikarenakan pemerintah fokus pada pasar terapung Siring

Sungai Martapura sehingga pasar terapung Muara Kuin kurang diperhatikan.

Para pedagang tradisional pasar terapung dalam melakukan kegiatan

ekonomi berpedoman pada moral ekonomi kebudayaan Banjar. Hal ini dicontohkan

salah satunya ketika mengambil barang dagangan. Pedagang biasnya mengambil

barang dagangan kepada pedagang lainnya untuk dijual. Setelah mendapat

keuntungan, barulah pedagang tersebut melunasi hutangnya. Barang dagangan

yang dijual tersebut kebanyakan barang mentah seperti buah-buahan, sayuran dan

ikan asin dalam satuan yang besar (biasanya hitungan keranjang). Hal ini dapat

terlihat bahwa pedagang belum bisa menjual dagangan menyesuaikan zaman.

Page 16: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulueprints.umm.ac.id/55472/3/BAB_II.pdf · sumber daya air bersih, pengarian dan irigasi, sumber pembangkit listrik, sarana transportasi,

34

Masalah inilah yang harus menjadi perhatian pemerintah dalam memberikan

pelatihan mengolah barang mentah menjadi barang jadi. Pemerintah selama ini

belum fokus dalam memberikan pelatihan dalam mengolah produk bagi para

pedagang pasar terapung tersebut.

Posisi peneliti berdasarkan penjelasan di atas berfokus pada kebijakan pada

pengelolaan sungai integratif antara pemerintah daerah dengan masyarakat dan

swasta dalam mengembangkan wisata di Kota Banjarmasin. Pengembangan wisata

yang dimaksud adalah penyediaan sarana dan prasarana serta atraksi wisata.

Penelitian ini mengacu pada penelitian terdahulu serta teori-teori yang akan

diuraikan pada subbab berikutnya.

2.2 Kerangka Teori

A. Kebijakan

Kebijakan dikenal sebagai suatu upaya pemerintah dalam melaksanakan

pembangunan. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan “kebijakan”

sebagai konsep dan asas yang memuat dasar-dasar dalam melakukan pekerjaan,

kepemimpinan serta cara bertindak.38 Kebijakan berdasarkan penjelasan tersebut

menjadi dasar bagi seseorang dalam bertindak dan mengerjakan sesuatu khususnya

sektor publik.

Berbagai definisi kebijakan disampaikan oleh para ahli. Said Zainal Abidin39

di dalam bukunya berjudul Kebijakan Publik, mengutip pendapat beberapa ahli

tentang definisi kebijakan. Dye misalnya mengartikan kebijakan sebagai pilihan

38 Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) melalui Pencarian dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Online: https://kbbi.web.id, diakses pada 19 Agustus 2019 39 Said Zainal Abidin. Op Cit, hlm. 5

Page 17: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulueprints.umm.ac.id/55472/3/BAB_II.pdf · sumber daya air bersih, pengarian dan irigasi, sumber pembangkit listrik, sarana transportasi,

35

pemerintah untuk melakukan ataupun tidak melakukan suatu tindakan. David

Easton mengartikan kebijakan sebagai “kekuasaan pengalokasian nilai-nilai bagi

masyarakat secara menyeluruh”. Laswell dan Kaplan mengartikan kebijakan lebih

sebagai “program yang diproyeksikan berkenaan dengan tujuan, nilai dan praktik”.

Prof. Drs. Budi Winarno40 di dalam bukunya berjudul “Kebijakan Publik :

Teori, Proses dan Studi Kasus” menjelaskan berbagai definisi kebijakan dari

beberapa ahli. Eyestone menjelaskan bahwa kebijakan dapat didefinisikan sebagai

hubungan suatu unit pemerintahan dengan lingkungannya. Definisi tersebut

menurutnya masih terlalu luas dan kurang pasti dalam memahami definisi

kebijakan karena mencakup banyak hal. Richard Rose mengartikan kebijakan

sebagai serangkaian kegiatan yang saling terhubung beserta konsekuensinya

terhadap pelaku kebijakan tersebut. Definisi ini sebenarnya bersifat ambigu, namun

memiliki makna bahwa kebijakan dipahami sebagai pola kegiatan bukan sebagai

keputusan belaka.

