WORD PV FIX.docx

of 23 /23
LAPORAN KASUS PITIRIASIS VERSIKOLOR Oleh : Rahmadiyah Azaria Rahmah 0910710107 Riri Sherly 0910714052 Pembimbing : dr.Taufiq Hidayat, SpKK (K) LABORATORIUM / SMF ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA RUMAH SAKIT UMUM DR.SAIFUL ANWAR MALANG

Transcript of WORD PV FIX.docx

Page 1: WORD PV FIX.docx

LAPORAN KASUS

PITIRIASIS VERSIKOLOR

Oleh :

Rahmadiyah Azaria Rahmah 0910710107

Riri Sherly 0910714052

Pembimbing :

dr.Taufiq Hidayat, SpKK (K)

LABORATORIUM / SMF ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA

RUMAH SAKIT UMUM DR.SAIFUL ANWAR

MALANG

2014

Page 2: WORD PV FIX.docx

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pitiriasis versikolor adalah infeksi jamur superfisial yang kronik pada

stratum korneum kulit. Penyakit ini untuk pertama kali dikenal sebagai penyakit

jamur pada tahun 1846 oleh Eichted. Pada tahun 1853, Robin memberikan nama

pada  jamur penyebab penyakit ini dengan nama Microsporum furfur dan pada

1889 oleh Baillon spesies ini diberi nama Mallassezia furfur. Penelitian

selanjutnya dan sampai sekarang menunjukkan bahwaMalassesia

furfur dan Pityrosporum orbiculare merupakan organisme yang sama (Budimulja,

U, 2007; Partogi, D, 2008; Janik M, P and Heffernan M, P, 2008).

Pitiriasis versikolor adalah penyakit universal tetapi lebih banyak dijumpai

di daerah tropis oleh karena tingginya temperatur dan kelembaban. Menyerang

hampir semua usia terutama remaja, terbanyak pada usia 16-40 tahun. Ada

perbedaan antara pria dan wanita, walaupun di Amerika Serikat dilaporkan

bahwa penderita berusia 20-30 tahun dengan perbandingan 1,09% pria dan

0,6% wanita. Insiden yang akurat di Indonesia belum ada namun diperkirakan

40-50% dari populasi di negara tropis yang terkena penyakit ini, sedang di

Negara subtropis yaitu Eropa Tengah dan Utara hanya 0,5-1% dari semua

penyakit jamur (Radiono, S, 2001; Partusuwiryo dkk, 1992; Faegemann JN,

2005).

Pitiriasis versikolor memiliki karakteristik berupa makula yang multipel dan

bercak lesi yang bervariasi mulai dari hipopigmentasi, kekuning-kuningan,

kemerahan sampai kecoklatan atau hiperpigmentasi tergantung dari warna

normal kulit pasien. Bercaknya berbentuk tidak teratur sampai teratur, berbatas

jelas sampai difus, ditutupi skuama halus dengan rasa gatal (ringan), atau

asimtomatik (tanpa gejala atau tanpa keluhan), dan hanya gangguan kosmetik

saja. Pasien sering melaporkan bahwa lesi kulit yang terlibat tidak menjadi gelap

seperti kulit pada bagian tubuh yang lain di musim panas. Keluhan gatal,

meskipun ringan, merupakan salah satu alasan penderita datang berobat.

Bercaknya terutama meliputi badan, dan kadang-kadang dapat menyerang

ketiak, lipat paha, lengan, tungkai atas, leher, muka, dan kulit kepala yang

Page 3: WORD PV FIX.docx

berambut (Budimulja, U, 2007; Burkhart, C,G, 2013; Habif, T, P, 2004; Partogi,

D, 2008; Janik M, P and Heffernan M, P, 2008).

Kondisi-kondisi tertentu menjadi faktor predisposisi adanya infeksi

dari Malassezia sp. antara lain keringat berlebih, suhu yang panas, dan

kelembaban yang tinggi. Penggunaan steroid jangka penjang dan kondisi

imunodefisiensi juga berperan dalam terjadinya infeksi (Budimulja, U, 2007;

Arenas, R, 2001).

Diagnosis klinis pitiriasis versikolor ditegakkan berdasarkan anamnesis dan

adanya gambaran klinis berupa makula hipopigmentasi atau hiperpigmentasi

yang berbatas tegas, tertutup skuama halus. Serta pemeriksaan penunjang

dengan lapu Wood yang akan menunjukkan hasil adanya pendaran berwarna

kuning keemasan pada lesi yang bersisik, selain itu pemeriksaan mikroskopis

sediaan skuama dengan KOH memperlihatkan adanya gambaran spaghetti and

meatball (Partogi, D, 2008).

