ULUM AL- QUR'AN

of 30 /30
BAB 1 Ulumul Qur’an dan Perkembangannya. A. Definisi Ulumul Qur’an Kata ulum Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab, yaitu terdiri dari dua kata, yakni: ulum dan Al-Qur’an, kata ulum secara etimologis adalah pehaman, ma’rifah dan pengetahuan. Sedangkan kata Al-Qur’an secara etimologis artinya dengan qira’ah;bacaan. Sementara itu, Al-Qur’an menurut terminologis memiliki definisi sebagai berikut: Para teolog berpendapat Al-Qur’an adalah kalimat-kalimat yang maha bijaksana yang azali, yang tersusun dari huruf-huruf lafzhiyyah, dzihniyyah dan ruhiyyah Para ulama ahli ushul fiqih menyatakan Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW mulai surat al- fatihah sampai akhir surat al-Nas Ahmad yusuf al-Qasim menyatakan kalam Allah yang mengandung mu’jizat, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang tertulis dengan mushaf, yang diriwayatkan secara mutawatir, yang membacanya ibadah. Yang di awali dengan surat Al-fatihah sampai surat al-Nas Syeh Ali al-shabuni memberikan definisi bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah yang mengandung mu’jizat, diturunkan kepada Nabi dan Rasul penghabisan dengan perantara malaikat terpercaya, tertulis dalam mushaf yang dinukilkan kepada kita secara mutawatir, membacanya merupakan ibadah, yang dimulai dari surat Al-fatihah sampai surat Al-Nas. B. Ruang Lingkup Pembahasan ulumul Qur’an Berkenaan dengan persoalan ini, M. Hasbi Ash-Shiddieqi berpendapat bahwa ruang lingkup pembahasan ulumul Qur’an terdiri atas enam hal pokok berikut ini. Persoalan turunnya Al-Qur’an. Waktu dan tempat turunnya Al-Qur’an Sebab-sebab turunnya Al-Qur’an 1
  • Upload

    -
  • Category

    Spiritual

  • view

    3.550
  • download

    15

description

membumikan la qur'an merupakan kewajiban umat islam, jangan sampai ketinggalan sejarah

Transcript of ULUM AL- QUR'AN

Page 1: ULUM AL- QUR'AN

BAB 1

Ulumul Qur’an dan Perkembangannya.

A. Definisi Ulumul Qur’an

Kata ulum Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab, yaitu terdiri dari dua kata, yakni: ulum dan Al-Qur’an, kata ulum secara etimologis adalah pehaman, ma’rifah dan pengetahuan.

Sedangkan kata Al-Qur’an secara etimologis artinya dengan qira’ah;bacaan. Sementara itu, Al-Qur’an menurut terminologis memiliki definisi sebagai berikut:

Para teolog berpendapat Al-Qur’an adalah kalimat-kalimat yang maha bijaksana yang azali, yang tersusun dari huruf-huruf lafzhiyyah, dzihniyyah dan ruhiyyah

Para ulama ahli ushul fiqih menyatakan Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW mulai surat al-fatihah sampai akhir surat al-Nas

Ahmad yusuf al-Qasim menyatakan kalam Allah yang mengandung mu’jizat, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang tertulis dengan mushaf, yang diriwayatkan secara mutawatir, yang membacanya ibadah. Yang di awali dengan surat Al-fatihah sampai surat al-Nas

Syeh Ali al-shabuni memberikan definisi bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah yang mengandung mu’jizat, diturunkan kepada Nabi dan Rasul penghabisan dengan perantara malaikat terpercaya, tertulis dalam mushaf yang dinukilkan kepada kita secara mutawatir, membacanya merupakan ibadah, yang dimulai dari surat Al-fatihah sampai surat Al-Nas.

B. Ruang Lingkup Pembahasan ulumul Qur’an

Berkenaan dengan persoalan ini, M. Hasbi Ash-Shiddieqi berpendapat bahwa ruang lingkup pembahasan ulumul Qur’an terdiri atas enam hal pokok berikut ini.

Persoalan turunnya Al-Qur’an.

Waktu dan tempat turunnya Al-Qur’an

Sebab-sebab turunnya Al-Qur’an

Sejarah turunnya Al-Qur’an

Persoalan sanad.

Riwayat mutawatir

Riwayat ahad

Riwayat syadz

Macam-macam Qira’at Nabi

Para perawi

1

Page 2: ULUM AL- QUR'AN

Cara-cara penyebaran riwayat

Persoalan Qira’at.

Cara berhanti

Cara memulai

Imalah

Bacaan yang dipanjangkan

Bacaan hamzah yang diringankan

Bunyi huruf yang sukun dimasukan pada bunyi sesudahnya

4. Persoalan kata-kata Al-Qur’an.

Kata-kata Al-Qur’an yang asing.

Kata-kata Al-Qur’an yang berubah-ubah harakat akhirnya.

Kata-kata Al-Qur’an yang mempunyai makna serupa.

Padanan kta-kata aAl-Qur’an.

Isti’arah.

Penyerupaan.

Persoalan makna-maknaAl-Qur’an yang berkaitan dengan hukum.

Makna umum yang tetap dalam keumumannya.

Makna umum yang dimaksudkan makna khusus.

Makna umum yang maknanya dikhususkan sunnah.

Nash.

Makna lahir.

Makna global.

Makna yang diperinci.

Makna yang tunjukan oleh konteks pembicaraan.

Makna yang dapat dipahami dari konteks pembicaran.

Nash yang petunjuknya tidak melahirkan keraguan.

Nash yang muskil ditafsirkan karena terdapat kesamaran didalamnya.

2

Page 3: ULUM AL- QUR'AN

Nash yang maknanya tersembunyi karena suatu sebab yang terdapat pada kata itu sendiri.

Ayat yang menghapus dan yang dihapus.

Yang didahulukan.

Yang diahirkan.

Persoalan makna Al-Qur’an yang berpautan dengan kata-kata AL-Qur’an

Berpisah.

Bersambung.

Uraian singkat.

Uraian panjang.

Uraian seimbang.

Pendek.

C. Cabang-Cabang ulumul Qur’an

Ilmu adab tilawat Al-Qur’an.

Ilmu tajwid.

Ilmu mawathim An-nuzul.

Ilmu tawarikh An-Nuzul.

Ilmu asbab An-Nuzul.

Ilmu Qira’at.

Ilmu gharib Al-Qur’an.

Ilmu wujuh wa An-Nazha’ir.

Ilmu Ma’rifat Al-muhkam dan Al-Mutasyabih.

Ilmu Nasikh Al-Mansuk.

Ilmu badai’u Al-Qur’an.

Ilmu I’jaz.

Ilmu tanasub.

Ilmu Aqsam.

Ilmu amtsal.

3

Page 4: ULUM AL- QUR'AN

Ilmu jadal..

