Tugas PHI Finising

download Tugas PHI Finising

of 24

  • date post

    11-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    53
  • download

    9

Embed Size (px)

Transcript of Tugas PHI Finising

Tugas Pengantar Hukum Indonesia Nama : Mohammad Qudhsi Zarkasi NIM : 120710101316 Kelas : A Ilmu Hukum Tata Negara 1. Peristilahan Ilmu Hukum Tata Negara adalah salah satu cabang ilmu hukum yang secara khusus mengkaji persoalan hukum dalam konteks kenegaraan. Kita memasuki bidang hukum tata negara, menurut Wirjono Prodjodikoro, apabila kita membahas normanorma hukum yang mengatur hubungan antara subjek hukum orang atau bukan orang dengan sekelompok orang atau badan hukum yang berwujud negara atau bagian dari negara. Dalam bahasa Perancis, hukum tata negara disebut Droit Constitutionnel atau dalam bahasa Inggris disebut Constitutional Law. Dalam bahasa Belanda dan Jerman, hukum tata negara disebut Staatsrecht, tetapi dalam bahasa Jerman sering juga dipakai istilah verfassungsrecht (hukum tata negara) sebagai lawan perkataan verwaltungsrecht (hukum administrasi negara). Dalam bahasa Belanda, untuk perkataan hukum tata negara juga biasa dipergunakan istilah staatsrecht atau hukum negara (state law). Dalam istilah staatsrecht itu terkandung 2 (dua) pengertian, yaitu staatsrecht in ruimere zin (dalam arti luas), dan staatsrecht in engere zin (dalam arti sempit). Staatsrecht in engere zin atau Hukum Tata Negara dalam arti sempit itulah yang biasanya disebut Hukum Tata Negara atau Verfassungsrecht yang dapat dibedakan antara pengertian yang luas dan yang sempit. Hukum Tata Negara dalam arti luas (in ruimere zin) mencakup Hukum Tata Negara (verfas- sungsrecht) dalam arti sempit dan Hukum Administrasi Negara (verwaltungsrecht). Prof. Dr. Djokosoetono lebih menyukai peng- gunaan verfassungslehre daripada verfassungsrecht. Dalam berbagai kuliahnya yang dikumpulkan oleh salah seorang mahasiswanya, yaitu Harun Alrasid, pada tahun1959,dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1982, Djokosoetono berusaha mengambil jalan tengah antara Carl Schmitt yang menulis buku Verfassungslehre dan Hermann Heller dengan bukunya Staatslehre. Istilah yang tepat untuk Hukum Tata Negara sebagai ilmu (constitutional law) adalah Verfassungslehre atau teori konstitusi. Verfassungslehre inilah yang nantinya akan menjadi dasar untuk mempelajari verfassungsrecht, teru- tama mengenai hukum tata negara dalam arti positif,

1

yaitu hukum tata negara Indonesia. Istilah "Hukum Tata Negara" dapat dianggap identik dengan pengertian atau "Hukum Konstitusi" yang merupakan terjemahan langsung dari perkataan Constitutional Constitutionale (Italia),

Law (Inggris), Droit Constitutionnel (Perancis), Diritto

Verfassungsrecht (Jerman). Dari segi bahasa, istilah Constitutional Law dalam bahasa Inggris memang biasa diterjemahkan sebagai "Hukum Konstitusi". Namun, istilah "Hukum Tata Negara" itu sendiri jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, niscaya perkataan yang dipakai adalah Constitutional Law. belaka dari "Hukum Konstitusi". Di antara para ahli hukum, ada pula yang berusaha membedakan kedua istilah ini dengan menganggap bahwa istilah Hukum Tata Negara itu lebih luas cakupan pengertiannya dari pada istilah Hukum Konstitusi. Hukum Konstitusi dianggap lebih sempit karena hanya membahas hukum dalam perspektif teks undang-undang dasar, sedangkan Hukum Tata Negara tidak Pembedaan ini sebenarnya terjadi hanya karena terbatas pada undang-undang dasar. kesalahan dalam mengartikan perkataan Oleh karena itu,