Penatalaksanaan pitiriasis versikolor berupa terapi topikal dan sistemik.

Pada umumnya prognosis dari pitiriasis versikolor ini baik bila pengobatan

dilakukan meyeluruh, tekun dan konsisten (Daili, E, dkk 2005).

Dalam laporan kasus ini akan dibahas mengenai pasien dengan pitiriasis

versikolor dan penatalaksanaan baik medikamentosa dan non medikamentosa.

Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk membahas mengenai faktor resiko,

gejala dan tanda klinis serta penatalaksanaan akne vulgaris pada pasien dalam

laporan kasus ini. Dengan harapan laporan kasus ini dapat menambah informasi

dan wawasan mengenai pitiriasis versikolor.

Page 4: WORD PV FIX.docx

BAB II

LAPORAN KASUS

2.1 Indentitas Pasien

Nama : Tn. AF

Umur : 23 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Pekerjaan : Mahasiswa

Status Maritas : Belum Menikah

Alamat : Perum Landungsari Indah, Malang

No RM : 1159xxx

Tanggal Pemeriksaan : 29Januari 2014

2.2 Anamnesis Autoanamnesis

Keluhan utama : bercak putih di punggung

Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien datang ke poliklinik kulit dan kelamin RSUD Syaiful Anwar pada tanggal

29 Januari 2014 dengan keluhan bercak putih di punggung kanan atas sejak ± 1

minggu yang lalu. Awalnya jumlah bercak putih di punggung sedikit. Lama

kelamaan, bercak putih bertambah banyak dan menyebar ke seluruh permukaan

punggung. Pasien juga mengeluhkan bercak putih menjadi bersisik jika digores

dengan jari.Pasien memiliki kebiasaan tidak segera mengganti baju sesampainya

di rumah jika bepergian. Bercak dirasakan tidak gatal.Keluhan bercak putih

merupakan kali kedua pada pasien.

Riwayat Penyakit Dahulu :

Empat bulan yang lalu, pasien pernah didiagnosa menderita penyakit

panu dan telah diobati hingga sembuh.

Riwayat Pengobatan:

Pasien menggunakan salep 88 selama dua hari. Tidak ada perbaikan dari

keluhan setelah penggunaan salep.

Riwayat Atopi :

Riwayat munculnya reaksi-reaksi setelah meminum obat, mengi jika terkena

udara dingin atau debu, disangkal oleh pasien.

Page 5: WORD PV FIX.docx

Riwayat Keluarga:

Riwayat keluhan yang sama pada keluarga disangkal.

2.3 Pemeriksaan fisik

Status Generalis

Keadaan Umum : tampak sakit ringan, kompos mentis, higiene

bersih

Tanda Vital : Nadi : 88 x/menit

TD : 120/80 mmHg

RR : 20 x/menit

Tax : Tidak dilakukan

Kepala

Rambut : Hitam dan distribusi merata

Wajah : Simetris, edema (-)

Mata : Tidak dilakukan

Konjungtiva : Tidak dilakukan

Sklera : Tidak dilakukan

Hidung : Tidak didapatkan abnormalitas

Mulut : Tidak didapatkan abnormalitas

Leher

Simetris

Pembesaran KGB : Tidak ditemukan

Toraks :

Paru-paru : Tidak dilakukan

Jantung : Tidak dilakukan

Abdomen : Skar (-), supel, Bising usus tidak diperiksa, nyeri

tekan (-)

Ekstrimitas : Akral Hangat, edema (-), anemis (-)

Genital : : Tidak dilakukan

2.4 Status Dermatologis

Page 6: WORD PV FIX.docx

Lokasi : Punggung

Distribusi : Tersebar

Ruam :

Makula hipopigmentasi, multipel,ukuran ± 2-4 mm, batas tegas, bentuk

bulat dan oval, tertutup skuama putih dan tipis.

Makula hiperpigmentasi, multipel, ukuran ± 3-5 mm, batas tegas,

bentuk bulat dan oval.

Gambar 2.1 Penampang Punggung

2.5 Diagnosis Banding

1. Pitiriasis versicolor

2. Vitiligo

2.6 Pemeriksaan Penunjang

1. Lampu Wood

Didapatkan lesi makula berwarna kuning keemasan di punggung.