BAB 2

Sejarah Turunnya Al-Qur’an dan Penulisan Al-Qur’an

A. Pengertian Al-Qur’an

Secara etimologis, Al-Qur’an adalah bentuk mashdar dari kata qa-raa (قرأ) sewazan dengan kata fu’lan ( ن , مقروء berarti قرآن .artinya bacaan; Dalam pengertian ini, kata ,(فعالyaitu isim maf’ul (objek) dari . قرأ Hal ini, sesuai dengan firman Allah dalam surat al-Qiyamah (75): 17-18:

�ه� آن �ا ج�م�ع�ه� و�ق�ر� �ن �ي �ن� ع�ل �ه� ﴾١٧﴿إ آن �ع� ق�ر� �ب �اه� ف�ات �ن أ �ذ�ا ق�ر� ﴾١٨﴿ف�إSesungguhnya atas tanggungan kami-lah mengumpulkannya (di dalam) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila kami telah selesai membacanya maka ikutilah bacaannya itu. (QS. Al-Qiyamah: 17-18)

B. Hikmah Di Wahyukannya Al-Qur’an secara bertahap.

Memantapkan hati Nabi

Menentang dan melemahkan para penentang Al-Qur’an

Memudahkan untuk dihapal dan dipahami

Mengikuti setiap kejadian (yang menyebabkan turunnya ayat-ayat Al-Qur’an) dan melakukan penahapan dalam penetapan syari’at,

membuktikan dengan pasti bahwa Al-Qur’an turun dari Allah yang maha bijaksana.

C. Proses Penulisan Al-Qur’an

a. Pada masa Nabi

Penulisan Al-Qur’an pada masa Nabi sungguh sangat sederhana, Mereka menggunakan alat tulis sederhana dan berupa lontaran kayu, pelapah korma, tulang belulang, dan batu, dalm penulisan ini Nabi mempunyai sekertaris diantaranya: Abu Bakar, Umar, Ustman,Ali, Abban bin sa’id, Khalid bin Walid, dan muawiyah bin abi sopyan, kegiatan menulis ini juga tidak sekedar di tulis oleh sekertaris nabi, tetapi juga oleh para sahabat nabi yang lainnya.

b.Pada masa khulafa al-Rasyidin

1. Pada masa Abu Bakar

Pada dasarnya seluruh Al-Qur’an sudah ditulis pada masa Nabi namun tulisan tersebut masih berceceran dimana-mana, ketika terjadi perang yamamah pada masa Abu Bakar banyak para penghapal Al-Qur’an yang meninggal, ketika itu Abu Bakar segara memanggil zaid bin tsabit untuk segera mengumpulkan tulisan-tulisan yang berceceran yang ditulis pada masa Nabi di karenakan takut catatan itu hilang karna para penghapal Al-Qur’an sudah sedikit. Setelah

4

Page 5: ULUM AL- QUR'AN

Abu Bakar wafat, suhuf-suhuf Al-Qur’an itu disimpan oleh kholifhah Umar, setelah Umar wafat, mushaf itu disimpan hafsah dan bukan oleh ustman.

2. Pada masa Utsman bin Affan

Motifasi penulisan Al-Qur’an pada masa Ustman Karena banyak terjadi perselisihan di dalam cara membacanya, Inisiatif Ustman untuk mnyatukan penulisan Al-Qur’an nampaknya sudah jelas, perbedaan cara membaca Al-Qur’an pada saat itu sudah berada pada titik yang menyebabkan umat islam saling menyalahkan yang pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya perselisihan di antara mereka. Maka dibuatlah salinan Al-Qur’an dan yang aslinya di musnahkan agar tidak terjadi perselisihan,

Utsman memutuskan agar Mushaf yang beredar memenuhi persyaratan berikut:

terbukti mutawatir.

mengabaikan ayat yang bacaannya di-naskh dan ayat tersebut tidak dibaca kembali di hadapan nabi pada saat-saat terakhir.

Kronologi surat dan ayatnya seperti yang telah ditetapkan atau berbeda dengan mushaf abu bakar.

System penulisan yang digunakan mampu mencakup qira’at yang berbeda sesuai dengan lafazh-lafazh Al-Qur’an ketika diturunkan.

Semua yang bukan termasuk Al-Qur’an dihilangkan.

D. pemeliharaan Al-Qur’an sesudah masa Khalifah

Mushaf yang ditulis atas perintah Ustman tidak memiliki harakat dan tanda titik sehingga dapat dibaca dengan salah satu qira’at yang tujuh, ketika banyak orang non-Arab yang memeluk islam mereka merasa kesulitan membaca mushaf itu, oleh karena itu pada masa khalifah Abd Al-Malik (685-705) dilakukan penyempurnaannya. Upaya penyempurnaan itu tidak berlangsung sekaligus, tetapi bertahap dan dilakukan oleh setiap generasi sampai abad III H (atau akhir abad IX M).

Pengumpulan Al-Qur’an

pada masa Abu Bakar Asidiq dan Utsman bin Affan

A. Pada masa Abu Bakar Asidiq.

Pada dasarnya, seluruh Al-Qur’an sudah ditulis pada masa Nabi. Hanya saja, surat dan ayatnya masih terpencar-pencar dan orang yang pertama kali menyusunnya dalam satu mushaf adalah Abu Bakar Ashidiq. Abu ‘Abdillah Al-Muhasibi berkata didalam kitabnya, Fahm As-Sunan, penulisan Al-Qur’an bukanlah suatu yang baru sebab Rasullah sendiri pernah memerintahnya. Hanya saja, saat itu tulisan Al-Qur’an masih terpencar-pencar pada pelapah kurma, batu halus, kulit, tulang unta, dan bantalan dari kayu. Abu Bakar-lah yang kemudian berinisiatif menghimpun semuanya. Usaha pengumpulan tulisan al-Qur’an yang dilakukan Abu Bakar setelah terjadi perang yamamah pada tahun 12 H. Peperangan yang bertujuan menumpas par pemurtad yang merupakan pengikut para Musailamah. Al-Kadzdzab telah mnyebabkan 70 orang penghapal Al-Qur’an syahid. Khawatir akan semakin hilangnya

5

Page 6: ULUM AL- QUR'AN

para penghapal Al-Qur’an yang mengancam kelestarian Al-Qur’an, Umar menemui khalifah pertama, Abu bakar memintanya untuk menginstruksikan pengumpulan Al-Qur’an dari berbagai sumber, baik yang tersimpan di dalam hapalan maupun tulisan.

Zaid bi Tsabit salah seorang sekretaris Nabi dipanggil oleh Abu Bakar. Turut hadir dalam pertemuan itu ‘Umar bin Al-Khaththab. Dalam pertemuan itu Abu Bakar mengatakan,” Umar telah mendatangimu dan telah mengatakan bahwa peperanga yamamah telah berlangsung sengit dan meminta korban sejumlah qari’ Al-Qur’an. Aku khawatir hal itu meluas kepara penduduk. Apabila hal ini terjadi, banyak penghapal Al-Qur’an yang hilang. Aku rasa perlunya penghimpunan Al-Qur’an.”

Zaid merasa bahwa tugas yang dipercayakan khalifah Abu Bakar kepadanya bukanlah hal yang ringan. Sikap kehati-hatin Zaid dalam pengumpulan Al-Qur’an sebenarnya didasarkan pesan Abu Bakar kepada Zaid dan ‘Umar. Abu Bakar berkata.

