V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Kondisi Objek Wisata Bahari … V... · Senoa dimana selat antara...

32
79 V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Kondisi Objek Wisata Bahari Prioritas Kabupaten Natuna memiliki banyak objek wisata alam dan wisata bahari yang menarik karena kondisi alamnya yang berbentuk kepulauan serta bentuk pantainya yang landai bahkan ada beberapa pantai yang yang memiliki batu batuan besar yang tersebar di pantai sehingga menambah keindahan panorama pantainya. Selain itu keindahan alam bawah laut berupa terumbu karang, ikan dengan jenis yang banyak serta habitat laut yang beragam menjadi daya tarik dan magnet bagi wisatawan berkunjung ke Natuna. Dalam penelitian ini, peneliti menganalisis persepsi responden terhadap delapan lokasi-lokasi wisata unggulan yang berhubungan dengan pariwisata bahari yang ada di Kabupaten Natuna berdasarkan Surat Keputusan Bupati Natuna Nomor 158 Tahun 2010 tentang Penetapan Objek Wisata Daerah. Berdasarkan observasi peneliti, masih banyak objek wisata bahari potensial yang belum masuk dalam surat keputusan tersebut seperti Pulau Kemudi, Senubing, Pantai Batu Alif, Pantai Kukup, Selat Lampa, Pulau Selentang, Pulau Sahi, Pulau Setanau, Pantai Marus, Pulau Pasir, Pulau Panjang, Tanjung Sekatung, Pulau Bunga dan lainnya yang memiliki keindahan dan potensi dan daya tarik wisata bahari. Objek wisata bahari daerah berdasarkan Surat Keputusan Bupati Natuna dapat dilihat pada Tabel 5.1 dan peta lokasi objek wisata bahari daerah Kabupaten Natuna dapat dilihat pada Gambar 5.1. Tabel 5.1 Objek Wisata Bahari Daerah Kabupaten Natuna No Nama Objek Lokasi 1 ai Teluk Selahang . Bunguran Timur Laut 2 u Senoa . Bunguran Timur 3 ai Sengiap . Bunguran Timur Laut 4 ai Teluk Buton . Bunguran Utara 5 ai Sisi . Serasan Timur 6 ai Batu Kasah Cemaga . Bunguran Selatan 7 ai Teluk Depeh . Bunguran Selatan 8 u Kembang . Bunguran Barat Sumber : Lampiran Surat Keputusan Bupati Natuna No. 158 Tahun 2010

Transcript of V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Kondisi Objek Wisata Bahari … V... · Senoa dimana selat antara...

79

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Kondisi Objek Wisata Bahari Prioritas

Kabupaten Natuna memiliki banyak objek wisata alam dan wisata bahari yang

menarik karena kondisi alamnya yang berbentuk kepulauan serta bentuk pantainya

yang landai bahkan ada beberapa pantai yang yang memiliki batu batuan besar

yang tersebar di pantai sehingga menambah keindahan panorama pantainya.

Selain itu keindahan alam bawah laut berupa terumbu karang, ikan dengan jenis

yang banyak serta habitat laut yang beragam menjadi daya tarik dan magnet bagi

wisatawan berkunjung ke Natuna. Dalam penelitian ini, peneliti menganalisis

persepsi responden terhadap delapan lokasi-lokasi wisata unggulan yang

berhubungan dengan pariwisata bahari yang ada di Kabupaten Natuna

berdasarkan Surat Keputusan Bupati Natuna Nomor 158 Tahun 2010 tentang

Penetapan Objek Wisata Daerah.

Berdasarkan observasi peneliti, masih banyak objek wisata bahari potensial yang

belum masuk dalam surat keputusan tersebut seperti Pulau Kemudi, Senubing,

Pantai Batu Alif, Pantai Kukup, Selat Lampa, Pulau Selentang, Pulau Sahi, Pulau

Setanau, Pantai Marus, Pulau Pasir, Pulau Panjang, Tanjung Sekatung, Pulau

Bunga dan lainnya yang memiliki keindahan dan potensi dan daya tarik wisata

bahari.

Objek wisata bahari daerah berdasarkan Surat Keputusan Bupati Natuna

dapat dilihat pada Tabel 5.1 dan peta lokasi objek wisata bahari daerah Kabupaten

Natuna dapat dilihat pada Gambar 5.1.

Tabel 5.1 Objek Wisata Bahari Daerah Kabupaten Natuna

No Nama Objek Lokasi

1 Pantai Teluk Selahang Kec. Bunguran Timur Laut

2 Pulau Senoa Kec. Bunguran Timur

3 Pantai Sengiap Kec. Bunguran Timur Laut

4 Pantai Teluk Buton Kec. Bunguran Utara

5 Pantai Sisi Kec. Serasan Timur

6 Pantai Batu Kasah Cemaga Kec. Bunguran Selatan

7 Pantai Teluk Depeh Kec. Bunguran Selatan

8 Pulau Kembang Kec. Bunguran Barat

Sumber : Lampiran Surat Keputusan Bupati Natuna No. 158 Tahun 2010

80

Gambar 5.1 Peta Lokasi Objek Wisata Bahari Daerah Kabupaten Natuna

Selain itu juga ada data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten

Natuna tentang lokasi terumbu karang yang sesuai bagi pengembangan pariwisata

bahari di Kabupaten Natuna yang akan menjadi pertimbangan peneliti dalam

penentuan lokasi wisata bahari yang prioritas. Lokasi terumbu karang untuk

pengembangan pariwisata bahari di Kabupaten Natuna dapat dilihat pada Tabel

5.2.

Tabel 5.2 Lokasi Terumbu Karang Untuk Pengembangan Pariwisata Bahari

di Kabupaten Natuna No Lokasi Koordinat Pencerahan

Perairan (%)

Tutupan

Komunitas

Karang (%)

Jenis Life

Form

Jenis Ikan

Karang

Kecepatan Arus

(cm/dr)

Kedalaman

Terumbu

Karang (m)

1 Pulau Senoa N:04

000,32

E:1080 24,91

60 60 4 16 12 6

2 Selat Lampa N:03

039,70

E:108007,99

65 65 7 20 14 3

3 Teluk Buton N:04

013,61

E:108012,47

75 75 10 55 15 5

4 Pulau Sahi N:04

003,85

E:108017,81

60 55 6 15 16 6

Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Natuna

Berikut adalah kondisi delapan objek wisata bahari prioritas yang akan

dikembangkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Natuna.

81

1) Pantai Teluk Selahang

Pantai Teluk Selahang biasanya dikenal masyarakat dengan nama Pantai

Tanjung merupakan pantai yang terdapat disebelah utara kota Ranai yang dapat

dicapai dengan menggunakan kendaraan bermotor roda dua atau roda empat

dengan waktu tempuh lebih kurang 20 menit. Pantai ini berada di wilayah Desa

Tanjung Kecamatan Bunguran Timur Laut. Pantai ini cukup luas dengan pasir

yang putih dan konturnya yang landai sehingga kegiatan berenang, berjemur,

menikmati suasana sangat cocok dilakukan oleh pengunjung. Diujung pantai ini

banyak terdapat batu batuan yang terhampar di pesisir pantai sehingga menambah

daya tarik pantai ini. Sedangkan didepan pantai ini terdapat lokasi wisata Pulau

Senoa dimana selat antara Pantai Teluk Selahang dan Pulau Senoa terdapat

kawasan konservasi laut dan memiliki spot lokasi yang sangat bagus untuk atraksi

snorkling dan diving. Hari minggu atau hari libur pantai ini cukup ramai

dikunjungi oleh masyarakat sekitar untuk rekreasi, dan biasanya pada hari libur

masyarakat yang tinggal di sekitar pantai memanfaatkan dengan membuka

warung dan menjual makanan khas seperti lempar, kernas, ketabal serta minuman

air kelapa dan lain-lain. Dilokasi ini belum tersedia sarana hotel/penginapan,

sarana pendukung lainnya seperti penyewaan peralatan menyelam/olahraga air

dan pemandu belum tersedia. Akses menuju kepantai ini bisa menggunakan bis

umum regular dengan frekuensi perjalanan 3-4 kali sehari atau menggunakan jasa

ojek. Kondisi jalan dan jembatan menuju lokasi ini cukup bagus dan infrastuktur

pendukung lainnya seperti jaringan listrik, air bersih dan jaringan telepon seluler

sudah tersedia. Kondisi Pantai Teluk Selahang dapat dilihat pada Gambar 5.2.

Gambar 5.2 Kondisi Pantai Teluk Selahang

82

2) Pulau Senoa

Pulau Senoa berada di depan pulau Bunguran, pulau ini merupakan salah

satu pulau terluar Indonesia yang ada di Kabupaten Natuna dengan luas pulau 27

Ha yang berlokasi di wilayah Desa Sepempang Kecamatan Bunguran Timur.

Pulau ini memiliki pantai dan pemandangan Gunung Ranai dan Batu Sindu yang

sangat indah. Pantainya memiliki pasir yang sangat putih, air yang jernih serta gua

sarang burung Walet yang berada diujung pulau. Potensi lainnya yang dimiliki

pulau ini adalah potensi terumbu karangnya yang menarik dengan ikan yang

banyak dan bermacam jenis karena pulau ini termasuk dalam kawasan konservasi

laut. Akses menuju ke pulau ini melalui jalur laut, dari kota ranai menggunakan

kendaraan roda dua atau roda empat menuju ke pelabuhan Teluk Baruk Desa

Sepempang dengan waktu tempuh 15 menit. Kemudian dilanjutkan dengan

menggunakan pompong carteran milik nelayan dengan biaya sewa ± Rp 300.000

(pulang-pergi), transportasi regular menuju ke pulau ini belum tersedia. Sarana

penunjang di Pulau Senoa seperti hotel/penginapan, toilet gazebo, dan rumah

makan saat ini belum tersedia dan pulau ini merupakan pulau yang masih kosong,

tidak berpenghuni tetapi pulau ini sering menjadi tempat rekreasi bagi masyarakat

sekitar pada hari libur. Dermaga wisata di pulau ini sudah ada, jaringan listrik

yang terdapat di pulau ini adalah pembangkit listrik hybrid tenaga surya dengan

kapasitas 10kWP dan angin dengan kapasitas 4kW yang dibangun oleh

pemerintah pusat. Data Dinas Kelautan dan Perikanan menunjukkan lokasi Pulau

Senoa memiliki potensi terumbu karang yang sangat potensial untuk kegiatan

atraksi wisata diving dan snorkling.