Page 7: WORD PV FIX.docx

Gambar 2.2 Pemeriksaan Lampu Wood

Page 8: WORD PV FIX.docx

Gambar 2.3 Pemeriksaan Lampu Wood

Gambar 2.4 Pemeriksaan Lampu Wood

2. Pemeriksaan KOH

Didapatkan hifa yang pendek-pendek dan spora yang berkelompok

seperti bentukan spaghetti dan meatballs.

Page 9: WORD PV FIX.docx

Gambar 2.5 Hasil Pemeriksaan KOH

2.7 Diagnosis

Pitiriasis versicolor

2.8 Terapi

Selenium Sulfida 2,5% losion selama 7 hari

2.9 KIE

Menggunakan losion sesuai instruksi (losion dioleskan di

punggung, kemudian ditunggu selama 10-15 menit kemudian

dibilas dengan air).

Segera mengganti pakaian sesampainya di rumah setelah

bepergian.

Menghindari penggunaan pakaian yang ketat

2.10 Prognosis

Quo ad vitam : ad bonam

Quo ad sanam : ad bonam

Quo ad fuctionam : ad bonam

Quo ad kosmetika : ad bonam

Page 10: WORD PV FIX.docx

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Diagnosis Pitiriasis Versikolor pada Pasien

Diagnosis pitiriasis versikolor dapat ditegakkan melalui anamnesis (gejala

yang dirasakan pasien), pemeriksaan fisik, dan dikonfirmasi dengan pemeriksaan

penunjang.

3.1.1 Anamnesis Gejala Klinis

Berdasarkan anamnesis, didapatkan pasien yang berumur 23 tahun

datang dengan bercak putih di punggung sejak 1 minggu yang lalu. Hal ini sesuai

dengan kajian teori bahwa pitiriasis versikolor banyak menyerang individu

dengan kisaran usia 15-24 tahun, dimana kelenjar sebasea lebih aktif (Burkhart

CG, 2013). Begitu pula dengan jenis kelamin. Menurut penelitian-penelitian yang

Page 11: WORD PV FIX.docx

dihimpun Burkhart CG (2013), prevalensi pitiriasis versikolor tidak condong ke

salah satu jenis kelamin. Durasi lesi pitiriasis versikolor, menurut Wolff K dan

Johnson RA (2009), bisa memakan waktu bulanan hingga tahunan. Lesi bisa

berlangsung sangat lama karena biasanya lesi tidak menimbulkan kekhwatiran

yang bersifat darurat. Penderita pitiriasis versikolor umumnya datang karena

kekhawatiran yang bersifat kosmetika atau gatal. Pada Tn. AF, pasien datang

memeriksakan diri dalam hitungan minggu karena cepat mendapatkan lesi

makula hipopigmentasi di punggungnya.

Pada pasien di laporan kasus ini, bercak putih ditemukan di punggung.

Bercak putih pada awalnya berjumlah sedikit. Tapi dalam durasi satu minggu

jumlahnya bertambah. Teori bahwa dominasi malassezia furfur sebagai salah

satu jamur penyebab pitiriasis versikolor terbanyak menyerang area punggung,

dapat dijelaskan dengan produksi sebum yang lebih tinggi di punggung

dibandingkan di area lain. Malassezia furfur adalah organisme oportunistik

dimana pada keadaan normal, akan bertempat tinggal di keratin kulit dan folikel

rambut. Malassezia furfur bergantung oleh lipid, yang merupakan sumber nutrisi

yang penting. Pada kondisi yang sesuai untuk konversinya, malassezia furfur

akan berubah dari saprophytic yeast menjadi bentuk morfologis miselial parasitik.

Kondisi yang mendukung perubahan tersebut adalah peningkatan sebum.

Selanjutnya aktivitas malassezia furfur sebagai organisme patologis akan

menyebabkan munculnya lesi kulit hipopigmentasi, hiperpigmentasi atau

eritematous yang disebut dengan pitiriasis versikolor. Bertambahnya jumlah lesi

berhubungan dengan kondisi pada pasien yang memfasilitasi pertumbuhhan

malassezia furfur. Selain di punggung, area lain yang menjadi area predileksi

pitiriasis versikolor adalah daerah dada, abdomen, dan ektremitas proksimal

(Goldstein BG & Goldstein AO, 2010; Janik MP & Heffernan MP, 2008; Wolff K &

Johnson RA, 2009).