�اه� �ب �ت ف�اك (له� ال ب� �ا �ت ك م�ن� ي�ء- ش� ��ى ع�ل �ن� ي ه�د� ا �ش� ب �م�ا ك اء� ج� ف�م�ن� ج�د� �م�س� ال ب� �ا ب ���ى �ق�ع�د�اع�ل أ

Artinya:

“Duduklah kalian di dekat pintu mesjid. Siapa saja yang datang kepada kalian membawa catatan al-Qur’an dengan dua saksi, maka catatlah.”

Setelah penulisan ayat-ayat Al-Qur’an selesai, kemudian berdasarkan musyawarah ditentukan bahwa tulisan Al-Qur’an yang sudah terkumpul itu dinamakan Mushaf.

Setelah Abu Bakar wafat, suhuf-suhuf Al-Qur’an itu disimpan oleh khalifah ‘Umar. Setelah ‘Umar wafat, Mushaf itu disimpan dan bukan oleh ‘Utsman bin Affan sebagai khalifah ayng menggantikan ‘umar. Mengapa mushaf itu tidak diserahkan pada khalifah setelah Umar? Pertanayaan itu logis. Menurut Zarzur, Umar memiliki pertimbangan lain bahwa sebelum wafat, ia memberikan kesempatan kepada enam sahabat untuk bermusyawarah menentukan salah seorang dari mereka yang dapat menjadi khalifah. Kalau ‘Umar memberikan mushaf pada salah seorang diantara mereka, ia khawatir mendukun salah seorang sahabat yang memegang mushaf tersebut. Oleh karena itu ia menyerahkan mushaf itu kepada hafsah yang memang lebih layak memegang Mushaf yang sangat bernilai, terlebih lagi ia adalah istri Nabi dan menghapal Al-Qur’an secara keseluruhannya.

B. Pada masa Utsman bin Affan

Motifasi penulisan Al-Qur’an pada masa Utsman Karena banyak terjadi perselisihan di dalam cara membacanya, Inisiatif Utsman untuk mnyatukan penulisan Al-Qur’an nampaknya sudah jelas, perbedaan cara membaca Al-Qur’an pada saat itu sudah berada pada titik yang menyebabkan umat islam saling menyalahkan yang pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya perselisihan di antara mereka. Maka dibuatlah salinan Al-Qur’an dan yang aslinya di musnahkan agar tidak terjadi perselisihan,

Utsman bin Affan memutuskan agar Mushaf yang beredar memenuhi persyaratan berikut:

terbukti mutawatir

6

Page 7: ULUM AL- QUR'AN

mengabaikan ayat yang bacaannya di-naskh dan ayat tersebut tidak dibaca kembali di hadapan nabi pada saat-saat terakhir.

Kronologi surat dan ayatnya seperti yang telah ditetapkan atau berbeda dengan mushaf abu bakar.

System penulisan yang digunakan mampu mencakup qira’at yang berbeda sesuai dengan lafazh-lafazh Al-Qur’an ketika diturunkan.

Semua yang bukan termasuk Al-Qur’an dihilangkan

Sehubungan dengan perbedaan penulisan Al-Qur’an pada masa Abu Bakar dan pada masa Utsman bin Affan, maka hal itu dapat diliaht berikut ini:

Pada masa Abu Bakar Pada masa Utsman bin Affan

Motivasi penulisannya karena kehawatiran sirnanya Al-Qur’an dengan syahidnya beberapa penghapal Al-Qur’an pada perang yamamah.

Abu Bakar melakukannya dengan mengumpulkan tulisan-tulisan Al-Qur’an yang terpencar-pencar pada pelapah kurma, kulit, tulang, dan sebagainya.

Motivasi penulisannya karena terjadi banyak perselisihan di dalam cara membaca Al-Qur’an (qira’at).

Utsman melakukan dengan menyederhanakan tulisan Mushaf pada satu huruf dari tujuh huruf yang dengannnya Al-Qur’an turun.

Rasm Al-Qur’an pada masa Utsman

Yang di maksud dengan Rasm Al-Qur’an atau Rasm Utsmani adalah tatacara menuliskan Al-Qur’an yang di tetapkan pada masa khalifah Utsman bin affan, istilah Rasm Al-Qur’an lahir bersamaan dengan lahirnya mushaf utsman yaitu mushaf yang ditulis oleh panitia empat yang terdiri dati zaid bin tsabit, Abdullah bin zubair, sa’id bin Al’ash dan Abdurahman bin Al-Harits, mushaf utsman ditulis dengan kaidah-kaidah tertentu, para ulama meringkas kaidah itu menjadi enam istilah:

Al-Hadzf (membuang, menghilangkan, atau meniadakan huruf).

Al-jiyadah (penambahan).

Al-Hamzah, salah satu kaidahnya berbunyi bahwa apabila hamzah berharkat sukun, di tulis dengan huruf berharakat yang sebelumnya.

Badal (pegganti).

Washal dan fashal (penyambungan dan pemisahan).

7

Page 8: ULUM AL- QUR'AN

Kata yang dapat dibaca dua bunyi. Penulisan kata yang dapat dibaca dua bunyi disesuaikan dengan salah stu bunyinya didalam mushaf utsmani penulisan kata semacam itu ditulis dengan menghilangkan alif.

Pendapat Para Ulama Sekitar Rasm Al-Qur’an.

Para ulama berbeda pendapat mengenai status Rasm Al-Qur’an (tatacara penulisan Al-Qur’an):

sebagian dari mereka berpendapat bahwa Rasm Utsmani bersifat tauqifi, yakni bukan merupakan produk budaya manusia yang wajib di ikuti oleh siapa saja ketika menulis Al-Qur’an mereka bahkan sampai pada tingkat menyakralkannya.

Sebagian besar ulama berpendapat bahwa Rasm utsmani bukan tauqifi, tetapi merupakan kesepakatan cara penulisan yang disetujui utsman dan diterima umat, sehingga wajib diikuti dan ditaati siapapun ketika menulis Al-Qur’an.

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa Rasm Utsmani bukanlah tauqifi. Tidak ada halangan untuk menyalahinya tatkala suatu generasi sepakat menggunakan cara tertentu untuk menulis Al-Qur’an yang berlainan dengan Rasm Utsmani

Kaitan Rasm Al-Qur’an dengat qira’at

sebagaimana telah dijelaskan bahwa keberadaan Mushaf ‘Utsmani yang tidak berharakat dan bertitik itu ternyata masih membuka peluang untuk membacanya dengan berbagai qira’at (cara membaca Al-Qur’an). Hal itu terbukti dengan masih terdapatnya keragaman cara membaca Al-Qur’an walaupun setelah muncul Mushaf Utsmani, seperti qira’ah tujuh, qira’ah sepuluh, qira’ah empat belas. Kenyataan itulah yang meng Ilhami Ibn Mujahid (859-935) untuk melakukan penyeragaman caram embaca Al-Qur’an menjadi tujuh cara saja (qira’ah ssab’ah). Tetu bukan ia saja yang berkepentingan dengan langkah penyeragaman teks ini. Malik bin Anas (w. 795), ulama besar madinah dan pendiri madzhab Maliki, dengan tegas menyatakan bahwa shalat yang dilaksanakan menurut bacaan Ibn Mas’ud adalah tidak sah.