Gambar 5.3 Kondisi Pulau Senoa

Gambar 5.4 Dermaga di Pulau Senoa

83

Gambar 5.5 Pembangkit Listrik Hybrid Tenaga Surya dan Angin di Pulau Senoa

Gambar 5.6 Kondisi Pantai dan Pemandangan di Pulau Senoa

Gambar 5.7 Gua Sarang Burung Walet di Pulau Senoa

3) Pantai Sengiap

Pantai Sengiap berada di wilayah Kecamatan Bunguran Timur Laut, pantai

ini cukup bagus karena berada di sebuah pulau yang bernama Pulau Kambing dan

lokasinya terpisah oleh sungai dengan lebar sekitar 50 meter. Untuk menuju ke

pantai ini harus melewati jembatan kayu yang dibangun oleh masyarakat

setempat. Potensi pantai ini yaitu memiliki pasir putih yang panjang dan area

pantai yang sangat luas. Pada musim tertentu gulungan gelombang di pantai ini

sangat bagus dan cocok untuk olagraga surfing. Didepan pantai ini juga banyak

terdapat terumbu karang yang bagus serta ikan yang banyak untuk atraksi wisata

memancing dan menyelam. Akses menuju ke pantai ini belum bagus karena

belum ada jalan aspal masih berupa jalan pasir yang dibangun oleh masyarakat

setempat. Transportasi reguler menuju ke lokasi belum tersedia. Sarana lainnya

seperti penginapan, toilet, lapangan parkir, tempat mandi/bilas belum tersedia.

Kondisi Pantai Sengiap dapatdilihat pada Gambar 5.8.

84

Gambar 5.8 Kondisi Pantai Sengiap

4) Pantai Teluk Buton

Pantai teluk buton berada di ujung pulau bunguran dan masuk ke wilayah

Kecamatan Bunguran Utara. Pantai ini cukup unik karena selain memiliki pantai

dengan pasir yang putih, pantai nya juga memiliki batu batu karang yang

terhampar di sepanjang pantai. Di depan pantai ini banyak terdapat terumbu

karang dan ikan yang besar dan banyak sehingga masyarakat sekitar suka

memancing di lokasi ini. Berdasarkan data potensi terumbu karang lokasi teluk

buton merupakan lokasi yang memiliki potensi terbaik untuk kegiatan atraksi

snorkling dan diving. Pemandangan dari jalan raya melihat ke pantai ini sangat

eksotis, karena pantai ini berada di bawah jurang yang cukup tinggi. Akses ke

pantai ini cukup baik karena sudah ada jalan raya yang lebar dan beraspal.

Transportasi ke lokasi ini bisa menggunakan bis umum yang melewati pantai ini

dengan frekuensi perjalan 3-4 kali sehari. Selain itu bisa menggunakan kendaraan

roda dua atau roda empat carteran dengan waktu tempuh ± 2 jam. Sarana

penunjang pariwisata seperti penginapan, rumah makan, sarana penyewaan

peralatan olahraga di lokasi ini belum tersedia. Pantai Teluk Buton dapat dilihat

pada Gambar 5.9.

Gambar 5.9 Kondisi Pantai Teluk Buton

85

5) Pantai Sisi

Pantai Sisi terletak di Pulau Serasan Kecamatan Serasan Timur. Objek

wisata ini memiliki pantai yang sangat panjang yaitu sekitar 8 kilometer. Pasir di

pantai ini sangat halus dan putih dengan gelombang yang cukup besar pada

musim-musim tertentu. Pantai Sisi pernah disebutkan sebagai salah satu dari 30

pantai terbaik di dunia versi “Island Magazine” edisi September 2006. Lokasi ini

berbeda pulau dan terpisah oleh laut dengan kota Ranai yang berada di Pulau

Bunguran. Untuk menuju ke lokasi ini dengan menggunakan kapal Pelni

KM.Bukit Raya yang frekuensinya dua minggu sekali dengan waktu tempuh

kurang lebih 12 jam dan menggunakan kapal perintis yang frekuensi nya setiap

sepuluh hari sekali dengan waktu tempuh 16 jam. Lokasi objek wisata ini ini

menjadi lokasi yang favorit bagi masyarakat sekitar untuk berekreasi. Fasilitas

penunjang seperti hotel/penginapan, rumah makan, toilet belum tersedia. Kondisi

Pantai Sisi dapat dilihat pada Gambar 5.10.

Gambar 5.10 Kondisi Pantai Sisi di Serasan

6) Pantai Batu Kasah Cemaga

Pantai Batu Kasah masuk dalam wilayah Kecamatan Bunguran Selatan,

pantai ini memiliki karakteristik berpasir dan berbatu. Pantai sangat bagus dengan

batu batuan nya yang besar yang ada di sekitar pantai dengan lautnya yang jernih

dan tenang sehingga menjadi suatu atraksi wisata yang sangat menarik. Terumbu

karang yang ada di pantai ini cukup bagus dengan potensi ikannya yang banyak,

sehingga lokasi ini menjadi lokasi yang disukai oleh masyarakat untuk

memancing. Untuk mencapai ke Pantai Batu Kasah dapat ditempuh dengan

menggunakan kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat dengan waktu

tempuh dekitar 45 menit dari kota Ranai. Saat ini lokasi wisata ini belum

dikembangkan, jalan menuju ke lokasi ini belum memadai karena masih berupa

jalan pasir. Sarana penunjang pariwisata lainnya pun belum tersedia.

86

Gambar 5.11 Kondisi Pantai Batu Kasah Cemaga

7) Pantai Teluk Depeh

Pantai ini terletak di Kecamatan Bunguran Selatan, potensi yang dimiliki

pantai ini adalah pantainya yang berpasir putih dan indah, memiliki lokasi untuk

panjat tebing dan outbond walaupun kondisi eksisting infrastruktur pariwisata,

fasilitas penunjang masih sangat minim, belum ada fasilitas umum seperti toilet,

lapangan parkir dan lain sebagainya. Untuk menuju ke lokasi ini bisa

menggunakan kendaraan roda dua atau kendaraan roda empat dengan waktu

tempuh sekitar dua jam dari kota Ranai. Kondisi jalan masih berupa jalan tanah

belum ada pengerasan atau aspal, selain itu belum ada angkutan umum yang

menuju ke lokasi ini, sehingga harus menyewa motor atau mobil. Kondisi objek

wisata Pantai Teluk Depeh dapat dilihat pada Gambar 5.12.

Gambar 5.12 Kondisi Pantai Teluk Depeh

87

8) Pulau Kembang

Pulau kembang adalah sebuah pulau yang terpisah dengan pulau Bunguran

dan kota Ranai, pulau ini masuk dalam wilayah Kecamatan Bunguran Barat.

Potensi yang dimiliki pulau ini adalah terumbu karang yang sangat bagus yang

berada di sekitar pulau sangat cocok untuk wisata menyelam dan memancing,

pulau ini merupakan pulau yang masih kosong tidak berpenghuni, keindahan

lainnya yang dimiliki pulau ini adalah banyak terdapat burung yang bagus dan

tergolong jinak. Pantai yang ada dipulau ini adalah pantai pasir yang berbatu.

Untuk menuju ke pulau ini belum ada transportasi reguler, pengunjung bisa

mencarter pompong nelayan untuk menuju ke sini, sarana penunjang pariwisata

lainnya seperti penginapan, toilet, kamar mandi/bilas belum tersedia.

Gambar 5.13 Pulau Kembang

Selanjutnya dari delapan lokasi wisata daerah prioritas Kabupaten Natuna,

perlu dilakukan penentuan lokasi mana yang terlebih dahulu fokus untuk

dikembangkan. Hal ini untuk mengatasi permasalahan pengembangan pariwisata

bahari di Kabupaten Natuna, yaitu keterbatasan dana yang ada, penentuan lokasi

prioritas bukan berarti lokasi yang tidak mendapat prioritas pertama tidak perlu

dikembangkan tetapi difokuskan dulu ke lokasi pertama setelah berkembang

dilanjutkan lagi ke lokasi yang prioritas kedua dan seterusnya. Indikator yang

digunakan dalam menentukan lokasi objek wisata bahari prioritas adalah empat

faktor yang berpengaruh terhadap aspek penawaran destinasi wisata yaitu atraksi,

aksesibilitas, amenitas dan ancilliary.

5.1.1 Persepsi Responden Terhadap Atraksi Daya Tarik Wisata

Analisis ini bertujuan untuk mengetahui pendapat responden terhadap

faktor atraksi daya tarik wisata dari beberapa lokasi wisata yang ditentukan.

Atraksi wisata merupakan sesuatu yang bisa dilihat/dinikmati (something to see),

sesuatu yang bisa dilakukan (something to do) dan sesuatu yang bisa dibeli

(something to buy) di suatu lokasi wisata. Dalam penelitian ini peneliti membagi

indeks atraksi daya tarik wisata ini dalam 3 komponen yaitu keindahan dan

keunikan, budaya masyarakat setempat dan kuliner khas.

88

1. Keindahan dan keunikan

Berupa pemandangan alam yang indah dan ketersediaan wisata bahari yang ada

dan bisa dinikmati wisatawan yang ada di suatu lokasi wisata.

2. Budaya

Merupakan pola kehidupan dan tradisi, adat istiadat, kesenian tradisional, pakaian

daerah, upacara dan kepercayaan yang memiliki daya tarik yang ada di lokasi

wisata.

3. Kuliner lokal

Merupakan makanan lokal khas daerah yang bisa dibeli/dinikmati oleh wisatawan

yang tersedia di lokasi wisata.

Penelitian ini mengukur persepsi individu, sehingga penulis menggunakan

tingkat pengukuran ordinal dengan tiga tingkatan yaitu jika “Ada dan Baik” diberi

nilai 2, jika “Ada tapi Tidak Baik” diberi nilai 1, jika “Tidak Ada” diberi nilai 0.

Berikut ini persepsi responden terhadap atraksi wisata di delapan lokasi wisata

yang sudah ditentukan.

Tabel 5.3 Indeks Persepsi Responden Terhadap Atraksi Daya Tarik Wisata

No Lokasi Wisata

Atraksi Daya Tarik Wisata

Rata-rata Kindahan dan

Keunikan

Budaya

Setempat Kuliner Lokal

1 Pantai Teluk Selahang 2,00 0,89 1,67 1,52

2 Pulau Senoa 2,00 0,00 0,11 0,70

3 Pantai Sengiap 2,00 0,11 0,00 0,70

4 Pantai Teluk Buton 1,78 1,00 0,11 0,96

5 Pantai Sisi 1,67 0,89 0,67 1,07

6 Pantai Batu Kasah Cemaga 2,00 0,67 0,78 1,15

7 Pantai Teluk Depeh 1,89 0,78 0,11 0,93

8 Pulau Kembang 1,78 0,00 0,11 0,63

Sumber : Data Primer (diolah)

Tabel 5.3 menyatakan pendapat responden mengenai atraksi daya tarik

wisata berupa keindahan dan keunikan, budaya setempat dan kuliner lokal di

beberapa lokasi wisata. Dari tabel tersebut diketahui ternyata lokasi wisata yang

memiliki nilai rata-rata yang tertinggi yaitu lokasi Pantai Teluk Selahang dengan

nilai rata-rata 1,52. Hal ini berarti bahwa responden menyatakan bahwa atraksi

daya tarik wisata untuk lokasi Pantai Teluk Selahang “ada dan baik”. Dari hasil

survey yang dilakukan, lokasi Pantai Teluk Selahang memiliki pantai yang sangat

bagus, berpasir putih dengan panjang hampir mencapai 2 km, di pantai ini sering

diadakan kegiatan-kegiatan hiburan rakyat dan atraksi budaya oleh pemerintah

daerah dan oleh masyarakat setempat seperti pagelaran permainan alu, tarian

topeng, silat melayu dan hiburan lainnya, tidak jauh dari lokasi ini terdapat

pembudidayaan penyu oleh masyarakat. Setiap hari minggu atau hari libur,

masyarakat yang tinggal di sekitar pantai Teluk Selahang menjual makanan dan

minuman khas seperti kernas, lempar, ketabal dan minuman air kelapa dan juga

menyewakan ban untuk pelampung dan perahu karet dan menjual souvenir dari

kerang, sehingga pada setiap hari minggu atau pun hari libur, masyarakat banyak

yang berkunjung ke pantai ini.

