V. warna kelarutan dan kesetimbangan ion kompleks ni(ii)

download V. warna kelarutan dan kesetimbangan ion kompleks ni(ii)

of 24

  • date post

    19-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    2.212
  • download

    8

Embed Size (px)

Transcript of V. warna kelarutan dan kesetimbangan ion kompleks ni(ii)

  • 1. LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II Nama : Nurmalina Adhianti (08121003018) Almira Rizki (08121003034) Apria Damayanti (08121003044) Ihsan Rihsansah (08121003062) Wulandari (08121003064) Kelompok : VI (Enam) PERCOBAAN:WARNA KELARUTAN DAN KESETIMBANGAN ION KOMPLEKS Ni (II) DALAM AIR LABORATORIUM KIMIA ANORGANIK FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2014

2. LAPORAN PENGESAHAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II D I S U S U N OLEH NAMA : NURMALINA ADHIYANTI (08121003018) ALMIRA RIZKI (08121003034) APRIA DAMAYANTI (08121003044) IHSAN RIHSANSAH (08121003062) WULANDARI (08121003064) KELOMPOK : KIMIA/VI JUDUL PERCOBAAN : WARNA KELARUTAN DAN KESETIMBANGAN ION Ni (II) DALAM AIR MENGETAHUI, ASISTEN PRAKTIKAN ( ADI SAPUTRA ) ( NURMALINA ) KO-AS ( AHMAD NUR SIDIQ) 3. LAPORAN PENDAHULUAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II I. NOMOR PERCOBAAN :V (lima) II. NAMA PERCOBAAN : Warna kelarutan dan kesetimbangan ion kompleks Ni (II) dalam air III. TUJUAN PERCOBAAN : Mempelajari pembuatan warna kelarutan dan kesetimbangan ion kompleks Ni (II) dalam air. IV. DASAR TEORI IV.1. Senyawa Kompleks Senyawa kompleks adalah senyawa yang mengandung paling tidak satu ion kompleks. Ion kompleks terdiri dari satu atom pusat(central metal cation)berupa logam transisi ataupun logam pada golongan utama, yang mengikat anion atau molekul netral yang disebut ligan dengan ikatan koordinasi. Warna nyala yang dimiliki pada setiap senyawa kompleks mempunyai warna nyala yang berbeda. senyawa kompleks memiliki 2 ikatan valensi, yaitu valensi primer dan valensi sekunder, valensi sekunder memengaruhi bentuk geometri sneyawa kompleks. Reaksi pembentukan senyawa kompleks merupakan reaksi Asam Basa lewis, dengan logam sebagai asam dan ligan sebagai basanya.Agar senyawa kompleks dapat bermuatan netral, maka ion kompleks dari senyawa tersebut, akan bergabung dengan ion lain yang disebut counter ion. Jika ion kompleks bermu-atan positif, maka counter ion pasti akan bermuatan negative dan sebaliknya.Ion kompleks dideskripsikan sebagai ion logam dan beberapa jenis ligan yang terikat olehnya. Struktur dari ion kompleks tergantung dari 3 karakteristik, yaitu bilangan koordinasi, geometri dan banyaknya atom penyumbang setiap ligan. 4. Bilangan koordinasi adalah jumlah dari ligan-ligan yang terikat langsung oleh atom pusat. Bilangan koordinasi dari Co3+ dalam senyawa [Co(NH3)6]3+ adalah 6, karena enam atom ligan (N dari NH3) terikat oleh atom pusat yaitu Co3+ . Umumnya, bilangan koordinasi yang paling sering muncul adalah 6, tetapi terkadang bilangan koordinasi 2 dan 4 juga dapat muncul dan tidak me-nutup kemungkinan bilangan yang lebih besar pun bisa muncul. Bentuk (geometri) dari ion kompleks tergantung pada bilangan koordinasi dan ion logam itu sendiri. beberapa contohnya. Sebuah ion kompleks yang mana ion logamnya mem-iliki bilangan koordinasi 2, seperti [Ag(NH3)2]+ , memiliki bentuk yang linier. Tidak semua logam membentuk senyawa kompleks. hanya logam-logam yang memiliki orbital kosong untuk menampung donor dari