Web view 2.1.6 Etos Kerja 2.1.6.1 Pengertian Etos Kerja Dalam kamus Besar Bahasa Indonesa, etos...

download Web view 2.1.6 Etos Kerja 2.1.6.1 Pengertian Etos Kerja Dalam kamus Besar Bahasa Indonesa, etos didefinisikan

of 93

  • date post

    01-Mar-2020
  • Category

    Documents

  • view

    5
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Web view 2.1.6 Etos Kerja 2.1.6.1 Pengertian Etos Kerja Dalam kamus Besar Bahasa Indonesa, etos...

118

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN

DAN HIPOTESIS PENELITIAN

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Manajemen

Menurut etimologi kata manajemen berasal dari kata to manage yang berarti mengatur, yang mempunyai arti individu-individu dalam organisasi melaksanakan aturan sesuai peraturan yang ada pada organisasi tersebut, dalam menjalankan tugas untuk mencapai tujuan organisasi, yang diatur dalam bidang manajemen mencakup unsur yang dikenal dengan nama 6 (enam) M yaitu, man, money, method, machines, materials dan market. Menurut Stoner, Freeman dan Daniel (2005), bahwa yang diatur dalam manajemen adalah semua unsur manajemen (6 M) dengan cara meningkatkan koordinasi dan integrasi dari kornponen tersebut dan diatur oleh pimpinan dengan gaya kepemimpinan yang baik untuk melakukan serangkaian kegiatan fungsi manajemen dalam rangka mengoptimalkan komponen 6 M tersebut lebih berdaya guna dan berhasil guna dalam mewujudkan tujuan organisasi.

Menurut Follet dalam Handoko (2008), mendefinisikan manajemen sebagai seni yang digunakan seseorang dalam rangka melaksanakan tugas dan pekerjaan guna pencapaian suatu tujuan dengan cara melakukan pengaturan terhadap orang-orang lain dan tidak melakukan tugas sendiri.

Menurut Stoner (2005), bahwa manajemen merupakan suatu proses sistematis untuk melaksanakan kegiatan dalam rangka mencapai tujuan organisasi dengan menjalankan fungsi manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan.

Robbins dan Coulter (2010: 7), menjelaskan manajemen melibatkan aktivitas-aktivitas koordinasi dan pengawasan terhadap pekerjaan orang lain, sehingga pekerjaan tersebut dapat diselesaikan secara efisien dan efektif.

Menurut Robbins dan Coulter (2010: 9), menjelaskan fungsi-fungsi manajemen sebagai berikut:

a) Perencanaan (Planning), mendefinisikan sasaran-sasaran, me-netapkan strategi, dan mengembangkan rencana kerja untuk mengelola aktivitas-aktivitas.

b) Penataan (Organizing), menen-tukan apa yang harus diselesai-kan, bagaimana caranya, dan siapa yang akan mengerjakannya.

c) Kepemimpinan (Leading), memoti-vasi, memim-pin, dan tindak-an-tindakan lainnya yang melibatkan interaksi dengan orang-orang lain.

d) Pengendalian (Controling), mengawasi aktivitas-aktivitas demi memastikan segala sesuatunya terselesaikan sesuai rencana.

Menurut Siagian (2005), manajemen merupakan seni memperoleh hasil melalui berbagai kegiatan yang dilakukan oleh orang lain. Sedangkan pengertian manajemen menurut Newport dalam Winardi (2000), adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, menggerakkan dan mengawasi aktivitas-aktivitas sesuatu organisasi dalam rangka upaya mencapai suatu koordinasi sumber daya manusia dengan sumber daya alam dalam hal mencapai sasaran secara efektif dan efisien. Selanjutnya menurut Griffin (2004), manajemen sebagai suatu rangkaian aktifitas (perencanaan dan pengambilan keputusan, pengorganisasian, kepemim-pinan dan pengendalian) yang diarahkan pada sumber-sumber daya yang dimiliki organisasi (manusia, keuangan, fisik dan informasi) dengan maksud untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien.

Gambaran tentang keterkaitan antara sumber-sumber daya organisasi, proses manajemen dan tujuan organisasi dapat dilihat dalam gambar berikut.

Sumber: Griffin, (2004)

Gambar 2.1 Manajemen dan Organisasi

2.1.2 Manajemen Sumber Daya Manusia

2.1.2.1 Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia

Pengertian manajemen sumber daya manusia secara umum dapat dipahami dari persfektif makna sistem dan makna fungsi. Menurut persfektif makna sistem adalah sebagaimana dikemukakan oleh Mathis dan Jackson (2008), bahwa manajemen sumber saya manusia tidak lain merupakan suatu sistem manajemen yang sengaja dirancang untuk dapat memastikan bahwa potensi atau bakat semua individu dalam organisasi dapat diutilisasi (digunakan) secara efektif dan efisien. Berdasarkan pendapat tersebut, istilah utilisasi individu maksudnya adalah untuk mencapai tujuan dan target yang telah ditentukan oleh organisasi. Sehingga hal tersebut selaras dengan disiplin ilmu psikologi yang merupakan salah satu disiplin ilmu pengetahuan yang sangat besar kontribusinya bagi organisasi, dalam memetakan potensi individu agar teraktualisasikan secara efektif dalam mendukung pelaksanaan pekerjaan. Berdasarkan perspektif makna sistem manajemen sumber daya manusia kemudian diimplementasikan ke dalam beberapa fungsi manajemen sumber daya manusia, yang akhirnya membentuk suatu rumusan definisi manajemen sumber daya manusia fungsional, yaitu semua kegiatan yang dimulai dari perencanaan sumber daya manusia sampai dengan pemberhentian atau terminasi sumber daya manusia. Kegiatan lainnya diantara setelah fungsi perencanaan dan sebelum terminasi sumber daya manusia, adalah penyusunan analisis jabatan, rekrutmen sumber daya manusia yang dilanjutkan dengan seleksi dan penempatan sumber daya manusia dalam jabatan yang relevan, kemudian berturut-turut fungsi penggajian, penilaian kinerja, pelatihan dan pengembangan, pengelolaan karir dalam jabatan, pembinaan hubungan antar individu (employee relationships), serta perancangan berbagai program kualitas kehidupan kerja (quality of working life).

