Tugas Terstruktur Kimia Analisis Instrumen (1)

download Tugas Terstruktur Kimia Analisis Instrumen (1)

of 20

  • date post

    27-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    193
  • download

    15

Embed Size (px)

description

Tugas Terstruktur Kimia Analisis Instrumen (1)

Transcript of Tugas Terstruktur Kimia Analisis Instrumen (1)

TUGAS TERSTRUKTUR KIMIA ANALISIS INSTRUMENKROMATOGRAFI PLANAR (Kromatografi Lapis Tipis)

Disusun Oleh :Yolita Satya G.U(G1F011010)Riri Fauziyya(G1F011028)Aisyah Putriani (G1F011050)Intan Hanifiani(G1F011068)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAANUNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMANFAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATANJURUSAN FARMASIPURWOKERTO2013BAB IPENDAHULUANA. Latar BelakangKromatografi adalah teknik pemisahan campuran didasarkan atas perbedaan distribusi dari komponen-komponen campuran tersebut diantara dua fase, yaitu fase diam (padat atau cair) dan fase gerak (cair atau gas) (Patnaik 2004). Teknik pemisahan ini memanfaatkan interaksi komponen dengan fase diam dan fase gerak serta sifat fisik dan sifat kimia komponen. Berdasarkan fase gerak dan fase diam yang digunakan, kromatografi dibedakan menjadi liquid-solid chromatography (kromatografi dengan fase diam berwujud padat dan fase gerak berwujud cair), gas-solid chromatography (kromatografi dengan fase diam berwujud padat dan fase gerak berwujud gas), liquid-liquid chromatography (kromatografi dengan fase diam berwujud cair dan fase gerak berwujud cair), dan gas-liquid chromatography (kromatografi dengan fase diam berwujud padat dan fase gerak berwujud gas) (Patnaik,2004).Berdasarkan interaksi komponen dengan fase diam dan fase gerak, kromatografi dibedakan menjadi kromatografi adsorpsi (kromatografi dengan teknik penyerapan komponen oleh adsorben tertentu), kromatografi partisi (kromatografi dengan partisi terjadi antara fase gerak dan fase diam), kromatografi pertukaran ion (kromatografi yang dapat memisahkan senyawa dengan afinitas ion yang berbeda dengan resin penukar ion), dan kromatografi permeasi atau filtrasi (kromatografi berdasarkan perbedaan bobot molekul) (Skoog et al 2002). Berdasarkan bentuk ruang penyangganya, kromatografi dibedakan menjadi kromatografi planar (kromatografi dengan fase diam terletak pada permukaan datar) yang meliputi kromatografi kertas dan kromatografi lapis tipis serta kromatografi kolom (kromatografi dengan fase diam tertahan pada sebuah kolom) yang meliputi kromatografi manual, high performance liquid chromatography, dan kromatografi gas (Patnaik,2004). Pada makalah ini kami membahas mengenai kromatografi lapis tipis. Prinsip dari aplikasi tersebut adalah dengan meneteskan sampel pada plat KLT di garis startnya berulang-ulang. Setelah kering, kertas dimasukkan dalam pelarut jenuh dan dibiarkan bergerak menuju garis finish. Kromatografi lapis tipis menggunakan lempeng tipis/ plastik yang dilapisi adsorben sebagai penyangga. Kromatografi kertas menggunakan kertas sebagai penyangga (Rouessac 2007).Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana prinsip kerja dari kromatografi planar, senyawa apa saja yang dapat dianalisis, instrument yang digunakan, cara kerja instrument, dan bagaimana aplikasinya dalam bidang farmasi. B. Rumusan Masalah1. Apakah pengertian dari KLT?2. Apakah prinsip dari kromatografi lapis tipis?3. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi pemisahan pada KLT?4. Apakah fase diam dan fase gerak pada kromatografi lapis tipis?5. Apa saja senyawa yang dapat dianalisis dengan kromatografi lapis tipis?6. Instrument apa saja yang digunakan dalam kromatografi lapis tipis?7. Bagaimana cara kerja dari instrument tersebut?8. Bagaimana cara kerja kromatografi lapis tipis?9. Bagaimana aplikasi kromatografi lapis tipis dalam bidang farmasi?

