Upaya Mencegah Dentin Hipersensitif

download Upaya Mencegah Dentin Hipersensitif

of 27

  • date post

    19-Feb-2015
  • Category

    Documents

  • view

    50
  • download

    6

Embed Size (px)

description

cegah dentin hipersensitif

Transcript of Upaya Mencegah Dentin Hipersensitif

UPAYA MENCEGAH DENTIN HIPERSENSITIF AKIBAT ASAM DENGAN SEMEN DASAR GLASS IONOMER

MAKALAH

OLEH : MILLY ARMILIA, drg. Sp.KG NIP : 130779423

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2006

Mengetahui : Ketua Jurusan Konservasi Gigi FKG Unpad Bandung

Hj. Endang Sukartini, drg. Sp.KG(k) Nip : 130 809 282

ABSTRAK

Email merupakan jaringan yang tidak mampu beregenerasi, sehinnga kerusakan yang terjadi pada email dapat meluas ke dentin. Jika dentin terbuka, rangsangan dari luar meninbulkan sensitivitas dentin. Bila rangsangan berlebihan dapat menyebabkan reaksi dentin hipersensitif. Resin komposit diakui sebagai bahan restorasi gigi yang mengutamakan estetik. Prosedur etsa asam pada restorasi resin komposit merupakan upaya untuk meningkatkan perlekatan antara bahan restorasi resin komposit adalah dentin hipersensitif karena aplikasi asam atsa. Pada ketebalan dentin yang tipis, asametsa dapat berpenetrasi ke dalam tubuli dentin, sehingga memungkinkan peningkatan permeabilitas dentin serta denaturasi kolagen. Glass ionomer sebagai semen dasar dapat mencegah penetrasi dari asam etsa. Semen ini memiliki wetting ability yang baik sehingga mampu melapisi tubuli dentin, serta kemampuan perlekatan yang baik dengan dentin, email maupun resin komposit.

Kata kunci : etsa asam, dentin hipersensitif, semen dasar glass ionomer.

ABSTRACT

The enamel decay can spread into dentin, because enamel tissues are unable to regenerate. Stimuli causes sensitive reaction to the opened dentin. If stimuli is over, the opened dentine will react to dentine hypersensitivity. Composite resin filling material has been suggected as the most aesthetic restorative material. The acid etch prosedures of the composite resin restoration are effective in ibcreasing the attachment area between the material and tooth. A problem in composite resin restoration is the dentine hypersensitivity caused by acid etch. The acid etch will penetrate the dentine tubules if the dentine thick is too smooth. Further more, the dentine permeability and cillagen denaturetion may increase. Glass ionomer base is recommended to prevent acid penetration. The wetting ability of glass ionomer protect the dentine tubules from acid and improved adhesion to dentine, enamel and composite resin.

Key word : acid etch, dentine hypersensitivity, sement base galss ionomer.

PRAKATA

Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan karuniaNya, sehingga penulit dapat menyelesaikan makalah ini dengan harapan setelah membacanya akan menambah sedikit gambaran dan pengetahuan tentang Upaya Mencegah Dentin Hipersensitif Dentin akibat Etsa Asam dengan Semen Dasar Glass Ionomer. Selama menyusun makalah ini, penulis telah banyak memperoleh bimbingan, pengarahan dan bantuan, baik berupa ilmu pengetahuan maupun dukungan moril. Dalam kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesarbesarnya kepada : 1. Prof. Dr. Eky S. Soeria Soemantri, drg., Sp.Ort. selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung. 2. Ny. Hj. Endang Sukartini, drg., Sp.KG (K) sebagai Ketua Jurusan Konservasi Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Padjadjaran Bandung. Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih banyak

kekurangannya, namun mudah-mudahan ini ada manfaatnya.

