Tugas Mata Kuliah Ekologi dan Ilmu Lingkungan

download Tugas Mata Kuliah Ekologi dan Ilmu Lingkungan

of 23

  • date post

    28-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    651
  • download

    10

Embed Size (px)

Transcript of Tugas Mata Kuliah Ekologi dan Ilmu Lingkungan

1. PendahuluanTeluk Jakarta merupakan perairan semi tertutup yang masih mendapat pengaruh sifat laut dari Laut Jawa dan menerima limpasan air sungai yang bermuara ke dalam teluk. Di perairan ini bermuara 13 sungai besar mulai dari muara sungai Cisadane di bagian barat sampai muara sungai Citarum di bagian timur. Proses pendangkalan merupakan fenomena dominan di area muara sungai karena air sungai yang masuk ke dalam teluk membawa sedimen dalam bentuk padatan tersuspensi dengan konsentrasi yang tinggi. Kedalaman laut di Teluk Jakarta sangat landai, pada kedalaman 5 m berada pada jarak 1-2 km dari garis pantai, kedalaman 10 m terdapat pada jarak 4-5 km dari garis pantai (Dinas LH DKI Jakarta, 2008).

Peta Kawasan Pantai Utara Jakarta (olahan penulis, 2010)

Arus di perairan terbuka Laut Jawa dan sepanjang pantai Jawa Barat domain merupakan hasil dari pembangkitan angin. Arus bergerak ke barat mulai bulan Mei-Oktober. Sebaliknya arus bergerak ke timur pada bulan Januari dan Februari. Secara umum semakin ke utara atau menjauhi perairan Teluk Jakarta, salinitas air laut semakin bertambah tinggi, artinya pengaruh masukan air tawar yang mengalir ke dalam teluk sudah semakin berkurang. Di lapisan permukaan laut pada kedalaman 0-10 m nilai salinitas berkisar antara 30,75 31,8 , sedangkan pada lapisan kedalaman air laut yang lebih dalam > 20 m variasi salinitas berkisar antara 31,8 33 (Dinas LH DKI Jakarta, 2008).

1

2. Arti Penting Wilayah Pesisir Teluk JakartaWilayah pesisir merupakan bagian tak terpisahkan antara komponen hayati dan nirhayati, mutlak dibutuhkan oleh manusia untuk hidup dan meningkatkan mutu kehidupan. Apabila terjadi suatu perubahan pada salah satu dari kedua komponen tersebut, maka keseimbangan ekosistem akan dapat terganggu. Kelangsungan fungsi wilayah pesisir sangat menentukan kelestarian dari sumberdaya hayati sebagai komponen utama dalam sistem di wilayah pesisir. Oleh karena itu pengelolaan pesisir baik secara langsung maupun tidak langsung harus memperhatikan keterkaitan ekologis antar ekosistem pesisir dan ekosistem daratan. Salah satu bentuk keterkaitan antara ekosistem daratan dan laut di wilayah pesisir dapat dilihat dari pergerakan air sungai, aliran air limpasan (run-off), aliran air tanah (ground water) yang mengandung beragam materi di dalamnya dimana pada akhirnya akan bermuara di perairan pesisir. Pola sedimentasi dan abrasi juga ditentukan dari pergerakan massa air baik dari daratan maupun laut, selain berperan dalam perpindahan biota perairan dan bahan pencemar dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Keterkaitan berbagai ekosistem di wilayah pesisir Teluk Jakarta seperti ekosistem mangrove, padang lamun dan terumbu karang, menjadikan wilayah pesisir Teluk Jakarta memiliki produktivitas hayati tinggi yang berperan penting dalam memelihara kebernlanjutan lingkungan sekitarnya. Keterkaitan wilayah pesisir Teluk Jakarta dengan wilayah daratan 13 DAS yang bermuara di Teluk Jakarta, menjadikan wilayah pesisir ini berperan sebagai perangkap sedimen, nutrient dan bahan-bahan pencemar yang berasal dari hulu, yang sangat berpengaruh pada produktivitas hayati dan kualitas lingkungan perairan Teluk Jakarta. a. Mangrove Komponen biota dari ekosistem mangrove adalah komunitas mangrove yang terdiri dari populasi tumbuhan (hutan) dan fauna mangrove yang berinteraksi dengan komponen abiotik mangrove seperti tanah, oksigen, nutrisi, angin, arus, air, cahaya, suhu, kelembaban, gelombang dan salinitas. Secara fisik, vegetasi mangrove berperan besar dalam menjaga pantai dari gempuran ombak dan tebing sungai dari abrasi, menahan angin, mengendapkan lumpur, mencegah intrusi air laut dan sebagai perangkap zat pencemar dan limbah. Secara biologis, vegetasi mangrove berfungsi sebagai daerah asuhan post larva (yuwana), tempat bertelur, tempat memijah dan tempat mencari makan bagi ikan dan udang. Selain itu, berfungsi juga sebagai habitat burung air, kelelawar, primata, reptil dan jenis-jenis insekta; serta sebagai penghasil bahan organik yang 2