ligan. Atom Pusat adalah atom yang menyediakan tempat bagi elektron yang didonorkan. Biasanya berupa ion logam, terutama logam golongan transisi (Fe2+, Fe3+ , Cu2+ , Co3+ ) yang memiliki orbital (d) yang kosong.Ligan adalah molekul/ion yang mengelilingi logam dalam ion kompleks. harus memiliki PEB. interaksi antar atom logam dan ligan dapat dibayangkan bagaikan reaksi asam basa-lewis (Pandini,2012). IV.2. Warna Kelarutan Kristal Ni (II) Jika kristal Ni(NO3)2 dilarutkan dalam air maka zat tersebut terionisasi menghasilkan ion kompleks . Molekul air yang terkoordinasi (disebut ligan) dalam kesetimbangan dinamik dengan molekul air yang tidak terkoordinasi dapat diganti oleh ligan-ligan lain dalam larutan yang dapat terikat lebih kuat. Sebagai contoh penukaran H2O oleh NH3. Dengan adanya kelebihan dalam penukaran ini akan menghasilkan ion kompleks . Perubahan warna larutan kompleks dari hijau ke biru menunjukkan adanya perubahan kimia. Ion unsur transisi dapat mengikat ion-ion atau molekul netral yang memiliki pasangan elektron bebas (ligan) dengan ikatan kovalen koordinasi yang membentuk ion kompleks. Ion kompleks adalah gabungan ion (atom 5. pusat) dengan ion lain (ligan) membentuk ion baru atau gabungan ion dengan molekul netral membentuk ion baru. Berdasarkan ligan yang diikat oleh atom pusat dalam ion kompleks, maka ada 2 macam ion kompleks ion kompleks positif dan ion ion kompleks negative. Ion kompleks positif terbentuk apabila ion logam transisi (atom pusat) berikatan dengan aligan yang merupakan molekul netral seperti atau sehingga ion kompleks yang terbentuk bermuatan positif.sedangkan ion kompleks negative terbentuk apabila ion atom pusat berikatan dengan ligan yang merupakan ion negatif (Suryanto,2012). IV.3. Iodinasi Ni(II) dalam Air Jika Kristal Ni(NO3)2 dilarutkan dalam air maka zat tersebut terionisasi menghasilkan ion kompleks [Ni(H2O)6]2+ . Molekul air yang terkoordinasi (disebutligan) dalam kesetimbangan dinamik dengan molekul air yang tidakterkoordinasi (molekul air yang bebas).Enam molekul air yang terkoordinasi dapat diganti oleh ligan-ligan lain dalam larutan yang dapat terikat lebih kuat.Sebagai contoh penukaran H2O oleh NH3 [Ni(H2O)6]2+ + NH3 [Ni(H2O)5(NH3)]2+ [Ni(H2O)5(NH3)] 2+ + NH3 [Ni(H2O)4(NH3)2]2+ [Ni(H2O)4(NH3)2] 2+ + NH3 [Ni(H2O)3(NH3)3]2+ [Ni(H2O)3(NH3)3] 2+ + NH3 [Ni(H2O)2(NH3)4]2+ [Ni(H2O)2(NH3)4] 2+ +NH3 [Ni(H2O)(NH3)5]2+ [Ni(H2O)(NH3)5] 2+ + NH3 [Ni(NH3)6]2+ Dengan adanya kelebihan NH3 dalam penukaran ini akan menghasilkan ion kompleks [Ni(NH3)6]2+ . Perubahan warna larutan kompleks [Ni(H2O)6]2+ dari hijau kebiru menunjukkan adanya perubahan kimia.Warna karakteristik ion nikel dan ion logam transisi lain (ion-ion dengan tingkat elektron d terisi sebagian) diterangkan dengan istilah energy relative electron dalam tingkat elektron d yang terisi sebagian.Kelima orbital d (dx2-y2, dz2, dxy, dyz dan dxz) dalam ion logam bentuk gas mempunya itingkat energi yang sama, karena mempunyai kesamaan kemungkinan yang sama untuk mendapatkan electron dalam kelima orbital tersebut. 6. Dalam teori medan kristal,ligan ligan direduksi menjadi titik yang bermuatan. Interaksi muatan muatan titik ini dengan electron dalam orbital d ion logam akan menaikkan energy semua orbital d, tetapi mereka tidak lagi memiliki energi yang sama. Elektron-elektron dalam orbital dz2dan dx2-y2 akan mengalami interaksi yang lebih besar dengan muatan muatan ligan yang mendekatinya daripada elektron-elektron dalam orbital dxy, dxz, dyz. Pertimbangan simetri juga menghasilkan kesimpulan yang sama terhadap orbital-orbital d lainnya. Bila pemisahan tersebut berlaku untuk semua ion kompleks yang terkoordinasi secara octahedral. 