Tn. AFmengeluhkan bercak putih menjadi bersisik jika digores dengan

jari. Fenomena ini disebut dengan coup d’ongle of Besnier(scratch sign). Menurut

Keddie F (1963), fenomena yang khas terjadi pada pitiriasis versikolor ini dapat

terjadi karena perubahan pada konsistensi lapisan tanduk epidermis, yang telah

diinfiltrasi oleh malassezia furfur. Infiltrasi ini menyebabkan deskuamasi

Page 12: WORD PV FIX.docx

(pelepasan) lamela. Fenomena coup d’ongle of Besnier biasanya diperiksa jika

skuama tidak nampak secara kasat mata. Hasil negatif palsu dapat terjadi jika

pasien baru saja mandi atau lesi telah diobati, dimana hanya lesi hipopigmentasi

yang didapatkan.

Tn. AF memiliki kebiasaan tidak segera mengganti pakaian setelah

bepergian. Gaya hidup seperti ini merupakan salah satu faktor yang

menyebabkan perubahan malassezia furfur dari flora normal menjadi flora yang

patogen (Janik MP & Heffernan MP, 2008). Tidak diketahui pasti karakteristik

pada inang apa saja yang menyebabkan pitiriasis versikolor. Yang sejauh in

diketahui adalah kondisi-kondisi yang memicu perubahan sifat malassezia furfur.

Faktor-faktor yang memicu perubahan malassezia furfur antara lain adalah iklim

tropis, kondisi hiperhidrosis, kulit yang berminyak, konsumsi kortikosteroid

sistemik, imunodefisiensi, serta keadaan malnutrisi (Wolff K & Johnson RA, 2009;

Janik MP & Heffernan MP, 2008; Goldstein BG & Goldstein AO, 2010). Pada

kasus Tn. AF kebiasaan yang tidak segera mengganti pakaian akan menciptakan

keadaan lembab serta ditambah dengan keadaan negara Indonesia yang

beriklim tropis akan memicu pertumbuhan malassezia furfur dan konversinya

menjadi bentuk patogenik. Faktor-faktor ini juga memegang peranan pada

rekurensi pitiriasis versikolor. Jika penderita tidak merubah gaya hidup

sebelumnya yang mendukung pertumbuhan malassezia furfur, maka walaupun

diobati pitiriasis versikolor akan tetap muncul.

3.1.2 Pemeriksaan Fisik

Pitiriasis versikolor banyak terdapat di punggung, dada, abdomen, dan

ektremitas proksimal (Wolff K & Johnson RA, 2009; Janik MP & Heffernan MP,

2008). Penyakit ini ditandai dengan lesi makula hipopigmentasi, hiperpigmentasi,

atau eritematous. Makula berbatas tegas, dengan bentuk bulat atau oval.

Karakteristik skuama yang menutupi makula dapat terjadi dengan menggores

ringan lesi makula, dan akan didapatkan skuama tipis dan putih yang diistilahkan

dengan dust-like atau furfuraceous(Coup d’ongles of Besnier). Keluhan gatal

biasanya ringan atau tidak ada. Lesi makula hipopigmentasi disebabkan asam

dikarboksilat yang disebabkan oleh oksidasi enzimatik asam lemak pada lipid

permukaan kulit menghambat tirosinase pada melanosit epidermal, sehingga

Page 13: WORD PV FIX.docx

menyebabkan hipopigmentasi. Enzim yang menyebabkan oksidasi tersebut

terdapat pada malassezia furfur. Sedangkan lesi hiperpigmentasi diduga

disebabkan oleh reaksi inflamasi (Wolff K & Johnson RA, 2009; Janik MP &

Heffernan MP, 2008).

Dari hasil pemeriksaan status dermatologis pada Tn. AF didapatkan data

sebagai berikut:

Lokasi : Punggung

Distribusi : Tersebar

Ruam :

Makula hipopigmentasi, multipel,ukuran ± 2-4 mm, batas tegas, bentuk

bulat dan oval, tertutup skuama putih dan tipis.

Makula hiperpigmentasi, multipel, ukuran ± 3-5 mm, batas tegas,

bentuk bulat dan oval.

3.1.3 Pemeriksaan Penunjang

Lampu ultraviolet dapat digunakan untuk mendapatkan penampakan

fluoresensi kuning keemasan yang merupakan ciri khas pitiriasis versikolor.

Walaupun terkadang pada beberapa kasus, lesi tidak menunjukkan fluoresensi

((Wolff K & Johnson RA, 2009; Janik MP & Heffernan MP, 2008; Burkhart CG,

2013).Dari pemeriksaan lampu wood pada Tn. AF, didapatkan lesi makula

berwarna kuning keemasan di punggung.