BAB 3

ASBAB AN-NUZUL

Ungkapan asbab an-nuzul merupakan bentuk idhafah dari kata “asbab “ dan “nuzu ”. Secara etimologi, asbab an-nuzul adalah sebab-sebab yang melatar belakangi terjadinya sesuatu. Meskipun penomena yang melatar belakangi terjadinya sesuatu dapat disebut asbab an-nuzul, dalam pemakaiannya, ungkapan asbab an-nuzul, khusus dipergunakan untuk menyatakan sebab-sebab yang melatar belakangi turunnya Al Qur’an, seperti halnya asbab al-wurud secara khusus digunakan sebagai sebab-sebab terjadinya hadis.

Setelah diselidiki, sebab turunnya suatu ayat itu berkisar pada dua hal:

bila terjadi peristiwa maka turunlah ayat Al-Qur’an mengenai peristiwa itu.

8

Page 9: ULUM AL- QUR'AN

Bila Rasullah di tanya tentang sesuatu hal, maka turunlah ayat Al-Qur’an yang mengenai hukumnya.

Fungsi asbab an-nuzul dalam memahami Al-Qur’an, yaitu sebagai berikut:

Membantu dalam memahami sekaligus mengatasi ketidak pastian dalam menangkap pesan ayat-ayat Al-Qur’an.

Mengatasi keraguan ayat yang diduga mengandung pengertian umum. Menurut Asy-syafi’i pesan ayat ini tidak bersifat umum (hasr).

Mengkhususkan hukum yang terkandung dalam ayat Al-Qur’an.

mengidentifikasikan pelaku yang menyebabkan turunnya Al-Qur’an.

Memudahkan untuk menghapal dan memahami ayat.

Cara mengetahui Asbab An-Nuzul adalah dengan cara periwayatan. Terkadang terdapat banyak riwayat mengenai sebab nuzul suatu ayat. Dalam keadaan demikian, sikap seorang mufasir kepadanya sebagai berikut:

Apabila bentuk-bentuk redaksi diriwayatkan tidak tegas.

Apabila salah satu bentuk redaksi riwayat itu tidak tegas.

Apabila riwayat itu banyak dan semuanya menegaskan asbab nuzul.

Apabila riwayat itu sama-sama sahih namun terdapat segi yang memperkuat salah satunya.

Bila riwaya-riwayat itu tidak bisa dikompromikan karena jarak waktu antara sebab-sebab tersebut berjauhan.

Apabila riwayat-riwayat tersebut sama kuat, maka riwayat-riwayat itu dipadukan atau dikompromikan bila mungkin; hingga mungkin bahwa ayat tersebut turun sesudah terjadi dua buah sebab atau lebih.

Bentuk-bentuk Asbab An-Nuzul

Dilihat dari sudut pandang redaksi yang dipergunakan dalam riwayat asbab an-nuzul Ada dua jenis redaksi yang digunakan oleh perawi dalam mengungkapkan riwayat asbab an-nuzul, yaitu sharih (jelas) dan muhtamil (kemungkinan).

Dilihat dari sudut pandang berbilangnya Asbab An-nuzul untuk satu ayat atau berbilangnya ayat untuk satu asbab an-nuzul.

Berbilang asbab an-nuzul untuk satu ayat (Ta’adad As Sabab wa Nazil Al-Wahid).

Variasi ayat untuk Satu sebab (Ta’addud Nazil wa As-Sabab Al-Wahid).

9

Page 10: ULUM AL- QUR'AN

BAB 4

MUNASABAH

A. Pengertian Munasabah

Menurut bahasa, munasabah berarti hubungan atau relevansi, yaitu hubungan persesuaian antara ayat atau surat yang satu dengan ayat atau surat yang sebelum atau sesudahnya.

Ilmu munasabah berarti ilmu yang menerangkan hubungan antara ayat atau surat yang satu dengan ayat atau surat yang lainnya dengan tujuan untuk mengetahui alasan-alasan penertiban dari bagian-bagian Al-Qur’an yang mulia.

Jadi pengertian munasabah itu tidak hanya sesuai dalam arti yang sejajar dan parallel saja. Melainkan yang kontradiksipun termasuk munasabah, seperti sehabis menerangkan orang mukmin lalu orang kafir dan sebagainya. Sebab ayat-ayat Al-Qur’an itu kadang-kadang merupakan takhsish (pengkhususan) dari ayat-ayat yang umum. Dan kadang-kadang sebagai penjelasan yang konkret terhadap hal-hal yang abstrak.

B. Macam-macam Munasabah

1. Persesuaian yang nyata (dzahirul irtibath)

yaitu yang bersambungan atau persesuaian antara bagian yang satu dengan yang lain tampak jelas dan kuat. Karena kaitan kalimat yang satu dengan yang lain erat sekali. Sehingga yang satu tidak bisa menjadi kalimat yang sempurna

ayat yang satu itu sebagai penguat, penafsir, penyambung, penjelasan, pengecualian/ pembatasan dari ayat yang lain. Sehingga ayat-ayat tersebut tampak sebagai satu kesatuan yang sama. Contohnya, seperti persambungan antara ayat 1 surat al-Isra’ :

“Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha”.

Ayat tersebut menerangkan Isra Nabi Muhammad saw. Selanjutnya, ayat 2 surat al-Isra yang berbunyi :

Dan kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan kami jadikan Kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil”.

Ayat tersebut menjelaskan diturunkannya kitab Taurat kepada Nabi Musa as. Persesuaian antara kedua ayat tersebut ialah tampak jelas mengenai diutusnya kedua Nabi/ Rasul tersebut.

2. Persambungan tidak jelas (khafiyyul istibadh)

samarnya persesuaian antara pertalian untuk keduanya, bahkan seolah-olah masing-masing ayat atau surat itu sendiri-sendiri baik karena ayat-ayat yang satu itu diathofkan kepada yang lain, atau karena yang satu bertentangan dengan yang lain. Contohnya, seperti hubungan antara ayat 189 surat Al-Baqarah dengan ayat 190 surat Al-Baqarah. Ayat 189 surat Al-Baqarah tersebut berbunyi :

10

Page 11: ULUM AL- QUR'AN

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji”.

Ayat tersebut menerangkan bulan tsabit/tanggal untuk tanda-tanda waktu dan untuk jadwal ibadah haji. Sedangkan ayat 190 surat Al-Baqarah berbunyi :

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas”.

Ayat tersebut menerangkan perintah menyerang kepada orang-orang yang menyerang umat Islam. Sepintas, antara kedua ayat tersebut seperti tidak ada hubungannya / hubungan yang satu dengan yang lainnya samar. Padahal sebenarnya ada hubungan antara kedua ayat tersebut yaitu, ayat 189 surat al-Baqarah mengenai soal waktu untuk haji, sedang ayat 190 surat al-Baqarah menerangkan: sebenarnya, waktu itu haji umat Islam dilarang berperang, tetapi jika ia diserang lebih dahulu, maka serangan-serangan musuh itu harus dibalas, walaupun pada musim haji.

C. Faedah Ilmu Munasabah

1. Mengetahui persambungan hubungan antara bagian Al-Qur’an, baik antara kalimat-kalimat atau ayat-ayat maupun surat-suratnya yang satu dengan yang lainnya. Sehingga lebih memperdalam pengetahuan dan pengenalan terhadap kitab Al-Qur’an dan memperkuat keyakinan terhadap kewahyuan dan kemukjizatan.

