Withdrawal Syndrome

download Withdrawal Syndrome

of 59

  • date post

    05-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    25
  • download

    6

Embed Size (px)

description

y

Transcript of Withdrawal Syndrome

Withdrawal syndrome

Withdrawal syndromeTUJUAN PEMBELAJARANSejarah putauEfek penggunaan zat opioidDefinisi withdrawal syndromeFisiologi withdrawal syndromeGejala-gejala withdrawal syndromePenatalaksanaanPendekatan sosialEfek Penyalahgunaan Morfin1. Efek Terhadap Mood (Suasana Hati)Penggunaan morfin pada individu sehat sering menyebabkan:

disforiarasa takutGelisahmual muntahrasa kantuktidak dapat berkonsentrasiapatis2. Perubahan EEGGambaran frekuensi lambat dan voltase tinggi (mirip gambaran EEG saat tidur / pemberian barbiturat dosis rendah.

Terdapat pengurangan fase REM & non REM deep sleep; fase non REM light sleep dan keadaan jaga bertambah panjang.

Jenis opoid lain dapat memberikan efek berbeda, heroin memiliki gambaran EEG bifasik yang berkaitan dengan euphoria.

Penggunaan metadon jangka panjang dikaitkan dengan penurunan irama alfa, beta, dan peningkatan irama theta

EEG = ELEKTROENSEFALOGRAFALPHA BETA AWAL MAU TIDURDELTA TIDUR DALAMTHETA FASE REMTahap 1 adalah tidur ringan dan pada tahap ini, Anda akan mudah terbangun. Anda mulai kehilangan otot yang menyebabkan berkedut dan tersentak hypnic (tiba-tiba dapat melompat terbangun dari tidur). Anda memiliki halusinasi hypnagogic, cahaya berputar dan warna pola yang mampu menghipnotis pikiran Anda ke dalam tidur nyenyak. Tahap 1 juga menandai hilangnya kesadaran diri dan saraf sensorik pada dunia fisik. Frekuensi gelombang otak Anda turun dari ALPHA ke THETA (4-7 Hz).Tahap 2 ditandai dengan hilangnya hampir semua otot (kelumpuhan tidur atau REM atonia) sehingga tubuh fisik Anda tidak dapat bertindak (tidak mampu bergerak) dan pada tahap ini mimpi biasanya datang. Meskipun gelombang otak Anda telah melambat, mereka menunjukkan semburan singkat aktivitas gelombang otak yang lebih tinggi yang disebut sleep spindle di bawah kisaran 12-16 Hz pada BETA. Anda menghabiskan sekitar setengah dari semua tidur di Tahap 2. Jika mimpi terjadi di tahap 2 ini, biasanya mimpi tidak erlihat jelas, sehingga ketika Anda terbangun mudah lupa/kurang jelas dengan jalan cerita mimpi yang anda alami saat tidur.Tahap 3 adalah awal dari tidur nyenyak, juga dikenal sebagai Slow Wave Sleep (tidur dengan gelombang lambat). Pada tahap ini, biasanya lebih sulit untuk membangunkan tidur nyenyak, tetapi jika Anda terbangun Anda akan merasa sangat kikuk dan bingung selama beberapa menit. Gelombang otak turun pada kisaran 0,5-4 Hz DELTA dari frekuensi paling lambat yang pernah Anda alami. Sekali lagi ini adalah tahap mimpi lain tidur, namun juga waktu yang paling mungkin untuk sleepwalking (mengigau sampai jalan-jalan) terjadi.Tahap 4 adalah jenis tidur dengan gelombang lambat terdalam. Pada tahap ini, terjadi proses mengisi ulang energi Anda baik secara fisik maupun mental, dan tanpa cukup tidur nyenyak (seperti ketika tidur di penerbangan jarak jauh), Anda tidak akan merasa segar di pagi hari. Gelombang otak Anda sekarang berada di kisaran DELTA.Tahap Tidur REM menandai awal bermimpi. Setelah membenamkan diri melalui tahap lebih dalam tidur, aktivitas gelombang otak kembali ke rentang THETA (4-8 Hz) melalui BETA (12-38 Hz) dan Rapid Eye Movement menunjukkan bahwa Anda sedang bermimpi. Jika Anda terbangun dari tidur REM Anda akan mengalami kembali ke tahap ini ketika Anda selanjutnya kembali tidur. Tidur REM sangat penting untuk fungsi otak yang sehat karena berbagai alasan, termasuk penciptaan kenangan jangka panjang. Tahap ini juga terjadi mimpi yang dapat dirasakan dengan jelas jalan ceritanya, ditandai dengan frekuensi gelombang otak yang lebih besar kadang-kadang setinggi kisaran GAMMA dari 38-90 Hz, menandai keadaan otak yang sangat aktif.