Bandung, Desember 2006

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN ABSTRAK . ABSTRACT .. PRAKATA DAFTAR ISI DAFTAR TABEL BAB I : PENDAHULUAN BAB II : TINJAUAN UMUM SEMEN GLASS IONOMER I ii iii iv vi 1 4 4 5 6 6 9

2.1 Komposisi Semen Glass Ionomer .. 2.1.1 Bubuk . 2.1.2 Cairan . 2.2 Sifat-sifat Semen Glass Ionomer .. 2.3 Manipulasi Semen Glass Ionomer

BAB III : TEKNIK ETSA ASAM ... 3.1 Kegunaan Etsa Asam pada Restorasi Komposit .. 3.2 Reaksi Dentin terhadap Asam Etsa .. 3.3 Prosedur Etsa Asam .

11 11 12 14

BAB 1V : PENGGUNAAN SEMEN DASAR GLASS IONOMER UNTUK MENVEGAH HIPERSENSITIF AKIBAT ETSA ASAM .. 4.1 Keunggulan Semen Dasar Glass Ionomer 16 16

4.2 Pengaruh Semen Dasar Glass Ionomer setelah Etsa Asam .. 4.3 Pengaruh Semen Glass Ionomer terhadap Jaringan Pulpa

17 18

BAB V : KESIMPULAN ...

20

DAFTAR PUSTAKA ....

21

DAFTAR TABEL

Halaman 2.1 Komposisi Semen Glass Ionomer 5

BAB I PENDAHULUAN

Gigi terdiri dari email, dentin, jaringan pulpa dan sementum yang merupakan jaringan yang sangat keras pada tubuh manusia. Email yang rusak tidak mampu beregenarasi, karena email terdiri dari bahan anorganik yang tidak mengandung selsel hidup. Kerusakan email dapat berlanjut hingga dentin, sehingga timbul reaksi sensititas. Reaksi ini ditandai dengan timbulnya rasa sakit yang disebabkan oleh rangsangan pada dentin. Jika rangsangan berlebihan dapat menyebabkan reaksi hipersensitivitas dentin, diikuti dengan inflamasi pulpa dan akhirnya terjadi kematian jaringan pulpa (Seltzer, 1990). Proses kerusakan jaringan gigi lebih lanjut dapat dicegah dengan malakukan restorasi pada gigi. Bahan restorasi resin komposit telah diakui merupakan bahan restorasi modern yang sekarang banyak digunakan. Hal ini didasari oleh sifat resin komposit yang mempunyai kelebihan, yaitu kekuatan terhadap daya kunyah, daya tahan terhadap abrasi dan adaptasi yang baik pada dinding kavitas karena teknik etsa asam yang diterapkan pada bahan resin komposit (Philips, 1991). Salah satu masalah yang sering ditemui pada restorasi resin komposit adalah sensitivitas pulpa yang dapat terjadi karena penggunaan etsa asam. Etsa asam akan membuka tumbuli dentin sangat besar, jika tidak tertutup dengan baik ketika proses dentin bonding akan menimbulkan gejala dentin yaitu suatu gejala normal apabila dentin terbuka. Berdasarkan teori hidrodinamik, dentin yang terbuka akan mempengaruhi tekanan pada permukaan tubuli dentin dan menyebabkan cairan dalam

tubuli bergerak merangsang saraf pulpa dan menghasilkan respon sakit. Rasa nyeri ini dapat meningkat menjadi dentin hipersensitif bila proses berlanjut ke penyakit pulpa. (Branstrom et all, 1967). Perdigao (2001) menyatakan bahwa aplikasi asam etsa tidak boleh dilakukan pada ketebalan dentin kurang dari 0,5 mm. Pada kavitas yang dalam, asam etsa yang berkontak dengan dentin dapat berpenetrasi ke dalam tubuli dentin, sehingga memungkinkan peningkatan permeabilitas dentin serta denaturasi kolagen. Hal ini menyebabkan terbukanya jalan masuk bagi bakteri dan produknya berpenetrasi ke dalam pulpa dan secara tidak langsung asam dapat membuat dentin menjadi rapuh karena proses demineralisasi (Pashley, dkk, 1992). Aplikasi semen pelapis sebagai semen dasar sebelum penempatan bahan restorasi resin komposit diharapkan dapat melindungi pulpa terhadap iritasi kimia dari asametsa. Aplikasi semen glass ionomer dianjurkan sebagai semen dasar sebelum aplikasi asam etsa pada restorasi resin komposit (Davidson, 1999). Hal ini dilakukan karena glass ionomer dapat melapisi tubuli dentin sehingga mencegah sensitivitas gigi (Katsuyama, 1993; Crispin, 1994). Semen glass ionomer memiliki kemampuan perlekatan yang baik antara resin komposit dengan email ataupun dentin, serta wetting ability yang akan membuat penutupan hermetis pada restorasi (Davidson, 1990). Selain itu semen glass ionomer mempunyai sifat antikariogenik karena mampu melepaskan fluorida (Wilson & McLean, 1988).