Proses pembuatan kebijakan merupakan rangkaian kegiatan yang kompleks.

Proses ini membahas mulai dari pengumpulan masalah hingga penilaian kebijakan

yang kemudian memutuskan kebijakan tersebut harus diubah atau dihentikan.

Peneliti dalam pembahasan subbab ini menggunakan pendapat William Dunn41

tentang proses pembuatan kebijakan.

40 Prof. Drs. Budi Winarno, Kebijakan Publik : Teori, Proses dan Studi Kasus, Jakarta, CAPS (Center of

Academic Publishing Service), cetakan ke-2, 2014, hlm. 20 41 William Dunn dalam Budi Winarno. Ibid, hlm. 35-37.

Penyusunan

Agenda

Adopsi

Kebijakan

Formulasi

Kebijakan

Implemen-

tasi

Kebijakan

Evaluasi

Kebijakan

Page 18: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulueprints.umm.ac.id/55472/3/BAB_II.pdf · sumber daya air bersih, pengarian dan irigasi, sumber pembangkit listrik, sarana transportasi,

36

Tahap penyusunan agenda merupakan tahap penyeleksian kebijakan. Pejabat

yang dipilih atau diangkat menyeleksi masalah-masalah untuk dimasukkan ke

dalam agenda kebijakan. Berbagai permasalahan tersebut pada akhirnya setelah

diseleksi kemudian disusun berdasarkan prioritas pembahasannya.

Tahap formulasi kebijakan akan membahas masalah-masalah yang telah

masuk ke dalam agenda kebijakan. Para pembuat kebijakan pada tahap ini akan

mencari pemecahan masalah terbaik menggunakan berbagai pilihan kebijakan

(policy option). Berbagai pilihan kebijakan akan bersaing untuk menjadi

pemecahan masalah terbaik. Para aktor akan berkompetisi dalam mengusulkan

pemecahan masalah terbaik.

Tahap adopsi kebijakan merupakan hasil dari seleksi pilihan kebijakan. Salah

satu pilihan kebijakan yang ditawarkan oleh berbagai perumus kebijakan akan

diadopsi sebagai kebijakan. Adopsi kebijakan tersebut ditandai dengan dukungan

dari mayoritas legislator, konsensus antara pimpinan lembaga atau keputusan

peradilan.

Tahap implementasi kebijakan mengharuskan adanya pelaksanaan kebijakan

di semua badan administrasi dan agen-agen pemerintah di tingkat bawah. Kebijakan

yang telah diambil tersebut kemudian dilaksanakan oleh unit-unit administrasi di

tingkat bawah dengan memobilisasi sumber daya finansial dan manusia. Berbagai

kepentingan pada tahap ini juga akan bersaing dengan didukung atau ditentang oleh

para pelaksana kebijakan di tingkat bawah.

Tahap evaluasi kebijakan bukan merupakan tahap akhir dalam rangkaian

kebijakan. Tahap ini merupakan penilaian atau evaluasi terhadap kebijakan yang

Page 19: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulueprints.umm.ac.id/55472/3/BAB_II.pdf · sumber daya air bersih, pengarian dan irigasi, sumber pembangkit listrik, sarana transportasi,

37

telah dilaksanakan. Tahap ini akan melihat sejauh mana dampak kebijakan tersebut

dalam memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat. Ukuran-ukuran atau

kriteria-kriteria untuk menilai kebijakan publik kemudian ditentukan dalam meraih

dampak yang diinginkan. Tahap akhir dalam proses pembuatan kebijakan adalah

perubahan kebijakan dan terminasi (penghentian kebijakan).

B. Pengelolaan Sungai Integratif

Pengelolaan DAS (Daerah Aliran Sungai) terpadu atau peneliti menyebutnya

dengan pengelolaan sungai integratif merupakan kerjasama berbagai unsur dari

pemerintah, masyarakat dan bahkan swasta yang terintegrasi dalam mengurusi

permasalahan sungai. Unsur-unsur tersebut pada pelaksanaannya berbagi

kewenangan sesuai bidangnya masing-masing. Hal ini lebih menekankan pada

pengelolaan lintas sektoral dan koordinasi masing-masing unsur.