89

Gambar 5.14 Keindahan Pantai Teluk Selahang

Gambar 5.15 Kondisi Pantai Berbatu di Pantai Teluk Selahang

Gambar 5.16 Kesenian Rakyat Permainan Alu di Pantai Teluk Selahang

Gambar 5.17 Makanan Khas Kenas dan Lempar Yang Dijual di Pantai Teluk Selahang

5.1.2 Persepsi Responden Terhadap Aksesibilitas

Salah satu faktor yang menentukan berhasilnya pengembangan pariwisata

bahari adalah adanya aksesibilitas ke lokasi wisata, sehingga memungkinkan dan

memudahkan wisatawan mengunjungi lokasi wisata tersebut. Selanjutnya adalah

analisis persepsi responden terhadap aksesibilitas, analisis ini bertujuan untuk

90

mengetahui lokasi wisata yang paling baik aksesibilitasnya dari beberapa lokasi

wisata yang telah ditentukan.

Komponen yang ditentukan dalam aksesibilitas ini ada tiga yaitu jalan ke

lokasi, transportasi ke lokasi dan jarak tempuh ke lokasi. Tingkat pengukuran

untuk jalan kelokasi dan transportasi ke lokasi dengan tiga tingkatan yaitu “Ada

dan Baik” diberi nilai 2, “Ada tapi Tidak Baik” diberi nilai 1 dan “Tidak Ada”

diberi nilai 0. Tingkat pengukuran untuk komponen jarah tempuh dengan tiga

tingkatan yaitu “Tidak Lama” diberi nilai 2, “Lama” diberi nilai 1 dan “Sangat

Lama” diberi nilai 0.

Berikut adalah indeks persepsi terhadap aksesibilitas dari delapan lokasi

yang sudah ditentukan.

Tabel 5.4 Indeks Persepsi Responden Terhadap Aksesibilitas

No Lokasi Wisata

Aksesibilitas

Rata-rata Jalan ke

Lokasi

Transportasi ke

Lokasi Jarak Tempuh

1 Pantai Teluk Selahang 2,00 1,33 2,00 1,78

2 Pulau Senoa 1,67 1,56 1,89 1,70

3 Pantai Sengiap 1,56 0,44 1,22 1,07

4 Pantai Teluk Buton 1,22 0,56 0,89 0,89

5 Pantai Sisi 1,00 0,00 0,22 0,41

6 Pantai Batu Kasah Cemaga 1,22 0,00 0,89 0,70

7 Pantai Teluk Depeh 1,00 0,00 1,00 0,67

8 Pulau Kembang 1,00 0,56 0,67 0,74

Sumber : Data Primer (diolah)

Tabel 5.4 menerangkan pendapat responden mengenai jalan ke lokasi, transportasi

ke lokasi dan jarak tempuh. Dari tabel diketahui bahwa lokasi yang memiliki

rata-rata aksesibilitas yang paling tinggi adalah Pantai Teluk Selahang dengan

indeks sebesar 1,78. Hal ini berarti bahwa responden menyatakan aksesibilitas di

pantai teluk selahang “ada dan baik”. Lokasi Pantai Teluk Selahang merupakan

lokasi yang sangat dekat dengan ibukota yaitu Ranai, untuk mencapai ke lokasi ini

apabila berada dari luar Kabupaten Natuna, bisa menggunakan pesawat komersial

dari bandara Hang Nadim Batam ke Natuna dengan frekuensi setiap hari pulang

pergi atau bisa juga menggunakan kapal Pelni KM. Bukit Raya dari pelabuhan

Kijang Tanjung Pinang ke Pelabuhan Selat Lampa, kemudian selanjutnya bisa

menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat melalui jalan darat dengan

jalan yang sudah cukup bagus dan beraspal dengan jarak tempuh dari bandara

sekitar 30 menit dan bila dari pelabuhan Selat Lampa sekitar 2,5 jam. Dari kota

Ranai untuk berkunjung ke lokasi ini bisa menggunakan bis umum yang biasa

melewati lokasi ini 3-4 kali dalam sehari dan juga pengunjung bisa menggunakan

kendaraan roda dua atau kendaraan roda empat carteran atau dengan mengunakan

ojek.

91

Gambar 5.18 Fasilitas Transportasi Menuju Natuna

5.1.3 Persepsi Responden Terhadap Amenitas

Faktor lain yang berpengaruh terhadap pengembangan wisata bahari

adalah faktor amenitas. Amenitas adalah fasilitas pendukung yang bisa memenuhi

kebutuhan dan keinginan wisatawan di suatu lokasi wisata. Analisis persepsi

responden terhadap faktor ini bertujuan untuk mengetahui pendapat responden

tentang lokasi yang memiliki amenitas yang paling baik. Dalam penelitian ini

peneliti membagi kedalam 5 fasilitas yaitu tersedianya hotel/penginapan, rumah

makan, fasilitas kamar mandi/kamar bilas, fasilitas parkir kendaraan dan sarana

ibadah.

Tingkat pengukuran yang digunakan ada tiga tingkatan yaitu “Ada dan

Baik” diberi nilai 2, “Ada tapi Tidak Baik” diberi nilai 1, “Tidak Ada” diberi nilai

0. Indeks persepsi responden terhadap amenitas dapat di lihat pada Tabel 5.5.

Tabel 5.5 Indeks Persepsi Responden Terhadap Amenitas

No Lokasi Wisata

Amenitas

Rata-rata Hotel/

penginapan

Rumah

Makan

Kamar

Mandi/Bilas

Tempat

Pakir

Sarana

Ibadah

1 Pantai Teluk

Selahang 0,22 1,11 1,44 1,22 0,44 1,48

2 Pulau Senoa 0,11 0,00 0,78 0,11 0,11 0,37

3 Pantai Sengiap 0,00 0,00 0,00 0,11 0,00 0,04

4 Pantai Teluk Buton 0,00 0,00 0,00 0,00 0,11 0,04

5 Pantai Sisi 0,00 0,67 0,22 0,56 0,00 0,48

6 Pantai Batu Kasah

Cemaga 0,00 0,22 0,78 0,56 0,00 0,52

7 Pantai Teluk

Depeh 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00

8 Pulau Kembang 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00

Sumber : Data Primer (diolah)

Tabel 5.5 menunjukkan pendapat responden mengenai amenitas dari delapan

lokasi wisata yang sudah ditentukan. Tabel 5.5 diatas menjelaskan bahwa

responden menyatakan lokasi yang memiliki nilai rata-rata amenitas yang paling

tinggi adalah Pantai Teluk Selahang dengan nilai rata-rata 1,48, angka ini berarti

rata-rata semua responden menyatakan bahwa amenitas di lokasi Pantai Teluk

Selahang “ada tapi tidak baik”. Hal ini dikarenakan pantai Teluk Selahang ini

sudah tersedia rumah makan dan warung meskipun hanya buka pada hari-hari

92

tertentu saja seperti saat weekend (hari sabtu dan minggu) ataupun hari libur

karena pada hari tersebut pengunjung sangat banyak. Sedangkan resort atau

hotel/penginapan yang berada di lokasi ini belum tersedia, hotel/penginapan yang

terdekat dari lokasi ini ada di Kota Ranai dengan jarak sekitar 10 km, fasilitas

kamar mandi/bilas umum di lokasi ini masih terlihat kotor dan tidak terawat

dengan baik, lokasi parkir sudah tersedia tetapi belum teratur dan belum terawat

dengan baik. Kurangnya amenitas di Pantai Teluk Selahang ini akan menjadi

menghambat bagi kenyamanan pengunjung dan juga kelancaran wisata bahari di

Pantai Teluk Selahang.

5.1.4 Persepsi Responden Terhadap Ancilliary

Faktor yang lainnya yang berpengaruh terhadap pengembangan pariwisata

bahari adalah faktor ancilliary. Ancilliary adalah ketersediaan organisasi yang

mengelola lokasi wisata baik dari pemerintah, perusahaan maupun

individu/perorangan. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui persepsi responden

terhadap faktor ancilliary dari beberapa lokasi wisata yang sudah ditentukan.

Tingkat pengukuran yang digunakan ada tiga yaitu “Ada dan Baik” diberi

nilai 2, “Ada tapi Tidak Baik” diberi nilai 1, dan “Tidak ada” diberi nilai 0.

Berikut ini adalah persepsi responden terhadap faktor Ancilliary.

Tabel 5.6 Indeks Persepsi Responden Terhadap Ancilliary

No

Lokasi Wisata

Ancilliary

Rata-rata Perusahaan

Kelompok

Masyarakat

Individu/

perorangan

1 Pantai Teluk Selahang 0,00 1,67 1,56 1,07

2 Pulau Senoa 0,00 1,44 1,11 0,85

3 Pantai Sengiap 0,00 0,22 1,00 0,41

4 Pantai Teluk Buton 0,00 0,33 0,56 0,30

5 Pantai Sisi 0,00 1,00 1,11 0,70

6 Pantai Batu Kasah Cemaga 0,00 1,11 1,00 0,70

7 Pantai Teluk Depeh 0,00 0,22 0,44 0,22

8 Pulau Kembang 0,00 0,22 0,78 0,33

Sumber : Data Primer (diolah)

Data yang ada pada Tabel 5.6, menerangkan pendapat responden

mengenai faktor ancilliary. Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa responden

menyatakan rata-rata ancillary yang paling besar ada di lokasi Pantai Teluk

Selahang dengan nilai rata-rata adalah 1,07 artinya “ada tapi tidak baik”. Saat

ini organisasi yang mengelola lokasi Pantai Teluk Selahang ini adalah Organisasi

Masyarakat Pencinta Pantai Teluk Selahang yang dibentuk oleh Dinas Pariwisata

Kabupaten Natuna, belum ada perusahaan pariwisata yang khusus mengelola

potensi wisata di pantai ini, selain itu individu/perorangan yang merupakan

masyarakat yang tinggal di lokasi ini atau yang memiliki lahan juga mengelola

lokasi masing-masing. Organisasi Masyarakat Pencinta Pantai Teluk Selahang

dibentuk pada tahun 2011 dimana fungsi organisasi ini adalah mengelola, menjaga

dan memanfaatkan fasilitas wisata baik yang dibangun oleh pemerintah daerah

seperti fasilitas kamar mandi umum, parkir, bangunan gazibu dan tempat duduk di

lokasi ini serta menjaga kebersihan pantai meskipun dalam pelaksanaannya belum

93

berjalan sebagaimana mestinya sebagai contoh masih banyak sampah yang

berserakan di sekitar pantai dan kamar mandi yang tidak terawat sehingga hal ini

akan menjadi kendala bagi pengembangan pariwisata bahari di lokasi ini.