BAB II TINJAUAN UMUM SEMEN GLASS IONOMER

Semen glass ionomer dikembangkan dengan karakteristik antara lain radioopak, cepat mengeras, lebih sedikit mengiritasi pulpa. Semen ini juga memiliki kekuatan yang baik meskipun dalam bentuk lapisan yang tipis. Semen glass ionomer biasanya digunakan sebagai semen dasar pada restorasi komposit. Teknik ini pertama kali diperkenalkan oleh McLean dan Wilson, tahun 1977, dikenal dengan teknik sandwich atau double laminated (Wilson & Mclean, 1988; Katsuyama, 1993; Crispin, 1994). Semen glass ionomer digunakan karena semen ini dapat berikatan secara fisikokomiawi baik pada email maupun pada dentin. Ikatan ini terjadi karena ikatan yang mula-mula diduga ikatan kimia antara jaringan email dengan semen glass ionomer ternyata ditemukan adanya gerakan molekul-molekul. Sifat semen glass ionomer yang hidrofilik mampu berikatan dengan dentin yang selalu dalam keadaan sedikit basah. Semen glass ionomer melepaskan ion fluor dalam jangka cukup lama sehingga dapat menghilangkan sensitivitas dan mencegah terjadinya karies sekunder (Sidharta, 1991). Semen glass ionomer mampu menutupi tubuli dentin guna mencegah reaksi pulpa terhadap asam fosfat (Andreaus, 1987).

2.1 Komposisi Semen Dasar Glass Ionomer Semen glass ionomer merupakan salah satu bahan restorasi yang dapat digunakan sebagai bahan perekat, bahan pengisi untuk restorasi gigi anterior maupun posterior, bahan pelapis kavitas, penutup pit dan fisur, bonding agent pada resin komposit, serta

sebagai semen adhesif pada pearawatan ortodontik. Penggunaan yang luas dari semen glass ionomer didapatkan dengan mengubah komposisi semen. Perubahan ini meliputi perubahan perbandingan bubuk dengan cairan pembentuknya atau mengubah komposisi bubuk dan cairan (Davidson, 1999).

Tabel 2.1 Komposisi Semen Glass Ionomer (Katsuyama, 1993)Komponen SiO2 Al2O3 CaF2 FlF2 AlPO4 NaF Komposisi Bubuk Beberapa Tipe Semen Glass Ionomer B G200 Cairan Pengeras Semen 35.2 29.0 5 Bagian glass dari beberapa komponen 20.1 16.5 1 bagian dari kopolimer 20.1 34.3 high moleculer acid 2.4 7.3 0.1 bagian asam tartar 12.0 9.9 3.6 3.0

A 41.9 28.6 15.7 1.6 3.8 9.3

Komposisi baku semen glass ionomer konvensional terdiri dari bubuk dan cairan.

2.1.1 Bubuk Bubuk yang digunakan pada dasarnya bubuk gelas kalsium aluminosilikat yang mengandung fluor. Ukuran partikel gelas bervariasi antara 19 mm untuk luting cement maupun semen dasar sampai 45 jam untuk restorasi. Semakin halus partikel