“UU Minerba: Mengejar Nilai Tambah”

download “UU Minerba: Mengejar Nilai Tambah”

If you can't read please download the document

  • date post

    09-Dec-2016
  • Category

    Documents

  • view

    215
  • download

    2

Embed Size (px)

Transcript of “UU Minerba: Mengejar Nilai Tambah”

  • Halo Vale

    INTERNAL MAGAZINEPT VALE INDONESIA TbkAPRIL 201408

    UU Minerba: Mengejar Nilai Tambah

    Cerita Misdar, Cerita Pomalaa SCV Mewariskan Jiwa Sosial

    Makan Ikan untuk Jantung Sehat

  • s

    Pelindung/Patron: Board of Directors PT Vale Indonesia Tbk, Penasihat/Advisor: Basrie Kamba (Director of Communications & External Affairs), Penang-gung jawab/Editors in Chief: Teuku Mufizar Mahmud (GM Communications), Busman Dahlan Shirat (GM Community Relations) Redaksi Pelaksana/ Managing Editor: Sihanto B. Bela, Redaksi/ Editors: Rohman Hidayat Yuliawan, Nala Dipa Alamsyah, Nuki Adiati, Maman Ashari, Eko Rusdianto, Fotografer/Photographer: Doni Setiadi, Desain & Tata Letak/Design & Layout: Sandy Pauling, Alamat Redaksi/Address: Jl. Ternate No. 44 Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Telp. 021-5249100, Ext. 9628 & 3656, Fax. 021-5289587.

    Redaksi Halo Vale menerima sumbangan naskah dari pembaca. Naskah ditulis dengan bahasa yang mudah dimengerti dan populer. Panjang naskah mak-simal satu setengah halaman kuarto, spasi satu setengah. Sertakan foto atau ilustrasi baik gambar maupun grafik jika diperlukan. Saran dan naskah diki-rimkan ke alamat email editor: Sihanto.Bela@vale.com dan internal.communication@vale.com.

    Readers are welcome to contribute articles for publication in Halo Vale. Articles should be written in prose that is easy to understand, with a line-space of 1.5 and a maximum length of 1.5 A4 pages. Include photos or illustrations, drawings or graphs, if necessary. Please send suggestions and articles to the editor at Sihanto.Bela@vale.com and internal.communication@vale.com.

    DARI K AMI

    Pembaca yang budiman,

    Dalam lima tahun terakhir, terjadi gonjang-ganjing dalam industri pertambangan kita. Pemicunya adalah larangan ekspor mineral men-tah paling lambat lima tahun sejak UU No. 4 Tahun 2009 tentang Minerba disahkan, atau 12 Januari 2014. Mengikuti UU tersebut, peru-sahaan tambang wajib membangun pabrik pengolahan (smelter). Intinya, Indonesia tidak lagi berjualan mineral mentah.

    UU tersebut dimaksudkan terutama untuk meningkatkan penerimaan negara dan memberikan nilai tambah dalam bentuk lapangan kerja dan penyediaan bahan baku bagi industri dalam negeri (industri hilir). Tak syak, semangat yang memayungi UU Minerba adalah nasionalisme untuk menggantikan UU No.11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan.

    UU No. 11 Tahun 1967 itu dinilai menempatkan negara dalam posisi yang lemah. Kini, sudah saatnya negara dan korporasi tambang berdiri sama tinggi. Yang jadi masalah, menurut sejumlah pengamat tambang, aturan tersebut kurang memperhatikan kesulitan yang bakal dialami perusahaan tambang.

    Setelah tiga tahun UU Minerba dicanangkan, kegiatan pengolahan dan pemurnian di dalam negeri belum juga menunjukkan hasil yang signifikan. Sebaliknya, volume ekspor mineral mentah justru naik. Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara bahkan menyebutkan, ada sejumlah komoditas mineral yang sama sekali belum memiliki pabrik pengolahan di dalam negeri.

    Isu pelarangan ekspor mineral mentah makin panas dengan terbitnya Permen ESDM No. 7 Tahun 2012 tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral. Pasal 21 Permen ini menyatakan, larangan ekspor mineral mentah sudah harus dilaksanakan selambat-lambatnya 3 bulan sejak Permen itu dikeluarkan, 6 Mei 2012. Padahal UU Minerba 2009 menyatakan jatuh tempo adalah 5 tahun sejak UU tersebut disahkan. Namun akhirnya Permen ESDM tersebut dibatalkan oleh MA setelah ada permohonan gugatan dari pengusaha penambangan bauksit di Kalimantan Tengah, Alias Wello.

    Kami berharap Anda akan memahami secara cepat duduk perkara pembangunan smelter dan larangan ekspor mineral mentah. Kami sajikan berita-berita lain yang menarik, seperti aksi kemanusiaan tim Vale dalam membantu musibah banjir di Manado (Interaksi), cerita dari Pomala (Profil), dan kiat menjaga kesehatan jantung (Sehat Selamat).

    Selamat membaca.

    FROM US

    Dear readers,

    The last five years has seen turbulent times for our mineral industry. This was triggered by a ban on the export of unprocessed minerals, which was to take effect five years, at the latest, after Law No. 4 of 2009 on Mineral and Coal Mining was enacted. The deadline for this was 12 January 2014. The Mining Law requires companies to build their own smelting facilities, therefore sending the message that Indonesia is no longer interested in selling unprocessed minerals.

    The Law was created to increase state revenues and add value to the industry in terms of providing employment and supplying domestic (downstream) industries with raw material. No doubt, the spirit of the 2009 Mining Law was nationalism, replacing Law No. 67 on Basic Principles of Mining.