merupakan sumber makanan biota; oleh karenanya manjadi penting dalam rantai makanan pada ekosistem perairan. Ekosistem mangrove di pesisir Teluk Jakarta terdapat di daerah hutan wisata Kamal, suaka margasatwa Muara Angke, hutan lindung Angke Kapuk, Kemayoran dan sekitar Cilincing Marunda (Dinas Kehutanan DKI Jakarta, 1996). Adapun di Kepulauan Seribu, ekosistem ini terbentuk di P. Rambut, P. Bokor, P. Untung Jawa, P. Lancang, P. Lancang Besar, P. Peteloran Barat, P. Penjaliran Barat dan P. Penjaliran Timur. Vegetasi yang tumbuh di kawasan hutan lindung Angke Kapuk, suaka margasatwa Muara Angke dan hutan wisata Kamal relatif homogen, didominasi oleh api-api (Avicennia sp), sedangkan bakau (Rhizopora sp) hanya tumbuh di beberapa area yang sempit sehingga tumbuhan tersebut tamak sporadis. Jenis vegetasi yang ada adalah Avicennia marina (kondisi kerapatan tinggi), A. officinalis (kondisi kerapatan sedang), A.alba (kondisi kerapatan tinggi), Delonix regia (kondisi kerapatan tinggi), Sonneratia caseolaris (kondisi kerapatan sedang), dan Thespesia polpulne (kondisi kerapatan sedang) pada tingkat pohon; sedangkan Avicennia marina (kondisi kerapatan tinggi), A. officinalis (kondisi kerapatan sedang), A.alba (kondisi kerapatan tinggi), Rhizopora mucronata (kondisi kerapatan tinggi), dan Excoecaria agallocha (kondisi kerapatan tinggi) pada tingkat tiang. Pada tingkat sapihan yang menonjol adalah Avicennia marina, A. officinals, A. alba, Rhizopora mucronata, Acasia auriculiformis dan Delonix regia dimana semuanya pada kondisi kerapatan tinggi. Maksud dari kerapatan rendah ialah < 5 individu; kerapatan sedang ialah 5 10 individu; dan kerapatan tinggi > 10 individu (PT. Mandara Permai, 1999). Fauna yang terdapat pada ekosistem mangrove di pesisir Teluk Jakarta didominasi oleh burung pantai yang jenisnya hampir sama dengan yang terdapat di cagar alam P. Rambut dimana kawasan tersebut merupakan habitat berbagai jenis burung, khususnya sebagai tempat berlindung, berbiak dan mencari makan. Jenis burung yang terdapat pada ekosistem mangrove mangrove adalah pecuk ular (Anhinga melanogaster), kowak maling (Nycticorax nycticorak), kuntul putih (Egretta sp), kuntul kerbau (Bubulcus ibis), cangak abu (Ardea cinerca), blekok (Ardeola speciosa), belibis (Anas gibberrifrons), cekakak (Halycon chloris), pecuk (Phalacrocorax sp) dan luwak (Mycteria cineria). Satwa lain burung adalah biawak (Varanus salvator), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) 3

dan beberapa jenis ular. Vegetasi mangrove di Kepulauan Seribu ditemui di P. Rambut, P. Bokor, P. Lancang Besar, P. Peteloran Barat, P. Penjaliran Barat dan P. Penjaliran Timur. Kondisi vegetasi mangrove saat ini telah mengalami kerusakan akibat abrasi, pencemaran dan sampah padat.

