Waktu sholat

of 62 /62
DASAR-DASAR HISAB PRAKTIS A. Pengantar Pengetahuan tentang letak, pergerakan dan sifat-sifat matahari, bulan, bintang, planet(termasuk bumi) disebut Astronomi. Ilmu Falak sebagai bagian dari ilmu Astronomi mempelajari yang berkaitan dengan benda-benda langit, baik dari segi bentuk, ukuran, fisik, posisi, gerakan maupun hubungan satu dengan lainnya.

Embed Size (px)

Transcript of Waktu sholat

  • DASAR-DASAR HISAB PRAKTISA. Pengantar Pengetahuan tentang letak, pergerakan dan sifat-sifat matahari, bulan, bintang, planet(termasuk bumi) disebut Astronomi. Ilmu Falak sebagai bagian dari ilmu Astronomi mempelajari yang berkaitan dengan benda-benda langit, baik dari segi bentuk, ukuran, fisik, posisi, gerakan maupun hubungan satu dengan lainnya.

  • KOSMOGRAFIIlmu Falak juga disebut Kosmografi. Bila ilmu Falak bermakna pengetahuan bidang edar, maka Kosmografi berarti catatan tentang alam semesta (kosmos = alam semesta; graphein = menulis).

  • KEGUNAANSejak dahulu ummat Islam telah memanfaatkan ilmu ini, terutama untuk kepentingan ibadah, misalnya untuk hisab awal waktu shalat, arah qiblat, awal bulan qamariyah, gerhana bulan (khusuf) maupun matahari (kusuf). Dalam perkembangan berikutnya, ilmu tentang perhitungan pergerakan benda langit, khususnya matahari dan bulan ini dalam komunitas muslim dikenal sebagai ilmu hisab. Untuk menunjang pemahaman dalam mempelajari Ilmu Falak/Hisab, penting memahami beberapa hal berikut:

  • BOLA LANGIT Sesungguhnya bola langit itu tidak ada sama sekali, karena ruangan cakrawala ini luasnya tak terhingga. Untuk memudahkan penyelidikan, maka bola langit itu dikhayalkan ada, agar kita lebih mudah memprediksi letak benda-benda langit serta bagaimana hubungannya satu dengan yang lain. Bola langit yang dianggap ada itu adalah ruangan yang maha luas yang berbentuk bola yang dapat kita lihat sehari-hari tempat matahari, bulan, bintang, dan planet lainnya bergerak setiap saat.

  • BOLA LANGITBm (bumi), A, B, C (bintang-bintang yang berjauhan letaknya), M (matahari), Bl (bulan) ialah benda-benda langit yang agak dekat ke bumi. Akan tetapi, kita lihat masing-masing berada di bola langit sebagai A1, B, C1, M1, Bl1.Sebenarnya yang dapt kita lihat sehari-hari itu adalah separuh bola saja, sedang separuh lainnya selalu tidak dapat kita lihat dalam waktu yang sama, karena pandangan kita terhambat oleh bumi.

    BmMM1BlBl1AA1BC1CGambar : 1

  • ZENITH DAN NADIRZenith adalah titik tertinggi yang ditarik lurus ke atas dari tempat kita berdiri.Nadir adalah titik terendah dari tempat kita berdiri. Zenith dan Nadir bagi masing-masing tempat berbedaZNZZNNGambar : 2

  • Lingkaran Vertikal dan Horizontal

    Lingkaran Vertikal adalah lingk. pada bola langit yang bergaris menengahkan garis vertikal.Garis vertikal adalah garis yang menghubungkan titik zenith dan nadir.Ling. Horizon adalah lingk. pada bola langit yg bergaris menengahkan garis horizon.Garis horizon adalah garis yang meng hubungkan titik Utara dan titik Selatan.Garis/Lingk. vertikal itu selalu ber potongan tegak lurus dg garis / lingk. Horizon yg menyebabkan setiap titik pada lingk. horizon jaraknya 90 dari titik zenith. Dengan demikian jika ada sebuah benda langit yg terletak di salah satu titik lingk. vertikal, tinggi maupun jarak zenithnya dg mudah dapat kita ketahui.Yang dimaksud dg jarak zenith adalah jarak titik pusat benda langit dg zenith yang diukur melalui lingk. vertikal yg melalui benda langit tersebut. Sedang ketinggian adalah jarak sebuah benda langit ke lingk. horizon yg diukur melalui lingk. vertikal benda langit tersebut.

    z = 90 - h Rumus : h = 90 - z

    TBU

    NSZGambar : 3

  • MACAM-MACAM HORIZON1. Horizon Kodrat ialah batas khayal yang seolah-olah menjadi batas pertemuan langit dengan bumi, misalnya kita berada di laut.2.Horizon Semu ialah bidang yang rata yang menyinggung bumi yang dapat kita tarik dari tempat kita berdiri (antara kaki dengan tanah). Bidang ini tegak lurus pada bidang vertikal. 3.Horizon Sejati ialah bidang yang melalui titik pusat bumi yang tegak lurus pada garis vertikal dan membelah bola bumi pada bagian yang sama.

  • LINGKARAN MERIDIANU KU = Tinggi KutubS KS = Tinggi KutubE Q = Equator/KhatulistiwaDiantara lingkaran-lingkaran vertikal itu ada yang bersifat istimewa yang biasanya digambarkan berimpit dg bidang gambar. Lingkaran ini disebut Lingkaran Meridian Langit Setempat yg memuat titik Zenith dan Nadir, Kutub Utara dan Kutub Selatan serta titik Utara dan Selatan. Jadi lingk. Meridian adalah lingk. Vertikal yang melalui kutub Utara dan Selatan langit yang dihubungkan oleh poros langit yang merupakan perpanjangan poros bumi yang menghubungkan kutub Utara bumi dan kutub Selatan bumi. Kutub Utara maupun Kutub Selatan selalu berpotongan tegak lurus dengan equator langit, yaitu lingk. yang membagi bola langit menjadi dua belahan yang sama, yakni Utara dan Selatan.Lingk. Equator adalah lingk. yang membagi bola langit menjadi dua bagian yang sama, yakni belahan langit Utara dan Selatan. Setiap titik pada lingk. ini berjarak 90 dari kutub langit Utara dan kutub langit Selatan. Jadi lingk. Equator itu adalah lingk. besar pada bola langit yang tegak lurus pada sumbu langit, aykni KU dan KS. ZNEQUKUKSSGambar : 4

  • GERAK HARIANWaktu atau jam itu disesuaikan dengan peredaran matahari, sehingga kita mempunyai gambaran tentang peredaran matahari setiap harinya. Meskipun yang terlihat setiap hari matahari terbit dari ufuk sebelah Timur dan terbenam di ufuk sebedlah Barat, tetapi pada hakikatnya yang berputar itu adalah bumi pada porosnya, yakni setiap hari berotasi sekali selama 24 jam.Perjalanan matahari dari Timur ke arah Barat itu selalu mencapai titik kulminasinya pada saat yang sama yang disebut tengah hari, karena memang menjadi batas seperdua dari siang hari. Waktu yang ditempuh oleh matahari dari titik kulminasi ke titik kulminasi itu lagi disebut sehari matahari yanag terbagi menjadi 2 kali 12 jam.Jadi titik kulminasi adalah titik tertinggi yang dicapai matahari dalam perjalanan hariannya.Lingk. tempuhan matahari dibagi oleh horizon/ufuk pada dua bagian, yaitu bagian di atas ufuk yang disebut busur siang dan bagian di bawah ufuk yang disebut busur malam.Perjalanan harian matahari dari Timur ke Barat bukanlah gerak hakiki, melainkan karena perputaran bumi pada porosnya (rotasi) dari Barat ke Timur, sekali putaran penuh sekitar 24 jam. Akibat rotasi ini, antara lain adanya perbedaan waktu dan pergantian siang dan malam di bumi. Di samping itu, arah rotasi dari Barat ke Timur mengakibatkan tempat-tempat di bumi bagian Timur mengalami waktu terlebih dahulu. Perbedaan waktu tersebut adalah sekitar 1 jam untuk setiap perbedaan 15 bujur atau 4menit untuk setiap 1 bujur.Perjalanan semu harian matahari ini dijadikan pedoman dalam menentukan waktu shalat. Dalam kaitannya dengan awl bulan qamariyah, awal shalat maghrib merupakan saat yang sangat penting, sebab mulai saat itu hari dan awal bulan qamariyah dimulai dan juga saat dimana hilal awal bulan kemungkinan dapat dilihat.

