Tugas PBL Blok 26 Dina

download Tugas PBL Blok 26 Dina

of 24

  • date post

    09-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    54
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Tugas PBL Blok 26 Dina

Program Pemberantasan DHF di PKM

Dinna Mulyani*10-2009-046Mahasiswi, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida WacanaJalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510Telephone : (021) 5694-2061Fax : (021)- 563 1731

PendahuluanDemam Berdarah Dengue (DHF) pada saat ini merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Oleh menteri Kesehatan Republik Indonesia. DHF telah ditetapkan menjadi salah satu penyakit menular yang harus dilaporkan dalam wakti satu kali dua puluh empat jam. Hal ini disebabkan karena angka kematian yang tinggi, angka kesakitan cenderung meningkat dari tahun ke tahun, daerah yang terjangkit semakin meluas khususnya di daerah perkotaan yang padat dan adanya beberapa Kejadian Luar Biasa (KLB) yang berdampak pada bidang pariwisata.Penyakit DHF dalam dua puluh tahun terakhir merupakan penyakit yang menimbulkan keresahan masyarakat karena menyerang terutama pada anak-anak dan terjadinya kematian yang mendadak sesudah demam tinggi yang timbul mendadak, serta menyerang beberapa anggota keluarga secara bersamaan atau selang beberapa hari dan penyakit ini sulit diramalkan kesudahannya.1Penyebab penyakit DHF adalah virus dengue yang termasuk dalam group B arbovirus. Sebelum pertengahan abad ke-20 virus dengue dikenal hanya menyebabkan penyakit demam dengue (demam klasik) dengan gejala utama yaitu demam tinggi, nyeri pada sendi atau anggota tubuh, kadang-kadang timbul ruam makulo-papular dan sembuh dalam waktu 5 hari dengan atau tanpa pengobatan. DHF pertama kali dilaporkan di Manila pada tahun 1953. Pada saat wabah menyerang anak-anak dengan tanda demam tinggi disertai perdarahan dan shock. Tahun-tahun berikutnya menyebar ke Asia Tenggara dan ke Kepulauan Pasific.Vektor penyakit ini adalah nyamuk Aedes aegypti yang banyak terdapat di perkotaan dan Aedes Albopictus (transmitan co-vector) di perdesaan.Penularan DHF berkaitan dengan musim penghujan khususnya pada permulaan dan pada akhir musim penghujan. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya tempat perindukan nyamuk Aedes aegypty di luar rumah sehingga populasi nyamuk Aedes aegypti yang meningkat.EpidemiologiI. Faktor agentPenyakit DHF disebabkan oleh virus dengue. Virus ini termasuk dalam grup B Antropod Bone Virus (Arbo virus) kelompok flavivirus dari famili flaviviridae yang terdiri dari empat serotipe yaitu DEN 1, DEN 2, DEN 3, dan DEN 4.1-6 Infeksi virus dengue telah ada di Indonesia sejak abad ke-18 seperti yang dilaporkan oleh David Bylon seorang dokter berkebangsaan Belanda. Saat itu infeksi virus dengue menimbulkan penyakit yang dikenal sebagai penyakit demam lima hari (vijvdaagse koorts) kadang-kadang disebut juga sebagai demam sendi (knokkel koorts).1 Disebut demikian karena demam yang terjadi meghilang dalam lima hari dan disertai nyeri pada sendi, nyeri otot, dan nyeri kepala. Pada masa itu infeksi virus dengue di Asia Tenggara hanya merupakan penyakit ringan yang tidak pernah menimbulkan kematian.1 Tetapi sejak tahun 1952 infeksi virus dengue menimbulkan penyakit dengan manifestasi klinis berat yaitu DHF yang ditemukan di Manila, Filipina.1 Kemudian menyebar ke negara lain seperti Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Indonesia. Pada tahun 1968, penyakit DHF dilaporkan di Surabaya dan Jakarta dengan jumlah kematian yang sangat tinggi.