2. diketahui mutu dan tingkat kebahagiaan bahasa Al-Qur’an dan konteks kalimat-kalimatnya yang satu dengan yang lain. Serta persesuaian ayat atau suratnya yang satu dengan yang lain, sehingga lebih meyakinkan kemukjizatannya, bahwa Al-Qur’an itu betul-betul wahyu dari Allah SWT, dan bukan buatan Nabi Muhammad Saw.

3. membantu dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an. Setelah diketahui hubungan sesuatu kalimat/ sesuatu ayat dengan kalimat/ ayat yang lain, sehingga sangat mempermudah pengistimbatan hukum-hukum atau isi kandungannya.

BAB 5

MAKKIYYAH DAN MADANIYYAH

Para sarjana muslim mengemukakan empat persepektif dalam mendefinisikan terminologi makkiyyah dan madaniyyah. Keempat perspektif itu adalah:

Masa turun (zaman an-nuzul) : bahwa yang dimaksud dengan ayat makkiyyah adalah ayat yang diturunkan sebelum Nabi hijrah ke madinah, dan ayat Madaniyyah adalah ayat yang diturunkan setelah nabi Hijrah ke Madinah

11

Page 12: ULUM AL- QUR'AN

Tempat turun (makan an-nuzul) : bahwa yang di maksud dengan ayat makkiyyah adalah ayat yang diturunkan di Mekkah, dan ayat madaniyyah adalah ayat yang diturunkan di Madinah.

Obyek pembicaraan (mukhathab) : bahwa yang di maksud makkiyyah adalah ayat-ayat yang menjadi kitab bagi orang-orang Makkah dan Madaniyyah adalah ayat-ayat yang menjadi kitab bagi orang-orang madaniyah.

Sistem kebiasaan : bahwa ayat-ayat makkiyyah itu ayat-ayat yang berhubungan dengan aqidah, akhlak dan lain sebagainya, sedangkan ayat-ayat madaniyyah adalah ayat-ayat yang berhubungan dengan hukum-hukum, juhud, had-had dan lain sebagainya.

Cara mengetahui makkiyyah dan Madaniyyah dalam menetapkan ayat-ayat al-Qur’an yang termasuk kategori Makiyyah dam Madaniyyah, para sarjana muslim berpegang teguh pada dua perangkat pendekatan berikut: Pendekatan tranmisi dan pendekatan analogi (qiyas).

Ciri-ciri Spesifik Makkiyyah dan Madaniyah

seperti telah diuraikan di atas, bahwa cirri-ciri spesifik Makkiyyah dan Madaniyyah dalam menguraikan kronologi Al-Qur’an, mereka mengajukan dua titik tekan dalam usahanya itu, yaitu titik tekan analogi dan titik tekan tematis. Dari titik tekan tekan pertama mereka mempormulasikan cirri-ciri khusus Makkiyyah dan Madaniyyah sebagai berikut:

Makkiyyah

Di dalamnya terdapat ayat sajdah;

Ayat-ayatnya dimulai dengan kata kalla;

Dimulai dengan ungkapan yaa ayyuha an-nnas dan tidak ada ayat yang dimulai dengan ungkapan yaa ayyuha al-ladziina,kecuali dalam surat Al-Hajj [22], karena di penghujung surat itu terdapat sebuah ayat yang dimulai dengan ungkapan yaa ayyuha al-ladziina.

Ayat-ayatnya mengandung kisah para Nabi dan umat-umat terdahulu;

Ayat-ayatnya berbicara tentang kisah Nabi Adam dan iblis, kecuali surat Al-baqarah [2];dan

Ayat-ayatnya dimulai dengan huruf-huruf terpotong-potong seperti alif lam mim dan sebagainya, kecuali surat Al-baqarah[2] dan Ali imron [3];

Madaniyyah

mengandung ketentuan-ketentuan fara’id dan hadd;

Mengandung sindiran-sindiran terhadaf kaum munafik, kecuali surat al-ankabut[29]; dan

Mengandung uraian tentang perdebatan dengan ahli kitab

Sedangkan berdasarkan titik tekan tematis, para ulama merumuskakn cirri-ciri Sfesifik makkiyyah dan Madaniyyah sebagai berikut:

Makkiyyah

12

Page 13: ULUM AL- QUR'AN

menjelaskan ajaran monotheisme, ibadah kepada Allah semata, penetapan risalah kenabian, penetapan hari kebangkitan dan pembalasan, uraian tentang hari kiamat dan perihalnya,dan lain sebagainya

menetapkan pondasi-pondasi umum bagi pembentukan hukum syara’dan keutamaan keutamaan akhlak yang harus dimiliki anggota masyarakat;

menuturkan kisah para Nabi dan umat-mat terdahlu serta perjuangan Nabi Muhammad dalam menghadapi tantangan-tantangan kelompok musyrikin;

ayat dan suratnya pendek-pendek

banyak mengandung kata-kata sumpah;

Madaniyyah

menjelaskan permasalahan ibdah, muamalah, hudud, bangunan rumah tangga, warisan, jihad, kehidupan sosisal, aturan-aturan pemerintah menangani perdamaian dan peperangan, serat pembentukan hukum-hukum syara’;

mengkhitabi ahli kitab yahudi dan nasrani dan mengajaknya masuk islam

mengungkap langkah-langkah orang-orang munafik;

surat dan sebagian ayat-ayatnya panjang

Urgensi Tentang Makkiyyah dan Madaniyyah

Manna Al-Qaththan mendeskripsikan urgensi mengetahui Makkiyyah dan Madaniyyah sebagai berikut:

Membantu dalam menafsirkan Al-Qur’an.

pedoman bagi langkah-langkah dakwah.

memberi informasi tentang sirah kenabian.

BAB 6

AL MUHKAM DAN AL MUTASYABIH

Pengertian Muhkam dan Mutasyabih

Muhkam menurut bahasa (loghawiyah) berasal dari kata hakama. Kata hukum berarti memutuskan antara dua atau lebih, maka hakim adalah orang yang mencegah yang zalim dam memisahkan dua pihak yang bersengketa atau bertikai, serta memisahkan antara yang hak dengan yang batil dan antara kebenaran dan kebohongan. Sedangkan muhkam adalah suatu yang dikokohkan, jelas, fasih dan membedakan antara yang hak dan yang batil.

Mutasyabih secara bahasa berarti tasyabuh, yakni bila salah satu dari dua hal serupa dengan yang lain. Dan subhah adalah keadaan dimana salah satu dari dua hal itu tidak dapat

13

Page 14: ULUM AL- QUR'AN

dibedakan dari yang lain karena ada kemiripan di antara keduanya secara konkret maupun abstrak.

Pengertian muhkam dan mutasyabih menurut beberapa ulama :

Menurut Az Zarqani

Muhkam ialah : ayat yang diketahui maksudnya, baik secara nyata maupun melalui ta’wil.

Mutasyabih ialah : ayat yang hanya Allah yang mengetahui maksudnya.

Menurut Muhammad bin Shalih Al-Utsmani

Muhkam ialah : ayat-ayat yang jelas maknanya yang tidak ada keraguan dan kesamaan di dalamnya.