    TBUSZN

    Gambar : 5

  • TINGGI KUTUBTinggi kutub ialah jarak dari kutub ke horizon diukur melalui lingk. Meridian (busur meridian langit antara horizon dan kutub).Misalnya tempat T letaknya 30 LU. Garis Z-N ialah garis vertikal yang tegak lurus pada horizon U-S. Sumbu langit (KU-KS) tegak lurus pula pada E-Q. Maka
  • LINTANG DAN BUJUR

    Penetapan lintang dan bujur berbagai tempat di dunia ini didasarkan hasil kongres internasional yang dihadiri oleh 25 negara. Kongres itu berlangsung tanggal 1 sampai 22 Oktober 1884. Dalam menetapkan meridian nol di bumi, tidak ada kesepakatan. Amerika, Inggris, Turki dan sebagian negara lain sepakat bahwa titik pangkal mulai menghitung meridian itu adalah Greenwich, sebuah tempat di selatan kota London. Sedang Prancis menginginkannya di kota Paris, sementara 2 negara abstain. Meridian lain dinyatakan dengan derajat yang dihitung dari meridian Greenwich, yakni dari 0 180 ke arah Timur disebut BT dan 0 -180 ke arah Barat disebut BB Lintang tempat adalah jarak suatu tempat dari khatulistiwa/equator bumi diukur sepanjang garis bujur yang melalui tempat itu. Lintang tempat itu positif (+), bila tempat itu berada pada belahan bumi bagian Utara, terhitung dari 0 di equator bumi sampai 90 di kutub bumi Utara. Dan negatif (), bila tempat itu berada di belahan bumi bagian Selatan, terhitung dari 0 di equator bumi sampai 90 di kutub bumi Selatan. Dalam I. Falak, lintang tempat ini disebut Phi (Yunani) dan diberi kode ( ).Informasi tentang lintang tempat ini bisa dilihat misalnya dalam Atlas PR. Bos, software komputer yang telah banyak beredar.

  • LINTANG DAN BUJURBujur Tempat adalah jarak suatu tempat ke garis bujur yang melalui kota Greenwich di selatan kota London.Berbagai tempat di bumi ditentukan bujurnya melalui posisinya dari titik 0 di kota Greenwich sampai 180, baik ke arah Barat (BB) maupun ke arah Timur (BT). Bujur 180 Barat berhimpit dengan bujur 180 Timur di lautan Pasifik dan dijadikan garis batas tanggal internasional (International Date Line). Dalam ilmu Falak, bujur tempat ini disebut Lambda dan diberi kode ( ). Seperti halnya lintang tempat, maka daftar bujur tempat inipun bisa dilihat dalam berbagai buku atau software komputer.Agar lebih jelas perhatikan gambar berikut:

  • LUKISAN LINTANG DAN BUJUR

    G G = Kota Greenwich Vertikal = Horizontal =

    Gambar : 7BTUS

  • MENENTUKAN LINTANG DAN BUJUR

    Apabila suatu tempat tidak terdaftar data lintang maupun bujurnya, maka dapat dicari dengan cara interpolasi, yakni menetapkan harga lintang dan bujur yang akan dicari diantara dua nilai lintang dan bujur terdekat yang sudah terdaftar. Misalnya kita akan mencari nilai lintang bujur kota A. Lakukan dengan langkah berikut :Misalnya kita akan mencari nilai lintang dan bujur kota A. Lakukan dengan langkah berikut :1. Buatlah lukisan dan letakkan dua lintang dan bujur dari tempat yang sudah diketahui.2. Prakirakan letak kota A yang hendak dicari nilai lintang dan bujurnya.3. Lakukan perhitungan dengan rumus interpolasi: A - (A - B) x C I.Contoh: Kota A terletak diantara kota B ( = -5 10 dan = 112 15 BT ) dan kota C ( = -10 25 , = 115 40 BT ).Perhatikan lukisan berikut:

  • Menentukan Lintang dan BujurLintang Tempat kota A =-5 10(-5 10 -1025)x 1/4 1= -6 28 45"Bujur Tempat kota A =11215(1121511540)x1/31= 113 23 20 " Besarnya perbedaan waktu antara dua kota, dapat diketahui melalui selisih bujur kedua kota tersebut, dan hasilnya dijadikan satuan waktu dengan cara dibagi 15.-5 10-1025112 15 BT115 40 BTAUBCGambar : 8

  • KEDUDUKAN LANGIT VERTIKALKedudukan Langit Vertikal terjadi pada tempat yang berada persis di Equator. Dalam hal ini lingkaran siang dan malam bagi bintang-bintang sama besarnya.Misalnya : Kota Sasak ( Utara Bukit Tinggi). = 0 LU = 99 43' BT

    Z = EN = Q U= KUS=KSTTTBBBGambar : 9

  • KEDUDUKAN LANGIT SIRKUMPOLERKebanyakan kedudukan langit di belahan bumi di dunia ini miring. Misalnya : Kota Kairo, Mesir

    = 30 01' LU = 31 13' BT

    ZNUSKUKSEQTBGambar : 10

  • KEDUDUKAN LANGIT HORIZONTALDi samping vertikal dan sirkumpoler, kedudukan langit juga ada yang horizontal, dan satu-satunya di dunia ini adalah di Kutub.Tinggi Kutub = 90 LSEQ berimpit dengan HorizonKS KU berimpit dengan ZNTidak ada arah Timur dan Barat. Z = KSN = KUEQGambar : 11

  • DEKLINASIDeklinasi adalah jarak suatu benda langit dengan equator langit diukur melalui lingkaran deklinasi atau lingkaran waktu, yaitu lingkaran pada bola langit yang ditarik melalui dua kutub langit. Dalam ilmu falak, deklinasi ini ditandai dengan huruf Yunani ()Deklinasi suatu benda langit adalah sepotong busur lingkaran deklinasi yang diukur dari titik perpotongan equator langit pada lingkaran deklinasi itu sampai ke bintang tersebut. Pada gambar berikut, deklinasi bintang Bt ialah busur K Bt. Titik perpotongan lingkaran deklinasi bintang itu dengan equator (K), dinamai Titik Kaki Deklinasi.Deklinasi dikatakan positif (+), bila suatu benda langit berada di belahan Utara langit, terhitung dari 0 90, yaitu mulai dari equator langit sampai kutub utara langit. Dan dikatakan negatif (-), bila benda langit tersebut berada di belahan langit Selatan, terhitung dari 0 90, yaitu mulai dari equator langit sampai kutub selatan langit.Peristiwa deklinasi ini menggambarkan pergerakan benda-benda langit, baik ke Utara maupun ke Selatan, yang mengakibatkan perbedaan lama waktu siang dan malam di tempat itu sesuai dengan kemiringan equatornya.