BAB IIISI

2.1 Pengertian Kromatografi Lapis TipisKromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan cara pemisahan campuran senyawa menjadi senyawa murninya dan mengetahui kuantitasnya yang menggunakan. Kromatografi juga merupakan analisis cepat yang memerlukan bahan sangat sedikit, baik penyerap maupun cuplikannya. KLT dapat digunakan untuk memisahkan senyawa senyawa yang sifatnya hidrofobik seperti lipida lipida dan hidrokarbon. Penggunaan Kromatografi Lapis tipis antara lain1. Untuk penentuan jumlah komponen dalam campuran. 2. Untuk penentuan identitas antara dua campuran. 3. Untuk memonitor perkembangan reaksi. 4. Untuk penentuan keefektifan pemurnian. 5. Untuk penentuan kondisi yang sesuai untuk pemisahan pada kromatografi kolom. 6. Untuk memonitor kromatografi kolom(Hendayana, 2010).KLT dapat dipakai dengan dua tujuan. Pertama, dipakai selayaknya sebagai metode untuk mencapai hasil kualitatif, kuantitatif, atau preparatif. Kedua, dipakai untuk menjajaki system pelarut dan system penyangga yang akan dipakai dalam kromatografi kolom atau kromatografi cair kinerja tinggi (Roy,1991).2.2 Prinsip Kerja Kromatografi Lapis TipisPrinsip KLT adalah pemisahan komponen kimia berdasarkan prinsip adsorbsi dan partisi, yang ditentukan oleh fase diam (absorban) dan fase gerak (eluen), komponen kimia bergerak naik mengikuti fase gerak karena daya serap adsorben terhadap komponen-komponen kimia tidak sama sehingga komponen kimia dapat bergerak dengan kecepatan yang berbeda berdasarkan tingkat kepolarannya, hal inilah yang menyebabkan terjadinya pemisahan. Berdasarkan jenis kepolaran, Thin Layer Chromatography (TLC) system, atau disebut sebagai kromatografi lapis tipis dibedakan menjadi dua, yaitu normal phase (NP) dan reversed phase (RP). Normal PhaseFase diam yang digunakan bersifat polar, misal gel silika, dan untuk fase geraknya adalah pelarut organik atau campuran pelarut organik yang bersifat kurang polar dari fase diamnya. Pada umumnya digunakan campuran antara kloroform dan metanol dengan berbagai perbandingan dimana komponen kloroform diberikan porsi yang lebih besar sebagai contoh (CHCl3:MeOH = 65:35,70:30,75:25).

Reversed PhaseFase diam yang digunakan adalah silika yang berikatan dengan senyawa organik, misalnya asal alifatik rantai panjang seperti C-18 dan fase geraknya adalah campuran air dan pelarut organik yang lebih polar dari fase diamnya. Pada RP sistem solvent yang digunakan memiliki sifat kepolaran yang tinggi, dalam hal ini campuran antara metanol dan air merupakan perpaduan yang sering digunakan dengan berbagai perbandingan misalnya Mr OH:air = 30:40, 50:50, atau 30:20. Angka perbandingan ini disesuaikan dengan karakteristik senyawa yang sedang diuji (Hendayana, 2010).Pada proses pemisahan dengan kromatografi lapis tipis,terjadi hubungan kesetimbangan antara fase diam dan fase gerak, dimana ada interaksi antara permukaan fase diam dan fase gerak, dimana ada interaksi antara permukaan fase diam denagn gugus fungsi senyawa organik yang akan diidentifikasi yang telah berinteraksi dengan fase geraknya. Kesetimbangan ini dipengaruhi oleh tiga faktor,yaitu : kepolaran fase diam,kepolaran fase gerak, serta kepolaran dan ukuran molekul.