Diagnosa dikonfirmasi dengan pemeriksaan hidroksida potasium (KOH),

yang akan menunjukkan karakteristik hifa yang pendek-pendek yang muncul

pada kondisi patologis. Temuan spora pada pemeriksaan KOH dengan

mycelium yang pendek diistilahkan sebagai spaghetti dan meatballs untuk

temuan khas pitiriasis versikolor. Sampel diambil dari goresan skuama dan

ditampung pada object glass kemudian diberikan KOH 10%. Alternatif lain adalah

dengan menggunakan selotip pada skuama ((Wolff K & Johnson RA, 2009; Janik

MP & Heffernan MP, 2008). Dari Tn. AF hasil pemeriksaan KOH menunjukkan

hifa yang pendek-pendek dan spora yang berkelompok seperti bentukan

spaghetti dan meatballs.

Page 14: WORD PV FIX.docx

3.2 Diagnosa Banding

Terdapat beberapa diagnosis banding untuk pitiriasis versikolor, salah

satunya adalah pitiriasis alba. Pitiriasis alba adalah bentuk ringan dari dermatitis

atopik. Prevalensinya adalah anak dan remaja usia 3-16 tahun. Walaupun juga

dapat terjadi pada dewasa dengan distribusi lesi yang lebih luas. Etiologi dan

patogenesisnya belum diketahui. Pajanan matahari yang berlebihan dan tanpa

perlindungan serta higienitas (mandi yang sering dan mandi dengan air panas)

berhubungan dengan perkembangan pitiriasis alba. Pitiriasis alba biasanya

muncul sebagai patch berwarna merah muda dengan batas meninggi, yang akan

hilang setelah beberapa minggu menjadi bercak pucat yang ditutupi dengan

skuama putih. Lesi ini akan berkembang menjadi makula hipopigmentasi tak

berskuama, dan keadaan ini bertahan selama bulanan atau tahunan. Daerah

predileksi pitiriasis alba adalah wajah, leher, punggung atas, dan ekstremitas

proksimal. Dari pemeriksaan penunjang, pada pemeriksaan lampu wood,

didapatkan lesi hipopigmentasi pada pitiriasis alba (Janik MP & Heffernan MP,

2008; Goldstein BG & Goldstein AO, 2013).

Pasien didiagnosa banding dengan pitiriasis alba karena ruam dan area

predileksi yang hampir sama dengan pitiriasis versikolor. Yaitu makula putih dan

area di punggung. Namun berdasarkan anamnesa, Tn. AF menyangkal riwayat

munculnya lesi setelah pajanan matahari atau jumlah mandi yang berlebihan.

Selain itu riyawat atopi juga disangkal oleh pasien. Dari pemeriksaan klinik,

didapatkan fenomena Coup d’ongle of Besnier yang tidak ditemukan pada

pitiriasis alba. Dari pemeriksaan penunjang, pada pemeriksaan lampu wood pada

pitiriasis versikolor didapatkan florosensi berwarna kuning keemasan, seperti

yang didapatkan pada Tn. AF. Hasil pemeriksaan lampu Wood seperti ini tidak

didapatkan pada pitiriasis alba. Serta dari pemeriksaan KOH didapatkan bentuk

spora yang berkelompok dan hifa yang pendek-pendek, sesuai dengan teori

yang didapatkan pada pitiriasis versikolor.

3.3 Penatalaksanaan

Pitiriasis versikolor dapat diterapi secara sistemik dan topical. Tingginya

angka kekambuhan merupakan suatu masalah, dimana mencapai 60% pada

Page 15: WORD PV FIX.docx

tahun pertama dan 80% pada tahun kedua. Oleh karena itu diperlukan terapi

profilaksis untuk mencegah rekurensi.

1. Pengobatan Topikal

Pengobatan harus dilakukan secara menyeluruh, tekun dan konsisten.

Obat yang dapat digunakan adalah :

- Selenium sulfide 1,8% dalam bentuk shampoo 2-3 kali seminggu.

Obat digosokkan pada lesi dan didiamkan selama 15-30 menit

sebelum mandi.

- Turunan azole misalnya mikonazol, ketoconazol, isokonazol dalam

bentuk topical,

- Sulfur presipitatum dalam bedak kocok 4-20%

- Larutan tiosulfas natrikus 25%, dioleskan sehari 2 kali sehabis mandi

selama 2 minggu.