5.1.5 Persepsi Responden Terhadap Faktor Empat A

Empat A merupakan empat aspek atau faktor yang berpengaruh terhadap

penawaran lokasi wisata yang meliputi atraksi daya tarik wisata, aksesibilitas,

amenitas dan ancilliary. Untuk mengembangkan pariwisata, empat faktor ini

harus dimiliki oleh suatu destinasi pariwisata. Tabel indeks persepsi responden

didapat dari tabel-tabel analisis yang sebelumnya. Berikut adalah tabel indeks

persepsi responden terhadap faktor empat A.

Tabel 5.7 Indeks Persepsi Responden Terhadap Faktor Empat A

No Lokasi Wisata

Faktor 4 A

Rata-Rata Rangking Atraksi Daya

Tarik

Wisata

Aksesi-

bilitas Amenitas Ancilliary

1 Pantai Teluk

Selahang 1,52 1,78 1,48 1,07 1,46 I

2 Pulau Senoa 0,70 1,70 0,37 0,85 0,91 II

3 Pantai Sengiap 0,70 1,07 0,04 0,41 0,56 V

4 Pantai Teluk Buton 0,96 0,89 0,04 0,30 0,55 VI

5 Pantai Sisi 1,07 0,41 0,48 0,70 0,67 IV

6 Pantai Batu Kasah

Cemaga 1,15 0,70 0,52 0,70 0,77 III

7 Pantai Teluk Depeh 0,93 0,67 0,00 0,22 0,45 VII

8 Pulau Kembang 0,63 0,74 0,00 0,33 0,43 VIII

Sumber : Data Primer (diolah)

Data yang ada pada Tabel 5.7 diatas, menunjukkan pendapat responden

terhadap faktor empat A yaitu faktor atraksi daya tarik wisata, faktor aksesibilitas,

faktor amenitas dan faktor ancilliary. Berdasarkan data tersebut tersebut diatas

nilai rata-rata pendapat responden terhadap faktor empat A yang paling tinggi

adalah lokasi Pantai Teluk Selahang dengan nilai rata-rata 1,46 dan mendapat

rangking ke-I, angka ini menunjukkan bahwa responden berpendapat lokasi Pantai

Teluk Selahang memiliki faktor 4 A dengan tingkat “Ada tapi Tidak Baik” dan

lokasi ini merupakan lokasi yang paling prioritas untuk dikembangkan.

Pantai Teluk Selahang memiliki pantai yang berpasir panjang hampir

mencapai 2 km dengan bentuk pantai landai dan berbatu, memiliki panorama yang

sangat indah dengan batu-batuan yang besar, di lokasi ini sering diadakan

pagelaran budaya berupa permainan alu, tarian topeng dan silat melayu, pada hari-

hari tertentu seperti hari minggu ataupun hari libur, lokasi ini paling banyak di

kunjungi sehingga masyarakat yang tinggal di sini memanfaatkan dengan menjual

makanan dan minuman khas seperti kernas, lempar, katabal dan minuman air

kelapa.

Akses menuju ke Pantai Teluk Selahang, terlebih dahulu harus ke Natuna

dengan menggunakan pesawat wings air berkapasitas 40 orang dengan frekuensi

penerbangan setiap hari pulang pergi dan menggunakan pesawat Sky Aviation

94

berkapasitas 100 orang frekeuensi penerbangan dua kali seminggu pulang pergi

dari Bandara Hang Nadim Batam, perjalanan pesawat kurang lebih 1,5 jam atau

dapat juga menggunakan jalur pelayaran dengan kapal Pelni KM. Bukit Raya dari

pelabuhan Kijang, Tanjung Pinang, perjalanan dengan kapal memakan waktu

sekitar 30 jam. Setelah sampai di Kota Ranai Natuna wisatawan bisa langsung

menuju lokasi wisata ini dengan memgunakan kendaraan roda dua atau roda

empat dengan lama tempuh lebih kurang 30 menit. Kondisi jalan yang

menghubungkan pantai ini dengan kota Ranai cukup baik karena merupakan jalan

aspal, kondisi jembatan yang dilewati juga cukup baik sehingga akses dari kota

Ranai ke pantai ini sangat lancar. Transportasi untuk menuju ke lokasi ini bisa

menggunakan bis umum tetapi frekuensi nya tidak sering hanya 3-4 kali dalam

sehari. Selain itu pengunjung dapat juga mencarter kendaraan roda dua/kendaraan

roda empat atau menggunakan ojek untuk menuju ke lokasi ini. Disekitar pantai

ada pemukiman penduduk dan juga ada beberapa rumah makan dan warung kecil

yang menjual makanan dan minuman akan tetapi rumah makan atau warung itu

dibuka pada hari tertentu seperti pada hari minggu atau hari libur saja karena pada

hari-hari itu pengunjung banyak. Menurut data dari Dinas Pariwisata Kabupaten

Natuna, jumlah pengunjung di Pantai Teluk Selahang paling banyak dibandingkan

dengan lokasi wisata lainnya di Kabupaten Natuna, setiap hari minggu atau hari

libur pengunjung yang berekreasi di pantai ini berjumlah 500 – 1500 orang, dan

lebih banyak lagi bila ada hiburan rakyat dan atraksi kesenian tradisional dan

budaya lokal yang dilaksanakan di lokasi ini.

Saat ini Pantai Teluk Selahang dikelola oleh sebuah organisasi yaitu

Organisasi Masyarakat Pencinta Pantai Teluk Selahang yang dibentuk oleh Dinas

Pariwisata Kabupaten Natuna, anggota organisasi ini telah diberi pelatihan-

pelatihan mengenai kepariwisataan, selain itu mereka di latih untuk membuat

souvenir/kerajinan dari kerang, mereka bertugas untuk menjaga dan mengelola

bangunan-bangunan yang di bangun oleh Pemerintah Daerah seperti kamar mandi

umum, parkir, gazibu, tempat duduk dan menjaga kebersihan pantai meskipun

dalam pelaksanaanya belum berjalan sebagaimana mestinya, ini bisa dilihat

dengan banyak sampah di sekitar pantai dan kamar mandi/kamar bilas dan sarana

parkir yang tidak terawat dan kotor.

Selanjutnya persepsi responden terhadap faktor empat A ini yang

mendapat rangking ke-II adalah Pulau Senoa dengan nilai 0,91, artinya responden

berpendapat bahwa lokasi Pulau Senoa merupakan prioritas yang kedua untuk

dikembangkan dan lokasi Pulau Senoa memiliki faktor empat A dengan tingkat

“Ada tapi Tidak Baik”. Pulau Senoa merupakan sebuah pulau yang berada di

depan pulau Bunguran dan merupakan pulau terluar Indonesia. Pulau ini memiliki

panorama alam yang sangat indah dengan pemandangan gunung ranai dan Batu

Sindu, pantai di Pulau Senoa sangat alami dengan air yang jernih, berpasir putih,

dan terdapat goa sarang walet di ujung pulau, potensi lain yang dimiliki pulau ini

adalah terumbu karangnya yang indah dan menarik serta perairannya yang banyak

terdapat ikan untuk atraksi memancing, diving dan snorkling.

Akses menuju ke Pulau Senoa dari kota Ranai dengan menggunakan

kendaraan roda dua atau roda empat menuju pelabuhan Teluk Baruk Desa

Sepempang dengan waktu tempuh sekitar 15 menit, kondisi jalan sudah cukup

bagus karena sudah beraspal, kemudian dilanjutkan dengan menggunakan

pompong carteran milik nelayan setempat dengan biaya sekitar Rp 300.000,-

95

(pulang-pergi) karena transportasi reguler ke Pulau Senoa belum ada. Sarana

amenitas di Pulau Senoa seperti hotel/penginapan, kamar mandi/bilas serta rumah

makan belum tersedia.

5.2 Faktor Internal dan Eksternal Yang Berpengaruh Terhadap

Pengembangan Pariwisata Bahari di Kabupaten Natuna

Untuk mengetahui faktor-faktor strategi yang berpengaruh terhadap

pengembangan pariwisata bahari di Kabupaten Natuna digunakan analisis faktor

internal eksternal. Tahap awal analisis ini adalah mengidentifikasi terlebih dahulu

indikator faktor internal yaitu kekuatan dan kelemahan dan indikator faktor

eksternal yaitu peluang dan ancaman dalam pengembangan pariwisata bahari di

Kabupaten Natuna. Faktor internal dan eksternal ditentukan oleh peneliti melalui

studi pustaka, wawancara dengan pihak dinas/instansi yang terkait, anggota

legislatif, pengusaha hotel/rumah makan, maskapai penerbangan, LSM pariwisata,

wisatawan dan juga dengan pengalaman penulis sebagai bagian dari instansi

pariwisata di Kabupaten Natuna.

5.2.1 Faktor Strategis Internal

Berdasarkan pengumpulan data primer dan sekunder, ditentukan beberapa

faktor strategis internal pengembangan pariwisata bahari di Kabupaten Natuna.

Faktor strategis internal tersebut terdiri atas faktor kekuatan dan faktor kelemahan

dalam pengembangan pariwisata bahari di Kabupaten Natuna, faktor-faktor

strategis internal tersebut adalah sebagai berikut :

A. Kekuatan (Strengths)

Setelah faktor-faktor strategi internal di identifikasi dan dimasukkan ke

dalam suatu tabel IFAS (Internal Strategic Factor Analysis Summary) maka

selanjutnya dirumuskan faktor-faktor strategis internal tersebut ke dalam kerangka

strength and weakness yang sangat mempengaruhi pengembangan pariwisata

bahari di Kabupaten Natuna. Faktor kekuatan harus dimanfaatkan seoptimal

mungkin dalam pengembangan pariwisata bahari di Kabupaten Natuna. Faktor-

faktor kekuatan tersebut terdiri dari :

1) Potensi Wisata Alam dan Wisata Bahari yang Menarik

Potensi wisata alam dan wisata bahari di Kabupaten Natuna sangat banyak

dan sangat menarik dengan kondisi geografisnya yang berbentuk kepulauan

dengan pantai yang landai sehingga sebagian besar pulau-pulau yang ada di

Kabupaten Natuna memiliki pantai yang berpasir putih. Alam yang

dimaksudkan disini adalah alam pantai, pesisir pantai, laut serta isinya seperti

terumbu karang, ikan dan habitat lainnya. Potensi wisata alam dan wisata

bahari di Kabupaten Natuna berupa panorama alam pantai yang indah,

terumbu karang yang luas dan bagus dengan kejernihan dan arus yang cukup

baik, panorama pantai yang berbatu dan unik, tersedianya budi daya penyu di

beberapa lokasi dan dan goa sarang walet yang indah di Pulau Senoa. Dengan

potensi yang dimiliki sehingga banyak atraksi wisata seperti menikmati

panorama pantai, berjemur, berenang, diving, snorkeling, memancing,

olahraga air dan atraksi wisata bahari lainnya yang bisa dikembangkan di

Kabupaten Natuna.