Hukum Tata Negara dapat dikatakan identik atau disebut sebagai istilah lain

konstitusi (verfassung) itu sendiri yang seakan-akan diidentikkan dengan undangundang dasar (gerundgesetz). Karena kekeliruan tersebut, Hukum Konstitusi dipahami lebih sempit daripada Hukum Tata Negara. Perkataan "Hukum Tata Negara" berasal dari perkataan "hukum", "tata", dan "negara", yang di dalamnya dibahas mengenai urusan penataan negara. Tata yang terkait dengan kata "tertib" adalah order yang biasa juga diterjemahkan sebagai "tata tertib". Tata negara berarti sistem penataan negara, yang berisi ketentuan mengenai struktur kenegaraan dan substansi norma kenegaraan. Dengan perkataan lain, ilmu Hukum Tata Negara dapat cabang ilmu hukum yang membahas mengenai tatanan struktur dikatakan merupakan

kenegaraan, mekanisme hubungan antar struktur-struktur organ atau struktur kenegaraan, serta mekanisme hubungan antara struktur negara dengan warga negara. Hanya saja, yang dibahas dalam Hukum Tata Negara atau Hukum Konstitusi itu sendiri hanya terbatas pada hal-hal yang berkenaan dengan aspek hukumnya saja. Oleh karena itu, lingkup bahasannya lebih sempit daripada Teori Konstitusi sebagaimana yang dianjurkan untuk dipakai oleh Prof. Dr. Djokosoetono, yaitu Verfassungslehre atau Theorie der Verfassung. Istilah Verfassungslehre Verfassungsrecht. itu, der menurut Djokosoetono lebih luas dari- pada Theorie der2

Theorie

Verfassung

lebih luas daripada

Verfassungsrecht. Untuk kepentingan ilmu pengetahuan, Djokosoetono menganggap lebih tepat untuk menggunakan istilah "Teori Konstitusi" daripada "Hukum Konstitusi" ataupun "Hukum Tata Negara". Sebab yang dibahas di dalamnya adalah persoalan konstitusi dalam arti yang luas dan tidak hanya terbatas kepada aspek hukumnya, maka yang lebih penting adalah Theorie der Verfassung atau Verfassunglehre (Teori Konstitusi), bukan Theorie der Verfassungsrecht, The orie der Constitutionnel Recht (Teori Hukum Konstitusi atau Teori Hukum Tata Negara), ataupun Theorie der Gerundgesetz (Teori Undang-Undang Dasar). Sejalan dibandingkan mengenai dengan pula penggunaan dalam kata arti theorie dan lehre tersebut, dapat antara staatsrecht dengan staatslehre. Dalam staatslehre di- bahas negara luas, sedangkan staatsrecht hanya mengkaji

persoalan

aspek hukumnya saja, yaitu hukum negara (state law). Dapat disebut beberapa sarjana yang mempopulerkan istilah staats- lehre ini, misalnya adalah Hans Kelsen dalam buku "Algemeine Staatslehre" dan Herman luas Heller dalam bukunya "Staatslehre". staatsrecht, seperti halnya Cakupan pengertiannya jelas le- bih daripada

