Uk 3 Anfisman

download

of 20

  • date post

    17-Sep-2015
  • Category

    Documents

  • view

    19
  • download

    2

Embed Size (px)

description

anfisman

Transcript of Uk 3 Anfisman

Tugas Ujian Kompetensi III Mata Kuliah Anatomi Fisiologi Manusia

Disusun oleh :

Wahyu KusumawardaniK4312070Pendidikan BiologiB

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANUNIVERSITAS SEBELAS MARETSURAKARTA2015

Soal dan jawaban

1. Jelaskan bagaimana mekanisme pertukaran gas pada alveolus dan pada jaringan!

Alveoli merupakan bagian terminal cabang-cabang bronkus dan bagian yang paling banyak terdapat struktur paru yang menyerupai busa (struktur spons). Ada lebih dari 300 juta alveoli di dalam paru-paru manusia bersifat elastis. Ruang udara tersebut dipelihara dalam keadaan terbuka oleh bahan kimia surfaktan yang dapat menetralkan kecenderungan alveoli untuk mengempis. Di dalam struktur mirip mangkuk ini berlangsung pertukaran oksigen dan CO2 antara udara dan darah. Struktur dinding alveoli dikhususkan untuk difusi antara lingkungan eksternal dan internal. Oksigen dalam alveoli masuk ke dalam kapiler darah melalui membran dan CO2 berdifusi dengan arah berlawanan.Tempat terjadinya pertukaran gas disebut barier darah-udara (air-blood barrier), yang merupakan permukaan luas dengan jalinan kapiler di satu sisi dan udara pada sisi lain. Pertukaran gas umumnya terjadi pada kedua belah sisi septa jaringan yang memisahkan alveolus/septa interalveolaris. Saluran udara dalam parenkim diatur dalam unit asinus/unit respiratori terminalis merupakan unit fungsional dari daerah pertukaran gas (Soewolo, et al. 1999).Pertukaran gas antara O2 dan CO2 terjadi melalui proses difusi, berlangsung di alveolus dan di sel jaringan tubuh. Proses difusi berlangsung sederhana, yaitu hanya dengan gerakan molekul-molekul secara bebas melalui membran sel dari konsentrasi tinggi atau tekanan tinggi menuju ke konsentrasi rendah atau tekanan rendah. Di alveoli paru-paru, oksigen berdifusi lebih cepat daripada karbondioksida karena berat jenisnya lebih rendah. Difusi gas dalam jaringan tubuh angat dipengaruhi oleh daya larutnya di dalam cairan-cairan jaringan dan darah, dan oleh karena karbondioksida berkurang lebih 24 kali lebih mudah larut dalam darah dibanding oksigen, maka keseluruhan kecepatan difusi karbondioksida melebihi kecepatan oksigen sekitar 20 kali lipa (Ganong,1995).Tiga proses dasar terlibat dalam pertukaran gas adalah1. Proses pertama ventilasi paru adalah pengaturan inspirasi dan ekspirasi udara antara atmosfer dan paru. 2. Proses kedua respirasi eksternal (respirasi paru) adalah pertukaran oksigen dan karbondioksida antara paru dan kapiler darah paru. Respirasi ekstrnal artinya udara dari atmosfer masuk ke dalam aliran darah untuk dibawa ke dalam sel jaringan dan karbondioksida yang terkumpul di dalam paru dikeluarkan dari tubuh. 3. Proses ketiga respirasi internal (respirasi jaringan) adalah pertukaran oksigen dan karbondioksida antara kapiler darah jaringan dan sel-sel jaringan (Ganong, 1995).proses ini merupakan pertukaran O2 dari aliran darah dengan CO2 dari sel-sel jaringan tubuh.Selama inspirasi, udara atmosfer mengandung oksigen memasuki alveoli. Darah terdeoksigenasi dipompa dari ventrikel kanan melalui arteri pulmonaslis menuju kapiler pulmonalis yang menyelubungi alveoli. PO2 alveolar 105 mmHg, pO2 darah teroksigenasi yang memasuki kapiler pulmonalis hanya 40 mmHg. Sebagai akibat perbedaan tekanan tersebut, oksigen berdifunsi dari alveoli ke dalam darah terdeoksigenasi sampai keseimbangan tercapai, dan pO2 darah terdeoksigenasi sekarang 105 mmHg. Ketika oksigen difusi dari alveoli ke dalam darah terdeoksigenasi, karbondioksida berdifusi dengan arah berlawanan. Sampai di paru, pCO2 darah terdeoksigenasi 46 mmHg, sedang di alveoli 40 mmHg. Oleh karena perbedaan pCO2 tersebut karbondioksida berdifusi dari darah terdeoksigenasi ke dalam alveoli sampai pCO2 turun menjadi 40 mmHg. Dengan demikian pO2 dan pCO2 darah terdeoksigenasi yang meninggalkan paru sama dengan udara dalam alveolar. Karbondioksida yang berdifusi ke alveoli dhembuskan keluar dari paru selama ekspirasi (Soewolo, et al. 1999). PengangkutanO2Pertukaran gas antara O2 dengan CO2 terjadi di dalam alveolus dan jaringan tubuh, melalui proses difusi. Oksigen yang sampai di alveolus akan berdifusi menembus selaput alveolus dan berikatan dengan haemoglobin (Hb) dalam darah yang disebut deoksigenasi dan menghasilkan senyawa oksihemoglobin (HbO) seperti reaksi berikut:

Adapun tahapan proses pengikatan oksigen diatas adalah sebagai berikut :1) Alveolus memiliki O2 lebih tinggi dari pada O2 di dalam darah. 2) O2 masuk ke dalam darah melalui difusi melewati membran alveolus3) Di dalam darah, O2 sebagian besar (98%) diikat oleh Hb yang terdapat pada Eritrosit menjadi Oksihemoglobin (HbO2).4) Selain diikat oleh Hb, sebagian kecil O2 larut di dalam plasma darah (2%).5) Setelah berada di dalam darah, O2 kemudian masuk ke jantung melalui vena pulmonalis untuk diedarkan ke seluruh tubuh yang membutuhkan melalui jaringan sel untuk proses oksidasi.O2 yang sudah terikat pada hemoglobin dalambentuk oksihemoglobin tadi diangkut menuju sel, dengan reaksi:

O2 yang masuk ke dalam jaringan kemudian akan diberikan pada mitokondria(organela sel) untuk respirasi seluler.Dari respirasi selular itulah energi dihasilkan. Tetapi dalam peristiwa initidak hanya O2 saja yang diperlukan, melainkan juga makanan yg terlarut dalam darah.

PengangkutanCO2 Proses Oksidasi/ Pembakaran dalamsel akan menghasilkan CO2 sebagai hasil respirasi sel yang kemudian akan diangkut lewat kapilervena darah menuju alveolus. CO2 dalam alvelous ini akan dikeluarkan lewat paru-paru. Pengangkutan C02 keluar tubuh umumnya berlangsung menurut reaksi kimia berikut:

Adapun tahapan proses pengeluaran karbondioksida diatas adalah sebagai berikut : 1) Di jaringan, CO2 lebih tinggi dibandingkan yang ada di dalam darah. Ketika O2 di dalam darah berdifusi ke jaringan, maka CO2 di jaringan akan segera masuk ke dalam darah.2) Ketika CO2 berada di dalam darah sebagian besar (70%) CO2 akan diubah menjadi ion bikarbonat(HCO3)3) 20% CO2 akan terikat oleh Hb pada Eritrosit. Sedangkan 10% CO2 lainnya larut dalam plasma darah.4) Di dalam darah, CO2 di bawa ke jantung, kemudian oleh jantung CO2 dalam darah dipompa ke paru-paru melalui arteri pulmonalis.5) Di paru-paru CO2 akan dikeluarkan dari tubuh melalui ekspirasi.

2. Kebanyakan merokok dapat mengakibatkan emfisema yaitu tertutupnya sebagian area paru-paru. Akibat dari kondisi ini adalah menurunnya luas area pertukaran gas. Kondisi ini tentu saja akan mengakibatkan perubahan kondisi fisiologis dari orang emfisema. Jelaskanlah kasus tersebut !