96

2) Ketersediaan Lahan Untuk Pengembangan Pariwisata Bahari

Ketersediaan dan daya dukung lahan untuk pengembangan pariwisata

bahari sangat prospektif dan sangat menunjang pengembangan sektor ini.

Masih banyak lahan kosong milik masyarakat yang bersedia untuk di jadikan

lahan pengembangan kawasan wisata bahari di Kabupaten Natuna.

Masyarakat juga sangat mendukung pengembangan wisata bahari di wilayah

nya karena sadar akan keuntungan dan manfaat yang bisa mereka peroleh

selain membuka peluang pekerjaan juga akan memberikan manfaat ekonomi

bagi mereka.

3) Masyarakat Yang Ramah

Masyarakat Natuna yang merupakan masyarakat melayu sangat

menjunjung tinggi adat istiadat dan budaya islam. Banyak tradisi masyarakat,

atraksi budaya masyarakat, kesenian tradisionalnya yang dipengaruhi oleh

budaya islam seperti acara penyambutan tepung tawar, silat melayu, gendang

melayu, kompang dan qasidah. Masyarakat melayu mempunyai sikap

keterbukaan dan menerima siapa saja sebagai saudara, asalkan antara mereka

dapat saling bekerja sama, saling menghargai dan saling menghormati.

Menurut masyarakat melayu ada pepatah “Adat melayu bersendikan syara’,

dan syara’ bersedikan kitabullah”. Keterbukaan dan keramahtamahan

masyarakat dapat menjadi kekuatan dalam pengembangan pariwisata bahari di

Kabupaten Natuna.

4) Ketersediaan kawasan konservasi laut untuk pariwisata

Kawasan konservasi sangat penting keberadaannya dalam pengembangan

pariwisata bahari di Kabupaten Natuna. Kawasan konservasi ini bertujuan

untuk melindungi habitat dan populasi ikan seperti perlindungan dan

rehabilitasi terumbu karang sehingga kelestarian sumber daya alam hayati laut

bisa terwujud sehingga akan mendukung peningkatan kesejahteraan

masyarakat. Dengan tersedianya kawasan konservasi laut ini akan mendukung

pengembangan pariwisata bahari di Kabupaten Natuna.

Kawasan konservasi laut di Kabupaten Natuna terdapat tiga kawasan yaitu

Kawasan I dengan luas 57.574 ha meliputi kawasan Pulau Tiga – Sedanau dan

laut disekitarnya di prioritaskan untuk mendukung kegiatan perikanan

berkelanjutan, Kawasan II dengan luas 52.415 ha meliputi Kawasan Bunguran

Utara dan laut disekitarnya di prioritaskan untuk suaka perikanan, dan

Kawasan III dengan luas 35.990 ha meliputi Kawasan Pesisir Timur Bunguran

dan laut disekitarnya diprioritaskan untuk mendukung kegiatan pariwisata

bahari. Peta kawasan konservasi laut dapat dilihat pada Gambar 5.19.

97

Gambar 5.19 Peta Kawasan Konservasi Laut Kabupaten Natuna

5) Dukungan pendanaan oleh pemerintah daerah

Kabupaten Natuna sebagai daerah yang memiliki sumber daya alam

minyak dan gas mendapat pembagian dana bagi hasil dari pemerintah pusat

yang cukup besar sehingga memperbesar peluang untuk mengembangkan

pariwisata bahari di Kabupaten Natuna. Nilai Anggaran Pendapatan Belanja

Daerah (APBD) Kabupaten Natuna dibandingkan dengan jumlah penduduk

Natuna dapat dilihat pada table 5.8.

Tabel 5.8 Nilai Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD)

Dibandingkan Dengan Jumlah Penduduk Kabupaten Natuna

Tahun Nilai APBD

(Rupiah)

Jumlah Penduduk

(Jiwa)

2010 Rp 0,95 Trilyun 69.003

2011 Rp 1,15 Trilyun 72.950

2012 Rp 1,73 Trilyun 76.606

B. Kelemahan (Weaknesses)

Faktor kelemahan merupakan faktor internal yang dapat menghambat

dalam pengembangan pariwisata bahari di Kabupaten Natuna. Faktor kelemahan

ini harus dicermati secara baik, karena akan menghambat perkembangan

pariwisata bahari di Kabupaten Natuna. Faktor kelemahan pengembangan

pariwisata bahari di Kabupaten Natuna adalah sebagai berikut :

98

1) Akses dan transportasi sangat terbatas

Aksesibilitas dalam hal ini adalah tingkat kemudahan untuk menjangkau

suatu destinasi pariwisata. Aksesibilitas sangat penting dalam

mengembangkan pariwisata di Kabupaten Natuna, objek-objek wisata

khususnya wisata bahari di Kabupaten Natuna tersebar dan juga berada di

pulau-pulau seperti di Pulau Serasan, Pulau Laut, Pulau Tiga, Pulau Midai,

Pulau Sedanau dan Pulau Subi. Untuk mencapai ke objek wisata ini

menggunakan alat angkut transportasi laut, sehingga sarana dan prasarana

transportasi laut sangat diperlukan dalam pengembangan pariwisata bahari di

Kabupaten Natuna.

Sarana dan prasarana transportasi yang ada di Kabupaten Natuna saat ini

adalah 1 (satu) pelabuhan udara milik TNI AU, satu terminal antar kecamatan

yang berada di Kota Ranai dengan klasifikasi terminal tipe C, pelabuhan Selat

Lampa, pelabuhan Penagi, pelabuhan Binjai dan beberapa pelabuhan lainnya

yang tersebar di kecamatan.

Pelayanan transportasi regional melalui angkutan udara pesawat wings air

dengan jadwal sekali sehari pulang pergi dan pesawat Sky Aviation dengan

jadwal dua kali seminggu dengan rute Batam – Natuna pulang pergi, angkutan

laut Kapal Motor (KM) Bukit Raya setiap dua minggu sekali dengan rute

perjalanan Jakarta – Muntok - Tanjung Pinang – Letung – Tarempa – Selat

Lampa – Midai – Serasan – Pontianak – Surabaya dan angkutan Kapal Motor

Terigas dan Gunung Bintan setiap 10 hari sekali. Sedangkan untuk

transportasi antar kecamatan di Kabupaten Natuna dengan alat transportasi

Kapal Cepat (Speed Boat) dengan jadwal dua kali sehari tujuan Binjai -

Sedanau - Kelarik dan Kapal Pompong dengan sistem carteran sedangkan

untuk transportasi antar kecamatan dalam satu pulau bunguran yaitu

transportasi bis umum dengan frekuensi 3-4 kali sehari, kendaraan roda dua

dan kendaraan roda empat carteran serta menggunakan ojek.

2) Sarana dan prasarana pendukung pariwisata terbatas

Sarana dan prasarana pendukung pariwisata adalah semua fasilitas baik itu

fasilitas dasar/utama maupun fasilitas pendukung yang memberikan

kemudahan dan pelayanan kepada wisatawan. Prasarana pariwisata ini adalah

prasarana transportasi seperti pelabuhan udara dan jalan raya menuju ke lokasi

pariwisata dan sedangkan sarana pariwisata berupa hotel/penginapan, rumah

makan, resort, biro perjalanan wisata, toko souvenir dan pusat kerajinan,

kamar mandi/bilas umum dan sarana penyewaan alat snorkeling/diving.

Saat ini sarana hotel/penginapan yang ada di Kabupaten Natuna berjumlah

10 buah yang berada di Kecamatan Bunguran Timur dan empat buah yang

berada di Kecamatan Bunguran Barat yang semuanya masih tergolong

klasifikasi melati. Resort dan sarana penyewaan alat snorkeling/diving belum

tersedia. Sedangkan travel atau biro perjalanan berjumlah 13 buah yang berada

di Kota Ranai Kecamatan Bunguran Timur yang hanya melayani pembelian

tiket pesawat dan kapal PELNI saja, belum menjual paket wisata ke lokasi

lokasi wisata yang ada di Kabupaten Natuna.

99

3) Kualitas SDM dan Kelembagaan Pengelola Objek Wisata Belum

Profesional

Berdasarkan hasil survey di lapangan terhadap sumber daya manusia yang

berada di lingkungan objek wisata Kabupaten Natuna dan juga pada

kelembagaan atau instansi teknis pariwisata dapat dikatakan bahwa sumber

daya manusia yang memiliki keahlian yang memadai dalam pengelolaan

pariwisata bahari di Kabupaten Natuna masih kurang untuk menangani

seluruh potensi yang ada. Hampir semua objek wisata yang ada di Kabupaten

Natuna belum dikelola dengan manajemen profesional. Tingkat pendidikan,

pelatihan, manajemen maupun kemampuan berbahasa asing merupakan faktor

yang sangat penting dalam pengembangan pariwisata bahari di Kabupaten

Natuna. Untuk itu kelemahan ini harus dicermati dan di minimalisir karena

akan menjadi penghambat dalam pengembangan pariwisata bahari di

Kabupaten Natuna.

4) Koordinasi lintas sektor dan regional belum maksimal

Koordinasi lintas sektor dan regional dalam pembangunan pariwisata

bahari mutlak perlu di lakukan agar pembangunan lebih terpadu dan sinergi.

Pembangunan pariwisata sangat berpengaruh terhadap pembangunan di sektor

lain seperti Instansi PU, perhubungan, kelautan dan perikanan dan bappeda

sehingga akan menghasilkan suatu produk pariwisata bahari yang berkualitas

dan memiliki daya saing. Stigma yang muncul di masyarakat bahwa

pembangunan pariwisata bahari hanya dibebankan kepada Dinas Pariwisata

saja, yang tentu saja tidak benar sepenuhnya. Perlu adanya suatu komitmen

bersama dalam meningkatkan kesamaan persepsi, pola pikir dan tindakan

yang berorientasi pada keberhasilan pengembangan pariwisata bahari di

Natuna. Walaupun ada beberapa komunikasi non formal antar instansi terkait

tapi secara formal belum dibentuk forum komunikasi pengembangan

pariwisata bahari di Kabupaten Natuna sehingga membuat pengembangan

pariwisata bahari di Kabupaten Natuna menjadi lambat berkembang.

5) Kurangnya Kerjasama Antara Pemerintah, Swasta dan Masyarakat

Untuk mengembangkan pariwisata bahari sangat perlu adanya kerjasama

antara pemerintah, swasta dan masyarakat. Pemerintah harus bisa mengajak

pihak swasta dalam pembangunan sarana dan prasarana penunjang pariwisata

dan melibatkan masyarakat untuk secara bersama memajukan pariwisata

bahari terutama dalam hal menjaga keberlanjutan kawasan wisata bahari yang

dikembangkan dan menjaga keamanan, ketertiban dan kenyamanan wisatawan

sehingga wisatawan akan betah dan meningkat secara kualitas dan kuantitas.

