Wawasan kebangsaan religius

download Wawasan kebangsaan religius

of 24

  • date post

    21-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    479
  • download

    8

Embed Size (px)

Transcript of Wawasan kebangsaan religius

  • 1. Wawasan Kebangsaan Religius

2. Nasionalisme Chauvinistik Ideologi fasisme, nazisme dan zionisme adalah realitas sejarah yang menimbulkan trauma sejarah bagi ummat manusia. Semua ideologi nasionalisme itu telah membawa bangsa Jerman, Italia dan Yahudi untuk memberhalakan bangsanya. Menganggap, bangsa lain lebih rendah kastanya, karena itu layak untuk di jajah. Paham Nasionalisme Chauvinistik ini telah membawa ummat manusia pada Perang Dunia I dan II yang amat mengerikan. 3. Zionisme: ideologi yang merusak martabat manusia. Diantara paham nasionalisme chauvinistik yang paling berbahaya adalah zionisme. Zionisme telah menghantarkan bangsa Yahudi untuk memiliki negara dengan cara membantai dan mengusir bangsa lain, yaitu Palestina. Basis ideologi ini adalah Kitab Talmud yang mengajarkan bahwa manusia non-yahudi adalah ghoyyim yang harus mengabdi kepada bangsa Yahudi. Dan bangsa Yahudi dihalalkan untuk berbuat apa pun terhadap ghoyyim, termasuk terorisme. Bila dibandingkan dengan Nazisme dan Fasisme, ideologi ini dideklarasikan tahun 1896 namun akarnya telah berusia ribuan tahun dan hingga kini semakin eksis. 4. Indonesia dan Ideologi Nasionalisme Religius Sejak awal sejarah terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, para pendiri Republik ini telah menyadari akan bahaya ideologi Nasionalisme Chauvinistik itu. Karena itu, Pancasila dibuka dengan sila yang berdimensi religius, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Maksudnya, meskipun kita berhimpun dan bangga akan kebangsaan kita, namun kemulyaan yang hakiki adalah kemulyaan dihadapan Allah SWT, bukan kemulyaan dihadapan manusia. 5. Bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa didalamnya Bangsa Indonesia dalam sejarahnya terdiri dari berbagai bangsa atau suku yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Berbagai bangsa itu memilih bentuk kerajaan dalam pengelolaan masyarakat dan teritorialnya. Tidak jarang mereka terlibat konflik baik dalam dimensi politik maupun dimensi lainnnya. Dalam perkembangannya mereka dijajah oleh Kerajaan Belanda, yang diawali oleh VOC. 6. Nasionalisme Religius sebagai pemersatu keanekaragaman Kesadaran nasionalisme yang pertama kali muncul di Indonesia adalah kesadaran etnis. Yang kemudian melahirkan keragaman. Keragaman ini kemudian dipersatukan oleh kesadaran religius bahwa tidaklah tepat penyembahan manusia terhadap manusia yang diwujudkan dalam bentuk gerakan kolonialisme dan imperialisme. Berangkat dari kesadaran inilah pada tahun 1906 berdirilah Syarekat Islam yang kemudian diikuti tahun 1908 oleh Budi Utomo, sebagai titik tolak pergerakan nasional menuju terbentuknya NKRI. 7. Sumpah Pemuda 1928 dan Bangsa Indonesia Kesamaan nasib serta kesamaan bahasa telah menyebabkan terjadinya komunikasi diantara gerakan kebangsaan di berbagai wilayah di Indonesia. Akhirnya, kebutuhan akan pentingnya konsolidasi nasional terwujud dalam bentuk kesepakatan dalam bentuk Sumpah Pemuda 1928, yang merupakan momentum formal kesadaran berbangsa yang satu, yaitu bangsa Indonesia. 8. Terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia Kesadaran akan kebutuhan terbentuknya Negara yang merdeka dan berdaulat, yang dapat mengelola bangsa dan tumpah darahnya, serta mengantarkan bangsa ini ke arah tujuan yang dicita-citakan kian terlembaga. Akhirnya, perpaduan antara dinamika global (Peristiwa Hiroshima) serta gerakan kebangsaan di tingkat nasional sampailah bangsa Indonesia pada cita-cita berdirinya NKRI yang merdeka dan berdaulat pada tanggal 17 Agustus 1945. 9. Paradigma Nasionalisme Religius Kenyataan bahwa Nasionalisme Religius telah mampu menghimpun keanekaragaman suku menjadi sebuah bangsa, yakni Bangsa Indonesia. Didorong oleh ideologi ini pula yang kemudian mengantarkan Bangsa Indonesia membentuk NKRI yang merdeka dan berdaulat (17/8/1945) Nasionalisme Religius pula yang menyelamatkan bangsa ini dari kekejaman ideologi Nasionalisme Komunis (Tragedi 1965). Bertolak dari hal ini, penting bagi generasi muda untuk memahami dimensi-dimensi dari ideologi Nasionalisme Religius ini dalam mengisi kemerdekaan ini. 10. Dimensi Ketuhanan dalam Nasionalisme Religius Sila pertama dari Pancasila adalah Ke-Tuhanan yang Maha Esa. Dimensi ini mengharuskan kita untuk memandang segenap permasalahan dan solusinya melalui kacamata hubungan kita dan Tuhan, tempat dimana kita akan kembali untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan. Sebagai contoh, jika setiap anak bangsa takut pada Tuhan-nya niscaya mereka tidak akan berani melakukan tindakan korupsi. 11. Dimensi Kemanusiaan dalam Nasionalisme Religius Sila kedua dari Pancasila adalah Kemanusiaan yang adil dan beradab. Dimensi ini mengharuskan kita untuk memandang bahwa masyarakat manusia akan terjaga kemanusiaannya jika prinsip-prinsip keadilan dan keberadaban ditegakkan. Sebagai contoh, masalah terorisme berakar pada tata pergaulan masyarakat yang tidak adil, dimana tidak ada keadilan bagi yang lemah. Akibatnya mereka menyatakan protesnya melalui tindakan yang mengerikan , yakni terorisme. 12. Dimensi Keutuhan Nasional dalam Nasionalisme Religius Sila ketiga dari Pancasila adalah Persatuan Indonesia. Dimensi ini mengharuskan kita dalam mengambil keputusan dalam penyelesaian masalah agar mempertimbangkan keutuhan NKRI. Sebagai contoh, kebijakan otonomi daerah sebagai solusi masalah ketimpangan pusat dan daerah, harus dikelola agar tidak kebablasan menjadi disintegrasi nasional. 13. Dimensi Musyawarah dalam Nasionalisme Religius Sila keempat dari Pancasila adalah Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawarahan dan `I perwakilan. Dimensi ini mengharuskan kita untuk menggunakan instrumen musyawarah dalam pengambilan keputusan dalam bernegara dan bermasyarakat. Sebagai contoh, menyelesaikan berbagai konflik di tingkat lokal dengan menggunakan prinsipprinsip musyawarah. 14. Dimensi Keadilan Sosial dalam Nasionalisme Religius Sila kelima dari Pancasila adalah Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dimensi ini mengharuskan kita untuk menegakkan prinsip-prinsip keadilan sosial dalam mengelola dimensi-dimensi dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagai contoh, dalam mengelola pembangunan hendaknya kita senantiasa menerapkan prinsip keadilan sosial terkait dalam pendistribusian hasil-hasil pembangunan. 