Warta gri 21 februari 2016

download Warta gri 21 februari 2016

of 18

  • date post

    26-Jul-2016
  • Category

    Documents

  • view

    213
  • download

    0

Embed Size (px)

description

 

Transcript of Warta gri 21 februari 2016

  • 14 FEBRUARI 2016 | GEREJA REFORMASI INDONESIA 4

    CINTA, Siapa yang tak suka membicarakan. Membayangkan saja sudah begitu bergairah, apalagi merasainya. Itu kekuatan cinta. Cinta, membuat orang begitu bersukacita, tapi tak jarang juga membikin orang menangis lama karenanya. Ya, cinta, ada suka di sana, duka pun terselib dibaliknya. Anehnya, orang begitu suka dengan cinta. Bahkan rela diperbudak olehnya. Cinta tak pernah bersalah, itu benar adanya. Tapi cinta kepada apa dan siapa, itu persoalannya. Cinta yang bagaimana, yang seperti apa, itu masalahnya. Bahasa Indonesia tidak terlalu rumit jika membincangkan soal cinta. Kata dan arti yang digunakan hanya satu saja, yang menjadi pembeda adalah obyek yang dicinta, itu saja. Tapi sama sekali berbeda jika berdiskusi soal cinta dengan menggunakan bahasa kitab suci, Yunani. Seperti sudah kita ketahui bersama, cinta dalam bahasa Yunani memiliki banyak kata dan arti atau maksud yang berbeda. Tingkatan dan penempatan cinta menjadi pembedanya. Mulai dari cinta nafsu, cinta bersaudara sampai cinta Ilahi, cinta yang sejati. Semua memiliki penempatan dan makna yang berbeda. Karenanya akan menjadi masalah kalau salah penempatan. Parah lagi kalau cinta benda, atau cinta pasangan sama seperti cinta Ilahi. Bukan saja berbahaya, tapi berdampak pada kematian kekal. Apa itu cinta Ilahi? Bahasa Yunani menggunakan kata AGAPE untuk menyebut cinta Ilahi, cinta yang sejati.

    Kata ini (Agapao & AGAPE) berasal dari turunan bahasa Ibrani AGAB yang mengandung arti berahi atau bergairah. Sebuah gambaran relasi intim hubungan di antara dua insan. AGAb bukan kata sembarang. Seksualitas yang digambarkan pun bukan relasi seksualitas seperti yang ada dibenak orang. Kata AGAB dipakai dalam kitab suci (PL) sebanyak 7 kali saja. Tidak satu pun dari kata itu digunakan menunjuk pada kegairahan orang dengan orang. Kata AGAB sungguh sangat sakral, hanya dipakai untuk menunjuk keintiman relasi antara Manusia dengan Allah (Yeh 23:16; Yeh 23:5). Menunjuk kepada kegairahan cinta manusia kepada AllahNya, begitu juga sebaliknya. Menunjuk kepada pengikatan diri satu sama lain. Sebuah kegairahan hubungan yang menuntut komitmen dan kesetiaan diantara keduanya. Jika ada salah satu dari keduanya berhasrat atau menghasrati subyek cinta lain, hal itu adalah bentuk penyelewengan atau perselingkuhan yang tidak boleh mendapat tempat dalam cinta. Cinta sejati hanya antara dua subyek pencinta, tidak ada oknum ketiga, itu saja. Kalau sempat ada hasrat kepada subyek lain, maka silakan pilih yang mana. Dalam suratnya yang pertama (1 Yoh 2:15), Yohanes menggunakan kata AGAPE untuk menunjukkan dua pilihan tegas, cinta kepada Allah atau lainnya.

