Tugas Rangkuman Hukum Perdata

download Tugas Rangkuman Hukum Perdata

of 54

  • date post

    15-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    30
  • download

    7

Embed Size (px)

description

Tugas Rangkuman Hukum Perdata

Transcript of Tugas Rangkuman Hukum Perdata

TUGAS RANGKUMAN HUKUM PERDATAJUDUL BUKU : PENGANTAR HUKUM PERDATA DI INDONESIAPENGARANG : Titik Triwulan Tutik, S. H., M. HPENERBIT : PERPUSTAKAAN NASIONAL

Tugas ini disusun oleh :NAMA : PUTI MARINA SUSANTIJURUSAN : S1 HukumNPM : 31110150FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS BATAM

PENGANTAR HUKUM PERDATA DI INDONESIAPenulis: Titik Triwulan Tutik, S. H., M. HEditor: RinaDesain Cover: Sulitno HarahapJakarta IndonesiaPerpustakaan NasionalKatalog Dalam Terbitan (KDT)14 x 20,5 cmISBN 979-24-1115-1Cetakan Pertama September 2006

Biodata PenulisTitik Triwulan Tutik, S. H., M. H., lahir di Tuban, 29 Maret 1968. Pendidikan Dasar (SD dan SMP) dan Pendidikan Menengah (SMA) diselesaikan di kota kelahirannya. Setelah menyelesaikan sarjana hukum, melanjutkan ke Program Ilmu Hukum Universitas Airlangga (2003-2005) dengan Beasiswa Program Pasca Sarjana (BPPS). Sekarang penulis sedang melanjutkan studi di Program Doktor pada Program Studi Ilmu Hukum Program Pasca Sarjana Universitas Airlangga. Pengalaman pekerjaan dimulai sebagai Dosen Tetap di STAIN Palangkaraya dan sejak 2001 penulis sebagai Dosen Tetap di Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya.Tesis masternya tentang Pemilihan Kepala Daerah Berdasarkan UU No. 32 tahun 2004 dalam Sistem Pemilu Menurut UUD 1945 telah diterbitkan oleh Prestasi Pustaka (2005), sedangkan Buku Pokok-Pokok Hukum Tata Negara (Prestasi Pustaka, 2005) menjadi salah satu bacaan wajib bagi mahasiswa. Sementara Kata yang lain Pengantar Hukum (Prestasi Pustaka, 2006), dan tinjauan Yuridis Hukum serta Kewajiban Pendidik Menurut Undang-Undang Guru dan Dosen (Persati Pustaka, 2006). Tidak kurang dari 25 tulisan ilmiah tentang hukum, pendidikan, seni dan budaya serta gender telah dimuat dalam beberapa Jurnal Ilmiah, Majalah Pendidikan, Majalah Keagamaan dan Majalah Seni Budaya.

