Tutor Hematologi

download Tutor Hematologi

of 55

  • date post

    26-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    495
  • download

    45

Embed Size (px)

description

fibrinogen

Transcript of Tutor Hematologi

TUTOR HEMATOLOGI

PEMERIKSAAN FIBRINOGEN dengan SYSMEX Ca 600

Disusun Oleh :Elvan Dwi WidyadiPembimbing :Juli Soemarsono, dr, SpPK

PPDS I SMF PATOLOGI KLINIKFAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA RSU DR SOETOMO SURABAYA2013Daftar isiBAB 1 PENDAHULUAN1.1. Sejarah 1.2. Manifestasi Klinis Fibrinogen1.3. Pemeriksaan fibrinogen1.4 ManfaatBAB 2 FIBRINOGEN2.1.Nomanklatur Fibrinogen2.2. Morfologi Fibrinogen ...........2.3. Sintesa Fibrinogen ...........2.4. Metabolisme Fibrinogen ...........2.5. Fisiologi Fibrinogen ...........2.4. Patofisiologi Fibrinogen ...........BAB 3 PEMERIKSAAN FIBRINOGEN3.1. Metode Pemeriksaan Fibrinogen3.2. Fibrinogen Standard3.3.1. Praanalitik3.3.2. Analitik3.3.3. Postanalitik3.3. Prosedur Standard Pemeriksaan Fibrinogen3.4. Quality Control3.5. AuditBAB 4 Pemeriksaan Fibrinogen dengan Sysmex Ca 6004.1. Prinsip Pemeriksaan Fibrinogen dengan symex Sysmex Ca 6004.2. Bahan sampel dan reagen pemeriksaan4.3. Instrumensasi symex Sysmex Ca 6004.4. Prosedur atau Protokol pemeriksaan Sysmex Ca 6004.5. Intepretasi hasil4.6. Quality ControlBAB 5 KESIMPULAN DAN SARANDAFTAR PUSTAKAbabIPendahuluan

1.1. SejarahTeori tentang koagulasi darah pertamakali diperkenalkan oleh seorang fisiologis bernama Johannes Muller (1801-1858) yang menjelaskan tentang fibrin sebagai subtansi pembentuk thrombus. Fibrin ini terbentuk oleh sebuah zat pendahulu yang mudah dipecah yakni fibrinogen yang pertamakali diperkenalkan oleh Rudolf Virchow (1821-1902), dan dapat dikumpulkan secara kimiawi oleh Prosper Sylvian Dennis (1733-1863). Kemudian Alexander Schmidt mengusulkan teori bahwa perubahan dari fibrinogen menjadi fibrin melalui suatu proses enzimatik, yang kemudian dilabel sebagai thrombin dengan prothrombin sebagai kofaktornya (2,3). Pada tahun 1890 Arthus menemukan teori bahwa kalsium sangatlah penting dalam proses koagulasi (4,5). Sedangkan platelet ditemukan pada 1865 dan fungsi platelet berhasil dikemukakan oleh Guilio Bizozero pada tahun 1882 (6). Teori yang menyatakan bahwa keberadaan thrombin diperkuat oleh adanya tissue factor dijelaskan oleh Paul Morawitz pada tahun 1905 (7), pada saat itu dikenallah thrombokinase atau throboplastin (Faktor III) yang dikeluarkan oleh jaringan yang cidera yang bereaksi dengan prothrombin (Faktor II) dengan bersama kalsium (Ca2+) (Faktor IV) membentuk thrombin yang merubah fibrinogen menjadi fibrin (Faktor I)(8).Fibrinogen sebagai partikel glikogen larut air yang besar diantara molekul-molekul faktor pembekuan darah yang lain, memiliki peran yang sangat penting dalam proses hemostasis melalui aktifasi dari thrombin berubah bentuk menjadi fibrin tidak larut air, hal ini merupakan suatu proses akhir dari kaskade koagulasi, kemudian terjadilah agregasi platelet (1,3)