0 (didefinisikan sebagai 10 Dq) menunjukkan perbedaan energy antara tiga orbital setingkatdxy, dyz, dxzdengan dua orbital setingkat dx2-y2, dz2. Ligan yang berbeda berinteraksi secara berbeda dengan orbital-orbital d ion logam pusat. 0, merupakan ukuran interaksi yang dapat membedakan komplek- komplek yang berbedadari ion logam.Sebagaicontoh, telah diteliti bahwa 0 umumnya bertambah menurut urutan Cl- < H2O < NH3 < CN- , ini merupakan ukuran spektrokimia sejumlah ligan. Jika 0 bertambah, absorbs maksimum akan memiliki panjang gelombang yang lebih pendek. Sesuai bertambahnya energi orbital dxy, dyz, atau dxz untuk menaikkannya ke orbital dx2-y2 atau dz2, makin pendek absorbs maksimum panjang gelombang, makin besar perbedaan energy antara tingkat energy awal dan akhir. (Susanto, 2012). 7. V. ALAT DAN BAHAN Alat : Beaker gelas 500 ml 8 buah Pengaduk magnet Gelas ukur Bahan : Larutan NiSO4 1 M Larutan NH3 5 M Larutan 25 % etilen diamin Larutan 1 % dimetil glioksin Larutan KCN 1 M SIFAT FISIK DAN KIMIA Kalium Sianida (KCN) - Sangat berbahaya jika terjadi kontak kulit (permeator) - Padatan korosif dan beracun - Titik Didih: 1625 C (2957 F) - Titik lebur : 634,5 o C (1174,1 o F) - Mudah larut dalam air panas - Sangat reaktif terhadap reagen oksida Etilen diamin - Berwujud cairan kental berwrna kuning - Mudah terbakar - Titik Didih: 117,2 C (243 F) - Titik lebur : 8,5 o C (47,3 o F) - Mudah larut dalam air dingin - Cairan berbahaya dan beracun 8. Nikel Sulfat (NiSO4) - Berwujud cairan berwarna hijau - Berbahaya dan beracun - Stabil pada suhu kamar Ammonia (NH3) - Berwujud cairan - Titik lebur 7,5o C - Titil lelehnya -33,7o C - Larut di dalam air 9. VI. PROSEDUR PERCOBAAN a) Percobaan I Siapkan gelas beaker A - F Diamati perubahan warnanya B : 3 mL (A) + 2 mL NH3 E : 3 mL (A) + 0,75 mL etilen diamin 25 % F : 3 mL (A) + 1,25 mL dimetil glioksin A : 15 ml Aquadest + 10 ml NiSO4 C :3 mL (A) + 0,25 mL Etilen diamin 25 % D : 3 mL (A) + 0,5 mL Etilen diamin 25 % 10. b) Percobaan II Diaduk dan diamati A : 4 mL NiSO4 + 56 mL H20 B : 40 mL (A) + 3 mL NH3 C : 32,5 mL (B) + 1,5 mL etilen diamin D : 13,5 mL (C) + 1,5 mL dimetil glioksin 11. VII. DATA HASIL PENGAMATAN Percobaan I No. Bahan Pengamatan 1. (A) 15 mL H2O + 15 mL NiSO4 Hijau Tua 2. (B) 3 mL (A) + 2 mL NH3 Hijau Muda 3. (C) 3 mL (A) + 0,25 mL etilen diamin 25% Biru Muda 12. 4. (D) 3 mL (A) + 0,5 mL etilen diamin 25% Biru Tua 5. (E) 3 mL (A) + 0,75 mL etilen diamin 25% Ungu 6. (F) 3 mL (A) + 1,25 mL dimetil glioksin Merah Keruh 13. Percobaan II No. Bahan Pengamatan 1. (A) 4 mL NiSO4 + 56 mL H2O Hijau Muda 2. (B) 40 mL (A) + 3 mL NH3 Hijau Muda 3. (C) 32,5 mL (B) + 1,5 mL etilen diamin 25 % Biru 14. 4. (D) 13,5 mL (C) + 1,5 mL dimetil glioksin Coklat 15. VIII. REAKSI DAN PERHITUNGAN Reaksi : 6H2O + NiSO4 [Ni(H2O)6]2+ + SO4 2- [Ni(H2O)6]2+ + 4NH3 [Ni(NH3)4]2+ + 6H2O [Ni(NH3)4]2+ + 2(NH2CH2CH2NH2) NH2 CH2 CH2 - NH2 2+ Ni + 4NH3 NH2 H2C CH2 - NH2 NH2 CH2 CH2 - NH2 2+ Ni + 2 NH2 H2C CH2 - NH2 2+ + 4KCN (NiCCN)4 2+ + 2 H3 C C = N OH H3 C C = N OH CH3 CH3 HO N = C C = N OH Ni HO N = C C = N OH CH3 CH3 H3 C C = N OH H3 C C = N OH 16. IX. PEMBAHASAN Pada percobaan kali ini memba