  • ZN

    EQKSKUUSTBTBTBBKKKBtMelbourne : = -37 50' = 144 58'21 Maret / 23 Sep21 Juni( + )( - ) 22 DesGambar : 12

  • TEMPUHAN HARIANBerdasarkan lukisan tadi, ternyata titik terbit dan terbenamnya matahari setiap hari itu tidak sama. Kadang ke arah Utara dan kadang ke Selatan. Seberapa jauh pergeseran itu dari equator, dapat kita hitung dengan jalan membuat lingkaran besar yang kita tarik melalui kedua kutub. Lingkaran ini disebut Lingkaran Deklinasi, yaitu lingkaran pada bola langit yang ditarik melalui kedua kutub langit.Perjalanan harian matahari menurut arah Timur-Barat bukanlah gerak hakiki, melainkan karena perputaran bumi pada porosnya dari arah Barat ke Timur (rotasi) sekali putaran penuh membutuhkan waktu 24 jam. Akibat adanya rotasi ini antara lain adanya perbedaan waktu dan pergantian siang dan malam dibumi. Di samping itu, arah rotasi dari Barat ke Timur (rektrograd), mengakibatkan tempat-tempat di bumi bagian Timur akan mengalami waktu lebih awal dari tempat-tempat di bagian Barat. Perbedaan waktu tersebut sekitar 1 jam untuk setiap perbedaan 15 bujur atau 4 menit untuk setiap 1 bujur. Perhitungan ini diperoleh dari waktu yang diperlukan untuk satu kali putaran penuh (360) selama 24 jam. 360 = 24 jam 1 jam = 15 busur 1 busur = 4' waktu 1' waktu = 15' busur 1' busur = 4" waktu

  • Tempuhan HarianPeredaran semua harian matahari dari Timur ke Barat dijadikan pedoman dalam menentukan waktu-waktu shalat. Dalam kaitan dengan awal bulan qamariyah, awal shalat maghrib merupakan saat yang sangat penting, sebab mulai saaat itu hari dan awal bulan qamariyah dimulai dan juga saat dimana hilal awal bulan kemungkinan dapat dilihat. Revolusi bumi adalah peredaran bumi mengelilingi matahari dari arah Barat ke Timur, sekali putaran penuh memerlukan waktu 365,25 hari. Jangka waktu revolusi bumi ini dijadikan dasar perhitungan tahun Syamsiyah.Satu tahun Syamsiyah berumur 365 hari untuk tahun pendek (basithah/common years) dan 366 hari untuk tahun panjang (kabisat/ leap years). Oleh karena adanya rotasi bumi, maka gerak setiap titik di atas bumi berlaku dalam suatu bidang yang tegak lurus pada poros bumi. Salah satu bidang yang tegak lurus pada poros bumi itu ialah khatulistiwa/equator.Tempuhan harian matahari dan planet-planet lain, senantiasa lingkaran-lingkaran yang sejajar dengan equator ini (lihat gambar 10, 11, 12 dan 14).

  • SUDUT WAKTUSudut waktu adalah sudut pada kutub yang dibentuk oleh dua lingkaran besar yaitu lingkaran meridian dan lingkaran deklinasi (sudut pada kutub yang sisi-sisinya terdiri dari sebagian busur meridian dan sebagian busur deklinasi) dan ditandai huruf tDinamakan sudut waktu, karena bagi semua benda langit yang terletak pada lingkaran waktu yang sama akan berkulminasi pada waktu yang sama pula (atau jarak waktu yang memisahkan benda langit tersebut dari kedudukannya sewaktu berkulminasi sama).Besarnya sudut waktu itu menunjukkan berapakah jumlah waktu yang memisahkan benda langit tersebut dari kedudukannya sewaktu berkulminasi.Sudut waktu dinamakan positif, bila benda langit ybs ada di belahan langit bagian Barat. Dan disebut negatif, bila ada di belahan bagian Timur. Jika benda langit sedang berkulminasi, maka harga t-nya = 0. Besar t diukur dengan derajat sudut dari 0 - 180 dan selalu berubah 15/ jam, karena gerak harian benda-benda langit.

  • Sudut WaktuHarga sudut waktu, dapat dihitung dengan rumus berikut:

    Cos t = -tan x tan + sec x sec x cos z fx 4000 : exe shift cos ans exe shift Harga t positif, karena diukur dari titik kulminasi ke arah Barat (bada zawal): Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya.Harga t negatif, karena diukur dari kulminasi ke arah Timur (qabla zawal): Shubuh, Syuruq, Dluha dan Fitr.

    USZNKUKSTBEQttGambar : 13

  • Rumus-Rumus Sudut Waktu(cos (- tan . tan + sec . sec . cos z )) exe shift Cos (- tan . tan + cos z sec sec ) exe shift

    t Ashar:Cos t = - tan . tan + sec . sec x cos (tan(tan Abs ( ) + 1)) exe shift cos ans exe shift Cos t = - tan . tan + sec . sec x cos tan ((tan Abs ( ) + 1)) exe shift cos ans exe shift Cos (-tan . tan +( cos . cos )x-1 cos(tan(tan Abs ( )+1))) exe shift

    t Dhuhur tidak perlu dicari, sebab matahari sedang berkulminasi dan waktu dhuhur dianggap sudah masuk jika matahari sudah mencapai kulminasi atas.

  • Kedudukan Matahari Awal Waktu Shalatz Dhuhur= ( ) z Ashar= tan zm + 1z Maghrib= 91 z Isya= 108, yaitu z Maghrib + 17 (1 jam 8 menit x 15).z Shubuh = 110 z Syuruq = 91z Dluha = 87 30z Fithri = 846 = Civil Twilight12 = Nautical Twilight18 = Astronomical Twilight

    ZNUS61218

    TBGambar : 14

  • TINGGI KULMINASITinggi kulminasi matahari setiap hari berubah, karena peristiwa deklinasi.Untuk mengetahui besarnya tinggi kulminasi, harus diketahui lebih dahulu zm matahari, yaitu jarak titik pusat matahari saat kulminasi dari zenith.Bila berkulminasi di titik E, harga = 0. Jadi zm = .Bila ke Utara, mis: E C, maka zm = ZC, yaitu + EC.Bila ke Selatan, mis: E C, maka zm = ZC, yaitu - EC.Bila ke Selatan, mis: E C, maka zm = ZC, yaitu EC - .Perhitungan di atas, disimpulkan dengan rumus berikut: zm = [ ]

    Dengan kata lain, jarak zenith titik pusat matahari saat kulminasi besarnya sama dengan harga mutlak lintang tempat dikurangi deklinasi.

    ZEKSUSKUOCCC

    EOKS = ZOSE Z = S - KS Gambar : 15

  • JARAK ZENITH ASHARDalam hadits Rasul saw dinyatakan bahwa kedudukan matahari pada awal Ashar adalah ketika bayang-bayang matahari sepanjang bendanya. AB = tongkat tegak lurus sepanjang aSaat kulminasi, bayang-bayang ujung tongkat A jatuh pada titik C. Bayang seluruhnya ialah B-C yang panjangnya b. CAM menuju pada titik pusat matahari sewaktu di meridian. Jadi sudut ZAM ialah jarak dari titik zenith ke titik pusat matahari yang dinamakan zm. Bila matahari bergerak ke Barat melewati titik kulminasi dan kedudukannya semakin rendah, mis. di titik as, maka bayangan tongkat AB semakin panjang. Pada awal ashar, panjang bayangan itu adalah BCD, yaitu BC + CD. Jadi panjang bayang-bayang AB waktu Ashar = b + a.

  • a = Sisi Tegakb = Sisi Miringc = Sisi Datar

    Sinus = BC/AC atau a/b, tegak dibagi miring Cossinus = AB/AC atau c/b, datar di bagi miringTangens = BC/AB atau a/c, tegak di bagi datar.ABCabc

  • Z AsharAlfa 1 = sdt BAC Alfa 2 = sdt CADAlfa 1 + alfa 2 = sdt BAD. AB = CD = a. BC = bSin alf 1 = BC/AC. Cos alf1 = AB/AC.Tan alf 1 = sin alf1/cos alf1 = BC/AC : AB/AC = BC/AC x AC/AB = BC/AB = b/a.Karena Tan sdt ZAM1 = Tan sdt BAC = BC/AB = b/a, maka Tan sdt ZAM2 = Tan sdt BAD = Tan (alf 1+alf 2) = BD/AB = BC+CD/AB = b+a/a = b/a + a/a = b/a + 1. Jadi Tan sdt ZAM2 = b/a +1. Tinggi matahari pada awal Ashar disimpulkan dalam rumus:

    Cotan ha = Tan zm + 1

    Exe x-1 exe shift tan ans exe shift o

    ZM1M2ABCabaDGambar : 1612

  • Jarak Zenith AsharSudut ABD ialah tinggi matahari awal Ashar. Maka Cotan. sudut ABD = BD/AB atau sisi a + b / a = a/a + b/a = b/a + 1.b/a adalah Tan sudut BAC atau Tan sudut ZAM atau Tan zm.Tinggi matahari awal waktu ashar disimpulkan dalam rumus:

    Cotan ha = Tan zm + 1

    Tan (-)+1 exe x exe shift tan ans exe shift Cotan tinggi ashar sama besarnya dengan jarak zenith titik pusat matahari saat kulminasi ditambah bilangan satu.