BAB IISISTEMATIKA HUKUM PERDATA INDONESIA

A. Sistematika Hukum Perdata di Indonesia

Menurut Ilmu Pengetahuan Hukum, Hukum Perdata dapat dibagi dalam 4 bagian, yaitu : 1). Hukum perorangan. 2). Hukum keluarga. 3). Hukum harta kekayaan. 4). Hukum waris. Hukum perorangan (personenrecht), yang memuat antara lain: 1). Peraturan tentang manusia sebagai subyek hukum, kewenangan hukum, domisili dan catatan sipil. 2). Peraturan-peraturan tentang kecakapan untuk memiliki hak-hak dan untuk bertindak sendiri melaksanakan hak-haknya itu. 3). Hal-hal yang mempengaruhi kecakapan-kecakapan tersebut. Hukum keluarga (familirecht) yang memuat antara lain: 1). Perkawinan beserta hubungan dalam hukum harta kekayaan antara suami dan isteri. 2). Hubungan antara orang tua dan anak-anaknya. 3). Perwalian, hubungan antara wali dengan anak. 4). Pengampuan, hubungan antara orang yang diletakan di bawah pengampuan karena gila atau kurang sehat atau karena pemborosan. Hukum Harta Kekayaan (vermogenrecht) yang mengatur tentang hubungan hukum yang dinilaikan dengan uang. Hukum ini meliputi: 1). Hak mutlak, yaitu hak-hak yang berlaku terhadap tiap orang, meliputi : a). hak kebendaan, yaitu hak memberikan kekuasaan atas suatu benda yang dapat terlihat. b). hak mutlak, hak suatu benda yang tidak dapat terlihat, misalnya, hak seorang pengarang atas karanganya, hak seorang pedagang untuk memakai sebuah merk, dll. 2). Hak perorangan, yaitu hak-hak yang hanya berlaku terhadap seorang atau suatu pihak tertentu saja. Hukum Waris (efrecht), adalah hukum yang mengatur tentang benda dan kekayaan seseorang yang meninggal dunia. Dengan kata lain bahwa hukum tersebut mengatur akibat-akibat dari hubungan keluarga terhadap harta peninggalan seseorang.Hukum Perdata tertulis Indonesia yang terkemas dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek) pertama kali diundangkan melalui Staatsblad 1847-23 dengan publikasi 30 April 1847, dan dinyatakan masih berlaku berdasarkan pasal 1 aturan peralihan UUD 1945.Sesuai dengan ketentuan pasal 163 I.S diatur tentang penggolongan penduduk di Indonesia. Pada mulanya, Burgerlijk Wetboek hanya berlaku bagi golongan eropa saja, tetapi karena untuk memudahkan hubungan perdagangan dengan golongan Timur Asing Tionghoa, maka Staatblad 1917-129 jo Staatblad 1919-81, Staatblad 1924-557 dan Staatblad 1925-92, Burgerlijk Wetboek diterapkan bagi golongan Asing Timur Tionghoa. Kemudian ketentuan pada pasal 131 ayat 6 I.S, Burgerlijk Wetboek tidak berlaku bagi golongan Bumi Putera, kecuali jika pihak yang bersangkutan secara sukarela menundukan diri (Stb. 1917-12). Kemudian berdasarkan surat edaran Mahkamah Agung nomor 3 tahun 1963 yang ditujukan kepada ketua seluruh pengadilan negeri di Indonesia, untuk menyatakan bahwa BW, yaitu pasal 108,110,284, ayat 3, 1238, 1460, 1579, 1603 dan 1682 tidak berlaku lagi.Berdasarkan sistematika yang ada di KUH Perdata (BW) diatas, hukum Perdata terdiri atas 4 bagian buku, yaitu:1. Buku I perihal orang (van personen), yang memuat hukum perorangan dan hukum kekeluargaan.2. Buku II perihal benda (van Zaken), yang memuat hukum Benda dan hukum Waris.3. Buku III perihal perikatan (Van Verbintenniissen), yang memuat hukum harta kekayaan yang berkenaan dengan hak-hak dan kewajiban yang berlaku bagi orang-orang atau pihak tertentu.4. Buku IV perihal pembuktian kadaluarsa (Van Bewijsen Verjaring ), yang memuat perihal alat-alat pembuktian dan akibat-akibat lewat waktu terhadap hubungan-hubungan hukum.Berkaitan dengan hal tersebut dilihat dari segi isi masing-masing buku dalam KUH Perdata, maka substansi KUH Perdata terbagi dalam 2 bagian yaitu:1. Buku I, II dan III berisi ketentuan-ketentuan hukum perdata materiil.2. Buku IV berisi ketentuan-ketentuan hukum perdata formil.Ditinjau dari segi perkembangan hukum perdata di Indonesia sekarang menunjukan tendensi perubahan. Sebagaimana sistematika hukum hukum perdata Belanda yang diundangkan pada tanggal 3 Desember 1987 Stb. 590 dan mulai berlaku 1 April 1988 meliputi lima buku, yaitu:1. Buku I tentang Hukum Orang dan Keluarga (Personen-en-Famili-erecht)2. Buku II tentang Hukum Badan Hukum (Rechtpersoon)3. Buku III tentang Hak Kebendaan (Van Zaken)4. Buku IV tentang hukum perikatan (Van Verbintennissen)5. Buku V tentang Daluarsa (Van Verjaring).