Tabel 1. Vegetasi Mangrove di Kawasan Lindung Kepulauan SeribuNo 1 Lokasi Suaka margasatwa P. Rambut Luas (ha) 27 Jumlah Jenis 9 Jenis R. stylosa, R. mucronata, S. alba, B. gymnorhiza, A. marina, I. recemosa, C. tagal, E. agallocha, A. granatum R. mucronata, S. alba R. mucronata, A. alba R. mucronata, S. alba, A. alba R. mucronata, C. tagal, A. marina R. stylosa, C. tagal, S. alba, A. marina R. stylosa, C. tagal, S. alba, A. marina

2 Cagar Alam P. Bokor 25,23 2 3 P. Untung Jawa 31 2 4 P. Lancang Besar 16,5 3 5 Cagar Alam P. Peteloran Barat 11,3 3 6 Cagar Alam P. Penjaliran Barat 8,30 4 7 Cagar Alam P. Penjaliran Timur 6,80 4 Jumlah 126,13 27 Sumber: Lembaga Pengkajian Pengembangan Mangrove dalam DLH DKI Jakarta, 2008

b. Padang Lamun Sebagai penyangga ekosistem terumbu karang, padang lamun berfungsi meredam gelombang dan arus, perangkap sedimen, tempat asuhan, tempat mencari makan dan tempat pemijahan beberapa jenis ikan, udang dan biota laut lainnya. Ekosistem padang lamun berada di rataan terumbu karang, didominasi oleh tumbuhan rumput laut (sea grass) dengan struktur perakaran di dasar perairan. Di Kepulauan Seribu terdapat 4 (empat) famili rumput laut yang hidup pada ekosistem padang lamun, didominasi oleh Hydrocharitaceae dan Potamogetonaceae. Selain flora tingkat tinggi, padang lamun juga dihuni oleh berbagai macam algae tingkat rendah seperti Halimeda, Sargassum dan Turbinaria (TNKS, 1999 dalam DLH DKI Jakarta, 2008). Kawasan Kepulauan Seribu umumnya ditumbuhi oleh Thallasia, Syrongodium, Thalosodendrum dan Chimodecea, sedang P. Panggang, P. Karya dan P. Pramuka didominasi oleh Thallasia, selain berbagai algae seperti Halimeda, Sargassum, Caulerpa, Padina, Turbinaria dan Euchema. Selain berbagai jenis flora laut, padang lamun di Kepulauan Seribu juga dihuni oleh berbagai organisme benthik (makrozoobenthos) dan fitoplankton. Permasalahan utama ekosistem padang lamun di Kepulauan Seribu adalah kerusakan akibat kegiatan pengerukan dan 4

penimbunan yang semakin meluas serta pencemaran perairan laut, sebagaimana diindikasikan oleh hilangnya biota laut (DLH DKI Jakarta, 2008).

c. Terumbu Karang Terumbu karang terdiri dari endapan kalsium karbonat (CaCO3) hewan karang, alga berkapur dan beberapa organisme lain. Sebagai suatu ekosistem, terumbu karang memiliki produktivitas yang tinggi dan merupakan habitat dengan biota yang beraneka ragam. Terumbu karang berfungsi sebagai tempat tinggal, penyedia makanan, tempat berlindung dan sebagai tempat asuhan biota laut. Di samping itu secara fisik berfungsi melindungi pantai dari abrasi, gelombang dan sebagai stabilisator perubahan morfologi garis pantai. Suatu jenis karang dari genus yang sama dapat mengalami bentuk pertumbuhan yang berbeda dalam suatu lokasi tertentu. Demikian pula kondisi fisik yang sama dapat memberikan bentuk pertumbuhan yang serupa walaupun secara taksonomi berbeda (DLH DKI Jakarta, 2008). Kondisi terumbu karang di Kepulauan Seribu pada umumnya dapat dikategorikan dalam kondisi rusak hingga sedang. Persentase penutupan karang hidup hanya berkisar antara 0 24,9% dan 25 49,9%. Hal ini menunjukkan dominasi tutupa