    za = Tan abs (-)+1 exe shift tan ans exe shift

  • AZIMUTHAzimuth adalah busur pada horizon yang diukur dari titik Selatan sampai ke titik perpotongan tinggi benda langit itu pada horizon. Azimuth terhitung dari 0 - 360.Dengan mengetahui tinggi dan azimuth sebuah benda langit, kita telah dapat menentukan tempat benda langit itu di bola langit. Busur K Bt = tinggi, yaitu busur yang sama besarnya dengan sudut Bt-Bm-K.Busur S K disebut azimuth bintang Bt, yang diukur mulai dari titik Selatan menuju titik Barat, Utara, Timur sampai titik Selatan lagi

    BTZNUS

    45KA 80

    hBmBtGambar : 17

  • EQUATION OF TIMEWaktu itu sebenarnya ditentukan oleh gerak dan diukur oleh kemajuan gerak. Gerak yang teratur ialah gerak yang dalam waktu yanag sama menepuh jarak yang sama pula. Akan tetapi, ternyata perjalanan matahari sehari semalam yakni dari titik kulminasi ke titik kulminasi pada hari berikutnya tidaklah sama, karena orbit bumi ellips dan poros bumi tegaknya miring pada bidang tempuhannya sebesar 66.Hukum Johannes Kepler (1571-1630), menyatakan: Bumi mengedari matahari dalam satu orbit yang berbentuk ellips dengan mata hari pada salah satu titik apinya.2. Bumi itu berjalan mengelilingi matahari dengan ketentuan bahwa dalam waktu yang sama ditempuh ditempuh jarak yang besarnya sama, artinya kalau jarak bumi dengan matahari dekat, maka jalannya bumi itu cepat dan bila jaraknya jauh, maka jalannya bumi itu lambat.

  • BmBlOrbit bumiOrbit bulanGambar : 18

  • Equation of TimeOleh karena jalannya matahari itu tidak teratur, maka para astronom membuat matahari pertengahan yang jalannya teratur betul. Atas = matahari pertengahan (Solar Time/ Wakt al-Wasathy)Bawah=matahari hakiki (Apparent Solat Time/ Waktu Surya).Waktu yang ditunjukkan matahari Pertengahan disebut waktu pertengahan (WP). Sedang waktu yang ditunjukkan matahari hakiki disebut waktu hakiki (WH).Selisih waktu antara matahari hakiki yang tidak teratur dengan matahari pertengahan yang jalannya teratur itu disebut Equation of Time (e), yaitu sejumlah waktu yang ditambahkan atau dikurangkan pada angka 12 agar posisi matahari berkedudukan di meridian.

    WH = t mthr + 12 e = WH - WP

    Equation of Time ini kadang berharga positif dan kadang negatif.Bila MP kurang dari 12, maka (e) berharga positif.Bila MP lebih dari 12, maka (e) berharga negatif.Bila MP berharga 12, maka harus diperhatikan tanda yang memisahkaan antara (e) negatif dan (e) positif.

    Gambar : 19

  • Macam-macam WaktuWaktu Istiwa ialah waktu matahari hakiki yakni saat dimana setiap kali matahari mencapai titik kulminasi atasnya adalah pk. 12.00.Waktu Pertengahan ialah waktu yang teratur berdasarkan perputaran jarum arloji kita disembarang tempat sebelum dikompromikan dengan peredaran matahari (Mean Time).Waktu Pertengahan Setempat ialah waktu di masing-masing tempat yang sudah disesuaikan dengan jam atau arloji, artinya waktu tempat setempat yang sudah ditambah atau dikurangi dengan perata waktu.Waktu Daerah ialah waktu yang sudah disesuaikan dengan jam radio berdasarkan bujur tempat: WIB = 105 (15 x 7 jam) WITA = 120 (15 x 8 jam) WIT = 135 (15 x 9 jam)

  • Memindahkan WaktuBila hendak memindahkan waktu setempat menjadi waktu daerah atau sebaliknya, maka lebih dahulu cari selisih bujur diantara meridian waktu daerah dan meridian waktu setempat. Waktu Daerah = Waktu setempat + ( dh stp).Contoh: Di Surabaya ( 112 45 BT ) Pk. 7. 30 . Pukul berapa menurut WIB ? WIB = 7. 30 + ( 105 112 45 ) = 7. 30 + (- 7 45 ) = 7. 30 0 31 = Pk. 6. 59 Bila bujur tempat lebih kecil dari bujur daerah, hasil pengurangan kedua bujur tandanya positif.Contoh : Di Banda Aceh (99 2 BT) Pk. 7. 30 . Pukul berapa menurut WIB ? WIB = 7. 30 + ( 105 99 2 ) = 7. 30 + ( 5 58 ) = 7. 30 + 0 23 52" = Pk.7. 53 52"

  • KOREKSI WAKTU DAERAHApabila hasil perhitungan awal waktu shalat ingin disesuaikan dengan waktu daerah (WIB-WITA-WIT), maka harus dilakukan koreksi waktu daerah dengan cara mencari selisih antara bujur markas dengan bujur daerah dan hasilnya dibagi 15 atau dikalikan 4 menit.Bila bujur markas lebih kecil dari bujur daerah, maka hasil koreksi itu ditambahkan pada LMT. Sebaliknya, bila bujur markas lebih besar, maka hasil dikoreksi dikurangkan pada LMT. Berdasarkan ketentuan-ketentuan di atas, maka untuk hisab awal waktu shalat dapat dijabarkan dengan pedoman berikut:Dhuhur = 12 e + kwd + iAshar, Maghrib, Isya, Shubuh, Syuruq, Dluha, Fitri = 12 e + t + kwd + i

  • IKHTIYATIkhtiyat adalah penambahan atau pengurangan terhadap hasil perhitungan awal waktu shalat sebagai langkah pengaman agar waktu shalat tidal mendahului awal waktunya atau melampaui akhir waktunya.Besarnya ikhtiyat itu menurut para ulama berkisar antara 15 detik sampai 2 menit.Khusus untuk waktu syuruq (terbit matahari) yang menandakan berakhirnya waktu shubuh, maka ikhtiyat itu tidak ditambahkan melainkan dikurangkan.

  • RUMUS AWAL WAKTU SHALATAplikasi Casio FX 4000Dhuhur : 12 e + kwd + i exe shift Ashar : Shift cos ( - tan x tan + ( cos x cos ) x x cos (shift tan (tan Abs ( ) + 1))) exe 15 + 12 e + kwd + i exe shift Maghrib : Shift cos ( - tan x tan + ( cos x cos ) x x cos 91 ) 15 + 12 e + kwd + i exe shift Isya : Shift cos ( - tan x tan + (cos x cos ) x x cos 108) 15 + 12 e + kwd + i exe shift Shubuh : 12 e shift cos ( - tan x tan + (cos x cos ) x x cos 110) 15 + kwd + i exe shift Syuruq : 12 e shift cos ( - tan x tan + (cos x cos ) x x cos 91 ) 15 + kwd i exe shift Dluha : 12 e shift cos ( - tan x tan + (cos x cos ) x x cos 87 30 ) 15 + kwd + i exe shift Fithri : 12 e shift cos ( - tan x tan + (cos x cos ) x x cos 84 ) 15 + kwd + i exe shift

  • HISAB ARAH QIBLATArah dalam bahasa Arab disebut jihat atau azimuth (Latin). Memastikam arah qiblat itu penting, terutama dalam kaitannya dengan ibadah shalat:Dan dari mana saja kamu keluar (datang), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram (al-Baqarah: 149)Mencari arah qiblat dari suatu tempat berarti menghubungkan dua titik, yaitu titik markas dan titik Kabah.Setiap titik di muka bumi dapat diketahui lokasinya melalui besaran lintang dan bujur masing-masing titik. Bila diketahui titik markas dan titik Kabah, maka agar memenuhi syarat untuk dilakukan perhitungan secara matematis, perlu ada satu titik yang konstan yang diletakkan pada Kutub. Dengan demikian terdapat tiga titik, yaitu titik Kabah, markas dan Kutub. Untuk membuat segitiga, maka dari Kutub dibuat meridian yang melalui Kabah dan markas, lalu dihubungkan antara titik markas dan titik Kabah, sehingga terjadi segitiga yang memenuhi syarat, dimana titik Kabah disebut lambang (A), markas diberi lambang (B), dan Kutub diberi lambang .