    The former law was considered to place the state in a weak position. It was now time for the state and mining corporations to be equals. The problem, according to mining analysts, is that the Law had little regard for the many problems that mining companies.

    After three years of enacting the Mining Law, in 2012, domestic pro-cessing and refining industries showed insignificant progress. Instead, the volume of unprocessed mineral exports actually increased. The Directorate General of Minerals and Coal even stated that several mineral commodities had no domestic processing facilities at all.

    The issue surrounding the ban on unprocessed mineral exports heated up further with the release of Minister of Energy and Mineral Resources (MoEMR) Regulation no. 7 of 2012 on Increasing Added Value of Minerals through Mineral Processing and Refining. Article 21 of the MoEMR Regulation stipulated that the ban on unprocessed mineral exports was to take effect within 3 months of the date the Regulation was issued, 6 May 2012. This conflicted with the 2009 Mining Law which stipulated that the deadline was 5 years from the time the law was enacted. The regulation was later annulled by the Supreme Court following a lawsuit by Central Kalimantan bauxite mining businessman, Alias Wello.

    We hope it helps you to quickly understand the issues related to the development of smelters and the ban on raw mineral exports. We also present to you with other interesting articles such as the humanitarian action of a team from Vale in assisting flood victims in Manado (Interaction), a story from Pomala (Profile) and tips to maintain a healthy heart (Safe Health)

    Enjoy.

    02 Halo Vale I Edis i Apr i l 2014

  • Cover

    Pemberlakuan UU Minerba dinilai para pengamat memberikan nilai tambah berlipat ganda bagi negara. UU tersebut juga ibarat tonggak kedaulatan terhadap perlindungan sumber daya sekaligus peningkatan ekonomi Indonesia. Seperti apa cerita di balik pemberlakuannya dan benefit yang akan diperoleh Indonesia?

    The enforcement of Mineral and CoalMining Law assessed by the analysts can give added value for the country. The law may protect natural resources and increasing Indonesias economic sector as well. What was the story behind its enforcement and the benefits to be gained by Indonesia?

    Cover Design: Sandy Pauling

    DAFTAR ISI / TA B L E O F CO N T E N T

    SURAT PEMBACA 04READERS LETTERS 04

    LAPORAN UTAMA I COVER STORYSetelah Lima Tahun Menunggu 05The five-year wait 11Membangun Smelter Tidak Mudah 16Building Smelters Not Easy 19 Antara Regulasi Tambang, 22Penataan IUP, dan Kewenangan Daerah Between the Mining Regulation, 24Mining Permit Structuring and Regional Authority UU Minerba: Untuk Mengejar 26 Nilai Tambah Mineral and Coal Mining Law: 28Struggling for Value Added

    KINERJA I PERFORMANCECSMS Diharapkan Berikan Nilai 30Lebih CSMS Expected to Provide Added Value 32Kinerja PT Vale Dinilai Memuaskan 34PT Vales Performance Deemed 36Satisfactory

    INTERAKSI I INTERACTIONTiga Belas Hari Membantu Bencana 38 Manado Thirteen Days Assisting Manado 41Disaster Victims

    Setiap Warga Bisa Jadi Pewarta 44Everyone Can Be a Reporter 46 ATMOSFER I ATMOSPHEREEarth Hour 2014 52Earth Hour 2014 54

    PROFIL I PROFILECerita Misdar, Cerita Pomalaa 56The Story of Misdar, the Story of the 58Pomalaa Project

    KOMUNITAS I COMMUNITIESSCV Mewariskan Jiwa Sosial 60 SCV Passes Down Social Conscience 62

    SEHAT SELAMAT I HEALTHY SAFETYMakan Ikan untuk Jantung Sehat 65Eat Fish for a Healthy Heart 68

    KUIS I QUIZ 70

    ZOOM IN 71

    03Edis i Apr i l 2014 I Halo Vale

  • SURAT PEMBACA / READERS LET TERS

    RESENSI BUKU Halo Vale merupakan bacaan yang selalu saya tunggu-tunggu kemun-culannya. Saya senang dan banyak mendapat pengetahuan dari ulasan-ulasannya. Apalagi bahasa dan kontennya semakin disajikan dengan gaya populer. Saya usul agar pada edisi-edisi selanjutnya, Halo Vale punya rubrik khusus resensi buku-buku baru yang menarik. Ini bisa menjadi panduan bagi mereka yang suka membaca atau menambah minat baca karyawan. S t i v a n B e n n y M a m a h i t [ M i n i n g D e p a r t m e n t ]

    Terima kasih masukannya. Sementara kami tampung dan akan pertimbangkan kehadiran beberapa rubrik baru yang memang banyak diusulkan pembaca, termasuk rubrik yang Anda usulkan. Sampai saat ini redaksi belum punya rencana mengubah atau menambah rubrik karena keterbatasan halaman.

    VERSI SOFTCOPYSelamat dan sukses buat Halo Vale yang telah terbit hingga beberapa edisi dengan isi yang makin menarik dan inovatif. Selain versi hard-copy, apakah Halo Vale juga tersedia dalam versi softcopy? Bila ada versi softcopy tentu lebih hemat, karena makin sedikit Halo Vale yang dicetak. Saya sangat sayang melihat Halo Vale yang sudah dicetak dengan baik tapi berceceran karena berlebih. Selain itu, dengan versi softcopy, Halo Vale berpotensi menjadi lebih interak