Mutasyabih ialah : ayat-ayat Al-Qur’an yang masih mengandung kesamaan arti sehingga mereka yang memiliki keraguan akan menempatkannya pada hal-hal yang tidak semestinya kepada Allah SWT, kitab-kitab dan Rasul-Nya.

Menurut As Sayuti

Muhkam berarti “jelas”, sedangkan Mutasyabih adalah ”tidak jelas” dan untuk memastikan pengertiannya tidak ditemukan dalil yang kuat. Dengan demikian yang termasuk ayat-ayat muhkam adalah ayat yang terang maknanya serta lafadznya yang diletakkan untuk suatu makna yang dapat dipahami. Sedang mutasyabih adalah ayat yang bersifat mumjal/global yang membutuhkan pena’wilan yang sukar di pahami.

Pandangan Sikap Para Ulama terhadap Ayat-Ayat Mutasyabih

Subhi Al Shalih membedakan pendapat ulama kedalam dua mahzab :

Mahzab salaf yaitu orang-orang yang mempercayai dan mengimani sifat-sifat mutasyabih itu dan menyerahkan hakikatnya kepada Allah sendiri, mereka yang mensucikan Allah dari pengertian-pengertian lahir yang mustahil ini bagi Allah dan mengimaninya sebagaimana yang diterangkan Al-Qur’an serta menyerahkan urusan mengetahui hakikatnya kepada Allah sendiri. Oleh karena itu mereka disebut pula mazhab Mufawidah atau Tafwid.

Untuk menerapkan sistem penafsiran oleh mazhab salaf terhadap ayat-ayat Mutasysbihat mereka mempunyai dua argumen :

Argumen Aqli, adalah bahwa menetukan maksud dari ayat-ayat Mutasysbihat hanyalah berdasarkan ka’idah-ka’idah kebahasan dan penggunaannya di kalangan bangsa arab. Penentuan seperti ini hanya dapat menghasilkan ketentuan yang bersifat Zanni (tidak pasti).

Argumen naqli, mereka mengemukakan beberapa hadits dan atsar sahabat.

Mazhab khalaf yaitu Ulama yang mena’wilkan lafal yang makna lahirnya mustahil kepada makna yang baik dengan zat Allah. Oleh karena itu mereka disebut pula Muawwilah atau Mazhab ta’wil mazhab ini juga mempunyai argumen Aqli dan Naqli berupa atsar sahabat. Menurut mereka, suatu hal yang harus dilakukan adalah memalingkan lafal dari keadaan kehampaan yang mengakibatkan kebingungan manusia karena membiarkan lafal terlantar dan

14

Page 15: ULUM AL- QUR'AN

tak bermakna. Selama mungkin menta’wil kalam Allah dengan makna yang benar, maka nalar mengharuskan untuk melakukannya.

Adapun sebab timbulnya perbedaan Mazhab diatas maka pada dasarnya kembali pada dua masalah :

Masalah pemahaman ayat.

Permasalahan apakah mungkin sebagian ayat Al-Qur’an tidak diketahui sama sekali atau hanya diketahui oleh orang-orang yang mendalam ilmunya.

Menurut Ulama shalaf, boleh saja sebagian ayat Al-Qur’an tidak diketahui oleh manusia. Sedang menurut Ulama Khalaf, hal yang demikian tidak mungkin terjadi, setidaknya ayat ini dapat dipahami oleh Ulama tertentu.

Fawatih Al Suwar

Di antara ciri-ciri surat-surat Makiyah adalah banyak surat-suratnya yang dimulai dengan huruf-huruf potongan atau pembukan-pembukaan syarat (Fawatih Al Suwar). Pembukaan-pembukaan surat ini dapat dikategorikan kepada beberapa bentuk :

Bentuk yang terdiri dari satu huruf. Bentuk ini terdapat pada tiga surat, yaitu surat Sad, qaf, wa Al-Qalam. Surat pertama dibuka dengan sad, kedua dengan qaf dan ketiga dengan dengan nun.

Bentuk yang terdiri dari dua huruf. Bentuk ini terdapat pada sepuluh surat, tujuh diantaranya disebut hawamim, yaitu surat-surat yang dimulai dengan ha dan mim.

Pembukaan surat yang terdiri dari tiga huruf, terdapat tiga belas tempat, enam diantaranya dengan huruf alif lam mim. Lima huruf dengan alif lam ra dua susunan hurufnya tho’ sin mim.

Pembukaan surat yang terdiri dari empat huruf yaitu alif lam mim sad pada surat Al A’raf dan alf lam mim ra’.

Pembukaan surat yang terdiri dari lima huruf hanya satu, yaitu ka’ ha’ ya’ ain sad pada surat Maryam.

Menurut As Suyuti, pembukaan-pembukaan surat atau huruf-huruf potongan ini termasuk ayat-ayat Mutasyabihat. Sebagai ayat-ayat mutasyabihat, para ulama berbeda pendapat lagi dalam memahami dan menafsirkannya. Dalam hal ini pendapat para ulama pada pokoknya terbagi dua :

Ulama yang memahami sebagai rahasia yang hanya diketahui oleh Allah.

Pendapat yang memandang huruf-huruf diawal surat-surat ini sebagai huruf-huruf yang mengandung pengertian yang dapat dipahami manusia.

Pembukaan-pembukaan surat ada 29 macam yang terdiri dari tigabelas bentuk. Huruf yang paling banyak terdapat dalam pembukaan-pembukaan ini adalah : huruf alif dan lam, kemudian mim dan seterusnya berurutan huruf kha’, ra’, sin, ta, sad, ha’, dan ya’, ‘ain dan qaf dan akhirnya kaf dan nun.

15

Page 16: ULUM AL- QUR'AN

Hikmah Adanya Muhkam dan Mutasyabih

Jika seluruh ayat Al-Qur’an terdiri dari ayat-ayat Muhkam, niscaya akan sirnalah ujian akan keimanan dan amal sholeh lantaran pengertian ayat yang sudah jelas dan tegas.

Jika seluruh ayat Al-Qur’an adalah mutasyabih, niscaya akan lenyaplah sudah kedudukannya sebagai penjelas dan petunjuk bagi umat manusia.

Al-Qur’an yang di dalamnya berisi ayat-ayat Muhkam dan Mutasyabih, dijadikan motivasi bagi umat Islam untuk terus menerus menggali berbagai isi kendungannya sehingga terhindar dari taklid, secara terus menerus membaca da mengamalkan isi kandungannya melalui proses penalaran terhadap Al-Qur’an.

BAB 7

QIRO’AT AL-QR’AN

A. Pengertian Qiro’at

Al-Qira'aat adalah jamak dari kata qiro'ah yang berasal dari qara'a - yaqra'u - qirâ'atan. Menurut istilah qira'at ialah salah satu aliran dalam pelafalan/pengucapan Al-Qur'an yang dipakai oleh salah seorang imam qura' yang berbeda dengan lainnya dalam hal ucapan Al-Qur'anul Karim. Qira'at ini berdasarkan sanad-sanadnya sampai kepada Rasulullah SAW.