  • BAUSBT = 21 25 15" = 39 49 40 = -7 15 = 112 45CabGambar : 20

  • RUMUS SUDUT ARAH QIBLATSisi yang berhadapan dengan sudut A diberi lambang (a), yaitu sisi antara Kutub Markas. Sisi yang berhadapan dengan sudut B diberi lambang (b), yaitu sisi dari Kutub sampai ke Kabah.Sisi b = 90 Kabah. Sisi a =90 Markas. Sudut C = Markas Kabah. Setelah diketahui harga sisi dan sudutnya, maka harga sudut B (sudut arah Qiblat), dapat dihitung dengan rumus berikut:

    cotan b . sin a Cotan B = cos a . cotan C sin C fx 4000 : exe x exe shift tan ans exe shift

  • 1. KOMPASSetelah harga sudut B diketahui, barulah kita mengaplikasikannya dengan salah satu cara :A. Kompas Umum. Penunjukan jarum kompas itu tidak selalu persis mengarah ke titik Utara Geographis (True North). Hal ini disebabkan, berdasarkan teori dan praktek, kutub-kutub magnit bumi tidak berimpit pada kutub-kutub bumi (Kutub Geographis). Penyimpangan jarum kompas dari Utara Geographis pada suatu tempat ini disebut Deklinasi Magnit ( Magnetic Variation) pada tempat tersebut. Penyimpangan itu adakalanya dinyatakan sebagai Deklinasi Negatif (Declination West) dan kadang Deklinasi Positif (Declination East). Untuk daerah Indonesia, daerah paling Barat sampai daerah paling Timur, besarnya deklinasi magnit terletak antara harga lebih kurang -1 sampai + 6. Penyimpangan tersebut mengakibatkan perbedaan pada penunjukan jarum kompas ke arah Utara di berbagai tempat di bumi. Untuk mengatasi hal tersebut, dilakukan koreksi yang disebut Deklinasi Magnit (Magnetic Variation) yang bisa dilihat pada peta yang diperbarui setiap lima tahun berdasarkan ketentuan Internasional, misalnya peta Epoch.

  • KOMPAS Koreksi-koreksi tersebut misalnya: untuk Jakarta ditambah 10, Mataram ditambah 2, dan untuk Surabaya ditambah 1 30. Jadi harga sudut B yang telah kita dapatkan perlu dikoreksi, yakni ditambah dengan Magnetic Variation. Contoh:sudut B Surabaya = 65 58 4.37" + 1 30 (Magnetic Variation) = 67 28 4.37 " Kalau arah Utara kita tepatkan pada angka 360 dalam kompas, maka arah Qiblat= 360 67 28 4.37 " = 292 31 55.6 ".B. Kompas Qiblat Kompas Qiblat itu memuat angka samapi 40, yaitu dimulai dari angka 0 - 39. Untuk mencari arah qiblat digunakan rumus: 40/360 x 67 28 4.37 " = 7 29 47.15"

  • 2. TONGKAT ISTIWA3. Tongkat Istiwa Untuk mengetahui arah qiblat dengan tongkat istiwa ini, kita buat lingkaran di pelataran yang datar, kemudian kita pancangkan tongkat tepat ditengah lingkaran tersebut. Amati dan teliti bayang-bayang tongkat beberapa jam sebelum dan sesudah zawal as-syamsi. Semula bayangan tongkat itu panjang dan semakin lama akan semakin pendek. Beberapa jam sebelum matahari zawal, bayangan ujung tongkat itu akan menyentuh garis lingkaran sebelah Barat dan berilah tanda pada sentuhan tersebut. Itulah titik Barat sejati. Kemudian beberapa jam sesudah zawal, bayangan ujung tongkat itu akan menyentuh lingkaran bagian Timur, berilah tanda dan itulah titik Timur sejati. Setelah itu, buatlah garis lurus T B, baru kemudian kita buat garis tegak lurus U S yang berpotongan dengan T B. Selanjutnya harga sudut B yang telah kita ketahui di tangen kan, misalnya : Tan 65 58 4.37 " exe 2.24. B

    TGambar : 21

  • TONGKAT ISTIWABerikutnya tarik garis ke arah Selatan dari titik perpotongan sepanjang x (mis: 50 cm), lalu hitung dari titik potong itu ke arah Barat sepanjang 2.24 x 50 dan berilah titik, lalu hubungkan kedua titik tersebut dengan garis. Garis yang menghubungkan kedua titik itulah arah qiblat. Perhatikan lukisan di samping. BTSU5050 cmQ2.24Gambar : 22

  • 3. BERPEDOMAN PADA POSISI MATAHARIAda dua cara yang digunakan dalam menentukan arah qiblat dengan berpedoman pada posisi matahari, yaitu :1. Posisi matahari persis berada pada titik zenith Kabah. Dalam setiap tahun, posisi matahari itu 2 kali berkulminasi dan mempunyai ke tinggian 90 dilihat dari Kabah, yaitu yaitu pada saat matahari menuju Utara pa da pada bulan Mei dan ketika menuju Selatan pada bulan Juli. Jika keadaan tersebut terjadi, maka bayangan setiap benda yang tegak di permukaan bumi disiang hari akan mengarah ke qiblat. Untuk Indonesia (WIB), hal itu akan terjadi sore hari karena posisi negara kita di sebelah Timur Kabah dengan selisih waktu 4 jam 20 menit 41.33 detik. Secara astronomis, keadaan ini terjadi jika harga lintang tempat sama/hampir sama dengan harga deklinasi pada saat matahari berkulminasi.

  • 2. Bayang-Bayang Qiblat Menentukan arah qiblat dengan berpedoman pada bayang-bayang qiblat dilakukan ketika posisi matahari persis berada pada azimuth Kabah atau berposisi pada arah yang berlawanan dengan azimuth Kabah.Catatan: 1.Jika harga mutlak deklinasi lebih besar dari 90 A (harga sudut B), maka tidak akan pernah terjadi bayang-bayang mengarah ke qiblat, sebab tidak pernah terjadi perpotongan garis qiblat dengan lintasan matahari.2.Bila harga deklinasi sama dengan harga lintang tempat, tidak akan terjadi bayang-bayang mengarah ke qiblat, sebab terjadinya titik potong ( C ) pada saat matahari zawal yang tidak menimbulkan bayang-bayang (matahari akan berkulminasi persis di titik zenith).

  • RUMUS BAYANG-BAYANG QIBLATHarga sudut B yang kita garis sampai ke titik pusat akan membentuk sebuah garis qiblat. Garis qiblat ini akan berpotongan dengan lintasan matahari. Titik potong ini kita beri lambang C. Titik C ini menunjukkan saat matahari bayang-bayangnya searah dengan garis qiblat. Harga titik perpotongan C ini dapat dicari dengan rumus :

    Cos (C-P) = Cotan a . Tan b . Cos P Cotan P = Cos b . Tan A

    P = Sudut PembantuC = Sudut waktu matahari saat bayang annya searah dengan garis qiblat.A = Harga sudut B a = 90 deklinasib = 90 lintang markas.

    US SBBTQQ65584.37"CCZ KU-KS KS -EQGambar : 23

  • CONTOH PERHITUNGANSurabaya, tanggal 18 April 2005. = -715 = 11245, = 1056.5 e =+ 0 0 45 "Perhitungan :1. Mencari harga sudut B untuk kota Surabaya dengan rumus: cotan b . sin a Cotan B = cos a . cotan C sin C fx 4000 : exe x exe shift tan ans exe shift 65584.37"

    2. Mencari harga sudut pembantu ( P ) dengan rumus: Cotan P = cos b . Tan A Cotan P=cos 9715 x tan 6558 4.37" exe x exe shift tan ans exe shift -7411 50.65" 3. Mencari bayangan qiblat dengan rumus: Cos (C-P) = cotan a . tan b . Cos P Cos (C-P) = cotan 793 30 " x tan 97 15 x cos -74 11 50.65 " exe shift cos ans exe shift = 11426 45.9 "

  • CONTOH PERHITUNGAN 114 26 45.9 " P = - 74 11 50.65 " + 40 14 55.25 " 15 2 40 59.68 " MP = 11 59 15 " + 14 40 14.68 " KWD= - 0 31 + Pk.14. 9 14.68 " (WIB) Dengan demikian, maka pada tanggal 18 April 2005 di Surabaya, semua benda yang tegak lurus bayangannya akan mengarah ke qiblat pada Pk. 14. 9 14.68 " WIB.