2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemisahan KLTTeknik kromatografi lapis tipis (KLT) dikembangkan olen Egan Stahl dengan menghamparkan penyerap pada lempeng gelas, sehingga merupakan lapisan tipis. KLT merupakan kromatografi serapan, tetapi dapat juga merupakan kromatografi partisi karena bahan penyerap telah dilapisi air dari udara. Ada beberpa faktor yang mempengaruhi gerakan noda dalam kromatografi lapisan tipis yang juga mempengaruhi harga Rf adalah:1. Struktur kimia dari senyawa yang sedang dipisahkan2. Sifat dari penyerap dan derajat aktifitasnyaBiasanya aktifitas dicapai dengan pemanasan dalam oven, hal ini akan mengeringkan molekul-molekul air yang menempati pusat-pusat serapan dari penyerap. Perbedaan akan memberikan perbedaan yang besar terhadap harga Rf meskipun menggunakan fase bergerak dan zat terlarut3. Tebal dan kerataan dari lapisan penyerapPada prakteknya tebal lapisan tidak dapat dilihatpengaruhnya, tetapi perlu diusahakan tebal lapisan yang rata. Ketidakrataan akan menyebabkan aliran pelarut menjadi tak rata pula dalam daerah yang kecil dari plat.4. Pelarut (dan derajat kemurniannya) fasa bergerak.Kemurnian dari pelarutyang digunakan sebagai fasa bergerak dalam kromatografi lapisan tipis adalah sangat penting dan bila campuran pelarut digunakan maka perbandingan yang dipakai harus betul-betul diperhatikan.5. Derajat kejenuhan dan uap dalam bejana pengembangan yang digunakan.6. Teknik PercobaanArah pelarut bergerak di atas plat. (Metode aliran penaikan yang hanya diperhatikan, karena cara ini yang paling umum meskipun teknik aliran penurunan dan mendatar juga digunakan).7. Jumlah cuplikan yang digunakanPenetesan cuplikan dalam jumlah yang berlebihan memberikan hasil penyebaran noda-noda denga kemungkinan terbentuknya ekor dan efek tak kesetimbangan lainnya,hingga akan mengakibatkan kesalahan-kesalahan pada harga-harga Rf.8. SuhuPemisahan-pemisahan sebaiknya dikerjakan pada suhu tetap,hal ini terutama untuk mencegah perubahan-perubahan dalam komposisi pelarut yang disebabkan oleh penguapan atau perubahan-perubahan fasa.9. KesetimbanganTernyata bahwa kesetimbangan dalam lapisan tipis lebih penting dalam kromatografi kertas,hingga perlu mengusahakan atmosfer dalam bejana jenuh dengan uap pelarut, bila digunakan pelarut campuran ,akan terjadi pengembanagn dengan permukaan pelarut yang berbentuk cekung dan fase bergerak lebih cepat pada bagian tepi-tepi dan keadaan ini harus dicegah.(Peter,2005)

2.4 Fase Diam dan Fase GerakKromatografi lapis tipis atau biasa disingkat KLT merupakan salah satu bentuk kromatografi planar, selain kromatografi kertas dan elektroforesis. Pada KLT fase diamnya berupa lapisan yang seragam pada permukaan bidang datar yang didukung oleh lempeng kaca, pelat aluminium atau pelat plastik. Fase geraknya yang dikenal sebagai pelarut pengembang akan bergerak sepanjang fase diam karena pengaruh kapiler pada pengembangan secara ascending atau karena pengaruh gravitasi pada pengembangan secara descending. Fase diam yang digunakan dalam KLT merupakan penjerap berukuran kecil dengan diameter partikel antara 10-30 mikrometer. Penjerap yang paling banyak digunakan adalah silika dan serbuk selulosa. Fase gerak pada KLT yang paling sederhana terdiri dari 2 campuran pelarut organic karena daya elusi dua campuran pelarut tersebut mudah diatur sedemikian