    Janganlah kamu MENGASIHI (AGAPAO) dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang MENGASIHI (AGAPAO) dunia, maka KASIH (AGAPE) akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. (1 Yoh 2:15)

    Rasul Yohanes dengan begitu lugas, jelas dan tegas menunjukkan kepada pembacanya, kalau engkau cinta (AGAPAO) terhadap Dunia, maka sesungguhnya Cintamu kepada Allah tidak ada. Begitu juga sebaliknya, ketika engkau Cinta Kepada Allah, maka sudah seharusnya tidak lagi mencintai kepada lainnya, pun dunia. Kalau seseorang AGAPE terhadap dunia, sejatinya menunjukkan kebergairahan kepada dunia. Menunjukkan betapa seluruh hidup jiwa dan raganya diikatkan kepada dunia. Jikalau seseorang mengasihi dunia sedemikian eratnya, sedemikian melekatnya, sesungguhnya menunjukkan tidak ada lagi kasih kepada lainnya, pun Allahnya. Karena dia mencinta dunia, sama seperti dia seharusnya mencinta Allahnya. Di sini Yohanes menunjukkan betapa berbahayanya kasih yang tidak pada tempatnya. Menunjukkan betapa berbahayanya AGAPE terhadap subyek lain kecuali Tuhannya. Bukan saja dirinya terbelenggu oleh subyek yang dicintainya, tapi juga menghambakan diri kepadanya. Sungguh, cinta seperti demikian, cinta yang bergantung dan melekat sepenuhnya selayaknya hanya untuk Allah, bukan dunia. Mana yang kita cinta? ?Slawi

    Kebaktian Tengah Minggu GerejaReformasi Indonesia Jemaat Antiokhia

    Tempat : Wisma Bersama, Jl. Salemba Raya 24 A-B, Jakarta Pusat

    GAIRAH CINTA BERBAHAYASurat dari Gembala

  • 14 FEBRUARI 2016 | GEREJA REFORMASI INDONESIA5

    Warta Tengah Minggu

    Kebaktian Tengah Minggu GerejaReformasi Indonesia Jemaat Antiokhia

    Tempat : Wisma Bersama, Jl. Salemba Raya 24 A-B, Jakarta Pusat

    Persekutuan Oikumene - Rabu, 17 Februari 2016, Pkl : 12.00 WIB

    Antiokhia Ladies Fellowship - Kamis, 18 Februari 2016, Pkl : 11.00 WIB

    Sikap Yesus Terhadap Perempuan

    Love is the Greatest

    Ibu Greta Mulyati

    Sabtu, 20 Februari 2016, Pkl. 13.00 WIB

    Pdt. Simon Stevi

    Romantic Love vs Real Love

    Antiokhia Youth Fellowship Sabtu, 13 Februari 2016, Pkl. 16.00 WIB

    gerakan pengabdian pemuda bangsa

    Jumat, 26 Februari 2016, Pkl. 19.00 WIB

    PENDALAMAN ALKITAB

    Pdt. Bigman Sirait

    NARASUMBER : MODERATOR :

    SHARING 1 :SHARING 2 :KONSUMSI :

    Pdt. Bigman SiraitBp. Jemy LiauwSdr. Fredy SinuratIbu NonaKel. Bp. Saut & Kel. Ibu Evi

    kejadian 39

  • 14 FEBRUARI 2016 | GEREJA REFORMASI INDONESIA 6

    Mengenal Alkitab

    Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan

    Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."Ibrani 13:5

    DI dalam Ibrani 13, penulis Ibrani memberikan nasihat-nasihat kepada para penerima dan pembaca suratnya, terkait hal-hal praktis dalam hidup orang percaya. Yaitu memelihara kasih persaudaraan, hidup berbagi pada sesama, mengingat dan memperhatikan orang-orang yang hidup benar namun tertindas. Selanjutnya penulis Ibrani menasihati keluarga Kristen. Ia menasihatkan supaya mereka menjaga kehormatan perkawinan. Sehingga tidak jatuh dalam dosa persundalan atau perzinahan. Pada ayat 5 ini penulis Ibrani menasihatkan supaya orang percaya tidak menjadi hamba uang, sebaliknya ia ingin agar orang percaya mencukupkan diri dengan apa yang ada pada mereka. Nasihat ini muncul setelah peringatan mengenai kedursilaan (ay.4). Dalam beberapa tulisan Paulus, keserakahan dan kedursilaan terkait sangat erat (1 Kor. 5:11; 6:9-10; Ef. 5:3). Kecintaan akan uang akan membuka peluang untuk terjerumus dalam dosa-dosa yang lain. Karena cinta uang manusia bisa melakukan berbagai kejahatan. Manusia yang menghambakan diri pada uang adalah manusia yang serakah. Sikap serakah sama dengan penyembahan berhala, percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, dan itu semua adalah kehendak duniawi. Manusia yang memperbudak diri pada uang disebut juga sebagai orang-orang durhaka (Kol.3:5-6). Karena itu Paulus dengan tegas memerintahkan kepada orang percaya di Kolose supaya mereka mematikan dalam diri mereka segala keinginan duniawi tersebut. Dalam suratnya kepada Timotius, Paulus juga mengingatkan akan bahaya dari cinta akan uang. Bahaya dari sikap dan perbuatan memperbuak diri pada uang adalah membawa diri ke dalam jerat yang mencelakakan, menenggelamkan diri ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Sungguh akar dari segala kejahatan adalah cinta uang (1 Tim. 6:9-10). Uang memang penting, tetapi uang bukan segala-galanya. Uang bukan dosa, tetapi sikap hidup manusia yang menjadikan diri sebagai hamba uang adalah dosa. Yaitu dosa yang mendatang murka Allah.