  • 4. TITIK UTARA SEJATI (TRUE NORTH)Setelah kita menemukan titik Utara-Selatan yang akurat (hasil pengukuran tongkat istiwa), maka kita dapat mengukur arah qiblat dengan bantuan (1). busur derajat, (2). rubu mujayyab, (3). segitiga siku atau dengan (4). alat theodolit. Busur Derajat Bila kita hendak menggunakan busur derajar, maka lakukan langkah-langkah se bagai berikut: a. Buatlah garis Utara-Selatan pada pelataran yang datar; b. Tentukan satu titik pada garis tersebut, misalnya titik A; c. Letakkan titik pusat busur derajat pada titik A; d. Himpitkan garis tengah lingkaran (busur derajat) dengan garis Utara-Selatan. Arah Utara menunjuk angka 0 dengan lengkungan busur derajat di arah Ba rat.

  • e. Hitung pada busur derajat mulai dari titik 0 (Utara) sebanyak data arah qiblat ( 65 58 4.37" ), kemudian berilah tanda, misalnya Q; f. Angkat busur derajat, lalu hubungkan titik A dan Q dengan sebuah garis. Ga ris itu menunjukkan arah qiblat dari kota Surabaya. SUSU9006030QBAAQ Gambar : 24

  • 2. Rubu Mujayyab Penggunaan rubu mujayyab sebenarnya sama dengan busur derajat, hanya beda nya rubu mujayyab itu bentuknya lingkaran.Dengan cara seperti penggunaan busur derajat, gambar di bawah ini akan menjelaskan penggunaan rubu untuk kepentingan pengukuran arah qiblat.SUSU9006030QBAAQGambar : 25

  • 3. Segitiga Siku a.Buat garis U-S pada pelataran yang datar, mis : 100cm (A-B pada gambar 26); b.Dari titik B, buat garis tegak lurus ke arah Barat; c.Dengan menggunakan perhitungan goniometris, yaitu Tan 6558 4.37" x 100 cm, maka akan diketahui panjang garis yang mengarah ke Barat (B C) adalah 224.2652447 (dibulatkan: 224 cm); d.Kemudian kedua ujung garis yang saling berpotongan tegak lurus itu, yaitu ti tik A dan C dihubungkan dengan garis, menjadi garis AC

    SUABC100 cm224 cm6558 4.37"Gambar : 26

  • 4. Theodolit a. Buat garis arah U-S pada pelataran datar; b. Pasang theodolit dengan benar dan tempatkan titik pusatnya pa da garis U-S; c. Arahkan teropong theodolit ke Utara, lalu bidik sampai garisU-S persis berada pada garis vertikal teropong; d. Matikan gerak datar theodolit, lalu lihat skala pembacaan yang menunjukkansudut horizontal.Catat angkanya berapa, misal nya x y ; e. Putar teropong theodolit ke arah Barat, lalu pasang sedemikian rupa sehingga sudut horizontal pada skala pembacaan menunjukkan angka x y dikurangi 6558 4.37" f. Matikan gerak datar theodolit, kemudian bidikkan teropong kepada suatu titik, lalu beri tanda misalnya titik Q. Maka garis yang ditarik dari titik pusat theodolit ke titik Q itulah garis arah qiblat kota Surabaya.

  • HISAB AWAL BULAN QAMARIYAH Pengantar Penentuan awal bulan qamariyah penting artinya bagi ummat Islam, terutama untuk menentukan awal dan akhir bulan Ramadan dan Dzul Hijjah, karena hal ini menyangkut masalah wajib ain. Bila dalam penentuan awal waktu shalat dan arah qiblat, kaum muslimin sepakat menggunakan hasil hisab, maka untuk penentuan awal bulan qamariyah ini masih diperselisihkan tentang cara yang akan dipakai. Satu pihak mengharuskan cara rukyat/istikmal, sementara pihak lain membenarkan penggunaan hasil hisab. Pihak pertama berpedoman pada sabda Rasul saw: S{u>mu> li [email protected] wa aft}iru> li ruyatih. Fa in gumma alaikum fakmilu> iddata syaba>na s\ala>s\[email protected] yauman (R. Bukha>[email protected] ). Sementara pihak kedua berpedoman pada ayat-ayat al-Quran, antara lain : surat Al-Baqarah, 2:189 (Yas alu>naka ani al-ahillati qul hiya mawa>[email protected] li al-na>si wa al-hajj). Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan bagi (ibadah) haji.

  • Al-Anam, 6:96-97 (wa al-syamsa wa al-qamara h}usba>nan). (Wahuwa [email protected] jaala lakum al-nuju>ma li tahtadu> biha> [email protected] z}uluma>ti al-barri wa al-bah}ri) At-Taubah, 9:36 (Inna iddata al-syuhu>ri inda Alla>hi is\na asyara syahran fi kita>bi alla>h)Yunus, 10:5 ( huwa allaz\[email protected] jaala al-syamsa diya>an wa al-qamara nu>ran ) An-Nahl, 15:16 (wa ala>ma>tin wa bi an-najmi hum yahtadu>n ) : Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (petunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.Al-Isra, 17:12 (wa jaalna al-laila wa an-naha>ra a>yataini famah}auna> a>yata al-laili wa jaalna> a>yata al-naha>ri mubs}iratan li tabtagu> fad}lan min rabbikum wa litalamu> adada [email protected] wa al-h}isa>b. Wa kulla syaiin fas}s}alna>hu [email protected]). Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siaang itu terang, agar kamu mencari karunia dari Tuhanmu dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.Al-Anbiya, 21:33 (Wa huwa [email protected] khalaqa al-laila wa al-naha>ra wa al-syamsa wa al-qamara kullun [email protected] falakin yasbah}u>n) Yasin, 36: 38-40 (Wa al-syamsu [email protected] li mustaqarrin laha> wa al-qamaru qaddarna>hu ...) Ar-Rahman, 55:5 (al-Syamsu wa al-qamaru bi h}usba>n). Matahari dan bulan itu (beredar) menurut perhitungan.

  • B. Pengertian Hilal Para ahli bahasa berbeda pendapat tentang kapan bulan itu dinamakan hilal. ( al-ahillat jamu hila>l. Wakhtalafa al-lugawiyyu>n ila> mata> yusamma> hila>lan. Fa qa>la al- jumhu>r : Yuqa>lu lahu> hila>lun li al-lataini wa [email protected] li s\ala>s\[email protected], s\umma yaku>nu qamaran (al- Bah}r [email protected]}). Menurut al-Ragib al-Isfahani : al-Hila>l: al-Qamaru [email protected] awwali lailatin wa al-s\a>niyati. Menurut Syekh Muhammad Ibn S{a>lih al-Us\aimin: al-Hila>l: al-Qamaru h}[email protected] yabdu> awwali al-syahri ila> s\ala>si laya>lin (Hilal adalah bulan ketika tampak pada awal bulan sampai tiga malam). Menurut Muhammad [email protected] al-Sa>yis: al-Hila>l: [email protected]>tu al-syahri (Hilal itu adalah tanda waktu awal bulan). Hilal dalam konsep ahli rukyat adalah bulan sabit pasca ijtima yang dapat dilihat pertama kali. Sedang menurut ahli hisab, hilal adalah bulan sabit pasca ijtima yang posisinya sudah berada di atas ufuk/horizon.