5.2.2 Faktor Strategis Eksternal

Berdasarkan pengumpulan data primer dan data sekunder, diperoleh

beberapa faktor strategis eksternal yang mempengaruhi keberhasilan

pengembangan pariwisata bahari di Kabupaten Natuna. Faktor strategis tersebut

terdiri atas faktor peluang dan factor ancaman. Faktor-faktor tersebut adalah

sebagai berikut :

100

A. Peluang (Opportunities)

Setelah faktor-faktor strategi eksternal di identifikasi dan dimasukkan ke

dalam suatu tabel EFAS (External Strategic Factor Analysis Summary) maka

selanjutnya dirumuskan faktor-faktor strategis eksternal tersebut ke dalam

kerangka Opportunities and threats yang sangat mempengaruhi pengembangan

pariwisata bahari di Kabupaten Natuna. Faktor kekuatan harus dimanfaatkan

sebaik-baiknya dalam pengembangan pariwisata bahari di Kabupaten Natuna.

Faktor-faktor peluang tersebut terdiri dari :

1) Kebijakan Pemerintah Yang Mendorong Pariwisata Daerah

Semenjak berlakunya Undang-undang Nomor 22 dan 25 Tahun 1999

kemudian diubah dengan Undang-undang Nomor 32 dan 33 Tahun 2004

tentang Pemerintahan Daerah dan tentang Perimbangan Keuangan antara

Pemerintah Pusat dan Daerah, memberi keuntungan bagi daerah dan membuka

peluang yang seluas-luasnya bagi daerah untuk membuat kebijakan dalam

pengembangan daerah sesuai dengan potensi dan karakteristik daerahnya

masing-masing, termasuk dalam hal ini adalah kebijakan strategis untuk

pengembangan pariwisata bahari di Kabupaten Natuna. Selain itu adanya

kebijakan pemerintah pusat yang mendorong pembangunan daerah terluar dan

pengelolaan pulau-pulau dan daerah pesisir sehingga merupakan peluang bagi

Kabupaten Natuna untuk mengembangkan pariwisata baharinya.

2) Kondisi Perekonomian Indonesia Cukup Baik

Saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa dikatakan relatif stabil dan

cukup baik, dimana pemerintah terus meningkatkan pertumbuhan ekonomi

sampai di atas 6% dan menekan defisit anggaran di bawah 2,5%. Pertumbuhan

ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir tumbuh tinggi

dibandingkan dengan negara tetangga. Sehingga dengan kondisi ekonomi

global yang belum kondusif seperti sekarang ini akan mendorong investor

untuk menanamkan modalnya ke Indonesia. Selain itu pertumbuhan kelas

menengah di Indonesia cukup signifikan dalam 10 tahun terakhir kelas

menengah telah tumbuh mejadi dua kali lipat, sehingga dengan pertumbuhan

kelas menengah ini akan meningkatkan permintaan terhadap sektor pariwisata

dan akan memberikan peluang yang lebih besar bagi pengembangan

pariwisata bahari di Kabupaten Natuna.

3) Teknologi Informasi

Dalam dunia kepariwisataan informasi dapat diartikan sebagai data dan

informasi yang dikomunikasikan kepada calon wisatawan yang akan

berkunjung yang disampaikan dalam bentuk bermacam-macam media

informasi. Pada akhir abad ke-21 ini telah disadari sepenuhnya bahwa yang

sangat menentukan keunggulan dalam potensi dan atraksi wisata serta hasil

budaya masyarakat adalah kemampuan dalam memanfaatkan teknologi

informasi (Yoeti, 1989)

Dengan teknologi informasi ini akan dapat diperoleh informasi tentang

potensi kepariwisataan dimanapun dan dibelahan dunia manapun dalam waktu

yang relatif singkat sehingga hal tersebut sangat memudahkan dan tentunya

menjadi peluang yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku kepariwisataan.

101

Revolusi teknologi informasi dan internet menjadi dunia informasi semakin

transparan dan semakin tidak terbatas dalam hal ruang dan waktu. Hal ini bisa

dilihat sebagai suatu demand dan peluang bagi kepariwisataan. Dengan

pemanfaatan teknologi informasi ini akan memudahkan informasi bagi

wisatawan tentang objek-objek wisata, sarana prasarana pendukungnya,

informasi tentang rute, jarak, biaya dan moda transportasi yang tersedia yang

dapat digunakan untuk mencapai suatu lokasi tujuan wisata.

4) Kondisi Keamanan yang Terjamin

Faktor keamanan adalah sejauh mana wisatawan mendapat jaminan

keamanan dari suatu lokasi wisata yang di kunjunginya. Kondisi keamanan

yang stabil dan imej masyarakat Natuna yang ramah bersahabat dan memiliki

sifat kekeluargaan merupakan peluang yang dapat dimanfaatkan untuk

pengembangan pariwisata bahari di Kabupaten Natuna.

5) Kondisi Perkembangan Industri Migas yang Cukup Baik

Kabupaten Natuna memiliki ketersediaan cadangan minyak bumi yang

sangat besar yaitu diperkirakan mencapai 14.386.470 barel, sedangkan gas

bumi 112.356.680 barel. Kondisi ini secara langsung maupun tidak langsung

merupakan salah satu suatu prospek bagi perkembangan kegiatan pariwisata di

Kabupaten Natuna. Selain akan banyak industri industri migas yang tumbuh

dan berkembang di kawasan ini, juga akan membuka peluang dan menjadi

pendorong bagi industri pariwisata untuk berkembang.

B. Ancaman (Threats)

Selain faktor peluang, faktor ancaman juga merupakan bagian dari faktor

strategis eksternal yang dapat menghambat dan mengganggu pengembangan

pariwisata bahari di Kabupaten Natuna yang harus mendapat perhatian serius bagi

pemerintah agar kegiatan pengembangan pariwisata bahari mencapai tujuan yang

diinginkan. Faktor-faktor ancaman tersebut diuraikan sebagai berikut :

1) Akses Menuju Kabupaten Natuna Masih Sulit

Faktor aksesibilitas sangat penting perannya dalam pengembangan

pariwisata bahari di Kabupaten Natuna. Unsur ini dapat dikatakan sangat besar

pengaruhnya terhadap pembuatan keputusan oleh wisatawan untuk

mengunjungi suatu daerah tujuan wisata atau tidak. Dengan semakin baiknya

akses menuju ke lokasi wisata, wisatawan dapat melakukan perjalanan dengan

waktu yang lebih singkat dan lebih nyaman sehingga jangkauannya pun akan

lebih banyak. Saat ini ada tiga maskapai penerbangan yang beroperasi ke

Natuna yaitu Wings Air yang beroperasi setiap hari dengan rute Natuna –

Batam pulang pergi dan memiliki kapasitas 40 seat, kemudian ada Sky

Aviation frekuensi penerbangan dua kali seminggu dengan rute Natuna –

Batam pulang pergi dan memiliki kapasitas 100 seat, dan Sriwijaya Air

frekuensi penerbangan dua kali seminggu dengan rute Natuna – Pontianak

pulang pergi dan memiliki kapasitas 100 seat. Selain itu ada moda transportasi

laut Kapal Motor (KM) Bukit Raya yang menuju ke Natuna dengan jadwal

102

dua kali seminggu dan KM Terigas serta KM Gunung Bintan dengan

frekuensi pelayaran setiap 10 hari sekali. Berdasarkan survey penulis di

lapangan dan wawancara dengan beberapa narasumber, aksesibilitas ke

Natuna masih sulit selain terbatasnya penerbangan ke Natuna juga sulitnya

memperoleh tiket karena kapasitas penumpangnya terbatas, untuk

mendapatkan tiket pesawat penumpang harus memesan jauh-jauh hari

sebelumnya karena sering kehabisan tiket. Faktor aksesibilitas yang terbatas

ini akan menjadi ancaman yang cukup signifikan dalam pengembangan

pariwisata bahari di Kabupaten Natuna.

2) Biaya Perjalanan ke Natuna Relatif Mahal

Biaya perjalanan menuju ke lokasi wisata merupakan salah satu faktor

yang mempengaruhi permintaan pariwisata. Harga-harga barang dan jasa pada

suatu daerah tujuan wisata mempengaruhi minat wisatawan untuk

mengunjungi objek wisata tersebut. Jika harga-harga barang dan jasa disuatu

tempat tujuan itu mahal maka permintaan pariwisata secara relatif akan

berkurang. Sebaliknya jika harga-harga barang dan jasa di tempat wisata itu

murah, kemungkinan dapat menjadi pendorong wisatawan untuk berkunjung

dan membeli produk wisata yang di tawarkan.

Dari hasil wawancara dengan beberapa wisatawan dan masyarakat di

Kabupaten Natuna, mereka mengatakan bahwa harga tiket pesawat menuju ke

Kabupaten Natuna masih tergolong mahal, dengan perjalanan pesawat selama

1,5 jam dari Batam harga tiket berkisar antara 1 juta sampai 1,3 juta, bila

dibandingkan dengan biaya perjalanan dari Jakarta menuju Bali dengan durasi

perjalanan pesawat yang sama harga tiket pesawat hanya sekitar 500 – 600

ribu. Harga-harga makanan dan barang-barang keperluan sehari-hari tergolong

lebih mahal sekitar 10-30 persen dibandingkan dengan daerah lain di

sekitarnya seperti di Batam dan Tanjungpinang. Hal ini akan menjadi faktor

ancaman harus di perhatikan oleh para perencana pengembangan pariwisata

bahari di Kabupaten Natuna.

3) Persaingan dengan Daerah Lain di Sekitanya

Persaingan pariwisata merupakan salah satu faktor yang harus

dipertimbangkan dalam pengembangan pariwisata bahari di Natuna. Pintu

masuk bagi wisatawan mancanegara di Kepulauan Riau tidak ada melalui

Kabupaten Natuna tapi melalui Batam, Tanjungpinang, Tanjung Uban dan

Tanjung Balai Karimun. Apalagi ada beberapa daerah di kawasan regional

yang juga mengembangkan jenis wisata yang sama dengan Kabupaten Natuna.

Hal ini menjadi ancaman bagi pengembangan pariwisata bahari di Kabupaten

Natuna.

4) Cuaca Musim Utara dengan Gelombang dan Angin yang Sangat Kencang

Kondisi geografis Kabupaten Natuna yang berada di lokasi laut yang luas

dan arah utaranya yang terbuka sehingga cuaca sangat di pengaruhi oleh

perubahan arah angin. Berdasarkan periode angin musim pada bulan Oktober

– Desember bertiup angin utara sehingga akan menimbulkan angin yang

103

sangat kencang diiringi dengan hujan lebat dan gelombang yang sangat tinggi

bahkan mencapai 4 - 6 meter. Pada periode ini transportasi laut yang

menggunakan kapal-kapal kecil tidak berani beroperasi, dan kapal-kapal kayu

pengangkut sembako tidak berani beroperasi sehingga kadang-kadang

menyebabkan hilangnya beberapa kebutuhan pokok masyarakat dan harga

kebutuhan menjadi tinggi. Selain itu pada periode musim utara ini beberapa

aktifitas pariwisata bahari seperti berenang, olahraga air, diving dan snorkling

tidak bisa dilakukan di lokasi-lokasi tertentu. Hal ini menjadi faktor

penghambat dalam pengembangan pariwisata bahari di Kabupaten Natuna.