Manajemen sumber daya manusia tidak cukup dapat dipahami hanya dari sisi makna sistem dan fungsi. Manajemen sumber daya manusia, juga memiliki arti yang lebih komprehensif bagi organisasi jika dilihat dari sisi kebijakan (policy). Dari sisi kebijakan, manajemen sumber daya manusia secara klasik adalah sebagaimana dikembangkan oleh Guest dalam Irianto (2009) yang memaknai sebagai berikut:

Salah satu bentuk kebijakan organisasi yang sengaja dirancang untuk memaksimalkan integrasi semua unsur organisasi (organizational integration), membangun komitmen pegawai terhadap organisasi (employee commitment), prinsip kelenturan dalam pelaksanaan fungsi manajerial dan pekerjaan (flexibility) untuk menghindari kekakuan (rigidity), serta pencapaian kualitas baik dari sisi proses pelaksanaan maupun hasil dari pelaksanaan pekerjaan (quality of work).

Berdasarkan hal tersebut, dari sisi kebijakan inilah akhirnya berkembang suatu pemikiran, bahwa makna utuh dari manajemen sumber daya manusia tidak terbatasi dalam pengertian yang sekadar bersifat masalah teknis, akan tetapi manajemen sumber daya manusia ternyata juga mengalami konvergensi peran yang sifatnya lebih subtansial. Konvergensi peran yang dialami manajemen sumber daya manusia tersebut telah terjadi sejak tahun 2000-an. Sebagaimana pernah diuraikan oleh Lengnick-Hall & Lengnick-Hall (2003), bahwa peran manajemen sumber daya manusia yang mengalami konvergensi tersebut tidak lain dimaksudkan untuk merespon perubahan lingkungan dengan segala macam tantangan dan tuntutan yang ada di dalamnya.

Dengan peran baru tersebut, maka manajemen sumber daya manusia mengemban misi dalam menyajikan layanan bagi sumber daya manusia (human capital steward), memberi fasilitasi berupa pengetahuan bagi sumber daya manusia (knowledge facilitator), membangun interaksi kondusif bagi semua pihak (relationship builder), serta memiliki keahlian yang terspesialisasi dalam mengatasi setiap masalah organisasional secara tepat dan cepat (rapid deployment specialist).

Berbagai macam persoalan yang muncul dalam era yang sedang mengalami perubahan secara drastis diharapkan dapat dipecahkan melalui konvergensi peran manajemen sumber daya manusia ini. Unit fungsional manajemen sumber daya manusia tidak sekadar pada penanganan masalah teknis, namun juga berkembang pada orientasi pemberian layanan dan fasilitasi bagi semua pihak dalam organisasi. Dengan memahami manajemen sumber daya manusia secara utuh baik dari perspektif sistem, fungsi, kebijakan, dan reorientasi peran dalam organisasi. Manajemen sumber daya manusia tampaknya harus didefinisikan ulang. Sehingga manajemen sumber daya manusia secara kultural dapat dikonstruksikan sebagai suatu konsep yang utuh dan berkembang sesuai dengan konteks lingkungan organisasi. Hal tersebut dapat diartikan bahwa suatu organisasi dengan karakteristik lingkungan tertentu memiliki cara pandang dan teknik yang berbeda dalam utilisasi sumber daya manusia. Dengan demikian dalam prakteknya manajemen sumber daya manusia tidak memiliki kesamaan antara satu negara atau organisasi dengan tempat lainnya yang memiliki karakteristik lingkungan yang berbeda. Perkembangan arus pemikiran ini pada akhirnya memunculkan berbagai upaya untuk merumuskan kembali atau rekonseptualisasi beberapa fungsi dalam manajemen sumber daya manusia. Menurut Gonzalez & Tacorante (2004), mengemukakan sebagai berikut:

Praktek-praktek manajemen sumber daya manusia dalam suatu organisasi memiliki model yang berbeda dengan organisasi lainnya. Praktek-praktek terbaik (best practices) manajemen sumber daya manusia tidak dapat digeneralisir karena setiap organisasi memiliki karakter yang berbeda. Model praktek terbaik yang berlaku di suatu tempat tertentu dapat diterapkan secara efektif di tempat lain jika dilakukan penyesuaian sesuai konteksnya.

2.1.2.2 Prinsip Dasar Manajemen Sumber Daya Manusia

Prinsip-prinsip dasar manajemen sumber daya manusia adalah mengacu pada panduan umum yang dikemukakan Wright & Rudolph dalam Irianto (2009), menyatakan pada 5 (lima) aspek yaitu: (1) Emphasis on people; (2) Partici-pative leadership; (3) Innovative workstyles; (4) Strong client orientation; dan (5) A mindset that seeks optimum performance. Uraian penjelasan prinsip-prinsip dasar sumber daya manusia tersebut adalah sebagai berikut:

Prinsip dasar manajemen sumber daya manusia yang pertama, memposisikan unsur manusia sebagai pihak yang bersifat aktif, yang menjelaskan bahwa secara alamiah adanya organisasi adalah untuk memenuhi kebutuhan manusia, sementara dalam melakukan utilisasi sumber daya manusia, organi