Haeruman42 berpendapat bahwa pengelolaan terpadu merupakan

pengembangan keserasian tujuan antar sistem dalam mengelola sumber daya alam.

Hal itu berarti sumber daya dikelola oleh banyak pihak yang memiliki berbagai

kepentingan namun tetap berkaitan satu sama lain. Haeruman selanjutnya

menjelaskan tentang beberapa indikator yang harus dicapai dalam pengelolaan

terpadu. Pertama, terkoordinasinya berbagai aktor yang memiliki keterkaitan

kepentingan dalam suatu sistem guna mencapai keserasian tujuan. Kedua,

memadukan berbagai kepentingan pemanfaatan, penataan, pemeliharaan,

pengawasan, pengendalian dan pengembangan ke dalam suatu sistem yang

terintegrasi.

42 Haeruman dalam Sudaryono. Op Cit, hlm. 154

Page 20: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulueprints.umm.ac.id/55472/3/BAB_II.pdf · sumber daya air bersih, pengarian dan irigasi, sumber pembangkit listrik, sarana transportasi,

38

Pengelolaan sungai harus dilaksanakan secara integratif untuk memadukan

berbagai kepentingan dalam mencapai keserasian tujuan. Hal ini merupakan tujuan

dari adanya integrasi pengelolaan sungai. Notohadiprawiro43 menjelaskan

setidaknya ada tiga alasan pengelolaan DAS harus dilaksanakan secara terpadu.

Pertama, adanya keterkaitan dalam pengelolaan sumber daya alam dan pembinaan

aktivitas manusia di dalamnya. Kedua, multidisiplin ilmu merupakan ciri dalam

mengelola DAS. Ketiga, tidak ada instansi yang memiliki kewenangan secara utuh

dalam pengelolaannya, karena penyelenggaraannya bersifat lintas sektoral.

C. Collaborative Governance

Istilah Collaborative Governance atau pemerintahan kolaboratif merupakan

salah satu model pemerintahan untuk mengatasi permasalahan masyarakat.

Pemerintah pada model ini membuka kerjasama dengan berbagai pihak dalam

mengelola suatu urusan atau permasalahan. Salah satu bentuk dari Collaborative

Governance adalah Public Private Partnership (PPP). Pemerintah biasanya

berkolaborasi dengan pihak swasta dalam suatu kebijakan.

Nurul Dwi Purwanti44 banyak mengutip pendapat para ahli terkait definisi

Collaborative Governance di dalam buku karya kolektif yang berjudul “Kebijakan

Publik dan Pemerintahan Kolaboratif : Isu-Isu Kontemporer”. Menurut Cordery

dan Hartman, Collaborative Governance dapat diartikan sebagai suatu proses yang

melibatkan berbagai stakeholder yang saling terikat guna mengusung kepentingan

masing-masing dalam mencapai tujuan yang sama. Dwiyanto menjelaskan bahwa

43 Notohadiprawiro dalam Sudaryono. Ibid 44 Agustinus Subarsono dkk, Kebijakan Publik dan Pemerintahan Kolaboratif : Isu-Isu Kontemporer,

Yogyakarta: Penerbit Gava Media, 2016, hlm. 175-178

Page 21: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulueprints.umm.ac.id/55472/3/BAB_II.pdf · sumber daya air bersih, pengarian dan irigasi, sumber pembangkit listrik, sarana transportasi,

39

Collaborative Governance mencakup kesamaan visi, tujuan, strategi dan aktivitas

dari para pelaku yang berbeda namun tetap independen dalam menjalankan roda

organisasi masing-masing walaupun terikat dalam kesepakatan bersama.

Ansell dan Gash45 mendefinisikan Collaborative Governance sebagai suatu

aturan yang mengatur kerjasama antara lembaga publik maupun pemangku

kepentingan non publik yang terlibat secara langsung dalam pengambil keputusan

bersama (kolektif) yang bersifat formal, berorientasi konsensus, dan musyawarah

dengan tujuan untuk membuat dan/atau mengimplementasikan kebijakan publik

atau mengelola program atau aset publik. Nurul Dwi Purwanti kemudian

merumuskan enam kata kunci maksud dari definisi tersebut. Pertama, forum

tersebut diinisiasi oleh lembaga publik maupun aktor-aktornya. Kedua, peserta

terdiri dari aktor publik maupun non publik. Ketiga, para peserta terlibat langsung

dalam pengambilan keputusan termasuk usul dari aktor-aktor non publik. Keempat,

forum diorganisir secara formal dan pertemuan diadakan secara bersama-sama.