  • C. Posisi Bulan dan Peredaran Sinodis Bulan. Sistem perhitungan bulan qamariyah ialah sistem perhitungan yang didasarkan pada peredaran bulan mengelilingi bumi, yang dikenal dengan sistem qamariyah atau Lunar System atau tahun Candra. Lamanya satu bulan qamariyah didasarkan kepada waktu yang berselang antara dua ijtima, yaitu rata-rata 29 hari 12 jam 44 menit 2.8 detik. Ukuran waktu itu disebut satu periode sinodis (the synodic month atau syahr iqtira>niy). Satu periode bulan sinodis bukan waktu yang diperlukan oleh bulan dalam mengelilingi bumi satu kali putaran penuh, melainkan waktu yang berselang antara dua posisi sama yang dibuat oleh bumi, bulan dan matahari. Waktu tersebut lebih panjang dari waktu yang diperlukan oleh bulan dalam mengelilingi bumi sekali putaran penuh. Waktu yang diperlukan oleh bulan dalam mengelilingi bumi satu kali putaran penuh disebut satu periode sideris (the sidereal month atau syahr nujumiy), yaitu selama 27 hari 7 jam 43 menit 11.5 detik.

  • BmBmBlPBlPosisi 1Posisi 2Bujur AstronomisGambar: 27

  • Dalam peredaran sebenarnya bumi mengelilingi matahari dari arah berlawanan dengan jarum jam (rektrograd) dalam satu kali putaran penuh selama satu tahun yang disebut revolusi. Sambil mengedari matahari, bumi diedari pula oleh bulan dengan arah yang sama. Pada posisi 1, matahari, bulan dan bumi dilukiskan sedang ijtima, yaitu sama-sama terletak pada satu bujur astronomis. Kemudian bumi bergerak terus mengedari matahari, demikian pula halnya bulan terus mengedari bumi. Pada saat bulan menempati titik (P), berarti sejak meninggalkan posisi 1, bulan telah melakukan edaran satu kali putaran penuh mengelilingi bumi yaitu selama 27 hari 7 jam 43 menit 11.5 detik (satu periode sideris), namun posisinya belum sama seperti posisi 1. Setelah dua lebih sejak bulan menempati posisi (P), maka ia akan menempati posisi 2, tempat matahari dan bulan menempati satu bujur astronomis yang sama seperti pada posisi 1. Posisi 2 inipun menggambarkan saat bulan dan matahari sedang ijtima. Jadi waktu yang berselang antara posisi 1 dan posisi 2 inilah yang dikenal dengan satu periode bulan sinodis yang rata-rata lamanya 29 hari 12 jam 44 menit 2.8 detik, yang dijadikan dasar dalam penetapan awal bulan qamariyah.

  • D. Ijtima Ijtima berasal dari bahasa Arab yang berarti berkumpul atau kadang disebut Iqtira>n. Dalam bahasa Indonesia biasa disebut konjungsi (Inggris: Conjunction). Sepintas lalu, bila kita perhatikan gambar yang lalu, kita dapat beranggapan bahwa setiap kali terjadi ijtima akan terjadi gerhana matahari, karena dalam gambar tersebut sinar matahari terhalang oleh bulan ke bumi. Sebenarnya tidak demikian, sebab dalam keadaan ijtima, matahari, bumi dan bulan tidak selalu dalam satu garis lurus. Pada saat ijtima, ketiga benda langit itu dalam posisi satu bidang astronomis yang tegak lurus pada bidang orbit bumi. Dalam peristiwa ijtima, ketiga benda langit itu kadang-kadang berada pada satu garis luurus dan kadang-kadang tidak. Ketika berada pada satu garis lurus itulah terjadi gerhana matahari. Dengan demikian, gerhana matahari itu selalu berkaitan dengan akhir dan awal bulan qamariyah.

  • BT KE KUKSKEBlMMBl

    Gambar : 28KE = Kutub Ekliptika

  • Peristiwa ijtima itu terjadi disebabkan peredaran bumi mengelilingi matahari dalam gerak tahunannya disatu pihak dan peredaran bulan mengelilingi bumi dalam waktu 1 bulan pada pihak lain. Agar lebih jelas dapat diterangkan sebagai berikut: Bulan beredar pada falaknya disekeliling bumi menurut arah rektrograt. Dilihat dari bumi bulan bergerak diantara bintang-bintang dari Barat ke Timur. Gerak bulan dari Barat ke Timur itu dapat kita lihat beberapa hari berturut-turut. Waktu bulan masih di ufuk Barat, saat itu kita lihat sebuah bintang yang berada di Timur. Beberapa hari kemudian nampak bintang itu berada di tempat yang lebih tinggi di sebelah Timur. Ini berarti jarak antara bulan dengan bintang semakin dekat. Hal ini disebabkan jarak bumi dengan bulan lebih dekat daripada jarak antara bumi dengan bintang. Sesudah itu bintang tidak bergerak dari Barat ke Timur.Bidang tempat bulan beredar berpotongan dengan bidang tempat matahari beredar dengan membentuk sudut 5 8 52".Separuh bidang tempat bulan bergerak di sebelah Utara ekliptika dan separuhnya lagi terletak di sebelah Selatan ekliptika.Gambar berikut melukiskan bola langit dengan bumi sebagai titik pusat.

  • K U EK S E

    BlMMBlGambar : 29BT123456

  • Matahari terlihat bergerak dalam satu tahun pada lingkaran ekliptika. Dan bulan dalam masa satu bulan juga bergerak pada lingkaran tempuhannya. Pada lukisan di atas jelas terlihat bahwa matahari dan bulan berkedudukan pada lingkaran bujur yang sama dan keadaan seperti itu disebut ijtima yang terjadi setiap bulan. Juga terlihat ada jarak antara matahari dan bulan. Pada ijtima pertama, kedua dan ketiga, bulan berkedudukan di sebelah Utara matahari. Pada ijtima berikutnya, posisi bulan berhimpit dengan matahari, dan dalam posisi seperti ini terjadi peristiwa gerhana bulan. Setelah itu bulan sudah berada di Selatan matahari dan begitu seterusnya, sehingga dalan satu tahun terjadi 12 kali ijtima.Dari penjelasan di atas, diketahui bahwa ketiga benda langit itu kadang-kadang berada pada satu garis lurus dan kadang-kadang tidak. Hal itu disebabkan karena ekliptika matahari dengan orbit bulan berpotongan dengan membuat sudut 5 8 52Selanjutnya dapat dikatakan bahwa permulaan bulan mulai dihitung tanggal 1 bila bulan sudah berada di sebelah Timur matahari atau permulaan bulan itu dimulai jika bulan dalam perjalanannya dari Barat ke Timur telah mendahului matahari. Perhatikan gambar dimana pada ijtima pertama bulan berada di B(1) dan matahari di M (1). Bulan bergerak dari Barat ke Timur dan B (1) kembali ke B (1) lagi dalam satu kali putaran penuh memakan waktu 27. 321661 hari (27 hari 7 jam 43 menit 11.5 detik).

  • Ketika bulan sampai di B (1) kembali, matahari sudah meninggalkan posisi M (1) bergerak ke Timur. Pada saat matahari sampai di M (2), bulan juga sampai di B (2). Jadi satu kali ijtima perbedaan perjalanan bulan dengan matahari adalah 360.Matahari dalam perjalanannya dari M (1) ke Timur sampai kembali ke M (1) lagi memakan waktu 1 tahun, yaitu 365.256360 hari.

    Gerak harian bulan = 360 27.321661 = 13.17635849 Gerak harian matahari = 360 365.256360 = 0.9856091212 Selisih kecepatan = 12.19074937

    Karena dalam sekali ijtima perbedaan perjalanan bulan dan matahari sebesar 360 dengan selisih kecepatan tiap harinya sebesar 12.19074937, maka untuk sekali ijtima, waktu yang diperlukan adalah 360 12.19074937 x 1 hari = 29.53058824 (29 hari 12 jam 44 menit 2.8 detik). Masa itulah yang dinamakan satu periode bulan sinodis.Setelah terjadi ijtima, bulan berangsur-angsur nampak semakin besar dan kira-kira pada hari ke-7, berbentuk setengah lingkaran yang disebut tarbiu al-awwal (first quarter). Pada hari ke-14 atau 15, bulan berbentuk lingkaran penuh yang disebut al-badar (full moon). Pada saat purnama ini posisi bulan dan matahari saling berhadapan yang disebut al-istiqba>l (opposition).Setelah itu bulan berangsur mengecil dan pada hari ke-21 atau 22, ia kembali berbentuk setengah lingkaran yang disebut tarbiu al-s\a>[email protected] (last quarter). Kemudian terus mengecil dan pada hari ke-29 ia kembali tidak nampak karena kembali ke posisi ijtima. Itulah perubahan bentuk-bentuk bulan seperti yang diisyaratkan ayat 39 surat Yasin. Siklus perputaran ini berlangsung selama satu bulan sinodis.