53. Efek Terhadap Sistem SerotoninSerotonin berperan dalam modulasi persepsi nyeri.Serotonin merupakan neurotransmiter yang terlibat dalam obsesi. Turunnya levelserotonin inilah yang menyebabkan adanya keinginan terhadap zat tsb dan ada dorongan(kompulsi) untuk berulang-ulang melakukan sesuatu untuk mencapai keinginannya. Pada binatang, pemberian 5HT intraventrikel (otak) mempotensiasi efek analgesik morfin, sedangkan inhibisi produksi 5HT dikaitkan dengan pengurangan efek analgesia dan berkurangnya kemungkinan dependensi dan toleransi.Lesi nucleus raphe magnus daerah padat 5HT menyebabkan hilangnya efek analgetik dari morfin yang dapat dipulihkan melalui injeksi 5 HT.

4. Efek Terhadap Sistem NoradrenergikAktivasi sistem noradrenergik (A2) menghambat sensasi nyeri dan memberikan efek sinergi terhadap analgesik oleh opioid ( reseptor).5. Efek Terhadap Sistem Dopamin Dopamin adalah suatu senyawa di otak yang berperan dalam sistem keinginan dan kesenanganDopamin juga merupakan neurotransmiter yang menyebabkan adiksi (ketagihan)

6. Efek Terhadap Aksis Hipotalamus-HipofisisInjeksi morfin berulang-ulang menyebabkan sekresi ACTH yang berhubungan dgn sekresi corticotropin releasing factor (CRF) yang menyebabkan aktivitas kortikoadrenal; siklus diurnal dari kortikosteroid juga terganggu. Penggunaan kronik fungsi korteks adrenal, tetapi lama kelamaan timbul toleransi.Penghentian penggunaan morfin menyebabkan efek rebound berupa peningkatan sekresi hormon secara mendadak, yang dapat berhubungan dengan gejala abstinensi.Sekresi GH pada pengguna kronikMenstimulasi sekresi ADH sehingga dapat menyebabkan berkurangnya diuresis.Mekanisme terjadinya toleransi dan ketergantungan obatAdaptasi seluler perubahan aktivitas enzym, pelepasan biogenic amin tertentu atau beberapa respon imun.Nukleus locus ceruleus gejala withdrawal.Nukleus ini kaya reseptor opioid, alpha-adrenergic dan reseptor lainnya.Stimulasi reseptor oleh agonis opioid (morfin) aktivitas adenilsiklase pada siklik AMP.Bila stimulasi ini diberikan terus menerus adaptasi fisiologik di dalam neuron yang membuat level normal dari adenisliklase walau berikatan dengan opoid.Bila ikatan opoid ini dihentikan dengan mendadak atau diganti dengan obat yang bersifat antagonis opioid, maka akan terjadi efek adenilsiklase pada siklik AMP secara mendadak dan berhubungan dengan gejala pasien berupa gejala hiperaktivitas.Mekanisme adiksi?system reward : Manusia suka mengulangi perilaku yang menghasilkan sesuatu yang menyenangkan efek reinforcement positif.Reward ada yang alami (makanan, air, sex, kasih sayang) dan dari obat-obatan.Pengaturan perasaan dan perilaku ini di otak disebut reward pathway.Perilaku yang didorong oleh reward alami ini dibutuhkan MH untuk survived.Bagian penting dari reward pathwayventral tegmental area (VTA),nucleus accumbens, prefrontal cortex.VTA terhubung dgn nucleus accumbens dan prefrontal cortex melalui jalur reward mengirim informasi melalui saraf. Stimulus saraf di VTA mengandung NT dopamin, dilepaskan nucleus accumbens dan prefrontal cortex jalur reward teraktivasi system reward bekerja.