5) Masih Banyak Masyarakat yang Mencari Ikan dengan Peralatan yang

Tidak Ramah Lingkungan

Dalam pengembangan pariwisata bahari aspek kontinuitas dan sustainable

sangat penting agar sektor pariwisata bisa berkembang dan bertahan lama.

Lingkungan hidup menjadi aset dan nilai yang keberadaannya harus dipikirkan

untuk jangka panjang sehingga pengembangannya menjadi keuntungan yang

positif bagi lingkungan dan masyarakat di sekitarnya. Berdasarkan

pengumpulan data primer didapatkan bahwa masih banyaknya masyarakat

Natuna yang sebagian besar sebagai nelayan yang menggunakan alat tangkap

yang tidak ramah lingkungan seperti penggunaan bom ikan, potasium bahkan

penggunaan pukat harimau yang bisa menyebabkan kematian organisme

hewan hewan karang dan kerusakan secara fisik terumbu karang sehingga

dalam jangka waktu tertentu terumbu karang akan rusak/mati dan ikan akan

akan hilang. Hal ini menjadi suatu ancaman bagi pengembangan pariwisata

bahari di Kabupaten Natuna.

5.3 Matriks IFE – EFE

Untuk melakukan analisis terhadap faktor-faktor strategis yang

mempengaruhi perkembangan pariwisata bahari di Kabupaten Natuna digunakan

matriks Internal Factor Evaluation (IFE) untuk faktor internal dan matriks

External Factor Evaluation (EFE) untuk faktor eksternal. Tujuan menggunakan

matriks IFE dan matriks EFE ini untuk mengetahui seberapa besar pengaruh

faktor-faktor strategis internal dan eksternal terhadap keberhasilan pengembangan

pariwisata bahari di Kabupaten Natuna.

5.3.1 Hasil Evaluasi Faktor Internal

Faktor-faktor strategis internal yang mempengaruhi perkembangan

pariwisata bahari di Kabupaten Natuna setelah diperoleh dari pengumpulan data

kuisioner sembilan orang responden untuk penelitian bobot dan rating maka

diperoleh hasil perhitungannya pada Tabel 5.9.

Pengembangan pariwisata bahari di Kabupaten Natuna ditentukan oleh

faktor internal dengan tingkat kepentingan relatif satu faktor dengan faktor

lainnya ditentukan oleh besarnya bobot faktor tersebut. Pada Tabel 5.9 dapat

dilihat bahwa faktor internal yang dinilai paling penting terhadap keberhasilan

pengembangan pariwisata bahari di Kabupaten Natuna adalah potensi wisata alam

dan wisata bahari yang menarik dengan nilai sebesar 0,65. Faktor ini mempunyai

104

peringkat sebesar 4 yang berarti faktor tersebut merupakan kekuatan utama

dibandingkan dengan faktor lain yang dimiliki bagi pengembangan pariwisata

bahari di Kabupaten Natuna.

Selain mengidentifikasi kekuatan internal, matriks IFE juga menunjukkan

berbagai kelemahan dalam pengembangan pariwisata bahari di Kabupaten

Natuna. Faktor internal yang memiliki nilai kelemahan terbesar adalah sarana dan

prasarana pendukung pariwisata terbatas yang memiliki nilai sebesar 0.062. Hal

ini menunjukkan bahwa dalam pengembangan pariwisata bahari Kabupaten

Natuna harus mempersiapkan sarana dan prasarana pendukung pariwisata yang

lebih lengkap sehingga akan memberi kemudahan dan kenyamanan bagi

wisatawan berkunjung ke Kabupaten Natuna.

Tabel 5.9 Matriks Hasil Perhitungan Internal Factor Evaluation (IFE)

No Faktor Strategis Internal Bobot Rating Bobot x

Rating

KEKUATAN :

1 Potensi wisata alam dan wisata bahari yang menarik 0,16 4 0,65

2 Tersedianya lahan untuk pengembangan pariwisata bahari 0,14 3 0,42

3 Masyarakat yang ramah 0,15 4 0,61

4 Tersedianya kawasan konservasi laut untuk pariwisata 0,14 3 0,42

5 Dukungan pendanaan oleh pemerintah daerah 0,13 3 0,39

JUMLAH 0,72 2,48

KELEMAHAN :

6 Akses dan transportasi sangat terbatas 0,06 2 0,12

7 Sarana dan prasarana pendukung pariwisata terbatas 0,06 2 0,13

8 Kualitas SDM dan kelembagaan pengelola objek wisata

belum professional 0,05 1 0,05

9 Koordinasi lintas sektoral dan regional belum maksimal 0,05 1 0,05

10 Kurangnya kerjasama antara pemerintah, swasta dan

masyarakat 0,05 1 0,05

JUMLAH 0,28 0,40

TOTAL 1,00 2,88

Sumber : Data primer diolah

5.3.2 Hasil Evaluasi Faktor Eksternal

Berdasarkan hasil identifikasi faktor strategis eksternal yang

mempengaruhi pengembangan pariwisata bahari di Kabupaten Natuna yang terdiri

dari peluang dan ancaman, kemudian dilanjutkan dengan evaluasi faktor eksternal

menggunakan matriks EFE (Eksternal Factor Evaluation) diperoleh hasil seperti

pada Tabel 5.10. Bobot yang diperoleh menentukan tingkat kepentingan relatif

satu faktor eksternal terhadap faktor eksternal lainnya yang berpengaruh pada

pengembangan pariwisata bahari di Kabupaten Natuna.

Berdasarkan Tabel 5.10 terlihat bahwa faktor-faktor kunci eksternal yang

memberikan peluang terbesar dalam pengembangan pariwisata bahari di

Kabupaten Natuna adalah adanya kebijakan pemerintah yang mendorong

pariwisata daerah peluang ini diharapkan bisa mendorong kemajuan

pengembangan pariwisata bahari di Kabupaten Natuna. Nilai skor terbesar yang

105

dimiliki faktor kunci eksternal ini yaitu sebesar 0,61 dengan bobot 0,15 dan rating

sebesar 4.

Faktor eksternal yang memberikan ancaman terbesar bagi pengembangan

pariwisata bahari di Kabupaten Natuna adalah akses ke Kabupaten Natuna masih

sulit yang ditunjukkan dengan bobot 0,08 dan rating 2 sehingga skornya menjadi

0.16. Hal ini menunjukkan bahwa dalam pengembangan pariwisata bahari di

Kabupaten Natuna harus mengatasi ancaman terbesar yaitu meningkatkan

aksesibilitas sehingga jika aksesibilitas mudah, maka akan meningkatkan jumlah

wisatawan yang berkunjung ke Natuna.

Tabel 5.10 Matriks Hasil Perhitungan External Factor Evaluation (EFE)

No Faktor Strategis Eksternal Bobot Rating Bobot x

Rating

PELUANG :

1 Kebijakan pemerintah yang mendorong pariwisata daerah 0,15 4 0,61

2 Kondisi perekonomian Indonesia cukup baik 0,15 3 0,44

3 Teknologi informasi 0,13 3 0,40

4 Kondisi keamanan yang terjamin 0,12 3 0,37

5 Kondisi perkembangan industri Migas yang cukup baik 0,12 3 0,36

JUMLAH 0,67 2,17

ANCAMAN :

6 Akses ke Kabupaten Natuna masih sulit 0,08 2 0,16

7 Biaya perjalanan ke Natuna mahal 0,07 2 0,13

8 Persaingan dengan daerah lain disekitarnya 0,06 1 0,06

9 Cuaca musim utara dengan gelombang dan angin yang

sangat kencang 0,06 1 0,06

10 Masih banyak masyarakat yang mencari ikan dengan

peralatan yang tidak ramah lingkungan 0,06 1 0,06

JUMLAH 0,33 0,47

TOTAL 1,00 2,64

Sumber : Data primer diolah

5.4 Matriks Internal Eksternal (IE)

Matriks Internal Eksternal (IE) berguna untuk mengetahui grand strategy

pengembangan pariwisata bahari di Kabupaten Natuna. Strategi utama yang bisa

di peroleh dari Analisis Matriks IE ini ada 3 yaitu strategi pertumbuhan yang

berada pada sel 1, 2, 5, 7 dan 8, strategi stabilitas yang berada pada sel 4 dan

strategi penciutan yang berada pada sel 3, 6 dan 9.

Untuk menentukan strategi, diperoleh dari hasil perhitungan matrik IFE

dan EFE, dimana total nilai matrik IFE sejumlah 2,88 ini menunjukkan besarnya

pengaruh internal bagi pengembangan pariwisata bahari di Kabupaten Natuna,

sedangkan hasil perhitungan matrik EFE total nilainya sejumlah 2,69 ini juga

menunjukkan besarnya pengaruh eksternal bagi pengembangan pariwisata bahari

di Kabupaten Natuna. Nilai matriks IFE lebih besar dari nilai matriks EFE artinya

faktor internal lebih besar pengaruhnya dibandingkan faktor eksternal dalam

106

pengembangan pariwisata di Kabupaten Natuna. Dari penggabungan dua matrik

IFE dan EFE diperoleh matriks IE (internal-eksternal) sebagaimana Gambar 5.20.

Berdasarkan total nilai IFE dan EFE maka pengembangan pariwisata

bahari di Kabupaten berada pada kuadran atau sel V, berarti pengembangan

pariwisata bahari di Kabupaten Natuna berada pada posisi pertumbuhan, artinya

pengembangan pariwisata bahari di Kabupaten Natuna baik dalam hal

meningkatkan jumlah wisatawan secara kuantitas dan kualitas dengan cara

meningkatkan produk-produk pariwisata seperti pembenahan lokasi wisata,

meningkatkan prasarana sarana pendukung pariwisata, kemudahan aksesibilitas,

melaksanakan event atau atraksi atraksi bahari dan budaya lokal, serta promosi

untuk peningkatan pangsa pasar.

Kemudian berdasarkan hasil identifikasi, perhitungan dan analisis terhadap

faktor-faktor yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman melalui

analisis internal dan eksternal dengan matriks IFE dan EFE tersebut di atas, maka

dapat disusun atau dibuat analisis dengan menggunakan metode SWOT.