  • E. Sistem Penetapan Awal Bulan Qamariyah Penetapan awal bulan qamariyah sangat penting, karena banyak ibadah yang pelaksanaannya dikaitkan dengan perhitungan awal bulan qamariyah. Untuk itu syariat telah memberikan pedoman seperti yang bisa kita lihat dalam al-Quran dan al-Hadis, yang secara garis besar terbagi pada dua sistem: 1. Sistem Ruyat bi al-fili wa al-istikma>l dengan dasar hadis Rasul saw: S{umu> li ruya [email protected] wa aft}iru> li [email protected], fa in gumma alaikum fa akmilu al-iddata syaba>na s\a la>s\[email protected] (Muttafaq Alaih). 2. Sistem perhitungan Astronomis (Hisab), berdasarkan surat Yunus ayat 5. Secara garis besar ada 2 macam sistem hisab yang berkembang di masyarakat seperti yang bisa kita baca dalam buku Almanak Hisab dan Ruyat yang diterbitkan oleh Departemen Agama, yaitu hisab [email protected]@@@@> dan hisab H{aqi>qi>.Hisab [email protected] adalah sistem perhitungan yang didasarkan peredaran rata-rata bulan dan bumi mengelilingi matahari. Dalam hisab [email protected]@> @@ bulan-bulan gasal umurnya ditetapkan 30 hari, sedang bulan-bulan genap umurnya 29 hari, kecuali untuk tahun panjang umur bulan Dzul Hijjah ditetapkan 30 hari.

  • Oleh sebab sistem perhitungannya didasarkan pada peredaran rata-rata bumi dan bulan dalam mengelilingi matahari, maka para ulama sepakat menyatakan bahwa hisab [email protected] ini tidak dapat dijadikan dasar untuk menetapkan awal dan akhir bulan qamariyah.Sementara itu golongan yang menggunakan hisab h{aqi>qi>., ada yang berpedoman pada ijtima dan ada pula yang berpedoman pada posisi hilal. Yang berpedoman pada ijtima ada yang memakai acuan ijtima qabl al-fajr dan ada yang memakai acuan ijtima qabl al-ghuru>b. Sedang golongan yang berpedoman pada posisi hilal, ada yang memakai acuan ufuk h{aqi>qi>., ufuk h}[email protected]@ @> dan ufuk [email protected]@>Dilihat dari sistem perhitungannya, hisab haqiqi dapat diklasifikasikan pada 2 kelompok, yaitu hisab h{aqi>qi> [email protected]@>bi>@ dan hisab h{aqi>[email protected]> tah}qi>qi>. Disebut [email protected]@>bi>@ karena sistem hisab ini melakukan perhitungan saat terjadinya ijtima (konjungsi) dan ketinggian hilal dengan cara sederhana yaitu dicari rata-rata waktu ijtima dengan ditambah koreksi-koreksi sederhana. Sistem ini menggunakan data yang bersumber dari astronom Ulugh Beyk (wafat 854 M ) dengan penambahan dan pengurangan. Sistem ini tidak menggunakan rumus-rumus spherical trigonometri dan tidak memperhitungkan posisi observer serta posisi bulan dan matahari secara detail. Untuk memperoleh data, sistem ini menggunakan data abadi yang cukup diterbitkan satu kali, tidak seperti data Almanak Nautika atau Ephemeris Hisab Rukyat yang harus diterbitkan setiap tahun. Adapun kitab-kitab yang menggunakan sistem [email protected]>bi>@ ini antara lain kitab Sullam al-Nayyirain, Fath} al-Rau>f al-Manna>n, Qawa>id al-Falakiyyah.

  • Berbeda dengan sistem hisab h{aqi>qi> [email protected]>bi>@, maka proses perhitungan hisab h{aqi>[email protected]> tah}qi>qi> memanfaatkan rumus-rumus spherical trigonometri dan koreksi-koreksi yang lebih banyak dan teliti. Sistem ini juga memperhatikan posisi observer, data deklinasi, sudut waktu atau assensiorekta dari bulan dan matahari setiap saat, sehingga akurasi perhitungannya mendekati tingkat kepastian. Oleh karena itu, sistem hisab ini dipergunakan dan dikembangkan oleh lembaga-lembaga astronomi, misalnya Planetarium, Badan Meteorologi & Geofisika, Observatorium Bosscha ITB dan sebagainya. Diantara kitab yang menggunakan sistem ini adalah kitab Khula>s}ah al Wafiyyah, H{isa>b H{[email protected]>qi>@, Al-Mat}la al-Sai>d, New Comb, Jean Meeus, Hisab Awal Bulan, Almanak Nautika dan Ephemeris.Hi sab Rukyat .Hakikat perbedaan kedua sistem hisab di atas, terletak pada cara perhitungan irtifa (ketinggian) hilal. Menurut sistem hisab h{aqi>qi> [email protected]>bi>, data irtifa hilal pada saat matahari terbenam diperoleh dari selisih waktu ijtima dengan terbenam matahari lalu dibagi dua, tanpa memperhatikan posisi observer, deklinasi dan sudut waktu atau assensiorekta. Sedang hisab h{aqi>[email protected]> tah}qi>qi>, memperhatikan ketiga unsur tersebut, bahkan juga memperhatikan pengaruh refraksi (pembiasan), parallaks (beda lihat), DIP (kerendahan ufuk) serta semi diameter (jari-jari bulan). Saat ini sudah dibuat software untuk Ephemeris hasil kerjasama Direktorat Pembinaan Peradilan Agama (Ditbinbapera) Depag RI dengan Departemen Astronomi ITB Bandung.

  • TEKNIK RUKYAT Dengan berbekal hasil hisab posisi hilal, maka di lokasi rukyat bisa ditentukan arah pandang ke area penampakan hilal dengan teknik berikut: 1. Buat garis Utara Selatan sepanjang misalnya 100 cm; 2. Dari ujung Selatan garis tersebut (titik S), tarik garis tegak lurus ke arah Ba rat (garis S B) sepanjang tangens Azimuth Hilal ( misalnya: 8949' 0.73") x 100 exe. Hasilnya sama dengan panjang garis S B ( 312.8 cm); 3. Titik Utara dan titik Barat dihubungkan dengan garis. Garis U B tersebut mengarah ke area penampakan hilal. Panjang garis U B tersebut adalah sebesar cosec (1/sin) Azimuth Hilal dikalikan panjang garis S B (312.8 cm); 4. Selanjutnya tancapkan tiang tegak lurus pada titik U, misalnya setinggi 1.5 m sebagai tiang pengintai;

  • TEKNIK RUKYAT 5. Di titik B tancapkan juga tiang tegak lurus sebagai pengarah. Aturlah tinggi tiang pengarah itu sedemikian rupa, sehingga bila dilihat dari ujung tiang pengintai tadi, ujung tiang pengarah itu posisinya persis di ufuk; 6. Di ujung tiang pengarah dapat diletakkan gawang lokasi persegi panjang untuk melokalisir pandangan dari ujung tiang pengintai agar hanya terfokus pada area penampakan hilal. Tinggi gawang tersebut sebesar tangens Irtifa Hilal Mar-i (misalnya 2 48' 18" ) dikalikan panjang garis U B (312.8 cm). Gawang tersebut diletakkan dalam posisi miring sesuai dengan kemiringan lintang tempat lokasi, karena arah turunnya hilal ke ufuk itu akan miring sesuai dengan kemiringan lintang tempat tersebut.

  • SITUASI HILAL TGL 22 OKTOBER 2006SU100 cmB312.8 cm312.8 cmUfuk pengarah pengintai

  • Lokasi Ruyat : Tanjung Kodok Jatim