2Masing-masing saling berkaitan sifat antigennya di berbagai daerah di Indonesia. DEN 3 merupakan serotipe yang paling sering ditemui selama terjadinya KLB di Indonesia yang diikuti DEN 2, DEN 1, dan DEN 4.2 DEN 3 juga merupakan serotipe yang paling dominan yang berhubungan dengan tingkat keparahan penyakit yang menyebabkan gejala klinis yang berat dan penderita banyak yang meninggal.Faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan dan penyebaran kasus DHF sangat kompleks yaitu:1a) Pertumbuhan penduduk yang tinggib) Urbanisasi yang tidak terencana dan tidak terkendalic) Tidak adanya kontrol vektor nyamuk yang efektif di daerah endemisd) Peningkatan sarana transportasiII. Faktor nyamuk penularNyamuk Aedes aegypti maupun Aedes albopticus merupakan vektor penularan virus dengue dari penderita kepada orang lain melalui gigitannya. Nyamuk Aedes aegypti merupakan vektor penting di daerah perkotaan (daerah urban) sedangkan daerah perdesaan (daerah rural) kedua spesies nyamuk tersebut berperan dalam penularan.Nyamuk Aedes aegypti dewasa warna dasarnya hitam dengan belang-belang putih pada badan terutama pada kaki. Pada thorax ada tanda khas berupa bulu-bulu putih membentuk gambaran lire.Nyamuk tersebut mendapat virus dari orang yang dalam darahnya terdapat virus tersebut. Orang itu (carrier) tidak harus orang yang sakit demam berdarah sebab orang yang mempunyai kekebalan tidak akan tampak sakit atau bahkan sama sekali tidak sakit walaupun dalam darahnya terdapat virus dengue. Dengan demikian orang tersebut dapat menularkan penyakit kepada orang lain. Virus dengue akan berada dalam darah manusia selama 1 minggu.7 Biasanya orang dewasa mempunyai kekebalan dengan virus ini. Nyamuk aedes aegypti bersifat endo dan eksofagik. Aktif menghisap darah pada siang hari dengan dua puncak waktu yaitu pada jam 8.00-12.00 dan pada jam 15.00-17.00.2- Beristirahat pada benda-benda tergantung dan perabot-perabot yang terlindungi dari cahaya matahari atau pada tumbuhan-tumbuhan di luar rumahDi alam bebas nyamuk dewasa hidup kurang lebih 10 hari. Jarak terbang nyamuk kurang lebih 30 meter dalam radius lebih kurang 100 meter.43Tempat perindukan nyamuk aedes aegypti ialah tempat-tempat yang mengandung air jernih. Tempat-tempat yang mempunyai resiko tinggi untuk terjadinya penularan demam berdarah ialah tempat umum seperti rumah sakit, puskesmas, selolah, hotel atau tempat penginapan yang kebersihan lingkungannya tidak terjaga khususnya kebersihan tempat-tempat penampungan air (bak mandi, WC, dan lain-lain)Rumah atau tempat tinggal yang buruk atau kumuh dapat mendukung terjadinya penularan penyakit dan gangguan kesehatan seperti:8a) Infeksi saluran napasContoh: Common cold, TBC, influenza, pertusisb) Infeksi pada kulitContoh: Skabies, ring worm, impetigo, dan lepra.c) Infeksi akibat infestasi tikusContoh: Pes dan leptospirosis.d) ArthropodaContoh: dengue, malaria, dan kaki gajah.e) KecelakaanContoh: bangunan rumah, terpeleset, patah tulang, dan gegar otak.f) MentalContoh: neurosis, gangguan kepribadian, psikosomatis, dan ulkus peptikum.Terdapat kriteria rumah yang sehat dan aman dari segi lingkungan yaitu:8a) Memiliki sumber air bersih dan sehat serta tersedia sepanjang tahunb) Memiliki tempat pembuangan kotoran, sampah, dan air limbah yang baikc) Dapat mencegah terjadi pengembangbiakan vektor penyakit seperti nyamuk, lalat, tikus, dan sebagainyad) Letak perumahan jauh dari sumber pencemaran (kawasan industri) dengan jarak minimal 5 km dan memiliki daerah penyangga atau daerah hijau serta bebas banjirIII. HostKarakteristik host (pejamu) adalah manusia yang kemungkinan terjangkit penyakit DHF. Pada beberapa penelitian menunjukan bahwa anak-anak lebih rentan tertular penyakit yang berpotensi mematikan ini.