Mekanisme adiksi obat-obat golongan opiat?Reseptor opiate:sekitar reward pathway (VTA, nucleus accumbens dan cortex)pain pathway (jalur nyeri) (thalamus, brainstem, dan spinal cord).Penggunaan opiat mengikat reseptornya di jalur nyeri (efek analgesi dan jalur reward (reinforcement positif (rasa senang, euphoria, ingin mengulang lagi)).Hal ini karena ikatan obat opiat dengan reseptornya di nucleus accumbens akan menyebabkan pelepasan dopamin yang terlibat dalam system reward.Gejala putus obat (gejala abstinensi atau withdrawal syndrome) terjadi bila pecandu obat tersebut menghentikan penggunaan obat secara tiba-tiba.Gejala biasanya timbul dalam 6-10 jam setelah pemberian obat yang terakhir dan puncaknya pada 36-48 jam.Withdrawal dapat terjadi secara spontan akibat penghentian obat secara tiba-tiba atau dapat pula dipresipitasi dengan pemberian antagonis opioid seperti naloxon, naltrexone. Dalam 3 menit setelah injeksi antagonis opioid, timbul gejala withdrawal, mencapai puncaknya dalam 10-20 menit, kemudian menghilang setelah 1 jam.Gejala putus obat:6 12 jam , lakrimasi, rhinorrhea, bertingkat, sering menguap, gelisah12 - 24 jam, tidur gelisah, iritabel, tremor, pupil dilatasi (midriasi), anoreksia24-72 jam, semua gejala diatas intensitasnya bertambah disertai adanya kelemahan, depresi, nausea, vomitus, diare, kram perut, nyeri pada otot dan tulang, kedinginan dan kepanasan yang bergantian, peningkatan tekanan darah dan denyut jantung,gerakan involunter dari lengan dan tungkai, dehidrasi dan gangguan elektrolitSelanjutnya, gejala hiperaktivitas otonom secara berangsur mulai berkurang dalam 7-10 hari, tetapi penderita masih tergantung kuat pada obat. Beberapa gejala ringan masih dapat terdeteksi dalam 6 bulan. Pada bayi dengan ibu pecandu obat akan terjadi keterlambatan dalam perkembangan dan pertumbuhan yang dapat terdeteksi setelah usia 1 tahun.

Berdasarkan kriteria DSM IV keadaan putus opioid adalah:Kriteria ASalah satu berikut ini(1) penghentian (atau penurunan) pemakaian opioid yang telah lama dan berat (beberapa minggu atau lebih)(2) pemberian antagonis opioid setelah suatu periode pemakaian opioidKriteria BTiga (atau lebih) berikut ini, yang berkembang dalam beberapa hari setelah kriteria A:mood disforik; (2) mual/muntah; (3) nyeri otot; (4) lakrimasi/rinorea; (5) dilatasi pupil; (6) diare; (7) menguap;(8) demam; (9) insomnia.Kriteria C.Gejala dalam kriteria B menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.Kriteria D.Gejala bukan karena kondisi medis umum dan gangguan mental lain.

DEFINISITerjadinya sindroma zat spesifik karena penghentian mendadak (atau pengurangan) penggunaan zat yang lama dan berat.- DSM-IV-TR -WITHDRAWAL SYNDROMETerjadi pada individu yang kecanduan obat dan alkohol yang menghentikan atau mengurangi penggunaan obat pilihan mereka. Proses menghilangkan narkoba dan alkohol dari tubuh dikenal sebagai detoksifikasi. Withdrawal syndrome terutama berfokus pada withdrawldari etanol, sedatif-hipnotik, opioid, stimulan, dan gamma-hidroksibutirat (GHB).- Goldstein,2009 -

WITHDRAWAL SYNDROMEGej