Kelima, forum berorientasi pada konsensus. Keenam, fokus kolaborasi adalah

kebijakan publik dan manajemen publik.

Suharyanto menjelaskan dua prinsip46 dalam Collaborative Governance.

Pertama, keserasian dan keterpaduan antara kebijakan fiskal, moneter, anggaran

dan sektor riil. Prinsip pertama ini bertujuan untuk mendorong peningkatan

efisiensi, produktivitas, stabilitas, pemerataan alokasi, dan pemanfaatan sumber

daya ekonomi. Kedua, prinsip pemberdayaan (empowering). Prinsip ini mendorong

peran partisipatif masyarakat dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan

45 Ansel dan Gash dalam Agustinus Subarsono dkk. Ibid 46 Suharyanto dalam Agustinus Subarsono dkk. Ibid, hlm. 185-186

Page 22: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulueprints.umm.ac.id/55472/3/BAB_II.pdf · sumber daya air bersih, pengarian dan irigasi, sumber pembangkit listrik, sarana transportasi,

40

pengawasan pembangunan. Peran pemerintah pada prinsip ini adalah mengurangi

hambatan dan kendala peran partisipatif masyarakat serta memberikan kesempatan

kepada masyarakat untuk belajar dan berperan aktif dalam memanfaatkan dan

mendayagunakan sumber daya produktif.

D. Pengembangan Wisata

Pengembangan wisata berpedoman pada konsep wisata berkelanjutan

(Sustainable Tourism) serta konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable

development). Kedua istilah tersebut merupakan konsep dalam mengelola suatu

bidang. Terdapat kata ‘berkelanjutan’ yang dapat diartikan sebagai suatu proses

yang berjalan terus menerus. Pengembangan wisata karenanya merupakan salah

satu bentuk dari konsep wisata berkelanjutan dan konsep pembangunan

berkelanjutan. Pengembangan tersebut secara terus-menerus selalu ada dengan

desain-desain yang senantiasa diperbaharui menyesuaikan keadaan yang dinamis.

Istilah tourism policy menurut Goeldner47 dapat diartikan sebagai

sekumpulan aturan, ketentuan, tujuan, dan strategi untuk kebutuhan

pengembangan/promosi pariwisata yang dijadikan dasar dalam pengambilan

keputusan baik secara kolektif maupun individual yang akan mempengaruhi

pengembangan wisata secara langsung serta pola kehidupan masyarakat sehari-hari

pada destinasi tersebut. Penjelasan tersebut dijelaskan kembali oleh Marceilla

Hidayat bahwa kebijakan pariwisata mencoba untuk memberikan pengalaman

yang berkualitas bagi pengunjung. Kebijakan pariwisata selain itu juga mencoba

47 Goeldner dalam Marceilla Hidayat, Strategi Perencanaan dan Pengembangan Objek Wisata (Studi Kasus

Pantai Pangandaran Kabupaten Ciamis Jawa Barat). Toursim and Hospitally Essentials (THE) Journal, 2011 Vol. I No. 1, hlm. 33-44

Page 23: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulueprints.umm.ac.id/55472/3/BAB_II.pdf · sumber daya air bersih, pengarian dan irigasi, sumber pembangkit listrik, sarana transportasi,

41

memberikan profit kepada stakeholder destinasi dan tidak dikompromi dalam

integritas lingkungan, sosial dan budaya. Maksud dari pernyataan tersebut adalah

kebijakan pariwisata berupaya memberikan kesan terbaik bagi pengunjung dengan

harapan pengunjung tersebut dapat kembali lagi ke destinasi tersebut. Kebijakan

pariwisata juga mengharapkan masyarakat sekitar destinasi memperoleh

keuntungan, salah satunya dengan peningkatan ekonomi masyarakat.

Terdapat 7 fungsi48 yang dapat diambil dari adanya kebijakan pariwisata.