Total Skor Evaluasi Faktor Internal

4.0 Kuat 3.0 Rata-rata 2.0 Lemah 1.0

I II III

Tinggi

3.0 Pertumbuhan Pertumbuhan Penciutan

Total Skor

IV V VI

Evaluasi

Faktor

Eksternal

Sedang

2.0 Stabilitas Pertumbuhan Penciutan

(2,64 ; 2,88)

VII VIII IX

Rendah

Pertumbuhan

Pertumbuhan

Penciutan

1.0

Gambar 5.20 Matrik Internal - Eksternal (IE)

5.5 Matriks SWOT

Formulasi alternatif strategi pengembangan pariwisata bahari di

Kabupaten Natuna di peroleh dengan pendekatan analisis SWOT. Analisis SWOT

merupakan langkah selanjutnya setelah dilakukan analisis IFE dan EFE, yakni

dengan mencocokkan faktor-faktor internal berupa kekuatan dan kelemahan

dengan faktor-faktor eksternal berupa peluang dan ancaman untuk mendapat

alternatif strategi S-O, strategi W-O, strategi S-T dan strategi W-T dalam

pengembangan pariwisata bahari di Kabupaten Natuna. Matriks SWOT tersebut

digambarkan pada Tabel 5.11.

107

Tabel 5.11 Matriks SWOT Pengembangan Pariwisata Bahari

di Kabupaten Natuna

Kekuatan (S) Kelemahan (W)

Faktor Internal 1 Potensi wisata alam dan wisata

bahari yang menarik

1

2

Akses dan transportasi sangat

terbatas

Sarana dan prasarana

2 Tersedianya lahan untuk

pengembangan pariwisata

bahari

3

pendukung pariwisata terbatas

Kualitas SDM dan

3

4

Masyarakat yang ramah

Tersedianya kawasan konservasi

laut untuk pariwisata

4

kelembagaan pengelola objek

wisata belum professional

Koordinasi lintas sektoral

5 Dukungan pendanaan oleh

pemerintah daerah

dan regional belum maksimal

Faktor Eksternal

5 Kurangnya kerjasama antara

pemerintah, swasta dan

masyarakat

Peluang (O) Strategi S-O Strategi W-O

1

2

3

4

5

Kebijakan pemerintah yang

mendorong pariwisata

daerah

Kondisi perekonomian Indonesia

cukup baik

Teknologi informasi

Kondisi keamanan yang terjamin

Kondisi perkembangan industri

Migas yang cukup baik

1

2

Mengembangkan wisata bahari

di lahan dan kawasan

konservasi laut yang

tersedia

(S1, S2, S3, S4, O1)

Mengefektifkan anggaran dan

kebijakan untuk

membangun pariwisata

bahari yang berbasis

masyarakat (community

base development)

(S3, S5, O4, O5)

1

2

Memperlancar aksesibilitas dan

membangun prasarana

sarana pariwisata

( W1, W2, O2, O3)

Meningkatkan kualitas SDM

pengelola pariwisata

khususnya pariwisata

bahari

(W3, W4, W5, 04)

Ancaman (T) Strategi S-T Strategi W-T

1

2

3

4

5

Akses ke Kabupaten Natuna

masih sulit

Biaya perjalanan ke Natuna

Mahal

Persaingan dengan daerah lain

disekitarnya

Cuaca musim utara dengan

gelombang dan angin yang

sangat kencang

Masih banyak masyarakat yang

mencari ikan dengan

peralatan yang tidak ramah

lingkungan

1 Mengembangkan kerjasama

dengan daerah disekitar

yang sudah berkembang

untuk membuka jalur

wisata ke Natuna

(S1, S5, T1, T2, T3)

1 Mengembangkan kerjasama

pemerintah, swasta dan

masyarakat untuk

kesinambungan pariwisata

bahari

(W4, W5, T5)

108

Berdasarkan hasil analisis SWOT, diperoleh 6 (enam) alternatif strategi

yang dapat digunakan dalam pengembangan pariwisata bahari di Kabupaten

Natuna.

5.5.1 Strategi S-O (Strengths - Opportunities)

Strategi S-O merupakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk

memanfaatkan peluang dalam pengembangan pariwisata bahari di Kabupaten

Natuna. Strategi tersebut menghasilkan dua alternatif strategi yaitu :

1. Mengembangkan wisata bahari di lahan dan kawasan konservasi laut

yang tersedia

Pengembangan pariwisata bahari di Kabupaten Natuna harus

memanfaatkan potensi wisata alam dan wisata bahari yang tersedia dan

memanfaatkan lahan dan kawasan konservasi yang ada. Faktor kekuatan

utama dari pengembangan pariwisata bahari ini adalah adanya potensi wisata

alam dan wisata bahari yang menarik kemudian lahan dan kawasan konservasi

laut telah tersedia sehingga dengan memanfaatkan kekuatan yang ada dan

didorong dengan peluang kebijakan pemerintah baik pemerintah pusat

maupun pemerintah daerah yang memprioritaskan pariwisata bagi daerah

kepulauan dengan pulau-pulau kecil dan daerah pesisir seperti Kabupaten

Natuna.

2. Mengefektifkan anggaran dan kebijakan untuk membangun

pariwisata bahari yang berbasis pada masyarakat (community base

development)

Pendanaan yang ada bagi pengembangan pariwisata bahari di Kabupaten

Natuna harus dimanfaatkan seefektif mungkin agar pendanaan dan anggaran

untuk pengembangan pariwisata ini lebih tepat sasaran, memiliki multiflier

effect yang besar untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Kebijakan

pembangunan pariwisata di Kabupaten Natuna harus berbasis masyarakat

dengan menitikberatkan pada peran aktif masyarakat dalam hal ini komunitas,

dengan menerapkan prinsip local ownership (pengelolaan dan kepemilikan

oleh masyarakat setempat) sehingga pola ini akan memberi nilai ekonomi dan

edukasi bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

5.5.2 Strategi S-T (Strengths – Threats)

Strategi S-T adalah strategi yang menggunakan kekuatan untuk

menghindari ancaman yang ada dalam pengembangan pariwisata bahari di

Kabupaten Natuna. Kombinasi kekuatan dan ancaman itu menghasilkan alternatif

strategi “Meningkatkan kerjasama dengan daerah sekitar yang sudah

berkembang untuk membuka jalur wisata ke Natuna”.

5.5.3 Strategi W-O (Weaknesses – Opportunities)

Strategi W-O adalah strategi yang mengatasi kelemahan dengan

memanfaatkan peluang yang ada dalam pengembangan pariwisata bahari di

Kabupaten Natuna. Strategi tersebut menghasilkan dua alternatif strategi yaitu :

109

1. Memperlancar aksesibilitas dan membangun prasarana sarana

pariwisata

Strategi ini dilakukan untuk mengatasi faktor kelemahan utama yaitu akses

dan transportasi sangat terbatas dan sarana prasarana pendukung pariwisata

terbatas dengan memanfaatkan peluang utama yaitu sudah ada penerbangan ke

Natuna dan kebijakan pemerintah yang mendorong pariwisata daerah. Selain

itu pembangunan prasarana sarana pariwisata harus melalui pola

pembangunan yang berbasis pada masyarakat lokal (local community

development).

2. Meningkatkan kualitas SDM pengelola pariwisata khususnya

pariwisata bahari

Strategi ini dilakukan untuk mengatasi faktor kelemahan yaitu kualitas

SDM dan kelembagaan pengelola objek wisata belum profesional dengan

memanfaatkan peluang teknologi informasi dan faktor keamanan yang

terjamin.

5.5.4 Strategi W-T (Weaknesses – Threats)

Strategi W-T adalah strategi yang didasarkan pada kegiatan yang bersifat

defensive dan ditujukan untuk meminimalisasi kelemahan yang ada serta

menghindari ancaman dalam pengembangan pariwisata bahari di Kabupaten

Natuna. Berdasarkan analisis strategi alternative yang dapat di lakukan adalah

“Meningkatkan kerjasama pemerintah, swasta, dan masyarakat untuk

kesinambungan pariwisata bahari”. Strategi ini dapat di lakukan untuk

meminimalisir kelemahan kurangnya kerjasama antara pemerintah, swasta dan

masyarakat dan koordinasi lintas sektoral dan regional belum maksimal untuk

menghindari faktor ancaman masih banyak masyarakat yang mencari ikan dengan

peralatan yang tidak ramah lingkungan.

5.6 Analisis QSPM

Berdasarkan analisis SWOT yang telah dilakukan diperoleh 6 (enam)

alternative strategi pengembangan pariwisata bahari di Kabupaten Natuna yang

memiliki keterkaitan satu sama lain. Keenam strategi itu perlu dilakukan oleh

perencana pengembangan pariwisata bahari di Kabupaten Natuna. Namun dengan

adanya keterbatasan sumber dana yang dimiliki maka perlu di lakukan penentuan

prioritas strategi. Ini tidak berarti strategi yang mendapat prioritas pertama yang

dilaksanakan tetapi tetap melaksanakan semua strategi tersebut berdasarkan skala

prioritas. Penentuan strategi prioritas ini dilakukan melalui analisis QSPM yang

hasilnya seperti pada Tabel 5.12.

110

Tabel 5.12 Hasil Analisis QSPM

No Strategi Alternatif TAS

Urutan

Priorita

s

1 Mengembangkan wisata bahari di lahan dan kawasan

konservasi laut yang tersedia 6,07 II

2 Mengefektifkan anggaran untuk membangun pariwisata

bahari yang berbasis pada masyarakat (community

base development)

5,49 V

3 Memperlancar aksesibilitas dan membangun prasarana

sarana pariwisata 6,20 I

4 Meningkatkan kualitas SDM pengelola pariwisata

khususnya pariwisata bahari 5,50 IV

5 Mengembangkan kerjasama dengan daerah di sekitar yang

sudah berkembang untuk membuka jalur wisata ke

Natuna

5,73 III

6 Mengembangkan kerjasama pemerintah, swasta dan

masyarakat untuk kesinambungan pariwisata bahari 5,35 VI

Berdasarkan Tabel 5.12, terlihat bahwa Total Attractiveness Score (TAS)

dari masing-masing strategi. Strategi yang menjadi prioritas pertama adalah

memperlancar aksesibilitas dan membangun sarana prasarana pariwisata di

Kabupaten Natuna dengan nilai TAS 6,20. Strategi yang menjadi prioritas kedua

adalah mengembangkan wisata bahari di lahan dan kawasan konservasi laut yang

tersedia dengan nilai TAS 6,07. Strategi yang menjadi prioritas ketiga adalah

mengembangkan kerjasama dengan daerah di sekitar yang sudah berkembang

untuk membuka jalur wisata ke Natuna dengan nilai TAS 5,73. Strategi yang

menjadi prioritas keempat adalah meningkatkan kualitas SDM pengelola

pariwisata khususnya pariwisata bahari dengan nilai TAS 5,50. Strategi yang

menjadi prioritas kelima adalah mengefektifkan anggaran untuk membangun

pariwisata bahari yang berbasis pada masyarakat (community base developmnet)

dengan nilai TAS 5,49 dan strategi yang menjadi prioritas keenam adalah

mengembangkan kerjasama pemerintah, swasta dan masyarakat untuk

kesinambungan pariwisata bahari dengan nilai TAS 5,35.