4Di daerah endemik, mayoritas kasus penyakit DHF terjadi pada usia kurang dari 15 tahun.9 Sebuah studi retrospektif di Bangkok yang dilaporkan WHO pada bulan Mei-November 1962 menunjukan bahwa pada populasi 870.000 anak-anak usia di bawah 15 tahun diperkirakan 150.000-200.000 mengalami demam ringan akibat infeksi virus dengue.9Di Indonesia, penderita penyakit DBD terbanyak berusia 11 tahun. Secara keseluruhan, tidak terdapat perbedaan kelamin penderita tetapi angka kematian lebih banyak pada perempuan daripada laki-laki.2Anak-anak cenderung lebih rentan daripada kelompok usia lain. Salah satu penyebabnya adalah faktor imunitas yang relatif rendah dibandingkan orang dewasa. Selain itu, pada kasus-kasus berat, yakni DHF derajat 3 dan 4, komplikasi terberat yang kerap muncul yaitu syok yang relatif lebih banyak dijumpai pada anak-anak dan sering kali tidak tertangani dan berakhir dengan kematian penderitaPendidikan akan mempengaruhi cara berpikir dalam penerimaan penyuluhan dan cara pemberantasan yang dilakukan. Hal ini berkaitan dengan pengetahuan. Hasil penelitian Nicolas Duma pada tahun 2007 di Kecamatan Baruga kota Kendari, ada hubungan yang sangat signifikan antara pengetahuan dengan kejadian DHF.IV. EnvironmentDi awal Musim hujan (September hingga Februari) meningkatkan populasi nyamuk.5 Hal ini disebabkan karena terdapat genangan air bersih di dalam sisa-sisa kaleng bekas, ban bekas, maupun benda-benda lain yang mampu menampung sisa air hujan. Di Indonesia musim kering pun populasinya tetap banyak karena orang cenderung menampung air dan di daerah sulit air orang menampung air di dalam bak air atau drum sehingga nyamuk dan jentik selalu ada sepanjang tahun.5Nyamuk Aedes aegypti sangat suka tinggal dan berkembang biak di genangan air bersih yang tidak terkontak langsung dengan tanah. Vektor penyakit DHF diketahui banyak bertelur di genangan air yang terdapat pada sisa-sisa kaleng bekas, tempat penampungan air, bak mandi, ban bekas, dan sebagainyaDi daerah Urban berpenduduk padat, puncak penderita penyakit DBD adalah bulan Juni atau Juli bertepatan dengan awal musim kemarau

5Management Program DHFI. PerencanaanPerencanaan suatu program bisa kita pakai analisis situasi berdasarkan data sebelumnya seperti penanggulangan DHF, pengobatan DHF kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan dalam upaya pencegahan DHF. Jika program terdahulu berhasil, program tersebut bisa kita pakai untuk acuan kita untuk merencanakan program sekarang yang sedang direncanakan. Dalam membuat perencanaan diperlukan dokumen yang menjadi acuan dalam pembuatan perencanaan yang berkaitan dengan penanggulangan DHF. Selain itu perencanaan anggaran perlu diperhitungkan secara cermat demi kelancaran progam tersebut. Dalam menyusun perencanaan diperlukan data-data dari puskesmas seperti:a) Jumlah kasus sebelumnyab) Data jumlah penderitac) Jumlah pendudukd) Besar wilayahe) Jumlah rumahf) Jumlah tenaga yang adag) Sarana yang adah) Da