Pertama, mensosialisasikan ketentuan-ketentuan bagi para pelaku yang

menjalankan dan mengelola pariwisata. Kedua, sebagai arahan dan rujukan bagi

stakeholder pariwisata dalam suatu daerah destinasi tertentu. Ketiga, mengontrol

aktivitas dan perilaku semua pihak dalam pariwisata. Keempat, sebagai fasilitator

konsensus dalam suatu daerah destinasi tertentu. Kelima, sebagai kerangka dalam

diskusi publik/swasta tentang peran dan kotribusi sektor pariwisata terhadap

ekonomi dan masyarakat umum. Keenam, menambah keterkaitan hubungan sektor

swasta dengan sektor-sektor lain.

Inskeep49 menjelaskan 8 pendekatan yang menjadi pertimbangan dalam

perencanaan pariwisata. Pertama, Continuous Incremental and Flexible Approach

merupakan perencanaan pariwisata dilihat sebagai proses yang berlangsung secara

terus-menerus dengan didasarkan pada kebutuhan wisatawan dan timbal balik dari

destinasi wisata. Kedua, System Approach memandang pariwisata sebagai suatu

sistem dan harus direncanakan. Ketiga, Comprehensive Approach merupakan

pendekatan holistik dalam memandang pariwisata secara menyeluruh . Keempat,

48 Ibid 49 Inskeep dalam Marceilla Hidayat. Ibid, hlm. 35

Page 24: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulueprints.umm.ac.id/55472/3/BAB_II.pdf · sumber daya air bersih, pengarian dan irigasi, sumber pembangkit listrik, sarana transportasi,

42

Integrated System merupakan pendekatan pariwisata yang berhubungan dengan

pendekatan sistem dan pendekatan komprehensif di mana pariwisata harus

dilakukan secara terintegrasi sebagai sebuah kesatuan yang utuh. Kelima,

Environmental and Sustainable Development Approach merupakan pembangunan

pariwisata dengan tidak merusak lingkungan sekitar sehingga sumber daya alam dan

budaya yang ada tetap dapat dilestarikan. Keenam, Community Approach

merupakan pendekatan pariwisata yang menekankan pada keterlibatan masyarakat

lokal dalam perencanaan dan pengambilan keputusan sektor pariwisata. Ketujuh,

Implementable Approach merupakan penerapan pariwisata dengan

memformulasikan kebijakan, rencana dan rekomendasi melalui teknik

implementasi meliputi pengembangan, program aksi atau strategi. Kedelapan,

Application of Systematic Planning Approach merupakan pendekatan dalam

perencanaan pariwisata yang didasarkan pada logika dan aktivitas.

McIntyre50 mengemukakan ada 3 prinsip utama dalam pembangunan

berkelanjutan (Sustainable Development). Pertama, Ecological Sustainability di

mana pengembangan pariwisata harus menyesuaikan kondisi ekologi dan sumber

daya yang ada. Kedua, Social and Cultural Sustainability mengharuskan

pengembangan pariwisata dapat memberi dampak positif bagi kehidupan sosial dan

budaya serta sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku pada masyarakat setempat.

Ketiga, Economic Sustainability didasarkan pada efisiensi ekonomi dan sumber

daya dapat bertahan di masa mendatang.

50 McIntyre dalam Marceilla Hidayat. Ibid, hlm. 37

Page 25: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulueprints.umm.ac.id/55472/3/BAB_II.pdf · sumber daya air bersih, pengarian dan irigasi, sumber pembangkit listrik, sarana transportasi,

43

Bagan Kerangka Berpikir

Pengembangan

Wisata

Kebijakan Pengelolaan

Sungai Integratif

Collaborative

Governance

Pasar Terapung

Kebijakan Pengelolaan

Sungai Integratif Peran Masyarakat

1. Partisipasi

masyarakat

dalam

pengembangan

wisata pasar

terapung

2. Dampak ekonomi

pasar terapung

terhadap

kehidupan

Masyarakat

1. Perda Nomor 2

Tahun 2007

2. Pengelolaan

Sungai

3. Kebijakan

Wisata Sungai

4. Pembangunan

Kawasan Wisata

5. Kegiatan

Pengelolaan

Pasar Terapung

Penerapan Kebijakan

Pengelolaan Sungai Integratif