    Mencukupkan diri dengan apa yang ada merupakan sikap mensyukuri dan menghargai pemberian Allah. Itu seyogyanya sikap hidup orang percaya. Dalam Doa Bapa Kami, Tuhan Yesus mengajarkan berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya (Mat. 6:11). Namun, natur manusia berdosa, seringkali tidak pernah puas dengan apa yang ada. Apalagi tentang uang, ingin lebih, tidak penah merasa cukup dan selalu saja merasa kurang. Tetapi tidak seharusnya demikian dengan kehidup orang percaya. Orang percaya seyogyanya mampu menghargai setiap pemberian Allah. Menggunakan setiap berkat Allah dengan baik, benar dan bertanggungjawab. Tidak penting berapa banyak uang yang Tuhan berikan, tetapi penting bagaimana hati bersyukur kepada Allah yang telah menunjukan kasih setia-Nya dan memelihara kehidupan kita. Menghambakan diri pada uang adalah penyangkalan dan penolakkan terhadap pemeliharaan Allah. Ini berarti tidak percaya kepada Allah. Selaiknya, mencukupkan diri dengan apa yang ada merupakan gambaran hidup orang percaya yang mempercayakan hidupnya pada pemeliharaan Allah. Sungguh, Allah setia pada perjanjianNya. Dia setia memelihara orang yang dikasihiNya. Karena itu, manusia tidak perlu mengajar Allah bagaimana cara Dia memberkati, apalagi berupaya menolong Allah untuk memenuhi kebutuhan hidup ini. Allah tahu bagaimana Dia memelihara kehidupan umat-Nya. Bagian kita adalah bagaimana kita hidup taat melakukan kehendakNya, setia melayaniNya dan mempercayakan hidup pada kedaulatan-Nya. Amin

    AWAS JANGAN JADI HAMBA UANG !!!- Pdt. Netsen -

  • 14 FEBRUARI 2016 | GEREJA REFORMASI INDONESIA7

    Info GRI

  • Pelita

    SAAT melihat orang yang begitu percaya diri, tentu beberapa dari kita merasa ingin sekali bisa memiliki hal demikian. Sejatinya menjadi percaya diri adalah hak setiap orang, yang dengannya seseorang akan maju dan siap tampil. Rasa percaya diri dibutuhkan oleh setiap orang. Tidak peduli, entah siapa pun dia dan dimana pun berada. Seseorang bisa tidak memiliki rasa percaya diri oleh karena berbagai macam faktor. Hal ini bisa disebabkan karena; bentukkan dalam keluarga yang keliru atau pola asuh yang salah dimana sejak kecil anak tidak pernah diajar membangun rasa percaya dirinya. Ada juga yang tidak memiliki rasa percaya diri oleh karena kekurangan-kekurangan pada diri seseorang. Kekurangan tersebut seperti merasa kurang cantik, merasa kurang cakep, bisa karena kekurangan salah satu anggota tubuh atau cacat. Selanjutnya ada orang yang tidak memiliki rasa p