verfassunglehre lebih luas daripada verfassungsrecht. Konstitusi atau verfassung itu sendiri, menurut Thomas Paine dibuat oleh rakyat untuk membentuk pemerintahan, bukan sebaliknya ditetapkan oleh pemerintah untuk rakyat. Bahkan, lebih lanjut dikatakan oleh Paine bahwa "A constitution is a thing antecedent to a government and a government is only the creature of a constitution". Konstitusi itu mendahului pemerintahan, karena pemerintahan itu justru dibentuk berdasarkan konstitusi. Oleh karena itu, konstitusi lebih dulu ada daripada pemerintahan. Pengertian bahwa konstitusi mendahului pemerintahan tetap berlaku, meskipun dalam praktik banyak negara sudah lebih dulu diproklamasikan baru undang- undang dasarnya disahkan. Misalnya, the Federal Con stitution of the United States of America baru disahkan pada tanggal 17 September 1787, yaitu 11 tahun setelah deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat dari Inggris pada tanggal 4 Juli 1776. Bekas negara federasi Uni Soviet mengesahkan undang-undang dasarnya (Konsti- tusi Federal) pada tahun 1924, setelah 2 tahun ber- dirinya, yaitu pada 30 Desember 1922. Kerajaan Belanda yang sekarang juga baru mengesahkan Grondwet pada tanggal 2 Februari 1814, yaitu setelah 2 bulan dan 11 hari sejak proklamasi kemerdekaannya dari Perancis pada tanggal 21 November 1813. Republik Indonesia sendiri yang sudah diproklamasikan sebagai negara merdeka dan berdaulat pada tanggal 17 Agustus 1945, baru mengesahkan Undang-Undang Dasar 1945 pada tanggal 18 Agustus 1945. Dalam ilmu hukum tata negara juga berlaku doktrin "teori fiktie hukum"3

(legal

fiction

theory)

yang menyatakan

bahwa

suatu

negara itu

dianggap terletak

telah pada

memilikikonstitusi sejak negara itu terbentuk. Terbentuknya negara tindakan yang secara resmi menyatakannya terbentuk, yaitu

melalui

penyerahan

kedaulatan (transfer of authority) dari negara induk seperti penjajah kepada negara jajahannya, melalui pernyataan deklarasi dan proklamasi, ataupun melalui revolusi dan perebutan kekuasaan melalui kudeta. Secara juridis formal, negara yang bersangkutan atau pemerin- tahan tersebut dapat dinyatakan legal secara formal sejak terbentuknya. Namun, legalitas tersebut masih bersifat formal dan sepihak. Oleh karena itu, derajat legitimasinya masih tergantung kepada pengakuan pihak- pihak lain. Istilah constitution dalam bahasa Inggris sepadan dengan perkataan grondwet dalam bahasa Belanda dan gerundgesetz dalam bahasa Jerman. Grond dalam bahasa Belanda memiliki makna yang sama dengan Gerund dalam bahasa Jerman yang berarti "dasar". Sedangkan, wet atau gesetz biasa diartikan undang-undang. sebab itu, dalam Oleh bahasa Indonesia, grondwet itu disebut dengan istilah undang-

undang dasar. Namun, para ahli pada umumnya sepakat bahwa pengertian kata konstitusi itu lebih luas daripada undang-undang dasar. Sarjana Belanda seperti L.J. van Apeldoorn juga menyatakan bahwa constitutie itu lebih luas daripada grondwet. Menurut Apeldoorn, grondwet itu hanya memuat bagian tertulis saja dari constitutie yang Jerman, verfassung dalam arti konstitusi dianggap lebih luas gerundgestz dalam arti undang-undang dasar. Oleh karena itu, sampai sekarang, dalam bahasa Jerman, dibedakan antara istilah gerundrecht (hak dasar), verfassung, dan gerundgezet. Kemudian dalam bahasa Belanda juga dibedakan antara grond-recht (hak dasar), constitutie, dan grondwet. Demikian pula dalam bahasa Perancis, dibedakan antara Droit Constitutionnel dan Loi Constitutionnel. Istilah yang pertama identik dengan pengertian konstitusi, sedang yang kedua adalah undang-undang dasar dalam arti konstitusi yang tertuang dalam naskah tertulis. Untuk pengertian konstitusi dalam arti undang-undang dasar, sebelum di- pakainya istilah grondwet, di Belanda pernah dipakai juga istilah staatsregeling. Atas prakarsa Gijsbert Karel van Hogendorp pada tahun 1813, istilah grondwet dipakai untuk mengg