Penjelasan penyakit EmfisemaEmphysema (emfisema) adalah penyakit paru kronis yang dicirikan oleh kerusakan pada jaringan paru, sehingga paru kehilangan keelastisannya.Gejala utamanya adalah penyempitan (obstruksi) saluran napas, karena kantung udara di paru menggelembung secara berlebihan dan mengalami kerusakan yang luas.Emfisema disebabkan karena hilangnya elastisitas alveolus.Alveolus sendiri adalah gelembung-gelembung yang terdapat dalam paru-paru.Pada penderita emfisema, volume paru-paru lebih besar dibandingkan dengan orang yang sehat karena karbondioksida yang seharusnya dikeluarkan dari paru-paru terperangkap didalamnya.Asap rokok dan kekurangan enzim alfa-1-antitripsin adalah penyebab kehilangan elastisitas pada paru-paru ini.Definisi emfisema menurut Kus Irianto, Robbins, Corwin, dan The American Thorack society:1. Emfisema merupakan keadaan dimana alveoli menjadi kaku mengembang dan terus menerus terisi udara walaupun setelah ekspirasi.(Kus Irianto.2004.216).2. Emfisema merupakan morfologik didefisiensi sebagai pembesaran abnormal ruang-ruang udara distal dari bronkiolus terminal dengan desruksi dindingnya. (Robbins.1994.253).3. Emfisema adalah penyakit obtruktif kronik akibat kurangnya elastisitas paru dan luas permukaan alveoli.(Corwin.2000.435).4. Suatu perubahan anatomis paru yang ditandai dengan melebarnya secara abnormal saluran udara bagian distal bronkus terminal, yang disertai kerusakan dinding alveolus. (The American Thorack society 1962).Menurut WHO, emfisema merupakan gangguan pengembangan paru-paru yang ditandai oleh pelebaran ruang udara di dalam paru-paru disertai destruksi jaringan. Sesuai dengan definisi tersebut, maka dapat dikatakan bahwa, jika ditemukan kelainan berupa pelebaran ruang udara(alveolus)tanpa disertai adanya destruksi jaringan, maka itu bukan termasuk emfisema. Namun, keadaan tersebut hanya sebagaioverinflation (Suradi,2004).Terdapat 3 (tiga) jenis emfisema utama, yang diklasifikasikan berdasarkan perubahan yang terjadi dalam paru-paru :1. CLE (Centrilobular Emphysema atau Centroacinar)Merupakan tipe yang sering muncul, menyebabkan kerusakan bronkiolus, biasanya pada region paru-paru atas.Inflamasi berkembang sampai bronkiolus tetapi biasanya kantong alveolar tetap bersisa (Suradi, 2004).CLE ini secara selektif hanya menyerang bagian bronkhiolus respiratorius.Dinding-dinding mulai berlubang, membesar, bergabung dan akhirnya cenderung menjadi satu ruang.Penyakit ini sering kali lebih berat menyerang bagian atas paru-paru, tapi cenderung menyebar tidak merata.Seringkali terjadi kekacauan rasio perfusi-ventilasi, yang menimbulkan hipoksia, hiperkapnia (peningkatan CO2 dalam darah arteri), polisitemia, dan episode gagal jantung sebelah kanan.Kondisi mengarah pada sianosis, edema perifer, dan gagal napas.CLE lebih banyak ditemukan pada pria, dan jarang ditemukan pada mereka yang tidak merokok (Sylvia A. Price 1995).

2. PLE (Panlobular Emphysema atau Panacinar)Merusak ruang udara pada seluruh asinus dan biasanya juga merusak paru-paru bagian bawah (Suradi,2004). Terjadi kerusakan bronkus pernapasan, duktus alveolar, dan alveoli.Merupakan bentuk morfologik yang lebih jarang, dimana alveolus yang terletak distal dari bronkhiolus terminalis mengalami pembesaran serta kerusakan secara merata. PLE ini mempunyai gambaran khas yaitu tersebar merata diseluruh paru-paru. PLE juga ditemukan pada sekelompok kecil penderita