B. Sejarah Perkembangan Ilmu Qiro'at

Para sahabat mempelajari cara pengucapan Al-Qur’an langsung dari Rasulullah SAW, bahkan beberapa dari 'secara resmi' direkomendasikan oleh Rasulullah SAW sebagai rujukan sahabat lainnya dalam pengucapan Al-Qur’an.

• Dari Abdullah bin Amr bin Ash, Rasulullah SAW bersabda : "Ambillah (belajarlah) Al-Qur’an dari empat orang : Abdullah bin Mas'ud, Salim, Muadz, dan Ubai bin Ka'b " (HR Bukhori)

• Rasulullah SAW juga bersabda : "Barang siapa yang ingin membaca Al-Qur’an benar-benar sebagaimana ia diturunkan, maka hendaklah membacanya seperti bacaan Ibnu Ummi Abd” (Abdullah bin Mas'ud)

Kemudian pada masa tabi'in awal abad 1 Hijriyah, beberapa kelompok mulai sungguh-sungguh menata tata baca dan pengucapan Al-Qur’an hingga menjadi ilmu tersendiri sebagaimana ilmu-ilmu syariah lainnya.

C. Ragam Qiro'at & Hukum-Hukumnya

Sebenarnya Imam atau guru Qiro’at itu jumlahnya banyak hanya sekarang yang populer adalah tujuh orang. Qiro’at tujuh orang imam ini adalah qiro’at yang shahih dan memenuhi syarat-syarat disebut qiro’at yang shohih. Syarat tersebut antara lain :

1. Muwafawoh bil Arobiyah (sesuai dengan bahasa arab)

16

Page 17: ULUM AL- QUR'AN

2. Muwafaqoh bi ahad rosm utsmani (sesuai dengan salah satu penulisan mushaf Utsmani)

3. Shihhatus Sanad (bersandarkan dari sanad atau riwayat yang shohih/ kuat)

Dengan ketentuan-ketentuan di atas, kemudian para ulama membagi qiro'at menjadi beberapa jenis dilihat dari layak tidaknya untuk diikuti :

1. Mutawatir ; yaitu qiro’at yang dinukil oleh sejumlah besar periwayat yang tidak mungkin bersepakat untuk berdusta, dari sejumlah orang yang seperti itu dan sanadnya bersambung hingga penghabisannya, yakni Rasulullah Saw. Juga sesuai dengan kaidah bahasa arab dan rasam Ustmani

2. Masyhur, yaitu qiro’at yang sahih sanadnya tetapi tidak mencapai derajat mutawatir, sesuai dengan kaidah bahasa arab dan rasam Ustmani serta terkenal pula dikalangan para ahli qiro’at sehingga tidak dikategorikan qiro’at yang salah atau syaz. Qiro’at macam ini dapat digunakan.

3. Ahad, yaitu qiraat yang sahih sanadnya tetapi menyalahi rasam Ustmani, menyalahi kaidah bahasa Arab, atau tidak terkenal. Qiro’at macam ini tidak dapat diamalkan bacaanya.

4. Syaz, yaitu qiro’at yang tidak sahih sanadnya.

5. Ma'udu, yaitu qiro’at yang tidak ada asalnya.

6. Mudraj, yaitu yang ditambahkan ke dalam qiro’at sebagai penafsiran (penafsiran yang disisipkan ke dalam ayat Al-Qur’an)

Keempat macam terakhir ini tidak boleh diamalkan bacaannya.

BAB 8

NASIKH-MANSUKH

Definisi Naskh:

Secara etimologi: penghilangan (izalah), penggantian (tabdil) penghubungan (tahwil) dan pemindahan (naql).

Secara terminologi: “raf’u Al-hum Al-syar’I bi Al-khithab Al-syar’i” ( menghapuskan hokum syara dengan khitab syara pula) atau “raf’u Alhukm bil Al-dalil Al-syar’i” ( menghapuskan dalil syara dengan syara lain).

Rukun Naskh ada empat

Adat naskh

Nasikh

Mansukh

17

Page 18: ULUM AL- QUR'AN

Mansukh’anh

Syarat Naskh

Yang dibatalkan adalah hokum syara

Pembatalan itu datangnya dari tuntunan syara

Pembatalan hukun tidak disebabkan oleh berakhirnya waktu pemberlakuan hukum

Tuntunan yangmengandung naskh harus dating kemudian

Cara mengetahui nasikh dan mansukh:

Penjelasan langsung dari Rosululloh

Dalam suatu naskh terkadang terdapat keterangan yang menyatakan bahwa salah satu naskh diturunkan terlebih dahulu

Berdasarkan keterangan dari periwayatan hadits yang meyatakan suatu hadits dikeluarkan tahun sekian dan hadts lain dikeluarkan tahun sekian.

Dasar – dasar penetapan nasikh dan mansukh

Melalui pentransmisian yang jelas (An-Naql Al-sharih) dari Nabi atau para sahabat

Melalui kesepakatan umat bahwa ayat ini nasikh dan ayat itu mansukh.

,elalui studi sejarah, mana yat yang terlebih belakang turun, karenanya disebut nasikh, dan man ayang duluan turun, karenanya disebut mansukh.

Bentuk-benuk dan macam-macam nasikh dalam Al-Quran

Naskh sahrih

Naskh dimmy

Naskh kully

Naskh juz’iy

Hikmah keberadaan naskh

Menjaga kemaslahatan hamba

Pengembangan pensyariatan hokum pad tingkat kesempurnaan seiring dengan perkembangan dakwah dan kondisi manusia itu sendiri

Menguji kwalitas keimanan mukallaf dengan adanya suruhan yang kemudian di hapus

Merupakan kebaikan dan kemudahan bagi umat.

18

Page 19: ULUM AL- QUR'AN

BAB 9

MUKJIZAT

A. Pengertian Ijaz Al-Qur’an Dan Mukjizat

1. Pengertian i’jaz menurut bahasa:

Kata I’jaz adalah isim mashdar dari ‘ajaza-yu’jizu-i’jazan yang mempunyai arti “ketidakberdayaan atau keluputan” (naqid al-hazm). Kata i’jaz juga berarti “terwujudnya ketidakmampuan”, seperti dalam contoh: a’jaztu zaidan “aku mendapati Zaid tidak mampu".

2. Pengertian i’jaz secara istilah :

- Penampakan kebenaran pengklaiman kerasulan Nabi Muhammad SAW dalam ketidakmampuan orang Arab untu menandingi mukjizat nabi yang abadi, yaitu Al-Qur’an.

- Perbuatan seseorang pengklaim bahwa ia menjalankan fungsi ilahiyah dengan cara melanggar ketentuan hukum alam dan membuat orang lain tidak mampu melakukannya dan bersaksi akan kebenaran klaimnya.

3. Pengertian mukjizat:

هي أمر خارق للعادة مقرون بالتحدي سالم عن المعارض88ة يظه88ر علىG لدعواه يد مدعي النبوة موافقا

Mukjizat adalah sebuah perkara luar biasa (khoriqun lil ‘adah) yang disertai tantangan (untuk menirunya), yang selamat dari pengingkaran, dan muncul pada diri seorang yang mengaku nabi menguatkan /menyesuaikan dakwahnya.