2. Pengobatan Sistemik

Pengobatan sistemik diberikan pada kasus pitiriasis versikolor yang luas

atau jika pemakain obat topical tidak berhasil. Obat yang dapat diberikan adalah :

- Ketoconazol 200 mg/hari selama 10 hari

- Itrakonazol 200 mg/hari selama 5-7 hari, disarankan untuk kasus

kambuhan atau tidak responsif dengan terapi lainnya.

Untuk pencegahan dapat disarankan pemakain 50% propilen glikol dalam

air atau sistemik ketoconazole 400 mg/hari, sekali sebulan. Pada daerh endemic,

untuk pencegahan penyakit dapat disarankan pemakaian ketoconazole 200

mg/hari selama 3 hari setiap bulan atau pemakain shampoo selenium sulfide

sekali seminggu.

Page 16: WORD PV FIX.docx

BAB IV

KESIMPULAN

Telah dilaporkan sebuah kasus pitiriasis versikolor pada seorang pria usia

23 tahun. Dari anamnesis yang menunjang adalah bercak putih di punggung

sejak 1 minggu yang lalu. Bercak putih lama-kelamaan bertambah jumlahnya.

Bercak putih menjadi bersisik jika digores dengan jari dan bercak tidak gatal.

Pasien memiiliki kebiasaan tidak segera mengganti baju di rumah setelah

bepergian. Dari pemeriksaan fisik, ditemukan lesi makula hipopigmentasi,

multipel, ukuran ±2-4 mm, berbatas tegas, bentuk bulat dan oval, tertutup

skuama tipis dan putih. Ditemukan juga lesi makula hiperpigmentasi, multipel,

ukuran ± 3-5 mm, batas tegas, bentuk bulat dan oval. Didapatkan fenomena

coup d’ongle of Besnier. Dari pemeriksaan penunjang, pada pemeriksaan lampu

wood, didapatkan lesi makula berwarna kuning keemasan. Dan dari

pemeriksaan KOH didapatkan hifa yang pendek-pendek dan spora yang

berkelompok seperti bentukan spaghetti dan meatballs. Diberikan terapi losion

selenium sulfida 2,5% selama 7 hari, dioleskan di punggung, kemudian ditunggu

selama 10-15 menit kemudian dibilas dengan air. Prognosis untuk pasien ini

adalah quo ad vitam ad bonam, quo ad sanam ad bonam, quo ad functionam ad

bonam, dan quo ad kosmetika ad bonam.

Page 17: WORD PV FIX.docx

Daftar Pustaka

Arenas R. Pityriasis Versicolor. In: Arenas R, Estrada R,eds. Tropical Dermatology. USA. George Town, Texas: Landes Bioscience. 2001. pg. 12-6.

  Budimulja U. Pitiriasis Versikolor. Dalam: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, eds. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi V. Jakarta: Balai Penerbit FK UI; 2007. hal. 100-1.

Burkhart CG. 2013 (updated). Tinea Versicolor. Edited by Schwarzenberger K, Wells MJ, Chan EF, Quirk CM, Elston DM.(Online). (http://emedicine.medscape.com/article/1091575-overview#showall, diakses 1 Februari 2014, pukul 11.00 WIB).

Daili ESS, Menaldi SL, Wisnu IM. Penyakit kulit yang umum di Indonesia. Medical Multimedia Indonesia. Jakarta. 2005:33-4.

Goldstein BG & Goldstein AO. 2013 (updated). Tinea Versicolor. Edited by Dellavalle RP, Levy ML, dan Ofori AO. (Online).

Habif TP. Tinea Versicolor. In: Clinical Dermatology: A Color Guide to Diagnosis and Therapy. 4th Edition. USA. Mosby. 2004. pg. 451-54.

Janik MP, Heffernan MP. Yeast infection : Candidiasis and Tinea (pityriasis) Versicolor. In : Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, eds. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. 7th Edition. New York : McGraw-Hill. 2008; pg.1828-30.

Keddie F. 1963. Clinical Signs in Tinea Versicolor. Arch Dermatol 1963;87(5):641-642.

Partogi D. Pityriasis Versicolor dan Diagnosis Bandingnya (Ruam-ruam Bercak Putih Pada Kulit). USU e-Repository. 2008; 2-4. (Online).(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3417/1/08E00851.pdf, diakses 1 Februari 2014, pukul 16.00 WIB).

Wolff K & Johnson RA. 2009. Section 25 - Fungal Infections of The Skin and Hair; Fitzpatrick's Color Atlas & Synopsis of Clinical Dermatology, 6th Ed., McGraw Hill Professional, USA.