1.2. Manifestasi Klinis FibrinogenSebagaimana kita ketahui fungsi fibrinogen yang sangat penting pada hemostasis maka kerusakan fibrinogen dapat terjadi secara kuantitafif (jumlah kadar fibrinogen didalam tubuh yang kurang atau lebih dari normal) maupun secara kualitatif (misal pada dysfibrinogenemia). Dyfibrinogenemia dapat dijumpai sebagai penyakit turunan tapi jarang ditemukan, dimana didunia hanya terdapat 250 -300 kasus, sedangkan dyfibrinogenemia dapatan lebih sering dijumpai, terutama pada pasien dengan penyakit liver dimana molekul fibrinogen mengalami penurunan aktivitas glikolisasi. Peningkatan kadar dari FDPs juga mengurangi aksi dari fibrinogen (9).Manifestasi pendarahaan yang disertai perpanjangan waktu pembekuan pada pemeriksaan APTT atau PT dengan penyebab yang masih belum dapat dijelaskan maka kadar fibrinogen dapat dijadikan suatu indikator untuk mengungkap penyebab perdarahan. Peningkatan kadar fibrinogen dapat berkorelasi dengan peningkatan resiko terjadinya thrombosis seperti yang dijelaskan pada beberapa penelitian, meskipun hal ini tidak dapat diterapkan terhadap masing-masing individu (9).Dengan semakin berkembangnya penelitian terhadap penyakit-penyakit degeneratif maka semakin banyak bukti yang menyatakan bahwa fibrinogen mempunyai peran sangat penting dalam menentukan tingkat keparahan serta prognosa terhadap penyakit yang berhubungan dengan atherosklerosis misal penyakit jantung dan stroke.1.3. Pemeriksaan fibrinogenBerbagai macam metode pemeriksaan fibrinogen telah banyak digunakan oleh laboratorium (for review see de Maat et al, 1999). Pemeriksaan sangat bervariasi tergantung pada waktu tenaga ahli dan peralatan yang tersedia serta. Beberapa tes memang digunakan untuk situasi darurat dimana kadar fibrinogen yang tepat tidak terlalu dibutuhkan namun hanya membutukkan estimasi dari kadar yang normal atau secara kasar dia berkurang. Dengan semakin berkembangnya teknologi reagen dan sistem automatisasi maka mempengaruhi performa dan presisi dari labolatorium. Alat penghitung fibrinogen automatic bekarja dengan mendeteksi bekuan fibrin. Para ahli mekanik menyertakan prinsip-prinsip pergerakan pengait atau teori tentang gaya tolak menolak (impedansi) dari molekul-molekul didalam medan magnetik. Sedangkan yang lain menggunakan teknik foto-optikal untuk menilai perubahan dari sinar transmisi atau perpendaran dari sinar melalui sudut 900 serta menganalisa perubahan proporsi dari konsentrasi fibrinogen sebagai dasar untuk fibrinogen assay. Metode pemeriksaan fibrinogen didasari oleh prothomnin time (PT-Fg), dimana ditentukan lama waktu yang digunakan thrombin untuk merubah fibrinogen menjadi fibrin 10.Pemeriksaan fibrinogen baik secara kuantitatif maupun kualitatif pada era ini menjadi sangat penting sebagai indikator dalam menentukan penatalaksanaan terhadap penyakit tersebut lebih lanjut. Oleh karena itu telah dikembangkan berbagai metode dan alat pemeriksaan fibrinogen yang dapat diandalkan untuk memberikan hasil yang sahih. Namun tentunya disini dibutukkan suatu standard yang tetap sebagai metode dan alat yang telah direkomendasikan dan disepakati bersama untuk menjadi standart pemeriksaan fibrinogen yang baik. Penetapan nilai rujukan atau nilai normal sangat diperlukan sebagai nilai pembanding terhadap hasil pemeriksaan pasien. Pada tahun 1970 Commitee on Standard of the International Federation of Clinical Chemistry (IFFC) membuat cara penetapan nilai rujukan parameter koagulasi. Pada tahun1977 International Commitee for Standarization in Hematology (ICSH) mengadopsi rekomendasi penetapan nilai rujukan untuk bidang hematologic, yang disebarkan secara meluas. Rekomendasi yang diajukan oleh IFCC dan ICSH dipublikasikan pada tahun 1987. Validitas nilai rujukan tergantung pada cara seleksi individu, definisi dan penanganan beban pemeriksaan dan penggunaan bahan kontrol yang dipakai.6 Dalam alat sysmex ca 600 series ini menggunakan standard prosedur pemeriksaan fibrinogen yang telah ditetapkan oleh The National Committee for Clinical Laboratory Standards (NCCLS) di amerika11;12.1.4 ManfaatDengan mengenal alat penghitung konsentrasi fibrinogen otomatis ini akan dapat meningkatkkan kepedulian kita dalam merawat dan menggunakan instrument ini sebaik mungkin, sehingga pada akhirnya akan berdampak kepada perbaikan mutu pelayanan labolatorium untuk pemeriksaan fibrinogen, baik secara kuantitas maupun kualitas.