B. Pembagian Jenis Mukjizat & Hikmahnya

1. Mu’jizat Indrawi (Hissiyyah)

Mukjizat jenis ini diderivasikan pada kekuatan yang muncul dari segi fisik yang mengisyaratkan adanya kesaktian seorang nabi.

Secara umum dapat diambil contoh adalah mukjizat nabi Musa dapat membelah lautan, mukjizat nabi Daud dapat melunakkan besi serta mukjizat nabi-nabi dari bani Israil yang lain.

2. Mukjizat Rasional (‘Aqliyah)

Mukjizat ini tentunya sesuai dengan namanya lebih banyak ditopang oleh kemampuan intelektual yang rasional. Dalam kasus Al-Qur’an sebagai mukjizat nabi Muhammad atas umatnya dapat dilihat dari segi keajaiban ilmiah yang rasional dan oleh karena itulah mukjizat Al-Qur’an ini bisa abadi sampai hari Qiamat.

C. Bidang Mukjizat Al-Qur’an

1. Segi bahasa dan susunan redaksinya (I'jaz Lughowi)

19

Page 20: ULUM AL- QUR'AN

Sejarah telah menyaksikan bahwa bangsa Arab pada saat turunnya Al-Qur’an telah mencapai tingkat yang belum pernah dicapai oleh bangsa satu pun yang ada di dunia ini (balaghah).

Oleh karena bangsa Arab telah mencapai taraf yang begitu jauh dalam bahasa dan seni sastra, karena sebab itulah Al-Qur’an menantang mereka. Padahal mereka memiliki kemampuan bahasa yang tidak bisa dicapai orang lain seperti kemahiran dalam berpuisi, syi’ir atau prosa (natsar), memberikan penjelasan dalam langgam sastra yang tidak sampai oleh selain mereka. Namun walaupun begitu mereka tetap dalam ketidakberdayaan ketika dihadapkan dengan Al-Qur’an.

2. Segi isyarat ilmiah (I'jaz Ilmi)

a. Dorongan serta stimulasi Al-Qur’an kepada manusia untuk selalu berfikir keras atas dirinya sendiri dan alam semesta yang mengitarinya.

b. Al-Qur’an memberikan ruangan sebebas-bebasnya pada pergulan pemikiran ilmu pengetahuan sebagaimana halnya tidak ditemukan pada kitab-kitab agama lainnya yang malah cenderung restriktif.

c. Al-Qur’an dalam mengemukakan dalil-dalil, argument serta penjelasan ayat-ayat ilmiah, menyebutkan isyarat-isyarat ilmiah yang sebagaiannya baru terungkap pada zaman atom, planet dan penaklukan angkasa luar sekarang ini.

3. Segi Sejarah & pemberitaan yang ghaib (I'jaz tarikhiy)

a. Sejarah/ Keghaiban masa lampau.

Al-Qur’an sangat jelas dan fasih sekali dalam menjelaskan cerita masa lalu seakan-akan menjadi saksi mata yang langsung mengikuti jalannya cerita. Dan tidak ada satupun dari kisah-kisah tersebut yang tidak terbukti kebenarannya. Diantaranya adalah : Kisah nabi Musa & Firaun, Ibrahim, Nabi Yusuf, bahkan percakapan antara anak-anak Adam as

b. Kegaiban Masa Kini

Diantaranya terbukanya niat busuk orang munafik di masa rasulullah. Allah SWT berfirman : Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.(Al-Baqoroh : 204)

c. Ramalan kejadian masa mendatang

Diantaranya ramalan kemenangan Romawi atas Persia di awal surat Ar-Ruum

4. Segi petunjuk penetapan hukum (I'jaz Tasyri'i)

Diantara hal-hal yang mencengangkan akal dan tak mungkin dicari penyebabnya selain bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah, adalah terkandungnya syari’at paling ideal bagi umat manusia, undang-undang yang paling lurus bagi kehidupan, yang dibawa Al-Qur’an untuk mengatur kehidupan manusia yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Meskipun memang banyak aturan hukum dari Al-Qur’an yang secara 'kasat mata' terlihat tidak adil, kejam dan sebagainya, tetapi sesungguhnya di balik itu ada kesempurnaan hukum yang tidak terhingga.

20

Page 21: ULUM AL- QUR'AN

BAB 10

TAFSIR, TAKWIL, DAN TERJEMAH

Tafsir :

Bahasa:Al-idhah (menjelaskan), Al-bayan (menerangkan), Al-kasyf (mengungkap), dan Al-ibanah (menjelaskan)

Istilah :

Menurut Al-kilabi : “Tafsir adalah menjelaskan Al-Qur’an, menerangkan maknanya dan mejelaskan apa yang dikehendaki dengan nasnya atau dengan isyaratnya atau tujuannya.”

Menurut Syekh Al-zajairi dalam Shohib At-Taujih: “Tafsir pada hakikatnya adalah menjelaskan lafadz yang sukar dipahami oeh pendengar dengan mengemukakan lafadz sinonimnya atau makna atau makna yang mendekatinya, atau dengan jalan mengemukakan salah satu dilalah lafadz tersebut.”

Menurut Abu Hayyan, “Tafsir adalah ilmu mengenai cara pengucapan lafadz-lafadz Al-Qur’an serta cara mengungkapkan petunjuk, kandungan-kandungan hukum, dan makna-makna yang terkandung didalamnya.”

Menurut Az-Zarkasyi: “Tafsir adalah ilmu yang dugunakan untuk memahami dan menjelaskan makna-makna kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi-Nya, Muhammad SAW .,serta menyimpulkan kandungan –kandungan hukum dan hikmahnya.”

Takwil :

Bahasa : “Ar-ruju’ ila Al-Ashl” (berarti kembali pada pokoknya).

Istlah :

Menurut Al-Jurzani: “Memalingkan suatu lafadz dari makna zahirnya terhadap makna yang terkandungnya, apabila makna alternatif yang dipandangnya sesuai dengan ketentuan Al-Kitab dan As-Sunnah”.

Menurut definisi lain : “Takwil adalah mengembalikan sesuatu pada ghayahnya (tujuannya), yakni menerangkan apa yang dimaksud.”

Menurut ulama salaf: “menafsirkan dan menjelaskan makna suatu ungkapan, baik bersesuai dengan makna lahirnya atau pun bertentangan .”hakikat sebenarnya yang dikehendaki suatu ungkapan.”

Menurut ulama Kholaf: “mengalihkan suatu lafadz dari makna yang rajih kepada makna yang marjuh karena ada indikasi untuk itu.”

Terjemah:

Bahasa : Salinan dari suatu bahasa kebahasa lain .

21

Page 22: ULUM AL- QUR'AN

Istilah: “Memindahkan Al-Qur’an kebahasa lain yang bukan bahasa Arab dan mencetak terjemah ini kedalam beberapa naskah agar dibaca orang yang tidak mengerti bahasa Arab sehingga ia dapat memahami kitab Allah SWT. Dengan perataan terjemah ini.”

Macam Terjemah

Terjemah maknawiyyah Tafsiriyyah,

Terjemah harfiyyah bi Al-mitsli,

Terjemah harfiyyah bi dzuni Al-mitsli,

klasifikasi Tafsir

Tafsir bi Al-ma’tsur,

Tafsir bi Ar-ra’yi,

22