15. Kehancuran sebuah Negara Bangsa adalah keniscayaan Dinamika politik antar bangsa tidaklah ramah, penghilangan sebuah negara bangsa oleh negara bangsa lainnya adalah keniscayaan yang terus berulang. Afghanistan, Iraq, Yugoslavia, Uni Sovyet, Palestina dan Turki Usmani adalah sejumlah negara bangsa yang mengalami masalah eksistensi. Bahkan sebagian telah hilang dari peta dunia, sedangkan sebagian lainnya dalam proses yang mengkhawatirkan. Semuanya belum lama berselang. Secara umum eksistensi sebuah negara bangsa dapat hilang karena sebab-sebab internal dan eksternal. 16. Yugoslavia 1929 - 2003 Yugoslavia hilang dari peta dunia karena sebabsebab internal (gambar disebelah adalah peta setelah disintegrasi). Sebelum disintegrasi ia adalah negara federasi terediri enam negara bagian dan dua daerah otonom, yaitu: Slovenia Kroasia Bosnia-Herzegovina Serbia Montenegro Kosovo Vojvodina 17. Sekilas Yugoslavia Nama Yugoslavia digunakan dalam tiga periode, sebelum akhirnya diganti menjadi Serbia-Montenegro, yaitu: Periode Pertama, pada tahun 1929 Raja Alexander I dari Dinasti Karadjordjevic mendeklarasikan berdirinya Yugoslavia yang berbentuk kerajaan (setelah sebelumnya kekuasan Khilafah Utsmaniyah selama 500 tahun di Balkan berakhir melalui Perang Balkan pada 1912-1913). Perode Kedua, pada tahun 1946 Josip Broz Tito merubah bentuk pemerintahan dari kerajaan menjadi negara federal, setelah membebaskan negaranya dari penjajahan bangsa Jerman (1944-1945). Periode Ketiga, setelah beberapa negara bagian melepaskan diri pada tahun, maka pada tanggal 27 April 1992 Negara Bagian SerbiaMontenegro mendirikan negara Yugoslavia dengan luas hanya 40% dari era sebelumnya. Yang kemudian pada tahun 2003 nama Yugoslavia secara resmi diubah menjadi Serbia-Montenegro. 18. Sebab-sebab internal (1) Primordialisme Nilai-nilai promordialisme yang melekat pada masing-masing negara bagian tidak diimbangi dengan dengan nilai-nilai kebersamaan sebagai sebuah negara federal. Konflik masa lalu yang terpendam karena sistem komunis yang otoriter semasa Tito, tidak terselesaikan dengan baik. Sehingga, tetap menjadi konflik laten yang berpotensi menjadi kekuatan disintegrasi.Batas Negara yang kurang adil Kroasia lebih diuntungkan dengan mendapatkan wilayah pantai yang kaya, dibandingkan dengan Serbia yang mayoritas.Tidak memiliki ideologi perekat Ideologi Nasionalisme Komunis tidak mampu mejadi ideologi yang mengikat diantara heterogenitas etnis negara-negara bagian. 19. Sebab-sebab internal (2) Strategi Pembangunan Hasil dari strategi pembangunan selama 40 tahun telah membuahkan ketimpangan kemakmuran diantara negara bagian. Ketimpangan yang tajam antara daerah industri (Slovenia, Kroasia dan Serbia-Bosnia) dengan daerah pertanian (Serbia), padahal strategi pembangunannya adalah industri maju yang bertumpu pada pertanian.Doktrin Pertahanan Nasional Doktrin pertahanan nasional Yuslavia kurang mampu mendefiniskan hakikat dan gambaran musuh, mereka lebih berorientasi pada ancaman eksternal. Padahal potensi ancaman internal bagi disintegrasi bangsa yang kian menguat tidak terdeteksi dengan baik, akibatnya meskipun mereka memiliki tentara pusat maupun daerah yang berkekuatan tempur tinggi tidak mampu mengantisipasi ancaman internal. 20. Iraq 600 - Iraq adalah contoh sebuah negara bangsa yang kini eksistensinya terancam akibat sebabsebab eksternal. Secara komposisi etnis terdiri dari 77% dari suku Arab, 19% dari suku Kurdi dan sisanya adalah minoritas. Secara ekonomi, ia adalah yang kedua di dunia Arab dan yang ketiga di Timur Tengah. Kontribusi minyak bagi GDP negara ini hampir mencapai 50%. 21. Iraq adalah penghasil minyak