B. Eliminasi dan Reduksi Pasal-Pasal KUH Perdata (BW)

BW sekarang bukanlah KUH Perdata yang berlaku secara menyeluruh, sebagaimana mulai diberlakukan pada tanggal 1 Mei 1848, tetapi beberapa ketentuan telah mengalami eliminasi, baik karena peraturan perundang-undangan nasional di lapangan perdata yang menggantikanya, ataupun dikesampingkan dan mati oleh putusan-putusan hakim yang merupakan yurispudensi karena ketentuan-ketentuan BW dianggap tidak sesuai dengan perkembangan masyarakat dan kemajuan zaman.1. Pasal-pasal yang masih berlaku penuh :a) Pasal tentang benda bergerak, pasal 505,509-518 KUH Perdatab) Pasal tentang penyerahan benda bergerak, pasal 612 dan 613 KUH Perdatac) Pasal tentang bewoning, ini hanya mengenai rumah pasal 826-827 KUH Perdatad) Pasal tentang hukum Waris, pasal 830-1130 KUH Perdata. Walaupun ada beberapa pasal dalam hukum waris yang juga mengenai tanah, diwarisi menurut hukum yang berlaku bagi si pewaris.e) Pasal-pasal tentang piutang yang diistimewakan (prevelige) pasal 1130-1149 KUH Perdata.f) Pasal pasal tentang gadai, karena gadainya melulu mengenai benda bergerak, pasal 1150-1160 KUH Perdata.2. Pasal-pasal yang tidak berlaku:a) Pasal-pasal tentang benda tidak bergerak yang selalu berhubungan dengan hak-hak mengenai tanahb) Pasal-pasal tentang cara memperoleh hak milik melulu mengenai tanahc) Pasal-pasal tentang penyerahan benda-benda tidak bergerak, tidak pernah berlakud) Pasal-pasal tentang kerja rodi, pasal 673 KUH Perdatae) Pasal-pasal hak dan kewajiban pemilik pekarangan bertetangga, pasal 625-672 KUH Perdataf) Pasal-pasal tentang pengabdian pekarangan, pasal 674-710 KUH Perdatag) Pasal-pasal tentang hak postal, pasal 711-719 KUH Perdatah) Pasal-pasal tentang hak Erpacht, pasal 720-736 KUH Perdatai) Pasal-pasal tentang bunga tanah dan hasil sepersepuluh, pasal 737-755 KUH Perdata.3. Pasal-pasal yang berlaku tetapi tidak penuh:a) Pasal-pasal tentang benda pada umumnyab) Pasal-pasal tentang cara membedakan benda, pasal 503-505 KUH Perdatac) Pasal-pasal tentang benda sepanjang tidak mengenai tanah, terletak diantara pasal 529-568 KUH Perdatad) Pasal tentang hak milik sepanjang tidak mengenai tanah, terletak diantara pasal 570 KUH Perdatae) Pasal tentang hak memungut hasil sepanjang tidak mengenai tanah, pasal 756 KUH P erdataf) Pasal tentang hak pakai sepanjang tidak mengenai tanah, pasal 818 KUH Perdatag) Pasal-pasal tentang hipotek sepanjang tidak mengenai tanah.Adapun pasal pasal-pasal yang merupakan pelaksanaan atau berkaitan dengan pasal-pasal yang tidak berlaku lagi, meskipun tidak secara tegas dicabut dan diletakan diluar buku II, yaitu pasal 1588-1600 buku III tentang sewa menyewa tanah, pasal 1955 dan 1963 buku IV Verjaring sebagai upaya untuk mendapatkan hak eigendom atas tanah, oleh para ahli dianggap tidak berlaku lagi.

BAB IIIHUKUM TENTANG ORANG(PERSONENNRECHT)

KONSEP DASARIstilah hukum (tentang) orang berasal dari terjemahan kata personennrecht (belanda) atau personal law (inggris). Pengertian hukum menurut subekti adalah peraturan tentang manusia sebagai subyek dalam hukum, peraturan-peraturan perihal kecakapan untuk memiliki hak dan kewajiban untuk bertindak sendiri, melaksanakan hak-hak nya itu serta hal-hal yang mempengarui kecakapan itu. Pengertian ini merujuk hukum orang dari aspek ruang lingkupnya,yang meliputi subyek hukum, kecakapan hukum dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.tetapi apabila dikaji secara mendalam definisi tersebut kurang lengkap karena dalam hukum orang juga diatur tentang domisili dan catatan sipil.Hukum (tentang) orang dalam BW diatur dalam buku I yang berjudul van personen. Menurut Soetojo Prawirohamidjojo dan Martalena Pohan menyatakan bahwa pemberian judul tersebut pada dasarnya kurang tepat dan lebih tepat berjudul personen en familie recht. Dasar pemikiran tersebut melihat bahwa keber