BAB IIFIBRINOGEN

2.1.Nomanklatur FibrinogenDidalam plasma darah terdapat paling sedikit 16 zat prokoagulan, yang juga disebut dengan faktor koagulasi. Hampir semua faktor koagulan disentesa didalam hati, walaupun sebagian kecil disintesa di monosit, sel endothelial dan megakariosit. Pada tahun 1958 International Committee for Standarization of the Nomenclatur of the Blood Clothing Factor memberikan penamaan terhadap plama koagulan dengan angka romawi berdasarkan urutan yang pertamakali ditemukan dan didiskripsikan. Maka fibrinogen dapat disebut dengan faktor I namun seperti biasa kita menyebutnya dengan namanya yaitu fibrinogen13.2.2. Morfologi Fibrinogen Meskipun didalam plasma dan darah mengandung kompleksitas yang beragam namun juga kaya akan sumber-sumber biologikal yang dapat dijadikan sebagai target obat maupun biomarker untuk berbagai jenis penyakit manusia. Fibrinogen disintesa oleh hati dan bersikulasi dalam plasma dengan kadar ~200-450 mg/dL. Dia juga merupakan sebuah glikoprotein dimer dengan tiga pasang rantai peptide, dengan subunit yang membentuk rantai D domain yang mengandung daerah globular dan E domain mengandung ikatan disulfide yang berperan untuk menghubungkan kedua subunit diatas. Fibrinogen dalam tubuh manusia memiliki waktu paruh adalah 3 sampai 5 hariPada tahun 1959 hall dan slayter dengan mikrosokop electron mampu menggambarkan fibrinogen sebagai suatu 3 molekul globuler yang saling terkait. (16) dengan perkiraan panjangnya 475-25A. dan diameter dari globuler sekitar 50 A, dan globuler dibawah sekitar 65 A (16;17). Struktur fibrinogen dikemukakan oleh peneliti yang lain (18;19) dengan menggunakan atomik mikroskopik diketahui gambaran molekul fibrinogen secara 3 deminsional dalam keadaan encer menampakkan ikatan-ikatan monomerik, dimer dan trimerik sebagai hubungan D-D globuler (20). Molekul fibrinogen adalah dimer yang berisi 3 pasang rantai polipeptida A, B, , dengan berat molekul sebesar 340 kDa setara dengan 340 X 1.6605402e-21.(21)

Figure 1. Electron microscope images showing fibrinogen molecules with a central (E) and two peripheral (D) regions (1A), fibrin protofibrils with half-staggered overlapping fibrin monomers (1B), and thicker, branching fibrin fibers (1C). Reproduced from Weisel(22).Penamaan A, B, merupakan gambaran dari peptide A dan B terpotong dari fibrinogen oleh thrombin dan rantai panjang dari -, -, - . pada perubahan bentuk dari fibrinogen ke fibrin peptida dari tidak mengalami perubahan. Fibrinogen dibentuk oleh asam amino dengan jumlah total sebesar 2964 dan rangkaian komlpeks dari asam amino ini telah perkenalkan oleh Henschen and Lottspeichp pada tahun 1980 (23;24) berat molekul masing-masing adalah 66,5 kDa sebanyak (610 asam amino)untuk -, 52 kDa (461 asam am